Peranan keluarga terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak

84 

Teks penuh

(1)

Dalam penulisan skripsi ini penulis memilih judul “Peranan Keluarga Terhadap Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak”. Keluarga merupakan kesatuan hidup bersama yang pertama dikenal oleh anak. Oleh karena itu keluarga disebut sebagai ”Primary Community”, yaitu sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama.

Melalui berbagai penelitian dan kajian, diketahui bahwa bagi seorang anak, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasaan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. Berbagai problema akhlak atau emosional yang dihadapi para pemuda, seperti narkotika, penyimpangan seksual, tidak disiplin, lari dari rumah, egois dan berbagai problema lainnya secara langsung bersumber dari pendidikan yang salah dari kedua orang tuanya atau orang tua yang tidak peduli terhadap pendidikan anak-anaknya.

Dari kecil anak dipelihara dan dibesarkan oleh dan dalam keluarga. Segala sesuatu yang ada dalam keluarga, baik yang berupa benda-benda dan orang-orang serta peraturan-peraturan dan adat istiadat yang berlaku dalam keluarga itu sangat berpengaruh dan menentukan corak perkembangan anak-anak. Bagaimana cara mendidik yang berlaku dalam keluarga itu, demikianlah cara anak itu mereaksi terhadap lingkungannya.

Keluarga sebagai suatu faktor dasar dalam pembentukan kepribadian anak dimana anak akan menyerap seluruh pengalaman yang ditangkap inderanya tanpa seleksi, pengalaman itu tidak akan hilang dan akan membentuk pola kepribadian.

(2)

Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia hingga hari pembalasan.

Salah satu sarat untuk menyelesaikan studi dan mencapai gelar sarjana Strata Satu (S-1) di Perguruan Tinggi termasuk di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta adalah membuat karya tulis ilmiah dalam bentuk skripsi. Dalam rangka itulah penulis membuat skripsi ini dengan judul :”PERANAN KELUARGA TERHADAP PERKEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK”.

Selama pembuatan skripsi ini tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang dihadapi dan dialami penulis, baik yang menyangkut segi pengaturan waktu, pengumpulan bahan (data) maupun masalah pembiayaan dan lain sebagainya. Namun, berkat hidayah,’inayah Allah SWT dan dengan usaha yang sungguh-sungguh disertai dorongan dan bantuan berbagai pihak, maka segala kesulitan dan hambatan itu dapatdiatasi dengan sebaik-baiknya.Oleh karena itu, penulis merasa wajib memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Yang Maha Agung dan mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga serta menyampaikan penghargaan yang setinggi-tigginya kepada semua pihak yang telah membantu atas terselesaikannya skripsi ini; terutama kepada Dr.Sururin, MA. yang telah membimbing dan mengarahkan serta memberikan petunjuk-petunjuk dan nasihat-nasihat yang berharga kepada penulis.

Selanjutnya, ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan pula kepada:

1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Ketua dan Sekretaris Jurusan PAI, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(3)

4. Ibu Dr. Sururin, M.A. selaku dosen pembimbing yang dengan bimbingan dan kesabarannya meluangkan waktu dan pikiran, perhatian serta arahan untuk membimbing skripsi ini

5. Bapak Dr. Abdul Fattah Wibisono, M.A. selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama perkuliahan berlangsung

6. Pimpinan dan seluruh staff administrasi Perpustakaan Utama, Perpustakaan FITK yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk meluangkan waktu dengan membaca dan meminjamkan buku-buku kepada penulis yang digunakan sebagai referensi yang berkaitan dengan skripsi ini

7. Ayah ibuku tercinta dan tersayang, yang selalu mencurahkan doa, perhatian dan kasih sayangnya setiap saat

8. Teman-teman PAI se-angkatan (2006), khususnya kelas A dan SEJARAH yang telah memberikan semangat, masukan dan saran bagi penulis sehingga selesainya skripsi ini. Pastikan tali silaturahim kita tetap terjalin sampai akhir hayat

9. Teman-teman yang telah meminjamkan referensi-referensi yang terkait dengan skripsi ini, diantaranya Rahmah Khairunnisa, Railla Rafika, Zam-Zam Firdaus, Kholidatunnur “Younk”. Sukses selalu untuk kalian.

10.Kakak-kakak senior. Kak Miratul Hayati yang telah membimbing proposal skripsi saya secara non-teknis, perhatiannya sangat berarti untuk penulis. Kak Khairona Agustina yang telah meminjamkan banyak referensi untuk perkuliahan

11.Bapak dan ibu jamal selaku pemilik kost. Terima kasih atas sarana dan pra-sarananya sehingga memudahkan penulis untuk berangkat dan pulang dari kampus tanpa harus jauh-jauh ke rumah

(4)

14.Dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu penulisan skripsi ini.

Hanya harapan dan do’a semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah berjasa dalam membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhirnya kepada Allah jualah penulis serahkan segalanya dalam mengharapkan keridhoan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi masyarakat umumnya dan bagi penulis, khususnya keluarga, anak dan keturunan penulis kelak. Amien

Jakarta, 03 Agustus 2010

Penulis

(5)

ABSTRAK ... ...i

KATA PENGANTAR ... ..ii

DAFTAR ISI ... ..v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………...………….……….……..1

B. Identifikasi Masalah………...………..6

C. Pembatasan Masalah………...……….7

D. Perumusan Masalah………...………….……...7

E. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian ………...…….…………7

2. Manfaat Penelitian………...………8

F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian……….…………...………8

2. Sumber Data……….………..……….………8

3. Metode Pengolahan Data……….………9

4. Metode Penulisan………...10

5. Sistematika Penulisan……….10

BAB II KELUARGA A. Pengertian Keluarga……….………...…………...12

B. Tujuan Berkeluarga……….…………...………16

C. Fungsi dan Peranan Keluarga 1. Fungsi Keluarga………...………...….………..16

2. Peranan Keluarga………...………19

3. Peranan Keluarga Bagi Pendidikan Anak…………...…………...20

(6)

B. Ranah Kecerdasan Emosional Menurut

Goleman……….………....….….…..26 C. Ranah Kecerdasan Emosional Menurut Howard

Gardner………..………...….…….31 D. Perbandingan Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman dan

Howard Gardner; Sebuah Analisis………..……..….32 E. Kecerdasan Emosional Melengkapi Kecerdasan Intelektual…………...33 F. Fungsi Emosi Sebagai Pengembangan Intelektual………35

BAB IV KETERKAITAN ANTARA KELUARGA DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK

A. Keluarga Sebagai Wahana Pertama dan Utama Pendidikan Karakter

Anak………..………...…..………..39 B. Aspek-Aspek Penting dalam Pendidikan Karakter Anak……..…...……41 C. Pola Asuh Menentukan Keberhasilan Pendidikan Karakter Anak dalam

Keluarga ………..………..…………42 D. Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Pendidikan Anak-Anak……...47

BAB V UPAYA-UPAYA UNTUK MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK

A. Peran Orang Tua………50

B. Peran Lingkungan Keluarga………..64

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan……….….………..68

B. Saran……….….………68

(7)
(8)

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Jurusan Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil jiplakan orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Jurusan Pendidikan Agama Islam pada fakultas Ilmu Tarbiiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Agustus 2010

Aditya Ramadhan NIM: 106011000028

(9)
(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keluarga merupakan kesatuan hidup bersama yang pertama dikenal oleh

anak. Oleh karena itu keluarga disebut sebagai “Primary Community”, yaitu

sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama.1

Keluarga disebut sebagai lingkungan pertama karena dalam keluarga

inilah anak pertama kalinya mendapatkan pendidikan dan bimbingan. Dan

keluarga disebut sebagai lingkungan pendidikan yang utama karena sebagian

besar hidup anak berada dalam keluarga, maka pendidikan yang paling banyak

diterima oleh anak ialah di dalam keluarga.

Tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini. Para orang tua

menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah atau pesantren.

Mereka menganggap lembaga-lembaga itu seperti bengkel ketok magic yang dapat menyulap anak bengal menjadi insan shaleh dalam hitungan jam. Orang

tua banyak yang beranggapan bahwa anak penyejuk mata dan jiwa itu seperti

fast food yang dapat dipesan antar, yang penting orang tua punya uang untuk itu. Sebagian orang tua lupa, bahwa anak penyejuk mata dan jiwa itu adalah hasil

       

(11)

dari sebuah proses pembentukan yang berkesinambungan. Jika di sekolah

anak-anak diajari nilai-nilai Islam, maka setiba di rumah seringkali nilai-nilai itu

dilunturkan oleh kenyataan bahwa orang tuannya sendiri tidak shalat dan tidak

menunjukkan nilai-nilai Islam.2 Orang tua zaman sekarang yang pada umumnya

pasangan suami-istri yang berkarier atau bekerja dari pagi hingga malam,

beranggapan bahwa untuk mengembangkan pribadi anak dengan mendidik dan

mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik ialah

tugas utama guru atau ustadz di sekolah maupun pesantren.

