• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prospek Pengembangan Usahatani Bunga Melati Putih (Studi Kasus : Kota Medan Propinsi Sumatera Utara)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Prospek Pengembangan Usahatani Bunga Melati Putih (Studi Kasus : Kota Medan Propinsi Sumatera Utara)"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK PENGEMBANGAN USAHATANI BUNGA

MELATI PUTIH

(Studi Kasus : Kota Medan Propinsi Sumatera Utara)

SKRIPSI

OLEH :

RIRIS JULIANA SIMBOLON 030304031

SEP/ AGRIBISNIS

DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PROSPEK PENGEMBANGAN USAHATANI BUNGA

MELATI PUTIH

(Studi Kasus : Kota Medan Propinsi Sumatera Utara)

SKRIPSI

OLEH :

RIRIS JULIANA SIMBOLON 030304031

SEP/ AGRIBISNIS

Skripsi sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh, Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

(Ir. Iskandarini, MM) (Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec)

DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

RINGKASAN PENELITIAN

RIRIS JULIANA SIMBOLON (030304031) dengan judul skripsi

“PROSPEK PENGEMBANGAN USAHATANI BUNGA MELATI PUTIH”. Studi Kasus penelitian ini di Kota Madya Medan Propinsi Sumatera Utara.

Penelitian dibimbing oleh Ibu Ir. Iskandarini, MM dan Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec.

Permasalahan yang diteliti adalah apakah input usahatani bunga melati putih (lahan, tenaga kerja, dan sarana produksi seperti bibit, obat-obatan, dan pupuk serta teknologi) cukup tersedia di daerah penelitian, bagaimana perkembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dilihat dari luas areal, produksi, produktifitas, dan perkembangan permintaan pasar, apakah usahatani bunga melati putih layak secara finansial, masalah-masalah apa yang dihadapi dalam usahatani bunga melati putih, dan bagaimana strategi pengembangan usahatani bunga melati putih di masa depan.

Metode penentuan daerah penelitian secara purposive dan metode pengambilan sampel secara stratified proporsioned random sampling. Metode analisis data dengan analisis deskriptif, R/C Ratio untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh, dan analisis SWOT untuk menetapkan strategi.

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan : 1. Input usahatani bunga melati putih (lahan, tenaga kerja, dan sarana produksi

seperti bibit, obat-obatan, dan pupuk serta teknologi) tersedia di daerah penelitian.

2. Usahatani bunga melati putih di Kota Medan mengalami penurunan dilihat dari luas areal, produksi, produktifitas, dan perkembangan permintaan pasar. 3. Berdasarkan analisis finansial, nilai R/C ratio rata-rata secara keseluruhan

adalah sebesar 2,34 yang lebih besar dari 1, maka usahatani bunga melati putih layak untuk dikembangkan.

4. Masalah-masalah yang dihadapi petani pada umumnya dalam usahatani bunga melati putih adalah modal terbatas, kurangnya seni dan hobby, adanya persaingan dengan bunga plastik, bunga melati tidak tahan lama, serangan hama dan penyakit, kurangnya penyuluhan, dan lembaga-lembaga yang terkait kurang berperan.

5. Strategi pengembangan usahatani bunga melati putih di masa depan dilihat dari masalah-masalah yang dihadapi petani adalah menggunakan inisiatif sendiri dalam penambahan modal usahatani, memperluas jaringan pemasaran, memberikan nilai tambah/sentuhan kreatifitas agar bunga tetap menarik, dan menggunakan teknologi untuk memaksimalkan fungsi bunga melati putih. 6. Secara keseluruhan, maka dapat disimpulkan bahwa usahatani bunga melati

(4)

RIWAYAT HIDUP

RIRIS JULIANA SIMBOLON dilahirkan di Medan pada tanggal 27 Juli

1985, anak kedua dari lima bersaudara dari orang tua tercinta Ayahanda O. Simbolon dan Ibunda D.Y. Br Manalu.

Jenjang Pendidikan yang ditempuh penulis adalah sebagai berikut :

Tahun 1991, memasuki Sekolah Dasar di SD Negeri Inpres No. 105289 Desa Kolam dan tamat tahun 1997.

Tahun 1997, memasuki Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Percut Sei Tuan dan tamat tahun 2000.

Tahun 2000, memasuki Sekolah Menengah Umum di SMU Negeri 11 Medan dan tamat tahun 2003.

Tahun 2003, diterima di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui SPMB.

Pada bulan Juni-Juli 2007, melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di Desa Belang Malum, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat mengakhiri masa perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Skripsi ini berjudul “Prospek Pengembangan Usahatani Bunga Melati Putih” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih atas segala bimbingan dan dorongan moril yang diberikan dalam penyelesain skripsi ini khususnya kepada Ibu Ir. Iskandarini, MM sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec sebagai Anggota Komisi Pembimbing, yang telah memberikan arahan, waktu dan kesabaran dalam menyelesaikan skripsi ini. Disamping itu penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Ir. Lily Fauzia, MSi sebagai Ketua Jurusan Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Bapak sIr. Luhut Sihombing, MP sebagai Sekretaris Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, seluruh staff pengajar dan pegawai di Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, seluruh pegawai Tata Usaha di Fakultas Pertanian, dan kepada para responden serta instansi-instansi yang terkait dengan penelitian ini.

(6)

Sondang, adik-adikku David, Tiur, dan Lam Sehat yang memberikan semangat, tanteku Sondang Manalu, dan Ibu Sitepu yang juga telah membantu penulis.

Tak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabatku Labora, Melda, Yusi, Hayati, Makmur, Hery itoku, Indro, Mita, Fajar, Juni temen seperjuangan dan seluruh rekan-rekan SEP’03 yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Semoga skripsi ini bermanfaat.

Medan, September 2007

(7)

DAFTAR ISI

RINGKASAN PENELITIAN... i

RIWAYAT HIDUP... iii

KATA PENGANTAR... iv

DAFFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR... x

DAFTAR LAMPIRAN... xi

PENDAHULUAN Tinjauan Pustaka... 11

Landasan Teori... 14

Kerangka Pemikiran... 19

METODE PENELITIAN Metode Penentuan Daerah Penelitian... 22

Metode Pengambilan Sampel... 22

Metode Pengumpulan Data... 23

Metode Analisis Data... 23

Defenisi dan Batasan Operasional... 25

Defenisi... 25

Batasan Operasional... 26

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK PETANI SAMPEL Deskripsi Daerah Penelitian... 27

Letak Geografis, Batas, Luas Wilayah, dan Iklim... 27

Keadaan Penduduk... 28

Penggunaan Tanah... 30

Sarana dan Prasarana... 31

(8)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ketersediaan Lahan, Tenaga Kerja, Sarana Produksi, dan Teknologi

dalam Usahatani Bunga Melati Putih di Kota Medan... 34

Ketersediaan Lahan... 34

Ketersediaan Tenaga Kerja... 34

Ketersediaan Sarana Produksi... 35

Ketersediaan Teknologi... 37

Perkembangan Usahatani Bunga Melati Putih Di Kota Medan... 40

Kelayakan Usahatani Bunga Melati Putih... 42

Masalah-Masalah yang Dihadapi Petani Dalam Usahatani Bunga Melati Putih... 50

Strategi yang Patut Dilakukan untuk Mengatasi Masalah-Masalah yang Dihadapi dalam Pengembangan Usahatani Bunga Melati Putih.. 53

Menentukan Faktor-Faktor Strategi Eksternal... 53

Menentukan Faktor-Faktor Strategi Internal... 56

Penentuan Alternatif Strategi... 57

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan... 63

Saran... 64

DAFTAR PUSTAKA

(9)

DAFTAR TABEL

Hal

1. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Tanaman Melati Tahun 2005... 6

2. Jenis-Jenis Tanaman Hias di Kota Medan Tahun 2005... 7

3. Populasi dan Sampel Petani Bunga Melati Putih Berdasarkan Strata Luas Lahan di Kota Medan... 22

4. Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan Tahun 2005... 28

5. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Mata Pencaharian di Kota Medan Tahun 2005... 29

6. Luas dan Jenis Penggunaan Tanah di Kota Medan Tahun 2005... 30

7. Sarana dan Prasarana di Kota Medan Tahun 2005... 31

8. Karakteristik Rata-Rata Petani Sampel di Kota Medan Tahun 2005... 32

9. Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kota Medan Tahun 2005... 35

