PERBEDAAN KOMPETENSI SOSIAL REMAJA DITINJAU DARI GAYA KELEKATAN DENGAN TEMAN SEBAYA

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN KOMPETENSI SOSIAL REMAJA DITINJAU DARI

GAYA KELEKATAN DENGAN TEMAN SEBAYA

SKRIPSI

Oleh :

Fauziah Putri Pebrianingsih

201210230311015

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

PERBEDAAN KOMPETENSI SOSIAL REMAJA DITINJAU DARI

GAYA KELEKATAN DENGAN TEMAN SEBAYA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang

Sebagai salah satu persyaratan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Psikologi

Oleh :

Fauziah Putri Pebrianingsih

201210230311015

FAKULTAS PSIKOLOGI

(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Perbedaan Kompetensi Sosial Remaja Ditinjau dari Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dra. Tri Dayakisni, M.Si., selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Dr. Iswinarti M.Si dan Ari Firmanto S.Psi., M.Si selaku pembimbing I dan Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna, hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Diana Savitri Hidayati M.Psi selaku dosen wali penulis yang telah mendukung dan memberi pengarahan sejak awal perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.

4. Kepala sekolah dan jajaran pengajar di MTSN Grogol, Kediri yang telah memberikan ijin penulis untuk melakukan penelitian dan siswa MTSN Grogol, Kediri yang telah bersedia menjadi subjek penelitian penulis.

5. Kepala sekolah dan jajaran pengajar di MTS Al – Hidayah, Malang yang telah memberikan ijin penulis untuk melakukan try out skala penelitian skripsi penulis, dan siswa MTS Al – Hidayah, Malang yang telah bersedia menjadi subjek try out skala penelitian penulis.

6. Kedua orangtua penulis tercinta, Drs. Rahmat Farid MH dan Sri Hastutiningsih yang selalu menyelipkan nama penulis disetiap doa-doanya serta curahan kasih sayang yang tiada tara. Hal ini merupakan kekuatan terbesar bagi penulis untuk terus memiliki motivasi dalam perkuliahan dan proses skripsi ini. Semoga kelulusan ini menjadi awal pengabdian hidupku untuk membahagiakan dan membanggakan kalian kelak.

7. Adik-adik yang penulis rindukan, Khodijah Gina Puspitaningsih dan Muhammad Khotami Khotibi yang slalu memberikan semangat dan menghibur penulis dikala senang dan susah.

8. Teman seperjuanganku, Ilham Yanuar Kharisma selaku patner penelitian payung yang telah berbagi suka dan duka serta sudah mau mendengarkan keluh kesah penulis selama pembuatan skripsi ini.

(6)

10.Sahabat-sahabatku, Febri Agung S.B, Oki Yolanda, dan Fitri Dyan A yang telah bersedia menerima keluh kesah penulis dan menjadi sahabat terbaik dikala senang maupun susah.

11.Umam Fawaid, Nur Indah Agustini, Putra Wahyu Ardiyanto, dan Rinna Yustinna yang telah banyak membantu penulis dalam pengambilan data saat try-out dan penelitian. Serta, Mas Agus Salim yang sudah bersedia menyalurkan ilmunya dalam pembuatan skala penelitian.

12.Teman-teman Fapsi-A yang sudah memberikan warna selama masa-masa perkuliahan. Pertikaian, persahabatan, dan adu pendapat yang terjadi slalu menjadi pembelajaran dan kenangan yang sangat berarti.

13.HMI Komisariat Psikologi, LSO Psikologi Club, dan UKM Taekwondo yang telah memberikan banyak pengalaman, pembelajaran, serta kekeluargaan yang tidak bisa digantikan.

14.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak memberikan bantuan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya ini sangat penulis harapkan. Meski demikian, penulis berharap semoga ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.

Malang, 16 Mei 2016 Penulis

(7)

DAFTAR ISI

COVER SKRIPSI ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

ABSTRAK ... 1

PENDAHULUAN ... 2

Definisi Kompetensi Sosial... 5

Kompetensi Sosial Remaja ... 5

Aspek-aspek Kompetensi Sosial ... 6

Faktor yang mempengaruhi kompetensi sosial ... 6

Definisi Kelekatan ... 7

Macam-macam Kelekatan ... 8

Kelekatan antar Remaja dan Teman Sebaya ... 8

Hubungan Antar Variabel ... 9

Kerangka Berfikir ... 10

Hipotesa ... 10

METODE PENELITIAN ... 11

Rancangan Penelitian ... 11

Subjek Penelitian ... 11

Variabel dan Instrument Penelitian ... 11

Prosedure dan Analisa Data ... 13

HASIL PENELITIAN ... 14

DISKUSI ... 18

SIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 20

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Sebaran Item Skala Kompetensi Sosial ... 12

Tabel 2. Sebaran Item Skala Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya... 13

Tabel 3. Jumlah Subjek Penelitian ... 14

Tabel 4. Analisa Hasil Skala Kompetensi Sosial ... 14

Tabel 5. Perbandingan Jumlah Subjek Ditinjau dari 4 Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya... ... 16

Tabel 6. Hasil analisa ANOVA perbedaan kompetensi sosial remaja ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya... ... 17

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Berfikir Penelitian.... ... 10 Gambar 2. Rata-rata Hasil Skala Kompetensi Sosial Per-aspek... ... 15 Gambar 3. Perbandingan Kompetensi Sosial Per-aspek Ditinjau dari empat

Gaya Kelekatan... ... 15 Gambar 4. Nilai Mean Kompetensi Sosial Ditinjau Dari Gaya Kelekatan Dengan

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 INSTRUMENT PENELITIAN ... 24

LAMPIRAN 2 HASIL UJI RELIABILITAS DAN VALIDITAS ... 31

LAMPIRAN 3 HASIL UJI ONE WAY ANOVA ... 36

(11)

PERBEDAAN KOMPETENSI SOSIAL REMAJA DITINJAU DARI

GAYA KELEKATAN DENGAN TEMAN SEBAYA

Fauziah Putri Pebrianingsih

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Fa_pu25@yahoo.co.id

Remaja memiliki tugas perkembangan yang sulit dalam hal penyesuaian sosial untuk itu dibutuhkan kemampuan yang dapat membantu remaja dalam beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Kompetensi sosial pada remaja dapat di lihat dari seberapa dekat remaja dengan teman sebayanya, sehingga gaya kelekatan yang diterapkan bersama teman sebaya akan mempengaruhi kompetensi sosial yang dimiliki seorang remaja. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat apakah ada perbedaan kompetensi sosial jika ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan karakteristik penelitian kasual komparatif. Subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini sebanyak 265 subjek yang terdiri dari kelas 7, 8, dan 9 di MTSN Grogol Kabupaten Kediri. Penelitian ini di analisis menggunakan one way ANOVA yang dibantu menggunakan program SPSS for windows. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kompetensi sosial remaja yang sangat signifikan ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya (F= 23,992; P= 0,000 < 0,05). Remaja dengan gaya kelekatan aman memiliki kompetensi sosial yang lebih tinggi dari remaja dengan gaya kelekatan menolak, terpreokupasi maupun takut menghindar.

Kata kunci : kompetensi sosial remaja, gaya kelekatan dengan teman sebaya

Adolescent have the difficult task of development in terms of social adjustment to the required capabilities that can help adolescent to adapt to the social environment. The ability is social competence, to look at social competence in adolescent we can see from attachment the adolescent with their peers, for that attachment styles are applied together with peers will effect an adolescent social competence. The purpose of this study to see whether there are differences in terms of social competence if attachment style with peers. The research is quantitative research of casual comparative research. A subject that have been involved in research has reached 265 subject consisting of the class 7, 8, and 9 in MTSN Grogol, Kediri. This research analyzed use of one way ANOVA assisted by using pogram SPSS for windows. The result showed differences in social competence highly significant in terms of attachment style with peers (F=23,992; P=0,000 <0,05). Adolescent with secure attachment style have social competence higher than the adolescent with dismissing attachment style, preoccupied attachment style, and fearful-avoident attachment style.

