MORFOLOGI NORMAL SPERMATOZOA MENCIT ( Mus musculus L) JANTAN YANG DIPAPARKAN ASAP ROKOK SETELAH PEMBERIAN VITAMIN E

59 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

MORFOLOGI NORMAL SPERMATOZOA MENCIT (Mus musculus L) JANTAN YANG DIPAPARKAN ASAP ROKOK SETELAH

PEMBERIAN VITAMIN E

Oleh

INTAN RATNA K

Latar Belakang : Indonesia merupakan salah satu negara konsumen rokok terbesar di dunia, sebanyak 31,4% orang dewasa di Indonesia adalah perokok. Rokok dapat menyebabkan penurunan morfologi spermatozoa dan fungsi spermatozoa yang dapat menimbulkan infertilitas. Karena kandungan pada rokok dapat meningkatkan suatu radikal bebas yaitu ROS (Reactive Oxygen Species) yang dapat menyebabkan kerusakan pada membran sel. Kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas dapat dihambat oleh adanya antioksidan yaitu vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi spermatozoa mencit jantan yang dipaparkan asap rokok setelah pemberian vitamin E.

Metode : Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan acak terkontrol. Sampel yaitu 25 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok kontrol+ diberi pakan standar, kelompok kontrol- diberi paparan asap 2 batang rokok/hari, sedangkan kelompok P1, P2, dan P3 diberi paparan asap 2 batang rokok/hari dan vitamin E dengan dosis 0,4mg/hari, 0,8 mg/hari dan 1,2 mg/hari secara oral selama 35 hari..

Hasil : Dan rerata persentase jumlah spermatozoa yang morfologinya normal yaitu 75,60±3,2; 16,4±4,72; 26,8±4,32; 38,8±4,71; 51,4±6,69. Analisis dengan one-way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p < 0,001).

Simpulan : Pemberian vitamin E 1,2 mg/hari dapat meningkatkan morfologi normal spermatozoa mencit jantan yang dipaparkan asap rokok.

(2)

ABSTRACT

NORMAL SPERM MORPHOLOGY OF CIGARETTE EXPOSED MICE (Mus musculus L) AFTER GIVEN VITAMIN E

By

INTAN RATNA K

Background : Indonesia is one of country that have the most cigarette consumer, with 31,4% of adults are smokers. Cigarette smoking can reduce the amount of normal morphology sperm and also the sperm function itself that may cause infertility. Cigarette contains substances damaging the cell membrane which is free radical called ROS (Reactive Oxygen Species). Damage caused.by free radical can be inhibited by antioxidant such as vitamin E. This study aimed to analyze to know of sperm morphology of cigarette exposed mice after given vitamin E.

Methods : This research design was using randomly controlled planning. 25 mice were divided into 5 groups. Control+ group only given standard diet, co ntrol - only exposed by cigarette smoke 2 bars/daily, P1 P2 and P3 were exposed by cigarette smoke 2 bars/daily and given vitamin E 0,4 mg/daily, 0.8 mg/daily and 1,2 mg/daily orally in 35 days.

Result: The average of normal sperm morphology in each groups are 75,60±3,2; 16,4±4,72; 26,8±4,32; 38,8±4,71; 51,4±6,69. Analysis with one-way ANOVA showed significant differences (p < 0,001).

Simpulan : Vitamin E 1,2 mg/daily can increase the normal morphology sperm in cigarette exposed mice.

(3)

MORFOLOGI NORMAL SPERMATOZOA MENCIT ( Mus musculus L) JANTAN YANG DIPAPARKAN ASAP ROKOK SETELAH PEMBERIAN

VITAMIN E

Oleh

INTAN RATNA KUSUMASTUTI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 11 Juni 1993, sebagai anak

pertama dari dua bersaudara, dari Ir. Suprapto, M.Sc dan Untari Fajar Lestari.

Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) diselesaikan di TK Al-Kautsar, Bandar Lampung pada tahun 1999, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama (SMP)

diselesaikan di SMPN 4 Bandar Lampung pada tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMAN 2 Bandar Lampung pada tahun

2011.

Tahun 2011, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung. Selama menjadi mahasiswa penulis pernah mengiktui organisasi BEM FK Unila pada tahun 2011-2012 sebagai anggota dana dan usaha

(8)
(9)

SANWACANA

Puji syukur Penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu

tercurahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Skripsi ini berjudul “Morfologi Normal Spermatozoa Mencit (Mus musculus L)

Jantan Yang Dipaparkan Asap Rokok Setelah Pemberian Vitamin E” adalah salah

satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Bapak Dr. Sutyarso, M.Biomed., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung sekaligus Penguji Utama pada ujian skripsi atas masukan, kritik dan saran-saran dalam proses penyelesaian skripsi ini;

3. Bapak Drs. Hendri Busman, M.Biomed., selaku Pembimbing Utama atas waktu dan kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran, dan kritik

(10)

4. Ibu Soraya Rahmanisa, S.Si. M.Sc., selaku Pembimbing Kedua atas waktu

dan kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini;

5. dr. Susianti, M.Sc., selaku Pembimbing Akademik;

7. Bapak Ir. Suprapto, M.Sc., bapak yang selalu memberikan semangat, memberikan dukungan dan doa untuk Intan. Terima kasih yang tidak

terhingga untuk bapak;

8. Ibu Untari Fajar Lestari., ibu yang selalu perhatian, yang selalu

mendoakan, membimbing serta memberikan semangat kepada intan. Terima kasih yang tak terhingga untuk ibu;

9. Adik ku, Pralestika Dwi Kusumandary yang selalu mendoakan,

memberikan semangat dan perhatian untuk mbak Intan.

10. Keluarga terdekat saya (Eyang, Uti Harjo, Uti Tinggen) dan seluruh

keluarga besar dari ibu maupun bapak atas perhatian, doa dan semangat yang sudah diberikan untuk Intan;

11. Seluruh Staf Dosen FK Unila atas ilmu yang telah diberikan kepada

penulis untuk menambah wawasan yang menjadi landasan untuk mencapai cita-cita;

12. Seluruh Staf TU, Administrasi, dan Akademik FK Unila serta pegawai; 13. Nur Ayu V dan Pradila Desty, terima kasih atas kebersamaannya dari awal

kuliah hingga penelitian bersama;

(11)

mendengarkan cerita, memberikan semangat, kasih sayang, doa dan

motivasi dari kalian semua;

16. Kartika Yuana, Raissa Ulfah, Nur Ayu V, Sarah Carolin S, Pradila Desty,

Hein Intan, Dea Lita, dan Andina Selia atas doa, dukungan, waktu untuk belajar bersama dan membuat tertawa setiap hari dikampus;

17. Zaki Muhammad Arief Adrian atas kesabaran, semangat dan doa buat aku;

18. Cita Adelia, Farah Dina, Tia Evelyn atas semua waktunya;

19. Kak Rizni, kak Ibnu, kak Giska yang telah memberikan informasi

mengenai penelitian untuk skripsi ini;

20. Fadia, Tiara, Yolanda, Gede, Lian, Baji, Wayan, Ate, Diano, Erot, Caca dan Oci terima kasih telah membantu selama di pet house;

20. Teman-teman angkatan 2011 semuanya yang tidak bisa disebutkan satu per satu;

22. Kakak-kakak dan adik-adik tingkat saya (2002–2014) yang sudah memberikan semangat kebersamaan dalam satu kedokteran.

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi, semoga skripsi yang telah diselesaikan ini dapat bermanfaat dan

berguna bagi kita semua. Aamiin.

