PENINGKATAN KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG MENDIDIK MELALUI SUPERVISI AKADEMIK TEKNIK WORKSHOP DI SMK NEGERI 4 TEBING TINGGI.

Teks penuh

(1)

TESIS

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Administrasi Pendidikan Konsentrasi Kepengawasan

Oleh : NUR SAUMI NIM. 8146132052

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Thesis, Education Administration Study Program, Graduate Program of State University, 2016.

(6)

ii

Program Studi Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2016.

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan

kasih sayangNya penulisan tesis dengan judul “Peningkatan Kegiatan Pembelajaran

yang Mendidik melalui Supervisi Akademik Teknik Workshop di SMK Negeri 4 Tebing Tinggi” ini dapat diselesaikan. Saya juga mengucapkan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabat.

Penulisan tesis ini tidak dapat terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Menengah, Direktorat

Jenderal Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang

telah memberikan bantuan berupa Beasiswa S2 Kepengawasan bagi saya

sehingga dapat menimba ilmu di Universitas Negeri Medan (UNIMED).

2. Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd. Rektor Universitas Negeri Medan dan semua

staf pengajar yang telah memberikan fasilitas belajar selama saya mengikuti

perkuliahan di Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan (UNIMED).

3. Prof. Dr. Bornok Sinaga, M.Pd. Selaku Direktur Program Pascasarjana

Universitas Negeri Medan (UNIMED).

4. Dr. Darwin, M. Pd. Selaku Ketua Program Studi Administrasi Pendidikan PPs

Universitas Negeri Medan (UNIMED) sekaligus sebagai narasumber yang

memberikan masukan untuk dapat menyempurnakan tesis ini.

5. Dr. Sukarman Purba, M.Pd. Selaku Sekretaris Program Studi Administrasi

Pendidikan PPs Universitas Negeri Medan (UNIMED) sekaligus sebagai

Pembimbing II yang telah banyak mencurahkan ilmu dan memberikan arahan

dengan ikhlas dan penuh kesabaran.

6. Prof. Dr. Rosmala Dewi, M.Pd, Kons. selaku Pembimbing I yang telah banyak

mencurahkan ilmu dan memberikan arahan dengan ikhlas dan penuh kesabaran.

7. Prof. Dr. Harun Sitompul, M.Pd. dan Prof. Dr. Paningkat Siburian, M. Pd.

sebagai narasumber yang memberikan masukan untuk dapat menyempurnakan

tesis ini.

8. Para Dosen yang telah memberikan ilmu dan nasehat selama saya mengikuti

(8)

iv

9. Bapak Kriston Tindaon, M. Pd selaku pengawas SMK Negeri 4 Tebing Tinggi

serta Bapak Dating Pasaribu selaku Kepala SMK Negeri 4 Tebing Tinggi yang

telah ikhlas bekerja sama dalam penelitian saya.

10.Bapak Amris Siahaan, S.Pd, M. Si (Kabid PMPTK Dinas Pendidikan Tebing

Tinggi) yang telah memberi saya saran dan masukan dalam penelitian saya.

11.Suami tercinta Fajar Agus Saputra, A.Md. yang telah banyak memberikan

dukungan do’a, dukungan moril dan spiritual serta material dengan penuh kasih

sayang dan kesabaran, serta buah hati tercinta M. Tsaqif Afif dan M. Azka

Azzam yang senantiasa memberikan kebahagiaan.

12.Kedua orang tua saya yaitu Ayahanda H. Abdul Roni Manurung dan Ibunda Hj.

Sri Anum Sinaga, kedua mertua saya yaitu Ayahanda Samsun Surya Hidaya dan

Ibunda Sri Suratmie serta seluruh keluarga besar saya (kakak serta adik-adik

tersayang) yang tak bosan-bosannya memberikan dukungan dan do’a dengan

segala sikap penuh pengertian dan kasih sayang.

13.Teman – teman Mahasiswa Program Studi Administrasi Pendidikan Konsentrasi

Kepengawasan Angkatan 2014.

14.Guru-guru SMK Negeri 4 Tebing Tinggi yang telah memberi saya semangat dan

doa demi segera selesainya tugas belajar saya.

15.Semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian tesis ini yang tidak dapat

disebutkan satu persatu.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada semua

pihak yang turut membantu saya dalam menyusun tesis ini. Akhir kata, saya berharap

tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya kemajuan bagi pendidik di

SMK Negeri 4 Tebing Tinggi.

Medan, Juni 2016 Penulis

(9)

v

1. Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik ... 16

2. Supervisi Akademik Melalui Workshop ... 27

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 40

C. Kerangka Berpikir ... 41

D. Hipotesis Tindakan ... 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 44

H. Kriteria Keberhasilan Tindakan ... 60

I. Teknik Analisis Data ... 61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 63

B. Pembahasan ... 97

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan ... 104

B. Implikasi ... 108

C. Saran ... 109

DAFTAR PUSTAKA ... 112

(10)

vi

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1.1. Hasil Penilaian Observasi Awal Guru Mengajar ... 8