Keywords: adolescent social competence, peer attachment style

(12)

terjadi di sumatra barat, lima remaja yang sedang menghirup lem dikawasan Pasar Raya Solok ditangkap oleh satuan polisi pamong praja kota Solok Sumatra Barat (Republika,12/02/2015). Kasus lain terjadi di kota Tanggerang, pasangan pelajar sekolah menengah kejuruan di Tangerang, TDP (16 ) dan IMP (16) di tangkap aparat polsek kebun jeruk dikarenakan merampok sebuah taksi di karenakan tidak memiliki uang untuk membayar taksi tersebut (Republika,16/05/2015). Dalam data BKKBN pada tahun 2013, jumlah seks bebas di kalangan remaja usia 10-14 tahun mencapai 4,38 persen, pada usia 14-19, seks bebas 41,8 persen, berdasarkan data BKKBN juga tidak kurang dari 800 ribu remaja melakukan aborsi setiap tahun (Republika, 30/06/2015). Sedangkan di ibu kota Jakarta, Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (poldaMetro Jaya) mengatakan kasus kenakalan remaja pada tahun 2011 tetap sebanyak 30 kasus (Republika,30/12/2011).

Pada fase remaja salah satu tugas perkembangan remaja yang paling berat adalah penyesuaian sosial, remaja harus mulai dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya yang baru dan mulai akan selalu di tuntut oleh adanya harapan sosial yang baru. Individu yang tidak dapat memenuhi tugas perkembangannya akan merasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas perkembangan selanjutnya (Hurlock, 1980). Pada fase ini, remaja harus belajar beradaptasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Remaja yang biasanya masih melibatkan orang tua ataupun orang lain dalam menyelesaikan masalah pada periode perkembangan sebelumnya, kini memiliki dorongan untuk menjadi otonom dan mandiri membuat remaja cenderung ingin menyelesaikan masalahnya sendiri dan cenderung melepaskan diri dari orang tua (Hurlock, 1980; Santrock, 2007).

Beberapa fenomena remaja terjadi di MTSN Grogol, Kabupaten Kediri. Menurut catatan yang ada di BK (Bimbingan Konseling) selama semester genap tahun ajaran 2014-2015 ada sekitar 35 kasus terkait perilaku siswa disekolah. Dari 35 kasus tersebut terdiri dari 15 kasus perkelahian antar siswa, 13 kasus bolos sekolah, dan 7 kasus pelanggaran lainnya. Dengan adanya fenomena kondisi remaja diatas dapat menjadi hambatan dalam perkembangan sosialnya bahkan mereka akan mendapatkan cap buruk dari masyarakat. Akibatnya, remaja akan kesulitan dalam mengembangkan perilaku sosial yang baik. padahal setiap remaja sebenarnya mempunyai kemampuan untuk melakukan perilaku positif dalam pergaulan di sosialnya (Rahman, 2010). Kemampuan itu disebut kompetensi sosial. Secara sederhana, kompetensi sosial dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bertindak secara bijaksana dalam hubungan antar manusia (Thorndike,1920, dalam Smart & Sanson, 2003). Dengan adanya kompetensi sosial ini akan mempermudah remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangannya, remaja akan mudah berbaur dengan lingkungan sosialnya, mudah menempatkan diri serta akan lebih mudah dalam memulai berteman dengan kelompok bermainnya. Kegagalan untuk membangun keterampilan sosial yang tepat pada masa kanak-kanak berakibat pada interaksi yang tidak sukses dengan teman-teman sebayanya, dan akhirnya individu akan merasakan kesepian (Baron & Byrne, 2005). Bahkan sebuah penelitian di Amerika menyebutkan, bahwa anak muda yang memiliki masalah perilaku diketahui karena memiliki kompetensi sosial yang rendah (Groot, 2009).

(13)

teman-teman (Smart & Sanson, 2003). Jadi di simpulkan bahwa sejumlah aspek dari kompetensi sosial yang di miliki para subjek dapat menjadi faktor penting dalam penyesuaian dan kebaikan diri mereka.

Studi lain yang di lakukan kepada anak usia 18 tahun untuk menentukan hubungan antara tingkat kompetensi sosial dan perilaku agresif di sekolah, di temukan bahwa siswa yang dinilai telah melakukan tindakan agresif tidak memiliki penyimpangan besar dari nilai rata-rata sesuai dengan skala dari GT (Boncheva & Tomcheva, 2012). Perilaku yang mereka lakukan adalah hasil dari dorongan agresif yang tidak terbentuk dengan baik dan tidak memiliki kematangan diri yang baik.

Bagi seorang remaja tinggi rendahnya kompetensi sosial dapat mempengaruhi konsep diri dan penerimaan diri yang baik. Sebuah penelitian mengenai penerimaan diri dengan kompetensi sosial pada remaja obesitas, ditemukan bahwa adanya hubungan yang positif antara penerimaan diri dan kompetensi sosial pada remaja obesitas (Simajuntak & Siregar, 2012). Dari hasil penelitian itu dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial yang tinggi dapat meningkatkan penerimaan diri pada remaja, begitu pula sebaliknya. Selanjutnya penelitian mengenai konsep diri, pola asuh demokratis, dan kompetensi sosial didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara konsep diri dan pola asuh orangtua demokratis dengan kompetensi sosial siswa. ini menunjukkan apabila konsep diri dan pola asuh demokratis tinggi, maka akan meningkatkan kompetensi sosial siswa SMPN 20 surabaya dan sebaliknya (Cristiany, 2014).

Selain dapat mempengaruhi konsep diri dan penerimaan diri kompetensi sosial yang tinggi juga dapat mempengaruhi prestasi akademik. Penelitian dilakukan kepada mahasiswa Fakultas Psikologi semester II, IV, dan VI yang berusia 18-21 tahun yang berjumlah 65 orang, di dapatkan hasil bahwa tingkat kompetensi sosial yang dimiliki oleh mahasiswa Psikologi UIN Malang berada pada tingkat sedang dengan persentase 65 %, demikian pula dengan tingkat prestasi akademiknya yaitu dengan persentase 61,5% masuk kategori sedang, sehingga ditemukan hubungan yang positif antara kompetensi sosial dengan prestasi akademiknya pada mahasiswa UIN Malang, yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat kompetensi sosial maka semakin tinggi pula tingkat prestasi akademiknya (Sudianto, 2007). Selain itu penelitian mengenai kompetensi sosial dan perilaku cyberbullying pada remaja di lakukan kepada 225 remaja usia 15-17 tahun yang terdiri dari 70 laki-laki dan 155 perempuan ditemukan hasil terdapat hubungan yang signifikan antara kompetensi sosial dengan perilaku cyberbullying yang dilakukan oleh remaja usia 15-17 tahun (Emilia & Leonardi, 2013). Arah hubungan yang terjadi adalah negatif dimana semakin tinggi kompetensi sosial remaja maka semakin rendah cyberbullying yang dilakukan, sebaliknya semakin rendah kompetensi sosial remaja maka semakin tinggi cyberbullying yang dilakukan oleh remaja usia 15-17 tahun. Dalam hal ini kompetensi sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Kompetensi sosial dapat di lihat dari bagaimana individu diterima di kelompok teman sebayanya (Cillessen dan Bellmore, tt; dalam Smith and Hart,2011). Dalam hal ini ada dua faktor yang membentuk kompetensi sosial yaitu sosiometrik dan popularitas. Anak-anak yang di lihat sebagai populer belum tentu disukai, untuk mendapatkan popularitas seorang anak harus di terima di lingkungan sosialnya, salah satunya dengan memiliki gaya kelekatan tertentu dengan teman sebayanya. untuk itu menjadi remaja yang memiliki keterampilan sosiomatrik populer, di terima, dan di sukai seorang harus memiliki keterampilan perilaku dan keterampilan bersosial serta keterampilan kognitif (Smith & Hart,2011). Sehingga, kelekatan dengan teman sebaya diasumsikan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kompetensi sosial individu yang dapat membuat remaja populer di lingkungan sosialnya.

(14)

sebaya perempuan melaporkan tingkat yang lebih tinggi dari pada laki-laki (Claudia & Huebner, 2008). Kelekatan pada remaja pada teman sebaya di pengaruhi oleh seberapa harmonis komunikasi yang terjalin antara remaja terhadap teman sebayanya. Untuk berkomunikasi dan berinteraksi yang baik remaja membutuhkan kompetensi sosial sehingga kelekatan yang terjalin juga memberikan dampak yang baik untuk remaja.

