ANALISIS PENGARUH TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA, PERTUMBUHAN EKONOMI, PENGELUARAN PEMERINTAH SEKTOR PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 1995-2012

83 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ANALYSIS EFFECT OF UNEMPLOYMENT, ECONOMIC GROWTH, GOVERNMENT EXPENDITURES EDUCATION SECTOR AND HEALTH

SECTOR TO THE HUMAN DEVELOPMENT INDEX IN LAMPUNG YEAR 1995-2012

By

DWI ADI PUTRA

ABSTRACT

This study aimed to determine the effect of unemployment, economic growth, government expenditure education and health sectors, to the Human Development Index in Lampung Province. The data used is the data traces year period 1995-2012, the analysis technique used is using multiple regression analysis approach Ordinary Least Square (OLS). The results of this study showed that of the four independent variables that open unemployment, economic growth, the Government Expenditures Education Sector and Health Sector has a significant influence on the Human Development Index in Lampung Province. Based on the calculation of multiple regression analysis were taken from the results of parameter estimation, variable coefficient of unemployment - 0.01496, 0.02334 for economic growth, government expenditure amounted to 0.02992 education sector, and health sector government expenditure by 0.01871. Advice can be given in this study is needed the government's efforts to reduce unemployment, increase economic growth, and improve the allocation of government expenditure especially in the education and health sectors to improve the quality of the human development index.

(2)

ANALISIS PENGARUH TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA, PERTUMBUHAN EKONOMI, PENGELUARAN PEMERINTAH SEKTOR

PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 1995-2012

Oleh

DWI ADI PUTRA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengangguran terbuka, pertumbuhan ekonomi, pengeluaran pemerintah sektor pendidikan dan sektor kesehatan, terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung. Data yang digunakan adalah data runutan waktu tahun 1995-2012, teknik analisis yang digunakan yaitu mengunakan analisis regresi berganda dengan pendekatan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari keempat variabel bebas yaitu Pengangguran terbuka, Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan dan Sektor Kesehatan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung. Berdasarkan perhitungan analisis regresi berganda yang diambil dari hasil estimasi parameter, diperoleh koefisien variabel pengangguran terbuka sebesar –0,01496, pertumbuhan ekonomi sebesar 0,02334, pengeluaran pemerintah sektor pendidikan sebesar 0,02992, dan pengeluaran pemerintah sektor kesehatan sebesar 0,01871. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah diperlukan upaya pemerintah untuk mengurangi jumlah pengangguran, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan alokasi pengeluaran pemerintah khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan untuk meningkatkan kualitas indeks pembangunan manusia.

(3)
(4)

ANALISIS PENGARUH TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA, PERTUMBUHAN EKONOMI, PENGELUARAN PEMERINTAH SEKTOR

PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 1995-2012

(Skripsi)

Oleh

DWI ADI PUTRA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Dwi Adi Putra, dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 18 Juli 1992. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dari Bapak Maryadi dan Ibu Lasini, Adik dari Eko Junianto, S.A.B. dan kakak dari Yoga Arditria Permana.

Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) Kartika II-31 (1997-1998), Sekolah Dasar Kartika II-6 (1998-2004), Sekolah Menengah Pertama Negeri 9 Bandar Lampung (2004-2007), Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Bandar Lampung (2007-2010). Kemudian pada tahun 2010 penulis diterima melalui jalur SNMPTN dan akhirnya terdaftar sebagai Mahasiswa di Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas

Ekonomi Universitas Lampung dan sampai bulan Januari tahun 2015 penulis menyelesaikan studinya.

Pada tahun 2013 penulis melaksanakan Kuliah Kunjung Lapangan (KKL) di Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementrian Koperasi dan UMKM, dan Bank Indonesia (BI).Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2014 selama 40 hari di Desa Banding Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung

(9)

MOTO

“Pelajari olehmu ilmu sebab menuntutnya merupakan ibadah,

mengulangnya merupakan tasbih, membahasnya merupakan jihad, mengerjakannya merupakan sedekah dan

menyerahkan kepada ahlinya merupakan pendekatan diri kepada Allah SWT ” (Hr. Ibnu ‘Abdil-Barr)

“Kesuksesan bukanlah segalanya dalam hidup, tetapi kebahagiaan dan

ketenangan hatilah menjadi sebuah hal yang paling utama dalam hidup”

(Dwi Adi Putra)

“Masa lalu adalah kenangan, Masa sekarang ialah kenyataan, Masa depan merupakan harapan”

(10)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk Allah SWT. Sebagai rasa syukur atas ridho serta karunia-Nya sehingga skripsi ini telah terselesaikan dengan baik. Serta Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman

kebodohan menuju zaman ilmu pengetahuan Alhamdulillaahirabbil’ alamiin.

Untuk kedua orang tuaku Bapak Maryadi dan Mama Lasini, kakakku Eko Junianto, S.A.B. dan adikku Yoga Arditria Permana terima kasih atas doa, pengorbanan, dan dukunganya yang selama ini diberikan untuk kelancaran

skripsi ini, kalian adalah harta berharga dalam hidupku.

Dosen-dosen serta sahabat-sahabat terbaik yang turut memberikan arahan, dukungandan doa yang menambahkan semangat atas selesainya skripsi ini.

Juga almamater tercinta. Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

(11)

SANWACANA

Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji syukur penulis

ucapkankan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “Analisis Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka, Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Indeks Pembangunan Manusia Di Provinsi Lampung Tahun 1995-2012”. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Lampung.

Penulis telah banyak menerima bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati sebagai wujud rasa hormat dan penghargaan serta terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E, M.Si. selalu Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

2. Bapak M.Husaini, S.E, M.E.P. selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.

(12)

dan saran dalam proses penyusunan skripsi ini hingga akhir kepada penulis. 5. Bapak M.A Irsan Dalimuthe, S.E, M.Si. selaku Pembimbing Akademik

yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan, dan saran dalam proses perkuliahan.

6. Seluruh bapak dan ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah membekali penulis dengan ilmu dan pengetahuan selama masa perkuliahan. 7. Keluargaku Tercinta, Bapak dan Mama yang tiada hentinya mendukung dan

tak pernah lelah mendoakan, kakak dan adikku yang selalu memberikan senyuman penyemangat dan doa yang tulus ikhlas.

8. Bu Mar, Bu Yati, Mas Kus, pakde kantin, pakde-pakde, dan para staf Ekonomi Pembangunan yang telah membantu kelancaran proses skripsi ini. 9. Teman terbaikku di masa kuliah Chairman, Febri, Ardan, Dede, Dicki,

Darus, dan Dimas yang selalu saya repotkan, pemberi semangat, doa dan motivasi.

10. Teman-teman Ekonomi Pembangunan 2010 Danny Chandra, Beny, Andhika, Abah, Sandy, Yanu, Zulmi, Desy Ratnasari, Sonia, Dania, Tante, Ajeng, dan lainnya yang telah memberikan bantuan dan semangat dalam hidup. Serta seluruh teman-teman EP’10 yang tak dapat disebut satu persatu karena keterbatasan yang ada.

(13)

yang telah memberikan pengalaman serta kebersamaan yang luar biasa selama masa KKN.

13. Kakak tingkat EP angkatan 2007, 2008, dan 2009 serta adik-adik EP angkatan 2011 dan 2012 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu namun terima kasih banyak , atas dukungannya.