Hal itu tidaklah salah, tetapi perlu diluruskan. Sebelum menyerahkan

pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, orang tua harus “membentuk karakter”

anak di dalam keluarga. Orang tua harus menanamkan nilai-nilai agama,

perilaku terpuji, kedisiplinan dan bagaimana bersikap terhadap orang yang lebih

tua atau guru dan teman sebaya. Di samping memberikan pengajaran, yang

paling terpenting ialah memberikan keteladanan. Percuma kalau anak diajarkan

akhlak terpuji tetapi orang tuanya berakhlak buruk, tak akan berpengaruh jika

anak diajarkan setiap pagi harus bangun pukul setengah lima tetapi orang tuanya

tidak pernah sholat shubuh bahkan kesiangan. Teladan ini melahirkan gejala

identifikasi positif, yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru dan hal ini

penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian.3 Pengaruh orang tua

sangat penting bagi anak. Pengkhianatannya atas amanat akan menjadi

kejahatan yang panjang. Seorang anak datang ke dunia dengan hati yang bersih

dan fitrahnya selalu menghadap kepada agama yang benar. Kemudian orang

tuanya melakukan tindak pengrusakan terhadap fitrahnya dengan mencabut

benih-benih iman dari hatinya dan menanamkan penyakit dan kedengkian di

dalam jiwanya.4

Imam Ibnul Qayim berkata, “Berapa banyak orang yang mencelakakan

anaknya di dunia dan akhirat dengan menyia-nyiakan pendidikannya dan

       

2 Muhammad Rasyid Dimas, 25 

Cara Mempengaruhi Jiwa&Akal Anak,( Pustaka Al‐ Kautsar : Jakarta,2006), hal. X 

3 Hasbullah, Dasar

Dasar Ilmu Pendidikan, (PT Raja Grafindo Persada : Jakarta,2006),   hal. 42 

4 Dr.Anas Ahmad Karzun, Anak 

(12)

membantunya mengikuti syahwat. Namun demikian, mereka tetap berpikir

bahwa dirinya telah memuliakan anaknya. Padahal dia telah merendahkannya.

Mereka berpikir bahwa dirinya telah menyayanginya. Padahal mereka telah

berbuat zalim kepadanya. Oleh karena itu, mereka tidak akan mendapatkan

manfaat dari anaknya, baik di dunia maupun di akhirat. Jika engkau menemukan

kerusakan pada anak-anak, maka sebagian besar penyebabnya adalah orang

tua.”5

Salah satu fungsi keluarga ialah fungsi sosialisasi, yaitu fungsi keluarga

dalam membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga,

anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan

nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya.6

Tapi saat ini, banyak orang tua yang cukup puas dan senang ketika

anak-anaknya mendapat nilai akademik yang bagus, tetapi tak cukup peduli terhadap

sikap dan tingkah laku anak di luar rumah. Apakah anak sudah mengaplikasikan

nilai-nilai kejujuran, konsisten, memiliki komitmen, dapat menjalin hubungan

sosial dengan orang lain, berintegritas tinggi, berpikiran terbuka, memiliki

kepercayaan diri, adil, empati, sabar, bijaksana, rasa semangat dan lain

sebagainya ? Berdasarkan hasil survey di AS tentang IQ, ternyata ditemukan

sebuah paradoks yang membahayakan. Skor IQ anak-anak makin tinggi,

kecerdasan emosi mereka justru menurun.7 Hal ini juga terjadi di Indonesia,

banyak anak-anak pintar dan cerdas tapi mereka lebih mudah depresi, lebih

cepat putus asa dan mudah marah. Jika kita perhatikan fenomena kehidupan

rumah tangga sekarang ini, kita akan menemukan bahwa banyak kedua orang

tua sangat perhatian terhadap kesehatan fisik anak-anak mereka. Jika salah satu

anak mereka terserang penyakit, mereka akan sibuk dan bergegas untuk

mengobatinya. Akan tetapi jika salah satu anak-anak mereka terserang penyakit

dalam akhlak dan perilakunya, mereka tidak terlalu mempedulikannya dan tidak

       

5 Dr.Anas Ahmad Karzun, Anak 

Adalah Amanat, (Qisthi Press :Jakarta, 2006), hal. 4 

6 Drs.Alisuf Subri, Ilmu Pendidikan, (CV Pedoman Ilmu Jaya : Jakarta,1999), hal 15  7 Daniel Goleman, Working 

(13)

merasa sebagai suatu kesalahan. Kemudian keduanya sibuk dengan urusan

masing-masing. Mereka tidak peduli dan tidak menyadari musibah itu.

Disinilah pentingnya peranan keluarga di dalam melatih dan

mengembangkan aspek emosional anak yang akan berpengaruh terhadap sikap

dan tingkah laku anak di dalam maupun di luar rumah. Keluarga, yang di

dalamnya termasuk orang tua dan saudara-saudara yang tinggal satu rumah,

harus menciptakan suasana yang kondusif, edukatif dan menyenangkan agar

anak-anak memiliki mental yang sehat dan emosi yang stabil. Berbeda jika di

rumah tidak terdapat keharmonisan, orang tua selalu bertengkar sehingga

suasana di rumah selalu tegang, pastinya akan berdampak buruk pada mental

dan emosi anak.

Oleh karena itu, nasib seorang anak sampai batas tertentu berada di tangan

kedua orang tuanya, dan ini terkait dengan tingkat pendidikan keduanya, dan

sampai sejauh mana perhatian yang diberikan keduanya dalam mendidik dan

mengajar anak-anaknya. Jika seorang ayah dan ibu benar-benar menunaikan

kewajibannya maka ia telah menjamin kebahagiaan dan masa depan yang cerah

bagi mereka. Di samping itu, mereka juga akan memperoleh keuntungan dengan

memiliki anak-anak seperti ini, dan dengan itu berarti mereka telah melakukan

pelayanan yang besar kepada masyarakat. Karena mereka telah mendidik

individu-individu yang berkualitas dan berguna, dan mempersembahkannya

kepada masyarakat. Dengan demikian, orang tua yang semacam ini akan

mendapat kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Sebaliknya jika mereka bersikap lalai dan masa bodoh dalam menunaikan

tanggung jawab besar ini, berarti mereka telah melakukan pengkhianatan dan

tindak kejahatan besar kepada anak-anaknya, karena dengan memberikan

pendidikan yang salah berarti mereka telah menyiapkan berbagai kesengsaraan

bagi anak-anaknya, dan pengkhianatan seperti ini tidak akan dibiarkan tanpa

balasan pada hari akhirat. Di samping itu, akibat dari pendidikan yang buruk

(14)

Berbagai problema yang dihadapi para pemuda, seperti penyimpangan

seksual, tidak disiplin dan tidak taat pada peraturan, kecanduan narkotika,

pengangguran, tindak pencurian, tindak kejahatan, bunuh diri, lari dari rumah,

putus asa, resah dan gelisah, tidak mempunyai semangat hidup, mementingkan

diri sendiri, tidak percaya diri, lemah kemauan, egois, merendahkan diri sendiri

dan berpuluh-puluh problema akhlak lainnya yang menimpa para pemuda,

secara langsung bersumber dari pendidikan yang salah dari kedua orang tuanya

atau setidaknya hal ini mempunyai peranan yang besar dalam masalah ini.8

Tiga belas abad yang lalu, John Lock berulang-ulang mengatakan bahwa

“akal anak merupakan halaman-halaman putih yang dapat anda ukir dengan

kebaikan dan belajar”. Berbeda halnya dengan pendidikan dan pengajaran pada

saat dewasa, di dalamnya banyak ditemui kesulitan-kesulitan sebagaimana yang

disebutkan oleh peribahasa, “kucing besar tidak akan dapat terdidik”.9 Sebagian

ayah tidak memperhatikan pendidikan anaknya sejak masih kecil. Dampaknya,

ketika anak-anak menapaki usia remaja, mereka akan sulit dibiasakan kepada

kebaikan, dan mereka justru mudah menjadi manusia-manusia yang

menyimpang. Mereka mudah meninggalkan sholat atau malas melakukannya.