Kelekatan dengan teman sebaya kini menajadi sangat penting bagi remaja. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa remaja yang memiliki hubungan baik dengan teman sebayanya dapat menurunkan tingkat kenakalan, selain itu juga remaja dengan kelekatan yang baik dengan teman sebaya dapat meningkatkan regulasi emosi dan memiliki penyesuaian diri yang tinggi, sehingga akan lebih memudahkan remaja berbaur dengan lingkungan baru atau lingkungan sosialnya agar remaja selalu merasa aman dan tidak merasa di singkirkan dari lingkungan sosialnya (Immele, 2000; Rasyid, 2012; Fitriyah, 2013). Selain dapat meningkatkan regulasi emosi dan penyesuaian diri, remaja dengan kelekatan yang hangat dengan teman sebaya juga memiliki skema diri yang positif sehingga membuat remaja memiliki pandangan yang positif terhadap diri sendiri, juga dapat menghindarkan perilaku kekerasan yang terjadi ketika remaja sedang mengalami kelekatan romantis (Helmi, 1999; Trifiani & Margaretha, 2012). Dalam kelekatan romantis pada remaja disebuah penelitian ditemukan bahwa kelekatan cemas yang terdapat pada seorang remaja dapat memprediksi kecendrungannya untuk melakukan perilaku kekerasan dalam pacaran dari pada remaja dengan gaya kelekatan menghindar (Trifiani & Margaretha, 2012).

Dalam sebuah penelitian di sebutkan remaja dengan gaya kelekatan yang aman dengan teman sebayanya dapat meningkatkan kecerdasan emosi pada remaja awal (Prasetyowaty, 2006). Remaja dengan gaya kelekatan aman dengan teman sebaya akan memudahkan remaja dalam mengatur emosinya dengan baik, selain itu seperti yang sudah di jelaskan di atas bahwa gaya kelekatan yang aman dengan teman sebayanya dapat meningkatkan kompetensi sosial yang akan memudahkan remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangannya, sehingga akan lebih mudah bagi remaja untuk melanjutkan tugas perkembangan pada periode berikutnya dan meminimalisir ketidakbahagiaan remaja yang dikarenakan kegagalan dalam memenuhi tugas perkembangannya.

(15)

Definisi Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial adalah kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain tentang situasi dan untuk belajar dari pengalaman masa lalu dan menerapkan pembelajaran kedalam pemandangan sosial yang selalu berubah (Clikeman, 2007). Kemampuan untuk merespon secara fleksibel dan tepat mendefinisikan kemampuan seseorang untuk menangani tantangan sosial yang di sajikan kepada kita semua. Kompetensi sosial adalah fondasi harapan untuk masa depan melalui interaksi dengan orang lain yang dibangun dan di mana anak-anak mengembangkan persepsi perilaku mereka sendiri.

Tokoh lain memaknai kompetensi sosial sebagai cara berperilaku yang dipelajari agar seseorang dapat berinteraksi secara efektif dengan orang lain, sehingga didapatkannya penerimaan yang baik dari orang lain dan dapat menciptakan hubungan yang lekat dan nyaman yang mengacu pada kecukupan, efektifitas, atau kesuksesan dalam membangun hubungan dengan teman sebayanya (Gresham & Elliot, 1990, dalam Smart & Sanson, 2003; Rahman, 2010; Smith dan Hart, 2011).

Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan atau keefektifan seseorang dalam berinteraksi dan berhubungan dengan oranglain, sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial yang dinamis, kemampuan dalam menganalisa dan merespon perspektif orang lain dengan baik sehingga dapat diterima dan menghasilkan hubungan yang baik dengan orang lain.

Kompetensi Sosial Remaja

Remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Pada fase ini adalah fase peningkatan perkembangan yang sangat drastis meliputi fisik, kognitif, maupun sosioemosi (Santrock, 2002). Menurut Hurlock (1980), salah satu perkembangan yang paling sulit bagi remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosialnya. Karena pada masa remaja mulai timbul kesenjangan antara rasa nyaman pada kanak-kanak dan otonomi pada masa dewasa (Santrock, 2007). Sehingga dalam dunia otonominya remaja cenderung mulai melepaskan diri dari ketergantungan dengan orang tua dan berganti oleh peran teman sebaya yang memiliki pengaruh kuat pada diri remaja (Santrock, 2012).

Relasi dengan kawan sebaya mengalami perubahan penting selama masa remaja, termasuk perubahan dalam persahabatan, kelompok kawan sebaya, serta awal masa relasi romantis (Santrock,2012). Sehingga dalam menyelesaikan masa ini dibutuhkan penerimaan yang baik oleh teman sebayanya. Untuk dapat di terima dan di sukai oleh teman sebaya, serta mampu menyesuaikan diri di lingkup sosial baru yang lebih luas, remaja harus memiliki kemampuan penyesuaian sosial yang bagus (Santrock, 2007; Harlock, 1980; Durkin, 1995; dan Desmita, 2014). Dalam berbagai upaya penyesuaian tersebut, di butuhkan keterampilan yang dapat membantu remaja dalam menyesuaikan diri yang di sebut sebagai kompetensi sosial (Rahman,2010).

Gambaran tentang kompetensi sosial remaja dalam penelitiannya. Remaja dengan kompetensi sosial yang tinggi sedikit sekali mengalami perasaan tertekan (depresed), cemas (anxious), ataupun stres (Smart dan Sanson, 2003). Mereka juga amat kurang menampilkan perilaku yang buruk dan merasa amat puas dengan kehidupan yang dijalaninya.

(16)

Aspek-aspek Kompetensi Sosial

Dalam kompetensi sosial ada sebuah elemen kunci untuk kompetensi sosial dapat di fasilitasi dengan bahasa dan kemampuan untuk memiliki percakapan (Clikeman, 2007).Vaughn dan Hagger (dalam Clikeman, 2007) menyebutkan keterampilan tambahan yang terlibat dalam kompetensi sosial mencakup kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, kemampuan mengelola perilaku seseorang dan kemampuan bekerjasama dengan orang lain.

Gresham dan Elliot (1990, dalam Smart & Sanson, 2003) menyebutkan 5 aspek-aspek kompetensi sosial, yaitu :

1. Asertif yaitu perilaku yang menunjukkan kemampuan inisiatif menanyakan suatu informasi kepada orang lain, memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada orang lain, dan menanggapi tindakan orang lain.

2. Kooperatif yaitu Perilaku yang menunjukkan kemampuan bekerjasama seperti menolong orang lain, berbagi sesuatu, mematuhi aturan, dan memenuhi permintaan orang lain.

3. Empati yaitu perilaku yang menunjukkan kemampuan untuk peduli dan menghormati perasaan orang lain dari sudut pandang orang tersebut.

4. Tanggungjawab yaitu perilaku yang menunjukkan kemampuan berkomunikasi dengan orang dewasa, serta penghormatan atas benda atau pekerjaan yang dimiliki.

5. Pengendalian Diri yaitu perilaku yang muncul dalam situasi konflik, seperti suatu tindakan yang tepat saat ada situasi yang mengganggu, dapat berkompromi dengan baik.

Dalam penelitian ini aspek-aspek kompetensi sosial menurut Gresham dan Eliot (1990, dalam Smart & Sanson, 2003) yang akan digunakan sebagai alat ukur. Sehingga, aspek-aspek yang digunakan adalah asertif, kooperatif, empati, tanggung jawab, dan pengendalian diri.

