Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

142  97  Download (2)

Teks penuh

(1)

TESIS

OLEH

SERE MAGDALENA MARNALA SIAHAAN 097011125/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

TINJAUAN YURIDIS ATAS AKUISISI PERUSAHAAN SETELAH

BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007

TENTANG PERSEROAN TERBATAS

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan dalam Program Studi Kenotariatan pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

OLEH

SERE MAGDALENA MARNALA SIAHAAN 097011125/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Telah diuji pada

Tanggal : 05 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH

Anggota : 1. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH,MS,CN

2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH,CN, MHum

3. Chairani Bustami, SH, SpN, MKn

(4)

Judul Tesis : TINJAUAN YURIDIS ATAS AKUISISI

PERUSAHAAN SETELAH BERLAKUNYA

UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Nama Mahasiswa : Sere Magdalena Marnala Siahaan

Nomor Pokok : 097011125

Program Studi : Kenotariatan

MENYETUJUI KOMISI PEMBIMBING

(Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH) Ketua

(Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN) (Dr.T.Keizerina Devi A,SH,CN,MHum)

Anggota Anggota

Ketua Program Studi Dekan,

(Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

(5)

ABSTRAK

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (disebut juga UUPT 2007) pasal 1 angka 11 menyebutkan: Pengambilalihan (atau disebut juga akuisisi) adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan untuk mengambilalih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut. Akuisisi tidak mengakibatkan perseroan yang diambil alih sahamnya menjadi bubar atau berakhir dan dapat dilakukan melalui direksi perseroan atau secara langsung oleh pemegang saham, sebelum diputuskan melakukan akuisisi, terlebih dahulu harus diketahui tentang situasi dan kondisi dari perusahaan target yang akan diakuisisi atau disebut dengan due diligence, yang bertujuan untuk memberikan informasi dan fakta material tentang kondisi suatu perusahaan guna menghindari resiko-resiko yang timbul dikemudian hari, dan akuisisi wajib memperhatikan kepentingan perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan perseroan, kreditor dan mitra usaha lainnya dari perseroan, masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha, hal ini untuk mencegah timbulnya kemungkinan terjadinya “monopoli” atau ‘monopsoni”. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menunjuk KPPU selaku lembaga independen sebagai lembaga pengawas terhadap akusisi, pengawasan dimaksud dimulai sebelum akuisisi disahkan, dengan melaksanakan pra

notifikasi dan post notifikasi. Akuisisi mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum

dan HAM, setelah dilakukan Akta Pengambilalihan oleh Notaris. Yang menjadi permasalahan dalam Tesis berjudul “Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas” ini, adalah bagaimana pengaturan akuisisi perusahaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, apakah hambatan-hambatan hukum yang timbul dalam akuisisi perusahaan dan bagaimana solusi hukum dalam akuisisi perusahaan agar terhindar dari perbuatan monopoli. Penelitian ini menggunakan Teori Keadilan karena akuisisi di lakukan oleh dua belah pihak yang berkaitan dengan beberapa pihak yang berkepentingan, seperti

stakeholder, masyarakat dan para kreditur, yang harus diperlakukan dengan adil.

Untuk menjelaskan dan memecahkan permasalahan di atas, metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah normatif, dengan pengumpulan data secara studi pustaka (library research) yakni mengumpulkan data dan membaca referensi melalui peraturan, internet, dan sumber-sumber lain yang kemudian diseleksi data-data yang layak untuk mendukung penulisan.

(6)

ABSTRACT

Law No.40/2007 on Corporation (also called UUPT/2007, Article 1 paragraph 11 states: “The expropriation (also called acquisition) constitutes a legal act which is done by a legal entity or individuals to expropriate corporation shares which causes the management of the corporation to be expropriated. Acquisition does not mean that the company whose shares have been expropriated becomes closed down or terminated. It can be done by the board of directors or by the shareholders directly. Before the acquisition is conducted, they have to know the situation and the condition of the company (due diligence). It is aimed to give information and facts about the condition of a certain company in order to avoid any risk which will possibly occur. In doing the acquisition, it is important to consider the company’s interest, minority shareholders, the employees, the creditors and other business partners, the public and healthy business competition; all of these are aimed to avoid any possibility of ‘monopoly’ and monopsony’. Law No. 5/1999 on the Prohibition of the Practice of Monopoly and Unhealthy Business Competition appointed KPPU (Business Competition Supervisory Committee) as an independent institution to monitor the process of acquisition. The monitoring was started when the acquisition is being acknowledged officially by implementing pre-notification and post notification. The acquisition was validated by the Minister of Law and Human Rights after the acquisition was done by both parties that are related to the parties concerned such as the stakeholders, the public, and the creditors who had to be treated fairly.

The method used in the research, in order to explain and solve the problems above, was normative. The data were collected by using library research; i.e., by collecting the data and reading the reference through regulations, internet, and other sources; then the data were selected properly in order to support the analysis.

Based on the description above, it could be concluded that Pre-Notification determined whether the acquisition was appropriate or not. Therefore, it was recommended that the quality of the KPPU members should be improved, the regulations and the code of rules should also be improved in order that the aim of the acquisition or the expropriation could be achieved for the sake of the people’s welfare according to Pancasila and the 1945 Constitution.

(7)

KATA PENGANTAR

Atas berkat dan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, penulisan tesis dengan judul “TINJAUAN YURIDIS ATAS AKUISISI PERUSAHAAN SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG

PERSEROAN TERBATAS” ini dapat terlaksana. Penyusunan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (MKn) pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan tesis ini, berbagai pihak telah banyak memberikan dorongan, bantuan serta masukan sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu, oleh karena itu ucapan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam dan setulus-tulusnya, penulis sampaikan secara khusus kepada: Yth Bapak Prof. Dr.

Bismar Nasution, SH, MH, Yth Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH,

MS, CN, Yth Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum, selaku Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan tulus dan

ikhlas untuk kesempurnaan tesis ini, juga kepada Dosen Penguji Ujian Tesis

Yth Ibu Chairani Bustami, SH, SpN, MKn dan Yth Bapak Dr. Mahmul Siregar,

SH, MHum, yang telah memberikan masukan terhadap kesempurnaan tesis ini. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada:

(8)

dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum, Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.

2. Yth Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada Penulis dalam menyelesaikan pendidikan ini.

3. Yth Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan motivasi kepada Penulis dalam menyelesaikan tesisi ini.

4. Yth Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum, selaku Sekretaris Program Studi Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan dorongan dan pengarahan kepada Penulis dalam menyelesaikan tesisi ini.

5. Bapak dan Ibu Dosen pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan bimbingan dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi Penulis selama mengikuti kegiatan proses belajar mengajar pada masa perkuliahan.

6. Seluruh Staff/Pegawai di Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Bu Fat, Winda, Sari, Lisa, Afni, Bang Aldi, Ken, Rizal,

(9)

7. Sahabat-sahabatku Mahasiswa dan Mahasisiwi di Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, khususnya Angkatan Tahun 2009: 8. Joe dan Toni, Pak Mursil dan Ade, Tommy dan Zul, Bang Azhar, Rio, Andi,

Mighdad, Kiki, Rini, Hendra, Artha, dan Bambang, Arman, Yono, Sri, Bekka, Moses, Richard, terima kasih untuk masukan juga dukungan dalam perkuliahan dan penyelesaian tesis ini.

