Penetapan Kadar Kalsium Pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur ayam NonRas Dan Kulit Itik Secara Spectrofometri Serapan Atom

72  30  Download (2)

Teks penuh

(1)

PENETAPAN KADAR KALSIUM PADA KULIT TELUR AYAM RAS, KULIT TELUR AYAM NONRAS DAN KULIT TELUR ITIK

SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

SKRIPSI

Oleh :

POSMA ARTA MUTIARA NIM: 030804003

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PENETAPAN KADAR KALSIUM PADA KULIT TELUR AYAM RAS, KULIT TELUR AYAM NONRAS DAN KULIT TELUR ITIK

SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

Oleh :

POSMA ARTA MUTIARA NIM: 030804003

FAKULTAS FARMASI

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan pengetahuan, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam penyelesaian skripsi ini untuk memenuhi syarat guna mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada kedua orangtua, Ayahanda Ir. B. Sitanggang dan Ibunda T. br. Simanjorang, serta abang dan kakakku atas doa dan kasih sayang yang selalu mengiringi yang tidak terbalas dengan apapun juga.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada:

1. Ibu Dra. Siti Nurbaya, Apt., sebagai pembimbing I yang telah banyak memberikan waktunya untuk membimbing dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama penelitian dan penulisan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Muchlisyam, M.Si., Apt., sebagai pembimbing II yang telah banyak memberikan waktunya untuk membimbing dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama penelitian dan penulisan skripsi ini. 3. Bapak Drs. Awaluddin Saragih, M.Si.,Apt., sebagai dosen wali yang telah

(4)

4. Bapak Prof. Dr. rer.nat Effendy De Lux Putra, SU., Apt., Ibu Dra. Siti Nurbaya, Apt., Bapak Drs. Chairul Azhar Dlt, M.Sc., Apt., dan Bapak Drs. Immanuel S. Meliala, M.Si., Apt., sebagai tim penguji yang sangat banyak memberikan masukan dan saran atas skripsi ini.

5. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., sebagai Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama masa pendidikan.

6. Ibu Dra. Masfria, M.S., Apt., sebagai Kepala Laboratorium Kimia Farmasi Kualitatif, Bapak Drs. Maralaut Batubara, M.Phill., Apt., sebagai Kepala Laboratorium Kimia Bahan Makanan dan Kepala Laboratorium Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPOM – MUI) Kota Medan.

7. Sahabat terbaikku Erna, Yosi, Erlia, Renta, Okta, Suparman, Junus, rekan-rekan mahasiswa Farmasi stambuk 2003, abang-kakak senior serta semua pihak yang terkait yang telah memberi motivasi dan bantuan langsung maupun tidak langsung kepada penulis selama penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat dan berguna bagi pengetahuan umum dan ilmu farmasi khususnya.

Medan, November 2008 Penulis,

(5)

ABSTRAK

Kulit telur mengandung kalsium sehingga dilakukan penetapan kadarnya untuk mengetahui kandungan kalsium pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik. Sampel yang diteliti adalah kulit telur yang diambil dari beberapa lokasi di kota Medan.

Pemeriksaan secara kualitatif dilakukan terhadap kalsium dan karbonat. Pemeriksaan kualitatif kalsium dilakukan dengan pereaksi asam sulfat terbentuk kristal bentuk jarum di bawah mikroskop, dan dengan pereaksi amonium oksalat terbentuk endapan putih berupa kristal bentuk amplop di bawah mikroskop. Pemeriksaan kualitatif karbonat dilakukan dengan pereaksi air barit terbentuk kekeruhan pada larutan. Pemeriksaan kuantitatif kalsium dilakukan dengan metode Spektrofotometri Serapan Atom pada panjang gelombang absorbansi maksimum 422,38 nm. Hasil analisis kualitatif dan kuantitatif menunjukkan kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik mengandung kalsium.

(6)

ABSTRACT

Eggshell consist of calcium, therefore the determination of calcium in ayam ras, ayam nonras and duck eggshell were done to know the calcium concentration. The sample were taken from view location in Medan.

The qualitative tests were done for calcium and carbonate. Qualitative test of calcium was determined with sulfuric acid reagent formed crystal looked like needle microscopicly, and with ammonium oxalate reagent formed white crystalline precipitate looked like envelope microscopicly. Qualitative test of carbonate was determined with air barit reagent formed turbid solution. Quantitatively analysis of calcium was done by using Atomic Absorption Spectrophotometry method at 422,38 nm. The result of qualitative and quantitative analysis showed that ayam ras eggshell, ayam nonras eggshell and duck eggshell consist of calcium.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman JUDUL ... HALAMAN PENGESAHAN ... ABSTRAK ... ABSTRACT ... DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ... BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ... 1.2. Perumusan Masalah ... 1.3. Hipotesis ... 1.4. Tujuan Penelitian ... BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

(8)

2.4.1. Larutan HNO3

3.4.2. Larutan amonium oksalat 0,1 M ... 6 M ...

3.4.3. Air barit (jenuh) (b/v) ... 3.4.4. Larutan strontium klorida (b/v) ... 3.4.5. Amonium hidroksida 12% (v/v) ... 3.5. Prosedur Penelitian ... 3.5.1. Metode Pengambilan Sampel ... 3.5.2. Penyiapan Sampel ...

3.5.3. Prosedur Destruksi ... 3.5.4. Pembuatan Larutan Sampel ...

3.5.5. Analisis Kualitatif ... 3.5.5.1. Analisis Kualitatif Kalsium ... 3.5.5.2. Analisis Kualitatif Karbonat ... 3.5.6. Analisis Kuantitatif Kalsium ... 3.5.6.1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ... 3.5.6.2. Penentuan Linieritas Kalibrasi Larutan Baku

Kalsium ... 3.5.6.3. Analisis Kalsium dalam Sampel ... 3.5.6.4. Perhitungan Kadar Kalsium dalam Sampel ... 3.5.7. Analisis Statistik ... 3.5.7.1. Uji Q Test ... 3.5.7.2. Perhitungan Statistik Rata-Rata Kadar Kalsium

(9)

3.5.8. Uji Perolehan Kembali ... 3.5.8.1. Pembuatan Larutan Baku ... 3.5.8.2. Prosedur Uji Ketepatan ... 3.5.9. Penentuan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi ... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Destruksi ... 4.2. Analisis Kualitatif ... 4.3. Analisis Kuantitatif ... 4.3.1. Panjang Gelombang Maksimum ... 4.3.2. Kurva Kalibrasi Kalsium ... 4.3.3. Analisis Kadar Kalsium pada Kulit Telur Ayam Ras,

Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik ... 4.4. Uji Perolehan Kembali ... 4.5. Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi ... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Hasil Analisis Kualitatif Kalsium dan Karbonat pada Kulit Telur

Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik ... Tabel 2. Data Absorbansi dan Konsentrasi Larutan Pengukuran ... Tabel 3. Data Kadar Kalsium (g/100g) pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Kurva Kalibrasi Kalsium pada Panjang Gelombang

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Kurva Absorbansi Maksimum Kalsium ... Lampiran 2. Data Kalibrasi Kalsium dengan Spektrofotometer

Serapan Atom ... Lampiran 3. Perhitungan Persamaan Garis Regresi dan Koefisien

Korelasi (r) dari Data Kalibrasi Kalsium ... Lampiran 4. Data Berat Sampel, Absorbansi dan Kadar Kalsium pada

Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik ... Lampiran 5. Contoh Perhitungan Kadar Kalsium pada Sampel ... Lampiran 6. Nilai Qkritis

Lampiran 7. Perhitungan Statistik Kadar Kalsium pada Kulit Telur

pada Taraf Kepercayaan 95% ...

