PENGARUH STRESS KERJA DAN SIKAP PERAWAT DALAM PEMASANGAN INFUS DI UNIT GAWAT DARURAT RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

98 

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh:

KARINA 2012 1030 025

PROGRAM STUDI MANAJEMEN RUMAH SAKIT PROGRAM PASCASARJANA

(2)

i TESIS

Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2

Program Studi Manajemen Rumah Sakit

Oleh:

KARINA 2012 1030 025

PROGRAM STUDI MANAJEMEN RUMAH SAKIT PROGRAM PASCASARJANA

(3)

ii

RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

TESIS

Oleh:

KARINA 20121030025

Pembimbing I

Dr. Elsye Maria Rosa, SKM., M. Kep. Tanggal ...

Pembimbing II

(4)

iii

RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

TESIS

Oleh:

KARINA 20121030025

Tesis ini telah dipertahankan dan disahkan di depan Dewan Penguji Program Studi Manajemen Rumah

Sakit

Program Pascasarjana

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Tanggal

Yang terdiri dari Dr……….

Anggota Tim Penguji Anggota Tim Penguji

Dr. Elsye Maria Rosa, SKM., M. Kep dr. Maria Ulfa MMR

Mengetahui

Ketua program Studi Manajemen Rumah sakit Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(5)

xii

Latar belakang: Pemasangan infus merupakan prosedur invasif dan merupakan tindakan yang sering dilakukan di rumah sakit (RS), namun, hal ini risiko tinggi terjadinya Hospital Acquired Infection (HAIs). Banyak hal yang mempengaruhi pemasangan infus diantaranya adalah stress kerja perawat dan sikap perawat. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui bagaimana pengaruh stress dan sikap perawat dalam pemasangan infus di RS PKU Muhammadiyah Bantul

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi yakni seluruh perawat di Instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul dengan jumlah sampel 11 responden. Data dikumpulkan dengan cara observasi lembar check list SPO Pemasangan Infus RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan kuisioner mengenai sikap dan stress kerja.

Hasil dan Pembahasan: Hasil observasi menunjukkan bahwa perawat (73%) yang melaksanakan standar prosedur operasional (SPO) pemasangan infus yang sesuai. Hasil dari uji multivariate sebesar 62,1% stress kerja dan sikap perawat secara bersama-sama memberi pengaruh dalam pemasangan infus. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya sosialisasi dan evaluasi SPO Pemasangan Infus. Kesimpulan dan Saran: Stress kerja dan sikap perawat secara bersama-sama memberi pengaruh dalam pemasangan infus . Hal ini akan berdampak pada peningkatan angka kejadian tidak diharapkan terkait pemasangan infus. Saran kepada rumah sakit untuk rutin melakukan sosialisasi SPO dan evaluasi secara berkala.

(6)

xiii

MUHAMMADIYAH BANTUL HOSPITAL

Background of the study: the infusions installation is an invasive procedure and often carried out in the hospital but it has a high risk of Hospital Acquired Infection(HAIs). Many things affecting the installation of infusions such as work stress and nursesattitude.

Objective of the study:to determine how is the influence of work stress and nurses attitude on the infusions installation at PKU MuhammadiyahBantul Hospital.

Methods:this study is observational quantitative research with cross sectional approach. The population of the study is all of the nurses in the emergency unit of PKU MuhammadiyahBantul Hospital with a total of 11 respondents. The data was collected by observing the SOP checklist sheet of infusions installation at PKU MuhammadiyahHospital and also distributing the questionnaires about the attitude and work stress.

Result and Discussion: The result of observation indicated that there were 73% nurses who did appropriate standard operational procedures of infusion installation. The result of multivariate test was 62.1% which work stress and nurses attitude simultaneously have effect on infusion installation. It was caused by lack of socialization and evaluation of standard operational procedures of infusion installation.

Conclusions and Suggestions: Work stress and nurses attitude simultaneously have effect on infusion installation. It will give effect on the increasing of unexpected incident of infusion-related. Suggested the hospital for givingsocialization of standard operational proceduresregularlyand giving evaluation periodically.

(7)

1 A. Latar Belakang

Infeksi masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Di Indonesia, infeksi merupakan salah satu penyebab utama kematian. Selain itu, menyebabkan perpanjangan masa rawat inap bagi penderita. Risiko infeksi di rumah sakit atau yang biasa dikenal dengan infeksi nosokomial merupakan masalah penting di seluruh dunia. Menurut data WHO tahun 2011, infeksi nosokomial merupakan salah satu penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia dengan 1,4 juta angka kematian di seluruh dunia.Infeksi ini terus meningkat dari 1% di beberapa Negara Eropa dan Amerika, sampai lebih dari 40% di Asia, Amerika Latin dan Afrika.

(8)

merupakan prosedur invasif dan merupakan tindakan yang sering dilakukan di rumah sakit. Tindakan pemasangan infus akan berkualitas apabila dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian dapat mencegah terjadinya penularan infeksi (Depkes, 2008).

Pemasangan infus digunakan untuk mengobati berbagai kondisi penderita di semua lingkungan perawatan di rumah sakit dan merupakan salah satu terapi utama. Sebanyak 70% pasien yang dilakukan rawat inap mendapatkan terapi cairan infus. Terapi dengan menggunakan infus ini merupakan faktor risiko untuk terjadinya infeksi dan infeksi terseringnya adalah flebitis. Flebitis merupakan peradangan pada dinding pembuluh darah balik/ vena dan hal ini terjadi karena terapi melalui intravena yang tidak steril yang menyebakan mikroorganisme masuk melalui pembuluh darah dan menyebabkan infeksi (Nursalam, 2003).

(9)

Tenaga perawat merupakan tenaga terbanyak dan mereka mempunyai waktu kontak dengan pasien lebih lama dibandingkan tenaga kesehatan yang lain, sehingga mereka mempunyai peranan penting dalam menentukan baik buruknya mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Peran perawat dalam terapi infus terutama dalam melakukan tugas delegasi, dapat bertindak sebagai care giver, dimana mereka harus memiliki pengetahuan tentang bidang praktek keperawatan yang berhubungan dengan pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi dalam terapi infus. Pemberian terapi infus diinstruksikan oleh dokter tetapi perawatlah yang bertanggung jawab pada pemberian serta mempertahankan terapi tersebut pada pasien. Peran perawat jugalah yang memasangkan alat akses intravena, perawatan, monitoring dan yang paling penting adalah pencegahn infeksi terutama pencegahan flebitis pada pemasangan infus (Masdalifa, 2006). Keberhasilan pengendalian infeksi nosokomial pada tindakan pemasangan infus bukanlah ditentukan oleh canggihnya peralatan yang ada, tetapi ditentukan oleh perilaku petugas dalam melaksanakan tindakan keperawatan secara benar. Adanya Stress kerja dapat mempengaruhi kinerja perawat, dan pengaruh sikap perawat dalam mematuhi SOP pemasangan infus juga dapat menjadi penyebab terjadinya flebitis.

(10)

(2008) menyatakan bahwa stres yang dialami tenaga kerja sebagai hasil atau akibat lain dari proses bekerja, yang dapat berkembang menjadikan tenaga kerja sakit fisik dan mental, sehingga tidak dapat bekerja lagi secara optimal. Perawat dituntut untuk memiliki kecekatan, keterampilan dan kesiagaan setiap saat dalam menangani pasien sehingga kondisi ini membuat perawat akan lebih mudah stres (Masdalifa, 2006).

Penelitian dari National Institute for Occupational Safety and Health (1996) menetapkan perawat sebagai profesi yang beresiko sangat tinggi terhadap stress. Hasil penelitian selye (1996) menunjukkan alasan mengapa profesi perawat mempunyai resiko yang sangat tinggi terpapar oleh stres karena perawat memiliki tugas dan tanggungjawab yang sangat tinggi terhadap keselamatan nyawa manusia. Selain itu ia juga mengungkapkan pekerjaan perawat mempunyai beberapa karakteristik yang dapat menciptakan tuntutan kerja yang tinggi dan menekan. Karakteristik tersebut ketergantungan dalam pekerjaan dan spesialisasi, budaya kompetitif di rumah sakit, jadwal kerja yang ketat dan harus siap kerja setiap saat serta tekanan–tekanan dari teman sejawat.

(11)

menurut penelitian Baker. dkk (1998) stres yang dialami seseorang akan merubah cara kerja system kekebalan tubuh. Akibatnya, orang tersebut cenderung sering mudah terserang penyakit yang cenderung lama penyembuhannya karena tubuh tidak banyak memproduksi sel–sel kekebalan tubuh ataupun sel–sel antibodi banyak yang kalah. Kesehatan dan efektifitas kerja karyawan karena memiliki efek pada aspek fisik dan psikologis.