Dia akan bergabung dengan teman-teman yang jahat. Ketika itu ayah baru

menyadari dan ia baru ingin meluruskan penyimpangan itu. Ia berpikir bahwa

dengan satu kata atau satu peringatan, ia akan mampu mengembalikan air ke

salurannya. Namun ternyata, ia berhadapan dengan kenyataaan yang pahit,

karena anaknya justru terus berperilaku menyimpang. Itulah akibat

penyia-nyiaan pendidikan akhlak anak sejak kecil.

Jadi, jelas bahwa pendidikan dan bimbingan anak sejak usia dini

mempunyai pengaruh lebih besar terhadap perkembangan emosional (yang akan

berdampak pada perilaku) anak jika dibandingkan dengan pendidikan pada usia

remaja atau beranjak dewasa. Keluarga sebagai suatu faktor dasar dalam

       

8 Ibrahim Amini, Agar 

Tak Salah Mendidik, (Al‐Huda : Jakarta,2006), hal.112 

9 Muhammad Rasyid Dimas, 25 

Cara Mempengaruhi Jiwa&Akal Anak,( Pustaka Al‐ Kautsar : Jakarta,2006), hal. 4 

(15)

pembentukan kepribadian anak dimana anak akan menyerap seluruh

pengalaman yang ditangkap oleh inderanya tanpa seleksi, pengalaman itu tidak

akan hilang dan akan membentuk pola kepribadian. Oleh karenanya, keluarga

menempati urutan pertama dan utama dalam rangka pelaksanaan, pembinaan,

dan pengembangan moral anak. Pendidikan yang diterima anak dari orang

tuanya merupakan dasar dari pembinaan dan pengembangan moral selanjutnya.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merasa tertarik untuk

mengangkat sebuah karya ilmiah dengan judul “ Peranan Keluarga Terhadap

Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita ketahui bahwa betapa pentingnya

kontribusi keluarga agar proses perkembangan aspek emosional anak berjalan

sesuai dengan yang kita harapkan. Berdasarkan kenyataan yang ada, maka

alasan saya membahas peran keluarga disebabkan timbulnya beberapa masalah,

antara lain :

a. Tidak adanya kontribusi dari keluarga berpengaruh terhadap

perkembangan kecerdasan emosional anak

b. Kurangnya kesadaran orang tua bahwa keluarga sebagai lingkungan

pendidikan yang utama dan pertama

c. Mayoritas orang tua lebih menekankan IQ daripada EQ

d. Sebagian orang tua belum memberikan keteladanan yang baik sebagai

modal utama pembentukan kepribadian anak

e. Orang tua kurang memperhatikan sikap dan perilaku anak

f. Aspek emosional anak sangat dipengaruhi oleh keadaan dan kondisi

(16)

C. Pembatasan Masalah

Agar penulisan skripsi ini mempunyai arah dan tujuan yang jelas, maka

penulis membatasi masalah pada peran keluarga terhadap perkembangan

kecerdasan emosional anak.

a. Peranan keluarga ialah tindakan, kewajiban orang tua terhadap

anaknya baik dalam mendidik, membimbing, melindungi dan

menghidupi dengan cara-cara yang tepat dan kondisi keluarga tempat

si anak tinggal.

b. Kecerdasan emosional ialah kemampuan anak untuk memahami

perasaan dan emosi diri sendiri maupun orang lain, sehingga bisa

berinteraksi dengan baik. Kecerdasan emosi juga melahirkan sifat dan

sikap positif seperti percaya diri, jujur, rendah hati, sabar, empati,

bijaksana dan lain sebagainya.

c. Usia anak dibatasi 3-6 tahun. Karena pada usia ini, proses

perkembangan anak sangat pesat. Menurut Freud, pembentukan

kepribadian dan kecerdasan anak terjadi pada masa lima tahun

pertama. Masa ini merupakan masa peka ketika anak mudah sekali

menerima rangsangan baik dari dalam maupun dari luar dirinya.10

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan pokok, yaitu :

“Bagaimana peranan keluarga terhadap perkembangan emosional anak ?”

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

       

10 Indra Soefandi dan S.Ahmad Pramudya, Strategi 

(17)

a. Untuk mengetahui peranan keluarga terhadap perkembangan

kecerdasan emosional anak.

b. Untuk mengetahui upaya-upaya dari keluarga dan orang tua dalam

mengoptimalkan perkembangan emosi anak.

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukkan bagi keluarga

dalam rangka mendidik anak.

b. Dapat memberikan kontribusi dalam rangka mengoptimalkan

pelaksanaan pendidikan karakter di dalam keluarga.

c. Untuk memperluas paradigma berpikir dan khazanah keilmuan dalam

bidang pendidikan Islam di dalam keluarga

F. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Berdasarkan objek penelitian ini, jenis penelitian ini merupakan penelitian

kepustakaan (library research) dengan menggunakan deskriptif analitis, maka

kajian ini murni menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode study

pustaka. Yaitu berusaha mengungkap dan menemukan secara sistematis

berbagai data mengenai peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang

pertama dan utama di dalam mendidik kecerdasan emosional anak.

2. Sumber Data

Jenis data peneliti kumpulkan dari berbagai sumber teks yang berkaitan

dengan pokok permasalahan (data primer) dan sumber-sumber teks

pendukung (sekunder) yang berkaitan dalam penelitian ini. Untuk sumber data

(18)

a. Data Primer (Primary Sources):

1. 25 Cara Mempengaruhi Jiwa&Akal Anak, karangan Muhammad Rasyid Dimas

2. Melejitkan Kecerdasan Emosi (EQ) Buah Hati, karangan Al.Tridhonanto

3. Anak Adalah Amanat, karangan Dr.Anas Ahmad Karzun

4. Melejitkan Kecerdasan Intelektual&Emosional Sang Buah Hati, karangan Dyah Pitaloka, S.Psi

5. Emotional Intelligent Parenting, karangan Amaryllia Puspasari

6. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, karangan Drs. M. Ngalim Purwanto, MP.

b. Data Sekunder (Secondary Sources):

Untuk sumber data sekunder, penulis menggunakan buku yang berjudul:

1. Pendidikan Dalam Keluarga, karangan Dr. M.I. Soelaeman

2. Strategi Mengembangkan Potensi Kecerdasan Anak, karangan Drs.Indra Soefandi dan S. Ahmad Pramudya S.E

3. Ilmu Jiwa Agama, karangan Prof. DR. Hj. Zakiah Daradjat 4. EQ Anak VS EQ Orang Tua, karangan Tutu April.A Suseno

3. Metode Pengolahan Data

Metode yang digunakan untuk mengolah data adalah metode deskriptif

yaitu data yang telah dikumpulkan ditelaah dan dikaji secara objektif dan

proporsional untuk kemudian dianalisis secara komprehensif sehingga akan

nampak jelas rincian jawaban atau permasalahan yang dibahas atau dicari

(19)

4. Metode Penulisan

Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku

“Pedoman Penulisan Skripsi 2007” yang disusun oleh Tim Penyusun Fakultas

Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari enam bab, yang setiap bab

terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan, yaitu :

BAB I, bab ini terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah,

pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,

metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II, dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga

yang terdiri dari pengertian keluarga, tujuan berkeluarga, fungsi dan peranan

keluarga.

BAB III, bab ini menjelaskan tentang kecerdasan emosional yang terdiri

dari pengertian kecerdasan emosional, ranah utama menurut Goleman, ranah

utama menurut Howard Gardner dan kecerdasan emosional melengkapi

kecerdasan intelektual.

BAB IV, bab ini menjelaskan keterkaitan antara keluarga dengan

kecerdasan emosional.

BAB V, bab ini menjelaskan pembahasan inti, yaitu tentang upaya-upaya

yang mengoptimalkan perkembangan kecerdasan emosional di dalam

keluarga.