10. Perkembangan Usahatani Bunga Melati Putih di Kota Medan Tahun 2003, 2004, dan 2005... 40

11. Biaya Sarana Produksi Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun... 42

12. Biaya Tenaga Kerja Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun... 43

13. Biaya Penyusutan Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun... 44

14. Biaya Sewa Lahan Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun... 44

15. Biaya Transportasi Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun.... 45

16. Biaya Produksi Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun... 46

17. Penerimaan Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun... 46

18. Pendapatan Bersih Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun... 47

(10)

20. Masalah-Masalah yang Dihadapi Petani Berdasarkan Sumbernya

(11)

DAFTAR GAMBAR

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Karakteristik Petani Sampel Usahatani Bunga Melati Putih

2. Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Pada Tahun 1 3. Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 2 4. Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 3 5. Biaya Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 1 6. Biaya Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 1 7. Biaya Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 2 8. Biaya Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 2 9. Biaya Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 3 10. Biaya Sarana Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 3 11. Curahan Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 1 12. Curahan Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 2 13. Curahan Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 3 14. Biaya Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 1 15. Biaya Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 1 16. Biaya Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 2 17. Biaya Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 2 18. Biaya Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 3 19. Biaya Tenaga Kerja Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 3

20. Biaya Penyusutan Alat Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani dalam 1 Tahun

(13)

23. Biaya Transportasi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 2 24. Biaya Transportasi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 3 25. Biaya Transportasi Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 1, 2, dan 3 26. Total Biaya Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 1 27. Total Biaya Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 1 28. Total Biaya Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 2 29. Total Biaya Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 2 30. Total Biaya Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 3 31. Total Biaya Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 3

32. Total Biaya Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Selama 3 Tahun

33. Total Biaya Produksi Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Selama 3 Tahun 34. Penerimaan Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 1

35. Penerimaan Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 2 36. Penerimaan Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Tahun 3 37. Penerimaan Usahatani Bunga Melati Putih Per M2 Tahun 1, 2, dan 3

38. Penerimaan, Biaya Produksi, Pendapatan Bersih, R/C Ratio, dan ROI Usahatani Bunga Melati Putih Per Petani Selama 3 Tahun

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menetapkan bahwa pembangunan sektor pertanian, khususnya hortikultura, mendapat perhatian pada Pembangunan Jangka Panjang (PJP) II. Tanaman hias beserta hasilnya berupa bunga termasuk kelompok komoditas hortikultura yang mempunyai prospek cerah bila dikembangkan secara intensif dan komersial (Rukmana, 1997).

Prospek usaha yang jelas merupakan faktor pendukung untuk mewujudkan tujuan. Dengan berlandaskan pada prospek, semua pelaku usaha diharapkan dapat bersemangat dalam menjalankan fungsinya. Selama manusia masih membutuhkan sandang, pangan, dan perumahan dalam kebutuhan minimum kehidupannya, tentu kegiatan agribisnis masih mempunyai prospek yang cukup menjanjikan. Hanya saja pemilihan terhadap kegiatan usaha atau jenis komoditas yang akan diproduksi

memang membutuhkan kiat-kiat persiapan yang lebih detail (Krisnamurthi dan Fausia, 2003).

(15)

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju ditandai dengan berkembangnya kota-kota besar seperti Bandung, Semarang, Medan, Ujung Pandang, Denpasar dan Surabaya yang menuju kota industri. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan didalam masyarakat, baik di tingkat pendapatan, selera ataupun persepsi tentang bunga dan juga estetika keindahan serta kenyamanan terhadap bunga. Dengan demikian pengusaha bunga pun terus bersaing untuk merebut konsumen. Dalam banyak kenyataan persaingan yang ketat bukan hanya terjadi antar pedagang bunga lokal saja tetapi juga dengan pedagang bunga yang berasal dari luar daerah (Soekartawi, 1996a).

Tingginya minat masyarakat baik di tanah air maupun permintaan ekspor terhadap tanaman hias dapat menjadi tolok ukur kesejahteraan. Usaha-usaha pembudidayaan tanaman hias juga semakin berkembang dengan orientasi komersial. Hal ini secara tidak langsung dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat pada umumnya.

Untuk memenuhi permintaan akan tanaman hias, para pemulia (breeder) selalu berkompetisi dalam menghasilkan varietas-varietas baru yang unggul dan dapat menarik para hobis sehingga menjadi trend pada masa tertentu. Tanaman hias yang cocok dengan agroklimat Indonesia serta banyak diminati dan berpotensi untuk diekspor antara lain anggrek, mawar, melati, gerbera, dan drasena (Anonimous, 2006a).

(16)

Manusia membudidayakan tanaman melati pertama sekali pada abad XVI. Di Italia melati Casablanca (J. officinalle) yang disebut Spanish Jasmine ditanam tahun 1629 untuk dijadikan parfum. Tahun 1665 di Inggris dibudidayakan melati putih (J. sambac) yang diperkenalkan oleh Duke Casimo de’ Meici. Selanjutnya

pada tahun 1812, Inggris menambah keragaman jenis melati, antara lain

J. revolutum asal India. Dalam tahun 1919 ditemukan melati J. parkeri di kawasan India Barat Laut, kemudian dibudidayakan di Inggris pada tahun 1923 (Rukmana, 1997).

Sampai saat ini varietas melati yang ditanam petani cukup beragam dan belum tersedia varietas unggul melati. Jawa Timur merupakan salah satu sentra produksi dan sebagai pemasok bibit melati di Indonesia. Sentra produksi melati di Jawa Timur terletak di Burneh-Kabupaten Bangkalan seluas 50 ha dan di Bangil-Kabupaten Pasuruan seluas 15 ha (Anonimous, 2006b).

Bunga melati yang putih dan wangi dianggap sebagai lambang kesucian. Pada upacara-upacara adat Jawa, melati merupakan bunga yang sangat penting. Dalam upacara perkawinan misalnya, bunga ini digunakan sebagai hiasan sanggul dan hiasan dada mempelai wanita, sedangkan untuk mempelai prianya berupa untaian bunga yang menghiasi keris dan pula sebagai kalung. Minyak asiri yang terkandung pada bunga ini sangat bermanfaat dalam industri minyak wangi. Senyawa utamanya ialah minyak yasmin (Anonimous, 1980).

(17)

dipercaya dapat mengobati penyakit seperti sakit kepala, sesak napas, demam, kelebihan asi dan sakit mata (Anonimous, 2004).

Mengingat kegunaan bunga melati yang semakin luas dan memasyarakat maka pada tanggal 5 Juni 1990, Presiden Republik Indonesia mengukuhkan bunga melati menjadi bunga nasional dengan sebutan “Puspa Bangsa”. Jenis melati yang dimaksud adalah Jasminum sambac atau dikenal dengan sebutan melati putih (Satuhu, 2004).

Pasar potensial bunga melati adalah Jepang, Korea, Thailand, Taiwan, dan Hongkong. Nilai ekonomi bunga melati semakin dibutuhkan untuk bahan baku industri minyak wangi, kosmetika, penyedap teh, cat, tinta, pestisida, dan industri tekstil. Tiap hari untuk keperluan bunga tabur umat Budha dibutuhkan sekitar 600 kg bunga melati. Meskipun peluang pasar bunga melati di dalam dan luar negeri cukup besar, produksi bunga melati Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20% dari kebutuhan melati di pasaran dunia. Hal ini menunjukkan adanya peluang yang perlu dimanfaatkan Indonesia dengan baik karena potensi sumber daya lahan yang amat luas dan agroekologinya cocok untuk usahatani melati (Rukmana, 1997).

(18)
(19)

Beberapa jenis tanaman hias di Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini :

Tabel 2. Jenis-Jenis Tanaman Hias di Kota Medan Tahun 2005 No. Nama Tan.

Sumber : Dinas Pertanian Sumatera Utara

Dari data pada Tabel 2, kita dapat melihat jelas perbandingan luas panen, produksi, dan produktivitas bunga melati terhadap luas panen, produksi, dan produktivitas tanaman hias lainnya.

Tabel 2 memperlihatkan bahwa pada tahun 2005 luas panen bunga melati menempati peringkat ke-2 setelah bunga anggrek yaitu seluas 9.443 m2. Hal ini menunjukkan bahwa bunga melati sudah mempunyai tempat di hati masyarakat petani untuk diusahatanikan. Produksi bunga melati di Kota Medan 4.344 kilogram, dibandingkan produksi tanaman hias lainnya produksi bunga melati masih termasuk rendah sehingga produktivitas bunga melati menempati posisi yang terendah yaitu sebesar 0,46 kilogram/m2. Ini merupakan bukti sebagaimana yang dikatakan sebelumnya bahwa produksi bunga melati Indonesia masih rendah sehingga belum mampu memenuhi seluruh permintaan akan bunga melati.