Faktor yang mempengaruhi Kompetensi Sosial

Beberapa hal yang mempengaruhi kompetensi sosial adalah (Clikeman, 2007) : 1. Aspek pengasuhan orangtua mengenai kompetensi sosial

2. Kelompok bermain yang tepat

3. Pengaturan emosi dan kemampuan berbahasa yang baik.

Cillessen dan Belmore (tt; Smith & Hart,2011) mengatakan ada dua faktor yang membentuk kompetensi sosial yaitu sosiometrik dan popularitas. Anak-anak yang dilihat sebagai populer belum tentu disukai. Untuk menjadi anak yang memiliki keterampilan sosiomatrik populer, diterima, dan disuka seorang anak harus memiliki 2 keterampilan yaitu :

1. Keterampilan perilaku

2. Keterampilan Sosial dan Kognitif

Sedangkan, Durkin (1995) menjelaskan ada beberapa variabel yang mencangkup kompetensi sosial :

1. Faktor Kognitif

Informasi pengolahan tanggapan anak-anak terhadap situasi sosial yang menurut kompetensi sosial melibatkan keberhasilan penerapan lima langkah berurutan. Langkah-langkahnya adalah :

a. Menghadiri dan pengkodean isyarat-isyarat sosial yang disajikan. b. Menafsirkan isyarat.

c. Mencari jawaban.

(17)

Proses ini diasumsikan terjadi dengan cepat dan sering pada tingkat bawah sadar. Penting, kekurangan pada satu langkah dapat menghasilkan kurang dari perilaku sosial yang optimal. Jika (langkah 1) anak gagal melihat isyarat sosial (sikap ramah, iritasi lain anak) maka ia tidak mungkin untuk melakukan langkah-langkah lebih lanjut, dan mungkin gagal untuk beradaptasi dengan situasi sama sekali. Jika anak tidak memperhatikan isyarat tapi (langkah 2) menafsirkannya secara tidak akurat (sikap ramah adalah membaca sebagai penghinaan atau ancaman), ketidaksesuaian serius mungkin terjadi. jika proses ini telah dilakukan berhasil tapi (langkah 3) anak tidak memiliki kemampuan memberikan respon yang sesuai (misalnya, tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika rekan ramah), kemudian atau reaksinya mungkin muncul tidak layak atau bermusuhan. pada langkah 4 sangat penting untuk menilai intensitas yang tepat dari respon seseorang (harus saya balas melambai, atau terburu-buru dan peluklah dia ?). Akhirnya, keberhasilan pelaksanaan langkah 5 mungkin panggilan untuk, verbal atau keterampilan motorik (misalnya, itu mungkin tidak cukup untuk membalas salam ramah dengan datar "halo").

2. Hubungan Keluarga

Teori pemberlajaran sosial melihat masukan orang tua sebagai influental melalui mekanisme pembelajaran observasional dan reinforcement. Teori ethological, seperti teori kelekatan, mempertahankan bahwa respon ibu mempengaruhi jenis hubungan keterikatan yang anak miliki dan karenanya anak merasa aman dlam mengeksplorasi lingkungan yang baru. Dari perspektif kognitif, jenis rangsangan intelektual dan informasi yang disediakan dalam pengalaman sosial awal anak mempengaruhi perkembangan keterampilan dalam memahami orang lain, lebih jauh lagi, jenis ide-ide dan keyakinan bahwa orang tua memegang tentang sifat perkembangan anak harus mempengaruhi strategi mereka dalam manajemen anak.

3. Tempramen

Karakterstik anak yang menonjol adalah tempramennya. Secara intuitif, tampaknya masuk akal bahwa jika seorang individu, mengatakan, bermusuhan, dan agresif, maka dia mungkin tidak unggul dalam hubungan interpersonal dan bahkan ditolak oleh rekan-rekan ; disisi lain, orang yang tenang, hangat dan terbuka mungkin mempunyai kesempatan yang lebih baik dalam mendapatkan popularitas.

Definisi Gaya Kelekatan

Sudah banyak ahli yang meneliti tentang kelekatan. Beberapa ahli mendefisikan kelekatan sebagai ikatan emosional yang kuat dan menetap antara dua orang seperti bayi dan orang tuanya, hal ni dikarenakan adanya hubungan timbal balik yang hangat dan masing masing berkontribusi terhadap kualitas hubungan ( Santrock,2012; Papalia, dkk, 2009; Feldman, 2009). Untuk mengukur itu dibutuhkan yang namanya gaya kelekatan. Baron & Byrne (2005) mengartikan gaya kelekatan sebagai derajat keamanan yang dialami dalam hubungan interpersonal, Gaya-gaya yang berbeda pada awalnya dibangun pada saat masih bayi, tetapi perbedaan dalam kelekatan tampak mempengaruhi perilaku interpersonal sepanjang hidup. Dengan adanya gaya kelekatan pada diri individu dapat menyebabkan rasa aman dalam hubungan interpersonalnya dengan orang lain sehingga akan lebih mudah seseorang mempunyai hubungan yang akrab dengan objek lekatnya.

Macam-Macam Gaya Kelekatan

(18)

Kedua dimensi yang membawahinya didasarkan pada sikap positif versus sikap negatif mengenai self (self-esteem) dan mengenai orang lain (Kepercayaan Interpersonal). Mewakili kombinasi dari dua dimensi ini adalah empat gaya kelekatan : aman, menolak, takut-menghindar, dan terpreokupasi. Berikut merupakan penjelasan gaya kelekatan menurut Griffin & Bartholomew (1994, dalam Baron & Byrne 2005):

1. Gaya Kelekatan Aman (secure attachment style) adalah suatu gaya yang memiliki self-esteem yang tinggi dan dan kepercayaan interpersonal yang tinggi pula. Gaya kelekatan ini dianggap sebagai gaya kelekatan yang paling berhasil, indivdu dengan gaya kelekatan aman mencari kedekatan interpersonal dan merasa nyaman dalam hubungan. Sehingga seseorang dengan gaya kelekatan aman akan mempunyai hubungan yang hangat dengan orang lain.

2. Gaya Kelekatan Menolak (dimissing attachment style) adalah suatu gaya yang memiliki karakteristik self-esteem yang tinggi dan kepercayaan interpersonal yang rendah, sehingga ia merasa “layak memperoleh” hubungan akrab namun tidak mempercayai calon pasangan yang potensial. Seseorang dengan gaya kelekatan menolak akan cenderung menolak orang lain pada suatu titik didalam hubungan guna menghindari supaya tidak menjadi seseorang yang ditolak.

3. Gaya Kelekatan Terpreokupasi (preoccupied attachment style) adalah suatu gaya yang memiliki kerakteristik self-esteem yang rendah dan kepercayaan interpersonal yang tinggi dengan orang lain, sehingga ia mencari kedekatan dalam hubungan namun ia juga mengalami kecemasan dan rasa malu karena ia merasa “tidak pantas” menerima cinta orang lain. Biasanya dijelaskan

4. Gaya Kelekatan yang Takut-Menghindar (fearful-avoident attachment style) adalah suatu gaya yang memiliki self-esteem yang rendah dan kepercayaan interpersonal yang rendah, sehingga mereka menghindari hubungan akrab untuk melindungi dari rasa sakit karena ditolak. Gaya kelekatan ini merupakan gaya kelekatan yang paling tidak berhasil dan paling tidak adaptif. Seorang dengan gaya kelekatan ini cenderung memiliki hubungan yang jelek dengan orang lain.

Gaya kelekatan menurut Griffin & Bartholomew (1994, dalam Baron & Byrne 2005) diatas akan digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui gaya kelekatan yang dimiliki subjek terhadap teman sebayanya.

Kelekatan antara Remaja dan Teman Sebaya

Masa remaja merupakan masa kesenjangan antara rasa aman pada kanak-kanak dan otonomi pada masa dewasa (Santrock,2007). Pada dunia otonominya remaja cenderung akan mulai melepaskan diri dengan dari ketergantungan dan kenyamanan dengan orang tuanya. Mereka akan mulai berusaha sendiri dan bertanggung jawab sendiri atas tindakan-tindakan yang dilakukannya sendiri (Santrock, 2007; Santrock, 2012; Desmita, 2014; dan Monks dan Knoers,2002). Menurut Rahman (2010), ketika memasuki remaja, peran orang tua menjadi berkurang dan digantikan oleh peran kelompok sebaya yang memiliki pengaruh yang begitu kuat. Sehingga pada masa ini, relasi dengan kawan sebaya mengalami perubahan penting, termasuk perubahandalam persahabatan, kelompok teman sebaya, serta awal relasi romantis (Santrock,2012).