Berdasarkan hasil penelitian Andares (2009), menunjukkan bahwa perawat kurang memperhatikan kesterilan luka pada pemasangan infus. Perawat biasanya langsung memasang infus tanpa memperhatikan tersedianya bahan-bahan yang diperlukan dalam prosedur tindakan tersebut, tidak tersedia sarung tangan steril , kain kasa steril, alkohol, pemakaian yang berulang pada selang infus yang tidak steril.

(12)

melaksanakan SOP pemasangan infus ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor internal seperti sikap perawat dalam pemasangan infus dan faktor eksternal seperti stres kerja pada perawat (Andareas,2009). Dari beberapa penelitian diatas, pentingnya peran sikap perawat dan tingginya stress kerja pada perawat yang dapat mempengaruhi kinerja mereka dalam memberikan pelayan keperawatan pada pasien terutama dalam pemasangan infus. Besarnya pengaruh sikap perawat dalam mematuhi SOP pemasangan infus berperan dalam proses pencegahan infeksi. Salah satunya pencegahan terjadinya flebitis.

Menurut Depkes RI Tahun 2006 dikutip Wijayasari, Jumlah kejadian Infeksi Nosokomial berupa flebitis di Indonesia sebanyak (17,11%). Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Widiyanto (2002), mengatakan bahwa angka kejadian flebitis di Rumah Sakit Cipto Mangkusumo Jakarta sebanyak 53,8%. Sejalan dengan Penelitian yang dilakukan Baticola (2002), mengatakan bahwa angka kejadian phlebitis di RSUP Dr. Sardjito Jogjakarta sebanyak 27,19 %, Sedangkan hasil penelitian Saryati (2002), mengatakan bahwa angka kejadian phlebitis di RSUD Purworejo sebanyak 18,8% (Bayu, 2010). Dan di instalasi rawat inap RSUD Dr. SoeradjiTirtonegoro klaten tahun 2002 ditemukan kejadian flebitis sebanyak 26,5 % kasus (Pasaribu, 2008).

(13)

kasus flebitis atau infeksi lainnya yang terjadi di ruang rawat inap, perinatal, unit gawat darurat atau ICU pelaporannya belum maksimal.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan di IGD RS PKU Muhammadiyah Bantul pada tanggal 4 Desember 2012, bahwa data yang peneliti temukan dari Tim Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) Rumah Sakit pada tahun 2011 yaitu angka kejadian plebitis sebesar 0,6% tetapi setelah didapatkan data terbaru pada tahun 2013 dari Tim Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul didapatkan angka kejadian plebitis sebesar 2,3%. Angka ini berada di atas standar yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI nomor 129 tahun 2008 tentang standar pelayanan medis yaitu 1,5%.

(14)

keluarga pasien berkaitan dengan kondisi kegawatdaruratan di ruang tersebut (Hinlay,2006).

Unit gawat darurat sering memicu stress kerja pada karyawan/staf yang bertugas karena kurangnya perhatian dari pimpinan/penyelenggara RS, sarana dan peralatan yang kurang mencukupi, keterbatasan bahan habis pakai, ketatnya peraturan dan jadwal shift yang melelahkan serta beban kerja yang berlebihan serta kurangnya tenaga perawat dalam mengantisipasi kunjungan pasien di ruang UGD, hal ini tergambar dari jumlah perawat yang bertugas di ruang UGD RS PKU Muhammadiyah Bantul 11 orang dengan jumlah kunjungan pasien 100-130/hari.

Berkaitan dengan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji tentang pengaruh stress kerja dan sikap perawat dalam pemasangan infus. Penelitian ini belum pernah diadakan di RS PKU Muhammadiyah Bantul sehingga relevan jika permasalahan ini diangkat sebagai judul tesis “Pengaruh

stress kerja dan sikap perawat dalam pemasangan infus di Unit Gawat Darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul”.

B. Perumusan Masalah

(15)

tenaga terbanyak dan mereka mempunyai waktu kontak dengan pasien lebih lama dibandingkan tenaga kesehatan yang lain. Berdasarkan hal di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh stress kerja perawat dalam pemasangan infus di ruang UGD RS PKU Muhammadiyah Bantul

2. Bagaimana pengaruh sikap perawat dalam pemasangan infus di ruang UGD RS PKU Muhammadiyah Bantul

3. Bagaimana pengaruh stress kerja dan sikap perawat secara bersama-sama dalam pemasangan infus di ruang UGD RS PKU Muhammadiyah Bantul

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara stress kerja dan sikap perawat dalam pemasangan infus di UGD RS PKU Muhammadiyah Bantul.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui tingkat stress kerja perawat dalam pemasangan infus di ruang UGD RS PKU Muhammadiyah Bantul

(16)

c. Mengetahui pengaruh stress kerja dan sikap perawat secara bersama-sama dalam pemasangan infus di ruang UGD RS PKU Muhammadiyah Bantul.

D. Manfaat penelitian

Manfaat penelitian dapat disampaikan sebagai berikut : 1. Manfaat bagi institusi pendidikan

Diharapkan penulisan ini dapat memperkaya bahasan dalam bidang manajemen sumber daya manusia bidang kesehatan yang berhubungan dengan tingkat stress kerja dan sikap perawat dalam mendukung penerapan program pencegahan dan pengendalian infeksi 2. Manfaat bagi RS PKU Muhammadiyah Bantul

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi upaya pengembangan sumber daya manusia yang berhubungan dengan tingkat stress kerja dan sikap perawat untuk mendukung penerapan program pencegahan dan pengendalian infeksi khususnya flebitis pada pemasangan infus.

3. Manfaat bagi peneliti

a. Peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir yang merupakan syarat untuk kelulusan di fakultas magistes managemen rumah sakit di universitas muhammadiyah Yogyakarta.

(17)
(18)

12

A. Telaah Pustaka 1. Stress kerja

a. Definisi stress kerja

Stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol. Stres juga didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek (Cooper,2004).

(19)

satu organ atau lebih sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut distres (Dadang, 2004)

Ashar (2008) menyatakan bahwa stres yang dialami tenaga kerja sebagai hasil atau akibat lain dari proses bekerja, yang dapat berkembang menjadikan tenaga kerja sakit fisik dan mental, sehingga tidak dapat bekerja lagi secara optimal. Handoko (2008) menyatakan karyawan yang mengalami stres bisa menjadi nervous dan merasakan kekhawatiran kronis. Mereka sering menjadi mudah marah, tidak dapat relaks, atau menunjukkan sikap yang tidak kooperatif, sehingga dapat menggangu pelaksanaan kerja mereka.

b. Proses stress

Menurut Cooper (2004), dalam peristiwa stres, ada tiga hal yang saling terkait satu dengan yang lainnya, yaitu:

1) Hal, peristiwa, kedaan, orang yang menjadi sumber stres (stressor) jika dipandang secara umum, hal-hal yang menjadi sumber stres dipahami sebagai rangsangan (stimulus).

(20)

dapat berpengaruh pada denyut jantung yang cepat, perut mual, mulut kering, banyak keringat dan lain-lain.

3) Hubungan antara orang yang stres dengan keadaan yang penuh stres merupakan proses. Proses ini berpengaruh timbal balik dengan usaha penyesuaian dengan lingkungan stres proses fisik dan perilaku.

Kemampuan individu menahan stres juga berbeda-beda, hal tersebut bergantung pada :

1) Sifat dan hakikat stres, yaitu intensitas, lamanya, lokal, dan umum (general).

2) Sifat individu yang terkait dengan proses adaptasi. c. Penyebab Stres

Ada beberapa kondisi kerja yang sering menyebabkan stres bagi menurut Handoko (2008) diantaranya:

1) Beban kerja yang berlebihan 2) Tekanan atau desakan waktu 3) Kualitas supervisi yang jelek 4) Iklim politis yang tidak aman

5) Umpan balik tentang pelaksanaan kerja yang tidak memadai

6) Wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab

7) Kemenduaan peranan (role ambiguity) 8) Frustasi

(21)

10)Perbedaan antara nilai-nilai perusahaan dan karyawan 11)Berbagai bentuk perubahan

Mengenai penyebab stres, Robbins (2006) juga menyatakan bahwa ada banyak faktor organisasi yang dapat menimbulkan stres, di antaranya:

1) Tuntutan Tugas

Tuntutan tugas merupakan faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang. Faktor ini mencakup desain pekerjaan individu (otonomi, keragaman tugas, tingkat otomatisasi), kondisi kerja, dan tata letak kerja fisik.

