Pengaruh Pemberian Ekstrak Jahe (Zingiber officinale ROSC.) Terhadap Kadar Malondialdehid (MDA) Testis Dan Gambaran Histopatologi Tubulus Seminiferus Testis Mencit Yang Diberi Plumbum Asetat

98 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale ROSC.) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) TESTIS

DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI TUBULUS SEMINIFERUS TESTIS MENCIT YANG DIBERI PLUMBUM ASETAT

Oleh

DEWI PANGESTUTI 087008007/BM

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOMEDIK

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale Rosc.) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) TESTIS DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGIS TUBULUS SEMINIFERUS TESTIS

MENCIT YANG DIBERI PLUMBUM ASETAT

TESIS

Diajukan untuk melengkapi persyaratan memperoleh Gelar Magister Biomedik dalam Program Studi Magister Ilmu Biomedik

pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Oleh

DEWI PANGESTUTI 087008007/BM

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOMEDIK

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Penelitian :

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK JAHE (zingiber officinale ROSC.)

TERHADAP KADARMALONDIALDEHID (MDA) TESTIS

DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGIS TUBULUS SEMINIFERUS

TESTIS MENCIT YANG DIBERI PLUMBUM ASETAT

Nama : DEWI PANGESTUTI

Nomor Pokok : 087008007

(4)

Tanggal lulus : 29 Januari 2011

Telah diuji pada tanggal : 29 Januari 2011

_________________________________________________________________

Panitia Penguji Tesis

Ketua : dr. Datten Bangun, Msc, SpFK

Anggota : 1. dr. Delyuzar, SpPA(K)

2. Prof. Em. Dr. dr. Jazanul Anwar, SpFK

(5)

ABSTRAK

Jahe (Zingiber officinales Rosc.) merupakan tanaman herbal yang dapat tumbuh subur di Indonesia. Jahe digunakan sebagai bumbu dapur, perasa pedas dan harum pada makanan dan sering dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Herbal ini mengandung senyawa polifenol berupa gingerol dan shogaol yang merupakan senyawa yang bersifat antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek ekstrak air jahe secara oral terhadap kadar MDA testis mencit dan gambaran histopatologis tubulus seminiferus testis mencit yang diberi Pb asetat.

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang didisain mengikuti Rancangan Acak Lengkap (RAL)dengan menggunakan 24 ekor mencit(Mus

musculus L.) strain DD Webster jantan dewasa yang dibagi dalam 6 kelompok; satu kelompok kontrol (P0) yang diberi aquadest 0,5ml, dan lima kelompok perlakuan: (P1) diberi ekstrak jahe 0,7 mg/g BB, (P2) diberi ekstrak jahe 1,4 mg/g BB, (P3) diberi Pb asetat 0,1 mg/g BB, (P4) diberi ekstrak jahe 0,7mg/g BB satu jam kemudian diberi Pb asetat 0,1 mg/g BB, (P5) diberi jahe 1,4 mg/g BB satu jam kemudian diberi Pb asetat 0,1 mg/g BB lewat sonde lambung sekali sehari selama 42 hari/ Pada hari ke 43 mencit didekapitasi, kemudian diukur kadar MDA testis dan mengamati gambaran histopatologis tubulus seminiferus testis mencit. Hasil data dianalisis dengan uji Oneway- Anova dan dilanjutkan dengan uji Post-Hoc.

Hasil Penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak air jahe 0.7 mg/g BB lebih dapat menurunkan kadar MDA testis mencit yang diberi Pb asetat dibandingkan dengan Ekstrak air jahe 1,4 mg/g BB per oral. Ekstrak air jahe 0,7 mg/g BB dapat menebalkan epitel dan melebarkan diameter tubulus seminiferus testis mencit yang diberi Pb asetat dibandingkan dengan ekstrak air jahe 1,4 mg/g BB per oral.

Kata kunci: Ekstrak jahe, antioksidan, kadar MDA testis, gambaran histopatologis tubulus seminiferus testis.

(6)

ABSTRACT

Ginger (Zingiber officinales ROSC.) is an herbal plant that can flourish in Indonesia. Ginger is used as a spice in cooking, spicy and sweet flavorings in foods and is often used as ingredients of traditional medicine. This herb contain polyphenol compounds in the form of gingerol and shogaol which are compounds that are antioxidants.

This study aims to find out whether or the ginger aqueous extract could oppose the increase of testicular MDA levels and improve the histopathologic appearance of testicular seminiferous tubules of mice given leadacetate.

This research was an experimental study designed as Complete Randomized Design (CRD). Twenty four adult male mice strains DD Webster(Mus musculus L.), were divided into 6 groups: one control group (P0) was given 0.5 ml distilled water, and five treatment groups: (P1) was given aquous exract of ginger 0.7 mg/g Body observed histopathologic appereance of testicular seminiferous tubules of mice. Data was analyzed by Oneway-Anova test and continued with post-hoc test.

The results of this study showed that administration of aquous extract of ginger 0.7 mg/g Body Weight orally reduced levels of testicular MDA levels of lead acetate treated mice more compared with aquous extract of ginger 1.4 mg/g Body Weight. Aquous extract of ginger 0.7 mg/g Body Weight per oral can thicken epithelium and dilatated diameter of the testicular seminiferous tubules of mice that were given lead acetate compared with aquous extract of ginger 1.4mg/g Body Weight.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatNYA sehingga

penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul,”Pengaruh Pemberian Ekstrak

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) Terhadap Kadar Malondialdehid (MDA) Dan

Gambaran Tubulus Seminiferus Testis Mencit Yang Diberi Plumbum Asetat.

Tesis ini merupakan salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Magister

Ilmu Biomedik, di Fakultas Kedokteran Sumatera Utara.

Dengan selesainya tesis ini, Penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H,

M.Sc (CTM), Sp.A(K), dan seluruh jajarannya atas kesempatan dan fasilitas yang

diberikan untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan program Magister ilmu

Biomedik, di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Prof.dr. Gontar

A.Siregar, Sp.PD,KGEH dan Ketua Program Studi Biomedik, dr. Yahwardiah

Siregar, Ph.D, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan untuk mengikuti dan

menyelesaikan pendidikan program Magister ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara.

(8)

Rasa terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang

setinggi-tingginya disampaikan kepada dr.Datten Bangun, M.Sc, Sp.FK (sebagai ketua komisi

pembimbing) dan dr. Delyuzar, Sp.PA(K) (anggota komisi pembimbing), yang

dengan penuh perhatian dan kesabaran telah mengorbankan waktu untuk memberikan

dorongan, bimbingan, semangat, bantuan serta saran-saran yang bermanfaat kepada

Penulis mulai dari persiapan penelitian sampai pada penyelesaian tesis ini.

Kepada komisi pembanding, Prof. Em. Dr. dr. Jazanul Anwar, SpFK dan TM

Fauzi S.Si M.Kes. atas perhatian dan saran yang bermanfaat kepada Penulis dalam

menguji dan menyempurnakan tesis ini. Tak lupa juga ucapan terima kasih penulis

kepada Prof.Dr. dr. Rozaimah Zain-Hamid, MS, Sp.FK serta Prof. Dr. Drs.

Syarifuddin Ilyas, M.Biomed yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah

mengorbankan waktu untuk meberikan dorongan, bimbingan, semangat, bantuan

serta saran-saran yang bermanfaat kepada Penulis mulai dari persiapan penelitian

sampai pada penyelesaian tesis ini. Serta ucapan terima kasih penulis kepada seluruh

Staf Pengajar yang telah membimbing penulis selama mengikuti program studi ini.

Kepada Dekan FK-UISU, beserta jajarannya yang telah memberikan dana

kepada penulis untuk kelangsungan pendidikan program studi pascasarjana ini.

Persembahan terima kasih yang tulus dan rasa hormat penulis yang

sebesarnya kepada Ayahanda tercinta Alm. H. Poniman dan Ibunda Hj. Syafariah

yang telah membesarkan dan memberikan kasih sayang, do’a serta semangat dan

(9)

Kepada anak-anakku tercinta Dinda Soufia Rahma dan Dwi Putri

Hummairoh, mama menyampaikan rasa sayang mama pada kalian, dan terima kasih

mama atas senyuman yang kalian berikan untuk semangat mama dalam

menyelesaikan pendidikan ini, dan mohon ma’af mama kepada ananda berdua atas

waktu mama yang hilang untuk kalian berdua.

Tesis ini khusus penulis persembahkan kepada suami tercinta Alm. Dr. Ganda

Rahman, walaupun telah tiada namun rasa sayang dan cinta yang beliau tinggalkan,

memberikan dorongan dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan program

studi ini. Semoga Allah SWT menempatkan kakanda di tempat yang sebaik-baiknya,

amin.

Terima kasih juga kepada seluruh rekan-rekan dan adik-adik yang telah

memberikan semangat, bantuan dalam menyelesaikan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih perlu mendapat koreksi

dan masukan untuk kesempurnaan. Oleh karena itu Penulis berharap adanya kritik

serta saran untuk penyempurnaan tulisan ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi

kita semua. Amin.

