Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam

179 

Teks penuh

(1)

YULIANA NATAN

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur A. edentula pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2008

Yuliana Natan

(3)

YULIANA NATAN. Ecology and Reproduction Study of Mudflat clam

Anodontia edentula in Mangrove Ecosystem of Inner Ambon Bay. Under the Supervision of DIETRIECH. GEOFFREY. BENGEN, FREDINAN YULIANDA, and SIGIT ANGGORO PUTRO DWIONO.

The mudflat clams, Anodonta edentula, of the family Lucinidae are found in the intertidal to subtidal zone of the mudflat coastal area . The clams burrow themselves to the depth of 20-60 cm in the muddy bottoms around the estuaries in mangrove forest, and can withstand the anoxic condition of sediment containing high sulfide. In Ambon, the mudflat clams were exploited during the season when fishes as source of protein were scarce. Over exploitation and pressure on the natural habitat of the clams will decrease the population.

The objectives of this research were: to study the habitat typology and water quality in connection with distribution pattern and density of the mudflat clams to study the morphometric, growth, mortality and recruitment of the clam to determine the status of population; to analyze its ability to survive in different conditions of substrates; and to study aspects of reproduction of the clam to determine reproduction potency. The research was carried out in 13 months ( from January 2005 to January 2006) in mangrove ecosystem of Inner Ambon Bay. The site was divided into three zones, i.e. the front zone or zone I (near the waters), the middle zone or zone II, and the back zone or zone III (upper area of the mangrove forest). The analyses covered community structure of the mangrove, environmental characteristics of the waters (rainfall, temperature, salinity, pH, DO, sulphite, phosphate and nitrate), distribution patterns of the clams, length-weight relationship, condition factor, growth rate and production. Aspects of reproduction were sex ratio, gonato somatic index, gonado maturity level, and fecundity.

The results showed that mangrove area was dominated by Rhizophora apiculata, R. macronata and Sonneratia alba. Zone II was dominated by muddy sand with higher density of clam (35.25 ind./m2) compare to the other zones,

(4)

rates were caused by the extreme life condition, also by the thin and fragile shells of the clams. Recruitment occurred every month in the males, females, and also males and females combined. Overall, there were two unequal pulses. The peaks of males were in June (12.38%) and October (14.77%), while in the females were in April (16.88%0 and Auigust (15.12%), and in the males and females combined were in March (12.67%0 and May (20.26%). During 13 months observation, sex ratio did not changed much (1:1) month by month. Spawning occurred along through the year, and this was supported by gonado somatic index, maturity level and fecundity, with peaks of spawning season in the beginning of wet season April-May) and dry season (November-December).

Keywords : Mudflat clam, growth, mortality, gonado somatic index, maturity level and

(5)

YULIANA NATAN. Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula di Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam. Dibimbing oleh DIETRIECH GEOFFREY BENGEN, FREDINAN YULIANDA, dan SIGIT ANGGORO PUTRO DWIONO.

Kerang lumpur, Anodontia edentula dari famili lucinidae, hidup pada daerah pantai berlumpur (mudflat) di zona intertidal sampai subtidal dan hidupnya berkelompok. Selain itu spesies ini membenamkan diri pada dasar berlumpur (muddy bottoms) sekitar estuari pada daerah hutan mangrove pada kedalaman 20 – 60 cm dan dapat hidup pada kondisi anoxic dengan sedimen mengandung banyak sulfida. Di Ambon kerang ini dimanfaatkan bila terjadi musim paceklik ketika ikan sebagai sumber protein hewani sulit diperoleh, sehingga populasi kerang ini akan mangalami tekanan bila tidak dikelola dengan baik. Aktivitas ekploitasi yang berlebihan, serta penekanan terhadap kondisi habitat alami dari kerang itu sendiri mengakibatkan penurunan populasi yang cukup mengkhawatirkan.

Tujuan dari penelitian ini adalah: mengkaji tipologi habitat dan kualitas perairan dalam hubungannya dengan pola sebaran dan kepadatan kerang

Anodontia edentula. mengkaji morfometrik, pertumbuhan, mortalitas dan rekrutmen dalam menentukan status populasi kerang Anodontia edentula; menganalisa kemampuan bertahan hidup kerang pada kondisi substrat yang berbeda, mengkaji aspek reproduksi kerang yang menentukan potensi reproduksi. Penelitian dilakukan selama 13 bulan (dari Januari 2005 sampai Januari 2006) di ekosistem hutan mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam dimana dibagi atas 3 zona, yaitu zona depan hutan mangrove, tengah mangrove dan di belakang hutan mangrove. Metode analisis meliputi struktur komunitas mangrove, karakteristik lingkungan perairan (curah hujan, suhu, salinitas, pH, Oksigen terlarut, sulfite, fosfat dan nitrat), pola penyebaran kerang, hubungan panjang berat, faktor kondisi, kecepatan tumbuh dan produksi, sedangkan aspek reproduksi meliputi nisbah kelamin, indeks kematangan gonad, tingkat kematangan gonad serta fekunditas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: spesies mangrove didominasi oleh

(6)

pertumbuhan (K) dari jantan, betina dan total masing masing 1.3, 1.5 dan 1.5 per tahun yang mengindikasikan pertumbuhan yang cepat dari kerang ini dengan laju pertumbuhannya memerlukan waktu yang pendek yaitu masing-masing 2.3 tahun, 2.0 tahun dan 2.1 tahun.

Laju mortalitas total Z, untuk jantan, betina dan total masing-masing adalah 4.56±0.31, 4.61±0.65 dan 4.95±0.43. Laju mortalitas total yang cukup tinggi, disebabkan oleh kondisi hidup yang ekstrim dan cangkang yang cukup tipis dan rapuh. Pada kerang jantan, betina maupun gabungan total kerang menunjukkan rekrutmen terjadi setiap bulan.

Secara keseluruhan telah terjadi dua puncak pulsa yang tidak sama (two unequal pulsa). Puncak rekrutmen pada kerang jantan terjadi pada bulan Juni (12.38%) dan Oktober, yaitu 14.77%; pada betina pada bulan April (16.88%) dan Agustus (15.12%) dan total gabungan pada bulan Maret (12.67%) dan Mei (20.26%).

(7)

☼Hak cipta milik IPB, tahun 2007

Hak cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.

a.Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

(8)

POPULASI KERANG LUMPUR

Anodontia edentula

PADA EKOSISTEM MANGROVE

TELUK AMBON BAGIAN DALAM

YULIANA NATAN

Disertasi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Doktor pada

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(9)

Judul Disertasi : Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur

Anodontia edentula pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam

Nama : Yuliana Natan

NIM : C661020041

Disetujui Komisi Pembimbing

Prof.Dr.Ir.Dietriech.G.Bengen, DEA Ketua

Dr.Ir.Fredinan Yulianda,MSc Dr.Ir.Sigit.A.P.Dwiono, DEA

Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Kelautan

Dr.Ir. Djisman Manurung,MSc Dr.Ir.Khairil Anwar Notodiputro,MS

(10)

Disertasi Beberapa Aspek Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula pada ekosistem mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Doktor pada program studi Ilmu Kelautan Sekolah Pascasarjana IPB. Disertasi ini diharapkan dapat memberi manfaat dan menjadi bahan rujukan pustaka dari kerang Anodontia edentula baik informasi ekologi, repdoduksi maupun pengelolaan yang berkelanjutan dari kerang ini di perairan Maluku.

Segala Puji Syukur kepada Tuhan Jesus Kristus, atas berkat dan kasihNya disertasi ini dapat terselesaikan. Menyadari bahwa selama pendidikan hingga tersusunnya disertasi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan dan dukungan berbagai pihak baik moril maupun materiil. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : Komisi Pembimbing: Prof. DR.Dietriech.G.Bengen. DEA selaku Ketua, DR.Ir. Fredinan Yulianda dan DR. S.A.P Dwiono, DEA, masing-masing sebagai komisi pembimbing atas dedikasi dan arahan dari ketiga Pembimbing, telah membuka wawasan penulis mulai dari perencanaan, pelaksanaan penelitian hingga rangkumnya penulisan disertasi ini.

Terima kasih kepada : Rektor universitas Pattimura, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura bersama seluruh staf akademik maupun administrasi atas dukungan selama pendidikan. Penulis patut berterima kasih kepada PEMDA Maluku, Pemerintahan Desa Lateri, Yayasan Dana Beasiswa Maluku, Yayasan Satyabhakti Widya, Yayasan Toyota & Astra, Bapak M. Sinanu, Ir.Y. .Masrikat, Penghuni P12, dan PERMAMA Bogor atas dukungan moril maupun materil.

Ungkapan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam penulis sampaikan kepada: Papa, Mama, Mertua, saudara-saudariku, serta seluruh keluargaku. Yang tercinta suamiku Ir.Tonny.S. Ongkers, MS dan anak-anakku terkasih Jodi dan Vania atas pengorbanan, doa dan dukungan yang tiada hentinya.

Semoga Disertasi ini bermanfaat untuk yang membutuhkannya.

(11)

Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 30 Januari 1962, dari Bapak Johannis Natan dan ibu Santje Liem. Penulis merupakan anak ke 2 dari enam bersaudara. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, lulus pada tahun 1986. Pada tahun 1993 penulis diterima di Program Studi Ilmu kelautan pada Program Pascasarjana IPB dan menamatkannya pada tahun 1996. Kesempatan untuk melanjutkan ke program doktor pada program studi dan perguruan tinggi yang sama diperoleh pada tahun 2002. Beasiswa pendidikan pascasarjana diperoleh dari Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Selain itu juga diperoleh bantuan beasiswa dari Yayasan Beasiswa Dana Maluku (YDBM), PEMDA Maluku dan Yayasan Satyabakti Widya, Jakarta.