Bandar Lampung, 12 Desember 2014 Penulis

(12)

DAFTAR ISI 1.2 Masalah Penelitian... 1.3 Tujuan Penelitian... 1.4. Manfaat Penelitian... 1.5 Kerangka Penelitian... 1.5.1 Kerangka Teori... 2.1.5 Rokok dan Radikal Bebas... 2.1.6 Dampak Rokok pada Reproduksi ...

(13)

ii 2.2 Vitamin E...

2.2.1 Sifat Kimia Vitamin E... 2.2.2 Fungsi Vitamin E... 2.2.3 Vitamin E sebagai antioksidan... 2.2.4 Efek Vitamin E Terhadap Reproduksi... 2.3 Sistem Reproduksi Mencit...

2.3.1 Testis... 2.3.8 Hormon yang berperan dalam spermatogenesis... 2.3.9 Struktur Sel Spermatozoa...

III. METODOLOGI PENELITIAN...

3.1 Desain Penelitian... 3.2 Tempat dan Waktu... 3.3 Variabel Penelitian...

3.3.1 Variabel Independent... 3.3.2 Variabel Dependen... 3.4 Definisi Operasional... 3.4.1 Asap Rokok... 3.4.2 Vitamin E... 3.4.3 Morfologi Spermatozoa... 3.5 Bahan dan Alat Penelitian...

3.5.1 Alat Penelitian... 3.5.2 Bahan Penelitian... 3.6 Populasi dan Sampel...

(14)

iii 3.7 Kriteria Inklusi dan Ekslusi...

3.7.1 Kriteria Inklusi... 3.7.2 Kriteria Ekslusi... 3.8 Prosedur Penelitian... 3.8.1 Pemeliharaan Hewan Uji... 3.8.2 Penyediaan Vitamin E dan asap rokok... 3.8.3 Pemberian Prilaku... 3.8.4 Pengamatan ... 3.9 Analisis Data dan Pengujian Hipotesis...

3.10 Etika Penelitian...

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 4.1 Morfologi Normal...

(15)

vi DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Surat Keterangan Lolos Kaji Etik... 2. Konversi Perhitungan Dosis……... 3. Uji Statistik... 4. Dokumentasi Peralatan dan Cara Kerja... 5. Gambaran Preparat Morfologi...

(16)

iv DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Hasil Perhitungan Morfologi Normal Spermatozoa (%) Mencit Jantan pada Kelima Kelompok... 2. Hasil Uji Post Hoc LSD Morfologi Normal Spermatozoa (%) Mencit

Jantan Dengan Signifikan <0,05...

37

(17)

v 4. Anatomi Reproduksi Mencit Jantan... 5. Regulasi Hormon Reproduksi Pria... 6. Morfologi Normal Spermatozoa... 7. Pemberian Paparan Asap Rokok... 8. Morfologi Spermatozoa Mencit Normal dan Abnormal... 9. Diagram Alur Penelitian... 10. Grafik Hasil Perhitungan Morfologi Normal Spermatozoa... 11. Morfologi Normal Spematozoa... 12. Morfologi Abnormal Spermatozoa...

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara konsumen rokok terbesar di dunia, sebanyak 31,4% orang dewasa di Indonesia adalah perokok. Konsumsi rokok oleh seseorang individu di Indonesia rata-rata sebanyak 1742 batang/tahun

(Mackay dan Erisken, 2002), hal ini dikarenakan merokok merupakan kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi perokok (Aditama,

2000).

Telah banyak dilakukan penelitian yang menyatakan bahwa asap rokok dapat mengganggu fungsi spermatozoa yang dapat menimbulkan infertilitas

(Purbandari, 2010). Beberapa pengaruh yang terjadi terhadap spermatozoa seperti mengubah bentuk spermatozoa menjadi tidak normal, merendahkan jumlah bilangan spermatozoa, dan melambatkan spermatozoa menuju sel

telur (Aditama, 2000).

Pada saat asap rokok dihirup, komponen gas dan partikel pada rokok dapat meningkatkan suatu radikal bebas yaitu ROS (Reactive Oxygen Species) yang dapat menyebabkan kerusakan pada membran sel. Rokok dapat menyebabkan

(19)

2

dan gangguan pernafasan seperti sesak nafas, serta penyakit paru obstruktif

kronis (Soetjiningsih, 2004).

Kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas dapat dihambat oleh adanya antioksidan. Salah satu antioksidan yang telah digunakan adalah vitamin E atau αtokoferol (Hariyatmi, 2006). Vitamin E berperan sebagai antioksidan

dan dapat melindungi kerusakan membran biologis akibat radikal bebas (Gunawan, 2007). Vitamin E memiliki kemampuan untuk menghentikan lipid

peroksida dengan cara menyumbangkan satu atom hidrogennya dari gugus OH_ kepada lipid peroksil yang bersifat radikal sehingga kurang reaktif dan tidak merusak (Hariyatmi, 2004).

Pemberian vitamin E dosis 100 mg/kg/hari tidak hanya berefek pada peningkatan berat testis, jumlah sperma, motilitas sperma, dan produksi estrogen, tetapi juga meningkatkan kelangsungan hidup dan perkembangan

sperma tikus yang dipapar timbal (Momeni et al., 2009).

Berdasarkan uraian diatas, diduga asap rokok yang diberikan pada mencit dapat meningkatkan radikal bebas yang dapat merusak membran sel

sehingga menurunkan kualitas spermatozoa mencit. Pemberian vitamin E pada mencit diduga dapat berperan sebagai antioksidan yang dapat

(20)

3

1.2 Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka yang

menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini yaitu :

Bagaimana morfologi normal spermatozoa mencit (Mus musculus L) jantan

yang dipaparkan asap rokok setelah pemberian vitamin E

1.3 Tujuan Penelitian

Mengetahui morfologi normal spermatozoa mencit (Mus musculus L) jantan yang dipaparkan asap rokok setelah pemberian vitamin E

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat;

1. Bagi peneliti, menambah ilmu pengetahuan di bidang kedokteran serta dapat menerapkan ilmu yang telah didapat.

2. Bagi institusi/masyarakat

a. Sebagai bahan kepustakaan dalam lingkungan Fakultas kedokteran Universitas Lampung.

(21)

4

1.5 Kerangka Penelitian

1.5.1 Kerangka Teori

Asap rokok yang dihirup oleh seseorang dapat meningkatkan ROS (Reactive Oxygen Spesies). Pada saat ROS meningkat melebihi dari sistem pertahanan antioksidan tubuh, terjadilah stress oksidatif (Saleh

et al., 2003). Stress oksidatif menyebabkan infertilitas melalui efek

negatifnya ke spermatozoa seperti penurunan morfologi (Twig et al.,

1998). Pada kondisi stres oksidatif, radikal bebas akan menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid membran sel dan merusak organisasi membran sel. sehingga dapat mengakibatkan hilangnya fungsi seluler

secara total (Evan, 2000; Singh, 1992).