1.2. Tabel Kriteria Penilaian ... 9

1.3. Tabel Ketercapaian Aspek Kegiatan Pembelajaran

yang Mendidik Pada Penelitian Awal ... 10

3.1. Prosedur Tindakan Penelitian ... 46

3.2. Kisi-Kisi Angket Wawancara untuk Guru ... 54

3.3. Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru Dalam

Kegiatan Workshop ... 56

3.4. Kisi-kisi Lembar Observasi Penilaian RPP ... 56

3.5. Kisi-kisi Lembar Observasi Pelaksanaan Kegiatan

Pembelajaran yang Mendidik ... 58

3.6. Kisi-kisi Lembar Observasi Pelaksanaan Supervisi

Akademik Teknik Workshop ... 59

3.7. Tabel Kriteria Penilaian ... 61

4.1. Penilaian Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik pada

Penelitian Awal ... 64

4.2. Ketercapaian Aspek Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

pada Penelitian Awal ... 66

4.3. Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang

Mendidik pada Penelitian Awal ... 67

4.4. Ketercapaian Aspek Dalam Pelaksanaan Kegiatan

Pembelajaran yang Mendidik pada Penelitian Awal ... 68

4.5. Penilaian Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik pada Siklus I

(11)

vii

4.8. Hasil Observasi Pelaksanaan Kegiatan Workshop

Siklus I ... 79

4.9. Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang

Mendidik pada Siklus I ... 81

4.10. Ketercapaian Aspek Dalam Pelaksanaan Kegiatan

Pembelajaran yang Mendidik pada Siklus I ... 82

4.11. Penilaian Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik pada Siklus

II ... 87

4.12. Ketercapaian Aspek Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

pada Siklus II ... 88

4.13. Hasil Observasi Aktivitas Guru pada Workshop

Siklus II ... 90

4.14. Hasil Observasi Pelaksanaan Kegiatan Workshop

Siklus II ... 91

4.15. Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang

Mendidik pada Siklus II ... 93

4.16. Ketercapaian Aspek Dalam Pelaksanaan Kegiatan

Pembelajaran yang Mendidik pada Siklus II ... 94

4.17. Perbandingan Aspek Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

pada Penelitian Awal, Siklus I dan Siklus II ... 100

4.18. Perbandingan Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik pada Penelitian Awal, Siklus I dan

Siklus II ... 102

(12)

viii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 3.1. Model Penelitian Tindakan ... 45

4.1. Diagram Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik pada

Penelitian Awal ... 66

4.2. Diagram Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang

Mendidik pada Penelitian Awal ... 69

4.3. Diagram Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik pada Siklus I

... 76

4.4. Diagram Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang

Mendidik pada Siklus I ... 83

4.5. Diagram Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik pada Siklus

II ... 89

4.6. Diagram Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang

Mendidik pada Siklus II ... 95

4.7. Diagram Perbandingan Aspek Kemampuan Guru Dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang

Mendidik pada Siklus I dan Siklus II ... 101

4.8. Diagram Perbandingan Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik pada Siklus I dan

(13)

ix

4. Format Lembar Observasi Aktivitas Guru Pada Saat

workshop ... 127

5. Format Lembar Observasi Kemampuan Guru dalam

Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik ... 129

6. Format Lembar Observasi Pelaksanaan Kegiatan

Pembelajaran yang Mendidik ... 132

7. Format Lembar Observasi Pelaksanaan Workshop ... 135

8. Skor Penilaian Kemampuan Guru dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

Pada Penelitian Awal ... 138

9. Total Skor Penilaian Kemampuan Guru dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

Pada Penelitian Awal ... 139

10. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

yang Mendidik Pada Penelitian Awal Oleh Penilai 1 ... 140

11. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

yang Mendidik Pada Penelitian Awal Oleh Penilai 2 ... 141

12. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

yang Mendidik Pada Penelitian Awal Oleh Penilai 3 ... 142

13. Total Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan

Pembelajaran yang Mendidik Pada Penelitian Awal ... 143

14. Skor Penilaian Kemampuan Guru dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

(14)

x

15. Total Skor Penilaian Kemampuan Guru dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

Pada Siklus I ... 145

16. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik Pada Siklus I Oleh Penilai 1 ... 146

17. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik Pada Siklus I Oleh Penilai 2 ... 147

18. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik Pada Siklus I Oleh Penilai 3 ... 148

19. Total Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik Pada Siklus I ... 149

20. Skor Penilaian Kemampuan Guru dalam

22. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik Pada Siklus II Oleh Penilai 1 ... 152

23. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik Pada Siklus II Oleh Penilai 2 ... 153

24. Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik Pada Siklus II Oleh Penilai 3 ... 154

25. Total Skor Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik Pada Siklus II ... 155

26. Skor Ketercapaian Aspek Penilaian Kemampuan Guru dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik ... 156

27. Skor Ketercapaian Indikator Dalam Observasi Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik ... 157

28. Jadwal Kegiatan ... 158

29. Materi workshop ... 160

(15)

1 A. Latar Belakang Masalah

Guru merupakan sosok yang sangat memegang peranan penting dalam

proses pembelajaran siswa di sekolah, yang harus dapat membawa perubahan

besar dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Selain sebagai pengajar, guru juga

berperan sebagai pendidik bagi siswa yang akan membawa perubahan terhadap

pola pikir, sikap dan perilaku siswa menuju keadaan yang lebih baik dan mandiri.

Sebagai pengajar dan pendidik bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk

dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, seorang guru dituntut

memiliki beberapa kemampuan dan keterampilan tertentu. Sebagaimana yang

diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20

Tahun 2003 pasal 40 dapat diambil kesimpulan bahwa untuk menjalankan

kewajibannya maka seorang guru harus terus menerus mengembangkan

potensi-potensinya sehingga mampu melaksanakan tugasnya. Guru harus memiliki

pengetahuan dan keterampilan yang harus terus diperbaharui sesuai

perkembangan zaman. Guru harus mampu mengembangkan strategi pembelajaran

yang berkualitas, yaitu pembelajaran yang menantang, menyenangkan,

mendorong siswa untuk bereksplorasi, memberi pengalaman sukses dan dapat

mengembangkan kecakapan berpikir.

