• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produktivitas Indigofera zollingeriana dengan Diberi Kompos Feses Sapi Difermentasi Menggunakan Mol Bonggol Pisang pada Tanah Andisol dan Tanah Aluvial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Produktivitas Indigofera zollingeriana dengan Diberi Kompos Feses Sapi Difermentasi Menggunakan Mol Bonggol Pisang pada Tanah Andisol dan Tanah Aluvial"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

1. Rataan tinggi tanaman indigofera zollingeriana (cm) selama penelitian

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4

2. Rataan diameter batang (mm) tanaman indigofera zollingeriana selama penelitian

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4

3. Rataan produksi berat segar (gr) tanaman indigofera zollingeriana selama penelitian

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(2)

4. Rataan produksi berat kering (gr) tanaman indigofera zollingeriana selama penelitian

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4

5. Rekapitulasi hasil penelitian produktivitas tanaman Indigofera zollingeriana pada tanah andisol

6. Rekapitulasi hasil penelitian produktivitas tanaman Indigofera zollingeriana pada tanah aluvial Produksi Berat Segar (g) 168,04 234,65 225,85 209,51 Produksi Berat Kering (g) 37,16 45,25 45,81 42,74

7. Rekapitulasi hasil penelitian produktivitas tanaman Indigofera zollingeriana terhadap dosis pemupukan g/tanaman

Dosis Pupuk Dosis Pemupukan (g/tanaman)

0 500 1000

Tinggi (cm) 123,5B

133,01AB

(3)

8. Rekapitulasi hasil penelitian produktivitas tanaman Indigofera zollingeriana terhadap dosis pemupukan g/tanaman

Jenis Tanah Jenis Tanah Andisol Aluvial

Tinggi (cm) 129,71A

134,21A Diameter Batang (mm) 12,18B 15,34A Produksi Berat Segar (g) 142,65B

209,51A Produksi Berat Kering (g) 32,32 B

(4)

DAFTAR PUSTAKA

Badan litbang Pertanian. 2011. Tanaman Indigofera sp Untuk Ternak Kambing. Agroinovasi Sinar Tani. Jakarta.

Hapsari, A.Y., 2013. Kualitas dan Kuantitas Kandungan Pupuk Organik Limbah Serasah dengan Inokulum Kotoran Sapi Secara Semianaerob.Universitas Muhammadiya Surakarta Press. Surakata.

Herdiawan, I dan Krisnan, R., 2014. Produktivitas dan Pemanfaatan Tanaman Leguminosa Pohon Indigofera zollingeriana pada Lahan Kering. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Hermansyah, A. 2013. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang terhadap kelimpahan azobacter sp dan pertumbuhan kacang tanah. Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Hindrawati, S. 2012. Koleksi Leguminosa di BPTU Sembawa. BPTU Sembawa. Sembawa

Hutagalung, I. 2012. Tingkat Ketersediaan Logam Berat Kadmium Akibat Pemberian Beberapa Sumber Fosfat dan Waktu Inkubasi pada Bahan Tanah Andisol. Repository Usu. Medan.

Infitria. 2015. Pertumbuhan Produksi dan Kualitas Nutrien Indigofera zollingeriana pada Lahan Pasca tambang Pasir dengan Penambahan Pupuk. Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pascasarjana IPB. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Kaunang, D. 2008. Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. UNSRAT. Manado.

Kesumaningwati, R. 2015. Penggunaan MOL Bonggol Pisang (Musa Paradisiaca) sebagai Dekomposer Untuk Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit. Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda. Samarinda.

Lingga. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. IKAPI. Jakarta.

Mega, I.M., Dibia, I.N., Adi, I.G.P.R, dan Kusmiyarti, T.B. 2010. Buku Ajar Klasifikasi Tanah dan Kesesuaian Lahan. Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Denpasar. Miswati, B 2015. Jenis-Jenis Tanah, Persebaran dan Pemanfaatan. Diakses dari :

Diakses Pada Tanggal : 3 November 2015.

(5)

Munir, 2013. Tanah Aluvial. Diakses dari : www.petanihebat.com/2013/12/tanah-aluvial. Diakses Pada Tanggal : 21 Februari 2016.

Neall, V. E. 2009. Volcanic Soils in. EOLSS-UNESCO. Eolaa Publisher. UK Ole, M.B.B. 2013. Penggunaan Mikroorganisme Bonggol Pisang (Musa

Paradisiaca) Sebagai Dekomposer Sampah Organik. Universitas Atma Jaya Fakultas Teknobiologi Program Studi Biologi. Yogyakarta.

Palupi, R., Abdullah, L., Astuti. D.A., dan Sumiati. 2014. Potensi dan Pemanfaatan Tepung Pucuk Indigofera sp sebagai bahan pakan Subsitusi Bungkil Kedelai dalam Ransum Ayam Petelur. Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pascasarjana IPB. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Prabowo, A.D. 2011. Efek Pemberian Terak Baja Terhadap P-Tersedia dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) pada Andisol Asal Tongkoh. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.

Pujaningsih, R. 2005. Teknologi fermentasi dan Peningkatan Kualitas Pakan. Fakultas Peternakan UNDIP. UNDIP.

Rahman, D, L., Malalantang, S, S., Rustandi, dan Anis, S, D. 2013. Pertumbuhan dan Perkembangan Rumput Gajah Dwarf (Pennisetum Purpureum cv. Moot). Yang Diberi Pupuk Hasil Fermentasi EM4. Fakultas Peternakan Sam Ratulangi. Manado.

Repository.unib.ac.id/10402/1/IV,V,LAMP,III-14-san-FP.pdf, 2014. Hasil dan Pembahasan. Diakses pada tanggal : 23 February. 2016

Repository USU, 2010. Chapter II Kompos. Diakses dari http://repository.usu.ac.id. Diakses pada tanggal : 3 November 2015.

Risnandar, C. 2012. Jenis dan Karakteristik Pupuk Kandang. Diakses dari : http://alamtani.com/pupuk-kandang. Diakses pada tanggal : 1 Feb 2016. Riony, G.R., Iqbal, M., Aida, M.N.,Hanif, N dan Ulimaz, T.A. 2013. Tanah

Andosol. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian Unpad. Rosmarkam, A., dan N.W. Yuwono, 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius.

Yogyakarta.

(6)

Sari, M. 2015. Tanah Aluvial Sifat-Sifat Morfologis dan Kandungan Hara. Diakses dari : ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah-aluvial. Diakses Pada Tanggal 21 Februari 2016.

Shoji, S., M. Nanzyo and R. Dahlgren. 2002. Productivity and Utilization of Volcanic Ash Soils. Genesis, Properties, and Utilization. Elsevier. Amsterdam.

Simanihuruk, K dan Sirait, J. 2009. Pemanfaatan Leguminosa Pohon Indigofera Sp Sebagai Bahan Basal Kambing Boerka Fase Pertumbuhan. Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih. Galang. Sumatera Utara.