Antioksidan mampu memperbaiki morfologi spermatozoa dari pengaruh asap rokok, salah satu antioksidan yaitu vitamin E. Vitamin

E adalah antioksidan yang larut dalam lemak (Almaster, 2004), dan dapat melindungi aksi kerusakan membran sel akibat radikal bebas

(Gunawan, 2007), melalui reaksi peroksidasi lipid (Murray et al., 2006). Vitamin E merupakan pemutus rantai peroksidasi lipid pada membran sel dengan menyumbangkan ion hidrogen ke dalam reaksi,

sehingga mengubah radikal peroksil (hasil peroksidasi lipid) menjadi radikal tokoferol yang kurang reaktif, sehingga memutus reaksi berantai dan bersifat membatasi kerusakan (Burton, 1994;

(22)

5

Keterangan

: mengakibatkan

: menghambat

Gambar 1. Kerangka Teori Paparan Asap Rokok

Stress oksidatif

Morfologi spermatozoa Peroksidasi lipid

Kerusakan Membran sel Radikal Bebas

(23)

6

1.5.2 Kerangka Konsep

Gambar 2. Kerangka Konsep

1.6 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, hipotesis dalam penelitian adalah pemberian vitamin E dapat meningkatan morfologi

normal spermatozoa mencit jantan yang dipaparkan asap rokok. Asap Rokok

Vitamin E

Morfologi Spermatozoa (kepala seperti kait pancing dan

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rokok

2.1.1 Sejarah Rokok

Kurang lebih 1500 tahun lalu, beberapa kesukuan di Amerika sebenarnya sudah mengolah tembakau sebagai bahan pengobatan dan juga termasuk untuk penggunaan dalam ritual kepercayaan di suku

mereka (Burns, 2007). Pada tahun 600 Masehi, seorang filosof Cina bernama Fang Yizhi mulai memberitahukan bahaya kebiasaan

merokok dalam jangka waktu yang lama akan dapat merusak paru. Pada tahun 1729 tercatat sebagai tahun pertama tentang adanya aturan tertulis melarang merokok di tempat-tempat ibadah di negara Bhutan

(Aditama, 2000).

2.1.2 Pengertian Rokok

Rokok adalah hasil olahan tembakau yang terbungkus. Rokok dihasilkan dari tanaman nicotina tabacum, nicotina rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau

(25)

8

2.1.3 Jenis jenis rokok

Rokok umumnya dibagi menjadi tiga jenis, yaitu rokok mild, rokok

kretek, dan rokok cerutu. Rokok yang mempunyai kadar tar dan nikotin yang paling rendah adalah rokok mild. Rokok mild disebut

juga rokok putih yang memiliki sekitar 14–15 mg tar dan 5 mg nikotin. Selanjutnya rokok kretek adalah rokok yang memiliki kadar tar dan nikotin lebih tinggi yaitu sekitar 20 mg tar dan 4–5 mg nikotin.

Semakin tinggi kandungan tar dan nikotin dalam rokok maka semakin tinggi juga resiko terjadinya kerusakan jaringan (Aditama, 2006).

2.1.4 Kandungan rokok

Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia yang berbahaya.

Asap rokok yang dihirup, mengandung komponen gas dan partikel. Komponen gas diantaranya terdiri dari karbon monoksida, karbondioksida, oksida dari nitrogen dan senyawa hidrokarbon.

Sedangkan komponen partikel beberapa diantaranya terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan cadmium. Komponen gas dan partikel

ini sangat berpotensi untuk menimbulkan radikal bebas (ROS) (Zavos et al., 1998).

(26)

9

Salah satu komponen gas rokok mengandung karbon

monoksida (CO). Karbon monoksida (CO) dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan darah untuk

membawa oksigen. Gas ini bersifat toksis yang bertentangan dengan gas oksigen dalam transport hemoglobin. Pada bukan perokok kadar normal karboksi-hemoglobin hanya 1%.

Seiring berjalannya waktu, terjadinya polisitemia yang akan mempengaruhi saraf pusat (Sitepoe, 2000). Pada saat

merokok terdapat CO sejumlah 2%-6% , sedangkan CO yang dihisap oleh perokok paling rendah sejumlah 400 ppm (parts per million) sudah dapat meningkatkan kadar

karboksi-hemoglobin dalam darah sejumlah 2-16% (Sitepoe, 1997).

2.1.4.2 Tar

Salah satu komponen partikel dalam rokok adalah tar. Dalam kandungan tar, dijumpai zat-zat karsinogen seperti polisiklik

hidrokarbonaromatis yang dapat menyebabkan terjadinya kanker paru-paru. Selain itu, dijumpai juga nitrosamine di

dalam rokok yang berpotensi besar sebagai zat karsinogenik terhadap jaringan paru-paru (Sitepoe, 2000).

2.1.4.3 Nikotin

(27)

10

nicotoana tabacum, nicotiana rustica dan spesies lainnya .

Sintesis dari nikotin bersifat adiktif yang dapat mengakibatkan ketergantungan. Nikotin ini dapat meracuni saraf tubuh,

meningkatkan tekanan darah, menyempitkan pembuluh darah perifer dan menyebabkan ketergantungan pada pemakainya (Sitepoe, 1997). Nikotin meningkatkan kadar gula darah,

kadar asam lemak bebas, kolesterol LDL, dan meningkatkan agregasi sel pembekuan darah (Sitepoe, 2000).

2.1.5 Rokok dan Radikal Bebas

Komponen gas dan partikel dalam rokok dapat menimbulkan ROS (Reactive Oxygen Spesies) atau radikal bebas (Soetjiningsih, 2004).

Radikal bebas adalah molekul-molekul reaktif dan dapat merusak, yang mempunyai elektron tidak berpasangan (Almaster, 2004).

Pada keadaan normal, radikal bebas terdapat secara fisiologis pada

sperma manusia (Zavos et al.,1998). Pada saat adanya radikal bebas dalam tubuh maka tubuh akan mengkompensasi dengan melakukan

mekanisme pertahanan endogen, dengan memproduksi zat yang mempunyai pengaruh sebagai anti radikal bebas yang disebut

(28)

11

Pada kondisi stress oksidatif, radikal bebas akan menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid membran sel dan merusak organisasi

membran sel. Membran sel ini sangat penting bagi fungsi reseptor dan fungsi enzim, sehingga terjadinya peroksidasi lipid mengakibatkan

hilangnya fungsi seluler secara total (Evan, 2000; Singh, 1992).

2.1.6 Dampak Rokok terhadap Kesehatan Reproduksi Pria

Sebuah studi menyatakan bahwa rokok dapat meningkatkan radikal bebas. Hormon LH dan FSH merupakan hormon yang berperan penting pada reproduksi pria yaitu dalam proses spermatogenesis.

Radikal bebas yang terdapat pada asap rokok dapat merubah axis antara hipotalamus dengan hipofisis yang akhirnya menyebabkan

penurunan produksi hormon LH dan FSH sehingga menganggu proses spermatogenesis (Saleh et al., 2003).

