Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah dI Dua Fakultas di Medan

93  36 

Teks penuh

(1)

GAMBARAN KECEMASAN AKADEMIK MAHASISWA

KULIAH DI DUA FAKULTAS DI MEDAN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

OLEH:

CAROLINE UTAMA

101301033

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

i

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:

“GAMBARAN KECEMASAN AKADEMIK MAHASISWA KULIAH

DI DUA FAKULTAS DI MEDAN”

Adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Oktober 2014

Caroline Utama NIM 101301033

(3)

Medan

Caroline Utama & Filia Dina Anggaraeni ABSTRAK

Pada umumnya di perguruan tinggi, mahasiswa memilih dan menjalani perkuliahan di satu fakultas yang menjadi ketertarikan atau minatnya. Namun ada sebagian mahasiswa merasa di era globaliasasi yang begitu kompleks, seharusnya mereka memiliki kemampuan tidak hanya di satu bidang. Salah satu dampak dari kuliah di dua fakultas adalah kecemasan akademik yang dialami semua mahasiswa. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas di Medan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Kecemasan akademik mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena adanya kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugas akademik diberikan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa kuliah di dua fakultas di Medan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 61 orang mahasiswa yang sedang menjalani kuliah di dua fakultas. Alat ukur yang digunakan adalah skala kecemasan akademik yang disusun oleh peneliti berdasarkan 4 aspek kecemasan akademik, yaitu: aspek pola-pola kecemasan yang menimbulkan kecemasan mental, aspek tidak fokus, aspek distress secara fisik, dan aspek perilaku yang tidak tepat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecemasan akademik pada mahasiswa kuliah dua fakultas berada pada kategori sedang (68,8%). Berdasarkan empat aspek kecemasan akademik, responden dalam penelitian ini memiliki kecemasan akademik kategori sedang.

(4)

iii

The Description of Academic Anxiety on Two Major College Students in Medan

Caroline Utama & Filia Dina Anggaraeni ABSTRACT

In university, college students usually choose and join one faculty they are interested in. But there are some students feel that in this complicated globalization era, they need to have more competency from not only one field of study. One of the effects of two majoring is academic anxiety which happened among college students. The research aim is to know the description of academic anxiety on two major program students in Medan by using descriptive quantitative research method. Academic anxiety is disruptive thoughts and

physical respond caused by student’s performance which regarded as poor when academic tasks is given. The population of the research is two major program students in Medan. There are 61 two major college students as sample in this research. To measure academic anxiety, researcher made a scale based on 4 aspects of academic anxiety: patterns of anxiety-engendering mental activity, misdirected attention, physiological distress, and inappropriate behaviors. The research result shows that academic anxiety on two major students is average

(68.8%). Based on four aspects of academic anxiety, the respondent result is average.

Keyword: academic anxiety, two major college students

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa akan berkat dan rahmat melimpah yang telah diberikan. Terima kasih yang tidak akan pernah habis kepada kedua orang tua peneliti, Papa Robert Surianto dan Mama Ng Che Moi serta kakak, abang, dan adik yang selalu memelihara, memberi nasehat, mendampingi, berbagi suka duka selama perkuliahan dan penyusunan skripsi ini sehingga akhirnya peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah di Dua Fakultas di Medan.” Skripsi ini peneliti susun untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan skripsi ini peneliti mendapat banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, Psikolog, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd, selaku dosen pembimbing seminar dan skripsi yang telah memberikan banyak ilmu, waktu, nasehat serta kesabaran dalam membimbing sehingga penelitian ini dapat terselesaikan. 3. Kedua dosen penguji, Ibu Fasti Rola, M.Psi., Psikolog dan Bapak Eka

(6)

v

4. Bapak Zulkarnain, M.Psi, psikolog selaku dosen pembimbing akademik peneliti yang telah mendampingi dan memberi saran akademik kepada peneliti.

5. Seluruh staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, atas ilmu, pengalaman dan nasehat yang telah diberikan dan seluruh staf pegawai atas bantuannya selama masa-masa perkuliahan dan penyusunan skripsi.

6. Terima kasih kepada teman-teman seangkatan 2010 terutama sahabat-sahabat: Veronica, Jilly Chandra, Venti Ayu Wibawa, Wieny Delvonia, Dede Suhendri, Johan Wibawa, UF (Nanda Lukita Audi, Annisa Vanya Pulungan, Fitri Khairani Ginting, Fithra Runisya Simamora, Annisa Hazrina Hasbi dan Febri Jayanti). Terima kasih atas waktu yang kita lewati bersama selama masa perkuliahan, membuat tugas, belajar bersama, nongkrong ketika jam kuliah kosong dan semua kenangan yang tidak akan saya lupakan.

7. Terima kasih kepada senior dan junior dari Universitas Sumatera Utara yang telah mambantu saya dalam proses pencarian responden, terutama Kak Aisyah Hudaya, Kak Serefhy M. Silaen, Kak Juli Theresia, Kak Sri Rezeki Amalia Hirai, Ko Sugiman, Addriyanus Tantra, Jane Kosasih, Fonds Novel, Puspa Tantri, Fera Leo, Benny Chang, Thaya, Michael Timothy, Jenny Chenjaya, Vivian Felicia dan Suryany Zhou.

(7)

Akhir kata, saya berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas segala kebaikan saudara-saudara semua. Saya sangat menerima segala saran maupun kritik yang dapat membantu saya agar dapat menjadi lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Peneliti,

(8)

vii

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian... 9

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Sistematika Penulisan Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A. Kecemasan Akademik... 10

1. Pengertian Kecemasan Akademik ... 10

2. Gejala Kecemasan Akademik ... 11

3. Karakteristik Kecemasan Akademik ... 13

(9)

B. Mahasiswa ... 16

C. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas ... 17

BAB III METODE PENELITIAN ... 20

A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 20

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 20

C. Populasi, Sampel dan Metode Pengambilan Sampel ... 21

1. Populasi dan Sampel ... 21

2. Metode Pengambilan Sampel ... 23

3. Jumlah Sampel yang Digunakan ... 24

4. Karakteristik Populasi ... 24

D. Alat Ukur Penelitian... 24

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur... 29

1. Validitas Alat Ukur ... 29

2. Reliabilitas Alat Ukur... 29

F. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 30

G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 30

H. Metode Analisis Data ... 34

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 35

A. Analisa Data ... 35

1. Gambaran Umum Responden ... 35

(10)

ix

B. Pembahasan ... 46

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 50

A. Kesimpulan ... 50

B. Saran ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 54

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Bobot Pernyataan Skala Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua

Fakultas ... 26

Tabel 2. Blueprint Skala Kecemasan Akademik ... 27

Tabel 3. Distribusi Aitem Skala Kecemasan Akademik ... 28

Tabel 4. Distribusi Aitem Skala Kecemasan Akademik Setelah Uji Coba ... 32

Tabel 5. Penomoran Ulang Aitem Skala Kecemasan Akademik Mahasiswa Dua Fakultas ... 33

Tabel 6. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 35

Tabel 7. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia ... 36

Tabel 8. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Tingkat Semester ... 37

Tabel 9. Uji Normalitas ... 37

Tabel 10. Skor Empirik dan Skor Hipotetik Skala Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas ... 38

Tabel 11. Kriteria Kategorisasi Norma Nilai Kecemasan Akademik ... 39

Tabel 12. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas ... 39

(12)

xi

Tabel 14. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Pola-Pola Kecemasan yang Dapat Menyebabkan Kecemasan Mental ... 41

Tabel 15. Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Tidak Fokus ... 42

Tabel 16. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Tidak Fokus ... 42

Tabel 17. Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Distres Secara Fisik... 43

Tabel 18. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Distres Secara Fisik ... 44

Tabel 19. Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Perilaku Yang Tidak Sesuai ... 45

Tabel 20. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Perilaku yang Tidak Sesuai ... 45

Tabel 21. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas Berdasarkan Jenis Kelamin ... 46

