• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Tagline Peringatan dan Perilaku Merokok

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perubahan Tagline Peringatan dan Perilaku Merokok"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

i

DAN PERILAKU MEROKOK

(Studi Korelasional Perubahan

Tagline

Peringatan Iklan Rokok di

Televisi Dari “Rokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung,

Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin” menjadi “Merokok

Membunuhmu” dan Perilaku Merokok Mahasiswa di Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara)

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

sarjana program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu

Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Sumatera Utara

Diajukan Oleh:

Wy Angga Agascy Rhamadana

100904107

Program Studi Jurnalistik

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PERUBAHAN TAGLINE PERINGATAN DAN PERILAKU

MEROKOK

SKRIPSI

WY ANGGA AGASCY RHAMADANA

100904107

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

Lembar Persetujuan

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh

Nama : Wy Angga Agascy Rhamadana

NIM : 100904107

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Informasi : Perubahan Tagline Peringatan dan Perilaku Merokok

(Studi Korelasional Perubahan Tagline Peringatan Iklan Rokok di Televisi Dari “Rokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin” menjadi “Merokok Membunuhmu” dan Perilaku Merokok Mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara)

Medan, 28 Februari 2015

Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si Dra. Fatma Wardy Lubis, MA

NIP. 197711062005011001 NIP. 196208281987012001

Dekan FISIP

(4)

NIP. 196805251992031002

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh :

Nama : Wy Angga Agascy Rhamadana

NIM : 100904107

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi : PERUBAHAN TAGLINE PERINGATAN DAN PERILAKU MEROKOK

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Majelis Penguji

Ketua Penguji : ________________________

Penguji : ________________________

Penguji Utama : ________________________

Ditetapkan di : Medan

(5)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik baik yang dikutip

maupun dirujuk sudah dicantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian

hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses

sesuai dengan hokum yang berlaku.

Nama : Wy Angga Agascy Rhamadana

NIM : 100904107

Tanda Tangan :

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat

rahmat dan kuasa-Nya yang telah dilimpahkan kepada peneliti sehingga dapat

menyelesaikan penulisan skripsi ini untuk melengkapi gelar kesarjanaan pada

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini, peneliti menyadari banyaknya dukungan serta

bantuan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak, khususnya kepada

kedua orang tua terkasih, Agus Sugandi dan Ida Linda Yani atas segala cinta

kasih, doa serta dukungan yang terus mengalir tanpa henti sehingga peneliti

mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Tidak lupa pula dukungan dari

saudara serta rekan-rekan tercinta yang telah memberikan banyak masukan dan

dukungan tanpa henti.

Dalam kesempatan ini, peneliti juga ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Dekan FISIP USU Prof. Dr. Badaruddin, M.Si

2. Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Dra. Fatma Wardy Lubis, MA

3. Dr. Iskandar Zulkarnain M.Si selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus

pembimbing akademik yang telah bersedia meluangkan waktu dan

memberikan ilmu yang sangat berharga selama proses bimbingan skripsi

berlangsung.

4. Bapak dan Ibu dosen Ilmu Komunikasi yang telah memberikan bekal

pengetahuan selama masa perkuliahan berlangsung.

5. Sahabat Mabeskom10, Ade Tia Nuansyara, Ardana Basyra, Ananda

Ramadhan, Billy Iskandar, Bakhtiar Widodo, Ditta Maharani, Fitra

Atahari, Indra Wahyudi, Takdir Julianda, Nia Ervina Tiurlan, Muhammad

Ghozalli, Muhammad Amal, Muhammad Zaelani, Muhammad Rivanda

dan Risyad Arif yang telah menemani dari awal perkuliahan sampai

penulisan skripsi.

6. Mahasiswa FISIP USU yang telah bersedia menjadi responden dalam

(7)

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih memiliki banyak

kekurangan, maka dari itu dengan segala kerendahan hati, peneliti sangat

mengharapkan kritik dan saran guna membangun penyempurnaan skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Medan, 6 Januari

2015

Peneliti,

(8)

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Wy Angga Agascy Rhamadana

NIM : 100904107

Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas : Universitas Sumatera Utara

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non

Exclusif Royalty – Free Rights) atas karya ilmiah saya yang berjudul Perubahan

Tagline Peringatan dan Perilaku Merokok (Studi Korelasional Perubahan Tagline

Peringatan Iklan Rokok di Televisi Dari “Rokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin” menjadi “Merokok Membunuhmu” dan Perilaku Merokok Mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara) beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalty Noneksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Dibuat di : Medan

Pada Tanggal : 28 Februari 2015

Yang Menyatakan

(9)

ABSTRACT

This study titled Change Tagline Warning On Cigarette Advertising and Behavioral Smoking (Correlational Study Tagline Change Warning on Cigarette Ads on Television From "Smoking Can Cause Cancer, Heart Attack, Impotence and Disorders of Pregnancy and Fetal" to "Smoking kill" and Smoking Behavior of Students in Faculty of Social and Political Sciences, University of North Sumatra). Tagline change warnings on cigarette advertising on television became "Smoking kill" gives the impression of repressive and threatening to represents the dangers of smoking to society would have caused a variety of responses from those who see it. In the context of this study, the research subject is the students who smoke and of course aware of the changes tagline warning on cigarette advertising on television.

This study aimed to determine the relationship changes tagline warning on cigarette advertising on television is the smoking behavior of students, especially in the Faculty of Social USU. This study uses quantitative correlation method, which aims to give a percentage for each category of questions from the questionnaire. The collected data will be processed in accordance with the stages then tabulated and analyzed, will be given further discussion and interpret. Supporting the theory used in this study, among others, Theory of Communication, Mass Communication Theory, Theory of Advertising, 7C Theory, Tagline and Cognitive Dissonance Theory.

The population in this study is the whole FISIP USU Student class of 2011 and 2012, amounting to 2121 people. The samples using Taro Yamane formula of the population earned 95 respondents from the class of 2011 and 2012. The sampling technique using Proportionate nonprobability sampling where each department determined the number of respondents who would be investigated further using purposive sampling and accidental sampling. The technique of collecting data using questionnaires, to analyze the data of this study using a single table and cross table. Questionnaires in this study was conducted over four days from the date of December 15, 2014 through December 18, 2014.

After the analysis, the obtained 37.9% of students reduce their cigarette consumption after the change tagline warning on cigarette advertising on television became "Smoking kill".

(10)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Perubahan Tagline Peringatan Pada Iklan Rokok dan Perilaku Merokok(Studi Korelasional Perubahan Tagline Peringatan di Iklan Rokok di Televisi Dari “Rokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin” menjadi “Merokok Membunuhmu” dan Perilaku Merokok Mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara). Perubahan tagline peringatan pada

iklan rokok di televisi menjadi “Merokok Membunuhmu” memberi kesan represif dan mengancam untuk mereprentasikan bahaya merokok kepada masyarakat tentu akan menimbulkan berbagai tanggapan dari mereka yang melihatnya. Dalam konteks penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa yang merokok dan tentu mengetahui akan perubahan tagline peringatan pada iklan rokok di televisi tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan tagline peringatan pada iklan rokok di televisi tersebut dengan perilaku merokok mahasiswa khususnya di FISIP USU. Penelitian ini menggunakan metode korelasional kuantitatif, yang bertujuan memberikan persentase pada setiap kategori pertanyaan dari kuesioner. Data yang terkumpul akan diproses sesuai dengan tahapan kemudian ditabulasi dan dianalisis, selanjutnya akan diberikan pembahasan dan menginterpretasikannya. Teori pendukung yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, Teori Komunikasi, Teori Komunikasi Massa, Teori Iklan, Teori 7C, Teori Tagline dan Teori Disonansi Kognitif.

Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh Mahasiswa FISIP USU angkatan 2011 dan 2012 yang berjumlah 2121 orang. Penentuan sampel menggunakan rumus Taro Yamane dari populasi keseluruhan diperoleh 95 responden dari angkatan 2011 dan 2012. Teknik penarikan sampel menggunakan Proportionate Nonprobability Sampling dimana masing-masing departemen ditentukan jumlah responden yang akan di teliti selanjutnya menggunakan Purposive Sampling dan

Accidental Sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner, dalam

menganalisis data penelitian ini menggunakan tabel tunggal dan tabel silang. Penyebaran kuesioner dalam penelitian ini dilaksanakan selama empat hari dari tanggal 15 Desember 2014 sampai 18 Desember 2014.