Sitompul., S.M dan Guritno., B. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Suharlina. 2012. Manfaat Indigofera sp dalam Bidang Pertanian dan Industri. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Kutai Timur. Kalimantan Timur.

Sukarman dan Dariah, A. 2014. Tanah Andosol Di Indonesia Karakteristik, Potensi, Kendala, dan Pengelolaannya untuk Pertanian. Balai Besar Penelitian Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor

Suprihatin, 2010. Teknologi Fermentasi. Penerbit UNESA University Press. Jakarta.

Sutedjo, M. 2010. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.

Syaifudin, A., Mulyani, L., dan Sulastri, Sulastri, E. 2010. Pemberdayaan Mikroorganisme Lokal sebagai Upaya Peningkatan Kemandirian Petani. Karya Tulis Ilmiah. Jakarta.

Tarigan, A dan Ginting S.P. 2011. Pengaruh Taraf Pemberian Indigofera sp terhadap Konsumsi dan Kecernaan Pakan serta Pertambahan Bobot Hidup Kambing yang Diberi Rumput Bracharia Ruziziensis. Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih. Galang. Sumatera Utara.

Triyanto, S. 2005. Produksi Kompos dari Limbah Penyulingan Limbah Daun Kayu Putih (Melaleuca leucadendron Linn.) oleh Efective Microorganism pada Berbagai Kadar Urea. Skripsi S1. Fakultas Teknobiologi. UAJY. Yogyakarta.

Umifatmawati, 2010.

http://umifatmawati.blog.uns.ac.id/2010/03/25/potensi-kotoran-sapi.2010. Potensi Kotoran Sapi. Diakses pada tanggal 21 Februari 2016.

(7)

Winata, N.A.S.H., Karno., dan Sutarno. 2012. Pertumuhan dan Produksi Hijauan Gamal (Gliricidia sepium) dengan Berbagai Dosis Pupuk Organik Cair. Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Yuhaeni. 1989. Adaptasi Beberapa Jenis Leguminosa Sebagai Hijauan Pakan Di

(8)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratium Biologi Ternak Universitas

Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan November 2016.

Bahan dan Alat

Bahan

Kotoran ternak sapi, bonggol pisang, air kelapa dan gula merah sebagai bahan membuat pupuk organik. Tanah andisol sebagai media tanam yang merupakan tanah vulkanik yang didapatkan dari Kabupaten Karo di sekitar kaki gunung sinabung, tanah aluvial yang merupakan tanah endapan dari sungai yang didapatkan dari Kecamatan Medan Barat sekitar sungai deli sebagai media tanam. Air untuk penyiraman pada tanaman, polybag dengan ukuran 10 kg tanah dan bibit Indigofera zollingeriana berumur dua bulan.

Alat

(9)

Metode Penelitian

Pembuatan MOL Bonggol Pisang

Pembuatan MOL menggunakan bonggol pisang 1000 g yang telah dicacah halus, air kelapa 10 liter dan gula merah 100 g yang sudah diiris, lalu semua dimasukkan jadi satu dalam satu tong, lalu tong tersebut ditutup rapat dan diberi selang pembuangan gas hasil fermentasi yang dihubungkan ke botol aqua berisi air. Lalu jerigen dibiarkan selama 2 minggu untuk mengalami proses fermentasi.

Pengomposan Feses Sapi

Pengomposan setiap 100 kg feses sapi menggunakan dekomposer 2,5 L MOL bonggol pisang. Campurkan bahan secara merata. Lalu setelah pencampuran pengomposan feses sapi ditutup dengan terpal. Kemudian setiap satu minggu dilakukan pembalikan sampai minggu ke empat. Pada minggu ke 4 kompos sudah siap digunakan dan untuk mendapatkan bentuk yang seragam dilakukan penyaringan atau diayak.

Pelaksanaan Penelitian

1. Pemupukan

Pemberian pupuk kompos feses sapi menggunakan mikroorganisme bonggol pisang digunakan sebagai pupuk dasar dimana diberikan seminggu sebelum penanaman. Pemberian pupuk kompos feses sapi menggunakan mikroorganisme bonggol pisang dilakukan dengan cara memasukkan tanah selanjutnya pupuk diberikan dengan dosis yang berbeda disesuaikan dengan

(10)

2. Penanaman

Penelitian ini dilakukan dengan dua faktor perlakuan dan diulang sebanyak 4 kali. Faktor pertama 2 jenis tanah yaitu: Tanah Andisol dan Tanah Aluvial. Faktor kedua dosis pemupukan yang berbeda yaitu : Tanpa menggunakan pupuk, diberi pupuk 500 gr (10 ton/ha) dan diberi pupuk 1000 gr (20 ton/ha) sehingga ada 24 tanaman unit percobaan. Penanaman dilaksanakan setelah memasukkan media tanah kedalam polybag, lalu penanaman dilakukan sesuai dengan perlakuannya masing-masing.

3. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman meliputi beberapa kegiatan antara lain penyiraman dan penyiangan. 1) Penyiraman tanaman dilakukan satu kali sehari yaitu pada sore hari terutama bila tidak ada hujan agar air tersedia lebih lama tersedia dalam tanah dan menghindari kelayuan. 2) Penyiangan dilakukan secara manual dengan membuang gulma disekitar tanaman tumbuh yang dapat menimbulkan persaingan dalam perolehan air dan hara.

4. Triming

Trimming untuk keseluruhan legum dilakukan pada saat tanaman berumur 16 minggu setelah penanaman dengan menggunakan parang dengan tinggi pemotongan 1 m dari permukaan tanah, dengan maksud menyeragamkan pertumbuhan.

5. Pemanenan

(11)

6. Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan pada saat dilakukannya pemanenan, data-data yang didapat lalu dianalisis dengan sidik ragam sesuai dengan rancangan yang digunakan dan dilanjutkan dengan uji Duncan.

Parameter yang Diamati

1. Tinggi Tanaman

Tanaman diukur tingginya sebelum dilakukan pemanenan untuk memperoleh nilai tinggi tanaman dari tiap-tiap perlakuan. Tinggi tanaman diukur

dari permukaan tanah hingga ke bagian tertinggi dari tanaman Indigofera zollingeriana.

2. Diameter Batang

Diameter batang diukur setiap sebelum pemanenan menggunakan jangka sorong. Pengukuran diameter batang dilakukan 10 cm di atas tanah dengan menjepit batang tanaman dengan jangka sorong. Selanjutnya tuas ukur digeser sampai tidak bergerak lagi, dan terlihat angka pada jangka sorong.

3. Produksi Berat segar

Berat segar didapat dari penimbangan hasil panen tiap-tiap perlakuan dalam bentuk segar. Produksi Bahan segar dihitung pada saat defoliasi. Daun dan ranting – ranting diikat rapi dengan tali plastik, kemudian ditimbang.