BAB VI, sebagai penutup, bab ini berisi kesimpulan dari uraian yang

terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan

(20)

mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan perkembangan kecerdasan

(21)

BAB II

KELUARGA

1. Pengertian Keluarga

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia keluarga adalah: “Ibu, bapak dengan

seisi rumah, orang seisi rumah yang menjadi tanggungan dalam masyarakat,

kesatuan kerabat yang sangat mendasar dalam masyarakat.”1

Sedang pengertian keluarga menurut Rohiman Notowidegdo adalah: “Suatu

institusi sosial terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari sepasang suami istri

dan anak-anak yang terkait oleh hubungan biologis, sosial, ekonomi dan

psikologi.”2

Dari pengertian di atas, melihat pengertian keluarga secara sempit yang dapat

diartikan bahwa keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

Sedangkan pengertian keluarga secara luas adalah: “Suatu keluarga inti dengan

       

1 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus 

Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta:  PT.Bina Pustaka,1988), cet.Ke‐1, hal.326 

2 Rohiman Notowidegdo, Ilmu 

(22)

adanya tambahan dari sejumlah orang lain baik yang sekerabat yang secara

bersama-sama hidup dalam satu rumah tangga dengan keluarga inti.

Orang-orang yang sekerabat tersebut bisa berasal dari pihak suami maupun

dari pihak istri seperti kakek, nenek, paman, bibi dan saudara sepupu. Sedangkan

orang lain yang dapat mewujudkan adanya keluarga luas dari suatu keluarga inti

adalah pembantu rumah tangga dan pesuruh yang hidup bersama keluarga inti.

Dengan melihat pengertian keluarga secara sempit dan luas, maka dapat

disimpulkan bahwa keluarga adalah suatu komunitas masyarakat terkecil yang

terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang di dalamnya juga terdapat kerabat dari

pihak suami dan istri serta orang lain yang dapat hidup bersama dalam suatu

rumah tangga.

2. Tujuan Berkeluarga

Pembentukan keluarga dalam Islam bermula dengan terciptanya hubungan

suci yang terjalin antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim

melalui perkawinan yang sah dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat

yang telah ditentukan berdasarkan syariat Islam.

Sudah barang tentu semua orang yang akan menikah mempunyai tujuan dalam

perkawinan. Tujuan-tujuan tersebut selalu baik, misalnya untuk memperoleh

keturunan, menjaga martabat, melindungi wanita dan untuk memelihara akhlak

dan moral, yang kesemuanya itu dilakukan untuk menciptakan suatu keamanan

dan keselamatan manusia dari perbuatan perzinahan.

Begitu juga dalam membentuk suatu komunitas keluarga terdapat

beberapa tujuan yang tentu saja terdapat beberapa tujuan yang tentu saja

memberikan dampak positif dalam kehidupan individu dan masyarakat, sebab

dengan berkeluarga berarti telah mempertahankan kelangsungan hidup manusia

(23)

Tujuan perkawinan adalah sebagai berikut :

a. Membina kehidupan rumah tangga/keluarga yang rukun, tenang dan

bahagia (sakinah)

b. Untuk memperoleh rasa mawaddah, yaitu merasa diri satu nasib dan sepenanggungan, susah sama menderita dan bila senang, maka sama-sama

berbahagia.

c. Saling asih, asuh dan asah (rahmah) dengan penuh cinta kasih.3

Sedangkan tujuan perkawinan lebih jelas tercantum dalam undang-undang

RI No.1 tahun 1974 tentang perkawinan Bab I pasal 1 yang berbunyi :

“Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai

seorang suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (berumah tangga) yang

bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”4

Dari tujuan perkawinan tersebut maka tujuan terpenting dalam keluarga,

menurut syariat Islam adalah sebagai berikut :

a. Mengatur Kebutuhan Biologis

Sejak manusia diciptakan di muka bumi ini, Allah SWT telah memberikan

dan menetapkan berbagai kebutuhan, di antara kebutuhan tersebut adalah

kebutuhan akan biologis (kebutuhan hubungan seksual). Kebutuhan ini sudah

merupakan fitrah manusia dan manusia harus menyalurkan kebutuhan tersebut

dengan baik.

Pernikahan merupakan suatu sarana yang halal untuk laki-laki dan

perempuan melakukan suatu hubungan. Islam menghargai segala sesuatu yang

dapat menghantarkan pada tercapainya tujuan-tujuan mulia dalam melestarikan

sejarah kehidupan manusia yang telah diangkat sebagai khalifah di muka bumi.5

       

3 Ahmad Usman,Petunjuk 

Membina Keluarga Bahagia, (Semarang : CV.Toha Putra,  1976). Cet.Ke‐1, hal.54. 

4 R.Subekti, al

Kitab Undang‐Undang Hukum Perdata, (Jakarta : PT.Pradnya Paramita,  1990), cet.Ke‐22, hal.449 

5 Abu Ahmad Muhammad Naufal, Langkah 

(24)

b. Melestarikan Keturunan yang mulia

Bila pertemuan seorang laki-laki dan perempuan dalam jenjang pernikahan

dipandang sebagai suatu tujuan, maka dalam segi lain dipandang sebagai suatu

sarana untuk terwujudnya keturunan yang mulia.

Selanjutnya keturunan merupakan buah pernikahan, sebab tujuan

penciptaan alam oleh Allah SWT, adanya manusia dan kesempurnaanya. Anak

yang shaleh menurut pandangan Islam merupakan amal kewajiban bagi kedua

orang tua, yang membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.6

Selain sebagai suatu amal kebajikan bagi orang tua, anak merupakan unsur

perhiasan serta kemegahan hidup di dunia selain harta benda. Anak merupakan

harta yang tidak ternilai harganya. Anak merupakan suatu kebanggaan bagi kedua

orang tuanya, namun hendaknya kebanggan tersebut bukan dari sekedar dari

jumlah banyaknya anak, akan tetapi orang tua harus pula memikirkan dan

bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan yang baik bagib anaknya, agar

kelak menghasilkan generasi-generasi baru yang beriman, bertakwa serta

berkualitas. Karena di hari kiamat nanti Rasulullah SAW lebih merasa bangga

mempunyai umat yang berkualitas bukan sekedar umat yang kuantitas.

c. Merasakan hidup bersama

Dengan adanya perkawinan seorang suami istri dapat hidup bersama

dalam membina istri dalam membina rumah tangga yang penuh cinta kasih,

karena itu keduanya harus dapat bekerja sama untuk saling melengkapi satu sama

lain. Dalam berkeluarga suami adalah pemimpin bagi istri, anak dan keluarganya.

Selain itu juga seorang suami harus mengerjakan kewajiban-kewajibannya yang

lain yaitu mencari nafkah, mengurus kehidupan keluarga, berjuang menegakkan

agama Allah dan menciptakan perdamaian seta keselamatan bagi keluarganya.

Semua tugas itu tidak akan dilaksanakan tanpa adanya pendamping di

sisinya, yakni istri yang shalehah. Istri yang senantiasa membantu menyertai serta

       

6 Ibrahim Amini, Kiat 

(25)

menghiburnya atau bahkan yang mampu meringankan beban hidupnya serta

menjaga rumah dan memelihara anak-anaknya.

Dengan demikian, maka suami istri harus dapat bekerja sama dalam

menjalankan semua tugas dan kewajibannya dalam berkeluarga, sehingga dapat

melahirkan dan mendidik anak-anak yang shaleh dan berkualitas.

3. Fungsi dan Peranan Keluarga

a. Fungsi Keluarga

Dalam kehidupan manusia, keperluan dan hak kewajiban, perasaan dan

keinginan keluarga sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan diri

seseorang dan akan binasalah pergaulan seseorang bila orang tua tidak

menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Secara sosiologi keluarga dituntut berperan dan berfungsi untuk

menciptakan suatu masyarakat yang aman, tentram, bahagia dan sejahtera, yang

kesemuanya itu harus dijalankan oleh keluarga sebagai lembaga social yang

terkecil. Dalam buku keluarga muslim dalam masyarakat modern, dijelaskan

bahwa : “Berdasarkan pendekatan budaya keluarga sekurang-kurangnya

mempunyai tujuh fungsi, yaitu fungsi biologis, edukatif, religius, protektif,

sosialisasi, rekreatif dan ekonomi.”7

1. Fungsi Biologis

Fungsi biologis keluarga berhubungan dengan “pemahaman-pemahaman

kebutuhan biologis anggota keluarga”.8 Di antara kebutuhan biologis ini

kebutuhan akan keterlindungan fisik guna melangsungkan kehidupannya,

keterlindungan kesehatan, keterlindungan dari rasa lapar, haus, kedinginan,

kepanasan, kelelahan, kesegaran fisik. Termasuk juga kebutuhan biologis ialah

kebutuhan mendapatkan keturunan dengan melahirkan anak-anak sebagai generasi

penerus dan dengan kata lain kelanjutan identitas keluarga.