(12)

Halaman

PRAKATA ... i

RIWAYAT HIDUP ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

I. PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Perumusan Masalah ...5

1.3 Kerangka Pemikiran ...6

1.4 Tujuan Penelitian ...9

1.5 Manfaat Penelitian ...9

1.6 Hipotesis ...9

II. TINJAUAN PUSTAKA ...10

2.1 Ekosistem Mangrove ...10

2.2 Sistematika, Morfologi, dan Anatomi Kerang ...12

2.3 Sistem Reproduksi Pada Bivalvia ...14

2.3.1 Oogenesis ...16

2.3.2 Spermatogenesis, Spermiogenesis dan Sperma ...17

2.4 Siklus Reproduksi ...18

2.4.1 Faktor-Faktor Eksogen ...19

2.4.2 Faktor- Faktor Endogen ...20

2.5 Fertilisasi Gamet ...20

2.6 Perkembangan Larva ...21

2.7 Beberapa Aspek Bio-Ekologi ...22

2.7.1 Habitat ...22

2.7.2 Sebaran...22

2.7.3 Pertumbuhan ...23

2.7.4 Makanan dan Pencernaan ...24

2.7.5 Kondisi Hidrologi ...25

III.BAHAN DAN METODE PENELITIAN ...28

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ...28

3.2 Alat dan Bahan Penelitian ...29

3.3 Metode Penelitian ...30

3.3.1 Mangrove ...30

3.3.2 Sedimen... 31

3.3.3 Parameter Lingkungan Perairan ...31

3.3.4 Kerang ... ...31

3.3.5 Kemampuan Adaptasi Keranag ... 34

3.3.6 Reproduksi Kerang ...34

(13)

3.4.3 Kepadatan Kerang.. ...39

3.4.4 Pola Penyebaran ...39

3.4.5 Morfometrik ...40

3.4.6 Hubungan Panjang- Berat ...40

3.4.7 Faktor Kondisi ...40

3.4.8 Kecepatan Pertumbuhan ...41

3.4.9 Produksi Kerang ...41

3.4.10 Pertumbuhan ...42

3.4.11 Pendugaan Mortalitas . ...46

3.4.12 Rekrutmen ...47

3.4.13 Nisbah Kelamin ...47

3.4.14 Indeks Kematangan Gonad dan Indeks Berat Daging ...47

3.4.15 Fekunditas ...48

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN...49

4.1.Struktur Komunitas Mangrove... 49

4.2 Karakteristik Substrat ... 52

4.3 Karakteristik Lingkungan Perairan ...54

4.4 Ekologi Kerang ... 66

4.4.1 Kepadatan ... 66

4.4.2 Pola Penyebaran ...72

4.4.3. Sebaran Ukuran Kerang ...74

4.4.4. Morfometrik ...77

4.4.5. Faktor Kondisi ...81

4.4.6.Jenis Makanan ...84

4.4.7.Kemampuan Adaptasi Kerang ...85

4.4.8. Pertumbuhan ...88

4.4.9. Mortalitas ...95

4.4.10. Rekrutmen ...96

4.5. Reproduksi Kerang ... . 99

4.5.1.Nisbah kelamin ... 99

4.5.2. Indeks Kematangan Gonad (IKG) ...101

4.5.3.Tingkat Kematangan Gonad ...103

4.5.4. Fekunditas ...108

V. SIMPULAN DAN SARAN...115

DAFTAR PUSTAKA ...117

(14)

Halaman

1. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ...29

2. Jenis-jenis mangrove yang ditemukan pada perairan Passo ...49

3. Penyebaran ukuran partikel substrat habitat kerang A. edentula...52

4. Parameter kualitas perairan di ketiga zona penelitian A. edentula ...54

5. Akar ciri dan persentase varians pada 5 sumbu utama dari PCA di ketiga zona ...61

6. Sebaran rataan kepadatan kerang A. edentula secara spasial ...68

7. Akar ciri dan persentase varians pada 5 sumbu utama dari PCA dengan kepadatan sebagai variabel suplemen di ketiga zona ...68

8. Pola penyebaran populasi kerang A. edentula ...73

9. Rataan panjang cangkang pada berbagai lokasi selama 16 minggu ...86

10.Rataan berat cangkang pada berbagai lokasi selama 16 minggu ...86

11.Ukuran kohort kerang A. edentula selama penelitian ...89

12.Persentase rekrutmen jantan, betina dan total kerang A. edentula ...97

13.Nisbah kelamin kerang A. edentula...100

14.Statistik berat gonad, berat viscera dan IKG A. edentula...102

15.Statistik IKG jantan dan betina A. edentula...102

16.Tingkat Kematangan Gonad kerang betina A.edentula...105

17.Tingkat Kematangan Gonad kerang jantan A.edentula... ... 106

18.Persentase TKG kerang A. edentula selama penelitian ...107

19.Frekuensi dan persentase matang kerang betina ...108

(15)

Halaman 1. Pola pendekatan masalah dalam penelitian kerang di perairan pantai

hutan mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam ...8

2. Anatomi dari Loripes lucinnalis ...14

3. Skema sistem reproduksi dioceus pada bivalvia ...15

4. Skema sistem reproduksi hermaprodites pada bivalvia ... 16

5. Peta penyebaran Anodontia edentula ...23

6. Lokasi pengambilan contoh kerang dan mangrove ...28

7. Pengukuran morfometri kerang ...33

8. Peta sebaran nilai penting jenis mangrove ...51

9. Sebaran partikel sedimen habitat kerang ...53

10.Curah hujan dan lama hari hujan dari bulan Januari 2005 hingga Januari 2006 ...54

11.Sebaran nilai kualitas perairan pada zona I dari bulan Januari 2005 hingga Januari 2006 ...58

12.Sebaran nilai kualitas perairan pada zona II dari bulan Januari 2005 hingga bulan Januari 2006 ...59

13.Sebaran nilai kualitas perairan pada zona III dari bulan Januari 2005 hingga bulan Januari 2006 ...60

14.Grafik PCA karakteristik lingkungan perairan pada Zona I ...63

15.Grafik PCA karakteristik lingkungan perairan pada Zona II ...64

16.Grafik PCA karakteristik lingkungan perairan pada Zona III ...65

17.Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona I ...69

18.Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona II... ...70

19.Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona III ... ...74

20.Berbagai struktur ukuran dalam lubang habitat ...73

21.Sebaran panjang cangkang dan berat total kerang A. edentula ...76

22.Hubungan morfometrik cangkang kerang A. edentula ...78

(16)

Dalam ...79

25.Kurva hubungan panjang berat cangkang kerang A. edentula betina di perairan hutan mangrove pantai Passo teluk Ambon Bagian Dalam ...80

26.Grafik faktor kondisi per bulan ...82

27.Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan faktor kondisi sebagai variabel suplemen. ...84

28.Jenis-jenis bakteri yang ditemukan di dalam tubuh kerang dan contoh tanah ...85

29.Kurva perubahan panjang cangkang selama 16 minggu ...83

30.Kurva perubahan berat cangkang selama 16 minggu ...87

31.Kurva pertumbuhan kerang A. edentula yang diestimasi dari pergeseran modus tiap kohort ...89

32.Kurva pertumbuhan kerang A. edentula hasil analisis menggunakan program FiSAT (ver.0.31) ...93

33.Dugaan kurva pertumbuhan kerang Adonontia edentula ...95

34.Kurva hasil tangkapan konversi panjang (LCCC) dari (a) kerang jantan, (b) betina dan (c) total ...97

35.Anakan kerang Anodontia edentula dalam induknya ...98

36.Rataan jumlah anakan dan ukuran tubuh inang ...99

37.Persentase rekrutmen kerang A. edentula (a) jantan, (b) betina, dan (c) total ...100

38.Grafik persentase nisbah kelamin kerang A. edentula...101

39.Sebaran temporal IKG kerang A. edentula selama penelitian ...104

40.Persentase TKG kerang betina A. edentula selama penelitian ...108

41.Persentase matang kerang A. edentula betina selama penelitian ...109

42.Sebaran ukuran panjang dan rataan jumlah telur ...111

43.Diameter telur selama penelitian ...112

(17)

1.1Latar Belakang

Perairan Teluk Ambon telah dipandang oleh naturalis terbesar di abad yang lalu ( Alfred Wallace) sebagai salah satu lingkungan laut terkaya di dunia, dengan koral, kerang dan ikan yang melimpah di berbagai ekosistem. Teluk Ambon terdiri atas dua bagian, yaitu Teluk Ambon Bagian Luar (Outer Ambon Bay) dan Teluk Ambon Bagian Dalam (Inner Ambon Bay). Teluk Ambon Bagian Dalam memiliki bentuk teluk membulat dengan ambang (sill) sempit berkedalaman 12,8 meter. Dengan adanya ambang tersebut mengakibatkan terhalangnya pertukaran massa air. Di samping itu perairan tersebut agak tenang dibandingkan dengan perairan Teluk Ambon Bagian Luar. Kondisi perairan yang terlindung ini memungkinkan beragam organisme hidup di berbagai ekosistem pesisir.

Salah satu ekositem utama di wilayah pesisir Teluk Ambon adalah ekosistem hutan mangrove. Ekosistem ini merupakan bagian dari tatanan lingkungan pesisir yang mudah dikenali dan dibedakan dari ekosistem lainnya, karena membentuk suatu pemandangan yang khas di wilayah pesisir, terutama di dekat muara sungai. Ekosistem mangrove ini merupakan salah satu ekosistem yang mempunyai banyak fungsi dan manfaat, antara lain sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung dari abrasi, penahan lumpur, dan perangkap sedimen, selain juga berperan sebagai daerah asuhan, mencari makanan dan daerah pemijahan bagi berbagai jenis ikan, udang, moluska dan biota lainnya. Di samping itu juga, hutan mangrove dapat digunakan sebagai penghasil kayu untuk bahan konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang dan bahan baku kertas. Dari semua kegunaan di atas, ekosistem mangrove mempunyai produkvitas yang tinggi bagi perairan, dengan kekayaan dan keanekaragaman organisme dan salah satu yang tinggi adalah bivalvia yang mendiami ekosistem ini.

(18)

dikatakan bahwa kelas bivalvia atau hewan berkatup dua ini disebut Pelecypoda (Yunani: pelecys = kapak; podos=kaki) atau juga dikenal sebagai lamellibranchia. Kelas bivalvia atau pelecypoda ini kebanyakan hidup dengan membenamkan diri dalam lumpur maupun pasir, baik pada lingkungan perairan tawar maupun laut. Beberapa jenis bersifat merayap ataupun melekat pada batu, kayu, mangrove, dan benda padat lainnya (Brusca dan Brusca 1990).