(20)

Identifikasi Masalah

Dalam penelitian ini, masalah-masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut :

1. Apakah input usahatani bunga melati putih (lahan, tenaga kerja, dan sarana produksi seperti bibit, obat-obatan, dan pupuk serta teknologi) cukup tersedia di daerah penelitian?

2. Bagaimana perkembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dilihat dari luas areal, produksi, produktifitas, dan perkembangan permintaan pasar? 3. Apakah usahatani bunga melati putih layak secara finansial?

4. Masalah-masalah apa yang dihadapi dalam usahatani bunga melati putih? 5. Bagaimana strategi pengembangan usahatani bunga melati putih di masa

depan?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui apakah input usahatani bunga melati putih (lahan, tenaga kerja, sarana produksi seperti bibit, pupuk, dan obat-obatan serta teknologi) tersedia di daerah penelitian.

2. Untuk mengetahui perkembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dilihat dari luas areal, produksi, produktifitas, dan perkembangan permintaan pasar.

3. Untuk mengetahui kelayakan usahatani bunga melati putih secara finansial. 4. Untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi dalam usahatani bunga

(21)

5. Untuk mengetahui strategi pengembangan usahatani bunga melati putih di masa yang akan datang.

Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai bahan informasi tentang prospek pengembangan usahatani bunga melati putih dan referensi bagi pihak yang berhubungan dengan penelitian ini. 2. Sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam

(22)

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, & KERANGKA PEMIKIRAN

Tinjauan Pustaka

Di antara 200 jenis melati yang telah diidentifikasi oleh para ahli botani

baru sekitar 9 jenis melati yang umum dibudidayakan yaitu melati hutan (J. multiflorum Andr.), melati putih (J. sambac Ait.), melati raja (J. rex),

J. parkeri Dunn., J. mensy, J. Revolutum, melati cablanca (J. Officinale), melati australia (J. simplicifolium), dan melati hibrida. Sebagian besar jenis melati tumbuh di hutan-hutan karena belum terungkap potensi ekonomis dan sosialnya.

Tanaman melati termasuk suku melati-melatian atau famili Oleaceae. Kedudukan tanaman melati dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Oleales Famili : Oleaceae Genus : Jasminum

Spesies : Jasminum sambac (L.) W. Ait. (Rukmana, 1997).

(23)

Tanaman melati yang kita kenal yakni famili Oleaceae, tumbuh lebih dari setahun (perennial), bersifat perdu dan merambat. Batangnya berkayu berbentuk bulat sampai segi empat, berbuku-buku, dan bercabang banyak seolah-olah merumpun. Daunnya berbentuk bulat telur (oval, elips) dan berwarna hijau mengilap.

Bunga melati berbentuk terompet dengan warna bervariasi yakni putih, kuning cerah, dan merah muda, tergantung pada jenis atau spesiesnya. Melati yang bunganya berwarna putih antara lain melati hutan (J. multiflorum), melati putih (J. sambac), melati raja (J. rex), dan melati australia (J. simplicifolium).

Sementara melati berbunga kuning adalah J. revolutum dan J. mensy, atau

J. primulinum. Ada juga warna bunga merah muda dimiliki oleh melati hibrida hasil persilangan antara J. beeasianum dan J. officinale. Bunga melati hutan yang ditemukan tumbuh di Indonesia kadang-kadang berwarna putih kemerah-merahan atau kekuning-kuningan.

Umumnya, bunga melati tumbuh di ujung tanaman. Susunan mahkota bunga tunggal atau ganda (bertumpuk), beraroma harum tetapi beberapa jenis bunga melati ada yang memiliki aroma tidak harum.

Sistem perakaran tanaman melati adalah akar tunggang dan akar-akar cabang yang menyebar ke semua arah dengan kedalaman 40-80 cm. Dari akar yang terletak dekat permukaan tanah kadang-kadang tumbuh tunas atau cikal bakal tanaman baru (Rukmana, 1997).

(24)

dimanfaatkan sebagai komponen taman, rangkaian bunga untuk pengantin, bunga tabur, campuran teh atau diambil minyak asirinya sebagai bahan baku minyak wangi. Melati menghendaki media tanam yang mengandung bahan organik tinggi. Melati tidak memerlukan perlakuan khusus pada proses pembungaannya (Endah, 2002).

Pengembangan budidaya melati paling cocok di daerah-daerah yang mempunyai suhu siang hari 28-360C dan suhu malam hari 24-300C, kelembaban udara (rH) 50-80%, cukup mendapat sinar matahari, curah hujan 112-119 mm/bulan. Tanaman melati membutuhkan tanah yang bertekstur pasir sampai liat, pH masam sampai netral (pH 5-7). Hampir semua jenis tanah pertanian pada prinsipnya dapat ditanami melati. Umumnya melati tumbuh subur pada jenis tanah Podsolik Merah Kuning (PMK), latosol , dan andosol (Rukmana, 1997). Dengan perawatan, pemupukan dan penyiraman sesuai dengan kebutuhan tanaman pada setiap fase pertumbuhan, maka tanaman akan hidup sehat, tidak mudah terserang penyakit dan akan berbunga terus-menerus sepanjang tahun (Suryowinoto, 1997).

Tanaman bunga melati mulai berbunga pada umur 6-12 bulan setelah tanam. Panen bunga melati dapat dilakukan sepanjang tahun secara berkali-kali sampai umur tanaman antara 5-10 tahun, tergantung pada pemeliharaan dan kesuburan tanah (Rukmana, 1997).

(25)

Mutu bunga melati segar yang baik untuk dekorasi, industri teh, dan parfum sangat ditentukan oleh penanganan pascapanen. Bunga melati yang dipanen mekar penuh mempunyai nilai ekonomi yang lebih rendah dibandingkan dengan yang dipanen dalam bentuk kuntum karena aromanya sudah berkurang. Bunga mekar penuh ini hanya cocok untuk bunga tabur. Daya simpan bunga melati sangat singkat. Dalam waktu sehari saja bunga sudah layu dan berwarna kecoklatan. Agar daya simpan bunga lebih panjang, maka diperlukan penanganan pascapanen yang ekstra hati-hati sehingga mutu kesegarannya dapat dipertahankan.

Minyak melati lebih populer dengan nama absolut. Absolut melati merupakan salah satu bagian dari berbagai minyak asiri (essential oil). Minyak asiri terbagi menjadi tiga kategori, yaitu base note, middle note, dan top note. Base note merupakan sari minyak yang paling tahan lama yang keharumannya bisa bertahan satu minggu. Middle note yaitu sari minyak dengan aroma yang hanya bertahan sekitar 2-3 hari. Top note yaitu sari minyak yang aromanya tidak bertahan lama, hanya 24 jam.

(26)

Landasan Teori

Ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu (Soekartawi, 2002).

Membangun pertanian progresif memerlukan kondisi dicapainya ecomic of scale karena kondisi tersebut adalah syarat terjadinya peningkatan surplus ekonomi petani yang membuka jalan bagi terjadinya peningkatan produktivitas, efisiensi, daya saing, yang utamanya dihasilkan melalui proses involusi teknologi. Tanpa membangun produktivitas, efisiensi, dan daya saing yang tinggi, kita tidak akan mampu menang dalam persaingan global, bukan saja di pasar internasional, tetapi juga di pasar dalam negeri sendiri (Husodo, dkk., 2004).

Usahatani pada skala usaha yang luas umumnya bermodal besar, berteknologi tinggi, manajemennya modern, lebih bersifat komersial, dan sebaliknya usahatani skala kecil umumnya bermodal pas-pasan, teknologinya tradisional, lebih bersifat usahatani sederhana dan sifat usahanya subsisten (Soekartawi, 1996b).

Strategi pembangunan yang berwawasan agribisnis (dan agroindustri) pada dasarnya menunjukkan arah bahwa pengembangan agribisnis merupakan

suatu upaya yang sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : (1) Menarik dan mendorong munculnya industri baru di sektor pertanian, (2) Menciptakan struktur perekonomian yang tangguh, efisien dan fleksibel, (3) Menciptakan nilai tambah, (4) Meningkatkan penerimaan devisa, (5) Menciptakan lapangan kerja, dan (6) Memperbaiki pembagian pendapatan

(27)

Pengembangan agribisnis mengimplikasikan perubahan kebijakan di sektor pertanian yaitu produksi sektor pertanian harus lebih berorientasi kepada permintaan pasar, tidak saja pasar domestik, tetapi juga pasar internasional. Selain itu pola pertanian harus mengalami transformasi dari sistem pertanian subsisten yang berskala kecil dan pemenuhan kebutuhan keluarga ke usahatani dalam skala yang lebih ekonomis. Kedua hal tersebut merupakan keharusan, jika produk pertanian harus dijual ke pasar dan jika sektor pertanian harus menyediakan bahan baku bagi sektor industri (Husodo, dkk., 2004).

