KONSTRUKSI KAUSATIF BAHASA BATAK TOBA
TESIS
Oleh
BESLINA AFRIANI SIAGIAN
127009026/ LNG
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KONSTRUKSI KAUSATIF BAHASA BATAK TOBA
TESIS
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Magister Sains dalam Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Sumatera Utara
Oleh
BESLINA AFRIANI SIAGIAN
127009026/LNG
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : KONSTRUKSI KAUSATIF BAHASA BATAK TOBA
Nama Mahasiswa : Beslina Afriani Siagian Nomor Pokok : 127009026
Program Studi : Linguistik Konsentrasi : Linguistik
Menyetujui, Komisi Pembimbing
(Dr. Mulyadi, M.Hum) (Dr. Eddy Setia, M.Ed.,TESP)
Ketua Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D) (Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc.)
Telah Diuji pada
Tanggal : 07 Agustus 2014
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Mulyadi, M. Hum.
PERNYATAAN
Judul Tesis
Konstruksi Kausatif Bahasa Batak Toba
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan karya ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, 07 Agustus 2014 Penulis,
BUKTI PERBAIKAN TESIS
Judul Tesis : KONSTRUKSI KAUSATIF BAHASA BATAK TOBA Nama mahasiswa : Beslina Afriani Siagian
Nomor Pokok : 127009026 Program Studi : Linguistik Konsentrasi : Linguistik
NO. NAMA TANDA TANGAN TANGGAL
1. Dr. Mulyadi, M. Hum.
2. Dr. Eddy Setia, M. Ed. TESP
3. Prof. Dr. Busmin Gurning, M. Pd.
4. Dr. Namsyah Hot Hasibuan, M. Ling
KONSTRUKSI KAUSATIF BAHASA BATAK TOBA
ABSTRAK
THE CAUSATIVE CONSTRUCTION IN BATAK TOBA LANGUAGE
ABSTRACT
This study examines the causative construction in bBT. This study is based on (1) the specificity of the causative construction as typology studies, (2) the specificity of bBT as the language has its own grammar system, and (3) the importace of syntactic analysis of bBT. The problem of this study is (1) the type of causative construction based on formal and semantic parameters and (2) the structure of the causative construction building. Research data, whether oral or written obtained by instrument through syntactic questionnaire (DCT: Discouse Completion Test). All data is analyzed by the “padan” and “agih” methods, served with formal and informal methods, and tested by the technique of triangulation. The results showed two conclusions. Tipologically, the type of causative bBT based on formal parameters marked by suppletive pairs in lexical causative; affix {-hon}, {-i}, {pa-/ par-}, {pa- -hon}, and {pa- -i} in morphological causative; and causative verbs mambahen, mangido, and manuru in analytic causative; while based on semantic parameters marked by feature (1) [±animate], (2) [±intentionally], (3) [±contact], and [±human] in true and permissive causatives; and the word catagories, types of causative, and structure of verbs in direct and indirect causatives. Syntactically, the causative lexical and morphological structures formed by monoclause, while the analytic causative is formed by biclause structure. The test is used to determine the structure by placing syntactic operations such as negation and modalities on one of the predicate function. Therefore, in the analytic causative, the causative verbs incorporated with basic verb clause to form causative predicate.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Maha pengasih karena berkat dan limpahan kasih karunia-Nya, tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tesis ini diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar magister (linguistik) pada Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa tesis ini dapat diselesaikan karena dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, baik materi maupun moril. Oleh karena itu, penulis menyampaikan pernyataan terima kasih, penghargaan, dan penghormatan kepada pihak-pihak terkait.
Pertama-tama, penulis menyampaikan penghargaan setulus hati kepada dosen pembimbing satu, Dr. Mulyadi, M. Hum. yang penuh dengan kerelaan hati telah memberikan ilmu yang berharga berupa arahan, bimbingan, masukan, waktu, dan kesabaran kepada penulis. Tantangan beliau telah memotivasi penulis untuk bekerja keras dalam menghasilkan temuan-temuan penelitian. Ucapan yang serupa ditujukan kepada dosen pembimbing dua, Dr. Eddy Setia, M. Ed. TESP. yang telah merelakan waktu dan tenaga dalam membimbing dan mengarahkan penulis sehingga tesis ini diselesaikan dengan baik.
pelayanan kebutuhan akademik yang diperoleh penulis; kepada Ketua program Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara, Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D., serta Sekretaris Program Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara, Dr. Nurlela, M. Hum., yang selalu memberikan nasihat kepada penulis dan melengkapi kebutuhan akademik.
Selain itu, ungkapan terima kasih dan rasa hormat disampaikan kepada tim penguji tesis, Prof. Dr. Busmin Gurning, M. Pd., Dr. Namsyah Hot Hasibuan, M. Ling., dan Dr. Nurlela, M. Hum. atas berbagai saran, koreksi, kritik, dan sanggahan yang konstruktif sehingga tesis ini memiliki kualitas yang dapat digunakan sebagai rujukan penelitian selanjutnya.
Pada kesempatan ini, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada staf pengajar pada Program Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara, Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D., Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., Prof. Dr. Aron Meko Mbete, Dr. Mulyadi, M. Hum., Dr. Namsyah Hot Hasibuan, M. Ling., Dr. Eddy Setia, M. Ed. TESP., Dr. Ridwan Hanafiah, M. Hum., Dr. Gustianingsih, M. Hum., Dr. Nurlela, M. Hum., Dr. T. Syarfina, M.Hum, Dr. Abdurrahman Adisaputera, M. Hum. yang telah memperluas wawasan penulis tentang kajian linguistik pada setiap mata kuliah.
Pada kesempatan yang sama, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada staf administrasi Program Magister Lingustik Universitas Sumatera Utara, Yuni dan Nila atas keramahan dan kesantunannya dalam melengkapi kebutuhan akademik penulis.
penulis untuk melanjutkan studi; kepada Rektor Universitas HKBP Nommensen, Dr. Ir. Jongkers Tampubolon, M. Sc. atas kesempatan untuk studi lanjut; kepada Dekan FKIP Universitas HKBP Nommensen, Dr. Tagor Pangaribuan, M. Pd. beserta seluruh Wakil Dekan di kelas Medan atas bimbingan yang diberikan selama ini; kepada Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Elza Saragih, S.S., M.Hum atas pengertiannya yang sungguh besar, dan semua rekan-rekan dosen di FKIP Universitas HKBP Nommensen, Ruth M. Simanjuntak, S.Pd., M.Si., Dame Ifa Sihombing, M.Si., Imelda Novita Siringoringo, S.E., M.Si. (Ak), Erna H. Tampubolon, M.Pd., Linda Septi Yanti Sianipar, S. Pd., M. Pd., dan Rani Farida Sinaga, S. Pd.,M.Si., dan Christin Sitepu, S.Si.,M.Pd.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Camat Balige, Drs. Sahala Siahaan beserta stafnya, Jenni Sihite yang telah memberikan izin dan melengkapi administrasi penelitian yang dibutuhkan oleh penulis. Dalam hal ini, penulis juga menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada informan penelitian, Manasye Lubis, Lumongga Tambunan, Petti Sinambela, serta keluarga Pasaribu yang telah membantu penulis untuk menghimpun data penelitian.
Di atas semua ungkapan itu, rasa terima kasih dan penghormatan yang tinggi disampaikan kepada orang tua penulis, Ibunda D. Br. Rumapea atas kerja keras dan kasih sayang yang tulus sebagai orang tua tunggal dalam memenuhi kebutuhan tujuh orang anak. Perjuangan beliau memotivasi penulis untuk menjalani kehidupan dengan doa dan usaha. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang hangat kepada adik-adik, Adinda Justina Siagian/ Jempiter Sinaga, Pesta Dumaris Siagian, A.Md., Lestarina Siagian, James Siagian, Andar Jaksen Siagian, dan Krisna Siagian atas kesempatan dan doa yang memberangkatkan penulis menapaki pendidikan lanjut. Terima kasih telah menjadi adik-adik yang baik dalam keluarga kita.
Sebagai hasil produktivitas manusia, tesis ini tentu masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran diperlukan untuk memperbaiki kesalahan dalam tesis ini. Penulis mengharapkan tesis ini dapat memberikan kontribusi bagi penelitian linguistik, khususnya bidang tipologi gramatikal.
