PENGATURAN PERLINDUNGAN BENDA-BENDA BERHARGA ASAL MUATAN KAPAL TENGGELAM YANG BERADA DI PERAIRAN INDONESIA MENURUT HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL

60  10  Download (2)

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENGATURAN PERLINDUNGAN BENDA-BENDA BERHARGA MUATAN KAPAL TENGGELAM YANG BERADA DI PERAIRAN INDONESIA MENURUT HUKUM

INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL

OLEH :

DANIEL GERRY HART SIAGIAN

United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) adalah sebuah badan yang dibentuk oleh PBB untuk menangani masalah-masalah tentang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan kebudayaan. Salah satu masalah dalam bidang kebudayaan adalah semakin maraknya pencurian harta kebudayaan di bawah laut, diantaranya berada di perairan Indonesia dimana lebih dikenal dengan nama Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT). Tindakan pencurian terus menerus tersebut telah mendorong UNESCO untuk membuat suatu peraturan yakni Convention On The Protection Of The Underwater Cultural Heritage sebagai dasar hukum untuk mengatasi masalah-masalah pencurian Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam. Permasalahan yang dirumuskan dalam skripsi ini adalah bagaimanakah pengaturan terhadap Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam yang berada di perairan Indonesia menurut hukum internasional dan hukum nasional. Pasca deklarasi Convention On The Protection Of The Underwater Cultural Heritage, dilakukanlah penyesuaian-penyesuain yang dalam ketentuan sebelumnya belum diatur, yaitu dikeluarkannya Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sebagai pengganti dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam.

(2)

Alasan Indonesia belum meratifikasiConvention On The Protection Of The Underwater Cultural Heritage adalah karena masih bertentangan dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Peraturan internasional tersebut mewajibkan negara melindungi warisan budaya bawah air, sedangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam mengatakan jika jenis benda yang ditemukan dalam kapal muatan tenggelam tersebut dalam jumlah banyak, maka dapat dilakukan pelelangan guna menambah pendapatan Indonesia. Dari hasil perbandingan peraturan internasional dengan peraturan nasional tersebut penulis menyimpulkan Indonesia tidak perlu meratifikasi Convention On The Protection Of The Underwater Cultural Heritagekarena dapat merugikan Pemerintah Indonesia.

(3)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia yang merupakan negara kepulauan tentu memiliki wilayah perairan yang sangat luas. Dilihat dari sejarah Indonesia ketika berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu, kemudian lahirnya kerajaan-kerajaan Islam, sampai datangnya negara-negara Eropa untuk menjajah Indonesia sudah banyak kapal-kapal yang melintas untuk membawa hasil rempah-rempah atau hasil kekayaan lainnya untuk dibawa ke wilayah Eropa. Pada periode 1511-1526 untuk selama 15 tahun Indonesia menjadi pelabuhan maritim penting bagi Kerajaan Portugis, yang secara reguler menjadi rute maritim untuk menuju Pulau Sumatera, Jawa, Banda, dan Maluku1.

Kapal-kapal yang melintas di wilayah Indonesia ternyata banyak yang tenggelam akibat kecelakaan ataupun karena bencana alam. Dilihat dari usia kapal yang tenggelam,ternyata sudah banyak barang-barang peninggalan dari zaman kerajaan maupun zaman penjajahan yang tenggelam di dasar laut Indonesia. Benda-benda berharga asal muatan kapal tenggelam yang berada di dasar laut tersebut merupakan salah satu jenis dari benda cagar budaya selain bangunan dan candi-candi serta merupakan warisan budaya bawah air. Benda cagar budaya sendiri adalah benda yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.2

1

Djoko Pramono “ Budaya Bahari “, 2005, hlm 47 2

(4)

Berdasarkan data UNESCO warisan budaya bawah air sedang dalam bahaya penjarahan besar, lebih dari tiga juta bangkai kapal belum ditemukan yang masih tersebar di dasar laut. Warisan budaya bawah air yang tersebar di dasar laut tersebut seperti sisa-sisa peradaban kuno, diantaranya reruntuhan mercusuar Alexandria di Mesir, dan Jamaika Port Royal3. Hukum nasional negara-negara pada umumnya banyak yang tidak cukup kuat untuk melindungi warisan budaya air tersebut. Berdasarkan alasan tersebut negara-negara internasional perlu melindungi warisan budaya bawah air termasuk benda-benda arkeologi.4United Nations Convention on Law of The Sea1982 (UNCLOS) merupakan sebuah peraturan internasional yang mengatur masalah-masalah laut, tetapi tidak secara khusus mengatur dan mengartikulasikan perlindungan warisan budaya air.

Kebudayaan benda berharga muatan kapal tenggelam itu dan kekayaan alam lainnya, khususnya yang dimiliki oleh Indonesia merupakan integral kekayaan yang tidak bisa diabaikan oleh pemerintah ataupun masyarakat. Pemerintah atau masyarakat mempunyai kewajiban untuk tetap menjaga dan melestarikannya. Indonesia adalah negara hukum, artinya negara yang menjunjung tinggi hukum atau yang menjadikan hukum sebagai ujung tombak untuk mengatur kehidupan negaranya5.

Indonesia sebagai negara hukum, maka segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum harus diatur dengan hukum, sehingga masyarakat ataupun pemerintah tidak sewenang-wenang melakukan tindakan yang merugikan banyak pihak, dengan kata lain juga harus ada pemenuhan

3

LahirnyaConvention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage.diakses dari http://www.unesco.org/new/en/culture/themes/underwater-cultural-heritage/ tanggal 10 Mei 2011 4

Pasal 192United Nations Conventions Law of The Sea 1982 5

(5)

kewajibannya. Kebudayaan merupakan salah satu kekayaan yang harus diatur oleh hukum, dikarenakan kebudayaan memiliki nilai sejarah, dan juga menyangkut kepentingan umum.

United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) adalah sebuah lembaga yang dibentuk langsung oleh PBB sebagai wadah untuk menerima segala aspirasi masyarakat internasional atas permasalahan-permasalahan yang timbul seputar pendidikan, sosial dan kebudayaan. Secara khusus untuk masalah kebudayaan yang sering terjadi di Indonesia UNESCO juga membahas masalah pencurian benda-benda berharga muatan kapal tenggelam (BMKT).

Dunia internasional sendiri memiliki suatu konvensi yang khusus membahas perlindungan benda berharga di bawah laut, yaituConvention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage. Konvensi ini dibuat karena penjarahan warisan budaya bawah air meningkat dengan cepat dan sebagian besarnya tidak terlindungi. Meningkatnya peralatan teknologi untuk menyelam mengakibatkan semakin banyak kolektor pasar seni yang secara bersama-sama dengan pemburu harta karun berusaha untuk mengambil lebih banyak lagi benda-benda yang berasal dari dasar laut.

(6)

air akan dilindungi dari kegiatan komersial, serta dieksploitasi untuk perdagangan atau spekulasi6.

Usaha untuk menjaga kelestarian BMKT tentu memerlukan langkah-langkah pengaturan bagi untuk penguasaan, kepemilikan, penemuan, pencarian, perlindungan, pemeliharaan, pengelolaan, pemanfaatan, dan pengawasan benda-benda berharga muatan kapal tenggelam. Usaha untuk menjaga kelestarian benda-benda berharga muatan kapal tenggelam (BMKT) sampai sekarang masih dirasakan kurang efektif tanpa diikuti dengan upaya kongkrit yang dilakukan oleh pemerintah, seperti misalnya melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran hukum pihak swasta ataupun masyarakat pada umumnya untuk melestarikan keberadaan benda-benda berharga muatan kapal tenggelam.

Uraian singkat di atas ditambah dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.06/2009 tentang Tata Cara Penetapan Status Penggunaan dan Penjualan Benda Berharga Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT), makin menegaskan bahwa benda berharga muatan kapal tenggelam harus dilindungi.