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Skala Uji Coba Kecemasan Akademik

Lampiran II Skala Kecemasan Akademik

Lampiran III Reliabilitas Skala Kecemasan Akademik

(14)

ii

Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah di Dua Fakultas di Medan

Caroline Utama & Filia Dina Anggaraeni ABSTRAK

Pada umumnya di perguruan tinggi, mahasiswa memilih dan menjalani perkuliahan di satu fakultas yang menjadi ketertarikan atau minatnya. Namun ada sebagian mahasiswa merasa di era globaliasasi yang begitu kompleks, seharusnya mereka memiliki kemampuan tidak hanya di satu bidang. Salah satu dampak dari kuliah di dua fakultas adalah kecemasan akademik yang dialami semua mahasiswa. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas di Medan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Kecemasan akademik mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena adanya kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugas akademik diberikan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa kuliah di dua fakultas di Medan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 61 orang mahasiswa yang sedang menjalani kuliah di dua fakultas. Alat ukur yang digunakan adalah skala kecemasan akademik yang disusun oleh peneliti berdasarkan 4 aspek kecemasan akademik, yaitu: aspek pola-pola kecemasan yang menimbulkan kecemasan mental, aspek tidak fokus, aspek distress secara fisik, dan aspek perilaku yang tidak tepat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecemasan akademik pada mahasiswa kuliah dua fakultas berada pada kategori sedang (68,8%). Berdasarkan empat aspek kecemasan akademik, responden dalam penelitian ini memiliki kecemasan akademik kategori sedang.

Kata kunci: kecemasan akademik, mahasiswa kuliah di dua fakultas

(15)

Caroline Utama & Filia Dina Anggaraeni ABSTRACT

In university, college students usually choose and join one faculty they are interested in. But there are some students feel that in this complicated globalization era, they need to have more competency from not only one field of study. One of the effects of two majoring is academic anxiety which happened among college students. The research aim is to know the description of academic anxiety on two major program students in Medan by using descriptive quantitative research method. Academic anxiety is disruptive thoughts and

physical respond caused by student’s performance which regarded as poor when academic tasks is given. The population of the research is two major program students in Medan. There are 61 two major college students as sample in this research. To measure academic anxiety, researcher made a scale based on 4 aspects of academic anxiety: patterns of anxiety-engendering mental activity, misdirected attention, physiological distress, and inappropriate behaviors. The research result shows that academic anxiety on two major students is average

(68.8%). Based on four aspects of academic anxiety, the respondent result is average.

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan memiliki peranan yang penting, terutama jika dikaitkan dengan upaya peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM). Hanya dengan sumber daya manusia yang berkualitaslah akan tercipta peningkatan harkat dan martabat manusia yang sejati. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Sisdiknas pasal 1 ayat 1 tentang Pendidikan yang menyatakan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Sawaji, 2011).

Salah satu bagian yang bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengatasi permasalahan kualitas sumber daya manusia adalah perguruan tinggi (Sawaji, 2011). Pada umumnya di perguruan tinggi, mahasiswa memilih dan menjalani perkuliahan di satu fakultas yang menjadi ketertarikan atau minatnya. Namun ada sebagian mahasiswa merasa di era globaliasasi yang begitu kompleks, seharusnya mereka memiliki kemampuan tidak hanya di satu bidang. Mahasiswa yang menjalani dua perkuliahan pada waktu yang bersamaan disebut mahasiswa kuliah di dua fakultas.

(17)

Alasan mahasiswa menjalani kuliah di dua fakultas bisa karena takut kalah bersaing ataupun takut sulit mendapatkan pekerjaan nantinya sehingga memutuskan menjalani kuliah di dua fakultas. Hal ini didukung oleh Evans (2010) yang menyatakan manfaat yang paling nyata dari kuliah di dua fakultas adalah mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak dalam spesifik ilmu tertentu, pilihan pekerjaan, dan skill yang bervariasi. Kemudian Shannon (2012) menambahkan bahwa kuliah di dua fakultas menyediakan kesempatan untuk jenjang karir yang lebih maju. McClelland (dalam Miller, 2008) juga menjelaskan bahwa kuliah dua di fakultas dapat membuat mahasiswa yang telah lulus menjadi lebih bernilai dalam pasar kerja yang ketat akan persaingan.

Ada pula sisi negatif dari kuliah di dua fakultas menurut Evans (2010) yaitu kandidat pekerja yang adalah mahasiswa kuliah di dua fakultas mendapatkan kritikan dari perusahaan-perusahaan. Beberapa perusahaan mengira kandidat pekerja yang adalah mahasiswa kuliah di dua fakultas mengalami kebingungan dalam menentukan tujuan karir mereka. Kenyataannya mahasiswa kuliah di dua fakultas hanya merasa tidak yakin karir yang mana yang harus ia capai terlebih dahulu.

(18)

3

menjalani kuliah di dua fakultas. Hal ini diperkuat dengan kutipan wawancara berikut ini:

“…ya kalau di psikologi emang pas milih fakultas aku pingin tau di dalam

tuh belajar apa aja. Kalau di sastra Mandarin sih karena aku emang suka bahasa

Mandarin dari sananya…”

(Komunikasi Personal, 2014) Selain minat yang beragam, keputusan mahasiswa untuk menjalani kuliah di dua fakultas juga dapat dipengaruhi oleh faktor situasi dan kondisi. Maksud situasi dan kondisi di sini berupa ketersediaan biaya dan waktu. Universitas negeri umumnya memiliki rentang jam perkuliahan yang dimulai dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Jam kuliah yang ditetapkan sedemikian rupa membuat sulit bagi mahasiswa univeritas negeri untuk bekerja kecuali pada bidang pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak waktu di pagi hingga sore seperti menjadi guru privat, berjualan online, dan sebagainya. Untuk memanfaatkan waktu senggang tanpa jadwal kuliah, mahasiswa memutuskan menjalani kuliah di dua fakultas. Selain memanfaatkan waktu, ada pula faktor kondisi dimana mahasiswa sebenarnya hanya mendaftarkan diri pada satu universitas namun dikarenakan ketakutan tidak lulus ujian masuk universitas yang bersangkutan, mahasiswa mendaftarkan diri ke universitas lain sebagai cadangan sehingga jika tidak diterima di universitas pertama, masih ada tempat bagi mahasiswa di universitas lain. Hal ini terjadi pada salah satu mahasiswa kuliah di dua fakultas yang peneliti wawancara:

“…pertamanya emang cuma niat masuk ke USU. Tapi setelah ikut Ujian Masuk Bersama (UMB), eh takutnya gak masuk. Makanya ngedaftar ke universitas lain. Tau-tau masuk pula dua-duanya. Kan sayang juga kalo dilepas salah satu. Lagian jadwal kuliahnya satu pagi satunya lagi sore. Yah akhirnya jalanin aja dua-dua…”

(19)

(Komunikasi Personal, 2014)

“… sebenernya pinginnya masuk USU cuman kata mama yaudalah coba aja dulu daftar di tempat lain. Mana tau USU gak masuk kan ada cadangannya. Eh tau-tau masuk pula di USU. Sayang juga kan dilepas yang satunya lagi. Ngerasa sanggup yah aku jalani aja. Buktinya bisa kok sampe sekarang fine-fine

aja…”

(Komunikasi Personal, 2014) Selain motif-motif di atas, keinginan mahasiswa untuk mendapatkan suatu kepuasan atau kebanggaan ketika membayangkan dirinya mendapatkan hasil lebih dari teman-teman lainnya juga menjadi salah satu alasan mahasiswa menjalani kuliah di dua fakultas. Orang tua juga adalah salah satu alasan mengapa mahasiswa memutuskan menjalani kuliah di dua fakultas. Hal ini didukung dengan kutipan wawancara berikut:

“… sebenarnya alasan aku ngejalani kuliah dua yah karna mama juga sih. Pertamanya aku pingin kuliah di negri cuma mama kurang setuju. Beliau minta aku di swasta aja. Pas ujian SNMPTN malah lulus di negri. Makanya jadi

ngejalanin dua deh..”