Ayam Ras ... Lampiran 8. Perhitungan Statistik Kadar Kalsium pada Kulit Telur

Ayam Nonras ... Lampiran 9. Perhitungan Statistik Kadar Kalsium pada Kulit Telur

Itik ... Lampiran 10. Pengujian Beda Rata-Rata Kadar Kalsium pada Kulit Telur

(13)
(14)

ABSTRAK

Kulit telur mengandung kalsium sehingga dilakukan penetapan kadarnya untuk mengetahui kandungan kalsium pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik. Sampel yang diteliti adalah kulit telur yang diambil dari beberapa lokasi di kota Medan.

Pemeriksaan secara kualitatif dilakukan terhadap kalsium dan karbonat. Pemeriksaan kualitatif kalsium dilakukan dengan pereaksi asam sulfat terbentuk kristal bentuk jarum di bawah mikroskop, dan dengan pereaksi amonium oksalat terbentuk endapan putih berupa kristal bentuk amplop di bawah mikroskop. Pemeriksaan kualitatif karbonat dilakukan dengan pereaksi air barit terbentuk kekeruhan pada larutan. Pemeriksaan kuantitatif kalsium dilakukan dengan metode Spektrofotometri Serapan Atom pada panjang gelombang absorbansi maksimum 422,38 nm. Hasil analisis kualitatif dan kuantitatif menunjukkan kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik mengandung kalsium.

(15)

ABSTRACT

Eggshell consist of calcium, therefore the determination of calcium in ayam ras, ayam nonras and duck eggshell were done to know the calcium concentration. The sample were taken from view location in Medan.

The qualitative tests were done for calcium and carbonate. Qualitative test of calcium was determined with sulfuric acid reagent formed crystal looked like needle microscopicly, and with ammonium oxalate reagent formed white crystalline precipitate looked like envelope microscopicly. Qualitative test of carbonate was determined with air barit reagent formed turbid solution. Quantitatively analysis of calcium was done by using Atomic Absorption Spectrophotometry method at 422,38 nm. The result of qualitative and quantitative analysis showed that ayam ras eggshell, ayam nonras eggshell and duck eggshell consist of calcium.

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kulit telur mengandung 94% kalsium karbonat, 1% kalsium fosfat, 1% magnesium karbonat dan 4% senyawa organik (Panda, 1995). Tebal bagian kulit luar 0,55 mm dan bagian kulit dalam 0,015 mm. Kalsium yang merupakan komponen terbesar pada kulit telur mempengaruhi kekerasan kulit telur.

Berbagai metode penetapan kadar kalsium diantaranya dengan titrasi kompleksometri menggunakan EDTA sebagai pentiter dan calcon sebagai indikator (Harjadi, 1990). Disamping itu penetapan kadar kalsium dapat dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom dengan sumber sinar lampu katoda berongga kalsium pada panjang gelombang absorbansi maksimum 422,7 nm. Metode ini sering digunakan dalam penentuan kuantitatif logam (Fifield,1983). Pada analisis kalsium secara Spektrofotometri Serapan Atom ditambahkan senyawa penyangga strontium untuk mengikat senyawa pengganggu yang mungkin terdapat pada larutan seperti silikat, fosfat, aluminat, sulfat, dan sebagainya (Rohman, 2007). Di Kota Medan, berbagai kegiatan industri rumah tangga bidang makanan dan minuman tradisional banyak menggunakan telur dari berbagai jenis hewan seperti ayam ras, ayam nonras dan itik.

(17)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan:

1. Berapakah kadar kalsium yang terdapat pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik?

2. Apakah ada perbedaan kadar kalsium yang terdapat pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik?

1.3 Hipotesis Bahwa:

1. Kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik mengandung kalsium dalam jumlah yang besar.

2. Ada perbedaan kadar kalsium yang terdapat pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik yang mempunyai kerapuhan yang berbeda-beda.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah untuk:

1. Menentukan kadar kalsium yang terdapat pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik.

2. Membandingkan kadar kalsium yang terdapat pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik.

1.5 Manfaat Penelitian

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Kulit Telur

Kulit telur merupakan lapisan luar dari telur yang berfungsi melindungi semua bagian telur dari luka atau kerusakan (Anonim, 2003).

Pembentukan kulit telur memerlukan waktu yang sangat lama pada uterus di oviduct. Kandungan kalsium selama empat jam pertama berkisar 2,2% yang meningkat menjadi 5,6% setiap jam selama enambelas jam berikutnya. Ayam betina menggunakan pakan ternak dan rangka kalsium yang tersedia, untuk pembentukan kulit terluar telur. Sekitar 47% rangka kalsium dialihkan untuk pembentukan kulit terluar telur (Panda, 1995). Untuk ayam petelur, kandungan kalsium harus lebih tinggi selama ternak itu masih memproduksi telur, karena kalsium sangat diperlukan untuk pembentuk kulit luarnya (Darmono, 1995).

Bila dilihat dengan mikroskop maka kulit telur terdiri dari 4 lapisan yaitu: 1. Lapisan kutikula

Lapisan kutikula merupakan protein transparan yang melapisi permukaan kulit telur. Lapisan ini melapisi pori-pori pada kulit telur, tetapi sifatnya masih dapat dilalui gas sehingga keluarnya uap air dan gas CO2

2. Lapisan busa

masih dapat terjadi.

(19)

3. Lapisan mamilary

Lapisan ini merupakan lapisan ketiga dari kulit telur yang terdiri dari lapisan yang berbentuk kerucut dengan penampang bulat atau lonjong. Lapisan ini sangat tipis dan terdiri dari anyaman protein dan mineral.

4. Lapisan membrana

Merupakan bagian lapisan kulit telur yang terdalam. Terdiri dari dua lapisan selaput yang menyelubungi seluruh isi telur. Tebalnya lebih kurang 65 mikron (Nasution, 1997).

Komposisi kimia dari kulit telur terdiri dari protein 1,71%, lemak 0,36%, air 0,93%, serat kasar 16,21%, abu 71,34% (Nasution, 1997). Berdasarkan hasil penelitian, serbuk kulit telur ayam mengandung kalsium sebesar 401±7,2 gram atau sekitar 39% kalsium, dalam bentuk kalsium karbonat. Terdapat pula strontium sebesar 372±161µg, zat-zat beracun seperti Pb, Al, Cd, dan Hg terdapat dalam jumlah kecil, begitu pula dengan V, B, Fe, Zn, P, Mg, N, F, Se, Cu, dan Cr (Schaafsma, 2000).