Sebagaimana telah diketahui bahwa BMKT adalah salah satu bentuk benda cagar budaya yang memiliki nilai sejarah, budaya, ilmu pegetahuan, dan ekonomi, yang tenggelam baik di wilayah perairan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen Indonesia yang berumur paling sedikit 50 tahun.7

Prinsipnya benda cagar budaya yang didalamnya termasuk BMKT merupakan barang yang dikuasai negara, karena BMKT adalah salah satu aset negara. Oleh karena itu benda cagar

6

Pasal 2Convention on The Protection of The Underwater cultural Heritage 7

(7)

budaya yang karena nilai, sifat, jumlah, dan jenisnya serta demi kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan perlu dilestarikan, dan dinyatakan milik negara.8

Kompleksitas dalam rangka pengelolaan BMKT yang berawal dari izin survei, izin pengangkatan, pemilihan koleksi negara, penjualan selain koleksi negara, sampai dengan sertifikasi dan pemindahtanganan BMKT ke pembeli dalam negeri atau ke luar wilayah Indonesia merupakan prosedur yang rumit. Pemerintah memiliki suatu panitia interdepartmental untuk mengatasi masalah kompleksitas BMKT yaitu, Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan BMKT (PANNAS BMKT). PANNAS BMKT dikuasai oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Dasar pembentukannya adalah Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2007 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam9.

Maksud dan tujuan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.06/2009 tentang Tata Cara Penetapan Status Penggunaan dan Penjualan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam tersebut adalah untuk mewujudkan kepastian hukum dalam penetapan status penggunaan dan penjualan BMKT secara tertib, terarah, dan akuntabel untuk meningkatkan penerimaan Negara dan/atau sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat10.

Setiap instansi mempunyai tugas dan fungsi masing-masing untuk mengatasi masalah BMKT sesuai dengan Kementerian terkait. Kewenangan yang berbeda tersebut juga diakomodasi dalam PMK 184 tahun 2009 tentang Tata Cara Penetapan Status Penggunaan dan Penjualan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam, untuk mendukung upaya checks and balances. Menteri

8

Pasal 1Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya 9

Pasal 3 Ayat 1 Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2007 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam

10

(8)

Keuangan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata,dan Menteri Kelautan dan Perikanan melakukan penanganan hasil pengangkatan BMKT sesuai porsinya, dan setiap instansi membuat peraturan berdasarkan ketentuan peraturan perundangan-undanga.11 Pelaksanaan hasil pengangkatan BMKT dapat berkoordinasi dengan Kementerian Negara/Lembaga lainnya, seperti dengan PANNAS BMKT, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan/atau pihak terkait lainnya yang diperlukan.12

BMKT atau yang sering disebut dengan harta karun adalah aset laut Indonesia yang tersebar di perairan antara sabang sampai merauke yang hingga kini belum dikelola dengan baik. Kenyataannya banyak dari aset negara itu dieksplorasi dan hanya dinikmati oleh pihak asing baik melalui pencurian kekayaan laut maupun dengan cara eksploitasi yang legal tetapi tidak adil dalam disribusi pendapatan antara operator dan pemasukan ke dalam kas negara.

Banyak laporan sejarah menyebutkan bahwa Selat Malaka memiliki peranan yang sangat penting pada masa penjajahan, terutama letaknya yang strategis sebagai pintu gerbang pelayaran kuno. Selat Malaka merupakan jalur yang menghubungkan antara Indonesia dengan Afrika, dan Asia Barat, serta Asia Selatan dengan Asia Tenggara, dan Asia Timur. Selain Selat Malaka, Laut Jawa juga merupakan wilayah penting untuk pelayaran kapal-kapal asing.

Data Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan menyebutkan ada 493 situs arkeologi bawah laut Indonesia13, namun bila melihat luas wilayah perairan Indonesia, para peneliti menganggap jumlah itu masih terlalu kecil. Potensi benda-benda berharga yang ada

11

Pasal 4 ayat 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.06/2009 tentang Tata Cara Penetapan Status Penggunaan dan Penjualan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam

12

Pasal 4 ayat 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.06/2009 tentang Tata Cara Penetapan Status Penggunaan dan Penjualan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam

13

(9)

tersebut hanya kurang dari 10% dari yang sudah dieksplorasi dan belum dimanfaatkan secara optimal, baik untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, budaya maupun ekonomi.14 Diperkirakan dari 493 situs itu bila berhasil diangkat, maka akan menyumbangkan pendapatan negara hingga mencapai 5 juta US Dollar15.

Berikut ini adalah contoh orang yang telah mengambil keuntungan dari hasil penjualan BMKT. Berger Michael Hatcher adalah seorang warga Australia yang merupakan salah satu pelaku perburuan harta karun dan pelaku utama yang telah banyak meraup keuntungan dari penjualan BMKT dari lautan di wilayah perairan Indonesia sejak tahun 1980.16

Contoh kasus yang dilakukan Michael Hatcher yaitu, pada tahun 1985-1986 Michael berhasil mengangkat isi kapal tenggelam Geldermasen milik VOC di Karang Heliputan di Tanjung Pinang Indonesia kemudian melelangnya di balai lelang Chiristi’e, Belanda dengan nilai 17 Juta USD, sementara Indonesia tidak memperoleh bagian dari pelelangan tersebut. Di dunia internasional Hatcher dijuluki “ The Wreck Salvage King (Raja Penyelemat Kapal Karam). Michael mendapatkan 126 emas batangan dan 160 ribu benda keramik Dinasti Ming dan Ching.17

Konsorium Penyelamat Aset Bangsa (KPAB) telah meminta pemerintah agar segera menindak dan menghentikan sepak terjang Michael Hatcher, dan mengambil langkah pengamanan serta

14Potensi benda berharga kapal tenggelam di RI capai US$1,1 miliar 'Pertegas aturan angkut BMKT'

diakses dari

Konsorium Penyelamat Aset Bangsadiakses dari www.timesonline tanggal 7 Mei 2011 17

(10)

perlindungan BMKT yang kemungkinan masih banyak tersebar di lautan dalam wilayah Indonesia.18

Kasus pencurian BMKT yang merugikan negara hingga triliunan rupiah di perairan laut nusantara di atas merupakan sebagian kecil dari sekian banyak kasus dalam pengelolahan warisan budaya yang ada di laut. Bertambahnya nilai pasar seni dan kolektor yang bekerja sama dengan pemburu-pemburu harta BMKT tentunya memiliki konsekuensi tersendiri terhadap upaya untuk melestarikan warisan budaya bangsa. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul skripsi Pengaturan Perlindungan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang Berada di Perairan Indonesia Menurut Hukum Internasional dan Hukum Nasional.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang permasalahan pada halaman sebelumnya, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah Pengaturan Perlindungan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang berada di perairan Indonesia menurut Hukum Internasional ?

2. Bagaimana pengaturannya dan upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam melindungi BMKT ?

1.3 Tujuan dan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

18

Polri Diminta Tangkap Pemburu Harta Karun Michael Hatcherdiakses dari

(11)

Berdasarkan permasalahan pada halaman sebelumnya, adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis secara rinci, jelas, dan sistematis tentang :

1. Pengaturan perlindungan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam dalam Hukum Internasional.

2. Implementasinya dalam peraturan perundangan-undangan Indonesia.

3. Upaya – upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia dalam pengaturan perlindungan BMKT.

1.3.2 Kegunaan Penulisan

Hasil penelitian ini mempunyai dua kegunaan yaitu kegunaan teoritis dan kegunaan praktis :

1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan hukum internasional khususnya terkait dengan ilmu hukum laut dan perlindungan BMKT dalam wilayah internasional dan nasional Indonesia.

2. Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan informasi atau masukan bagi pengambil kebijaksaan untuk penyempurnaan dan pembaharuan hukum laut internasional, mengenai perlindungan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).