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan pengorbanan bapak, ibu, kakak, adik, dan teman-teman. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan akan tetapi penulis berharap semoga karya ini berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, 15 Januari 2015 Penulis

(14)

DAFTAR ISI

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 15

1. Tujuan Penelitian ... 15

2. Kegunaan Penelitian ... 15

D. Kerangka Teoritis ... 16

E. Hipotesis ... 17

II.TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Indeks Pembangunan Manusia ... 19

1. Komponen Pembangunan Manusia ... 23

2. Pengukuran Indeks Pembangunan Manusia ... 26

3. Manfaat Indeks Pembangunan Manusia ... 27

B. Teori Pengangguran ... 27

C. Teori Pertumbuhan Ekonomi ... 30

1. Teori Pertumbuhan Klasik ... 30

2. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik ... 31

3. Teori Pertumbuhan Ekonomi Modern ... 32

D. Teori Pengeluaran Pemerintah ... 34

E. Hubungan Antar Variabel ... 37

1. Hubungan antara Pengangguran Terbuka dengan IPM ... 37

2. Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi dengan IPM ... 39

3. Hubungan antara Pengeluaran Pemerintah dengan IPM ... 40

F. Studi Empirik (Penelitian Terdahulu) ... 42

III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Sumber Data ... 45

B. Operasionalisasi Variabel ... 46

C. Metode Analisis Data ... 48

(15)

1. Uji Asumsi Klasik ... 49

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Perhitungan ... 60

4. Uji Multikolinearitas... 69

4.1. Komponen Utama Mengatasi Masalah Multikolonearitas . 70 C. Hasil Estimasi Regresi setelah uji Komponen Utama ... 71

D. Pengujian Hipotesis ... 74

1. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t) ... 75

2. Pengujian Hipotesis Secara Keseluruhan (Uji F ... 78

V.SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 80

B. Saran ... 81

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman 1 Tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2007-2011

di Provinsi – Provinsi Pulau Sumatera ... 3

2 Angka Harapan Hidup dan Angka Melek Huruf di Provinsi Lampung tahun 2003-2012 ... 4

3 Tingkat Pengeluaran Pemerintah sektor Pendidikan dan Kesehatan tahun 1995-2012 di Provinsi Lampung ... 13

4 Penelitian Terdahulu ... 42

5 Hasil Perhitungan Ordinary Least Square (OLS) ... 61

6 Uji Normalitas Untuk Variabel Y ... 63

7 Uji Normalitas Untuk Variabel X1 ... 64

8 Uji Normalitas Untuk Variabel X2 ... 64

9 Uji Normalitas Untuk Variabel X3 ... 64

10 Uji Normalitas Untuk Variabel X4 ... 64

11 Uji Heterokedastisitas ... 67

12 Uji Autokorelasi ... 68

13 Uji Multikolinearitas ... 70

14 Uji Analisis Komponen Utama ... 70

15 Hasil Regresi setelah uji Komponen Utama ... 71

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 1. Tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 1995-2012

di Provinsi Lampung ... 5 2. Tingkat Pengangguran Terbuka tahun 1995-2012 di Provinsi

Lampung... 7 3. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi tahun 1995-2012 di Provinsi

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

(19)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan merupakan proses struktural dalam penyeimbangan ekonomi yang terdapat dalam suatu masyarakat sehingga membawa kemajuan dalam arti peningkatan taraf hidup atau penyempurnaan mutu kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Pada hakekatnya pembangunan adalah proses perubahan yang berjalan secara terus menerus untuk mencapai suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik, secara material maupun spiritual, pembangunan haruslah dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan

struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, serta institusi-institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan dalam pendapatan, dan pengentasan kemiskinan (Todaro, 2006:208). Paradigma

pembangunan menempatkan manusia sebagai fokus dan sasaran akhir dari pembangunan, yaitu tercapainya penguasaan atas sumberdaya, Peningkatan pendidikan dan peningkatan derajat kesehatan. Kesejahteraan masyarakat meliputi semua bentuk intervensi sosial dengan tujuan utama pada usaha peningkatan kesejahteraan individu dan masyarakat yaitu terpenuhinya segala bentuk

(20)

Untuk melihat sejauh mana keberhasilan pembangunan dan kesejahteraan manusia, UNDP telah menerbitkan suatu indikator yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) untuk mengukur kesuksesan pembangunan dan kesejahteraan suatu negara. IPM adalah suatu tolak ukur angka kesejahteraan suatu daerah atau negara yang dilihat berdasarkan tiga dimensi yaitu: angka harapan hidup pada waktu lahir (life expectancy at birth), angka melek huruf (literacy rate) dan rata-rata lama sekolah (mean years of schooling), dan kemampuan daya beli

(purchasing power parity). Indikator angka harapan hidup mengukur kesehatan, indikator angka melek huruf penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah mengukur pendidikan dan terakhir indikator daya beli mengukur standar hidup. Ketiga indikator tersebut saling mempengaruhi satu sama lain, selain itu dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti ketersediaan kesempatan kerja yang ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah sehingga IPM akan meningkat apabila ketiga unsur tersebut dapat ditingkatkan dan nilai IPM yang tinggi menandakan keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara. (United Nation Development Programme, UNDP, 1993:148).

(21)

provinsi-provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Dan bisa dilihat di Tabel 1. dibawah ini mengenai Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera.

Tabel 1. Tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2007-2011 di Provinsi – Provinsi Pulau Sumatera

Nama Provinsi 2007 2008 2009 2010 2011 Sumber: BPS Pusat Indonesia, tahun 2013

Berdasarkan tabel 1 diatas bahwa Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera setiap tahunnya dari tahun 2007-2011 selalu mengalami peningkatan. Dilihat dari data diatas bahwa Provinsi Riau mempunyai nilai Indeks

Pembangunan Manusia yang paling tinggi diantara provinsi-provinsi lainnya di Pulau Sumatera. Secara umum nilai rata-rata Indeks Pembangunan Manusia yang terdapat di sepuluh provinsi Pulau Sumatera angkanya diatas nilai IPM Indonesia yang dihitung secara keseluruhan di setiap provinsi di seluruh Indonesia. Hal ini pantas bila provinsi-provinsi Pulau Sumatera menjadi barometer bagi laju pengembangan pembangunan dan perekonomian di Indonesia setelah provinsi-provinsi yang terdapat di Pulau Jawa.

Provinsi Lampung merupakan wilayah yang terletak di ujung selatan Pulau

(22)

strategis Provinsi Lampung seharusnya menjadi contoh berkembangnya Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera. Akan tetapi, tingkat Indeks

Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung sampai saat ini masih tergolong terendah se-Sumatera bahkan dibawah rata-rata angka IPM di Indonesia, hal ini dapat kita lihat dari data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Lampung tahun 2007-2012 di tabel 1. Hal tersebut mencerminkan ada yang kurang baik dari perkembangan pembangunan manusia, kemajuan perekonomian dan sistem pemerintahan yang menyebabkan tidak berkembangnya Provinsi Lampung dibandingkan dengan provinsi lainya di Pulau Sumatera. Dengan menggunakan dua indikator dari penilaian Indek Pembangunan Manusia yaitu angka harapan hidup dan angka melek huruf dari tahun 2003- 2012 di Provinsi Lampung kita bisa melihat apakah terdapat masalah dalam rangka untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia tersebut.

Tabel 2. Angka Harapan Hidup dan Angka Melek Huruf di Provinsi Lampung tahun 2003-2012

Tahun Angka Harapan Hidup (tahun)

Sumber: BPS Provinsi Lampung, tahun 2013

(23)

indikator tersebut menunjukan hal yang baik untuk peningkatan nilai dari indeks pembangunan di Provinsi Lampung. Hal tersebut bahwa tidak ada masalah yang berarti dalam perkembangan indeks pembangunan manusia di Provinsi Lampung walaupun dilihat dari angka indeks pembangunan manusia sedikit tertinggal dengan provinsi-provinsi di Pulau Sumatera lainnya.

Berikut ini disajikan data lebih lengkap tentang laju pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Lampung dari Tahun 1995-2012:

Gambar 1. Tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 1995-2012 di Provinsi Lampung

Sumber: BPS Provinsi Lampung, tahun 2013

Berdasarkan gambar 1 bisa kita lihat bahwa Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Lampung dari tahun 1995-2012 terjadi pergerakan yang fluktuatif, terutama tahun disaat sebelum dan sesuadah krisis moneter. Namun pada tahun 1999-2012 tingkat dari Indek Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung terus mengalami peningkatan. Walaupun peningkatannya tidak terlalu signifikan tetapi hal ini sangat membantu dalam segi pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung.

65.8

(24)

Pada tahun 2002 IPM Lampung yaitu 65,80 angka tersebut menunjukan bahwa Provinsi Lampung dalam aspek Indeks Pembangunan Manusia masih digolongkan dalam kelompok menengah kebawah. Dalam skala internasional, status Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung angkanya tergolong dalam

kelompok menengah ke atas (66<IPM<80), sehingga masih diperlukan komitmen dan kerja keras yang kuat dari pemerintah provinsi, dalam meningkatkan

kapasitas dasar penduduk yang berdampak pada kualitas hidup.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia adalah pengangguran, dimana pembangunan sektor ketenagakerjaan sebagai bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia. Menurut Sadono Sukirno (2004:76), efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran dan

kesejahteraan yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena pengangguran tentunya akan meningkatkan peluang terjebak dalam kepada rendahnya indeks pembangunan manusia karena tidak dapat memiliki pendapatan untuk memenuhi kebutuhan untuk kebutuhannya. Apabila pengangguran disuatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek yang buruk bagi kesejahteraan masyarakat dan prospek meningkatkan indeks pembangunan manusia dalam jangka menengah sampai jangka panjang.

