Persentase Organ Dalam Ayam Broiler dengan Pakan Mengandung Tepung Inti Sawit yang Ditambahkan Pollard atau Dedak

Teks penuh

(1)

PERSENTASE ORGAN DALAM AYAM BROILER DENGAN

PAKAN MENGANDUNG TEPUNG INTI SAWIT YANG

DITAMBAHKAN POLLARD ATAU DEDAK

SITI ROSYANI

DEPATEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Persentase Organ Dalam Ayam Broiler dengan Pakan Mengandung Tepung Inti Sawit yang Ditambahkan Pollard atau Dedak adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

SITI ROSYANI. Persentase Organ Dalam Ayam Broiler dengan Pakan Mengandung Tepung Inti Sawit yang Ditambahkan Pollard atau Dedak. Dibimbing oleh Nahrowi dan Rita Mutia.

Penggunaan inti sawit dalam pakan perlu dibatasi, karena mengandung serat kasar dan lemak kasar yang tinggi, serta protein yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan mengandung tepung inti sawit yang ditambahkan pollard atau dedak terhadap persentase organ dalam ayam broiler. Perlakuan yang diberikan adalah P1: kontrol, P2: pakan A (pakan mengandung tepung inti sawit + pollard), P3: pakan B (pakan mengandung tepung inti sawit + dedak padi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase berat hati dan empedu tidak signifikan dipengaruhi oleh perlakuan. Perlakuan pakan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap persentase berat dan panjang relatif organ pencernaan,dimana persentase berat lebih tinggi dan panjang relatif lebih panjang pada perlakuan dibandingkan dengan kontrol, sementara antar perlakuan menunjukkan hasil yang sebanding, kecuali pankreas dan usus besar. Kesimpulannya adalah pemberian pakan mengandung tepung inti sawit yang ditambahkan pollard atau dedak padi menghasilkan persentase hati, empedu, proventriculus, gizzard, usus halus, dan seka yang sebanding, namun tidak untuk pankreas dan usus besar dimana pakan mengandung tepung inti sawit yang ditambah pollard lebih besar daripada pakan mengandung tepung inti sawit yang ditambah dedak.

Kata kunci: inti sawit, organ dalam, tepung inti sawit

ABSTRACT

SITI ROSYANI. Percentage of Internal Organs in Broiler Chicken with Feed Containing Palm Kernel Powder Added Pollard or Rice Bran. Supervised by Nahrowi and Rita Mutia.

The use of palm kernel in the diet should be limited, because it contains high crude fiber and crude fat and low protein. The objective of this study was to determine the effect of feeding diets containing palm kernel powder added pollard or rice bran on percentage of internal organs in broiler chickens. The treatments were as follow : P1: control, P2: feed A (feed containing palm kernel powder added pollard ), P3: feed B (feed containing palm kernel powder added rice bran). The results showed that percentage of weight of the liver and bile were not significantly affected by the treatment. However the treatments significantly (P<0.01) affected the percentage of weights and relative lengths digestive organs where the percentage of weights were higher, and relative lengths were longer for treatments compared with that of control, while P2 and P3 results are comparable, except pancreas and colon. It is concluded that feeding diets containing palm kernel powder added pollard or rice bran produces a comparable percentage of internal organs in broiler chicken, but not to the pancreas and colon where feed containing palm kernel powder added pollard higher than feed containing palm kernel powder added rice bran.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan

pada

Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

PERSENTASE ORGAN DALAM AYAM BROILER DENGAN

PAKAN MENGANDUNG TEPUNG INTI SAWIT YANG

DITAMBAHKAN POLLARD ATAU DEDAK

SITI ROSYANI

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

Judul Skripsi : Persentase Organ Dalam Ayam Broiler dengan Pakan Mengandung Tepung Inti Sawit yang Ditambahkan Pollard atau Dedak

Nama : Siti Rosyani NIM : D24080371

Disetujui oleh

Prof Dr Ir Nahrowi, M Sc Pembimbing I

Diketahui oleh

Dr Ir Rita Mutia, M Agr Pembimbing II

Dr Ir Idat Galih Permana, MScAgr Ketua Departemen

(9)
(10)

PRAKATA

Bismillaahirrahmaanirrahim, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga karya ilmiah yang berjudul Persentase Organ Dalam Ayam Broiler dengan Pakan Mengandung Tepung Inti Sawit yang Ditambahkan Pollard atau Dedak ini berhasil diselesaikan.

