Kerentanan Stok Ikan yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Banten

41  Download (1)

Teks penuh

(1)

KERENTANAN STOK IKAN YANG DIDARATKAN DI

PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN

)

KARANGANTU, BANTEN

NURFITRI TRIRAMDANI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Kerentanan Sumber Daya Ikan yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Banten adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

(4)

ABSTRAK

NURFITRI TRIRAMDANI. Kerentanan Stok Ikan yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Banten. Dibimbing oleh YONVITNER dan ACHMAD FAHRUDIN.

Ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis penting di Teluk Banten. Upaya penangkapan menggunakan alat tangkap bagan, dogol, dan jaring insang dapat menyebabkan penurunan populasi bahkan kerentanan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji tingkat kerentanan stok dan potensi keberlanjutannya. Dua karakteristik utama yang menentukan keberlanjutan perikanan yaitu kemampuan populasi untuk pulih (produktivitas) dan kerentanan spesies untuk tertangkap (suseptabilitas). Ikan kembung lelaki memiliki nilai produktivitas dan suseptabilitas yang paling tinggi dibandingkan ikan kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek. Indeks kerentanan yang didapatkan untuk ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek secara berturut-turut yaitu 1.04, 1.00, 0.89, 073, dan 0.92.

Kata kunci: kerentanan, produktivitas, suseptabilitas, Teluk Banten

ABSTRACT

NURFITRI TRIRAMDANI. The Fish Stocks Vulnerability Landed on PPN Karangantu, Banten. Supervised by YONVITNER and ACHMAD FAHRUDIN.

Indian mackerel, threadfin bream, yellowstripe scad, fringescale sardinella, and torpedo scad have an economically important value in Gulf of Banten. The fishing effort use are lift net, demersal danish seine, and gill net can be cause population depletion and vulnerability. The purpose of study was to assess the stock vulnerablility and potential of sustainability. Two main characteristic

determine the sustainability of fishery is the population’s ability to recover once

depleted (productivity) and the susceptibility of spesies capture (susceptibility). Indian mackerel had the highest value productivity and susceptibility than threadfin bream, yellowstripe scad, fringescale sardinella, and torpedo scad. The vulnerability index that have for Indian mackerel, threadfin bream, yellowstripe scad, fringescale sardinella, and torpedo scad consecutive which is 1.04, 1.00, 0.89, 0.73, and 0.93.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan

pada

Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan

KERENTANAN STOK IKAN YANG DIDARATKAN DI

PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN

)

KARANGANTU, BANTEN

NURFITRI TRIRAMDANI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi : Kerentanan Stok Ikan yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Banten

Nama : Nurfitri Triramdani

NIM : C24090037

Program studi : Manajemen Sumberdaya Perairan

Disetujui oleh

Dr Yonvitner, SPi MSi Pembimbing I

Dr Ir Achmad Fahrudin, MSi Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir M. Mukhlis Kamal, MSc Ketua Departemen

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Kerentanan Stok Ikan yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu,

Banten” ini dapat diselesaikan. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi di Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Desember 2013-Februari 2014

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini, terutama kepada: 1. Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan kesempatan bagi penulis

untuk studi di Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan.

2. Dr Yonvitner, SPi MSi selaku pembimbing skripsi pertama dan Dr Ir Achmad Fahrudin, MSi selaku dosen pembimbing kedua yang senantiasa memberikan masukan dalam penulisan skripsi ini.

3. Dr Ir Bambang Widigdo selaku pembimbing akademik.

4. Dr Ir Isdradjat Setyobudiandi, MSc selaku dosen penguji tamu dan Dr Ir Rahmat Kurnia, MSi selaku dosen penguji dari program studi.

5. Beasiswa dari PT. KEB dan Peningkatan Prestasi Akademik (PPA).

6. Bapak, Mama, Deni Herdiana, Rivaldi Putra Pratama, Kak Winda, kak Fuji, Ratna, Galih, dan seluruh keluarga yang selalu mendoakan dan mendukung. 7. Bapak Wanto dan seluruh staf PPN Karangantu yang telah membantu selama

proses pengambilan data.

8. Keluarga teh Heni Wulandari dan Ono Suparno.

9. Teman–teman MSP 46 yaitu Devi, Ajeng, Niken, Mei, Allsay, Nursi, Ginna, Selvia, Novita, Nolalia, Eci, Nurul, Alin, Dwi, Ai, Ratih, Viska, Arni, Gilang, Tyas, dan yang tidak disebutkan satu per satu.

10.Temen–teman kosan Griya Pink yaitu Eva, Ami, Widya, Dita, Tiwi, Hanum, Fatma, Ika, dan Endah.

11.MSP 47, MSP 48, Mba Desti, Mba Widar, Mba Yani, dan seluruh staf TU MSP

Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan penulisan di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini bisa bermanfaat.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

METODE 2

Lokasi dan Waktu Penelitian 2

Alat dan Bahan 3

Pengumpulan Data 3

Analisis Data 4

Tahapan PSA 7

HASIL DAN PEMBAHASAN 7

Hasil 7

Pembahasan 13

KESIMPULAN DAN SARAN 16

Kesimpulan 16

Saran 16

DAFTAR PUSTAKA 16

LAMPIRAN 20

(10)

DAFTAR TABEL

1 Produktivitas sumber daya ikan 10

2 Suseptabilitas sumber daya ikan 11

3 Kerentanan sumber daya 13

DAFTAR GAMBAR

1 Peta lokasi pengambilan contoh dan daerah penangkapan ikan 3

2 Ikan kembung lelaki 8

3 Ikan kurisi 8

4 Ikan selar kuning 9

5 Ikan tembang 9

6 Ikan tetengkek 10

7 Produktivitas dan suseptabilitas 12

DAFTAR LAMPIRAN

1 Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian 20 2 Penetapan skor atribut produktivitas dan suseptabilitas (Patrick 2009) 20

3 Sebaran frekuensi panjang 22

4 Pemberian skor produktivitas 23

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sumber daya ikan yang didaratkan di PPN Karangantu merupakan ikan pelagis dan ikan demersal. Ikan-ikan tersebut di antaranya, yaitu ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), ikan kurisi (Nemipterus japonicus), ikan selar kuning (Selaroides leptolepis), ikan tembang (Sardinella fimbriata), dan ikan tetengkek (Megalaspis cordyla). Ikan kembung lelaki ditangkap dengan alat tangkap jaring insang, sedangkan ikan kurisi, selar kuning dan tetengkek ditangkap dengan alat tangkap dogol. Bagan digunakan untuk menangkap ikan tembang. Penggunaan alat tangkap dan cara pengoperasian yang berbedadapat mempengaruhi stabilitas ikan di alam.

