• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aksi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Ikl

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Aksi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Ikl"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

Aksi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan

Iklim Mendukung Ketahanan Pangan

Nasional

Prihasto Setyanto

(2)

Outline

Perubahan iklim

Peran Litbang Pertanian dalam Adaptasi dan

Mitigasi terhadap Perubahan Iklim

o

Aksi Adaptasi terhadap PI

• Teknologi tersedia

• Kalender tanam

• Penyusunan Katam terpadu

o

Aksi Mitigasi terhadap PI

o

Aksi Mitigasi dan Adaptasi

(3)
(4)
(5)

Peningkatan emisi GRK berdampak terhadap

perubahan iklim. El Nino dan La Nina akan

(6)

Bumi

Diagram Sederhana Sebagai Ilustrasi dari Pemanasan Global Radiasi matahari diserap oleh

permukaan bumi yang menyebabkan muka bumi makin hangat

S U N

UV

Suhu bumi meningkat

H2O H2O

Panas dalam bentuk radiasi infra merah dipantulkan oleh permukaan bumi

N2O

(7)

Temperature Change (degree C) CO2 Concentration (degree C) 15 10 5 0 -5

-10 Temperature Change

CO2 Concentration

Current Level

1700AD Level

Thousand Years Before Present

Sumber: PA Government Services Inc., 2000

160 140 120 100 80 60 40 20 0

360 340 320 300 280 260 240 220 200 180 160 140

(8)
(9)

Parameter Perubahan Iklim yang

berdampak thd pertanian

Suhu rata2 permukaan bumi meningkat

Konsentrasi CO2 di rizosfir meningkat

Naiknya permukaan air laut

pemuaian dan

mencairnya es dari gletser

Meluasnya lahan pertanian yang mengalami salinitas

Iklim ekstrim akan sering terjadi

CH ekstrim (La Nina berkepanjangan dengan intensitas

tinggi)

Panas dan kering ekstrim (El Nino berkepanjangan)

(10)

Perkiraan Dampak dari Perubahan Iklim

1°C 2°C 3°C 4°C 5°C

Peningkatan ketinggian permukaan air laut

mengancam kota-kota besar

Menurunnya hasil panen di banyak daerah, khususnya di negara berkembang

Pangan

Air

Ekosistem

Resiko dari

perubahan besar yang bersifat mendadak

Perubahan temperatur global (relatif terhadap kondisi sebelum industri) 0°C

Jatuhnya hasil panen di banyak negara maju

Meningkatnya jumlah spesies yag terancam kepunahan

Meningkatnya resiko dampak balik yang berbahaya dan mendadak, perubahan skala besar pada sistem iklim

Penurunan ketersediaan air di banyak daerah, termasuk Mediterania dan Afrika bagian Selatan

Pegunungan es kecil mulai menghilang - persediaan air menipis di beberapa daerah

Kerusakan terumbu karang yang parah

Kondisi Cuaca

yang Ekstrim Meningkatnya intensitas badai, kebakaran hutan, kekeringan, banjir, dan gelombang panas

(11)

CH4 100

CH4 0,03-1,1

CO2

CO2

CH4 0,1-4

Air tanah

CH4 5-20

CO2 CO2

Emisi

CH4 0,2-2,4

Ebulisi

CH4 0,01-0,06

(12)

Pertanian

Memiliki hubungan

kompleks dg PI

Pangan dan kesejahteraan

Jutaan petani, banyak yang

miskin

Menderita akibat PI (

korban

& rentan)

Berkontribusi thd emisi GRK

(CH

4

, N

2

O, dan CO

2

)

sumber

Adaptasi sbg prioritas

Punya potensi untuk mitigasi

(13)

Energy 50.5% Industry 7.7% Agriculture 13.6% Waste 28.3% Without LUCF With LUCF

Sumber: KLH, 2009

Energy 20% Industry 3% Agriculture 6% Land Use Change and Forestry 47% Peat Fire 13% Waste 11%