Setelah melakukan analisis, maka diperoleh 37,9% mahasiswa mengurangi jumlah konsumsi rokok mereka setelah perubahan tagline peringatan pada iklan rokok di televisi menjadi “Merokok Membunuhmu”.

(11)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii

ABSTRAK ... viii 1.1Latar Belakang Masalah ... 1

1.2Perumusan Masalah ... 5

2.1.2.2 Unsur-unsur Komunikasi Massa ... 10

2.1.2.3 Proses Komunikasi Massa ... 12

2.1.2.4 Fungsi Komunikasi Massa ... 13

2.1.2.5 Tujuan Komunikasi Massa ... 14

2.1.2.6 Peran Media Massa ... 15

(12)

2.2 Kerangka Konsep ... 23

2.3 Variabel Penelitian ... 25

2.4 Definisi Operasional... 25

2.5 Hipotesis ... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 28

3.2 Metode Penelitian ... 32

3.3 Populasi dan Sampel ... 32

3.4 Teknik Penarikan Sampel ... 34

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 36

3.6 Instrumen Penelitian ... 37

3.6.1 Uji Validitas ... 37

3.6.2 Uji Reliabilitas ... 39

3.7 Teknik Analisis Data ... 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 41

4.1.1 Tahap Awal/Perizinan ... 41

4.1.2 Tahap Pengumpulan Data ... 41

4.1.3 Tahap Pengolahan Data ... 42

4.2 Analisis Tabel Tunggal ... 43

4.2.1 Karakteristik Responden ... 43

4.2.2 Pesan Pada Perubahan Tagline Peringatan di Iklan Rokok di Televisi ... 45

4.2.3 Perilaku Merokok Mahasiswa Setelah Perubahan Tagline Peringatan .... 59

4.3 Analisis Tabel Silang ... 66

4.4 Uji Hipotesis ... 70

4.5 Pembahasan ... 72

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 76

5.2 Saran ... 76

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Variabel Penelitian ... 25

2. Jumlah Populasi Angkatan 2011-2012... 33

3. Jumlah Responden Angkatan 2011-2012 ... 36

4. Hasil Uji Validitas Data Karakteristik Responden... 37

5. Hasil Uji Validitas Data Perubahan Tagline Peringatan Iklan Rokok di Televisi ... 38

6. Hasil Uji Validitas Data Perilaku Merokok Mahasiswa ... 38

7. Hasil Uji Reliabilitas ... 39

4.1 Departemen/Program Studi ... 44

4.2 Penekanan Nilai Kesehatan Pada Tagline Peringatan ... 45

4.3 Ketegasan Peringatan Bahaya Merokok Pada Tagline ... 45

4.4 Lebih Baik Atau Tidaknya Tagline Peringatan Yang Baru Dibandingkan Tagline Peringatan Yang Lama ... 46

4.5 Kesesuain Pesan Tagline Peringatan Dengan Nilai Kesehatan.... 47

4.6 Makna Pesan Tagline Peringatan Dalam Menyadarkan Akan Bahaya Merokok ... 48

4.7 Kemudahan Memahami Makna Pesan Dalam Tagline ... 49

4.8 Keefektifan Makna Pesan Tagline Peringatan ... 50

4.9 Kemudahan Mengingat Makna Pesan Tagline Peringatan ... 51

4.10 Kesingkatan, Kepadatan dan Ketepatan Makna Pesan Tagline ... 52

4.11 Keseringan Melihat Tagline Peringatan ... 53

4.12 Kekonsistenan Penyematan Tagline Peringatan ... 54

4.13 Pencantuman Tagline Peringatan di Acara Yang Disponsori Produsen Rokok ... 55

4.14 Ketepatan Televisi Sebagai Media Untuk Mensosialisasikan Tagline Peringatan ... 56

4.15 Kemudahan Tagline Peringatan Dalam Memperingatkan Bahaya Merokok Kepada Masyarakat ... 57

(14)

4.17 Perubahan Frekuensi Merokok Mahasiswa Setelah Perubahan Tagline Peringatan ... 59 4.18 Pengurangan Frekuensi Merokok Mahasiswa Setelah Perubahan Tagline Peringatan ... 60 4.19 Pengurangan Jumlah Konsumsi Rokok Mahasiswa Setelah

Perubahan Tagline Peringatan... 61 4.20 Perubahan Kebutuhan Mahasiswa Terhadap Rokok Setelah

Perubahan Tagline Peringatan... 62 4.21 Pengurangan Kebutuhan Mahasiswa Terhadap Rokok Setelah Perubahan Tagline Peringatan... 63 4.22 Perubahan Ketergantungan Mahasiswa Terhadap Rokok Setelah Perubahan Tagline Peringatan... 64 4.23 Pengurangan Ketergantungan Mahasiswa Terhadap Rokok Setelah Perubahan Tagline Peringatan... 65 4.24 Penekanan Nilai Kesehatan Pada Tagline Peringatan dan

Pengurangan Kebutuhan Mahasiswa Terhadap Rokok... 66

4.25 Kesesuaian Pesan Tagline Peringatan Dengan Nilai Kesehatan dan Perubahan Ketergantungan Mahasiswa Terhadap Rokok... 67

4.26 Keefektifan Makna Pesan Tagline Peringatan dan Pengurangan Jumlah Konsumsi Rokok Mahasiswa ... 68

4.27 Kekonsistenan Disematkannya Tagline Peringatan dan Perubahan Kebutuhan Mahasiswa Terhadap Rokok ... 69

4.28 Keefektifan Media Televisi Untuk Menyampaikan Tagline

Peringatan Dibandingkan Media Lain dan Pengurangan Frekuensi Merokok Mahasiswa ... 70

(15)

DAFTAR GAMBAR

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Tabel Fortran Cobol 2. Kuesioner

3. Surat Izin Penelitian

(17)

ABSTRACT

This study titled Change Tagline Warning On Cigarette Advertising and Behavioral Smoking (Correlational Study Tagline Change Warning on Cigarette Ads on Television From "Smoking Can Cause Cancer, Heart Attack, Impotence and Disorders of Pregnancy and Fetal" to "Smoking kill" and Smoking Behavior of Students in Faculty of Social and Political Sciences, University of North Sumatra). Tagline change warnings on cigarette advertising on television became "Smoking kill" gives the impression of repressive and threatening to represents the dangers of smoking to society would have caused a variety of responses from those who see it. In the context of this study, the research subject is the students who smoke and of course aware of the changes tagline warning on cigarette advertising on television.

This study aimed to determine the relationship changes tagline warning on cigarette advertising on television is the smoking behavior of students, especially in the Faculty of Social USU. This study uses quantitative correlation method, which aims to give a percentage for each category of questions from the questionnaire. The collected data will be processed in accordance with the stages then tabulated and analyzed, will be given further discussion and interpret. Supporting the theory used in this study, among others, Theory of Communication, Mass Communication Theory, Theory of Advertising, 7C Theory, Tagline and Cognitive Dissonance Theory.

The population in this study is the whole FISIP USU Student class of 2011 and 2012, amounting to 2121 people. The samples using Taro Yamane formula of the population earned 95 respondents from the class of 2011 and 2012. The sampling technique using Proportionate nonprobability sampling where each department determined the number of respondents who would be investigated further using purposive sampling and accidental sampling. The technique of collecting data using questionnaires, to analyze the data of this study using a single table and cross table. Questionnaires in this study was conducted over four days from the date of December 15, 2014 through December 18, 2014.

After the analysis, the obtained 37.9% of students reduce their cigarette consumption after the change tagline warning on cigarette advertising on television became "Smoking kill".