2) Tuntutan Peran

Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam organisasi itu. Konflik peran menciptakan harapan-harapan yang barangkali sulit dipuaskan. Kelebihan peran terjadi bila karyawan diharapkan untuk melakukan lebih daripada yang dimungkinkan oleh waktu. Ambiguitas peran tercipta bila harapan peran tidak dipahami dengan jelas dan karyawan tidak pasti mengenai apa yang harus dikerjakan.

3) Tuntutan Antar Pribadi

(22)

khususnya di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan social yang tinggi.

4) Struktur Organisasi

Struktur organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan di mana keputusan diambil. Aturan yang berlebihan dan kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada karyawan merupakan contoh variabel struktural yang dapat merupakan potensi sumber stres.

5) Kepemimpinan Organisasi

Kepemimpinan organisasi menggambarkan gaya manajerial eksekutif senior organisasi. Beberapa manajer menciptakan budaya yang dicirikan oleh ketegangan, rasa takut, dan kecemasan.mereka meberikan tekanan yang tidak realistis untuk berkinerja dalam jangka pendek, memaksakan pengawasan yang sangat ketat, dan secara rutin memecat karyawan yang tidak dapat mengikuti.

6) Tingkat Hidup Organisasi

(23)

cenderung paling kecil dalam tahap dewasa di mana ketidakpastian berada pada titik terendah.

Anggapan tentang stres kebanyakan menuju pada hal yang negatif, seperti suatu kondisi yang mengarah ke timbulnya penyakit fisik maupun mental, atau mengarah ke perilaku yang tidak wajar. Stres tidak selalu dipandang sebagai hal yang negatif. Apabila dimanfaatkan dengan baik, stres dapat meningkatkan prestasi kerja. Selye (1976) membedakan antara distress, yang destruktif dan eustress yang merupakan kekuatan yang positif dimana stress kadangkala dapat diperlukan untuk menghasilkan prestasi yang tinggi. Menurut Handoko (2008) ada beberapa cara untuk mengurangi stres kerja, di antaranya dengan memindahkan karyawan ke pekerjaan lain, mengganti penyelia yang berbeda, menyediakan lingkungan kerja yang baru, pelatihan dan pengembangan karier, serta program konseling. Ada beberapa manfaat dari program konseling, diantaranya pemberian nasehat, penentraman hati, komunikasi, pengenduran ketegangan emosional, penjernihan pemikiran serta reorientasi.

d. Gejala stress

(24)

Tabel 2.1. Gejala Stres

Gejala Psikologis Gejala Fisik Gejala Perilaku Kecemasan, Memendam perasaan Meningkatnya sekresi

adrenalin

Minuman keras Komunikasi tidak

efektif

Gangguan lambung Perilaku sabotase Mengurung diri Mudah terluka Absensi meningkat

Depresi Mudah lelah fisik Banyak/kurang makan Merasan terasing Kematian Nafsu makan menurun

Kebosanan Gangguan Ketidakpuasan kerja Sering berkeringat Interpersonal tidak baik

Lelah mental Gangguan kulit Cenderung bunuh diri Menurunnya Hilang kreatifitas Ketegangan otot Hilang semangat hidup Sulit tidur Sumber beehr (1987)

Menurut Braham (dalam Handoyo, 2000), gejala stres dapat berupa tanda-tanda berikut ini:

1) Fisik, yaitu sulit tidur atau tidur tidak teratur, sakit kepala, sulit buang air besar, danya gangguan pencemaan, radang usus, kuiit gatal-gatal, punggung terasa sakit, urat-urat pada bahu dan leher terasa tegang, keringat berlebihan, berubah selera makan, tekanan darah tinggi atau serangan jantung, kehilangan energi.

(25)

3) Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit untuk berkonsentrasi, suka melamun berlebihan, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran saja.

4) Interpersonal, yailu acuh dan mendiamkan orang lain, kepercayaan pada orang lain menurun, mudah mengingkari janji pada orang lain, senang mencari kesalahan orang lain atau menyerang dengan kata-kata, menutup din secara berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain.

Menurut Cooper dan Straw (1995) membagi gejala stres kerja menjadi tiga bagian yaitu:

1) Gejala fisik : Gejala stres menyangkut fisik bisa mencakup: nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot tegang, pencernaan terganggu, mencret- mencret, sembelit, letih yang tak beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah.

2) Gejala- gejala dalam wujud perilaku. Banyak gejala stres yang menjelma dalam wujud perilaku, mencakup:Perasaan, berupa: bingung, cemas, dan sedih, jengkel, salah paham, tak berdaya, tak mampu berbuat apa- apa, gelisah, gagal, tak menarik, kehilangan semangat. Kesulitan dalam: berkonsentrasi, berfikir jernih, membuat keputusan. Hilangnya: kreatifitas, gairah dalam penampilan, minat terhadap orang lain.

(26)

lancar, pengambilan keputusan kurang baik, kreatifitas dan inovasi berkurang, dan bergulat pada tugas- tugas yang tidak produktif.

e. Dampak stress

Menurut Beehr dalam Freser (1992), stres akan mempunyai dampak terhadap:

1) Dampak terhadap individu

Dampak stress terhadap individu adalah munculnya masalah yang berhubungan dengan kesehatan, psikologi dan interaksi interpersonal. Pada gangguan fisik seseorang yang mengalami stres akan mudah teserang penyakit. Pada gangguan mental stres berkepanjangan akan mengakibatkan ketegangan, hal ini cenderung akan merusak tubuh dan gangguan kesehatan. Pada gangguan interpersonal stres akan lebih sensitif terhadap hilangnya rasa percaya diri, menarik diri dan lain-lain. Reaksi terhadap stres dapat berupa reaksi bersifat psikis maupun fisik. Biasanya perawat yang stres akan menunjukkan perubahan perilaku. Perubahan perilaku terjdi pada diri manusia sebagai usaha mengatasi stres. Usaha mengatasi stres dapat berupa perilaku melawan stres (flight) atau berdiam diri (freeze). Dalam kehidupan sehari-hari ketiga reaksi ini biasanya dilakukan secara bergantian, tergantung situasi dan bentuk stres. Perubahan-perubahan ini di tempat kerja merupakan gejala-gejala individu yang mengalami stres antara lain:

(27)

c) Ketidakhadiran tenaga kerja. d) Kesulitan membuat keputusan. e) Kesalahan yang sembrono.

f) Kelalaian menyelesaikan pekerjaan.

g) Lupa akan janji yang telah dibuat dan kegagalan diri sendiri. h) Kesulitan berhubungan dengan orang lain.

i) Kerisauan tentang kesalahan yang dibuat.

j) Menunjukkan gejalan fisik seperti pada alat pencernaan, tekanan darah tinggi, radang kulit, radang pernafasan.

Munculnya stres, baik yang disebabkan oleh sesuatu yang menyenangkan atau sesuatu yang tidak menyenangkan akan memberikan akibat tertentu pada seseorang.

Menurut freser (1992)Terdapat empat jenis konsekuensi yang dapat ditimbulkan stres, yaitu :

a) Pengaruh psikologis, yang berupa kegelisahan, agresi, kelesuan, kebosanan, depresi, kelelahan, kekecewaan, kehilangan kesabaran, harga diri yang rendah.

(28)

c) Pengaruh kognitif, yaitu ketidakmampuan mengambil keputusan, kurangnya konsentrasi, dan peka terhadap ancaman.

d) Pengaruh fisiologis, yaitu menyebabkan gangguan pada kesehatan fisik yang berupa penyakit yang sudah diterima sebelumnya, atau memicu timbulnya penyakit tertentu.

2) Dampak terhadap organisasi

Pekerja yang mengalami stres akan berpengaruh pada kualitas kerja dan kesehatan pekerja terganggu berupa kekacauan manajeman dan operasional kerja. Meningkatnya absensi dan banyak pekerjaan yang tidak terlaksana. Schuller (2002), mengidentifikasi beberapa perilaku negative tenaga kerja yang berpengaruh terhadap organisasi. Menurut peneliti ini, stres yang dihadapi oleh tenaga kerja berkorelasi dengan penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja serta tendesi mengalami kecelakaan.

Schuller (2002) secara singkat menjelaskan beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh stres kerja dapat berupa :

a) terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja.

b) Mengganggu kenormalan aktivitas kerja. c) Menurunkan tingkat produktivitas.