1.4 Sistematika Penulisan

(12)

Bab I Pendahuluan menguraikan latar belakang, permasalahan, tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan. Bab ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai penelitian dan isi skripsi ini

Bab II Tinjauan Pustaka menguraikan secara teoritis mengenai penjelasan-penjelasan perlindungan benda berharga muatan kapal tenggelam, perlindungan warisan budaya air, dan pengertian benda cagar budaya menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Bab ini juga menjelaskan dasar hukum perlindungan BMKT menurut United Nations Convention on Law of The Sea 1982, Convention on the Protection Underwater Cultural Heritahet, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya, dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam.

Bab III Metode Penelitian menguraikan pendekatan masalah, sumber data, metode pengumpulan dan pengolahan data serta analisis data. Bab ini bertujuan untuk menerangkan cara-cara penelitian yang dilakukan agar tulisan memenuhi syarat ilmiah sehingga hasil yang diperoleh akurat.

(13)

Tenggelam. Uraian didalam ini diharapkan dapat menjawab keseluruhan permasalahan yang ada sehingga memudahkan untuk menarik kesimpulan.

(14)

I. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam

1.1.1 Sejarah Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam

Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia. Berikut adalah pendapat dan pengertian sejarah menurut para tokoh dunia :

Benedetto Croce menyatakan ;

Sejarah adalah catatan dari kreasi-kreasi jiwa manusia pada semua bidang, teori maupun praktik. Dengan kata lain, sejarah adalah hasil pertimbangan logis individual tentang peristiwa masa lampau di bawah cahaya pemikiran dan kepentingan kontemporer.

Selanjutnya menurut Cicero menyatakan sebagai berikut ; Sejarah adalah cahaya kebenaran, saksi waktu, guru kehidupan.

Menurut pendapat Winston Churchil menyatakan bahwa ;

Sejarah adalah hasil dari letak geografi, dan letak geografi tidak berubah, sisi politik yang menjadikan hasil dari pemetaan sejarah.

Pembahasan berikutnya mulai berbicara tentang sejarah benda berharga muatan kapal tenggelam yang berada di Indonesia dapat dikatakan bermula dari ditemukannya kapal Geldermalsen milik VOC ( Vereenidge Oostindische Compagnie ) pada tahun 1986 di perairan Kepulauan Riau. Kapal yang berisi muatan barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China1. Dunia digemparkan dengan penemuan tersebut yang berisikan 100 batang emas, dan 20.000 keramik milik Dinasti Ming dan Ching. Penemuan itu menimbulkan kontroversi atas

1

(15)

kepemilikan barang hasil penemuan tersebut antara si penemu, yaitu Michael Hatcher dengan Pemerintah Indonesia yang merasa kecolongan. Berikutnya pada tahun 1999 Michael Hatcher kembali menemukan bangkai kapal The Tek Sing Wreck dengan muatannya yaitu porselen-porselen yang sangat bernilai tinggi2.

Cerita tentang benda-benda berharga muatan kapal tenggelam di dunia internasional juga cukup banyak. Berikut beberapa hasil penelitian internasional mengenai reruntuhan kapal dan muatannya yang sudah dipublikasikan dan sudah sangat dikenal, di antaranya3:

a) Reruntuhan Kapal Titanic yang tenggelam pada tahun 1912 di Newfoundland , Kanada pada tahun 1985. Kapal tersebut memuat sekitar 1800 artefak dari berbagai jenis.

b) Reruntuhan Kapal Tek Sing di Laut Cina Selatan yang ditemukan pada tahun 1999 yang memuat lebih dari 300.000 keramik.

c) Kapal Elizabeth and Mary di Baie Trinite, Kanada yang ditemukan pada tahun 1994. Kapal tersebut memuat satu koleksi benda arkeologis paling baik peninggalan abad ke -17. d) KapalPandora, diQueensland,Australia, diteliti pada tahun 1983 yang memuat furniture

akhir dari abad ke-19 dari Eropa.

e) KapalNuesta Senora De Atocha diMarquesas key, Florida, Amerika Serikat. Kapal yang tenggelam pada tahun 1622 dan ditemukan pada tahun 1970 tersebuat memuat emas, perak, keramik, koin, senjata, dan material-material kecil.

f) KapalBronze Age diBodrum, Turki, yang ditemukan tahun 1982. Kapal tersebut memuat 20 ton artefak yang terdiri dari keramik, perhiasan emas, dan perak, peralatan yang terbuat dari perunggu dan senjata.

2

Perburuan Michael Hacher diakses dari http://arkeologibawahair.wordpress.com/ tanggal 20 November 2011 3

(16)

Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai banyak kekayaan benda-benda berharga muatan kapal tenggelam. Misalnya keramik, emas batangan, patung yang ditemukan dari sisa kapal yang karam4. Daftar dari The Dictionary of Disaster at Sea memberitahukan bahwa setidaknya terdapat 12.542 kapal yang tenggelam di lautan dalam rentang waktu antara tahun 1824 hingga tahun 19625.

Para ilmuan biasanya mengenal benda-benda berharga muatan kapal tenggelam dengan nama arkeologi bawah air. Penelitian arkeologi bawah air mulai banyak dilakukan pasca perang dunia kedua sebagai imbas dari berkembangnya teknik penyelaman, sehingga situs yang diketahui berada di bawah air terutama perairan dangkal menjadi mudah untuk dijangkau. Perkembangan teknologi saat ini juga mempermudah seorang arkeolog untuk dapat mencapai situs berupa bangkai kapal di laut, meskipun laut yang sangat dalam6. Sementara itu penelitian arkeologi bawah air dalam dunia internasional pertama kali dbicarakan pada tahun 1936, namun baru pada tahun 1956 UNESCO mengeluarkan keputusan penting tentang arkeologi bawah air, sekaligus melaksanakan berbagai ekspedisi7.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mulai menguji coba kegiatan arkeologi bawah air pada tahun 1981. Peneliti mempelajari dan menangani segala peninggalan bawah air, juga meneliti segala sesuatu yang terkait dengan kelautan dan pelayaran. Hasil-hasil dari penemuan artefak dan penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai sumber informasi yang dapat menerangkan berbagai kehidupan yang terjadi di masa lalu.

4

Arti penting laut bagi perkembangan bangsadiakses dari www.arkeologibawahair.com Arti penting laut bagi perkembangan bangsa tanggal 27 September 2011

5

Dony.L.Hamilton.Overview of Conservation in Archaeology: Basic Conservation Procedurs.” Texas A & M University. 2000 hlm 4

6

Ibid hlm 90 7

(17)

1.1.2 Definisi Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam

Benda-benda berharga muatan kapal tenggelam merupakan salah satu aset negara. Aset negara adalah barang yang dimiliki negara. Barang milik negara adalah semua barang yang dibeli yang diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah8. Definisi benda berharga muatan kapal tenggelam yang diuraikan di sini adalah pengertian menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang “Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal

Muatan Kapal Tenggelam.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memiliki redaksi berbeda tentang BMKT yaitu Benda Cagar Budaya, yang didalamnya termasuk BMKT. Benda Cagar Budaya adalah benda alam/benda buatan manusia berharga, bergerak atau tidak bergerak yang sisa-sisanya memiliki hubungan erat, dengan kebudayaan dan sejarah manusia9. Definisi BMKT menurut Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang “Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam adalah benda yang dikuasai oleh Negara Indonesia dan dikelola oleh pemerintah10.

Masyarakat yang tidak mengenal istilah BMKT sesuai dengan penjelasan di atas biasanya mengenal benda-benda berharga asal muatan kapal tenggelam dengan istilah harta karun, karena mereka hanya melihat dari sisi ekonominya. Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) sebagai

8

Pasal 1 Ayat 10 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendarahan Negara 9

Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11Tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya 10

(18)

harta karun, atau sebagai kekayaan budaya/ cultural resourcesmerupakan milik negara yang perlu dikelola secara terpadu dan optimal. Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi barang muatan kapal tenggelam harus memperhatikan prinsip-prinsip akademis, penelitian, dan pelestarian supaya tidak hanya mengacu pada kepentingan ekonomi semata.

Pengangkatan dan pemanfaatan benda berharga muatan kapal tenggelam diatur dengan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam.