Permintaan adalah faktor penentu kelangsungan bisnis. Tanpa permintaan tidak mungkin sistem bisnis dapat berjalan. Para wirausahawan harus lihai dalam menyiasati permintaan. Perilaku permintaan, atau dalam bahasa ekonomi dikenal dengan fungsi permintaan, merupakan hubungan antara jumlah barang (termasuk jasa) dimana konsumen bersedia membeli dengan faktor-faktor yang menentukan kesediaan konsumen untuk membeli barang tersebut. Faktor yang bersumber dari sifat-sifat konsumen seperti daya beli ditentukan oleh tingkat pendapatan, selera atau preferensi. Faktor yang bersumber dari tingkah laku pesaing yang menawarkan barang-barang terkait (barang substitusi dan barang komplementer)

dapat dinilai dari variabel harga, kualitas/desain, dan seterusnya (Iwantono, 2002).

(28)

Tujuan petani dalam berusahatani pada masyarakat yang telah memasuki sistem pasar adalah untuk memperoleh pendapatan bersih yang sebesar-besarnya, dimana pendapatan bersih adalah penerimaan dikurangi biaya produksi. Agar pendapatan bersih tinggi maka petani harus mengupayakan penerimaan yang tinggi dan biaya produksi yang rendah. Petani harus mempunyai keahlian memasarkan, memilih jenis komoditi yang pasarnya baik, mengupayakan harga input yang rendah dengan mengatur input produksi, menggunakan teknologi yang baik, dan mengatur skala produksi yang efisien (Simanjuntak, 2004).

Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut :

TR = Y. Py

TR = Total penerimaan (Rp)

Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani (Kg) Py = Harga Y (Rp)

Biaya usahatani biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

a. Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya ini tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh, contohnya pajak.

b. Biaya tidak tetap (variabel cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk sarana produksi.

Rumus yang dipakai adalah :

(29)

Keterangan : TC = Total Cost FC = Fixed Cost VC = Variabel Cost

Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya, jadi : Pd = TR – TC (Soekartawi, 2002).

Studi mengenai aspek finansial merupakan aspek kunci dari suatu kelayakan. Jika studi aspek finansial memberikan hasil yang tidak layak, maka usulan proyek akan ditolak karena tidak akan memberikan manfaat ekonomi (Haming dan Basalamah, 2003).

Agroindustri dan agribisnis hortikultura adalah salah satu jenis sumber pertumbuhan baru di sektor pertanian. Agribisnis hortikultura bukan saja mampu sebagai sumber pertumbuhan baru di sektor pertanian, tetapi ia juga mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah. Kendala untuk pengembangan agribisnis hortikultura ini masih terletak pada kendala yang itu-itu juga seperti skala usaha yang kecil, lemahnya permodalan, terbatasnya teknologi dan sederhananya manajemen yang digunakan (Soekartawi, 1996b).

Karakteristik produk pertanian secara umum adalah :

1. Bersifat musiman, sehingga produk tersebut sulit tersedia sepanjang tahun 2. Bersifat segar (perishable), sehingga sulit disimpan dalam waktu yang relatif

lama

3. Bersifat bulky artinya volumenya besar tetapi nilainya relatif kecil

(30)

menyebabkan perlunya perencanaan yang matang sebelum pengusaha memulai usahanya di bidang pertanian

(Soekartawi, 2000).

Analisis perencanaan strategis merupakan salah satu bidang studi yang banyak dipelajari secara serius di bidang akademis. Hal ini disebabkan karena setiap saat terjadi persaingan yang semakin ketat, peningkatan inflasi, penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi, perubahan teknologi yang semakin canggih, dan perubahan kondisi demografis, yang mengakibatkan berubahnya selera konsumen secara cepat.

Alat yang digunakan untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapai perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis yaitu :

a) Strategi SO

Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pemikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.

b) Strategi ST

Merupakan strategi dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.

c) Strategi WO

(31)

d) Strategi WT

Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman

(Rangkuti, 1997).

Kerangka Pemikiran

Pengembangan agribisnis merupakan suatu pendekatan yang komprehensif untuk meningkatkan produktifitas pertanian yang mampu menjadikan produk pertanian sebagai primadona di dalam negeri serta dapat menembus pasar global yang lebih luas.

Usahatani bunga melati putih diperkirakan mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan. Untuk mengetahui prospek usahatani bunga melati putih dapat kita lihat dari ketersediaan faktor produksinya, perkembangan luas panen, produksi, produktivitas, serta perkembangan permintaan pasar, dan melalui kelayakan usahatani bunga melati putih tersebut.

Dari segi faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja, sarana produksi (bibit, pupuk, obat-obatan) serta teknologi yang cukup tersedia akan menjadi faktor penting dalam pengembangan usahatani bunga melati putih ini.

Dengan peningkatan luas panen, produksi, dan produktivitas bunga melati putih juga dapat memberi gambaran bahwa usahatani bunga melati putih sudah memiliki tempat dihati banyak petani untuk diusahatanikan secara komersial.

(32)

dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan parfum aroma therapi yang disukai masyarakat, campuran teh, kosmetik dan juga obat-obatan.

Usahatani bunga melati putih dapat meningkatkan pendapatan dan layak secara finansial untuk dikembangkan. Dengan diketahuinya kelayakan usahatani bunga melati putih maka dapat diketahui prospek pengembangannya. Hal ini secara langsung menunjukkan bahwa usahatani ini prospektif.

Dalam mengembangkan usahatani bunga melati putih ini terdapat beberapa masalah yang menjadi penghambat. Sehingga dibutuhkan strategi pengembangan usahatani bunga melati putih dimasa depan agar prospek pengembangan usahatani bunga melati putih dapat ditingkatkan.

(33)

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

Usahatani Bunga Melati Putih Masalah-masalah

- Ketersediaan Input produksi (lahan,

tenaga kerja, saprodi, dan teknologi)

- Perkembangan luas panen, produksi,

produktivitas, dan permintaan pasar

- Kelayakan usahatani secara finansial

Prospektif untuk Dikembangkan

Strategi Pengembangan

Keterangan :

(34)

METODE PENELITIAN

Metode Penentuan Daerah Penelitian

Daerah penelitian ditentukan secara purposive (sengaja), yaitu di Kota Medan, Propinsi Sumatera Utara. Dipilihnya Kota Medan sebagai daerah penelitian karena daerah tersebut merupakan salah satu sentra produksi bunga melati putih yang memiliki luas panen terbesar di Sumatera Utara.

Metode Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang melakukan usaha tani bunga melati putih di Kota Medan, Propinsi Sumatera Utara yang tersebar dalam 9 kecamatan yaitu Kecamatan Medan Sunggal, Medan Helvet, Medan Perjuangan, Medan Timur, Medan Marelan, Medan Tembung, Medan Deli, Medan Denai, dan Medan Tuntungan. Metode penarikan sampel dilakukan dengan Stratified Proporsioned Random Sampling yaitu berdasarkan strata luas lahan yang diusahakan oleh petani. Jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 13 orang. Narbuko dan Abu (1997) memberikan pedoman bahwa apabila populasi cukup homogen terhadap populasi dibawah 100 dapat dipergunakan sampel sebesar 50%. Berdasarkan luas pertanaman bunga melati putih, jumlah dan ukuran sampel disajikan pada Tabel 3 berikut :

Tabel 3. Populasi dan Sampel Petani Bunga Melati Putih Berdasarkan Strata Luas Lahan di Kota Medan

No Strata Luas Lahan

(M2)

Jumlah Populasi (KK)

Sampel (KK)

1 I > 2.600 3 2 2 II ≤ 2.600 22 11

Total 25 13

(35)

Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari petani bunga melati melalui wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan. Data sekunder diperoleh dari lembaga atau instansi terkait dengan penelitian seperti Dinas Pertanian Sumatera Utara, Dinas Pertanian Kota Medan, dan Badan Pusat Statistik Propinsi Sumatera Utara.

Metode Analisis Data

Untuk identifikasi masalah 1, digunakan analisis deskriptif yaitu dengan melihat ketersediaan input usahatani bunga melati putih (lahan, tenaga kerja, sarana produksi, maupun teknologi) di daerah penelitian.