Medan, 25 Januari 211

(10)

RIWAYAT HIDUP

1. Nama : Dewi Pangestuti

2. Tempat/tanggal lahir : Medan/24 Oktober 1973

3. Agama : Islam

4. Nama Suami : Alm. dr. Ganda Rahman

5. Alamat : Jl. Seser no. 77A Medan

6. Pendidikan

SD Taman Harapan : tamat tahun 1986

SMP Husni Thamrin : tamat tahun 1989

SMAN 6 Medan : tamat tahun 1991

S1 Fakultas Kedokteran UISU Medan : tamat tahun 2000

7. Pekerjaan

1994-2003 : Asisten dosen Biologi di Fak. Kedokteran UISU Medan

2000-2003 : Dokter PTT di Puskesmas Gebang, Kecamatan Gebang,

Kabupaten Langkat, Sumatera Utara

2003-2007 : Dokter Perusahaan di SinarMas Tbk. Pekan Baru, Riau

2007-2008 : Asisten Dosen Pataologi Anatami di Fak.Kedokteran

UISU Medan

2008-sekarang : Staf Pengajar Bagian Farmakologi dan Terapi di Fakultas

(11)
(12)

2.3. Antioksidan ... 20

3.8. Analisa Data dan Pengujian Hipotesis ... 46

(13)

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian... 48 4.2. Pembahasan ... 54

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 59 5.2. Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Efek Plumbum di berbagai organ tubuh ... 18

2. Perlakuan Hewan Coba ... 39

3. Persiapan standar MDA untuk spektrofotometri ... 42

4. Jadwal Penelitian ... 47

5. Hasil Uji Skrining Senyawa Fitokimia Bahan Alam... 48

.

(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Kerangka teori ... 7

2 Reaksi Pembentukan Peroksidasi Lipid ... 13

3. Reaksi antara metal dengan Sulphydryl (SH) Group ……… 18

4. Gambaran Histologis Tubulus Seminiferus testis ... 30

5. Prosedur pelaksanaan uji pengaruh ekstrak jahe ... 39

6. Kadar MDA Testis mencit... 49

7. Diameter Tubulus Seminiferus Testis Mencit... 50

8. Tebal Epitel Tubulus Seminiferus Testis Mencit... 52

9. Gambar Histopatologi tubulus Seminiferus mencit…………. 53

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Metode pembuatan ekstrak air jahe ……….. 68

2. Output analisis datakadar MDA testis mencit (µM/mL) menggunakan software SPSS 13………. 69

3. Output analisis data diameter tubulus seminiferus mencit menggunakan software SPSS 13 ……….... 71

4. Output analisis data tebal epitel tubulus seminiferus mencit menggunakan software SPSS 13 ……….... 75

5. Konversi Perhitungan Dosis ……… 77

6. Surat Rekomendasi Persetujuan Etik Penelitian………... 78

7. Hasil Identifikasi Tumbuhan……… 79

(17)

ABSTRAK

Jahe (Zingiber officinales Rosc.) merupakan tanaman herbal yang dapat tumbuh subur di Indonesia. Jahe digunakan sebagai bumbu dapur, perasa pedas dan harum pada makanan dan sering dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Herbal ini mengandung senyawa polifenol berupa gingerol dan shogaol yang merupakan senyawa yang bersifat antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek ekstrak air jahe secara oral terhadap kadar MDA testis mencit dan gambaran histopatologis tubulus seminiferus testis mencit yang diberi Pb asetat.

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang didisain mengikuti Rancangan Acak Lengkap (RAL)dengan menggunakan 24 ekor mencit(Mus

musculus L.) strain DD Webster jantan dewasa yang dibagi dalam 6 kelompok; satu kelompok kontrol (P0) yang diberi aquadest 0,5ml, dan lima kelompok perlakuan: (P1) diberi ekstrak jahe 0,7 mg/g BB, (P2) diberi ekstrak jahe 1,4 mg/g BB, (P3) diberi Pb asetat 0,1 mg/g BB, (P4) diberi ekstrak jahe 0,7mg/g BB satu jam kemudian diberi Pb asetat 0,1 mg/g BB, (P5) diberi jahe 1,4 mg/g BB satu jam kemudian diberi Pb asetat 0,1 mg/g BB lewat sonde lambung sekali sehari selama 42 hari/ Pada hari ke 43 mencit didekapitasi, kemudian diukur kadar MDA testis dan mengamati gambaran histopatologis tubulus seminiferus testis mencit. Hasil data dianalisis dengan uji Oneway- Anova dan dilanjutkan dengan uji Post-Hoc.

Hasil Penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak air jahe 0.7 mg/g BB lebih dapat menurunkan kadar MDA testis mencit yang diberi Pb asetat dibandingkan dengan Ekstrak air jahe 1,4 mg/g BB per oral. Ekstrak air jahe 0,7 mg/g BB dapat menebalkan epitel dan melebarkan diameter tubulus seminiferus testis mencit yang diberi Pb asetat dibandingkan dengan ekstrak air jahe 1,4 mg/g BB per oral.

Kata kunci: Ekstrak jahe, antioksidan, kadar MDA testis, gambaran histopatologis tubulus seminiferus testis.

(18)

ABSTRACT

Ginger (Zingiber officinales ROSC.) is an herbal plant that can flourish in Indonesia. Ginger is used as a spice in cooking, spicy and sweet flavorings in foods and is often used as ingredients of traditional medicine. This herb contain polyphenol compounds in the form of gingerol and shogaol which are compounds that are antioxidants.

This study aims to find out whether or the ginger aqueous extract could oppose the increase of testicular MDA levels and improve the histopathologic appearance of testicular seminiferous tubules of mice given leadacetate.

This research was an experimental study designed as Complete Randomized Design (CRD). Twenty four adult male mice strains DD Webster(Mus musculus L.), were divided into 6 groups: one control group (P0) was given 0.5 ml distilled water, and five treatment groups: (P1) was given aquous exract of ginger 0.7 mg/g Body observed histopathologic appereance of testicular seminiferous tubules of mice. Data was analyzed by Oneway-Anova test and continued with post-hoc test.

The results of this study showed that administration of aquous extract of ginger 0.7 mg/g Body Weight orally reduced levels of testicular MDA levels of lead acetate treated mice more compared with aquous extract of ginger 1.4 mg/g Body Weight. Aquous extract of ginger 0.7 mg/g Body Weight per oral can thicken epithelium and dilatated diameter of the testicular seminiferous tubules of mice that were given lead acetate compared with aquous extract of ginger 1.4mg/g Body Weight.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu penyebab kerusakan sel ataupun jaringan adalah akibat pembentukan

radikal bebas. Radikal bebas merupakan salah satu bentuk Reactive Oxygen Species

(ROS) (Percival, 1998). Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang

mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya(Valko M

et al, 2007). Radikal bebas tidak stabil dan mempunyai reaktivitas yang tinggi.

Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat

reaktif mencari pasangan, dengan cara menyerang dan mengikat molekul elektron

yang berada disekitarnya(Tuminah, 2000).

Berbagai proses didalam tubuh manusia menghasilkan radikal bebas antara

lain adalah melalui proses metabolisme sel normal, peradangan, terekspos allergen,

sinar ultraviolet, zat-zat organik ataupun xenobiotic . Beberapa sumber radikal bebas

antara lain sumber internal yaitu: mitokondria, fagosit, xantin oksidase, reaksi yang

melibatkan besi dan logam transisi lainnya, arachidonat pathway, peroksisome, olah

raga, peradangan, iskemia/reperfusi, sedangkan yang berasal dari sumber eksternal

yaitu: rokok, polutan lingkungan, radiasi, obat-obatan, larutan industry dan ozon

(20)

Slater KF et al (1987) mengungkapkan bahwa radikal bebas yang reaktif

dapat menyebabkan kerusakan sel dan jaringan dengan berbagai cara antara lain:

§ Kerusakan DNA dengan kerusakan sel dan mutasi

§ Destruksi dari aktivitas koenzim nukleotida, perubahan dalam status redoks

NADPH

§ Mengganggu terhadap Thiol-dependent enzyme, perubahan dalam thiol: status

disulpida

§ Berikatan kovalen dengan protein dan lipid

§ Merubah aktivitas enzim dan metabolisme lipid

§ Merusak protein, meingkatkan turnover dari protein

§ Peroksidasi lipid, perubahan fungsi dan struktur membran

§ Kerusakan membran terhadap protein, gangguan transport.

Plumbum merupakan salah satu logam berat yang dapat mencemari

lingkungan. Dari hasil penelitian Ernawati (2010) tingginya kandungan Pb pada

daging kerang bulu (Anadara inflata) di dekat pelabuhan kapal-kapal bongkar muat,

kapal ikan, pabrik-pabrik, dan galangan kapal serta pemukiman di muara sungai

Asahan. Selain itu, di sepanjang hulu sungai juga terdapat banyak pabrik industri dan

(21)

terhadap fungsi organ yang terdapat dalam tubuh (Darmono, 2001), merupakan faktor yang menunjang untuk terjadinya toksisitas Pb pada makhluk hidup. Dengan mengabsorpsi > 0,5 mg/hari akan terjadi akumulasi yang selanjutnya menyebabkan

keracunan(Sartono, 2002). Akumulasi Pb tertinggi dalam jaringan lunak terjadi

berturut-turut pada ginjal disusul hati, otak, paru, jantung, otot dan testis (Hariono B,

2005). Plumbum dikenal sebagai bahan toksis bagi organ reproduksi wanita dan pria.

