STUDI MORFOMETRIK TUBUH BURUNG DARA LAUT
(LARIDAE) MELALUI ANALISIS KOMPONEN UTAMA
DAN JARAK MINIMUM D
2-MAHALANOBIS
SKRIPSI SITI BADRIAH
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
RINGKASAN
SITI BADRIAH. D14061198. 2011. Studi Morfometrik Tubuh Burung dara laut (Laridae) Melalui Analisis Komponen Utama dan Jarak Minimum D2 -Mahalanobis. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. Rini Herlina Mulyono, M.Si Pembimbing Anggota : Dr. Dewi Malia Prawiradilaga
Burung dara laut merupakan suku kecil dari burung laut yang menyebar luas di dunia. Burung dara laut memiliki karakteristik berkaki pendek, sayap panjang dan runcing, ekor bercabang dengan paruh halus dan runcing. Burung ini biasa ditemukan di perairan pesisir atau terkadang di danau, di tepi pantai atau alur sungai. Penelitian ini mempelajari ukuran-ukuran tubuh subspesies dara laut yang meliputi Anous minutus worcesteri sebanyak tujuh ekor (dua ekor jantan dan lima ekor betina), Anous stolidus pileatus sebanyak sembilan ekor (lima ekor jantan dan empat ekor betina), Chlidonias hybridus javanica sebanyak 14 ekor (sembilan ekor jantan dan lima ekor betina), Sterna albifrons sinensis sebanyak 13 ekor (lima ekor jantan dan delapan ekor betina), Sterna anaethetus anaethetus sebanyak 18 ekor (11 ekor jantan dan tujuh ekor betina), Sterna bergii cristatus sebanyak 54 ekor (24 ekor jantan dan 30 ekor betina), Sterna fuscata nubilosa sebanyak 17 ekor (tujuh ekor jantan dan 10 ekor betina), dan36 ekor Sterna sumatrana-sumatrana (16 ekor jantan dan 20 ekor betina).Ukuran-ukuran tubuh yang diamati meliputi panjang tarso metatarsus (X1), lingkar tarso metatarsus (X2), panjang jari ketiga (X3) dan panjang sayap (X4). Uji T2-Hotelling digunakan untuk mengetahui perbedaan ukuran tubuh diantara setiap dua subspesies burung dara laut yang diamati. Analisis Komponen Utama digunakan untuk menentukan ukuran dan bentuk tubuh pada delapan subspesies burung dara laut yang diamati; sedangkan jarak minimum D2 -Mahalanobis digunakan untuk menentukan ketidakserupaan morfometrik tubuh pada delapan subspesies burung dara laut yang diamati.
dan lingkar tarso metatarsus merupakan penciri bentuk subspesies S. f. nubilosa dengan nilai vektor eigen sebesar 0,022. Korelasi terhadap skor bentuk masing-masing yaitu 0,94; 0,83; 0,95; dan 0,11.
Kerumunan data S. b. cristatus pada diagram kerumunan berada di sebelah kanan, yang mengindikasikan bahwa subspesies ini memiliki ukuran tubuh yang paling besar diantara delapan subspesies burung dara laut yang diamati. Data S. a. sinensis berkerumun di sebelah kiri pada diagram kerumunan yang mengindikasikan bahwa subspesies ini memiliki ukuran tubuh yang paling kecil. Kerumunan data subspesies A. m. worcesteri, S. s. sumatrana, S. f. nubilosa, C. h. javanica, S. a. anaethetus dan A. s. pileatus; berada di tengah-tengah pada diagram kerumunan yang mengindikasikan bahwa keenam subspesies tersebut memiliki ukuran tubuh sedang.
Hasil D2-Mahalanobis yang disajikan pada dendogram, mengindikasikan bahwa dari delapan subspesies burung dara laut yang diamati dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu A dan B yang dipisahkan pada titik percabangan 5,97. Kelompok A meliputi S. a. anaethetus, S. f. nubilosa, S. b. cristatus, C. h. javanica, S. s. sumatrana, A. m. worcesteri dan A. s. pileatus. Titik percabangan 4,46 memisahkan kelompok A menjadi A1 dan A2. Kelompok A1 meliputi S. a. anaethetus, S. f. nubilosa, S. b. cristatus, C. h. javanica dan S. s. sumatrana; sedangkan A2 meliputi A. m. worcesteri dan A. s. pileatus. Titik percabangan 3,24 memisahkan kelompok menjadi A1.1 dan A1.2. Kelompok A1.1 meliputi S. a. anaethetus, S. f. nubilosa dan S. b. cristatus; sedangkan kelompok A1.2 meliputi C. h. javanica dan S. s. sumatrana. Titik percabangan 2,20 memisahkan kelompok menjadi kelompok A1.1.1 dan A1.1.2. Kelompok A1.1.1 meliputi S. a. anaethetus dan S. f. nubilosa; sedangkan kelompok A1.1.2 yaitu S. b. cristatus. Kelompok B hanya terdiri atas satu subspesies yaitu S. a. sinensis.
ABSTRACT
Studies on Body Morphometrics of Terns (Laridae) Through Principal Component Analysis and Minimum Distance D2-Mahalanobis
Badriah, S., R. H. Mulyono and D. M. Prawiradilaga
The diversity of animal body size is influenced by genetic and environmental factors. This study used 168 specimens of Terns. Terns is a small tribe of sea birds that spread widely all over the world. Terns specimens used were A. m. worcesteri, A. s. pileatus, C. h. javanica, S. a. sinensis, S. a. anaethetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa and S. s. sumatrana. The purpose of this research was to study the relationship of morphometric dissimilarity of the body size. Also it studied the body size and shape of Terns observed. T2-Hotelling showed that the body size of the terns observed was significant (P<0,01). The result of Principal component analysis showed that body size and shape of the terns observed were significant from each other, although they were in one genus. The wing length is a size discriminator of all Terns observed; while shape discriminator diverses of each species observed. Data cluster of S. b. cristatus grouped on right in cluster chart, however S. a. sinensis grouped on the left in the cluster chart. Data cluster of six other species are grouped in the middle of the cluster chart. The results showed that Terns can be classified into two major groups namely A and B by D2-Mahalanobis. Group A included S. a. anaethetus, S. f. nubilosa, S. b. cristatus, C. h. javanica, S. s. sumatrana, A. m. worcesteri and A. s. pileatus. Group B consisted of only one species of S. a. sinensis.
STUDI MORFOMETRIK TUBUH BURUNG DARA LAUT
(LARIDAE) MELALUI ANALISIS KOMPONEN UTAMA
DAN JARAK MINIMUM D
2-MAHALANOBIS
SITI BADRIAH D14061198
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
Judul : Studi Morfometrik Tubuh Burung dara laut (Laridae) Melalui Analisis Komponen Utama dan D2-Mahalanobis
Nama : Siti Badriah NIM : D14061198
Menyetujui,
Pembimbing Utama Pembimbing Anggota
(Ir. Rini Herlina Mulyono, M.Si) (Dr. Dewi Malia Prawiradilaga) NIP: 19621124 198803 2 002 NIP: 19550103 197903 2 002
Mengetahui: Ketua Departemen,
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc) NIP: 19591212 198603 1 00 4
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 2 Agustus 1987 di Bogor, Jawa Barat. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Ujang Hudri dan Ibu Tuti.
Penulis mengawali pendidikan dasar pada tahun 1994 di Sekolah Dasar Negeri 1 Cibeureum dan diselesaikan pada tahun 2000. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Ciomas pada tahun 2000 dan diselesaikan pada tahun 2003. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Rimba Madya Bogor pada tahun 2003 dan diselesaikan pada tahun 2006.
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim…
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat, taufik dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga selalu dircurahkan kepada Rasulullah SAW. Skripsi penelitian ini berjudul ”Studi Morfometrik Tubuh Burung dara laut (Laridae) Melalui Analisis Komponen Utama dan Jarak Minimum D2-Mahalanobis” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Penelitian ini menggunakan spesimen burung dara laut yang meliputi A. m. worcesteri, A. s. pileatus, C. h. javanica, S. a. sinensis, S. a. anaethetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S. s. sumatrana. Spesimen tersebut disediakan Pusat Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bidang Zoologi, Cibinong. Pengamatan variabel ukuran linear tubuh yang diamati meliputi panjang tarso metatarsu, lingkar tarso metatarsus, panjang jari ketiga dan panjang sayap. Pengolahan data T2-Hotelling, Analisis Komponen Utama dan D2-Mahalanobis digunakan untuk membedakan karakteristik morfometrik diantara subspesies burung dara laut yang diamati.
Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan dan dorongan dari semua pihak, maka penulisan skripsi ini tidak akan lancar. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca yang berminat pada umumnya.
Amiin.