2.1.3 Definisi Warisan Budaya Bawah Air

Warisan budaya bawah air adalah nama lain dari benda berhaga muatan kapal tenggelam. Dunia Internasional lebih menggunakan istilah warisan budaya bawah air untuk merujuk kepada semua benda-benda yang berada di bawah laut. Definisi warisan budaya air menurutLaw on Protection of Cultural Heritageadalah bahan dan barang material yang merupakan bagian dari ekspresi atau kesaksian dari sebuah penciptaan manusia di masa lampau dan memiliki nilai sejarah, artistik, dan nilai-nilai sosiologis lainnya11. Law on Protection of Cultural Heritage adalah ketentuan yang membahas barang-barang kebudayaan baik di darat dan di laut. Convention on the Protection of The Underwater Cultural merupakan peraturan khusus melindungi kebudayaan bawah laut. Negara-negara Pihak padaConvention on the Protection of The Underwater Cultural Heritage berjanji untuk melestarikan warisan budaya bawah air untuk kepentingan

11

Pasal 2Law on Protection of Cultural Heritagediakses dari

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pdf.law+on+protection+of+cultural+heritage&source=web&cd=8&ved =0CGQQFjAH&url=http%3A%2F%2Fwww.unesco.org%2Fculture%2Fnatlaws%2Fmedia%2Fpdf%2Fcambodia%

(19)

kemanusiaan, dan mengambil tindakan untuk perlindungan,12 sehingga warisan budaya air akan terlindung dari pemanfaatan secara komersil untuk perdagangan13. Prinsip ini tidak harus dipahami sebagai usaha pencegahan pencurian arkeologi secara profesional.

Setiap kegiatan yang berkaitan dengan warisan budaya bawah air yang sebelum konvensi ini berlaku tidak akan tunduk pada hukum sisa atau hukum menemukan, kecuali diberi wewenang oleh pejabat yang berwenang, apakah sesuai penuh dengan konvensi ini dan memastikan bahwa pemulihan warisan budaya bawah air mencapai perlindungan maksimal. Prinsip penting selanjutnya adalah preferensi di situs pelestarian warisan budaya bawah air (yaitu lokasi saat di dasar laut). Pemulihan dapat diberikan untuk tujuan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perlindungan atau pengetahuan warisan budaya bawah air. Preferensi diberikan dalam pelestarian situ sebagai pilihan untuk menekankan pentingnya konteks historis objek budaya. Konvensi ini juga mengandung peraturan terhadap perdagangan sah kekayaan budaya dan pelatihan dalam arkeologi bawah air. Transfer teknologi dan berbagi informasi juga didorong dan kesadaran masyarakat akan dibangkitkan tentang nilai dan pentingnya warisan budaya bawah air.

2.1.4 Definisi Benda Cagar Budaya

Indonesia diyakini sebagai salah satu negara yang merupakan mozaik warisan pusaka budaya terbesar di dunia. Warisan budaya tersebut bisa yang terlihat maupun tidak terlihat, yang terbentuk oleh alam ataupun oleh akal budi manusia, serta interaksi antar keduanya dari waktu ke waktu. Keanekaragaman warisan budaya tersebut memiliki keunikan tersendiri, karena

12

General Principles 1Convention on the Protection of The Underwater Cultural Heritage 13

(20)

merupakan hasil dari pencampuran antara budaya di waktu lampau dengan dengan budaya saat ini, maupun yang akan datang, yang bisa menjadi sumber inspirasi, kreativitas, dan kekayaan suatu negara.

Warisan budaya tersebut dapat berbentuk artefak, situs-situs zaman dahulu, atau barang-barang muatan kapal tenggelam. Barang-barang muatan kapal tenggelam termasuk benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya, sehingga harus dilindungi dan dilestarikan. Barang-barang asal muatan kapl tenggelam tersebut merupakan salah satu jenis dari benda cagar budaya. Definisi benda cagar budaya itu sendiri adalah kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional. Definisi yang diuraikan disini adalah pengertian menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang dimana hal ini diatur dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 adalah :

1 Benda cagar budaya yang karena :

a. nilainya sangat penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan bangsa Indonesia;

b. sifatnya memberikan corak khas dan unik; c. jumlah dan jenisnya sangat terbatas dan langka

2. Benda Cagar Budaya yang dimiliki oleh negara, pengelolahannya diselenggarakan oleh menteri berdasarkan ketentuan yang diatur dalam peraturan pemerintah ini atau peraturan perundang–undangan lain yang berlaku

(21)

4. Setiap orang dapat memiliki atau menguasai benda cagar budaya tertentu dengan tetap memperhatikan fungsi sosialnya

5. Pemilikan benda cagar budaya harus dilakukan sesuai dengan ketentuan pemilikan, tata cara pendaftaran benda cagar budaya, dan ketentuan tentang perizinan yang berlaku

6. Pemilikan benda cagar budaya bergerak tertentu oleh warga negara asing diatur oleh menteri 7. Penemuan terhadap benda cagar budaya harus dilaporkan dan didaftarkan kepada negara

1.2 Pengaturan Internasional dan Pengaturan Nasional tentang Perlindungan BMKT

2.2.1 Pengaturan Internasional tentang BMKT

Perlindungan terhadap barang-barang asal muatan kapal tenggelam selain dilindungi berdasarkan undang-undang dalam negara masing-masing, secara internasional perlindungan terhadap BMKT termaktub dalam :

1.Convention on The Protection of Cultural Property in The Event of Armed Conflict and its Protocols, 1954.

2. Convention Concerning The Protection of The World Cultural and Natural Heritage, 1972.

3.United Nations Convention Law of The Sea1982.

4.Convention on Stolen or illegally Exported Cultural Objects, Rome, June 24, 1995. 5.Charter on The Protection and Management of Underwater Cultural Heritage, 1996.

6.Convention on The Protection of The Underwater Cultural Heritage, 2001.

(22)

digunakan karena konvensi ini adalah bentuk lanjutan dari konvensi-konvensi sebelumnya yang membahas permasalahan yang sama.

2.2.1.1 United Nations Convention on Law of The SeaTahun 1982

Hukum laut internasional telah mengalami sejarah yang cukup panjang dari waktu ke waktu. Semula negara-negara yang memiliki wailyah perairan yang cukup luas, merasa kesulitan untuk menentukan batas-batas wilayah perairan mereka. Keberadaan hukum laut internasional sampai pada waktu sebelum didirikannya Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) hanya merupakan penjelmaan dari supremasi negara-negara maritim besar di benua Eropa waktu itu, sehingga dengan lahirnya doktrin ‘mare liberum’ (laut bebas) yang dicetuskan oleh Hugo Grotius, hukum laut telah mengalami suatu proses transformasi menjadi suatu perangkat ketentuan hukum yang menggambarkan keseimbangan antara kepentingan negara maritim dan negara non-maritim secara lebih baik.

Kebutuhan negara-negara akan pengaturan tentang segala aspek mengenai kelautan makin sangat dirasakan, oleh karena itu hukum laut internasional terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi dan kebutuhan masyarakat dewasa ini.14

Lahirnya United Nations Convention Law of The Sea 1982 memberikan adanya suatu perlindungan mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan laut, diantaranya tentang pengaturan lebar laut territorial, Zona Ekonomi Ekslusif, masalah pencemaran yang terjadi di laut, ataupun pencurian barang-barang asal muatan kapal yang tenggelam di dasar laut.

Kepentingan dunia atas hukum laut telah mencapai puncaknya pada abad ke-20. Pelanggaran-pelanggaran yang sering terjadi dalam wilayah laut membuat negara-negara di dunia 14

(23)

membutuhkan pengaturan tatanan hukum laut yang lebih sempurna, yaitu modernisasi dalam segala bidang kehidupan. Tersedianya kapal-kapal yang lebih cepat, bertambah pesatnya perdagangan dunia, dan bertambah canggihnya teknologi berakibat kepada maraknya pelanggaran yang terjadi, misalnya pencurian benda-benda berharga asal muatan kapal tenggelam.