Penelitian Prahadina (2013) menunjukkan bahwa ikan kembung lelaki di Teluk Banten telah mengalami tangkap lebih. Ikan kurisi telah mengalami tangkap lebih (Oktaviyani 2013). Putri (2013) dan Mayalibit (2013) menyebutkan bahwa ikan selar kuning telah mengalami tangkap lebih secara biologi dan ekonomi. Ikan tembang telah mengalami tangkap lebih secara biologi (Simarmata 2013) dan tangkap lebih secara ekonomi (Purnamasari 2013). Izati (2013) menyebutkan bahwa ikan tetengkek belum mangalami tangkap lebih secara biologi, sedangkan Hairunnisa (2013) menyebutkan bahwa ikan tetengkek belum mengalami tangkap lebih secara ekonomi. Usaha penangkapan berpengaruh terhadap kelimpahan ikan karena kegiatan ini mempunyai dampak terhadap pertumbuhan, umur pertama kali matang gonad, fekunditas, rekrutmen, dan mortalitas (Syahailatua 1993).

Ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek merupakan ikan ekonomis penting (Genisa 1999). Peningkatan permintaan terhadap konsumsi stok ikan tersebut dapat mendorong peningkatan upaya penangkapan. Tingginya penangkapan dapat menyebabkan penurunan produksi stok ikan. Produktivitas stok ikan yang menurun akibat adanya penangkapan dapat menyebabkan kerentanan stok. Menurut Karsperson et al. (2001) in Runtuboi (2012) menyebutkan bahwa kerentanan adalah tingkatan pada suatu sistem yang dipengaruhi oleh keterbukaan atau gangguan/tekanan dan kemampuan untuk mengatasi atau memulihkan diri terhadap gangguan. Kerentanan stok ikan terhadap penangkapan adalah ketidakmampuan stok ikan untuk mengatasi dampak dari penangkapan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian terkait stok ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek di perairan Teluk Banten agar diperoleh informasi dasar untuk pengelolaan sumber daya ikan tersebut agar tetap lestari dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek biologi dan ekologi.

Perumusan Masalah

(12)

2

pasar terhadap stok ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek dapat menyebabkan peningkatan upaya penangkapan untuk mengeksploitasi stok ikan tersebut tanpa memperhatikan kelestariannya. Usaha penangkapan berpengaruh terhadap kelimpahan ikan karena kegiatan ini mempunyai dampak terhadap pertumbuhan, umur pertama kali matang gonad, fekunditas, rekrutmen, dan mortalitas (Syahailatua 1993).

Peningkatan upaya penangkapan dapat menyebabkan penurunan biomassa hasil tangkapan. Jika penangkapan ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek tidak dikontrol, dikhawatirkan dapat menyebabkan kerentanan stok ikan tersebut di masa yang akan datang. Analisis produktivitas dan suseptabilitas (PSA) merupakan salah satu metode yang dapat mengukur tingkat kerentanan stok ikan akibat penangkapan. Produktivitas yaitu kapasitas pulih sumber daya, sedangkan suseptabilitas yaitu kecenderungan sumber daya untuk tertangkap. Stok ikan yang memiliki produkivitas yang tinggi dan suseptaabilitas yang rendah menunjukkan stok ikan tersebut memiliki kemampuan bertahan diri yang baik dan sebaliknya (Patrick et al. 2009).

Tujuan Penelitian

Penelitan ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kerentanan sumber daya ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek akibat penangkapan alat tangkap jaring insang, dogol, dan bagan, serta potensi keberlanjutan stok ikan tersebut.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait potensi kerentanan sumber daya ikan, sehingga dapat dijadikan dasar dalam pengelolaan sumber daya ikan di Teluk Banten yang tepat untuk perikanan berkelanjutan.

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

(13)

3

Gambar 1 Peta lokasi pengambilan contoh dan daerah penangkapan ikan

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alat pengumpulan, pengukuran, dan pencatatan data. Bahan yang digunakan yaitu ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), kurisi (Nemipterus japonicus), selar kuning (Selaroides leptolepis), tembang (Sardinella fimbriata), dan tetengkek (Megalaspis cordyla). Bahan untuk pengawetan sampel yaitu formalin 4%.

Pengumpulan Data

Data Primer

Pengumpulan data primer terdiri dari kegiatan wawancara dan pengambilan contoh ikan. Wawancara dilakukan terhadap nelayan yang menangkap ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek dengan menggunakan daftar pertanyaan terstruktur (kuisioner). Pemilihan nelayan dilakukan dengan metode purposive sampling, di mana wawancara dilakukan pada nelayan yang menggunakan alat tangkap standar untuk masing-masing ikan. Alat standar untuk menangkap ikan kembung lelaki yaitu jaring insang. Ikan kurisi, selar kuning, dan tetengkek ditangkap dengan menggunakan alat tangkap standar yaitu dogol, sedangkan ikan tembang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap bagan.

(14)

4

kematangan gonad (TKG) di Laboratorium Biologi Perikanan. Analisis jenis kelamin dan TKG dilakukan dengan pembedahan ikan. Pengamatan fekunditas dan diameter telur ikan tetengkek dan selar kuning juga dilakukan dalam analisis laboratorium.

Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi terkait stok ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek yang menjadi objek penelitian. Sumber data sekunder terdiri dari penelitian yang telah dilakukan terhadap ikan yang diteliti di perairan Teluk Banten dan Selat Sunda. Data penelitian yang bersumber dari penelitian di Selat Sunda yaitu pertumbuhan intrinsik dan umur maksimum ikan kembung lelaki, serta umur maksimum ikan tembang. Adapun data yang bersumber dari penelitian di Teluk Banten yaitu pertumbuhan intrinsik ikan tembang, fekunditas ikan kembung lelaki, kurisi, dan tembang, serta mortalitas alami ikan tetengkek. Selain itu, sumber data sekunder juga berasal dari www.fishbase.org. Data yang bersumber dari www.fishbase.org yaitu mean trophic level, age at maturity, pertumbuhan intrinsik dan umur maksimum ikan tetengkek, umur maksimum ikan kurisi, umur maksimum ikan selar kuning, dan umur maksimum ikan tetengkek.

Analisis Data

Sebaran Frekuensi Panjang

Data yang digunakan dalam penentuan distribusi frekuensi panjang ini adalah data panjang total dari sumber daya ikan yang ditangkap di perairan Teluk Banten dan didaratkan di PPN Karangantu. Langkah-langkah dalam menganalisis sebaran frekuensi panjang ikan adalah menentukan jumlah selang kelas panjang yang diperlukan terlebih dahulu, menentukan lebar selang kelas, dan kemudian menentukan kelas frekuensi, serta memasukkan frekuensi masing-masing kelas dengan memasukkan panjang masing-masing ikan contoh pada selang kelas yang telah ditentukan dengan menggunakan software Ms. Excel 2007.