(25)

merupakan kebutuhan dasar untuk meningkatkan kualitas manusia juga tidak dapat tercukupi. Mereka juga tidak dapat menikmati kehidupan yang layak pula, sehingga kesejahteraan mereka tidak terpenuhi. Bahwa pengangguran juga berkaitan erat dengan kualitas pembangunan manusia. Jumlah pengangguran yang tinggi akan mengakibatkan kemakmuran kehidupan masyarakat berkurang. Pengangguran juga mengakibatkan pendapatan mereka berkurang. Pengangguran yang rendah merupakan faktor dalam peningkatan pembangunan manusia.

Gambar 2. Tingkat Pengangguran Terbuka tahun 1995-2012 di Provinsi Lampung

Sumber: BPS Provinsi Lampung, tahun 2013 (diolah)

Berdasarkan hasil gambar 2 diatas dapat kita lihat bahwa tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Lampung pada tahun 1995-2012 mengalami gejala yang fluktuatif, dimana persentase pertumbuhan tingkat penganggurannya terjadi naik turun. Terutama tingkat Pengangguran Terbuka mengalami peningkatan yang sangat signifikan saat dimana pasca krisis moneter antara tahun 1997-1999, bahkan pada tahun 1999 angkanya mencapai 10,4% di Provinsi Lampung dan ini menjadi tingkat Pengangguran Terbuka tertinggi selama 18 tahun terakhir. Pada

3.75

(26)

tahun 2002-2006 persentase tingkat Pengangguran terbuka di Provinsi Lampung tidaklah bagus, dikarenakan terjadi kenaikan dan penurunan yang tidak menentu. Pada tahun 2007-2012 mulailah terjadi penurunan terus-menerus dalam persentase pertumbuhan tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Lampung. Jumlah

persentase tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2007 dengan persentase pertumbuhan 7,58 % dan enam tahun kemudian tepatnya pada tahun 2012 jumlah persentase untuk tingkat pengangguran terbuka menjadi 5,18%. Hal tersebut menunjukan bahwa perekonomian dan kesempatan kerja dalam rangka mengurangi pengangguran di Provinsi Lampung mengalami progres yang meningkat dan sangat baik.

Pertumbuhan ekonomi adalah hal yang sering dikaitkan dengan pembangunan manusia. Salah satu tugas pembangunan yang terpenting adalah menerjemahkan pertumbuhan ekonomi menjadi peningkatan pembangunan manusia.

Pembangunan manusia atau kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting, penekanan terhadap meningkatkan mutu sumberdaya manusia dalam pembangunan menjadi suatu kebutuhan. Mutu SDM yang baik disuatu wilayah memiliki peranan dalam menentukan keberhasilan pengelolaan pembangunan di wilayahnya.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah sasaran dalam pembangunan.

(27)

yang relatif tinggi akan mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi melalui kapabilitas penduduk dan konsekuensinya adalah peningkatan produktivitas dan kreativitas masyarakat. Dengan meningkatnya produktivitas dan kreativitas tersebut, penduduk dapat menyerap dan mengelola sumberdaya yang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi dapat

memungkinkan meningkatnya output dan pendapatan dimasa yang akan datang sehingga akan meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM).

Gambar 3. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi tahun 1995-2012 di Provinsi Lampung

Sumber : BPS Provinsi Lampung, tahun 2013 (diolah)

Berdasarkan gambar 3 maka tingkat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung dari tahun 1995-2012 mengalami keadaan yang naik turun atau fluktuatif. Pada tahun 1995 laju pertumbuhan ekonomi Lampung yaitu mencapai 10,49 % , tetapi pada tahun 1996-2001 nilainya mengalami penurunan yang sangat signifikan antara 4-3% saja, hingga angkanya terendahnya menyentuh pada 3,4% yaitu pada tahun 2000. Keadaan pertumbuhan ekonomi yang naik turun yang demikian

10.49

(28)

tersebut terjadi pula dari tahun 2002 hingga tahun 2008, tetapi laju pertumbuhan ekonominya tidak separah periode tahun1995-2001. Barulah pada tahun 2009-2012 laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung mulai membaik dan setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2010 laju pertumbuhan

ekonominya meningkat yaitu 5,88% , kemudian pada tahun 2011 juga mengalami peningkatan yang signifikan yaitu menjadi 6,43% , lalu trend positif pada laju pertumbuhan ekonomi ini kembali terjadi di tahun 2012 dengan jumlanya yaitu 6,48%. Secara langsung dampak pertumbuhan ekonomi yang selalu mengalami trend yang positif dapat membantu peningkatan dari Indeks Pembangunan Ekonomi menjadi lebih baik lagi.

Dalam pelaksanaan otonomi daerah, setiap daerah diharapkan mampu menggali secara optimal sumber-sumber keuangan, mengelola, dan menggunakan

keuangannya sendiri untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahannya. Dengan demikian pelaksanaan otonomi daerah akan menciptakan kemandirian fiskal bagi daerah kabupaten/kota. Kemandirian keuangan menjadi hal yang sangat penting bagi daerah, terutama terkait dengan sumbangan keuangan daerah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah itu sendiri sehingga daerah dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui alokasi belanja publik pada bidang kesehatan dan pendidikan, pemerataan tingkat pendapatan serta penurunan angka kemisikinan melalui peningkatan pembangunan manusia yang tercermin dari angka Indeks Pebangunan Manusia (IPM).

(29)

stabilisator untuk menjaga agar perekonomian berjalan normal. Menjaga agar permasalahan yang terjadi pada satu sektor perekonomian tidak merembet ke sektor lain. (2) Peran Distribusi, Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan agar alokasi sumber daya ekonomi dilaksanakan secara efisien agar kekayaan suatu negara dapa terdistribusi secara baik dalam masyarakat. (3) Peran Alokasi, Pada dasarnya sumber daya yang dimiliki suatu negara adalah terbatas.

Pemerintah harus menentukan seberapa besar dari sumber daya yang dimiliki akan dipergunakan untuk memproduksi barang-barang publik, dan seberapa besar akan digunakan untuk memproduksi barang-barang individu. Pemerintah harus menentukan dari barang-barang publik yang diperlukan warganya, seberapa besar yang harus disediakan oleh pemerintah, dan seberapa besar yang dapat disediakan oleh rumah tangga perusahaan.

Dengan adanya Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD), suatu daerah dapat memaksimalkan sumber-sumber pendapatan daerah, lalu membelanjakan dana tersebut sesuai program dan kegiatan yang telah ditentukan dalam peraturan daerah setempat. Pemerintah sebagai pelaksana pembangunan tentunya

membutuhkan modal manusia yang berkualitas sebagai modal dasar pembangunan. Manusia dalam perannya merupakan subjek dan objek

pembangunan yang berarti manusia selain sebagai pelaku dari pembangunan juga merupakan sasaran pembangunan.

(30)

pembangunan. Pemerintah melakukan pengeluaran atau investasi yang ditujukan untuk pembangunan manusia. Pengeluaran pemerintah merupakan cerminan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Dalam hal ini pengeluaran pemerintah tersebut digunakan untuk membiayai sektor publik yang lebih penting dan menjadi prioritas dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang tercermin pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(31)

Tabel 3. Tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan dan Kesehatan tahun 1995-2012 di Provinsi Lampung Tahun Realisasi Pengeluaran

Pemerintah Sektor Pendidikan

Realisasi Pengeluaran Pemerintah Sektor

Kesehatan

1995 6.246.500.998 1.232.058.400

1996 6.231.810.027 2.289.863.975

1997 4.022.736.780 1.177.469.200

1998 3.449.958.125 1.320.216.420

1999 6.561.035.740 6.007.565.496

2000 9.398.000.000 15.199.563.000

2001 11.194.000.000 17.076.000.000 2002 26.150.000.000 32.899.000.000 2003 28.869.000.000 34.106.000.000 2004 51.566.000.000 67.588.371.807 2005 33.004.000.000 38.904.696.140 2006 67.622.000.000 87.698.599.771 2007 106.000.000.000 152.457.212.232 2008 119.000.000.000 173.993.645.560 2009 180.000.000.000 268.196.397.636 2010 189.433.000.000 249.423.340.347 2011 202.000.000.000 273.932.433.644 2012 222.578.521.571 281.023.203.847 Sumber: Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan bagian Keuangan Provinsi

Lampung (diolah)

Berdasarkan tabel 3 dapat dikatakan bahwa Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan dan Kesehatan di Provinsi Lampung pada tahun 1995-2012 cenderung mengalami peningkatan, terkecuali mengalami penurunan disaat masa krisis moneter antara tahun 1997-1998. Akan tetapi penurunan tersebut hanya terjadi dua tahun itu saja, dan pada tahun – tahun seterusnya pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan selalu mengalami peningkatan dari segu

pendanaan dan pelayanannya. Dengan demikian ini sangat berdampak positif bagi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung.