Inti sawit yang ketersediaannya cukup melimpah diharapkan dapat dipergunakan oleh para peternak sebagai bahan pakan lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan impor. Kandungan serat kasar dan lemak kasar yang tinggi dalam inti sawit akan mempengaruhi persentase organ dalam ayam broiler, sehingga penggunaannya perlu dibatasi. Besar harapan bagi penulis agar hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya mengenai penggunaan inti sawit sebagai bahan pakan alternatif untuk unggas. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

METODE 3

Lokasi dan Waktu 3

Bahan Penelitian 3

Peralatan Penelitian 4

Prosedur Percobaan 4

Persiapan tepung inti sawit 4

Persiapan kandang dan pemeliharaan 5

Pelaksanaan panen 5

Peubah yang diamati 5

Rancangan dan Analisis Data 6

HASIL DAN PEMBAHASAN 6

Pengaruh Perlakuan Pakan terhadap Organ Dalam Ayam Broiler 6

Berat hati 6

Berat empedu 7

Berat pankreas 7

Pengaruh Perlakuan Pakan terhadap Saluran Pencernaan Ayam Broiler 7

Berat proventriculus 7

Berat gizzard 7

Berat usus halus 9

Berat usus besar (colon) 9

Berat seka 10

SIMPULAN DAN SARAN 10

Simpulan 10

Saran 10

DAFTAR PUSTAKA 10

LAMPIRAN 12

RIWAYAT HIDUP 18

(12)

DAFTAR TABEL

1 Komposisi pakan A dan pakan B 3

2 Komposisi nutrien pakan penelitian 4

3 Komposisi nutrien inti sawit 5

4 Rataan berat dan persentase berat organ dalam ayam broiler 6 5 Rataan berat, persentase berat, dan panjang relatif organ pencernaan

ayam broiler 8

DAFTAR GAMBAR

1. Persentase roduk utama dan hasil samping pengolahan minyak sawit 1

2. Alur pembuatan pakan 4

DAFTAR LAMPIRAN

1 Sidik ragam persentase hati 12

2 Sidik ragam persentase empedu 12

3 Sidik ragam persentase pankreas 12

4 Uji kontras ortogonal persentase pankreas 12

5 Sidik ragam persentase proventriculus 12

6 Uji kontras ortogonal persentase proventriculus 13

7 Sidik ragam persentase gizzard 13

8 Uji kontras ortogonal persentase gizzard 13

9 Sidik ragam persentase duodenum 13

10 Uji kontras ortogonal persentase duodenum 13

11 Sidik ragam panjang relatif duodenum 14

12 Uji kontras ortogonal panjang relatif duodenum 14

13 Sidik ragam persentase jejenum 14

14 Uji kontras ortogonal persentase jejenum 14

15 Sidik ragam panjang relatif jejenum 14

16 Uji kontras ortogonal panjang relatif jejenum 15

17 Sidik ragam persentase ileum 15

18 Uji kontras ortogonal persentase ileum 15

19 Sidik ragam panjang relatif ileum 15

20 Uji kontras ortogonal panjang relatif ileum 15

21 Sidik ragam persentase colon 16

22 Uji kontras ortogonal persentase colon 16

23 Sidik ragam panjang relatif colon 16

24 Sidik ragam persentase seka 16

25 Uji kontras ortogonal persentase seka 16

26 Sidik ragam panjang relatif seka 17

(13)
(14)

PENDAHULUAN

Terdapat kendala dalam penyediaan pakan ternak unggas di Indonesia, salah satu diantaranya adalah tingginya jumlah bahan impor yang digunakan sebagai komponen penyusun pakan. Sekitar 80% dari komponen pakan unggas merupakan produk impor, seperti jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, meat bone meal (MBM), dan corn gluten meal (CGM). Hal ini secara langsung akan mengakibatkan harga pakan terus meningkat.

Pemanfaatan bahan pakan lokal secara optimal dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan pakan impor. Bahan pakan yang dipilih harus memenuhi syarat, yaitu tersedia secara terus menerus, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, mudah didapat, dan berkualitas baik. Salah satu bahan pakan tersebut adalah yang berasal dari kelapa sawit, yaitu inti sawit.

Kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat diandalkan. Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah (CPO atau crude palm oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau palm kernel oil) yang tidak berwarna (Sastrosayono 2003). Produksi kelapa sawit di Indonesia cukup tinggi yakni sekitar 20 ton/ha/tahun dan sebesar 5% dari tandan buah segar menghasilkan inti sawit. Elisabeth dan Ginting (2003) menyatakan bahwa selain menghasilkan crude palm oil (CPO) sebagai komoditas utama, industri kelapa sawit juga menghasilkan beberapa jenis hasil sampingan yang potensial sebagai bahan pakan. Persentase produk utama dan hasil samping kelapa sawit dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Persentase produk utama dan hasil samping pengolahan minyak sawit Sumber : Elisabeth dan Ginting (2003)

Gambar di atas menunjukkan bahwa inti sawit memiliki potensi yang baik untuk dijadikan pakan alternatif karena ketersediaannya cukup melimpah. Penggunaan inti sawit sebagai bahan baku komponen penyusun ransum juga dapat menjadi inovasi baru dalam bidang peternakan.