Pembelajaran yang dilakukan tidak hanya menekankan pada kemampuan

mengingat dan memahami saja, lebih dari itu, guru harus dapat mengarahkan

(16)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dimana terjadi

interaksi antara guru dengan siswa. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar bukan

hanya ditentukan oleh kemampuannya dalam menguasai bahan pelajaran, tetapi

juga dipengaruhi oleh kemampuannya menciptakan kegiatan pembelajaran yang

memberi makna dan perubahan bagi sikap, keterampilan dan pengetahuan siswa

serta kemampuan dalam menciptakan suasana yang dapat menimbulkan gairah

belajar, efektivitas pembelajaran serta bimbingan dan bantuan terhadap siswa

dalam belajar. Siswa dapat belajar dengan baik dalam suasana yang wajar tanpa

tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar.

Dalam menciptakan kegiatan pembelajaran yang baik perlu adanya

pemahaman mengenai kondisi siswa belajar agar kegiatan pembelajaran yang

direncanakan tepat sasaran, menarik perhatian dan dapat dicapai oleh siswa.

Memahami siswa memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Siswa adalah

manusia yang kepribadiannya sulit untuk dimengerti. Mereka adalah mahluk yang

dinamis, berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan fisiknya

yang sedang tumbuh. Hal penting yang harus dipahami kaitannya dengan siswa

sebagai individu yaitu bahwa mereka adalah manusia yang memiliki kepribadian,

karakter masing-masing, emosi dan perasaan. Selain itu mereka juga selalu

membutuhkan sosialisasi diantara mereka, memiliki keinginan untuk melakukan

hubungan dengan sesamanya, berinteraksi dengan alam sekitar dan dengan

kebebasannya dalam berpikir dan bertindak. Pemahaman akan siswa sebagai

manusia inilah yang harus dijadikan pijakan dalam mengembangkan kemampuan

(17)

pendidik yang memiliki keahlian mendidik akan mampu membuat orang belajar.

Pendidik ahli ini tampil sebagai guru yang berpengalaman, efektif dalam

menyelesaikan berbagai persoalan di dalam kelas. Pada setiap guru itu terletak

tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf

kematangan tertentu.

Jika diamati, dapat dilihat bahwa selama ini tampaknya pendidikan

berjalan serius dan penuh perhatian. Setiap hari anak-anak memenuhi jalanan

untuk berangkat ke sekolah. Di sekolah kelas-kelas penuh dengan anak-anak yang

sedang belajar. Guru sibuk mengajar, menjelaskan pelajaran, dan anak-anak

mendengarkan serta mengerjakan apa yang diperintahkan oleh guru. Namun

sebenarnya tidak hanya sampai disitu, dalam kegiatannya banyak hal yang perlu

mendapat perhatian, misalnya berkaitan dengan sejauh mana keterlibatan siswa

dalam pembelajaran, seberapa banyak pengetahuan yang mereka peroleh selama

berjam-jam di sekolah setiap hari, keterampilan apa yang mampu mereka miliki

setelah berbulan-bulan belajar di sekolah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap

perubahan perilaku dan karakter mereka dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini

menjadi tanggung jawab guru sebagai aktor utama yang memiliki peranan penting

untuk mengatasi permasalahan tersebut terutama dalam melaksanakan kegiatan

pembelajaran di kelas. Guru harus memiliki kesadaran dan keterampilan untuk

melaksanakan kegiatan pembelajaran yang merunut pada upaya pendidikan. Hal

ini sesuai dengan pemikiran yang disampaikan oleh Mulyasa (2009:161) bahwa

(18)

menyenangkan, dan memiliki banyak konsep atau cara untuk melaksanakan

kegiatan pembelajaran.

Pasal 1 butir 20 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional, dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan

guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Di lingkungan sekolah

menengah, interaksi tersebut terjalin antara siswa dengan guru. Interaksi yang

berpusat pada siswa (student centered learning) diharapkan dapat terjadi proses

perubahan yang dialami oleh siswa dalam empat ranah. Ranah yang menjadi

sasaran dalam proses interaksi ini adalah ranah kognitif, ranah afektif, ranah

psikomotorik dan ranah kooperatif. Ranah kognitif yaitu kemampuan yang

berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran; ranah afektif yaitu

kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi dan reaksi-reaksi yang berbeda

berdasarkan penalaran misalnya penerimaan, partisipasi dan penentuan sikap;

ranah psikomotorik yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan jasmani

misalnya persepsi dan kreativitas; ranah kooperatif yaitu kemampuan untuk

bekerjasama.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16

Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, adapun

macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga guru antara lain

kemampuan pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang diperoleh

melalui pendidikan profesi, keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam

(19)

Guru adalah pendidik profesional. Mendidik adalah pekerjaan profesional.

Oleh karena itu guru sebagai pelaku utama pendidikan adalah pendidik yang

profesional. Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan

tugasnya secara profesional tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan

kemampuan profesional. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru

adalah kemampuan pedagogik mengelola proses belajar mengajar yang meliputi

kemampuan mempersiapkan pembelajaran, kemampuan melaksanakan

pembelajaran dan kemampuan mengevaluasi. Kemampuan pedagogik diperoleh

melalui upaya belajar terus menerus sepanjang hayat. Berdasarkan buku Pedoman

Pelaksaan Penilaian Kinerja Guru, tujuh aspek kompetensi pedagogik yang harus

dikuasai oleh guru adalah mengenal karakteristik peserta didik, menguasai

teori-teori pembelajaran dan prinsip-prinsip pembelajaran, mampu mengembangkan

kurikulum, menciptakan kegiatan pembelajaran yang mendidik, mengembangkan

potensi peserta didik, melakukan komunikasi dengan peserta didik, serta menilai

dan mengevaluasi pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran yang mendidik merupakan kompetensi pedagogik

keempat dari tujuh aspek kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh seorang

guru yang menjadi unsur penilaian kinerja guru (lihat format PKG, Permendiknas

RI No. 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional

Guru dan Angka Kreditnya, Kemendiknas, 2011:123). Dalam kompetensi ini guru

dituntut mampu menyusun dan melaksanakan rancangan pembelajaran yang

mendidik secara lengkap, melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan

(20)

sumber belajar sesuai dengan karakter siswa, serta memanfaatkan Teknologi

Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelajaran.