4. Produksi Bahan kering

(12)

Selanjutnya diambil sampel sebanyak 2 gram untuk mengetahui berat tanaman pada oven 105oC. Dilakukan konversi antara presentase berat pada suhu 60oC dan pada suhu 105oC untuk mengetahui produksi bahan kering tanaman. Untuk menghitung produksi bahan kering tanaman dapat diketahui dengan rumus :

Produksi bahan kering = Kadar BK x Produksi segar

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot design) dengan menggunakan dua faktor yaitu :

I. Faktor pertama yang dijadikan sebagai petak utama (main plot) adalah berbagai jenis tanah.

T1 = Tanah Andisol T2 = Tanah Aluvial

II. Faktor kedua sebagai anak petak (sub plot) yaitu dosis pemupukan yang berbeda setiap perlakuan antara lain :

P0 = Tanpa Menggunakan pupuk

P1 = Diberi pupuk 500 g/tanaman (10 ton/ha)

P2 = Diberi pupuk 1000 g/tanaman (20 ton/ha)

(13)

Model linear yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot design) dengan model rancangan sebagai berikut:

Yi j k = μ + αi +βj + (αβ) i j + δi k + εi j k

Keterangan :

Y i j k = nilai pengamatan pada taraf ke-i faktor A, taraf ke-j faktor B, dan pada

kelompok ke-k

µ = nilai tengah umum

αi = pengaruh taraf ke-i dari faktor A βj = pengaruh taraf ke-j dari faktor B

(αβ)i j = pengaruh interaksi taraf ke-i faktor A dengan taraf ke-j faktor B

δi k = pengaruh acak untuk petak utama ε i j k = pengaruh acak untuk anak petak

Analisis Data

(14)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis kompos feses sapi yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman namun pada jenis tanah yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap tinggi tanaman. Hasil tinggi tanaman dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2: Rataan tinggi tanaman (cm) Indigofera zollingeriana dengan dosis pemupukan yang berbeda (g/tanaman) pada tanah andisol dan tanah aluvial

Tanah Dosis Pemupukan (g/tanaman) Rataan

0 500 1000 Keterangan : notasi sama menunjukkan tidak berpengaruh nyata

(15)

tidak dapat disubsitusi oleh unsur hara lain. Kekurangan unsur P dapat dapat menunjukkan gejala menurunnya sintesis protein, seperti lambatnya pertumbuhan bibit. Fosfor memiliki fungsi antara lain mendorong pertumbuhan akar tanaman. Kekurangan unsur P umumnya menyebabkan volume jaringan tanaman menjadi lebih kecil.

(16)

Gambar 2 : Tinggi tanaman Indigofera zollingeriana dengan berbagai dosis pemupukan pada tanah andisol dan aluvial.

Pada gambar 2 terlihat bahwa tinggi tanaman tertinggi pada tanah aluvial dengan dosis pemupukan 1000 g/tanaman (P2).

Diameter Batang

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian dosis kompos feses sapi yang berbeda dan jenis tanah yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter batang tanaman Indigofera zollingeriana.

Hasil produksi diameter batang indigofera zollingeriana dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 : Rataan diameter batang (mm) Indigofera zollingeriana dengan dosis pemupukan yang berbeda (g/tanaman) pada tanah andisol dan tanah aluvial

Tanah Dosis Pemupukan (g/tanaman) Rataan

0 500 1000

Andisol 10,77 12,43 13,33 12,18B

Aluvial 13,65 14,33 18,03 15,34A

Rataan 12,21B 13,38AB 15,68A

Keterangan : notasi sama menunjukkan tidak berpengaruh nyata

(17)

terdapat pada tanah aluvial (T2) dengan rataan yaitu 15,34 mm. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mukhlis (2011), yang menyatakan bahwa fosfor (P) merupakan unsur hara penentu pertumbuhan bagi tanaman pertanian. P selalu menjadi pembatas pertumbuhan tanaman di Andisol karena suplainya selalu rendah. Unsur P diserap kuat oleh bahan alumunium dan besi non-kristalin sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman.

Dari hasil pada Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata terhadap diameter batang tanaman dengan dosis pemupukan yang berbeda,

dimana rataan diameter batang tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan 1000 g/tanaman (P2) yaitu 15,68 mm sedangkan yang rataan tinggi tanaman

(18)

penggunaan sumber bahan baku pembuatan pupuk organik juga mampu meningkatkan kualitas pupuk organik.

Gambar 3 :

Diameter batang tanaman Indigofera zollingeriana dengan berbagai dosis pemupukan pada tanah andisol dan aluvial.

Pada gambar 3 terlihat bahwa diameter batang tanaman dengan nilai tertinggi terdapat pada tanah aluvial dengan dosis pemupukan 1000 g/tanaman (P2).

Produksi Berat Segar

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian dosis kompos feses sapi yang berbeda dan jenis tanah yang berbeda memberikan

pengaruh yang nyata terhadap produksi berat segar tanaman Indigofera zollingeriana. Hasil produksi berat segar Indigofera zollingeriana

dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 : Rataan produksi berat segar (g/tanaman) Indigofera zollingeriana dengan dosis pemupukan yang berbeda (g/tanaman) pada tanah andisol dan tanah aluvial

Tanah Dosis Pemupukan (g/tanaman)

Rataan

0 500 1000

Andisol 134,69 140,7 152,56 142,65B

Aluvial 168,04 234,65 225,85 209,51A

Rataan 151,37B 187,68A 189,21A

(19)

Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata terhadap produksi berat segar antara tanah andisol (T1) dan tanah aluvial (T2) yang diberi pupuk feses sapi terfermentasi MOL bonggol pisang, dimana nilai tertinggi terdapat pada tanah aluvial (T2) dengan rataan yaitu 209,51 g. Dari pembahasan diatas diketahui tanah andisol memiliki retensi fosfat yang tinggi sehingga menyebabkan fosfat yang tersedia bagi tanaman pada tanah andisol sangat sedikit, sedangkan fosfat sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hutagalung (2012), yang menyatakan bahwa fosfor (P) merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibandingkan dengan nitrogen dan kalium, tetapi fosfor dianggap sebagai kunci kehidupan (key of life). Fosfor, seperti ortho-fosfat memegang peranan penting, mungkin alasannya adalah bahwa unsur ini masuk pembentuk nucleus dan essensial dalam pembelahan sel dan penting pula dalam perkembangan jaringan meristem.

(20)

meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan. Penggunaan pupuk organik terhadap lahan dan tanaman dapat bervariasi, dan berfungsi penting terhadap perbaikan sifat fisika, kimia biologi tanah serta lingkungan.

Gambar 4 : Produksi berat segar tanaman Indigofera zollingeriana dengan berbagai dosis pemupukan pada tanah andisol dan aluvial.

Pada gambar 4 terlihat bahwa produksi berat segar tanaman dengan nilai tertinggi terdapat pada tanah aluvial dengan dosis pemupukan 500 g/tanaman (P1).