RIWAYAT HIDUP
I. Data Pribadi
Nama : Beslina Afriani Siagian
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tanggal Lahir : Sei Bamban, 23 April 1988
Alamat : Jalan Parang II, Gang Sejahtera No. 4J, Kwala-Bekala, Medan
Agama : Kristen Protestan
Status : Belum Menikah
HP : 081263828050
Alamat Kantor : Universitas HKBP Nommensen Jalan Sutomo Ujung, No. 4A, Medan
E-mail : [email protected]
II. Riwayat Pendidikan
1994 – 2000 : SD Negeri 102043 Bakaran Batu 2000 – 2003 : SMP Negeri 2 Sei Rampah 2003 - 2006 : SMA Negeri 1 Sei Rampah
2006 – 2010 : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni,
Universitas Negeri Medan
2012- 2014 : Program Studi Pascasarjana Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
III. Riwayat Pekerjaan
1. Pernah mengajar di STKIP Pelita Bangsa Medan
DAFTAR ISI
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
3.4 Prosedur Pengumpulan dan Perekaman Data ... 40
3.5 Analisis Data ... 41
3.6 Pemeriksaaan dan Pengecekan Keabsahan Data ... 46
Catatan ... 49
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 50
4.1 Pengantar ... 50
4.2.1 Parameter Formal ... 50
4.2.1.1 Kausatif Leksikal ... 51
4.2.1.2 Kausatif Morfologis ... 53
4.2.1.3 Kausatif Analitik ... 68
4.2.2 Parameter Semantis ... 70
4.2.2.1 Kausatif Sejati dan Permisif ... 70
4.2.2.2 Kausatif Langsung dan Tak Langsung ... 73
4.3 Struktur Kausatif Bahasa Batak Toba ... 74
Catatan ... 80
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 81
5.1 Pengantar ... 81
5.2 Tipe Kausatif Bahasa Batak Toba... 81
5.2.1 Parameter Formal ... 81
5.2.1.1 Konstruksi Kausatif Leksikal ... 82
5.2.1.2 Konstruksi Kausatif Morfologis ... 87
5.2.1.3 Konstruksi Kausatif Analitik... 97
5.2.2 Parameter Semantis ... 104
5.2.2.1 Kausatif Sejati dan Permisif ... 104
5.2.2.2 Kausatif Langsung dan Tak Langsung ... 110
5.3 Struktur Kausatif Bahasa Batak Toba ... 116
5.3.1 Struktur Kausatif Leksikal ... 116
5.3.2 Struktur Kausatif Morfologi ... 117
5.3.3 Struktur Kausatif Analitik ... 119
5.4 Temuan Penelitian... 123
Catatan ... 126
BAB VI PENUTUP ... 128
6.1 Simpulan ... 128
6.2 Saran ... 131
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
Tabel 1. Jenis Kausatif Analitik ... 13
Tabel 2. Kausatif Berdasarkan Parameter Semantis ... 21
Tabel 3. Jenis Kasus dan Pesebab ... 22
Tabel 4. Perubahan Valensi antara Verba Dasar dan Verba Kausatif ... 23
Tabel 5. Luas Wilayah Berdasarkan Persebaran Kecamatan... 38
Tabel 6. Pelekatan Afiks {pa--hon} pada Kategori Verba Intransitif ... 62
Tabel 7. Pelekatan Afiks {pa--hon} pada Kategori Adjektiva ... 63
Tabel 8. Perbedaan Kausatif Sejati dan Permisif dalam bBT ... 110
Tabel 9. Struktur Logis Verba... 111
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
Gambar 1. Pembagian Kausatif ... 17
Gambar 2. Tingkatan Kedekatan Penyebab dan Pesebab ... 17
Gambar 3. Piramida Haiman ... 20
Gambar 4. Struktur Frasa Berdasarkan Teori X-Bar ... 25
Gambar 5. Diagram Pohon Kalimat Sematan ... 26
Gambar 6. Diagram X-Bar Kalimat Sematan ... 27
Gambar 7. Struktur Dasar Kausatif ... 29
Gambar 8. Kerangka Kerja Teoretis ... 35
Gambar 9. Peta Penutur Bahasa Batak Toba di Kabupaten Toba Samosir ... 38
Gambar 10. Representasi Sintaksis Kausatif Morfologis bBT... 75
Gambar 11. Representasi Sintaksis Kausatif Leksikal bBT ... 76
Gambar 12. Representasi Sintaksis Kausatif Analitik bBT ... 78
Gambar 13. Struktur Kausatif Leksikal bBT... 117
Gambar 14. Struktur Kausatif Morfologis bBT ... 118
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
S : Subjek Spes : Spesifier
Spes FP : Spesifier Frasa Pemerlengkap T : Topik (Partikel)
TOP : Topik
TBL : Toba Batak Language 1TG : Orang Pertama Tunggal 2TG : Orang Kedua Tunggal 3TG : Orang Ketiga Tunggal
V : Verba
V-KAUS : Verba Kausatif VP : Verb Phrase LAMBANG
* : Konstruksi yang meragukan ‘ ʼ : Makna atau terjemahan
“ ˮ : Penegasan bentuk atau bermakna khusus + : Pemilikan ciri semantis
- : Ketiadaan ciri semantis
± : Pemilikan atau ketiadaan ciri semantis / : Konstituen opsional
X : Penyebab Y : Pesebab
( ) : Pengapit nomor data/ kalimat, (2) pengapit keterangan tambahan [...] : Padanan bentuk
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
LAMPIRAN 1 Daftar Informan Penelitian ... 135
LAMPIRAN 2 Discourse Completion Test... 136
LAMPIRAN 3 Data Discourse Completion Test ... 137
LAMPIRAN 4 Pedoman Wawancara ... 139
LAMPIRAN 5 Data Lisan Percakapan Sehari-hari ... 140
LAMPIRAN 6 Data Lisan Acara Adat ... 141
LAMPIRAN 7 Data Tulis Mitos bBT... 145
LAMPIRAN 8 Data Tulis: Materi Seminar ... 148
LAMPIRAN 9 Pemetaan Potensi Afiks Kausatif Morfologis ... 161
LAMPIRAN 10 Surat Izin dari Pascasarjana USU ... 164
KONSTRUKSI KAUSATIF BAHASA BATAK TOBA
ABSTRAK
THE CAUSATIVE CONSTRUCTION IN BATAK TOBA LANGUAGE
ABSTRACT
This study examines the causative construction in bBT. This study is based on (1) the specificity of the causative construction as typology studies, (2) the specificity of bBT as the language has its own grammar system, and (3) the importace of syntactic analysis of bBT. The problem of this study is (1) the type of causative construction based on formal and semantic parameters and (2) the structure of the causative construction building. Research data, whether oral or written obtained by instrument through syntactic questionnaire (DCT: Discouse Completion Test). All data is analyzed by the “padan” and “agih” methods, served with formal and informal methods, and tested by the technique of triangulation. The results showed two conclusions. Tipologically, the type of causative bBT based on formal parameters marked by suppletive pairs in lexical causative; affix {-hon}, {-i}, {pa-/ par-}, {pa- -hon}, and {pa- -i} in morphological causative; and causative verbs mambahen, mangido, and manuru in analytic causative; while based on semantic parameters marked by feature (1) [±animate], (2) [±intentionally], (3) [±contact], and [±human] in true and permissive causatives; and the word catagories, types of causative, and structure of verbs in direct and indirect causatives. Syntactically, the causative lexical and morphological structures formed by monoclause, while the analytic causative is formed by biclause structure. The test is used to determine the structure by placing syntactic operations such as negation and modalities on one of the predicate function. Therefore, in the analytic causative, the causative verbs incorporated with basic verb clause to form causative predicate.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sebagai bagian dari kajian tipologi gramatikal, konstruksi kausatif cukup menarik untuk dikaji. Hal itu dilandaskan pada beberapa alasan. Pertama, konstruksi tersebut memiliki konvergensi dengan disiplin ilmu lain, seperti filsafat dan antropologi (Comrie, 1983: 158)1. Kedua, konstruksi tersebut memiliki dua komponen atau kejadian dalam membentuk satu situasi yang mengekspresikan relasi di antara penyebab (seorang individu atau peristiwa) dan pesebab (peristiwa yang disebabkan oleh kausasi) (lihat Comrie, 1983: 158; Song, 2001: 257, bdk. Goddard, 1998: 266)2, yang memuat struktur argumen dari predikat kausatif dalam pesebab (Payne, 2002: 175). Ketiga, konstruksi tersebut menunjukkan adanya keterlibatan sintaksis formal dan analisis semantik (Comrie, 1983: 159). [Hal itulah yang menyebabkan pembagian konstruksi tersebut berdasarkan parameter formal dan parameter semantis]3
Seiring dengan ramainya pengkajian konstruksi kausatif, banyak ahli yang telah mengklasifikasikan kausatif berdasarkan parameter tertentu. Misalnya, di satu sisi, Comrie (1983) mengklasifikasikan kausatif berdasarkan parameter formal, yakni kausatif leksikal, kausatif morfologis, dan kausatif analitik – yang dalam pandangan Whaley (1997) dan Payne (2002) disebut kausatif perifrastis. Parameter tersebut sama dengan pembagian Goddard (1998) dan Song (2001). Lebih lanjut, Shibatani (1976) menyatakan bahwa kausatif analitik (perifrastik) merupakan konstruksi biklausal, sedangkan kausatif morfologis dan kausatif leksikal merupakan konstruksi monoklausal4. Di sisi lain, berdasarkan parameter semantis, kausatif dibedakan atas tingkat kendali yang diterima pesebab dan kedekatan antara penyebab dan pesebab dalam situasi makro (Comrie, 1983: 164). Berkaitan dengan itu, Song (2001: 278) menyatakan bahwa di antara ketiga tipe, kausatif leksikal menempati jarak terdekat dalam menghubungkan penyebab dan pesebab, sedang dua tipe lainnya berada di posisi setelahnya.5
Berdasarkan urgensi di atas, penelitian ini berfokus pada konstruksi kausatif bBT. Secara sederhana, ketiga tipe konstruksi dapat dideskripsikan dalam contoh kalimat berikut ini.