Bivalvia (oysters, scallops, clams, cochles dan mussels) mempunyai potensi sumberdaya penting di Indonesia karena pada kenyataannya hampir semua spesies bivalvia dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan manusia, meskipun hanya beberapa jenis bernilai ekonomis penting. Mereka adalah dari jenis kerang-kerangan dan tiram yaitu Pinctada maxima, P. margaritifera, Mytilus edulis, Crassostrea sp, Anadara sp, dan Perna sp. Beberapa dari jenis tersebut menghasilkan mutiara yang bernilai jutaan rupiah sedangkan yang lainnya merupakan sumber protein hewani yang sangat penting, terutama bagi penduduk yang mendiami daerah pesisir.

Di Indo-Pasifik ditemukan kira-kira 17 famili bivalvia yang terdapat di hutan mangrove, antara lain: Arcidae, Ostridae, Isognomonidae, Anomiidae, Mytilidae, Corbiculidae, Tellinidae, Solenidae, Cultellidae, Laternulidae,

Lucinidae, Pholadidae, Teredinidae, Asaphidae, Psammobidae, Blancomidae, dan

Veredinidae. Bivalvia ini menyebar di mangrove Avicenia, Rhizophora, Laguncularia, Conocarpus dan lain-lain ( Morton 1983 ). Diantara semua famili di atas maka famili Lucinidae dengan spesiesnya A. edentula banyak dijumpai di ekosistem mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam. Spesies ini mendiami areal berlumpur dekat aliran sungai dan estruari serta membenamkan diri secara berkelompok dalam lumpur. Jika hutan mangrove mendapat tekanan eksploitasi yang berlebihan, maka habitat dari kerang ini juga akan terganggu.

(19)

dimanfaatkan masyarakat sekitarnya sebagai sumber protein hewani. Dari hasil analisis proksimat kerang A. edentula segar diketahui kandungan gizi kerang ini memiliki komposisi kadar air 86%, protein 10.8%, lemak 1.6%, abu 0.75% dan karbohidrat 0.6%.

Di Ambon spesies ini dikenal dengan nama lokal bia putih, dan ditemukan berlimpah di perairan estuari desa Passo, Teluk Ambon Bagian Dalam. Spesies ini dimanfaatkan hanya bila ikan sulit diperoleh ketika musim timur. Spesies tersebut hidup berkelompok pada lubang areal dataran lumpur (mudflat) mangrove di intertidal dan subtidal ( Lim et al. 2001) dalam Ng dan Sivasothi (2003) pada kedalaman 28-50 cm dan menyimpan bakteri pengoksidasi sulfur pada insangnya. Dengan adanya bakteri pengoksidasi sulfur ini maka spesies tersebut mampu menyerap sulfida dalam jumlah yang banyak sehingga dapat digunakan sebagai biofilter pada areal budidaya dalam memperbaiki serta menjaga kualitas air budidaya. Hasil penelitian Lebata (2000 dan 2001) tentang pangambilan oksigen, sulfida dan nutrien oleh kerang A. edentula pada daerah mangrove berlumpur dengan menggunakan kerang A. edentula, menunjukkan bahwa konsentrasi sulfida berkurang secara dratis, dibandingkan dengan percobaan yang tidak menggunakan kerang tersebut.

Di Indonesia kerang ini kurang mendapat perhatian, khususnya di Ambon, Maluku, padahal spesies ini merupakan makanan yang mengandung protein tinggi dan mempunyai nilai ekonomis sehingga dapat dikembangkan menjadi komoditi ekspor yang akan menambah devisa bagi negara. Spesies tersebut dikonsumsi dengan cara direbus dan dibumbui dan hanya dimanfaatkan bila terjadi musim paceklik dimana ikan sebagai sumber protein hewani sulit diperoleh, sehingga populasi spesies ini akan mengalami tekanan bila tidak dikelola dengan baik .

(20)

(Anonymous 2003). Sedimentasi yang cukup tinggi juga merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penurunan kualitas perairan, dimana pada sungai Waitonahitu sekitar hutan mangrove desa Passo, Teluk Ambon Bagian Dalam memilik kecepatan sedimentasi sebesar 1.2 – 2.5 m²/tahun (Anonymous 2003).

Disamping terganggunya habitat maka terjadi juga kecenderungan penurunan ukuran maksimum kerang akibat dari penurunan kualitas lingkungan, dimana ukuran maksimum kerang yang ditemukan hanya berkisar 6 cm (Latale 2003), sedangkan yang ditemukan oleh Poutier (1998) diacu dalamCarpenter dan Neim (1998) mencapai 7.5 cm dan Lebata (2000 dan 2001), Primavera et al. (2002) mencapai 9 cm di Philipina.

Informasi tentang spesies ini masih sedikit. Misalnya beberapa laporan dari daerah ugahari dan Philipina mengenai klasifikasi spesies (Lamy 1920 ; Chavan, 1937 diacu dalam Carpenter dan Niem 1998), elemen sulfur pada insang A. edentula (Lebata 2000), pengambilan oksigen, sulfida dan nutrien dari A. edentula (Lebata 2001), struktur insang, anatomi dan habitat (Lebata dan Primavera 2001), dan tentang koleksi A. edentula (Primavera et al. 2002). Beberapa informasi thesis terakhir dari Iloilo Visayas University of Philipina (undergraduate thesis) tentang biologi reproduksi A. edentula (Cichon 2006).

Di Indonesia hampir tidak ada data dan informasi serta publikasi dari spesies ini, sedangkan spesies tersebut mempunyai nilai ekonomis, ekologis, dan nilai gizi yang cukup tinggi, tetapi penelitian-penelitiannya masih kurang. Penelitian serta informasi tentang spesies tersebut di daerah tropis terutama di perairan Maluku khususnya Teluk Ambon Bagian Dalam masih minim, padahal spesies tersebut bernilai ekonomis (Lebata 2000 dan 2001) dan merupakan konsumsi lokal masyarakat perairan pesisir. Hanya ada satu penelitian yang telah dilakukan adalah oleh Latale (2003) tentang eksplorasi sumberdaya A. edentula di Teluk Ambon Bagian Dalam.

(21)

Ancaman kepunahan organisme laut terutama moluska di berbagai ekosistem akibat eksploitasi yang berlebihan, berubahnya ekosistem oleh sebab-sebab tertentu seperti bencana alam, penebangan hutan mangrove, pencemaran akibat sampah domestik, penggunaan racun maupun kerusakan fisik oleh sebab-sebab lain menyebabkan habitat dari moluska dan biota lainnya di perairan semakin terancam. Hal yang sama juga terjadi di perairan Maluku, khususnya hutan mangrove perairan pantai Passo, Teluk Ambon Bagian Dalam, yang merupakan habitat dari berbagai organisme laut antara lain ikan, moluska, kepiting, burung laut dan sebagainya.

(22)

ukuran yang didapat relatif lebih kecil dari ukuran yang dipanen sebelumnya. Kurangnya penelitian dan informasi tentang kerang A. edentula tersebut merupakan hal yang patut disayangkan bila terjadi kepunahan sebelum informasi dari biota tersebut dapat terungkap, dan akan memberikan nilai tambah terhadap perbendaharan informasi khususnya bidang moluska di Indonesia.

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran yang jelas tentang kerang A. edentula yang ditemukan di Maluku khususnya Teluk Ambon Bagian Dalam. Pengamatan yang difokuskan terhadap aspek ekologi dan reproduksi memungkinkan luaran penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi pengelolaan sumberdaya moluska secara berkelanjutan.

1.3 Kerangka Pemikiran

Di areal hutan mangrove Teluk Ambon Dalam terdapat lokasi habitat kerang A.edentula. Pada habitatnya, kerang tersebut menyebar untuk mendapatkan makanan dalam substrat lumpur di kedalaman antara 20 – 50 cm (Lebata dan Primavera 2001). Makanan yang dikonsumsi digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain untuk metabolisme dasar, pergerakan, reproduksi serta pemeliharaan bagian-bagian tubuh ataupun mengganti sel-sel yang tidak terpakai. Karena kerang tersebut berada di daerah pasang surut, maka pasang surut air akan mempengaruhi aktivitas kerang serta fluktuasi ketersedian makanan.

Substrat berperan sebagai penyedia makanan, tempat bertumbuh dan bereproduksi, tetapi juga sebagai tempat bertahan hidup pada kondisi yang kaya akan hidrogen sulfida dan anoxid. Keadaan ini memungkinkan endosimbiosis bakteria memainkan peran dalam menghasilkan materi organik.

(23)

maupun sebaliknya.

Sebaran spasial kerang sering dipengaruhi oleh kondisi habitat, dan faktor lingkungan. Umumnya kerang bivalvia menyebar secara mengelompok, ini berkaitan dengan habitatnya di dalam subtrat (sedimen) dimana sebarannya tidak jauh serta berbeda antar lokasi maupun waktu.

Reproduksi merupakan salah satu aktifitas yang memiliki peranan penting dalam mata-rantai siklus hidup suatu biota. Keterkaitan aktifitas reproduksi dengan mata rantai lainnya akan menentukan keberhasilan hidup biota tersebut. Seperti halnya biota lain maka keberhasilan hidup kerang di alam, akan bergantung pada kemampuan bertahan hidup dan mencapai umur reproduktif kemudian bereproduksi dan menghasilkan individu-individu baru sebagai penerus generasinya. Selama fungsi reproduksinya masih normal, maka proses reproduksi akan tetap berlangsung.

Mengawali aktifitas reproduksi maka serangkaian proses yang harus dilewati oleh suatu biota antara lain proses pertumbuhan hingga mencapai tingkat dewasa kelamin serta proses pematangan gonad tahap akhir sebelum terjadinya pelepasan gamet. Informasi yang lengkap dan akurat tentang saat kerang A. edentula mengalami matang gonad untuk pertama kalinya perlu diketahui, karena berhubungan dengan upaya pengelolaan sumberdaya kerang tersebut di alam. Begitu pula dengan jumlah individu kerang betina serta potensi reproduksi merupakan hal yang penting diketahui agar dapat diramalkan seberapa besar rekruitmen yang terjadi pada suatu perairan dalam kurun waktu tertentu. Kesemuanya itu bertujuan kepada upaya pengelolaan yang rasional terutama menyangkut kuantitas eksploitasi dan pembatasan ukuran.

Untuk menjawab semua permasalahan tentang ancaman terhadap habitat dan proses reproduksi kerang A. edentula maka perlu dilakukan suatu penelitian yang terpadu antara faktor lingkungan, ekologi dan biologi dari kerang tersebut. Informasi yang lengkap tentang kerang ini diharapkan dapat dipakai sebagai acuan pustaka bagi peneliti dan pengelola sumberdaya kerang.