Tandan Buah Sawit Segar

(15)

2

Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa inti sawit memiliki kandungan serat kasar dan lemak kasar yang tinggi, yakni sebesar 27.75% dan 46.51%, serta kandungan protein yang rendah yaitu sebesar 9.56% (Saputra 2012), sehingga penggunaan inti sawit sebagai bahan baku penyusunan pakan (khususnya pakan unggas) perlu dibatasi. Kandungan air dalam inti berkisar antara 15%-25% tergantung dari proses pengolahannya. Kadar air inti yang diinginkan dalam penyimpanan adalah 6%-7% karena pada kadar air tersebut mikroba sudah mengalami kesuitan untuk hidup, dan kondisi ruangan penyimpanan dapat diatur pada kelembaban nisbi 70%. Inti sawit dapat tahan lama disimpan selama 6 bulan jika kadar air inti sangat rendah (Naibaho 1998). Penelitian yang telah dilakukan oleh Ketaren et al. (1999) dan Sinurat et al. (2000), dapat disimpulkan bahwa penggunaan hasil samping dari kelapa sawit yang terbaik dalam pakan ayam broiler adalah 5%, namun belum ada penelitian yang melaporkan mengenai batasan pemakaian inti sawit di dalam pakan unggas.

Peternak dapat menambahkan bahan pakan sumber energi untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ternak apabila pakan yang diberikan mengandung energi yang rendah, bahan yang sering digunakan adalah pollard dan dedak padi. Pollard merupakan hasil samping penggilingan gandum yang mengandung kulit ari gandum yang halus serta mempunyai kandungan serat dan protein yang tinggi dan profil asam aminonya mirip dengan gandum (Phang 2001). Dedak padi adalah bahan pakan yang umum digunakan pada pakan unggas terutama di negara Asia karena harganya relatif murah, mudah diperoleh, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia dan ketersediaannya cukup banyak di Indonesia (Mulyantini 2010). Penambahan dua bahan tersebut ke dalam pakan unggas diharapkan agar para peternak dapat dengan mudah mendapatkan bahan pakan sumber energi untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ayam broiler yang diberikan pakan mengandung tepung inti sawit.

(16)

3

METODE

Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus 2012 hingga Oktober 2012. Pemeliharaan dilakukan di Kandang Penelitian Laladon Indah, Bogor. Pembuatan pakan dilakukan di Laboratorium Industri Pakan, dan pengukuran organ dalam dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Bahan Penelitian

Penelitian ini menggunakan day old chick (DOC) ayam broiler CP 707 sebanyak 180 ekor yang diperoleh dari PT. Charoen Pokphand Jaya Farm. Pakan yang digunakan pada penelitian ini adalah pakan buatan sesuai dengan kebutuhan ayam broiler berdasarkan NRC 1994 dengan menggunakan beberapa campuran bahan dengan formulasi yang berbeda-beda. Pakan A terdiri atas inti sawit, jagung, bungkil kedelai, CGM, MBM, dicalcium phosphate (DCP), garam, metionin, premix, dan antioksidan yang dicampur dengan pollard. Komposisi pakan B sama seperti pakan A, namun pada pakan B dicampur dengan bahan tambahan berupa dedak padi. Sedangkan untuk kontrol, digunakan pakan komersial yang terdiri atas jagung, dedak padi, bungkil kedelai, bungkil kelapa, MBM, pecahan gandum, bungkil kacang tanah, tepung daun canola, kalsium, fosfor, vitamin, trace mineral, dan antioksidan. Komposisi pakan yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 1, komposisi nutrien pada pakan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1 Komposisi pakan A dan pakan B

Bahan Baku Penggunaan (%)

Pakan A Pakan B

Inti Sawit 7.65 7.65

Jagung 53.35 53.35

Bungkil Kedelai 18.00 18.00

CGM 8.00 8.00

MBM 5.90 5.90

DCP 0.40 0.40

Garam 0.40 0.40

Metionin 0.30 0.30

Pollard 6.00 -

Dedak Padi - 6.00

(17)

4

Tabel 2 Komposisi nutrien pakan penelitian (% BK)

Nutrien Kandungan

BR11* BR12* Pakan A** Pakan B**

ME (Kkal kg-1) 2820 – 2920 2920 – 3020 - -

GE (Kkal kg-1) - - 4374.00 4176.00

PK (%) 21.00 – 23.00 19.00 – 21.00 21.58 20.96

LK (%) 5.00 5.00 7.84 7.05

SK (%) 5.00 5.00 5.97 6.13

Ca (%) 0.90 0.90 0.74 0.46

P (%) 0.60 0.60 0.67 0.42

Keterangan : Pakan A (pakan mengandung inti sawit + pollard); pakan B (pakan mengandung inti sawit + dedak padi); *) Berdasarkan label pakan; **) Berdasarkan hasil analisis laboratorium INTP, Fakultas Peternakan, IPB (2012)

Peralatan Penelitian

Peralatan yang digunakan untuk pemeliharaan ayam broiler berupa tempat pakan, tempat air minum, timbangan digital, termometer, hygrothermometer, kertas koran, sekam, sapu lidi, karung, tirai, dan lampu pijar 75 watt.