(29)

produktivitas dengan biaya yang dikeluarkan untuk membayar gaji, tunjangan, dan fasilitas lainnya.

f. Tingkatan Stres

Gangguan stress biasanyan muncul secara lamban, tidak jelas kapan mulainya dan seringkali kita tidak menyadari. Situasi stress ringan biasanya tidak mengakibatkan kerusakkan fisiologis kronis tetapi stress sedang dan berat dapat menimbulkan risiko penyakit medis atau memburuknya penyakit kronis (Leidy et al, 1990 dalam Potter & Perry 2005 )

1) Stres ringan

Adalah stress yang dihadapi setiap orang secara teratur seperti terlalu banyak tidur, kemacetan lalu lintas,kritikan dari atasan. Situasi ini biasanyan berlangsung beberapa menit atau jam.

2) Stres sedang

Berlangsung lebih lama dari beberapa jam sampai beberapa hari. Misalnya perselisihan yang tidak terselesaikan dengan rekan kerja, anak yang sakit atau ketidakhadiran yang lama dari anggota keluarga

3) Stres berat

(30)

panjang. Makin sering dan makin lama situasi stress, makin tinggi risiko kesehatan yang ditimbulkan.

2. Sikap

a. Definisi Sikap

Menurut Thurstone (1994), sikap adalah bentuk evaluasi reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung, memihak atau perasaan tidak mendukung/tidak memihak pada obyek tertentu. Sikap sebagai sesuatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sedehana sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan (Robbins, 1994).

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan tanggapan atau reaksi seseorang terhadap obyek tertentu yang bersifat positif atau negatif yang biasanya diwujudkan dalam bentuk rasa suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju.

b. Klasifikasi Sikap

Menurut Robbins (2007) struktur sikap terdiri dari tiga komponen penting dan saling menunjang yaitu :

(31)

2) Komponen affektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional atau evaluasi. Pada umumnya reaksi emosional sebagai komponan affektif banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang dipercayai sebagai sesuatu yang benar dan berlaku bagi obyek tersebut.

3) Komponen konatif adalah aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang yang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku.

Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individu. Konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen affektif, dengan tendensi perilaku sebagai komponen konatif menjadi landasan dalam upaya menyimpulkan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap. Bentuk perilaku yang mencerminkan komponen konatif tidak hanya dilihat secara langsung saja tetapi juga meliputi bentuk-bentuk perilaku berupa pernyataan atau perkataan yang disampaikan seseorang.

c. Ti ngkat an sikap

Tingkatan sikap menurut Notoatmodjo (1993) adalah :

(32)

tanggapan terhadap pertanyaan atau obyek yang dihadapi.

3) Menghargai, artinya seseorang memberikan nilai yang positif terhadap obyek atau stimulus, dalam arti mau membahas dengan orang lain bahkan mempengaruhi orang lain untuk ikut merespon. 4) Bertanggung jawab, artinya seseorang yang telah mengambil sikap

tertentu berdasarkan keyakinannya dia harus berani menghadapi resikonya.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan pendapay atau pernyataan responden terhadap suatu objek, secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden.

d. Pembentukan sikap

Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Dalam interaksi sosial terjadi di hubungan saling

mempengaruhi diantara individu yang satu dengan yang lain, terjadi hubungan timbal balik yang mempengaruhi pola perilaku masing- masing individu. Individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap obyek psikologis yang dihadapi.

(33)

membentuk dan mempengaruhi penghayatan seseorang terhadap stimulus, yang kemudian akan membentuk sikap positif atau negatif. Disamping itu, orang-orang disekitar kita juga mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat kita, akan mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Penyampaian pesan melalui media juga telah memberi dasar afektif pada seseorang dalam menilai sesuatu sehingga terbentuklah sikap tertentu.

3. Pemasangan Infus a. Definisi

Memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang lama dengan menggunakan infus set (Darmawan,2008).

b. Tujuan

Tujuan pemasangan infus menurut Sugiarto (2006) adalah : 1) Sebagai tindakan pengobatan

2) Untuk mencukupi kebutuhan tubuh akan cairan dan elektrolit . 3) Sebagai makanan untuk pasien yang tidak dapat atau tidak boleh

(34)

c. Keuntungan dan Kerugian

Menurut Sugiarto (2006), terapi intravena mempunyai keuntungan sebagai berikut:

1) Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat.

2) Absorsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan.

3) Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi

4) Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari.

5) Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidak stabilan dalam traktus gastrointestinalis.

Menurut Sugiarto (2006) mengatakan hahwa terapi intravena mempunyai kerugian sebagai berikut:

1) Tidak bisa dilakukan “drug recall” dan rnengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi.

2) Kontrol pemberian yang tidak baik bisa rnenyebabkan “speed shock”. 3) Komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu kontaminasi mikroba melalui

(35)

d. Indikasi dan Kontraindikasi

Menurut sugiarto (2006), indikasi terapi intravena adalah : 1) Pasien dengan dehidrasi

2) Pasien sebelum transfuse darah

3) Pasien pra dan pasca bedah , sesuai dengan program pengobatanya 4) Pasien yang tidak bisa makan dan minum melalui mulut

5) Pasien yang memerlukan pengobatan yang pemberiannya harus dengan carainfuse

6) Pasien dengan intoksikasi berat

Sedangkan untuk kontraindikasi untuk pemasangan infus adalah :

1) Kelancaran cairan dan jumlah tetesan harus tepat , sesuia dengan program pengobaatan

2) Bila terjadi Haematoma , Bengkak dan lain – lain pada tempat pemasangan jarum , maka infuse harus di hentikan dan di pindahkan pemasangannya ke bagian tubuh .

3) Perhatikan reaksi pasien selam 15 menit pertama . Bila timbul reaksi alergi ( misalya : menggigil , urticuria atau shock) maka infuse segera diperlambat tetesanya , jiks perlu dihentikan , kemudian segera dilaporakan kepada penaanggung jawab ruangan atau dokter yang bersangkutan .

4) Siapkan cairan atau obat untuk pemberian selanjutnya

(36)

e. Alat

Dalam SOP pemasangan infus tahun 2009 di RS PKU Muhammadiyah Bantul, Alat yang harus dipersiapkan dalam pemasangan infus adalah :

1) Cairan infus 2) IV kateter 3) Infus set 4) Tiang infus

5) Plester / perekat lainnya 6) Perlak

7) Bengkok dan kantung plastik 8) Kassa steril

9) Gunting perban 10)Handuk bersih 11)Betadine dan alkohol 12)Salep antibiotik 13)Sarung tangan steril 14)Tourniquet

15)Larutan klorin 0,5%

f. Prosedur Pemasangan Infus (sumber)

Rincian SOP pemasangan infus tahun 2009 di RS PKU Muhammadiyah Bantul adalah

1) Cuci tangan 2) Siapkan alat-alat

(37)

4) Komunikasikan pada pasien dan keluarga tentang tindakkan yang akan dilakukan

5) Tutup korden dan dekatkan alat-alat ke pasien 6) Baca Basmallah

7) Posisi diri di sebelah kanan pasien 8) Pakai sarung tangan steril

9) Periksan cairan infus (botol dan kantong plastik), pastikan jenisnya dan volumenya telah benar dan bila perlu masukkan bahan yang diperlukan

10)Sambungkan set infus ke botol/ kantung cairan infuse :

 Lepaskan tutup botol / kantung cairan tanpa menyentuh bagian yang akan disambungkan

 Lepaskan tutup jarum (perhatikan teknik tanpa sentuh) pegang gagang jarum dan masukkan jarum pada tempat penyambungan di botol / kantung cairan infus

11)Lakukan pengisian tabung dan pipa infuse

 Tekan dan lepaskan tabung tetesan hingga terisi cairan infuse

 Longgarkan katup pengatur alirkan (klem) sehingga pipa terisi cairan sampai ke ujung pipa infus, lalu eratkan katup agar cairan terhenti dan perhatikan pelindung jarum tetap pada tempatnya

 Keluarkan udara yang ada di dalam pipa 12)`Pastikan daerah yang akan dilakukan insersi

13)Bersihkan area bila kotor menggunakan air dan sabun kemudian keringkan dengan handuk bersih

14)Pasangkan perlak dibawah area insersi

(38)

10-12 cm diatas tempat pemasangan). Minta pasien mengepalakan dan membuka tangan untuk memvisualisasikan vena

16)Pertahankan tourniquet pada tempatnya agar vena terisi penuh dan menonjol, kemudian letakkan dan atur posisi lengan dan tangan (alasi dengan perlak) diatas tempat tidur

17)Usapkan larutan antiseptic (povidon iodin) secara rotasi, mulai dari titik pemasangan infus memutar ke arah luar (hingga sisi dalam dan luar lengan), kemudian diusap dengan alcohol. Biarkan larutan ini mengering selama 2 menit