(24)

24 Gambar 1. Pola pendekatan masalah dalam penelitian kerang di ekosistem hutan mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam

Ekosistem Mangrove

Kualitas Perairan Kualitas Substrat

Habitat Kerang

Ketersediaan Pakan

Sebaran Spasial, Kepadatan dan

Kelimpahan

Pertumbuhan, Mortalitas dan Rekrutmen

Status Populasi Makanan dan

Lingkungan

Karakteristik Morfometrik

Berat Tubuh

Morfologi dan Anatomi

Reproduksi

Seksualitas

Betina

Ukuran Kematangan

Musim dan Puncak Pemijahan

Potensi Reproduksi

Pengelolaan Berkelanjutan

Jantan

TKG

+ +

(25)

1.4Tujuan Penelitian

1. Menelaah tipologi habitat dan kualitas perairan serta hubungannya dengan pola sebaran kepadatan kerang A.edentula.

2. Menganalisis kemampuan bertahan hidup kerang pada kondisi substrat yang berbeda.

3. Mengkaji aspek pertumbuhan, mortalitas dan rekrutmen dalam menentukan status populasi kerang A.edentula.

4. Mengkaji aspek reproduksi kerang yang menentukan potensi reproduktif.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan ekologi, biologi, dan sistem reproduksi dari kerang A.edentula sehingga memberikan kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pemanfaatan sumberdaya kerang yang berkelanjutan

Informasi dasar tentang ekologi dan aspek-aspek reproduksi kerang dapat membuka wawasan ilmu mengenai bivalvia khususnya dan moluska umumnya. Hasil ini diharapkan menjadi acuan untuk memperdalam dan merangsang penelitian-penelitian biota moluska yang saat ini masih sangat sedikit dibandingkan potensinya yang sangat besar dan tersebar luas di seluruh Indonesia.

1.6 Hipotesis

• Tipologi habitat dan kualitas perairan akan menentukan status populasi dari kerang A.edentula.

• Kondisi habitat akan menentukan kemampuan bertahan hidup kerang

A.edentula.

• Karakteristik pertumbuhan dan reproduksi menentukan potensi reproduksi

(26)

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove di Indonesia memiliki keragaman hayati yang tertinggi di dunia dengan jumlah total 89 spesies, yang terdiri atas 35 spesies tanaman, 9 spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit, dan 2 spesies parasitik (Nontji 1987). Beberapa spesies yang umum dijumpai di wilayah pesisir Indonesia adalah: Mangrove (Rhizopora), Api-api (Avicennia), Pedada (Sonneratia), Tanjang (Bruguiera), Nyirih (Xylocarpus), Tengar (Ceriops), dan Buta-buta (Exoecaria).

Komposisi jenis tumbuhan penyusun ekosistem mangrove ditentukan oleh beberapa faktor lingkungan terutama jenis tanah, genangan pasang surut, dan salinitas (Bengen 2002). Pada wilayah pesisir yang terbuka, jenis pohon yang dominan dan merupakan pohon perintis umumnya adalah api-api dan pedada. Api-api lebih senang hidup pada tanah berpasir yang agak keras, sedangkan pedada pada tanah berlumpur lembut. Pada daerah yang terlindung dari hempasan ombak, komunitas mangrove biasanya didominasi oleh pohon mangrove. Lebih ke arah daratan (hulu), pada tanah lempung yang agak pejal biasanya tumbuh komunitas tajang. Paku laut (Acrostichum aureum) dan jeruju (Acanthus ilicifolius) seringkali dijumpai di daerah pinggiran pohon-pohon mangrove sebagai tumbuhan bawah (Dahuri 1996). Sejenis palma yang disebut nipa (Nypa fruticans) yang merupakan salah satu komponen penyususun ekosistem mangrove, sering tumbuh di tepian sungai ke arah hulu, dimana pengaruh aliran air tawar sangat dominan.

(27)

yang saling terkait, yaitu masukan dan luaran dari ion-ion mineral anorganik dan bahan organik serta pendaur ulangan nutrien secara internal melalui jaring makanan berbasis detritus.

Ekosistem mangrove merupakan sumberdaya alam wilayah tropis yang memiliki manfaat ganda dengan pengaruh yang sangat luas terhadap aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Besarnya peranan ekosistem mangrove terhadap kehidupan dapat dilihat dari keragaman jenis hewan, baik yang hidup di perairan, di atas lahan, maupun di tajuk-tajuk tumbuhan serta ketergantungan manusia secara langsung terhadap ekosistem ini (Naamin 1991).

Ekosistem mangrove merupakan produsen primer melalui serasah yang dihasilkannya. Serasah mangrove setelah melalui proses dekomposisi oleh sejumlah makroorganisme menghasilkan detritus dan berbagai jenis fitoplankton yang akan dimanfaatkan oleh konsumer primer yang terdiri dari zooplankton, ikan dan krustasea sampai akhirnya dimangsa oleh manusia sebagai konsumer utama (Sumarna 1985). Fungsi fisik dari ekosistem mangrove adalah menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi pantai, sebagai perangkap bahan pencemar dan limbah, perlindungan bagi tata guna lahan di wilayah pantai dari badai dan tsunami, pencegahan terhadap intrusi garam, pemurnian alami perairan pantai terhadap polusi serta suplai detritus dan hara untuk perairan pantai di dekatnya.

(28)

2.2 Sistematika, Morfologi, dan Anatomi Kerang

Menurut Poutiers (1998) diacu dalam Carpenter dan Niem (1998) kerang

A.edentula, digolongkan sebagai berikut:

Filum: Moluska

Kelas : Bivalvia

Ordo : Eulamellibranchia Super famili : Lucinacea Famili : Lucinidae Genus : Anodontia

Spesies : Anodontia edentula

Sedangkan Brusca dan Brusca (1990) memasukkan spesies ini ke dalam famili Unionoidae. Sinonim yang sering digunakan atau salah identifikasi dari spesies ini adalah Anodontia hawaiiensis (Dall et al. 1938 ); Cryptodon eutornus (Tomlin 1921);

C. globulosum (Forskal 1775); Lucina edentula (Linnaeus 1758); L. ovum atau

Anodontia pila (Reeve 1850), semuanya diacu dalam Carpenter dan Niem (1998).

Spesies A.edentula ini dikenal dengan nama “toothless lucine”. Bentuk cangkangnya hampir sirkular, trapezoidal (segi empat dengan dua sisi sejalan), tipis, kuat dan agak terkompres (Dance 1976; Arnold dan Birtles 1987). Cangkangnya berkatup, lenticular dan hampir bulat sampai ke bagian subtrapezoidal, namun bagian samping mengalami pengecilan. Umbo kecil dan pendek. Lunule kecil, sering mengalami perubahan dan asimetris. Cangkang bagian luar konsentris atau membentuk lingkaran. Periostracum kadang-kadang bersisik. Tulang sendi bagian luar dijumpai dalam jumlah banyak, tetapi punggung bagian belakang kurang tampak, karena terbenam dalam alur-alur dari punggung bagian belakang. Engsel terdapat pada bagian anterior dan posterior, gigi lateral samping berada dalam katup.

(29)

agak dalam (cekung), membentuk suatu lekuk miring dari sisi posterodorsal. Hinge (engsel) lemah tanpa gigi. Otot adductor anterior sangat panjang dan arcuate. Cangkang bagian luar berwarna putih buram. Bagian bawah cangkang (periostracum) berwarna kekuningan, dan bagian interior berwarna keputih-putihan.

Super famili Lucinacea dicirikan dengan cangkang berbentuk bulat dengan umbo yang terletak ke arah anterior. Semua spesiesnya dikenal mempunyai cangkang berwarna putih, sering tidak berwarna pada bagian anterior dan posterior yang berada pada sisi cangkang dimana terletak bukaan (aperture) inhalent dan ekshalent. Pertautan kedua keping cangkang dihubungkan oleh ligamen yang juga berfungsi untuk membuka cangkang.

Pada kebanyakan spesies Lucinacea, cangkang berbentuk bulat dan tebal, ada juga yang tipis dan rapuh sehingga mudah patah, tidak tampak lekuk atau garis-garis pada bagian luar permukaan cangkang. Pada bagian dalam cangkang terdapat mantel di sisi kiri dan kanan. Mantel berbentuk jaringan tipis dan lebar yang menutup seluruh tubuh dan terletak di bawah cangkang. Pada tepi mantel terdapat tiga lipatan yaitu: dalam, tengah, dan luar. Lipatan dalam adalah yang paling tebal, dan berisi otot radial dan otot melingkar, lipatan tengah mengandung alat indera, dan lipatan luar adalah sebagai penghasil lapisan cangkang. Di ujung posterior terdapat dua sifon, yaitu sifon inhalant untuk memasukkan air dan sifon exhalant untuk mengeluarkan air.

(30)

pernapasan di bagian ventral yang berbentuk bulat. Bagian pinggir garis pallial, bukaan papila sering ditemukan adanya alat tambahan pada penutup insang di bagian depan perut (antero ventral). Gambar 2. dibawah ini menyajikan anatomi dari Famili Lucinidae secara umum:

Gambar 2. Anatomi dari Loripes lucinnalis (Fam:Lucinidae); CM= catch muscle, F=foot, IL= inner demibranch, L=ligamen, P=palp, QM=quick muscle, R= rectum (Allen, 1958).

2.3 Sistem Reproduksi Pada Bivalvia

Sistem reproduksi pada bivalvia bervariasi, bergantung pada spesies tersebut. Berdasarkan pemisahan alat kelamin maka sistem reproduksi bivalvia di kelompokkan atas dua macam, yaitu :

1. Gonochorists atau dioeceus yaitu alat kelamin jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda.

2. Hermaphrodites (hermaprodit) yaitu alat kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang sama.

Anatomi dari kedua sistem reproduksi ini berbeda, ada yang berhubungan dan berdekatan dengan ginjal ada juga yang terpisah. Dari anatomi ini terlihat ada yang mempunyai gonoduct yang sama untuk jantan dan betina tetapi ada juga yang terpisah. Gambar 3 dan 4 menunjukkan skema dari sistem reproduksi gonochorist dan

(31)

Gambar 3. Skema sistem reproduksi dioeceus pada bivalvia; A) gamet disalurkan melalui pericardium, seperti pada leluhur bivalvia; B) gamet disalurkan melalui usus/ginjal dekat saluran renopericardial, seperti pada Yoldia; C) gamet disalurkan melalui nepridiophore, seperti pada Mytilus, atau pada ruang papilla seperti pada Phylobrya munita; D) gamet disalurkan melalui saluran/ perangkat yang terpisah, seperti pada Unionidae. Hanya ginjal dan gonad sebelah kanan yang diperlihatkan (Tompa et al. 1984).