Pada pria, konsentrasi Pb dalam darah lebih dari 40 µg/dl dihubungkan dengan

penurunan atau kelainan produksi sperma(Kosnett M.J, 2009). Pencemaran plumbum

terhadap lingkungan menyebabkan penurunan kualitas sperma pada manusia(Ochoa

I.H et al, 2005). Beberapa penelitian pada hewan percobaan menunjukkan bahwa

keracunan Pb dapat mengakibatkan penurunan berat testis dan kerusakan tubulus

seminiferus testis tikus putih (Ahmad I et al, 2003). Pemberian plumbum asetat

secara intraperitoneal sebanyak 200mg/kgBB terjadi peningkatan jumlah morfologi

sperma yang abnormal dan penurunan kadar asam askorbat dalam testis mencit

(Acharya U.R et al 2003). Injeksi subkutan Plumbum selama 3 hari menyebabkan

penurunan jumlah sperma, berat testis dan kerusakan dari tubulus seminiferus (Graca

A et al, 2004). Hasil penelitian Fauzi TM (2008) terhadap mencit, terlihat perbedaan

yang nyata antara kelompok yang diberi plumbum asetat konsentrasi 0,1% dan 0,3%

dibanding dengan kelompok kontrol dalam meningkatkan kadar MDA didalam

sekresi cauda epididimis juga mempengaruhi kualitas spermatozoa mencit tersebut.

Pemberian Pb dapat menginduksi stress oksidasi pada hewan percobaan, dengan

(22)

peroxidation dapat ditentukan dengan cara mengukur malondialdehid (MDA)

mengikuti test standar thiobarbituric acid (TBA)(Acharya S et al,1997). Plumbum

asetat yang diberikan secara oral ternyata juga dapat meningkatkan kadar MDA testis,

serta menyebabkan perubahan pada gambaran histologi jaringan testis dimana terlihat

eksudasi interstisial, degenerasi dan nekrosis sel spermatogenik (Hamadouche NA et

al, 2009).

MDA merupakan produk yang dihasilkan oleh radikal bebas melalui reaksi

ionisasi dalam tubuh dan merupakan produk akhir oksidasi lipid membran. Pada

DNA, MDA akan bereaksi dengan deoxyadenosine dan deoxyguanosine yang akan

menyebabkan kerusakan pada DNA (Marnett LJ, 2000). Kadar MDA sangat

bergantung pada status antioksidan. (Winarsi H, 2007).

Pada saat ini banyak dijual bebas antioksidan dengan berbagai merek

dipasaran dengan harga yang relative mahal. Padahal, zat antioksidan banyak terdapat

di alam secara melimpah salah satunya adalah jahe. Komponen yang terkandung

dalam rimpang jahe sangat banyak kegunaannya.

Jahe (zingiber officinale.) digunakan sebagai bumbu masak, minuman, serta

permen juga digunakan dalam ramuan obat tradisional, yang berfungsi sebagai

stimulansia, karminativa, diaforetika, mengatasi kolik dan batuk kering (Rukmana,

2000). Hasil penelitian Kikuzaki dan Nakatani, (1993) dengan menggunakan asam

linoleat sebagai substrat, jahe yang mengandung gingerol memiliki daya antioksidan

(23)

Senyawa bioaktif rimpang jahe seperti gingerol, shogaol dan resin yang

terkandung dalam oleoresin dapat menurunkan kadar MDA plasma dan

meningkatkan kadar Vitamin E plasma(Zakaria, 2000). Menurut Zhonggou et al

(2003) menyatakan bahwa senyawa yang terkandung didalam jahe dapat melindungi

DNA dari kerusakan yang diinduksi oleh H2O2.

Stoilova I et al.,(2007) menyatakan bahwa ekstrak CO2 dari zingiber

officinale rosc. mengandung polyphenol yang menunjukkan kapasitas tinggi sebagai

chelator sehingga dapat mencegah inisiasi radikal hidroksil yang diketahui sebagai

pencetus terjadinya peroksidasi lipid, dengan demikian ekstrak CO2 dari jahe dapat

digunakan sebagai antioksidan. Dari hasil penelitian Kamtchouing et al., (2002)

ekstrak zingiber officinale secara signifikan meningkatkan kadar serum testosterone,

berat testis serta aktifitas alpha-glukosida epididimis hewan tikus. Ekstrak jahe dapat

meningkatkan kualitas spermatozoa, kadar LH dan FSH serta menurunkan kadar

MDA testis mencit (Morakinyo A.O et al, 2008; Khaki A et al, 2009). Pemberian

secara oral ekstrak jahe juga dapat memperbaiki kerusakan sel spermatogenik tikus

jantan yang dipapari oleh fungisida mancozeb(Sakr SA et al. 2009).

Dari uraian singkat tersebut diatas peneliti tertarik untuk meneliti efek

antioksidan dari ekstrak jahe dalam melindungi sistem reproduksi jantan. Dengan

dasar kemampuan ekstrak jahe sebagai antioksidan maka perlu dilakukan penelitian

(24)

kadar malondialdehid(MDA) testis dan gambaran histopatologis tubulus seminiferus

testis mencit jantan yang diberi plumbum asetat (Pb(C2H3O2)·3H2O).

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas memberikan dasar bagi

peneliti untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut ini:

1. Apakah ekstrak jahe dapat menurunkan kadar MDA testis tikus yang diberi

plumbum asetat?

2. Apakah ekstrak jahe dapat menghambat kerusakan tubulus seminiferus testis

tikus akibat paparan plumbum asetat berdasarkan gambaran histopatologis?

1.3. Kerangka Teori

Paparan plumbum secara terus menerus akan menyebabkan peningkatan radikal

bebas. Radikal bebas akan bereaksi dengan senyawa PUFA (poly unsaturated fatty

acid) yang akan menyebabkan kerusakan senyawa oksidatif pada senyawa lipid.

Lipid yang mengalami oksidasi ini akan menjalani reaksi lanjutan secara berantai

membentuk produk radikal seperti radikal alkil, radikal peroksil, dan radikal

superoksida. Pembentukan radikal dari reaksi berantai ini menyebabkan terbentuknya

peroksidasi lipid yang sangat tidak stabil. Peroksidasi lipid akhirnya akan

(25)

Jahe (zingiber officinale) berperan sebagai antioksidan terhadap

senyawa-senyawa radikal bebas tersebut. Penelitian ini diharapkan akan mengungkapkan

kemampuan jahe dalam melindungi sistem reproduksi dari toksisitas plumbum.

Gambar 1. Kerangka teori

Radikal bebas Æ

Stress oksidatif Æ

Peroksidasi lipid Æ

MDA jaringan Æ

dan kerusakan jaringan

Plumbum asetat secara oral

Radikal bebas

Stress oksidatif <<<

Peroksidasi lipid <<<

MDA jaringan <<< dan melindungi jaringan

Ekstrak jahe secara oral Plumbum asetat

(26)

1.4.Tujuan Penelitian Tujuan umum :

Untuk membuktikan bahwa ekstrak jahe dapat menghambat kerusakan

tubulus seminiferus testis tikus akibat paparan plumbum acetate.

Tujuan Khusus :

1. Mengetahui kemampuan ekstrak jahe dalam menurunkan kadar MDA testis

tikus yang diberi Plumbum asetat.

1 Mengetahui kemampuan ekstrak jahe dalam menghambat kerusakan tubulus

seminiferus testis tikus akibat paparan plumbum asetat

2 Mengetahui besarnya dosis ekstrak jahe dalam menurunkan kadar MDA testis

tikus yang diberi Plumbum asetat.

3 Mengetahui besarnya dosis ekstrak jahe dalam menghambat kerusakan tubulus

seminiferus testis tikus akibat paparan Plumbum asetat.

1.5. Hipotesis

1. Pemberian ekstrak jahe dapat menurunkan kadar MDA testis tikus yang diberi

plumbum asetat.

2. Ada perbedaan gambaran histopatologis tubulus seminiferus yang dipapari

plumbum dan diberi ekstrak jahe dengan yang dipapari plumbum tetapi tidak

diberi ekstrak jahe.

3. Penurunan kadar MDA testis tikus yang dipapari plumbum sejalan dengan

(27)

4. Penghambatan kerusakan tubulus seminiferus testis yang dipapari plumbum

sejalan dengan peningkatan dosis ekstrak jahe.

1.6. Manfaat penelitian

1. Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa selain digunakan sebagai

bumbu dapur, jahe berkhasiat sebagai antioksidan yang dapat mengatasi

dampak keracunan plumbum.

2. Membuka penelitian lanjutan untuk dapat mensejajarkan jahe dengan

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Radikal Bebas

Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu

atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya(Valko M et al, 2007 ). Di

dalam sel hidup, radikal bebas terbentuk pada membran plasma, mitokondria,

peroksisom, retikulum endoplasma dan sitosol melalui reaksi-reaksi enzimatis yang

berlangsung dalam proses metabolisme(Winarsi H, 2007).

Tubuh memiliki mekanisme proteksi yang menetralkan radikal bebas yang

terbentuk, antara lain dengan adanya enzim-enzim superoksida dismutase (SOD),

katalase, dan glutathion peroksidase(GPX)(Winarsi H, 2007).Namun dalam kondisi

tertentu, radikal bebas dapat melebihi sistem pertahanan tubuh, kondisi ini disebut

sebagai stress oksidatif(Agarwal et al, 2005). Pada kondisi ini, keseimbangan antara

radikal bebas dengan kemampuan antioksidan alami tubuh akan terganggu yang

akhirnya akan menyebabkan kerusakan jaringan(Winarsi H, 2007).

Perusakan sel oleh radikal bebas didahului oleh kerusakan membran sel.