Sector Gg CO2e

Energy 280,938-

Industry 42,815-

Agriculture 75,420-

Land Use Change and Forestry

(excl. peat fire) 649,254-

Peat Fire

172,000-Waste 157,328-

Total without LUCF 535,730-

Total with LUCF(incl.peat fire) 1356,984-

(14)

Peran Litbang Pertanian dalam

Adaptasi

dan

Mitigasi

(15)
(16)

Aksi Adaptasi Pertanian Menghadapi PI

1. Pengembangan varietas padi yang tahan

terhadap cekaman iklim

a) Toleran kekeringan  Mekongga, Cigeulis, Inpari 10, Dodokan, Silugonggo, Situ Bagendit, Situ Patenggang, Limboto, Inpari 1, 10, 11, 12, dan 13

b) Toleran basah  Inpari 5, Inpari 3, Inpari 8, Inpari 1, Cibogo

c) Toleran salinitas & keracunan Fe, Al  Lambur, Banyuasin, Inpara 6, Dendang, Mendawak, Margasari, Sei Lalan,

Indragiri, Air Tenggulang

d) Tahan rendaman (14 hari terendam) Ciherang sub 1, Inpara 3, 4 dan 5

(17)

2. Diversifikasi pangan

alternatif pengganti beras

sbg sumber karbohidrat seperti; jagung, cassava,

umbi2an, pisang, sukun, sagu, dll.

3. Pemberian pupuk unsur mikro

Si; untuk

ketahanan padi thd serangan OPT dan tahan rebah

akibat CH ekstrim

4. Pengembangan

Kalender Tanam

sudah

tersedia untuk 3 skenario iklim yi; iklim basah (La

Nina), kering (El Nino), normal; sudah tersedia utk

17 Propinsi sampai tingkat kecamatan.

5. Pengembangan embung/water reservoir

,

sumur renteng di daerah rentan kekeringan

(18)

Rencana Aksi Adaptasi

Tantangan ke depan!!!

1. Penelitian dan Pengembangan

a. Recombinan gen tanaman C4 ke C3  gen Jagung ke padi b. Penelitian padi tahan rendaman  produksi tinggi, tahan OPT c. Penelitian padi tahan salinitas  produksi tinggi, rasa enak

d. Pengembangan kalender tanam dinamik dan terpadu dukungan stasiun iklim

e. Penelitian tanaman padi akar dalam  efisiensi pemupukan f. Penelitian deep tillage  alat bajak dalam

g. Penelitian padi toleran kekeringan  rasa enak, produksi tinggi, tahan OPT

h. Delineasi lahan pertanian yang rentan terhadap kekeringan, CH ekstrim (banjir), dan salinitas  di sentra produksi padi akibat perubahan iklim i. Peningkatan efisiensi pemupukan melalui teknologi nanno

2. Diseminasi

a. Percepatan sosialisasi teknologi ke pemerintah daerah, masyarakat, dan petani

(19)

Maize C4

Rice

(C

4

C

3

)

Genes

Penelitian Recombinan Gen tanaman C4

(jagung) ke (C3) padi

(20)

Penelitian padi tahan rendaman di IRRI

New Sub1

lines after 17 days submergence in field at IRRI

(21)
(22)
(23)

Adaptasi terhadap PI

(24)

Automatic Weather Station/

(25)

PETA KALENDER TANAM TANAMAN PANGAN

KABUPATEN BIMA

PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

POTENSIAL TAHUN KERING

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

KEMENTERIAN PERTANIAN

2011

(26)
(27)

Next Step >> untuk Adaptasi terhadap PI

Penyusunan Kalender Tanam Dinamik

(Katam Dinamik)

Indonesian Agro-climate and

Hydrology Research Institute

(28)

Latar Belakang

One implication of climate change is shifting of

the-onset and the-end of the planting season that

has adverse impacts on cropping pattern and crop

productivity, particularly food crops.

IAARD under the Ministry of Agriculture has

developed crop calendar for whole Indonesia

until sub district level (

kecamatan

).

However, the calendar should be further improve

(29)

Atlas Kalender Tanam

Semi-dynamic System.