Gonad yang mengatur sistem reproduksi terletak dekat permukaan tubuh diantara ventrikula sebelah atas dan epitel sebelah luar. Gonad yang telah matang memiliki jaringan-jaringan canalis genitalis yang halus dan terlihat di permukaan tubuh karena pada saat itu permukaan tubuh menjadi tipis. Semakin mendekati ductus (saluran ova atau sperma) yang lebar, diameter canalis semakin membesar. Organ seks betina adalah ovari sedangkan jantan adalah testis. Produksi kelenjar kelamin disalurkan keluar melalui saluran-saluran kelamin. Penentuan jenis kelamin sulit ditentukan secara eksternal maupun internal, sebab gonad jantan dan betina mempunyai warna yang sama yaitu krem (Cahn 1949).

Secara umum anatomi sistem reproduksi jantan dan betina dari bivalvia

(32)

terdapat di antara bagian yang berkaitan dengan usus (intestinal loop) di bagian basal kaki atau terjalin diantara lambung, usus dan kelenjar pencernaan.. Pada beberapa spesies, gonad menyelubungi kelenjar pencernaan.

Gambar 4. Skema sistem reproduksi hermaphrodite pada bivalvia; A= Gonoduct (saluran gamet) yang kurang tampak terletak pada bagian dorsal dari ginjal/usus ( gonoduct mungkin saja tidak ada), seperti pada Pecten; B= sex jantan dan betina memiliki saluran gamet yang sama dan berhubungan/terbuka kearah ventral pada bagian ujung dari ginjal, seperti pada Teredo sp; C= sex jantan dan betina memiliki saluran gamet yang behubungan dengan saluran dekat nepridiophore, juga pada papilla, seperti pada Cardium serratum dan Sphaerium spp; D= Sex jantan dan betina memiliki saluran gamet yang terpisah dari nepridiophore, seperti pada Unionidae; E= Gonad terpisah tapi saluran gamet sex jantan dan betina bergabung dan berhubungan pada bagian anterior dari nepridiophore, seperti pada Pandora dan Silenia; F=sex jantan dan bertina terpisah sistem/salurannya, saluran jantan berada pada bagian anterior/atas dari betina dan keduanya berada pada bagian anterior dari nepridiophore, seperti pada Entodesma sp. Hanya ginjal dan gonad bagian kanan yang diperlihatkan. (Tompa et al. 1984).

2.3.1 Oogenesis

(33)

germinal vesikel di dalam nukleus, sitoplasma yang besar dan bagian terluar dengan “lapisan vitelline” yang diselubungi jelly.

Oogenesis diawali dengan sel-sel germinal primodial, yang berada di dalam dinding terdalam folikel, kemudian berkembang menjadi oogenia primer, yang selanjutnya mengalami mitosis menjadi oogenia sekunder, dan setelah mengalami meiosis, menjadi oosit primer pada pembelahan sel pertama, kemudian pada pembelahan sel kedua menjadi oosit sekunder dan selanjutnya berdiferensiasi menjadi oosit matang.

Diferensiasi oosit terdiri atas enam fase antara lain: 1. pembentukan germinal vesikel; 2. sintesis RNA; 3. Vitellogenesis; 4. pembentukan kortikel granula; 5. penambahan sel-sel auxillary pada oosit; dan 6. pematangan oosit.

Vitellogenesis diawali dengan pembentukan granula kuning telur (yolk granula),

yang kemudian diikuti oleh pembentukan “lapisan vitelline”. Selanjutnya terjadi mekanisme secara endogenous maupun eksogenous dari produksi kuning telur termasuk materi yang diambil pynocytosis langsung dari sel-sel auxillary yang mengandung zat gizi, menyerap sel-sel tersebut, memasukkan ke sitoplasma yang berhubungan dengan mitokondria dan hasil sekresi badan golgi serta retikulum endoplasma. Badan balbiani tampaknya tidak ikut dalam produksi kuning telur bagi perkembangan oosit. Sejauh yang diketahui hanya ada satu tipe interaksi antara folikel sel dan oosit pada bivalvia. Sel folikel yang menyelubungi oosit awal, kemudian lepas dan nampak seperti oosit yang menonjol di dalam lumen folikel, tetapi masih menempel pada bagian tangkai basal sampai matang. Energi yang dibutuhkan untuk produksi telur pada akhirnya diterima dari sumber makanan tetapi mungkin disalurkan ke tempat penyimpanan tenaga/energi.

2.3.2 Spermatogenesis, Spermiogenesis dan Sperma

(34)

pada sel-sel ini terlihat mengumpul. Terdapat satu atau dua inti, seperti dua agregat mitokondria pada sitoplasma di sepanjang retikulum endoplasma. Sebagai hasil perkembangan berikutnya, sitoplasma mengecil pada setiap pembagian sel dan sel-sel menjadi lebih kecil serta bergerak ke arah pusat lumen, tinggal rangkaian sel-sel muda yang sedang berkembang menuju dinding asinus lobular. Akhirnya dinding asinus menjadi tipis dan lumen diisi oleh gamet matang.

Spermatogenesis adalah proses fisiologis pembentukan spermatozoa yang berasal dari germinal sel spermatogonia. Sel germinal mengalami serangkaian pembelahan membran sel yang berkesinambungan dan perubahan perkembangan morfologi. Sel germinal yang disebut spermatogonia, akan mengalami mitosis beberapa kali, sebelum terbentuk spermatosit. Sel-sel spermatosit primer akan mengalami meiosis, dengan sekali terjadi pembelahan sel yang diikuti dengan pengurangan jumlah DNA sel menjadi separuh dari sel somatis. Sedangkan pembelahan sel (mitosis dan meiosis), termasuk proliferasi spermatogonia (mitosis) dan pembelahan meiosis disebut spermatocytogenesis. Haploid sel hasil pembelahan meiosis disebut spermatid. Selanjutnya spermatid mengalami serangkaian pembelahan struktur dan morfologis menjadi spermatozoa. Perubahan metamorfik ini disebut spermiogenesis.

Sperma matang mengisi lumen lobulus dengan ekor dan kepala berjajar dalam barisan (Morse and Zardus 1997). Spermatozoa dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: kepala sperma yang biasanya terdiri dari nukleus berbentuk elips atau kerucut dan akrosoma dengan berbagai ukuran, komposisi, morfologi dan posisi pada spermatozoa,

middle piece terdiri atas kumpulan empat atau lima mitokondria mengelilingi sepasang centriola di dekat bagian akhir kepala sperma, serta flagellum atau ekor sperma yang halus ditutupi oleh sitoplasma (Tompa et al. 1984; Thielley et al. 1993).

2.4 Siklus Reproduksi

(35)

faktor yang mempengaruhi. Beberapa faktor eksogen antara lain: suhu, periode bulan, kedalaman, faktor mekanis, kelimpahan dan ketersediaan pakan, dan intensitas cahaya, sedangkan faktor endogen, antara lain genetik dan hormon (Mackie 1984).

2.4.1 Faktor-Faktor Eksogen

Dari semua faktor eksogen, maka suhu merupakan faktor yang berperan sangat penting. Pematangan gamet ditandai dengan fluktuasi suhu (suhu ambang). Faktor penting lainnya adalah kelimpahan dan ketersediaan pakan. Pada kebanyakan bivalvia organ reproduksi menyatu dengan visceral mass dan menunjukkan hubungan yang erat antara kegiatan reproduksi dan sistem pencernaran. Menurut Sastry (1979) diacu dalam Mackie (1984), bahwa perkembangan gonad memerlukan energi yang tinggi. Energi ini diperoleh dari perairan, cadangan yang disimpan atau dari keduanya, dimana hubungan antara ketersedian pakan di lingkungan, penyimpanan dan aktifitas reproduksi bervariasi pada setiap spesies. Periode kelimpahan makanan dan perkembangan gonad hampir bertepatan, sehingga sejumlah makanan yang diarahkan bagi kenampakan gonad bergantung pada konsentrasi pakan, suhu, dan kebutuhan metabolisme dasar individu; pertumbuhan gonad dan gametogenesis bergantung pada pengambilan pakan secara langsung selama periode perkembangan gonad. Pada beberapa spesies, perkembangan gonad dihubungkan dengan penyimpanan dan penggunaan cadangan yang diakumulasi tubuh selama periode kelimpahan makanan maksimum.

(36)

2.4.2 Faktor- Faktor Endogen

Kontrol neurosecretory dan gametogenik bersifat dinamis yang berhubungan langsung dengan rangkaian kontrol balik. Kontrol balik tersebut bersamaan dengan pengaruh eksogen dan endogen pada berbagai proses yang pada akhirnya mempengaruhi perkembangan gonad dan aktifitas gametogenik (yaitu: metabolisme glikogen, akumulasi, mobilisasi cadangan nutrien, dan laju filtrasi).

Kontrol hormon pemijahan juga terjadi pada bivalvia. Sperma tiram mengandung

diantlin yang menyebabkan peningkatan ventilasi pada mantel cavity dengan pembesaran ukuran lubang ostial, pengendoran otot aduktor serta percepatan laju gerakan cilia. Sekresi sperma tersebut terjadi sebelum terjadi pemijahan telur.