18)Lakukan kajian tempat pemasangan dengan jalan menfiksasi vena dengan telunjuk dan ibu jari dan gerakkan kedua jari tersebut (mendekat atau menjauh) untuk memastikan posisi dan kelayakkan sebagai tempat pemasangan infuse

19)Pegang gagang jarum, arahkan pada vena terpilih, kemudian kemudian alirkan cairan infuse dengan jalan membuka katub selanjutnya lepaskan tourniquet

21)Fiksasikan jarum infus dengan memasang plester dengan bagian yang lengket menghadap ke atas dibawah gagang jarum dan kemudian (dengan ukuran yang lebih panjang) pasang plester diatas plester perekat utama. Lakukan hal yang sama pada pipa infus, pada titik dibawah karet atau cabang untuk pemberian obat-obatan. Untuk dewasa bias menggunakan 3 M atau plester putih, tetapi untuk bayi dan anak-anak menggunakan plester putih (hipavik)

(39)

dengan 2 plester, jika menggunakan 3M maka tidak perlu menggunakan salep atau kassa tersebut

23)Atur tetesan infus sesuai advis dokter

24)Setelah selesai pemasangan, baca Hamdallah

25)Kumpulkan semua sampah terkontaminasi darah ke dalam kantung plastic

26)Masukkan tangan (masih menggunakan sarung tangan) ke dalam larutan klorin 0.5%. Bersihkan cemaran yang ada kemudian lepaskan secara terbalik dan segera dekontaminasi (bila diproses ulang) atau masukkan ke dalam kantung plastik bila akan dibuang

27)Cuci tangan

28)Periksa kembali cara fiksasi lengan atau penyangga lengan sehingga memungkinkan pasien merasa sedikit nyaman (fiksasi longgar pada penyangga tetapi fiksasi ketat pada jarum atau kanula) dan geraknya tidak sangat dibatasi atau menggangu kelancaran infuse

29)Perhatikan kembali posisi jarum infuse, jalannya cairan dan atur jumlah tetesan sesuai program

30)Bereskan alat-alat dan rapikan pasien serta lakukan penggantian IV kateter hari ke 4, untuk pemakaian plester 3M tidak perlu dressing tiap hari, tetapi yang menggunakan plester putih dilakukan dressing tiap hari

(40)

g. Komplikasi

Komplikasi yang terjadi pada pemasangan infus menurut Sugiarto (2006) adalah

1) Hematoma : darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau tusukan berulang pada pembuluh darah.

2) Infiltrasi : masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.

3) Tromboflebitis/ bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.

4) Perdarahan 5) Rasa perih/sakit 6) Reaksi alergi h. Peran Perawat

Marianto (2008) perawat memiliki peran dalam terapi intravena diantaranya adalah :

(41)

2) Memastikan cairan infus diberikan secara benar (pasien, jenis cairan, dosis, cara Pemberian dan waktu pemberian)

3) Memeriksa apakah jalur intravena tetap paten

4) Observasi tempat penusukan (insersi) dan melaporkan abnormalitas 5) Mengatur kecepatan tetesan sesuai dengan instruksi

6) Monitor kondisi pasien dan melaporkan setiap perubahan

B. Keaslian Penelitian

1. Indayanti (2008) dalam penelitiannya tentang hubungan pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan standart operasional prosedur teknik menyuntik dalam upaya pencegaha infeksi di RSUD Arifin achmad pekanbaru dengan jenis penelitian observasional. Hasil penelitian ini adalah ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan terhadap penerapan SOP tehnik menyuntik dan tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap terhadap penerapan SOP tehknik menyuntik.

(42)

3. Wayunah (2011) Hubungan pengetahuan perawat tentang terapi dengan flebitis dan kenyamanan pasien di ruang rawat inap rumah sakit umum daerah (RSUD) Kabupaten Indramayu. Jenis penelitian : analitic-corelational dengan pendekatan cross sectional. Hasil

penelitian adalah ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat tentang terapi infus dengan kejadian flebitis dan ada hubungan signifikan antara pengetahuan perawat antara pengetahuan perawat tentang terapi infus dengan kenyamanan pasien.

Pada penelitian diatas yang membedakan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah variable bebas pada penelitian ini merupakan mengenai stress kerja dan sikap perawat, sedangkan variable terikat pada penelitian ini adalah pemasangan infus. Metode penelitian merupakan observasional, dengan pengambilan data menggunakan kuesioner dan observasi pada pemasangan infus. Pada penelitian ini pun diambil sampel pada seluruh perawat khususnya di ruang UGD RS PKU Muhammadiyah Bantul.

C. Landasan teori

(43)

untuk mencapai keselamatan kesehatan kerja khususnya dalam tindakan pencegahan infeksi.

Stres merupakan tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek (cooper, 2004). Menurut Beehr dan Newman (1978), ada 3 dampak negatif yang terjadi pada individu sehubungan dengan stres kerja yaitu : gejala psikologis, gejala fisik dan gejala perilaku.

(44)

D. Kerangka Konsep

Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

E. Hipotesa

a) H0 : Tidak ada pengaruh stres kerja dan sikap dalam pemasangan infus

b) H1 : Ada pengaruh stres kerja perawat dalam pemasangan infus di unit

gawat darurat Rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul

c) H2 : Ada pengaruh sikap perawat dalam pemasangan infus di unit

gawat darurat Rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul

d) H3 : Ada pengaruh sikap dan stres kerja perawat dalam pemasangan

infus di unit gawat darurat Rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul

Stress kerja (X1):

- Psikologis - Fisik - Perilaku

Sikap perawat (X2):

- Afektif - Kognitif - Konasi

(45)

39

A. Jenis Penelitian

Untuk menganalisa pengaruh tingkat stress kerja dan sikap perawat dalam pemasangan infus, maka jenis penelitian yang digunakan adalah analitik kuantitatif karena peneliti hanya melihat kejadian dilapangan tanpa

memberikan intervensi dari peneliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross sectional karena pengukuran variabel bebas dan variabel terkontrol

dalam satu waktu.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

(46)

C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perawat yang bekerja di RS PKU Muhammadiyah Bantul.

2. Sampel

a) Besar sampel

Besar sample adalah seluruh perawat yang bekerja di ruang unit gawat darurat (populasi total). Berdasarkan data kepegawaian, total perawat yang bekerja di unit gawat darurat Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul adalah 11 orang

b) Teknik sampling

Teknik sampling adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengambil sampel. Pada penelitian ini menggunakan tekhnik total sampling.

c) Kriteria inklusi

1. Perawat yang mempunyai latar belakang pendidikan minimal D III keperawatan

2. Perawat yang sedang masa aktif dalam pelayanan kesehatan

3. Perawat yang bersedia menjadi responden dan ikut terlibat dalam penelitian, yang ditandain dengan penandatanganan pada lembar persetujuan menjadi responden.

4. Masa kerja minimal 1 tahun

(47)

d) Kriteia eksklusi

1) Perawat yang sedang dalam masa cuti 2) Perawat yang sedang sakit

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Data Primer

Data primer adalah data atau materi yang dikumpulkan oleh peneliti pada saat berlangsungnya suatu penelitian. Metode pengumpulan data primer tentang stress kerja dan sikap perawat mengenai pemasangan infus di rumah sakit menggunakan angket atau kuisioner dan instrumen observasi.

Angket atau kuisioner pada dasarnya merupakan metode pengumpulan data dengan pertanyaan atau pernyataan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan informasi responden. Jenis angket yang diberikan kepada responden adalah angket tertutup dimana setiap pertanyaaan disediakan alternative jawaban. Alasan peneliti mengguanakan angket tertutup adalah untuk memudahkan responden untuk menjawab pertanyaan yang telah disediakan. Kuisioner stress kerja di adopsi dari kuisioner yang telah dibuat oleh Nursalam, lalu dimodifikasi oleh peneliti. Begitupula kuisioner sikap perawat yang diadopsi dari igusti dan telah dimodifikasi pula oleh peneliti.

(48)

sikap perawat dalam pemasangan infus. Pada kuisioner stres kerja terdapat 30 daftar pernyataan yang terdiri dari pertanyaan mengenai gejala psikologi, gejala fisik dan gejala perilaku. Sedangkan kuesioner pada sikap perawat dalam pemasangan infus terdiri dari 30 pernyataan yaitu komponen konatif, kognitif dan afektif.