(1) Mamunu ulok nangkiningan Bapa. [kausatif leksikal] AKT-bunuh-KAUS ular Adv-tadi Bapak-TOP
‘Bapak membunuh ular tadi’.
(2) Torop do halak na manjambarhon boli nasida.[kaus. morfologi] Banyak T orang-TOP Pe AKT-bagi-KAUS mahar mereka-3TG.7
‘Banyak orang yang membagikan maharnya itu’. (3) (a) Mangombak saba ibana.
AKT-cangkul sawah dia-3TG-TOP. ‘Dia mencangkul sawah’.
(b) Oma do mambahen ibana mangombak saba.8 [kausatif analitik] Ibu-TOP T V-KAUS dia-3TG AKT-cangkul sawah.
‘Ibu menyuruh dia mencangkul sawah’.
Contoh di atas merupakan bentuk lazim dari ketiga tipe konstruksi kausatif yang terdapat dalam bBT. Sesuai dengan data di atas, kausatif leksikal dimarkahi verba leksikal mamunu ‘membunuh’ yang mengandung komponen sebab dan akibat, sedangkan kausatif morfologis dimarkahi afiks {-hon}, dan kausatif analitik dimarkahi verba kausatif mambahen‘membuat’.
Pemarkah afiks {pa-/ par-} juga tidak hanya ditemukan pada kategori adjektiva, adverbia, dan numeralia, tetapi juga pada kategori nomina (contoh 6).
(4) (a) Mapitung manukna. AKT-buta ayam-3TG-TOP. ‘Ayamnya buta’.
(b) Ibana do hape na mamitung manuk i. Dia-3TG-TOP T ternyata Pe AKT-buta-KAUS ayam Pron. ‘Dia ternyata membutakan ayam itu’.
(5) Ompung do nakkaning mandungoi bapa. Nenek-TOP T tadi AKT-bangun-KAUS bapak. ‘Nenek membangunkan bapak tadi’.
(6) Ndang tama ho mampartulang dongan samargam. Tidak baik kau-2TG-TOP AKT-paman-KAUS teman semarga-2TG. ‘Tidak baik memperpamankan teman semargamu’.
Kedua, fenomena lain dalam kaitan dengan parameter semantis juga ditemukan dalam bBT (contoh 7). Afiks {maN- dan -hon} yang melekat pada adjektiva robur ‘hancur’ memunculkan verba mangarobur dan mangaroburhon yang memiliki nuansa makna. Apabila dihubungkan dengan parameter semantis, hal itu menunjukkan rentang waktu yang berbeda antara peristiwa sebab dan akibat. Nuansa makna yang dimaksud dapat dibuktikan dengan melekatkan fitur semantis kesengajaan seperti contoh berikut ini.
(7) (a) Marobur artana.
AKT-hancur harta-3TG-TOP. ‘Hartanya hancur.’
(b) Ibana do na sangajo mangarobur artana. Dia-3TG-TOP T Pe sengaja AKT-hancur-KAUS harta-3TG.
‘Dia sengaja menghancurkan hartanya’.
Kedua fenomena yang dikemukakan di atas dijelaskan dalam pembahasan selanjutnya. Fenomena tersebut menjadi alasan pertama untuk pelaksanaan penelitian ini.
Dalam penelitian ini juga dibahas struktur yang membangun konstruksi kausatif. Perhatikan contoh berikut.
(8) (a) Dabu anggina.
AKT-jatuh adik-3TG-TOP. ‘Adiknya jatuh.’
(b) Ibana do mandabuhon anggina. Dia-3TG-TOP T AKT-jatuh-KAUS adik-3TG. ‘Dia menjatuhkan adiknya.’
(c) Ibana do mambahen anggina madabu. Dia-3TG-TOP T V-KAUS adik-3TG AKT-jatuh. ‘Dia membuat adiknya jatuh.’
Struktur dasar (8a) membentuk struktur derivasi (8b) dan (8c). Adanya pemarkah afiks {-hon} (8b) telah memunculkan konstituen FN baru yang berakibat pindahnya subjek anggina ke posisi objek dalam struktur yang membangun konstruksi kausatif. Selanjutnya, kehadiran verba kausatif mambahen pada struktur derivasi (8c) menyebabkan munculnya dua predikat terpisah mambahen dan madabu yang membentuk struktur matriks ibana mambahen dan struktur derivasi madabu anggina.
ke posisi lain dalam struktur derivasi (Mulyadi, 2004: 136). Pembahasan mengenai struktur ini merupakan alasan kedua diadakannya penelitian ini.
Berdasarkan semua konsep dan fenomena yang dijelaskan di atas, penelitian ini difokuskan pada tipe-tipe konstruksi kausatif bBT dan struktur yang membangun konstruksi tersebut. Artinya, dalam tulisan ini digunakan dua kajian secara eklektis; tipologi untuk menjelaskan tipe konstruksi kausatif bBT dan sintaksis untuk menjelaskan struktur yang membangun konstruksi tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Bagaimanakah tipe-tipe konstruksi kausatif bBT berdasarkan parameter formal (morfosintaksis) dan parameter semantis?
2) Bagaimanakah struktur yang membangun konstruksi kausatif bBT?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dirumuskan dalam dua bentuk, yakni tujuan umum dan tujuan khusus.
1.3.1 Tujuan Umum
1.3.2 Tujuan Khusus
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Mengidentifikasikan tipe-tipe konstruksi kausatif dalam bBT berdasarkan parameter formal (morfosintaksis) dan parameter semantis.
2) Mendeskripsikan struktur yang membangun konstruksi kausatif bBT.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini digolongkan atas dua bagian, yaitu manfaat secara teoretis dan manfaat secara praktis.
1.4.1 Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini bermanfaat dalam memperkaya khazanah pengetahuan linguistik, khususnya bidang tipologi gramatikal. Pendekatan tipologi yang digunakan dalam penelitian ini menjadi referensi bagi kajian lain dalam mengelompokkan bahasa-bahasa berdasarkan tipe tertentu. Selain itu, penelitian ini juga menjadi referensi dan bahan rujukan dalam mengenal kekhasan bBT, khususnya dalam tataran sintaksis. Hal itu dianggap perlu mengingat minimnya penelitian yang dilakukan terhadap sintaksis bBT.
1.4.2 Manfaat Praktis
lanjut sehingga dapat memperkaya khazanah telaah sosial; bahasa, budaya, dan lingkungan Indonesia.
1.5 Definisi Istilah
Bagian ini merupakan batasan mengenai sejumlah konsep yang digunakan sebagai suatu istilah teknis. Semua konsep itu merupakan kerangka dari fenomena empiris tentang konstruksi kausatif. Oleh karena itu, definisi istilah dari konsep-konsep tersebut dijelaskan sebagai berikut.
1. Kausatif dan Kausativisasi
Kausatif merupakan gabungan dari dua situasi yang menggambarkan komponen sebab (verba kausatif) dan komponen akibat (predikat akibat) (Comrie, 1983: 158; Song, 2001: 257). Selanjutnya, kausativisasi merupakan proses pembentukan kausatif (Payne, 2002: 175). Menurut Comrie (1983: 158), kausativisasi merupakan proses peningkatan valensi dengan penambahan argumen agen/ aktor yang sekaligus merupakan penyebab terjadinya sebuah peristiwa kausatif.