Kerusakan membran sel tersebut dapat terjadi dengan cara: (a) terjadi ikatan kovalen

antara radikal bebas dengan komponen membran, sehingga terjadi perubahan struktur

dari fungsi reseptor; (b) oksidasi gugus thiol pada komponen membran oleh radikal

(29)

peroksidasi lipid membran yang mengandung PUFA (polyunsaturated fatty

acid)(Slatter KF, 1984).

2.1.2. Peroksidasi Lipid

Peroksidasi lipid merupakan proses yang bersifat kompleks akibat reaksi asam

lemak tak jenuh ganda penyusun fosfolipid membran sel dengan Reactive Oxygen

Species (ROS), membentuk hidroperoksida. Beberapa spesies oksigen reaktif yang

dijumpai dalam tubuh adalah:

Superoxide radical (O2-)

Hydroxyl radical (OH-)

Nitric oxide radical (NO-)

Peroxyl radical (ROO-)

Lipid peroxyl radical (LOOH)

Hydrogen peroxide (H2O2)

Singlet oxygen (IO2)

Hypochlorous acid (HOCl) (Langseth L, 1995)

Target utama dari ROS adalah protein, asam lemak tak jenuh dan lipoprotein,

serta unsur DNA termasuk karbohidrat dan RNA. Asam lemak tak jenuh merupakan

(30)

Tingginya konsentrasi asam lemak tak jenuh dalam fosfolipid di setiap

membrane sel tidak hanya membuat mereka menjadi sasaran utama untuk reaksi

dengan agen oksidasi tetapi juga memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam

rantai panjang reaksi radikal bebas (Marnet LJ, 2000).

2.1.3. Tahap-tahap Proses Peroksidasi Lipid

Peroksidasi lipid biasanya terbentuk melalui beberapa tahapan proses yaitu:

• Inisiasi : Lipid + R /OH Lipid

• Propagasi : Lipid + O2 Lipid.OO

Lipid.OO + Lipid Lipid.OOH + Lipid

• Terminasi : Lipid + Lipid Lipid.Lipid

Lipid.OO + Lipid Lipid.OO.Lipid

(31)

Pada tahap awal reaksi terjadi pelepasan hidrogen dari asam lemak tidak

jenuh sehingga terbentuk radikal alkil yang terjadi karena adanya inisiator (panas,

oksigen aktif, logam atau cahaya). Pada keadaan normal radikal alkil cepat bereaksi

dengan oksigen membentuk radikal peroksil dimana radikal peroksil ini bereaksi

lebih lanjut dengan asam lemak tidak jenuh membentuk hidroperoksida dengan

radikal alkil, kemudian radikal alkil yang terbentuk ini bereaksi dengan oksigen.

Reaksi outoksidasi ini adalah reaksi berantai radikal bebas.

Salah satu hasil produk degradasi ROOH adalah malondialdehid (MDA).

Malondialdehid (MDA) secara luas banyak digunakan sebagai salah satu indikator

peroksidasi lipid yang dapat ditentukan dalam suatu pengukuran dengan

menggunakan asam tiobarbiturat. Metode pengukuran ini disebut TBA-reactant

subtansi (TBARs) (Winarsi H, 2007).

2.1.4. Malondialdehide (MDA)

MDA adalah senyawa dialdehide yang merupakan produk akhir peroksidasi

lipid didalam tubuh, MDA juga merupakan metabolit komponen sel yang dihasilkan

oleh radikal bebas. Oleh sebab itu, konsentrasi MDA yang tinggi menunjukkan

adanya proses oksidasi dalam membran sel. MDA dapat bereaksi dengan komponen

nukleofilik atau elektrofilik. MDA dapat berikatan dengan berbagai molekul biologis

(32)

MDA bersifat mutagenik pada bakteri dan sel mamalia serta bersifat karsinogenik

pada tikus (Marnet LJ, 2000).

2.2. Plumbum (Pb)

Plumbum atau timah hitam merupakan logam berat yang terdapat di

lingkungan sekitar kita, baik itu secara proses alami maupun buatan. Plumbum

banyak digunakan dalam industri logam, baterai, cat, kabel, karet dan mainan

anak-anak. Manusia terkontaminasi dengan plumbum melalui udara, air dan makanan.

Apabila plumbum terhirup atau tertelan oleh manusia, akan beredar mengikuti aliran

darah dan terdistribusi di jaringan lunak dan tulang(Darmono, 2001).

2.2.1. Sifat Fisik dan Kimiawi Plumbum

Plumbum adalah logam berat, dengan nomor atom 82, berat atom 207,19 dan

berat jenis 11,34, bersifat lunak dan berwarna biru keabu-abuan, dengan kilau yang

khas sesaat setelah pemotongan, kilauan tersebut akan hilang sejalan dengan

pembentukan lapisan oksida pada permukaannya. Plumbum mempunyai titik leleh

327,50C dan titik didih 17400C(WHO, 1977; ATSDR, 2007) .

Lebih dari 95% plumbum merupakan senyawa anorganik dan umumnya

dalam bentuk garam timbal anorganik, dan selebihnya berbentuk timbal organik.

Senyawa plumbum organik ditemukan dalam bentuk senyawa tetraethyllead (TEL)

(33)

maka plumbum digunakan secara luas dalam berbagai industri (WHO, 1977;

ATSDR, 2007).

2.2.2. Farmakokinetika Plumbum

Plumbum masuk kedalam tubuh dapat melalui berbagai cara antara lain

melalui saluran cerna, saluran pernapasan dan melalui kulit. Setelah diabsorpsi,

plumbum akan terikat dengan eritrosit yang kemudian akan di distribusikan secara

luas kejaringan lunak seperti sumsum tulang, otak, ginjal, hati, otot, dan gonad

kemudian menuju ke matriks tulang. Plumbum dapat melewati sawar darah plasenta

dan merupakan bahaya potensial bagi janin (Kosnett M.J, 2009).

a. Absorpsi

Absorbsi Pb dapat melalui saluran pernapasan, saluran cerna dan melalui

kulit. Absorpsi melalui saluran pernapasan tergantung kepada besarnya diameter

partikel Pb yang masuk kedalam paru-paru, diameter sebesar 1 mikrometer akan

diabsorpsi secara komplit di alveoli (WHO, 1977; Patočka et al 2003).

Absorpsi Pb melalui saluran cerna tergantung pada beberapa kondisi antara

lain, besarnya konsentrasi Pb yang tertelan, adanya makanan didalam lambung, status

gizi pasien, usia dari pasien. Absorpsi Pb akan meningkat pada keadaan defisiensi

(34)

sekitar 50% dari jumlah Pb yang tertelan, sedangkan orang dewasa tingkat absorpsi

Pb sekitar 10-20% (Patočka et al 2003 ).

Plumbum organik seperti tetraethyl lead (TEL) yang digunakan sebagai

antiknock pada bahan bakar bensin hampir seluruhnya diabsorpsi langsung melalui

kulit (Hariono B, 2005; ATSDR, 2007).

b. Distribusi

Plumbum yang diabsorpsi diangkut oleh darah ke jaringan lunak seperti otak

paru, hati, limpa dan sumsum tulang, yang kemudian mengalami redistribusi dan

disimpan dalam tulang. Sekitar 95% Pb dalam darah diikat oleh eritrosit dengan

waktu paruh 25-40 hari, pada jaringan lunak waktu paruh Pb 40 hari, sedangkan pada

tulang memiliki waktu paruh selama 28 tahun (Patočka et al 2003; ATSDR, 2007).

c. Ekskresi

Plumbum diekskresikan melalui melalui beberapa cara antara lain, melalui

urin sebanyak 65-76%, melalui saluran empedu 25-30%, melalui rambut, kuku,

keringat 8% (WHO, 1977; Patočka et al 2003).

2.2.3. Toksisitas Plumbum

Keracunan Pb dapat merupakan hasil dari interaksi antara logam dengan

(35)

enzim dan protein lainnya dengan ikatan kovalen sehingga akan menghalangi kerja

enzim tersebut. Pb juga mampu membentuk ion-ion organometalik yang larut dalam

lemak dan mampu menembus membran biologis dan berakumulasi dalam sel dan

organel sel seperti mitokondria (Raharjo M, 2009). Pb berinteraksi dengan

kation-kation penting terutama besi, kalsium dan zinc serta mengganggu pompa

natrium-potassium-adenosine triphosphate (Na + / K +-ATP) dengan demikian meningkatkan

kerapuhan selular (Patočka et al, 2003).

Ercal N et al (2001) menyatakan ada beberapa mekanisme bagaimana Pb

menyebabkan stress-oksidatif di dalam tubuh yaitu: efek langsung Pb terhadap

membran sel, interaksi antara Pb-Hb dan Pb dapat berikatan dengan sulphydryl group

dan amine group.

SH S

P atau E + M2+ P atau E M + 2H+

S SH

Gambar 3. Reaksi antara metal dengan Sulphydryl (SH) Group

P: Protein, E: Enzim, M: Metal( Duruibe JO et al, 2007).