Output sampai saat ini;

– 2007: Java (Vol. I)

– 2008: Sumatera (Vol. II)

– 2009: Kalimantan (Vol. III) dan Sulawesi (Vol. IV)

– 2010: Bali, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua (Vol. V)

Atlas Katam memberi informasi sampai tingkat

K

ecamatan

awal musim tanam (onset) dan alternatif

pola tanam dengan 3 skenario iklim, yaitu.

El-Nino

(kering)

,

Normal

and

La-Nina (basah)

.

(30)

Contoh Peta Katam yang Semi-dinamic

(31)

Note: Roman I, 2, and 3 indicate date 1-10, 11-20 and 21-30 of each month

(32)

Katam Semi Dinamik

Berdasarkan ketersediaan air dan kesesuaian iklim

3 skenario iklim: La-Nina, El-Nino, dan Normal

sepanjang tahun

kenyataannya, iklim

berfluktuasi

Katam Dinamik

Katam Terpadu

Next step

(33)

I. Katam Dinamik

Katam berdasarkan

3 kombinasi

musim tanam

and

3

skenario iklim

(basah, kering, normal).

3 musim tanam vs 3 skenario iklim = 27 kombinasi

Prediksi iklim

, i.e. curah hujan, awal musim hujan

BMKG

(34)

27 kombinasi MT dan skenario iklim:

1. MT-1 (basah) – MT 2 (basah) – MT 3 (basah) 2. MT-1 (basah) – MT 2 (basah) – MT 3 (Normal) 3. MT-1 (basah) – MT 2 (basah) – MT 3 (kering) 4. MT-1 (basah) – MT 2 (Normal) – MT 3 (basah) 5. MT-1 (basah) – MT 2 (Normal) – MT 3 (Normal)

25. MT-1 (kering) – MT 2 (kering) – MT 3 (basah) 26. MT-1 (kering) – MT 2 (kering) – MT 3 (Normal) 27. MT-1 (kering) – MT 2 (kering) – MT 3 (kering)

(35)

II. Katam Terpadu

Informasi yang akan dihasilkan

1. CH dan prediksi awal musim hujan

BMKG

2. Awal musim tanam(Onset)

berdasarkan Katam

dinamik

3. Pola Tanam

berdasarkan Katam dinamik

4. Luas tanam potensial

5. Rekomendasi pemupukan (NPK)

6. Rekomendasi varietas padi

(36)

Bagaimana menyusun Katam dinamik

Seed and fertilizer requirement and other information Cropping Calendar at Sub-District Level Combined Cropping Calendar with Climate Prediction

Near Real Time Climate Prediction by

BMKG

(37)

37

Dukungan Institusi

No Komponen Instansi pendukung

1. Prediksi iklim BMKG

2. Katam dan prakiraan awal tanam Balitklimat

3. Potensi luas areal tanam Balitklimat

4. Rekomendasi pemupukan Balai Penelitian Tanah

5. Rekomendasi varietas padi Puslitbangtan

6. Rekomendasi jumlah benih Puslitbangtan

(38)

Note: Roman I, 2, and 3 indicate date 1-10, 11-20 and 21-30 of each month

Example of table of Integrated Cropping Calendar System at

sub district level in Indramayu Region

(First Planting Time)

Rainfall

Prediction Area Planting

Time

Fertilizer Rec.

Rice cultivar

Rec. Others Seed Need

(39)

Mitigasi terhadap PI

(40)

Aksi Mitigasi

1. Rendah emisi CH4  Way Apoburu, Memberamo

2. Tanam padi hemat air  intermittent irigation (irigasi berselang)

3. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)  Precision Farming

4. System of Rice Intensification (SRI)  wilayah khusus 5. Teknologi Minapadi (Padi-Ikan)  sumber air cukup

6. Ameliorasi lahan gambut dengan pupuk kandang, terak baja, kompos TBS, tanah mineral mengandung Fe

7. Pengembangan rumah pangan lestari  pemanfaatan pekarangan seoptimal mungkin untuk pemenuhan

(41)