9. Yth Bapak Dr. Polin L R Pospos, yang telah berkenan meluangkan waktu untuk memberikan masukan dan pandangan yang berharga dalam penulisan tesis ini.

10. Bapak Johanes, SH, CN dan Ibu Eko Setyowati, SH, dari Tim Legal Wilmar International, atas kesediaan waktu dan masukan-masukannya yang telah membuka wacana Penulis dalam penyelesaian tesis ini.

11. Frans Matondang, Rowo, terima kasih untuk dukungannya dalam melengkapi kepustakaan tesis ini.

12. Juga dengan penuh hormat dan cinta kasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus atas kebersamaan, perhatian, terutama dukungan doa, moril dan materiil, yang tiada henti, kepada:

a. Mama, Nyonya OB Siahaan br Tambunan, yang merupakan motivator utama dalam menjalani seluruh aspek kehidupan ini.

(10)

c. Saudara-saudaraku Henry Siahaan, Zokanda Siahaan, Rudy Siahaan, serta seluruh keponakanku.

Kemudian juga, kepada semua pihak yang telah berkenan memberi masukan yang konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian tesis tertutup sehingga tesis ini menjadi sempurna dan terarah.

Untuk semua bantuan, dan kebaikan yang telah diberikan, Penulis berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa yang akan memberikan balasan yang setimpal, agar kita semua selalu diberikan rahmat dan karunia Nya.

Penulisan tesis ini telah diupayakan semaksimal mungkin, namun Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih banyak kekurangan, oleh karenanya kritik dan saran yang bersifat membangun, sangat Penulis harapkan guna menyempurnakan tesis ini. Salam Sejahtera.

Medan, Agustus 2011 Penulis

(11)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS PRIBADI

Nama : Sere Magdalena Marnala Siahaan.

Tempat/Tanggal lahir : Medan, 23 Mei 1967.

Alamat : Jl. Ir. H. Juanda I No. 22 AA, Medan. Jenis Kelamin : Perempuan.

Nama Suami : Erwin Gilbert Lawrencius Hutabarat, SE Nama Anak I : Teresa Maria Gabriella Hutabarat. Nama Anak II : Vanessa Helena Obrina Hutabarat. Nama Anak III : Obriel Daniel Zefanya Hutabarat.

IDENTITAS ORANG TUA

Nama Ayah : Almarhum OB. Siahaan. Nama Ibu : IDA Tambunan.

PENDIDIKAN

Sekolah Dasar : SD Perguruan Kristen IMMANUEL, Medan (1973-1979).

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : SLTP Perguruan Kristen IMMANUEL, Medan (1979-1982).

Sekolah Menengah Umum : SMUNegeri 4, Jakarta (1982-1985).

Strata - 1 : UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

Jakarta, Fakultas Hukum (1985-1988). UNIVERSITAS DARMA AGUNG, Medan, Fakultas Hukum (2006-2008).

Strata - 2 : UNIVERSITAS SUMATERA UTARA,

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP... vii

DAFTAR ISI... viii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan... 8

C. Tujuan Penelitian... 8

D. Manfaat Penelitian... 9

E. Keaslian Penelitian... 9

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 10

1. Kerangka Teori... 10

2. Kerangka Konsepsi ... 18

G. Metode Penelitian... 20

1. Spesifikasi Penelitian ... 20

2. Metode Pendekatan ... 21

3. Teknik Pengumpulan Data ... 22

4. Alat Pengumpulan Data ... 23

(13)

BAB II PENGATURAN AKUISISI PERUSAHAAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG

PERSEROAN TERBATAS... 25

A. Badan Hukum Perseraon Terbatas ... 25

1. Pengertian Perseroan Terbatas ... 28

2. Pendirian Perseroan Terbatas ... 31

3. Organ Perseroan Terbatas ... 38

B. Dasar Hukum Pengaturan Akuisisi Perusahaan ... 40

1. Berdasarkan UUPT Nomor 40 Tahun 2007... 40

2. Berdasarkan PP Nomor 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas ... 45

C. Peranan Notaris Dalam Akuisisi Perusahaan ... 49

BAB III HAMBATAN-HAMBATAN HUKUM DALAM AKUISISI PERUSAHAAN... 59

A. Pengertian Akuisisi Perusahaan ... 59

B. Tahapan Pelaksanaan Akuisisi Perusahaan... 65

1. Pengambilalihan Saham Melalui Direksi Perseroan ... 67

(14)

3. Akibat Hukum Pengambilalihan Saham Perseroan ... 76

C. Hambatan-hambatan Dalam Pelaksanaan Akuisisi Perusahaan. 77

BAB IV SOLUSI HUKUM DALAM AKUISISI PERUSAHAAN

AGAR TERHINDAR DARI PERBUATAN MONOPOLI... 78

A. Pengertian Monopoli ... 78 B. Asas dan Tujuan UU Larangan Praktek Monopoli ... 84 C. Komisi Pengawas Persaingan Usaha Sebagai Lembaga

Penegak Hukum Independen... 87

1. Tugas Dan Wewenang Komisi... 89

2. KPPU Sebagai Lembaga Otoritas Untuk Menilai

Aspek Persaingan ... 91

3. KPPU Dan Penegakan Hukum Persaingan Usaha ... 95

4. Pendekatan Rule of Reason dan Per se Illegal Dalam

Hukum Persaingan Usaha ... 99

(15)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 118

A. Kesimpulan... 118

B. Saran ... 120

DAFTAR PUSTAKA... 121

(16)

ABSTRAK

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (disebut juga UUPT 2007) pasal 1 angka 11 menyebutkan: Pengambilalihan (atau disebut juga akuisisi) adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan untuk mengambilalih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut. Akuisisi tidak mengakibatkan perseroan yang diambil alih sahamnya menjadi bubar atau berakhir dan dapat dilakukan melalui direksi perseroan atau secara langsung oleh pemegang saham, sebelum diputuskan melakukan akuisisi, terlebih dahulu harus diketahui tentang situasi dan kondisi dari perusahaan target yang akan diakuisisi atau disebut dengan due diligence, yang bertujuan untuk memberikan informasi dan fakta material tentang kondisi suatu perusahaan guna menghindari resiko-resiko yang timbul dikemudian hari, dan akuisisi wajib memperhatikan kepentingan perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan perseroan, kreditor dan mitra usaha lainnya dari perseroan, masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha, hal ini untuk mencegah timbulnya kemungkinan terjadinya “monopoli” atau ‘monopsoni”. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menunjuk KPPU selaku lembaga independen sebagai lembaga pengawas terhadap akusisi, pengawasan dimaksud dimulai sebelum akuisisi disahkan, dengan melaksanakan pra

notifikasi dan post notifikasi. Akuisisi mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum

dan HAM, setelah dilakukan Akta Pengambilalihan oleh Notaris. Yang menjadi permasalahan dalam Tesis berjudul “Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas” ini, adalah bagaimana pengaturan akuisisi perusahaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, apakah hambatan-hambatan hukum yang timbul dalam akuisisi perusahaan dan bagaimana solusi hukum dalam akuisisi perusahaan agar terhindar dari perbuatan monopoli. Penelitian ini menggunakan Teori Keadilan karena akuisisi di lakukan oleh dua belah pihak yang berkaitan dengan beberapa pihak yang berkepentingan, seperti

stakeholder, masyarakat dan para kreditur, yang harus diperlakukan dengan adil.