(18)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Perubahan Tagline Peringatan Pada Iklan Rokok dan Perilaku Merokok(Studi Korelasional Perubahan Tagline Peringatan di Iklan Rokok di Televisi Dari “Rokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin” menjadi “Merokok Membunuhmu” dan Perilaku Merokok Mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara). Perubahan tagline peringatan pada

iklan rokok di televisi menjadi “Merokok Membunuhmu” memberi kesan represif dan mengancam untuk mereprentasikan bahaya merokok kepada masyarakat tentu akan menimbulkan berbagai tanggapan dari mereka yang melihatnya. Dalam konteks penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa yang merokok dan tentu mengetahui akan perubahan tagline peringatan pada iklan rokok di televisi tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan tagline peringatan pada iklan rokok di televisi tersebut dengan perilaku merokok mahasiswa khususnya di FISIP USU. Penelitian ini menggunakan metode korelasional kuantitatif, yang bertujuan memberikan persentase pada setiap kategori pertanyaan dari kuesioner. Data yang terkumpul akan diproses sesuai dengan tahapan kemudian ditabulasi dan dianalisis, selanjutnya akan diberikan pembahasan dan menginterpretasikannya. Teori pendukung yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, Teori Komunikasi, Teori Komunikasi Massa, Teori Iklan, Teori 7C, Teori Tagline dan Teori Disonansi Kognitif.

Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh Mahasiswa FISIP USU angkatan 2011 dan 2012 yang berjumlah 2121 orang. Penentuan sampel menggunakan rumus Taro Yamane dari populasi keseluruhan diperoleh 95 responden dari angkatan 2011 dan 2012. Teknik penarikan sampel menggunakan Proportionate Nonprobability Sampling dimana masing-masing departemen ditentukan jumlah responden yang akan di teliti selanjutnya menggunakan Purposive Sampling dan

Accidental Sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner, dalam

menganalisis data penelitian ini menggunakan tabel tunggal dan tabel silang. Penyebaran kuesioner dalam penelitian ini dilaksanakan selama empat hari dari tanggal 15 Desember 2014 sampai 18 Desember 2014.

Setelah melakukan analisis, maka diperoleh 37,9% mahasiswa mengurangi jumlah konsumsi rokok mereka setelah perubahan tagline peringatan pada iklan rokok di televisi menjadi “Merokok Membunuhmu”.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Iklan pada dasarnya merupakan wadah yang kita manfaatkan untuk

mendukung dan membangun realitas dari produk yang kita iklankan. Sehingga

penonton ataupun pembaca yang melihat iklan tersebut akan menjadi yakin bahwa

apa yang diiklankan mewakili hal yang sesungguhnya. Begitu pula dengan iklan

rokok yang banyak memanipulasi pemaknaan iklannya bahwa rokok adalah

produk yang inspiratif, bercita rasa, dan memiliki kesan ekslusif. Para pembuat

iklan rokok meracuni pikiran masyarakat dengan pesan-pesan yang menyesatkan

terutama bagi kaum muda. Iklan rokok adalah iklan yang membawa pesan

subliminal yang merupakan turunan dari teori persepsi subliminal.

Persepsi Subliminal adalah pemikiran bahwa seseorang dapat dipengaruhi oleh rangsangan yang tidak mereka sadari (Severin & Tankard, 2005: 95).

Pertama kali Persepsi Subliminal dikenal secara umum pada tahun 1957 ketika James M. Vicary dari Subliminal Projection Company mencoba menjual sebuah proyektor khusus. Alat itu bisa menampilkan pesan setiap lima detik saat film

berlangsung. Pesan ditampilkan sangat singkat dalam durasi 1/3,000 detik.

Pesan subliminal adalah pesan atau stimulus yang diserap oleh persepsi dan alam otak bawah sadar yang diterima melalui gambar yang diulang-ulang. Pesan atau stimulus cepat melintas sebelum individu dapat memprosesnya, sehingga mengganggu pengolahan pesan. Pesan-pesan

subliminal ini perlahan-lahan akan mempengaruhi dan mengubah pikiran

sadar dari otak seseorang (Shrum, 2010:vii).

Bahrami, dari UCL Institute of Cognitive Neuroscience and the UCL

Department of Psychology, mengatakan: “What's interesting here is that

your brain does log things that you aren't even aware of and can't ever become aware of. We show that there is a brain response in the primary visual cortex to subliminal images that attract our attention -- without us

having the impression of having seen anything”.

Sebuah penelitian yang menggunakan FMRI (functional magnetic

resonance imaging) menunjukkan bahwa, ketika sebuah pesan yang

(20)

komunikan sendiri tidak sadar bahwa dia telah melihat gambar yang diberikan (www.sciencedaily.com)

Sasaran iklan rokok dengan pesan-pesan subliminal yang menyanjung dan menyesatkan itu adalah para kaum muda padahal produk yang mereka tawarkan

adalah benda yang sangat berbahaya. Bayangkan jika para kaum muda Indonesia

terus-menerus diterpa oleh iklan rokok yang manipulatif ini tentu akan semakin

banyak para pemuda dan juga kalangan dewasa yang terpengaruh oleh

propaganda iklan-iklan rokok. Pesan dalam iklan rokok yang mempesona dan

memainkan pikiran dengan menyembunyikan kenyataan bahwa rokok adalah

produk dengan zat adiktif berbahaya harus dapat ditepis dari persepsi oleh siapa

pun yang menonton ataupun melihatnya.

Merokok merupakan kebiasaan yang sangat tidak dianjurkan oleh semua

kalangan karena selain mengganggu kesehatan individu perokok paparan asap

rokok juga berbahaya bagi orang-orang di sekitar perokok. Rokok sangat

berbahaya bagi kesehatan karena menimbulkan berbagai penyakit. Bahaya

penyakit yang dapat ditimbulkan oleh rokok tentu sudah diketahui oleh sebagian

besar orang mulai dari gangguan pernapasan, resiko penyakit jantung, impotensi

dan gangguan pada kehamilan dan janin. Hal tersebut sudah tertera pada tagline peringatan yang berbunyi, “Rokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin” yang terdapat di setiap bungkus produk rokok, iklan-iklan dibaliho pinggir jalan maupun iklan di televisi.

Akan tetapi, tagline peringatan tersebut ditulis dengan porsi jauh lebih kecil dibandingkan gambar iklan yang dimuat pada bungkus rokok, baliho iklan,

ataupun iklan di televisi. Sehingga orang hanya akan memperhatikan gambar

iklan yang mencitrakan produk dibandingkan tagline peringatan yang terlampau panjang tersebut. Namun, saat ini telah muncul tagline peringatan baru yaitu: “Merokok Membunuhmu” disertai dengan angka 18+ yang dilingkari untuk mengingatkan bahwa merokok merupakan aktivitas yang membahayakan dan

hanya boleh dijual kepada mereka yang telah berusia 18 tahun ke atas. Perubahan

ini menyusul berlakunya peraturan pemerintah nomor 109 tahun 2012 tentang

pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa rokok tembakau bagi

(21)

2012,rumusan kalimat “Merokok Membunuhmu” sama sekali tidak ditemukan di sana. Hal ini berarti formulasi kalimat tersebut tidak berasal dari kebijakan

pemerintah. Dalam peraturan ini, hanya ditentukan lamanya durasi pesan

peringatan tersebut harus minimal sepuluh persen dari durasi total sebuah iklan

produk rokok yang disiarkan ditelevisi. Sedangkan untuk iklan yang terdapat pada

baliho dan bungkus rokok besar tulisan peringatan tersebut adalah lima belas

persen dari total besar baliho ataupun bungkus rokok tersebut dan biasanya di

tempatkan pada bagian paling bawah. Maka, jika durasi iklan tersebut tiga puluh

detik berarti durasi munculnya tagline peringatan tersebut adalah tiga detik.

Tagline peringatan tersebut biasanya diletakkan dibagian akhir iklan dengan

durasi sangat singkat. Jika tagline peringatan di iklan rokok masih berisi informasi penyakit yang dapat disebabkan oleh rokok maka pemirsa bisa dipastikan tidak

akan bisa menyelesaikan bacaan tersebut dalam waktu sesingkat itu. Walaupun begitu bila ditelaah lebih jauh, rumusan kalimat “Merokok Membunuhmu” juga belum tentu dapat menjadi rumusan yang paling tepat agar tagline peringatan tersebut dapat dibaca dalam durasi kurang dari lima detik karena disamping durasi

yang terlampau singkat ukuran huruf atau tulisan dari tagline peringatan tersebut sangat kecil sehingga akan luput dari perhatian karena ditelan oleh pesan-pesan

subliminal dari iklan rokok tersebut.