(19)

Tekanan dari teman sebaya di bandingkan anak-anak, remaja awal lebih banyak menyesuaikan diri terhadap standart kawan sebayanya. Sehingga pada masa ini komformitas pada kelompok teman sebaya mencapai puncaknya (Santrock, 2007; Santrock, 2012). Hurlock (1980) mencontohkan, sebagian besar remaja mengetahui bahwa bila mereka memakai pakaian yang sama dengan kelompok yang populer, maka kesempatan baginya untuk diterima oleh kelompok menjadi besar. Demikian pula apabila anggota kelompok mencoba meminum alkohol, obat-obatan terlarang, atau rokok, maka remaja cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan perasaan mereka sendiri akan akibatnya (Hurlock,1980; Santrock, 2012).

Selain konformitas pada teman sebaya, pada masa ini remaja mulai mengenal pacaran dan relasi romantis (Santrock, 2007). Furman, Low, dan Ho (2009, dalam Santrock,2012) melakukan penelitian terhadap 200 siswa kelas sepuluh yang mengungkapkan bahwa semakin romantis pengalaman yang mereka miliki, semakin tinggi tingkat penerimaan sosial, kompetensi persahabatan, dan kompetensi romantis yang mereka rasakan; namun demikian, memiliki pengalaman romantis juga terkait dengan tingkat penyalahgunaan obat terlarang yang tinggi, kenakalan remaja, dan perilaku seksual.

Santrock (2007,2012) menjelaskan empat masalah yang paling mempengaruhi remaja adalah penyalah gunaan obat terlarang, kenakalan remaja, masalah seksual, dan masalah terkait sekolah. kenakalan remaja yang dilakukan dapat disebabkan oleh hereditas, masalah identitas, pengaruh komunitas, dan pengalaman didalam keluarga. Masalah-masalah yang tidak terselesaikan pada masa remaja dapat menyebabkan depresi dan bunuh diri yang tinggi pada remaja.

Hubungan Antar Variabel

Kompetensi sosial adalah kemampuan atau keefektifan seseorang dalam berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain, sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial yang dinamis, mampu menganalisa dan merespon perspektif orang lain dengan baik sehingga dapat diterima dan menghasilkan hubungan yang baik dengan orang lain. Cillessen dan Bellmore (tt, dalam Smith dan Hart, 2011) Kompetensi sosial seringkali diukur dari seberapa besar penerimaan teman sebaya yang dirasakan oleh seorang anak. Bagi remaja, menjadi penting untuk menjalin relasi dengan kawan sebaya sangat penting baik itu persahabatan, kelompok kawan sebaya maupun awal masa relasi romantis (Santrock, 2012).

(20)

hingga anak menginjak remaja. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa kelekatan dengan teman sebaya dimasa remaja berhubungan dengan kompetensi sosial yang dimiliki anak. Kerangka Berfikir

Gambar 1 : Kerangka Berfikir Penelitian

Hipotesa

Adanya perbedaan kompetensi sosial pada remaja yang ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebayanya. Subjek dengan gaya kelekatan aman memiliki kompetensi sosial yang lebih tinggi dari pada subjek yang memiliki gaya kelekatan takut menghindar, terpreokupasi, ataupun menolak.

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif karena gejala-gejala hasil penelitian berwujud data, diukur dan dikonversikan dahulu dalam bentuk angka-angka atau di dikuantifikasikan dan dianalisis dengan tekhnik statistik.

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatif karena penelitian ini akan menjelaskan faktor yang menyebabkan suatu fenomena. Dan penelitian ini menggunakan karakteristik penelitian kasual komparatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari faktor yang menjadi penyebab melalui data yang dikumpulkan.

Subjek Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah 1055 siswa di MTsN Grogol Kabupaten Kediri yang berada dikelas 7 sampai dengan kelas 9. Untuk mempermudah penganbilan sampel peneliti membulatkan populasi menjadi 1.100 agar dapat disesuaikan pengambilan sampelnya

KOMPETENSI

SOSIAL

GAYA KELEKATAN

Aman

(Secure Attachment style)

Takut Menghindar

(Fearful-avoident attachment style) Menolak

(Dismissing attachment style) Terpreokupasi

(21)

mengikuti tabel Isaac dan Michael (dalam Sugiyono, 2011). Dengan taraf kesalahan 5% sehingga subjek yang diambil sebagai sampel penelitian sebanyak 265 siswa.

Menurut tabel Isaac dan Michael (dalam Sugiyono, 2011) dikarenakan populasi yang digunakan adalah 1.100 siswa jadi sampel yang dapat diambil adalah 265 untuk mewakili populasi tersebut. Sehingga, sampel dari penelitian ini adalah 265 orang siswa di MTsN Grogol Kabupaten Kediri. Teknik pengambilan sample menggunakan teknik probability sampling, yaitu stratified random sampling dimana pengambilan sample dilakukan secara acak namun setiap kelompok mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi sample penelitian. Dalam penelitian ini kelompok strata dibagi menjadi 3 jenis yaitu, siswa kelas 7, siswa kelas 8 dan siswa kelas 9. Semua siswa disetiap strata memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan jatah menjadi sample penelitian.

Variabel dan Instrument Penelitian

Pada penelitian ini terdapat dua variabel, yakni variabel terikat (Y) dan variabel bebes (X). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kompetensi sosial. Kompetensi sosial adalah kemampuan atau keefektifan seseorang dalam berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain, sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial yang dinamis, kemampuan dalam menganalisa dan merespon perspektif orang lain dengan baik sehingga dapat diterima dan menghasilkan hubungan yang baik dengan orang lain.

Skala yang digunakan untuk mengukur kompetensi sosial menggunakan skala yang dibuat sendiri oleh penulis. Skala yang dibuat berdasarkan aspek kompetensi sosial dari Gresham dan Elliot (1990, dalam Smart & Sanson, 2003) yaitu : asertif, kooperatif, empati, tanggungjawab, dan pengendalian diri.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah gaya kelekatan teman sebaya. Gaya kelekatan disini berati derajat keamaanan yang dialami dalam hubungan interpersonal. Gaya-gaya kelekatan yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku interpersonal sepanjang hidup. Gaya kelekatan yang digunakan disini adalah gaya kelekatan yang dimiliki siswa MTSN Grogol Kabupaten Kediri terhadap teman sebayanya, gaya kelekatan ini akan digunakan untuk melihat perbedaan kompetensi sosial yang dimiliki oleh siswa MTSN Grogol Kabupaten Kediri.

Skala yang digunakan untuk mengukur gaya kelekatan menggunakan skala yang dibuat sendiri oleh penulis. Skala yang dibuat berdasarkan teori Griffin dan Bartholomew (1994, dalam Baron & Byrne, 2005) dengan menggunakan dua dimensi dalam model Bartholomew yaitu self-esteem dan kepercayaan interpersonal dan empat gaya kelekatan yang mewakili dua dimensi tersebut yaitu : gaya kelekatan aman (secure attachment style), gaya kelekatan takut-menghindar (fearful-avoident attachment style), gaya kelekatan menolak (dismissing attachment style) dan gaya kelekatan terpreokupasi (preoccupied attachment style).

(22)

validitas ≥ 0,21 dan reliabilitas ≥ 0,7 maka skala kompetensi sosial ini dapat dikatakan valid dan reliabel, sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini (Azwar, 2011). Adapun blue print sebaran item skala kompetensi sosial dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Tabel 1.

Sebaran Item Skala Kompetensi Sosial

No Aspek Indikator Perilaku No. Item

Favorable Unfavorable No. Item Total 1. Asertif Dapat memulai percakapan dengan

orang lain, memberikan tanggapan

Jawab Bersedia melaksanakan tugas dan kewajiban serta menghormati pekerjaan yang dimiliki.

(23)

Tabel 2.

Sebaran Item Skala Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya.

No Gaya Kelekatan Indikator Perilaku No. Item Total

1 Aman Menunjukkan relasi yang hangat dengan teman

2 Takut Menghindar Menimalkan akrab dengan hubungan teman sebaya.

1a, 2a, 3d, 4c, 5b, 6a, 7b, 8a, 9c, 10b, 11d, 12b, 13b, 14b.