Gangguan pada saat spermatogenesis ini terjadi akibat kekurangan

energi, hal ini karena senyawa kimia dalam rokok dapat mengubah mekanisme kerja hormon dan enzim yang mengatur hitungan atau kelincahan gerak (motilitas) serta morfologi sperma (Aditama, 2000).

Penelitian terhadap mencit yang dipaparkan asap rokok 1 batang per hari selama 14 hari memperlihatkan spermatozoa yang diberi

(29)

12

adanya dominasi sel-sel spermatozoa tikus putih yang tidak normal

yaitu tidak adanya ekor atau kepala, ekor melipat, ekor putus dibagian tengah dan juga bentuk kepala ganda (Wilandari dalam Fitriana et al.,

2014). Seorang perokok lebih rentan mengalami infertilitas (Agarwal dan Said, 2005), ini disebabkan karena merokok dapat meningkatkan radikal bebas (ROS) dan menurunkan antioksidan di cairan semen

(Saleh et al., 2003) yang dapat menyebabkan kerusakan deoxyribonucleic acid (DNA) dan apoptosis sel sperma (Vine et al.,

1996).

Rokok dapat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas sperma. Selain itu asap rokok juga memberikan pengaruh yang sangat besar

terhadap spermatozoa seperti mengubah bentuk spermatozoa menjadi tidak normal, menurunkan jumlah spermatozoa, dan melambatkan spermatozoa menuju sel telur (Aditama, 2000).

2.2. Vitamin E

2.2.1 Sifat Kimia Vitamin E

Bentuk vitamin E dibedakan berdasarkan letak berbagai grup metil

pada cincin fenil rantai cabang molekul dan ketidak jenuhan rantai cabang. Vitamin ini secara alami memiliki 8 isomer yang dikelompokkan dalam 4 tokoferol (α, , ,δ) dan 4 tokotrienol (α, , ,

(30)

13

Molekul yang mempunyai aktifitas biologi yang paling besar dalam vitamin E adalah α-tocoferol (Murray et al., 2006). Salah satu sifat

kimia tokoferol yang penting adalah bahwa senyawa-senyawa ini

merupakan senyawa redoks yang bekerja sebagai antioksidan dalam beberapa kondisi tertentu (Marcus and Coulston., 2007).

Gambar 3. Struktur Kimia-α-Tokoferol (Goodman and Gilman, 2007)

2.2.2 Fungsi Vitamin E

Vitamin E adalah vitamin yang dapat melindungi asam lemak tidak jenuh pada membran fosfolipid. Vitamin E berperan sebagai antioksidan dan dapat melindungi aksi kerusakan membran fosfolipid

akibat radikal bebas. Radikal peroksil bereaksi 1000 kali lebih cepat dengan vitamin E dari pada asam lemak tidak jenuh, dan membentuk

radikal tokoferoksil (Gunawan, 2007).

Fungsi utama vitamin E adalah sebagai antioksidan yang larut dalam lemak dan dapat memberikan hidrogen dari gugus hidroksil (OH) pada

(31)

14

kerusakan sel yang diakibatkan oleh radikal bebas dalam membran sel

dan plasma lipoprotein (Murray et al., 2006).

Kebutuhan sehari pada orang Indonesia diperkirakan asupan 10-30 mg vitamin E cukup untuk mempertahankan kadar normal di dalam darah.

Beberapa zat yang terdapat pada makanan misalnya selenium, asam amino yang mengandung sulfur, koenzim Q dapat mengantikan vitamin E, (Gunawan, 2007).

2.2.3 Vitamin E Sebagai Antioksidan

Vitamin E merupakan pemutus rantai peroksida lemak pada membran

sel. Vitamin E mengubah radikal peroksil (hasil peroksidasi lipid) menjadi radikal tokoferol yang kurang reaktif, menyekat aktivitas

tambahan yang dilakukan oleh peroksida dengan menyumbangkan ion hidrogen ke dalam reaksi sehingga memutus reaksi berantai dan bersifat membatasi kerusakan mengendalikan peroksida lemak

(Burton, 1994; Brigelius-Flohe and Trabber, 1999).

Kelebihan vitamin E dalam tubuh akan disimpan dalam beberapa organ, antara lain hati, jaringan adiposa, otak dan lipoprotein. Dalam

penelitian menyatakan bahwa vitamin E memiliki kemampuan untuk menghentikan lipid peroksida dengan cara menyumbangkan satu atom hidrogennya dari gugus OH kepada lipid peroksida yang bersifat

(32)

15

2.2.4 Efek Vitamin E Terhadap Fungsi Reproduksi

Vitamin E dapat mencegah kerusakan sel dalam membran sel dan

plasma lipoprotein. Mekanisme kerja vitamin E dalam menghentikan lipid peroksida dengan cara menyumbangkan satu atom hidrogennya

dari gugus OH kepada lipid peroksida yang bersifat radikal sehingga menjadi vitamin E yang kurang reaktif dan tidak merusak. Kerusakan sel yang terhambat ini dapat meningkatkan morfologi normal

spermatozoa sehingga dapat memperbaiki sistem reproduksi (Murray et al., 2006).

Pada cairan semen laki-laki infertil didapatkan jumlah yang sedikit

dari vitamin E. Vitamin E dengan dosis antara 200-1000 mg/hari dapat meningkatkan jumlah sperma secara invivo pada laki-laki infertil (Agarwal et al., 2005).

Al-Enazi (β007) meneliti efek antioksidan α-tokoferol sebanyak 100

mg, 200 mg dan 400 mg/kg diet yang dicampurkan dalam pakan dan diberikan selama 5 minggu pada mencit betina dewasa yang mendapat

stres panas. Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga dosis tokoferol tersebut mampu mengatasi kondisi stres oksidatif pada fungsi

(33)

16

Penelitian terhadap kualitas semen dan parameter biokimia pada

kelinci jantan yang diberikan vitamin E dan minuman suplemen atau kombinasinya dapat mengurangi produksi radikal bebas dan dapat

memperbaiki kualitas cairan semen kelinci (Yousef et al., 2003).

Penelitian yang dilakukan terhadap mencit yang dipaparkan Cadmium

(Cd) 1 mg/kg berat badan secara intraperitoneal selama 5 minggu memperlihatkan bahwa pemberian vitamin C 10 mg/kg berat badan

maupun vitamin E 100 mg/kg berat badan secara intraperitoneal mampu mengurangi kadar MDA dalam testis dan meningkatkan jumlah sperma disertai penurunan persentase sperma yang berbentuk

abnormal(Acharya et al., 2008).

2.3 Sistem Reproduksi Mencit Jantan

Gambar 4. Sistem Reproduksi Mencit Jantan (Setyadi, 2006) Keterangan :

a : Testis b : Epididimis c : Penis

d : Vas deferens

d

c

(34)

17

2.3.1 Testis

Fungsi testis adalah untuk menghasilkan hormon seks jantan yang

disebut androgen, dan juga menghasilkan gamet jantan yang disebut sperma. Pada testis terdapat 2 komponen penting, yaitu komponen

spermatogenesis, yang terdiri dari sel germinal dan sel sertoli pada tubulus seminiferus dan komponen interlobular, yang terdiri dari sel interstitial leydig dan jaringan peritubular serta sistem vascular dan

limfatik (Russel, 1990).