Tagline peringatan yang awalnya berbentuk informatif berubah menjadi

kalimat bersifat represif yang lebih to the point, tidak bertele-tele dan tidak terlalu panjang untuk memberikan pemaknaan pesan yang lebih jelas terhadap bahaya

dari morokok. Makna dari tagline peringatan tersebut memberikan kesan bahwa rokok adalah pembunuh yang paling dekat dengan orang yang merokok.

Pemerintah sebenarnya telah melakukan tindakan serius untuk mengurangi angka

perokok yang ada di Indonesia dengan membuat berbagai peraturan tentang

pemasaran rokok yang tercantum dalam beberapa peraturan pemerintah. Namun,

sesuatu yang cukup ironis terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Ketika di negara-negara maju seperti di Eropa dan Amerika Serikat angka

perokok telah jauh berkurang karena peraturan pemerintah yang ketat terhadap

rokok dan mahalnya bea cukai yang di tetapkan bagi industri rokok membuat

(22)

negara-negara berkembang seperti di Indonesia angka perokok sangat membludak karena

masyarakat dari berbagai kalangan, tua dan muda, pelajar, mahasiswa, karyawan,

pegawai negeri sipil, tentara, polisi, artis, penyanyi, politisi dan pejabat memiliki

kebiasaan merokok. Bahkan anak-anak dibawah umur pun telah ada yang

merokok karena mudahnya akses untuk mendapatkan produk rokok dimana saja

dan dengan harga yang murah. Hal ini tentu memberi efek resiprokal

(timbal-balik) terhadap perkembangan industri rokok di Indonesia yang terus berkembang

semakin pesat.

Tercatat pada tahun 2003 bahwa bea cukai rokok merupakan penyumbang

terbesar (95%) dari seluruh bea cukai pemerintah, dan penghasilan dari bea cukai

rokok mencapai Rp 28 triliun pertahunnya (www.business-law.binus.ac.id).

Secara total, bea cukai rokok menyumbang sembilan persen pendapat nasional

pemerintah saat ini. Bahkan Industri rokok kretek (mesin dan linting) juga

berpengaruh terhadap kesejahteraan rakyat karena dapat membuka lapangan kerja

yang menyerap dua ratus ribu jiwa tenaga kerja langsung dan tidak kurang dari

lima juta jiwa tenaga kerja tidak langsung. Bahkan, data terbaru yang tercatat

dalam APBN 2014, terdapat kenaikan penerimaan bea cukai, dari Rp 104,7 triliun

pada 2013 menjadi Rp 116,3 triliun. Ada kenaikan penerimaan sebesar Rp 11,6

triliun. "Kenaikan target tersebut cukup tinggi," dan bea cukai hasil tembakau

berkontribusi sebesar 95 persen terhadap penerimaan bea cukai

(www.tempo.com). Oleh karena itu, bagi pemerintah pilihan untuk melarang

secara tegas rokok di Indonesia akan menjadi sebuah dilema. Karena, pada satu

sisi rokok adalah musuh utama yang paling mengancam kesehatan masyarakat

luas tetapi di sisi lain industri rokok adalah salah satu pondasi yang menyangga

perekonomian Indonesia. Dengan begitu pemerintah hanya dapat membuat

peraturan-peraturan sederhana yang hanya sedikit membatasi gerak dari geliat

para produsen rokok untuk memasarkan produknya kepada masyarakat dan yang

menjadi sasaran utama dari para produsen rokok adalah para kaum muda terutama

pelajar dan mahasiswa yang sangat mudah dipengaruhi.

Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini peneliti tertarik

(23)

Jantung,Impotensi, dan Gangguan Kehamilan dan Janin” menjadi “Merokok Membunuhmu” terhadap minat merokok mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU). Peneliti memilih lokasi

penelitian di FISIP USU karena dilokasi kampus FISIP USU tidak terdapat

larangan merokok oleh pihak kampus sehingga, banyak ditemukan mahasiswa

yang merokok di sekitar lingkungan kampus FISIP USU. Penelitian ini juga

merupakan salah satu kepedulian dan keprihatinan saya sebagai mahasiswa di

FISIP USU karena melihat banyaknya mahasiswa FISIP USU yang merokok di

areal sekitar kampus tanpa adanya larangan dari pihak kampus terhadap perilaku

merokok di tempat umum terutama di sekitar lingkungan kampus. Kebiasan para

mahasiswa yang merokok di sekitar areal kampus tentu dapat mengganggu

mahasiswa lain yang tidak merokok. Karena kampus seharusnya merupakan

tempat berlangsungnya berbagai kegiatan akademik, bukan sebagai tempat

tongkrongan untuk merokok sembarangan.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut, “Sejauh mana korelasi perubahan tagline iklan rokok dari “Rokok Dapat Menyebabkan, Kanker, Serangan Jantung dan Gangguan Kehamilan dan Janin” menjadi “Merokok Membunuhmu” dan perilaku merokok mahasiswa di FISIP USU.”

1.3Pembatasan Masalah

Untuk membatasi ruang lingkup pembahasan penelitian agar tidak terlalu

luas maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut:

1. Penelitian berfokus pada pengaruh perubahan tagline peringatan di iklan rokok di televisi.

2. Penelitian hanya berupaya mencari korelasi perubahan tagline peringatan di iklan di televisi rokok dengan perilaku merokok mahasiswa di FISIP

USU.

3. Objek yang diteliti adalah mahasiswa FISIP angkatan 2011-2012 yang

masih aktif dalam perkuliahan. Pemilihan populasi tersebut berdasarkan

(24)

belum ada yang wisuda dan juga dengan pertimbangan untuk

mempersempit ruang lingkup penelitian agar tidak memakan waktu yang

terlalu lama.

1.4Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara perubahan tagline di iklan rokok terhadap perilaku merokok mahasiswa di FISIP USU.

2. Untuk mengetahui bagaimana perilaku merokok mahasiswa setelah tagline peringatan di iklan rokok berubah.

1.5Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi

positif terhadap pengetahuan dalam bidang komunikasi sebagai bahan

referensi, bahan penelitian, dan sumber bacaan bagi mahasiswa

Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

dan wawasan bagi peneliti tentang perubahan tagline peringatan iklan rokok terhadap perilaku merokok dan memperdalam pengetahuan peneliti

mengenai teori-teori komunikasi khususnya mengenai iklan.

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada

mahasiswa yang ingin meneliti lebih mendalam tentang pengaruh

perubahan tagline iklan rokok terhadap perilaku merokok dan juga bagi lembaga-lembaga yang kompeten yang memiliki tugas dan wewenang

(25)

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1Kerangka Teori

Kerangka teori menggambarkan dari teori yang mana suatu problem riset

berasal, atau dengan teori yang mana problem itu dikaitkan (Lubis, 1998: 107).

Dalam setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan bepikir

dalam memecahkan atau menyoroti masalahnya. Dalam memberikan kejelasan

pada penelitian ini, peneliti mengemukakan beberapa kerangka teori yang

berkaitan dengan yang dilakukan. Adapun teori-teori yang dianggap relevan

dengan penelitian ini adalah: Komunikasi, Komunikasi Massa, Iklan, Tagline, 7C, dan Disonansi Kognitif.

2.1.1 Komunikasi

Komunikasi merupakan unsur terpenting bagi kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi dengan manusia yang lain. Karena sejarah lahirnya manusia memiliki hasrat untuk menjadi satu dengan yang lainnya. Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris

communication berasal dari bahasa latin, communication, dan bersumber

dari kata communis yang berarti “sama”, yang diartikan sebagai proses penyamaan makna (Effendy, 2007: 9).

Jika ada dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk

percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan

makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan

dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan kata

lain, mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh

bahasa itu. Jelas bahwa percakapan kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif, apabila keduanya selain mengerti bahasa yang dipergunakan, juga mengerti

makna dari materi yang dipercakapkan. Akan tetapi pengertian komunikasi yang

dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam arti kata bahwa komunikasi itu

minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat.