(32)

Ekonomi serta Pengeluaran pemerintah di sektor Pendidikan dan Kesehatan dapat mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung. Oleh karena itu penelitian ini berjudul Analisis Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka, Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan dan

Kesehatan Terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung Tahun 1995-2012”.

B. Rumusan Masalah

Pembangunan manusia merupakan suatu bentuk investasi modal manusia dalam usaha ikut serta dalam pembangunan nasional. Oleh karenanya dibutuhkan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah peningkatan pembangunan manusia. Dengan meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun serta menurunnya tingkat pengangguran, laju Indeks Pembangunan Manusia sudah seharusnya juga dapat meningkat secara signifikan. Sementara itu dibantu juga dengan semakin membaiknya fasilitas serta pelayanan di bidang kesehatan dan pendidikan yang menggunakan anggaran pengeluaran pemerintah dimana dari tahun ke tahun semakin meningkat maka akan berdampak pada pembangunan manusia di Provinsi Lampung.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan dalam makalah ini, maka permasalahan yang akan dipelajari adalah:

1. Bagaimana pengaruh antara tingkat Pengangguran Terbuka terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012 ? 2. Bagaimana pengaruh antara tingkat Pertumbuhan Ekonomi terhadap

(33)

3. Bagaimana pengaruh antara tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012 ?

4. Bagaimana pengaruh antara tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012 ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk menganalisis pengaruh tingkat Pengangguran Terbuka terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012. b. Untuk menganalisis pengaruh tingkat Pertumbuhan Ekonomi terhadap

Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012. c. Untuk menganalisis pengaruh tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor

Pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012.

d. Untuk menganalisis pengaruh tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012.

2. Kegunaan Penelitian

(34)

b. Penelitan ini diharapkan dapat memberitahukan pengaruh tingkat Pertumbuhan Ekonomi terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012.

c. Penelitan ini diharapkan dapat memberitahukan pengaruh tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012. d. Penelitan ini diharapkan dapat memberitahukan pengaruh tingkat

Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 1995-2012.

D. Kerangka Teoritis

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikenal dengan Human Development Index. Dimana indikator ini digunakan sebagai indikator dalam mengukur kualitas dari hasil pembangunan ekonomi yaitu derajat perkembangan manusia, kemudian perlu ditambahkan bahwa nilai IPM yang tinggi menunjukkan keberhasilan

pembangunan ekonomi. Pentingnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap keberhasilan pembangunan ekonomi, maka perlu dilakukan penelitian mengenai terkait faktor yang mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(35)

manusia (IPM). Hal ini dapat dilihat dari kerangka pikir yaitu sebagai berikut:

Gambar 4. Kerangka Pemikiran

E. Hipotesis

Hipotesis adalah teori sementara yang kebenarannya masih perlu diuji setelah peneliti mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar. Dengan mengacu pada dasar pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian dibidang ini, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Diduga tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Lampung tahun 1995-2012.

(36)

H3 : Diduga tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Lampung tahun 1995-2012.

(37)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Indeks Pembangunan Manusia

Dalam UNDP (United Nations Development Programme), pembangunan manusia adalah suatu proses untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi manusia (“a process of enlarging people’s choices”). Konsep atau definisi pembangunan manusia

tersebut pada dasarnya mencakup dimensi pembangunan yang sangat luas. Dalam konsep pembangunan manusia, pembangunan seharusnya dianalisis serta

dipahami dari sudut manusianya, bukan hanya dari pertumbuhan ekonominya. Sebagaimana dikutip dari UNDP (Human Development Report, 1995:103), sejumlah premis penting dalam pembangunan manusia adalah:

- Pembangunan harus mengutamakan penduduk sebagai pusat perhatian. - Pembangunan dimaksudkan untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi

penduduk, tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan mereka. Oleh karena itu konsep pembangunan manusia harus terpusat pada penduduk secara keseluruhan, dan bukan hanya pada aspek ekonomi saja.

- Pembangunan manusia memperhatikan bukan hanya pada upaya

(38)

- Pembangunan manusia didukung oleh empat pilar pokok, yaitu: produktifitas, pemerataan, kesinambingan, dan pemberdayaan.

- Pembangunan manusia menjadi dasar dalam penentuan tujuan pembangunan dan dalam menganalisis pilihan-pilihan untuk mencapainya.

Berdasarkan konsep tersebut, penduduk di tempatkan sebagai tujuan akhir

sedangkan upaya pembangunan dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu. Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan manusia, ada empat hal pokok yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Produktifitas

Penduduk harus meningkatkan produktifitas dan partisipasi penuh dalam proses penciptaan pendapatan dan nafkah. Sehingga pembangunan ekonomi merupakan bagian dari model pembangunan manusia.

2. Pemerataan

Penduduk memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial. Semua hambatan yang memperkecil kesempatan untuk memperoleh akses tersebut harus dihapus, sehingga mereka dapat

mengambil manfaat dari kesempatan yang ada dan berpartisipasi dalam kegiatan produktif yang dapat meningkatkan kualitas hidup.

3. Kesinambungan

(39)

4. Pemberdayaan

Penduduk harus berpartisipasi penuh dalam keputusan dan proses yang akan menentukan (bentuk/arah) kehidupan mereka serta untuk berpartisipasi dan mengambil keputusan dalam proses pembangunan.

Menurut United Nations Development Programme (UNDP), dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terdapat tiga indikator komposit yang digunakan untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu negara dalam pembangunan manusia, yaitu: lama hidup, yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir;

pendidikan yang diukur berdasarkan rata-rata lama bersekolah dan angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas; standar hidup yang diukur dengan

(40)

pengeluaran perkapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.

Konsep pembangunan manusia seutuhnya merupakan konsep yang menghendaki peningkatan kualitas hidup penduduk baik secara fisik, mental maupun secara spritual. Bahkan secara eksplisit disebutkan bahwa pembangunan yang dilakukan menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia yang seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan sumber daya manusia secara fisik dan mental mengandung makna peningkatan kapasitas dasar penduduk yang kemudian akan memperbesar kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam proses

pembangunan yang berkelanjutan.

Indeks Pembangunan Manusia, karena dimaksudkan untuk mengukur dampak dari upaya peningkatan kemampuan dasar tersebut, dengan demikian

menggunakan indikator dampak sebagai komponen dasar penghitungannya yaitu, angka harapan hidup waktu lahir, pencapaian pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, serta pengeluaran konsumsi. Nilai IPM suatu negara atau wilayah menunjukkan seberapa jauh negara atau wilayah itu telah mencapai sasaran yang ditentukan yaitu angka harapan hidup 85 tahun, pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat (tanpa kecuali), dan tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup layak.

(41)

manusia karenanya dikaitkan dengan investasi pada manusia dan pengembangannya sebagai sumber yang kreatif dan produktif.

1. Komponen Pembangunan Manusia

Lembaga United Nations Development Programme (UNDP) telah

mempublikasikan laporan pembangunan sumber daya manusia dalam ukuran kuantitatif yang disebut Human Development Indeks (HDI). Meskipun HDI merupakan alat ukur pembangunan SDM yang dirumuskan secara konstan, diakui tidak akan pernah menangkap gambaran pembangunan SDM secara sempurna.

Adapun indikator yang dipilih untuk mengukur dimensi HDI adalah sebagai berikut: (UNDP, Human Development Report 1993: 105-106)

Longevity, diukur dengan variabel harapan hidup saat lahir atau life

expectancy of birth dan angka kematian bayi per seribu penduduk atau infant mortality rate.