Instrumen observasi untuk mengumpulkan data dan menilai pelaksanaan kegiatan keperawatan dalam pemasangan infus. Observer adalah penulis dan observee adalah perawat yang sedang dinilai dalam kegiatan keperawatan yaitu dalam pemasangan infus. Observasi dilakukan dengan cara membandingkan hasil observasi yang ditemukan dengann standart operasional prosedur.

2. Data Sekunder

(49)

E. Variabel Penelitian 1) Variabel Independen

Varaibel independen pada penelitian ini adalah stress kerja (X1)

dan sikap (X2) perawat ruang unit gawat darurat di RS Muhammadiyah

Bantul.

2) Variabel Dependen

Variabel dependen pada penelitian ini adalah pemasangan infus (Y) di ruang unit gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul.

F. Definis Operasional 1) Stress kerja (X1)

Stres adalah respons tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasannya, misalnya bagaimana respons tubuh seseorang manakala seseorang mengalami beban kerja yang berlebihan. Hal ini berpotensi merusak dan tidak terkontrol mencapai tingkat ketegangan fisik, psikologis dan perilaku sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek. Alat ukur stress kerja dengan menggunakan kuisioner yang terdiri dari item-item dengan alternatif jawaban

berdasarkan skala interval untuk pernyataan positif dengan nilai : a. Tidak pernah (TP) dengan nilai 1

b. Kadang-kadang (KD) dengan nilai 2 c. Sering (SR) dengan nilai 3

(50)

e. Sangat sering sekali (SSS) nilai 5 Untuk pernyataan nilai negatif dengan nilai : a. Tidak pernah (TP) dengan nilai 5 b. Kadang-kadang (KD) dengan nilai 4 c. Sering (SR) dengan nilai 3

d. Sering kali (SK) dengan nilai 2 e. Sangat sering sekali (SSS) nilai 1

Peneliti kelas interval menjadi 3 yaitu tinggi, sedang dan rendah. Untuk menentukan panjang kelas interval dengan menggunakan rumus Sturges.

k R L

Keterangan :

L : Lebar interval R : Wilayah k : Jumlah kelas

Sebelumnya terlebih dahulu menentukan nilai R (wilayah) dengan menggunakan rumus :

R = data tertinggi – data terendah

(51)

Maka bila dimasukkan sesuai rumus diatas maka nilai R = 90, lalu dihitung panjang interval dengan menggunakan rumus Sturges :

30

3 90

  L

panjang interval adalah 30, maka dapat dimasukkan dalam kategori penilaian :

Tinggi : 90 - 120 Sedang : 60 - 89 Rendah : 30 -59 Skala yang digunakan adalah interval 2) Sikap (X2)

Sikap adalah tanggapan responden terhadap standar operasional prosedur teknik pemasangan infus berkaitan dengan patient safety, tanggapan tersebut dapat positif ataupun negatif. Indikator untuk mengukur variable sikap adalah tindakan pencegahan flebitis, tindakan aseptik dan peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Untuk mengukur variable sikap, maka peneliti menggunakan angket atau kuisioner yang berisi pernyataan positif dan negatif.

Untuk pernyataan positif dengan nilai : a. Sangat setuju (SS) dengan nilai 5 b. Setuju (S) dengan nilai 4

c. Netral (N) dengan nilai 3

(52)

e. Sangat tidak setuju (STS) dengan nilai 1 Untuk pernyataan negatif dengan nilai :

a. Sangat setuju (SS) dengan niali 1 b. Setuju (S) dengan nilai 2

c. Netral (N) dengan nilai 3

d. Tidak Setuju (TS) dengan nilai 4

e. Sangat Tidak Setuju (STS) dengan nilai 5

Peneliti kelas interval menjadi 3 yaitu baik dan buruk. Untuk menentukan panjang kelas interval dengan menggunakan rumus Sturges.

k

Sebelumnya terlebih dahulu menentukan nilai R (wilayah) dengan menggunakan rumus :

R = data tertinggi – data terendah

Skor tertinggi dengan menghitung 5 x 30 (jumlah pernyataan sikap) = 150 Skor terendah dengan menghitung 1 x 30 ( jumlah pernyataan sikap) = 30

Maka bila dimasukkan sesuai rumus diatas maka nilai R = 120, lalu dihitung panjang interval dengan menggunakan rumus Sturges :

(53)

panjang interval adalah 60, maka dapat dimasukkan dalam kategori penilaian :

Kategori penilaian :

Baik : 90 - 150 Buruk : 30 – 89 Skala yang digunakan adalah ordinal 3) Pemasangan Infus

Pemasangan Infus adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah jarum ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Untuk menilai ini, maka dilakukan observasi untuk menilai pemasangahn infus lalu dibandingkan dengan SOP yang digunakan di RS PKU Muhammadiyah Bantul yaitu SPO yang berlaku 10 September 2009. Penilaian ini berdasarkan lembar observasi. Lembar observasi terdiri 30 item tentang pelaksanaan pemasangan infus. Setiap item akan dinilai dengan skala nominal dengan pernyataan ya atau tidak. Intepretasi persentasi observasi pelaksanaan tindakkan keperawatan pemasangan infus adalah sebagai berikut :

(54)

Kategori pengukuran

Melaksanakan = 1 ( 16- 30 )

Tidak Melaksanakan = 0 ( 0 – 15 ) atau salah satu dalam pelaksanaan pemasangan infus no 1, 7, 10, 14, 16, 21 dan 26 tidak benar.

Skor tertinggi dengan menghitung = 1 x 30 ( item SPO ) Skor terendah dengan menghitung = 0 x 30 ( item SPO ) Skala yang digunakan adalah ordinal

G. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan kuisioner atau angket yang terdiri dari beberapa aspek dan lembar observasi dalam pemasangan infus.

Tabel 3.1 Kisi – Kisi Kuesioner Stress Kerja

No Variabel Favorable UnFavorabel

1 Gejala Psikologi 1,3,4,5,,7,9 dan 10 2,6, dan 8 2 Gejala Fisik 11,12,14,15,17,18, dan 19 13,16 dan 20 3 Gejala Perilaku 24,25,27,29 dan 30 21,22,23,26 dan 28

Tabel 3.2 Kisi – Kisi Kuesioner Sikap

No Variabel Favorable UnFavorabel

1 Komponen Konatif 2,3,4,5,6,7,8, dan 9 1 dan 10 2 Komponen Kognitif 11,12,,14,15,16,17 dan 18 13, 19 dan 20 3 Komponen Afektif 21,22,23,24,25,29 dan 30 26,27 dan 28

Tabel 3.3 Kisi – Kisi Lembar Observasi Pemasangan Infus

No Variabel Nomor

(55)

H. Uji Validitas dan Reabilitas

Validitas merupakan tingkat kemampuan suatu instrument untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan instrumen tersebut. Untuk mengetahui validitas tiap item dari instrument dengan menggunakan rumus korelasi yang dikemukan oleh Pearson yang dikenal dengan rumus korelasi Product Moment. Setiap

rxy : Koefisien korelasi antara variable X dan Y

N : Jumlah subyek

N∑XY : Jumlah perkalian X dan Y ∑Y : Jumlah nilai Y

Uji reabilitas digunakan untuk menguji sejauh mana alat ukur relative konsisten apabila pengukuran apabila pengukuran diulang dua kali atau lebih. Untuk menguji reabilitas kuisioner dalam penelitian ini digunakan koefisien Alpha Cronbach. Kuisioner dianggap reliable bila nilai koefisien alpha cronbach > 0.600. Rumus untuk mencari nilai koefisien alpha cronbach yaitu .

(56)

Keterangan :

r 11 : Reabilitas instrumen

K : Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal ∑ab2

: Juamlah varians butir 0 12 : varians total

I. Analisis data 1. Analisis Univariat

Uji analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi data dari karakteristik responden (umur, jenis kelamin, lama kerja dan tingkat pendidikan).