2. Fungsi Edukatif

       

7 Jalaludin Rakhmat dan Mukhtar Gandaatmaja, Keluarga 

Muslim dalam Masyarakat  Modern, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1994),cet.Ke‐2, hal.20‐21 

8 M.I. Soelaeman, Pendidikan 

(26)

Yang dimaksud fungsi edukatif ialah “fungsi keluarga yang berkaitan

dengan pendidikan anak khusussnya serta pembinaan pendidikan anggota

keluarga pada umumnya.”9 Fungsi ini mengharuskan setiap orang tua

mengkondisikan kehidupan keluarga menjadi situasi pendidikan yang dapat

mendorong anak-anak untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah

kepada tujuan pendidikan.

Dalam melaksanakan fungsi edukatif ini keluarga sebagai salah satu tri

pusat pendidikan, dalam hal ini orang tua memegang peranan utama dalam proses

pembelajaran anaknya terutama dikala mereka belum dewasa. Kegiatan

pembelajaran orang tua antara lain melalui asuhan, pembiasaan dan contoh

teladan.

3. Fungsi Religius

Fungsi ini berkaitan dengan kewajiban keluarga untuk memperkenalkan

dan mengajak anak serta anggota keluarga lainnya dalam kehidupan beragama

dengan melakukan semua kegiatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran dan

ketentuan agama dengan menuju keridhoan-Nya.

4. Fungsi Protektif

Fungsi protektif (perlindungan) dalam keluarga ini berfungsi “memelihara

merawat dan melindungi si anak baik fisik maupun sosialnya.”

Fungsi ini menangkal pengaruh kehidupan pada saat sekarang dan masa

yang akan datang.

5. Fungsi Sosialisasi

Fungsi sosialisasi berkaitan dengan mempersiapkan anak menjadi anggota

masyarakat yang baik, dalam melaksanakan fungsi ini “keluarga membentuk

kepribadian anak melalui intreraksi social, mempelajari pola-pola tingkah laku,

sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat yang kesemuanya itu

dilakukan dalam rangka perkembangan kepribadiannya.”

6. Fungsi Ekonomis

Fungsi ekonomis keluarga meliputi “pencarian nafkah, perencanaan serta

pembelajaran dan manfaatnya.” Pada dasarnya yang mengemban kesejahteraan

       

9 M.I. Soelaeman, Pendidikan 

(27)

keluarga, termasuk pencarian nafkah keluarga. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa

istri tidak diperkenankan mencari nafkah, namun dalam keadaan demikian

tanggung jawab yang diemban oleh seorang suami tidaklah diserahkan istri

sepenuhnya karena hal ini dilakukannya untuk masa depan anak-anak dan

keluargannya.

7. Fungsi Rekreatif

Fungsi ini tidak harus dengan kemewahan serba ada, melainkan melalui

penciptaan suasana kehidupan yang tenang dan damai. Fungsi rekreatif ini juga

dapat membawa anggota keluarga dalam merealisasikan dirinya dalam suasana

yang bebas dan nyaman sebagai selingan dari kesibukan sehari-hari. Hal ini dapat

juga di dapat dengan mencari hiburan di alam segar bersama keluarga.

Dengan melihat fungsi keluarga di atas, hendaknya dalam pelaksanaan

fungsi haruslah seiring sejalan antara yang satu dengan fungsi yang lain, ketujuh

fungsi tersebut tidak dapat dipisahkan. Sebuah keluarga tanpa fungsi biologis,

maka keluarga akan punah, tidak ada generasi penerus yang akan melanjutkan

identitas keluarga. Tanpa fungsi edukatif generasi yang dilahirkan akan

berantakan, tanpa fungsi religius generasi akan tersesat, tanpa fungsi protektif

tidak ada ketentraman dan kedamaian dalam keluarga, tanpa fungsi sosialisasi

akan muncul generasi-generasi yang memiliki sifat individual yang tinggi, tanpa

fungsi rekreatif rumah tangga terasa membosankan dan meliputi kejenuhan dan

tanpa fungsi ekonomis kesejahteraan rumah tangga akan goyah.

Sedangkan H.Ali Akbar mengemukakan tentang fungsi keluarga sebagai

berikut:

1. Tempat istirahat sesudah kerja fisik mencari nafkah

2. Menumbuhkan rasa cinta kasih dan melestarikannya

3. Mendidik anak (kedua orang tua ialah guru pertama dan utama

dalam bidang ini

4. Mendidik diri sendiri dalam bidang agama seperti sholat

(28)

5. Mendidik anak dalam beribadah, ketabahan, ketekunan belajar,

kesabaran, akhlak, bertutur kata, berpakaian dan lain sebagainya

6. Mendiddik anak dalam bidang kasih sayang, baik di antara mereka

maupun terhadap family dan orang lain di tengah masyarakat

7. Mendidik manajemen perbelanjaan untuk tidak boros

8. Mendidik anak dalam menyelesaikan pertikaian dengan

musyawarah.10

b. Peranan Keluarga

Setiap keluarga terdiri atas beberapa anggota keluarga yang

masing-masing anggota keluarga memiliki peranannya sendiri-sendiri sesuai dengan

kedudukannya dalam keluarga yang bersangkutan, sehingga menambah

keharmonisan kehidupan keluarga.

Dalam keluarga sosok seorang ibu sangat diperlukan sebagai pendidik

dasar bagi anak-anaknya, maka dari itu seorang ibu hendaklah seorang yang

bijaksana dan pandai mendidik anak-anaknya. Sesuai dengan fungsi serta

tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga. Peran ibu dalam pendidikan

anak-anaknya adalah sebagai berikut :

1) Sumber dan pemberi kasih sayang

2) Pengasuh dan pemelihara

3) Tempat mencurahkan isi hati

4) Pengatur kehidupan dalam rumah tangga

5) Pembimbing hubungan pribadi

6) Pendidik dalam segi emosional11

Bukan saja peran seorang ibu yang sangat dibutuhkan dalam keluarga.

Tetapi peran seorang ayah juga lebih sangat dibutuhkan dalam membentuk

perkembangan keluarga. Adapun peranan ayah sebagai berikut :

       

10 Ali Akbar, Merawat 

Cinta Kasih Untuk Mewujudkan Keluarga Sejahtera, Membina  Keluarga Bahagia, (Jakarta: Pustaka Antara, 1996), cet.ke 54  

11 M.Ngalim Poerwanto, Ilmu 

(29)

1) Sumber kekuasaan dalam keluarga

2) Penghubung intern keluarga dalam masyarakat/dunia luar

3) Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga

4) Pelindung terhadap ancaman dari luar

5) Hakim yang mengadili jika terjadi perselisihan

6) Pendidik dalam segi-segi rasional.

Begitu pentingnya peranan yang harus dimainkan orang tua dalam

mendidik, sehingga banyak pakar pendidikan, seperti yang dikatakan oleh Ki

Hajar Dewantara bahwa “Alam keluarga itu buat tiap-tiap orang adalah alam

pendidikan yang permulaan.”12 Maksudnya adalah bahwa orang tua pendidik,

penuntun dan pengajar yang pertama bagi anak-anaknya.

Peranan keluarga sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan jiwa

anak, apabila orang tua salah mendidik maka anaknya pun akan mudah terbawa

arus kepada hal-hal yang tidak baik, maka dengan adanya peranan masing-masing

hendaknya orang tua saling melengkapi sehingga dapat membentuk keluarga yang

utuh dan harmonis dan dapat menjalankan perintah agama dengan sebaik-baiknya.

c. Peranan Keluarga Bagi Pendidikan Anak

Anak merupakan titipan (amanah) dari Allah SWT. Setiap anak yang

dilahirkan dalam keadaan suci, sebagaiman sabda Rasulullah SAW :

ﺎ آ

ﺎﺴ

وأ

اﺮﺼ

وأ

ادﻮﻬ

اﻮ ﺄ

ةﺮﻄ ا

ﺪ ﻮ

ﻻإ

دﻮ ﻮ

ءﺎ ﺪ

ﺎﻬ

نﻮﺴﺤ

ه

ءﺎ

ﺔ ﻬ

ﺔ ﻬ ا

Setiap anak dilahirkan itu dalam keadaan suci, maka orang tuanyalah yang menjadikan anak menjadi yahudi, nasrani dan majusi”. (HR. Muslim).13

Hadits di atas menyatakan orang tua merupakan pemeran utama dalam

mendidik anak-anaknya. Secara kodrati bayi dilahirkan dalam keadaan suci,

keluargalah yang membesarkannya menjadi baik atau buruk. Keluarga dan

(30)

pendidikan dalam keluarga berpengaruh, bahkan dapat menghilangkan sifat-sifat

khas yang diwarisinya. Yang dimaksud fitrah dalam hadits di atas ialah potensi

yang dibawa oleh anak semenjak lahir. Orang tua dalam hal ini bertanggung

jawab untuk selalu mengembangkan potensi tersebut agar lebih baik. Dalam

konsep Islam, keluarga adalah penanggung jawab utama terpeliharanya potensi

tersebut.