Bogor, Februari 2011
DAFTAR ISI
Sterna anaethetus anaethetus ... 10
Sterna bergii cristatus... 11
Dendogram dan Pohon Filogenetik ... 19
Diagram Kerumunan ... 23
JarakMinimun D2-Mahalanobis ... 24
Pengolahan Data ... 24
HASIL DAN PEMBAHASAN Ukuran-ukuran Linear Tubuh Burung dara laut ... 25
Genus Anous ... 25
Genus Chlidonias ... 26
Genus Sterna ... 27
Statistik T2-Hotelling ... 28
Uji T2-Hotelling antara Jantan dan Betina ... 28
Uji T2-Hotelling pada Setiap Dua Spesies ... 29
Analisis Komponen Utama ... 30
Genus Anous ... 30
Genus Chlidonias ... 31
Genus Sterna ... 32
Diagram Kerumunan ... 35
D2-Mahalanobis ... 37
KESIMPULAN DAN SARAN ... 42
Kesimpulan ... 42
Saran ... 42
UCAPAN TERIMA KASIH ... 43
DAFTAR PUSTAKA ... 44
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman 1. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman Variabel
Panjang Tarso metatarsus, Lingkar Tarso metatarsus, Panjang Jari Ketiga dan Panjang Sayap A. m. worcesteridan A. s. pileatus
Pada Jantan dan Betina ... 25 2. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman Variabel
Panjang Tarso metatarsus, Lingkar Tarso metatarsus, Panjang Jari Ketiga dan Panjang Sayap C. h. Javanica Pada Jantan dan
Betina ... 26 3. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman Variabel
Panjang Tarso metatarsus, Lingkar Tarso metatarsus, Panjang Jari Ketiga dan Panjang Sayap A. m. worcesteri dan A. s. pileatus Pada Jantan dan Betina S. a. sinensis,S. a. anaethetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S.s. sumatrana pada Jantan
dan Betina ... 27 4. T2-Hotelling antara Jantan dan Betina pada Setiap Subspesies
yang Diamati ... 28 5. T2-Hotelling pada Setiap Dua Subspesies pada Delapan Sub-
spesies yang Diamati ... 29 6. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh, Keragaman Total dan
Nilai Eigen pada A. m. worcesteri dan A. s.pileatus ... 30 7. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh, Keragaman Total dan
Nilai Eigen pada C. h. javanica ... 31 8. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh, Keragaman Total dan
Nilai Eigen pada S. a. anaethetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa
dan S. s. sumatrana ... 32 9. Penciri Ukuran dan Bentuk Tubuh Subspesies Burung Dara
Laut yang Diamati Berikut Korelasinya terhadap Skor Ukuran
dan Bentuk ... 34 10. Rekapitulasi Hasil Akar dari D2-Mahalanobis pada Delapan Sub-
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Burung dara laut S. hirundo yang Sedang Terbang ... 3
2. Telur Burung dara lautpada Cekungan di Pasir Pantai ... 4
3. Anak Burung dara laut pada Cekungan di Pasir Pantai ... 4
4. Anous minutes worcesteri (Burung dara laut Hitam Kecil) ... 5
5. Anous stolidus pileatus (Burung dara laut Hitam Besar) ... 6
6. Chlidonias hybrid javanica (Burung dara laut Berkumis) ... 7
7. Sterna albifrons sinensis (Burung dara laut Kecil) ... 9
8. Sterna anaethetus anaethetus (Burung dara laut Sayap Coke- lat) ... 10
9. Strerna bergii cristatus (Burung dara laut Jambul Besar) ... 12
10. Sterna fuscata nubilosa (Burung dara laut Sayap Hitam) ... 13
11. Sterna sumatrana sumatrana (Burung dara laut Sumatera) ... 15
12. Kaki Burung Tipe palmate ... 18
13. Bagian-bagian Tulang pada Burung ... 21
14. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh Subspesies Burung Dara Laut Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Diturunkandari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelom- pokan D2-Mahalanobis ... 37
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman 1. Perhitungan Manual Uji Statistik T2-Hotelling pada Peubah-
peubah antara kelompok Subspesies A. m. worcesteri dan A. s.
pileatus ... 49 2. Rekapitulasi Hasil T2-Hotelling pada Delapan Subspesies
Burung dara laut yang Diamati ... 51 3. Hasil T2-Hotelling antara Jantan dan Betina pada Setiap Sub-
Spesies Burung dara laut yang Diamati ... 51 4. Perhitungan untuk Memperoleh Persamaan Komponen Utama
Kesatu berikut Nilai Eigen dan Keragaman Total Masing-
masing ... 52 5. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh pada A. m. worcesteri,
A. s. pileatus, C. h. javanica, S. a. sinensis, S. a. anaethetus,
S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S. s. sumatrana ... 55 6. Komponen Utama I, II, III, IV, V, VI dan VII, Nilai Eigen (λ),
Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Tubuh yang
Diamati pada A. m. worcesteri ... 56 7. Komponen Utama I, II, III, IV, V, VI dan VII, Nilai Eigen (λ),
Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Tubuh yang
Diamati pada A. s. pileatus ... 56 8. Komponen Utama I, II, III, IV, V, VI dan VII, Nilai Eigen (λ),
Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Tubuh yang
Diamati pada C. h. javanica... 57 9. Komponen Utama I, II, III, IV, V, VI dan VII, Nilai Eigen (λ),
Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Tubuh yang
Diamati pada S. a. sinensis ... 57 10. Komponen Utama I, II, III, IV, V, VI dan VII, Nilai Eigen (λ),
Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Tubuh yang
Diamati pada S. a. anaethetus ... 58 11. Komponen Utama I, II, III, IV, V, VI dan VII, Nilai Eigen (λ),
Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Tubuh yang
Diamati pada S. b. cristatus ... 58 12. Komponen Utama I, II, III, IV, V, VI dan VII, Nilai Eigen (λ),
turunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Tubuh yang
Diamati pada S. f. nubilosa ... 59 13. Komponen Utama I, II, III, IV, V, VI dan VII, Nilai Eigen (λ),
Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Tubuh yang
Diamati pada S. s. sumatrana ... 59 14. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Ko-
relasi antara Skor Ukuran terhadap Variabel-variabel yang Di- amati serta Korelasi antara Skor Bentuk terhadap Variabel-
variabel yang Diamati pada A. m. worcesteri ... 60 15. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Ko-
relasi antara Skor Ukuran terhadap Variabel-variabel yang Di- amati serta Korelasi antara Skor Bentuk terhadap Variabel-
variabel yang Diamati pada A. s. pileatus ... 61 16. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Ko-
relasi antara Skor Ukuran terhadap Variabel-variabel yang Di- amati serta Korelasi antara Skor Bentuk terhadap Variabel-
variabel yang Diamati pada C. h. javanica ... 62 17. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Ko-
relasi antara Skor Ukuran terhadap Variabel-variabel yang Di- amati serta Korelasi antara Skor Bentuk terhadap Variabel-
variabel yang Diamati pada S. a. sinensis ... 63 18. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Ko-
relasi antara Skor Ukuran terhadap Variabel-variabel yang Di- amati serta Korelasi antara Skor Bentuk terhadap Variabel-
variabel yang Diamati pada S. a. anaethetus ... 64 19. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Ko-
relasi antara Skor Ukuran terhadap Variabel-variabel yang Di- amati serta Korelasi antara Skor Bentuk terhadap Variabel-
variabel yang Diamati pada S. b. cristatus... 65 20. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Ko-
relasi antara Skor Ukuran terhadap Variabel-variabel yang Di- amati serta Korelasi antara Skor Bentuk terhadap Variabel-
variabel yang Diamati pada S. f. nubilosa ... 66 21. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Ko-
relasi antara Skor Ukuran terhadap Variabel-variabel yang Di- amati serta Korelasi antara Skor Bentuk terhadap Variabel-
variabel yang Diamati pada S. s. sumatrana ... 67 22. Penciri Ukuran dan Bentuk Tubuh Spesies Burung dara laut
Yang Diamati Berikut Korelasinya terhadap Skor Ukuran dan
Bentuk ... 68 23. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh Subspesies Burung
Diturunkan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Penge-
lompokan D2-Mahalanobis ... 68 24. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh pada A. m.
worces-teri Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Diturun- kan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelompokan
D2-Mahalanobis ... 69 25. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh pada A. s. pileatus
Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Diturunkan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelompokan D2-
Mahalanobis ... 69 26. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh pada C. h. javanica
Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Diturunkan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelompokan D2-
Mahalanobis ... 70 27. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh pada S. a. sinensis
Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Diturunkan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelompokan D2-
Mahalanobis ... 70 28. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh pada S. a.
anae-thetus Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelom-
pokan D2-Mahalanobis ... 71 29. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh pada S. b. cristatus
Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Diturunkan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelompokan D2-
Mahalanobis ... 71 30. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh pada S. f. nubilosa
Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Diturunkan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelompokan D2-
Mahalanobis ... 72 31. Kerumunan Data Ukuran dan Bentuk Tubuh pada S. s.