Pengaruh varietas padi dalam emisi CH4

1. Tanaman padi menghasilkan

eksudat akar  berbeda antar

varietas

2. Akar padi memiliki kapasitas dlm

translokasi O2  berbeda antar

varietas

3. Tanaman padi berfungsi sbg cerobong (melalui pembuluh

aerenkima)  CH4 transport

capacity berbeda antar varietas

4. Usia tanaman padi  berbeda

antar varietas

(42)

No Rice Variety Seasonal emission (kg CH4/ha)

SD CV (%) Number of

Data CF

1 Gilirang 496,9 1 2,46 2 Fatmawati 365,9 1 1,81 3 Aromatic 273,6 138,87 50,8 3 1,35 4 Tukad Unda 244,2 106,54 43,6 2 1,21 5 IR 72 223,2 133,01 59,6 5 1,10 6 Cisadane 204,6 133,85 65,4 14 1,01 7 IR 64* 202,3 165,17 81,7 164 1,00 8 Margasari 187,2 89,93 48,0 3 0,93 9 Cisantana 186,7 53,71 28,8 6 0,92 10 Tukad Petanu 157,8 32,16 20,4 2 0,78 11 Batang Anai 153,5 81,24 52,9 3 0,76 12 IR 36 147,5 121,56 82,4 5 0,73 13 Memberamo 146,2 99,49 68,1 64 0,72 14 Dodokan 145,6 144,54 99,2 6 0,72

(43)
(44)

Soil cultivation

Plastic lining

Water control level

(45)

0 DAT Transplanted rice

(46)

0 DAT 70 85

5 cm 5 cm 5 cm

5 cm

0-1 cm

1. 5 cm (continuous flooding)

0 DAT 70 85

2. 0 – 1 cm (continuous flooding)

15

0 DAT 20 30 35 70 85

3. Intermittent irrigation

0 DAT 70 85

(47)

Total CH

4

emission, yield and biomass of

different water management practices

Treatment

5 cm (continuous flooded) 254.1+ 29.00 a 3482 +167 a 4775 +200 a 0-1 cm (continuous flooded) 185.0+ 12.90 b 2990 +188 a 4900 +725 a Intermittent irrigation 135.9+ 20.00 c 3529 +207 a 4800 +450 a Pulse irrigation 95.5 + 5.80 c 2986 +378 a 4950 +425 a

Numbers in the same column followed by a common letter are not significantly different at P < 0.05 by DNMRT.

(48)
(49)

Perlakuan

1. Kontrol/cara biasa: pupuk sesuai anjuran (120 kg/ha N, 90 kg/ha P dan 60 kg/ha K); tanpa bahan

organik; irigasi terus-menerus (continously flooded), bibit umur 25 hss.

2. Sama dengan no.(1) tetapi pengairan secara berselang (intermittent).

3. PTT: bibit muda (15 hss) satu rumpun per lubang, pemupukan berdasarkan BWD, bahan organik setara 2 ton/ha, irigasi berselang (intermittent) dan cara tanam

sistem legowo 2:1.

1.

2.

(50)

4. Seperti no. (3) tetapi pengairan terus menerus (continously

flooded).

5. SRI (System of Rice

Intensification): pupuk organik 15

ton/ha, bibit 15 hss, tanpa

pemupukan anorganik dan jarak tanam 30 x 30 cm.

4.

(51)

Teknologi Penurunan emisi CO2e (%) Hasil (t/ha) Ratio (t CO2e/t yield)

MH MK MH MK MH MK

Cara petani-Irigasi Baseline 7.4 5.4 1.1 1.8

Cara

petani-intermitent -29.2 -39.2 7.7 5.1 0.7 1.2

PTT-Irigasi -13.3 -35.2 7.4 5.3 1.3 1.5

PTT-Intermittent -40.4 -40.6 7.6 5.1 0.6 1.1

SRI-Intermittent -43.8 -42.9 4.9 2.5 0.9 2.3

SRI-Macak2 -24.0 -33.7 4.9 2.7 1.1 2.4

Semi

SRI-Intermittent -24.8 -34.8 6.2 3.1 1.0 1.9

(52)