Mulyasa (2009:75) menjabarkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran yang

mendidik guru mampu menyusun dan melaksanakan rancangan pembelajaran

yang mendidik secara lengkap. Guru mampu melaksanakan kegiatan

pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Guru mampu

menyusun dan menggunakan berbagai materi pembelajaran dan sumber belajar

sesuai dengan karakteristik peserta didik. Jika relevan, guru memanfaatkan

teknologi informasi komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran yang mendidik harus menunjukkan adanya

aktivitas belajar mengajar secara terpogram dan sistematis yang menunjukkan

interaksi edukatif yang aktif dan efektif sebagai upaya membimbing sikap,

keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lebih baik. Artinya kegiatan

pembelajaran yang dilaksanakan harus sesuai dengan prosedur pembelajaran dan

aktivitas guru bukan hanya menyampaikan ilmu saja namun juga menunjukkan

adanya upaya mendidik siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif dan

psikomotor. Mendidik disini diartikan sebagai aktivitas pembelajaran yang

dilaksanakan oleh guru dengan prinsip kegiatan pembelajaran yang menunjukkan

upaya pencapaian tujuan pendidikan.

Fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan masih banyak pembelajaran

yang hanya berupa transfer ilmu, yang tidak melibatkan siswa dalam proses

pembelajaran secara maksimal. Kegiatan belajar cenderung berlangsung satu arah,

(21)

materi yang diberikan guru. Penelitian yang dilakukan Garret (dalam Oktaria,

2014:1) mengungkapkan pembelajaran dikelas masih berfokus pada guru sebagai

sumber utama pembelajaran, siswa hanya mencatat dan menghapal materi yang

disampaikan guru tanpa dapat memahami isinya.

SMK Negeri 4 Tebing Tinggi merupakan tempat dimana peneliti bertugas.

Berdasarkan pengamatan, peneliti menganggap bahwa kegiatan pembelajaran

yang mendidik di sekolah tersebut masih perlu mendapat perhatian. Untuk

memperkuat dugaan, peneliti melakukan wawancara dan observasi terhadap

guru-guru di sekolah tersebut. Wawancara yang dilakukan dengan menggunakan

angket yang berisi pertanyaan mengenai peran guru sebagai seorang pendidik.

Berdasarkan wawancara langsung yang dilakukan terhadap 40 guru-guru di SMK

Negeri 4 Tebing Tinggi pada tanggal 22 Februari 2016 diperoleh keterangan

bahwasanya 25 orang menyatakan kurang memahami makna guru sebagai

pendidik. Hal ini terlihat dari jawaban guru mengenai penjelasannya tentang guru

sebagai pendidik. Mereka menyatakan bahwa seorang pendidik itu hanya terkait

dengan pembinaan terhadap sikap dan tingkah laku siswa. Padahal seharusnya

guru sebagai pendidik harus mampu menciptakan kegiatan pembelajaran yang

bermakna dan berdampak pada perubahan sikap, keterampilan dan juga

pengetahuan siswa. Pertanyaan selanjutnya 20 orang menyatakan bahwa kegiatan

pembelajaran dilakukan tidak berdampak bagi perubahan tingkah laku siswa, 40

orang menyatakan sudah menyusun rencana pembelajaran dengan memperhatikan

kebutuhan belajar siswa, 26 orang menyatakan tidak selalu menggunakan media

(22)

guru tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, 30 orang menyatakan sudah

mengenal karakter siswanya masing-masing, hanya 10 orang yang menyatakan

siswa dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dikelasnya, 25 orang

menyatakan aktivitas dikelasnya menyenangkan dan 40 orang menyatakan selalu

menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual dalam kegiatan pembelajarannya.

Berdasarkan data ini dapat dinyatakan bahwa aktivitas guru dalam kegiatan

belajar mengajar masih perlu ditingkatkan. Pada point akhir, terdapat pertanyaan

mengenai kesediaan guru untuk memperbaiki tugasnya terutama dalam

pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang mendidik. Berdasarkan wawancara

tersebut diperoleh 20 orang guru yang bersedia untuk dilakukan observasi

terhadap kegiatan pembelajarannya di kelas.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dilakukan observasi awal pada saat

guru melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Observasi ini dilakukan

terhadap guru yang bersedia melakukan perbaikan terhadap kegiatan

pembelajarannya. Hasil observasi awal peneliti tentang kegiatan pembelajaran

yang mendidik dapat dilihat pada Tabel 1.1 dibawah ini :

Tabel. 1.1. Hasil Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Belajar yang Mendidik pada Penelitian Awal

Responden Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Yang Mendidik Penilai 1 Penilai 2 Penilai 3 Jumlah Nilai Kategori

1 15 15 15 45 75,00 Cukup

2 11 11 12 34 56,67 Kurang

3 14 14 14 42 70,00 Cukup

4 13 13 12 38 63,33 Kurang

5 15 15 15 45 75,00 Cukup

6 13 13 12 38 63,33 Kurang

7 11 11 11 33 55,00 Kurang

(23)