suma-trana Berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh yang Di- turunkan dari Matriks Kovarian serta Berdasarkan Pengelom-
pokan D2-Mahalanobis ... 72 32. Rekapitulasi Hasil Akar dari D2-Mahalanobis pada Delapan
Subspesies Burung dara laut yang Diamati ... 73 33. Hasil Manual Jarak Ketidakserupaan Morfometrik Berdasar-
Kan Akar Jarak D2-Mahalanobis pada Subspesies Burung
Dara Laut yang Diamati ... 73 34. Dendogram Jarak Ketidakserupaan Morfometrik Berdasarkan
Akar Jarak D2-Mahalanobis pada Subspesies Burung Dara
35. Spesimen A. m. worcesteri dari Beberapa Arah Pengambilan
Gambar ... 74 36. Spesimen A. s. pileatus dari Beberapa Arah Pengambilan
Gambar... 75 37. Spesimen C. h. javanica dari Beberapa Arah Pengambilan
Gambar... 75 38. Spesimen S. a. sinensis dari Beberapa Arah Pengambilan
Gambar... 76 39. Spesimen S. a. anaethetus dari Beberapa Arah Pengambilan
Gambar... 76 40. Spesimen S. b. cristatus dari Beberapa Arah Pengambilan
Gambar... 77 41. Spesimen S. f. nubilosa dari Beberapa Arah Pengambilan
Gambar... 77 42. Spesimen S. s. sumatrana dari Beberapa Arah Pengambilan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keragaman ukuran tubuh hewan disebabkan faktor genetik dan lingkungan. Pengaruh genetik dan pengaruh lingkungan merupakan dua hal penting dalam menghasilkan keragaman dalam fenotipik pada individu-individu dalam sekelompok ternak. Pengaruh genetik dan lingkungan yang diekspresikan sebagai fenotipik merupakan hasil dari perpaduan atau interaksi kedua pengaruh tersebut. Pada umumnya sifat kualitatif ditentukan oleh satu pasang sampai dua pasang gen. Sifat kualitatif dibandingkan dengan sifat kuantitatif kurang bernilai ekonomis tetapi dalam beberapa hal memiliki nilai yang penting. Misalnya bobot badan ternak lebih bernilai ekonomis dibandingkan warna bulu pada ternak. Tetapi pada kasus-kasus tertentu warna bulu bernilai penting.
Burung air merupakan kelompok burung yang secara ekologis sangat bergantung pada lahan basah. Salah satu anggota kelompok burung air adalah burung dara laut yang merupakan suku kecil dari burung laut yang menyebar luas di dunia. Burung dara laut memiliki karakteristik berkaki pendek, sayap panjang dan runcing, ekor menggarpu dengan paruh halus dan runcing. Burung air diduga berperanan penting dalam pertukaran energi antara kehidupan daratan dan perairan, sehingga burung tersebut turut menentukan dinamika produktivitas pada lahan basah. Burung air menyediakan sejumlah pupuk alami bagi vegetasi pantai dan daerah-daerah yang lebih tinggi. Vegetasi tersebut berfungsi sebagai stabilisator lingkungan pantai terhadap pengaruh erosi. Burung sangat peka terhadap polusi dan penurunan kualitas ketersediaan pakan. Berdasarkan hal tersebut, kelompok burung air dapat dijadikan indikator perubahan kualitas lingkungan.
worcesteri, A. s. pileatus, C. h. javanica, S. a. sinensis, S. a. anaethetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S. s. sumatrana.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari ketidakserupaan morfometrik ukuran-ukuran tubuh pada delapan subspesies burung dara laut yaitu, A. m. worcesteri, A. s. pileatus, C. h. javanica, S. a. sinensis, S. a. anaethetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S. s. sumatrana. melalui pendekatan jarak mininum D 2-Mahalanobis yang divisualisasikan dalam diagram pohon (dendogram).
TINJAUAN PUSTAKA
Burung dara laut
Burung dara laut merupakan suku kecil dari burung laut yang menyebar luas di dunia. Burung dara laut memiliki karakteristik berkaki pendek, sayap panjang dan runcing, ekor bercabang dengan paruh halus dan runcing. burung dara laut terbang indah di udara dan sering melayang (tidak mengepakan sayap); berdiam di atas air sebelum menangkap ikan kecil. Burung dara laut memiliki kebiasaan bergabung dalam kelompok besar untuk berputar-putar dan menangkap ikan ketika menemukan perairan dengan banyak ikan. Burung ini sering ditemukan di perairan pesisir atau di danau, di tepi pantai atau alur sungai. Sarang burung ini dibuat dari garukan membentuk cekungan di pasir (MacKinnon, 1990). Gambar 1 menunjukkan burung dara laut biasa (S. hirundo)yang sedang terbang.
Sumber : (Huda, 2009)
Gambar 1. Burung dara laut S. hirundo yang Sedang Terbang
Sumber : (Huda, 2009)
Gambar 2. Telur Burung dara lautpada Cekungan di Pasir Pantai
Sumber : (Huda, 2009)
Gambar 3. Anak Burung dara laut pada Cekungan di Pasir Pantai
Anous minutus worcesteri
Internasionala, 2009); dengan perkiraan ukuran populasi sebesar 160.000-1.100.000 individu dewasa (Birdlife Internationala, 2011). Gambar 4 menunjukkan A. m. worcesteri yang bertengger pada ranting pohon.
Sumber : people.hws.edu (2001)
Gambar 4. Anous minutus worcesteri (Burung dara laut Hitam Kecil)
Burung dara laut dengan suara keras ’’kik-kirrik” dan bergemerincing ’’carr” memiliki kebiasaan yang sama seperti A. stolidus yaitu terbang memutar perlahan-lahan dan bersifat malas serta jarang menyelam serta terkadang hinggap di permukaan air untuk mencari makan. Dijelaskan lebih lanjut oleh Birdlife Internationala,b (2009) A. m. worcesteri dan A. s. pileatus menghabiskan waktu istirahat di perairan terbuka dengan bertengger pada pelampung dan kapar (benda terapung). Makanan burung dara laut ini berupa ikan (MacKinnon, 1990). Dijelaskan pula bahwa burung dara laut ini ditemukan di daerah tropika dan sub-tropika Samudera Atlantik dan Pasifik. Sepanjang tepi pantai utara Jawa dan Bali terkadang ditemukan burung dara laut jenis ini. Burung dara laut ini memiliki sarang bersama dengan A. stolidus pada pulau Karimun Jawa. Burung ini berbiak pada bulan Agustus dengan jumlah telur sebanyak satu butir.
Anous stolidus pileatus
berwarna coklat gelap kecuali mahkota yang berwarna keabu-abuan dan garis lengkung warna putih di bawah mata. Bentuk ekor burung dara laut ini bercabang. Iris berwarna coklat, paruh berwarna hitam dan kaki berwarna coklat kehitaman. Burung dara laut A. stolidus dalam IUCN Red List memiliki status konservasi least concern dan merupakan burung penetap di Papua New Guinea (Birdlife Internationalb, 2009); dengan kisaran ukuran populasi 180.000-1.100.000 individu dewasa. Gambar 5 menunjukkan A. stolidus yang bertengger pada dahan pohon.
Sumber : www.juddpatterson.com (2008)
Gambar 5. Anous stolidus pileatus (Burung dara laut Hitam Besar)
Burung dengan suara keras ”karkk” dan ”kwok-kwok” ini memiliki kebiasaan terbang memutar secara perlahan dan bersifat malas serta jarang menyelam (MacKinnon, 1990); dijelaskan pula burung dara laut spesies ini terkadang hinggap di permukaan air untuk mencari makan (MacKinnon, 1990 dan Sumaryati et al., 2007). Pada masa kawin, pasangan burung ini saling mengangguk-anggukan kepala, sehingga disebut ”camar angguk coklat” (MacKinnon, 1990). Dijelaskan lebih lanjut oleh Birdlife Internationalb (2009) bahwa A. s. pileatus menghabiskan waktu istirahat di perairan terbuka yaitu sering bertengger pada pelampung dan kapar.
Burung spesies ini bersarang di Kepulauan Karimun Jawa dan Jawa Tengah. Pada umumnya sarang dibuat dari bahan ranting-ranting dan ganggang laut pada pohon-pohon yang rendah. Telur berwarna kuning tua atau agak putih dengan berbintik abu-abu coklat. Setiap eraman terdiri atas satu butir telur. Berbiak pada koloni dan terjadi pada bulan Agustus (MacKinnon, 1990).