2.3.2 Tubulus seminiferus

Lebih dari 90% testis terdiri dari tubulus seminiferus yang merupakan tempat menghasilkan sperma. Pada mencit jantan muda struktur

tubulus terdiri dari epithelium lembaga yang menghasilkan sel-sel spermatogonia dan sel sertoly. Pada mencit jantan yang lebih tua spermatogonia tumbuh menjadi spermatosit primer, yang setelah

pembelahan meiosis pertama tumbuh menjadi spermatosid sekunder haploid. Spermatosid sekunder akan menjadi spermatid yang menjalani

spermatogenesis, yang akhirnya akan menjadi spermatozoa yang terdiri dari kepala, tubuh, dan ekor (Nalbandov, 1990).

2.3.3 Epididimis

(35)

18

kepala spermatozoa. Selain itu juga sebagai tempat penyimpanan

spermatozoa sementara. Fungsi lain epididimis adalah memberikan sekresi cairan yang diproduksi oleh sel epitel untuk membantu

perubahan morfologi akrosom yaitu melalui kondensasi inti, pelepasan sitoplasma, peningkatan muatan negative dan penambahan lapisan glikoprotein (Johnson and Everitt, 1988).

2.3.4 Vas Deferens

Vas deferens dibungkus oleh lapisan otot longitudinal di bagian luar

dan dalamnya, sedangkan lapisan otot sirkuler terletak diantara keduanya. Spermatozoa yang berasal dari epididimis akan diteruskan

menuju ke vas deferens. Lanjutan vas deferens adalah duktus ejakulatoris. Duktus ejakulatoris memiiki otot-otot yang kuat dan berperan selama ejakuasi. Saluran ini akan bermuara pada uretra

(Rugh, 1968).

2.3.5 Kelenjar asesori

Kelenjar seks asesori terdiri atas vesikula seminalis, kelenjar koagulasi, ampula, bulbo uretra dan kelenjar prepitualis (Rugh, 1968).

(36)

19

2.3.6 Spermatogenesis

Spermatogenesis adalah suatu rangkaian perkembangan sel

spermatogonia yang selanjutnya berubah menjadi spermatozoa yang bebas. Rangkaian perkembangan sel spermatogonia menjadi

spermatozoa dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pada tahap pertama, sel spermatogonia mengadakan pembelahan mitosis menghasilkan spermatosit dan sel induk spermatogonia. Pada tahap

kedua, pembelahan meiosis (reduksi) spermatosit primer dan sekunder menghasilkan spermatid yang haploid. Selanjutnya pada tahap ketiga,

perkembangan spermatid menjadi spermatozoa melalui serangkaian metamorfosa yang panjang dan kompleks disebut spermiogenesis

(Syahrum, 1994).

Proses spermatogenesis pada mencit terbagi atas empat siklus epitel seminiferus. Untuk menghasilkan spermatosit primer maka diperlukan lebih dari satu siklus pertama diperlukan (Oakberg, 1957). Pada saat

siklus pertama, dimulai dari perkembangan sel-sel genosit (primordial germ cell) yang pada mencit sudah mulai terlihat pada hari ke-8 masa

embrio menjadi sel-sel spermatogonium (Clermont and Leblon, 1953).

Pada mencit dan tikus ada tiga tipe spermatogonia, yaitu spermatogonia tipe A, tipe intermediet (In), dan tipe B. Spermatogonia tipe A yang disebut juga sebagai spermatogonia induk (stem cell), akan

(37)

20

menjadi spermatogonia tipe intermediet (In), spermatogonia tipe B dan

selanjutnya spermatosit primer. Pada tahap perkembangan berikutnya, spermatosit primer akan mengalami pembelahan meiosis menjadi

spermatosit sekunder. Tahap perkembangan berikutnya dimulai dari spermatosit sekunder yang membelah lagi menjadi spermatid. Akhirnya, pada tahap perkembangan terakhir sel-sel spermatid akan

mengalami transformasi menjadi sel-sel spermatozoa dewasa (Clermont and Leblond, 1953).

Spermatogenesis terjadi didalam tubulus seminiferus. Spermatogenesis

pada mencit memerlukan waktu 35,5 hari atau spermatogenesis akan selesai menempuh 4x daur epitel seminiferus. Lama 1 kali daur epitel

seminiferus pada mencit adalah 207 jam ± 6,2 jam (Oakberg, 1957; Rugh, 1968).

2.3.7 Spermiogenesis

Tahap akhir dalam spermatogenesis adalah diferensiasi spermatid menjadi

spermatozoa matang, yang disebut spermiogenesis. Dalam proses ini terjadi perubahan pada sperma yaitu perubahan bentuk sperma, namun

(38)

21

2.3.8 Hormon yang berperan dalam spermatogenesis

Hormon-hormon yang berperan dalam spermatogenesis (hormon steroid) adalah sebagai berikut :

Testosteron, disekresi oleh sel-sel Leydig yang terletak di interstisium testis. Hormon ini penting untuk pertumbuhan dan pembagian sel-sel germinativum dalam membentuk sperma. Hormon lutein (LH),

disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior, merangsang sel-sel Leydig untuk mensekresi testosteron. Hormon perangsang folikel (FSH), juga

disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior, mempengaruhi sel-sel Sertoli untuk merangsang adenilat siklase dan kemudian meningkatkan cAMP. FSH juga meningkatkan sintesis dan sekresi protein pengikat

androgen (ABP). Protein ini bergabung dengan testosteron dan mengangkut hormon ini ke lumen tubulus seminiferus. Di dalam

tubulus seminiferus, androgen berfungsi dalam mengontrol proses spermatogenesis pada pembelahan miosis dan spermiogenesis (Junqueira and Carneiro, 2007).

Estrogen, dibentuk dari testosteron oleh sel-sel sertoli ketika sel sertoli

sedang dirangsang oleh hormon perangsang folikel, yang mungkin juga penting untuk spermiogenesis. Hormon pertumbuhan (seperti juga

(39)

22

spermatogenesis sangat berkurang atau tidak ada sama sekali (Guyton

and Hall, 2008).

Gambar 5. Regulasi hormon reproduksi pria (Guyton and Hall, 2008)

2.3.9 Struktur Sel Spermatozoa

Sel spermatozoa yang normal terdiri dari kepala, leher, bagian tengah dan ekor. Kepala ditutupi oleh tudung protoplasmic (galea kapitis).

Galea kapitis biasanya larut bila sperma diberi pelarut lemak yang biasanya digunakan untuk pegecatan. Bila bergerak sperma berenang

dalam cairan suspensinya seperti ikan dalam air. Bila mati, sperma akan terlihat datar dengan permukaan. Pada mencit ujung kepala sperma berbentuk kait. Leher dan ekor tersusun dari flagellum tunggal

(40)

23

selubung. Pada ujung ekor selubung menghilang, fibril menyembul

dalam bentuk sikat yang telanjang (Nalbandov, 1990; Rugh, 1968).