Permasalahan mengenai pencurian barang-barang asal muatan kapal tenggelam memang tidak dibahas secara khusus dalam konvensi ini, tetapi dijelaskan dalam Pasal 192 UNCLOS 1982 “

States have the obligation to protect and preserve the marine environment yang berarti menjelaskan bahwa negara-negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut15. Hal tersebut dijadikan prinsip dasar bahwa semua negara-negara harus melindungi kekayaan lautnya masing-masing, termasuk perlindungan BMKT.

Indonesia sebagai Negara Kepulauan yang diperjuangkan oleh bangsa Indonesia sejak Deklarasi Juanda 1957 sampai diakuinya konsep sebagai Negara Kepulauan oleh dunia internasional dalam Konvensi Hukum Laut 1982 merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa bagi Negara Indonesia.tetapi sebagian besar masyarakat tidak begitu mengenal dengan baik bahwa Indonesia mempunyai luas laut dua per tiga dari luas daratan, dengan berbagai sumber daya alam laut yang ada didalamnya termasuk BMKT. Pentingnya UNCLOS 1982 bagi negara-negara yang wilayahnya memiliki wilayah perairan, UNCLOS 1982 juga banyak di ratifikasi oleh negara-negara termasuk organisasi internasional.

2.2.1.2Convention on the Protection Underwater Cultural Heritage

15

(24)

LahirnyaUnited Nations Convention on Law of The Sea(UNCLOS) pada tahun 1982 merupakan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan seputar wilayah laut, termasuk kekayaan yang berada di bawah dasar laut. Sejak dideklarasikan konvensi hukum laut tersebut sampai sekarang keadaan sudah berubah, permasalahan yang terjadi semakin kompleks. Konvensi hukum laut tersebut dirasa belum cukup mengatasi semua permasalahan, karena memang membutuhkan satu peraturan khusus pada satu masalah. Misalnya masalah pencemaran lingkungan laut, maka harus ada satu peraturan yang secara khusus membahas masalah pencemaran lingkungan laut, begitu juga terhadap masalah pencurian barang-barang asal muatan kapal tenggelam, maka harus ada peraturan khusus yang membahas masalah pencurian barang-barang asal muatan kapal tenggelam.

Setiap negara harus melindungi warisan budaya bawah air seperti benda-benda purbakala dan sejarah.16 Ketentuan ini mewajibkan setiap negara-negara wajib melindungi benda-benda tersebut, tetapi belum ada aturan secara khusus mengatur dan mengartikulasikan perlindungan tersebut. Ketentuan tersebut jelas meninggalkan ruang untuk dibuatnya suatu peraturan internasional yang secara khusus mengatur perlindungan warisan budaya bawah air.

Pada tahun 1993 UNESCO sebuah lembaga di bawah kepemimpinan PBB yang menangani masalah sosial dan budaya17, memutuskan untuk menyusun suatu konvensi baru untuk perlindungan warisan budaya bawah air. Pada tahun 1996 negara-negara anggota PBB berkumpul menyelesaikan kebutuhan akan suatu instrumen yang mengikat secara hukum. Sekelompok ilmuan bertemu di Paris pada tahun 1998 untuk membuat draft konvensi, yang kemudian bertemu kembali pada tahun 1999 untuk menyelesaikan draft konvensi tersebut.

16

Pasal 192 Konvensi Hukum Laut 17

(25)

Akhirnya pada tahun 2001 Konvensi Perlidungan Warisan Budaya Air disahkan. Konvensi ini lebih sering dikenal dengan nama Konvensi 2001.18

Konvensi ini menjelaskan bahwa negara-negara yang ikut serta pada konvensi ini berjanji untuk melestarikan warisan budaya bawah air untuk kepentingan kemanusiaan, dan mengambil tindakan atas pelanggaran yang terjadi19. Lahirnya peraturan tersebut memberikan perlindungan terhadap warisan bawah air, termasuk BMKT dari kegiatan komersial yang dimanfaatkan untuk perdagangan. Setiap kegiatan yang berkaitan dengan warisan budaya bawah air dimaksudkan untuk memastikan bahwa pemulihan warisan budaya bawah air mencapai perlindungan maksimal20. Menurut Hari Untoro warisan budaya bawah air merupakan bagian integral dan warisan budaya umat manusia, heritage of humanity yang berarti warisan budaya bawah air merupakan elemen penting untuk pemahaman sejarah perkembangan masyarakat21.

2.2.2 Pengaturan Nasional tentang BMKT

2.2.2.1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya

Warisan budaya bawah air merupakan salah satu bagian dari cagar budaya, termasuk di dalamnya benda-benda berharga muatan kapal tenggelam. Perjanjian Internasional di bidang warisan budaya bawah air yang sejak dulu telah dirundingkan, kini berkembang dengan pesat. Puncak dari berbagai perundingan mengenai permasalahan barang-barang asal muatan kapal tenggelam tersebut adalah dengan diadakannya perundingan oleh UNESCO mengenai warisan 18History Convention

2001 diakses dari http://www.unesco.org/new/en/culture/themes/underwater-cultural-heritage/tanggal 23 Januari 2012

19

Main Principles of Convention 2001diakses dari http://www.unesco.org/new/en/culture/themes/underwater-cultural-heritage/2001-convention/ tanggal 20 November 2011

20

Main Principles of Convention 2001 2001diakses dari http://www.unesco.org/new/en/culture/themes/underwater-cultural-heritage/2001-convention/ tanggal 20 November 2011

21

(26)

budaya bawah air (Convention on The Protection of the Underwater Cultural Heritage) pada tahun 2001.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah sejak lama turut aktif dalam berbagai perundingan mengenai terbentuknya berbagai perjanjian internasional di bidang kelautan khususnya lingkungan laut (environmental of the sea). Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan cara membuat suatu Undang-Undang atas permasalahan warisan budaya bawah air, yang di dalamnya termasuk BMKT. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah sebuah solusi atas masalah pencurian warisan budaya bawah air, meskipun Indonesia belum meratifikasiConvention on The Protection Underwater Cultural Heritage.

Implementasi secara sederhana dapat dikatakan sebagai upaya penerapan suatu perjanjian internasional melalui suatu peraturan hukum nasional dengan ketentuan yang bersifat lebih lanjut22. Dibutuhkan peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya untuk mendukung upaya perlindungan BMKT yang sesuai dengan isi dari Convention on The Protection Underwater Cultural Heritage. Implementasi suatu perjanjian internasional menjadi sangat penting dan diperlukan untuk dapat memberikan masukan baru sehingga dapat menambah wawasan bagi perkembangan hukum nasional23.

Bagi Pemerintah Indonesia Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya sangat penting karena merupayakan upaya untuk memberikan perlindungan pencurian benda cagar budaya termasuk perlindungan benda-benda berharga muatan kapal tenggelam yang berada di perairan Indonesia. Pelestarian cagar budaya bertujuan untuk melestarikan warisan budaya

22

Suwardi “ Implementasi Perjanjian Internasional “ 1991, Yudistira, hlm 112 23

(27)

bangsa dan warisan umat manusia24. Tujuan tersebut sesuai dengan isi dari Pasal 2 ayat (1) Convention on The Protection Underwater Cultural Heritage yaitu This convention aims to ensure and strengthen the protection underwater cultural heritage.

Indonesia sebelumnya mempunyai peraturan tentang cagar budaya yang di dalamnya termasuk BMKT yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya, yang sekarang sudah disempurnakan menjadi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya akibat dari lahirnyaConvention on The Protection Underwater Cultural Heritage2001.

2.2.2.2 Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam

Keputusan Presiden ialah salah satu instrumental dari hukum nasional Indonesia yang bertujuan sebagai prasarana untuk membangun hukum nasional. Keputusan Presiden yang dipakai dalam mengatasi masalah barang-barang asal muatan tenggelam adalah Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam (BKMT). Keputusan Presiden ini merupakan pelengkap dari peraturan-peraturan sebelumnya. Keputusan ini menjelasakan adanya suatu panitia yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia untuk secara khusus membahas permasalahan BMKT.