2.5 Fertilisasi Gamet

Spermatozoa dengan mitokondria mengumpul dalam massa yang bulat pada bagian posterior kepala sperma, dicirikan sebagai spesies dengan pembuahan eksternal. Akrosoma berfungsi untuk melarutkan lapisan telur dan menggabungkan plasma sperma dengan membran plasma telur. Pada waktu terlepas dari dinding ovari, ovum berbentuk buah pear dan pipih, berbentuk bujur sangkar, berangsur-angsur berubah bentuk menjadi bulat sesudah dilepaskan ke dalam air (Tompa et al. 1984). Fertilisasi silang (cross fertilization) biasanya terjadi pada bivalvia, dimana fertilisasi ini biasanya terjadi dalam tabung suprabranchial atau dalam tabung air pada insang bivalva (misalnya pada Unionacea, larviporous oyster, Teredo spp.,

Pseudokellya dan Lasaea). Pada bivalvia juga terjadi fertilisasi sendiri (self fertilization) terutama pada bivalvia hermaprodite simultan/hermaprodite sinkroni (misalnya pada

(37)

2.6 Perkembangan Larva

Masa hidup larva veliger sebagai plankton bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa bulan bergantung pada spesiesnya, sebelum akhirnya turun ke substrat. Metamorfosis dicirikan oleh lepasnya velum dengan tiba-tiba, untuk kemudian tumbuh menjadi kerang muda. Veliger turun di sembarang substrat dan hanya sedikit yang menemukan substrat yang cocok, atau memerlukan pengujian substrat dengan cermat dan menunda metamorfosis. Misalnya veliger Teredinid hanya mau mendarat pada substrat kayu. Proses reproduksi yang demikian menimbulkan risiko kegagalan atau kematian yang sangat besar, sehingga bivalvia laut seperti oyster menghasilkan 16–60 juta telur dalam satu musim.

Pada bivalvia air tawar pembuahan terjadi dalam rongga suprabranchial, perkembangan larva mengalami modifikasi, kecuali spesies bivalvia Dreissena dan

Nausitoria yang mempunyai veliger berenang bebas. Perkembangan embrio langsung terjadi pada kerang air tawar Sphaeriidae yang mengerami telurnya dalam saluran air diantara lembaran insang, dan keluar dari tubuh induknya sebagai anak kerang. Pada kerang air tawar famili Unionidae dan Mutelidae terjadi perkembangan tidak langsung yang sangat khusus, yaitu telur dalam insang menetas menjadi larva glochidium, lasidium atau hautoria, suatu bentuk larva yang termodifikasi untuk hidup sebagai parasit. Stadium glochidium setara dengan stadium veliger, tetapi tidak mempunyai velum dan kaki. Glochidium berukuran 0.05 mm sampai 0.5 mm, bergantung pada spesiesnya, mempunyai mantel dan alat indera berbentuk empat rumpun sikat, tali perekat dan dua keping cangkang, tidak mempunyai mulut maupun anus, saluran pencernaan kurang berkembang. Glochidia dari Unio dan Anodonta meninggalkan insang melalui rongga suprabranchial dan sifon ekshalant, sedangkan pada Lampsilis

(38)

berisi sel phagocyte memakan jaringan insang untuk pertumbuhannya. Selama periode parasit antara 10 sampai 30 hari terjadi metamofosis menjadi anak kerang. Akhirnya anak kerang keluar dari kista dan jatuh ke dasar perairan serta hidup dalam lumpur sebagaimana individu dewasa.

2.7 Beberapa Aspek Bio-Ekologi

2.7.1 Habitat

Famili Lucinidae mempunyai habitat mulai dari pasir kasar sampai lumpur halus (Allen 1958). Spesies A.edentula merupakan salah satu famili lucinidae menggali lubang pada daerah pantai berlumpur (mudflat) di zona intertidal sampai subtidal (Lim

et al. 2001 diacu dalam Ng dan Sivatoshi 2003). Spesies tersebut mendiami dasar berlumpur (muddy bottoms) sekitar estuari pada daerah hutan mangrove, dan sering menguburkan diri di bawah permukaan substrat (Sotto dan Gosel, 1982), pada kedalaman 20–50 cm di daerah hutan mangrove (Lebata 2000 dan 2001). Hidupnya pada kondisi anoksid dengan sulfida dari sedimen tereduksi (Lebata 2001). Dengan adanya pigmen respirasi haemoglobin membuat famili Lucinidae hidup pada habitat yang rendah konsentrasi oksigennya (Poutiers 1998 diacu dalam Carpenter dan Niem 1998). Simbiotik kemotropik oksidasi sulfur dari bakteria yang berada pada insang yang tipis membuat konstribusi substansial pada nutrisinya. Hasil penelitian dari Latale (2003) menemukan bahwa spesies ini mendiami subtrat bersedimen pasir sangat kasar (very coarse sand) sampai lumpur (silt atau clay), dan umumnya didominasi oleh pasir kasar (coarse sand) dan pasir ukuran sedang (medium sand), dan mempunyai nilai porositas antara 41.71% - 55.58%.

2.7.2 Sebaran

(39)

acak, homogen dan berkelompok. Pola sebaran yang ditemukan oleh Latale (2003) di Perairan pantai desa Passo dari spesies A.edentula adalah mengelompok.

Sebaran geografi dari spesies ini menurut Poutiers (1998) diacu dalamCarpenter dan Niem (1998), menyebar luas di Indo-Pasifik Barat, mulai dari Timur dan Selatan Afrika, termasuk Madagaskar dan Laut Merah, sampai ke Polinesia bagian Timur; dari Utara sampai Selatan Jepang dan Hawaii, juga Philipina (de la Rosa 2004) dan dari Selatan sampai New South Wales. Indonesia, khususnya Maluku (Ambon) termasuk dalam peta penyebaran spesies ini (Gambar 5).

Gambar 5. Peta penyebaran A. edentula (Poutiers, 1998 diacu dalamCarpenter dan Niem 1998).

2.7.3 Pertumbuhan

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran volume, panjang, dan bobot suatu organisme, sedangkan pertumbuhan bagi populasi sebagai pertambahan jumlah individu dari anggota populasi tersebut. Pertumbuhan dapat dilihat dari perubahan ukuran panjang dan bobot dalam satuan waktu atau dapat dikatakan sebagai peningkatan biomassa.

(40)

(1975) dipengaruhi oleh faktor internal (keturunan, seks, umur, parasit dan penyakit), dan faktor eksternal (makanan dan kondisi hidrologi perairan).

Spesies A.edentula dapat tumbuh mencapai ukuran maksimum panjang cangkang 8–9 cm dengan berat total 180–210 gram, dan merupakan spesies yang potensial untuk di budidayakan (Primavera et al. 2002). Menurut Carpenter dan Niem (1998)

A.edentula dapat mencapai panjang maksimum 7.5 cm, umumnya

5 cm. Latale (2003) mendapatkan bahwa panjang cangkang spesies ini dapat mencapai 6.95 cm. Spesies betina matang gonad antara berat 60 gram dengan panjang cangkang 57 mm sampai berat 125 gram dan 73 mm panjang cangkang (Lebata, 2000 dan 2001). Pola pertumbuhan merupakan bentuk laju pertumbuhan antara panjang dan berat suatu organisme. Latale (2003) menemukan bahwa pola pertumbuhan spesies

A.edentula di perairan pantai Passo Teluk Ambon Bagian Dalam adalah bersifat allometrik negatif, dimana laju pertumbuhan panjang cangkang lebih cepat dari laju pertumbuhan beratnya.

2.7.4 Makanan dan Pencernaan

Sebagian besar kerang merupakan ciliary feeder karena sebagai deposit feeder

(41)

percernaan (feses) ke dalam bentuk pelet, dan pada dindingnya tidak terjadi absorbsi makanan. Pelet dibuang keluar melalui sifon ekshalant.

Spesies A. edentula, termasuk hewan infauna yang bersimbiosis dengan sedimen yang kaya organik dan habitat yang kaya akan hidrogen sulfida dan kondisi anoksid, makanan diperoleh dengan cara oksidasi sulfida melalui bakteri endosimbiont pada insang yang berwarna agak gelap Proses tersebut menghasilkan senyawa organik untuk dimanfaatkan oleh spesies tersebut (Lebata 2000 dan 2001; Lebata dan Primavera 2001; Primavera et al. 2002).

Proses endosimbiosis dari bakteri membuat sistem pencernaan tereduksi (Primavera et al. 2004). Sistem pencernaan dari A.edentula tersebut dengan sendirinya tidak mempunyai usus.

2.7.5 Kondisi Hidrologi

Kondisi hidrologi sangat berpengaruh terhadap kehadiran suatu organisme pada suatu wilayah tertentu. Beberapa kondisi hidrologi yang sangat mempengaruhi organisme penghuni daerah pasang surut adalah suhu, salinitas, kekeringan, oksigen, pH dan sebagainya. Parameter hidrologi yang ditemukan oleh Latale (2003) pada substrat dimana ditemukan A.edentula meliputi suhu 27.1–31.1 oC, salinitas 27–29 ppt dan pH 6.3–6.9. Menurut Suwignyo et al. (1981) diacu dalam Razak (2002), lingkungan perairan yang optimum untuk kehidupan Anodonta woodiana adalah perairan dengan pH 6,0–7.6, kandungan oksigen terlarut (DO) 3.8–12.5 mg/l, dan suhu 24–29 oC.

(42)

Selain suhu maka parameter hidrologi lainnya adalah salinitas. Salinitas dapat mempengaruhi kerang melalui pemanfaatan pakan dan pertumbuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama mempengaruhi tekanan osmosis. Pada kebanyakan hewan laut, termasuk juga kerang yang merupakan tipe osmoregulator-euryhaline, pengaruh langsung dari salinitas media adalah lewat efek osmotiknya terhadap osmoregulasi dan kemampuan digesti serta absorbsi pakan. Secara tidak langsung salinitas mempengaruhi kerang melalui perubahan kualitas air seperti pH dan oksigen terlarut. Salinitas optimum bagi hewan moluska berkisar antara 2–36 ppt (Setiobudiandi 1995).

Kadar ion hydrogen (pH) perairan merupakan parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme. Setiap organisme mempunyai pH optimal, pH moluska berkisar antara 6.5–7.5 (Russel-Hunter 1968), sedangkan pH yang baik bagi pertumbuhan tiram berkisar antara 6.5-9 (Irianto, et al. 1986). Pescod (1973) menyatakan bahwa selain fotosintesis, pH perairan juga dipengaruhi oleh suhu dan keberadaan ion-ion dalam perairan tersebut. Peningkatan pH alami akan dapat meningkatkan toksitas ammonia.

Oksigen adalah salah satu gas terlarut yang memegang peranan penting untuk menunjang kehidupan organisme dalam proses respirasi dan metabolisme sel. Clark (1977) menyatakan bahwa DO (Dissolved Oxygen) optimum moluska berkisar antara 4.1–6.6 ppm dengan batas minimal toleransi 4 ppm.