(41)

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Terkontrol. Desain ini melibatkan 5 (lima) kelompok perlakuan terhadap hewan percobaan mencit putih jantan

(Mus musculus L) strain DDY.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Lampung pada bulan September-November 2014. Pembedahan organ testis mencit (Mus musculus L) dewasa dilaksanakan di Laboratorium Biologi

Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

3.3 Variabel Penelitian

3.3.1 Variabel Independent

 Asap Rokok

(42)

25

3.3.2 Variabel Dependent

 Morfologi spermatozoa

3.4 Definisi Operasional

3.4.1 Vitamin E yang diberikan pada perlakuan adalah vitamin E sintetik dalam bentuk minyak sediaan kapsul 100 mg. Dosis yang diberikan

pada mencit adalah 0,4 mg/hari, 0,8 mg/hari dan 1,2 mg/hari.

3.4.2 Asap rokok didapatkan dari hasil pengasapan rokok kretek berjumlah 2 batang/hari selama 35 hari.

3.4.3 Morfologi spermatozoa normal yang diperoleh dari kauda epididimis.

Morfologi spermatozoa normal yaitu mempunyai bentuk kepala seperti kait pancing dan ekor panjang lurus. (Hayati et al., 2005).

3.5 Alat dan Bahan

3.5.1 Alat Penelitian

Alat-alat yang digunakan yaitu

 Kandang mencit dari kawat sebanyak 5 kandang

 Sonde lambung

 Spuit 1 cc dan 10 cc

 Tempat pakan dan minum mencit

 Alat bedah

(43)

26

 Pipet tetes

 Mikrotom

3.5.2 Bahan Penelitian

Bahan biologis :

Bahan biologis yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit

jantan (Mus musculus L) strain DDY dewasa. Dengan umur 2,5–3 bulan, berat badan 25-30 gram dan sehat.

Bahan Kimia :

Bahan kimia yang dipakai adalah vitamin E sintetik, rokok kretek ,

korek api, alkohol 70 %, NaCl 0,9 %, pewarnaan giemsa dan methanol.

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah mencit jantan (Mus musculus L) strain DDY dewasa. Umur 2,5-3 bulan dengan berat 25-30 gram dan sehat yang

diperoleh dari IPB(Insititut Pertanian Bogor).

Rumus penentuan sampel untuk penelitian ini adalah Rumus Frederer (Fitriana et al., 2014), yaitu:

Dari rumus di atas dapat dilakukan perhitungan besaran sampel sebagai berikut: t = 5, maka didapatkan :

(44)

27

(n-1)(t-1) ≥ 15

(n-1)(5-1) ≥ 15

(n-1)4 ≥ 15

(4n-4) ≥ 15

4n ≥ 19

n ≥ 19/4

n ≥ 4.75

n ≥ 5

Keterangan :

t = kelompok perlakuan ( 5 kelompok )

n = jumlah pengulangan atau sample tiap kelompok.

Sampel penelitian sebanyak 25 ekor yang dipilih secara acak yang dibagi

dalam 5 kelompok dengan pengulangan atau sampel tiap kelompok percobaan adalah sebanyak 5 kali.

3.7 Kriteria Inklusi dan Ekslusi

3.7.1 Kriteria Inklusi:

1. Mencit jantan (Mus musculus L) 2. Usia 2,5 – 3 bulan

3. Berat badan 25 - 30 gram

(45)

28

3.7.2 Kriteria Ekslusi :

1. Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10 % setelah 1 minggu masa adaptasi dilaboratorium.

2. Mencit tidak mau makan.

3.8 Prosedur Penelitian

3.8.1 Pemeliharaan Hewan Uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit jantan (Mus musculus L) berat 25-30 gram dengan umur 2,5-3 bulan dan sehat. Mencit ditempatkan dalam kandang yang terbuat dari kawat

dengan dasar kandang dilapisi sekam padi setebal 0,5-1 cm untuk mencegah terjadinya infeksi akibat kotoran mencit, maka sekam padi

diganti setiap 3 hari. Suhu dan kelembaban ruangan dibiarkan berada dalam kisaran alamiah.

Makanan yang diberikan berupa pellet ayam dan minum berupa air

putih diberikan setiap hari. Makanan dan minuman diberikan secukupnya dalam wadah terpisah dan diganti setiap hari. Setiap mencit diberi perlakuan sesuai dengan kelompok perlakuan sekali

(46)

29

3.8.2 Penyediaan Vitamin E dan Asap Rokok

Vitamin E yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari

vitamin E sintetik yang ada di pasaran. Dan rokok didapatkan dari pasaran serta jenis rokok yang digunakan untuk pemaparan asap rokok

adalah rokok kretek.

1. Pemaparan Asap Rokok

Pemaparan asap rokok diberikan menggunakan smoking chamber

yang di design dengan dua lubang yaitu lubang untuk dihubungkan dengan air pump dan satu lagi untuk sirkulasi udara. Air pump

menggunakan spuit 10cc dan dihubungkan dengan selang karet sepanjang 3 cm yang akan dimasukkan ke dalam lubang sebagai

penghantar asap ke dalam kandang pemaparan (Fitriana et al., 2014). Dari penelitian sebelumnya yang telah dilakukan Hargono (2013) didapatkan bahwa pemaparan dengan 2 batang rokok/hari

dapat menyebabkan kerusakan pada spermatozoa mencit. Dan pemaparan asap rokok selama 15 hari sudah membuat motilitas

dan morfologi spermatozoa berkurang (Sankako et al., 2013)

Oleh karena itu peneliti pemaparan asap rokok dilakukan

menggunakan 2 batang rokok kretek per hari. Pemaparan dilakukan dengan cara membakar 1 batang rokok setiap 15 menit kepada kelompok negatif, P1, P2 dan P3 (Fitriana et al., 2014).

(47)

30

dilakukan selama 35 hari sesuai dengan waktu satu siklus

spermatogenesis pada mencit yaitu 35 hari (Rugh, 1968).

Gambar 7. Pemberian Paparan Asap Rokok 2. Pemberian Vitamin E

Pada penelitian ini vitamin E yang akan diberikan berupa vitamin

E sintetik. Dosis vitamin E didapatkan dari perhitungan konversi manusia (70kg) ke mencit (20gr) adalah 0,0026 dan dosis vitamin

E yang diberikan adalah 100 mg.

Dosis untuk mencit yaitu :

100 x 0,0026 = 0,039 = 0,26 mg/20grBB

Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk menggunakan dosis bertingkat vitamin E yaitu dengan cara menambahkan 2x dan 3x

dari dosis awal yaitu:

- Perlakuan 1 : 0,26 mg/20grBB

(48)

31

- Perlakuan 3 : 0,78 mg/20grBB

Untuk dosis yang digunakan pada mencit dengan berat badan 30 g:

Dosis vitamin E untuk perlakuan 1 : P1 = dosis x berat badan

= 0,26 mg/grBB x 30 gr/20gr

= 0,4 mg/mencit

Dosis vitamin E untuk perlakuan 2 : P2 = dosis x berat badan

= 0,52 mg/grBB x 30/20gr

= 0,8 mg/hari

Dosis vitamin E untuk perlakuan 3 : P3 = dosis x berat badan

= 0,78 mg/grBB x 30/20 gr

= 1,2 mg/hari

Dosis vitamin E yang diberikan kepada masing-masing kelompok adalah 0,4 mg, 0,8 mg dan 1,2 mg yang dilarutkan dalam minyak

(49)

32

3.8.3 Pemberian Perlakuan

Setiap kelompok mempunyai perlakuan yang berbeda yaitu :

1. Kontrol (+): Hanya diberi makanan pelet dan aquadest

2. Kontrol (-): Diberikan paparan asap rokok setiap hari selama 35

hari.