Untuk identifikasi masalah 2, digunakan analisis deskriptif yaitu dengan melihat perkembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dilihat dari luas areal, produksi, produktifitas, dan perkembangan permintaan pasar.

Untuk identifikasi masalah 3, dianalisis dengan menggunakan kriteria R/C ratio dengan rumus sebagai berikut :

R/C ratio adalah perbandingan antara penerimaan dan biaya. Secara matematik dapat dirumuskan sebagai berikut :

a = R / C R = Py.Y C = FC + VC

a = { (Py.Y) / (FC + VC) }

(36)

Py = Harga Out put (Rp) Y = Out put (Kg)

FC = Biaya tetap (Rp) VC = Biaya variabel (Rp) Kriteria finansial :

Jika R/C < 1, maka usaha tersebut tidak prospektif

Jika R/C = 1, maka usaha tersebut berada pada titik impas (BEP)

Jika R/C > 1, maka usaha tersebut menguntungkan atau usaha tersebut prospektif

(Soekartawi, 2002).

Untuk identifikasi masalah 4, dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan mengamati masalah-masalah apa saja yang dialami petani bunga melati putih dalam menjalankan usahataninya.

(37)

Defenisi dan Batasan Operasional

Defenisi

1. Usahatani adalah sistem budidaya yang mengusahakan bunga melati putih mulai dari penanaman sampai panen dengan berupaya untuk memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin.

2. Produksi usahatani adalah hasil dari usahatani bunga melati putih dalam bentuk segar yang dihitung dengan satuan kilogram.

3. Produktivitas adalah total produksi bunga melati putih yang dihasilkan per m2. 4. Penerimaan adalah perkalian antara produksi bunga melati putih yang dipanen

untuk dijual dengan harga jual.

5. Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan petani untuk usahatani bunga melati putih selama proses produksi berlangsung sampai siap untuk dipasarkan.

6. Pendapatan bersih usahatani adalah jumlah penerimaan yang diperoleh petani dari hasil usahatani bunga melati putih dikurangi biaya produksi

7. Kelayakan secara finansial adalah ukuran kelayakan usahatani bunga melati putih sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang proporsional dengan membandingkan jumlah penerimaan dengan seluruh biaya produksi.

8. Permintaan pasar adalah jumlah atau kuantitas produk bunga melati putih yang diminta oleh pasar (konsumen). Dalam hal ini diukur dengan jumlah yang secara tidak langsung menggambarkan penjualan.

(38)

Batasan Operasional

1. Jenis bunga melati yang diteliti adalah bunga melati putih (Jasminumsambac Ait.)

2. Sampel adalah petani yang mengusahatanikan tanaman bunga melati putih secara komersial di Kota Medan.

(39)

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK PETANI SAMPEL

Deskripsi Daerah Penelitian

Letak Geografis, Batas, Luas Wilayah, dan Iklim

Kota Medan merupakan Ibu Kota dari Propinsi Sumatera Utara. Kota Medan terletak antara 20,27’-20,47’ LU dan 980,35’-980,44’ BT. Kota Medan berada pada ketinggian 2,5-37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan ini merupakan pusat pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah Utara, Selatan, Barat, dan Timur.

Kota Medan merupakan salah satu dari 25 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan luas daerah 265,10 km2. Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.

Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum 23,20C-24,10C dan suhu maksimum 30,60C-33,90C menurut Stasiun Polonia serta

(40)

Keadaan Penduduk

- Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

Penduduk Kota Medan berjumlah 2.036.185 jiwa dengan 460.084 Rumah Tangga (RT) yang tersebar di setiap kecamatan di Kota Medan. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai jumlah dan persentase penduduk Kota Medan berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan Tahun 2005

Jumlah Total 1.012.040 49,70 1.024.145 50,30 2.036.185

Sumber : BPS, Medan Dalam Angka 2006

(41)

produktif (15-54 tahun) yaitu orang dewasa sebesar 1.287.751 jiwa (63,24%). Dan jumlah manula (> 55 tahun) sebesar 152.104 jiwa (7,47%).

- Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk Kota Medan bervariasi jenisnya. Ada yang bekerja sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, TNI/POLRI, dan sebagainya. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai mata pencaharian penduduk Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini :

Tabel 5. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Mata Pencaharian di Kota Medan Tahun 2005

No. Mata Pencaharian Jumlah

(Orang)

Persentase (%)

1. Pegawai Negeri 18.670 4,06

2. Pegawai Swasta 14.570 3,17

3. TNI/POLRI 13.562 2,95

4. Tenaga Pengajar 43.551 9,46

5. Tenaga Kesehatan 2.399 0,52

6. Lain-lain 367.332 79,84

Jumlah 460.084 100,00

Sumber : BPS, Medan Dalam Angka 2006

(42)

Penggunaan Tanah

Luas dan penggunaan tanah di Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 6 berikut :

Tabel 6. Luas dan Jenis Penggunaan Tanah di Kota Medan Tahun 2005

No Uraian Jumlah

(Ha)

Persentase (%)

1. Pemukiman 9.623,13 36,30

2. Perkebunan 821,81 3,10

3. Lahan Jasa 503,69 1,90

4. Sawah 1.617,11 6,10

5. Perusahaan 1.113,42 4,20

6. Kebun Campuran 11.956,01 45,10

7. Industri 397,65 1,50

8. Hutan Rawa 477,18 1,80

Total 26.510,00 100,00

Sumber : Anonimous, 2006c

(43)

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana di Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini :

Tabel 7. Sarana dan Prasarana di Kota Medan Tahun 2005

No. Sarana dan Prasarana Jumlah

(Unit) 2. Fasilitas Kesehatan

a. Rumah Sakit 3. Tempat Peribadatan

a. Masjid

Sumber : BPS, Medan Dalam Angka 2006 dan Pemko Medan

(44)

Kota Medan saat ini sudah baik. Jenis-jenis sarana yang tersedia baik sarana pendidikan, kesehatan, pasar, dan lainnya sudah memadai.

Karakteristik Petani Sampel

Karakteristik petani sampel dalam penelitian ini digambarkan oleh luas lahan tanaman melati putih yang dikelola petani, umur petani, pendidikan terakhir petani, pengalaman bertani, dan jumlah tanggungan. Karakteristik rata-rata petani sampel dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Karakteristik Rata-Rata Petani Sampel di Kota Medan Tahun 2005 Strata (M2)

No. Uraian Satuan

> 2.600 ≤ 2.600 Rataan

1. Luas Lahan M2 4.100 618,18 1.153,85

2. Umur Tahun 47,5 52,91 52,08

3. Pendidikan Tahun 10,5 13,55 13,1

4. Pengalaman Bertani Tahun 23 4,18 7,08

5. Jumlah Tanggungan Jiwa 3* 2* 2*

Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 1) * Hasil Pembulatan

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa rata-rata luas lahan petani sampel adalah 1.153,85 m2. Sedangkan rata-rata umur petani sampel di daerah penelitian adalah 52,08 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa petani tersebut masih tergolong usia produktif dan berpotensi untuk mengembangkan usahatani bunga melati putih.

(45)

Pengalaman bertani petani sampel umumnya sudah cukup lama. Rata-rata pengalaman bertani dari petani sampel ini adalah 7,08 tahun. Lamanya bertani bagi petani bunga melati ini berpengaruh pada keahlian dan pengetahuannya didalam mengatasi masalah-masalah budidaya yang mereka hadapi. Sehingga dapat juga membantu dalam meningkatkan produksi bunga melatinya.

(46)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ketersediaan Lahan, Tenaga Kerja, Sarana Produksi, serta Teknologi dalam Usahatani Bunga Melati Putih di Kota Medan

Ketersediaan Lahan

Berdasarkan data pada Tabel 6, maka dapat diketahui bahwa di Kota Medan terdapat kebun campuran seluas 11.956,01 ha yang masih dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan usahatani bunga melati putih. Kebun campuran merupakan lahan kering yang sesuai untuk budidaya tanaman bunga melati putih. Namun jika petani sampel hendak memperluas skala usahanya dengan menambah lahan usaha akan membutuhkan modal yang besar. Hal ini dikarenakan harga tanah di Kota Medan relatif mahal. Hal ini menunjukkan bahwa masih tersedianya lahan dalam berusahatani bunga melati putih.

Ketersediaan Tenaga Kerja

Petani bunga melati putih di Kota Medan umumnya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga, selain itu juga ada yang menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga berasal dari penduduk setempat.