2.2 Kalsium Karbonat

Kalsium karbonat adalah garam kalsium yang terdapat pada kapur, batu kapur, pualam dan merupakan komponen utama yang terdapat pada kulit telur (Soine, 1961).

(20)

Salah satu sifat kimia dari kalsium karbonat yaitu dapat menetralisasi asam. Penggunaan kalsium karbonat dalam bidang farmasi adalah sebagai antasida karena kemampuannya dalam menetralisir asam, namun kalsium karbonat dapat menyebabkan konstipasi (Soine, 1961).

2.3 Spektrofotometri

Spektrofotometri serapan merupakan pengukuran suatu interaksi antara radiasi elektromagnetik dan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Teknik yang sering digunakan dalam analisis farmasi meliputi spektroskopi serapan ultraviolet, cahaya tampak, inframerah, dan serapan atom (Ditjen POM, 1995).

2.3.1 Spektrofotometri Serapan Atom

(21)

Metode spektrofotometri serapan atom, berprinsip pada absorbansi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Cahaya pada panjang gelombang tersebut memiliki energi yang cukup untuk mengubah tingkat energi elektronik suatu atom. Transisi elektron suatu unsur bersifat spesifik. Dengan absorpsi energi, berarti memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi (Khopkar, 1990).

Jika suatu cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada nyala yang mengandung atom-atom netral, maka sebagian cahaya itu akan diserap, dan jumlah penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan dasar yang berada dalam nyala. Inilah asas yang mendasari spektrofotometri serapan atom (Vogel, 1989).

2.3.2 Instrumentasi

Gambar dibawah ini menunjukkan bentuk bagan komponen penting dari spekrtofotometer serapan atom (Harris, 1982).

(22)

Komponen penting dari spektrofotometri serapan atom adalah a. Sumber Sinar

Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda berongga (hollow cathode lamp). Lampu ini terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda. Katoda sendiri berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi dengan logam tertentu. Tabung logam ini diisi dengan gas mulia (neon atau argon). Bila antara anoda dan katoda diberi selisih tegangan yang tinggi (600 volt), maka katoda akan memancarkan berkas-berkas elektron yang bergerak menuju anoda yang mana kecepatan dan energinya sangat tinggi. Elektron-elektron dengan energi ini dalam perjalanannya menuju anoda akan bertabrakan dengan gas-gas mulia yang diisikan tadi. Akibat dari tabrakan-tabrakan ini membuat unsur-unsur gas mulia akan kehilangan elektron dan menjadi ion bermuatan positif ini selanjutnya akan bergerak ke katoda dengan kecepatan dan energi yang tinggi pula. Sebagaimana disebutkan diatas, pada katoda terdapat unsur-unsur ini akan ditabrak oleh ion-ion positif gas mulia. Akibat tabrakan ini, unsur-unsur akan terlempar keluar dari permukaan katoda. Atom-atom unsur dari katoda ini mungkin akan mengalami eksitasi ke tingkat energi-energi elektron yang lebih tinggi dan akan memancarkan spektrum pancaran dari unsur yang sama dengan unsur yang akan dianalisis (Rohman, 2007).

b. Monokromator

(23)

chopper (pemecah sinar), suatu alat yang berputar dengan frekuensi atau kecepatan perputaran tertentu digunakan untuk mendapatkan sinar yang selang seling mencapai detektor (Rohman, 2007).

c. Detektor

Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman. Biasanya digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube) yang mempunyai kepekaan spektral yang lebih tinggi (Rohman, 2007).

2.3.3 Bahan Bakar dan Bahan Pengoksidasi

Untuk mengubah unsur metalik menjadi uap atau hasil disosiasi diperlukan energi panas. Temperatur harus benar-benar terkendali dengan sangat hati-hati agar proses atomisasinya sempurna. Ionisasi harus dihindarkan dan ini dapat terjadi bila temperatur terlalu tinggi. Gambar dibawah ini menunjukkan suatu tipe atomiser nyala (Harris, 1982).

Umumnya bahan bakar yang digunakan adalah hidrogen, asetilen dan propana, sedangkan oksidatornya adalah udara, oksigen dan NO2. Temperatur

(24)

Tabel 1. Temperatur nyala dengan berbagai kombinasi bahan bakar dan bahan pengoksidasi (Harris, 1982)

Bahan Bakar Oksidan Temperatur Maksimum (oK) Asetilen

2.3.4 Gangguan Spektrofotometri Serapan Atom

Berbagai faktor dapat mempengaruhi pancaran nyala suatu unsur tertentu dan menyebabkan gangguan pada penetapan konsentrasi unsur. Faktor-faktor ini dapat dikelompokkan sebagai gangguan spektrum dan gangguan kimia (Vogel, 1989).

a. Gangguan Spektrum

Gangguan spektrum pada Spektrofotometri Serapan Atom timbul akibat terjadinya tumpang tindih antara frekuensi-frekuensi garis resonansi unsur yang dianalisis dengan garis-garis yang dipancarkan oleh unsur lain. Hal ini disebabkan karena rendahnya resolusi monokromator. Garis emisi yang dihasilkan oleh lampu katoda berongga sangat sempit. Oleh karena itu, gangguan spektrum jarang sekali terjadi (Vogel, 1989).

b. Gangguan Kimia

(25)

1. Pembentukan senyawa stabil

Pembentukan senyawa stabil menyebabkan tidak sempurnanya disosiasi zat yang akan dianalisis atau pembentukan itu mungkin timbul dari pembentukan senyawa-senyawa refraktori di dalam nyala yang tak dapat berdisosiasi menjadi atom-atom penyusunnya. Contohnya: penetapan kalsium dengan adanya sulfat atau fosfat, dan pembentukan oksida yang bersifat refraktori dari titanium, vanadium, alumunium.

Biasanya gangguan kimia dapat diatasi dengan salah satu cara berikut: A. Meningkatkan temperatur nyala

Suatu gangguan kalsium-aluminium yang timbul dari pembentukan kalsium aluminat dapat diatasi dengan bekerja pada temperatur nyala asetilena dinitrogen oksida yang lebih tinggi(Vogel, 1989).

B. Dengan penggunaan reagensia pelepas

Jika diperhatikan reaksi M-X + R R-X + M maka jelas bahwa pereaksi pelepas (R) yang berlebih akan menyebabkan bertambahnya konsentrasi atom logam gas yang diperlukan (M). Jadi dalam penetapan kalsium dengan hadirnya fosfat, penambahan lantanum klorida atau strontium klorida berlebih ke dalam larutan uji akan menyebabkan pembentukan lantanum atau strontium fosfat, kemudian kalsiumnya dapat ditetapkan dalam nyala asetilena-udara tanpa gangguan fosfat (Vogel, 1989).

C. Pemisahan senyawa-senyawa pengganggu

(26)

2. Ionisasi atom gas keadaan status dasar dalam nyala

Ionisasi akan mengurangi serapan dalam Spektrofotmetri Serapan Atom. Cara mengatasinya adalah menggunakan nyala yang bekerja pada temperatur serendah mungkin yang masih memberikan hasil analisa unsur yang akan ditetapkan. Ionisasi atom yang akan ditetapkan dapat juga dikurangi dengan menambahkan penekan ionisasi, biasanya suatu larutan yang mengandung kation yang mempunyai potensial ionisasi lebih rendah dari potensial ionisasi atom logam yang dianalisis (Vogel, 1989).