Para ahli pendidikan dan para ahli ilmu jiwa sepakat bahwa menanamkan

pendidikan pada anak sejak dini (dalam rumah tangga) adalah masalah yang

strategis. Kita ketahui bahwasannya pendidikan dalam keluarga merupakan

pendidikan pertama dan utama. Disini anak didik sepanjang waktu dan meliputi

berbagai bidang kehidupan, seperti kesehatan, kebersihan, sopan santun

pergaulan, disiplin pribadi, tanggung jawab, kerja sama, pengenalan kehidupan

keagamaan dan lain sebagainnya. Hal ini akan mempunyai pengaruh yang sangat

mendalam bagi pembentukan kepribadian anak dan watak kepribadiannya di masa

yang akan datang, karenanya, suatu rumah tangga yang di dalamnya penuh

dengan liputan kasih sayang dan suasana keislaman, maka akan tumbuh menjadi

pribadi-pribadi yang wajar. Sedangkan dalam suatu rumah tangga yang di

dalamnya telah terputus hubungan kasih sayang dan cinta, penuh dengan suasana

muram, maka dari rumah tersebut akan tumbuh pribadi-pribadi yang tidak

diinginkan. Mereka kelak akan menjadi beban bagi masyarakat dan orang-orang

yang berada dalam rumah itu sendiri.

Hubungan orang tua yang efektif penuh kemesraan dan tanggung jawab

yang didasari oleh kasih sayang yang tulus, menyebabkan anak-anaknya akan

mampu mengembangkan aspek-aspek kegiatan manusia yang pada umumnya

ialah kegiatan yang bersifat individual, kegiatan social dan keagamaan.14

Suasana keluarga yang baik sekurang-kurangnya harus ditunjang oleh 3

faktor antara lain:15

1. Keluarga dapat memberikan suasana emosional yang baik bagi

anak-anak, misalnya perasaan senang, aman, disayangi dan dilindungi.

       

14 Hasan Basri, Keluarga Sakinah, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar 1995) cet. Ke ‐2, hal.90  15 Drs. Hery Noer Aly, MA, Ilmu 

(31)

Suasana ini dapat tercipta apabila kehidupan rumah tangga diliputi

suasana yang sama.

2. Mengetahui dasar-dasar kependidikan terutama yang berkaitan

dengan kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap

perkembangan mental anak. Lebih lanjut, orang tua juga bertanggung

jawab pada tujuan dan isi pendidikan yang diberikan kepada anaknya.

3. Bekerja sama dengan lembaga pendidikan dimana orang tua

memberikan amanatnya dalam mendidik anaknya. Bentuk kerja sama

ini antara lain menyangkut anak belajar dan mengerjakan pekerjaan

rumah (PR) dari lembaga pendidikan tersebut.

Berdasarkan pandangan di atas, Pendidikan Islam dalam kerangka tauhid

harus melahirkan dua kemestian strategis sekaligus, yaitu:

1. Menjaga keharmonisan untuk meraih kehidupan yang abadi dalam

hubungannya dengan Allah.

2. Melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan dalam

hubungannya dengan alam lingkungan dan sesamanya.

Menurut Utami Munandar bahwa secara umum keluarga (orang tua)

mempunyai tiga peranan terhadap anak, yaitu :16

1. Perawatan fisik anak, agar anak belajar tumbuh berkembang dengan

sehat.

2. Proses sosialisasi anak, agar anak menyesuaikan diri terhadap

lingkungannya.

3. Kesejahteraan psikologi dan emosional anak.

Segala sesuatu yang telah dilakukan oleh orang tua kepada anak

merupakan pembinaan kebiasaan yang akan tumbuh menjadi tindakan moral di

kemudian hari. Dengan kata lain, setiap pengalaman anak baik yang diterimannya

melalui penglihatan, pendengaran dan perlakuan pada waktu kecil akan menjadi

       

16 Utami Munandar, Membina 

(32)

kebiasaan yang akan tumbuh di kemudian hari. Karena itulah orang tua sangat

penting dan besar pengaruhnya terhadap pendidikan anak.

Dengan demikian, keluarga memiliki peranan yang sangat strategis dalam

pembentukan kepribadian anak yang tangguh. Oleh karena itu, di bawah ini akan

dibahas secara rinci mengenai peranan masing-masing anggota keluarga dalam

menyiapkan generasi yang berkepribadian tangguh.

1. Peranan Ayah

Pria adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ayah adalah sebagai pemimpin

dalam keluarga, pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana

dijelaskan dalam Al-Quran :

(33)

Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa secara fitrah, baik

secara fiologis maupun psikologis maka suami yang mempunyai otoritas dan

tegas untuk memimpin, membela dan melindungi keluarga.17

Adapun peran seorang ayah dalam keluarga, Singgih dan Y. Singgih D.

Gunarsa mengatakan antara lain :

a. Ayah sebagai pencari nafkah

b. Ayah sebagai suami yang dapat memberikan rasa aman

c. Ayah berpartisipasi dalam pendidikan anak

d. Ayah sebagai pelindung atau tokoh yang tegas, bijaksana dan

mengasihi keluarga.18

2. Peranan Ibu

Sebagaimana ayah, maka ibu pun mempunyai peranan yang sangat

Sentral dan penting dalam keluarga. Dengan adanya peran serta dari seorang ibu,

maka akan terciptalah keluarga yang bahagia. Adapun peranan ibu yang dimaksud

antara lain :

a. Memenuhi kebutuhan fisiologis dan praktis

b. Peranan ibu dalam merawat dan mengurus keluarga dengan sabar,

mesra dan konsisten’

c. Peran ibu sebagai pendidik yang mampu mengatur dan

mengendalikan anak.

d. Ibu sebagai contoh tauladan

e. Ibu sebagai manajer yang bijaksana

f. Ibu memberi rangsangan dan pelajaran

g. Peran ibu sebagai istri

       

17 Ali Akbar, Merawat 

Cinta Kasih Untuk Mewujudkan Keluarga Sejahtera, Membina  Keluarga Bahagia, (Jakarta: Pustaka Antara, 1996), cet.ke 30 

18 Singgih D.Gunarsa dan Y D.Gunarsa, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 

(34)

Tugas dan tanggung jawab di atas merupakan syarat yang harus dipenuhi

dan dilaksanakan oleh suami istri dalam hal ini peranan ayah dan ibu dalam

keluarga.

Apabila kesemuanya itu dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka

(35)

BAB III

KECERDASAN EMOSIONAL A. Pengertian Kecerdasan Emosional

Istilah “Kecerdasan Emosional” pertama kali dilibatkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Solovey dari Harvard University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.1

Menurutnya kualitas-kualitas itu meliputi : empati, mengungkapkan dan memahami perasan, mengendalikan amarah, kemandirian, menyesuaikan diri, disukai, kemampuan menyelesaikan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat.

Menurut Bar-Ojn kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan keterampilan yang dapat mempengaruhi keberhasilan seseorang

      

1 Tutu April A.Suseno, EQ 

(36)

dalam mengatasi tuntutan oleh tekanan lingkungan dan secara langsung memepengaruhi seluruh kesejahteraan psikologi individu.2

Menurut Goleman Emotional Intelligence adalah kemampuan seseorang

mengatur kehidupan emosinya dengan inteligen (to manage our emotional life with intelligence) menjaga keselarasan emosi dan mengungkapkannya (the appropriatnesss emotion and its expression) melalui keterrampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan social.3

Dalam definisi Goleman yang lainnya, kecerdasan emosional yaitu

kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain,

kemampuan memotivasi diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.4

Kecerdasan emosi mencakup kemampuan yang berbeda-beda, tetapi saling

melengkapi, dengan kecerdasan akademik (academic intelligence), yaitu kemampuan-kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ. Meskipun IQ tinggi

tapi kecerdasan emosi rendah tidak banyak membantu. Banyak orang cerdas, dalam

arti terpelajar, tetapi tidak mempunyai kecerdasan emosi, ternyata bekerja menjadi

bawahan orang yang IQ-nya lebih rendah tetapi unggul dalam keterampilan

kecerdasan emosi.5 Berikut ini akan dijabarkan mengenai keselarasan atau lebih

popular dengan Ranah utama Goleman.