(47)

Tabel 9. Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kota Medan

Sumber: BPS, Medan dalam Angka 2006

Dari Tabel 9 dapat diketahui bahwa di daerah penelitian, tenaga kerja yang berasal dari penduduk setempat sebesar 1.287.751 jiwa atau 63,24% dari jumlah penduduk Kota Medan yang ada. Tenaga kerja yang dimaksud adalah semua penduduk usia kerja berumur 15-54 tahun (usia produktif). Usia produktif adalah usia dimana seseorang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa dengan efektif. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga kerja di daerah penelitian tersedia dengan baik.

Ketersediaan Sarana Produksi

- Bibit

(48)

Medan adalah 80 cm x 100 cm, dengan jarak antar bedengan 20-40cm. Dengan demikian dapat di ketahui bahwa setiap meternya dibutuhkan 1 (satu) bibit tanaman bunga melati putih.

Petani sampel memperoleh bibit bunga melati tidak begitu sulit karena tidak perlu sampai ke luar kota untuk membelinya. Bibit bunga melati putih dapat diperoleh dengan cara membeli langsung dari petani penjual bibit bunga yang ada di Kota Medan atau di daerah pinggiran Kota Medan. Petani sampel juga dapat membuat bibit sendiri dengan cara menyetek batang tanaman bunga melati putih. Untuk melakukan stek batang (cabang) dari satu tanaman bunga melati putih dewasa (> 1 tahun), dapat menghasilkan sekitar 20-50 bibit baru. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ketersediaan bibit bunga melati putih di Kota Medan tersedia dengan baik.

- Pupuk

Pupuk yang banyak digunakan petani bunga melati putih di Kota Medan adalah kompos. Kompos diharapkan dapat menjaga kestabilan produksi bunga melati setiap harinya. Selain itu juga digunakan pupuk anorganik seperti NPK, TSP, KCL, Urea, dan Sepirit. Kebutuhan pupuk tergantung dari luas lahan yang dimiliki masing-masing petani sampel. Untuk Sepirit disemprot sesuai dengan dosis pada kemasan. Dalam setahun rata-rata petani melakukan 3 kali pemupukan.

(49)

- Obat-obatan

Obat-obatan dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko obat-obatan terdekat di sekitar lokasi usahatani atau tempat tinggal petani. Sehingga obat-obatan pertanian juga tersedia di daerah penelitian. Obat-obat-obatan yang umum digunakan petani adalah pestisida dan fungisida. Penyemprotan dilakukan 1-2 minggu sekali. Sedangkan herbisida digunakan petani yang memiliki lahan luas pada saat pembukaan lahan dan untuk menyemprot rumput-rumput yang ada pada gang-gang di tanaman bunga melati. Untuk memberantas rumput-rumput yang mengganggu, petani lahan sempit biasanya cukup melakukan pembersihan lahan.

Ketersediaan Teknologi

- Persiapan Lahan

Persiapan lahan dilakukan dengan cara membersihkan lahan dari pepohonan karena biasanya dilakukan secara monokultur, yaitu hanya satu jenis tanaman untuk mencegah adanya tanaman pelindung, semak belukar, dan rumput liar. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan herbisida. Untuk selanjutnya dilakukan pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul yaitu membentuk bedengan-bedengan. Kemudian dibuat lubang tanam dan diberikan kompos 0,2-0,4 kg tiap lubang.

- Penanaman

(50)

- Pengairan

Pada fase awal pertumbuhan, tanaman melati membutuhkan ketersediaan air yang memadai. Alat bantu penyiraman yang digunakan petani adalah gembor dan melalui selang plastik dari mesin penyedot air yang diarahkan pada tiap-tiap tanaman. Tiap tanaman disiram hingga sekitar perakaran cukup basah.

- Penyiangan

Pada saat berumur satu bulan setelah tanam, tanaman melati sudah ditumbuhi rumput liar (gulma). Gulma tersebut harus disiangi agar tidak mengganggu bunga melati. Cara menyiangi adalah dengan mencabut rumput semua gulma dengan tangan, cangkul, sabit, dan parang. Kemudian tanah disekitar tanaman digemburkan untuk memperbaiki drainase tanah. Penyiangan ulang berikutnya disesuaikan dengan keadaan pertumbuhan gulma.

- Pemupukan

Pemupukan yang dilakukan petani berbeda-beda. Umumnya petani memupuk 3 x dalam setahun. Pupuk yang digunakan adalah kompos, NPK, TSP, KCl, Urea, dan Sepirit. Untuk kompos, NPK, TSP, KCL, dan Urea. Pemupukan dilakukan dengan cara menyebarkannya disekitar tanaman sedangkan Sepirit dilarutkan dalam air dan disemprotkan dengan menggunakan sprayer.

- Pemberantasan Hama dan Penyakit

(51)

menyemprotkan obat-obatan yang dibutuhkan dengan menggunakan sprayer. Sprayer dapat mudah diperoleh di toko-toko peralatan sarana produksi yang ada di Kota Medan.

- Pemangkasan

Pemangkasan dilakukan pada akhir bulan Oktober atau bulan November, karena pada bulan tersebut terjadi penurunan produksi bunga akibat intensitas matahari yang rendah (bulan basah). Pemangkasan bertujuan untuk mengurangi kadar air tanah. Tanaman melati merupakan tanaman perdu yang memiliki banyak cabang. Jika tidak dilakukan pemangkasan pada cabang/daun tanaman maka bagian bawah tanaman terlindungi sehingga tanah dibawahnya semakin lembab dan akan menimbulkan jamur yang akan menyerang tanaman melati. Alat pangkas yang digunakan petani adalah gunting tajam dan steril.

- Panen dan Pascapanen

(52)

layu. Bunga yang mekar penuh hanya dapat bertahan satu hari, sedangkan kuntum bunganya dapat bertahan 2-3 hari.

Dengan demikian, maka luas lahan, tenaga kerja, sarana produksi (bibit, pupuk, dan obat-obatan), serta teknologi cukup tersedia di daerah penelitian.

Perkembangan Usahatani Bunga Melati Putih di Kota Medan

Kota Medan merupakan salah satu penghasil bunga melati putih terbesar di Propinsi Sumatera Utara. Hal ini terbukti dari data Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Utara tahun 2005. Untuk melihat perkembangan produksi, produktivitas dan luas tanaman di Kota Medan tahun 2003, 2004, dan 2005 dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Perkembangan Usahatani Bunga Melati Putih di Kota Medan Tahun 2003, 2004, dan 2005

Tahun Luas Panen

(M2)

Produksi (Kg)

Produktivitas (Kg/M2)

2003 4.020 39.183 9,75

2004 10.431 13.058 1,25

2005 9.443 4.344 0,46

Sumber: Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Utara

(53)

sebagainya. Untuk tahun 2005, luas panen bunga melati putih menjadi 9.443 m2 atau mengalami penurunan sebesar 988 m2 (9,47%) dan produksinya menjadi 4.344 kg atau mengalami penurunan sebesar 8.714 kg (66,73%) sehingga produktivitasnya menjadi 0,46 kg/m2 atau mengalami penurunan sebesar 0,79 kg/m2 (63,2%). Hal ini juga disebabkan berbagai faktor, dari penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa petani yang tidak mengusahakan bunga melati putih lagi karena banyak pesaing dan kurangnya minat untuk mengembangkan usahatani bunga melati putih sehingga beralih ke usaha lain.

Untuk melihat perkembangan permintaan pasar, dapat dilihat dari jumlah rata-rata penjualan bunga melati putih. Dari wawancara yang dilakukan kepada petani sampel diketahui bahwa produksi bunga melati putih setiap harinya baik yang mekar penuh ataupun berbentuk kuntum dapat dipasarkan ke pasar-pasar tradisional, perangkai bunga pengantin, vihara, masyarakat, dan sebagainya. Untuk permintaan pasar lokal kebutuhan bunga melati putih ini dirasakan masih belum mencukupi karena produksinya juga masih sedikit. Sehingga jika akan memasuki pasar nasional atau pasar eksport perlu dilakukan pengembangan usaha terlebih dahulu atau memperbaiki produktivitas usahatani ini.

Dengan demikian perkembangan permintaan pasar juga dapat dilihat dari jumlah produksi bunga melati putih yang dihasilkan yang terdapat pada Tabel 10, karena semua yang diproduksi dapat diserap oleh pasar.

(54)

penguburan dan bunga rampai saja. Untuk pembuatan parfum dan campuran teh tidak dapat terpenuhi sehingga sarana yang dibutuhan seperti pabrik parfum belum ada di Kota Medan. Pabrik teh juga dapat dijadikan pasar untuk bunga melati putih ini, namun yang diharapkan adalah jumlah bunga yang dibutuhkan ini dapat tersedia secara kontinu.