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk menganalisa hubungan stress perawat dalam pemasangan infus dan hubungan sikap perawat dalam pemasangan infus di instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul dengan menggunakan Chi square. Apabila hasil chi-square nilai p < 0.05 maka dapat disimpulkan ada hubungan atau asosiasi antara variable bebas dan terikat. Selanjutnya variable bebas yang mempunyai hubungan bermakna dengan variable terikat dimasukkan dalam analisis multivariate. 3. Analisa Multivariat

(57)

J. Etika Penelitian

Masalah etika dalam penelitian merupakan masalah yang sangat penting mengingat penelitian akan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etik penelitian harus diperhatikan karena manusia mempunyai hak azasi. Peneliti mengajukan permohonan ijin kepada Direktur Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Bantul terlebih dahulu, kemudian setelah mendapat persetujuan peneliti melakukan penelitian dengan menenkankan masalah etika meliputi :

1. Informed Consent (Lembar persetujuan peneliti)

Informed Consent diberikan kepada sampel penelitian sebelum dilakukan penelitian. Jika bersedia, sampel peneliti harus menandatangani lembar persetujuan, tetapu jika menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak sampel penelitian. 2. Anomimity (Tanpa Nama)

Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama sampel penelitian.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

(58)

52

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Daerah Penelitian

Rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul adalah sebuah rumah sakit swasta yang sedang berkembang di wilayah kota Bantul, tepatnya di jalan jendral sudirman 124 Bantul. Rumah sakit ini didirikan pertama kali pada tanggal 1 maret 1966, berawal dari sebuah balai pengobatan dan rumah bersalin yang kemudian tanggal 21Agustus 1995 menjadi rumah sakit khusus ibu dan anak dan pada tahun 2001 resmi menjadi rumah sakit umum type C dengan jumlah tempat tidur sebanyak 104. Rumah sakit ini memiliki 246 orang karyawan tetap, 20 orang karyawan honoree dan 4 orang karyawan tidak tetap sedangkan jumlah dokter umumnya saat ini berjumlah 10 orang dan dokter spesialisnya 61 orang (Profil RS PKU Muhammadiyah Bantul 2013).

(59)

digestive,syaraf , thorax dan vaskuler), THT, syaraf,,gigi, mata,jiwa, kulit dan kelamin,kebidanan, tumbuh kembang anak, umum,fisioterapi dan juga memiliki pelayanan lain seperti club lansia, club diabetes, tes bebas narkoba, senam hamil, pelayanan informasi, obat, konsultasi gigi, pelayanan homecare, pelayanan akta kelahiran dan juga general medical check up (Profil RS PKU Muhammadiyah Bantul,2013).

Rumah sakit ini mulai menerapkan patient safety sejak tahun 2006 dan telah diperbaharui dengan diadakan pelatihan patient safety pada tanggal 13-15 Oktober 2011. Implementasi dari patient safety salah satunya pemasangan infus yang sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) baik di IGD, rawat inap maupun ruang lainnya. Rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul sudah memiliki Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk tindakan keperawatan dan di ruangan perawatan sudah menerapkannya. Termasuk didalamnya SPO pemasangan infus dengan nomor dokumen IK.-PKUB.25000.030 dengan tanggal terbit 10 September 2009 (Profil RS PKU Muhammadiyah Bantul 2013).

(60)

B. Hasil Uji Validitas dan Reabilitas

Uji validitas dan reabilitas pada penelitian ini dapat diukur dengan melakukan uji coba instrument penelitian yang akan digunakan. Uji coba instrument penelitian ini dilakukan pada seluruh perawat di IGD RS PKU Muhammadiyah Bantul yang terpilih sebagai sampel. Tujuan uji coba ini untuk mengetahui kemungkinan adanya pertanyaan yang sulit dimengerti atau kekurangan dari materi kuisioner itu sendiri agar dapat digunakan sebagai alat penelitian.

Hasil analisa validitas skala stress kerja menunjukkan dari 30 item yang diujikan yang valid sebanyak 24 item. Uji validitas skala sikap perawat dari 30 item yang diujikan, semuanya valid.

Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas Variabel Stres Kerja

Nomor Item Koefisien Korelasi Probabilitas Kesimpulan

(61)

22 0,619 0,042 < 0,05 Valid

Sumber : Data primer diolah 2015

Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Variabel Sikap

Nomor Item Koefisien Korelasi Probabilitas Kesimpulan

1 0,720 0,013 < 0,05 Valid

(62)

Uji reabilitas dengan menggunakan nilai alpha memberikan hasil sebagai berikut : stress perawat sebesar 0,969 dan sikap perawat dalam pemasangan infus sebesar 0,972. Berdasarkan hasil uji reabilitas, kita dapat ketahui bahwa nilai alpha cronbach yang diperoleh dari variabel penelitian ≥ 0.60 sehingga kuisioner tersebut reliable dan dapat digunakan sebagai instrument penelitian.

Tabel 4.3 Hasil uji reabilitas sikap dan stress kerja No Variabel Nilai

Cronbach's Alpha

Kriteria (Nilai Batas)

Kesimpulan

1 Stres Kerja 0.969 > 0,60 Reliabel

2 Sikap 0,972 > 0,60 Reliabel

Sumber : Data primer diolah 2015

C. Deskripsi Karakteristik responden

(63)

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden menurut umur, jenis kelamin, Sumber : Data primer diolah 2015

(64)

Menurut jenis kelamin responden laki-laki sebanyak 55% ( 6 responden) dan perempuan sebayak 45 % ( 5 responden ). Menurut manajemen keperawatan tidak adaa batas ideal perbandingan antara perawat laki-laki dan perawat perempuan. Namun dalam manajemen keperawatan menegnai pengaturan jadwal dinas, dianjurkan dalam satu shift ada perawat laki – laki dan perempuan, sehingga apabila melakukan tindakkan yang bersifat privacy bisa dilakukan oleh perawat yang sama jenis kelaminnya misalnya personal higyene, perekaman EKG, pemasangan asesoris bed side monitor, dll (Swanburg, 1996).

Perawat pelaksana di IGD RS PKU Muhammadiyah Bantul terbanyak adalah yang berpendidikkan DIII sebanyak 91% (10 responden) dan berpendidikkan S1 adalah 9% (1 responden). Kriteria perawat professional adalah lulusan pendidikan tinggi keperawatan minimal DIII keperawatan, mentaati kode etik, mampu berkomunikasi dengan pasien dan keluarga serta mampu memanfaatkan sarana kesehatan yang tersedia secara berdaya guna dan berhasil guna, mampu berperan sebagai agen pembaharu dan mengembangkan ilmu serta teknologi keperawatan (Nursalam,2002).

(65)

Masa kerja responden yang kurang dari 5 tahun sebanyak 27% (3 responden) dan yang lama kerja 5 – 10 tahun sebanyak 63 % ( 8 responden). Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden sudah lama menjalankan profesinya sebagai perawat. Semakin lama perawat bekerja semakin banyak pula kasus yang ditanganinya sehingga semakin meningkat pula pengalamnnya, sebaliknya semakin singkat orang bekerja maka semakin sedikit kasus yang ditanganinya. Pengalaman kerja banyak memberikan keahlian dan keterampilan kerja (Sastrihadiwiryo, 2002). Hal ini didukung pula oleh pendapat Syasualam (2008), masa kerja berpengaruh terhadap kinerja perawat karena semakin lama masa kerja seorang perawat semakin banyak pengalaman yang diperolehnya dalam menyelesaikan pekerjaannya sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.

D. Analisa Univariat

1. Distribusi responden berdasarkan Stres perawat di instalasi gawat

darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul

(66)

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi stress perawat di Instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul

Stres Frekuensi Persentase

Tinggi 1 9 %

Sedang 6 55%

Rendah 4 36 %

Total 11 100%

Sumber : Data primer diolah 2015

2. Distribusi sikap responden dalam pemsangan infus di instalasi gawat darurat PKU Muhammadiyah Bantul

Pada penelitian ini penilaian sikap dibagi menjadi 2 kategori yaitu baik,dan buruk. Dominan sikap dalam penelitian ini masuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 91 % ( 10 responden). Terdapat sikap yang buruk dalam pemasangan infus sebanyak 1 0rang (9 % )

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi sikap perawat di Instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantuldalam pemasangan infus

Sikap Frekuensi Persentase

Baik 10 91 %

Buruk 1 9 %

Total 11 100

Sumber : Data primer diolah 2015

3. Distribusi pemasangan infus di Instalasi gawat darurat di RS PKU Muhammadiyah Bantul

(67)

sedang diobservasi pada saat pemasangan infus. Selanjutnya dari hasil penelitian dikategorikan nilai penerapan SOP pemasanagan infus dengan sesuai dan tidak sesuai. Pada penelitian ini responden sebesar 27% (3 responden) melakukan pemsangan infus tidak sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan oleh RS PKU Muhammadiyah Bantul, sedangkan yang sesuai dengan SOP pemasangan infus yaitu sebesar 73% (8 responden). Untuk lebih jelasnya dapat melihat hasilnya pada table berikut ini :

Tabel 4.7 Distribusi Pemasangan infus di Instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul

Penerapan Frekuensi Persentase

Sesuai SOP 8 73 %

Tidak sesuai SOP 3 27 %

Total 11 100 %

Sumber : Data primer diolah 2015

Tabel 4.8 Distribusi Pemasangan infus berdasarkan karakteristik

(68)

Berdasarkan hasil observasi penelitian pemasangan infus bahwa adanya beberapa langkah dari SOP pemasangan infus yang tidak dilakukan oleh perawat seperti mencuci tangan sebelum dan setelah tindakan pemasangan infus, pemberian salam kepada pasien, membersihkan area yang akan dilakukan pemasangan infus dengan handuk bersih, memasangankan perlak dibawah tangan yang akan dilakukan pemasangan infus dan memasukkan sarung tangan dalam klorin 0.5%.