Selain pembentukan senyawa yang stabil dan ionisasi atom, juga perlu memperhitungkan faktor fisika larutan sampel seperti: viskositas, rapatan, tegangan permukaan dan pelarut yang digunakan untuk membuat larutan sampel (Vogel, 1989).

2.4 Penyiapan Sampel

Untuk keperluan analisis kuantitatif dengan Spektrofotometer Serapan Atom, maka sampel harus dalam bentuk larutan. Untuk menyiapkan larutan, sampel harus diperlakukan sedemikian rupa yang pelaksanaannya tergantung dari macam dan jenis sampel. (Rohman, 2007). Cara yang biasa dilakukan yaitu pengabuan kering (dry ashing) dan pengabuan basah (wet digestion). Pemilihan cara tersebut tergantung pada sifat zat organik dalam bahan, sifat zat anorganik yang ada dalam bahan, mineral yang akan dianalisa serta sensitivitas alat yang digunakan (Fardiaz, 1989).

(27)

karena karbon lebih cepat terdestruksi daripada menggunakan cara pengabuan kering. Cara pengabuan basah adalah dengan menggunakan asam nitrat untuk mendestruksi zat organik pada suhu rendah dengan maksud menghindari kehilangan mineral akibat penguapan. Pada tahap selanjutnya, proses destruksi seringkali berlangsung sangat cepat akibat pengaruh asam perklorat atau hidrogen peroksida (Fardiaz, 1989).

Untuk melakukan analisis dengan cara Spektrofotometer Serapan Atom, larutan yang diukur harus: jernih, stabil, dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis (Rohman, 2007).

2.5 Validasi Metode Analisis

Validasi metode analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter yang berdasarkan percobaan laboratorium, dapat membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk digunakan, antara lain adalah:

1. Kecermatan/Ketepatan (accuracy)

Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. % perolehan kembali dapat ditentukan dengan cara membuat sampel plasebo kemudian ditambah analit dengan konsentrasi tertentu, kemudian dianalisis dengan metode yang akan divalidasi (Harmita, 2004).

2. Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

(28)
(29)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan menggambarkan suatu keadaan secara sistematis, yaitu untuk mengetahui kadar kalsium pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik.

3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian untuk uji kualitatif dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kualitatif Fakultas Farmasi USU dan Laboratorium Kimia Bahan Makanan Fakultas Farmasi USU, sedangkan uji kuantitatif dilakukan di Laboratorium Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPOM–MUI) Kota Medan.

3.2 Alat-alat

Spektrofotometer Serapan Atom (Shimidzu AA 6300) dengan nyala udara asetilen, neraca analitis (Mettler AE 200), mikroskop (Nikon Japan), oven (Gallenkamp), desikator, hot plate (Lab Companion HP–3000), lampu katoda berongga kalsium, blender dan alat-alat gelas.

3.3 Bahan-bahan 3.3.1 Bahan kimia

(30)

strontium klorida, amonium oksalat, barium hidroksida, amonium hidroksida 25% v/v.

3.3.2 Air suling (Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif). 3.4 Pembuatan Pereaksi

3.4.1 Larutan asam nitrat 6 M

Larutan asam nitrat 65% v/v sebanyak 418,4 ml diencerkan dengan air suling bebas CO2

3.4.2 Larutan asam sulfat 2 M

hingga 1000 ml (Ditjen POM, 1995).

Larutan asam sulfat 96% v/v sebanyak 11,1 ml ditambahkan dengan hati-hati kepada 50 ml air suling bebas CO2 sambil terus diaduk. Ketika dingin,

diencerkan dengan air suling bebas CO2

3.4.3 Larutan strontium klorida 15,2% b/v

hingga 100 ml (Vogel, 1985).

Strontium klorida sebanyak 38 gram dilarutkan dalam 250 ml air suling bebas CO2

3.4.4 Larutan amonium oksalat 0,1 M (Vogel, 1989).

Amonium oksalat sebanyak 0,71 gram dilarutkan dalam 50 ml air suling bebas CO2

3.4.5 Air barit (jenuh) 9,2% b/v (Vogel, 1985).

Barium hidroksida sebanyak 4,6 gram dilarutkan dalam 50 ml air suling bebas CO2. Didiamkan selama 24 jam. Dipakai cairan supernatan yang jernih

(31)

3.4.6 Amonium hidroksida 12% v/v

Larutan amonium hidroksida 25% v/v sebanyak 24 ml diencerkan dengan air suling bebas CO2

3.5 Prosedur Penelitian

hingga 50 ml (Ditjen POM, 1995).

3.5.1 Metode Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara purposif dengan memanfaatkan kulit telur yang dibuang yaitu kulit telur ayam ras diambil dari salah satu toko kue Bika Ambon di Jalan Mojopahit Medan, kulit telur ayam nonras diambil dari salah satu penjual jamu di Jalan Kapten Muslim Medan, Kulit telur itik diambil dari salah satu penjual jamu di Jalan Sisingamangaraja Medan. Alasan penentuan tempat pengambilan sampel ini karena kulit telur ayam ras banyak terdapat pada toko kue Bika Ambon yang pada pembuatannya menggunakan telur dan di toko kue Bika Ambon di Jalan Mojopahit ini penjualan kuenya setiap hari tinggi. Kulit telur ayam nonras diambil dari salah satu penjual jamu di Jalan Kapten Muslim karena penjual jamu menggunakan telur ayam nonras dan penjual jamu di Jalan Kapten Muslim ini penjualan jamunya setiap hari tinggi. Kulit telur itik diambil dari salah satu penjual jamu di Jalan Sisingamangaraja karena penjual jamu menggunakan telur itik dan penjual jamu di Jalan Sisingamangaraja ini penjualan jamunya setiap hari tinggi.

3.5.2 Penyiapan Sampel

(32)

dengan air suling kemudian ditiriskan selama 1 menit hingga air bilasan habis. Kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3 jam sampai kulit telur kering. Kulit telur yang sudah kering diblender hingga menjadi serbuk. Masing-masing ditimbang sebanyak 25 gram dalam krus porselen dan dikeringkan di dalam oven pada suhu 105oC

3.5.3 Prosedur Destruksi

hingga bobot sampel konstan. Sampel siap untuk ditimbang. Perlakuan penimbangan dilakukan sebanyak 6 kali.

Serbuk kulit telur ditimbang sebanyak 1 gram, dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu ditambahkan 20 ml asam nitrat 6 M. Kemudian dipanaskan di atas hot plate pada suhu 113o

3.5.4 Pembuatan Larutan Sampel

C selama 40 menit hingga semua serbuk kulit telur larut, lalu didinginkan (Carlos, 2006).