Dikatakan minimal, karena kegiatan komunikasi bukan hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan; melakukan sesuatu perbuatan

(26)

Lasswell (Mulyana, 2005: 62), menerangkan cara terbaik menerangkan untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who Says What In Which Channel To Whom with What Effect?

Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni:

1. Komunikator (Communicator, source, sender) 2. Pesan (Message)

3. Media (Channel)

4. Komunikan (Communicant, communicate, receiver, receipeint) 5. Efek (Effect, impact, influence)

Jawaban bagi pertanyaan paradigma Lasswell merupakan unsur-unsur proses komunikasi yang meliputi komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek (Effendy, 2004: 253).

Muhammad Arni (2005: 5) juga menjelaskan bahwa komunikasi didefinisikan sebagai, “Pertukaran pesan verbal dan non verbalantara si pengirim dengan si penerima pesan untuk mengubah tingkah laku”. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses pengiriman dan penyampaian pesan

secara verbal maupun non verbal oleh seorang komunikator dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat, perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tidak

langsung melalui media. Komunikasi yang baik harus disertai dengan adanya

jalinan pergertian antara kedua belah pihak (komunikator dan komunikan),

sehingga yang apa yang di sampaikan dapat diterima dan dimengerti.

2.1.2 Komunikasi Massa

2.1.2.1 Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi memiliki beberapa cabang ilmu lainnya, diantaranya ialah

komunikasi massa. Banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah

dikemukakan para ahli komunikasi. Banyak ragam dan titik tekan yang

dikemukakan. Namun, dari sekian banyak definisi itu ada benang merah

kesamaan definisi satu sama lain. Pada dasarnya komunikasi massa adalah

komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Sebab, awal

perkembangan kata media of mass communication (media komunikasi massa). Media massa menunjuk pada hasil produk teknologi modern sebagai saluran

dalam komunikasi massa. Agar tidak ada kerancuan dan perbedaan persepsi

(27)

dengan massa dalam pengertian umum. Massa dalam arti komunikasi massa lebih

menunjuk pada penerima pesan yang dalam sikap dan perilakunya berkaitan

dengan peran media massa. Dengan kata lain, massa yang dalam sikap dan

perilakunya berkaitan dengan peran media massa. Oleh karena itu, massa di sini

menunjuk kepada khalayak, audience, penonton, pemirsa, atau pembaca. Beberapa istilah ini berkaitan dengan media massa. Sedangkan mass secara umum

berbeda dengan pengertian massa dalam komunikasi.

Secara umum massa diartikan sebagai orang yang tidak saling mengenal, berjumlah banyak, anggotanya heterogen, berkumpul di suatu tempat dan tidak individualistis. Massa memiliki kesadaran diri yang rendah, tidak dapat bergerak dengan terorganisir, tidak bertindak untuk dirinya sendiri melainkan terdapat “dalang” di belakangnya yang berfungsi memanipulasi mereka. Ini berbeda pengertiannya bila dikaitkan dengan ilmu komunikasi. Massa dalam komunikasi lebih merujuk pada penerima pesan media massa atau disebut audience (www.kompasiana.com).

Devito (Nurudin, 2007: 12) menjelaskan definisi komunikasi massa sebagai berikut:“Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditunjuk kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini tidak berarti pula bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang berbentuk audio atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya (televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita).”

Pool (Wiryanto, 2003: 3) menjelaskan:“Komunikasi massa sebagai komunikasi yang berlangsung dalam situasi interposed ketika antara sumber dan penerima tidak terjadi kontak secara langsung, pesan-pesan komunikasi mengalir kepada penerima melalui saluran-saluran media massa, seperti surat kabar, majalah, radio, film atau televisi.”

Komunikasi massa dapat didefinisikan ke dalam tiga ciri, yakni (Severin, Warner J & James W. Tankard, 2005: 4) :

1. Komunikasi massa diarahkan kepada audien yang relatif besar, heterogen dan anonim.

2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum sering dijadwalkan untuk dapat mencapai sebanyak mungkin anggota audien secara serempak dan sifatnya sementara.

(28)

Menurut Dominick (Ardianto dan Lukiati Komala, 2004:15), fungsi komunikasi massa terdiri atas surveillance (pengawasan), interpretation (penafsiran), linkage (keterkaitan), transmission of values (penyebaran nilai) dan entertainment (hiburan). Proses komunikasi massa tidaklah sama dengan media massa (organisasi yang memiliki teknologi yang memungkinkan terjadinya komunikasi massa). Media massa juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan orang perorang (individu) atau organisasi. Media massa yang membawa pesan-pesan publik kepada masyarakat luas juga dapat memuat pesan-pesan pribadi (personal).

Dengan demikian, telah terjadi penyatuan (konvergensi) luas dan

komunikasi dimana garis batas antara bidang publik dan pribadi serta komunikasi

skala luas dan komunikasi individu semakin tidak jelas batasnya (Morissan,

Wardhani dan Hamid. 2010: 8).

2.1.2.2 Unsur-Unsur Komunikasi Massa

Unsur komunikasi pada komunikasi secara umum juga berlaku bagi komunikasi massa. Secara ringkas proses sederhana komunikasi meliputi komunikator mengirimkan pesan melalui saluran kepada komunikan (penerima). Perbedaan komunikasi massa dengan komunikasi pada umumnya lebih berdasarkan pada jumlah pesan berlipat-lipat yang sampai pada penerima.Terkadang penerima bisa menerima pesan yang disampaikan secara serentak di tempat yang berbeda-beda. Dengan kata lain, penerimanya memiliki jumlah yang jauh lebih besar. Ada beberapa unsur dalam komunikasi massa, antara lain (Bungin, 2006: 71) :

1. Komunikator

Komunikator dalam komunikasi massa sangat berbeda dengan komunikator dalam bentuk komunikasi yang lain. Komunikator di sini meliputi jaringan, stasiun lokal, direktur, dan staf teknis yang berkaitan dengan sebuah acara televisi. Jadi, komunikator merupakan gabungan dari berbagai individu dalam sebuah lembaga media masa. Dengan demikian, komunikator dalam komunikasi massa bukan individu, tetapi kumpulan orang yang dominan, pada akhirnya ia akan terbatasi perannya oleh aturan kumpulan orang. Kumpulan orang itu bisa disebut organisasi, lembaga, institusi, atau jaringan. Jadi, apa yang dikerjakan oleh komunikator dalam komunikasi massa itu “atas nama” lembaga dan bukan atas nama masing -masing individu dalam lembaga tersebut.

2. Isi

(29)

massa tidak sekadar memberitakan, tetapi juga mengevaluasi dan menganalisis setiap kejadian tersebut.

3. Audience

Audience yang dimaksud dalam komunikasi massa sangat beragam, dari jutaan penonton televisi, ribuan pembaca buku, majalah, koran atau jurnal ilmiah. Masing-masing audience berbeda satu sama lain di antaranya dalam hal berpakaian, berpikir, menanggapi pesan yang diterimanya, pengalaman, dan orientasi hidupnya. Akan tetapi, masing-masing individu bisa saling mereaksi pesan yang diterimanya.

4. Umpan balik

Ada dua umpan balik (feedback) dalam komunikasi, yakni umpan balik langsung (immediated feedback) dan tidak langsung (delayed feedback). Umpan balik langsung terjadi jika komunikator dan komunikan berhadapan langsung atau ada kemungkinan bisa berbicara langsung. Misalnya, dalam komunikasi antarpribadi yang melibatkan dua orang atau komunikasi kelompok. Umpan balik secara tidak langsung, misalnya bisa ditunjukkan dalam letter to the editor/surat pembaca/pembaca menulis. Dalam rubrik ini biasanya sering kita lihat koreksi pembaca atas berita atau gambar yang ditampilkan media cetak. Tidak terkecuali dengan kritikan yang ditujukan pada pihak media yang bersangkutan. Umpan balik merupakan bahan yang direfleksikan kepada sumber/komunikan setelah dipertimbangkan dalam waktu tertentu sebelum dikirimkan.