Precision farming

Informasi pupuk via jaringan seluler

(53)

Perangkat komputer untuk memperlihatkan peak GRK

(54)
(55)
(56)

Aksi Mitigasi dan Adaptasi

1. Pengembangan Indonesian Carbon Efficient Farming (ICEF)

 untuk adaptasi PI sekaligus mitigasi emisi GRK di lahan sawah. Prototype project di BB Padi Sukamandi seluas 100 ha

2. Gerakan penanaman tanaman buah2an di lahan berlereng

untuk konservasi lahan dan nilai tambah masyarakat

3. Tumpangsari tanaman perkebunan dan tanaman pangan 4. Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan  proyek ICCTF

(57)

I-L-Badan Litbang Pertanian-KEMTAN 57

Indonesian Carbon

Efficient Farming (ICEF)

PTT : Pengelolaan Tanaman Terpadu

PHT : Pengelolaan Hama &

Penyakit Terpadu

SITT : Sistem Integrasi Tanaman

Ternak

SIST : Sistem Integrasi Sawit

ternak

SRI : System of Rice Intensification

Biochar: Bio-Charcoal

SITT PTT SRI SIST Biogas Prescription farming PHT Biochar Low CH4 emitting rice cultivar Intermittent irrigation

(58)

PADI 50. 000 ton

PUPUK ORGANIK

11.500 ton ~ (200 t Urea, 130 t SP36, 700 t KCl)

BERAS 30.000 TON DEDAK 4.450 ton SEKAM 15.500 ton LAHAN 5.000 Ha JERAMI 50.000 ton PAKAN 1000 ekor BAHAN INDUSTRI PULP KOHE 73.000 ton PUPUK ORGANIK

21.900 ton ~ (200 t Urea, 180 t SP36, 230 t KCl)

ENERGI GAS

32.850 GJ CH4 ~684nton LPG

ENERGI

10.400 GJ ~ 10.400 LPG eqv

MEDIA TANAMAN BIOCHAR 15.000 ton PARTIKEL BOERD DLL ON FARM

Skala Usaha 5000 ha OFF FARM

Penurunan Emisi

Penurunan Emisi

ENERGI

232.500 GJ ton ~ 4.800 ton LPG

ABU / PUPUk K

SUSU dan DAGING

Penurunan Emisi

PUPUK ORGANIK

18.250 ton ~ (200 t Urea, 180 t

SP36, 230 t KCl)

Digester BIO GAS

PTT/SRI

(Intermiten, Var Rendah Emisi)

(59)

64.2 55.6

1861.3 285.8

237.6 523.4

I II III IV V

Emisi CO2e (ekivalen) baseline

(t/ha/musim) pada 100 ha lokasi ICEF di BB Padi

Total emisi CO2e dari 100 ha adalah:

2504,5

t/ha/musim

Rata-rata emisi CO2e yang

dilepaskan adalah

28,8 t/ha/musim

Asumsi:

1. Indeks panen = 0,5 2. Produksi rata2 = 6,5

t/ha

3. Kandungan C padi = 46% (KA 20%)

4. KA panen = 25%

Total CO2e yang diserap tanaman padi = 20,4

t/ha/musim

Emisi CO2e yg dapat diturunkan 28,8 – 20,4 =

8,2 t/ha/musim

Target reduksi 50% emisi CO2e =

4,1 t/ha/musim

Asumsi: Harga reduksi per ton CO2e = USD 10, maka Lokasi ICEF dapat

menghasilkan ;

(60)

Gerakan menanam buah2an di lahan berlereng dan

terdegradasi

“minuman ini berasal dari penghijauan dengan tanaman buah2an di DAS

Citarum”

“minuman ini berasal dari penghijauan dengan tanaman buah2an di wilayah

DAS rusak di Jawa Barat”

(61)

Tumpangsari Karet/Sawit

dengan Kedelai

• Kedelai ditanam di area 7 – 8 m di antara karet/sawit.

• Saluran drainase dibuat antar saluran 4 – 5 m.

• Varietas di utamakan toleran kekeringan dan naungan.