(Komunikasi Personal, 2014) Mahasiswa, yang pada umumnya adalah remaja usia 17-22 tahun, memasuki dunia baru yaitu dunia perkuliahan dan merasakan banyak hal yang berubah dalam proses menjalani kuliah. Perubahan tersebut antara lain adalah dalam sistem pembelajaran, sistem penugasan, sistem ujian dan sistem evaluasi.

(20)

5

perguruan tinggi tersebut. Namun hal demikian tidak berlaku di perguruan tinggi swasta. Di kota Medan sendiri, terdapat tiga perguruan tinggi negeri, yaitu: Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan (UNIMED), dan Universitas Islam Negeri (UIN).

Perubahan sistem yang terjadi memicu adanya kecemasan dalam diri mahasiswa. Hal ini didukung oleh Papalia (2007) yang menyatakan bahwa dalam masa transisi memasuki perkuliahan, dengan standar edukasi yang lebih tinggi dibandingkan sekolah dan ekspektasi yang lebih tinggi kepada siswa, merupakan masa yang membuat beberapa siswa merasa terkejut. Selanjutnya, menurut Maddox (2011) semua hal yang memiliki hubungan dengan perubahan situasi sekolah dapat menimbulkan kecemasan akademik.

Kecemasan akademik dialami semua siswa. Hal ini sejalan dengan pernyataan Costello (dalam Kohli & Gupta, 2013) bahwa kecemasan merupakan salah satu penyimpangan psikologis paling umum yang dialami siswa sekolah dan remaja di seluruh dunia. Pada studi mengenai masalah psikologis yang dialami mahasiswa, Kumaraswamy (dalam Kumaraswamy, 2012) menemukan bahwa 26% subjek mengalami distress psikologis dan 31% subjek mengalami kecemasan serta depresi. Kecemasan, depresi dan stress adalah hal yang umum terjadi pada mahasiswa (Kumaraswamy, 2012).

Berdasarkan hasil survey dari 8 orang yang menjalani kuliah di dua fakultas, menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka mengatakan menjalani kuliah di dua fakultas menyebabkan keterlambatan dalam beberapa aspek seperti: tidak menyelesaikan program kuliah di dua fakultas pada waktu sesuai dengan

(21)

jadwal, penyelesaian tugas kuliah, serta rendahnya nilai yang didapatkan sehingga menyebabkan mereka memutuskan untuk berhenti dari salah satu fakultas. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar dari mahasiswa tersebut mengalami kecemasan akademik.

Kecemasan akademik merupakan masalah yang penting yang akan mempengaruhi sejumlah besar siswa (Ottens, 1991). Kecemasan akademik menurut Ottens (1991) adalah terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugas akademik diberikan. Kecemasan akademik bukanlah hal yang buruk. Meskipun tingkat kecemasan yang tinggi berhubungan dengan konsentrasi dan memori yang berperan penting dalam kesuksesan akademik, tetapi tanpa kecemasan, kebanyakan siswa akan kekurangan motivasi belajar untuk ujian, menulis makalah atau melakukan pekerjaan rumah. Tingkat kecemasan sedang sebenarnya dapat membantu performa akademik dengan memicu motivasi. Jika kecemasan akademik tidak dapat dikontrol dengan benar, maka akan ada banyak konsekuensi jangka panjang yang timbul (Kohli & Gupta, 2013).

(22)

7

kurang tepat) seperti prokrastinasi tugas dan terlalu memaksakan diri. Keempat karakteristik kecemasan akademik di atas terlihat pada kutipan-kutipan wawancara berikut:

“… ngeri-ngeri sedap pas nunggu nilai keluar. Karna pas waktu ujian di

satu fakultas sama fakultas lainnya bentrok, satu di pagi satu di sore. Jadi malam sebelumnya tuh mesti belajar dua bahan. Takut ga lulus nilainya…”

(Komunikasi Personal, 2014)

“... lu bayangkan lho. Aku udah sengaja atur sidang USU bulan ini atur jadwal udah OK malah kena cancel. Kayanya mesti tunggu bulan 8 atau 11. Kalo bulan 11 mah sama- sama uni aku satu lagi. Pening lah gimana aturnya entar…”

(Komunikasi Personal, 2014)

“…khawatir aja sama jadwal ujian nanti. Takut bentrok sih sebenarnya. Kan sayang aja kalo udah ngikutin kuliah tapi enggak ikut ujian…”

(Komunikasi Personal, 2014)

“…sering sih kepepet waktu pas di jalan menuju salah satu kampus gara-gara belum kelar urusan di kampus satu lagi. Jadinya sering panik sendiri telat

gak ya gitu pas di mobil…”

(Komunikasi Personal, 2014)

“…jadi kan banyak banget tugas dari dua kampus. Kadang ada yang

sama hari deadline nya. Enggak aku kerjain pula duluan, jadinya numpuk semua. Malam sebelumnya lah heboh ngerjain sampe begadang. Bingung juga entah bisa

siap ga semua dalam waktu semalam…”

(Komunikasi Personal, 2014) Selain rasa khawatir, aspek kecemasan akademik selanjutnya menurut Ottens (1991) adalah misdirected attention atau perhatian ke arah yang salah atau tidak fokus. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan pada salah satu mahasiswa kuliah di dua fakultas di tempat peneliti berkuliah, peneliti melihat mahasiswa tersebut mengerjakan tugas yang adalah tugas di fakultas lain ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung. Dengan kata lain ada kegiatan yang membuat mahasiswa kuliah di dua fakultas tidak fokus pada pelajaran dan memberikan perhatian pada objek yang lain.

(23)

Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan, munculnya kecemasan akademis pada mahasiswa kuliah di dua fakultas yang disimpulkan sebagai berikut: (1) Mahasiswa kuliah di dua fakultas sering mengalami kecemasan ketika mendapatkan jadwal kuliah ganti yang bentrok antara kedua fakultas, (2) Mahasiswa kuliah di dua fakultas sering khawatir pada prestasi yang dicapai terutama ketika Ujian Tengah Semester (UTS) atau Ujian Akhir Semester (UAS) dimana kedua fakultas mengadakan ujian di waktu yang berdekatan atau bersamaan, dan (3) Mahasiswa kuliah di dua fakultas terkadang tidak dapat mengontrol seluruh tugas yang diberikan di kedua fakultas dan sering kali tugas tersebut ditunda, dilupakan dan akan dikerjakan dekat waktu deadline.

Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti melihat adanya kecemasan akademik pada mahasiswa kuliah di dua fakultas sehingga tertarik untuk melihat gambaran kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas di Medan.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun pertanyaan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana gambaran kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas di Medan?”

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

1. Mendeskripsikan tingkat kecemasan akademik pada mahasiswa kuliah di dua fakultas.

(24)

9

3. Mendeskripsikan perbedaan tingkat kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas berdasarkan jenis kelamin.

D. MANFAAT PENELITIAN

Ada dua manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini, yaitu :

1. Manfaat teoritis

Dapat memberikan masukan dan sumber informasi bagi disiplin ilmu psikologi terutama pada bidang psikologi pendidikan, mengenai gambaran kecemasan akademik pada mahasiswa kuliah dua fakultas serta dapat menjadi penelitian awal bagi penelitian selanjutnya mengenai mahasiswa kuliah dua fakultas.

2. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi kepada masyarakat luas khususnya mahasiswa mengenai kecemasan akademik pada mahasiswa kuliah dua fakultas.

E. SISTEMATIKA PENULISAN PENELITIAN

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi uraian singkat mengenai latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.

BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini berisi landasan teoritis yang bersumber dari literatur dan pendapat para ahli yang dapat digunakan sebagai landasan berpikir dalam pembahasan penelitian ini.

(25)

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan mengenai metode penelitian kuantitatif, responden penelitian, metode pengambilan data, alat bantu pengumpulan data, validitas dan reliabilitas penelitian, dan prosedur penelitian.