Chlidonias hybridusjavanica
Burung dara laut C. h. javanica merupakan subspesies C. hybridus dengan ordo Charadriformes famili Laridae (Avibasec, 2009). Burung spesies ini dikenal dengan sebutan ”burung dara laut berkumis” yang memiliki panjang tubuh kecil yaitu 33 cm. C. h. javanica berwarna pucat dengan dahi putih dan ekor bercabang tidak tajam. Burung dewasa memiliki mahkota atas hitam dengan bagian depan agak putih dan tubuh bagian bawah putih pada musim dingin. Sayap, tengkuk, punggung dan penutup atas ekor burung spesies ini berwarna abu-abu. Burung muda memiliki ciri yang hampir sama tetapi memiliki bintik coklat. Bulu dahi burung muda berwarna hitam dan dada keabu-abuan pada musim panas. Iris berwarna coklat, paruh dan kaki berwarna merah (MacKinnon, 1990). Burung dara laut C. hybrida dalam IUCN Red List memiliki status konservasi least concern dan merupakan burung penetap di Indonesia (Birdlife Internationalc, 2009); dengan kisaran ukuran populasi 300.000-1.500.000 individu dewasa (Birdlife Intenationalc, 2011). Gambar 6 menunjukkan burung dara laut C. h. javanica di daerah tergenang.
Sumber: www.alsirhanb.com (2008)
Burung dara laut berkumis memiliki suara bernada cepat, dengan nada’’kitt” atau ”ki-kitt”. Burung spesies ini berbiak di Afrika selatan, Eropa Selatan dan Asia. Pergerakan burung spesies ini tidak teratur melalui Indonesia karena dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Maluku dan Papua New Guinea. Burung dengan kebiasaan memakan serangga ini pada umumnya hidup dalam kelompok kecil dan terkadang dalam kelompok besar (MacKinnon, 1990). Birdlife Internationalc (2009) menyatakan bahwa jenis pakan subspesies burung ini terdiri atas serangga daratan dan serangga perairan seperti Dytiscida (kumbang air), Odonata (capung) dewasa dan larva Odonata, Orthoptera (kepinding), semut terbang dan nyamuk; laba-laba, katak, kecebong, kepiting kecil, udang dan ikan kecil.
Burung dara laut ini menggunakan berbagai habitat lahan basah seperti rawa air tawar atau kolam, ditemukan terutama di vegetasi sekitar tempat merumput sapi atau kuda. Sarang dibuat dari tumpukan vegetasi air atau rumput kering, yang diletakkan baik di vegetasi mengambang di atas air ataupun di bawah air pada kedalaman 60-80 cm (Birdlife Internationalc, 2009). Dijelaskan lebih lanjut oleh MacKinnon (1990) bahwa burung dara laut ini sering datang ke darat sejauh 20 km dengan gaya terbang rendah meluncur untuk mencari makan di sawah dan daerah tergenang ataupun dalam kolam yang dangkal.
Sterna albifrons sinensis
dewasa (Birdlife Internationale, 2011). Gambar 7 menunjukkan burung dara laut S. a. sinensis yang sedang terbang.
Sumber : luontoporti.com (2011)
Gambar 7. Sterna albifrons sinensis (Burung dara laut Kecil)
Burung dara laut Kecil memiliki suara bernada tinggi dengan nada ”krri-ik” atau ”kik” tetapi pada masa kawin berkokok dengan nada ”kirri-kirri-kirri”. Burung spesies ini memiliki kebiasaan mendiami tepi laut yang berpasir dan berbaur dengan burung dara laut lain. Kepakan sayap burung spesies ini cepat, sering menggelepar sejenak berdiam di atas air dan menyelam untuk kemudian dengan cepat akan terbang kembali. Hal ini merupakan ciri khas burung S. a. sinensis (MacKinnon, 1990).
yang dihasilkan 2-3 butir berwarna merah jambu dengan bercak ungu dan coklat. Musim kawin burung spesies ini pada bulan Mei sampai Juni di Jawa Barat.
Sterna anaethetus anaethetus
Burung dara laut S. a. anaethetus atau yang dikenal ”burung dara laut sayap coklat” merupakan subspesies dara laut S. anaethetus dengan ordo Charadriformes famili Laridae (Avibasef, 2009). S. a. anaethetus bertubuh sedang dengan panjang tubuh yaitu 37 cm. Burung spesies ini memiliki ekor panjang dan bercabang dengan punggung gelap. Burung dewasa berwarna abu-abu kecoklatan gelap pada bagian punggung, bagian atas sayap dan ekor. Warna putih ditemukan pada bagian tepi sayap dan bulu terluar ekor, sedangkan tubuh bagian bawah berwarna putih. Dahi berwarna putih, alis mata sempit membentang ke belakang mata. Tengkuk dikelilingi kerah abu-abu dan ditemukan bergaris pada punggung. Burung muda memiliki karakteristik hampir sama dengan dewasa, tetapi berwarna coklat pada tubuh bagian atas. Burung spesies ini memiliki paruh dan kaki berwarna hitam serta iris berwarna coklat (MacKinnon, 1990). Burung dara laut S. anaethetus dalam IUCN Red List memiliki status konservasi least concern (Birdlife Internasionale, 2009); dengan kisaran ukuran populasi 610.000-1.500.000 individu dewasa (Birdlife Internationale, 2011). Gambar 8 menunjukkan burung dara laut S. a. anaethetus yang sedang terbang.
Sumber : www.alsirhana.com (2008)
Gambar 8. Sterna anaethetus anaethetus (Burung dara laut Sayap Coklat)
(MacKinnon, 1990). Kebiasaan S. a. anaethetus yaitu hidup sendiri ataupun dalam kelompok kecil (Sumaryati et al., 2007). Burung spesies ini banyak menghabiskan waktunya jauh di tengah laut dan mendatangi tepi pantai hanya pada saat cuaca buruk atau masa berkembangbiak. Burung spesies ini kadang beristirahat pada bangkai kapal atau di atas tiang kapal (MacKinnon, 1990 dan Sumaryati et al., 2007). Apabila burung spesies ini terbang terlihat indah dan terkesan ringan, yaitu tidak banyak menggunakan energi. Burung spesies ini memakan ikan dengan cara menyerok dari permukaan air, tidak dengan cara menyelam. Dijelaskan lebih lanjut bahwa mereka juga memakan semut terbang, kumbang, kutu busuk, ikan kecil, kepiting dan udang (MacKinnon, 1990). Selain itu subspesies burung ini juga memakan kerang, serangga dan cumi-cumi (Birdlife International, 2009).
Pada umumnya burung dara laut sayap coklat ditemukan di pantai dan perairan laut. S. a. anaethetus hampir dijumpai di seluruh perairan di Kepulauan Karimun Jawa. Koloni terbesar burung spesies ini di Kepulauan Gundul yang telah diketahui sebagai lokasi bertelur atau berbiak (Sumaryati et al., 2007). Burung spesies ini berbiak dalam koloni kecil dan sering berbaur dengan S. sumatrana. Sarang burung spesies ini berupa cekungan dangkal pada pasir; bertelur tunggal dengan warna putih atau kuning tua, berbintik abu-abu dan coklat (MacKinnon, 1990). Burung dara laut dengan status penetap dan dilindungi ini menyebar luas di Samudera Atlantik, Samudera Indonesia, dan Samudera Pasifik sampai Australia (Sumaryati et al., 2007).
Sterna bergii cristatus
Internationalf, 2009); dengan kisaran ukuran populasi 150.000-1.100.000 individu dewasa (Birdlife Internationalf, 2011). Gambar 9 menunjukkan burung dara laut S. b. cristatus yang beristirahat di sekitar pantai.
Sumber : www.baum.com (2000)
Gambar 9. Sterna bergii cristatus (Burung dara laut Jambul Besar)
Burung dara laut Jambul Besar memiliki suara tajam dan jernih dengan nada ”kirriik” atau ”chew”. Burung spesies ini memiliki kebiasaan mencari ikan berdua, bertiga dan kadang bersama dengan burung dara laut lain, menghabiskan waktu istirahat pada perairan dangkal dan memiliki gaya renang yang kaku (MacKinnon, 1990). Habitat Burung dara laut jambul besar di perairan dekat pantai dan pulau kecil. Burung dara laut jambul besar sering dijumpai di perairan dan pulau-pulau kecil di Karimun Jawa. Musim bertelur terjadi pada bulan Juli-Agustus yang banyak dijumpai di Pulau Burung, Cemara Besar, dan Pulau Gundul. Daerah penyebaran burung dara laut jambul besar di Pulau-pulau Samudera Pasifik, Tanjung Persia, Laut Pasifik Tropis, Pantai Australia dan Afrika selatan (Sumaryati et al., 2007).