Kelayakan usahatani Bunga Melati Putih

Biaya Produksi

Biaya produksi pada usahatani bunga melati putih di Kota Medan terdiri dari biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja, biaya penyusutan, sewa lahan, transportasi, plastik, dan Pajak Bumi Bangunan (PBB) yang diukur dalam satuan rupiah.

Untuk biaya sarana produksi terdiri dari biaya bibit, pupuk (pupuk kompos, NPK, TSP, KCL, urea, dan sepirit), dan biaya untuk obat-obatan (dursban, antracol, supracide, dicofan, dan rambo). Biaya sarana produksi rata-rata per petani dan per m2 dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Biaya Sarana Produksi Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun

Strata (M2)

Biaya Sarana Produksi Per Petani (Rp)

Biaya Sarana Produksi Per M2 (Rp)

> 2.600 15.288.250 3.868,21

≤ 2.600 3.630.491 6.067,25

Rataan 5.423.992,31 5.728,94

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 5-10 dan 20-21)

Tabel 11 menunjukkan bahwa biaya sarana produksi rata-rata selama 3 tahun adalah sebesar Rp 5.423.992,31 per petani dan Rp 5.728,94 per m2.

(55)

yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 3.630.491,31. Sedangkan biaya sarana produksi rata-rata per m2 yang tertinggi terdapat pada strata strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 6.067,25 dan yang terendah terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 3.868,21

Untuk biaya tenaga kerja, besarnya biaya didasarkan pada jumlah hari kerja dilakukan. Biaya tenaga kerja rata-rata pada usahatani bunga melati putih selama 3 tahun di Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 12 berikut ini :

Tabel 12. Biaya Tenaga Kerja Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun

Strata (M2)

Biaya Tenaga Kerja Per Petani (Rp)

Biaya Tenaga Kerja Per M2 (Rp)

> 2.600 52.715.125 12.670,25

≤ 2.600 7.538.713,64 11.996,81

Rataan 14.488.930,77 12.100,41

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 14-16 dan 20-21)

Tabel 12 menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja rata-rata selama 3 tahun adalah sebesar Rp 14.488.930,77 per petani dan 12.100,41 per m2.

Berdasarkan strata luas lahan maka biaya tenaga kerja rata-rata per petani yang tertinggi terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 52.715.125 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 7.538.713,64. Sedangkan biaya tenaga kerja rata-rata per m2 yang tertinggi juga terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 12.670,25 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 11.996,81.

(56)

sprayer, mesin air, garu, sabit, dan gembor. Biaya penyusutan rata-rata pada usahatani bunga melati putih dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ini :

Tabel 13. Biaya Penyusutan Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 17 dan 20-21)

Tabel 13 menunjukkan bahwa biaya penyusutan rata-rata selama 3 tahun adalah sebesar Rp 343.908 per petani dan 417,66 per m2.

Berdasarkan strata luas lahan maka biaya penyusutan rata-rata per petani tertinggi terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 879.202,5 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 246.581,73. Sedangkan biaya penyusutan rata-rata per m2 yang tertinggi terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 452,69 dan yang terendah terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 225,01.

Sewa lahan merupakan biaya produksi yang dihitung berdasarkan luasnya lahan usahatani. Biaya sewa lahan rata-rata pada usahatani bunga melati putih dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Biaya Sewa Lahan Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 20-21)

(57)

Berdasarkan strata luas lahan maka biaya sewa lahan rata-rata tertinggi terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 6.150.000 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 927.272,73. Sedangkan biaya sewa lahan rata-rata per m2 mempunyai nilai yang sama yaitu sebesar Rp 1.500 pada strata strata > 2.600 m2 dan pada strata ≤ 2.600 m2.

Biaya transportasi digunakan untuk berbagai keperluan pada usahatani bunga melati putih antara lain untuk membeli bibit, pupuk, herbisida. Biaya transportasi rata-rata pada usahatani bunga melati putih selama 3 tahun dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Biaya Transportasi Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun

Strata (M2)

Biaya Transportasi Per Petani (Rp)

Biaya Transportasi Per M2 (Rp)

> 2.600 5.537.500 1.419,41

≤ 2.600 2.854.545,45 7.200,49 Rataan 3.267.307,69 6.311,09

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 19-21)

Tabel 15 menunjukkan bahwa biaya transportasi rata-rata selama 3 tahun adalah sebesar Rp 3.267.307,69 per petani dan Rp 6.311,09 per m2.

Berdasarkan strata luas lahan maka biaya transportasi rata-rata per petani tertinggi terdapat pada strata pada strata > 2600 m2 yaitu sebesar Rp 5.537.500, dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 2.854.545,45. Sedangkan biaya transportasi rata-rata per m2 yang tertinggi terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 7.200,49 dan yang terendah terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 1.419,41.

(58)

sewa lahan, biaya transportasi, plastik, dan Pajak PBB. Biaya produksi rata-rata pada usahatani bunga melati putih selama 3 tahun dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Biaya Produksi Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun Strata

> 2.600 81.501.077,5 19.917,23

≤ 2.600 16.034.195,36 29.306,42 Rataan 26.106.023,39 27.861,93

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 20-21)

Tabel 16 menunjukkan bahwa biaya produksi rata-rata selama 3 tahun adalah sebesar Rp 26.106.023,39 per petani dan Rp 27.861,93 per m2.

Berdasarkan strata luas lahan maka biaya produksi rata-rata per petani tertinggi terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 81.501.077,5 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 16.034.195,36. Sedangkan biaya produksi rata-rata per m2 yang tertinggi terdapat pada strata strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 29.306,42 dan yang terendah terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 19.917,23.

Penerimaan, Pendapatan Bersih, R/C Ratio

- Penerimaan

Penerimaan yang diperoleh petani bunga melati putih di Kota Medan adalah hasil perkalian antara produksi dalam satuan kilogram dengan harga penjualan yang berlaku di Kota Medan. Besarnya penerimaan rata-rata selama 3 tahun pada usahatani bunga melati putih dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Penerimaan Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun Strata

(M2)

Penerimaan Per Petani (Rp)

Penerimaan Per M2 (Rp)

> 2.600 261.360.000 62.964

≤ 2.600 37.083.272,73 56.102,73 Rataan 71.587.384,62 57.158,31

(59)

Tabel 17 menunjukkan bahwa penerimaan rata-rata selama 3 tahun adalah sebesar Rp 71.587.384,62 per petani dan Rp 57.158,31 per m2.

Berdasarkan strata luas lahan maka penerimaan rata-rata per petani tertinggi terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 261.360.000 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 37.083.272,73. Sedangkan penerimaan rata-rata per m2 yang tertinggi juga terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 62.964 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 56.102,73.

- Pendapatan Bersih

Pendapatan bersih adalah selisih antara penerimaan dengan biaya produksi. Pendapatan bersih rata-rata pada usahatani bunga melati putih selama 3 tahun dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Pendapatan Bersih Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun

Strata (M2)

Pendapatan Bersih Per Petani (Rp)

Pendapatan Bersih Per M2 (Rp)

> 2.600 179.858.922,5 43.046,77

≤ 2.600 21.049.077,37 26.796,31

Rataan 45.481.361,23 29.296,38

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 25-26)

Tabel 18 menunjukkan bahwa pendapatan bersih rata-rata selama 3 tahun adalah sebesar Rp 45.481.361,23 per petani dan Rp 29.296,38 per m2.

(60)

strata > 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 43.046,77 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar Rp 26.796,31.

- R/C Ratio

R/C ratio adalah perbandingan antara penerimaan dengan biaya produksi, tujuannya adalah untuk melihat apakah usahatani bunga melati putih di Kota Medan menguntungkan/layak diusahakan atau tidak menguntungkan/tidak layak diusahakan dengan kriteria R/C > 1 maka usahatani bunga melati putih di Kota Medan menguntungkan/layak dikembangkan, bila R/C = 1 maka usahatani di Kota Medan tidak untung dan tidak rugi, dan bila R/C < 1 maka usahatani bunga melati putih di Kota Medan tidak menguntungkan/tidak layak untuk dikembangkan. R/C ratio rata-rata pada usahatani bunga melati putih di Kota Medan dapat pada Tabel 19.