Manifestasi klinis dari keracunan plumbum dapat mengenai berbagai sistem

organ antara lain sistem saraf pusat, ginjal, hematopoetik, gastrointestinal,

(36)

Tabel-1. Efek Plumbum di berbagai organ tubuh

Gastrointestinal 60-100µg/dL Kolik pada anak-anak

Kardiovaskuler < 10µg/dL Elevasi tekanan darah

Ginjal < 20µg/dL Penurunan GFR

Neurologi 100-120µg/dL (dewasa)

Reproduksi > 40µg/dL Penurunan fertilitas

(Sumber: ATSDR, 2007)

2.2.4. Efek Plumbum terhadap Sistem Reproduksi

Beberapa penelitian efek Pb terhadap sistem reproduksi antara lain penelitian

Naha N (2005) terhadap pekerja yang terpapar plumbum selama 7-8 tahun

mendapatkan bahwa terjadi penurunan motilitas sperma, volume, viskositas, protein

seminal plasma dan kadar fruktosa seminal. Suatu penelitian cross sectional terhadap

(37)

terhadap penurunan kualitas sperma dan memberikan efek terhadap kromatin sperma

yang juga dipengaruhi oleh kadar zinc di sperma (Ochoa IH, 2005).

Shiau CY (2004) melakukan penelitian terhadap 163 pekerja pabrik batre

yang telah menikah mendapatkan hasil bahwa kadar Pb dalam darah sebesar 40µg/dL

dapat mempengaruhi kesuburan dengan memperpanjang masa untuk hamil.

Penelitian efek Pb pada hewan coba telah banyak dilakukan antara lain

penelitian dari Massanyi (2007) pemberian Pb pada tikus percobaan sebanyak 50

mg/KgBB secara intraperitoneal menyebabkan dilatasi pembuluh darah kapiler di

interstitium, undulasi pada membran basalis dan terjadi apoptosis pada sel

spermatogenesis.

Pemberian Pb 0,5% per oral selama 6 minggu kepada mencit menyebabkan

terjadinya penurunan jumlah sperma, motilitas dan peningkatan jumlah sperma

abnormal (Wadi, 1999). Plumbum juga mempengaruhi berat testis, diameter serta

tebal epitel tubulus seminiferus testis juga mempengaruhi sel spermatogenik dan sel

sertoli mencit dimana hewan coba diberi Pb asetat sebanyak 100 mg/KgBB selama 42

hari secara oral (Danial 2005; Almarmudah 2005). Hsu et al (1998) menyatakan

bahwa paparan Pb pada konsentrasi tinggi menyebabkan peningkatan ROS pada

(38)

2.3. Antioksidan

Tubuh manusia mempunyai beberapa mekanisme untuk bertahan terhadap

radikal bebas dan ROS lainnya. Pertahanan yang bervariasi saling melengkapi satu

dengan yang lain karena bekerja pada oksidan yang berbeda atau dalam bagian

seluler yang berbeda (Tuminah, 2000).

Secara umum pengertian antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal

atau meredam efek negatif oksidan dalam tubuh, bekerja dengan cara mendonorkan

satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktifitas senyawa

oksidan tersebut dapat dihambat(Winarsi H, 2007).

Antioksidan dikelompokkan menjadi 2, yaitu :

1. Antioksidan enzimatis

2. Antioksidan non enzimatis

2.3.1. Antioksidan Enzimatis

Antioksidan enzimatis merupakan antioksidan endogenus, yang termasuk

didalamnya adalah enzim superoksida dismutase (SOD), katalase, glutation

peroksidase (GSH-PX), serta glutation reduktase (GSH-R) (Mates dan Jimenez,1999;

Tuminah, 2000,). Sebagai antioksidan, enzim-enzim ini bekerja menghambat

pembentukan radikal bebas, dengan cara memutuskan reaksi berantai (polimerisasi),

kemudian mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil, sehingga antioksidan

(39)

Enzim katalase dan glutation peroksidase bekerja dengan cara mengubah

H2O2 menjadi H2O dan O2 sedangkan SOD bekerja dengan cara mengkatalisis reaksi

dismutasi dari radikal anion superoksida menjadi H2O2 (Langseth L,1995; Winarsi H,

2007).

2.3.2. Antioksidan Nonenzimatis

Antioksidan non-enzimatis disebut juga antioksidan eksogenus, antioksidan

ini bekerja secara preventif, dimana terbentuknya senyawa oksigen reaktif dihambat

dengan cara pengkelatan metal, atau dirusak pembentukannya (Winarsi H, 2007).

Antioksidan non-enzimatis bisa didapat dari komponen nutrisi sayuran, buah dan

rempah-rempah. Komponen yang bersifat antioksidan dalam sayuran, buah dan

rempah-rempah meliputi vitamin C, vitamin E, β-karoten, flavonoid, isoflavon,

flavon, antosianin, katekin dan isokatekin (Kahkonen, et al, 1999). Senyawa-senyawa

fitokimia ini membantu melindungi sel dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh

radikal bebas.

2.4. Jahe (Zingiber officinale)

Tanaman jahe telah lama dikenal dan tumbuh baik di negara kita. Jahe

merupakan salah satu rempah penting. Rimpangnya sangat luas dipakai, antara lain

sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan dan minuman. Jahe

(40)

2.4.1. Taksonomi dan Morfologi

Kedudukan tanaman jahe dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan adalah

sebagai berikut,

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Subfamili : Zingiberoidae

Genus : Zingiber

Spesies : Zingeber officinale Rosc. (Rukmana,2000).

Tanaman jahe berbatang semu dengan tinggi antara 30 cm-75 cm, berdaun

sempit memanjang menyerupai pita. Tanaman jahe hidup merumpun, menghasilkan

rimpang dan berbunga

Berdasarkan ukuran dan warna rimpangnya, jahe dapat dibedakan menjadi 3

(tiga) varietas, yaitu:

1. Jahe besar (jahe gajah)

Ditandai dengan ukuran rimpang yang besar, berwarna muda atau kuning,

(41)

2. Jahe Putih kecil (Jahe Emprit)

Jahe ini ditandai dengan ukuran rimpang yang termasuk kategori sedang,

dengan bentuk agak pipih. Berwarna putih, berserat lembut, dan beraroma

serta berasa tajam.

3. Jahe Merah

Jahe ini ditandai dengan ukuran rimpang yang kecil. Berwarna merah jingga,

berserat kasar, beraroma serta berasa sangat tajam (pedas)

Jahe merah dan jahe kecil banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan.

Sedangkan jahe besar dimanfaatkan sebagai bumbu masak(Rukmana ,2000).

Jahe mengandung komponen minyak menguap (volatile oil), minyak tak

menguap (non-volatile oil). Minyak menguap memberi bau yang khas pada jahe,

sedangkan minyak tak menguap yang biasanya disebut oleoresin memberikan rasa

pedas dan pahit. Komponen utama dari oleoresin mengandung gingerol (C14H26O4,

C18H28O5), shogaol (C7H24O3), dan resin (Paimin dan Murhananto, 2008).

Rimpang jahe segar mengandung 80.9% uap lembab, 2,3% protein, 0,9%

lemak, 2,4% serat, 12,3% karbohidrat dan 1,2% mineral. Mineral yang terkandung

didalamnya seperti zat besi, calsium, fosfor, juga mengandung beberapa jenis vitamin

seperti thiamine, riboflavin, niacin dan vitamin C. Gingerol dan shogaol merupakan

komponen bahan aktif yang terdapat pada rimpang jahe segar. Rimpang jahe kering

mengandung 3-6% minyak lemak, 9% protein, 60-70% karbohidrat dan 2-3%

(42)

camphene, beta-phellandrene, curcumin, cineole, geranyl acetate, terphineol,

terpenes, borneol, geraniol, limonene, linalool, 30-70% alpaha zingiberone, 15-20%

beta-sesquiphelladrene, 10-15% beta bisabolene dan alpha farmesene.(Zachariah,

2008).

2.4.2. Farmakokinetik Jahe

Pengukuran kadar 6-gingerol dengan menggunakan HPLC (High Liquid

Chromatograph) setelah penyuntikan secara intravena 3 mg/Kg pada tikus percobaan

terdapat konsentrasi 6-gingerol antara 0,2-40 microgram/ml, dan sangat cepat di

bersihkan dari plasma dengan waktu paruh maksimal 7,23 menit (Ding GH et al,

1991). Pemberian per oral kepada tikus percobaan sebanyak 50 mg/Kg dosis

6-gingerol dieksresikan melalui empedulebih besar dari 60%, melalui urin sebanyak

16% dalam waktu 60 jam (Nakazawa T, 2002).

2.4.3. Khasiat Jahe

Sejak dahulu jahe dipergunakan sebagai bumbu dapur, bahan obat tradosional

dan aneka keperluan lainnya. Ekstrak ethanol jahe dapat melindungi lambung dari

berbagai keadaan seperti oleh karena obat-obatan, alkohol dan stress ulcer(Al-Yahya

M.A,1989).

Suekawa et al (1984) melakukan berbagai percobaan tentang efek

(43)

memiliki efek analgesik yang sama dengan aminopyrin dan memiliki efek antitusif

yang lebih kuat dari dihydrocodeine phosphate. Jahe(zingiber officinale) dapat

menghilangkan rasa sakit pada penderita rematik dan kelainan

tulang(Srivastva, 1992).

Hasil penelitian Kikuzaki dan Nakatani (1993) menyatakan bahwa oleoresin

jahe yang mengandung gingerol memiliki daya antioksidan melebihi α tokoferol,

sedangkan hasil penelitian Ahmed et al (2000) menyatakan bahwa jahe memiliki

daya antioksidan yang sama dengan vitamin C.

Jahe memiliki rimpang yang kaya akan kandungan poliphenol ternyata dapat

melindungi tubuh dari berbagai polutan yang ada di lingkungan. Pemberian 10% jahe

dalam makanan tikus putih dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT serta bilirubin

tikus putih tersebut yang dinduksi dengan merkuri klorida(Vitalis C et al, 2007).