Prosedur Percobaan Persiapan tepung inti sawit

Kelapa sawit dibuang serabutnya kemudian buah sawit yang diperoleh dijemur untuk mempermudah proses pemisahan antara inti dengan batoknya. Setelah terpisah dari batoknya, inti sawit dijemur kembali hingga kering. Inti sawit yang sudah kering kemudian digiling menjadi tepung. Alur pembuatan pakan dapat dilihat pada Gambar 2 dan komposisi nutrien inti sawit disajikan pada Tabel 3.

Gambar 2 Alur pembuatan pakan

Pengecilan ukuran pakan menjadi crumble Pencetakan pakan menjadi pellet Pencampuran inti sawit dengan bahan pakan

Penggilingan inti sawit Penjemuran kembali inti sawit Pemisahan antara inti sawit dengan batok Penjemuran inti sawit dibawah sinar matahari

(18)

5 Tabel 3 Komposisi nutrien inti sawit (% BK)

Komposisi Nilai

Sumber : Analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB (2011)

Persiapan kandang dan pemeliharaan

Sebelum DOC datang, kandang dipersiapkan terlebih dahulu. Hal yang perlu dilakukan adalah membersihkan kandang, mengalasi kandang dengan sekam, sanitasi kandang, peralatan kandang, dan lingkungan disekitar kandang.

Sebanyak 180 ekor DOC ayam broiler CP 707 dialokasikan pada 18 petak kandang, masing-masing kandang terdiri dari 10 ekor ayam broiler, setiap kandang diberi perlakuan pakan yang berbeda-beda, yaitu:

P1 = Kontrol (BR11 dan BR 12)

P2 = Pakan A (pakan mengandung tepung inti sawit + pollard) P3 = Pakan B (pakan mengandung tepung inti sawit + dedak padi)

Ternak dipelihara selama empat minggu. Ternak kontrol diberi pakan komersil BR 11 pada minggu pertama dan dua, sedangkan pada minggu ke-tiga dan ke-empat diberi pakan BR 12. Ternak perlakuan diberi pakan mash pada minggu pertama dan ke-dua sebanyak lima kali sehari, sedangkan pada minggu ke-tiga dan ke-empat pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari dalam bentuk pellet. Pakan dan air minum diberikan secara ad libitum. Penimbangan bobot badan dilakukan seminggu sekali.

Pelaksanaan panen

Pelaksanaan panen dilakukan pada hari ke-28, sebanyak 36 ekor ayam (2 ekor tiap kandang) diambil dan dilakukan penimbangan bobot hidup akhir kemudian dipotong. Ayam yang sudah dipotong selanjutnya dikeluarkan dan diukur organ dalam (hati, empedu, pankreas, proventriculus, gizzard, usus halus, usus besar, dan seka).

Peubah yang diamati

(19)

6

Rancangan dan Analisis Data

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 6 kali ulangan dengan menggunakan model matematik sebagai berikut (Steel dan Torrie, 1993):

Xij = μ + τi + εij

Keterangan :

Xij = Perlakuan pengolahan ke-i dan ulangan ke-j

μ = Rataan umum

τi = Pengaruh perlakuan ke-i

εij = Eror (galat) perlakuan ke-i ulangan ke-j

Data yang terkumpul di analisis ragam (Steel and Torrie, 1993) dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji kontras ortogonal.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Perlakuan Pakan terhadap Organ Dalam Ayam Broiler

Rataan berat dan persentase berat organ dalam ayam broiler disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Rataan berat dan persentase berat organ dalam ayam broiler

Peubah Perlakuan

Keterangan : Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01); P1 : pakan kontrol (pakan komersil); P2 : pakan A (pakan mengandung tepung inti sawit + pollard); P3 : pakan B (pakan mengandung tepung inti sawit + dedak padi)

Berat hati

(20)

7 bahwa kelainan hati biasanya ditandai dengan pembengkakan dan penebalan salah satu lobi pada hati, dan hal tersebut dapat menyebabkan peningkatan bobot hati yang dihasilkan.

Berat empedu

Perlakuan tidak nyata mempengaruhi persentase berat empedu (P>0.05), sehingga kerja empedu untuk mensekresikan kolesterol dan membentuk emulsi lemak dengan bantuan asam-asam empedu yang disekresikan oleh hati tidak terganggu (Ressang 1984). Rataan persentase berat empedu pada penelitian ini berkisar antara 0.11%-0.12% (Tabel 4).