Educational Achievement, diukur dengan dua indikator, yakni melek huruf

penduduk usia 15 tahun ke atas (adult literacy rate) dan tahun rata-rata bersekolah bagi penduduk 25 ke atas (the mean years of schooling).

Access to resource, dapat diukur secara makro melalui PDB rill perkapita

dengan terminologi purchasing power parity dalam dolar AS dan dapat dilengkapi dengan tingkatan angkatan kerja.

(42)

a. Indeks Harapan hidup

Indeks Harapan Hidup menunjukkan jumlah tahun hidup yang diharapkan dapat dinikmati penduduk suatu wilayah. Dengan memasukkan informasi mengenai angka kelahiran dan kematian per tahun, variabel tersebut diharapkan akan mencerminkan rata-rata lama hidup sekaligus hidup sehat masyarakat.

Sehubungan dengan sulitnya mendapatkan informasi orang yang meninggal pada kurun waktu tertentu, maka untuk menghitung angka harapan hidup digunakan metode tidak langsung. Data dasar yang dibutuhkan dalam metode ini adalah rata-rata anak lahir hidup dan rata-rata-rata-rata anak masih hidup dari wanita pernah kawin. Secara singkat, proses penghitungan angka harapan hidup ini disediakan oleh program Mortpak. Untuk mendapatkan Indeks Harapan Hidup dengan cara

menstandartkan angka harapan hidup terhadap nilai maksimum dan minimumnya.

b. Indeks Hidup Layak

Untuk mengukur dimensi standar hidup layak (daya beli), UNDP mengunakan indikator yang dikenal dengan real per kapita GDP adjusted. Untuk perhitungan IPM sub nasional (provinsi atau kabupaten/kota) tidak memakai PDRB per kapita karena PDRB per kapita hanya mengukur produksi suatu wilayah dan tidak mencerminkan daya beli riil masyarakat yang merupakan konsentrasi IPM. Untuk mengukur daya beli penduduk antar provinsi di Indonesia, BPS menggunakan data rata-rata konsumsi 27 komoditi terpilih dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dianggap paling dominan dikonsumsi oleh masyarakat

(43)

c. Indeks Pendidikan

Penghitungan Indeks Pendidikan (IP) mencakup dua indikator yaitu angka melek huruf (LIT) dan rata-rata lama sekolah (MYS). Populasi yang digunakan adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas karena pada kenyataannya penduduk usia tersebut sudah ada yang berhenti sekolah. Batasan ini diperlukan agar angkanya lebih mencerminkan kondisi sebenarnya mengingat penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun masih dalam proses sekolah atau akan sekolah sehingga belum pantas untuk rata-rata lama sekolahnya. Kedua indikator pendidikan ini dimunculkan dengan harapan dapat mencerminkan tingkat pengetahuan (cerminan angka LIT), dimana LIT merupakan proporsi penduduk yang memiliki

kemampuan baca tulis dalam suatu kelompok penduduk secara keseluruhan. Sedangkan cerminan angka MYS merupakan gambaran terhadap keterampilan yang dimiliki penduduk.

Menurut Todaro (2006:187) pembangunan manusia ada tiga komponen universal sebagai tujuan utama meliputi:

a) Kecukupan, yaitu merupakan kebutuhan dasar manusia secara fisik. Kebutuhan dasar adalah kebutuhan yang apabila tidak dipenuhi akan menghentikan

kehidupan seseorang, meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan dan keamanan. Jika satu saja tidak terpenuhi akan menyebabkan keterbelakangan absolut.

(44)

sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak mengejar sesuatu, dan seterusnya. Semuanya itu terangkum dalam self esteem (jati diri).

c) Kebebasan dari Sikap Menghamba, yaitu merupakan kemampuan untuk memiliki nilai universal yang tercantum dalam pembangunan manusia adalah kemerdekaan manusia. Kemerdekaan dan kebebasan di sini diartikan sebagai kemampuan berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran dari aspek-aspek materil dalam kehidupan. Dengan adanya kebebasan kita tidak hanya semata-mata dipilih tapi kitalah yang memilih.

2. Pengukuran Indeks Pembangunan Manusia

Dalam indeks pembangunan manusia terdapat tiga komposisi indikator yang digunakan untuk mengukur besar indeks pembangunan manusia suatu negara, yaitu :

a) Tingkat kesehatan diukur harapan hidup saat lahir (tingkat kematian bayi). b) Tingkat pendidikan diukur dengan angka melek huruf (dengan bobot dua

per tiga) dan rata-rata lama sekolah (dengan bobot sepertiga).

c) Standar kehidupan diukur dengan tingkat pengeluaran perkapita per tahun.

Rumus umum yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia adalah sebagai berikut:

IPM = 1/3 (Indeks X1 + Indeks X2 + Indeks X3) Dimana:

(45)

3. Manfaat Indeks Pembangunan Manusia

IPM dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal sebagai berikut:

 Untuk mengalihkan fokus perhatian para pengambil keputusan, media, dan

organisasi non pemerintah dari penggunaan statistik ekonomi biasa, agar lebih menekankan pada pencapaian manusia. IPM diciptakan untuk menegaskan bahwa manusia dan segenap kemampuannya seharusnya menjadi kriteria utama untuk menilai pembangunan sebuah negara, bukannya pertumbuhan ekonomi.

 Untuk mempertanyakan pilihan-pilihan kebijakan suatu negara. Bagaimana dua

negara yang tingkat pendapatan perkapitanya sama dapat memiliki IPM yang berbeda.

 Untuk memperlihatkan perbedaan di antara negara-negara, di antara

provinsi-provinsi (atau negara bagian), di antara gender, kesukuan, dan kelompok sosial ekonomi lainnya. Dengan memperlihatkan disparitas atau kesenjangan di antara kelompok-kelompok tersebut, maka akan lahir berbagai debat dan diskusi di berbagai negara untuk mencari sumber masalah dan solusinya.

B. Teori Pengangguran

Dalam standar pengertian yang sudah ditentukan secara internasional, yang dimaksudkan dengan pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang

(46)

sedang menunggu panggilan kembali untuk suatu pekerjaan setelah diberhentikan atau sedang menunggu untuk melapor atas pekerjaan yang baru dalam waktu 4 minggu.

Pengangguran Terbuka (open unemployment) adalah bagian dari angkatan kerja yang sekarang ini tidak bekerja dan sedang aktif mencari pekerjaan. Sedangkan menganggur dibagi menjadi dalam dua kelompok yaitu: (1) setengah menganggur kentara (visible unemployment) yakni mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan (2) setengah menganggur tidak kentara (invisible unemployment) yaitu mereka yang produktivitas kerja dan pendapatannya rendah.

Pengangguran dapat diklasifikasikan menurut berbagai cara misalnya menurut wilayah geografis, jenis pekerjaan dan alasan mengapa orang tersebut

menganggur. Berikut jenis pengangguran menurut sifat dan penyebabnya :

1) Pengangguran Friksional adalah perubahan dalam komposisi seluruh permintaan dan oleh karena masuknya kedalam pasar tenaga kerja para pencari kerja pertama kalinya yang informasinya tidak sempurna dan membutuhkan biaya modal.

2) Pengangguran Struktural terjadi karena adanya perubahan dalamn struktural komposisi perekonomian. Yang dimaksud dengan pengangguran struktural adalah pengangguran yang disebabkan karena ketidakcocokan antara struktur para pencari kerja sehubungan dengan keterampilan, bidang keahlian,

(47)

3) Pengangguran Siklis terjadi karena kurangnya permintaan. Pengangguran ini terjadi apabila pada tingkat upah dan harga yang berlaku, tingkat permintaan tenaga kerja secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan dengan jumlah pekerja yang menawarkan tenaganya.

4) Pengangguran Musiman adalah pengangguran yang terjadi pada waktu-waktu tertentu dalam satu tahun. Pengangguran musiman bersifat sementara saja dan berlaku dalam waktu-waktu tertentu.