2. Aplikatif
Aplikatif merupakan proses penciptaan objek atau pengubahan fungsi nonobjek menjadi objek (Haspelmath, 2002: 216). Selain itu, peningkatan hierarki objek, misalnya objek tak langsung menjadi objek langsung juga dikategorikan sebagai proses aplikatif (Haspelmath, 2002: 217; bandk. Payne, 2002: 186). Itu sebabnya, aplikatif disebut juga sebagai alat penambahan valensi verba (Payne, 2002: 186; bandk. Whaley, 1997: 191).
3. Valensi
Valensi adalah jumlah argumen dalam sebuah kalimat dikaitkan dengan verba yang disebabkan oleh fungsi-fungsi gramatikal (Katamba, 1993: 266). Lebih sederhana, Van Vallin dan Lapolla (1999: 147-150) mengatakan bahwa valensi adalah banyaknya argumen yang diikat atau diambil oleh verba. Konsep valensi berkaitan erat dengan perubahan jumlah argumen verba sebagai PRED dalam sebuah klausa yang memengaruhi argumen A atau SUBJ dan P atau OBJ suatu PRED verba (Haspelmath: 2002:218).
4. Relasi Gramatikal
benefaktif, dan instrumental yang secara kolektif disebut relasi oblik. (Blake, 1991; Artawa, 2000: 490).
5. Transitivitas
Transitivitas dibedakan atas ketransitifan struktural dan tradisional. Transitivitas struktural mengacu kepada struktur yang berhubungan dengan sebuah predikat dan dua argumen, yaitu S dan OL, sedangkan transitivitas merujuk kepada proses membawa atau memindahkan tindakan dari agen ke pasien (Hopper dan Thompson (ed), 1982 dalam Budiarta, 2013).
6. Argumen
Argumen merupakan unsur sintaksis dan semantis yang diperlukan oleh sebuah verba yang umumnya berkorelasi dengan partisipasi pada suatu kejadian atau keadaan yang dinyatakan oleh verba atau predikatnya. Jumlah argumen dalam sebuah klausa atau kalimat sangat ditentukan oleh verba sebagai inti (head) dari klausa atau kalimat tersebut (Culicover, 1997: 16-17).
7. Struktur Argumen
Catatan:
1
Peranan penting konstruksi kausatif dapat dilihat berdasarkan disiplin ilmu lain, misalnya filsafat dan antropolinguistik. Filsafat akan memasuki wilayah kajian sifat penyebab dari peristiwa kausatif, sedangkan antropolinguistik akan mengkaji persepsi manusia dan juga kategorisasi sebab-akibat yang dihasilkan peristiwa kausatif tersebut (Comrie, 1983: 158).
2
Goddard cenderung mengarahkan definisi kausatif ke kajian semantik, yakni ungkapan yang di dalamnya sebuah peristiwa (peristiwa yang disebabkan) digambarkan sebagai peristiwa yang terjadi karena (disebabkan) seseorang melakukan sesuatu atau karena sesuatu terjadi (Goddard, 1998: 266).
3
Kajian konstruksi kausatif melibatkan interaksi antara sintaksis formal dan analisis semantik, dan itulah yang menghubungkan parameter formal dan parameter semantis (lihat Comrie, 1983:159).
4
Pembagian konstruksi kausatif yang dikemukakan oleh Arka (1993:8) didasarkan atas jumlah klausa yang terdapat dalam sebuah konstruksi kausatif. Perbedaan pembagian kausatif menurut Arka (1993:8) dan Comrie (1981: 158--160; 1989:165--171) pada prinsipnya tidak bertentangan satu sama lain.
5
Kausatif leksikal merupakan perpaduan maksimum antara dua predikat meskipun tidak mungkin menganalisis verba kausatif leksikal dalam dua morfem. Kausatif sintaksis merupakan perpaduan minimum antara predikat penyebab dan akibat, dengan dua predikat terpisah. Selanjutnya, kausatif morfologi menempati titik tengah pada kontinum fusi formal yang rentan terhadap analisis dari satu morfem ke morfem yang lain (Song, 2001: 278).
6
Salah satu contoh kekhasan bahasa Batak Toba tampak pada banyaknya kata yang tidak memiliki padanan makna atau sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti kata panongosan (pa + tongos + -an), tidak mempunyai padanan dalam bahasa Indonesia sehingga harus diterjemahkan dengan seseorang, yang dengan perantaraannya sesuatu dikirimkan. Oleh karena itu, adakalanya penggunaan bBT lebih sederhana daripada bahasa Indonesia, tetapi terkadang bisa lebih rumit atau kompleks (lihat Sinaga, 2002:1)
7
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
2.1 Teori-Teori yang Relevan
Penelitian ini didasarkan pada teori tipologi bahasa, khususnya tipologi gramatikal. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik, penelitian ini memperhatikan kajian pustaka sebelumnya, baik berdasarkan teori-teori yang relevan maupun berdasarkan penelitian mengenai konstruksi kausatif yang dilakukan sebelumnya.
2.1.1 Tipe-Tipe Kausatif
Secara umum, konstruksi kausatif merupakan konstruksi yang mengungkapkan suatu situasi makro kompleks yang mengandung dua situasi mikro atau peristiwa yang terdiri atas (1) peristiwa penyebab (causer) yang menyebabkan suatu peristiwa terjadi (causing event) dan (2) peristiwa yang terjadi atau akibat yang timbul (caused) yang disebabkan oleh tindakan pesebab (causee) (Shibatani [ed.] 1976: 239; Comrie, 1985: 330; dan Song, 2001: 253).
Di sisi lain, Ackerman dan Webelhuth (1998: 269) mengungkapkan: “... like other predicates causatives traverse the syntax-morphology boundary. Their contentive aspects can be expressed synthetically in one construction but analytically in another. In fact, in causatives the situation is quite involved, since a few things are going on simultaneously in their grammatical behaviour. One issue that arises with these predicates is that causatives semantically express two states of affairs....”
dinyatakan secara sintesis (digabungkan) dalam satu konstruksi, tetapi dianalisis dalam konstruksi yang berbeda. Bahkan, dalam kausatif, situasi turut berpengaruh karena beberapa hal yang terjadi secara bersamaan dalam perilaku gramatikal konstruksi tersebut. Ditambahkan juga bahwa melalui predikat yang memunculkan konstruksi kausatif, muncul dua situasi peristiwa (Ackerman dan Webelhuth, 1998: 269), yakni dua situasi mikro yang mencerminkan komponen sebab dan akibat (Comrie, 1983: 158; Song, 2001: 257; Payne, 2002: 175)1.
Sejalan dengan dua situasi peristiwa yang disebutkan di atas, Ackerman dan Webelhuth (1998: 269) menjelaskan bahwa struktur biproposional itulah yang menyebabkan beberapa kausatif berperilaku dalam struktur biklausal. Namun, struktur tersebut tidak selalu demikian sebab dalam banyak bahasa, kausatif secara konsisten berperilaku dalam struktur monoklausal.
Tabel 1. Jenis Kausatif Analitik
Analitik Sintaktik Monoklausal Bahasa Jerman I Bahasa Malayalam
Biklausal Bahasa Jerman II Bahasa Chi-Mwi:ni
Campur Bahasa Italia Bahasa Turki
Sumber: Ackerman dan Webelhuth (1998: 269)2
Setiap bahasa mempunyai konstruksi gramatikal yang berbeda dalam mengungkapkan kekausatifan. Namun, secara lintas bahasa ditemukan bahwa kesetaraan konstruksi kausatif dapat diungkapkan secara sintaksis dan secara analitis (lihat Comrie, 1983: 159). Hal itulah yang menyebabkan pembagian tipe kausatif berdasarkan parameter formal dan parameter semantis.
2.1.1.1 Parameter Formal
Berdasarkan parameter formal, Comrie (1983: 159) mengatakan bahwa ada tiga tipe kausatif, yaitu kausatif leksikal, kausatif morfologis, dan kausatif analitik, yang dalam Whaley (1997: 195) dan Payne (2002: 182) disebut juga kausatif perifrastis. Kausatif analitik adalah kausatif dengan verba kausatif. Dalam hal ini, terdapat predikat terpisah pada kata yang menunjukkan peristiwa sebab (penyebab) dan peristiwa akibat (pesebab) (Comrie, 1983: 159). Berkenaan dengan itu, Payne (2002: 176) mengungkapkan bahwa hampir semua kausatif dalam bahasa Inggris menggunakan verba kausatif yang terpisah, misalnya make, made, cause, force, dan compel.