Berat pankreas

Perlakuan sangat nyata mempengaruhi persentase berat pankreas (P<0.01). Ratan persentase berat pankreas tertinggi terdapat pada P2 dan terendah adalah P1. Tingginya persentase berat pankreas pada P2 disebabkan oleh peningkatan enzim pencernaan yang dihasilkan oleh pankreas. Enzim tersebut digunakan untuk mencerna protein, lemak dan karbohidrat (Hatta et al. 2009).Brenes et al. (1993) juga menyatakan bahwa meningkatnya bobot pankreas merupakan adaptasi untuk mencukupi kebutuhan enzim pencernaan yang meningkat. Prawirikusumo (1994) menguraikan bahwa enzim-enzim yang dihasilan oleh pankreas adalah amylase pankreas, lipase pankreas, trypsin, chymotrypsin dan dipeptidase. Rataan persentase berat pankreas pada penelitian ini berkisar antara 0.28%-0.40% (Tabel 4), lebih rendah dibandingkan dengan berat pankreas hasil penelitian Sumiai et al. (2003), yaitu sebesar 0.37%-0.50%.

Pengaruh Perlakuan Pakan terhadap Saluran Pencernaan Ayam Broiler

Rataan berat, persentase berat, dan panjang relatif organ pencernaan ayam broiler disajikan pada Tabel 5.

Berat proventriculus

Perlakuan sangat nyata mempengaruhi persentase berat proventriculus (P<0.01). Rataan persentase berat proventriculus pada P2 dan P3 lebih besar dibandingkan dengan P1 (kontrol), sedangkan P2 dan P3 menghasilkan persentase berat proventriculus yang sebanding. Hal ini diakibatkan oleh kandungan serat kasar yang tinggi pada P2 dan P3 sehingga kerja dari proventriculus untuk mengeluarkan enzim pencernaan meningkat. Leeson dan Summer (1997) melaporkan semakin tingginya serat kasar dan fitat pada pakan yang akan diberikan kepada ayam broiler maka akan memperngaruhi pembesaran dan penipisan organ proventrikulus serta dapat memperlambat laju alir pakan. Rataan persentase berat proventrikulus pada penelitian ini berkisar antara 0.449%-0.705% (Tabel 5), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan berat proventriculus hasil penelitian Sari et al. (2012) yaitu sebesar 0.44%-0.64%.

Berat gizzard

(21)

8

oleh perbedaan kandungan serat kasar dalam ransum sehingga aktivitas gizzard untuk mencerna makanan mengakibatkan penebalan urat daging rempela yang dapat menyebabkan pembesaran ukuran rempela (Ihsan 2006). Menurut Amrullah (2004), ukuran gizzard mudah berubah bergantung pada jenis makanan yang biasa dimakan oleh unggas tersebut. Rataan persentase berat gizzard pada penelitian ini berkisar antara 1.628%-2.480% (Tabel 5), lebih rendah dibandingkan dengan berat gizzard hasil penelitian Firmansyah (2002) yaitu sebesar 2.98%-3.19% pada ayam broiler umur 4 minggu.

Tabel 5 Rataan berat, persentase berat, dan panjang relatif organ pencernaan ayam broiler

(22)

9

Berat usus halus

Usus halus merupakan organ penting yang berperan dalam proses penyerapan sari-sari makanan. Perlakuan sangat nyata mempengaruhi persentase berat duodenum, jejunum, dan ileum (P<0.01). Usus halus pada kontrol (P1) mempunyai persentase berat yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan (P2 dan P3), namun P2 dan P3 menghasilkan persentase berat usus halus yang sebanding. Rataan persentase berat duodenum, jejunum, dan ileum berturut-turut pada penelitian ini adalah 0.521%-0.888%, 0.996%-1.602%, dan 0.829%-1.168% (Tabel 5), lebih tinggi dibandingkan dengan berat duodenum, jejunum, dan ileum berturut-turut pada penelitian Paramesuwari (2012) yaitu sebesar 0.43%, 0.85%, dan 0.83%. Perbedaan nilai kisaran tersebut dapat diakibatkan oleh kandungan serat kasar yang tinggi. Penambahan pollard ataupun dedak ke dalam pakan yang mengandung inti sawit mengakibatkan serat kasar pakan semakin meningkat, karena kedua bahan tersebut memiliki kandungan serat yang tinggi, sehingga usus halus tidak dapat menyerap sari makanan dengan baik. Selain itu juga, tingginya persentase penggunaan inti sawit dapat mempengaruhi komposisi pakan yang diberikan. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Ketaren et al. (1999) dan Sinurat et al. (2000), dapat disimpulkan bahwa penggunaan hasil samping dari kelapa sawit yang terbaik dalam ransum ayam broiler adalah 5%. Hasil samping dari kelapa sawit memiliki nilai palatabilitas yang rendah dan kandungan serat yang tinggi dibandingkan dengan bahan pakan yang lain (Elisabeth dan Ginting 2003).