3. P1 : Diberikan paparan asap rokok setiap hari selama 35 hari + diberi vitamin E 0,4 mg/hari secara oral setiap hari selama 35 hari.

4. P2 : Diberikan paparan asap rokok setiap hari selama 35 hari + diberi vitamin E 0,8 mg/hari secara oral setiap hari selama 35 hari.

5. P3 : Diberikan paparan asap rokok setiap hari selama 35 hari + diberi vitamin E 1,2 mg/hari secara oral setiap hari selama 35 hari.

3.8.4 Pengamatan

Setelah 35 hari perlakuan, masing-masing hewan coba dikorbankan dengan cara dislokasi leher dan selanjutnya dibedah. Selanjutnya

dilakukan pengamatan sebagai berikut : 1. Pengambilan Sekresi Kauda Epididimis

Untuk mendapatkan sperma di dalam sekresi kauda epididimis

menurut Soehadi dan Arsyad (1983) dilakukan sebagai berikut: Setelah 35 hari perlakuan, masing-masing hewan percobaan dikorbankan dengan cara dislokasi leher dan selanjutnya dibedah.

(50)

33

bawah mikroskop bedah dengan pembesaran 400x kauda

epididimis dipisahkan dengan cara memotong bagian proximal korpus epididimis dan bagian distal vas deferens. Selanjutnya

kauda epididimis dimasukkan ke dalam gelas arloji yang berisi 1 ml NaCl 0,9%, kemudian bagian proximal kauda dipotong sedikit dengan gunting lalu kauda ditekan dengan perlahan hingga sekresi

cairan epididimis keluar dan tersuspensi dengan NaCl 0,9%. Suspensi sperma dari kauda epididimis yang telah diperoleh dapat

digunakan untuk pengamatan morfologi sperma

2. Parameter yang Diamati

Pengamatan morfologi spermatozoa dilakukan dengan cara mengambil spermatozoa dari kauda epididimis tersebut di atas dan dibuat sediaan hapus pada kaca objek, dikeringkan. Kemudian

diberi alkohol 70 % selama 15 menit, dikeringkan dan diberi perwarnaan giemsa selama 15 menit. Setelah itu dibilas dengan air

kran dan dikeringkan. Kemudian dengan mikroskop cahaya dihitung dengan jumlah 100 sperma, ditentukan persentase sperma yang normal.

(51)

34

ekornya tidak lurus bahkan tidak berekor, atau hanya terdapat

ekornya saja tanpa kepala .

Gambar 8. Morfologi Spermatozoa Mencit Normal dan Abnormal. (A) Spermatozoa normal; (B – J) Sperma abnormal. (B) Tidak ada kait; (C) Ekor ganda; (D) kepala berbentuk pentul; (E) Kepala tidak beraturan; (F) dan (G) kait bengkok ke belakang; (H) Ekor melengkung ke belakang kepala; (I) Tidak ada kepala; (J) ekor terlalu bengkok (Wyrobeck and Bruce, 1975).

3.9 Analisa Data dan Pengujian Hipotesis

Kelompok penelitian ini terdiri dari 5 kelompok, yaitu: 3 kelompok perlakuan dan 2 kelompok kontrol dalam 5 kali pengulangan. Pada tiap

kelompok, data yang terkumpul dianalisis menggunakan program SPSS 17 for Windows dengan menggunakan uji One Way Anova untuk menguji

perbedaan rerata pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

3.10 Etika Penelitian

Penelitian ini melibatkan 25 ekor mencit jantan strain DDY. Setelah proses

(52)

35

Penelitian ini diajukan kepada Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas

(53)

36

Gambar 9. Diagram Alur Penelitian Tidak diberikan

Mencit diterminasi dengan cara dislokasi leher Mencit diadaptasi selama 1 minggu

Pembedahan dan Pengambilan sekret kauda epididimis

(54)

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Pemberian vitamin E 0,4 mg/hari, 0,8 mg/hari dan 1,2 mg/hari dapat meningkatan persentasi morfologi normal spermatozoa mencit jantan yang

dipapar asap rokok. Dan dosis paling efektif adalah 1,2 mg/hari.

5.2 Saran

1. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui motilitas

spermatozoa mencit yang dipaparkan asap rokok setelah pemberian vitamin E

2. Sebaiknya masyarakat dapat mengurangi konsumsi rokok melihat efek yangdapat ditimbulkannya.

3. Sebaiknya masyarakat dapat meningkatkan konsumsi vitamin E sebagai

(55)

DAFTAR PUSTAKA

Acharya U, Mishra M, Patro J, Panda MK. 2008. Effect of Vitamins C and E on Spermatogenesis in Mice exposed to Cadmium. Reprod Toxicol. 25:84-8.

Aditama T. 2000. Pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswa akademi perawat serta mahasiswa fakultas kedokteran dalam masalah merokok. Jurnal Respirology Indonesia. 2:60-3.

Agarwal A, Saleh RA, Bedaiwy MA. 2003. Role of reactive oxygen species in the pathophysiology of human reproduction. Fertil Steril. 79:829–43.

Agarwal A, Prabakaran S, Said T. 2005. Prevention of Oxidative Stress Injury to Sperm. J Androl. 26:654-60.

Al-Enazi MM. 2007. Influence of α-Tocopherol on Heat Stress-Induced Changes in the Reproductive Function of Swiss Albino Mice. Saudi Journal of Biological Sciences. 141:61-67.

Almaster S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. pp 173:9.

Bizzaro P, Acevedo G, Nino-Cabrera P, Mussali-Galante F, Pasos MR, Avilacosta TI, Fortoul. 2003. Ultrastructural modification in the mitochondrion of mouse sertoli cells after inhalation of lead, cadmium or lead-cadmium mixture. Reproductive Toxicology. 17:561-6.

(56)

46

Burns E. 2007. The smoke of the gods: a social history oftobacco. Philadelphia:: Temple University Press. pp 243-4.

Burton GW. 1994. Vitamin E: molecular and biological function. Proceedings of the Nutrition Society. 53:251-62.

Clermont Y, Leblond CP. 1953. Renewal of spermatogonia in the rat. America Journal Anatomy. 93:475–50.

Evans WJ. 2000. Vitamin E, vitamin C, and exercise. Am J Clin Nutr. 72:647-52.

Fitriana R, Sutyarso, Susantiningsih T. 2014. The effect of red ginger ethanol extract (zingiber officinale roxb var rubrum) on sperm motility and morphology of cigarette smoke-induced male rats (rattus norvegicus) spargue dawley strain. Majority. 3(2):154-163

Fitriani, Eriani K, Sari W. 2010. The effect of cigarettes smoke exposure Causes fertility of male mice (Mus Musculus L). Jurnal Natural. 10(2):1-2

Gunawan S. 2007. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. Jakarta: FKUI. pp 786-7.