Responden Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Yang Mendidik

Penentuan kategori penilaian berdasarkan kategori pada Tabel 1.2 berikut:

Tabel 1.2. Tabel Kriteria Penilaian

(sumber : Endrayanto & Harumurti, 2014 : 292)

Dari tabel diatas ditemukan 7 orang guru termasuk dalam kategori cukup

dan 13 orang guru termasuk dalam kategori kurang dengan rincian 35% guru

dengan kategori cukup dan 65% guru dengan kategori kurang. Berdasarkan data

diatas diketahui bahwa jumlah nilai rata-rata yang diperoleh guru dalam

pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang mendidik pada penelitian awal adalah

63,58 maka dapat dinyatakan bahwa hasil penilaian awal pelaksanaan

(24)

Secara terperinci hasil deskriptif dari aspek-aspek penilaian pelaksanaan

kegiatan pembelajaran yang mendidik dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut:

Tabel 1.3 Ketercapaian Aspek dalam Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

Indikator Penilai 1 Penilai 2 Penilai 3 Jumlah Nilai Kategori

1 51 50 52 153 63,75 Kurang

Indikator 1 : Interaksi edukatif yang aktif Indikator 2 : Interaksi edukatif yang efektif Indikator 3 : Membimbing sikap

Indikator 4 : Membimbing ilmu pengetahuan Indikator 5 : Membimbing keterampilan

Adapun rincian data yang diperoleh pada penelitian awal ini, perolehan

nilai indikator 1 yaitu interaksi edukatif yang aktif sebesar 63,75, indikator 2 yaitu

interaksi edukatif yang efektif sebesar 63,75, indikator 3 yaitu membimbing sikap

sebesar 62,50, indikator 4 yaitu membimbing ilmu pengetahuan sebesar 63,75,

dan indikator 5 yaitu membimbing keterampilan sebesar 64,17. Pada penelitian

awal ini semua indikator menunjukkan nilai rata-rata yang masih kurang dan

indikator 3 merupakan nilai terendah.

Berdasarkan data yang diperoleh dilapangan, dalam hal kegiatan

membimbing sikap ditemukan fakta bahwasanya guru masih kurang dalam

memberi batasan terhadap pengumpulan tugas siswa. Guru hanya memberi siswa

tugas, namun banyak siswa yang tidak menyelesaikan pada saat pembelajaran

(25)

terhadap keterlambatan siswa dalam tugas, siswa kurang diarahkan dalam

menemukan kesimpulan materi, guru kurang dalam memberi motivasi bagi siswa

terhadap kegiatan belajar serta guru kurang dalam memfasilitasi siswa belajar.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada kegiatan

pembelajaran guru, kegiatan pembelajaran yang mendidik yang dilakukan oleh

guru tersebut rata-rata masih berada pada kategori kurang. Maka ketika hal ini

terjadi, sangatlah perlu adanya perbaikan dan peningkatan dalam kegiatan

pembelajaran yang mendidik yang dilakukan oleh guru.

Setelah observasi kelas, wawancara kembali dilakukan untuk

mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan. Dalam pelaksanaan

pembelajaran tersebut guru menyatakan bahwa mereka belum maksimal dalam

pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Guru menyatakan perlu adanya perbaikan

dalam pelaksanaan kegiatan pembelajarannya.

Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam

proses pembelajaran adalah melalui supervisi akademik. Supervisi akademik

adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya

mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Glickman

dalam Sudjana, 2012:54). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja

guru dalam mengelola pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya dalam

membimbing guru untuk memilih dan menggunakan strategi, metode dan teknik

pembelajaran untuk setiap mata pelajaran.

Supervisi akademik merupakan salah satu tugas pengawas. Seorang

(26)

bagi guru. Sebagaimana dinyatakan Sudjana, dkk (dalam Barnawi, 2014:12)

bahwasanya pengawas merupakan guru yang berstatus pegawai negeri sipil yang

diangkat dan diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang oleh pejabat yang

berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan

manajerial pada satuan pendidikan/sekolah. Seorang pengawas memiliki

seperangkat peran dan tugas yang tidak hanya bertujuan untuk mengawasi

jalannya penyelenggaraan pendidikan di sekolah secara baik dan terarah, tetapi

juga memberi masukan, bimbingan, dan bantuan kepada kepala sekolah dan guru

dalam melaksanakan tugas sekolahnya.

Berdasarkan kebutuhan guru dalam upaya memperbaiki kualitas

pembelajarannya, bersama dengan pengawas dan guru, peneliti merencanakan

adanya kegiatan workshop yang bertemakan tentang kegiatan pembelajaran yang

mendidik. Peneliti, pengawas dan guru menyusun rancangan pelaksanaan kegiatan

workshop tersebut. Hal ini didukung dengan berhasilnya penelitian yang

dilakukan oleh Harahap (2016) yang menyimpulkan bahwa supervisi akademik

teknik workshop dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan

pembelajaran. Workshop digunakan untuk membina guru menemukan solusi

terbaik terhadap permasalahan yang dihadapi guru. Khomsatun (2013) juga

menggunakan teknik workshop untuk meningkatkan kemampuan guru dalam

mengelola pembelajaran pada guru kelompok MGMP.