Produksi Berat Kering

Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian dosis kompos feses sapi yang berbeda dan jenis tanah yang berbeda memberikan

pengaruh yang nyata terhadap produksi berat kering tanaman indigofera zollingeriana. Hasil produksi berat kering indigofera zollingeriana

(21)

Tabel 5 : Rataan produksi berat kering (g/tanaman) Indigofera zollingeriana dengan dosis pemupukan yang berbeda (g/tanaman) pada tanah andisol dan tanah aluvial

Tanah Dosis Pemupukan (g/tanaman) Rataan

0 500 1000 Keterangan : notasi sama menunjukkan tidak berpengaruh nyata

Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata terhadap produksi berat kering antara tanah andisol (T1) dan tanah aluvial (T2) yang diberi pupuk feses sapi terfermentasi MOL bonggol pisang, dimana nilai tertinggi terdapat pada tanah aluvial (T2) dengan rataan yaitu 42,74 g. Hal ini sesuai dengan pernyataan Shoji and Takahasi (2002), yang menyatakan bahwa fosfor merupakan unsur yang menjadi faktor pembatas paling utama pada tanah Andisol karena suplainya sangat rendah. Unsur P diserap sangat kuat oleh mineral Al dan Fe nonkristalin yang menyebabkan P menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Hal tersebut dikenal dengan istilah retensi P. Pernyataan ini juga didukung oleh pernyataan Neall (2009), yang menyatakan bahwa andisol memiliki kapasitas retensi fosfat yang tinggi dan biasanya memiliki retensi fosfat >85%. Retensi fosfat organik pada tanah Andisol terjadi karena adanya pertukaran ligan yaitu ligan humus dengan ligan fosfat, sehingga terjadi pengikatan Al-fosfat yang berakibat dalam pembebasan asam humik.

(22)

perlakuan P1 dan P2 dilakukan pemberian pupuk ke tanaman dan pada perlakuan P2 (dosis pemupukan 1000g/tanaman) memiliki rataan produksi bahan kering tertinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Infitria (2015), yang menyatakan bahwa perbedaan berat kering tanaman diduga karena perbedaan unsur hara yang diberikan. Berat kering tanaman yang dihasilkan berkaitan dengan metabolisme tanaman.

Gambar 5 : Produksi berat kering tanaman Indigofera zollingeriana dengan berbagai dosis pemupukan pada tanah andisol dan aluvial.

(23)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan produksi tanaman seiring peningkatan dosis penggunaan pupuk kompos feses sapi terfermentasi MOL bonggol pisang. Tanah aluvial menunjukkan nilai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanah andisol.

Saran

Untuk meningkatkan produksi hijauan pakan ternak dapat menggunakan pupuk kompos feses sapi terfermentasi MOL bonggol pisang. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan pupuk kompos feses sapi terfermentasi MOL bonggol pisang dengan dosis yang lebih tinggi.

(24)

TINJAUAN PUSTAKA

Feses Sapi

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran ternak, baik berupa kotoran padat (feses) yang bercampur sisa makanan maupun air kencing

(urine). Itulah sebabnya pupuk kandang terdiri dari dua jenis yaitu padat dan cair (Lingga, 2001).

Pupuk kandang dari kotoran sapi memiliki kandungan serat yang tinggi. Serat atau selulosa merupakan senyawa rantai karbon yang akan mengalami proses dekomposisi lebih lanjut. Proses dekomposisi senyawa tersebut memerlukan unsur N yang terdapat dalam kotoran. Sehingga kotoran sapi tidak dianjurkan untuk diaplikasikan dalam bentuk segar, perlu pematangan atau pengomposan terlebih dahulu (Risnandar, 2012).

Hal lain yang perlu diperhatikan dari pupuk kandang adalah adanya istilah pupuk panas dan pupuk dingin. Pupuk panas merupakan pupuk yang penguraiannya berjalan sangat cepat sehingga terbentuk panas. Kelemahan dari pupuk panas ini ialah mudah menguap karena bahan organiknya tidak terurai secara sempurna sehingga banyak yang berubah menjadi gas. Sementara pupuk dingin merupakan pupuk yang penguraiannya berjalan sangat lambat sehingga tidak terbentuk panas. Kotoran ternak sapi merupakan pupuk dingin, yang

memiliki kadar hara kotoran padat (feses) yaitu Nitrogen = 0,40%, Fosfor = 0,20%, Kalium = 0,10%, dan Air 85% sedangkan urine memiliki kadar

(25)

MOL (Mikroorganisme Lokal) Bonggol Pisang

Larutan MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman, sehingga MOL dapat digunakan baik sebagai pendekomposer, pupuk hayati dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida (Syaifudin et al., 2010).

Tanaman pisang memiliki banyak manfaat terutama yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah buahnya, sedangkan bagian tanaman pisang yang lain, yaitu jantung, batang, kulit buah, dan bonggol jarang dimanfaatkan dan dibuang begitu saja menjadi limbah pisang. Bonggol pisang ternyata mengandung gizi yang cukup tinggi dengan komposisi yang lengkap, mengandung karbohidrat (66%), protein, air, dan mineral-mineral penting. Bonggol pisang mempunyai kandungan pati 45,4% dan kadar protein 4,35%. (Kesumaningwati, 2015).

(26)

Tabel 1. Kandungan Gizi dalam Bonggol Pisang

No. Kandungan Gizi Bonggol Basah Bonggol Kering

1. Kalori (kal) 43,00 425,00

Fermentasi mempunyai arti yang berbeda bagi ahli biokimia dan mikrobiologi industri. Arti fermentasi pada bidang biokimia dihubungkan dengan pembangkitan energi oleh katabolisme senyawa organik. Pada bidang mikrobiologi industri, fermentasi mempunyai arti yang lebih luas, yang menggambarkan setiap proses untuk menghasilkan produk dari pembiakan mikroorganisme. (Suprihatin, 2010).

Fermentasi adalah segala macam proses metabolisme (enzim, jasad renik secara oksidasi, reduksi, hidrolisa atau reaksi kimia lainnya) yang melakukan perubahan kimia pada suatu substrat organik dengan menghasilkan produk akhir (Pujaningsih, 2005).

(27)

gula, alkohol, asam amino, protein, karbohidrat, vitamin dan senyawa organik lainnya (Triyanto, 2005).

Jenis-Jenis Tanah

Tingkat kesuburan tanah di setiap daerah di Indonesia beraneka ragam, ada yang subur dan ada yang tidak subur. Perbedaan keadaan tanah ini disebabkan oleh terjadinya perlakuan yang berbeda terhadap tanah-tanah di setiap daerah. Degradasi lahan atau penurunan kesuburan tanah dapat terjadi akibat pemberian pupuk pada lahan secara tidak benar. Sehubungan dengan hal tersebut, alternatif lain yang dapat dilakukan adalah praktek pertanian akrab lingkungan atau pertanian berwawasan lingkungan, dengan menitikberatkan pada penggunaan pupuk organik yang dapat memperbaiki, meningkatkan serta mempertahankan produktivitas lahan secara berkelanjutan (Rahman, et al., 2013).

Tanah Andisol.