Hasil penelitian Egwurugwu J.N (2007) pemberian zingiber officinale juga dapat

menurunkan kadar SGOT dan SGPT tikus putih yang diinduksi dengan cadmium.

Efek antioksidan jahe juga dapat meningkatkan hormon testosteron, LH dan

melindungi testis tikus putih yang diinduksi oleh fungisida mancozeb(Sakr SA et al,

2009).

Jahe yang digunakan sebagai bumbu dapur ternyata juga dapat melindungi

tubuh dari berbagai bahan kimia, hal ini dapat dilihat bahwa jahe dapat menurunkan

kadar glukosa darah, kolesterol dan triasilglyserol pada mencit yang diinduksi oleh

(44)

putih yang diinduksi oleh aloksan (Olayaki L.A et al, 2007). Penelitian Amir dan

Hamza (2006) menyatakan bahwa zingiber officinale dapat mengurangi jumlah

morfologi sperma tikus yang abnormal yang disebabkan oleh ciplastin. Rimpang jahe

juga bersifat nephroprotektif terhadap mencit yang diinduksi oleh gentamisin, dimana

gentamisin meningkatkan Reactive Oxygen Species (ROS) dan jahe yang

mengandung flavanoid dapat menormalkan kadar serum kreatinin, urea dan asam

urat pada tikus percobaan (Laksmi BV dan Sudhakar M, 2010).

Zakaria et al (2000) melakukan penelitian terhadap 24 mahasiswa pesantren

yang diberi minuman jahe selama 30 hari, memberikan hasil bahwa minuman jahe

dapat menurunkan kadar MDA plasma dan meningkatkan kadar vitamin E plasma

dibandingkan kelompok kontrol yang tidak diberi minuman jahe, dari hasil ini

menyatakan bahwa jahe berperan sebagi antioksidan dalam proses peroksidasi lipid

dimana dapat diukur dari kadar MDA plasma. Ekstrak jahe ternyata dapat sebagai

radioproteksi dengan menurunkan kadar enzim GPx dan MDA plasma mencit yang di

radiasi oleh fast neutron(NabilGM, et al, 2009).

Stoilova I et al.,2007 menyatakan bahwa ekstrak CO2 dari zingiber officinale

mengandung polyphenol yang menunjukkan kapasitas tinggi sebagai chelator

sehingga dapat mencegah inisiasi radikal hidroksil yang diketahui sebagai pencetus

terjadinya peroksidasi lipid, dengan demikian ekstrak CO2 dari jahe dapat digunakan

sebagai antioksidan. Gugus hidroksi fenolik dehidrozingeron mempunyai aktivitas

(45)

2.5. Sistem Reproduksi Jantan Pada Mencit

Sistem reproduksi mencit jantan terdiri atas testis dan kantong skrotum,

epididimis dan vas deferens, sisa sistem ekskretorii pada masa embryo yang berfungsi

untuk transport sperma, kelenjar asesoris, uretra dan penis, selain uretra dan penis,

semua struktur ini berpasangan (Rugh, 1967).

2.5.1. Testis

Setiap testis ditutupi dengan jaringan ikat fibrosa, tunika albugenia, bagian

tipisnya atau septa akan memasuki organ untuk membelah menjadi lobus yang

mengandung beberapa tubulus disebut tubulus seminiferus yang didalamnya

berlangsung produksi semua sel germinal fungsional jantan. Bagian tunika memasuki

testis dan bagian arteri testicular yang masuk disebut sebagai hilus. Arteri memberi

nutrisi terhadap setiap bagian testis, dan kemudian akan kontak dengan vena

testikular yang meninggalkan hilus (Rugh, 1967).

2.5.1.1. Tubulus Seminiferus Testis

Epitel tubulus seminiferus berada tepat dibawah membran basalis yang

dikelilingi oleh jaringan ikat fibrosa yang disebut jaringan peritubular yang

mengandung serat-serat jaringan ikat, sel-sel fibroblast dan sel otot polos yang

disebut dengan sel mioid. Diduga kontraksi sel mioid ini dapat mengubah diameter

(46)

ukuran panjang 30-70 cm dengan diameter bervariasi antara 150-250 µm (Junqueira,

2007). Epitel tubulus seminiferus terdiri dari sel spermatogenik dan sel sertoli yang

mengatur dan menyokong nutrisi spermatozoa yang berkembang, hal ini tidak

dijumpai pada sel tubuh lain. Sel-sel spermatogenik membentuk sebagian terbesar

dari lapisan epitel dan melalui proliferasi yang kompleks akan menghasilkan

spermatozoa(Rugh, 1967).

2.5.1.2. Sel Sertoli

Sel sertoli bersentuhan dengan dasarnya ke membran basalis dan menuju

lumen tubulus seminiferus. Di dalam inti sel sertoli terdapat nukleolus yang banyak,

satu bagian terdiri atas badan yang bersifat asidofilik disentral dan sisa badan yang

bersifat basidofilik di perifer. Sel sertoli diperkirakan mempunyai banyak bentuk

tergantung aktivitasnya. Pada masa istirahat berhubungan dekat dengan membran

basalis didekatnya dan inti ovalnya paralel dengan membran. Sel sertoli sebagai sel

penyokong untuk metamorfosis spermatid menjadi spermatozoa dan retensi

sementara dari spermatozoa matang, panjang, piramid dan intinya berada tegak lurus

dengan membran basalis. Sitoplasma dekat lumen secara umum banyak kepala

spermatozoa yang matang sedangkan ekornya berada bebas dalam lumen (Rugh,

(47)

2.5.1.3. Sel Spermatogenik

Sel spermatogenik membentuk lapisan epitel berlapis yang terdiri dari 4-8

lapis sel. Sel-sel ini berkembang secara progresif dari basal ke arah lumen tubulus

seminiferus. Sel sel spermatogenik yang terdapat dalam tubulus seminiferus adalah:

a. Spermatogonia

Spermatogenia bersandar pada bagian dalam lamina basalis tubulus

seminiferus, berukuran diameter sekitar 12 µm.

b. Spermatosit primer

Merupakan sel benih yang terbesar di dalam tubulus seminiferus dengan

diameter 17-19 µm, menempati daerah bagian tengah dari epitelium(Mariano SH

1986)

e. Spermatosit sekunder

Terletak lebih kearah lumen, besarnya lebih kurang setengah dari spermatosit

primer.

d. Spermatid

Merupakan sel-sel yang ukurannya jauh lebih kecil. Dengan nukleus yang

mengandung granula kromatin halus dan besar, umumnya terletak dalam

(48)

e. Spermatozoa

Mempunyai bentuk yang ramping, ukuran panjang sekitar 55-65 µ m, Kepala

spermatozoa yang kecil tertanam dalam sitoplasma sel-sel sertoli, ekornya menjulur

kedalam lumen tubulus seminiferus (Mariano SH, 1986).

Gambar 4. Gambaran histologis Tubulus Seminiferus testis

(49)

2.5.1.4. Sel Leydig

Antara tubulus adalah stroma interstisial, terdiri atas gumpalan sel Leydig

ataupun intertisial sel dan kaya akan darah dan cairan limfe. Sel interstisial testis

mempunyai inti bulat yang besar dan bergranul kasar. Sitoplasma bersifat eusinofilik.

Diyakini bahwa jaringan intertisial menguraikan hormon jantan testosteron

(50)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang didisain mengikuti

Rancangan Acak Lengkap (RAL). Jumlah hewan uji perkelompok ditentukan dengan

rumus (t-1) (n-1) ≥ 15. Jika t adalah perlakuan (dalam hal ini ada 6 kelompok

perlakuan) n adalah jumlah ulangan perkelompok, maka jumlah n yang diharapkan

(teoritis) adalah 4 (Federer, 1963).

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium FMIPA Biologi USU

Medan, Laboratorium terpadu FK USU Medan, Laboratorium Patologi Anatomi FK

USU Medan, Laboratorium Farmasi MIPA USU Medan dan Laboratorium Biomedik

FK USU. Penelitian dilakukan selama 8 minggu.

3.3. Bahan dan Alat Penelitian 3.3.1. Bahan Penelitian

(51)

minggu, belum pernah digunakan untuk percobaan lain dan mempunyai berat

badan antara 25- 35 gram yang diperoleh dari FMIPA Biologi USU Medan.

Bahan Kimia Ekstrak air rimpang jahe, aquadest, Plumbum asetat (Merck) , formalin 10%, Alkohol 70%, 80%, 90%, 96% dan alkohol absolut, parafin, xylol,

Hematoxylin-Eosin, kit pemeriksaan Malondialdehid (Oxitek).

Reagensia :

1. 2-Thiobarbiturat acid

2. 1,1,3,3-terramethoxypropane 99% , 600 µM

3. Acetic acid glacial

4. Sodium hydroxide (NaOH)

3.3.2. Alat-alat Penelitian

Jarum oval (Gavage), spuit 1 ml, bak bedah dan dissecting set, gelas arloji,

cawan peteri, batang pengaduk, waterbath, timbangan merek OHAUSS, timbangan

merek Sartorius, vertex, mixer, sentrifuse effendrop, spektrofotometri, labu ukur, labu

Erlenmeyer, Buret, mikroskop cahaya merek Olympus.

3.4. Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel independent

• Plumbum asetat

(52)

3.4.2 Variabel dependent

• Kadar MDA testis mencit

• Gambaran histopatologis: - diameter tubulus seminiferus mencit

- tebal epitel tubulus seminiferus mencit.