Penggunaan inti sawit dalam pakan berpengaruh sangat nyata terhadap panjang usus halus per kilogram bobot badan (P<0.01). Usus halus pada P2 dan P3 mempunyai panjang relatif yang lebih panjang dibandingkan dengan P1, namun usus halus pada P2 dan P3 mempunyai panjang relatif yang sebanding. Perbedaan panjang relatif usus halus antara P2 dan P3 dengan P1 disebabkan oleh tingginya serat kasar dalam ransum yang diberikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Amrullah (2003) bahwa ransum yang banyak mengandung serat akan menimbulkan perubahan ukuran saluran pencernaan, sehingga menjadi lebih berat, lebih panjang, dan lebih tebal. Rataan panjang relatif duodenum, jejunum, dan ileum berturut-turut pada penelitian ini adalah 0.019cm g-1 - 0.034 cm g-1, 0.044cm g-1 - 0.075cm g-1, dan 0.048cm g-1 - 0.078cm g-1 (Tabel 5), lebih rendah dibandingkan dengan panjang relatif duodenum, jejunum, dan ileum berturut-turut pada penelitian Paramesuwari (2012) yaitu sebesar 1.65cm g-1, 3.91cm g-1, dan 3.70cm g-1

Perlakuan sangat nyata mempengaruhi persentase berat colon (P<0.01), namun perlakuan tidak nyata mempengaruhi panjang relatif colon (P>0.05). Di dalam usus besar masih terjadi pencernaan dan penyerapan, tetapi dalam jumlah terbatas, sehingga pakan yang mengandung tepung inti sawit tidak mempengaruhi ukuran dari usus besar. Bell dan Weaker (2002) menyatakan bahwa usus besar atau colon tidak mensekresikan enzim, namun di dalamnya terjadi proses penyerapan air untuk meningkatkan kadar air di dalam tubuh. Rataan berat colon pada penelitian ini berkisar antara 0.087%-0.153% (Tabel 5), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan berat colon hasil penelitian Paramesuwari (2012) yaitu

.

(23)

10

sebesar 0.13%. Rataan persentase tertinggi pada perlakuan P2 sebesar 0.153%, sedangkan persentase terendah pada perlakuan P1 sebesar 0.087%.

Berat seka

Perlakuan sangat nyata mempengaruhi persentase berat dan panjang relatif seka (P<0.01). Semakin tinggi kadar serat kasar pakan, maka aktivitas mikroba seka akan semakin meningkat menyebabkan dinding sekum semakin menebal (Arianti 2000). Rataan berat seka pada penelitian ini berkisar antara 0.210%-0.359% (Tabel 5), lebih rendah dibandingkan dengan berat seka hasil penelitian Ologhobo et al. (1992) yaitu sebesar 1.10%-1.83% pada ayam broiler umur 4 minggu. Rataan panjang relatif seka pada penelitian ini adalah 0.011cm g-1 - 0.017cm g-1

SIMPULAN DAN SARAN

(Tabel 5).

Simpulan

Pemberian pakan mengandung tepung inti sawit yang ditambahkan pollard atau dedak padi menghasilkan persentase hati, empedu, proventriculus, gizzard, usus halus, dan seka yang sebanding, namun tidak untuk pankreas dan usus besar dimana pakan mengandung tepung inti sawit yang ditambah pollard lebih besar daripada pakan mengandung tepung inti sawit yang ditambah dedak.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak pemberian tepung inti sawit tanpa kulit ari kedalam pakan ayam broiler.

DAFTAR PUSTAKA

Amrullah IK. 2003. Nutrisi Ayam Broiler. Bogor (ID): Lembaga Satu Gunungbudi.

Amrullah IK. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Ed Ke-3. Bogor (ID): Lembaga Gunung Budi.

Arianti DA. 2000. Evaluasi ransum yang menggunakan kombinasi pollard dan duckweed terhadap persentase berat karkas, bulu, organ dalam, lemak abdominal, panjang usus, dan sekum ayam kampung [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Bell DD, Weaver WD. 2002. Commercial Chicken Meat and Egg Production. 5th Edition. New York (US): Springer Science and business Media Inc.

Brenes A, Smith M, Guenter W, Marquardt RR. 1993. Effect of enzyme supplementation in the performance and digestive tract of broiler chicken fed wheat and barley-barley diets. J Poult Sci .72: 1731–1739.

(24)

11 Firmansyah I. 2002. Uji persentase berat bursa fabricius, karkas dan organ dalam ayam broiler dengan penambahan zat pewarna dalam ransumnya [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Hatta U, Rusdi, Arief R. 2009. Penggunaan tepung duckweed (Lemnaceae spp) dalam ransum terhadap berat relatif hati dan pankreas ayam pedaging. J Agroland. 16 (1): 85-90.