24

(28)

BMKT merupakan benda yang dikuasai negara Indonesia dan dikelolah oleh Pemerintah25, yang kemudian dalam tugasnya Panitian Nasional Pengangkat dan Pemanfaatan BMKT dapat mengundang atau meminta pendapat dari instansi pemerintah dan dari pihak lain26.

Sesuai dengan tugas yang sudah diberikan, Menteri Keuangan memiliki kewenangan yang secara fungsional dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Kekayaan Negara dalam rangka penanganan hasil pengangkatan BMKT, sebagai berikut :

1. Menetapkan status penggunaan BMKT berstatus benda milik negara

2. Memberikan persetujuan pelaksanaan penjualan BMKT berstatus benda milik negara non koleksi negara

3. Memberikan persetujuan pelaksanaan penjualan BMKT berstatus selain benda milik negara

Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam ini agak dikesampingkan oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Hal tersebut berdasarkan sistem hukum di Indonesia karena kedudukan keputusan presiden berada di bawah undang-undang, dan berdasarkan asas lex posteriori derogate legi priori yang menjelaskan peraturan atau undang-undang yang terbaru mengesampingkan peraturan atau undang-undang-undang-undang yang lama.

2.3. Hubungan Antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional

Mengenai hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional ini terdapat dua aliran yaitu monoisme dan dualisme, menurut pandangan monoisme, semua hukum merupakan suatu sistem

25

Pasal 2 Ayat (1) keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam

26

(29)

hukum yang mengikat apakah terhadap individu-individu dalam suatu negara ataupun terhadap negara-negara dalam masyarakat internasional. Menurut teori dualisme, hukum internasional dan hukum nasional, merupakan dua system hukum yang secara keseluruhan berbeda. Hukum internasional menganut prinsip layak dan umum (principle of reasonable and general), prinsip eksteritorial (principle of exterritoriality), dan prinsip-prinsip lain yang penting bagi hubungan diplomatik antar negara. Menurut aliran dualisme ini perbedaan tersebut terdapat pada sumber hukum, subjek dan kekuatan hukum27.

Perbedaan sumber hukum, yaitu hukum nasional bersumberkan pada hukum kebiasaan dan hukum tertulis suatu negara sedangkan hukum internasional berdasarkan pada hukum kebiasaan dan hukum yang dilahirkan atas dasar kehendak bersama negara-negara dalam masyarakat internasional.

Perbedaan mengenai subjek, yaitu subjek hukum nasional adalah individu-individu yang terdapat dalam suatu negara sedangkan subjek hukum internasional adalah negara-negara masyarakat internasional.

Perbedaan mengenai kekuatan hukum yaitu hukum nasional mempunyai kekuatan yang mengikat yang penuh dan sempurna kalau dibanding dengan hukum internasional yang lebih banyak bersifat mengatur hubungan negara-negara secara horizontal28.

Pandangan dualisme ini dibantah golongan monoisme dengan alasan bahwa:

27

Suwardi “Hubungan Hukum Internasional dan Hukum Nasional, 1999, hlm 78 28

(30)

1. Walaupun kedua sistem hukum itu mempunyai istilah yang berbeda, namun subjek hukumnya tetap sama yaitu bukankah pada akhirnya yang diatur oleh hukum internasional adalah individu-individu yang terdapat dalam suatu negara.

2. Sama-sama mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Disaat diakuinya hukum maka tidaklah mungkin untuk dibantah bahwa hukum internasional dan hukum nasional merupakan bagian dari satu kesatuan ilmu hukum dan karena itu kedua perangkat hukum tersebut sama-sama mempunyai kekuatan yang mengikat apakah terhadap individu ataupun terhadap negara. Selanjutnya mengenai aliran monoisme terdapat pula dua pandangan yaitu memberikan primat pada hukum nasional atas hukum internasional dan primat hukum internasional atas hukum nasional.

Jika hukum nasional ialah hukum yang diterapkan dalam territorial sesuatu negara dalam mengatur segala urusan dalam negeri dan juga dalam menghadapi penduduk yang berdomisili didalamnya, maka hukum internasional ialah hukum yang mengatur aspek negara dalam hubungannya dengan negara lain. Hukum internasional ada untuk mengatur segala hubungan internasional demi berlangsungnya kehidupan internasional yang terlepas dari segala bentuk tindakan yang merugikan negara lain29.

Negara dalam memberlakukan hukum internasional yaitu dengan cara ratifikasi. Dasarnya adalah doktrin hukum pacta sunc servanda di mana perjanjian berlaku sebagai hukum bagi para pihak. Perjanjian merefleksikan itikad bebas yang dicapai secara sukarela oleh subjek hukum internasional yang memiliki kesetaraan satu sama lain. Sebaliknya, hukum dinilai tidak dapat

29Hukum Internasional

(31)

berfungsi secara efektif jika ada keinginan negara untuk tunduk dibawah ketentuan yang diaturnya.

Pemahaman kedua sementara itu mendalikan bahwa hukum internasional otomatis berlaku sebagai kaidah hukum domestik yang mengikat negara tanpa melalui proses adopsi menjadi hukum nasional. Menurut paradigm ini hukum internasional merupakan fondasi tertinggi yang mengatur hubungan antar negara. Sumber kekuatan mengikat hukum internasional adalah prinsip hukum alam (costumary) yang menempatkan akal sehat masyarakat internasional sebagai cita cita dan sumber hukum ideal yang tertinggi. Terlepas dari ada atau tidaknya persetujuan ini, secara yuridis negara dapat terikat oleh prinsip hukum internasional yang berlaku universal atau oleh kaedah kebiasaan internasional. Prinsip hukum alam atau Customary itu sendiri membuktikan bahwa praktek negara atas sesuatu hal yang sama dan telah mengkristal, sehingga diakui oleh masyarakat internasional memiliki implikasi hukum bagi pelanggaran terhadapnya30.

Perbandingan mengenai kebenaran pandangan kedua aliran monisme dan dualisme, bahwa praktek hukum internasional tidak menunjukkan secara nyata aliran mana yang lebih dominan. Faktanya berbeda dengan konfirmasi primat hukum internasional atas hukum nasional sebagai syarat yang diperlukan bagi keberadaan hukum internasional.

2.4 Proses Pengesahan Perjanjian Internasional (Ratifikasi) Menjadi Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia

Hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional dalam sistem tata hukum merupakan hal yang sangat menarik baik dilihat dari sisi teori hukum atau ilmu hukum maupun dari sisi praktis. Kedudukan hukum internasional dalam tata hukum secara umum didasarkan atas

30

(32)

anggapan bahwa hukum internasional sebagai suatu jenis atau bidang hukum merupakan bagian dari hukum pada umumnya. Anggapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa hukum internasional sebagai suatu perangkat ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehingga mempunyai hubungan yang efektif dengan ketentuan dan asas pada bidang hukum lainnya. Bidang hukum lainnya yang paling penting adalah bidang hukum nasional.

Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan oleh subjek-subjek hukum internasional dan bertujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum tertentu. Contoh perjanjian internasional adalah perjanjian yang dibuat oleh negara dengan negara lain, negara dengan organisasi internasional, organisasi internasional dengan organisasi internasional lain, serta Tahta Suci dengan negara.

Memahami berlakunya hukum internasional terdapat dua teori, yaitu teori voluntarisme yang mendasarkan berlakunya hukum internasional pada kemauan negara, dan teori objektivis 31yang menganggap berlakunya hukum internasional lepas dari kemauan negara32. Perbedaan pandangan atas dua teori ini membawa akibat yang berbeda dalam memahami hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. Pandangan teori voluntarisme memandang hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum yang berbeda, saling berdampingan dan terpisah.

Berbeda dengan pandangan teori objektivis yang menganggap hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum dalam satu kesatuan perangkat hukum.

31 Ibid 32

(33)

Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain, organisasi internasional dan subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subjek hukum internasional lainnya. Oleh sebab itu pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan Undang-Undang.