Guyton AC & Hall JE. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi ke-11. Jakarta: EGC

Goodman, Gilman. 2007. Dasar Farmakologi Terapi Edisi 10. Jakarta: EGC. pp 89-90

Hargono FR, Lintong PM, Kairupan CF. 2013. Gambaran Histopatologi testis mencit swiss (mus musculus) yang diberi kedelai dan paparan asap rokok. Jurnal e-Biomedik. 1(2):824-29

Hariyatmi. 2004. Kemampuan vitamin E sebagai antioksidan terhadap radikal bebas pada lanjut usia. Jurnal MIPA. 141:52-60.

(57)

47

Junqueira LC, Carneiro J. 2007. Histologi Dasar Teks & Atlas. 10th, Jakarta:EGC. pp 60-64

Johnson MH, Everitt BJ. 1988. Essential Reproduction. Melbourne: Blackwell Scientific Publications.

Linder MC. 2006. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme.. Jakarta: UI Press. pp 53-5

Mackay J, Eriksen M. 2002. The Tobacco Atlas. Switzerland: World Health Organization. pp 18-26.

Marcus R, Coulston A. 2007. Vitamin E, di dalam Goodman dan Gilman Dasar Farmakologi Terapi,10th ed. Jakarta: EGC. pp 1753-61

Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. 2006. Biokimia Harper, Edisi.Ke-27, Jakarta: EGC. pp 48-49.

Momeni, Hamid R, Mehranjan, Malek S, Abnosi MH, Mahmoodi, Monireh. 2009. Effects of vitamin E on sperm parameters and reproductive hormones in developing rats treated with para-nonylphenol. Iranian Journal of Reproductive Medicine. 7(3):111-116.

Nalbandov AV. 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. 3th ed. Jakarta: Universitas Indonesia. pp 41-53.

Nooh HZ, El-Seidy AM, Zanaty AW. 2009. Protective effect of vitamin E on nicotine toxicity of the rat testis: histological, molecular and cytogenic study. Egypt. J. Histol. 32(2): 401-09

Oakberg EF. 1957. Duration of spermatogenesis in the mouse. Nature. 180:1137-38

Rao, M.V., Sharma, P.S.N. 2001. Protective effect of vitamin E against mercuric chloride reproductive toxicity in male mice. Reproductive Toxicology, 15:705-12.

Rugh R. 1968. The mouse its reproduction and development. Melbourne: Burgess Publishing Company. pp 1-23.

(58)

48

Saleh RA, Agarwal A, Nada EA, El-Tonsy MH, Sharma RK, Meyer A, Nelson D, Thomas AJ. 2003. Negative effects of increased sperm DNA damage in relation to seminal oxidative stress in men with idiopathic and male factor infertility. Fertility and Sterility. 79:1597-1605.

Sankako, MK., Garcia PC., Piffer RC., Pereira OCM. 2013. Semen and Reproductive Parameters During Some Abstinence Periods After Cigarette Smoke Exposure in Male Rats. Brazilian Archives of Biology and Technology. 56(1):93–100.

Setyadi AD. 2006. Organ Reproduksi dan Kualitas Sperma Mencit (Mus musculus) yang Mendapat Pakan Tambahan Kemangi (Ocimum basilicum) Segar. Jurnal Biologi. 10(1):1-42.

Singh VS. 1992. A Current Perspective on Nutrition and Exercise. J Nutr. 122:760-65.

Sitepoe M. 1997. Usaha Mencegah Bahaya Rokok. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana. pp 29-35.

Sitepoe M. 2000. Kekhususan Rokok Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana. pp 21-4.

Soehardjono D. 1993.Percobaan Hewan Laboratorium. Yogyakarta: Gadjah Mada Univesity Press. pp 207

Soetjiningsih 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto. pp 45-8.

Suryohudoyo P. 2000. Oksidan, antioksidan dan radikal bebas. Kapita Selekta Ilmu Kedokteran Molekular. Jakarta: Info Medika. pp 65-74.

Syahrum MH. 1994. Reproduksi dan Embriologi: Dari Satu Sel Menjadi Organisme. Jakarta: UI-Press. pp 32-8.

Tremellen, K. 2008. Oxidative Stress and Male Infertility – A Clinical Perspective. Human Reproduction Update. 14(3):243–58.

Twigg J, Fulton N, Gomez E, Irvine DT, Aitken RJ. 1998. Analysis of the impact of intracellular reactive oxygen species generation on structural and functional integrity of human spermatozoa: lipid peroxidation, DNA fragmentation and effectiveness of antioxidants. Human Reproduction.13:1429-36.

(59)

49

Wyrobek AJ, and Bruce WR. 1975. Chemical induction of sperm abnormalities in mice. Proc Natl Acad Sci USA. 72: 4425-29.

Yavetz H, Leah Y, Sandra K, Amnon, Ron H, Joseph B, Lessing, Gedalia P, Ronni G. 2001. Morphology of Testicular Sperma Obtained By Testicular Sperm Extraction In Obstructive And Nonobstructive Azoospermic Men And Its Relation To Fertilization Success In The In Vitro Fertilization– Intracytoplasmic Sperm Injection System. Sydney: Journal Of Andrology, 22(3):2-7.

Yousef MI, Abdallah GA, Kamel KI. 2003. Effect of ascorbicacid and vitamin E supplementation on semen quality and biochemical parameters of male rabbits. Anim Reprod Sci.76:99-111.

Figur

Gambar
Gambar . View in document p.17
Gambar 1. Kerangka Teori
Gambar 1 Kerangka Teori . View in document p.22
Gambar 2.  Kerangka Konsep
Gambar 2 Kerangka Konsep . View in document p.23
Gambar 3. Struktur Kimia-α-Tokoferol (Goodman and Gilman, 2007)
Gambar 3 Struktur Kimia Tokoferol Goodman and Gilman 2007 . View in document p.30
Gambar 4. Sistem Reproduksi Mencit Jantan (Setyadi, 2006)
Gambar 4 Sistem Reproduksi Mencit Jantan Setyadi 2006 . View in document p.33
Gambar 5. Regulasi hormon reproduksi pria (Guyton and Hall, 2008)
Gambar 5 Regulasi hormon reproduksi pria Guyton and Hall 2008 . View in document p.39
Gambar 6. Morfologi Normal Spermatozoa Mencit ( Rugh,1968 )
Gambar 6 Morfologi Normal Spermatozoa Mencit Rugh 1968 . View in document p.40
Gambar 7. Pemberian Paparan Asap Rokok
Gambar 7 Pemberian Paparan Asap Rokok . View in document p.47
Gambar 8. Morfologi Spermatozoa Mencit Normal dan Abnormal. (A) Spermatozoa normal; (B – J) Sperma abnormal
Gambar 8 Morfologi Spermatozoa Mencit Normal dan Abnormal A Spermatozoa normal B J Sperma abnormal. View in document p.51
Gambar 9. Diagram Alur Penelitian
Gambar 9 Diagram Alur Penelitian . View in document p.53

Referensi

Memperbarui...