Larutan hasil destruksi dituangkan ke dalam labu tentukur 100 ml. Erlenmeyer dibilas dengan air suling bebas CO2 sebanyak 3 kali masing-masing

sebanyak 5 ml kemudian disatukan dengan filtrat sebelumnya dan dicukupkan dengan air suling bebas CO2 sampai garis tanda. Larutan disaring dengan kertas

(33)

3.5.5 Analisis Kualitatif 3.5.5.1 Uji Organoleptis

Pengujian organoleptis dilakukan terhadap kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik dengan memperhatikan kerapuhan dari masing-masing kulit telur.

3.5.5.2 Analisis Kualitatif Kalsium

3.5.5.2.1 Dengan penambahan larutan asam sulfat 2 M

Sebanyak 3 tetes larutan sampel diteteskan pada object glass kemudian ditambahkan 3 tetes larutan asam sulfat 2 M. Object glass dipanaskan beberapa detik untuk memekatkan larutan. Kemudian dilihat di bawah mikroskop. Terlihat kristal kalsium sulfat bentuk jarum (Vogel, 1985). Gambar kristal dapat dilihat pada Lampiran 16.

3.5.5.2.2 Dengan penambahan larutan amonium oksalat 0,1 M

Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 2 ml larutan sampel, lalu ditambahkan larutan amonium hidroksida 12% v/v untuk membasakan larutan. Kemudian ditambahkan 2 ml larutan amonium oksalat 0,1 M, lalu dikocok, dan didiamkan. Terbentuk endapan putih. Endapan dipipet dan diteteskan pada object glass. Diamati di bawah mikroskop, terlihat kristal kalsium oksalat bentuk amplop (Vogel, 1985). Gambar kristal dapat dilihat pada Lampiran 17.

3.5.5.3 Analisis Kualitatif Karbonat

(34)

dalam tabung reaksi. Tabung reaksi yang berisi sampel dipanaskan di dalam penangas air. Gas CO2

3.5.6 Analisis Kuantitatif Kalsium

yang dihasilkan mengalir melalui pipa ke dalam tabung reaksi lain yang berisi air barit. Kekeruhan yang dihasilkan menunjukkan adanya karbonat (Vogel, 1985).

3.5.6.1 Penentuan Panjang Gelombang Absorbansi Maksimum Kalsium Penentuan panjang gelombang absorbansi maksimum kalsium dilakukan dengan terlebih dahulu menghidupkan tombol power pada alat Spektrofotometer Serapan Atom. Kemudian diatur lampu yang digunakan yaitu lampu katoda berongga kalsium. Kemudian diatur panjang gelombang yang digunakan yaitu pada 422,7 nm. Maka secara otomatis alat akan memberikan kurva absorbansi maksimum untuk kalsium. Kurva absorbansi maksimum kalsium dapat dilihat pada Lampiran 1. Panjang gelombang yang diperoleh pada absorbansi maksimum digunakan untuk pengukuran kalsium.

3.5.6.2 Penentuan Linieritas Kalibrasi Larutan Baku Kalsium

Larutan baku kalsium (1000 mcg/ml) dipipet sebanyak 20 ml, dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 200 ml lalu diencerkan dengan air suling bebas CO2 hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (100 mcg/ml) dipipet 5, 10,

15, 20, 25, 32,5 ml, masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml dan ditambahkan 5 ml larutan strontium klorida, setelah itu diencerkan dengan air suling bebas CO2 hingga garis tanda sehingga diperoleh larutan dengan

(35)

422,38 nm dan dibuat kurva kalibrasi untuk larutan standar kalsium (Berdasarkan Orientasi).

3.5.6.3 Analisis Kalsium dalam Sampel

Larutan sampel sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml dan diencerkan dengan air suling bebas CO2 hingga garis tanda. Dari larutan

tersebut dipipet 15 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, lalu ditambahkan 5 ml larutan strontium klorida dan diencerkan dengan air suling bebas CO2

3.5.6.4 Perhitungan Kadar Kalsium dalam Sampel

hingga garis tanda (faktor pengenceran=1000/15). Larutan sampel diukur absorbansinya dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang absorbansi maksimum 422,38 nm. Data dapat dilihat pada Lampiran 3.

Konsentrasi kalsium dalam sampel ditentukan berdasarkan persamaan garis regresi linier dari linieritas kalibrasi. Dan kadar kalsium dalam sampel ditentukan menggunakan rumus :

Kadar (mcg/ml) = W CxVxFp

Keterangan : C = Konsentrasi larutan sampel (mcg/ml) V = Volume larutan sampel (ml)

Fp = faktor pengenceran W = Berat sampel (g) Data dapat dilihat pada Lampiran 3.

(36)

3.5.7 Analisis Statistik 3.5.7.1 Uji Q Test

Analisis statistik dilakukan dengan Q test. Cara untuk melakukan analisis terhadap data yang menyimpang adalah dengan Dixon’s Q-test yang dirumuskan sebagai berikut:

Qhitung

(nilai tertinggi- nilai terendah) = nilai yang dicurigai-nilai terdekat

Jika nilai Qhitung lebih kecil dari nilai Qkritis

Nilai Q

maka hipotesis nol diterima berarti tidak ada perbedaan antara nilai yang dicurigai dengan nilai-nilai yang lain (Rohman, 2007).

kritis

Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 6, 7 dan 8. dapat dilihat pada Lampiran 5.

3.5.7.2 Perhitungan Statistik Rata-Rata Kadar Kalsium dalam Sampel

Kadar kalsium yang diperoleh dari hasil pengukuran larutan sampel, ditentukan rata-ratanya secara statistik dengan taraf kepercayaan 95% dengan rumus sebagai berikut:

µ = X± t (½ α, df)s/ n

Keterangan : µ = Interval kepercayaan kadar sampel

X = Kadar rata-rata sampel t(½ α, df) = nilai t kritis

nilai distribusi t dapat dilihat pada Lampiran 13. dengan df (derajat bebas) = n-1

s = Simpangan Baku

(37)

Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 6, 7 dan 8. 3.5.7.3 Pengujian Beda Rata-Rata

Pada penelitian dilakukan analisis statistik dari data yang didapatkan dengan menggunakan analisis variance satu arah yang bertujuan untuk mengetahui apakah rata-rata kelompok sama (Ho : σ12 = σ22) atau berbeda (H1 :

dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

hitung

MSw MSb =

Keterangan: MSb = deviasi rata-rata kuadrat antar kelompok MSw= deviasi rata-rata kuadrat dalam kelompok Nilai distribusi F dapat dilihat pada Lampiran 14.

Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata kelompok, maka dilanjutkan dengan perhitungan Tukey’s HSD untuk mengetahui secara pasti rata-rata yang berbeda dengan yang lainnya (Irianto, 2004).

HSD = q n MSw

Keterangan: q = the studenzed range statistic n = banyak sampel per kelompok

Nilai Studentized Range Statistic (q) dapat dilihat pada Lampiran 15.

Dengan membandingkan perbedaan rata-rata populasi dengan HSD maka dapat diketahui mana yang mempunyai perbedaan secara signifikan.