Andisol adalah tanah-tanah berwarna hitam (epipedon mollik atau umbrik) ada horizon kambik, bulk density kurang dari 0,85 g/cm3 dan banyak mengandung bahan amorf, atau lebih dari 60% terdiri dari abu vulkan (Wijaya, 2011).

(28)

Talamau Sumatera Barat, di Kaki Gunung Sibayak di daerah Perkebunan

Tembakau Deli dan Perkebunan Tebu Sei Semayang Sumatera Utara (Sukarman dan Dariah, 2014).

Tanah andisol mempunyai ketebalan kurang lebih 50 cm, berwarna coklat keabu-abuan gelap (dark grayish brown) sampai hitam. Kandungan debu tinggi, namun profil dapat didominasi oleh pasir halus, porositas tanah tinggi dan sering adanya bulk density rendah dapat terjadi adanya horison (B) transisi yang berwarna kecoklatan, tapi translokasi liat tidak banyak. Horison yang berwarna gelap mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (Kaunang, 2008).

Rata-rata ada 57 unsur yang teranalisis dari tanah andisol. Kadar unsur yang sangat beragam dan nilai maksimum/ nilai minimum berkisar antara 2 dan 300. Nilai maksimum/ minimum Si, Al dan Fe agak sempit antara 2 dan 4. Kandungan rata-rata dari 12 unsur (C, N, Na, Mg, Al, Si, P, K, Ca, Ti, Mn dan Fe) lebih dari 1g/kg, sedangkan unsur lainnya kurang dari 1g/kg. Banyak faktor, seperti tipe batu tephra, kadar bahan non kritalin, dan aktivitas biologi, dapat mempengaruhi tingginya nilai maksimum/ minimum dari 57 unsur yang dikandung tanah-tanah abu vulkanik (Mukhlis, 2011).

(29)

Kawasan Gunung berapi di Indonesia yang mempunyai tanah Andisol umumnya merupakan daerah pertanian yang subur, dengan kepadatan penduduk relatif tinggi, meskipun daerah tersebut bersifat rawan bencana letusan gunung. Andisol merupakan tanah muda yang terbentuk dari bahan vulkanik, dicirikan oleh dua sifat khusus yaitu warna hitam akibat tingginya kandungan bahan organik dan sifat andik yang disebabkan kandungan mineral amorf. Tanah Andisol mengadung unsur hara yang cukup tinggi, berasal dari abu letusan gunung, disamping dari unsur yang dikandung bahan organik. Kesuburan tanah Andisol secara fisik juga didukung oleh kemampuannya yang tinggi dalam memegang/mengikat air, disamping porositas dan drainase yang menguntungkan untuk perkembangan tanaman. Sebagian besar penyebaran tanah Andisol berada

pada dataran tinggi dan sedikit di dataran menengah dan rendah (Sukarman dan Dariah, 2014).

(30)

Andisol memiliki kapasitas retensi fosfat yang tinggi dan biasanya memiliki retensi fosfat >85%. Retensi fosfat organik pada tanah Andisol terjadi karena adanya pertukaran ligan yaitu ligan humus dengan ligan fosfat, sehingga terjadi pengikatan Al-fosfat yang berakibat dalam pembebasan asam humik (Neall, 2009).

Fosfor merupakan unsur hara makro yang esensial bagi pertumbuhan tanaman, karena merupakan komponen struktur yang tidak dapat disubsitusi oleh unsur hara lain. Kekurangan unsur P dapat dapat menunjukkan gejala menurunnya sintesis protein, seperti lambatnya pertumbuhan bibit. Fosfor memiliki fungsi antara lain mendorong pertumbuhan akar tanaman. Kekurangan unsur P umumnya menyebabkan volume jaringan tanaman menjadi lebih kecil (Prabowo, 2011).

Fosfor (P) merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibandingkan dengan nitrogen dan kalium, tetapi fosfor dianggap sebagai kunci kehidupan (key of life). Fosfor, seperti ortho-fosfat memegang peranan penting, mungkin alasannya adalah bahwa unsur ini masuk pembentuk nucleus dan essensial dalam pembelahan sel dan penting pula dalam perkembangan jaringan meristem (Hutagalung, 2012).

Fosfor (P) merupakan unsur hara penentu pertumbuhan bagi tanaman pertanian. P selalu menjadi pembatas pertumbuhan tanaman di Andisol karena suplainya selalu rendah. Unsur P diserap kuat oleh bahan alumunium dan besi non-kristalin sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman (Mukhlis 2011).

Tanah Aluvial

(31)

lembah. Unsur hara yang terkandung dalam tanah aluvial sangat bergantung pada asal daerahnya dan tanah ini berwarna kelabu. Persebaran tanah aluvial ini banyak terdapat pada daerah Pantai Timur Sumatera, Pantai Utara Jawa. Pemanfaatannya dipergunakan untuk daerah persawahan (Miswati, 2015).

Tanah aluvial merupakan tanah endapan dibentuk dari lumpur dan pasir halus yang mengalami erosi tanah. Banyak terdapat di dataran rendah, disekitar muara sungai, rawa-rawa, lembah maupun di kanan kiri aliran sungai besar. Tanah ini banyak mengandung pasir dan liat, tidak banyak mengandung unsur-unsur zat hara. Ciri-cirinya berwarna kelabu dengan struktur yang sedikit lepas-lepas dan peka terhadap erosi. Kadar kesuburan sedang hingga tinggi tergandung bahan induk dan iklim (Sari, 2015)

Tanah aluvial merupakan tanah yang berasal dari endapan baru, berlapis-lapis, bahan organik jumlahnya tidak teratur dengan kedalaman. Hanya terdapat

epipedon okrik, histis atau sulfurik, kandungan pasir kurang dari 60% (Wijaya, 2011).

(32)

Permasalahan tanah aluvial adalalah kandungan pH pada tanah aluvial tergolong rendah (5,3-5,8), terjadinya keracunan alumunium yang sangat tinggi, kandungan alumunium terlarut dalam jumlah cukup banyak. Kandungan alumunium terlarut dalam jumlah cukup banyak. Terdapatnya fosfor (P) terarbsorbsi relatif rendah. Pengolahan Tanah aluvial dapat dilakukan dengan pemberian pupuk fosfor (P) dapat meningkatkan ketersedian hara dalam tanah. Kapur pertanian dan pupuk kandang sangat dianjurkan untuk meningkatkan produktivitas tanah aluvial (Sari, 2015).

Pupuk Organik

Para ahli lingkungan khawatir terhadap pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik karena akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia. Hal ini terjadi karena bahan makan kita adalah hewan yang mengkonsumsi tanaman atau berupa tanaman yang mengambil hara dari tanah. Pencemaran air tanah juga disebabkan oleh pemupukan yang berlebihan. Berdasarkan hal tersebut, makin berkembang alasan untuk mengurangi penggunaan pupuk mineral dan agar pembuatan pabrik-pabrik pupuk didunia dikurangi atau dihentikan sama sekali agar manusia terhindar dari petaka polusi. Upaya pembudidayaan tanaman dengan pertanian organik merupakan usaha untuk dapat mendapatkan bahan makanan tanpa penggunaan pupuk anorganik. Dengan sistem ini, diharapkan tanaman dapat hidup tanpa ada masukan dari luar sehingga dalam kehidupan tanaman terdapat suatu siklus hidup yang tertutup (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

(33)

Pupuk organik merupakan pupuk lengkap karena mengandung unsur makro dan mikro meskipun dalam jumlah sedikit. Pupuk organik ini diolah dari bahan baku berupa kotoran ternak, kompos, limbah alam, hormon tumbuhan dan bahan-bahan alam lainnya yang diproses secara alamiah selama 4 bulan (Winata et al, 2012).