14

3 Terpreokupasi Mencari hubungan dekat dengan teman sebaya tapi

Secara umum, penelitian yang dilakukan memiliki tiga prosedur utama yaitu persiapan, penelitian dan analisa. Pada tahap persiapan, peneliti terlebih dahulu membuat skala kompetensi sosial dan skala gaya kelekatan. Setelah kedua alat ukur tersebut terbentuk dan telah disetujui untuk digunakan, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah menguji coba (try out) skala yang telah dibuat kepada subjek yang memiliki karakteristik sama dengan subjek penelitian. Kemudian peneliti melakukan analisa uji validitas dan realiabilitas. Dari uji validitas dan relibilitas yang dilakukan peneliti dengan menggunakan validitas minimal 0,21 didapatkan reliabilitas 0,788 untuk skala gaya kelekatan dan reliabilitas 0,824 untuk skala kompetensi sosial. Karena validitas ≥ 0,21 dan reliabilitas ≥ 0,7 maka skala gaya kelekatan dengan teman sebaya ini juga dapat dikatakan valid dan reliabel, sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini (Azwar, 2011). Setelah menemukan skala yang sudah teruji validitas dan realibilitasnya, peneliti masuk ketahap kedua yaitu penelitian. Pada tahap penelitian ini, skala kompetensi sosial dan skala gaya kelekatan dengan teman sebaya diberikan kepada sample yang akan dijadikan subjek penelitian yaitu 265 siswa kelas 7, 8, dan 9 di MTSN Grogol Kabupaten Kediri. Setelah semua skala terisi maka dilakukan analisis data.

(24)

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk diagram dan tabel. Jumlah subjek penelitian, perhitungan t-score skala kompetensi sosial, perbandingan subjek dari 4 gaya kelekatan, dan hasil analisis anova disajikan dalam bentuk tabel. Sedangkan rata-rata hasil skala kompetensi per-aspek, perbandingan kompetensi sosial per-aspek dari 4 gaya kelekatan,dan nilai mean kompetensi sosial ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya disajikan dalam bentuk diagram. Pada penelitian yang telah dilakukan, terkumpul data dari 265 subjek penelitian yang terdiri dari kelas 7, 8, dan 9 siswa MTSN Grogol Kabupaten Kediri baik laki-laki maupun perempuan. Jumlah total subjek laki-laki sebanyak 130 subjek atau 49% dan jumlah total subjek perempuan sebanyak 135 subjek atau 51%. Subjek penelitian berusia antara 12 – 18 tahun. Adapun frekuensi dan persentase subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.

Jumlah Subjek Penelitian

Kategori Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 Frekuensi Persentase

Jenis Kelamin

Laki-laki 51 Subjek 43 Subjek 36 Subjek 130 Subjek 49% Perempuan 47 Subjek 56 Subjek 32 Subjek 135 Subjek 51% Jumlah 98 Subjek 99 Subjek 68 Subjek 265 Subjek 100%

Dari tabel 3 diatas dapat di lihat dari 98 orang subjek kelas 7 terdapat 47 subjek berjenis kelamin perempuan dan 51 subjek berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan dari 99 subjek kelas 8 terdapat 56 subjek berjenis kelamin perempuan dan 43 subjek berjenis kelamin laki-laki. Serta pada 68 subjek kelas 9 terdapat 32 subjek berjenis kelamin perempuan dan 36 subjek berjenis kelain laki-laki. Selanjutnya, subjek diklasifikasikan berdasarkan tinggi rendah nilai hasil dari skala kompetensi sosial, dan hasilnya dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 4.

Perhitungan T-Score Skala Kompetensi Sosial

kategori Kompetensi Sosial Total

Tinggi

t-score >50,00 t-score ≤ 50,00 Rendah

Jumlah Subjek 144 121 265

Persentase 54 % 46% 100 %

(25)

Gambar 2 : Rata-rata Hasil Skala Kompetensi Sosial Per-Aspek

Dari gambar di atas dapat dilihat dari keseluruhan subjek penelitian rata-rata kompetensi sosial yang terbanyak ada pada aspek kooperatif sebesar 3,492 atau 22%, kemudian pengendalian diri sebesar 3,22735 atau 20%, tanggung jawab sebesar 3,2066 atau 20 %, empati sebesar 3,17284 atau 20 %, dan yang paling sedikit ada pada aspek asertif sebesar 2,882 atau 18 %. Jika diklasifikasikan lebih lanjut menurut gaya kelekatan dengan teman sebaya dapat dilihat dalam gambar dibawah ini :

Gambar 3 : Perbandingan Rata-rata Kompetensi Sosial Per-Aspek Ditinjau Dari 4 Gaya Kelekatan

Pada gambar 3 diatas ditemukan bahwa remaja dengan gaya kelekatan aman memiliki rata-rata kompetensi sosial terbesar dalam semua aspek, dapat dilihat pada aspek asertif remaja dengan gaya kekelakatan aman memiliki rata-rata asertif sebesar 3,003 sedangkan untuk gaya kelekatan menolak sebesar 2,86, gaya kelekatan terpreokupasi sebesar 2,76, dan gaya kelekatan takut menghindar sebesar 2,77. Pada aspek kooperatif, gaya kelekatan amanpun memiliki rata-rata terbesar sebesar 3,64 sedangkan untuk gaya kelekatan menolak sebesar 3,45, gaya kelekatan terpreokupasi sebesar 3,4, dan gaya kelekatan takut menghindar sebesar 3,3. Begitu juga untuk aspek empati, tanggung jawab, dan pengendalian diri, remaja dengan gaya kelekatan aman memiliki rata-rata terbesar dalam aspek empati (3,25), tanggung jawab

(26)

(3,35), dan pengendalian diri (3,354) pada kompetensi sosial dibandingkan dengan remaja dengan gaya kelekatan menolak (3,24; 3,295; 3,2614), gaya kelekatan terpreokupasi (3,06; 3; 3,154), maupun takut menghindar (3,08; 3,05; 2,97).

Tabel 5 :

Perbandingan Jumlah Subjek Ditinjau Dari 4 Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya

Kategori Aman Menolak Terpreokupasi Takut

Menghindar Frekuensi Persentase

Dari tabel 5 di atas dapat di lihat bahwa subjek penelitia dengan gaya kelekatan aman pada teman sebaya terdapat 113 subjek, 50 subjek berjenis kelamin laki-laki dan 63 subjek berjenis kelamin perempuan. Subjek penelitian dengan gaya kelekatan menolak pada teman sebaya sebanyak 44 subjek, 18 subjek berjenis kelamin laki-laki dan 26 subjek berjenis kelamin perempuan. Subjek penelitian dengan gaya kelekatan terpreokupasi pada teman sebaya sebanyak 65 subjek, 37 subjek berjenis kelamin laki laki dan 28 subjek berjenis kelamin perempuan. Sedangkan, subjek penelitian dengan gaya kelekatan takut menghindar sebanyak 43 subjek 25 subjek berjenis kelamin laki-laki dan 18 subjek berjenis kelamin perempuan.

Gambar 4 : Nilai mean kompetensi sosial ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya

Dari gambar 4 di atas di jelaskan rata-rata kompetensi sosial di lihat dari jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan serta rata-rata kompetensi sosial per-gaya kelekatan. Kompetensi sosial tertinggi pada subjek berjenis kelamin perempuan ada pada gaya kelekatan aman sebesar 55,72 dan yang terrendah pada gaya kelekatan terpreokupasi sebesar 46,34. Untuk subjek berjenis kelamin laki-laki kompetensi sosial tertinggi juga terdapat pada gaya kelekatan aman yaitu sebesar 53,18, sedangkan yang terrendah kompetensi sosialnya terdapat pada gaya kelekatan takut menghindar yaitu sebesar 41,4. Jadi dapat disimpulkan dari hasil nilai mean, kompetensi sosial tertinggi ada pada gaya kelekatan aman (68,35) dengan teman sebaya dan terendah pada gaya kelekatan takut menghindar (62,72) dengan teman sebayanya.

(27)

Tabel 6.

Hasil analisa ANOVA perbedaan kompetensi sosial remaja ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya

Kategori N Mean Std. Deviation F Sig.