Untuk menjelaskan dan memecahkan permasalahan di atas, metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah normatif, dengan pengumpulan data secara studi pustaka (library research) yakni mengumpulkan data dan membaca referensi melalui peraturan, internet, dan sumber-sumber lain yang kemudian diseleksi data-data yang layak untuk mendukung penulisan.

(17)

ABSTRACT

Law No.40/2007 on Corporation (also called UUPT/2007, Article 1 paragraph 11 states: “The expropriation (also called acquisition) constitutes a legal act which is done by a legal entity or individuals to expropriate corporation shares which causes the management of the corporation to be expropriated. Acquisition does not mean that the company whose shares have been expropriated becomes closed down or terminated. It can be done by the board of directors or by the shareholders directly. Before the acquisition is conducted, they have to know the situation and the condition of the company (due diligence). It is aimed to give information and facts about the condition of a certain company in order to avoid any risk which will possibly occur. In doing the acquisition, it is important to consider the company’s interest, minority shareholders, the employees, the creditors and other business partners, the public and healthy business competition; all of these are aimed to avoid any possibility of ‘monopoly’ and monopsony’. Law No. 5/1999 on the Prohibition of the Practice of Monopoly and Unhealthy Business Competition appointed KPPU (Business Competition Supervisory Committee) as an independent institution to monitor the process of acquisition. The monitoring was started when the acquisition is being acknowledged officially by implementing pre-notification and post notification. The acquisition was validated by the Minister of Law and Human Rights after the acquisition was done by both parties that are related to the parties concerned such as the stakeholders, the public, and the creditors who had to be treated fairly.

The method used in the research, in order to explain and solve the problems above, was normative. The data were collected by using library research; i.e., by collecting the data and reading the reference through regulations, internet, and other sources; then the data were selected properly in order to support the analysis.

Based on the description above, it could be concluded that Pre-Notification determined whether the acquisition was appropriate or not. Therefore, it was recommended that the quality of the KPPU members should be improved, the regulations and the code of rules should also be improved in order that the aim of the acquisition or the expropriation could be achieved for the sake of the people’s welfare according to Pancasila and the 1945 Constitution.

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perseroan terbatas merupakan subjek hukum yang berhak menjadi pemegang hak dan kewajiban, termasuk menjadi pemilik dari suatu benda atau harta kekayaan tertentu. Hanya subjek hukum yang merupakan individu orang perorangan yang dinilai memiliki kecakapan melakukan perbuatan hukum serta mempertahankan haknya di dalam hukum, juga badan hukum yang merupakan artificial person, yaitu sesuatu yang diciptakan oleh hukum untuk memenuhi perkembangan kebutuhan kehidupan masyarakat.1

Persaingan usaha diantara perusahaan-perusahaan yang ada, menuntut perusahaan untuk selalu mengembangkan strategi perusahaan agar dapat bertahan atau bahkan berkembang. Untuk itu, perusahaan perlu mengembangkan suatu strategi yang tepat agar bisa mempertahankan eksistensinya, meningkatkan efisiensi dan memperbaiki kinerjanya, yaitu dengan cara restrukturisasi usaha seperti merger (penggabungan), konsolidasi (peleburan) dan akuisisi (pengambilalihan). Hal ini diatur sebagaimana disebutkan dalam Bab VIII Undang-Undang Perseroan terbatas tahun 2007.

1

(19)

Berdasarkan asal-usulnya, kata merger berasal dari kata “merger”, “fusion”, atau “absorption”, yang berarti “menggabungkan”.2 Merger yang berasal dari akar kata kerja ‘to merge’, secara luas dipahami sebagai perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada, yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri tersebut beralih karena hukum kepada Perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum3. Konsolidasi yang berasal dari kata ”consolidation”, yang berarti

melebur” adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua Perseroan atau lebih

untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Perseroan baru yang karena hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari Perseroan yang meleburkan diri dan status badan hukum Perseroan yang meleburkan diri berakhir karena hukum4. Sedangkan akuisisi saham atau “shares acquisition” yang berarti “mengambilalih” adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham Perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Perseroan tersebut.5

Meskipun berbeda dari segi prosesnya, namun tindakan merger, konsolidasi, dan akuisisi perseroan terbatas pada intinya tidak berbeda yaitu tindakan dua atau lebih perusahaan untuk merestrukturisasi perusahaan. Oleh karena itu dipakai istilah

2

Rachmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, (Banjarmasin : Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 88.

3

Republik Indonesia, Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas, Nomor 40 Tahun 2007, Pasal 1 angka 9.

4

Ibid, Pasal 1 angka 10. 5

(20)

merger dan akusisi untuk mengacu pada semua pengertian tersebut. Meskipun demikian, antara merger dan akuisisi juga terdapat perbedaan. Jika akuisisi hanya berkenaan dengan kepemilikan saham, sedangkan badan usahanya tetap, maka berlainan dengan dengan merger, justru berkenaan dengan badan usahanya. Salah satu badan usaha tetap berdiri, sedangkan yang lainnya bubar karena bergabung dengan badan usaha yang masih ada. Berlainan dengan akuisisi yang masih tetap mempertahankan perusahaan yang ada, maka merger justru memperkecil jumlah perusahaan, tetapi memperbesar kekuasaan, finansial, dan strategi perusahaan.

Akuisisi merupakan salah satu dari ketiga penjelasan tentang restrukturisasi diatas, yang tengah marak terjadi di Indonesia.

Menurut Agus Daryanto :

Akuisisi bertujuan untuk memperbaiki sistem manajemen perseroan terakuisi. Perseroan yang lemah manajemen akan sulit berkembang secara operasional walaupun mempunyai cukup dana. Perseroan yang demikian ini tidak mampu bersaing dengan perusahaan lain terutama yang sejenis dan tidak mustahil akan mengalami kehancuran. Salah satu cara menyelamatkannya adalah digabungkan dengan kelompok konglomerasi yang berpengalaman, dalam segi menajemen dengan menjual sebagian besar sahamnya kepada kelompok konglomerasi tersebut.6

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (UUPT) yang merupakan pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas adalah merupakan tonggak sejarah tentang pengambilalihan (akuisisi). Menurut bunyi pasal 1 angka 11 UUPT 2007, dikatakan bahwa :

6

(21)

Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan untuk mengambilalih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut.

Sedangkan definisi yang disebut dalam Pasal 1 angka 3 PP Nomor 27 tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas adalah :

Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih baik seluruh ataupun sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan.

Menurut Felix Oentoeng Soebagjo :

Perumusan akuisisi perusahaan dalam UUPT 2007 agak berbeda dari UUPT 1995. Dalam UUPT 1995, akuisisi perusahaan dirumuskan sebagai perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih baik seluruh atau sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.7

Pengaturan tentang pengambilalihan ini, diatur di dalam Pasal 125 UUPT 2007, yang berbunyi :

(1) Pengambilalihan dilakukan dengan cara pengambilalihan saham yang telah dikeluarkan dan/atau akan dikeluarkan oleh perseroan melalui Direksi Perseroan atau langsung dari pemegang saham.

(2) Pengambilalihan dapat dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan.

(3) Pengambilalihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pengambilalihan saham yang mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.