3.5. Definisi operasional

• Plumbum asetat : merupakan suatu logam berat dengan rumus kimia

(Pb(C2H3O2)·3H2O).

• Ekstrak air jahe : rimpang jahe segar yang di olah menjadi ekstrak air jahe

dengan cara maserasi

• Kadar malondialdehid (MDA) : jumlah kadar MDA (mikromol)

dalam jaringan testis (g).

• Gambaran histopatologis jaringan : pemeriksaan terhadap perubahan-

perubahan abnormal pada tingkat jaringan

secara mikro anatomi.

3.6. Etika Penggunaan Hewan Penelitian

Penggunaan dan penanganan hewan penelitian dilakukan sesuai dengan

aturan etika penelitian hewan penelitian yang diatur dalam Deklarasi Helsinki untuk

memperoleh “ethical clearance” dari komite etik penelitian hewan FMIPA Biologi

(53)

3.7. Pelaksanaan Penelitian

3.7.1. Pemeliharaan Hewan Percobaan

Mencit ditempatkan di dalam kandang yang terbuat dari bahan plastik (ukuran

30x20x10 cm) yang ditutup dengan kawat kasa. Dasar kandang dilapisi dengan

sekam padi setebal 0,5-1 cm dan diganti setiap tiga hari. Cahaya ruangan dikontrol

persis 12 jam terang (pukul 06.00 sampai dengan pukul 18.00) dan 12 jam gelap

(pukul 18.00 sampai dengan pukul 06.00), sedangkan suhu dan kelembaban

ruangan dibiarkan berada pada kisaran alamiah. Pakan (pellet komersial) dan minum

(air PAM) diberikan ad libitum setiap hari. Percobaan dimulai setelah aklimatisasi.

3.7.2. Sampling Ekstrak Jahe (Zingiber officinale )

Rimpang jahe yang digunakan untuk penelitian ini diambil dari daerah

sidikalang desa sumbul pegaga.

3.7.3. Pembuatan Ekstrak Jahe

- Rimpang jahe dibersihkan, kemudian diiris tipis dengan ketebalan ± 1- 2 mm,

dikering anginkan, di timbang lalu dihaluskan dengan blender sampai

menjadi serbuk.

- Serbuk jahe dimaserasi dengan aquadest selama ± 48 jam, sampai didapat cairan

(54)

pekat, kemudian ekstrak pekat ini di fresh dryer hingga menjadi ekstrak kering

(Hartanto, 2008). (Lampiran A).

3.7.4. Uji Kandungan Kimia ekstrak Jahe

Uji yang dilakukan pada penelitian ini dengan menggunakan metode fitokimia

Adalah sebagai berikut:

- Uji zat fenolik dilakukan dengan cara menambahkan ekstrak jahe dengan FeCl3,

hasil uji positif mengandung zat fenolik jika terbentuk larutan hitam pada sampel.

- Uji zat flavonoid dilakukan dengan menggunakan Mg-HCl encer yang ditambahkan

dengan ekstrak jahe, hasil uji positif mengandung zat flavonoid jika terbentuk

larutan berwarna merah jambu pada sampel.

- Uji zat alkoloid dilakukan dengan menggunakan pereaksi Wagner, pereaksi Meyer,

dan pereaksi Dragendorff. Ekstrak jahe ditambahkan dengan masing-masing

pereaksi, hasil uji positif mengandung zat alkoloid jika terbentuk endapan berwarna

putih pada sampel.

- Uji zat steroid dilakukan dengan menggunakan H2SO4 dan pereaksi LB (Lieberman-

Burchad). Ekstrak jahe ditambahkan dengan masing-masing zat. Uji dengan cara

menambahkan ekstrak jahe dengan H2SO4, hasil uji positif jika terbentuk larutan

berwarna merah pada sampel. Dan uji dengan cara menambah ekstrak jahe dengan

pereaksi LB (Lieberman-Burchard), hasil uji positif jika terbentuk larutan berwarna

(55)

- Uji zat saponin dilakukan dengan cara menambahkan ekstrak jahe dengan akuades,

lalu dikocok sampai terbentuk buih, hasil uji positif jika buih yang dihasilkan setelah

didiamkan selama 15 menit tetap ada dan tinggi buih yang dihasilkan ± 2cm

(Harborne, 1987).

3.7.5. Perhitungan Dosis Ekstrak Jahe dan Plumbum asetat

Dosis plumbum asetat yang digunakan sebesar 100 mg/KgBB sesuai dengan

penelitian Daniel (2008). Penentuan dosis ekstrak jahe pada mencit berdasarkan

dosis ekstrak jahe yang aman bagi sistem reproduksi tikus jantan yaitu sebesar

500mg/KgBB dan 1000mg/KgBB dengan berat badan tikus yang digunakan

± 200 gram (Morakinyo et al, 2008). Pemberian dosis ekstrak jahe untuk mencit

dengan menggunakan tabel konversi dosis (Harmita, 2008)(Lampiran 5) Angka

konversi dari tikus dengan berat badan 200 g ke mencit dengan berat

badan 20 g yaitu sebesar 0,14g .

Dengan demikian perhitungan dosis ekstrak jahe adalah:

- 500mg/KgBB = 0,5 mg/gBB ¢ 0,5 x 200 = 100 mg/200gBB tikus

100 x 0,14 = 14mg/20 gBB mencit

= 0,7mg/gBB mencit

- 1000mg/KgBB = 1 mg/gBB ¢ 1 x 200 = 200 mg/200gBB tikus

200 x 0,14 = 28 mg/20 gBB mencit

(56)

Maka dosis ekstrak jahe yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 0,7mg/gBB dan

1,4mg/gBB. Pemberian Ekstrak jahe dan Plumbum asetat diberikan masing-masing

sebanyak 0,5 ml, hal ini berdasarkan bahwa volume maksimum larutan yang

diberikan pada mencit dengan berat 20-30g per oral adalah sebanyak 1 ml (Harmita,

2008).

3.7.6. Perlakuan Hewan Percobaan

Jumlah keseluruhan hewan coba yang dipergunakan dalam penelitian ini

adalah sebanyak 24 ekor. Penelitian ini terdiri atas 6 kelompok perlakuan, yaitu:

a) Kelompok I (P0) = terdiri dari 4 ekor mencit jantan dewasa yang diberi

aquadest sebanyak 0,5 ml secara oral selama 42 hari.

b) Kelompok II (P1) = terdiri dari 4 ekor mencit jantan dewasa yang diberi

ekstrak jahe 0,7 mg/gBB diberikan secara oral per hari selama 42 hari.

c) Kelompok III (P2) = terdiri dari 4 ekor mencit jantan dewasa yang

diberi ekstrak jahe 1,4mg/gBB diberikan secara oral per hari selama

42 hari.

d) Kelompok IV (P3) = terdiri dari 4 ekor mencit jantan dewasa yang

diberi plumbum asetat 0,1 mg/gBB diberikan secara oral per hari selama

42 hari.

e) Kelompok V (P4) = terdiri dari 4 ekor mencit jantan dewasa yang

(57)

diberi plumbum asetat 0,1 mg/gBB diberikan secara oral per hari selama

42 hari.

f) Kelompok VI (P5) = terdiri dari 4 ekor mencit jantan dewasa yang diberi

ekstrak jahe 1,4mg/gBB diberikan secara oral, satu jam kemudian diberi

plumbum asetat 0,1 mg/gBB diberi secara oral per hari selama 42 hari.

Tabel 2. Perlakuan Hewan Coba

Kelompok/ Aquadest Ekstrak Jahe Pb Asetat

Perlakuan

Lamanya pemberian

P0 0,5 ml/oral 42 hari

P1 0,7 mg/gBB/oral 42 hari

P2 1,4 mg/gBB/oral 42 hari

P3 0,1mg/gBB/oral 42 hari

P4 0,7 mg/gBB/oral 0,1mg/gBB/oral 42 hari

P5 1,4 mg/gBB/oral 0,1mg/gBB/oral 42 hari

3.7.7. Prosedur Pelaksanaan Uji Pengaruh Pemberian Ekstrak Jahe

Sebelum percobaan, mencit jantan ditimbang dan ditempatkan dalam kandang

tersendiri di dalam ruangan laboratorium (aklimatisasi). Mencit dibagi secara acak ke

(58)

Hari

Gambar 5. Prosedur pelaksanaan uji pengaruh ekstrak jahe

Aklimatisasi Perlakuan

pada hewan percobaan

Dekapitasi/ Pembedahan

P0 P1 P2 P3 P4 P5

Pada hari ke 43 mencit didekapitasi dan dilakukan pemeriksaan:

§ MDA testis • Histologi jaringan testis :

(59)

3.7.8. Prosedur Pemeriksaan dan Pengamatan

Setelah 42 hari perlakuan, masing-masing hewan coba dikorbankan dengan

cara dislokasi leher dan selanjutnya dilakukan pembedahan dengan cara mencit

diletakkan pada bak bedah dengan keempat anggota gerak terfiksasi. Scrotum dibuka

dengan gunting hingga tampak testis. Testis dianggkat dengan memotong duktus

epididimis. Setelah dikeluarkan maka testis dibersihkan dari jaringan ikat dan lemak.