(38)

3.5.8 Uji Perolehan Kembali 3.5.8.1 Pembuatan Larutan Baku

Larutan baku kalsium (100 mcg/ml) dipipet 16,6 ml lalu dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, setelah itu ditambahkan 5 ml larutan strontium klorida dan diencerkan dengan air suling bebas CO2

3.5.8.2 Prosedur Uji Ketepatan

hingga garis tanda (konsentrasi 33,27 mcg/ml).

Serbuk kulit telur ditimbang sebanyak 1 gram, dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu ditambahkan 1 ml larutan baku kalsium (konsentrasi 33,27 mcg/ml). Selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama seperti 3.5.3, 3.5.4 dan 3.5.6.3. lalu dihitung persentase uji perolehan kembali (uji recovery) dengan rumus: Data dan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 10 dan 11.

3.5.9 Penentuan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

Penentuan batas deteksi dapat dihitung berdasarkan pada standard deviasi (SD) respon dan kemiringan (slope) linieritas baku dengan rumus:

(39)

Sedangkan untuk penentuan batas kuantitasi dapat digunakan rumus:

LOQ = slope

xSD 10

(Harmita, 2004)

(40)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Destruksi

Destruksi basah dilakukan terhadap sampel dengan menambahkan asam nitrat 6 M untuk mengubah senyawa organik menjadi senyawa anorganik Ca(NO3)2

4.2 Analisis Uji Organoleptis

yang sangat mudah larut dalam air.

Analisis uji organoleptis dilakukan sebagai uji pendahuluan. Analisis uji organoleptis dilakukan dengan melihat kerapuhan masing-masing kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Analisis Uji Organoleptis pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik.

Uji Terhadap Kulit Telur Ayam Ras

Kulit Telur

Ayam Nonras Kulit Telur Itik Kerapuhan rapuh Lebih rapuh Kurang rapuh Tingkat kerapuhan ini dipengaruhi oleh ketebalan kulit telur, dimana kulit telur yang tipis akan menyebabkan telur mudah pecah (Rasyaf, 1996). Telur ayam nonras lebih mudah pecah daripada telur ayam ras dan telur itik. Hal ini disebabkan kulit telur ayam nonras lebih tipis dibandingkan kulit telur ayam ras dan kulit telur itik.

(41)

4.3 Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif dilakukan sebagai reaksi penetapan kualitatif pendahuluan untuk mengetahui adanya kalsium dan karbonat dalam sampel. Hasil analisis kualitatif kalsium dan karbonat dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Kualitatif Kalsium dan Karbonat pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik.

No. Sampel Yang dianalisis

Pereaksi yang digunakan Keterangan 1. Kulit telur

ayam ras

Kalsium Larutan asam sulfat 2 M + Larutan amonium oksalat 0,1 M +

Karbonat Air barit +

2. Kulit telur ayam nonras

Kalsium Larutan asam sulfat 2 M + Larutan amonium oksalat 0,1 M +

Karbonat Air barit +

3. Kulit telur itik

Kalsium Larutan asam sulfat 2 M + Larutan amonium oksalat 0,1 M +

Karbonat Air barit +

Dari hasil uji kualitatif yang dilakukan terhadap kalsium dan karbonat dalam larutan sampel menunjukkan bahwa kalsium dan karbonat positif terdapat pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik. Ini berarti kalsium pada kulit telur terdapat dalam bentuk kalsium karbonat.

4.4 Analisis Kuantitatif

4.4.1 Panjang Gelombang Absorbansi Maksimum Kalsium

(42)

Panjang gelombang absorbansi maksimum kalsium yang terdapat pada literatur yaitu 422,7 nm dan tidak jauh berbeda dengan panjang gelombang yang diperoleh dari pengukuran.

Kurva absorbansi maksimum kalsium dapat dilihat pada Lampiran 1. 4.4.2 Kurva Kalibrasi Kalsium

Kurva kalibrasi kalsium diperoleh dengan cara mengukur absorbansi dari larutan baku kalsium pada panjang gelombang 422,38 nm. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Pengukuran Larutan Baku Kalsium. No Konsentrasi (mcg/ml) Absorbansi

1. 0 0.0002

2. 10 0.0154

3. 20 0.0302

4. 30 0.0443

5. 40 0.0602

6. 50 0.0744

7. 65 0.0958

(43)

Abs.

Gambar 2. Kurva Kalibrasi Kalsium pada Panjang Gelombang Absorbansi Maksimum 422,38 nm.

Berdasarkan kurva kalibrasi diatas diperoleh persamaan garis regresi Y=0,0015X-0,0003 dengan koefisien korelasi 0,9999 (Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 2).

Harga koefisien korelasi (r) ini menunjukkan hubungan korelasi yang positif antara konsentrasi dengan absorbansi yang berarti dengan meningkatnya konsentrasi akan meningkat pula absorbansinya (Sudjana, 1992).

4.4.3 Analisis Kadar Kalsium pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik

(44)

Tabel 5. Data Absorbansi dan Konsentrasi Larutan Pengukuran No Sampel

Kalsium

Absorbansi Konsentrasi Larutan Pengukuran (mcg/ml)

Kadar dapat dihitung berdasarkan konsentrasi larutan pengukuran (Data dan contoh perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 4). Analisis dilanjutkan dengan perhitungan statistik (Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 6, 7 dan 8). Hasil analisis kuantitatif kalsium dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Data Kadar Kalsium (g/100g) pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik

No. Sampel Kadar Kalsium (g/100g)

1. Kulit Telur Ayam Ras 15,36 ± 0,30 2. Kulit Telur Ayam Nonras 14,51 ± 0,18

3. Kulit Telur Itik 16,72 ± 0,26

(45)

ml larutan strontium klorida. Tujuan penambahan larutan ini adalah untuk mengurangi gangguan kimia yang mungkin terjadi pada larutan sampel yaitu pembentukan senyawa stabil yang menyebabkan tidak sempurnanya disosiasi zat yang akan dianalisis.

Dari hasil uji statistik yaitu pengujian beda rata-rata kadar kalsium antara kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik dengan menggunakan analisis variance satu arah pada taraf kepercayaan 95%, diperoleh nilai Fhitung = 129,7079 yang lebih tinggi dari nilai Ftabel

Kalsium dibutuhkan dalam proses pembentukan kulit telur. Rata-rata kebutuhan kalsium untuk ayam petelur adalah 3,4 gram per hari (Rasyaf, 1997) dan kebutuhan kalsium untuk itik petelur adalah 4,55 gram per hari (Wasilo, 1994). Bahan makanan sumber kalsium bagi ayam adalah tepung kulit kerang, tepung tulang, dan batu kapur (Rasyaf, 1997). Bahan makanan ini biasanya diberikan secara teratur pada ayam ras, sedangkan ayam nonras biasanya mencari makanannya sendiri sehingga asupan kalsium ayam nonras lebih rendah dari pada ayam ras. Sedangkan bahan makanan sumber kalsium bagi itik adalah keong

(46)

(daging dan kulitnya), bekicot (dagig dan kulitnya), tepung ikan, tepung limbah udang, tepung tulang dan tepung kerang (Agus, 2001). Bahan makanan ini biasanya diberikan secara teratur pada itik sehingga asupan kalsium pada itik tinggi.