5) Pengangguran Sukarela yaitu pengangguran yang terjadi kalau ada pekerjaan yang tersedia, tetapi orang yang menganggur tidak bersedia menerimanya pada tingkat upah yang berlaku untuk pekerjaan tersebut.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran diantaranya; (1) jumlah pencari kerja lebih besar dari jumlah peluang kerja yang tersedia (kesenjangan antara penawaran dan permintaan); (2) kesenjangan antara

kompetensi pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja; (3) masih adanya anak putus sekolah dan lulus yang tidak terserap di dunia kerja dan berusaha mandiri karena tidak memiliki keterampilan yang memadai; (4) terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) karena krisis global. Dari keempat faktor-faktor tersebut, faktor pertama, kedua, dan ketiga merupakan faktor dominan yang menyebabkan terjadinya pengangguran. Dari gambaran diatas, maka perlu dikembangkan program-program kursus dan pelatihan dalam rangka mempercepat penurunan angka pengangguran.

(48)

tersebut tergantung pada: (a). Organisasi pasar tenaga kerja, berkenaan dengan ada atau tidak adanya lembaga atau penyalur tenaga kerja dan sebagainya; (b). Keadaan demografis dari angkatan kerja, sebagaimana telah dibahas diatas; (c). Kemampuan dari para penganggur untuk tetap mencari kerja yang lebih baik; (d). Tersedianya dan bentuk perusahaan.

C. Teori Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan proses terjadinya kenaikan produk nasional bruto atau pendapatan nasional riil. Dengan kata lain, perekonomian mengalami perkembangan jika terjadi pertumbuhan output riil. Sedangan menurut Suryana (2000:5) pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP (Gross Domestic Product) tanpa memandang kenaikan tersebut lebih besar atau lebih kecil dari pertumbuhan penduduk yang terjadi, serta tanpa memandang apakah terjadi perubahan dalam struktur perekonomiannya atau tidak. Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Sedangkan menurut (Simon Kuznetz dalam Todaro, 2004:35) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikkan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.

Berikut ini beberapa teori pertumbuhan ekonomi yaitu :

1. Teori Pertumbuhan Klasik

(49)

pertumbuhan ekonomi merupakan proses tarik-menarik antar dua kekuatan yaitu “ the law of deminishing return” dan kemajuan teknologi. Sedangkan menurut

Mill, bahwa pembangunan ekonomi tergantung pada dua jenis perbaikan, yaitu perbaikan dalam tingkat pengetahuan masyarakat dan perbaikan yang berupa usaha-usaha untuk menghapus pengahambat pembangunan seperti adat istiadat, kepercayaan, dan berfikir tradisional.

Dari beberapa pendapat ahli ekonomi klasik dapat ditarik kesimpulan bahwa (Suryana, 2000:57):

a) Tingkat perkembangan suatu masyarakat tergantung pada empat faktor, yaitu jumlah penduduk, jumlah stok modal, luas tanah, dan tingkat teknologi yang dicapai.

b) Kenaikan upah yang akan menyebabkan kenaikan penduduk.

c) Tingkat keuntungan merupakan faktor yang menentukan pembentukan modal. Bila tidak terdapat keuntungan, maka akan mencapai “stationary state”, yaitu suatu keadaan dimana perkembanagan ekonomi tidak terjadi sama sekali. d) The law of deminishing return berlaku untuk segala kegiatan ekonomi sehingga

mengakibatkan pertambahan produk yang akan menurunkan tingkat upah, menurunkan tingkat keuntungan, tetapi menaikkan tingkat sewa tanah.

2. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik

Pada pertengahan tahun 1950-an berkembang teori pertumbuhan neo-klasik yang merupakan suatu analisis pertumbuhan ekonomi yang didasarkan pada

(50)

diikuti dan dikembangkan oleh Edmund Philips, Harry Johson, dan J.E Meade. Pendapat-pendapat para ahli tersebut, yaitu (Suryana, 2000:58):

a. Adanya akumulasi kapital yang merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi.

b. Perkembangan merupakan proses yang gradual.

c. Perkembangan merupakan proses yang harmonis dan kumulatif. d. Adanya pikiran yang optimis terhadap perkembangan.

e. Aspek internasioanl yang merupakan faktor bagi perkembangan.

Selanjutnya dalam Sadono (2004:437), menurut Solow yang menjadi faktor terpenting dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi bukan hanya pertambahan modal dan tenaga kerja. Namun faktor yang terpenting adalah kemajuan teknologi dan pertambahan kemahiran dan kepakaran tenaga kerja.

3. Teori Pertumbuhan Ekonomi Modern

a. Teori Pertumbuhan Rostow

Rostow mengartikan pembangunan ekonomi sebagai suatu proses yang menyebabkan perubahan dalam masyarakat, yaitu perubahan politik, struktur sosial, nilai sosial, dan struktur kegiatan ekonominya. Dan dalam bukunya “The

Stages of economic ” (1960), Rostow mengemukakan tahap-tahap dalam proses pembangunan ekonomi yang dialami oleh setiap negara pada umumnya ke dalam lima tahap, yaitu (Lincolin, 2004:48):

The traditional society (masyarakat tradisional).

 Persyaratan tinggal landas.

(51)

 Menuju kematangan.

 Tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi.

b. Teori Pertumbuhan Endogen

Teori pertumbuhan endogen yang dipelopori oleh Paul M Romer (1986) dan Robert Lucas (1988) merupakan awal kebangkitan dari pemahaman baru mengenai faktor faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Teori ini memberikan kerangka teoritis untuk menganalisis

pertumbuhan yang bersifat endogen. Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil dari dalam sistem ekonomi. Teori ini menganggap bahwa pertumbuhan ekonomi lebih ditentukan oleh sistem produksi, bukan berasal dari luar sistem. Kemajuan bidang teknologi merupakan hal yang endogen, pertumbuhan merupakan bagian dari keputusan dalam pendapatan apabila modal yang tumbuh bukan hanya modal fisik saja tapi menyangkut modal manusia.

(52)

D. Teori Pengeluaran Pemerintah

Menurut Suparmoko (2000:143) pengeluaran pemerintah dapat bersifat exhaustive yaitu merupakan pembelian barang dan jasa dalam perekonomian yang dapat langsung dikonsumsi maupun dapat pula untuk menghasilkan barang lainnya. Disamping itu, pengeluaran pemerintah dapat pula bersifat transfer saja, yaitu berupa pemindahan uang kepada individu-individu untuk kepentingan sosial, kepada perusahaan-perusahaan sebagai subsidi atau mungkin pula kepada Negara-negara sebagai hadiah. Oleh karena itu, dalam mengatur pengeluarannya,

pemerintah harus mempertimbangkan berbagai pertimbangan, sehingga keputusan yanmg diambil mengenai pengeluarannya dapat dilaksanakan tepat sasaran, baik untuk yang akan menikmati ataupun pihak lain yang terkena kebijakan tersebut. Pengeluaran pemerintah merupakan cerminan kebijakan yang pemerintah

lakukan, yaitu jika pemerintah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, maka pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus

dikeluarkan oleh pemerintah dalam melaksanakan kebijakan tersebut.

Kemudian Keynes menyatakan teorinya berhubungan dengan semua tingkat kesempatan kerja yang mungkin terjadi (Full Employment maupun Under Employment). Dan masalah ekonomi seperti pengangguran disebabkan karena rendahnya Effective Demand atau Permintaan Aggregat. Jadi, teori Keynes menitikberatkan kepada demand side sebagai unsur aktif yang menggerakkan perekonomian. J.M. Keynes (dalam Sukirno, 2004:52) menyatakan bahwa : “Pengeluaran Aggregat yaitu pembelanjaan masyarakat atas barang dan jasa

(53)

suatu negara/wilayah. Seterusnya, Keynes berpendapat bahwa dalam sistem pasar bebas penggunaan tenaga kerja penuh tidak selalu tercipta dan memerlukan usaha serta kebijakan pemerintah untuk menciptakan tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi yang teguh.”

Peranan pengeluaran pemerintah dalam pembangunan ekonomi terletak didalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan standar kehidupan, penurunan kesenjangan pendapatan dan kemakmuran, dalam mendorong insentif dan usaha swasta, dan dalam menciptakan keseimbangan regional dalam

perekonomian. Dalam kancah perekonomian modern, peran pengeluaran pemerintah dapat ditelaah menjadi 4 peranan yaitu:

1. Peran Alokatif yaitu peranan pengeluaran dalam mengalokasikan sumber daya ekonomi yang ada agar pemanfaatannya bias optimal dan mendukung efisiensi produksi

2. Peran Distributif yaitu peran pemerintah dalam mendistribusikan sumber daya, kesempatan kerja dan hasil-hasil ekonomi secara adil dan merata

3. Peran Stabilisatif yaitu peran pemerintah dalam memelihara stabilitas

perekonomian dan memulihkannya jika berada dalam keadaan disequilibrium 4. Peran Dinamisatif yaitu peran pemerintah dalam menggerakkan proses

pembangunan ekonomi agar lebih cepat tumbuh, berkembang dan maju.