5. Gangguan

Ada dua jenis gangguan dalam komunikasi massa, yaitu gangguan saluran dan gangguan semantik. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan dibawah ini:

1. Gangguan Saluran

Gangguan dalam saluran komunikasi massa biasanya selalu ada. Di dalam media gangguan berupa sesuatu hal, seperti kesalahan cetak, kata yang hilang, atau pragraf yang dihilangkan dari surat kabar.gangguan juga bisa disebabkan oleh faktor luar. Misalnya sepanjang menonton acara televisi atau membaca koran ada dua pasang anak-anak yang berkelahi. Salah satu solusi untuk mengatasi gangguan terhadap saluran (misalnya) adalah pengulangn acara yang disajikan.

2. Gangguan Semantik

Gangguan yang berhubungan dengan saluran mungkin ada di mana-mana dan menjadi penghambat dalam komunikasi massa, tetapi tidak demikan halnya dengan gangguan semantik (kata). Semantik bisa diartikan sebagai ilmu bahasa yang mempelajari tentang tata kalimat. Oleh karena itu, gangguan semantik berarti gangguan yang berhubungan dengan bahasa. Gangguan semantik lebih rumit, kompleks, dan sering kali muncul. Bisa dikatakan, gangguan semantik adalah gangguan dalam proses komunikasi yang diakibatkan oleh pengirim atau penerima pesan itu sendiri.

(30)

6. Gatekeeper

Gatekeeper adalah penyeleksi informasi. Komunikasi massa dijalankan

oleh beberapa orang dalam organisasi media massa, orang inilah yang akan menentukan apakah sebuah informasi layak untuk di siarkan atau tidak disiarkan. Semua saluran media massa mempunyai sejumlah

gatekeeper. Mereka memainkan peranan dalam beberapa fungsi. Mereka

dapat menghapus pesan atau mereka bahkan bias memodifikasi dan menambah pesan atau mereka bahkan bisa memodifikasi dan menambah pesan yang akan disebarkan. Mereka pun bisa menghentikan sebuah informasi dan tidak membuka “pintu gerbang” (gate) bagi keluarnya informasi yang lain.

2.1.2.3 Proses Komunikasi Massa

Komunikassi massa berbeda dengan komunikasi tatap muka, karena sifat

komunikasi massa melibatkan banyak orang, maka proses komunikasinya sangat

kompleks dan rumit. Menurut McQuail (dalam Bungin, 2006: 74) proses

komunikasi massa terlihat dalam bentuk:

1. Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala yang besar. Proses komunikasi massa dilakukan dengan mendistribusikan informasi kemasyarakat dalam skala besar, sekali siaran, pemberitaan yang disebarkan dalam jumlah yang luas dan diterima oleh massa yang besar pula.

2. Proses komunikasi massa dilakukan searah, dari komunikator ke komunikan. Jika terjadi interaktif diantara komunikator dengan komunikan, itu sifatnya sangat terbatas. Dalam proses ini komunikatorlah yang mendominasi.

3. Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris, artinya komunikasi yang terjalin bersifat datar dan sementara, tidak berlangsung lama dan permanen.

4. Proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal (non-pribadi) dan tanpa nama. Proses ini menjamin bahwa komunikasi massa akan sulit diidentifikasi siapa yang menjadi penggerak.

5. Proses komunikasi massa juga berlangsung berdasarkan pada hubungan kebutuhan di masyarakat. Seperti televisi dan radio yang melakukan penyiaran, karena adanya kebutuhan masyarakat akan informasi seperti pemberitaan yang ditunggu oleh masyarakat tersebut.

2.1.2.4 Fungsi Komunikasi Massa

Berton mengemukakan, bahwa fungsi aktivitas sosial memiliki dua aspek

(31)

fungsional dan disfungsional. Begitu pula dengan fungsi komunikasi massa,

sebagai aktivitas sosial masyarakat, komunikasi massa juga mengalami hal yang

serupa, beberapa fungsi komunikasi massa adalah sebagai berikut :

1. Fungsi Pengawasan

Fungsi pengawasan ini bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif. Pengawasan dan kontrol sosial dapat dilakukan untuk aktivitas preventif agar mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Media massa merupakan sebuah medium dimana dapat digunakan untuk pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya.

2. Fungsi Social Learning

Fungsi utama dari komunikasi massa melalui media massa adalah melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat. Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan dimana komunikasi massa itu berlangsung. Komunikasi massa digunakan agar penyampaian bisa berlangsung secara efektif dan efisien.

3. Fungsi Penyampaian Informasi

Selain penyampaian pendidikan sosial, ada lagi fungsi utama komunikasi massa yaitu menyampaikan informasi kepada masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan kepada masyarakat dengan luas dan dalam waktu yang cepat sehingga fungsi informatif dapat tercapai dengan cepat dan singkat.

4. Fungsi Transformasi budaya

Fungsi informatif metupakan fungsi statis yang tidak bisa berubah, tapi komunikasi massa memiliki fungsi lain yang bersifat statis yaitu fungsi transformasi budaya. Fungsi transformasi budaya ini menjadi sangat penting terkait dengan fungsi-fungsi lainnya terutama fungsi sosial learning. Komunikasi massa menjadi transformasi budaya yang dilakukan secara bersama-sama dengan semua komponen komunikasi massa, yang didukung oleh media massa. Akan tetapi fungsi transformasi budaya lebih kepada tugasnya yang besar sebagai bagian dari budaya global.

5. Fungsi Hiburan

Seirama dengan fungsi-fungsi lain komunikasi massa juga digunakan sebagai medium hiburan, terutama karena komunikasi massa menggunakan media massa, jadi fungsi-fungsi hiburan yang ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa.

2.1.2.5 Tujuan Komunikasi Massa

Dalam proses komunikasi pasti komunikator memiliki tujuan yang ingin

(32)

tersebut dapat berupa perubahan persepsi, pendapat maupun sikap (Severin &

Tankard, 2008: 13). Adapun tujuan-tujuan dari komunikasi massa, yaitu :

1. Untuk menjelaskan pengaruh-pengaruh komunikasi massa. Pengaruh ini mungkin yang diharapkan seperti pemberitaan kepada masyarakat selama pemilihan atau yang tidak diharapkan seperti menyebabkan peningkatan kekerasan dalam masyarakat.

2. Untuk menjelaskan manfaat komunikasi massa yang digunakan masyarakat. Melihat manfaat komunikasi massa oleh masyarakat menjadi lebih bermakna daripada melihat pengaruhnya. Pendekatan ini mengakui adanya peranan yang lebih aktif pada audiens komunikasi. Ada dua faktor yang digabung untuk memberikan tekanan yang lebih besar pada aktivitas audiens dan penggunaan komunikasi massa daripada pengaruhnya. Salah satu faktornya adalah bidang psikologi kognitif dan pemrosesan informasi. Faktor lain adalah perubahan teknologi dan komunikasi yang bergerak menuju teknologi yang semakin tidak tersentralisasi, pilihan pengguna yang lebih banyak, diversitas isi yang lebih besar dan keterlibatan yang lebih aktif dengan isi komunikasi oleh pengguna individual.

3. Untuk menjelaskan pembelajaran dari media massa.

4. Untuk menjelaskan peranan media massa dalam pembentukan pandangan-pandangan dan nilai-nilai masyarakat. Para politisi dan tokoh masyarakat sering memahami pentingnya peran komunikasi massa dalam pembentukan nilai-nilai dan pandangan dunia seperti mengkritik acara-acara atau film yang didasarkan oleh spekulasi.

2.1.2.6 Peran Media Massa

Komunikasi massa memerlukan media massa dalam prosesnya, Media

massa adalah institusi yang berperan sebagai Agent Of change (Bungin, 2006: 85), yang merupakan pelopor perubahan. Dalam menjalankan paradigmanya media

massa berperan sebagai :

1. Sebagai institusi pencerahan masyarakat, yaitu perannya sebagai media edukasi. Media massa menjadi media yang setiap mendidik masyarakat supaya cerdas, terbuka pikirannya, dan menjadi masyarakat yang maju.

2. Media massa menjadi media informasi, media yang setiap saat menyampaikan informasi kepada masyarakat, dengan informasi yang terbuka dan jujur.

(33)

3. Media massa menjadi media hiburan, media massa menjadi institusi budaya, pendorong agar perkembangan budaya itu bermanfaat bagi manusia dan mencegah budaya yang justru akan merusak peradaban manusia dan masyarakatnya.