BAB IV : ANALISA DATA DAN INTERPRETASI

Bab ini terdiri dari gambaran umum subjek penelitian, hasil utama penelitian, hasil tambahan penelitian dan analisa hasil penelitian

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

(26)

11

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KECEMASAN AKADEMIK

1. Pengertian Kecemasan Akademik

Cornell University (2001) menjelaskan kecemasan akademik adalah hasil dari proses biokimia dalam tubuh dan otak yang meningkatkan dan membutuhkan perhatian. Perubahan terjadi dalam respon terhadap situasi-situasi akademik seperti menyelesaikan tugas, diskusi atau ketika ujian. Ketika kecemasan meningkat, tubuh akan memberikan reaksi atau respon untuk menolak atau memperjuangkannya. Menurut Valiante & Pajares (1999) kecemasan akademik adalah perasaan tegang dan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, perasaan tersebut mengganggu dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademik.

Menurut Ottens (1991), kecemasan akademik mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena adanya kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugas akademik diberikan. Kecemasan akademik adalah masalah yang penting yang akan mempengaruhi kinerja sejumlah besar siswa. Ketika kecemasan yang dirasakan oleh siswa berlebihan maka akan berpengaruh secara negatif, dimana siswa mengalami tekanan psikologis sehingga siswa tersebut mendapatkan hasil belajar yang kurang baik dan lebih banyak menghindari tugas. Hal ini disebabkan oleh menurunnya tingkat perhatian, konsentrasi dan memori pada siswa. Namun,

(27)

disisi lain kecemasan memiliki pengaruh yang positif terhadap siswa karena dapat memotivasi siswa untuk menyelesaikan tugas.

Perasaan adanya bahaya, takut, atau tegang sebagai hasil dari tekanan di sekolah disebut juga sebagai kecemasan akademik. Kecemasan akademik paling sering dialami pada latihan yang bersifat rutinitas dimana siswa diharapkan berada dalam kondisi sebaik mungkin saat performa ditunjukkan, serta pada saat sesuatu yang dipertaruhkan bernilai sangat tinggi, seperti tampil di depan umum. Cara seseorang merasakan kecemasan dapat terjadi secara bertahap dari pertama kali kecemasan tersebut muncul. Gangguan serius yang dialami seseorang akan menyebabkan kepanikan dan kesulitan untuk berfungsi secara normal (O’Connor, 2008).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan akademik adalah dorongan pikiran dan perasaan dalam diri individu yang berisikan ketakutan akan bahaya atau ancaman di masa mendatang tanpa sebab khusus, sehingga mengakibatkan terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku sebagai hasil tekanan dalam pelaksanaan tugas atau aktivitas dengan situasi akademik.

2. Gejala Kecemasan Akademik

O’Connor (2008), membagi gejala-gejala kecemasan akademik menjadi 2, yaitu:

a. Gejala kecemasan akademik ringan, meliputi: i. Pusing

(28)

13

iii. Telapak tangan berkeringat iv. Bercak merah di wajah

v. Wajah merona vi. Sakit kepala

vii. Kenaikan pada nada suara saat berbicara

viii. Pikiran negatif tentang kegagalan menyelesaikan tugas atau kehabisan waktu

ix. Keraguan diri akan kemampuan di bidang tertentu

x. Ketakutan akan merasa malu di depan teman sekelas dan guru xi. Takut akan kegagalan

b. Gejala kecemasan akademik berat, meliputi: i. Mati rasa di tangan dan kaki

ii. Hipokondria (takut akan sakit) iii. Kesulitan tidur

iv. Pusing berat atau kehilangan kesadaran v. Kesulitan bernapas dan perasaan dicekik

vi. Pikiran paranoid seperti dinilai buruk oleh orang lain atau tidak disukai orang lain

vii. Pikiran obsesif berulang yang sulit dihentikan

viii. Ketakutan akan merasa malu di depan teman sekelas dan guru ix. Ketakutan akan merasa cemas

x. Depresi

xi. Sedih dan merasa dibebani oleh perasaan sangat khawatir

(29)

xii. Panik dan kesal yang terus menerus tanpa masalah atau peristiwa tertentu.

3. Karakteristik Kecemasan Akademik

Ottens (1991) membagi-membagi karakteristik kecemasan akademik menjadi 4, yaitu:

a. Patterns of anxiety-engendering mental activity (pola-pola kecemasan yang menyebabkan kecemasan mental)

Individu menunjukkan pemikiran, persepsi dan pandangan yang mengarah pada kesulitan akademik yang akan dihadapi. Ada tiga hal penting dalam pola kecemasan yang menyebabkan kecemasan mental, yaitu: pertama dan yang terpenting adalah rasa khawatir. Siswa sering merasa tidak aman dan mencemaskan segala sesuatu yang mereka lakukan menjadi salah. Kedua, siswa yang cemas secara akademik melakukan “self-dialogue” yang maladaptive berbentuk kritikan keras terhadap diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, dan self-talk yang menimbulkan perasaan cemas yang berkontribusi pada kepercayaan diri yang rendah dan penyelesaian masalah yang tidak teratur. Ketiga adalah pengertian dan keyakinan yang keliru mengenai diri sendiri. Siswa memiliki keyakinan yang salah tentang isu-isu mengenai self-worth, cara terbaik untuk memotivasi diri sendiri, dan bagaimana cara mengatasi kecemasan dan kesalahan dalam isu-isu inilah yang memicu adanya kecemasan akademik.

b. Misderected attention (perhatian ke arah yang salah)

(30)

15

pekerjaan rumah. Tetapi siswa yang cemas membiarkan perhatian mereka teralihkan. Perhatian dapat terganggu oleh faktor eksternal (tindakan siswa lain, suara jam, suara bising) atau faktor internal (khawatir, lamunan, dan reaksi fisik). Perhatian yang teralihkan bekerja dalam dua cara, yaitu: pertama, jika siswa membiarkan perhatiannya teralihkan, siswa tidak dapat bekerja secara efisien. Kedua, jika siswa fokus pada rasa khawatir maka ia akan menjadi bingung secara emosional.

c. Physiological distress (distres secara fisik)

Banyak perubahan yang terjadi pada tubuh yang dihubungkan dengan kecemasan seperti otot menjadi kaku, berkeringat, jantung berdetak lebih cepat, dan tangan gemetar. Aspek-aspek emosional dan fisik dari kecemasan dapat sangat mengganggu jika diinterpretasikan sebagai hal yang berbahaya atau menjadi fokus perhatian yang penting selama manjalankan tugas akademik.

d. Innappropriate behaviours (perilaku yang kurang tepat)

Siswa yang mengalami kecemasan akademik memilih untuk berperilaku semakin menyulitkan diri mereka sendiri. Menunda (procastination) adalah hal yang umum dijumpai, seperti menghindar dari pelaksanaan tugas (berbicara dengan teman pada saat belajar). Kecemasan akademik juga tampak pada siswa yang menjawab soal-soal ujian secara terburu-buru atau terlalu teliti dalam ujian untuk menghindari kesalahan. Tindakan yang tidak tepat lainnya adalah siswa memilih untuk terlalu memaksakan diri sendiri pada saat ia tegang dibandingkan bersantai sejenak.

(31)

B. MAHASISWA

Mahasiswa /ma·ha·sis·wa/ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yg belajar di perguruan tinggi. Mahasiswa menurut Budiman (2006) adalah orang yang belajar di tingkat perguruan tinggi untuk mempersiapkan dirinya dalam suatu keahlian tingkat sarjana.