B. Ranah Kecerdasan Emosional Menurut Goleman

1) Kesadaran Diri

Orang dengan kecakapan ini :

a. Tahu emosi mana yang sedang mereka rasakan dan mengapa

      

2 Sri Lanawati, Hubungan 

antara EI dan IQ Dengan Prestasi Belajar, Tesis, (Jakarta,  Universitas  Indonesia,1999), hal.66 

3 Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional, (Jakarta:Pt Gramedia Pustaka Utama,2000), cet 

ke‐1, hal.53 

(37)

b. Menyadari keterkaitan antara perasaan mereka dengan yang mereka pikirkan,

perbuat, dan katakan

c. Mengetahui bagaimana perasaan mereka mempengaruhi kinerja

d. Mempunyai kesadaran yang menjadi pedoman untuk nilai-nilai dan

sasaran-sasaran mereka.6

Menurut Richard kecakapan ini memusatkan perhatian, kesadaran tentang

adanya instrument ukur batiniah dan sinyal-sinyal samar yang menginformasikan

perasaan sebagai pedoman untuk menuntun kerja. Instrumen tersebut biasa dikenal

dengan intuisi yang bekerja di dalam logika bawah sadar. Intuisi berkaitan dengan

kemampuan mengindra pesan-pesan dari gudang penyimpanan memori emosi kita

tempat tersimpannya kebijaksanaan dan kearifan sendiri. Kemampuan ini terdapat di

pusat kesadaran diri.

Kesadaran diri menuntut seseorang untuk dapat mengenal, memahami

kualitas, intensitas dan durasi emosi yang sedang berlangsung. Kesadaran akan

intensitas emosi dapat member informasi sejauh mana individu dipengaruhi oleh

kejadian itu. Intensitas emosi yang tinggi cenderung memotivasi individu untuk

bereaksi dibandingkan intensitas emosi yang rendah.

Sungguh sangat tidak beruntung bagi orang-orang yang rendah emosinya

karena orang-orang ini tidak mengenali emosinya sendiri. Dengan kata lain mereka

buta emosi, terhalang dari dunia realitas yang sangat penting untuk sukses dalam

hidup secara keseluruhan, termasuk kerja. Apabila individu tidak mampu untuk

mencermati perasaan yang sesungguhnya, dia berada dalam kekuasaan perasaan.

Karena itu, tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya akan berakibat buruk bagi

pengambilan keputusan akan masalah.7 Dengan demikian orang yang tidak mengenal

emosinya sendiri maka yang lebih tampak dan lebih detail adalah dunia luar

      

6 Daniel Goleman, (Alih Bahasa: Alex Tri Kantjoro), Kecerdasan 

Emosi Untuk Mencapai  Puncak Prestasi, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2003), cet ke‐5, hal.84‐342 

7Al.Tridhonanto, Melejitkan 

Kecerdasan Emosi (EQ) Buah Hati. (Jakarta, PT Elex Media  Komputindo : 2009), hal. 6 

(38)

dibandingkan dunia batiniahnya. Mereka juga susah membedakan emosi yang baik

dan yang tidak, ini dikarenakan rentang emosi yang terbatas. Sebuah emosi sangat

erat kaitannya dengan hati dimana di dalam hati sebuah perkara baik dan buruk dapat

dibedakan secara nyata. Namun hati yang sesuai dengan fitrahlah yang dapat

melakukan itu dan bukan hati yang buta.

Ari Ginanjar Agustian menjelaskan untuk mendapatkan hati yang sesuai fitrah

dengan cara : mengingat nama-nama Allah secara berulang-ulang, melalui ucapan,

pikiran, dan hati sekaligus mampu mendorong pikiran menjadi suci dan bersih,

sehingga membekas di hati. Ucapan Subhanallah (Maha Suci Allah) harus ditetapkan

untuk membangun kekuatan pikiran bawah sadar, sehingga akan mendarah daging di

dalam diri kita menjadi suatu kekuatan, itulah yang disebut “Repetitive Magic

Power”, yang akan menghilangkan pengaruh-pengaruh buruk.8

2) Pengendalian Diri

Pengendalian diri adalah kemampuan mengendalikan emosi sendiri dan

mengelola emosi agar dapat terungkap dengan selaras.

Orang dengan kecakapan ini :

a. Mengelola dengan baik perasaan-perasaan impulsif dan emosi-emosi yang

menekan mereka. Perasaan seseorang dikatakan dikelola dengan baik, bila

individu mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas

kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan, dan bangkit kembali dengan

cepat dari semua itu.9

b. Tetap teguh, tetap optimis, dan tidak goyah bahkan dalam situasi yang paling

berat

c. Berpikir dengan jernih dan tetap terfokus kendati dalam tertekan

      

8 Ary Ginanjar Agustian, ESQ 

Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (Jakarta:  Arga,2002), cet ke‐7, hal.46 

9Al.Tridhonanto, Melejitkan 

(39)

Tujuan pengendalian emosi itu adalah keseimbangan dan keselarasan dalam

mengungkapkan emosi.

3) Motivasi Diri

Motivasi diri adalah kemampuan untuk bertahan dan terus berusaha

menemukan banyak cara untuk mencapai tujuan. Orang yang memiliki motivasi diri

cukup terampil dan fleksibel dalam menemukan cara alternatif agar sasaran tercapai

atau mengubah sasaran jika sasaran tidak mungkin tercapai juga cukup mampu

memecahkan tugas yang amat berat menjadi tugas kecil yang mudah dijalankan.10

Kecakapan motivasi seseorang diantaranya :

a. Dorongan Berprestasi : Dorongan untuk meningkatkan atau memenuhi

standar keunggulan.

Orang dengan kecakapan ini :

1) Berorientasi kepada hasil, dengan semangat juang tinggi untuk meraih

tujuan dan memenuhi standard

2) Menetapkan sasaran yang menantang dan berani mengambil resiko

yang telah dipenuhi

3) Mencari informasi sebanyak-banyaknya guna mengurangi

ketidakpastian dan mencari cara yang lebih baik

4) Terus bekerja untuk meningkatkan kinerja mereka

b. Komitmen : setia pada visi dan sasaran perusahaan atau kelompok

Orang dengan kecakapan ini :

1) Siap berkorban demi pemenuhan sasaran perusahaan yang lebih

penting

2) Merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar

      

10 Sri Lanawati, Hubungan 

(40)

3) Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan dan

penjabaran pilihan-pilihan

4) Aktif mencari peluang guna memenuhi misi kelompok

c. Inisiatif dan Optimisme: kedua kecakapan kembar yang menggerakan orang

untuk menangkap peluang dan membuat mereka menerima kegagalan dan

rintangan sebagai awal keberhasilan.

Orang dengan kecakapan inisiatif diantaranya:

1) Siap memanfaatkan peluang

2) Mengejar sasaran lebih daripada yang tidak prinsip bila perlu agar

tugas dapat dilaksanakan

3) Berani melanggar batas-batas atau aturan-aturan yang tidak prinsip

bila perlu agar tugas dapat dilaksanakan

4) Mengajak orang lain melakukan sesuatu yang tidak lazim dan

bernuansa peluang.

Orang dengan kecakapan optimisme diantaranya:

1) Tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan

kegagalan

2) Bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal.

3) Memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat

dikendalikan ketimbang sebagai kekurangan pribadi.

4) Empati

Empati adalah kemampuan dalam membaca emosi orang lain, kemampuan

merasakan perasaan orang lain melalui keterampilan membaca pesan non-verbal :

nada bicara, gerak-gerik, ekspresi wajah dan sebagainya.11 Wahana pikiran rasional

      

11 Daniel Goleman, (Alih Bahasa:T.Hermaya) Emotional Intelligence, (Jakarta:Gramedia 

(41)

adalah kata-kata, sedangkan wahana emosi adalah pesan non verbal. Orang yang

mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal, menunjukkan lebih pandai

menyesuaikan diri secara emosional, lebih popular, lebih mudah bergaul dan lebih

peka.