Sebelum adanya Undang-Undang Nomor 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 Undang Undang Dasar 1945, menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 11 Undang-Undang Dasar 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia33. Untuk itu melalui Surat Presiden Nomor 2826/HK/1960 mencoba menjabarkan lebih lanjut Pasal 11 Undang-Undang Dasar 1945 tersebut.34

Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden Nomor 2826/HK/1960, tertanggal 22 Agustus 1960, yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat tentang Pengaturan Perjanjian Internasional, telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun35. Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden ini dapat dilakukan melalui undang-undang atau Keputusan Presiden, tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional, tetapi dalam prateknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan Undang-Undang yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian

33

Pasal 11 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia1945 34

Surat Presiden Nomor 2826/HK/1960 Tentang Perjanjian Internasional 35

(34)

internasional.Hal ini kemudian yang menjadi alasan perlunya perjanjian internasional diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Dalam Undang Undang Nomor 24 Tahun 2000, adapun isi yang diatur dalam Undang-Undang tersebut adalah:

1. Ketentuan Umum

2. Pembuatan Perjanjian Internasional 3. Pengesahan Perjanjian Internasional 4. Pemberlakuan Perjanjian Internasional 5. Penyimpanan Perjanjian Internasional 6. Pengakhiran Perjanjian Internasional 7. Ketentuan Peralihan

8. Ketentuan Penutup36

Pasal 6 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Perjanjian internasional menjelaskan perjanjian internasional biasanya dituangkan dalam bentuk struktur perjanjian internasional yang lengkap dan dibuat melalui tiga tahap, yaitu tahap perundingan, tahap penandatanganan, dan tahap ratifikasi37.

1. Perundingan (Negotiation)

36

Indonesia (a) UU Nomor 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, Lembaran Negara tahun 2000 Nomor 185

37

(35)

Tahapan ini merupakan suatu penjajakan atau pembicaraan pendahuluan oleh masing-masing pihak yang berkepentingan. Dalam perundingan internasional ini negara dapat diwakili oleh pejabat negara dengan membawa surat kuasa penuh (full powers/credentials), kecuali apabila dari semula peserta perundingan sudah menentukan bahwa full power tidak diperlukan. Pejabat negara yang dapat mewakili negaranya dalam suatu perundingan tanpa membawa full power adalah kepala negara, kepala pemerintahan (Perdana Menteri), menteri luar negeri, dan duta besar. Keempat pejabat tersebut dianggap sudah sah mewakili negaranya karena jabatan yang disandangnya.

Perundingan dalam rangka perjanjian internasional yang hanya melibatkan dua pihak (bilateral) disebut pembicaraan (talk), perundingan yang dilakukan dalam rangka perjanjian multilateral disebut konferensi diplomatik (diplomatic conference). Selain secara resmi terdapat juga perundingan yang tidak resmi, perundingan ini disebut corridor talk. Hukum internasional dalam tahap perundingan atau negosiasi, memberi peluang kepada seseorang tanpa full powers untuk dapat mewakili negaranya dalam suatu perundingan internasional. Seseorang tanpa full powers yang ikut dalam perundingan internasional ini akan dianggap sah, apabila tindakan orang tersebut disahkan oleh pihak yang berwenang pada negara yang bersangkutan. Pihak yang berwenang tersebut adalah kepala negara dan/atau kepala pemerintahan (Presiden, Raja/Perdana Menteri). Apabila tidak ada pengesahan, maka tindakan orang tersebut tidak sah dan dianggap tidak pernah ada.

2. Tahap Penandatanganan (Signature)

(36)

(authentication of the text). Penerimaan naskah (adoption of the text) yaitu tindakan perwakilan negara dalam perundingan internasional untuk menerima isi dari perjanjian nasional. Dalam perjanjian bilateral, kedua perwakilan negara harus menyetujui penerimaan naskah perjanjian, sedangkan dalam perjanjian multilateral, bila diatur secara khusus dalam isi perjanjian maka berlaku ketentuan menurut Konferensi Vienna tahun 1968 mengenai hukum internasional. Penerimaan naskah ini dapat dilakukan apabila disetujui sekurang-kurangnya dua pertiga peserta konferensi.

Pengesahan isi naskah (authentication of the text) dilakukan oleh para perwakilan negara yang turut serta dalam perjanjian tersebut. Dalam perjanjian bilateral maupun multilateral pengesahan naskah dapat dilakukan para perwakilan negara dengan cara melakukan penandatanganan ad referendum (sementara) atau dengan pembubuhan paraf (initial). Pengesahan bunyi naskah adalah tindakan formal untuk menerima bunyi naskah perjanjian.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Luar Negeri atau kepala pemerintahan. Dengan menandatangani suatu naskah perjanjian, suatu negara berarti sudah menyetujui untuk mengikatkan diri pada suatu perjanjian.Selain melalui penandatanganan, persetujuan untuk mengikat diri pada suatu perjanjian dapat dilakukan melalui ratifikasi, pernyataan turut serta (acesion) atau menerima (acceptance) suatu perjanjian.38

3. Tahap Ratifikasi (Ratification)

Pengesahan atau ratifikasi adalah persetujuan terhadap rencana perjanjian internasional agar menjadi suatu perjanjian yang berlaku bagi masing-masing negara tersebut. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian 38

(37)

internasional tersebut. Pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan ketetapan yang telah disepakati oleh para pihak. Setelah penandatanganan naskah perjanjian internasional dilakukan oleh para wakil negara peserta perundingan, maka selanjutnya naskah perjanjian tersebut dibawa pulang ke negaranya masing-masing untuk dipelajari dengan seksama untuk menjawab pertanyaan, yaitu apakah isi perjanjian internasional tersebut sudah sesuai dengan kepentingan nasional atau belum dan apakah utusan yang telah diberi kuasa penuh melampaui batas wewenangnya atau tidak. Apabila memang ternyata isi dalam perjanjian tersebut sudah sesuai, maka negara yang bersangkutan tersebut akan meratifikasi untuk menguatkan atau mengesahkan perjanjian yang ditandatangani oleh wakil-wakil yang berkuasa tersebut.

Ratifikasi bertujuan memberi kesempatan kepada negara peserta perjanjian internasional untuk mengadakan peninjauan dan pengkajian secara seksama apakah negaranya dapat diikat suatu perjanjian internasional atau tidak.

Ratifikasi perjanjian internasional dibedakan menjadi tiga. Hal ini untuk mengetahui siapakah yang berwenang meratifikasi suatu naskah perjanjian internasional di negara tersebut.39

Ketiga sistem ratifikasi tersebut adalah sebagai berikut:

1) Sistem ratifikasi oleh badan eksekutif, yaitu bahwa suatu perjanjian internasional baru mengikat apabila telah diratifikasi oleh kepala negara atau kepala pemerintahan.

2) Sistem ratifikasi oleh badan legislatif, yaitu bahwa suatu perjanjian baru mengikat apabila telah diratifikasi oleh badan legislatif.

(38)

3) Sistem ratifikasi campuran (badan eksekutif dan legislatif), yaitu bahwa suatu perjanjian internasional baru mengikat apabila badan eksekutif dan legislatif sama-sama menentukan proses ratifikasi. Misalnya Amerika Serikat, Perancis, dan Indonesia.

Indonesia menganut sistem ratifikasi campuran, yaitu adanya peran lembaga eksekutif dan legislatif dalam meratifikasi perjanjian internasional. Diawali dalam Pasal 11 ayat (2) UUD 1945 Presiden dalam meratifikasi perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan Negara,dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-Undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, ayat (3) Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur kembali dengan Undang-Undang, dan diteruskan kembali dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yaitu suatu perjanjian internasional harus memenuhi unsure-unsur sebagai berikut :

1. Politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara.

2. Perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah Negara Indonesia. 3. Kedaulatan atau hak berdaulat negara.

4. Hak asasi manusia dan lingkungan hidup. 5. Pembentukan kaidah hukum baru.

(39)
(40)

III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Masalah

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisis dan konstruksi yang ditentukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten. Metodologi berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu, sistematis adalah berdasarkan sistem, sedangkan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam rangka tertentu.1

Penelitian yang dilakukan untuk skripsi ini adalah penelitian hukum normatif (normative legal reasearch) dengan metode pendekatan normatif yuridis. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mengamati dan mengkaji perundang-undangan yang berlaku atau diterapkan terhadap suatu permasalahan hukum tertentu.2 Sedangkan metode pendekatan normatif yuridis adalah pembahasan masalah yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam konvensi-konvensi atau perjanjian-perjanjian internasional tentang

perlindungan benda-benda berharga muatan kapal tenggelam.