(4) Pengambilalihan yang dilakukan oleh badan hukum berbentuk perseroan, Direksi sebelum melakukan perbuatan hukum pengambilalihan harus berdasarkan keputusan RUPS yang memenuhi kuorum kehadiran dan ketentuan tentang persyaratan pengambilan keputusan RUPS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89.

7

Akuisisi Perusahaan Tidak Bisa Dilakukan dengan Cara Penggabungan,

(22)

(5) Dalam hal pengambilalihan dilakukan melalui Direksi, pihak yang akan mengambil alih menyampaikan maksudnya untuk melakukan pengambilalihan kepada Direksi Perseroan yang akan diambil alih.

(6) Direksi Perseroan yang akan diambil alih dan perseroan yang akan mengambil alih dengan persetujuan Dewan Komisaris masing-masing menyusun rancangan pengambilalihan yang memuat sekurang-kurangnya: a. nama dan tempat kedudukan dari perseroan yang akan mengambil alih

dan perseroan yang akan diambil alih;

b. alasan serta penjelasan Direksi Perseroan yang akan mengambil alih dan Direksi Perseroan yang akan diambil alih;

c. laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2) huruf a untuk tahun buku terakhir dari Perseroan yang akan mengambil alih dan perseroan yang akan diambil alih;

d. tata cara penilaian dan konversi saham dari perseroan yang akan diambil alih terhadap saham penukarnya apabila pembayaran pengambilalihan dilakukan dengan saham;

e. jumlah saham yang akan diambil alih; f. kesiapan pendanaan;

g. neraca konsolidasi proforma perseroan yang akan mengambil alih setelah pengambilalihan yang disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia;

h. cara penyelesaian hak pemegang saham yang tidak setuju terhadap pengambilalihan;

i. cara penyelesaian status, hak dan kewajiban anggota Direksi, Dewan Komisaris, dan karyawan dari perseroan yang akan diambil alih; j. perkiraan jangka waktu pelaksanaan pengambilalihan, termasuk jangka

waktu pemberian kuasa pengalihan saham dari pemegang saham kepada Direksi Perseroan;

k. rancangan perubahan anggaran dasar perseroan hasil pengambilalihan apabila ada.

(7) Dalam hal pengambilalihan saham dilakukan langsung dari pemegang saham, ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) tidak berlaku.

(8) Pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud pada ayat (7) wajib memperhatikan ketentuan anggaran dasar Perseroan yang diambil alih tentang pemindahan hak atas saham dan perjanjian yang telah dibuat oleh Perseroan dengan pihak lain.

(23)

mengakibatkan perseroan yang diambil alih sahamnya, menjadi bubar atau berakhir. Perseroan tersebut tetap eksis dan valid seperti sedia kala. Hanya pemegang sahamnya yang beralih dari pemegang saham semula kepada yang mengambil alih. Akibat hukumnya, hanya sebatas terjadinya peralihan pengendalian perseroan kepada pihak yang mengambil alih.8

Adapun keuntungan/manfaat dari pelaksanaan akuisisi ini, menurut Ahmad Ramli, antara lain :

a. kelangsungan hidup perseroan terjamin karena makin kuat; b. pengaruh persaingan dapat dikurangi;

c. kedudukan atau keuangan perseroan bertambah kuat; d. arus barang (flow of goods) ke pasaran terjamin; e. perseroan yang merugi menjadi stabil kedudukannya; f. kualitas/mutu barang dapat ditingkatkan.9

Namun demikian, dalam era globalisasi saat ini sering terjadi hambatan-hambatan yang mengakibatkan proses akuisisi menjadi terkendala, di antaranya adalah mahalnya biaya untuk melaksanakan akuisisi, perusahaan target memiliki kesesuaian strategi yang rendah dengan perusahaan pengambilalih dan pihak pengambilalih tidak mengkomunikasikan perencanaan dan pengharapan mereka terhadap karyawan perusahaan target sehingga terjadi kegelisahaan diantara karyawan. Hal ini dikarenakan untuk membentuk suatu perusahaan yang profitable di pasar adalah sangat kompetitif.

Perseroan pengakuisisi biasanya adalah perseroan besar yang bermodal kuat, mempunyai operasi bisnis yang luas, manajemen yang teratur, berdaya saing kuat dan

8

M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hlm. 509. 9

(24)

berkelompok dalam konglomerasi. Sementara itu perseroan yang diakuisisi adalah perseroan yang relatif lebih kecil, sulit berkembang dan atau tidak mampu bersaing. Kondisi seperti ini menyebabkan perseroan yang diakuisisi selalu menggunakan pertimbangan lebih baik diakuisisi daripada kesulitan operasional, sehingga memperoleh pengalaman baru dari segi manajemen karena berada dalam kelompok konglomerasi yang berpengalaman. Bagi perseroan pengakuisisi tindakan ini merupakan upaya pembentukan konglomerasi baru yang lebih besar dan kuat, sehingga kadang kala cenderung menimbulkan posisi dominan yang menciptakan kelompok monopoli atau persaingan tidak sehat, yang bertentangan dengan undang-undang.

Untuk dapat memastikan ada atau tidaknya unsur monopoli yang dilarang, haruslah diperhatikan faktor-faktor utamanya, antara lain :

1. berapa banyak pelaku pasar untuk produk yang bersangkutan. 2. berapa besar pangsa pasar yang dikuasainya.10

Guna mencegah terjadinya persaingan yang tidak sehat agar terhindar dari perbuatan monopoli, diperlukan adanya solusi hukum yang secara tegas diatur oleh undang-undang.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul “Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas”.

10

(25)

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang perlu dibahas adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan akuisisi perusahaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ?

2. Apakah hambatan-hambatan hukum yang timbul dalam akuisisi perusahaan ? 3. Bagaimana solusi hukum dalam akuisisi perusahaan agar terhindar dari

perbuatan monopoli ?

C. Tujuan Penelitian

Mengacu pada judul dan permasalahan dalam penelitian ini maka dapat dikemukakan bahwa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan akuisisi perusahaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan hukum yang timbul dalam akuisisi perusahaan.

(26)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang didapat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum khususnya di bidang Hukum Perusahaan serta menambah khasanah perpustakaan.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat sebagai bahan pegangan dan rujukan pada masyarakat khususnya dalam hal akuisisi perusahaan. Selain itu juga dapat memberi masukan bagi para notaris, akademisi, pengacara, mahasiswa dan para praktisi hukum.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik terhadap hasil-hasil penelitian yang sudah ada maupun yang sedang dilakukan, baik di Magister Ilmu Hukum maupun di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, belum ada penelitian yang menyangkut masalah “TINJAUAN YURIDIS ATAS AKUISISI PERUSAHAAN SETELAH BERLAKUNYA

UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN

(27)

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

“Perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi, aktifitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori”.11 Teori berfungsi untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenaran.12 Sedangkan Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi dasar perbandingan, pegangan teoritis.13

Kerangka teori yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, dari para penulis ilmu hukum di bidang hukum perusahaan, yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui atau tidak disetujui, yang merupakan masukan bagi penulisan tesis ini.