(9) I caused Jhon to go. Saya-1TG-TOP V-KAUS Jhon Prep AKT-pergi. ‘Saya menyebabkan Jhon pergi’
sebagai operasi penambahan valensi, tetapi secara semantis dapat diinterpretasikan demikian (Payne, 2002: 177).
Tipe selanjutnya merupakan kausatif morfologis. Kausatif ini merefleksikan hubungan antara predikat nonkausatif dan predikat kausatif yang dimarkahi oleh perangkat morfologis, misalnya oleh afiksasi (Comrie, 1983: 159). Perhatikan contoh berikut ini.
(10) a. Palka slomala-s’ The stick-TOP AKT-broke.
‘Tongkat patah’.
b. Tanja slomala palku. Tanja-TOP AKT-broke-KAUS the stick. ‘Tanja mematahkan tongkat’.
Pada konstruksi kausatif morfologis, komponen yang seolah-olah hadir hanyalah komponen sebab (Tanja slomala palku), sedangkan komponen akibat tidak muncul secara eksplisit (Palka slomala-s’). Makna bahwa Tanja melakukan sesuatu sehingga tongkat patah terkandung dalam verba kausatif slomala.
Berbeda dengan tipe lainnya, kausatif morfologis melibatkan perubahan bentuk verba3. Di samping dengan verba derivatif, kausatif morfologis dapat dibentuk dengan menggunakan afiks. Seperti dalam bahasa Turki (Altaic) yang memiliki dua bentuk kausatif morfologis sangat produktif dengan menggunakan sufiks -dIr (dan alomorfnya) dan -t (Payne, 2002: 176).
Tipe terakhir adalah kausatif leksikal. Kausatif ini merupakan kausatif yang dinyatakan oleh sebuah leksikon tanpa melalui proses produktif apa pun. Leksikon tersebut secara mandiri dapat menyatakan hubungan sebab-akibat sekaligus. Comrie (1983: 159) memberi contoh sebagai berikut.
‘Jhon membunuh Bill’.
Pada contoh (11) situasi-situasi mikro dalam konstruksi kausatif leksikal dituangkan dalam satu kejadian. Komponen sebab dan komponen akibat dapat ditafsirkan dari verba kausatif itu sendiri, yaitu kill. Dua kejadian dalam kalimat (11) adalah ‘Jhon membunuh Bill’ sebagai komponen penyebab yang ditampilkan secara eksplisit dan ‘Bill meninggal’ dapat dipahami sebagai komponen akibat walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit. Jadi, makna bahwa penyebab John melakukan sesuatu sehingga mengakibatkan pesebab Bill meninggal tercakup dalam verba kausatif kill.4
Menurut Payne (2002: 179), hampir semua bahasa memiliki kausatif leksikal. Ada tiga subtipe kausatif leksikal, yaitu:
(a) No change in verb
Nonkausatif : The vase broke.
Kausatif: Macbeth broke the vase (=Macbeth caused the vase to break) (b) Some idiosyncratic change in verb
Nonkausatif : The tree fell (Verb = to fall)
Kausatif : Bunyan felled the tree (Verb = to fell) (c) Different verb
Nonkausatif : Stephanie ate the beans. Kausatif : Gilligan fed Stephanie beans. Nonkausatif : Lucretia died.
Pembagian semua tipe yang dijelaskan di atas diilustrasikan secara ringkas dalam gambar Goddard (1998: 260) berikut.
Pembagian Bentuk Kausatif
Kausatif Analitik Kausatif Morfologi Kausatif Leksikal
(Kausatif Perifrastik) (Kausatif Langsung)
- I made him work - membunuh
- I got him to do it - memecah
- I had him to do it
Sufiksasi
Kausatif produktif Kausatif tak produktif Gambar 1. Pembagian Kausatif
Song (2001: 278) membuat pemetaan yang berbeda dalam meringkas tiga tipe kausatif. Hal ini tampak dalam bagan berikut.
Gambar 2. Tingkatan Kedekatan Penyebab dan Pesebab (Song, 2001: 278) Gambar tersebut menjelaskan bahwa ketiga tipe kausatif yang berbeda tersebut membentuk sebuah kontinum fusi formal antara kedekatan predikat komponen penyebab dengan predikat komponen akibat. Kausatif leksikal merupakan perpaduan maksimum antara dua predikat meskipun tidak mungkin menganalisis verba kausatif leksikal dalam dua morfem. Kausatif sintaksis
merupakan perpaduan minimum antara predikat komponen penyebab dengan komponen akibat berdasarkan dua predikat terpisah. Selanjutnya, kausatif morfologis menempati titik tengah pada kontinum fusi formal yang rentan terhadap analisis dari satu morfem ke morfem yang lain.
Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa para ahli sepakat mengklasifikasikan tipe kausatif berdasarkan parameter formal meskipun dari sudut pandang yang berbeda. Tipe-tipe itu digunakan dalam mendeskripsikan konstruksi kausatif bBT.
2.1.1.2 Parameter Semantis
Comrie (1983: 164) membedakan tipe-tipe kausatif berdasarkan parameter semantis. Parameter semantis ini membedakan kausatif berdasarkan tingkat kendali yang diterima pesebab dan kedekatan antara penyebab dengan pesebab dalam situasi makro atau kausatif itu sendiri.
Berdasarkan tingkat kendali yang diterima pesebab, Comrie (1983: 165) membedakan kausatif sejati (true causative) dan kausatif permisif (permissive causative). Pada kedua konstruksi tersebut, penyebab – dalam hal ini agen – memiliki kendali atas terjadi atau tidaknya akibat pada pesebab. Dalam kausatif sejati, penyebab hanya memiliki kemampuan untuk menimbulkan akibat terhadap pesebab, sedangkan dalam kausatif permisif, penyebab memiliki kemampuan untuk mencegah terjadinya akibat pada pesebab.
dalam kausatif tak langsung hubungannya lebih jauh (misalnya, Anton brought it about that the stick broke). Walaupun penyebab selalu diikuti oleh pesebab, dalam kausatif tak langsung, pesebab terjadi beberapa saat setelah penyebab terjadi.
Sejalan dengan uraian di atas, Whaley (1997: 195) menyebutkan bahwa kausativisasi langsung mengacu pada situasi ketika tindakan penyebab mempunyai efek langsung pada pesebab, sedangkan kausativisasi tak langsung mengacu pada situasi kausativisasi yang derajat kelangsungannya sangat jauh. Misalnya, kausatif leksikal kill dan konstruksi kausatif cause to die dalam bahasa Inggris (lihat juga Payne, 2002: 175; Song 2001: 276).
Menurut Payne (2002: 175), kausativisasi langsung dan kausativisasi tidak langsung berhubungan dengan integrasi struktural dan integrasi konseptual antara cause dan effect. Hubungan tersebut ditunjukkan oleh tiga hal berikut ini.
(a) Structural distance, yaitu jumlah silabe, segmen, dalam operasi kausatif secara khusus berhubungan dengan kuantitas jarak konseptual antara cause dan effect.
(b) Bentuk verba finit dan nonfinit: jika cause dan effect berhubungan dengan kala/ aspek/ modalitas/ evidensialitas/ dan atau lokasi, salah satu verba adalah nonfinit.
Prinsip pertama di atas digambarkan seperti dalam Piramida Haiman (dalam Payne, 2002: 182) tentang langsung/ tidak langsungnya efek yang ditimbulkan oleh pesebab.
(Kausatif leksikal) Kausativisasi lebih langsung (Kausatif morfologi)
(Kausatif analitik) Kausativisasi tidak langsung
Gambar 3. Piramida Haiman
Dalam Piramida Haiman (Whaley, 1997: 195), ketiga tipe kausatif berdasarkan parameter formal mengungkapkan makna kausatif yang berbeda dan ini berkaitan dengan efeknya yang langsung atau tidak langsung.