Menurut Suparmoko (2000:176) bahwa pengeluaran pemerintah dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :

(54)

2. Pengeluaran itu langsung memberikan kesejahteraan dan kegembiraan bagi masyarakat.

3. Merupakan penghematan pengeluaran yang akan datang.

4. Menyediakan kesempatan kerja lebih banyak dan penyebaran tenaga beli yang lebih luas.

Sedangkan macam-macam pengeluaran pemerintah, yaitu :

1. Pengeluaran yang self liquiditing sebagian atau sepenuhnya, artinya

pengeluaran pemerintah mendapatkan pembayaran kembali dari masyarakat yang menerima jasa-jasa dan barang-barang yang bersangkutan. Misalnya pengeluaran untuk jasa-jasa perusahaan pemerintah atau untuk proyek-proyek produktif.

2. Pengeluaran yang reproduktif, artinya mewujudkan keuntungan-keuntungan ekonomi bagi masyarakat yang dengan naiknya tingkat penghasilan dan sasaran pajak yang lain akhirnya akan menaikkan penerimaan pemerintah. Misalnya pengeluaran untuk bidang pertanian, pendidikan, dan pengeluaran untuk menciptakan lapangan kerja, serta memicu peningkatan kegiatan perekonomian masyarakat.

3. Pengeluaran yang tidak termasuk self liquidating dan reproduktif, yaitu pengeluaran yang langsung menambahkan kegembiraan dan kesejahteraan masyarakat. Misalnya untuk bidang rekreasi, pendirian monument dan sebagainya.

(55)

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pengeluaran pemerintah Indonesia secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan yaitu pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin pada dasarnya berunsurkan pos-pos pengeluaran untuk membiayai pelaksanaan roda pemerintahan sehari-hari meliputi belanja pegawai, belanja barang, berbagai macam subsidi (subsidi daerah dan subsidi harga barang), angsuran dan utang pemerintah, serta jumlah pengeluaran lain. Sedangkan pengeluaran pembangunan maksudnya adalah pengeluaran yang bersifat

menambah modal masyarakat dalam bentuk prasarana fisik, yang dibedakan atas pembangunan yang dibiayai dengan dana rupiah dan bantuan proyek.

E. Hubungan Antar Variabel

1) Hubungan antara Pengangguran Terbuka dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Todaro (2000) juga mengatakan bahwa pembangunan manusia merupakan tujuan pembangunan itu sendiri. Yang mana pembangunan manusia memainkan peranan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara dalam menyerap teknologi modern untuk mengembangkan kapasitasnya agar tercipta kesempatan kerja untuk mengurangi jumlah pengangguran untuk melakukan pembangunan manusia yang berkelanjutan. Dengan teratasinya jumlah pengangguran dan mendapatkan pendapatan yang tinggi maka akan berpengaruh terhadap peningkatan

(56)

tinggi. Sehingga pengurangan pengangguran dapat kita lihat dari jumlah indeks pembangunan manusia yang mengalami peningkatan.

Menurut Sadono Sukirno (2004:139), efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena pengangguran tentunya akan meningkatkan peluang terjebak dalam kepada rendahnya indeks pembangunan manusia karena tidak dapat memiliki pendapatan untuk memenuhi kebutuhan untuk

kebutuhannya. Apabila pengangguran disuatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek yang buruk bagi kesejahteraan masyarakat dan prospek meningkatkan indeks pembangunan manusia dalam jangka menengah sampai jangka panjang.

Teori pertumbuhan baru menekankan pentingnya peranan pemerintah terutama dalam meningkatkan pembangunan modal manusia (human capital) dan mendorong penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan produktivitas manusia. Kenyataannya dapat dilihat dengan melakukan investasi pendidikan akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diperlihatkan dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan

(57)

informal seperti pertanian, peningkatan keterampilan dan keahlian tenaga kerja akan mampu meningkatkan hasil pertanian, karena tenaga kerja yang terampil mampu bekerja lebih efisien. Pada akhirnya seseorang yang memiliki

produktivitas yang tinggi akan memperoleh kesejahteraan yang lebih baik, yang diperlihatkan melalui peningkatan peningkatan pendapatan maupun konsumsinya. Dengan penyerapan tenaga kerja yang semakin banyak menyebabkan

berkurangnya tingkat pengangguran yang selama ini terjadi.

2) Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Dalam hal ini menjelaskan bahwa pembangunan sosial merupakan pendekatan pembangunan secara eksplisit berusaha mengintegrasikan proses pembangunan ekonomi dan sosial. Pembangunan sosial tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya pembangunan ekonomi, sedangkan pembangunan ekonomi tidaklah bermakna kecuali diikuti dengan peningkatan kesejahteraan sosial dari populasi sebagai suatu kesatuan. Pembangunan ekonomi atau lebih tepatnya pertumbuhan ekonomi merupakan syarat bagi tercapainya pembangunan manusia karena dengan pembangunan ekonomi terjamin peningkatan produktivitas dan peningkatan pendapatan melalui penciptaan kesempatan kerja. Tingkat pembangunan manusia yang relatif tinggi akan mempengaruhi kinerja

(58)

3) Hubungan antara Pengeluaran Pemerintah dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Model ini dikembangkan oleh Rostow dan Musgrave yang menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap pembangunan ekonomi yaitu tahap awal, tahap menengah dan tahap lanjut. Pada tahap awal perkembangan ekonomi, presentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar sebab pada tahap ini pemerintah harus menyediakan prasarana seperti pendidikan, kesehatan, prasarana transportasi dan sebagainya.

Pada tahap menengah pembangunan ekonomi, investasi pemerintah tetap

diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat tinggal landas, namun pada tahap ini peranan investasi swasta sudah semakin besar. Peranan pemerintah tetap besar pada tahap menengah, oleh karena peranan swasta semakin besar akan menimbulkan banyak kegagalan pasar dan juga menyebabkan

pemerintah harus menyediakan barang dan jasa publik dalam jumlah yang lebih banyak.

(59)

Pendidikan dan kesehatan penduduk sangat menentukan kemampuan untuk menyerap dan mengelola sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baik dalam kaitannya dengan teknologi sampai kelembagaan yang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dengan pendidikan yang baik, pemanfaatan teknologi ataupun inovasi teknologi menjadi mungkin untuk terjadi. Seperti diungkapkan oleh Meier dan Rauch dikatakan pendidikan, atau lebih luas lagi adalah modal manusia, dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan. Hal ini karena pendidikan pada dasarnya adalah bentuk dari tabungan, menyebabkan akumulasi modal manusia dan pertumbuhan output agregat jika modal manusia merupakan input dalam fungsi produksi agregat.

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 ada disebutkan bahwa pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus mengalokasikan 20 persen anggaran untuk bidang pendidikan di luar gaji dan biaya kedinasan. Jadi, anggaran pendidikan yang dimaksud di sini adalah termasuk kategori anggaran pembangunan karena tidak termasuk di dalamnya anggaran rutin yang berupa gaji dan lain-lain. Sedangkan untuk masalah kesehatan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia, tanpa kesehatan masyarakat tidak dapat menghasilkan suatu

produktivitas bagi negara. Kegiatan ekonomi suatu negara akan berjalan jika ada jaminan kesehatan bagi setiap penduduknya. Negara sedang berkembang seperti Indonesia sedang mengalami tahap perkembangan menengah, dimana pemerintah harus menyediakan lebih banyak sarana publik seperti kesehatan untuk

meningkatkan produktifitas ekonomi. Sarana kesehatan dan jaminan kesehatan harus dirancang sedemikian rupa oleh pemerintah melalui pengeluaran

(60)

F. Studi Empirik (Penelitian Terdahulu) Tabel 4. Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Metode Analisis Hasil Empiris

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari (a) pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan yang diukur dari realisasi APBD 35 kabupaten/kota di sektor pendidikan dan kesehatan di Jawa Tengah (PUB), dalam satuan jutaan rupiah. (b)

pembangunan manusia yang di-proxy dari angka IPM yang diukur dalam satuan angka. (c) angka kemiskinan yang diukur dari persentase

penduduk miskin regional (POV) 35 kabubaten/kota di Jawa Tengah. Analisis regresinya adalah sebagai berikut:

POV= β 0 + β 1 PUB + β 2 IPM + b3 PUB*IPM + f

Dimana:

Β1, β2, dan β3 < 0

POV= Persentase penduduk miskin (%)

PUB= Realisasi pengeluaran bidang pendidikan dan kesehatan (juta rupiah)

IPM= Indeks Pembangunan Manusia

Studi ini, menunjukan adanya

keterkaitan IPM sebagai variabel pure mederator maupun sebagai variabel intervening (mediating) terhadap hubungan antara pengeluaran publik dan kemiskinan, namun pengaruhnya masih sangat kecil. Pengaruh variabel IPM sebagai variabel pure moderator pada tahun 2007 sebesar -5,913x10-6 dan pada tahun 2008 sebesar

-3,964x10-6. Sedangkan total pengaruh variabel IPM sebagai variabel

intervening pada tahun 2008 sebesar 5,9732x10-6.