Teknik supervisi akademik yang dipilih dalam penelitian ini bersifat

kelompok yaitu melalui teknik workshop. Sebagaimana yang dikemukakan oleh

(27)

diartikan sebagai suatu kegiatan belajar kelompok yang terjadi dari sejumlah guru

atau pendidik yang mempunyai masalah yang relatif sama ingin dipecahkan

bersama melalui percakapan dan bekerja secara kelompok maupun bersifat

perseorangan. Sehingga diharapkan dengan adanya teknik workshop yang

dilakukan dalam rangka melaksanakan supervisi yang dilakukan oleh pengawas

dapat memberikan peningkatan terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan

kegiatan pembelajaran yang mendidik.

Berdasarkan uraian tersebut maka perlu diadakan supervisi akademik

teknik workshop untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran yang mendidik di

SMK Negeri 4 Tebing Tinggi.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi beberapa masalah-masalah berdasarkan latar belakang masalah

di atas antara lain: (1) Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih

bersifat transfer pengetahuan, (2) Guru kurang memahami perannya sebagai

pendidik, (3) Guru belum memahami makna kegiatan pembelajaran yang

mendidik, (4) Kegiatan pembelajaran yang mendidik masih rendah, (5)

Bagaimana cara guru meningkatkan kemampuannya dalam pelaksanaan kegiatan

pembelajaran yang mendidik?, (6) Apakah pengawas sekolah sering

melaksanakan kegiatan supervisi akademik?, (7) Bagaimana pengawas sekolah

melaksanakan kegiatan supervisi akademik dengan teknik workshop?, (8) Apakah

kegiatan pembelajaran yang mendidik dapat ditingkatkan melalui supervisi

(28)

C. Batasan Masalah

Terdapat beberapa masalah yang teridentifikasi pada latar belakang

masalah dalam penelitian ini, namun penelitian ini dibatasi pada peningkatan

kegiatan pembelajaran yang mendidik melalui supervisi akademik teknik

workshop. Supervisi akademik teknik workshop akan dilaksanakan terhadap

guru-guru di SMK Negeri 4 Tebing Tinggi khususnya pada guru-guru yang bersedia

mengikuti workshop.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah supervisi akademik teknik workshop

dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran yang mendidik di SMK Negeri 4

Tebing Tinggi?”

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah

untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran yang mendidik melalui supervisi

akademik teknik workshop di SMK Negeri 4 Tebing Tinggi.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain :

1. Secara Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan

keilmuan tentang teknik pembinaan guru dalam meningkatkan

(29)

2. Secara Praktis

a. Membantu guru untuk mengidentifikasi masalah dan pemecahan

masalahnya terkait dalam proses pelaksanaan pembelajaran khususnya

kegiatan pembelajaran yang mendidik.

b. Menjadi referensi guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar

dengan bekal prinsip pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang

mendidik.

c. Menjadi referensi kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam

pelaksanaan kegiatan supervisi akademik untuk meningkatkan

kemampuan guru dalam proses pembelajaran.

d. Masukan bagi Dinas Pendidikan terkait dalam hal meningkatkan

profesionalisme, kinerja dan kualitas Guru, Kepala Sekolah dan

Pengawas Sekolah untuk masa yang akan datang.

e. Sebagai bahan pertimbangan dan motivasi bagi peneliti berikutnya

untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai penelitian yang relevan

(30)

104 A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, analisis yang telah dilakukan dalam

penelitian ini diperoleh simpulan sebagai berikut :

1. Pada observasi awal terdapat gambaran bahwa pelaksanaan kegiatan

pembelajaran yang mendidik perlu ditingkatkan. Hal ini berdasarkan

observasi awal kegiatan pembelajaran yang mendidik pada 20 orang guru

yang menunjukkan bahwa nilai untuk penyusunan rencana pembelajaran

secara keseluruhan diperoleh nilai rata-rata 62,92 dengan rincian 9 orang

guru termasuk dalam kategori cukup, dan 11 orang guru termasuk dalam

kategori kurang atau 45% guru dengan kategori cukup dan 55% guru

dengan kategori kurang. Sedangkan untuk pelaksanaan kegiatan

pembelajarannya diperoleh nilai rata-rata 63,58 dengan rincian 7 orang

guru termasuk dalam kategori cukup dan 13 orang guru termasuk dalam

kategori kurang atau 35% guru dengan kategori cukup dan 65% guru

dengan kategori kurang.

2. Perolehan nilai untuk setiap indikator kegiatan pembelajaran yang

mendidik pada penelitian awal yaitu indikator 1 yaitu interaksi edukatif

yang aktif sebesar 63,75, indikator 2 yaitu interaksi edukatif yang efektif

sebesar 63,75, indikator 3 yaitu membimbing sikap sebesar 62,50,

(31)

indikator 5 yaitu membimbing keterampilan sebesar 64,17. Pada penelitian

awal ini semua indikator menunjukkan nilai rata-rata yang masih kurang

dan indikator 3 merupakan nilai terendah.

3. Pada penelitian awal perlu adanya perbaikan dalam hal kegiatan

membimbing sikap ditemukan fakta bahwasanya guru masih kurang dalam

memberi batasan terhadap pengumpulan tugas siswa. Guru hanya memberi

siswa tugas, namun banyak siswa yang tidak menyelesaikan pada saat

pembelajaran berakhir. Selain itu guru juga masih kurang dalam memberi

sanksi yang tepat terhadap keterlambatan siswa dalam tugas. Namun juga

untuk indikator yang lain masih perlu adanya peningkatan.

4. Pada siklus pertama, dalam penilaian terhadap perencanaan pembelajaran

yang mendidik terdapat hasil yang menunjukkan 1 orang guru termasuk

dalam kategori kurang, 7 orang guru termasuk dalam kategori cukup dan

12 orang guru termasuk dalam kategori baik atau dengan rincian 5% guru

dengan kategori kurang, 35% guru dengan kategori cukup dan 60% guru

dengan kategori baik. Berdasarkan data diatas diketahui bahwa jumlah

nilai rata-rata yang diperoleh guru dalam analisis perencanaan

pembelajaran yang mendidik setelah dilakukan workshop adalah 76,60.