3.2 Sumber dan Jenis Data

Menurut Soerjono Soekanto jenis data jika dilihat dari sumbernya dapat dibedakan antara yang diperoleh langsung dari masyarakat dan dari bahan pustaka. Data yang diperoleh dari masyarakat dinamakan data primer atau data dasar, dan data yang kedua dinamakan data sekunder. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, yaitu data yang bersumber dari buku dan peraturan perundang-undangan dan literatur terkait. Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari:

1

Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, hlm 42. 2

(41)

1. Bahan Hukum Primer (primary law material), yaitu merupakan bahan hukum yang bersifat mengikat antara lain :

1.1 Konvensi Hukum Laut (United Nations Convention on Law of The Sea1982)

1.2. Konvensi Perlindungan Budaya Bawah Air (Convention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage)

1.3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

1.4. Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam.

2. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan yang bersifat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer yang berupa literatur, buku-buku ilmu hukum yang berkaitan dengan permasalahan.

3. Bahan Hukum Tersier, yang terdiri dari kamus-kamus baik bahasa asing maupun bahasa Indonesia. Merupakan bahan yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang terdiri dari ensiklopedia, literatur-literatur,media massa, media elektronik dan lain-lain.

3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Data

3.3.1 Pengumpulan Data

(42)

tahap-tahap identifikasi pustaka dan dokumen hukum sumber data, identifikasi dan inventarisasi bahan hukum yang diperlukan.

1.3.2 Pengolahan Data

Data yang sudah terkumpul kemudian diolah melalui tahap3:

1) Editing Data, yaitu data yang diperoleh kemudian diperiksa untuk diketahui apakah masih terdapat kekurangan ataupun apakah data tersebut sesuai dengan penulisan yang akan dibahas. 2) Klasifikasi Data, yaitu penggolongan atau pengelompokan data menurut pokok bahasan yang

telah ditentukan.

3) Sistematika Data, yaitu penyusunan data berdasarkan urutan data yang telah ditentukan secara sistematis dengan maksud untuk memudahkan dalam menganalis data.

1.4 Analisis Data

Keseluruhan hasil data dianalisis secara kualitatif, yaitu menyajikan dan menguraikan data dalam bentuk kalimat secara rinci dan sistematis dan kemudian dilakukan pembahasan. Berdasarkan hasil pembahasan kemudian diambil kesimpulan secara induktif sebagai jawaban terhadap permasalahan yang diteliti.

(43)
(44)

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjabaran hasil penelitian dan pembahasan pada Bab IV, maka sesuai dengan permasalahannya dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Ketentuan Hukum Internasional Yang Berkaitan Dengan Melindungi Warisan Budaya Bawah Air diantaranya adalah :

a. Pasal 192UNCLOS 1982 “ States have the obligation to protect and preserve the marine

environmentyang berarti menjelaskan bahwa negara-negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Melindungi kekayaan alam bawah laut yang dalam hal ini ialah benda-benda berharga muatan kapal tenggelam yang dapat berupa : artefak, situs-situs, atau juga barang dagang zaman dahulu. Dijelaskan secara tegas bahwa kegiatan pencurian BMKT yang sudah masuk teritorial negara lain, dan ditambah dengan mengelolah BMKT tanpa sepengetahuan negara yang bersangkutan adalah perbuatan yang melanggar ketentuanUNCLOS.

(45)

2. Ketentuan Hukum Nasional Yang Berkaitan Dengan Melindungi Warisan Budaya Bawah Air diantaranya adalah :

a. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya merupakan produk hukum nasional yang merupakan pengganti dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, dan bertujuan melindungi benda-benda berharga muatan kapal tenggelam (BMKT), yang termasuk salah satu unsur benda cagar budaya.

b. Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam adalah upaya yang sedang dilakukan Pemerintah Indonesia untuk tindak lanjut dari Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penetapan Status Penggunaan dan Penjualan BMKT.

3. Usaha-Usaha yang dilakukan Pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah BMKT tidak berjalan dengan optimal karena tidak ada bantuan dari masyarakat.

5.2 Saran

Setelah melakukan penelitian yang dilakukan dengan cara dan mengkaji peraturan-peraturan yang berlaku dan artikel-artikel mengenai permasalahan perlindungan benda-benda berharga muatan kapal tenggelam yang berada di Perairan Indonesia menurut hukum internasional dan hukum nasional hingga memperoleh beberapa kesimpulan, maka saran yang ditujukan untuk Pemerintah Indonesia antara lain :

(46)

bertanggung jawab penuh terhadap BMKT, dan benar-benar dapat memberikan perlindungan secara tegas mengenai warisan budaya air bawah laut.

2. Perlu dirumuskan peraturan teknis tentang partisipasi masyarakat dalam pengelolaan warisan budaya termasuk pengangkatan BMKT. Strategi pengelolaannya juga harus dibedakan antara daerah sungai dengan laut, karena bidang kerja yang mau dikerjakan sangat luas termasuk dalam hal Arkeologi bawah air yang melibatkan masyarakatnya.

(47)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang……….1

1.2 Perumusan Masalah………...10

1.3 Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian ………...10

1.3.1 Tujuan Penulisan……….…..10

1.3.2 KegunaanPenulisan……….11

1.4 Sistematika Penulisan ………..….11

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam ………..13

2.1.1 Sejarah Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam ……….…13

2.1.2 Definisi Benda BerhargaMuatan Kapal Tenggelam ………….…..16

2.1.3 Definisi Warisan Budaya Bawah Air ………17

2.1.4 Definisi Benda Cagar Budaya………...18

2.2 Pengaturan Internasional dan Pengaturan Nasional Tentang perlindungan BMKT ………...20

2.2.1. Pengaturan Internasional tentang BMKT ………..20

2.2.1.1 United Nations Convention on Law of The Sea1982 ...21

(48)

2.2.2.Pengaturan Nasional tentang BMKT………....25

2.2.2.1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya…...25

2.2.2.2 Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam………..27

2.3. Hubungan Antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional………...28

2.4 Proses Pengesahan Perjanjian Internasional (Ratifikasi) Menjadi Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia……….31

III. METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Masalah ………..40

3.2 Sumber dan Jenis Data ………..40

3.3 Pengumpulan Data dan Pengolahan Data……….42

3.3.1 Pengumpulan Data……….……...42

3.3.2 Pengolahan Data………...42

3.4 Analisis Data. ………..43

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Perlindungan Warisan BudayaAir Menurut Hukum Internasional …………..44

4.1.1 Warisan Budaya Air (Cultural Heritage )………44

4.1.2. Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air Menurut United Nations Convention Law of The Sea 1982 ………...45

(49)

4.2 Sejarah dan Perlindungan Benda-Benda Berharga Muatan Kapal Tenggelam Menurut Peraturan di Indonesia ………...53

4.2.1 Sejarah BMKT di Indonesia ………53

4.2.2 Perlindungan BMKT Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun

2010 tentang Cagar Budaya ………...56

4.2.3 Perlindungan BMKT Menurut Keputusan Presiden Nomor 12

Tahun 2009 tentang PANNAS BMKT ……….… ..57

4.3 Analisis Perbandingan Substansi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dengan Convention on The Protection

of The Underwater Cultural Heritage . . . .60 4.4 Usaha-Usaha Pemerintah Indonesia Dalam Mengatasi MasalahBMKT ……..65

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan . ………..69

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...