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi data panel model efek

(61)

bersama-Pemerintah terhadap

tetap (FEM) dengan metode Generalized Least Square (GLS).

Dengan analisis persamaan:

IPM = αi + β1logPNGGit + β2PRTMBit + β3logPNGELit + εit

Dimana:

IPM = Indeks Pembangunan Manusia kabupaten/kota di Jawa Tengah

logPNGG = jumlah pengangguran di Jawa Tengah

PRTMB = pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah

logPNGEL = alokasi pengeluaran pemerintah di Jawa Tengah

αi = intersep

εit = komponen error

sama berpengaruh secara signifikan terhadap IPM. Manusia di kota Binjai

Metode penelitian yang digunakan dalam

analisis ini adalah Ordinary Least Square (OLS), dengan menggunakan metode regresi linear berganda dan alat analisis yang dipakai untuk mengolah data yaitu dengan menggunakan Eviews 5.1.

Hasil estimasi penelitian ini

menunjukan bahwa semua variabel bebas yaitu pengeluaran pemerintah sektor pendidikan (X1) dan

pengeluaran pemerintah sektor kesehatan (X2) berpengaruh positif terhadap IPM (Y) yang signifikan pada alfa 10%.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua metode analisis yaitu teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis kuantitatif.

(62)

Indeks Pembangunan Manusia

Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat

Metode penelitian untuk menganalisis tingkat kemandirian fiskal daerah secara ekonometrika dapat menggunakan persamaan berikut ini: IPMi,t= α + β1 PJKit + β2 RTBSit + β3 BHUMDit + β4LAINit + εit (3,13)

Jika komponen PAD yaitu pajak, retribusi, laba badan usaha milik daerah meningkat maka IPM kabupaten/kota di Jawa Barat akan meningkat.

Menggunakan data time series selama lima tahun terakhir yang diwakili data tahunan dari tahun 2007-2009 dan data cross section selama 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah

kombinasi atau polling menghasilkan 105 observasi dengan fungsi persamaan data panelnya dapat dituliskan sebagai berikut: IPMit = α0 + α1 Kit + α2 PPit + α3 PKit + εit +

1D1 + 2D2 + 3D3 +... 34D34 + εit

Pada taraf keyakinan 95% (α=5%), variabel K (jumlah penduduk miskin) dan PP (pengeluaran pemerintah sektor pendidikan ) berpengaruh signifikan secara statistik terhadap variabel tingkat IPM , sedangkan variabel PK (pengeluaran pemerintah sektor kesehatan) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel IPM. Untuk variabel dummy, pada taraf keyakinan 95% (α=5%) ada 25

variabel dummy yang tidak signifikan. Dari studi, dapat diketahui bahwa yang berpengaruh secara signifikan terhadap IPM adalah variabel tingkat kemiskinan dan pengeluaran

(63)

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Sumber Data

Secara umum dari segi pendekatan yang digunakan dalam suatu penelitian terbagi menjadi dua macam, yaitu: pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Pada dasarnya, pendekatan kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (dalam rangka pengujian hipotesis) dan menyandarkan kesimpulan hasilnya pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil. Dengan metode kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan antar variabel yang diteliti.

(64)

Data-data ini diperoleh dari dinas terkait seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung dengan cara diolah.

B. Operasionalisasi Variabel

1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai variabel terikat (dependent variable). Indeks pembangunan manusia (IPM) adalah pengukuran

perbandingan dari angka harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Data Indeks Pembangunan Manusia didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung yang diolah tahun 1995-2012. Indeks Pembangunan Manusia adalah indeks komposit yang digunakan untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu negara dalam satuan persen.

2. Pengangguran Terbuka (PT) sebagai variabel bebas (independent variable). Pengangguran Terbuka adalah jumlah penduduk yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi mereka belum dapat memperoleh pekerjaan (Sukirno, 2004). Variabel pengangguran terbuka yang digunakan adalah persentase tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Lampung dengan menggunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 1995-2012.

(65)

itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak. Variabel Pertumbuhan Ekonomi ini menggunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung 1995-2012 yang diolah, satuan yang digunakan adalah persen.

4. Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan (PPP) sebagai variabel bebas (independent variable). Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan

kebijakannya yang berkaitan dalam kelangsungan fasilitas dan pelayanan pendidikan. Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah besarnya realisasi pengeluaran pembangunan dan belanja modal dibidang pendidikan yang didanai dan tercantum dalam APBD Provinsi Lampung tahun 1995-2012 yang dinyatakan dalam satuan nilai rupiah. Data yang terdapat dalam Dinas Pendidikan Provinsi Lampung bagian Keuangan dan Perencanaan.

5. Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan (PPK) sebagai variabel bebas (independent variable). Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dalam kelangsungan fasilitas dan pelayanan

(66)

C. Model Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode statistika untuk keperluan estimasi. Dalam metode ini statistika alat analisis yang biasa dipakai dalam khasanah penelitian adalah analisis regresi. Dimana analisis ini merupakan salah satu metode yang sangat popular dalam mencari hubungan antara 2 variabel atau lebih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan regresi berganda dengan metode kuadrat terkecil sederhana Ordinary Least Squares (OLS). Model ini memperlihatkan hubungan antara variabel bebas dalam hal ini Pengangguran Terbuka (PT), Pertumbuhan Ekonomi (PE), Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan (PPP), Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan (PPK) dengan variable terikat yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM), maka bentuk persamaannya sebagai berikut :

IPM = f(PT+PE+PPP+PPK)

Dengan demikian dapat dikemukakan model analisisnya sebagai berikut :

ln IPM = β0 + β1 lnPT + β2 lnPE + β3 lnPPP + β4 lnPPK + έt

Dimana :

IPM : Indeks Pembangunan Manusia

PT : Pengangguran Terbuka (dalam persen) PE : Pertumbuhan Ekonomi (dalam persen) PPP : Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendididkan

Figur

Tabel 1.  Tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun   2007-2011 di Provinsi – Provinsi Pulau Sumatera
Tabel 1 Tingkat Indeks Pembangunan Manusia IPM tahun 2007 2011 di Provinsi Provinsi Pulau Sumatera . View in document p.21
Tabel 2.   Angka Harapan Hidup dan Angka Melek Huruf di Provinsi Lampung tahun 2003-2012
Tabel 2 Angka Harapan Hidup dan Angka Melek Huruf di Provinsi Lampung tahun 2003 2012 . View in document p.22
Gambar 1.  Tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun   1995-2012 di Provinsi  Lampung
Gambar 1 Tingkat Indeks Pembangunan Manusia IPM tahun 1995 2012 di Provinsi Lampung . View in document p.23
Gambar 2.  Tingkat Pengangguran Terbuka tahun 1995-2012 di Provinsi  Lampung
Gambar 2 Tingkat Pengangguran Terbuka tahun 1995 2012 di Provinsi Lampung . View in document p.25
Gambar 3.   Tingkat Pertumbuhan Ekonomi tahun 1995-2012 di Provinsi Lampung
Gambar 3 Tingkat Pertumbuhan Ekonomi tahun 1995 2012 di Provinsi Lampung . View in document p.27
Tabel 3.  Tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan dan
Tabel 3 Tingkat Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan dan . View in document p.31
Gambar 4. Kerangka Pemikiran
Gambar 4 Kerangka Pemikiran . View in document p.35
Tabel 4. Penelitian Terdahulu
Tabel 4 Penelitian Terdahulu . View in document p.60

Referensi

Memperbarui...