5) Keterampilan Sosial

Keterampilan sosial adalah kemampuan menjalin hubungan dengan orang

lain, kemampuan membaca reaksi dan perasaan orang lain. Ada beberapa

keterampilan social yang diungkapkan oleh Daniel Goleman :

a. Memiliki taktik untuk melakukan persuasi

b. Mengirimkan pesan yang jelas dan meyakinkan

c. Kepemimpinan : membangkitkan insipirasi dan memandu kelompok dengan

orang lain

d. Manajemen konflik : negosiasi dan pemecahan silang pendapat.

e. Kolaborasi dan Kooperasi : kerja sama dengan orang lain demi tujuan

bersama

Keterampilan social juga sangat berpengaruh untuk menciptakan sebuah

keputusan suatu masalah dalam kelompok, sehingga keterampilan ini mutlak

diperlukan guna mencapai mufakat.

C. Ranah Kecerdasan Emosional Menurut Howard Gardner

Kecerdasan emosi menurut Howard Gardner terdiri dari dua kecakapan yaitu

intrapersonal intelligence dan interpersonal intelligence.

Kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence) terkait dengan

kepandaian untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Kecerdasan ini

menuntut seseorang untuk memahami, bekerja sama, dan berkomunikasi. Serta

      

11 Lauren Schmidt, Jalan 

Menuju 7 Kali Lebih Cerdas, (Bandung: Kaifa,2002), cet ke‐1, hal.36   

(42)

memelihara hubungan baik dengan orang lain.12 Sedangkan kecerdasan intrapersonal

tidak cepat puas dengan hasil pekerjaan mereka. Mereka memiliki pengetahuan

dengan dirinya, terutama kepekaan terhadap nilai, tujuan dan perasaan mereka.

Sifat-sifat tersebut membuat mereka mandiri, penuh percaya diri, punya tujuan, dan

disiplin.13

Seperti yang diajarkan Islam bila seseorang telah memahami dirinya sendiri

dengan baik maka akan baik pula mengenal dan memahami orang lain yang

berpangkal pada pengenalan Tuhan.

D. Perbandingan Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman dan Howard Gardner; Sebuah Analisis

Perbandingan Kecerdasan Emosional Menurut

Daniel Goleman dan Howard Gardner

Ranah Daniel Goleman Ranah Howard Gardner

a. Kesadaran Diri (mengenal emosi

dalam diri)

b. Pengendalian Diri (sabar, teguh,

optimis dan tidak goyah)

c. Motivasi Diri (dorongan

berprestasi, komitmen, inisiatif

dan optimisme)

d. Empati

e. Keterampilan Sosial

a. Interpersonal Intelligence

(mampu bekerja sama dan

berkomunikasi)

b. Intrapersonal Intelligence

(mandiri, penuh percaya diri,

punya tujuan dan disiplin)

      

12 Lauren Schmidt, Jalan 

Menuju 7 Kali Lebih Cerdas, (Bandung: Kaifa,2002), cet ke‐1, hal.36 

13 Lauren Schmidt, Jalan 

(43)

Daniel Goleman lebih spesifik dan detail dalam membagi unsur-unsur kecerdasan emosional, akan tetapi ranah kesadaran diri, pengendalian diri dan motivasi diri bisa masuk ke ranah intrapersonal intelligence Howard Gardner. Sedangkan ranah empati dan keterampilan sosial Goleman bisa masuk ke ranah

interpersonal intelligence Gardner.

Sejauh pengamatan penulis, belum banyak dari kalangan ilmuwan muslim dan para ulama yang membahas tentang kecerdasan emosional, menurut definisi yang penulis buat, kecerdasan emosional menurut perspektif Islam adalah kemampuan seseorang untuk mengenal atau peka terhadap hati nuraninya atau sesuai kehendak fitrah. Sebagai contoh, pengendalian diri adalah suatu ranah kecerdasan emosional yang dibuat Goleman. Salah satu unsur pengendalian diri ialah sifat sabar, jika seseorang ditimpa musibah, pasti hati nurani selalu berkata “bersabarlah” atau jika kita melihat pengemis dengan pakaian lusuh meminta-minta kepada kita, pasti suara hati berkata “sedekahlah untuk pengemis itu”. Jika mampu mengikuti kehendak hati nurani, maka orang tersebut memiliki kecerdasan emosional.

Hati nurani selalu mengajak manusia kepada kebenaran dan kebaikan, karena suara hati ialah petunjuk Tuhan yang dianugerahkan kepada setiap umat manusia

E. Kecerdasan Emosional Melengkapi Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan dalam arti umum merupakan suatu kemampuan yang dimiliki

seseorang dalam memahami dan menyadari terhadap apa yang dialaminya baik

melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Dalam berpikir biasanya seorang individu

mengalama berbagai hal terhadap apa yang dialaminya sehingga dia mampu untuk

merangkai, merumuskan, membandingkan dan menganalogikan.14

      

14 Al.Tridhonanto, Melejitkan 

(44)

Seorang yang dikatakan cerdas apabila ia dapat bereaksi secara logis dan

mampu melakukan sesuatu yang berguna terhadap apa yang dialami lingkungannya.

Sebelumnya para ahli perkembangan manusia menemukan kecerdasan yang

sifatnya kognitif atau dikenal dengan istilah kecerdasan intelektual sebagai

kecerdasan yang mutlak. Kecerdasan intelektual atau dikenal dengan IQ (Intelligence

Quotient) ialah kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan lingkungan dengan

menggunakan akal sehat sehingga dalam hal ini berhubungan dengan pemahaman

seseorang. Karena itu, pada saat itu teori kesuksesan individu diukur dari sejauh mana

IQ dimiliki seseorang. Bila individu memiliki IQ yang tinggi, ia pun memiliki

harapan untuk sukses dibanding individu yang memiliki IQ rendah.

Namun lambat laun teori itu menjadi perdebatan diantara ahli-ahli psikologi

perkembangan. Pada kenyataanya, individu yang memiliki IQ tinggi tidak selalu

sukses, malah sebaliknya, dimana individu yang memiliki IQ menengah bahkan

rendah mampu meraih sukses dengan sempurna. Seperti yang telah penulis paparkan

sebelumnya bahwa banyak anak-anak pintar dan cerdas di Indonesia maupun di

negara-negara lainnya, tapi mereka lebih mudah depresi, lebih cepat putus asa dan

mudah marah. Sepertinya, dalam kasus tersebut terdapat kejannggalan. Dan,

kejanggalan tersebut disikapi sepenuhnya oleh Daniel Goleman, yakni seorang ahli

psikologi perkembangan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.15

Goleman memaparkan beberapa hasil penelitiannya mengenai kecerdasan lain

dalam kejiwaan manusia, dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence yang

diterbitkannya pada tahun 1995. Ia mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah

inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri

dengan suasana hati individu orang lain, orang tersebut akan memiliki tingkat

emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan

sosial serta lingkungannya. Beliau juga mengatakan bahwa kecerdasan emosional

adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan

      

15 Al.Tridhonanto, Melejitkan 

(45)

dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan, serta

mengatur keadaan jiwa.

Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang mampu menempatkan

emosi secara tepat, memilah kepuasaan dan mengatur suasana hati.

Lambat laun teori kecerdasan emosional inipun disempurnakan oleh ahli

psikologi perkembangan tepatnya pada tahun 1999, yakni oleh Cooper dan Sawaf.

Mereka berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan,

memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber

energy dan pengaruh yang manusiawi. Di dalam kecerdasan emosi menuntut

penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang

lain. Selain itu, mampu menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif

energy emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Di tahun yang sama, dua orang ahli perkembangan juga memiliki pendapat

mengenai kecerdasan emosional. Dua orang ahli tersebut bernama Howes dan

Herald.16 Mereka juga berpendapat bahwa kecerdasan emosional komponen yang

membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Emosi manusia berada di

wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi, bila

diakui dan dihormati, kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih

mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.

Dari pendapat-pendapat para ahli di atas, dapatlah disimpulkan bahwa

kecerdasan emosioanal menuntut manusia agar dapat mengembangkan kemampuan

emosionalnya dan kemampuan sosialnya. Kemampuan emosional sendiri meliputi

sadar akan keadaan emosi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan

memotivasi diri, dan kemampuan menyatakan perasaan kepada orang lain.

Apabila ditinjau lebih dalam, ternyata terdapat tiga unsur yang pokok

mengenai kecerdasan emosional, yakni mengenai kecakapan pribadi (mengelola diri

sendiri), kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial

      

16 Al.Tridhonanto, Melejitkan 

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...