Sterna fuscata nubilosa
Burung S. f. nubilosa atau dikenal ”burung dara laut sayap hitam” merupakan subspesies S. fuscata dengan ordo Charadriformes famili Laridae (Avibased, 2009). S. f. nubilosa memiliki ukuran tubuh sedang yaitu 43 cm dengan ekor bercabang tajam. Burung dara laut ini hampir sama dengan S. anaethetus; tetapi sayap atas dan punggung berwarna coklat hitam lebih gelap, tidak mempunyai cincin leher berwarna abu-abu dan dahi putih tidak meluas ke alis mata. Burung muda berwarna coklat hitam dengan bokong berwarna putih. Garis di bintik-bintik putih pada punggung dan bagian atas sayap terdapat pada burung muda. Burung dara laut sayap hitam ini memiliki iris berwarna coklat serta paruh dan kaki berwarna hitam (MacKinnon, 1990). Burung dara laut S. fuscata dalam IUCN Red List memiliki status konservasi least concern (Birdlife Internasionalg, 2009); dengan kisaran ukuran populasi 21.000.000-22.000.000 individu dewasa (Birdlife Internationalg, 2011). Gambar 10 menunjukkan S. f. nubilosa di daratan.
Burung dara laut ini memiliki suara sengau dengan nada ”ker-waky-wak” ”waid-e-wek” dan memiliki kebiasaan tinggal pada pulau-pulau kecil berbatu yang cukup jauh dari laut. S. f. nubilosa mendapat julukan sebagai burung dara laut sesungguhnya. Burung dara laut ini terbang dengan mudah dan lincah serta melayang-layang di atas tanpa kepakan sayap; yang memiliki kebiasaan mengikuti kapal pada malam hari. Burung dara laut spesies ini menyerok makanan dari permukaan air dan jarang menukik (MacKinnon, 1990).
Sumber: Finland (2011)
saat kembali ke koloni untuk berbiak dan menetap di darat pada malam hari selama 2-3 bulan sebelum mulai berkembang biak. Makanan burung dara laut adalah ikan, serangga dan serangga air (MacKinnon, 1990). Birdlife Internationalg (2009) menyatakan bahwa pada umumnya pakan spesies burung ini adalah ikan berukuran 6-8 cm bahkan 18 cm, cumi-cumi, kepiting, serangga dan offal (jeroan) binatang yang sudah mati. Burung dara laut ini tersebar luas di sepanjang Samudera Atlantik, Samudera Hindia dan Samudera pasifik serta daerah tropika. Di Indonesia burung dara laut ini ditemukan di Kepulauan Krakatau diantara Jawa dan Sumatera (MacKinnon, 1990).
Sterna sumatrana sumatrana
Burung dara laut S. s. sumatrana dikenal ”burung dara laut sumatera” merupakan subspesies S. sumatrana dengan ordo Charadriformes famili Laridae (Avibaseh, 2009). Burung dara laut Sumatera berukuran tubuh kecil yaitu 31 cm. S. s. sumatrana memiliki bulu berwarna putih, ekor panjang dan bercabang. Garis hitam ditemukan pada tengkuk sampai mata, serta paruh berwarna hitam. Tubuh bagian atas berwarna abu-abu pucat, sedangkan tubuh bagian bawah berwarna putih. Kepala juga berwarna putih dengan bintik hitam pada tengkuk (Sumaryati et al., 2007). Burung muda berbintik-bintik coklat pada mahkota dan kehitam-hitaman di punggung (MacKinnon, 1990). Iris berwarna coklat, paruh hitam dengan ujung kuning saat dewasa atau kuning kotor pada anak. Kaki berwarna hitam pada saat dewasa dan berwarna kuning pada saat masih muda (Sumaryati et al., 2007). Burung dara laut S. sumatrana dalam IUCN Red List memiliki status konservasi least concern (Birdlife Internasionalh, 2009). Gambar 11 menunjukkan S. s. sumatrana yang sedang mengerami telur.
persebaran di pulau-pulau tropis dan pantai di Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik sampai Australia (Sumaryati et al., 2007).
Sumber : www.birdlife.org (2008)
Gambar 11. Sterna sumatrana sumatrana (Burung dara laut Sumatera)
Konvensi Ramsar
Konvensi Ramsar menurut Blacky_Whity (2009) dan Raisa_kd (2009) adalah perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan yang ditandatangani di kota Ramsar, Iran. Konvensi Ramsar disusun dan disetujui negara-negara peserta sidang pada tanggal 2 Pebruari 1971 dan mulai berlaku pada tanggal 21 Desember 1975. Nama resmi konvensi ini adalah The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl
Habitat. Konvensi Ramsar diratifikasi pemerintah Indonesia pada tahun 1991 melalui Keputusan Presiden RI No. 48 tahun 1991. Beberapa keputusan penting dalam Konvensi Ramsar antara lain: (1) Konservasi lahan basah berikut flora dan faunanya dapat dijamin oleh perpaduan kebijakan-kebijakan nasional yang berwawasan luas dengan tindakan internasional yang terkoordinasi; (2) Setiap anggota hendaknya menunjuk lahan basah yang baik di dalam daerahnya untuk dicantumkan pada Daftar Lahan Basah Kepentingan Internasional. dan (3) Merumuskan dan melaksanakan perencanaan dalam rangka meningkatkan pelestarian lahan basah yang termasuk dalam daftar dan sejauh mungkin memanfaatkan lahan basah secara bijaksana di dalam daerahnya.
Lahan Basah
Semua organisme mengandung air dan bergantung pada air untuk bertahan hidup. Air berperanan penting untuk semua keanekaragaman hayati. Konvensi Ramsar mendefinisikan lahan basah meliputi rawa-rawa, danau, terumbu karang, hutan gambut, kolam sementara, gua bawah tanah dan segala macam sistem lain dari pegunungan ke laut, termasuk habitat buatan manusia (Birdlife International, 2010).
Lahan basah berfungsi menyediakan makanan, serat, perlindungan banjir, penjernihan air dan nilai-nilai budaya serta pasokan air. Penggunaan air sangat mempengaruhi hampir pada semua lahan basah. Pembangunan bendungan dan ekstraksi air mengubah ekologi sungai. Pengembangan dan kegiatan pariwisata mengancam keanekaragaman hayati danau. Eksploitasi industri pertanian mengkonversi rawa dan tanah berlumpur menjadi lahan pertanian serta perubahan iklim memiliki implikasi besar terhadap keberadaan lahan basah (Birdlife International, 2010).
Lahan basah sangat penting bagi banyak taksa seperti ikan, penyu dan capung, juga bagi burung air seperti bangau, kuntul, angsa, itik dan burung perancah. Lahan basah digunakan hampir selama burung air. Paling sedikit 12% keberadaan dari seluruh burung berstatus terancam, dengan 146 jenis bergantung pada lahan basah. Bagian penting dari lahan basah yang ditempati burung air adalah danau dan kolam, sungai dan sungai kecil, tanah berlumpur, rawa dan payau dan laguna pesisir (Birdlife International, 2010).
Kategori lahan basah alami yang banyak ditemukan di Indonesia berupa lebak, bonowo, danau air tawar, rawa air tawar, rawa pasang surut air tawar dan air payau, hutan rawa, lahan gambut, dataran banjir, pantai terbuka, estuari, hutan mangrove, dan mud flat. Kategori lahan basah buatan di Indonesia ialah waduk, sawah, perkolaman air tawar dan tambak (Tejoyuwono, 2006).
Ukuran dan Bentuk Tubuh
dan lingkungan merupakan dua hal penting dalam menghasilkan keragaman dalam fenotipik yang ditemukan pada individu-individu sekelompok ternak. Pengaruh genetik dan lingkungan yang diekspresikan sebagai fenotipik merupakan hasil dari perpaduan atau interaksi kedua pengaruh tersebut.
Sifat kualitatif adalah sifat yang dapat dibedakan dengan jelas seperti warna bulu, ada tidaknya tanduk atau adanya suatu cacat. Pada umumnya sifat kualitatif ditentukan oleh satu pasang sampai dua pasang gen. Sifat kualitatif dibandingkan dengan sifat kuantitatif kurang bernilai ekonomis tetapi dalam beberapa hal memiliki nilai yang penting (Martojo, 1992).
Panjang dan Lingkar tarsus
Kaki pada burung mendukung burung pada saat berdiri dan berjalan pada berbagai permukaan. Kaki pada spesies burung air juga digunakan sebagai sarana penggerak yang setara dengan tangan yang berfungsi untuk menangkap benda atau memegang pakan. Ukuran dan bentuk jari kaki tergantung pada fungsi jari kaki dan tempat tinggal burung (Stiles dan Altshuler, 2004). Nishida et al. (1980) menyatakan bahwa ukuran tulang femur, tibia dan tarso metatarsus serta perbandingan antara panjang tarso metatarsus dan lingkar tarso metatarsus menunjukkan nilai-nilai yang efektif untuk menduga konformasi tubuh. Hal serupa juga dinyatakan oleh Sutherland (2008) bahwa tarsus dapat mengindikasikan keseluruhan ukuran tubuh dan akan memberikan informasi konformasi ukuran tubuh yang lebih baik bila dikombinasikan dengan panjang sayap melalui Analisis Komponen Utama.