Kewajiban mahasiswa yang paling penting adalah belajar karena belajar adalah syarat mutlak untuk mencapai tujuan ilmiah. Adapun tujuan mahasiswa adalah untuk mencapai dan meraih taraf keilmuan yang matang, artinya ia ingin menjadi sarjana yang sujana, yang menguasai suatu ilmu serta memahami wawasan ilmiah yang luas sehingga mampu bersikap dan bertindah ilmiah. Dalam memasuki perguruan tinggi, mahasiswa harus memiliki kesadaran penuh. Seorang mahasiswa diharapkan memiliki ketegasan dalam menuntut ilmu dan sadar bahwa dirinya akan memasuki dunia ilmiah. (Ganda, 2004)

Beberapa ilmu pengetahuan dasar yang harus dimiliki mahasiswa menurut Sutardi & Budiasih (2010), yaitu:

a. Mengetahui sumber-sumber materi pelajaran b. Memahami sistem perkuliahan

c. Mengetahui cara belajar yang efektif dan efisien d. Mengetahui untuk apa belajar di perguruan tinggi

e. Megetahui kegunaan ilmu pengetahuan yang diperolehnya.

Selain ilmu pengetahuan, mahasiswa juga perlu memiliki skill seperti: a. Kemampuan berkomunikasi dan presentasi

(32)

17

c. Kemampuan bertanya

d. Kemampuan menggabungkan berbagai fakta yang berkaitan e. Kemampuan menggunakan pola piker kreatif dan berfokus f. Kemampuan merencanakan studi, dan sebagainya.

C. GAMBARAN KECEMASAN AKADEMIK MAHASISWA KULIAH DI DUA FAKULTAS

Di era globalisasi, pendidikan di perguruan tinggi memainkan peranan penting dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di pasar kerja. Ada sebagian mahasiswa merasa di era yang begitu kompleks, seharusnya mereka memiliki kemampuan tidak hanya di satu bidang karena takut kalah bersaing dengan generasi berikutnya, serta takut sulit mendapatkan pekerjaan nantinya. Untuk memiliki kemampuan lebih, mahasiswa mengikuti perkuliahan di dua fakultas. Program kuliah dua fakultas dapat membantu perguruan tinggi dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas di pasar kerja nantinya.

Ada beberapa motif mengapa mahasiswa memutuskan menjalani kuliah dua fakultas: (1) mahasiswa yang kebanyakan adalah remaja memiliki minat tidak hanya di satu bidang, (2) ketersediaan biaya dan waktu, (3) kepuasan atau kebanggaan ketika membayangkan dirinya mendapatkan hasil lebih dari teman-teman lainnya, dan (4) tuntutan orang tua.

Mahasiswa, yang pada umumnya adalah remaja usia 17-22 tahun, memasuki dunia baru yaitu dunia perkuliahan dan merasakan banyak hal yang berubah dalam proses menjalani kuliah. Perubahan tersebut antara lain adalah

(33)

dalam sistem pembelajaran, sistem penugasan, sistem ujian dan sistem evaluasi. Perubahan yang terjadi memicu adanya kecemasan dalam diri mahasiswa.

Setiap perubahan dapat memimbulkan rasa ketidaknyamanan dan kecemasan. Tidak terkecuali perubahan dari sekolah ke jenjang kuliah. Hal ini didukung oleh Papalia (2007) yang menyatakan bahwa masa transisi memasuki perkuliahan, dengan standar edukasi yang lebih tinggi dibandingkan sekolah dan ekspektasi yang lebih tinggi kepada siswa, merupakan masa yang membuat beberapa siswa merasa terkejut. Maddox (2011) juga menyatakan semua hal yang memiliki hubungan dengan perubahan situasi sekolah dapat menimbulkan kecemasan akademik. Hal ini berarti tiap-tiap mahasiswa memiliki kecemasan akdemik yang dialami semasa aktif berkuliah.

Kecemasan akademik menurut Ottens (1991) adalah mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena adanya kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugas akademik diberikan. Kecemasan akademik adalah masalah yang penting yang akan mempengaruhi kinerja sejumlah besar siswa. Ketika kecemasan yang dirasakan oleh siswa berlebihan maka akan berpengaruh secara negatif, dimana siswa mengalami tekanan psikologis sehingga siswa tersebut mendapatkan hasil belajar yang kurang baik dan lebih banyak menghindari tugas. Ada empat macam karakteristik kecemasan akademik menurut Ottens (1991), yaitu (1) patterns of anxiety-engedering mental activity (pola-pola kecemasan yang menyebabkan aktivitas mental), (2) misderected attention (perhatian ke arah yang salah), (3)

(34)

19

(perilaku yang kurang tepat). Keempat karakteristik ini dialami oleh mahasiswa kuliah di dua fakultas dengan taraf yang berbeda-beda.

(35)

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat deskriptif. Pendekatan kuantitatif menekankan analisis pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika (Azwar, 2010). Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik suatu populasi atau bidang tertentu. Data yang dikumpulkan hanya merupakan data deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi, maupun mempelajari implikasi (Azwar, 2010). Penelitian ini berusaha untuk menggambarkan tingkat kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas.

A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Variabel dalam penelitian ini adalah kecemasan akademik.

B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN

(36)

21

menggunakan skala kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan karakteristik-karakteristik berikut: a. Pola-pola kecemasan yang dapat menyebabkan kecemasan mental (rasa

khawatir, kritikan keras terhadap diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, pengertian dan keyakinan yang keliru mengenai diri sendiri)

b. Tidak fokus akan perhatian (melamun, tidak fokus)

c. Distres secara fisik (otot menjadi kaku, berkeringat, jantung berdetak lebih cepat, tangan gemetar)

d. Perilaku yang tidak sesuai yang terjadi pada siswa selama proses pembelajaran (prokrastinasi, menjawab soal ujian dengan terburu-buru, terlalu teliti dalam ujian, terlalu memaksakan diri).

Semakin tinggi nilai yang diperoleh mahasiswa pada skala kecemasan akademik, semakin tinggi tingkat kecemasan yang dimiliki mahasiswa dan sebaliknya, semakin rendah nilai yang diperoleh pada skala kecemasan akademik menunjukkan semakin rendah tingkat kecemasan yang dimiliki mahasiswa.

2. Mahasiswa kuliah di dua fakultas adalah orang yang menjalani perkuliiahan di dua perguruan tinggi (tingkat strata satu – strata satu) pada waktu yang bersamaan dan terdaftar sebagai mahasiswa aktif di kedua universitas yang berbeda.

C. POPULASI, SAMPEL DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL 1. Populasi dan Sampel

Azwar (2010) menyatakan bahwa populasi adalah kelompok subjek yang akan dikenai generalisasi hasil penelitian. Sedangkan sampel adalah bagian dari

(37)

populasi yang memiliki ciri-ciri populasi. Hal yang perlu diperhatikan adalah sampel yang diambil dalam penelitian harus benar mencerminkan populasinya, sehingga sampel dapat digeneralisasikan terhadap populasinya.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa universitas negeri di Medan, yaitu: Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan (UNIMED), dan Universitas Islam Negeri (UIN) yang menjalani perkuliahan dua fakultas di kota Medan. Dikarenakan keterbatasan peneliti untuk menjangkau keseluruhan populasi, maka peneliti melakukan penelitian pada sebagian dari populasi yang disebut sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang menjalani kuliah dua fakultas. Peneliti mengambil sampel hanya di Universitas Sumatera Utara dengan asumsi bahwa di jumlah fakultas di USU adalah 14 fakultas (sedangkan hanya 7 fakultas di UNIMED dan 5 fakultas di UIN) sehingga memungkinkan peneliti untuk mendapatkan lebih banyak sampel di USU daripada di UNIMED dan UIN.

2. Metode Pengambilan Sampel

(38)

23

karakteristik yang diinginkan. Setelah data dari sampel didapatkan, peneliti meminta sampel untuk menyebutkan nama orang yang memiliki karakteristik seperti dia yang kemudian akan dijadikan sampel berikutnya.

3. Jumlah Sampel yang Digunakan

Tidak ada batasan mengenai jumlah sampel yang harus digunakan dalam penelitian. Azwar (2010) menyatakan secara tradisional statistika menganggap jumlah sampel lebih dari 60 orang sudah cukup banyak. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan sampel sebanyak 61 orang mahasiswa kuliah di dua fakultas di Universitas Sumatera Utara.