Dalam penelitian ini, teori hukum yang digunakan adalah teori keadilan. Aristoteles membedakan antara keadilan “distributif” dan keadilan “korektif” atau “remedial”. Keadilan distributif mengacu kepada pembagian barang dan jasa kepada setiap orang sesuai dengan kedudukannya di dalam masyarakat, dan perlakuan yang sama terhadap kesederajatan di hadapan hukum (equality

before the law). Keadilan jenis ini menitikberatkan kepada kenyataan

fundamental dan selalu benar, walaupun selalu dikesampingkan oleh hasrat para filsuf hukum untuk membuktikan kebenaran pendirian politiknya, sehingga cita keadilan secara teoritis tidak dapat memiliki isi yang tertentu sekaligus sah. Keadilan yang kedua pada dasarnya merupakan ukuran teknik

11

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum , (Jakarta : UI Press, 1986), hlm. 6. 12

J.J.J. M.Wuisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Asas-Asas, Penyunting : M. Hisyam, (Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996), hlm. 203.

13

(28)

dari prinsip-prinsip yang mengatur penerapan hukum. Dalam mengatur hubungan hukum harus ditemukan suatu standar yang umum untuk memperbaiki setiap akibat dari setiap tindakan, tanpa memperhatikan pelakunya dan tujuan dari perilaku-perilaku dan obyek-obyek tersebut harus diukur melalui suatu ukuran yang obyektif.14

Menurut Gustav Radbruch,15 nilai keadilan adalah materi yang harus menjadi isi aturan hukum. Sedangkan aturan hukum adalah bentuk yang harus melindungi nilai keadilan.

Keadilan merupakan fokus utama dari setiap sistem hukum dan keadilan tidak dapat begitu saja dikorbankan, seperti pendapat Jhon Rawls yang dikutip oleh Munir Fuady sebagai berikut:

Nilai keadilan tidak boleh ditawar-tawar dan harus diwujudkan ke dalam masyarakat tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat lainnya. Suatu ketidakadilan hanya dapat dibenarkan jika hal tersebut diperlukan untuk menghindari ketidakadilan yang lebih besar. Karena merupakan kebajikan yang terpenting dalam kehidupan manusia, maka terhadap kebenaran dan keadilan tidak ada kata kompromi.16

Prinsip keadilan menurut Jhon Rawls dapat dirinci sebagai berikut : 1. Terpenuhinya hak yang sama terhadap kebebasan dasar (equal liberties)

2. Perbedaan ekonomi dan sosial harus diatur sehingga akan terjadi kondisi yang positif yaitu:

a. Terciptanya keuntungan maksimum yang reasonable untuk setiap orang termasuk bagi pihak yang lemah (maximumminimorium)

b. Terciptanya kesempatan bagi semua orang

14

Teori Hukum, http://tubiwityu.typepad.com/blog/2010/02/teori-hukum.html, diakses tanggal 23 Juli 2010

15

Bernard L. Tanya et.al., Teori Hukum (Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi), (Yogyakarta : Genta Publishing, 2010), hlm.129.

16

(29)

Menurut Rawls, keadilan akan didapatkan jika dilakukan maksimum penggunaan barang secara merata dengan memperhatikan kepribadian masing-masing (justiceasfairness).17

Apabila dikaitkan dengan pengambilalihan perusahaan, yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut.

Dalam akuisisi perusahaan tidak ada perusahaan yang meleburkan diri/membubarkan diri, tetapi dua-duanya tetap exist, sungguhpun perusahaan yang satu menguasai perusahaan yang lain. Dalam perkembangannya ternyata akuisisi itu sendiri beranekaragam, dan dapat dipilah-pilah mengikuti kriteria yang dipakai, kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut :18

1. Jenis usaha

Apabila dilihat dari segi jenis usaha perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam transaksi akuisisi, maka akuisisi dapat digolong-golongkan sebagai berikut:

a. Akuisisi horizontal

Dalam hal ini perusahaan yang diakuisisi adalah para pesaingnya, baik pesaing yang memproduksi produk yang sama, atau yang memiliki teritorial pemasaran yang sama. Jelas bahwa tujuan dari akuisisi ini adalah untuk memperbesar pangsa pasar atau membunuh pesaing.

17

Ibid.

18

(30)

b. Akuisisi vertikal

Akuisisi vertikal dimaksudkan sebagai akuisisi oleh suatu perusahaan terhadap perusahaan lain yang masih dalam satu mata rantai produksi, yakni suatu perusahaan dalam arus pergerakan produksi dari hulu ke hilir.

c. Akuisisi konglomerat

Yang dimaksudkan adalah akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan yang tidak terkait baik secara horisontal maupun secara vertikal.

2. Lokalisasi

Jika dilihat dari segi lokalisasi antara perusahaan pengakuisisi dengan perusahaan target, maka akuisisi dapat dikategorikan sebagai berikut :

a. Akuisisi eksternal

Akuisisi eksternal merupakan akuisisi yang terjadi antara dua atau lebih perusahaan, masing-masing dalam grup yang berbeda, atau tidak dalam grup yang sama.

b. Akuisisi internal

(31)

i. Kemungkinan harga saham perusahaan target di atas harga yang wajar, berhubung pemilik mayoritas dari pengakuisisi dan perusahaan target adalah sama.

ii. Pihak penjual tidak banyak kehilangan sahamnya berhubung kedudukannya juga sebagai pemegang saham pada perusahaan pengakuisisi.

3. Objek akuisisi

Apabila dilihat dari segi objek dari transaksi akuisisi, maka akuisisi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

(a) Akuisisi saham

Dalam hal ini, yang diakuisisi/dibeli adalah sahamnya perusahaan target. Baik dibayar dengan uang tunai, maupun dibayar dengan sahamnya perusahaan pengakuisisi atau perusahaan lainnya. Untuk dapat disebut transaksi akuisisi, maka saham yang dibeli tersebut haruslah paling sedikit 51% (simple majority), atau paling tidak setelah akuisisi tersebut, pihak pengakuisisi memegang saham minimal 51%. Sebab, jika kurang dari persentase tersebut, perusahaan target tidak bisa dikontrol, karenanya yang terjadi hanya jual beli saham biasa saja.

(b) Akuisisi asset

(32)

aset, diberikanlah kepada pemegang saham perusahaan target cash untuk harga pembelian, atau saham perusahaan pengakuisisi atau saham perusahaan lainnya.

(c) Akuisisi kombinasi

Dalam hal ini, dilakukan kombinasi antara akuisisi saham dengan akuisisi aset. Misalnya dapat dilakukan akuisisi 50% saham plus 50% aset dari perusahaan target. Demikian juga dengan kontra prestasinya, dapat saja sebagian dibayar dengan cash, dan sebagian lagi dengan saham perusahaan pengakuisisi atau saham perusahaan lain.

(d) Akuisisi bertahap

Pada akuisisi bertahap ini, akuisisi tidak dilaksanakan sekaligus. Misalnya jika perusahaan target menerbitkan convertible bonds, sementara perusahaan pengakuisisi menjadi pembelinya. Maka dalam hal ini, tahap pertama perusahaan pengakuisisi memberikan dana ke perusahaan target lewat pembelian bonds. Tahap selanjutnya bonds tersebut ditukar dengan equity, jika kinerja perusahaan target semakin baik. Dengan demikian, hak opsi ada pada pemilik convertible bonds, yang dalam hal ini merupakan perusahaan pengakuisisi.

4. Motivasi akuisisi

Jika dilihat dari segi motivasi mengapa akuisisi dilakukan, maka akuisisi dapat dibeda-bedakan sebagai berikut:

(33)

Pada akuisisi strategis, latar belakang yang menyebabkan mengapa akuisisi dilakukan adalah untuk meningkatkan produktivitas perusahaan. Sebab, dengan akuisisi, diharapkan dapat meningkatkan sinergi usaha, mengurangi risiko (karena diversifikasi), memperluas pangsa pasar, meningkatkan efisiensi, dan sebagainya.