Ihsan FN. 2006. Persentase bobot karkas, lemak abdomen dan organ dalam ayam broiler dengan pemberian silase ransum komersial [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Ketaren PP, Sinurat AP, Zainuddin D, Purwadaria T, Kompiang IP. 1999. Bungkil inti sawit dan produk fermentasinya sebagai pakan ayam pedaging. JITV. 4 (2).

Leeson S, Summers JD. 1997. Nutrition of The Chicken. 4th

Sumiati, Hermana W, Aliyani A. 2003. Persentase berat karkas dan organ dalam ayam broiler yang diberi tepung daun talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) dalam ransumnya. Media Petern. 26 (1).

Edition. Canada (CA): University Books.

Mulyantini NGA. 2010. Ilmu Manajemen Ternak Unggas. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.

Naibaho PM. 1998. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Medan (ID): Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

Ologhobo AD, Afata DF, Oyejide A, Akinpelu O. 1993. Toxicity of raw limabeans (Phaseolus lunatus L.) and limabean fractions growing chick. Brit Poult Sci. 34(3): 505-532.

Phang L. 2001. Pemanfaatan bekatul, pollard, dan jagung pada media tumbuh terhadap produksi tubuh buah jamur shitake (Lentinula edodes) di dataran rendah Ciomas, Bogor [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Paramesuwari F. 2012. Pengaruh pemberian campuran tepung ubi jalar merah dengan ragi tape sebagai sinbiotik terhadap performa dan usus ayam broiler [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Prawirokusumo S. 1994. Ilmu Gizi Comparatif. Yogyakarta (ID): BPFE-Yogyakarta.

Ressang AA. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Ed ke-2. Denpasar (ID): NV Percetakan Bali.

Saputra AA. 2012. Kajian kandungan nutrien dan tingkat kerusakan tepung inti sawit sebagai bahan pakan baru bernutrien tinggi selama penyimpanan. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Sastrosayono S. 2003. Budi Daya Kelapa Sawit. Jakarta (ID): Agro Media Pustaka.

Sari ML, Gurki F. 2012. Pengaruh penambahan enzim fitase pada ransum terhadap berat relatif organ pencernaan ayam broiler. Agripet. 12 (2): 37-41. Sinurat AP, Purwadaria T, Ketaren PP, Zainuddin D, Kompiang IP. 2000. Lumpur

sawit kering dan produk fermentasinya sebagai pakan ayam broiler. JITV. 5 (2).

(25)

12

Lampiran 1 Sidik ragam persentase hati Sumber

Lampiran 2 Sidik ragam persentase empedu Sumber

Lampiran 3 Sidik ragam persentase pankreas Sumber

Keterangan : ** = sangat berbeda nyata (P<0.01), *= berbeda nyata (P<0.05)

Lampiran 4 Uji lanjut kontras ortogonal persentase pankreas

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

3.16 3.79 3.63 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 1.10 6 0.034

2 VS 3 0 1 -1 0.17 2 0.002

0.036

Lampiran 5 Sidik ragam persentase proventriculus Sumber

(26)

13 Lampiran 6 UJi lanjut kontras ortogonal persentase proventriculus

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

4.02 4.92 5.04 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 1.92 6 0.102

2 VS 3 0 -1 1 0.11 2 0.001

0.103 Lampiran 7 Sidik ragam persentase gizzard

Sumber

Keterangan : NS= tidak berbeda nyata, ** = sangat berbeda nyata (P<0.01)

Lampiran 8 Uji lanjut kontras ortogonal persentase gizzard

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

7.65 9.45 9.40 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 3.54 6 0.348

2 VS 3 0 1 -1 0.05 2 0.0002

0.348

Lampiran 9 Sidik ragam persentase duodenum Sumber

Lampiran 10 Uji lanjut kontras ortogonal persentase duodenum

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

4.33 5.45 5.65 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 2.45 6 0.167

2 VS 3 0 -1 1 0.20 2 0.003

(27)

14

Lampiran 11 Sidik ragam panjang relatif duodenum Sumber

Keterangan : NS= tidak berbeda nyata, ** = sangat berbeda nyata (P<0.01)

Lampiran 12 Uji lanjut kontras ortogonal panjang relatif duodenum

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

0.11 0.18 0.20 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 0.15 6 0.0007

2 VS 3 0 -1 1 0.02 2 0.00005

0.00071

Lampiran 13 Sidik ragam persentase jejunum Sumber

Keterangan : NS= tidak berbeda nyata, ** = sangat berbeda nyata (P<0.01)

Lampiran 14 Uji lanjut kontras ortogonal persentase jejunum

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

5.99 7.39 7.59 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 3.02 6 0.253

2 VS 3 0 -1 1 0.20 2 0.003

0.256

Lampiran 15 Sidik ragam panjang relatif jejenum Sumber

(28)

15 Lampiran 16 Uji lanjut kontras ortogonal panjang relatif jejunum

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

0.27 0.44 0.45 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 0.36 6 0.004