• Untuk tanah masam di

(62)

Tumpangsari Hutan

Jati - Kedelai

• Varietas: Wilis, Argomulyo, Kaba, Grobogan

• Benih: Benih Sumber (>90%)

• Pengolahan tanah: TOT atau min.

• Drainase: 5 s/d 8 m

• Jarak tanam: 40 x 15 cm

• Pengendalian gulma: 2 – 3 minggu dan 5 – 6

minggu setelah tanam

(63)

RAN GRK

(Perpres nomor 61, 2011)

Inventarisasi GRK

(64)

RENCANA AKSI NASIONAL UNTUK MENURUNKAN 26% GRK SAMPAI 2020

NO Kegiatan VOLUME TARGET

(mill ton CO2 e)

1 Optimalisasi lahan pertanian melalui penyiapan lahan tanpa bakar

300,500 ha 4,808

2 Penerapan teknologi pengelolaan lahan pertanian terpadu

2,026,500 ha 32,424

3 Pemanfaatan bahan organik dan biopestisida

250,000 ha 10,000

4 Pengembangan pertanian di lahan non hutan, marjinal dan lahan terdegradasi

Kelapa sawit 860,000 ha Karet 42,000 ha Kakao 365,000 ha

74,530

2,380 5,421

5 Pemanfaatan bahan organik untuk bioenergi dan pemupukan

1500 Gapoktan 1,012

6 Penelitian dan pengembangan teknologi rendah emisi dan

metodologi MRV di lahan pertanian

4 keg utk tan pangan, 12 keg di sektor peternakan, 4 keg untuk perkebunan, 3 keg utk MRV

TOTAL 130,574

(65)

RENCANA AKSI NASIONAL UNTUK MENURUNKAN GRK 26% SAMPAI 2020 (gambut)

NO Kegiatan VOLUME TARGET

(mill ton CO2 e)

1 Pengelolaan gambut berkelanjutan untuk pertanian

325,000 ha 103,432

2 Rehabilitasi, reklamasi, dan revitalisasi lahan gambut terdegradasi untuk pertanian

8 kegiatan 100,750

3 Penelitian dan Pengembangan metodologi untuk MRV di lahan gambut

6 kegiatan/ 12 paket teknologi

TOTAL 204,182

(66)

Giddens paradox

Ancaman perubahan iklim tidak nyata (tangible), tidak segera terjadi (immediate), maka seberapapun hebatnya

dampak dari perubahan iklim, orang akan tetap

berpangku tangan, menunggu hingga ancaman makin nyata dan akut sebelum mereka beranjak

bekerja...dan...ketika itu ...semua sudah terlambat

(67)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pelaksanaan fungsi anggaran, DPR dapat mengarahkan pembiayaan APBN ditujukan untuk melaksanakan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dalam berbagai

Proses adaptasi yang dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim pada sektor pertanian. dengan cara melihat kondisi cuaca dan kondisi lahan ketika pertama kali

Di sisi lain, kekeringan dan kemarau panjang juga menyebabkan banyak wilayah sentra pertanian mengalami gagal panen karena distribusi curah hujan yang tidak

• Pemantauan day to day oleh tenaga kesehatan terhadap informasi iklim ekstrim melalui Sistem Peringatan Dini Banjir/Kekeringan yang dikeluarkan oleh BMKG. • Memberikan

Hilangnya tutupan lahan hutan karena konversi hutan untuk pemukiman, perkebunan, pertanian dan kebutuhan untuk pembangunan di sektor lain, telah menyebabkan perubahan pola

Kriteria daerah yang terkena pengaruh Dampak Pengaruh Iklim (DPI) Bencana alam banjir dan kekeringan pada tanaman padi untuk masing – masing kecamatan disetiap kabupaten/kota

Panduan ini berisi informasi tentang Lokakarya dan Seminar Nasional Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim yang diselenggarakan di Bogor pada tanggal 13-14 September 2017 oleh

Dokumen ini membahas ekosistem Brasil, dampak perubahan iklim, serta data aliran sungai selama periode kekeringan dan banjir di