4.5 Uji Perolehan Kembali

Data dan perhitungan uji perolehan kembali dapat dilihat pada Lampiran 10 dan 11. Ternyata dari hasil yang diperoleh dari % uji perolehan kembali menunjukkan bahwa metode ini memberikan ketepatan yang memuaskan, dimana diperoleh % uji perolehan kembali untuk kalsium pada kulit telur ayam ras adalah 86,24%. Hasil % uji perolehan kembali ini memenuhi batas-batas yang ditentukan yaitu 80 %-110 % (WHO, 1992).

4.6 Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

(47)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Hasil pemeriksaan secara kuantitatif diperoleh kadar kalsium sebesar 15,36±0,30 g/100g pada kulit telur ayam ras, 14,51±0,18 g/100g pada kulit telur ayam nonras, 16,72±0,26 g/100g pada kulit telur itik.

Hasil uji statistik menggunakan analisis variance satu arah dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan bahwa rata-rata kadar kalsium pada kulit telur itik > kulit telur ayam ras > kulit telur ayam nonras.

5.2 Saran

1. Disarankan kepada peneliti berikutnya untuk dapat meneliti lebih lanjut kemungkinan pemanfaatan kulit telur sebagai salah satu bahan baku sumber kalsium bagi manusia.

(48)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2003). Yang Terdapat Pada Telur.

Agus, et all. (2001). Intensifikasi Beternak Itik. Jakarta: Agromedia Pustaka. Hal. 31.

Carlos. (2006). Kadar Ca, Mg dan Nisbah Mg/Ca dalam Larutan Mineral Dolomit dengan Berbagai Konsentrasi HCl, HNO3 dan H2SO4. Skripsi Jurusan Kimia FMIPA USU Medan. Hal. 16.

Darmono. (1995). Logam Dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Cetakan I. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hal. 48-49, 76, 89.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi Ke IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 159, 1061, 1133, 1137, 1165.

Fardiaz, D. et all. (1989). Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan. Bogor: Penerbit Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. Hal. 16.

Fifield, F.W. & Kealey, D. (1983). Principles and Practice of Analytical Chemistry. Second edition. London: International Textbook Company Limited. Page: 277.

Harjadi, W. (1990). Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Gramedia. Hal. 272.

Harmita. (2004). Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Review Artikel. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol.1(3): 119, 130, 131.

Harris, D.C. Quantitative Chemical Analysis. Fourth Edition. New York: W.H. Freeman and Company. Pages. 600-603.

Irianto, A. (2004). Statistik Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Prenada Media. Hal. 217-237.

(49)

Nasution, E.Z. & Bulan, R. (1997). Kemungkinan Pemanfaatan Daun Petai Cina, Ampas Daging Kelapa Sawit, Tongkol Jagung dan Kulit Telur sebagai Tambahan Ransum Ayam. Skripsi Jurusan Biologi FMIPA USU Medan. Hal. 20-21.

Panda, P.C. (1995). Text Book on Egg and Poultry Technology. Delhi: Vikas Publishing House PVT LTD. Pages. 11, 13, 16.

Rasyaf, M. (1997). Penyajian Makanan Ayam Petelur. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 103.

Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pusataka Pelajar. Hal.19-22, 298, 305, 311, 312.

Soine, T.O. & Wilson, C.O. (1961). Roger’s Inorganic Pharmaceutical Chemistry. Seventh Edition. Philadelphia: Lea & Febiger. Pages. 390, 391.

Sudjana. (1992). Metode Statistik. Edisi Kelima. Bandung: Tarsito. Hal. 227. Vogel. (1985). Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan

Semimikro. Bagian II. Edisi Kelima. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka. Hal. 302, 317-318, 615-618, 635.

Vogel. (1989). Kimia Analisa Kuantitatif Anorganik. Edisi keempat. Jakarta: EGC Kedokteran. Hal. 956, 974-975.

Wasilo, & Rohaeni, E.S. (1994). Beternak Itik Alabio. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 49.

Wibisono, Y. (2005). Metode Statistik. Cetakan I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 332-338, 379-386.

(50)
(51)

Lampiran 2. Perhitungan Persamaan Garis Regresi dan Koefisien Korelasi (r) dari Data Kalibrasi Kalsium

No.

Jadi persamaan garis regresinya adalah Y = 0,0015X -0,0003

(52)

Lampiran 3. Data Berat Sampel, Absorbansi dan Kadar Kalsium pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik Sampel Berat Sampel Absorbansi Kadar kalsium (g/100g)

(g) Kadar Kadar rata-rata

1.0316 0.0361 15.6822 1.0188 0.0342 15.0504

Kulit telur 1.0429 0.0362 15.5549 15.3585 Ayam ras 1.0223 0.0352 15.4336

1.0258 0.0354 15.4676 1.0129 0.0338 14.9625 1.0272 0.0327 14.2783 1.0241 0.0334 14.6253

Kulit telur 1.0235 0.0333 14.5905 14.5100 Ayam nonras 1.0310 0.0337 14.6568

1.0130 0.0330 14.6101 1.0133 0.0323 14.2987 1.0364 0.0389 16.8103 1.0173 0.0377 16.6017

Kulit telur 1.0148 0.0385 16.9930 16.7173 itik 1.0131 0.0381 16.8460

(53)

Lampiran 4. Contoh Perhitungan Kadar Kalsium pada Sampel Misalnya untuk kalsium pada kulit telur ayam ras

Persamaan regresi yang diperoleh : Y = 0,0015X - 0,0003

X =

Keterangan : Y = Absorbansi

(54)

Dengan menggunakan rumus:

Kadar (mcg/g)

W CxVxFp

=

Keterangan : C = Konsentrasi larutan sampel (mcg/ml) V = Volume larutan sampel (ml)

Fp = Faktor pengenceran W = Berat sampel (g) Maka:

Kadar 1 = (24,2667 mcg/ml x 100 ml x 1000/15)/1,0316 g = 156822,4118 mcg/g = 15,6822 g/100g Kadar 2 = (23,0000 mcg/ml x 100 ml x 1000/15)/1,0188 g = 150503,8608 mcg/g

= 15,0504 g/100g Kadar 3 = (24,3333 mcg/ml x 100 ml x 1000/15)/1,0429 g = 155548,9500 mcg/g

= 15,5549 g/100g Kadar 4 = (23,6667 mcg/ml x 100 ml x 1000/15)/1,0223 g = 154336,3005 mcg/g

= 15,4336 g/100g Kadar 5 = (23,8000 mcg/ml x 100 ml x 1000/15)/1,0258 g = 154676,0252 mcg/g

= 15,4676 g/100g Kadar 6 = (22,7333 mcg/ml x 100 ml x 1000/15)/1,0129 g = 149625,1687 mcg/g

(55)

Lampiran 5. Nilai Qkritis pada Taraf Kepercayaan 95%

Banyaknya data Nilai Qkritis

4 0,831

5 0,717

6 0,621

7 0,570

(56)

Lampiran 6. Perhitungan Statistik Kadar Kalsium pada Kulit Telur Ayam Ras

Dari 6 data yang diperoleh, data ke 6 adalah yang paling menyimpang sehingga dilakukan uji penolakan hasil analisis dengan Q-test.