Pendugaan L, K dan t0

Koefisien pertumbuhan (K) dan L∞ dapat diduga dengan menggunakan model pertumbuhan Von Bartalanffy (Sparre dan Venema 1999):

Lt = L 1 - exp -kt-t0

(15)

5

Mortalitas dan Laju Eksploitasi

Laju mortalitas total (Z) diduga dengan kurva tangkapan yang dilinearkan berdasarkan data komposisi panjang (Sparre dan Venema 1999) menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

Langkah 1 : mengkonversikan data panjang ke data umur dengan menggunakan inverse persamaan von Bertalanffy

t L = t0 − 1 Kln

1-L L

Langkah 2 : menghitung waktu rata-rata yang diperlukan oleh ikan untuk tumbuh dari panjang L1 ke L2 (t)

∆t = t L2 - t L1 = 1 Kln

− �1

− �2

Langkah 3 : menghitung (t+t/2) yang diasumsikan sama dengan t(L1)+∆t/2 sama dengan

t L1+L2

2 = t0- 1 Kln

1-L1 + L2 2 x L

Langkah 4 : menurunkan kurva hasil tangkapan (C) yang dilinearkan yang dikonversikan ke panjang

ln c L1,L2

∆t L1L2 = c – Z x t

L1+ L2 2

Persamaan di atas adalah bentuk persamaan linear dengan kemiringan (b) = -Z. Laju mortalitas alami (M) diduga dengan menggunakan rumus empiris Pauly (1980) in Sparre dan Venema (1999) sebagai berikut :

M = 0.8 x exp (-0.0152 – (0.270 x ln L) + (0.6543 x ln K) + (0.463 x ln T) L∞ adalah panjang asimsotik pada persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy, K adalah koefisien pertumbuhan, dan T adalah rata-rata suhu permukaan air (0C). Laju mortalitas penangkapan (F) ditentukan dengan :

F = Z – M

Laju eksploitasi (E) ditentukan dengan membandingkan mortalitas penangkapan (F) terhadap mortalitas total (Z):

E = F F + M=

F Z

(16)

6

Fekunditas

Fekunditas adalah semua telur-telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan. Fekunditas ikan dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Effendie 2002) berikut :

F= G x V x X Q Keterangan :

F = Fekunditas (butir) G = Bobot gonad (gram) V = Volume pengenceran (ml) X = Jumlah telur tiap ml (butir/ml) Q = Bobot telur contoh (gram) Mean Trophic Level

Nilai mean trophic level ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek diperoleh dari www.fishbase.org. Stergiou dan Karpouzi (2002) membagi jenjang trofik ke dalam empat kelompok yaitu herbivora (nilai trofik level = 2.0 – 2.1), omnivora cenderung herbivora (2.1 < Trofik level < 2.9), omnivora cenderung karnivora (2.9 < Trofik level < 3.7), dan karnivora (3.7 < Trofik level < 4.5).

Nilai Ekonomis

Nilai ekonomi yang dimaksud adalah harga jual ikan yang dikaji dibandingkan dengan ikan lainnya. Nilai ekonomi ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek diperoleh dari hasil wawancara terhadap nelayan.

Indeks kerentanan

Penentuan skor kerentanan secara keseluruhan disebut sebagai jarak Euclidean dari asal sumbu x-y pada plot scatter dan titik datum (Patrick et al. 2009):

v = p - 3 2 + s - 1 2 Keterangan :

v = indeks kerentanan p = Skor Produktivitas s = Skor suseptabilitas

(17)

7

Tahapan PSA

Analisis produktivitas dan suseptabilitas pengerjaannya dilakukan menggunakan software PSA yang dikembangkan oleh national oceanic and atmospheric administration (NOAA) National Marine Fisheries Service. Langkah awal dalam analisis yaitu dengan memasukan data base ke dalam format Excel untuk masing-masing parameter produktivitas dan suseptabilitas. Patrick et al. (2009) menyatakan bahwa atribut yang termasuk dalam parameter produktivitas yaitu pertumbuhan intrinsik, umur maksimum, ukuran maksimum, koefisien pertumbuhan Von Bertalanffy, mortalitas alami, fekunditas, breeding strategy, pola rekrutmen, umur pertama matang gonad, dan mean trophic level. Analisis menggunakan PSA tidak hanya memperhatikan faktor biologi saja, tetapi juga mempertimbangan faktor ekologi.

Parameter suseptabilitas mengkaji manajemen dan kemampuan penangkapan terhadap sumber daya ikan (Patrick et al. 2009; Patrick et al. 2010). Atribut yang termasuk dalam manajemen yaitu management strategy, F/M, spawning stock biomass (SSB), survival after capture, dan fishery impact to essential fish habitat. Area overlap, konsentrasi geografis, vertical overlap, seasonal migrations, shooling, aggregation, and other behavioral responses, morphology affecting capture, dan desirability or value of fishery merupakan atribut kemampuan penangkapan.

Data yang telah dibuat dalam format Excel dimasukkan ke dalam format Stock list yang baru pada software PSA. Setiap parameter produktivitas dan susceptabilitas dilakukan penilaian dalam kategori bobot nilai, skor atribut dan kualitas data. Bobot nilai menunjukkan nilai kepentingan dari setiap parameter. Nilai ini cukup subjektif dan diperoleh melalui judgement peneliti terhadap parameter yang paling penting. Nilai judgement antara 0 dan 4. (0 = tidak penting; 1 = Kurang penting; 2 = Penting; 3 = Lebih penting; dan 4 = Sangat penting). Skor atribut disesuaikan dengan kriteria dari NOAA (Lihat lampiran 2). Kualitas data menunjukkan penggunaan sumber data yang digunakan dalam analisis. Nilai kualitas data berkisar 1 sampai 5. (1 = Data banyak dan lengkap; 2 = Data terbatas (Temporal dan spatial); 3 = Data dari genus atau famili yang sama; 4 = Data baru bersifat informasi yang belum terpublikasi, dan 5 = Tidak ada data).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Deskripsi ikan

Kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)

(18)

8

Gambar 2 Ikan kembung lelaki

Ikan kembung lelaki merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai ekonomi penting (Genisa 1999). Ikan kembung lelaki ditangkap dengan menggunakan jaring insang hanyut dengan ukuran mata jaring 2 inchi. Kapal yang digunakan dalam operasi penangkapan dengan jaring insang hanyut yaitu 5 GT. Harga jual ikan kembung lelaki mencapai Rp. 27 000 per kilogram.

Kurisi (Nemipterus japonicus)

Ikan kurisi merupakan salah satu hasil tangkapan nelayan di sekitar Teluk Banten. Ikan kurisi merupakan spesies demersal dan hidup bergerombol pada kedalaman 5 hingga 80 m. Makanan ikan kurisi adalah ikan kecil, krustacea, moluska (terutama gurita), polychaeta, dan Echinodermata. Ikan kurisi memiliki bentuk tubuh yang pipih ditunjukkan pada Gambar 3 (Carpenter dan Niem 2001b).