Maka dapat disimpulkan bahwa hasil penilaian perencanaan pembelajaran

yang mendidik setelah siklus I masih dalam kategori cukup. Sedangkan

untuk penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang

mendidik diperoleh hasil bahwa 7 orang guru termasuk dalam kategori

(32)

dengan kategori cukup dan 65% guru dengan kategori baik. Berdasarkan

data, diketahui bahwa jumlah nilai rata-rata yang diperoleh guru dalam

pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang mendidik setelah dilakukan

workshop pada siklus I adalah 77,75.

5. Perolehan nilai untuk setiap indikator kegiatan pembelajaran yang

mendidik pada siklus I yaitu indikator 1 yaitu interaksi edukatif yang aktif

sebesar 75,42, indikator 2 yaitu interaksi edukatif yang efektif sebesar

80,00, indikator 3 yaitu membimbing sikap sebesar 76,67, indikator 4

yaitu membimbing ilmu pengetahuan sebesar 76,67, dan indikator 5 yaitu

membimbing keterampilan sebesar 80,00. Pada siklus I ini semua

indikator 2 dan 4 sudah mencapai kategori baik, sedangkan untuk kategori

1, 3 dan 5 masih perlu adanya peningkatan. Berdasarkan angka ini maka

dapat disimpulkan bahwa hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran yang

mendidik pada siklus I masih dalam kategori cukup.

6. Pada siklus I terdapat catatan yang menjadi bahan untuk perbaikan yaitu

untuk indikator interaksi edukatif yang aktif perlu menjadi perhatian yaitu

pada kegiatan menggunakan media atau alat peraga yang berkaitan dengan

materi pelajaran. Kemudian untuk indikator membimbing sikap yaitu guru

belum memberi sanksi yang tepat terhadap keterlambatan siswa dalam

tugas. Sedangkan untuk indikator membimbing ilmu pengetahuan perlu

adanya peningkatan dalam kegiatan mengkaitkan materi dengan

(33)

perkembangan Iptek serta kegiatan menyampaikan manfaat dari materi

yang dipelajari.

7. Pada siklus kedua, dalam penilaian terhadap perencanaan pembelajaran

yang mendidik terdapat hasil yang menunjukkan bahwa 20 orang guru

memiliki nilai lebih dari 80 yang artinya masuk dalam kategori baik atau

dengan kata lain 100% guru sudah pada kategori baik. Berdasarkan data,

diketahui bahwa jumlah nilai rata-rata yang diperoleh guru dalam analisis

perencanaan pembelajaran yang mendidik setelah dilakukan workshop

siklus II adalah 85,76 maka dapat disimpulkan bahwa hasil penilaian

perencanaan pembelajaran yang mendidik setelah siklus II sudah pada

kategori baik. Sedangkan untuk penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan

pembelajaran yang mendidik diperoleh hasil bahwa 20 orang guru

termasuk dalam kategori baik atau dengan kata lain 100% guru sudah pada

kategori baik. Berdasarkan data, diketahui bahwa jumlah nilai rata-rata

yang diperoleh guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang

mendidik setelah dilakukan workshop pada siklus II adalah 84,00. Maka

dapat disimpulkan bahwa hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran yang

mendidik pada siklus II sudah pada kategori baik.

8. Perolehan nilai untuk setiap indikator kegiatan pembelajaran yang

mendidik pada siklus II yaitu indikator 1 yaitu interaksi edukatif yang aktif

sebesar 82,92, indikator 2 yaitu interaksi edukatif yang efektif sebesar

83,75, indikator 3 yaitu membimbing sikap sebesar 83,75, indikator 4

(34)

membimbing ilmu pengetahuan sebesar 84,58. Pada siklus II semua

indikator sudah mencapai kategori baik dan mengalami peningkatan secara

keseluruhan.

9. Pada siklus II, untuk indikator interaksi edukatif yang aktif yaitu pada

kegiatan menggunakan media atau alat peraga yang berkaitan dengan

materi pelajaran sudah menunjukkan peningkatan dari siklus sebelumnya.

Namun hal ini masih perlu untuk ditingkatkan kembali. Kemudian untuk

indikator interaksi edukatif yang efektif, guru mampu mengelola pelajaran

tepat waktu sampai pada pengumpulan tugas sebagai evaluasinya. Untuk

indikator membimbing sikap, hal yang menjadi catatan pada siklus

sebelumnya yaitu guru belum memberi sanksi yang tepat terhadap

keterlambatan siswa dalam tugas telah ditingkatkan pada siklus II ini.

Sedangkan untuk indikator membimbing ilmu pengetahuan guru sudah

mampu mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan

secara relevan dengan perkembangan Iptek serta manfaat dari materi yang

dipelajari.

10.Supervisi akademik teknik workshop dapat meningkatkan kegiatan

pembelajaran yang mendidik di SMK Negeri 4 Tebing Tinggi.

B. Implikasi

Implikasi penelitian ini didasari oleh hasil penelitian dan kesimpulan yang

(35)

1. Jika guru melaksanakan kegiatan pembelajran yang mendidik dalam

pelaksanaan pembelajarannya maka dalam aktivitas belajar mengajar akan

terjadi interaksi edukasi yang aktif dan efektif sehingga dapat

membimbing sikap, pengetahuan dan keterampilan siswa.