Panjang Jari Kaki
Burung pada umumnya memiliki empat jari kaki. Jari perama pada sebagian spesies terdiri atas metatarsal kecil dan satu phalanx. Jari kaki kedua, ketiga dan keempat memiliki phalanx masing-masing sebanyak dua, tiga dan empat. Ukuran dan bentuk dari cakar dan panjang jari kaki burung disesuaikan dengan fungsi dan habitat tempat burung itu hidup (Earth Life, 2010).
Sumber: Earth Life (2010)
Gambar 12. Kaki Burung Tipe Palmate Panjang Sayap
Pengukuran panjang sayap dapat dilakukan dengan metode klasik, panjang sayap yang dipipihkan dan panjang sayap rata yang diperpanjang. Metode pengukuran panjang sayap klasik biasa dilakukan dengan pengukuran kelengkungan dorso-ventral normal yang biasa disebut chord sayap. Metode pengukuran panjang sayap yang dipipihkan dilakukan dengan meratakan pengukuran terhadap bulu sayap primer. Metode pengukuran panjang sayap rata yang diperpanjang yaitu dengan meratakan pengukuran sampai dengan panjang maksimum (Stiles dan Altshuler, 2004). Hasil penelitian Nishida et al. (1982) menyatakan bahwa ukuran dan bentuk tubuh ayam dipengaruhi oleh tinggi jengger, panjang sayap, panjang femur dan panjang tibia.
Analisis Komponen Utama
Analisis Komponen Utama (AKU) adalah metode statistik klasik. Pada analisis ini, transformasi linear digunakan dan kompresi data ditemukan (Hollmen, 1996). AKU adalah teknik yang digunakan untuk menyederhanakan suatu data, dengan cara mentransformasi linier sehingga dibentuk sistem koordinat baru dengan varian maksimum (Budi, 2010).
Pada dasarnya AKU bertujuan untuk menerangkan struktur ragam-peragam melalui kombinasi linear dari variabel-variabel. Secara umum AKU bertujuan untuk mereduksi data dan menginterpretasikan data tersebut (Gaspersz, 1992); tanpa mengurangi karakteristik data secara signifikan (Budi, 2010).
Dendogram dan Pohon Filogenetik
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ukuran-ukuran Linear Tubuh Burung dara laut
Rataan panjang tarso metatarsus, lingkar tarso metatarsus, panjang jari ketiga dan panjang sayap tubuh subspesies, A. s. pileatus, C. h. javanica, S. a. sinensis,S. a. anaethetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S. s. sumatrana; disajikan pada Tabel 1, 2 dan 3. Masing-masing tabel menyajikan subspesies dengan genus yang sama. Simpangan baku dan koefisien keragaman pada masing-masing variabel ukuran linear tubuh; juga disajikan.
Genus Anous
Rataan, simpangan baku dan koefisien keragaman masing-masing variabel ukuran linear tubuh burung dara laut genus Anousyang meliputi dan A. s. pileatus; disajikan pada Tabel 1. Pemisahan jenis kelamin dilakukan pada perhitungan tersebut.
Tabel 1.Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman Variabel Panjang Tarso metatarsus, Lingkar Tarso metatarsus, Panjang Jari Ketiga dan Panjang
jika nilai minimal 5%-10% pada kondisi homogen atau 10%-20% pada kondisi heterogen; kecil, jika nilai maksimal 5% pada kondisi homogen atau 10% pada kondisi heterogen. Koefisien keragaman yang besar diperoleh pada panjang jari ketiga betina subspesies.
Genus Chlidonias
Rataan, simpangan baku dan koefisien keragaman masing-masing variabel ukuran linear tubuh burung dara laut genus Chlidonias yaitu C. h. javanica; disajikan pada Tabel 2. Perhitungan pada jantan dan betina dilakukan.
Tabel 2. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman Variabel Panjang Tarso metatarsus, Lingkar Tarso metatarsus, Panjang Jari Ketiga dan Panjang Keterangan: Persen dalam tanda kurung menunjukkan koefisien keragaman; n=
jumlah sampel
Nilai koefisien keragaman variabel-variabel ukuran linear tubuh yang diamati pada subspesies C. h. javanica; diperoleh antara 4,55%-13,78%. Koefisien keragaman tersebut berada dalam kisaran kecil hingga besar. Kisaran nilai koefisien keragaman ini menurut Syahid (2009) adalah antara kecil yaitu maksimal 5% dan besar minimal 10%. Koefisien keragaman yang besar diperoleh pada variabel panjang tarso metatarsus.
Genus Sterna
Tabel 3. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman Variabel Panjang Tarso metatarsus, Lingkar Tarso metatarsus, Panjang Jari Ketiga dan Panjang Sayap S. a. sinensis, S. a. anaethetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S. s. sumatrana pada Jantan dan Betina
Subspesies Jenis Keterangan: Persen dalam tanda kurung menunjukkan koefisien keragaman
Keragaman materi genetik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan genetik suatu individu. Docstoc (2010) menyatakan bahwa keragaman genetik adalah berbagai variasi aspek biokimia, struktur dan sifat organisme yang diturunkan secara fisik dari tetua betina (induk). Pembentukan genetik suatu individu tidak bersifat statis dan keragaman materi genetik memungkinkan seleksi alam terjadi. Nilai koefisien keragaman secara keseluruhan spesies dara laut yang diamati berada dalam kisaran sedang sampai dengan besar. Berdasarkan hal tersebut populasi subspesies burung dara laut yang diamati memiliki keanekaragaman besar sehingga masih jauh dari kemungkinan punah. Hal ini sesuai dengan status konservasi least concern yang ditetapkan oleh IUCN pada burung dara laut yang diamati (Birdlife Internasional, 2009). Least concern merupakan status konservasi terhadap spesies yang beresiko rendah terhadap ancaman kepunahan. Dijelaskan lebih lanjut oleh Birdlife Internationala,b,c,d,e,f dan g (2011) bahwa kisaran populasi burung dara laut yang diamati sebesar 150.000-22.000.000 individu dewasa.
Statistik T2-Hotelling
Pengujian T2-Hotelling dapat membedakan nilai rata-rata dari variabel-variabel yang diamati secara sekaligus. Pengujian T2-Hotelling antara jantan dan betina disajikan pada Tabel 4; sedangkan pengujian terhadap dua subspesies Burung dara laut dari delapan subspesies yang diamati disajikan pada Tabel 5.
Uji T2-Hotelling antara Jantan dan Betina
Uji T2-Hotelling antara jantan dan betina pada setiap subspesies yang diamati; disajikan pada Tabel 4. Hasil menunjukan bahwa perbedaan jenis kelamin tidak mempengaruhi ukuran-ukuran tubuh yang diamati. Ukuran-ukuran tubuh jantan yang diamati tidak berbeda dengan betina pada setiap subspesies burung dara laut.
Tabel 4. T2-Hotelling antara Jantan dan Betina pada Setiap Subspesies Burung dara laut yang Diamati
Subspesies Jantan dan Betina
A.m. worcesteri tn
A. s. pileatus tn
C. h. javanica tn
S. a. anaethetus tn
S. a. sinensis tn
S. b. cristatus tn
S. f. nubilosa tn
S. s. sumatrana tn
Keterangan: tn = tidak nyata (P>0,01)
Uji T2-Hotelling pada Setiap Dua Subspesies
Uji T2-Hotelling pada setiap dua subspesies burung dara laut dari delapan subspesies yang diamati; disajikan pada Tabel 5. Hasil menunjukkan bahwa perbedaan subspesies mempengaruhi ukuran-ukuran tubuh yang diamati. Tingkat perbedaan yaitu sangat nyata berbeda.
Tabel 5. T2-Hotelling pada Setiap Dua Subspesies pada Delapan Subspesies Burung dara laut yang Diamati
1 2 3 4 5 6 7 8
1
2 ** 3
** **
4 ** ** **
5 ** ** ** **
6
** ** ** ** **
7 ** ** ** ** ** **
8
** ** ** ** ** ** **
Keterangan: ** = sangat nyata (P<0,01);1 = ; 2 = A. s. pileatus; 3 = C. h. javanica; 4 = S. a. sinensi; 5 = S. a. anaethetus; 6 = S. b. cristatus; 7 = S. f. nubilosa;8 = S. s. sumatrana
(1990) yang menyatakan bahwa A. minutus sangat mirip dengan A. stolidus tetapi berukuran lebih kecil dan lebih ramping. Mayr (1945) menyatakan bahwa S. a. sinensis memiliki ukuran sangat kecil dibandingkan spesies burung dara laut lain.