Kompos adalah zat akhir suatu proses fermentasi tumpukan sampah/serasah tanaman dan adakalanya pula termasuk bangkai binatang. Sesuai dengan humifikasi fermentasi suatu pemupukan dicirikan oleh hasil bagi C/N yang menurun. Bahan-bahan mentah yang biasa digunakan seperti ; merang, daun, sampah dapur, sampah kota dan lain-lain dan pada umumnya mempunyai hasil bagi C/N yang melebihi 30 (Repository USU, 2010).

Rasio C/N adalah perbandingan C (karbon) dan N (Nitrogen). Bila bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan terlebih dahulu (langsung diberikan ke tanah) maka proses penguraiannya akan terjadi di tanah. Ini tentu kurang baik karena proses penguraian bahan segar dalam tanah biasanya berjalan cepat karena kandungan air dan udarannya cukup. Akibatnya CO2 dalam

tanah meningkat sehingga dapat berpengaruh buruk bagi pertumbuhan tanaman. Bahkan, untuk tanah ringan dapat mengakibatkan daya ikatnya terhadap air

menjadi kecil serta struktur tanahnya menjadi kasar dan berserat (Lingga dan Marsono, 2001).

(34)

dekomposisi bahan-bahan organik secara fermentasi, melarutkan P yang tidak tersedia menjadi bentuk P yang tersedia bagi tanaman, mengikat nitrogen udara, menghasilkan berbagai enzim dan hormon bagi senyawa bioaktif untuk pertumbuhan (Umifatmawati, 2010).

Pupuk organik sangat bermanfaat untuk peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, dapat mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan. Penggunaan pupuk organik terhadap lahan dan tanaman dapat bervariasi, dan berfungsi penting terhadap perbaikan sifat fisika, kimia biologi tanah serta lingkungan (Hapsari, 2013).

Indigofera zollingeriana

Klasifikasi tanaman Indigofera sp. (Herdiawan dan Krisnan, 2014) adalah sebagai berikut :

Divisio : Spermatophyta; Subdivisio : Angiospermae; Class : Dicotyledonae; Family : Rosales; Subfamily : Leguminosainosae; Genus : Indigofera; Spesies : Indigofera zollingeriana

(35)

Sekitar tahun 1900, tanaman indigofera sp dibawa oleh kolonial eropa ke Indonesia. Tanaman Indigofera sptergolong leguminosa merupakan tanaman dari kelompok kacangan dengan genus indigofera berbentuk pohon dengan ukuran sedang. Tumbuh tegak, jumlah cabang banyak, akar dapat menembus tanah cukup dalam. Ciri khas tanaman ini adalah warna daun hijau terang pada bagian permukaan dan umur 12 bulan berbunga dengan bunga berwarna ungu. Pada umur 12 bulan tinggi tanaman dapat mencapai 2 meter. Dapat tumbuh dengan baik pada daerah sampai ketinggian 1200 m dari permukaan laut, tahan terhadap tanah yang

kurang subur dan tahan terhadap musim kemarau yang panjang (Badan Litbang Pertanian, 2011).

Menurut Ngo van Man et al. (1995) laju pertumbuhan Indigofera sp. pada tanah masam dengan pH 4,5-5,0, lebih cepat sebesar 9,8 cm per dua minggu, dari pada Leucaena sp. sebesar 7,8 cm per dua minggu. Sedangkan laju pertumbuhan tanaman paling lambat adalah, Desmodium dan Flemingia congesta berturut-turut sebesar 4,8 dan 4,5 cm per dua minggu.

(36)

Salah satu bahan pakan yang berpotensi sebagai bahan pakan sumber protein adalah daun Indigofera sp. Tanaman Indigofera sp. memiliki produktivitas yang tinggi dan kandungan nutrien yang cukup baik, terutama kandungan proteinnya yang tinggi. Produksi bahan kering tanaman Indigofera sp. yang dipotong pada umur 60 hari dengan tinggi potongan 1,0 m adalah sebesar 31,2 ton/ha/tahun, yang merupakan produksi yang paling tinggi jika dibandingkan dengan umur pemotongan yang lebih tua atau yang lebih muda. Kemudian pada umur pemotongan 60 hari dihasilkan kandungan protein kasar yang lebih tinggi tinggi jika dibandingkan dengan umur pemotongan 90 hari atau 30 hari. Pemberian 30-45% Indigofera sp. dalam ransum kambing yang berbasis rumput dengan kualitas rendah menghasilkan respon yang optimal terhadap konsumsi, kecernaan pakan dan pertambahan bobot hidup kambing (Palupi et al., 2014).

Tanaman Indigofera yang berkayu (pohon) dapat dimanfaatkan sebagai tanaman model dalam system alley cropping di daerah dengan kontur curam. Dengan demikian tanaman ini dapat menekan run off dan erosi. Atau dapat pula ditanam mengelilingi tanaman pangan sebagai companion crop pada daerah yang miring (Suharlina, 2012).

(37)

mengandung pigmen yang cukup tinggi seperti xantofil dan carotenoid (Simanihuruk dan Sirait, 2009).

Indigofera sp. adalah tanaman leguminosa pohon tropis dan dilaporkan memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk ternak ruminansia. Kandungan protein kasar beberapa spesies Indigofera dilaporkan tergolong tinggi berkisar antara 22-29%, sedangkan kandungan serat (NDF) tergolong rendah yaitu antara 22-46%. Secara in vitro kecernaan BK dan BO juga tergolong tinggi yaitu berturut-turut 66-74% dan 68-79% pada berbagai interval dan intensitas pemotongan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kecernaan in vitro BO beberapa spesies Indigofera berkisar antara 60-71%. Namun demikian, kandungan nutrisi saja pada dasarnya bukanlah merupakan indikator yang memadai untuk menjelaskan secara utuh kualitas nutrisi suatu bahan pakan. Hal ini disebabkan oleh karena ketersediaan nutrisi dari bahan tersebut berfluktuasi dan merupakan fungsi dari berbagai faktor antara lain palatabilitas, konsumsi serta efisiensi

esktraksi nutrien selama proses pencernaan dalam tubuh ternak (Tarigan dan Ginting, 2011).