Gaya Kelekatan 23,992 0,000

Gaya kelekatan aman 113 68,35 4,440

Gaya kelekatan menolak 44 66,48 5,187

Gaya kelekatan terpreokupasi 65 63,28 4,396

Gaya kelekatan takut menghindar 43 62,72 5,115

Dari hasil analisa menggunakan metode one way anova pada tabel 6 menunjukkan adanya perbedaan nilai mean pada masing-masing gaya kelekatan. Gaya kelekatan aman mempunyai kompetensi sosial lebih tinggi dengan nilai mean kompetensi sosial sebesar 68,35, sedangkan nilai mean terendah terdapat pada gaya kelekatan Takut Mengihindar, pada gaya kelekatan menolak dan terpreokupasi masing-masing mempunyai nilai Mean sebesar 66,48 dan 63,28. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kompetensi sosial yang sangat signifikan terhadap gaya kelekatan dengan teman sebaya yaitu dengan taraf signifikansi 0.000. Untuk hasil perbandingan signifikansi kompetensi sosial antar gaya kelekatan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7.

Perbandingan kompetensi sosial remaja ditinjau dari 4 gaya kelekatan dengan teman sebaya

Sig. Menolak Terpreokupasi Takut Menghindar

Aman 1,868*

*The mean difference is significant at the 0.05 level

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa gaya kelekatan aman memiliki kompetensi sosial lebih tinggi dari pada gaya kelekatan yang lainnya. Pada gaya kelekatan aman pada teman sebaya memiliki nilai yang lebih tinggi pada nilai mean kompetensi sosial dari pada ketiga gaya kelekatan lain. Perbedaan mean gaya kelekatan aman dengan gaya kelekatan menolak sebesar 1,868 dengan signifikansi 0,025, gaya kelekatan terpreokupasi memiliki perbedaan nilai mean sebesar 5,068 dengan signifikansi 0,000, dan gaya kelekatan takut Menghindar memiliki perbedaan nilai mean dengan gaya kelektan aman sebesar 5,624 dengan signifikansi 0,000.

(28)

DISKUSI

Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan antara kompetensi sosial remaja ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya. Hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan tingkat kompetensi sosial pada setiap gaya kelekatan aman, menolak, terpreokupasi, dan takut menghindar. Tingkat perbedaan ini berdasarkan hasil uji analisis one-way anova yang menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan pada gaya kelekatan dengan temen sebaya. Dari hasil analisis kompetensi sosial tertinggi ada pada gaya kelekatan aman kemudiaan gaya kelekatan menolak. Sedangkan, pada gaya kelekatan terpreokupasi dan takut menghindar mempunyai perbedaan yang tidak signifikan.

Hasil penelitian di atas telah menunjukkan bahwa hipotesis yang telah di ajukan telah terbukti atau diterima, dimana terdapat perbedaan kompetensi sosial ditinjau dari gaya kelekatan teman sebaya. Dalam penelitian ini juga disebutkan bahwa gaya kelekatan aman pada teman sebaya untuk memunculkan kompetensi sosial pada remaja cenderung lebih tinggi dari pada gaya kelekatan lainnya. Hal ini sesuai dengan sebuah teori dimana remaja dengan gaya kelekatan aman memiliki kedekatan interpersonal yang baik dan dapat membuatnya merasa nyaman dalam suatu hubungan, sehingga remaja dapat membuat relasi yang hangat dengan orang lain (Bartholomew,tt, dalam Baron & Byrne, 2005).

Gaya kelekatan aman dengan teman sebaya lebih dapat membuat remaja dapat membangun persahabatan yang baik dengan teman sebayanya. Hal ini dikarenakan, remaja dengan gaya kelekatan aman memiliki tingkat asertif, kooperatif, empati, tanggung jawab, dan pengendalian diri yang lebih tinggi dari gaya kelekatan lainnya, sehingga orang dengan gaya kelekatan ini akan lebih cepat dapat bergabung dengan kelompok pertemanan dan akan lebih mudah dalam berteman dengan teman sebayanya. Remaja dengan gaya kelekatan aman inipun akan cenderung memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan akan lebih baik dalam memposisikan dirinya sehingga akan lebih mudah berbaur di setiap situasi atau kondisi tertentu. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang mengatakan individu dengan gaya kelekatan aman memiliki tingkat pengalaman dan ekspresi kemarahan yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan individu yang bergaya kelekatan menghindar dan gaya kelekatan cemas, sehingga gaya kelekatan merupakan salah satu bagian dari kepribadian yang cukup berpengaruh terhadap keadaan marah, sifat marah, dan ekspresi kemarahan yang dimiliki individu (Cahyani,P., Alsa, A., & Heimi, A.F, 1999). Dalam hal ini aspek kompetensi sosial yang dibahas adalah pengendalian diri, dimana individu dengan gaya kelekatan aman lebih mampu dalam mengendalikan emosinya dari pada gaya kelekatan lain. Dengan gaya kelekatan aman remaja akan lebih mudah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya pada fase remaja ini yaitu lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahannya sendiri didunia otonomi yang mereka bangun dan remajapun akan lebih mudah diterima dilingkungan sosialnya sehingga akan menghindarkan remaja dari perasaan dikucilkan.

(29)

mengikuti kelompok-kelompok pertemanan yang tidak baik yang dapat berujung melakukan kenakalan pada usia remaja.

Bayani dan Sarwasih (2013) mengungkapkan bahwa ada hubungan yang positif antara attachment, peer group, dengan cooping stress. Semakin tinggi attachment maka semakin tinggi pula coping stress. Dalam hal ini peer group atau kelompok teman sebaya menjadi tempat untuk individu untuk menemukan dirinya serta dapat mengembangkan rasa sosialnya sejalan dengan pekembangan kepribadian. dalam penelitian ini peer group dapat menjadi hasil dari terciptanya gaya kelekatan yang aman antara remaja dengan teman sebaya. Sehingga dengan adanya gaya kelekatan aman dengan remaja dapat membuat individu lebih matang dalam mengenali dirinya dan dalam menghadapi masalah.

Jika di lihat dari hasil mean kompetensi sosial yang sudah dijelaskan dalam hasil penelitian diatas subjek dengan gaya kelekatan aman mempunyai kompetensi sosial tertinggi dan yang terendah adalah gaya kelekatan takut menghindar. Hal ini dikarenakan gaya kelekatan aman mempunyai hubungan dengan teman sebaya yang lebih hangat sehingga akan mempermudah individu diterima di lingkungan sosialnya, sedangkan gaya kelekatan takut menghindar mempunyai karakteristik self-esteem yang rendah dan kepercayaan interpersonal yang rendah pula sehingga gaya kelekatan ini cenderung memiliki hubungan yang jelek dengan orang lain (Bartholomew,tt, dalam Baron & Byrne, 2005). Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Osland (2001, dalam Baron & Byrne 2005) mengungkap bahwa orang-orang dengan gaya kelekatan menolak, menghindar dan terpreokupasi diketahui mengalami kekurangan keterampilan empati jika dibanding dengan orang-orang yang memiliki gaya kelekatan aman.

Penelitian ini mendukung penelitian Fass dan Tubman (2002) yang menyatakan bahwa kelekatan orang tua dan teman sebaya merupakan komponen dari pola yang lebih luas dari kompetensi sosial dan sebagai kompensasi yang signifikan untuk pengembangan atau pemeliharaan kompetensi dalam transisi sosial yang terjadi selama tahun-tahun kuliah. Kelompok dengan kelekatan tinggi kepada orang tua ataupun teman sebaya berfungsi secara signifikan daripada kelompok kelekatan sedang ataupun rendah. Gaya kelekatan tinggi disini dapat diasumsikan sebagai gaya kelekatan aman dalam penelitian ini.

Penelitian Bogaerts (2006) yang menguji hubungan antara attachment orang tua, kelekatan dengan teman sebaya, dan perasaan subjektif dari kesepian emosional didapatkan hasil bahwa kelekatan dengan teman sebaya menjadi perantara antara kelekatan orang tua dan perasaan kesepian. Maka dari itu sangat penting guna gaya kelekatan teman sebaya bagi seorang remaja, selain dapat memenuhi kebutuhan otonomi remaja itu sendiri gaya kelekatan teman sebaya juga dapat menjadi perantara untuk gaya kelekatan orang tua dan meminimalisir perasaan kesepian pada remaja.