(b) Akuisisi finansial

Akuisisi finansial adalah akuisisi yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan finansial semata-mata dalam waktu sesingkat-singkatnya. Akuisisi ini bersifat spekulatif, dengan keuntungan yang diharapkan lewat pembelian saham/aset yang murah tetapi dengan pendapatan (income) perusahaan target yang tinggi.

5. Divestitur

Pengkategorian akuisisi dapat juga dilihat dari segi divestitur, yakni dengan melihat peralihan aset/saham/manajemen dari perusahaan target kepada perusahaan pengakuisisi. Untuk itu, akuisisi dapat diklasifikasikan kepada take

over, freezeouts, squeezeouts, Management Buy Outs, Leveraged Buy Outs,

inbreng saham atau share swap.

Mengenai syarat pengambilalihan, berdasarkan Pasal 126 ayat (1) UUPT, perbuatan hukum pengambilaihan, wajib memperhatikan kepentingan:

1. Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan perseroan, 2. Kreditor dan mitra usaha lainnya dari perseroan, dan

(34)

Pada prinsipnya menurut Penjelasan Pasal 126 ayat (1), pengambilalihan: 1) Tidak dapat dilakukan apabila akan merugikan kepentigan pihak-pihak tertentu, 2) Pengambilalihan harus juga “dicegah” dari kemungkinan terjadinya “monopoli”

atau “monopsoni” dalam berbagai bentuk yang merugikan masyarakat19.

Jika pengambilalihan dilakukan oleh perseroan, rencana pengambilalihan dituangkan dalam rancangan pengambilalihan yang disusun oleh direksi perseroan yang akan mengambil alih dan yang akan diambil alih, yang memuat sekurang-kurangnya nama perseroan yang mengambil alih dan yang diambil alih, alasan, serta penjelasan direksi masing-masing perseroan mengenai persyaratan dan atas cara pengambilalihan saham perseroan yang diambil alih. Pengambilalihan tersebut dilakukan dengan persetujuan RUPS masing-masing atas rancangan pengambilalihan yang diajukan oleh direksi masing-masing perseroan.

Jika pengambilalihan dilakukan orang perseorangan, rencana pengambilalihan dituangkan dalam rancangan pengambilalihan yang disusun oleh direksi perseroan yang akan diambilalih dan orang perseorangan yang akan mengambil alih, yang memuat sekurang-kurangnya nama perseroan yang akan diambil alih, orang perseorangan yang akan mengambil alih, alasan, serta penjelasan direksi perseroan yang akan diambil alih mengenai persyaratan dan tata cara pengambilalihan saham. Pengambilalihan dilakukan dengan persetujuan RUPS perseroan yang akan diambil alih atas rancangan yang diajukan direksi perseroan yang akan diambil alih dan orang perseorangan yang akan mengambil alih.

19

(35)

Ketentuan mengenai pengambilalihan seperti tersebut di atas tidak membatasi badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham perseroan lain.

Pengambilalihan dilakukan dengan cara pengambilalihan saham yang telah dikeluarkan dan/atau akan dikeluarkan oleh perseroan melalui direksi perseroan atau langsung dari pemegang saham yang mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut. Pengambilalihan dapat dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan. Jika pengambilalihan dilakukan oleh badan hukum berbentuk perseroan, direksi, sebelum melakukan perbuatan hukum pengambilalihan harus berdasarkan keputusan RUPS yang memenuhi kuorum kehadiran dan ketentuan tentang persyaratan pengambilan keputusan RUPS. Namun, jika pengambilalihan dilakukan melalui direksi, pihak yang akan mengambil alih menyampaikan maksudnya untuk melakukan pengambilalihan kepada direksi perseroan yang akan diambil alih.

2. Kerangka Konsepsi

Konsepsi diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut definisi operasional, kerangka konsepsi pada hakikatnya merupakan suatu pengarah atau pedoman yang lebih konkrit dari kerangka teoritis yang sering kali bersifat abstrak, sehingga diperlukan definisi-definisi operasional yang menjadi pegangan konkrit dalam proses penelitian.20

20

(36)

Untuk membangun konsep dalam pengkajian ilmu hukum pada dasarnya merupakan kegiatan untuk mengkonstruksi teori, yang akan digunakan untuk menganalisanya dan memahaminya21.

a. Pengambilalihan

Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham Perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut.22

Pengambilalihan atau akuisisi adalah pembelian saham-saham dari perusahaan, baik dengan cara tunai, dengan menyerahkan saham dari perusahaan yang membeli, atau dengan menyerahkan jenis-jenis efek lainnnya yang dikeluarkan oleh perusahaan yang membeli. Secara yuridis, pembelian saham-saham tersebut harus dilakukan transaksinya langsung antara pembeli dengan para pemegang saham perusahaan tersebut, bukan dengan direksi perusahaan.23

b. Perusahaan

Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba.24

21

Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Hukum, (Bandung : CV. Mandar Maju, 2008), hlm.108.

22

R.I. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang “Perseroan Terbatas”, Bab I, Pasal 1 angka 11.

23

Abdul Rasyid Saliman, et.al. ,Op.Cit, hlm. 114. 24

(37)

Menurut Molengraaff, perusahaan adalah25 keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus, bertindak keluar, mendapatkan penghasilan, memperdagangkan barang, menyerahkan barang, mengadakan perjanjian perdagangan.

c. Perseroan Terbatas

Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya.26

G. Metode Penelitian

1. Spesifikasi Penelitian

Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian ini, maka sifat penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis, maksudnya adalah “menggambarkan semua gejala dan fakta yang terjadi dilapangan serta mengaitkan dan menganalisa semua gejala dan fakta tersebut dengan permasalahan yang ada dalam penelitian dan kemudian disesuaikan dengan keadaaan yang terjadi di lapangan”.27 Sehingga penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang akuisisi perusahaan setelah berlakunya UUPT 2007. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan peraturan perundang-undangan.

25

Sentosa Sembiring, Hukum Dagang, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 6. 26

R.I. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang “Perseroan Terbatas”, Bab I, Pasal 1 angka 1.

27

(38)

2. Metode Pendekatan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normative atau yuridis normatif, yakni penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma. Sistem norma yang dimaksud adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran).28

Penelitian hukum normatif selalu mengambil isu dari hukum sebagai sistem norma yang digunakan untuk memberikan “justifikasi” preskriptif tentang suatu peristiwa hukum, sehingga penelitian hukum normatif menjadikan sistem norma sebagai pusat kajiannya. Sistem norma dalam arti yang sederhana adalah sistem kaidah atau aturan, sehingga penelitian hukum normatif adalah penelitian yang mempunyai objek kajian tentang kaidah atau aturan hukum sebagai suatu bangunan sistem yang terkait dengan suatu peristiwa hukum.

Menurut Ronald Dworkin, penelitian hukum normatif disebut juga sebagai penelitian doctrinal (doctrinal research), yaitu suatu penelitian yang menganalisis baik hukum yang tertulis dalam buku (law as written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law is decided by the judge through judicial process).29

28

Mukti Fajar, etal. Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 34.