Gambar 3 Ikan kurisi

Ikan kurisi ditangkap menggunakan dogol yang dioperasikan untuk menangkap udang dan ikan demersal. Pengoperasian alat tangkap ini yaitu dengan cara menarik sepanjang perairan, di mana perahu dalam keadaan bergerak (Barus dan Mahiswara 1994). Ikan kurisi di PPN Karangantu dijual dengan harga mencapai Rp. 17 000 per kilogram.

Selar Kuning (Selaroides leptolepis)

(19)

9

Gambar 4 Ikan selar kuning

Ikan selar kuning merupakan ikan ekonomi penting yang dijual dengan harga Rp. 15 000 per kilogram. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan ini adalah dogol. Dogol termasuk alat tangkap kategori pukat kantong (Diniah 2008).

Ikan tembang (Sardinella fimbriata)

Ikan tembang merupakan ikan pelagis kecil yang hidup bergerombol dalam jumlah yang besar. Ikan tembang termasuk ikan omnivora cenderung herbivora dengan makanan utamanya adalah fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae (Izzani 2012). Ikan ini memiliki tubuh yang pipih dan memanjang untuk memudahkan pergerakkannya di kolom perairan (Gambar 5).

Gambar 5 Ikan tembang

Ikan tembang di PPN Karangantu dijual dengan harga mencapai Rp. 7 000 per kilogram. Ikan tembang merupakan hasil tangkapan dari alat tangkap bagan. Bagan beroperasi pada malam hari, terutama bulan gelap dengan menggunakan alat bantu penangkapan berupa lampu. Nelayan bagan umumnya melakukan operasi penangkapan ikan dalam satu hari.

Tetengkek (Megalaspis cordyla)

(20)

10

Gambar 6 Ikan tetengkek

Ikan tetengkek merupakan hasil tangkapan dogol. Daerah penangkapan dogol tidak jauh dari pantai pada bentuk dasar Perairan berlumpur atau lumpur berpasir dengan permukaan dasar rata (Subani dan Barus 1989 in Oktaviyani 2013). Ikan tetengkek dijual dengan harga Rp. 18 000 per kilogram.

Parameter produktivitas dan suseptabilitas

Ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek merupakan hasil tangkapan dari sekitar perairan Teluk Banten yang didaratkan di PPN Karangantu. Perbedaan spesies dari kelima ikan tersebut berpengaruh terhadap biologi dan dinamika stok. Pengetahuan terhadap aspek biologi stok ikan tersebut penting untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan untuk menjaga kelestariannya. Produktivitas merupakan salah satu parameter PSA yang digunakan untuk melihat kapasitas kemampuan pulih dari sumber daya ikan tersebut. Produktivitas dari ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Produktivitas sumber daya ikan

Atribut Satuan

Nama Ikan Kembung

lelaki Kurisi

Selar

kuning Tembang Tetengkek Pertumbuhan Umur maksimum tahun 1.303

5.609 2.509 1.804 3.609

Fekunditas butir 9058-551816

Sumber 1: Yulianie R 2012, 2: Purnamasari 2013, 3: Fandri D 2012, 4: Megawati E 2012, 5: Izati N 2013, 6: Safarini D 2013, 7: Nolalia 2013, 8: Sari AP 2013, 9: Fish base

(21)

11 panjang dibandingkan dengan ikan lainnya yaitu selama 5.60 tahun. Ukuran maksimum ikan tetengkek lebih panjang dibandingkan dengan ikan lainnya sebesar 29.10, sedangkan ikan kembung lelaki lebih pendek yaitu sebesar 15.60. Ikan selar kuning memiliki koefisien pertumbuhan dan mortalitas alami yang lebih tinggi dibandingkan ikan lainnya. Fekunditas yang dihasilkan masing-masing ikan berbeda-beda. Keberhasilan rekrutmen menunjukkan ikan tembang memiliki potensi yang paling kecil yaitu sebesar 16.83. Mean trophic level ikan tetengkek lebih besar dibandingkan dengan ikan lainnya sebesar 4.40, sedangkan ikan tembang memiliki nilai terendah yaitu 2.70.

Suseptabilitas menunjukkan kecenderungan sumber daya ikan untuk tertangkap. Tabel 2 menunjukkan hasil parameter suseptabilitas dari ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek.

Tabel 2 Suseptabilitas sumber daya ikan

Atribut Suscceptabilitas

Nama Ikan Kembung

lelaki Kurisi

Selar

kuning Tembang Tetengkek

Management strategy A A A A A and other behavioral responses,

C C C C C

Morfology affecting alat tangkap Desirability/ Value of

the Fishery monitoring dengan baik, B: ikan bermigrasi sehingga mempengaruhi pengurangan hasil tangkapan, C: kebiasaan ikan hidup bergerombol mempengaruhi pegurangan hasil tangkapan.

(22)

12

tertinggi yaitu Rp. 27 000 per kilogram, sedangkan ikan tembang memiliki harga jual terendah yaitu Rp. 7 000 per kilogram. SSB ikan tembang memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan ikan lainnya (Tabel 2).

Hasil dari parameter produktivitas dan suseptabilitas yang didapatkan diberi skoring untuk bobot nilai, skor atribut, dan kualitas data. Skoring masing-masing ikan dapat dilihat pada Lampiran 4 dan Lampiran 5. Analisis produktivitas dan suseptabilitas menggunakan software PSA yang dikembangkan oleh NOAA menghasilkan grafik yang menghubungkan parameter produktivitas dan suseptabilitas. Penomoran lingkaran pada Gambar 7 menunjukkan jenis ikan yang diteliti. Nomor 1 menjelaskan ikan kembung lelaki, nomor 2 menjelaskan ikan kurisi, nomor 3 menjelaskan ikan selar kuning, nomor 4 menjelaskan ikan tembang, dan nomor 5 menjelaskan ikan tetengkek. Garis warna merah yang membujur menunjukkan bahwa ikan memiliki tingkat kerentanan tinggi. Kerentanan sedang ditunjukkan pada daerah garis warna hijau membujur. Adapun garis warna biru yang membujur menunjukkan daerah kerentanan rendah.

Gambar 7 Grafik produktivitas dan suseptabilitas. Warna pada lingkaran menunjukkan kualitas data dan angka di dalam lingkaran menunjukkan jenis ikan.

Gambar 7 menunjukkan bahwa ikan kurisi dan tetengkek memiliki nilai produktivitas yang sama, namun nilai suseptabilitas ikan kurisi lebih tinggi dibandingkan dengan ikan tetengkek. Ikan kembung lelaki, selar kuning, dan tembang memiliki nilai produktivitas yang paling tinggi dibandingkan dengan ikan kurisi dan tetengkek. Ikan kembung lelaki memiliki nilai produktivitas dan suseptabilitas yang paling tinggi dibandingkan dengan ikan kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek.