4. Karakteristik Populasi

Adapun karakteristik populasi yang akan diambil adalah sebagai berikut: a. Mahasiswa.

b. Berstatus mahasiswa aktif di dua universitas.

c. Sedang menjalani perkuliahan di dua universitas yang salah satunya di Universitas Sumatera Utara, dengan tingkat strata satu – strata satu.

D. ALAT UKUR PENELITIAN

Alat ukur yang digunakan seharusnya disesuaikan dengan tujuan penelitian dan bentuk data yang akan diambil dan diukur (Hadi, 2002). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala psikologi.

Skala adalah suatu bentuk pengukuran terhadap performansi tipikal individu yang cenderung dimunculkan dalam bentuk respon terhadap situasi-situasi tertentu yang sedang dihadapi (Azwar, 2010). Menurut Hadi (2002), skala

(39)

psikologis mendasarkan diri pada laporan pribadi dan memiliki kelebihan dengan asumsi sebagai berikut:

a. Subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya.

b. Apa yang dikatakan subjek tentang dirinya kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.

c. Interpretasi subjek tentang pertanyaan yang diajukan sama dengan apa yang dimaksud peneliti.

Skala psikologis yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kecemasan akademik. Skala kecemasan akademik digunakan untuk memperoleh gambaran tingkat kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas. Skala kecemasan akademik yang digunakan menggunakan skala model Likert, yaitu skala yang di dalamnya terdiri dari sejumlah aitem yang merefleksikan suatu gagasan atau daerah yang sedang diperhatikan.

(40)

25

berikut: sangat sesuai (SS), sesuai (S), netral (N), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS).

Skor tinggi yang diperoleh oleh individu pada skala kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas menunjukkan subjek memiliki kecemasan yang tinggi. Sedangkan skor rendah menunjukkan subjek memiliki kecemasan yang rendah. Distribusi bobot skala kecemasan akademik mahasiswa kuliah di dua fakultas dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Bobot Pernyataan Skala Kecemasan Akademik Mahasiswa kuliah di dua fakultas

Bobot Nilai STS TS N S SS

Favorable 1 2 3 4 5

Unfavorable 5 4 3 2 1

Berikut ini merupakan blueprint skala kecemasan akademik yang terdiri dari 4 dimensi. Dimensi pertama, dimensi patterns of anxiety-engedering mental activity, memiliki 4 aspek dengan 10 aitem favorable dan 3 aitem unfavorable. Dimensi kedua, dimensi misdirected attention, memiliki 2 aspek dengan 8 aitem

favorable. Dimensi ketiga, dimensi psychological distress, memiliki 4 aspek dengan 10 aitem favorable dan 2 aitem unfavorable. Dimensi keempat,

inappropriate behaviors, memiliki 4 aspek dengan 7 aitem favorable dan 5 aitem

unfavorable. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2 dan distribusi aitem pada Tabel 3.

(41)

Tabel 2. Blueprint Skala Kecemasan Akademik No Dimensi Kecemasan

Akademik

Aspek Aitem Jlh %

F UF

1. Pola-pola kecemasan

(42)

27

Tabel 3. Distribusi Aitem Skala Kecemasan Akademik No Dimensi Kecemasan

Akademik

Aspek Aitem Jlh %

F UF

1. Pola-pola kecemasan

yang dapat

(43)

E. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR 1. Validitas Alat Ukur

Validitas diperlukan dalam penelitian untuk melihat apakah alat ukur yang dirancang benar dapat mengukur variabel penelitian. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian adalah uji validitas berdasarkan validitas isi (content validity).

Validitas isi adalah validitas yang diuji dengan analisa rasional atau melalui pendapat professional (professional judgment) dalam proses membuat aitem. Pendapat professional diperoleh dari bimbingan dengan dosen pembimbing penelitian.

2. Reliabilitas Alat Ukur a. Reliabilitas

(44)

29

yang rendah. Menurut Azwar (2008), reliabilitas yang dianggap sudah cukup memuaskan jika koefisien relianilitas bernilai lebih dari 0,7.

Dalam menguji korelasi antar aitem, Azwar (2007) mengatakan bahwa semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan. Namun jika jumlah aitem yang lolos ternyata tidak mencukupi jumlah yang diinginkan, batas kriteria dapat diturunkan sedikit menjadi 0,25 sehingga jumlah aitem yang diinginkan dapat tercapai. Koefisien korelasi antar aitem dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation

dan dikatakan memuaskan jika berada di angka ≥ 0,25.

F. HASIL UJI COBA ALAT UKUR

Uji coba alat ukur dilakukan untuk melihat apakah aitem-aitem yang dirancang oleh peneliti dapat dimengerti oleh subjek penelitian (mahasiswa kuliah di dua fakultas). Uji coba alat ukur dalam penelitian ini dilakukan bersamaan dengan pengambilan data penelitian (try out terpakai). Peneliti menggunakan teknik try out terpakai dikarenakan jumlah sampel yang diestimasi terbatas jumlahnya.

G. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN

Prosedur pelaksanaan dalam penelitian ini terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap persiapan penelitian dan tahap pengolahan data.

1. Tahap persiapan penelitian

a. Pembuatan alat ukur

Persiapan penelitian yang pertama kali dilakukan adalah membuat alat ukur. Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa skala kecemasan akademik

(45)

mahasiswa kuliah di dua fakultas. Pada tahap ini, peneliti akan membuat skala kecemasan akademik yang disusun sendiri oleh peneliti mengacu pada aspek-aspek kecemasan akademik menurut Ottens (1991) dan melakukan uji validitas isi dibantu dengan profesional judgement.

b. Uji coba alat ukur

Setelah alat ukur dinyatakan valid oleh profesional judgement, peneliti menyebarkan skala dalam bentuk online (dengan menggunakan Google Docs) dan

(46)

31

Tabel 4. Distribusi Aitem Skala Kecemasan Akademik Setelah Uji Coba No Dimensi terhadap diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, pengertian dan keyakinan yang keliru mengenai diri sendiri. berdetak lebih cepat, tangan gemetar.

* aitem dengan angka bercetak tebal adalah aitem yang tidak lolos

Peneliti kemudian melakukan penomoran ulang untuk 22 aitem yang dinyatakan reliabel yang dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini:

(47)

Tabel 5. Penomoran Ulang Aitem Skala Kecemasan Akademik terhadap diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, pengertian dan keyakinan yang keliru mengenai diri sendiri. berdetak lebih cepat, tangan gemetar.

(48)

33

2. Tahap pelaksanaan data penelitian

Tahap pelaksanaan penelitian sudah peneliti lakukan pada tahap persiapan. Hal ini dikarenakan peneliti menggunakan teknik sampel terpakai. Sehingga tahap selanjutnya yang akan dilakukan adalah tahap pengolahan data.

3. Tahap pengolahan data

Pada tahap pengolahan data, peneliti menguji normalitas alat ukur dan analisa deskriptif dari data yang sudah terkumpul.

H. METODE ANALISIS DATA

Data yang diperoleh melalui skala kecemasan akademik akan dianalisis dengan metode statistik. Untuk mendapatkan skor kecemasan akademik akan digunakan statistik deskriptif. Data yang diolah adalah skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi. Hasil yang dikumpulkan diolah dengan bantuan SPSS versi 20. Sebelum data-data yang terkumpul dianalisa menggunakan metode deskriptif, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas.

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian yang dianalisis sudah terdistribusi sesuai dengan prinsip - prinsip distribusi normal agar dapat digeneralisasikan terhadap populasi. Pada penelitian ini uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan Q-Q Plot dengan bantuan

SPSS version 20. Data dikatakan semakin normal ketika sebaran data pada hasil

Q-Q Plot mendekati garis normal.

(49)

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini, peneliti akan menguraikan keseluruhan hasil peneltian. Pembahasan akan dimulai dengan gambaran umum responden dilanjutkan dengan analisa dan interpretasi hasil penelitian.