Qhitung

Nilai Qkritis

Q

pada taraf kepercayaan 95% adalah 0,621

hitung < Qkritis

; maka semua data diterima

Rata-rata kadar kalsium dengan selang kepercayaan 95% pada kulit telur ayam ras

µ = X± t ( ½ α, df) s/ n

µ = 15,3585 ± 2,5706 .0,2873/ 6

µ = 15,3585 ± 0,3015 g/100g Dibulatkan menjadi:

(57)

Lampiran 7. Perhitungan Statistik Kadar Kalsium pada Kulit Telur Ayam Nonras

Dari 6 data yang diperoleh, data ke 1 adalah yang paling menyimpang sehingga dilakukan uji penolakan hasil analisis dengan Q-test.

Qhitung

Nilai Qkritis

Q

pada taraf kepercayaan 95% adalah 0,621

hitung < Qkritis

; maka semua data diterima

Rata-rata kadar kalsium dengan selang kepercayaan 95% pada kulit telur ayam ras

µ = X± t ( ½ α, df) s/ n

µ = 14,5100 ± 2,5706 .0,1730/ 6

µ = 14,5100 ± 0,1816 g/100g Dibulatkan menjadi:

(58)

Lampiran 8. Perhitungan Statistik Kadar Kalsium pada Kulit Telur Itik

Dari 6 data yang diperoleh, data ke 6 adalah yang paling menyimpang sehingga dilakukan uji penolakan hasil analisis dengan Q-test.

Qhitung

Nilai Qkritis

Q

pada taraf kepercayaan 95% adalah 0,621

hitung < Qkritis

; maka semua data diterima

Rata-rata kadar kalsium dengan selang kepercayaan 95% pada kulit telur ayam ras

µ = X± t ( ½ α, df) s/ n

µ = 16,7173 ± 2,5706 .0,2442/ 6

µ = 16,7173 ± 0,2563 g/100g Dibulatkan menjadi:

(59)

Lampiran 9. Pengujian Beda Rata-Rata Kadar Kalsium pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik

No. ∑ 92.1512 1415.7198 87.0597 1263.3816 100.3038 1677.1068

TA = 92,1512 TB = 87,0597 TC

Dilakukan analisis variance satu arah dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui bahwa rata-rata ketiga kelompok berbeda (σ

= 4356,2082

12 ≠σ22

1. H

).

1 : σ12 ≠σ2

2. Perhitungan jumlah kuadrat

2

(60)

SSb = ∑

= 15,7378-14,8775 = 0,8603

b

3. Penentuan derajat kebebasan dkSSt

4. Perhitungan deviasi rata-rata kuadrat

(61)

MSw

6. Penentuan F tabel, dengan alpha 0,05 maka: F(0,05; dkSSb; dkSSw) = F(0,05; 2; 15)

7. F

adalah 3,68

hitung > F

Hasil ini menunjukkan bahwa H

tabel

1 diterima sehingga disimpulkan bahwa σ12 ≠

σ22

8. H

. Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan Tukey’s HSD untuk mengetahui secara pasti rata-rata yang berbeda dengan yang lainnya.

o : µ1 =µ2 = µ

H

3

1 : µ1≠ µ2 ≠ µ

9. Nilai q dengan alpha 0,05 maka:

3

10. Perbedaan rata-rata antar kelompok

(62)

X C 16,7173 6

3038 , 100

=

=

Tabel perbedaan rata-rata antar kelompok:

X A X B X C

X A X 0,8485 1,3588

X B 0,8485 X 2,2073

X C 1,3588 2,2073 X

Perbedaan rata-rata kelompok dibandingkan dengan nila HSD. Kelompok dikatakan memiliki perbedaan secara signifikan bila nilai rata-rata kelompok > HSD.

11. Karena nilai rata-rata kelompok > HSD, maka H1 diterima. Berarti terdapat

(63)

Lampiran 10. Data Uji Perolehan Kembali

Sampel Berat Sampel Absorbansi Kadar kalsium (g/100g)

(g) Kadar Kadar rata-rata

1.0316 0.0841 36.3621 1.0188 0.0779 34.1142

Kulit telur 1.0429 0.0806 34.4765 34.0072 Ayam ras 1.0223 0.0765 33.3888

(64)

Lampiran 11. Perhitungan Uji Perolehan Kembali

Kadar Ca baku yang ditambahkan = x1ml

(65)

Lampiran 12. Perhitungan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi Persamaan garis regresi yang linier dari Kalsium:

(66)

Lampiran 13. Nilai Distribusi t

(67)
(68)
(69)
(70)

Lampiran 18. Gambar Sampel Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik

Gambar 3. Kulit Telur Ayam Ras

Gambar 4. Kulit Telur Ayam Nonras

(71)
(72)

Figur

Gambar 1. Komponen Spektrofotometer Serapan Atom

Gambar 1.

Komponen Spektrofotometer Serapan Atom p.21
Tabel 1. Temperatur nyala dengan berbagai kombinasi bahan bakar dan bahan                 pengoksidasi (Harris, 1982)

Tabel 1.

Temperatur nyala dengan berbagai kombinasi bahan bakar dan bahan pengoksidasi (Harris, 1982) p.24
Tabel 2. Hasil Analisis Uji Organoleptis pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik

Tabel 2.

Hasil Analisis Uji Organoleptis pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik p.40
Tabel 3. Hasil Analisis Kualitatif Kalsium dan Karbonat pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik

Tabel 3.

Hasil Analisis Kualitatif Kalsium dan Karbonat pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik p.41
Tabel 4. Hasil Pengukuran Larutan Baku Kalsium.

Tabel 4.

Hasil Pengukuran Larutan Baku Kalsium. p.42
Gambar 2. Kurva Kalibrasi Kalsium pada Panjang Gelombang Absorbansi  Maksimum 422,38 nm

Gambar 2.

Kurva Kalibrasi Kalsium pada Panjang Gelombang Absorbansi Maksimum 422,38 nm p.43
Tabel 5. Data Absorbansi dan Konsentrasi Larutan Pengukuran

Tabel 5.

Data Absorbansi dan Konsentrasi Larutan Pengukuran p.44
Tabel 6. Data Kadar Kalsium (g/100g) pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik

Tabel 6.

Data Kadar Kalsium (g/100g) pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur Ayam Nonras dan Kulit Telur Itik p.44
tabelHasil ini menunjukkan bahwa H 1 diterima sehingga disimpulkan bahwa σ1

tabelHasil ini

menunjukkan bahwa H 1 diterima sehingga disimpulkan bahwa σ1 p.61
Tabel perbedaan rata-rata antar kelompok:

Tabel perbedaan

rata-rata antar kelompok: p.62
Gambar 3. Kulit Telur Ayam Ras

Gambar 3.

Kulit Telur Ayam Ras p.70
Gambar 4. Kulit Telur Ayam Nonras

Gambar 4.

Kulit Telur Ayam Nonras p.70

Referensi

Memperbarui...