Kemudian dilakukan pengamatan sebagai berikut :

3.7.8.1. Pengamatan kadar MDA Testis mencit

Pemeriksaan kadar MDA testis mencit dilakukan pada hari ke-42 setelah

perlakuan pada semua kelompok. Testis dihomogenkan dalam 5 ml larutan buffer

phosphate (pH 7,2). Metode pemeriksaan MDA menurut Rao et al., dan

Hsieh et al, (2006) yang telah dimodifikasi sebagai berikut :

• Reagensia :

1) 2-Thiobarbiturat acid (Merck.Cat. No. 1.08180.0025)

2) 1,1,3,3-terramethoxypropane 99% , 600 µM

3) Acetic acid glacial

4) Sodium hydroxide (NaOH)

(60)

a) Persiapan Reagensia

• TBA/Buffer Reagent

TBA/Buffer Reagent terdiri dari : 0,67 g 2-thiobarbituric acid dilarutkan dalam

100 mL aquadest, selanjutnya 0,5 g sodium hydroxide dan 100 asam asetat glacial.

• Standard MDA

Sebanyak 250 µL 1,1,3,3-tetramethoxypropane (Malondialdehid bis) 500 µM

dilarutkan dalam 750 µL aquadest untuk memperoleh larutan stok MDA 125 µM.

Selanjutnya dari larutan stok MDA 125 µM dilarutkan dalam aquadest dan dibuat

8 seri standar yang dapat dilihat pada table di bawah ini :

Tabel 3. Persiapan standar MDA untuk spektrofotometri

Nomor

tabung ependorf yang masing-masing telah diberi label.

2) Ditambahkan 0,5 ml aquadest pada masing-masing tabung.

(61)

4) Selanjutnya masing-masing tabung diinkubasi di dalam

waterbath dengan suhu 950C selama 60 menit.

5) Setelah diinkubasi, masing-masing tabung dikeluarkan dari waterbath

dan setelah dingin masing-masing tabung disentrifugasi dengan

kecepatan 7000 rpm selama 10 menit.

6) Supernatan diambil untuk selanjutnya dianalisa dengan

spektrofotometer UV pada panjang gelombang 534 nm.

3.7.8.2. Pengamatan Gambaran Mikroskopis Tubulus Seminiferus Testis Mencit

Pengamatan gambaran mikroskopis diameter dan ketebalan epitel tubulus

seminiferus testis mencit, dibuat sediaan histologis menurut Suntoro, S.H, (1983)

dengan metode parafin, menggunakan pewarnaan HE (Hematoksilin Eosin). Sesuai

dengan cara yang lazim dikerjakan dalam pembuatan sediaan histologis yaitu: fiksasi,

pencucian, dehidrasi, penjernihan, infiltrasi parafin, penanaman, pengirisan,

penempelan, deparafinasi, pewarnaan, penutupan dan pemberian label.

Fikasasi

Jaringan testis diambil, kemudian difiksasi dalam larutan formalin

selama 2-10 jam.

Pencucian

(62)

Dehidrasi

Dilakukan secara bertahap, dengan alkohol 70% selama 10 menit, alkohol

80%, 90%, 96%, masing-masing selama 60 menit, kemudian dengan alkohol absolut

30 menit.

Penjernihan

Dilakukan segera setelah proses dehidrasi dengan menggunakan toluol murni.

Infiltrasi

Proses infiltasi parafin dilakukan di dalam oven dengan suhu 56ºC. Organ

testis dimasukkan kedalam campuran toluol-parafin dengan perbandingan 1:1 selama

30 menit. Kemudian berturut dimasukkan kedalam:

Parafin Murni I selama 1 jam

Parafin Murni II selama 1 jam

Parafin murni III selama 1 jam

Penanaman

Sediaan dari parafin murni III dimasukkan kedalam kotak kertas kecil sebagai

cetakan yang telah berisi parafin cair, dan dibiarkan sampai parafin mengeras.

Pengirisan

Blok parafin testis yang telah mengeras ditempelkan pada holder dengan

menggunakan spatula, letakkan holder beserta blok parafin pada tempatnya di

(63)

Penempelan

Pada gelas benda diolesi dengan albumin dan ditetesi dengan akuades.

Kemudian beberapa pipa parafin diletakkan di permukaan akuades pada gelas benda

dan dibiarkan beberapa saat, kemudian gelas benda dipindahkan ke meja pemanas

hingga kering.

Pewarnaan

Pewarnaan dengan hematoxylin-Eosin (H-E) melalui tahapan:

• Deparafinisasi preparat dengan xylol sampai bebas parafin

• Hidrasi dengan alkohol 96%, 90%, 80%, 70%, 50%, 30%, akuades

• Inkubasi dalam larutan haematoxylin Erlich selama 30 menit

• Cuci dengan air mengalir ± 10 menit

• Dicelupkan kedalam akuades

• Dimasukkan alkohol 30%, 50%, 70%

• Kemudian dimasukkan kedalam larutan Eosin 0,5% selama 3 menit

• Dehidrasi dengan alkohol mulai dari 70%, 80%, 90% dan alkohol absolut

• Dikeringkan dengan kertas penghisap

• Inkubasi dengan xylol selama 1 malam

• Preparat ditutup dengan gelas penutup setelah ditetesi dengan kanada balsem

terlebih dahulu, lalu diberi label.

Pewarnaan dengan hematoksilin-eosin (HE) yang akan menyebabkan inti berwarna

Figur

Gambar 1.  Kerangka teori
Gambar 1 Kerangka teori . View in document p.25
Gambar 3.  Reaksi antara metal dengan Sulphydryl (SH) Group
Gambar 3 Reaksi antara metal dengan Sulphydryl SH Group . View in document p.35
Tabel-1. Efek Plumbum di berbagai organ tubuh
Tabel 1 Efek Plumbum di berbagai organ tubuh . View in document p.36
Gambar 4.  Gambaran histologis Tubulus Seminiferus testis
Gambar 4 Gambaran histologis Tubulus Seminiferus testis . View in document p.48
Tabel 2. Perlakuan Hewan Coba
Tabel 2 Perlakuan Hewan Coba . View in document p.57
Gambar 5. Prosedur pelaksanaan uji pengaruh ekstrak jahe
Gambar 5 Prosedur pelaksanaan uji pengaruh ekstrak jahe . View in document p.58
Tabel 4. Jadwal Penelitian.
Tabel 4 Jadwal Penelitian . View in document p.65
Gambar 6. Grafik Kadar rata-rata MDA Testis Mencit Jantan Dewasa (µM/mL). Keterangan;  P0 (0,5 ml aquabidest); P1 (ekstrak jahe 0,7 mg/gBB); P2 (ekstrak jahe 1,4 mg/gBB);  P3 (Pb asetat 0,01 mg/gBB); P4 (ekstrak jahe, 0,7mg/gBB  + Pb asetat 0,01mg/gBB); P5
Gambar 6 Grafik Kadar rata rata MDA Testis Mencit Jantan Dewasa M mL Keterangan P0 0 5 ml aquabidest P1 ekstrak jahe 0 7 mg gBB P2 ekstrak jahe 1 4 mg gBB P3 Pb asetat 0 01 mg gBB P4 ekstrak jahe 0 7mg gBB Pb asetat 0 01mg gBB P5. View in document p.67
Gambar 7. Grafik rata-rata Diameter Tubulus Seminiferus Testis Mencit Jantan (µm). Grafik histogram pada perlakuan berbeda yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata pada taraf uji 5%
Gambar 7 Grafik rata rata Diameter Tubulus Seminiferus Testis Mencit Jantan m Grafik histogram pada perlakuan berbeda yang diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata pada taraf uji 5 . View in document p.68
Gambar 8. Grafik rata-rata Tebal Epitel Tubulus Seminiferus Testis Mencit(µm).  Keterangan: P0 (0,5 ml aquabidest); P1 (ekstrak jahe 0,7 mg/gBB); P2 (ekstrak jahe 1,4 mg/gBB);  P3 (Pb asetat 0,01 mg/gBB); P4 (ekstrak jahe, 0,7 mg/gBB + Pb asetat 0,01 mg/gB
Gambar 8 Grafik rata rata Tebal Epitel Tubulus Seminiferus Testis Mencit m Keterangan P0 0 5 ml aquabidest P1 ekstrak jahe 0 7 mg gBB P2 ekstrak jahe 1 4 mg gBB P3 Pb asetat 0 01 mg gBB P4 ekstrak jahe 0 7 mg gBB Pb asetat 0 01 mg gB. View in document p.70
Gambar 9: Gambar Histopatologi Tubulus Seminiferus Testis mencit, HE-400x (a) Kelompok Kontrol(P0); tanda panah biru pengukuran tebal epitel tubulus       seminiferus, tanda panah hitam pengukuran diameter tubulus seminiferus
Gambar 9 Gambar Histopatologi Tubulus Seminiferus Testis mencit HE 400x a Kelompok Kontrol P0 tanda panah biru pengukuran tebal epitel tubulus seminiferus tanda panah hitam pengukuran diameter tubulus seminiferus. View in document p.71
Tabel 6. Data Kadar MDA dalam Testis Mencit Jantan Dewasa (µM/mL)
Tabel 6 Data Kadar MDA dalam Testis Mencit Jantan Dewasa M mL . View in document p.87
Tabel 7. Data Diameter Tubulus Seminiferus Testis.
Tabel 7 Data Diameter Tubulus Seminiferus Testis . View in document p.89
Tabel 8. Data Tebal Lapisan Epitel Tubulus Seminiferus Testis.
Tabel 8 Data Tebal Lapisan Epitel Tubulus Seminiferus Testis . View in document p.93

Referensi

Memperbarui...