Analisis Komponen Utama
Hasil olahan Analisis Komponen Utama (AKU) berupa persamaan ukuran dan bentuk tubuh pada spesies-spesies dara laut; disajikan pada Tabel 6, 7 dan 8. Masing-masing tabel menyajikan spesies dengan genus yang sama. Tabel 6 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk tubuh pada genus Anous. Tabel 7 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk tubuh pada genus Chlidonias. Tabel 8 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk tubuh pada genus Sterna. Keragaman total dan nilai eigen;juga disajikan. Berdasarkan Tabel 6, 7 dan 8 dapat ditentukan penciri ukuran dan bentuk tubuh pada subspesies yang diamati berdasarkan vektor eigen tertinggi pada masing-masing persamaan. Diagram kerumunan dibentuk berdasarkan skor ukuran dan skor bentuk tubuh yang diperoleh dari persamaan-persamaan. Bahasan hasil Analisis Komponen Utama disajikan setelah seluruh hasil dan diagram kerumunan disajikan.
Genus Anous
Persamaan ukuran dan bentuk tubuh burung dara laut genus Anous yang meliputi dan A. s. pileatus; disajikan pada Tabel 6. Keragaman total dan nilai eigen pada masing-masing persamaan;juga disajikan.
Tabel 6. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh, Keragaman Total dan Nilai Eigen pada dan A. s. pileatus
Subspesies Persamaan KT (%) λ
A. m.
worcesteri
Ukuran = 0,135X1 ̶ 0,016X2+0,060X3+0,989X4 89,9 0,681
Bentuk = 0,116X1+0,151X2+0,979X3 ̶ 0,072X4 9,6 0,072
A. s.
pileatus
Ukuran = ̶ 0,010X1─0,010X2+0,004X3+1,000X4 98,9 3,945
Bentuk = 0,663X1─0,168X2+0,729X3+0,002X4 0,9 0,036
Keterangan: X1 = Panjang Tarso metatarsus; X2 = Lingkar Tarso metatarsus; X3 =
Panjang Jari ketiga dan X4 = Panjang Sayap
sebesar 3,945. Panjang sayap merupakan penciri ukuran pada persamaan ukuran tubuh dan A. s. pileatus dengan masing-masing vektor eigen sebesar 0,989 dan 1,000. Korelasi antara panjang sayap dan skor ukuran pada kedua subspesies tersebut bernilai positif yaitu 1,00. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar nilai panjang sayap maka skor ukuran semakin besar.
Persamaan bentuk yang diperoleh berdasarkan Tabel 6 pada memiliki keragaman total sebesar 9,6% dengan nilai eigen sebesar 0,072; sedangkan pada A. s. pileatus sebesar 0,9% dengan nilai eigen sebesar 0,036. Panjang jari ketiga merupakan penciri bentuk pada persamaan bentuk tubuh dan A. s. pileatus dengan masing-masing vektor eigen sebesar 0,979 dan 0,729. Korelasi positif ditemukan antara panjang jari ketiga dan skor bentuk yaitu 0,98 pada dan 0,94 pada A. s. pileatus. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin besar nilai panjang jari ketiga maka semakin besar pula skor bentuk yang diperoleh pada kedua subspesies tersebut.
Genus Chlidonias
Persamaan ukuran dan bentuk tubuh spesies burung dara laut dari genus Chlidonias yaitu C. h. javanica; disajikan pada Tabel 7. Keragaman total dan nilai eigen pada masing-masing persamaan;juga disajikan.
Tabel 7. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh, Keragaman Total dan Nilai Eigen pada C. h. javanica
Subspesies Persamaan KT (%) λ
C. h.
javanica
Ukuran = 0,052X1+0,007X2+0,041X3+0,998X4 0,941 0,462
Bentuk = 0,828X1 0,238X2+0,507X3+0,024X4 0,045 0,071 Keterangan: X1 = Panjang Tarso metatarsus; X2 = Lingkar Tarso metatarsus; X3 = Panjang Jari
ketiga dan X4 = Panjang Sayap
korelasi tersebut bernilai positif sehingga semakin besar nilai panjang sayap akan meningkatkan skor ukuran, dan semakin besar nilai panjang jari ketiga akan meningkatkan skor bentuk pada subspesies ini.
Genus Sterna
Panjang sayap merupakan penciri ukuran pada persamaan ukuran tubuh S. a. sinensis, S. a. anathetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S. s. sumatrana. Nilai eigen yang diperoleh pada subspesies tersebut masing-masing sebesar 0,997; 1,000; 1,000; 0,996 dan 1,000. Korelasi antara panjang sayap dan skor ukuran pada subspesies S. a. sinensis, S. a. anathetus, S. b. cristatus, S. f. nubilosa dan S. s. sumatrana bernilai positif yaitu 1,00; 1,00; 1,00; 0,99; 1,00.
Tabel 8 menunjukan bahwa persamaan bentuk yang diperoleh dari komponen utama kedua pada S. a. sinensis, memiliki keragaman total sebesar 2,2% dengan nilai eigen sebesar 0,010. Keragaman total pada persamaan bentuk S. a. anaethetus ditemukan sebesar 1,9% dengan nilai eigen sebesar 0,067. Keragaman total pada persamaan bentuk S. b. cristatus ditemukan sebesar 1,2% dengan nilai eigen sebesar 0,039. Keragaman total pada persamaan bentuk S. f. nubilosa ditemukan sebesar 2,4% dengan nilai eigen sebesar 0,022. Keragaman total pada persamaan bentuk S. s. sumatrana ditemukan sebesar 2,4% dengan nilai eigen sebesar 0,019.
Panjang tarso metatarsus merupakan penciri bentuk pada persamaan bentuk tubuh S. a. sinensis dan S. b. cristatus (vektor eigen masing-masing sebesar 0,917 dan 0,820). Korelasi antara panjang tarso metatarsus dan skor bentuk pada S. a. sinensis dan S. b. cristatus bernilai positif yaitu 0,83 dan 0,95. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin besar nilai panjang tarso metatarsus maka semakin besar pula skor bentuk tubuh pada kedua subspesies tersebut. Panjang jari ketiga merupakan penciri bentuk pada S. s. sumatrana dan S. a. anaethetus dengan vektor eigen masing-masing sebesar 0,262 dan 0,989. Korelasi antara panjang jari ketiga dan skor bentuk pada S. s. sumatrana dan S. a. anaethetus bernilai positif yaitu 0,41 dan 0,99. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin besar nilai panjang jari ketiga maka semakin besar pula skor bentuk tubuh pada kedua subspesies tersebut. Lingkar tarso metatarsus merupakan penciri bentuk S. f. nubilosa dengan vektor eigen 0,826. Korelasi antara lingkar tarso metatarsus dan skor bentuk sebesar 0,11. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin besar nilai lingkar tarso metatarsus maka semakin besar pula skor bentuk tubuh pada subspesies tersebut.
Tabel 9. Penciri Ukuran dan Bentuk Tubuh Subspesies Burung dara laut yang Diamati Berikut Korelasinya terhadap Skor Ukuran dan Bentuk
Subspesies Ukuran Bentuk
A. m. worcesteri Panjang Sayap (1,00) Panjang Jari Ketiga (0,98)
A. s. pileatus Panjang Sayap (1,00) Panjang Jari Ketiga (0,94) C. h. javanica Panjang Sayap (0,95) Panjang Tarso metatarsus (0,94) S. a. sinensis Panjang Sayap (1,00) Panjang Tarso metatarsus (0,83) S. a. anaethetus Panjang Sayap (1,00) Panjang Jari Ketiga (0,99) S. b. cristatus Panjang Sayap (1,00) Panjang Tarso metatarsus (0,95) S. f. nubilosa Panjang Sayap (0,99) Lingkar Tarso metatarsus (0,11) S. s. sumatrana Panjang Sayap (1,00) Panjang Jari ketiga (0,41)
Keterangan : Angka dalam tanda kurung menunjukan korelasi antara penciri dan ukuran; antara penciri dan bentuk
Sayap pada burung dara laut berfungsi dan didesain sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai alat untuk terbang. Terbang berarti mengangkat seluruh bobot tubuh burung (Earthlife, 2010 dan Yahya, 2004); yang menggunakan energi sangat besar saat burung mulai mengepakkan sayap (Yahya, 2004). Hal ini bersesuaian dengan hasil yang menunjukkan panjang sayap yang diamati berbanding lurus dengan ukuran tubuh burung dara laut. Semakin panjang sayap maka semakin besar ukuran burung dara laut. Dijelaskan lebih lanjut oleh Nishida et al. (1982) bahwa panjang sayap sangat efektif untuk membedakan konformasi ukuran tubuh pada unggas.
Panjang tarso metatarsus merupakan penciri bentuk dari subspesies C. h. javanica, S. a. sinensis dan S. b. cristatus. Penciri bentuk pada ketiga subspesies tersebut berkaitan dengan fungsi kaki dan habitat ketiga subspesies tersebut. Panjang tarso metatarsus merupakan bagian dari kaki yang pada ketiga subspesies tersebut berfungsi untuk berjalan di lahan basah. Menurut Birdlife Internationalc,d,f(2009) ketiga subspesies tersebut mencari makan di perairan dangkal. Ketiga subspesies tersebut disamping mencari makan di perairan dangkal, juga banyak menghabiskan waktu di lahan basah seperti rawa, daerah berlumpur maupun rawa bakau.