Produktivitas Tanaman

Tujuan penelitian merupakan dasar penentuan jenis parameter yang akan diamati. Adapun hal yang akan diamati untuk produktivitas adalah sebagai berikut :

1. Tinggi Tanaman

(38)

atas kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang paling mudah dilihat. Sebagai parameter pengukur pengaruh lingkungan, tinggi tanaman sensitif terhadap faktor lingkungan tertentu seperti cahaya. Tanaman yang mengalami kekurangan cahaya biasanya lebih tinggi dari tanaman yang mendapat cahaya cukup (Sitompul dan Guritno, 1995).

2. Diameter Batang

Batang berperan menopang tegaknya tanaman, semakin besar diameter batang berarti tanaman akan semakin kokoh. Pertambahan ukuran tubuh tanaman diakibatkan pertambahan jaringan sel yang dihasilkan oleh pertambahan ukuran sel (repository.unib.ac.id, 2014).

3. Produksi Berat Segar

Berat segar tanaman adalah berat suatu tanaman yang belum melewati tahapan proses pengeringan. Produksi segar diperoleh dengan melakukan penimbangan hasil panen dalam keadaan segar tanpa dilakukan pengeringan pada hasil pemotongan pada setiap perlakuan.

4. Produksi Berat Kering

(39)
(40)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Di Indonesia memiliki berbagai jenis tanah yang memiliki sifat dan cirinya yang beragam. Menurut Mega et al. (2010), tanah merupakan tubuh alam bebas yang dihasilkan oleh interaksi dari faktor-faktor pembentuk tanah seperti : iklim, bahan induk, organisme, relief dan waktu. Jadi tanah merupakan fungsi dari faktor dan bahan induk, organisme, relief dan waktu dan semua faktor tersebut dapat bervariasi. Oleh karena itu akan terbentuk berbagai jenis tanah yang dapat banyak dengan sifat dan cirinya yang juga dapat beragam.

(41)

Pupuk organik merupakan hasil akhir dari penguraian sisa-sisa tanaman, limbah dan kotoran ternak, seperti pupuk kandang, kompos dan pupuk hijau. Pupuk organik umumnya merupakan pupuk lengkap karena mengandung unsur makro dan mikro dalam jumlah sedikit. Penambahan pupuk organik dapat meningkatkan kandungan unsur hara yang ada di dalam tanah, sehingga dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman (Winata et al., 2012).

Dalam penelitian ini dekomposer yang digunakan adalah MOL bonggol pisang. Menurut Sari et al., (2012), MOL bonggol pisang mengandung zat pengatur tumbuh giberellin dan sitokinin. Selain itu dalam mol bonggol pisang tersebut juga mengandung 7 mikroorganisme yang sangat berguna bagi tanaman yaitu : Azospirillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus, mikroba pelarut phospat dan mikroba selulotik. Tidak hanya itu MOL bonggol pisang juga tetap bisa digunakan untuk dekomposer atau mempercepat proses pengomposan.

Kotoran ternak merupakan limbah perusahaan peternakan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kandungan unsur hara yang ada di dalam tanah. Peternakan sapi merupakan penyumbang terbanyak kotoran ternak di wilayah Indonesia.

Feses sapi dapat diolah menjadi pupuk organik dengan cara memfermentasikan feses tersebut menggunakan mikroorganisme lokal (MOL). Bahan yang dapat digunakan sebagai dekomposer adalah mikroorganisme lokal. Adapun salah satu mikroorganisme lokal yaitu mikroorganisme pada bonggol pisang yang mengandung banyak mikroorganisme yang baik untuk tanaman.

(42)

ketersedian hijauan pakan ternak. Hijauan pakan yang baik dapat dilihat dari kualitas atau kandungan dari hijauan pakan tersebut. Selain itu hijauan pakan yang baik harus mempunyai jumlah yang cukup atau ketersediannya secara kontiniu. Oleh karena itu, berdasarkan uraian-uraian di atas, perlu dilakukan fermentasi pada feses sapi dengan menggunakan mikroorganisme lokal bonggol pisang untuk meningkatkan produktivitas legum pohon Indigofera zollingeriana.

Tujuan Penelitian

Menganalisis penggunaan pupuk organik terfermentasi mikroorganisme lokal bonggol pisang pada jenis tanah andisol dan aluvial terhadap produktivitas (tinggi tanaman, diameter batang, berat segar dan bahan kering) legum pohon Indigofera zollingeriana.

Hipotesis Penelitian

Penggunaan pupuk organik terfermentasi mikroorganisme lokal bonggol pisang pada jenis tanah andisol dan aluvial dapat meningkatkan produktivitas (tinggi tanaman, diameter batang, berat segar dan bahan kering) legum pohon Indigofera zollingeriana.

Kegunaan Penelitian

(43)

ABSTRAK

MUHAMMAD IBRAHIM, 2017: Produktivitas Indigofera zollingeriana yang

Diberi Kompos Feses Sapi Difermentasi Menggunakan Mol Bonggol Pisang pada Tanah Andisol dan Tanah Aluvial. Dibimbing oleh NEVY DIANA HANAFI dan

HAMDAN.

Pemanfaatan kompos feses sapi sebagai pupuk organik diharapkan dapat membantu masyarakat dalam hal penyediaan pakan melalui peningkatan produktivitas Indigofera zollingeriana. Penelitian dilakukan di laham percobaan Unit Penelitian Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada bulan April – November 2016, menggunakan Rancangan Split Plot

Design dengan empat ulangan. Petak utama terdiri dari jenis tanah (andisol dan aluvial), anak petak yaitu dosis pupuk (tanpa pemupukan, 500 g/tanaman dan 1000 g/tanaman) kompos feses sapi. Parameter yang diamati

adalah tinggi tanaman, diameter batang, produksi berat segar dan produksi berat kering.

Hasil penelitian menunjukkan nilai produktivitas Indigofera zollingeriana pada tanah aluvial lebih tinggi dibandingkan pada tanah andisol. Pada anak petak penggunaan dosis pupuk 1000 g/tanaman memberikan nilai produktivitas tertinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk 500 g/tanaman atau tanpa pemupukan sama sekali.

(44)

ABSTRACT

MUHAMMAD IBRAHIM, 2017: Productivity Indigofera zollingeriana by Cattle

Feces Compost Fermented Using Microbes from Clevis Bananas In Andisol and Aluvial Soil. Under supervised by NEVY DIANA HANAFI AND HAMDAN.

Utilization of cattle feces as an organic fertilizer is expected to help the farmers to increased productivity Indigofera zollingeriana. The study was conducted in field trials Animal Science Study Program Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara in April – November 2016. The experiment used Split Plot Design with four replication. Main plot consisted of soil type (Andisol and Aluvial), a subplot that is fertilizers dose (without fertilizer, 500 g/plant and 1000 g/plant) cattle feces compost. Parameters measured were plant height, diameter rod, fresh weight and dry weight.

The result showed that productivity Indigofera zollingeriana in aluvial soil were heigher than andisol soil. In the subplot value fertilizer dose of 1000 g/plant provides the highest productivity value compared to fertilizer 500 g/plant or no fertilizer at all.