2. Jika supervisi akademik teknik workshop dilaksanakan dengan baik maka

dapat membantu guru meningkatkan kualitas pembelajarannya terutama

dalam kegiatan pembelajaran yang mendidik.

3. Jika pelaksanaan supervisi akademik dilaksanakan secara

berkesinambungan maka peningkatan kemampuan guru dapat tercapai,

sehingga guru terbangun kebiasaannya untuk selalu meningkatkan

kemampuannya.

4. Pelaksanaan supervisi akademik teknik workshop memudahkan supervisor

untuk melaksanakan supervisi pada sekelompok guru yang memiliki

permasalahan yang sama untuk membantu guru-guru dalam memperbaiki

praktek pengajaran mereka.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi penelitian peningkatan kegiatan

pembelajaran yang mendidik melalui supervisi akademik teknik workshop di

SMK Negeri 4 Tebing Tinggi diajukan saran sebagai berikut:

1. Guru disarankan agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya

sebagai pengajar dan pendidik dengan menerapkan kegiatan pembelajaran

(36)

2. Kepala sekolah sebagai supervisor dalam pelaksanaan tugasnya sebaiknya

memberikan ijin dan kesempatan kepada guru-gurunya untuk

meningkatkan kemampuan gurunya.

3. Pengawas sekolah sebaiknya dapat terus mengembangkan supervisi

akademik khususnya teknik workshop di sekolah dan melakukan supervisi

akademik teknik workshop secara rutin dalam membina para guru

terutama dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang mendidik.

4. Kepada peneliti lain agar hasil penelitian tentang supervisi akademik

teknik workshop ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian dan referensi

(37)

111

Ambarita, Biner. 2013. Manajemen dalam Kisaran Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi., dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Barnawi dan Arifin. 2014. Meningkatkan Kinerja Pengawas Sekolah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Dewi, Rosmala. 2009. Profesionalisme Guru Melalui Penelitian Tindakan Kelas. Medan: CV Dharma

Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Endrayanto dan Harumurti. 2014. Penilaian Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

Fadlillah, M. 2014. Implementasi Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Faisal, Jusuf Amir. 1995. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Fitriana, dkk. 2014. Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Activity Based Learning Berbantuan Flash Card Dilengkapi LKS Pada Materi Isomer Dan Reaksi Senyawa Hidrokarbon Kelas X SMA Batik 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Kimia Vol.3 No. 2: 88-95. http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/kimia/article/new/3715. Diakses tanggal 17 Februari 2016.

Harahap, Diniyah Putri. 2014. Penerapan Supervisi Akademik Teknik Workshop Untuk Meningkatkan Kemampuan Guru Melaksanakan Pembelajaran Aktif Di SMA Rayon 5 Medan. Tesis, tidak ditebitkan. Universitas Negeri Medan.

Juarsih dan Dirman. 2014. Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik. Jakarta: Rineka Cipta.

(38)

Kemendiknas. 2011. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Khomsatun, Siti. 2013. Efektifitas Workshop Achievement Motivation Training (AMT) Dan Peer Teaching Terhadap Peningkatan Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran. Tesis, tidak diterbitkan. STAIN Salatiga. http://perpus.iainsalatiga.ac.id/docfiles/fulltext/f7df957e1c328499.pdf. Diakses tanggal 16 Februari 2016.

Materka, Pat Roessle. 1992. Lokakarya dan Seminar, Perencanaan, Pelaksanaan, Pemanfaatan. Yogyakarta: Kanisius.

Mukhtar dan Iskandar. 2013. Orientasi Baru Supervisi Pendidikan. Jakarta: Referensi.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Purwanto, Ngalim, 2005. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Remaja Raya.

Rusydie, Salman. 2012. Tuntunan Menjadi Guru Favorit. Jakarta: Flash Books.

Sadulloh, dkk. 2011. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung : Alfabeta.

Sagala, Syaiful. 2012. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sahertian, Piet A. 2010. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sanjaya, Wina. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media.

Sergiovanni, Thomas J. Dan Starrat, Robert. J. 1987. Supervision Human Perspectives. New York: McGraw-Hill.

Sudjana, H. Nana. 2011. Supervisi Pendidikan. Konsep dan Aplikasinya bagi Pengawas Sekolah. Bekasi: Binamitra Publishing.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

(39)

Sumiati dan Asra. 2013. Metode Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.

Sutirna dan Samsudin. 2015. Landasan Kependidikan (Teori dan Praktek). Bandung: Refika Aditama

Suyadi. 2012. Buku Panduan Guru Profesional, Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah. Yogyakarta: Andi.

Suyanto dan Jihad. 2013. Menjadi Guru Profesional. Jakarta : Erlangga.

Tim Dosen. 2015. Diktat Mata Kuliah Psikologi Pendidikan. Medan: Pasca sarjana Unimed.

Figur

Tabel   1.1.  Hasil Penilaian Observasi Awal Guru Mengajar ..................... 8

Tabel 1.1.

Hasil Penilaian Observasi Awal Guru Mengajar ..................... 8 p.10
Gambar  3.1. Model Penelitian Tindakan  ...................................................

Gambar 3.1.

Model Penelitian Tindakan ................................................... p.12
Tabel. 1.1. Hasil Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Belajar yang Mendidik pada Penelitian Awal
Tabel. 1.1. Hasil Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Belajar yang Mendidik pada Penelitian Awal p.22
Tabel 1.2. Tabel Kriteria Penilaian

Tabel 1.2.

Tabel Kriteria Penilaian p.23
Tabel 1.3 Ketercapaian Aspek dalam Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik

Tabel 1.3

Ketercapaian Aspek dalam Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik p.24

Referensi

Memperbarui...

Outline : Manfaat Penelitian