Analisis kerentanan

(23)

13 Tabel 3 Kerentanan sumber daya

No Nama ikan Nilai produktivitas Nilai suseptabilitas Indeks kerentanan

1 Kembung lelaki 2.70 2.00 1.04

2 Kurisi 2.60 1.92 1.00

3 Selar kuning 2.70 1.83 0.89

4 Tembang 2.70 1.67 0.73

5 Tetengkek 2.60 1.83 0.92

Indeks kerentanan ikan kembung lelaki memiliki nilai indeks kerentanan yang paling tinggi dibandingkan dengan ikan kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek yaitu sebesar 1.04. Nilai indeks kerentanan terendah yaitu ikan tembang sebesar 0.73. Ikan kembung lelaki dan tembang memiliki nilai produktivitas yang sama, tetapi indeks kerentanannya berbeda. Ikan kurisi dan kembung lelaki memiliki nilai produktivitas yang sama, tetapi indeks kerentannya tidak signifikan berbeda. Ikan kembung lelaki memiliki nilai produktivitas dan suseptabilitas paling tinggi dibandingkan dengan ikan kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek (Tabel 3).

Pembahasan

Parameter produktivitas dan suseptabilitas

Pertumbuhan diartikan sebagai pertambahan ukuran panjang atau bobot dalam suatu waktu. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam adalah faktor yang umumnya sulit dikontrol seperti keturunan, sex, umur, parasit dan penyakit. Faktor luar yang utama mempengaruhi pertumbuhan yaitu makanan dan suhu perairan (Effendie 2002). Ikan selar kuning memiliki koefisien pertumbuhan yang paling tinggi dibandingkan dengan ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek (Tabel 1). Semakin cepat laju pertumbuhannya, maka akan semakin cepat mencapai panjang asimtotik dan semakin cepat pula ikan tersebut mati. Sparre dan Venema (1999) menyatakan bahwa semakin rendah nilai koefisien pertumbuhan maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai panjang asimtotik, sehingga umur hidupnya lebih lama. Produktivitas rendah ditunjukkan dengan rendahnya nilai koefiesien pertumbuhan (Froese dan Binohlan 2000 in Patrick et al. 2009). Umur maksimum berkorelasi negatif terhadap mortalitas alami (Hoening 1983 in Patrick et al. 2009). Ikan yang memiliki umur maksimum lebih pendek maka kematian alami ikan tersebut akan tinggi karena ikan tersebut cepat mencapai panjang asimtotik.

(24)

14

Fekunditas adalah semua telur-telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendie 2002). Musick (1999) in Patrick et al. (2009) menyatakan bahwa nilai fekunditas yang rendah menyiratkan produktivitas yang rendah, namun nilai fekunditas yang tinggi tidak selalu menyiratkan produktivitas yang tinggi. Kisaran nilai fekunditas ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek menunjukkan produktivitas yang tinggi. Kelimpahan stok ikan di alam juga dipengaruhi oleh keberhasilan proses rekrutmen. Hasil penelitian oleh Amarullah (2008) yaitu keberhasilan rekrutmen stok ikan di alam ditentukan oleh keberhasilan hidup dan tumbuh pada stadia larva maupun juvenil. Rekrutmen kelima ikan yang diteliti menunjukkan produktivitas yang sedang (10% sampai 75% selang kelas berhasil).

Nilai produktivitas yang rendah pada ikan kurisi dan tetengkek karena atribut skor nilai mean trophic level kedua ikan ini menunjukkan produktivitas yang rendah dengan nilai atribut skor lainnya menunjukkan nilai yang sama. Nilai mean trophic level menggambarkan tingkat tropik pada piramida makanan. Menurut Stergiou dan Karpouzi (2002), trophic level yang diperoleh ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek menunjukkan kebiasaan makan untuk masing-masing ikan yaitu omnivora cenderung karnivora, karnivora, omnivora cenderung karnivora, omnivora cenderung pemakan herbivora, dan karnivora. Ikan kembung lelaki, selar kuning dan tembang memiliki tingkat tropik level yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kurisi dan tetengkek. Hal ini dikarenakan ikan kembung lelaki, selar kuning, dan tembang harus melakukan transfer biomassa pada jenjang trofik yang lebih tinggi.

Usaha penangkapan berpengaruh terhadap kelimpahan ikan karena kegiatan ini mempunyai dampak terhadap pertumbuhan, umur pertama kali matang gonad, fekunditas, rekrutmen, dan mortalitas (Syahailatua 1993). Suseptabilitas ikan kembung lelaki yang tinggi karena kematian penangkapan ikan yang tinggi dan tidak adanya batasan kebijakan penangkapan. Kematian penangkapan yang tinggi terjadi akibat area overlap dan horizontal overlap yang tinggi. Harga jual ikan kembung lelaki lebih mahal dibandingkan ikan lainnya. Oleh karena itu, eksploitasi ikan kembung lelaki lebih tinggi dibandingkan ikan kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek.

Selektivitas alat tangkap juga mempengaruhi komposisi hasil tangkapan dan ukuran ikan yang tertangkap. Hasil penelitian Apriani et al. (2013) yaitu jaring insang merupakan alat tangkap yang kurang selektif. Bagan merupakan alat tangkap yang kurang selektif (Yuda et al. 2012). Aziz (1989) menyatakan bahwa alat tangkap yang tidak selektif adalah alat-alat yang dalam operasi penangkapannya membentuk kantong. Pengoperasian alat tangkap dogol membentuk kantong, maka dogol termasuk alat tangkap tidak selektif. Kurang selektifnya alat tangkap bagan, dogol, dan jaring insang akan mempengaruhi kualitas ekosistem dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kualitas ekosistem yang menurun akan berdampak pada kestabilan stok ikan.

Analisis kerentanan

(25)

15 lelaki memiliki nilai produktivitas dan suseptabilitas yang lebih tinggi dibandingkan ikan kurisi. Indeks kerentanan ikan kembung lelaki yaitu 1.04, sedangkan ikan kurisi yaitu 1.00 (Tabel 3). Indeks kerentanan ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek memperlihatkan tingkat resiko kerentanan yang rendah karena nilainya kurang dari 1.8 (Patrick et al. 2009). Hal ini menunjukkan tingkat daya tahan ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek cukup baik dalam mempertahankan populasinya akibat adanya penangkapan. Stobutzki et al. (2002) menyatakan bahwa ikan yang memiliki nilai tertinggi pada produktivitas dan suseptabilitas memiliki peluang keberlanjutan yang rendah. Oleh karena itu, pengelolaan kembung lelaki menjadi prioritas untuk menjamin keberlanjutannya.