2.1.3 Iklan

2.1.3.1 Pengertian Iklan

Iklan bukanlah media massa, tetapi ia mengandalkan pada media untuk

menyampaikan pesannya. Pada awalnya, siaran iklan dipandang sebagai upaya

untuk mempertahankan kelangsungan operasional stasiun penyiaran. Ketika itu,

pendapatan yang diterima dari iklan hanya sebatas untuk membayar listrik,

perawatan peralatan dan gedung atau untuk membayar honor pekerja. Belum ada

pemikiran untuk menjadikan siaran iklan sebagai sumber keuntungan. Namun

lambat laun iklan telah memberikan keuntungan yang besar kepada stasiun

penyiaran.

Pesan tidak hanya disampaikan dalam komunikasi, tetapi pesan juga

disampaikan lewat iklan. Iklan sebagai bentuk dari kegiatan promosi atau

informasi dari perusahaan. Dalam dunia periklanan pesan yang disampaikan

dalam iklan sangatlah penting dalam pencapaian tujuan iklan yang dimaksud,

pemasang iklan harus memperhitungkan apa yang harus disampaikan agar

mendapat tanggapan sesuai dengan yang diinginkan.

Mengenai iklan, Wright memberikan definisi iklan seperti yang dikutip Liliweri (1992: 2) “Iklan merupakan proses komunikasi yang mempunyai kekuatan yang sangat penting, alat pemasaran yang membantu menjual barang, memberikan pelayanan serta gagasan atau ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk informatif persuasif.”

Menurut Effendy (2004), iklan (advertisement) adalah pesan komunikasi yang disebarluaskan kepada khalayak untuk memberikan sesuatu atau untuk menawarkan barang atau jasa dengan jalan menyewa media massa. Sedangkan periklanan adalah kegiatan menyebarluaskan pesan komunikasi kepada khalayak untuk memberikan sesuatu, atau untuk menawarkan barang atau jasa dengan menyewa media massa.

(34)

Masyarakat periklanan Indonesia menddefinisikan iklan sebagai segala

bentuk pesan tentang suatu produk yang disampaikan lewat media, ditunjukkan

kepada sebagian atau seluruh masyarakat (Kasali, 1995: 11).

Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah

organisasi dan produk-produknya yang ditransmisasikan ke suatu khalayak target

melalui media bersifat massa seperti radio, televise, koran, majalah, direct e-mail (pengeposan langsung), reklame luar ruang, atau kendraan umum (Lee, 2007: 3).

Dengan demikian, untuk menampilkan kekuatan iklan tidak hanya sekedar

menampilkan pesan verbal tetapi juga harus menampilkan pesan non-verbal yang

mendukung kekuatan daya tarik iklan.

2.1.3.2 Unsur-unsur Iklan

Menurut Wright (Liliweri, 1992: 24) ada tiga unsur yang harus

diperhatikan dalam melaksanakan iklan sebagai salah satu sarana komunikasi

pemasaran, yaitu:

1. Informasi dikontrol meliputi isi, penggunaan waktu, tujuan dan khalayak sasaran.

2. Teridentifikasi informasi ini dimaksudkan bahwa informasi tidak hanya dikontrol tetapi juga harus mempunyai informasi siapa sponsor yang membiayai media (ruang dan waktu)

3. Media komunikasi massa, iklan menyewa ruang dan waktu sekaligus memakai media dalam menyampaikan pesan.

2.1.3.3 Kategori Iklan

Menurut Vestergaard dan Schroder (Bungin, 2008: 65), iklan

dikategorisasikan sebagai iklan nonkomersial dan iklan komersial.

1. Iklan komersial adalah iklan yang lebih bersifat pelayanan masyarakat. Iklan ini lebih banyak ditujukan sebagai sarana komunikasi pemerintah dengan warga Negara. Iklan semacam ini umpamanya iklan pemilihan umum. Tujuan iklan pelayanan masyarakat sebagai media karitas dan propaganda politik.

2. Iklan Komersial ditandai dengan syaratnya imajinasi dalam proses pencitraan dan pembentukan nilai-nilai estetika untuk memperkuat citra terhadap objek iklan itu sendiri. Sehingga terbentuk image, semakin tinggi estetika dan citra objek iklan, maka semakin komersial objek tersebut.

2.1.4 Tagline

Tagline dalam suatu iklan memegang peranan penting. Tagline adalah

(35)

singkat tujuan komunikasi suatu iklan. Tagline ini merupakan suatu ungkapan pendek berisi pesan yang padat, singkat, jelas dan mudah diingat. Tagline ini bisa disamakan dengan slogan, atau jargon dalam iklan. Penggunaan tagline ini adalah untuk memperkuat kemampuan iklan dalam mencapai sasarannya (Nuradi dkk, 1996: 56).

Peran tagline dalam sebuah iklan merupakan hal yang teramat penting untuk membantu menanamkan sebuah produk yang diiklankan ke benak konsumen. Tagline merupakan sederetan kalimat yang mudah diingat dan mampu merepresentasikan keseluruhan pesan iklan dari produsen kepada konsumen, yang meliputi merek dan karakter produknya, dalam rangka penanaman konsep terhadap produk secara positif kedalam benak konsumen (Ismiati 2000: 230).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tagline adalah bagian dari pesan yang biasanya digunakan sebagai penutup pesan agar konsumen mudah

mengingat isi pesan iklan.

2.1.5Teori 7C

Pesan merupakan hal yang penting di dalam proses komunikasi. Pesan

menurut Cultip dan Center (Ruslan, 1997: 83) dikenal dengan “The 7 C`s of

Communication” antara lain sebagai berikut: 1. Credibility

Komunikasi tersebut dimulai dengan membangun suatu kepercayaan. Oleh karena itu, untuk membangun iklim kepercayaan itu dimulai dari kinerja, baik pihak komunikator dan pihak komunikan akan menerima pesan tersebut berdasarkan keyakinan yang dapat dipercaya, begitu juga tujuannya.

2. Contex

Suatu program komunikasi mestinya berkaitan dengan lingkungan hidup atau keadaan sosial yang tidak bertentangan dan sering dengan keadaan tertentu dan memperlihatkan sikap partisipatif.

3. Content

Pesan yang akan disampaikan itu mempuyai arti bagi audiensinya dan memiliki kecocokan dengan sistem nilai-nilai yang berlaku bagi orang banyak dan bermanfaat.

4. Clarity

Pesan dalam berkomunikasi itu di susun dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh atau mempuyai persamaan arti antara komunikator dengan komunikannya.

5. Continuity and consistency

(36)

dan bervariasi, yang merupakan konstribusi fakta yang ada dengan sikap penyesuaian melalui proses belajar. Isi atau materinya harus konsisten dan tidak membingungkan audiensinya.

6. Channel

Menggunakan media sebagai saluran pesan yang setepat mungkin dan efektif dalam menyampaikan pesan yang dimaksud.

7. Capability of audience

Komunikasi tersebut memperhitungan kemungkinan suatu kemampuan dari audiensinya, yaitu melibatkan berbagai faktor adanya suatu kebiasaan. Kebiasaan membaca atau kemampuan menyerap ilmu pengetahuan dan sebagainya.

2.1.6 Disonansi Kogniti

Teori disonansi kognitif dikemukakan oleh Leon Festinger (1975). Teori disonansi beranggapan bahwa dua elemen pengetahuan “merupakan hubungan yang disonan (tidak harmonis) apabila, dengan mempertimbangkan dua elemen itu sendiri, pengamatan satu elemen akan mengikuti elemen satunya”. Sebagaimana teori-teori konsistensi lainnya, teori ini berpendapat bahwa disonansi, “karena secara psikologis tidak nyaman, maka akan memotivasi seseorang untuk berusaha mengurangi disonansi dan mencapai harmoni/keselarasan” dan “selain upaya itu orang juga akan secara aktif menolak situasi-situasi dan informasi yang sekiranya akan meningkatkan disonansi (Taylor, Peplau, & Sears, 2009: 171) .

Pandangan dasar dari teori ini adalah jika seseorang mempunyai dua

kognisi (ide-ide dan pikiran – pikiran) secara simultan dan saling berkontradiksi, maka orang tersebut akan mengalami disonansi kognitif. (Dayaksini dan

Hudaniah, 2003: 104).