(45)

PRODUKTIVITAS Indigofera zollingeriana DENGAN DIBERI

KOMPOS FESES SAPI DIFERMENTASI MENGGUNAKAN

MOL BONGGOL PISANG PADA TANAH ANDISOL

DAN TANAH ALUVIAL

SKRIPSI

Oleh :

MUHAMMAD IBRAHIM 120306028

PROGRAM STUDI PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

(46)

PRODUKTIVITAS Indigofera zollingeriana DENGAN DIBERI

KOMPOS FESES SAPI DIFERMENTASI MENGGUNAKAN

MOL BONGGOL PISANG PADA TANAH ANDISOL

DAN TANAH ALUVIAL

SKRIPSI

Oleh :

MUHAMMAD IBRAHIM 120306028

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

(47)

Judul Penelitian : Produktivitas Indigofera zollingeriana dengan Diberi Kompos Feses Sapi Difermentasi Menggunakan Mol Bonggol Pisang pada Tanah Andisol dan Tanah Aluvial

Nama : Muhammad Ibrahim

NIM : 120306028

Program Studi : Peternakan

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing

Dr. Nevy Diana Hanafi., S.Pt., M.Si Hamdan., S.Pt., M.Si Ketua Anggota

Mengetahui,

Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin., M.Si Ketua Program Studi

(48)

ABSTRAK

MUHAMMAD IBRAHIM, 2017: Produktivitas Indigofera zollingeriana yang

Diberi Kompos Feses Sapi Difermentasi Menggunakan Mol Bonggol Pisang pada Tanah Andisol dan Tanah Aluvial. Dibimbing oleh NEVY DIANA HANAFI dan

HAMDAN.

Pemanfaatan kompos feses sapi sebagai pupuk organik diharapkan dapat membantu masyarakat dalam hal penyediaan pakan melalui peningkatan produktivitas Indigofera zollingeriana. Penelitian dilakukan di laham percobaan Unit Penelitian Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada bulan April – November 2016, menggunakan Rancangan Split Plot

Design dengan empat ulangan. Petak utama terdiri dari jenis tanah (andisol dan aluvial), anak petak yaitu dosis pupuk (tanpa pemupukan, 500 g/tanaman dan 1000 g/tanaman) kompos feses sapi. Parameter yang diamati

adalah tinggi tanaman, diameter batang, produksi berat segar dan produksi berat kering.

Hasil penelitian menunjukkan nilai produktivitas Indigofera zollingeriana pada tanah aluvial lebih tinggi dibandingkan pada tanah andisol. Pada anak petak penggunaan dosis pupuk 1000 g/tanaman memberikan nilai produktivitas tertinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk 500 g/tanaman atau tanpa pemupukan sama sekali.

(49)

ABSTRACT

MUHAMMAD IBRAHIM, 2017: Productivity Indigofera zollingeriana by Cattle

Feces Compost Fermented Using Microbes from Clevis Bananas In Andisol and Aluvial Soil. Under supervised by NEVY DIANA HANAFI AND HAMDAN.

Utilization of cattle feces as an organic fertilizer is expected to help the farmers to increased productivity Indigofera zollingeriana. The study was conducted in field trials Animal Science Study Program Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara in April – November 2016. The experiment used Split Plot Design with four replication. Main plot consisted of soil type (Andisol and Aluvial), a subplot that is fertilizers dose (without fertilizer, 500 g/plant and 1000 g/plant) cattle feces compost. Parameters measured were plant height, diameter rod, fresh weight and dry weight.

The result showed that productivity Indigofera zollingeriana in aluvial soil were heigher than andisol soil. In the subplot value fertilizer dose of 1000 g/plant provides the highest productivity value compared to fertilizer 500 g/plant or no fertilizer at all.

(50)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di kota Tanjung Pura pada tanggal 05 Juni 1994 dari ayah Alm. Muhammad Nazib dan ibu Wastah. Penulis merupakan putra ke-5 dari 5 bersaudara.

Tahun 2012 penulis lulus dari SMA Negeri 18 Medan dan pada tahun yang sama masuk ke Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SNMPTN tertulis.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Peternakan (IMAPET) dan Pengurus Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan (HIMMIP) periode 2014-2015.

(51)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT , Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Produktivitas Indigofera zollingeriana dengan Diberi Kompos Feses Sapi Difermentasi Menggunakan Mol Bonggol Pisang pada Tanah Andisol dan Tanah Aluvial”.

Pada Kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Nevy Diana Hanafi S.Pt., M.Si dan Hamdan S.Pt., M.Si selaku ketua komisi

pembimbing dan anggota komisi pembimbing atas segala bimbingan dan arahan dalam pembuatan skripsi ini dan kepada seluruh pihak terkait yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberi dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

(52)

DAFTAR ISI

MOL (Mikroorganisme Lokal) Bonggol Pisang ... 5

Fermentasi ... 6 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20

Bahan dan Alat ... 20

(53)

Tinggi Tanaman ... 23

Diameter Baatang ... 23

Produksi Berat Segar ... 23

Produksi Bahan Kering ... 23

Rancangan Percobaan ... 24

Analisis Data ... 25

HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman ... 26

Diameter Batang... 28

Produksi Berat Segar ... 30

Produksi Berat Kering ... 32

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 35

Saran ... 35

DAFTAR PUSTAKA ... 36

(54)

DAFTAR TABEL

(55)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Gambar 2
Gambar 3
Gambar 4 : Produksi berat segar tanaman Indigofera zollingeriana dengan berbagai dosis pemupukan pada tanah andisol dan aluvial
Tabel 5 : Rataan produksi berat kering (g/tanaman)  Indigofera zollingeriana
+4

Referensi

Dokumen terkait

Kombinasi perlakuan terdiri dari Petak utama yaitu T1: tanah andisol, T2: tanah aluvial, anak petak yaitu V1: rumput Bracharia ruziziensis , V2: rumput Panicum maximum , dan

Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah, sedangkan pemupukan adalah penambahan bahan tersebut (pupuk) kedalam tanah agar tanah menjadi

Pengarruh Pemberian Pupuk Kandang (Kotoran Sapi, Kambing Dan Ayam) Terhadap Kemelimpahan Azotobacter sp dan Pertumbuhan Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L).. Fakultas Sains dan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis pupuk organik cair bonggol pisang 67,5 ml/ tanaman berpengaruh

Dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis pupuk kandang dan mikroorganisme lokal (MOL) bonggol pisang menunjukkan

Pupuk organik mikroorganisme lokal media nasi, batang pisang, dan ikan tongkol merupakan pupuk organik yang dibuat secara sederhana melalui proses fermentasi, atau disebut

Aplikasi Mikroorganisme Lokal (MOL) Bonggol Pisang berpengaruh dalam pembuatan kompos tandan kosong kelapa sawit yang sesuai standar SNI 19-7030-2004, perlakuan dengan

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG SAPI DAN MIKROORGANISME LOKAL MOL BONGGOL PISANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KACANG TANAH Arachis hypogaea L.. SKRIPSI Sebagai Salah