Lingkar tarso metatarsus merupakan penciri bentuk subspesies S. f. nubilosa. Lingkar tarso metatarsus berkaitan erat dengan bobot tubuh. S. f. nubilosa memiliki kebiasaan terlama menetap di daratan; sehingga fungsi tarso metatarsus dengan ukuran lingkarnya diperlukan untuk menopang bobot tubuh selama burung di daratan. Birdlife Internationalg (2009) menyatakan bahwa S. f. nubilosa terus makan pada siang hari pada saat kembali ke koloni untuk berbiak dan menetap di darat pada malam hari selama 2-3 bulan sebelum mulai berkembang biak. Kebiasaan ini merupakan kebiasaan terlama burung dara laut selama mendiami daratan.
Penciri bentuk yang bervariasi mengindikasikan bahwa bentuk lebih merupakan karakteristik genetik dibandingkan dengan ukuran pada subspesies burung dara laut yang diamati. Everitt dan Dunn (1991) menyatakan bahwa bentuk lebih banyak dipengaruhi faktor genetik; lebih banyak diperhatikan oleh ahli taksonomi.
Diagram Kerumunan
Gambar 13. Keenam spesies burung dara laut lain yaitu A. m. worcesteri, S. s. sumatrana, S. f. nubilosa, C. h. javanica, S. a. anaethetus dan A. s. pileatus; memiliki skor ukuran tubuh diantara spesies S. b. cristatus dan S. a. sinensis; yang diperlihatkan dengan kerumunan data yang berada ditengah-tengah gambar. Hal ini bersesuaian dengan MacKinnon (1990) yang menyatakan bahwa ukuran tubuh S. a. sinensis memiliki ukuran tubuh terkecil dibandingkan dengan subspesies burung dara laut yang diamati; sedangkan S. b. Cristatus memiliki ukuran tubuh terbesar; dan keenam subspesies burung dara laut lain pada penelitian ini memiliki ukuran diantara subspesies S. a. sinensis dan S. b. Cristatus.
Keterangan: ■ = Jantan; ʘ = Betina; ▬ = A. m. worcesteri; ▬= A. s. pileatus; ▬= C. h. javanica; ▬ = S. a. sinensis; ▬ = S. a. anaethetus; ▬ = S. b. cristatus; ▬= S. f. nubilosa; ▬ = S. s. sumatrana
Kerumunan data S. f. nubilosa berada di bagian bawah gambar yang mengindikasikan bahwa subspesies tersebut memiliki skor bentuk yang paling rendah diantara subspesies Burung dara laut lain yang diamati. Skor bentuk tubuh tertinggi ditemukan pada A. s. pileatus yang diperlihatkan dengan kerumunan data yang terdapat pada gambar bagian atas. Skor bentuk subspesies burung dara laut lain yang diamati yaitu A. m. worcesteri, C. h. javanica, S. a. sinensis, S. a. anaethetus, S. b. cristatus, dan S. s. sumatrana; memiliki skor bentuk diantara S. f. nubilosa dan A. s. pileatus. Hal tersebut diperlihatkan dengan kerumunan data pada bagian tengah gambar. Hasil yang didapatkan sesuai dengan MacKinnon (1990) yang menyatakan bahwa perbedaan spesies akan menampilkan performa ukuran dan bentuk yang berbeda walaupun dalam satu genus. Dijelaskan lebih lanjut bahwa A. m. worcesteri memiliki bentuk yang lebih ramping dibandingkan A. s. pileatus.
Kedekatan bentuk ditemukan pada S. s. sumatrana, S. a. sinensis dan A. m. worcesteri. Kedekatan bentuk lain ditemukan pada C. h. javanica, S. a. anaethetus dan S. b. cristatus. Bentuk subspesies S. f. nubilosa dan A. s. pileatus berbeda satu sama lain karena data kerumunan tersendiri.
D2-Mahalanobis
Tabel 10. Rekapitulasi Hasil Akar dari D2-Mahalanobis pada Delapan Subspesies Burung dara laut yang Diamati
Spesies 1 2 3 4 5 6 7 8
Dendogram memiliki titik percabangan yang menggolongkan setiap subspesies ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan nilai ketidakserupaan morfometrik. Ketidakserupaan yang kecil mengindikasikan bahwa diantara subspesies tersebut memiliki kedekatan secara morfometrik sehingga digolongkan ke dalam satu kelompok.
Gambar 15. Dendogram Jarak Ketidakserupaan Morfometrik Berdasarkan Akar Jarak D2-Mahalanobis pada Subspesies Burung dara laut yang Diamati Dendogram pada Gambar 14, menjelaskan bahwa terdapat dua kelompok besar subspesies burung dara laut yang diamati. Titik percabangan 5,96 (1,50+1,43+3,03) memisahkan kelompok A dan kelompok B. Kelompok A meliputi
S. a. anaethetus, S. f. nubilosa, S. b. cristatus, C. h. javanica, S. s. sumatrana, A. m. worcesteri dan A. s. pileatus; sedangkan kelompok B yaitu S. a. sinensis. Titik percabangan 4,46 (1,43+3,03) memisahkan kelompok A1 dan A2. Kelompok A1 meliputi S. a. anaethetus, S. f. nubilosa, S. b. cristatus, C. h. javanica dan S. s. sumatrana; sedangkan A2 meliputi A. m. worcesteri dan A. s. pileatus. Titik perpotongan 3,24 (2,56+0,68) memisahkan kelompok A1.1 dan A1.2. Kelompok A1.1 meliputi S. a. anaethetus, S. f. nubilosa dan S. b. cristatus; sedangkan kelompok A1.2 meliputi C. h. javanica dan S. s. sumatrana. Titik perpotongan 2,2 (1,08+1,12) memisahkan kelompok A1.1 menjadi A1.1.1 dan A1.1.2. Kelompok A1.1.1 meliputi S. a. anaethetus dan S. f. nubilosa; sedangkan kelompok A1.1.2 yaitu S. b. cristatus.
Jarak ketidakserupaan morfometrik yang semakin besar mengindikasikan hubungan kedekatan genetis yang semakin jauh. Noor (2008) menyatakan bahwa sifat kuantitatif dikendalikan banyak gen. Martojo (1992) menyatakan bahwa sifat kuantitatif dipengaruhi oleh banyak gen dan oleh faktor lingkungan. Morfometrik merupakan sifat kuantitatif yang dapat diukur. Keserupaan yang tinggi diindikasikan dengan nilai ketidakserupaan morfometrik yang rendah. Nilai ketidakserupaan terendah ditemukan pada subspesies C. h. javanica dengan S. s. sumatrana yaitu sebesar 0,6765. Pada diagram kerumunan, kedua subspesies tersebut ditemukan di tengah-tengah.
berkerumun di sebelah kanan pada diagram kerumunan. Berdasarkan letak kerumunannya, ketujuh subspesies tersebut merupakan satu kesatuan.
Berdasarkan dendogram pada Gambar 10 kelompok A1 dipecah menjadi kelompok A1.1 dan A1.2. Kelompok A1.2 meliputi C. h. javanica dan S. s. sumatrana yaitu burung dara laut yang menurut MacKinnon (1990) biasa berkoloni masing-masing di daratan dan di pantai pasir.
Kelompok A1.1 meliputi S. a. anaethetus, S. f. nubilosa dan S. b. cristatus. MacKinnon (1990) menyatakan bahwa ketiga subspesies tersebut berukuran sedang. Pemisahan spesies-spesies tersebut menjadi kelompok A1.1.1 dan A1.1.2 lebih disebabkan perbedaan habitat dan tingkah laku mencari makan. MacKinnon (1990) menyatakan bahwa S. a. anaethetus dan S. f. nubilosa memiliki habitat di laut dan jarang menuju pantai. Kedua subspesies tersebut memiliki kebiasaan menyerok makanan yang berupa ikan dan serangga air dari permukaan air dengan gaya terbang yang tidak menukik. Subspesies S. b. cristatus memiliki habitat di perairan laut dangkal (Birdlife Internationalf, 2009) dan melakukan kebiasaan gaya menyelam yang sedikit kaku saat mencari makan berupa ikan dan kepiting (MacKinnon, 1990). Berdasarkan diagram kerumunan data individu-individu S. b. cristatus memiliki ukuran yang besar sehingga kerumunan data spesies ini memisah dari S. a. anaethetus dan S. f. nubilosa. Skor ukuran S. a. anaethetus dan S. f. nubilosa hampir sama tetapi memiliki skor bentuk yang berbeda satu sama lain. Bentuk S. b. cristatus mirip dengan S. a. anaethetus tetapi berbeda dengan S. f. nubilosa; yang diperlihatkan dengan kisaran skor bentuk yang bertumpang tindih tetapi terpisah dengan S. f. nubilosa.