29

(39)

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian hukum nofmatif atau kepustakaan, teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan terhadap bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan non hukum.30

Data dalam penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan data sekunder yaitu data yang dikumpulkan melalui studi dokumen terhadap bahan kepustakaan yang terdiri dari:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer adalah hukum yang mengikat dari sudut norma dasar, peraturan dasar dan peraturan perundang-undangan. Dalam penelitian ini bahan hukum primernya yaitu Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang berupa buku, hasil-hasil penelitian dan atau karya ilmiah dari kalangan hukum tentang hukum perusahaan.

c. Bahan Hukum Tertier

Bahan hukum tertier adalah bahan yang memberi petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus hukum, ensiklopedia dan sebagainya.

30

(40)

4. Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara: Studi dokumen, pembahasan mengenai studi dokumen atau bahan pustaka, akan mengawali pembicaraan mengenai alat-alat pengumpul data dalam penelitian, karena bahan kepustakaan atau bacaan dalam penelitian sangat diperlukan.

Untuk memperoleh data sekunder, perlu dilakukan studi dokumentasi yaitu dengan cara mempelajari peraturan-peraturan, teori, buku-buku, hasil penelitian, dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.

5. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.31 Di dalam penelitian hukum normatif, maka analisis data pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Sistematisasi berarti, membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum terlulis tersebut, untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.

Setelah analisis dilakukan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang telah dikumpulkan (primer, sekunder maupun tersier), untuk mengetahui validitasnya. Setelah itu keseluruhan data tersebut akan

31

(41)

disistematisasikan sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang baik pula.32

32

(42)

BAB I I

PENGATURAN AKUISISI PERUSAHAAN BERDASARKAN UU NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

A. Badan Hukum Perseroan Terbatas

Di dalam masyarakat istilah badan hukum tidak asing lagi, yang sering dilawankan dengan istilah badan pribadi atau manusia, namun keduanya sama- sama sebagai subyek hukum. Dalam kepustakaan hukum Belanda, istilah badan hukum dikenal dengan sebutan “rechtsperson”, dan dalam kepustakaan tradisi hukum common law seringkali disebut dengan istilah-istilah legal entity, juristic person, atau artificial person.

Legal entity, dalam Kamus Hukum Ekonomi diartikan sebagai “badan hukum”

(43)

suatu badan, tidak dapat bertindak sendiri, melainkan harus diwakili oleh para pengurusnya.

Memang untuk memberi pengertian atau definisi tentang badan hukum bukan hal yang mudah karena badan hukum itu abstrak, tidak dapat dilihat, diraba. Namun demikian beberapa sarjana ada juga yang mencobanya memberikan definisi, hanya saja definisi itu dapat dipergunakan sebagai pedoman.

Menurut Subekti, badan hukum adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia, serta memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat atau menggugat di depan hakim.33 Rochmat Soemitro mengatakan bahwa badan hukum (rechtspersoon) ialah suatu badan yang dapat mempunyai harta, hak, serta kewajiban seperti orang pribadi.34 Selanjutnya Tirto Diningrat mengatakan bahwa badan hukum itu adalah suatu pengertian yang diciptakan untuk membantu hukum menunjuk sebuah subyek khusus menjadi pendukung dari hak-hak.35

Dari rumusan di atas jelaslah bahwa badan hukum sebagai suatu subyek hukum mandiri yang dipersamakan di hadapan hukum dengan individu pribadi orang perorangan, meskipun dapat menjadi penyandang hak dan kewajibannya sendiri, terlepas dari orang-orang yang mendirikan atau menjadi anggota dari badan hukum tersebut, tidaklah seratus persen sama dengan individu pribadi atau perorangan. Badan hukum hanya dipersamakan dengan individu pribadi orang perorangan, dalam

33

Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta : PT. Inter Masa, 1987), hlm. 182. 34

Rochmat Soemitro, Penuntutan Perseroan Terbatas dengan Undang-Undang Pajak Perseroan, (Bandung : PT. Eresco, 1979), hlm. 36.

35

(44)

lapangan hukum benda atau hukum perikatan, serta hukum-hukum lain yang merupakan bagian atau pengembangan lebih lanjut dari kedua jenis hukum tersebut, yang juga dikenal dengan nama hukum harta kekayaan. Selanjutnya oleh karena badan hukum berada dalam lapangan hukum harta kekayaan, maka badan hukum sama seperti halnya individu pribadi, dapat menggugat dan atau digugat guna memenuhi perikatannya. Kebendaan yang merupakan milik badan hukum itulah yang menjadi tanggungan bagi pemenuhan kewajiban badan hukum itu sendiri.36

Uraian-uraian diatas adalah penjelasan mengenai subyek hukum secara materiil. Selain persyaratan materiil tersebut, keberadaan suatu badan hukum sebagai subjek hukum mandiri juga harus didasarkan pada persyaratan formil, yaitu proses pembentukannya yang harus memenuhi formalitas dari suatu peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, hingga diakui sebagai subyek hukum mandiri. Dalam perseroan terbatas, saat diperolehnya pengesahan oleh Menteri Hukum dan HAM itulah yang menjadikan perseroan terbatas itu sebagai badan hukum dalam arti formil.

Sifat badan hukum perseroan terbatas, senantiasa dikaitkan dengan pertanggungjawaban terbatas. Yang dinamakan dengan dan menjadi tujuan dari pertanggungjawaban terbatas ini adalah keberadaan dari suatu perseroan yang telah memperoleh status badan hukum, melahirkan perlindungan harta kekayaan pribadi dan pendiri yang kemudian berubah status menjadi pemegang saham, dan pengurus

36

(45)

perseroan terbatas, yang di Indonesia dilaksanakan oleh direksi di bawah pengawasan dewan komisaris.37

1. Pengertian Perseroan Terbatas

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (yang selanjutnya disingkat UU No. 40 Tahun 2007) adalah peraturan hukum yang mengatur tentang Perseroan Terbatas. Undang-undang ini disahkan oleh Presiden dan diundangkan di Jakarta oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada tanggal 16 Agustus 2007, yang terdiri dari 14 Bab dan 161 Pasal dan mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.

Pengertian Perseroan Terbatas (PT) menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 dinyatakan bahwa:

“Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya”.38

Bertitik tolak dari ketentuan Pasal 1 angka 1 diatas, elemen pokok yang melahirkan suatu Perseroan sebagai badan hukum harus terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut :39

37

Gunawan Widjaja, Seri Pemahaman Perseroan Terbatas, Risiko Hukum sebagai Direksi, Komisaris & Pemi lik PT, Ibid, hlm. 18.

38

Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas, Nomor 40 Tahun 2007.