Fosfor merupakan unsur pembatas pertumbuhan yang umum pada fitoplankton, meskipun fosfor ini dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Pada umumnya fosfat di perairan alami tidak lebih dari 0.1 mg/1. Apabila kandungan fosfat cukup tinggi maka akan terjadi eutrofikasi (Goldman dan Horne 1983). Ortofosfat (PO4-P) terlarut merupakan fosfor

dalam bentuk anorganik yang dapat langsung dimanfaatkan dan mudah diserap oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya (Lind 1979).

(43)

yang tidak tercemar dan cukup teroksigenisasi, senyawa amonia relatif sedikit jumlahnya, yaitu kurang dari 1 ppm. Dalam baku mutu air laut, untuk biota laut kadar ammonia yang diperkenankan adalah tidak melebihi 0,1 ppm (MENKLH 1988). Menurut Mahida (1984), keberadaan amonia di perairan merupakan hasil proses pembusukan bahan organik oleh bakteri. Sulfur merupakan salah satu elemen yang esensial bagi mahluk hidup, karena merupakan elemen penting dalam protoplasma. Ion sulfat yang telah diserap oleh organisme mengalami reduksi hingga menjadi bentuk sulfidril (SH) di dalam protein. Ion sulfat yang bersifat larut dan merupakan bentuk oksidasi utama sulfur adalah salah satu anion utama di perairan, menempati urutan kedua setelah bikarbonat. Kadar sulfat yang melebihi 500 mg/liter dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada sistem pencernaan. Sulfida total (H2S, HS-, dan S2-) yang terdapat di dasar perairan yang

(44)

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan terhadap kerang A.edentula, yang terdapat di perairan intertidal sekitar hutan mangrove desa Passo di Teluk Ambon Bagian Dalam, yang secara geografis berada pada kedudukan 3o38’15” Lintang Selatan dan 128o14’45” Bujur Timur (Lampiran 1). Secara visual terlihat bahwa perairan pantai desa Passo memiliki topografi yang landai dan karakteristiknya mirip dengan perairan estuari lainnya, yaitu memiliki banyak sungai dan anak sungai. Perairan pantai Passo dengan sungai Wai Tonahitu ini didominasi oleh mangrove jenis Sonneratia alba dan

Rhizophora apiculata, dengan substrat beragam mulai dari lumpur sampai pasir kasar pada tepi pantai sampai daerah genangan yang berbatasan dengan vegetasi darat (Anonimous, 2003). Lokasi penelitian dibagi atas 3 zona berdasarkan penyebaran mangrove pada lokasi tersebut. Zona I yaitu bagian depan mangrove yang berbatasan dengan daerah pasang surut, zona II bagian tengah hutan mangrove, dan zona III bagian belakang hutan mangrove yang berbatasan dengan perumahan penduduk. Ilustrasi pembagian lokasi penelitian pada Gambar 6.

(45)

Pengambilan contoh kerangdalam penelitian ini dilakukan selama setahun sejak Januari tahun 2005 sampai Januari 2006 di perairan pantai desa Passo Teluk Ambon Bagian Dalam dengan alasan bahwa terdapat dua musim, yaitu musim Barat dan Timur. Dengan demikian kedua musim tersebut akan terwakili.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian

Peralatan dan bahan yang digunakan untuk mengukur parameter ekologis perairan, parameter biologi dan reproduksi disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian A.edentula.

No Parameter Alat Bahan

1. Mangrove - Meteran - Tali

- Hand tally counter - Gunting

- Kantong plastik - Label

- Lembaran Data

Jenis Mangrove

2. Sebaran dan kepadatan populasi

- Kompas - Petak kuadran

- Meteran plastik dan tali - Ayakan dan sekop

- Timbangan OHaus - Mikrotom

- Mikroskop compound - Mikroskop binokuler - Gelas piala

- Botol sample - Kaca objek - Label

- Sel Sedgwick rafter - Cawan petri

- Pipet - Aquades

- Mikroskop binokuler

- Contoh gonad - Formaldehida 10% - Larutan alkohol

bertingkat - Parafin

- Canada Balsem - Pewarnaan dengan

hematoksilin-eosin Mayer’s Gonad kerang

6. Rasio kelamin - Pisau

- Nampan plastik - Mikroskop binokuler

(46)

Lanjutan Tabel 1.

No Parameter Alat Bahan

7. Kualitas Lingkungan - Suhu 10. Wadah translokasi - Kotak kawat ram Contoh kerang

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Mangrove

Karena kerang yang diteliti hidup pada perairan pantai mangrove dan hidupnya di sepanjang aliran air yang ditumbuhi berbagai jenis pohon mangrove, maka perlu diketahui jenis mangrove dan sedimen pada daerah tersebut.

Pengambilan data kerapatan jenis mangrove dilakukan dengan metode transek garis (line transect) berdasarkan zona, dari arah laut ke darat, sesuai dengan pembagian zona penelitian. Di sepanjang garis transek diletakkan petak-petak contoh (plot) berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10 x 10 m2 untuk kategori pohon (diameter >10 cm sebanyak paling kurang 3 petak contoh (plot)), sapihan (diameter 2-10 cm), dan anakan (diameter <2 cm). Kemudian mendeterminasi spesies, jumlah individu setiap spesies dan mengukur lingkaran batang pada jarak 1.3 m dari tanah (English et al.

(47)

3.3.2 Sedimen

Pengambilan contoh sedimen dilakukan di salah satu muara sungai Wai Tonahitu pada perairan pantai desa Passo Teluk Ambon Bagian Dalam. Titik-titik pengambilan sedimen sesuai dengan pembagian zona yaitu dekat dengan mangrove, jauh dari mangrove ke arah laut dan zona antara. Pengambilan contoh sedimen ini dilakukan sebanyak dua kali selama penelitian berlangsung. Untuk mengetahui dominasi ukuran butiran dan jenis sedimen pada substrat, maka dilakukan pengambilan contoh dengan “sediment core” sampai kedalaman 50 cm pada setiap kuadran pengamatan bersamaan dengan pengambilan contoh A.edentula. Sedimen dikering anginkan untuk analisis partikel butiran yang dilakukan di laboratorium kimia, Balai Penelitian Tanah, Departemen Pertanian, Bogor. Hasil yang diperoleh diklasifikasikan dalam klasifikasi skala wenworth sediment (Dyer, 1986) berdasarkan ukuran butiran, yaitu lempung/liat (clay), lanau/lumpur (silt), pasir (sand), butiran (granule), kerikil/koral (pebble), batu bulat (cobble) dan batu besar (boulder). Skala wenworth sedimen sebagai panduan pengklasifikasian tertera pada Lampiran 2. Hasil pengklasifikasian butiran diplotkan ke dalam segitiga Shephard (1954) diacu dalam Dyer (1986).

3.3.3 Parameter Lingkungan Perairan

Parameter lingkungan perairan yang diukur meliputi: curah hujan, suhu, salinitas, pH, DO, sulfat, fosfat dan nitrat. Pengambilan contoh kualitas air dalam sedimen dilakukan bersamaan dengan pengambilan contoh ukuran partikel serta organisme kerang pada saat surut. Pengambilan contoh ini dilakukan setiap sebulan sekali selama setahun pada saat pasang surut di ketiga stasiun. Data curah hujan diperoleh dari BMG Stasiun Ambon.

3.3.4 Kerang

(48)

menyekop substrat yang terdapat di dalam setiap kuadran pengamatan (ukuran 1 x 1 m2) sampai pada kedalaman 20 cm lalu dilanjutkan dengan tangan hingga kedalaman 50 cm untuk mencegah kerusakan pada kulit kerang yang rapuh. Pengambilan contoh ini dilakukan sebulan sekali selama 13 bulan (mewakili 2 musim, yaitu Timur dan Barat). Spesimen A.edentula yang diperoleh dimasukkan dalam wadah berupa ember plastik, sebagian dimasukkan ke kantong plastik dan diawetkan dengan formalin 10%, dan diberi label. Semua individu A.edentula yang didapat dihitung jumlahnya dan diukur panjang, lebar dan tebal, serta ditimbang beratnya. Jumlah individu yang didapat untuk melihat sebaran horisontal, kepadatan, kelimpahan, dan pergeseran modus. Untuk itu dilakukan pengukuran morfometriknya dimana panjang cangkang diukur dari ujung anterior sampai ujung posterior memakai caliper dengan ketelitian 1.00 mm (Gambar 7) serta ditimbang beratnya menggunakan timbangan digital Ohaus Precision Plus dengan ketelitian 0.001 gr. Setiap pengukuran tanpa pemulihan (sampling without replacement) dilakukan terhadap parameter populasi.

Sebagian contoh kerang yang hampir seragam ukurannya diambil untuk ditranslokasikan (transplantasi ke daerah sekitarnya) untuk melihat parameter populasi (pertambahan panjang, berat dan produksi kerang).

(49)

`

Gambar 7. Pengukuran morfometri kerang Panjang

Lebar

Tebal

(50)

3.3.5 Kemampuan Adaptasi Kerang.

Untuk mennganalisis kemampuan adaptasi kerang terhadap habitat yang baru maka dilakukan percobaan translokasi dengan tujuan untuk melihat apakah kerang-kerang yang dipelihara di habitat yang berbeda dapat bertumbuh dan berkembang seperti layaknya habitat aslinya atau tidak. Translokasi dilakukan pada beberapa lokasi (sarang) yang berbeda (tiga sarang) dan yang sama dengan habitat asli (dua sarang). Setelah individu yang terambil pada pengambilan contoh, maka dilakukan translokasi, dimana pemeliharaan dilakukan pada lima sarang yaitu dekat sungai (DS), depan mangrove (DM), jauh dari sungai (JS), lokasi asal 1 (LK1), lokasi asal 2 (LK2) seperti terlihat pada Gambar 6, setiap sarang terdiri dari 30 individu yang relatif sama ukurannya. Ke 30 individu kerang ini dimasukkan kedalam wadah (sarang) berbentuk empat persegi panjang yang terbuat dari kawat ram yang berukuran 20 x 30 x 20 cm (Lampiran 3), untuk menghindari kerang hilang dari tempat pemeliharaan. Semua kerang diukur panjang, lebar dan tinggi serta ditimbang beratnya lalu dimasukkan ke wadah pemeliharaan kemudian wadah-wadah ini ditempatkan pada kedalaman 50 cm. Selanjutnya diamati pertumbuhan, mortalitas dan kualitas sedimen serta parameter hidrologinya, setiap 2 minggu selama 4 bulan.