Tabel 19. R/C Ratio Rata-Rata Per Petani dan Per M2 Selama 3 Tahun Strata

(M2)

R/C Ratio Per Petani dan Per M2

> 2.600 3,16

≤ 2.600 2,04

Rataan 2,21

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 27-28)

Tabel 19 menunjukkan bahwa R/C ratio rata-rata per petani dan per m2 selama 3 tahun adalah sebesar 2,21. Berdasarkan strata luas lahan maka R/C ratio rata-rata tertinggi terdapat pada strata > 2.600 m2 yaitu sebesar 3,16 dan yang terendah terdapat pada strata ≤ 2.600 m2 yaitu sebesar 2,04.

(61)

Masalah-Masalah yang Dihadapi Petani dalam Usahatani Bunga Melati Putih

Dalam pengembangan usahatani bunga melati putih di daerah penelitian, banyak ditemukan berbagai masalah yang dihadapi oleh petani bunga melati putih, baik masalah internal maupun masalah eksternal. Masalah-masalah tersebut dapat menghambat pengembangan usahatani bunga melati putih di daerah penelitian.

Dibawah ini akan diuraikan masalah-masalah apa saja yang dihadapi oleh petani dalam pengembangan usahatani bunga melati putih, antara lain :

1. Modal terbatas

Modal merupakan salah satu masalah yang menghambat dalam pengembangan usahatani bunga melati putih. Modal yang dimiliki petani umumnya adalah modal sendiri. Untuk memperluas skala produksi akan membutuhkan tambahan input produksi (lahan, tenaga kerja, bibit, pupuk, dan obat-obatan) sehingga dibutuhkan modal tambahan.

Sebagaimana diketahui, Kota Medan merupakan pusat pemerintahan. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan sudah lengkap. Kebutuhan akan perumahan juga meningkat. Sehingga tidak sedikit para pengusaha menawarkan sejumlah besar uang untuk membeli tanah/ladang dari petani bunga melati ini. Hal ini menggiurkan petani, dan beberapa petani lebih memilih menjual tanahnya dan membuka usaha lain dibanding ia harus menunggu penerimaan sedikit demi sedikit yang dapat dihasilkan dari usahataninya.

(62)

2. Kurangnya seni dan hobby

Seni dan hobby yang dimiliki petani mempengaruhi keberhasilan usahatani bunga melati putih ini karena dibutuhkan perawatan yang intensif. Petani dan anggota masyarakat pencinta bunga melati putih belum begitu berkembang di Kota Medan sehingga yang mengusahakan bunga melati putih tidak begitu banyak.

Pemanfaatan bunga juga masih terbatas pada hal yang sederhana saja dalam pasca panennya. Sebagaimana diketahui bahwa bunga melati putih ini dapat dirangkai untuk hiasan pengantin, namun hanya 3 petani dari 13 petani bunga melati putih ini yang memiliki keterampilan khusus dalam merangkai bunga. Sehingga hanya beberapa petani saja yang dapat menikmati nilai tambah dari sentuhan seni yang diberikan pada bunga melati putih ini.

3. Adanya persaingan dengan bunga plastik

Bunga melati putih adalah bunga yang indah, harum dan memiliki nilai budaya yang tinggi sehingga harganyapun relatif mahal. Konsumen bunga melati putih ini dapat dikatakan orang yang memiliki ekonomi menengah keatas. Masyarakat yang berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah cenderung beralih ke bunga plastik karena disamping harganya murah, bunga plastik ini juga lebih tahan lama.

4. Bunga melati putih tidak tahan lama

(63)

paling lama 3 hari setelah panen, jika lebih akan berwarna kecoklatan dan kurang menarik dipandang.

5. Serangan hama dan penyakit

Masalah hama dan penyakit merupakan masalah yang sulit untuk diatasi. Hama yang sering ditemukan menyerang tanaman bunga melati putih adalah ulat palpita, kutu berwarna hitam dan kutu putih. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman bunga melati putih ini umumnya disebabkan oleh jamur. Jamur ini dapat terlihat jelas pada batang, dan bunga melati putih ini, sedangkan pada daun menyebabkan bercak berwarna kuning kecoklatan. Jamur dapat tumbuh jika kelembaban disekitar kebun tinggi yaitu ketika musim hujan dan cabang tanaman terlalu lebat sehingga bagian bawah tanaman tidak terkena sinar matahari.

6. Kurangnya penyuluhan

Di daerah penelitian, petani tidak pernah dikunjungi oleh PPL. Sehingga banyak petani sampel tidak mengetahui cara bertanam tanaman ini dengan benar. Petani membeli buku ”Usahatani Melati” yang ada di grosir buku seperti gramedia sebagai pedoman dalam bercocok tanam.

7. Lembaga-lembaga yang terkait kurang berperan

Di daerah penelitian, lembaga-lembaga yang terkait kurang berperan. Misalnya saja kelompok tani yang ada (32 kelompok tani khusus bidang tanaman hias), keberadaannya tidak pernah dirasakan oleh petani sampel.

(64)

Tabel 21. Masalah-Masalah yang Dihadapi Petani Berdasarkan Sumbernya (Internal/Eksternal) dan Klasifikasinya (Kelemahan/Ancaman)

Sumber Klasifikasi No. Masalah-Masalah

Internal Eksternal Kelemahan Ancaman

1.

Bunga melati tidak tahan lama

Serangan hama dan penyakit

Strategi yang Dilakukan untuk Mengatasi Masalah-Masalah yang Dihadapi dalam Pengembangan Usahatani Bunga Melati Putih

Menentukan Faktor-Faktor Strategi Eksternal

Adapun faktor-faktor strategi eksternal dalam pengembangan usahatani bunga melati putih di kota Medan adalah sebagai berikut :

a. Peluang

- Permintaan pasar terhadap bunga melati putih tinggi.

(65)

- Informasi pasar tinggi.

Sebagaimana diketahui bahwa rata-rata tingkat pendidikan petani sampel bunga melati putih di Kota Medan adalah 13 tahun atau sederajat SMU, hal ini dapat menambah jumlah relasi yang mereka kenal. Sehingga petani lebih aktif dan mudah untuk mengetahui tingkat harga yang berlaku.

- Saluran pemasaran pendek

Petani sampel langsung menjual hasil panen setiap harinya kepada pedagang bunga dan bidan pengantin.

- Harga bunga melati relatif stabil.

Bunga melati termasuk barang mewah yang digunakan oleh sebagian besar kalangan ekonomi menengah ke atas.

- Petani mempunyai hubungan yang baik dengan pembeli.

Petani sudah sadar akan pasar dan juga pentingnya konsumen. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara yang dilakukan bahwa sebagian besar petani telah menyebarkan kartu nama kepada setiap pelanggan agar mudah untuk dihubungi.

b. Ancaman

- Adanya persaingan dengan bunga plastik.

Bunga plastik menjadi barang substitusi dan ancaman bagi petani dalam penjualan kuntum untuk roncean bunga pengantin namun tidak untuk kegunaan-kegunaan yang lain.

- Serangan hama dan penyakit.

Gambar

Tabel 2. Jenis-Jenis Tanaman Hias di Kota Medan Tahun 2005 No. Nama Tan. Luas Produktivitas Produksi
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran
Tabel 3. Populasi dan Sampel Petani Bunga Melati Putih Berdasarkan Strata Luas Lahan di Kota Medan
Tabel 4. Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan Tahun 2005 Golongan Laki-laki Perempuan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan secara parsial, luas lahan, biaya tenaga kerja, biaya bibit/benur, harga komoditi dan teknologi usahatani berpengaruh nyata sedangkan jumlah produksi, biaya pakan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis ketersediaan input (lahan, bibit, modal, pupuk, dan tenaga kerja) usahatani anggrekdi daerah penelitian, untuk menganalisis

Biaya produksi ini terdiri dari biaya sewa tanah, biaya tenaga kerja, biaya bibit, biaya pupuk, biaya obat-obatan dan biaya lain-lain. Sebagai gambaran tentang segala

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis ketersediaan input (lahan, bibit, modal, pupuk, dan tenaga kerja) usahatani anggrekdi daerah penelitian, untuk menganalisis

Berdasarkan uraian mengenai kelebihan dan kekurangan usahatani udang windu organik dan adanya pihak kontra yang menganggap usahatani organik tidak cukup menguntungkan,

Hasil penelitian menyimpulkan Sarana produksi berupa luas lahan, bibit, garam, pupuk, pestisida, peralatan dan tenaga kerja pada usahatani tembakau rakyat di daerah penelitian cukup

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peran istri dalam rumah tangga tani terkait pengambilan keputusan pemasaran bunga melati putih, aktivitas pembagian kerja

Usahatani stroberi di daerah penelitian menggunkan faktor/input produksi yang terdiri dari lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja dan obat- obatan.. Metode penentuan daerah