Kerentanan stok ikan dipengaruhi oleh proses pertumbuhan. Widodo dan Suadi (2006) menyatakan bahwa sumber daya hayati laut mampu membarui dirinya melalui proses pertumbuhan dalam ukuran (panjang) dan massa (bobot) individu selain pertambahan terhadap populasi atau komunitas melalui reproduksi (yang biasa disebut dalam perikanan sebagai rekrutmen). Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh keturunan dan umur ikan yang merupakan faktor yang sulit dikontrol. Ikan kembung lelaki dan kurisi merupakan dua spesies yang berbeda sehingga pertumbuhan ikan tersebut juga akan berbeda. Umur ikan kurisi lebih lama dibandingkan dengan ikan kembung lelaki, sehingga pertumbuhan ikan kurisi lebih lambat dibandingkan dengan ikan kembung lelaki. Hal ini dikarenakan umur yang lebih lama memerlukan waktu yang lebih lama dalam mencapai panjang asimtot, dimana koefisien pertumbuhan ikan tersebut rendah. Oleh karena itu, pertumbuhan yang lambat menunjukkan produktivitas yang rendah.

Penentuan indeks kerentanan juga dipengaruhi oleh kegiatan penangkapan ikan. Indeks kerentanan ikan kembung lelaki lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kurisi karena laju penangkapan ikan kembung lelaki lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kurisi. Ikan kembung lelaki merupakan ikan pelagis kecil yang cenderung bergerombol dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan ikan demersal. Selain itu, ikan pelagis kecil melakukan migrasi, baik vertikal maupun horizontal yang cakupannya lebih luas dibandingkan ikan demersal. Harga ikan kembung lelaki yang lebih tinggi mengakibatkan eksploitasi yang lebih tinggi dibandingkan ikan kurisi.

Alternatif pengelolaan perikanan

(26)

16

mengancam atau merusak kelestarian dan produktivitas dari populasi ikan yang sedang dikelola (Widodo dan Suadi (2006).

Pengelolaan dilakukan untuk menjamin keberlanjutan sumber daya ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek yaitu dengan cara pembatasan upaya penangkapan, pengaturan selektivitas alat tangkap, pengaturan musim, dan daerah penangkapan. Pembatasan upaya penangkapan dilakukan dengan membatasi armada penangkapan, termasuk jumlah dan ukuran kapal serta pembatasan terhadap jenis alat tangkap dan teknik penangkapannya. Pengaturan selektivitas alat tangkap jaring insang, bagan, dan dogol dilakukan dengan cara memperbesar ukuran mata jaring alat tangkap tersebut supaya ikan yang berukuran kecil tidak tertangkap. Adapun pengaturan musim penangkapan dilakukan pada saat ikan musim memijah. Pengaturan musim juga dilakukan dengan penutupan penangkapan di daerah-daerah tertentu seperti daerah memijah dan daerah anakan. Hal ini dilakukan untuk menjamin keberhasilan proses rekrutmen.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Nilai indeks kerentanan dari yang terkecil sampai terbesar yaitu ikan tembang, selar kuning, tetengkek, kurisi, dan kembung lelaki. Ikan kembung lelaki, kurisi, selar kuning, tembang, dan tetengkek memiliki tingkat resiko rendah terhadap kegiatan penangkapan. Namun, ikan kembung lelaki memiliki tingkat peluang keberlanjutan yang rendah dibandingkan dengan ikan lainnya karena memiliki nilai produktivitas dan suseptabilitas yang tinggi.

Saran

Parameter indikator kerentanan perlu dilakukan modifikasi dari metode analisis produktivitas dan suseptabilitas yang ditetapkan oleh NOAA. Hal ini dikarenakan perbedaan kondisi perikanan, di mana perikanan Indonesia merupakan perikanan tropis. Penilaian subjektivitas dapat diminimalkan dengan menggunakan data yang diukur secara langsung dan adanya time series dalam pengambilan data.

DAFTAR PUSTAKA

Amarullah MH. 2008. Hidro-biologi larva ikan dalam proses rekrutmen. Jurnal Hidrosfir Indonesia. 3(2): 75-80.

Apriani, Irnamawati R, Susanto A. 2013. Komposisi hasil tangkapan jaring silir yang berbasis di PPN Karangantu Kota Serang Provinsi Banten. Jurnal Ilmu Pertanian dan Perikanan. 2(2): 149-156.

(27)

17 Barus HR, Mahiswara.1994. Perikanan jaring dogol di Kalimantan Timur. Jurnal

Penelitian Perikanan. 85: 54-68.

Carpenter, KE, Niem VH. 1999. The Living Marine Resources of the Western Central Pacific Vol 4 Bony Fishes Part 2 (Mugillidae to Carangidae). FAO, Rome.

Carpenter, KE, Niem VH. 2001a. The Living Marine Resources of the Western Central Pacific Vol 5 Bony Fishes Part 3 (Menidae to Pomacentridae). FAO, Rome.

Carpenter, KE, Niem VH. 2001b. The Living Marine Resources of the Western Central Pacific Vol 6 Bony Fishes Part 4 (Labridae to Latimerildae), Estuarine crocodiles, sea turtles, sea snakes, and marine mammals. FAO, Rome.

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor (ID): IPB Pr.

Effendie MI. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta (ID): Yayasan Pustaka Nusantara.

Fandri D. 2012. Pertumbuhan dan Reproduksi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) di Selat Sunda [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Genisa AS. 1999. Pengenalan jenis-jenis ikan ekonomi penting di Indonesia. Jurnal Oseana. 24 (1): 17-38.

Gulland JA. 1971. The fish resources of the oceans. FAO Fishing News. Surrey. Hairunnisa N. 2013. Pengelolaan Sumber Daya Ikan Tetengkek (Megalaspis

cordyla, Linnaeus 1758) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu, Banten [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Izati N. 2013. Kajian Stok dan Analisis Ketidakpastian Sumber Daya Ikan Tetengkek (Megalaspis cordyla) di PPN Karangantu, Serang, Banten [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Izzani N. 2012. Kebiasaan Makanan Ikan Tembang (Sardinella fimbriata Cuvier and Valenciennes 1847) dari Perairan Selat Sunda yang Didaratkan di PPP Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Nolalia. 2013. Reproduksi Ikan Kurisi Nemipterus japonicas (Bloch 1791) dari Perairan Teluk Banten yang Didaratkan di PPN Karangantu, Banten [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Mallawa A. 2006. Pengelolaan sumber daya ikan berkelanjutan dan berbasis masyarakat. Disajikan pada Lokakarya Agenda Penelitian Program COREMAP II Kabupaten Selayar.

Mayalibit DNK. 2013. Analisis Bioekonomi untuk Pengelolaan Sumber Daya Ikan Selar Kuning (Selaroides sp. Cuvier dan Valenciennes) yang Didaratkan di PPN Karangantu [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Megawati E. 2012. Kajian Aspek Pertumbuhan Ikan Tembang (Sardinella fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847) di Perairan Selat Sunda [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

(28)

18

Patrick WS, P Spencer, O Ormseth, J Cope, J Field, D Kobayashi, T Gedamke, E Cortes, K Bigelow, W Overholtz, J Link da P Lawson. 2009. Use of Productivity and susceptibility indices to determine stock vulnerability, with example applications to six U.S. fisheries. NOAA Tech. Memo. NMFSF/SPO-101.90p.