Analisis data yang dilakukan ini meliputi kecepatan tumbuh dalam berat dan panjang, mortalitas dan produksi kerang pada 5 sarang pengamatan.

3.3.6 Reproduksi Kerang

Kerang- kerang yang ditemukan lalu dimasukkan ke dalam wadah berupa ember plastik dan dimasukan air laut agar kerang tetap terendam, kemudian dibawa ke laboratorium fakultas perikanan untuk dilakukan penimbangan dan pembedahan serta pengamatan.

(51)

• Pengukuran panjang cangkang dan bobot basah tubuh (cangkang dan daging): Panjang cangkang adalah jarak yang diukur dari ujung anterior ke ujung posterior cangkang. Lebar cangkang adalah jarak yang diukur pada bagian dorsal ke bagian ventral cangkang. Tebal cangkang adalah jarak yang diukur dari tepi cangkang bagian atas ke tepi cangkang bagian bawah (Gambar 7). • Penimbangan terhadap bobot tubuh dilakukan dengan menggunakan timbangan

digital OHAUS Precision Plus dengan ketelitian 0.001 gr (penimbangan basah maupun kering), selanjutnya bobot daging tanpa cangkang (bobot viscera) juga ditimbang. Terakhir dilakukan penimbangan terhadap bobot gonad.

• Pengamatan alat kelamin; karena kerang yang diamati ini tidak dapat dibedakan kelaminnya secara visual dari bentuk dan warna cangkang maupun bentuk dan warna gonad maka harus dilakukan pembedahan terhadap gonad kerang tersebut. Untuk keperluan ini maka kerang diambil secara acak sebanyak 30-40 contoh dari sebaran ukuran yang ada untuk diamati dibawah mikroskop dan ditentukan rasio kelaminnya.

• Penimbangan terhadap bobot gonad dan visceral massnya bertujuan untuk menghitung indeks kematangan gonad atau gonado somatik indeks. Contoh sebanyak 30-40 individu kerang dibedah untuk diambil gonadnya. Bobot gonad digunakan untuk menghitung indeks kematangan gonad yang merupakan parameter untuk menentukan tingkat kematangan gonad.

(52)

bouin (Rao 1973). Setelah itu gonad siap untuk dibuat preparat histologi. Prosedur pembuatan preparat histology dapat dilihat pada Lampiran 4. Penentuan tingkat kematangan gonad dilakukan dengan mengamati preparat histologis yang berpatokan pada kriteria yang dikemukan oleh Rose et al. ( 1990).

• Untuk analisis fekunditas maka setiap bulan diambil 15 contoh kerang. Individu-individu ini dibedah dan diamati dibawah mikroskop. Gonad kerang betina yang matang ditimbang dan diawetkan untuk dihitung jumlah telurnya. Selanjutnya fraksi ovarium tersebut direndam dalam larutan Gilson. Larutan Gilson terdiri dari 100 ml alcohol 60% + 880 ml air + 15 ml asam nitrit + 18 ml asam asetat glacial + 20 g mercuri chloride (Effendie 1992). Perendaman diusahakan sedemikian rupa agar seluruh gonad terkena larutan tersebut. Untuk perhitungan jumlah telur dengan menggunakan metoda gabungan gravimetrik, volumetrik, dan metode hitung (Effendie 1992).

3.4 Analisis Data Kerang dan Lingkungan 3.4.1 Mangrove

• Kerapatan Jenis:

A ni Di =

dimana, Di = kerapatan jenis ke i, ni = jumlah total tegakan jenis ke-i

A = luas total area pengambilan contoh (luas total petak contoh/plot). • Kerapatan Relatif adalah perbandingan antara jumlah tegakan jenis ke i (ni) dan

jumlah total tegakan seluruh jenis (Σ n):

100

x ni ni RDi

=

• Frekuensi jenis (Fi) adalah peluang ditemukannya jenis i dalam petak contoh/plot

yang diamati:

=

Figur

Gambar 4. Skema sistem reproduksi hermaphrodite pada bivalvia; A= Gonoduct (saluran gamet) yang kurang tampak  terletak pada bagian dorsal dari ginjal/usus ( gonoduct mungkin saja tidak ada), seperti pada Pecten; B= sex jantan dan betina memiliki saluran g
Gambar 4 Skema sistem reproduksi hermaphrodite pada bivalvia A Gonoduct saluran gamet yang kurang tampak terletak pada bagian dorsal dari ginjal usus gonoduct mungkin saja tidak ada seperti pada Pecten B sex jantan dan betina memiliki saluran g. View in document p.32
Gambar 6. Lokasi pengambilan contoh kerang, mangrove, dan translokasi (DS =                      dekat sungai,  DM= depan mangrove, JS = jauh dari mangrove, LK1=                     lokasi asal 1,    LK2= lokasi asal 2)
Gambar 6 Lokasi pengambilan contoh kerang mangrove dan translokasi DS dekat sungai DM depan mangrove JS jauh dari mangrove LK1 lokasi asal 1 LK2 lokasi asal 2 . View in document p.44
Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian A.edentula.
Tabel 1 Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian A edentula . View in document p.45
Gambar 7. Pengukuran morfometri kerang
Gambar 7 Pengukuran morfometri kerang . View in document p.49
Tabel 2. Jenis-jenis mangrove yang ditemukan pada perairan Passo
Tabel 2 Jenis jenis mangrove yang ditemukan pada perairan Passo . View in document p.66
Gambar 10. Curah hujan dan jumlah hari hujan dari bulan Januari 2005 hingga Januari  2006
Gambar 10 Curah hujan dan jumlah hari hujan dari bulan Januari 2005 hingga Januari 2006. View in document p.71
Gambar 11. Sebaran nilai kualitas perairan pada zona I dari bulan Januari 2005 hingga  Januari 2006
Gambar 11 Sebaran nilai kualitas perairan pada zona I dari bulan Januari 2005 hingga Januari 2006. View in document p.75
Gambar 12. Sebaran nilai kualitas perairan pada zona II dari bulan Januari 2005 hingga bulan Januari 2006
Gambar 12 Sebaran nilai kualitas perairan pada zona II dari bulan Januari 2005 hingga bulan Januari 2006. View in document p.76
Gambar 13. Sebaran nilai kualitas perairan pada zona III dari bulan Januari 2005 hingga  bulan Januari 2006
Gambar 13 Sebaran nilai kualitas perairan pada zona III dari bulan Januari 2005 hingga bulan Januari 2006. View in document p.77
Gambar 14. Grafik PCA karakteristik lingkungan perairan pada zona I
Gambar 14 Grafik PCA karakteristik lingkungan perairan pada zona I . View in document p.80
Gambar 15. Grafik PCA karakteristik lingkungan perairan pada zona II
Gambar 15 Grafik PCA karakteristik lingkungan perairan pada zona II . View in document p.81
Gambar 17. Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona I a)
Gambar 17 Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona I a . View in document p.86
Gambar 18. Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona II
Gambar 18 Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona II . View in document p.87
Gambar 19. Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona III
Gambar 19 Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan kepadatan sebagai variabel suplemen pada zona III . View in document p.88
Tabel 8. Pola penyebaran  populasi kerang A. Edentula.
Tabel 8 Pola penyebaran populasi kerang A Edentula . View in document p.90
Gambar 20. Berbagai struktur ukuran dalam lubang habitat kerang A.edentula
Gambar 20 Berbagai struktur ukuran dalam lubang habitat kerang A edentula. View in document p.91
Gambar 21. Sebaran panjang cangkang dan berat total kerang A.edentula  a). Kisaran panjang cangkang (mm) b)
Gambar 21 Sebaran panjang cangkang dan berat total kerang A edentula a Kisaran panjang cangkang mm b . View in document p.94
Gambar 22. Hubungan morfometrik cangkang kerang A.edentula
Gambar 22 Hubungan morfometrik cangkang kerang A edentula . View in document p.96
Gambar 27. Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan faktor kondisi sebagai variabel suplemen  a)
Gambar 27 Grafik PCA karakteristik kualitas air dan habitat dengan faktor kondisi sebagai variabel suplemen a . View in document p.101
Gambar 28.
Gambar 28 . View in document p.102
Tabel 11. Ukuran kohort  kerang A.edentula selama penelitian
Tabel 11 Ukuran kohort kerang A edentula selama penelitian . View in document p.107
Gambar 31. Kurva pertumbuhan  kerang A.edentula yang  diestimasi dari  pergeseran  modus  tiap kohort
Gambar 31 Kurva pertumbuhan kerang A edentula yang diestimasi dari pergeseran modus tiap kohort . View in document p.107
Gambar 32. Kurva pertumbuhan kerang A.edentula hasil analisis menggunakan program
Gambar 32 Kurva pertumbuhan kerang A edentula hasil analisis menggunakan program . View in document p.110
Gambar 33. Dugaan kurva pertumbuhan kerang Adonontia edentula.        (a). Kurva pertumbuhan jantan
Gambar 33 Dugaan kurva pertumbuhan kerang Adonontia edentula a Kurva pertumbuhan jantan . View in document p.112
Gambar 34. Kurva konversi hasil tangkapan panjang (LCCC) kerang A.edentula (a)  jantan, (b) betina dan (c) total
Gambar 34 Kurva konversi hasil tangkapan panjang LCCC kerang A edentula a jantan b betina dan c total. View in document p.114
Gambar 36 Rataan jumlah anakan dan ukuran tubuh inang a)b) Rataan jumlah anakan dengan rataan panjang  Rataan jumlah anakan dengan rataan berat
Gambar 36 Rataan jumlah anakan dan ukuran tubuh inang a b Rataan jumlah anakan dengan rataan panjang Rataan jumlah anakan dengan rataan berat . View in document p.116
Gambar 37 Persentase rekrutmen kerang A.edentula (a) jantan, (b) betina dan (c) total
Gambar 37 Persentase rekrutmen kerang A edentula a jantan b betina dan c total. View in document p.117
Tabel 13. Nisbah kelamin kerang  A.edentula
Tabel 13 Nisbah kelamin kerang A edentula . View in document p.118
Tabel 16.   Tingkat Kematangan Gonad  Kerang Betina A. edentula
Tabel 16 Tingkat Kematangan Gonad Kerang Betina A edentula . View in document p.123
Tabel  17.  Tingkat Kematangan Gonad Kerang Jantan A. edentula
Tabel 17 Tingkat Kematangan Gonad Kerang Jantan A edentula . View in document p.124

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (179 Halaman)