39

(46)

1. Merupakan Persekutuan Modal

Perseroan sebagai badan hukum memiliki “modal dasar” yang disebut juga

authorized capital, yakni jumlah modal yang disebutkan atau dinyatakan dalam

Akta Pendirian Perseroan.40

Modal dasar tersebut, terdiri dan terbagi dalam saham atau sero. Modal yang terdiri dan dibagi atas saham itu dimasukkan para pemegang saham dalam status mereka sebagai anggota perseroan dengan jalan membayar saham tersebut kepada Perseroan. Sebenarnya, persekutuan yang terjadi dalam Perseroan sebagai badan hukum, bukan hanya persekutuan modal, tetapi juga persekutuan para anggota yang terdiri dari pemegang saham. Namun yang lebih menonjol adalah persekutuan modal, dibanding dengan persekutuan orang atau anggotanya sebagaimana yang terdapat dalam Persekutuan yang diatur dalam Pasal 1618 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

2. Didirikan berdasarkan Perjanjian

Sesuai dengan ketentuan Pasal 7 angka 1 Undang-Undang Perseroan Terbatas tahun 2007, supaya perjanjian untuk mendirikan perseroan sah menurut undang-undang, pendirinya paling sedikit 2 (dua) orang atau lebih. Ketentuan yang digariskan Pasal 7 angka 1 tersebut di atas sesuai dengan yang ditentukan Pasal 1313 KUHPerdata, suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Apabila perjanjian itu sah, maka berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata, perjanjian pendirian

40

(47)

Perseroan itu, mengikat sebagaimana undang-undang kepada mereka selaku para pihak.

3. Melakukan kegiatan usaha

Sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Perseroan Terbatas tahun 2007, suatu Perseroan harus mempunyai maksud dan tujuan serta kegiatan usaha.

4. Lahirnya Perseroan melalui proses hukum dalam bentuk pengesahan pemerintah. Menurut pasal 7 angka 2 Undang-Undang Perseroan Terbatas tahun 2007, ditegaskan bahwa Perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum

Perseroan.

Dari ketentuan tersebut secara eksplisit sangat jelas disebutkan bahwa Perseroan Terbatas merupakan badan hukum. Perseroan Terbatas merupakan suatu bentuk (legal form) yang didirikan atas fiksi hukum (legal fiction) bahwa perseroan memiliki kapasitas yuridis yang sama dengan yang dimiliki oleh orang perseorangan

(natural person). Apabila dikaitkan dengan unsur-unsur mengenai badan hukum,

(48)

Pada dasarnya suatu perseroan terbatas mempunyai ciri-ciri sekurang-kurangnya sebagai berikut :41

1. memiliki status hukum tersendiri, yaitu sebagai suatu badan hukum, yaitu subyek hukum artificial, yang sengaja diciptakan oleh hukum untuk membentuk kegiatan perekonomian, yang dipersamakan dengan individu manusia, orang perorangan;

2. memiliki harta kekayaan tersendiri yang dicatatkan atas namanya sendiri, dan pertanggungjawaban sendiri atas setiap tindakan, perbuatan, termasuk perjanjian yang dibuat. Ini berarti perseroan dapat mengikat dirinya dalam satu atau lebih perikatan, yang berarti menjadikan perseroan sebagai subyek hukum mandiri (persona standi in judicio) yang memiliki kapasitas dan kewenangan untuk dapat menggugat dan digugat di hadapan pengadilan;

3. tidak lagi membebankan tanggung jawabnya kepada pendiri, atau pemegang sahamnya, melainkan hanya untuk dan atas nama dirinya sendiri, untuk kerugian dan kepentingan dirinya sendiri;

4. kepemilikannya tidak digantungkan pada orang perorangan tertentu, yang merupakan pendiri atau pemegang sahamnya. Setiap saat saham perseroan dapat dialihkan kepada siapapun juga menurut ketentuan yang diatur dalam Anggaran Dasar dan undang-undang yang berlaku pada suatu waktu tertentu; 5. keberadaannya tidak dibatasi jangka waktunya dan tidak lagi dihubungkan

dengan eksistensi dari pemegang sahamnya;

6. pertanggungjawaban yang mutlak terbatas, selama dan sepanjang para pengurus (direksi), dewan komisaris dan atau pemegang saham tidak melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang tidak boleh dilakukan.

2. Pendirian Perseroan Terbatas

Mengenai pendirian perseroan ini diatur dalam Bab II, Bagian Kesatu UUPT 2007, yang terdiri dari Pasal 7 sampai dengan Pasal 14. Dan jika diperhatikan ketentuan yang diatur pada Bagian Kesatu dimaksud, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pendirian suatu perseroan tersebut sah sebagai badan hukum, antara lain:

1. Harus didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih,

41

(49)

2. Pendirian berbentuk akta notaris, 3. Dibuat dalam Bahasa Indonesia,

4. Setiap pendiri wajib mengambil saham, dan

5. Mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Demikian syarat yang harus dipenuhi agar pendirian perseroan dapat memperoleh pengesahan sah dan legalitas sebagai badan hukum. Syarat tersebut bersifat “kumulatif”, bukan bersifat “fakultatif” atau “alternatif”. Satu saja dari syarat itu cacat (defect) atau tidak terpenuhi, mengakibatkan pendiriannnya tidak sah sebagai badan hukum.

Sedangkan tata cara pendirian suatu perseroan jika dijabarkan sesuai dengan apa yang diatur di dalam UUPT 2007 antara lain:

1. Didirikan minimal 2 (dua) orang.

Perseroan Terbatas didirikan berdasarkan perjanjian oleh karena itu sudah selayaknya didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih. Kata “orang” di sini apakah hanya “orang” atau “manusia” yang dapat mendirikan perseroan terbatas, ternyata dalam UUPT kata “orang” harus dipandang sebagai subyek hukum dalam arti luas. “Orang” adalah orang perorangan atau badan hukum. Jadi dimungkinkan dalam mendirikan perseroan terbatas, badan hukum dapat melakukan perjanjian sehingga tampil sebagai pendiri perseroan.42

Istilah yang tepat untuk penyebutan “orang” disini adalah “pihak”. Apabila pendirian perseroan dilakukan oleh dua orang, namun mereka adalah suami isteri, hal

42

(50)

ini tidak diperkenankan karena suami isteri dianggap satu pihak. Kecuali mereka memiliki akta pisah harta. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang tepat adalah kata “pihak” untuk menggantikan kata “orang” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) UUPT.

Penjelasan Pasal 7 ayat (1) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan orang

adalah orang perseorangan atau badan hukum tanpa menyebutkan badan hukum asing atau badan hukum Indonesia dan Warga Negara Indonesia atau Warga Negara Asing untuk orang perseorangan. Jadi jelas diketahui bahwa perseroan terbatas di Indonesia dapat dirikan oleh Warga Negara Asing.43

Berkaitan dengan pendirian perseroan perlu diperhatikan bahwa perbuatan hukum pendirian oleh 2 (dua) atau lebih pendiri tidak melahirkan perjanjian antara para pendiri, melainkan mengakibatkan adanya perjanjian antara semua pendiri disatu pihak dan perseroan di pihak lain. Berdasarkan perjanjian pendirian dimaksud para pendiri berhak menerima saham dalam perseroan dan sekaligus mereka wajib melakukan penyetoran penuh atas saham yang diambilnya.44

2. Akta pendirian berbentuk Akta Notaris

Cara mendirikan perseroan haruslah dibuat “secara tertulis” (schriftelijk, in writing) dalam bentuk akta yakni akta notaris dalam bahasa Indonesia, karena akta pendirian tersebut merupakan akta otentik, yang dapat dipandang sebagai alat bukti yang mengikat dan sempurna.

43

Man S. Sastrawidjaja dan Rai Mantili, Perseroan Terbatas Menurut Tiga Undang-Undang, (Bandung : Alumni, 2008), hlm. 40.

44

Fred B.G. Tumbuan, Tugas dan wewenang Organ Perseroan Terbatas Menurut Undang-Undang

Tentang Perseroan Terbatas, “Sosialisasi Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas” yang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...