Grafik 1.

Grafik Penilaian Responden dalam Melaksanakan SPO Pemasangan Infus

0

(69)

1. Hubungan Stres kerja perawat dalam pemasangan infus di Instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul

Tabel 4.8 Hubungan stress kerja perawat dalam pemasangan infus di Instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul No Stres kerja

Pemasangan Infus

Total P Sesuai SOP Tidak sesuai SOP

0.179

N % N %

1 Tinggi 1 9 - 0 9 %

2 Sedang 3 27 3 27 54 %

3 Rendah 4 37 - 0 37 %

Total 8 73 3 27 100 %

Sumber : Data primer diolah 2015

Pada penelitian ini didapatkan bahwa pemasangan infus tidak sesuai SOP dengan tingkat stress yang tinggi sebesar 9 %, tingkat stress yang dominan adalah kategori sedang sebesar 54% yang terdiri dari pemasangan infus yang tidak sesuai SOP sebesar 27 % dan yang sesuai SOP pemasangan infus sebesar 27%. Sementara tingkat stress yang rendah dengan pemasangan infus yang tidak sesuai SOP sebesar 37%.

(70)

2. Hubungan sikap perawat dalam pemasangan infus di Instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul

Tabel 4.9 Hubungan sikap perawat dalam pemasangan infus di Instalasi gawat darurat RS PKU Muhammadiyah Bantul

Sumber : Data primer diolah 2015

Bedasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa responden yang memiliki sikap yang baik dan melakukan pemasangan infus sesuai SOP sebesar 91%, sedangkan sikap yang buruk dengan pemasangan infus yang tidak sesuai SOP sebesar 9%.

Berdasarkan hasil uji statistic dengan menggunakan uji korelasi Pearson menunjukkan nilai P value = 0.087 (> 0.05) maka dapat disimpulkan tidak adanyan hubungan yang bermakna antara sikap perawat terhadap pemasangan infus yang mendukung penerapan program patient safety.

F. Analisis Multivariat

(71)

nilai Hosmer and Lemeshow Goodness of Fit Test > 0,05. Hasil uji kedua hal tersebut disajikan pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.10 Hasil Hosmer and Lemeshow Goodness of Fit Test Step Chi-square Df Sig.

1 .000 1 1.000

Sumber : data primer diolah 2015

Hasil analisis didapatkan P sebesar 1,000. Oleh karena P > 0,05 maka disimpulkan bahwa data yang diamati tidak berbeda dengan data yang diprediksi, sehingga model regresi logistik layak dipakai untuk memprediksikan variable Y (Perilaku Pemasangan Infus). Model regresi layak dipakai untuk analisa selanjutnya, karena tidak ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diprediksi dengan klasifikasi yang diamati.

Tabel 4.11 Hasil Overall Model Fit

Step -2 Log

Likelihood

Nagelkerke R Square

1 6.730a .621

Sumber : Data primer diolah 2015

(72)

Tabel 4.12 Hasil Koefisien Regresi Variables in the Equation

.000 2 1.000

.000 44937.107 .000 1 1.000 1.000 .000 .

-20.797 20096.484 .000 1 .999 .000 .000 .

21.608 40192.957 .000 1 1.000 2E+009 .000 .

-22.014 82859.903 .000 1 1.000 .000

stres_kerja

B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper

95.0% C.I.for EXP(B)

Sumber : data primer diolah 2015

Pengaruh variabel bebas secara individual didapatkan dari analisis Wald. Bila tingkat signifikansi pada analisis ini lebih kecil dari 0,05 maka yang berarti terdapat pengaruh variabel bebas secara individual terhadap variabel terikat (pemasangan infus). Berdasarkan hasil analisis diatas diketahui tingkat signifikansi untuk variabel stress kerja (X1) adalah

0.999 (>0.05) yang berarti bahwa stres kerja tidak berpengaruh terhadap pemasangan infus di UGD Rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul. Sedangkan untuk nilai signifikansi variabel sikap perawat (X2) pada tabel

adalah 1.000 (> 0.05) yang berarti bahwaruh terhadap pemasangan infus di UGD Rumah sakit PKU Muhammdiyah Bantul.

Analisis OR digunakan untuk mengetahui insidensi Pemasangan Infus. Nilai OR ini pada analisis diatas berada disebelah analisis Wald, pada kolom. Akan tetapi terdapat dua persyaratan diterimanya OR, yaitu a. OR lebih besar dari 1. Apabila OR kurang dari 1 berarti variable yang

bersangkutan bukan menjadi factor resiko terjadinya variable Y. b. Nilai CI 95% tidak melampaui angka 1 (artinya baik lower maupun

(73)

Pada penelitian ini ternyata didapatkan nilai lower 0 dan nilai upper tidak terhitung. Dengan demikian, nilai OR tidak berlaku sama sekali sehingga tidak perlu dibaca.

G. Pembahasan

1. Tingkat Stress Perawat

Berdasarkan tabel 4.5, tingkat stress kerja perawat di instalasi gawat darurat rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul kategori tinggi (9,1 %) , kategori sedang (54,5%) dan kategori rendah (36,4%). Mayoritas perawat di instalasi gawat darurat adalah kategori sedang.

Figur

Tabel 2.1. Gejala Stres
Tabel 2 1 Gejala Stres . View in document p.24
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
Gambar 2 1 Kerangka Konsep . View in document p.44
Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas Variabel  Stres Kerja
Tabel 4 1 Hasil Uji Validitas Variabel Stres Kerja . View in document p.60
Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Variabel  Sikap
Tabel 4 2 Hasil Uji Validitas Variabel Sikap . View in document p.61
Tabel 4.3 Hasil uji reabilitas sikap dan stress kerja
Tabel 4 3 Hasil uji reabilitas sikap dan stress kerja . View in document p.62
Tabel 4.4  Distribusi frekuensi responden menurut umur, jenis kelamin,        lama kerja dan   tingkat pendidikkan
Tabel 4 4 Distribusi frekuensi responden menurut umur jenis kelamin lama kerja dan tingkat pendidikkan . View in document p.63
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi stress perawat di Instalasi gawat darurat RS
Tabel 4 5 Distribusi frekuensi stress perawat di Instalasi gawat darurat RS . View in document p.66
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi sikap perawat di Instalasi gawat darurat RS
Tabel 4 6 Distribusi frekuensi sikap perawat di Instalasi gawat darurat RS . View in document p.66
Tabel 4.8 Distribusi Pemasangan  infus berdasarkan karakteristik
Tabel 4 8 Distribusi Pemasangan infus berdasarkan karakteristik . View in document p.67
Tabel 4.7  Distribusi Pemasangan  infus di Instalasi gawat darurat RS
Tabel 4 7 Distribusi Pemasangan infus di Instalasi gawat darurat RS . View in document p.67
Grafik 1. Grafik Penilaian Responden dalam Melaksanakan SPO Pemasangan Infus
Grafik 1 Grafik Penilaian Responden dalam Melaksanakan SPO Pemasangan Infus . View in document p.68
Tabel 4.8  Hubungan stress kerja perawat dalam pemasangan infus di
Tabel 4 8 Hubungan stress kerja perawat dalam pemasangan infus di . View in document p.69
Tabel 4.9  Hubungan sikap perawat dalam pemasangan infus di Instalasi
Tabel 4 9 Hubungan sikap perawat dalam pemasangan infus di Instalasi . View in document p.70
Tabel 4.11 Hasil Overall Model Fit
Tabel 4 11 Hasil Overall Model Fit . View in document p.71
Tabel 4.12 Variables in the EquationHasil Koefisien Regresi
Tabel 4 12 Variables in the EquationHasil Koefisien Regresi . View in document p.72
TABEL-1  JAWABAN RESPONDEN VARIABEL
TABEL 1 JAWABAN RESPONDEN VARIABEL. View in document p.96
TABEL-2  JAWABAN RESPONDEN VARIABEL
TABEL 2 JAWABAN RESPONDEN VARIABEL. View in document p.97
TABEL - 3 OBSERVASI
TABEL 3 OBSERVASI. View in document p.98

Referensi

Memperbarui...