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Song (2001: 259):
“There is, for instance, a strong correlation between the formal types of causative construction (i.e. lexical, morphological, and syntactic), and the semantic types of causation to the extent that the formal distance between the predicate of cause and that of effect is claimed to be motivated iconically by the conceptual distance between the cause and the effect, and between the causer and the causee. It is also suggested that the case marking of the causee is determined by the type of causation, which is in turn related to other semantic and/ or pragmatic factors such as agency, control, affectedness and topicality.” (Song, 2001: 259)
Kutipan di atas menjelaskan hubungan yang kuat antara tipe kausatif berdasarkan parameter formal (leksikal, morfologis, dan analitik) dan tipe kausatif berdasarkan parameter semantis, yakni bahwa jarak formal antara predikat komponen penyebab dan komponen akibat diklaim oleh jarak konseptual antara
X
Y = Z
penyebab dan pesebab. Hal ini juga menyarankan bahwa kasus yang menandai pesebab ditentukan oleh jenis peristiwa sebab-akibat, yang pada gilirannya berhubungan dengan semantik lain dan/ atau faktor pragmatis seperti agen, kontrol, keterikatan, dan pentopikalan.
Sehubungan dengan itu, kausatif leksikal mempunyai efek yang paling langsung dibandingkan dengan kausatif morfologis dan kausatif analitik (Whaley, 1997: 195).
Tabel 2. Kausatif Berdasarkan Parameter Semantis Tipe Kausatif Bentuk Kausativisasi Kausatif Leksikal (X-“lebih dekat”) Langsung Kausatif Morfologi (Y – Z)
Kausatif Analitik (Y# Z –“lebih jauh”) Tidak langsung Sumber: Whaley (1997: 195)
Perbedaan semantis yang kedua antara tipe-tipe kausatif adalah derajat kontrol/ tingkat kendali/ kuasa atas pesebab. Contoh berikut menjelaskan perbedaan semantis tersebut.
(12) Rocco made her leave. Rocco-TOP AKT-buat-KAUS dia-3TG cuti. ‘Rocco membuat dirinya cuti.’
(13) Al let her leave. Al-TOP AKT-izin-KAUS dia-3TG cuti. ‘Al mengizinkan dirinya cuti.’
Dapat dipastikan bahwa penyebab Rocco tetap memegang kontrol/ kendali atas situasi dalam kalimat (12). Berbeda dengan itu, pesebab dalam kalimat (13) masih mempunyai pilihan untuk pergi atau tidak, sekalipun penyebab memiliki derajat kuasa yang lebih besar.
kausativisasi sejati. Dalam beberapa bahasa, tidak ada perbedaan morfosintaktis antara kausativisasi dan permisif, tetapi dalam beberapa bahasa yang lain ada. Misalnya, dalam bahasa Inggris, ada pilihan verba yang mengindikasikan permisif (misal, allow, let, permit), permintaan (ask), dan kausativisasi (made, cause, dan force). Namun, ada properti struktural (properti sintaksis) yang berhubungan dengan perbedaan leksikal ini.
Tabel 3. Jenis Kasus dan Pesebab (Whaley, 1997)
Kasus Tingkat Kendali terhadap Pesebab Nominatif Tinggi
Oblik Kurang
Akusatif Tidak ada sama sekali
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut ini. (14) I asked that he (NOM) leave.
(15) I asked him (ACC) to leave. (16) I made him (ACC) leave.
Pada kalimat (14), pesebab mempunyai kasus nominatif sehingga memiliki tingkat kendali yang kuat (pesebab he bisa pergi atau tidak), sedangkan pada kalimat (15) dan (16) pesebab berkasus akusatif sehingga tingkat kendali yang dimiliki pesebab tidak sekuat pada kasus nominatif; bahkan pesebab tidak memiliki kuasa sama sekali (pesebab him tidak mempunyai pilihan lain/ tidak bisa menolak).
ditandai sebagai oblik, OL dan OTL akan tetap sebagai relasi gramatikal yang sama. Perhatikan tabel berikut.
Tabel 4. Perubahan Valensi antara Verba Dasar dan Verba turunan Kausatif
Berdasarkan tabel di atas, Comrie mengusulkan hierarki relasi gramatikal sebagai berikut: subjek > objek langsung > objek tak langsung > objek oblik. Menurutnya, penyimpulan gramatikal dari pesebab bergerak sebagai berikut: pesebabmenempati posisi tertinggi (paling kiri) pada hierarki yang belum terisi.
Hal itu tidak berbeda dengan konsepsi Song (2001: 264) yang juga menawarkan hierarki kasus yang sama dengan Comrie (1983: 170). Namun, penjelasan tambahan diungkapkan seperti ini:
“The tendency for causative affixes to apply more frequently to intransitive verbs than to transitive verb, and more frequently to transitive verbs than to ditransitive verbs has been interpreted to reflect the way languages manage to comply with the MCNP in morphological causativization as much as in simple non-causative clauses. The restrictions on application of non-causative affixes may be seen to cheat transitive and/ or ditransitive verbs of the opportunity to undergo morphological causativization, as it were.” (Song, 2001: 264)
daripada ditransitif. Hal tersebut ditafsirkan dalam rangka mencerminkan cara bahasa-bahasa untuk mematuhi MCNP (Maximum Number of Core NPs)5 pada kausatif morfologis sebanyak klausa nonkausatif sederhana. Penjelasan mengenai hal ini sangat diperlukan untuk mengamati perubahan valensi dan relasi gramatikal nonkausatif yang terdapat dalam konstruksi kausatif bBT.
2.1.2 Teori Penguasaan dan Pengikatan
Struktur kausatif dapat dijelaskan dengan menggunakan teori Penguasaan dan Pengikatan. Teori ini dipelopori oleh Chomsky (1980, 1986, 1990) dan merupakan pengembangan teori tata bahasa Transformasi Gramatika Generatif (TGG) yang bertujuan untuk memberikan pemerian sistematik tentang kalimat. Hal itu dilakukan dengan mengajukan satu tata bahasa yang universal dengan harapan agar tata bahasa dapat menerangkan setiap fenomena bahasa secara menyeluruh.
Berhubungan dengan itu, Sag (1999: 149-150) menyebutkan bahwa prinsip Binding Theory menghubungkan pronomina dengan anteseden (bandk. Haegeman, 1992: 244)6. Istilah anafora digunakan untuk mengekspresikan (pronomina) yang penafsirannya memerlukan asosiasi dengan unsur lain dalam sebuah wacana.
(17) (a) Johni frightens himselfi. (b) *Susani frightens heri. (c) Susani frightens herselfj.
menggambarkan bahwa her bukanlah Susan. Pronomina himself dan herself diikat oleh anteseden dengan notasi yang ditunjukkan di atas.
Penggunaan Teori Penguasaan dan Pengikatan dalam kajian ini berhubungan dengan dua subsistem teori tersebut yang relevan dengan kajian konstruksi kausatif, yakni teori X-bar dan teori Perpindahan.
2.1.2.1 Teori X-Bar
Teori X-bar menjelaskan struktur umum frasa yang direpresentasikan pada skema X-bar. Melalui skema ini, kaidah struktur frasa sebuah bahasa dapat dideskripsikan atau disederhanakan (Haegeman, 1992: 95).
Relasi antara kategori leksikal dan kategori frasa digambarkan dalam dua tataran proyeksi. Kedua proyeksi itu direpresentasikan pada level sintaksis. Jika sebuah kategori leksikal seperti N, V, A, atau P, yang di dalam teori ini disimbolkan dengan X, dibentuk oleh sebuah komplemen, keterangan, dan spesifier, komplemen yang berkombinasi dengan X akan membentuk proyeksi bar, keterangan yang berkombinasi dengan bar akan membentuk proyeksi X-bar yang lebih tinggi, dan pada level berikutnya spesifier yang berkombinasi dengan X-bar akan membentuk proyeksi maksimal X. Kategori bar, dengan demikian, adalah sebuah proyeksi X dan frasa dengan bar tertinggi ialah proyeksi maksimal dari kategori X.
X”
Spes X’
X’ Ket
X Komp
Gambar di atas dapat dijelaskan dengan struktur skema di bawah ini. (18) X” = Spes; X’
X’ = X’; Ket
X’ = X; Komp
Teori ini dapat diaplikasikan pada konstituen frasa dan konstituen klausa (Haegeman, 1992: 74-97).
(19) Poirot will abandon the investigation.
(20) They will wonder [whether Poirot will abandon the investigation].
Kehadiran FN Poirot dan the investigation (19) merupakan struktur argumen dari predikat abandon. Munculnya kalimat matriks They will wonder (20) mengubah posisi kalimat sematan Poirot will abandon the investigation. Hal ini mengasumsikan bahwa rangkaian kalimat Poirot will abandon the investigation dapat menjelaskan maksud dari pelengkap whether. Dalam tata bahasa generatif, kalimat sederhana tersebut diberi label S dan S tersebut bersama dengan pelengkapnya adalah S’ (Haegeman, 1992: 74; 97). Perhatikan diagram pohon untuk kalimat (19) dan (20) berikut.