2 VS 3 0 -1 1 0.01 2 0.00001

0.004

Lampiran 17 Sidik ragam persentase ileum Sumber

Keterangan : NS= tidak berbeda nyata, ** = sangat berbeda nyata (P<0.01)

Lampiran 18 Uji lanjut kontras ortogonal persentase ileum

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

5.46 6.46 6.48 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 2.02 6 0.114

2 VS 3 0 -1 1 0.02 2 0.00003

0.114

Lampiran 19 Sidik ragam panjang relatif ileum Sumber

Keterangan : NS= tidak berbeda nyata, ** = sangat berbeda nyata (P<0.01)

Lampiran 20 Uji lanjut kontras ortogonal panjang relatif ileum

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

0.29 0.46 0.47 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 0.35 6 0.003

2 VS 3 0 -1 1 0.01 2 0.00001

(29)

16

Lampiran 21 Sidik ragam persentase colon Sumber

Keterangan : ** = sangat berbeda nyata (P<0.01)

Lampiran 22 Uji lanjut kontras ortogonal persentase colon

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

1.77 2.35 2.23 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 1.03 6 0.030

2 VS 3 0 1 -1 0.12 2 0.001

0.031

Lampiran 23 Sidik ragam panjang relatif colon Sumber

Keterangan : NS= tidak berbeda nyata

Lampiran 24 Sidik ragam persentase seka Sumber

Keterangan : NS= tidak berbeda nyata, ** = sangat berbeda nyata (P<0.01)

Lampiran 25 Uji lanjut kontras ortogonal persentase seka

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

2.75 3.56 3.59 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 1.66 6 0.076

2 VS 3 0 -1 1 0.04 2 0.0001

(30)

17 Lampiran 26 Sidik ragam panjang relatif seka

Sumber Keragaman

Derajat Bebas

Jumlah Kuadrat

Kuadrat

Tengah Fhit F0.05 F0.01 Perlakuan 2 0.0001 0.0001 64.29** 3.68 6.36 1 VS 2,3 1 0.0001 0.0001 125.50** 4.54 8.68 2 VS 3 1 0.000003 0.000003 3.09NS 4.54 8.68

Galat 15 0.00002 0.000001

Total 17 0.0002

Keterangan : NS= tidak berbeda nyata, ** = sangat berbeda nyata (P<0.01)

Lampiran 27 Uji lanjut kontras ortogonal panjang relatif seka

Kontras 1 2 3 c q Jumlah Kuadrat

0.06 0.10 0.10 c2/q/r

1 VS 2,3 -2 1 1 0.07 6 0.00014

2 VS 3 0 -1 1 0.01 2 0.000003

(31)

18

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 22 November 1989 dari ayah H. Sopian dan ibu Hj. Rohilul Zahroh. Penulis adalah putri kedua dari empat bersaudara.

Pada tahun 1996, penulis masuk Sekolah Dasar Amaliah di Bogor dan lulus pada tahun 2002. Penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Cijeruk dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun yang sama, penulis masuk ke Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Bogor dan lulus pada tahun 2008.

Penulis diterima sebagai mahasiswa IPB pada tahun 2008 melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan diterima di Fakultas

Peternakan dengan Mayor Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan dan Minor Budidaya dan Pengolahan Hasil Ternak Unggas.

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada tauladan kita Nabi Muhammad SAW. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc dan Ibu Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan arahannya mulai dari persiapan penelitian hingga tersusunnya tulisan ini. Terimakasih kepada Ir. Widya Hermana, M.Si dan Dr. Rudi Afnan, S.Pt., M.Sc.Agr selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritik untuk perbaikan skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Lanjarsih yang telah membantu dalam persiapan pemeliharaan serta pengumpulan data.

Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada ayah, ibu, dan semua saudara atas doa dan dukungannya. Terima kasih kepada rekan sepenelitian, Nandini W, Vivasana, dan Aldrian atas kerjasamanya. Terima kasih untuk sahabat terbaik (Hendra, Gunawan, Dewi, Angge, Ghany, dan Yoghi) yang telah memberikan semangat selama penelitian. Terima kasih juga untuk teman-teman INTP 45 serta semua civitas akademik Fakultas Peternakan dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih untuk semuanya.

Bogor, Agustus 2013

Figur

Gambar 1.

Gambar 1.

p.14
Tabel 1  Komposisi pakan A dan pakan B

Tabel 1

Komposisi pakan A dan pakan B p.16
Gambar 2 Alur pembuatan pakan

Gambar 2

Alur pembuatan pakan p.17
Tabel 5 Rataan berat, persentase berat, dan panjang relatif organ pencernaan ayam

Tabel 5

Rataan berat, persentase berat, dan panjang relatif organ pencernaan ayam p.21

Referensi

Memperbarui...