Dissonance (disonansi, ketidaksusaian) didefenisikan sebagai keadaan motivasional aversif yang terjadi saat beberapa perilaku yang kita lakukan tidak konsisten dengan sikap kita. Disonansi selalu muncul terutama jika sikap dan perilaku yang tak selaras itu adalah penting bagi diri kita (Aronson, 1968; Stone & Cooper, 2001 dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009: 171).

Disonansi menimbulkan ketegangan psikologis dan perasaan negatif

(Harmon-Jones, 2000 dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009: 171) dan

konsekuensinya, orang terpaksa mesti mereduksi atau menghilangkan disonansi.

Mereduksi disonansi berarti pula memulihkan konsistensi, atau kesesuaian.

(37)

merasa harus mengubah sikap (Simon, Greenberg, & Brehm, 1995 dalam Taylor,

Peplau, & Sears, 2009: 171). Tetapi yang paling sering, orang memecahkan

problem disonansi antara sikap dan perilakunya dengan cara mengubah sikap.

Para periset telah mengkaji implikasi teori disonansi ini dalam beberapa situasi

yang berbeda (Taylor, Peplau, & Sears, 2009: 171).

Disonansi Setelah Keputusan. Salah satu tindakan yang hamper selalu menimbulkan disonansi adalah pengambilan keputusan. Ketika kita harus memilih dua atau lebih alternatif, pilihan akhir kita biasanya tak konsisten (tidak sesuai) dengan setidaknya beberapa keyakinan kita. Setelah kita mengambil keputusan, semua aspek yang baik dari alternatif yang tidak dipilih dan semua aspek buruk dari alternative yang dipilih adalah tidak konsisten dengan keputusan. Kita bisa mengurangi disonansi ini dengan menaikkan evaluasi kita terhadap alternatif yang dipilih atau menurunkan evaluasi kita terhadap alternatif yang tak dipilih. Setelah membuat keputusan, kita cenderung memperbesar rasa suka kita terhadap apa yang telah kita pilih dan menurunkan rasa suka kita terhadap apa-apa yang tidak kita pilih.

Perilaku yang Bertentangan Dengan Sikap. Beberapa orang memilih kuliah di fakultas hukum karena mereka percaya bahwa mereka bisa membantu orang yang membutuhkan dan miskin dan memperbaiki masyarakat. Tetapi, saat mereka sudah bekerja, banyak dari mereka yang hanya mengerjakan pekerjaan rutin dan tak menarik, yang lebih berhubungan dengan kontrak bisnis dan pajak. Banyak orang yang pada awalnya idealis akhirnya menjustifikasi dan bahkan menikmati pekerjaan mereka itu. Mereka bahkan mulai percaya bahwa tak ada yang bisa dilakukan untuk membantu orang miskin. Ketika seseorang punya satu keyakinan dan melakukan tindakan yang tidak konsisten dengan keyakinan itu, maka akan timbul disonansi. Teori disonansi menyatakan bahwa para sarjana hokum dalam contoh di atas melakukan

attidude-discreapant behavior (perilaku yang berbeda dengan sikap) saat mereka

harus menghabiskan banyak waktu melakukan kerja yang menjemukan. Tetapi keharusan ini menimbulkan disonansi: Perilaku mereka menjadi tidak konsisten (tak sesuai) dengan sikap mereka. Karena sulit untuk mundur dari pekerjaan itu, maka disonansi ini biasanya diredakan dengan mengubah sikap. Seiring dengan berjalannya waktu, para ahli hokum itu akan menyesuaikan sikapnya menjadi lebih konsisten dengan perilakunya.

(38)

bayarannya besar”. Prediksi yang paling menarik dari teori disonansi adalah prediksi yang berkaitan dengan level insentif yang dibutuhkan untuk mengubah sikap. Di satu sisi, harus ada cukup insentif untuk membuat seseorang bertindak berlawanan dengan sikapnya. Tetapi, jika ada terlalu banyak tekanan pada individu atau terlalu banyak insentif untk melakukan tindakan yang bertentangan dengan sikap, maka tidak akan timbul inkonsistensi, dan hanya ada sedikit sekali disonansi yang terjadi. Prinsip ini dinamakan insufficient justification (justifikasi yang tidak mencukupi): Semakin sedikit insentif untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan sikap, semakin besar disonansi yang dirasakan. Perubahan sikap melalui metode ini akan lebih besar dan lebih jelas (Stadler & Baron, 1998 dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009: 174).

Ancaman. Pada prinsipnya, ancaman bekerja seperti insentif. Yakni agar orang ma melakukan pekerjaan yang tidak disukainya, Anda bisa membayarnya atau Anda bisa mengancamnya dengan hukuman. Misalnya ada ancaman denda dan hukuman penjara jika anda tidak mau membayar pajak. Makin besar ancaman maka akan menimbulkan semakin sedikit disonansi dan semakin kecil perubahan sikap yang terjadi. Makin besar ancaman akan menimbulkan lebih sedikit disonansi dan semakin kecil perubahan sikap yang terjadi.

Ada 4 faktor yang diperlukan agar perilaku yang bertentangan dengan sikap menghasilkan disonansi (Festinger dan Carlsmith menyebutnya dengan “the induced compliance paradigm”)( Taylor, Peplau, & Sears, 2009: 174) :

1. Pilihan, yaitu jika individu tidak diberi kebebasan untuk memilih dalam menampilkan perilaku yang bertentangan dengan sikapnya, maka disonansi tak akan timbul.

2. Komitmen, yaitu perilaku yang bertentangan dengan sikap lebih mungkin menghasilkan disonansi jika individu secara psikologis memiliki komitmen terhadap tindakan itu. Dengan demikian jika perilaku itu dilakukan di depan publik maka akan lebih menimbulkan disonansi daripada dilakukan secara pribadi atau tanpa diketahui orang-orang lain.

3. Akibat yang tidak menyenangkan sebagai hasil dari perilaku yang bertentangan dengan sikapnya dapat menimbulkan disonansi.

4. Tanggung jawab pribadi, yaitu agar disonansi terjadi, individu seharusnya merasa bertanggung jawab secara pribadi kepada perilakunya dan beberapa akibat yang tak menyenangkan sebagai hasilnya. Kebebasan memilih adalah salah satu komponen dari tanggung jawab, sebab jelas bahwa orang tak akan bertanggung jawab atas sesuatu yang dipaksa diri mereka untuk melakukannya.

Agar dapat memahami lebih dalam 4 faktor di atas maka lebih lanjut akan

dijelaskan di bawah ini (Taylor, Peplau, & Sears, 2009: 174) :

Gambar

Gambar 1 Model Teoritis
Tabel 1 Variabel Penelitian
Tabel 2 Jumlah Populasi
Jumlah Responden Angkatan 2011 Tabel 3 – 2012
+7

Referensi

Dokumen terkait

3.2.1 Sikap Remaja di Surabaya Terhadap Pesan Peringatan Kesehatan Bahaya Merokok “Merokok Membunuhmu” di Media Televisi ……….…..….... Pendidikan Terakhir

terhadap gambar peringatan bahaya merokok pada kemasan rokok dengan motivasi.. berhenti

Usaha Pemerintah dalam mengatasi masalah ini adalah dengan membuat pesan peringatan bahaya merokok pada label bungkus rokok, spaanduk, dan iklan di televisi maupun di media

Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa persepsi kerentanan yang dirasakan terhadap iklan peringatan bahaya merokok pada kemasan

Analisis Hubungan himbauan pesan gambar peringatan bahaya merokok pada bungkus rokok dan perubahan perilaku perokok, dengan menggunakan indikator sebagai berikut ;

Hal ini menunjukkan bahwa pesan yang terkandung dalam slogan dan gambar peringatan bahaya merokok tersebut dapat dipahami dan memberikan efek kepada responden

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubugan yang positif antara terpaan peringatan risiko bahaya merokok pada kemasan rokok dengan minat berhenti merokok

Karena pengaruh pesan gambar peringatan bahaya merokok pada bungkus rokok relative kecil kontribusinya terhadap perubahan perilaku perokok, maka untuk mengubah perilaku merokok,