S
NP AUX VP
V NP
N Det N
Poirot will abandon the investigation
C’
C FI
whether
NP I’
Poirot
I VP
will
abandon the investigation
Gambar 6. Diagram X-Bar Kalimat Sematan (Haegeman, 1992: 97)
Diagram pohon di atas menjelaskan bahwa teori X-Bar tidak hanya dapat digunakan dalam menerangkan struktur frasa, tetapi juga dapat menerangkan struktur kalimat. Hal itu sejalan dengan pendapat Daly dan Rhodes (1981: 40) yang mengatakan bahwa sarana termudah untuk memperlihatkan struktur konstituen suatu kalimat adalah dengan diagram pohon (tree diagram) atas penanda satuan sintaksis (P-Maker). Unsur diagram pohon terdiri atas “node” atau simpai, yaitu titik pada diagram pohon, tempat munculnya satu cabang atau lebih. Kemudian termina simpai (unsur leksikal) dan rangkaian (string), yakni rangkaian unsur dalam yang berurutan pada pohon, baik nama kategori maupun unsur leksikal. Dengan demikian, teori X-bar digunakan dalam tulisan ini untuk menerangkan semua kategori struktur frasa dan relasi struktur antarkalimat bBT.
2.1.2.2 Teori Perpindahan
(21) (a) This story is believed by the villagers. (b) The villagers believe this story
Verba (21a) merupakan bentuk pasif believe (21b). Perbandingan antara kalimat (21a) dan (21b) merupakan bentuk aktif-pasif dari kalimat yang sama. Artinya, dapat ditentukan bahwa FN subjek dari kalimat pasif (21a) this story merupakan FN objek dari predikat pada kalimat aktif (21b). Dengan demikian, dapat diusulkan bahwa FN this story ditetapkan oleh peran tematis pada kalimat (21a) dan (21b). Peran tematis merupakan definisi yang ditetapkan secara langsung oleh penguasa dari inti. Oleh sebab itu, FN this story (21a) seharusnya ditetapkan oleh peran tematis di bawah penguasa yakni oleh verba believe, tepatnya sebagaimana yang terdapat pada kalimat (21b). Verba believe tidak menguasai FN this story pada kalimat (21a). Dengan demikian, teori ini digunakan untuk mengamati adanya perpindahan konstituen (unsur-unsur) ketika membentuk konstruksi kausatif bBT.
K
FN0 FV
penyebab
V FP
MENYEBABKAN
Spes FP P’
P FI
FN1 I’
pesebab
I FV
FV FN2
pasien Gambar 7. Struktur Dasar Kausatif (Mulyadi, 2004: 133)
Konstituen FV yang didominasi oleh I’ dapat berpindah ke posisi [SPES,
FP] dan meninggalkan jejak pada posisinya yang lama. Hal ini menaikkan seluruh FV sehingga tidak lagi berada di bawah FI. Dari posisi ini, inti verba dari FV yang lebih rendah kemudian berinkorporasi ke dalam predikat MENYEBABKAN8. Sementara itu, FN pesebab (subjek yang lebih rendah) diperlakukan sebagai keterangan atau oblik yang dimarkahi sebagai objek kedua. Teori ini digunakan untuk mendeskripsikan struktur yang membangun konstruksi kausatif bBT.
2.2 Penelitian yang Relevan
Fungsional Leksikal digunakan untuk menerangkan properti kausatif {-kan}. Hasil penelitian ini memberikan gambaran yang jelas mengenai perbedaan antara nilai semantis dan properti gramatikal kausatif morfologis secara umum dalam bahasa Indonesia. Dihipotesiskan juga bahwa dalam bahasa Indonesia, pengausatifan melalui proses afiksasi berlangsung pada tataran leksikon dan bukan pada tataran sintaksis. Penelitian ini juga mengungkapkan struktur paralel (kausatif –kan) yang menjadi ciri teori LFG, yaitu struktur konstituen, struktur argumen, struktur fungsional, dan struktur semantis. Temuan dalam penelitian ini menjadi masukan yang penting dalam menunjukkan konstruksi kausatif bBT.
Mulyadi (2004) dalam artikel “Konstruksi Kausatif dalam Bahasa Indonesia” membahas (1) perilaku verba dalam membentuk konstruksi kausatif bI, (2) tipe-tipe konstruksi kausatif bI, dan (3) struktur konstruksi kausatif bI. Data dikaji dengan metode distribusional dengan alat penentu berupa struktur argumen verba. Penelitian ini menggunakan pendekatan tipologis dan sintaksis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam pembentukan konstruksi kausatif, verba intransitif berubah menjadi transitif, sedangkan verba transitif dan ditransitif tidak mengalami perubahan.
[Spes FP]. Hasil penelitian ini menjadi referensi utama mengingat penggunaan teori Penguasaan dan Pengikatan yang juga digunakan dalam kajian ini.
Mayani (2005) dalam artikel “Konstruksi Kausatif Bahasa Madura” membahas konstruksi kausatif berdasarkan parameter morfosintaksis dan semantis bM. Sistem kerja yang digunakan merujuk pada penggunaan konjungsi yang terdapat dalam kalimat kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tipe pembagian kausatif terdapat pada BM. Verba Ngabay [N+gabay] ‘membuat’ dan nyoro [N+soro] ‘menyuruh’ adalah verba kausatif yang digunakan dalam kausatif analitik BM. Afiks yang digunakan sebagai pemarkah kausatif morfologis BM adalah {ma-}, {-aghi}, {ma--aghi}, {ma+N--aghi}, dan {pa-}. Selanjutnya, konstruksi kausatif leksikal BM sama dengan struktur logis konstruksi kausatif morfologis, yaitu [do (X)] CAUSE [BECOME predicate (Y)].
Selain itu, berdasarkan parameter semantis ditemukan bahwa rentang durasi antara komponen sebab dan akibat pada konstruksi kausatif morfologis lebih pendek dibandingkan dengan kausatif analitik. Artinya, kausatif morfologis BM bersifat langsung daripada kausatif analitik. Setakat ini, sistem kerja penelitian ini tidak dapat dijadikan referensi dalam kajian ini. Peneliti cenderung sejalan dengan konsepsi Song (2001: 258) yang mengatakan bahwa kausatif tidak dapat dibentuk dari konjungsi karena penyebab dalam kalimat kompleks bukan subjek pada klausa utama atau juga bukan predikat pada verba utama. Hal yang sama tidak berlaku dalam penelitian bM ini.
konjungsi (sejalan dengan Mayani, 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi kausatif bS dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu (1) menggunakan kalimat kompleks – dua klausa digabungkan dengan menggunakan konjungsi kernau/ sebap, (2) menggunakan kausatif analitik – dengan penanda verbanya nganuka ‘membuat’, njadika ‘membuat jadi’, dan ngajung ‘menyuruh’, (3) menggunakan kausatif morfologis – dengan menambahkan afiks ng-ka (dengan alomorf-alomorfnya), ng-i (dengan alomorf-alomorfnya) –ka dan –i, dan (4) memilih verba kausatif leksikal tertentu yang sudah bermakna kausatif. Dalam parameter semantis dijelaskan kesinoniman verba kausatif dalam bS. Analisis itu diawali dengan mendistribusikan verba kausatif ke dalam kalimat, lalu mensubstitusikannya ke dalam konstruksi yang lebih luas, kemudian menunjukkan batas-batas kemampuannya dalam bersubstitusi. Penelitian ini dijadikan referensi dalam memperkaya konsepsi peneliti dalam memerikan kausatif bahasa nusantara.
afiks. Pemarkah afiks dalam bahasa Indonesia yang dapat membentuk konstruksi kausatif morfologis adalah {-kan}, {per-}, {-i}, serta kombinasi afiks {per--kan} dan {per--i}. Konstruksi kausatif analitik dapat dibentuk dari konstruksi nonkausatif yang diberi pemarkah kausatif berupa verba kausatif, yakni membuat. Dalam kausatif analitik, konstruksi dibentuk oleh predikat yang mengandung verba (intransitif dan transitif), adjektiva, dan nomina. Penelitian ini menjadi masukan yang sangat penting dalam memberi kontribusi terhadap penelitian bBT, khususnya dalam mengenal konstruksi kausatif secara mendasar.