Patrick WS, P Spencer, O Ormseth W Overholtz, J Link, J Cope, J Field, D Kobayashi, K Bigelow, P Lawson, T Gedamke dan E Cortes. 2010. Using Productivity and susceptibility indices to assess the vulnerability of United States fish stocks to overfishing. Fishery Bulletin 108: 305-322.

Prahadina VD. 20 13. Kajian Stok Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kangurta, Cuvier 1817) di Perairan Teluk Banten yang Didaratkan di PPN Karangantu, Banten [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Purnamasari R. 2013. Analisis Sumber Daya Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) yang Didaratkan di PPN Karangantu, Provinsi Banten [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Putri AK. 2013. Kajian Stok Sumber Daya Ikan Selar Kuning Caranx (Selaroides) leptolepis Cuvier dan Valenciennes yang Didaratkan di PPN Karangantu [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Runtuboi F. 2012. Analisis Kerentanan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea Vrandelli 1761) di Pantai jamursba Medi Konservasi Laut Daerah Abun Kabupaten Tambrauw Papua Barat [tesis]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Safarini D. 2013. Potensi Reproduksi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta, Cuvier 1817) dari Perairan Teluk Banten yang Didaratkan di PPN Karangantu [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Sari AP. 2013. Aspek Reproduksi Ikan Tembang (Sardinella fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847) di Perairan Teluk Banten [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Simarmata R. 2013. Kajian Stok Sumberdaya Ikan Tembang (Sardinella fimbriata Valenciennes 1847) di Perairan Teluk Banten yang Didaratkan di PPN Karangantu, Banten. [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Sparre P, Venema SC. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan buku-1 manual (Edisi Terjemahan). Kerjasama Organisasi Pangan, Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian. Jakarta. 438 hlm.

Stergiou KI, Karpouzi. 2002. Feeding habits and trophic levels of Mediterranean fish. Marine Ecology Progress Series. No. 11: 217-254.

Stobutzki I, Miller M, Heales D, Brewer D. 2002. Assessing the sustainability of elasmobranch by-catch in a prawn trawl Fishery: a Method for Dealing with High Diversity and Limited Information (Elasmobranch Fisheries-Poster). Northwest Atlantic Fisheries Organization SCR Doc. 02/82.

Syahailatua A. 1993. Identifikasi stok ikan, prinsip dan kegunaannya. Jurnal Oseana. 18 (2) :55-63.

Usman, Pongsapan DS, Rachmansyah. 1996. Beberapa aspek biologi reproduksi dan kebiasaan makan ikan kuwe (carangidae) di Selat Makasar dan Teluk Ambon. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 2 (3): 12-17.

(29)

19 www.fishbase.org. Nemipterus japonicus (Bloch, 1791) Japanese threadfin bream.

[internet]. [diunduh 2014 Feb 11]. Tersedia pada: http://www.fishbase.org/PopDyn/KeyfactsSummary_1.php?ID=4559&Genu sName=Nemipterus&SpeciesName=japonicus&vStockCode=4744&fc=324. www.fishbase.org. Sardinella fimbriata (Valenciennes, 1847) Fringescale sardinella. [internet]. [diunduh 2014 Feb 11]. Tersedia pada: http://www.fishbase.org/PopDyn/KeyfactsSummary_1.php?ID=1507&Genu sName=Sardinella&SpeciesName=fimbriata&vStockCode=1700&fc=43. www.fishbase.org. Selaroides leptolepis (Cuvier, 1833) Yellowstripe scad.

[internet]. [diunduh 2014 Feb 11]. Tersedia pada: http://www.fishbase.org/PopDyn/KeyfactsSummary_1.php?ID=388&Genus Name=Selaroides&SpeciesName=leptolepis&vStockCode=402&fc=314. www.fishbase.org. Megalaspis cordyla (Linnaeus, 1758) Torpedo scad. [internet].

[diunduh 2014 Feb 11]. Tersedia pada:

http://www.fishbase.org/PopDyn/KeyfactsSummary_1.php?ID=384&Genus Name=Megalaspis&SpeciesName=cordyla&vStockCode=398&fc=314 www.fishbase.org. Rastrelliger kanagurta (Cuvier, 1816) Indian mackerel.

[internet]. [diunduh 2014 Feb 11]. Tersedia pada: http://www.fishbase.org/PopDyn/KeyfactsSummary_1.php?ID=111&Genus Name=Rastrelliger&SpeciesName=kanagurta&vStockCode=125&fc=416 Yuda LK, Iriana D, Khan AMA. 2012. Tingkat keramahan lingkungan alat

tangkap bagan di perairan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 3 (3): 7-13.

(30)

20

Lampiran 1 Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian

Cawan petri Kaca Preparat Gelas ukur Mikroskop Timbangan digital

Laptop Alat bedah Kamera digital Alat tulis Kuisioner

Lampiran 2 Penetapan skor atribut produktivitas dan suseptabilitas (Patrick 2009) Atribut

Produktivias Tinggi (3) sedang (2) Rendah (1)

Pertumbuhan

intrinsik (r) > 0.5 0.16-0.5 < 0.16

Umur maksimum < 10 tahun 10-30 tahun > 30 tahun Ukuran maksimum < 60 cm 60-150 cm >150 cm Koefisien

pertumbuhan (k) > 0.25 0.15-0.25 < 0.15 Mortalitas alami

(M) > 0.40 0.20-0.40 < 0.20

Fekunditas > 10e4

10e2-10e4 < 10e2

Breeding strategy 0 antara 1dan 3 ≥ 4

Pola rekrutment Frekuensi

rekrutmen besar (> 75% selang kelas berhasil)

Frekuensi

rekrutmen sedang (10% sampai 75% selang kelas berhasil)

Frekuensi

rekrutmen rendah (< 10% selang kelas berhasil) Age at maturity < 2 tahun 2-4 tahun > 4 tahun Mean trophic level < 2.5 Antara 2.5 dan 3.5 > 3.5

a

(31)

21

Atribut

Suseptabilitas Rendah (1) sedang (2) Tinggi (3)

Management

Area overlap < 25% berada di wilayah penangkapan

Distribusi stok > 50% dari total kisaran

Distribusi stok 25% sampai 50% dari total kisaran

Distribusi stok < 25% dari total kisaran

B berada di antara 25% sampai 40%dari

Stok bernilai rendah di pasaran tidak begitu tinggi

Stok bernilai sedang di pasaran

Stok bernilai tinggi di pasaran minat untuk

(32)

22

Lampiran 3 Sebaran frekuensi panjang 1. Kembung lelaki

SK BKB BKA BK Xi Fi

121-125 120.5 125.5 120.5-125.5 123 1 126-130 125.5 130.5 125.5-130.5 128 2 131-135 130.5 135.5 130.5-135.5 133 6 136-140 135.5 140.5 135.5-140.5 138 10 141-145 140.5 145.5 140.5-145.5 143 21 146-150 145.5 150.5 145.5-150.5 148 13 151-155 150.5 155.5 150.5-155.5 153 13 156-160 155.5 160.5 155.5-160.5 158 1 2. Kurisi