A. ANALISA DATA

1. Gambaran Umum Responden

Responden dalam penelitian ini berjumlah 61 orang. Berikut merupakan gambaran umum responden:

a. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin responden, maka diperoleh data bahwa jumlah subjek yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 24 orang (39,3%) dan perempuan sebanyak 37 orang (60,6%). Penyebaran responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 6 berikut:

Tabel 6. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi (N) Persentase

Laki-laki 24 39,34%

Perempuan 37 60,65%

Total 61 orang 100%

b. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia

(50)

35

sebanyak 20 orang (19,6%), berusia 22 tahun sebanyak 12 orang (19,6%), berusia 23 tahun sebanyak 6 orang (9,8%), berusia 24 tahun sebanyak 2 orang (3,2%), dan berusia 26 tahun sebanyak 1 orang (1,6%). Penyebaran responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 7 berikut:

Tabel 7. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi (N) Persentase

18 Tahun 1 orang 1,63%

c. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Tingkat Semester Di Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan tingkat semester yang sedang dijalani responden, maka diperoleh data bahwa jumlah responden yang sedang menjalani perkuliahan di semester I sebanyak 1 orang (1,63%), yang sedang menjalani perkuliahan di semester III sebanyak 10 orang (16,39%), yang sedang menjalani perkuliahan di semester V sebanyak 8 orang (13,11%), yang sedang menjalani perkuliahan di semester VII sebanyak 24 orang (39,34%), dan yang sedang menjalani perkuliahah di semester IX sebanyak 18 orang (29,50%). Penyebaran responden berdasarkan tingkat semester dapat dilihat pada tabel 8 berikut:

(51)

Tabel 8. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Tingkat Semester

Semester Frekuensi (N) Persentase

I 1 orang 1,63%

III 10 orang 16,39%

V 8 orang 13,11%

VII 24 orang 39,34%

IX 18 orang 29,50%

Total 61 orang 100%

2. Hasil Uji Asumsi Penelitian

(52)

37

3. Hasil Utama Penelitian

a. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas

Gambaran kecemasan akademik mahasiswa dua fakultas dari hasil penelitian ini dapat dilihat dari skor mean, standar deviasi serta nilai minimum dan maksimum skor skala kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua jurusan yang dianalisa dengan bantuan program komputer IBM SPSS Statistic 20.

Peneliti mengkategorikan data penelitian berdasarkan mean teoritik dan

mean empirik. Mean teoritik untuk melihat posisi relatif individu berdasarkan norma skor ideal skala, sedangkan mean empirik untuk melihat posisi relatif individu berdasarkan norma dari responden. Mean empirik pada skala kecemasan akademik adalah 62,95 dengan standar deviasi empirik 14,033. Sedangkan mean

teoritiknya 66 dengan standar deviasi teoritik 14,6777. Mean empirik pada

(53)

penelitian ini lebih kecil daripada mean teoritik yaitu 62,95 < 66 (µe < µt). Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa skor kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas lebih rendah daripada skor kecemasan akademik yang diharapkan dapat dicapai oleh responden. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10. Skor Empirik dan Skor Hipotetik Skala Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas

Kecemasan Akademik N Skor Minimum

Berdasarkan hasil deskriptif di atas maka responden akan dikelompokkan dalam tiga kelompok berdasarkan model distribusi normal, yaitu: tingkat kecemasan akademik rendah, tingkat kecemasan akademik sedang, dan tingkat kecemasan akademik tinggi. Norma yang digunakan dalam mengkategorisasi responden ke dalam tiga kategori dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini:

Tabel 11. Kriteria Kategorisasi Norma Nilai Kecemasan Akademik

Variabel Rentang Nilai Kategori

Kecemasan Akademik X ≤ (µ -1,0 σ) Rendah (µ -1,0 σ) < X <(µ +1,0 σ) Sedang (µ +1,0 σ) ≤ X Tinggi Berdasarkan kategorisasi norma pada tabel 10 dan skor mean serta standar deviasi pada tabel 11 maka diperoleh kategorisasi kecemasan akademik serta frekuensi responden dalam tiap kategori yang dapat dilihat pada tabel 12.

(54)

39

Variabel Rentang Nilai Kategori Jumlah Persentase

Kecemasan Akademik

X ≤ 51 Rendah 11 18,1%

51 < X < 81 Sedang 42 68,8%

81 ≤ X Tinggi 8 13,1%

Total 61 100%

Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat bahwa responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan akademik rendah sebanyak 11 orang (18,1%), kecemasan akademik sedang sebanyak 42 orang (68,8%), dan kecemasan akademik tinggi 8 orang (13,1%).

b. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas Berdasarkan Aspek Kecemasan Akademik

i. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas Berdasarkan Aspek Pola-Pola Kecemasan yang Dapat Menyebabkan Kecemasan Mental

Aspek pola-pola kecemasan yang dapat menyebabkan kecemasan mental terdiri dari6 aitem dengan rentang nilai 1-5. Mean empirik pada skala kecemasan akademik berdasarkan aspek pola-pola kecemasan yang dapat menyebabkan kecemasan mental adalah 16,69 dengan standar deviasi empirik 4,707. Sedangkan

mean teoritiknya 18 dengan standar deviasi teoritik 4. Mean empirik skala kecemasan akademik berdasarkan aspek pola-pola kecemasan yang dapat menyebabkan kecemasan mental lebih kecil daripada mean teoritik yaitu 16,69 <

(55)

18 (µe < µt). Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa skor kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas berdasarkan aspek pola-pola kecemasan yang dapat menyebabkan kecemasan mental lebih rendah daripada skor kecemasan akademik yang diharapkan dapat dicapai oleh responden. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 13.

Tabel 13 Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Pola-Pola Kecemasan yang Dapat Menyebabkan

Kecemasan Mental untuk kategori tingkat kecemasan rendah dimulai dari skor 18 – 4 = 14, sedangkan batas skor untuk kategori tingkat kecemasan tinggi dimulai dari skor 18 + 4 = 22. Kategorisasi skor kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas dengan frekuensi responden dapat dilihat pada tabel 14 berikut ini:

Tabel 14. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Pola-Pola Kecemasan Yang Dapat Menyebabkan

Kecemasan Mental Vaariabel Kriteria

Kategorisasi

Kategori Jumlah (N) Persentase

(56)

41

Berdasarkan kategorisasi pada tabel 14, dapat dilihat bahwa responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan rendah sebanyak 17 orang (27,8%), responden yang termasuk ke dalam kategori sedang sebanyak 37 orang (60,6%), dan responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan tinggi sebanyak 7 orang (11,4%).

ii. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas Pada Aspek Tidak Fokus

Aspek tidak fokus terdiri dari 5 aitem dengan rentang nilai 1-5. Mean

empirik pada skala kecemasan akademik berdasarkan aspek tidak fokus adalah 14,72 dengan standar deviasi empirik 4,587. Sedangkan mean teoritiknya adalah 15 dengan standar deviasi teoritik 3,333. Mean empirik skala kecemasan akademik berdasarkan aspek tidak fokus lebih kecil daripada mean teoritik yaitu 14,72 < 15 (µe < µt). Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa skor kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas berdasarkan aspek tidak fokus lebih rendah daripada skor kecemasan akademik yang diharapkan dapat dicapai oleh responden. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 15.

Tabel 15.Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Tidak Fokus

Kecemasan Akademik N Skor Minimum dibulatkan menjadi 12, sedangkan batas skor untuk kategori tingkat kecemasan

(57)

tinggi dimulai dari skor 15 + 3,333 = 18,333 dibulatkan menjadi 18. Kategorisasi skor kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas dengan frekuensi responden dapat dilihat pada tabel 16 berikut ini:

Tabel 16. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Tidak Fokus

Variabel Kriteria Kategorisasi Kategori Jumlah (N) Persentase

Kecemasan

Berdasarkan kategorisasi pada tabel 16, dapat dilihat bahwa responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan rendah sebanyak 17 orang (27,8%), responden yang termasuk ke dalam kategori sedang sebanyak 26 orang (42,6%), dan responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan tinggi sebanyak 18 orang (29,5%).

iii. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas Pada Aspek Distres Secara Fisik

Aspek distres secara fisik terdiri dari 9 aitem dengan rentang nilai 1-5.