Maulia (2011) dalam artikel “Pengkausatifan dalam Bahasa Jepang” membahas masalah (1) struktur dan makna yang dihasilkan dalam pengausatifan morfologis bJ, (2) struktur dan makna yang dihasilkan oleh pengausatifan sintaksis bJ, (3) struktur dan makna yang dihasilkan oleh pengausatifan leksikon bJ, (4) struktur logis pengausatifan bJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengausatifan morfologis bJ hadir dalam bentuk afiksasi verba dengan sufiks – saseru. Tipe ini menandai penyebab dengan pentopikalan wa atau nominatif ga. Makna yang dihasilkan oleh pengausatifan morfologis adalah makna ‘menjadikan/ membuat’, ‘memaksa’, ‘memerintahkan/ menyuruh’, ‘membiarkan/
mengizinkan’, yang berbeda dipandang dari segi paksaan dan keinginan dari penyebab dan penerima sebab.
pengausatifan sintaktis menunjukkan makna ‘menyuruh’, tetapi karena struktur ini menunjukkan tingkat ‘kesopanan’ pada penerima sebab, kata ‘meminta’ dapat mewakili terjemahan struktur –te morau ini. Pengkausatifan leksikal memiliki ciri hadir dalam bentuk verba transitif yang dalam sistem bJ, verba tersebut merupakan verba berpasangan yang dikenal dengan istilah jidoushu dan tadoushi. Makna yang dihasilkan oleh pengausatifan leksikal menunjukkan makna ‘menjadikan’, yang penyebab bertindak langsung melakukan tindakan tersebab kepada penerima sebab. Kadar kelangsungan akibat yang diperoleh penerima sebab terhadap perbuatan yang dilakukan penyebab dari tiga tataran pengausatifan tersebut menunjukkan bahwa pengausatifan leksikal memiliki kadar kelangsungan tertinggi, kemudian diikuti oleh pengkausatifan morfologis dan pengausatifan sintaktis. Hal ini akan sangat berguna sebagai referensi penelitian ini, khususnya berkaitan dengan parameter semantis.
and V-kausatif X-COMP OBJ. Temuan penelitian ini menjadi masukan yang penting dalam penelitian bBT, khususnya dalam penggunaan teori tata bahasa Leksikal Fungsional sebagai bandingan terhadap tata bahasa TG.
2.3 Kerangka Kerja Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini menggunakan pendekatan tipologi gramatikal, sedangkan analisis dalam kajian ini menjelaskan beberapa aspek sintaksis bBT khususnya kalimat yang memiliki verba kausatif. Selanjutnya, struktur kalimat tersebut dianalisis dengan menggunakan kajian yang mendukung proses penemuan tipe bBT.
Gambar 8. Kerangka Kerja Teoretis Parameter Formal
Teori Perpindahan Teori X-Bar
Parameter Semantis
TIPOLOGI
SINTAKSIS Kausatif bBT
Tipe
Struktur KALIMAT
ANALISIS DATA
Catatan:
1
Payne (2002: 175) mendefinisikan kausatif, “A causative is a linguistic expression that contains in semantic/ logical structure a predicate of causee, one argumen of which is a predicate expressing an effect”. Oleh karena itu, konstruksi kausatif disimbolkan dengan: CAUSE (x, P) = x causes P.
2
Bahasa Jerman I adalah konstruksi kausatif yang menunjukkan monoklausal dan yang predikat dinyatakan secara analitis, yaitu dengan lebih dari satu kata morfologi. Bahasa Malayalam juga memiliki konstruksi kausatif dengan perilaku konsisten monoklausal, tetapi tidak seperti bahasa Jerman yang mengungkapkan predikat penyebab dalam satu kata morfologi tunggal. Bahasa yang tercantum di sisa dua baris tabel tersebut memiliki konstruksi kausatif yang telah dilaporkan secara konsisten menunjukkan biklausal dan efek campuran masing-masing (lihat Ackerman dan Webelhuth, 1998: 269).
3
Verba fell dalam bahasa Inggris tidak memenuhi syarat sebagai bentuk verba kausatif morfologis bukan karena verba derivatif seperti halnya felled. Contoh lain misalnya, verba lay yang merupakan kausatif dari verba lie (Payne, 2002).
4Istilah ‘komponen’
dirujuk pada konsep Metabahasa Semantik Alami (MSA) yang memiliki perangkat makna ‘ciri’ atau ‘fitur’. Dalam kajian ini, istilah ‘komponen penyebab’ digunakan pada ‘peristiwa sebab’ yakni memiliki ciri atau fitur penyebab, sedangkan ‘komponen akibat’ digunakan pada ‘peristiwa akibat’. Berkenaan dengan itu, istilah ‘penyebab’ atau causer merujuk pada entitas yang menyebabkan peristiwa sebab, sedangkan ‘pesebab’ atau causee merujuk pada entitas yang dikenai peristiwa akibat.
5
MNCP adalah jumlah maksimum frasa nomina yang terdapat pada setiap klausa (lihat Song, 2001: 264).
6
Anteseden merupakan kata atau bagian kalimat yang mendahului pronomina. Adapun Teori Penguasaan dan Pengikatan menghubungkan pronomina dengan anteseden (bandk. Haegeman, 1992: 244).
7
Kalimat sematan adalah konstituen yang didominasi oleh frasa infleksional (FI), terdiri atas FN subjek (causee) plus satu FN objek berupa pasien sesuai dengan valensi verba sematan. Berbeda dengan itu, kalimat matriks adalah konstituen yang berada di atas posisi [SPES, FP] atau di atas K’, terdiri atas FN subjek (causer) dan verba kausatif (Mulyadi, 2004: 136).
8
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian difokuskan di Kabupaten Toba Samosir. Kabupaten tersebut adalah wilayah kajian yang cukup representatif mengingat penutur bahasa Batak Toba tersebar di beberapa titik di tempat tersebut.
Gambar 9. Peta Penutur Bahasa Batak Toba di Kabupaten Toba Samosir Sumber: Data BPS Kabupaten Toba Samosir tahun 2009
rumah tangga. Tingkat kepadatan penduduk adalah 86.7 org/km². Di bawah ini disajikan tabel jumlah penduduk yang menempati sejumlah wilayah di kabupaten Toba Samosir. Sumber: Data BPS Kabupaten Toba Samosir tahun 2009
Berdasarkan data di atas, lokasi penelitian ini hanya difokuskan di kecamatan Balige. Hal tersebut didasarkan pada jumlah penduduk di lokasi tersebut cukup padat sehingga mempermudah pemerolehan data lisan.
3.2 Pendekatan dan Metode Penelitian
yang berangkat dari kasus tertentu yang terdapat pada suatu situasi sosial yang ditransfer ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang dipelajari (Sugiyono, 2008: 216)1. Bahasa sebagai ranah kajian ini merupakan bagian dari situasi sosial. Konsepsi masyarakat penutur bBT mengenai peristiwa sebab-akibat dalam situasi sosial tercermin melalui penggunaan kausatif. Oleh karena itu, berdasarkan konsep pendekatan ini, peneliti memasuki situasi sosial untuk melakukan observasi dan wawancara kepada informan.
3.3 Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa ragam kalimat dalam bBT. Mallison dan Blake (1981: 12-18) menyatakan terdapat tiga jenis sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan data dalam penelitian linguistik, yakni sebagai berikut.
1. Data primer berupa data lisan, yakni: data lisan wawancara (DLW); data lisan percakapan sehari-hari (DLP), dalam hal ini diambil di gereja dan pajak Balige; data lisan acara adat (DLA). Oleh karena itu, untuk memperoleh data primer yang sahih, peneliti memanfaatkan sumber data lisan sejumlah informan yang memenuhi kriteria sebagai berikut.
a) bersedia menjadi informan;
e) memiliki karakter baik dan jujur dalam pemberian data, baik dalam kesediaan waktu maupun ragam ujaran (lihat juga Nida, 1970: 109). Selain itu, dalam penelitian ini digunakan data lisan yang dikumpulkan dalam bentuk daftar pertanyaan sintaksis dan DCT (Discourse Compeletion Test) yang dirancang peneliti.2
2. Data sekunder berupa data tulis, yakni dengan menggunakan beberapa cerita rakyat bBT seperti mitos bBT ‘Sipiso Nasumalim’, dan teks lain seperti materi seminar ‘Tarbahensa do Ulaning Manotas Dalan tu Abad 21 on?” yang diproduksi dalam bahasa Batak Toba.
3.4 Prosedur dan Pengumpulan Perekaman Data
Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah metode cakap dan metode simak. Metode cakap digunakan untuk mendapatkan data lisan. Dengan metode ini peneliti terlibat langsung dalam percakapan dengan narasumber (penutur bBT). Ada dua jenis teknik yang digunakan dalam metode ini, yakni teknik dasar dan teknik lanjutan.