SK BKB BKA BK Xi Fi

142-150 141.5 150.5 141.5-150.5 146 5 151-159 150.5 159.5 150.5-159.5 155 4 160-168 159.5 168.5 159.5-168.5 164 7 169-177 168.5 177.5 168.5-177.5 173 12 178-186 177.5 186.5 177.5-186.5 182 18 187-195 186.5 195.5 186.5-195.5 191 20 196-204 195.5 204.5 195.5-204.5 200 7 205-213 204.5 213.5 204.5-213.5 209 2 3. Selar kuning

SK BKA BKB BK Xi Fi

114-121 113.5 121.5 113.5-121.5 117.5 6 122-129 121.5 129.5 121.5-129.5 125.5 22 130-137 129.5 137.5 129.5-137.5 133.5 23 138-145 137.5 145.5 137.5-145.5 141.5 20 146-153 145.5 153.5 145.5-153.5 149.5 17 154-161 153.5 161.5 153.5-161.5 157.5 5 162-169 161.5 169.5 161.5-169.5 165.5 4 170-177 169.5 177.5 169.5-177.5 173.5 3 4. Tembang

SK BKB BKA BK Xi Fi

(33)

23 5. Tetengkek

SK BKB BKA BK Xi Fi

187-200 186.5 200.5 186.5-200.5 193.5 11 201-214 200.5 214.5 200.5-214.5 207.5 14 215-228 214.5 228.5 214.5-228.5 221.5 20 229-242 228.5 242.5 228.5-242.5 235.5 26 243-256 242.5 256.5 242.5-256.5 249.5 14 257-270 256.5 270.5 256.5-270.5 263.5 3 271-284 270.5 284.5 270.5-284.5 277.5 0 285-298 284.5 298.5 284.5-298.5 291.5 2

Lampiran 4 Pemberian skor produktivitas 1. Kembung lelaki

Atribut Hasil Satuan

Bobot nilai (0-4)

Atribut skor (1-3)

Kualitas data (1-5) Pertumbuhan

intrinsik (r) 2.54

1 Kg/tahun

2 3 2

Umur maksimum 1.33 Tahun 2 3 2

Ukuran maksimum 15.6 Cm 2 3 1

Koefisien

pertumbuhan (k) 0.59

Tahun

2 3 1

Mortalitas alami (M) 0,8154 2 3 1

Fekunditas 9058-551816 Butir 2 3 2

Breeding strategy 1 2 2 2

Pola rekrutment 20.07 % 2 2 1

Age at maturity 0.59 Tahun 2 3 4

Mean trophic level 3.29 2 2 4

(34)
(35)
(36)

26

Lampiran 5 Pemberian skor suseptabilitas 1. Kembung lelaki

Stok ikan belum ada batasan kebijakan penangkapan baik ikan target maupun non target dan tidak ada kegiatan monitoring dengan baik

60 % tersebar dari seluruh

wilayah penangkapan 2 1 1

Vertical overlap 80% di kedalaman yang

sama 2 3 1 penurunan hasil tangkapan

2 1 1

Alat tangkap jaring insang merupakan alat tangkap yang cukup ramah lingkungan sehingga tidak berpengaruh terhadap morfologi ikan yang ditangkap

2 2 1

Survival after capture

68 % bertahan hidup setelah

penangkapan 2 1 1

Desirability/ Value of the Fishery

Rp. 27 000/kg (harga tinggi)

(37)

27

Stok ikan belum ada batasan kebijakan penangkapan baik ikan target maupun non target dan tidak ada kegiatan

monitoring dengan baik

70% di kedalaman yang sama

2 3 1 penurunan hasil tangkapan

2 1 1

merupakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan sehingga akan berpengaruh terhadap morfologi ikan yang ditangkap

2 1 1

Survival after capture

68 % bertahan hidup setelah

penangkapan 2 1 1

Desirability/ Value of the Fishery

Rp. 17 000/kg (harga sedang)

2 2 1

Fishery impact to essential fish habitat

Dapat merusak lingkungan bahkan untuk waktu temporal

(38)

28

Stok ikan belum ada batasan kebijakan penangkapan baik ikan target maupun non target dan tidak ada kegiatan monitoring dengan baik

Vertical overlap 68 % di kedalaman yang

sama 2 3 1

merupakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan

68 % bertahan hidup setelah

(39)

29

Stok ikan belum ada batasan kebijakan penangkapan baik ikan target maupun non target dan tidak ada kegiatan monitoring dengan baik

Vertical overlap 80% di kedalaman yang

sama 2 3 1

68 % bertahan hidup setelah

penangkapan 2 1 1

Desirability/ Value of the Fishery

Rp. 7 000/kg (harga rendah)

(40)

30

Stok ikan belum ada batasan kebijakan karena merupakan hasil tangkapan sampingan dan tidak ada kegiatan monitoring

Vertical overlap 67 % di kedalaman yang

sama 2 3 1

Migrrasi musiman ikan melakukan migrasi sehingga mengurangi penurunan hasil tangkapan

2 1 1

68 % bertahan hidup

(41)

31

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ciamis pada tanggal 5 Mei 1990 sebagai putri ketiga dari enam bersaudara dari pasangan ibu Kikin Rukibah dan bapak Uding Supriatman Gautama. Pendidikan formal ang pernah dijalani penulis berawal dari TK Melati II (1996-1997), SDN 6 Cinyasag (1997-2003), SMPN 1 Panawangan (2003--2006), SMAN 2 Ciamis (2006--2009). Pada tahun 2009 diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur PMDK, kemudian diterima di Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyusun skripsi yang berjudul “Kerentanan Stok Ikan yang

Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Banten”

Figur

Gambar 1 Peta lokasi pengambilan contoh dan daerah penangkapan ikan

Gambar 1

Peta lokasi pengambilan contoh dan daerah penangkapan ikan p.13
Gambar 2 Ikan kembung lelaki

Gambar 2

Ikan kembung lelaki p.18
Gambar 3 Ikan kurisi

Gambar 3

Ikan kurisi p.18
Gambar 4 Ikan selar kuning

Gambar 4

Ikan selar kuning p.19
Gambar 5 Ikan tembang

Gambar 5

Ikan tembang p.19
Tabel 1 Produktivitas sumber daya ikan

Tabel 1

Produktivitas sumber daya ikan p.20
Tabel 2 Suseptabilitas sumber daya ikan

Tabel 2

Suseptabilitas sumber daya ikan p.21
Gambar 7 Grafik produktivitas dan suseptabilitas. Warna pada lingkaran

Gambar 7

Grafik produktivitas dan suseptabilitas. Warna pada lingkaran p.22
Tabel 3 Kerentanan sumber daya

Tabel 3

Kerentanan sumber daya p.23

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di