Mean empirik pada skala kecemasan akademik berdasarkan aspek distress secara fisik adalah 25,41 dengan standar deviasi empirik 6,440. Sedangkan mean

(58)

43

diharapkan dapat dicapai oleh responden. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 17.

Tabel 17. Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Distres Secara Fisik

Kecemasan Akademik N Skor Minimum kategori tingkat kecemasan rendah dimulai dari skor 27 – 6 = 21, sedangkan batas skor untuk kategori tingkat kecemasan tinggi dimulai dari skor 27 + 6 = 33. Kriteria kategorisasi skor kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas dengan jumlah individu dalam persentase individu dapat dilihat pada tabel 17 berikut ini:

Tabel 18. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Distres Secara Fisik

Vaariabel Kriteria Kategorisasi Kategori Jumlah (N) Persentase

Kecemasan

Berdasarkan kategorisasi pada tabel 18, dapat dilihat bahwa responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan rendah sebanyak 12 orang (19,6%), responden yang termasuk ke dalam kategori sedang sebanyak 37 orang (60,6%), dan responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan tinggi sebanyak 12 orang (19,6%).

(59)

iv. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas Pada Aspek Perilaku yang Tidak Sesuai

Aspek perilaku yang tidak sesuai terdiri dari 2 aitem dengan rentang nilai 1-5. Mean empirik pada skala kecemasan akademik berdasarkan aspek perilaku yang tidak sesuai adalah 6,56 dengan standar deviasi empirik 1,902. Sedangkan

mean teoritiknya adalah 6 dengan standar deviasi teoritik 1,333. Mean empirik skala kecemasan akademik berdasarkan aspek perilaku yang tidak sesuai lebih besar daripada mean teoritik yaitu 6,56 > 6 (µe > µt). Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa skor kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas berdasarkan aspek perilaku yang tidak sesuai lebih tinggi daripada skor kecemasan akademik yang diharapkan dapat dicapai oleh responden. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 19.

Tabel 19.Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Perilaku Yang Tidak Sesuai Kecemasan Akademik N Skor

(60)

45

Tabel 20. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik Berdasarkan Aspek Perilaku Yang Tidak Sesuai

Vaariabel Kriteria Kategorisasi Kategori Jumlah (N) Persentase

Kecemasan

Berdasarkan kategorisasi pada tabel 20, dapat dilihat bahwa responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan rendah sebanyak 19 orang (31,2%), responden yang termasuk ke dalam kategori sedang sebanyak 12 orang (19,6%), dan responden yang termasuk ke dalam kategori kecemasan tinggi sebanyak 30 orang (49,1%).

c. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua Fakultas Berdasarkan Jenis Kelamin

Skor mean laki-laki pada skala kecemasan akademik adalah 127,71 dengan standar deviasi 20,333. Sedangkan mean perempuan adalah 131,81 dengan standar deviasi 14,992. Mean perempuan lebih besar daripada mean laki-laki yaitu 131,81 > 127,71. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas berjenis kelamin perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 21.

(61)

Perempuan 37 105 161 131,81 14,992

B. PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan secara umum kecemasan akademik mahasiswa kuliah dua fakultas di Medan tergolong sedang. Dari 61 orang responden, sebanyak 11 orang (18,1%) responden memiliki kecemasan akademik rendah, sebanyak 42 orang (68,8%) responden memiliki kecemasan akademik sedang, dan sebanyak 8 orang (13,1%) responden memiliki kecemasan akademik tinggi.

(62)

47

Tingkat kecemasan akademik sedang dalam penelitian ini berarti responden pada situasi tertentu sering mengalami kecemasan berdasarkan 4 aspek kecemasan akademik menurut Otttens (1991), namun pada situasi tertentu responden jarang mengalami kecemasan berdasarkan 4 aspek kecemasan menurut Ottens (1991). Keempat aspek kecemasan akademik menurut Ottens (1991), yaitu: pola-pola kecemasan yang dapat menyebabkan kecemasan mental, tidak fokus, distres secara fisik, dan perilaku yang tidak sesuai.

Berdasarkan aspek pola-pola kecemasan yang menimbulkan kecemasan mental, responden lebih banyak berada pada kategori kecemasan sedang yaitu sebanyak 37 orang (60,6%). Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Ishtifa (2011) yang menyatakan bahwa responden cenderung memiliki kecemasan sedang (157 orang dari 200 orang atau 78,5%) dalam komponen psikologis dari kecemasan akademik seperti khawatir, ketegangan, panik dan ketakutan.

Menurut Ottens (1991), aspek terganggunya perhatian atau tidak fokus mencakup perhatian yang teralihkan oleh faktor eksternal serta internal seperti lamunan mahasiswa kuliah dua fakultas. Dari 61 orang responden, mayoritas responden berada dalam kategori kecemasan sedang, yaitu sebanyak 26 orang (42,6%) dan diikuti dengan 18 orang (29,5%) mengalami kategori kecemasan tinggi.

Ada banyak gejala yang terjadi pada tubuh yang berhubungan dengan kecemasan (distress secara fisik) seperti otot menjadi lebih kaku, berkeringat, jantung berdetak lebih cepat, dan tangan bergemetar. Kelelahan fisik yang disebabkan kecemasan akademik dapat sangat mengganggu dan jika terjadi

Figur

Tabel 1. Bobot Pernyataan Skala Kecemasan Akademik Mahasiswa kuliah di
Tabel 1 Bobot Pernyataan Skala Kecemasan Akademik Mahasiswa kuliah di . View in document p.40
Tabel 2. Blueprint Skala Kecemasan Akademik
Tabel 2 Blueprint Skala Kecemasan Akademik . View in document p.41
Tabel 3. Distribusi Aitem Skala Kecemasan Akademik
Tabel 3 Distribusi Aitem Skala Kecemasan Akademik . View in document p.42
Tabel 4. Distribusi Aitem Skala Kecemasan Akademik Setelah Uji Coba
Tabel 4 Distribusi Aitem Skala Kecemasan Akademik Setelah Uji Coba . View in document p.46
Tabel 5. Penomoran Ulang Aitem Skala Kecemasan Akademik
Tabel 5 Penomoran Ulang Aitem Skala Kecemasan Akademik . View in document p.47
Tabel 6. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 6 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin . View in document p.49
Tabel 7. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia
Tabel 7 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia . View in document p.50
Tabel 8. Gambaran Umum Responden Berdasarkan Tingkat
Tabel 8 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Tingkat . View in document p.51
Gambaran kecemasan akademik mahasiswa dua fakultas dari hasil
Gambaran kecemasan akademik mahasiswa dua fakultas dari hasil . View in document p.52
Tabel 10. Skor Empirik dan Skor Hipotetik Skala Kecemasan
Tabel 10 Skor Empirik dan Skor Hipotetik Skala Kecemasan . View in document p.53
Tabel 13 Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik
Tabel 13 Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik . View in document p.55
Tabel 14. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik
Tabel 14 Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik . View in document p.55
Tabel 15. Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik
Tabel 15 Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik . View in document p.56
Tabel 16. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik
Tabel 16 Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik . View in document p.57
tabel 17. Tabel 17. Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik
Tabel 17 Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik . View in document p.58
Tabel 18. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik
Tabel 18 Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik . View in document p.58
Tabel 19. Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik
Tabel 19 Hasil Analisa Deskriptif Kecemasan Akademik . View in document p.59
Tabel 21. Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua
Tabel 21 Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Kuliah Dua . View in document p.60
Tabel 20. Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik
Tabel 20 Kategorisasi Skor Kecemasan Akademik . View in document p.60

Referensi

Memperbarui...