(30)

Selain itu dari penelitian ini juga ditemukan bahwa selain gaya kelekatan aman yang dapat menghasilkan kompetensi sosial yang tinggi, jenis kelamin pun dapat mempengaruhi tingginya kompetensi sosial hal ini dapat dilihat dari nilai mean dari hasil penelitian ditemukan bahwa remaja dengan jenis kelamin perempuan memiliki kompetensi sosial yang lebih tinggi dari pada remaja dengan jenis kelamin perempuan disetiap gaya kelekatan. Hal ini dikarenakan remaja perempuan lebih tinggi dalam kelekatan aman dengan teman sebaya, seperti yang disebutkan dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan kepada 587 murid sekolah menengah dikelas 6 hingga 8 ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan ditingkat kelekatan dengan orang tua namun pada gaya kelekatan dengan teman sebaya perempuan melaporkan tingkat yang lebih tinggi dari pada laki-laki (Claudia dan Huebner, 2008).

Keterbatasan dari penelitian ini adalah peneliti tidak mampu menggambarkan kenakalan yang akan dilakukan remaja ketika memiliki kompetensi sosial yang rendah yang dikarenakan memilih gaya kelekatan tertentu. Dalam penelitian ini peneliti dapat menjelaskan bahwa dengan gaya kelekatan aman dapat meningkatkan kompetensi sosial remaja sehingga dapat menghindarkan terjadinya kenakalan pada remaja, namun pada gaya kelekatan lain tidak dapat menggambarkan kenakalan yang akan dilakukan remaja.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kompetensi sosial remaja yang sangat signifikan ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal penelitian yang menyatakan bahwa adanya tingkat perbedaan kompetensi sosial bila ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya. Hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan analisa dengan teknik anova yang menunjukkan nilai F 23,992 dengan signifikansi sebesar 0,000. Dari hasil penelitian ini juga ditemukan bahwa gaya kelekatan aman dengan teman sebaya memiliki kompetensi sosial remaja yang lebih tinggi dari pada gaya kelekatan lainnya.

(31)

REFERENSI

Amri, E.S. & Ratnaningsih. (2005). Hubungan antara body image dengan kompetensi sosial remaja putri.Skripsi. Jakarta : Universitas Gunadarma.

Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Baron, R. A & Byrne, D. (2005). Psikologi sosial edisi kesepuluh.Jakarta : Erlangga.

Bayani, I. & Sarwasih, S. (2013). Attachment dan peer group dengan kemampuan coping stress pada siswa kelas VII di SMP RSBI AL AZHAR 8 KEMANG PRATAMA. Jurnal soul, 6(1), 1, 89-94.

Bogaerts, S. (2006). Feeling of subjektive emotional loneliness : An exploration of attachment. Journal Social Behavior and Personality. 797-812.

Boncheva, Ivanka, & Tomcheva, S. (2012). Social competence in 18-years-old students who had performed an aggressive ACT at school. Journal of IMAB-Annual Proceding (scientific paper) 18 book 3. 323-325

Cahyani, P., Alsa, A., & Heimi, A.F. (1999). Gaya kelekatan dan kemarahan. Jurnal Psikologi no 2, 65-77.

Cillessen, A. H. N. & Brllmore A. D. (tt). Social Skills and Social Competence in Interactions With Peer. Smith, Peter K., Hart, Craig H. (Editors). (2011). The Wiley-Blackwell Handbook of Childhood Social Development (2th ed., pp. 393-408) Singapore: Blackwell Publishing Ltd.

Clikeman, M.S. (2007). Social competence in children. United States of Amerika (USA) : Springer Science + Business Media, LLC.

Claudia, Q. & Huebner, S. (2008). Attachment relationship and adolescents life satisfaction: Some relationships matter more to girls than boys. Journal Psychology in the Schools.45,(2),177-187.

Cristiany. (2014). Konsep diri, pola asuh orangtua demokratis dan kompetensi sosial siswa. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia. 3, (01), 9-21.

Desmita. (2014). Psikologi perkembangan peserta didik : panduan bagi orang tua guru dalam memahami psikologi anak usia SD, SMP, SMA. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Durkin, K. (1995). Developmental social psychology. Maden : Blackwell Publisher Ltd. Emilia, & Leonardi, T. (2013). Hubungan antara kompetensi sosial dengan perilaku

cyberbullying yang Dilakukan oleh Remaja Usia 15-17 Tahun. Jurnal Psikologi Kepribadian dan Sosial. 2,(2),79-86.

Fass, M.E., & Tubman, J.G. (2002). The influence of parental and peer attachment on college students’ academic achievement. Journal psychology in the schools, vol. 39(5). 561, 565-571.

Feldman, P.O.(2009).Perkembangan manusia buku I.Jakarta: Salemba Humanika.

Fitriyah, L. (2013). Hubungan antara tendensi gaya kelekatan dengan penyesuaian sosial pada siswa SMP Islam Paiton yang tinggal dipesantren.Skripsi. Malang : Universitas Negeri Malang.

Groot, J. M. (2009). Assesing behavior and social competence of severely emotionally disturbed youth admitted to psychiatric residental treatment. Journal of Child and Adolescent Psychiatric Nursing. 22 (3),143-149.

Helmi. A.F. (1999). Gaya kelekatan dan konsep diri.Jurnal Psikologi,(1),9-17.

Hurlock, E.B. (1980). Psikologi perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.Jakarta : Erlangga.

(32)

Kasus pemerkosaan di ibu kota meningkat. (30 Desember 2011). Republika. Diunduh tanggal 15 Oktober 2015 dari http://www.republika.co.id.

Ketahanan keluarga. (30 Juni 2015). Republika. Diunduh tanggal 15 Oktober 2015 dari

http://www.republika.co.id.

Monks, F.J., Knoers, A.M.P., & Haditono, S.R. (2002). Psikologi perkembangan : pengantar dari berbagai bagiannya.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Papalia, D.E, Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Human Development Edisi 10 Buku 1.

Prasetyowaty, H. (2006). Hubungan antara gaya kelekatan aman terhadap teman sebaya dengan kecerdasan emosi pada remaja awal. Skripsi sarjana, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Rahman, F.(2010).Hubungan egosentrisme dengan kompetensi sosial remaja siswa SMP Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang. Skripsi sarjana strata satu, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Santrock J.W. (2007). Remaja jilid II. Jakarta : Erlangga.

Santrock, J. W.(2012).Perkembangan masa hidup jilid I.Jakarta: Erlangga.

Simajuntak, Devi Lestari dan Siregar, Ade Rahmawati. (2012). Hubungan penerimaan diri dengan kompetensi sosial pada remaja obesitas. Jurnal Psikologi, 1-15.

Smart, D., & Sanson, A. (2003). Social competence young adulthood, its nature and antecendents. Family Matters,(64)4-9. Australian Institude of Family Studies.

Sudianto, A. (2007). Hubungan antara kompetensi sosial dengan prestasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang. Skripsi. Malang : Universitas Islam Negeri Malang.

Sugiono. (2011). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Sulistiono, Y. (2015). Hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan identitas diri peserta

didik kelas VIII SMP Muhammadiyah Kota Kediri tahun ajaran 2014/2015. Skripsi, sarjana pendidikan Universtas Nusantara PGRI Kediri, Jawa Timur.

Team UMM. (2015). Pedoman Penulisan Skripsi.Malang: UMM Press.

(33)

LAMPIRAN 1

(34)

Assalamu’alaikum Wr. Wb Dengan hormat,

Perkenalkan kami mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2012 yang sedang menempuh mata kuliah skripsi. Dalam rangka penyusunan tugas akhir kami, maka kami mohon bantuan Saudara/i untuk mengisi skala penelitian berikut.

Perlu Saudara/i ketahui bahwa hasil skala ini benar-benar hanya digunakan untuk tujuan penelitian, dan tidak digunakan untuk maksud-maksud lain. Oleh karena itu, Saudara/i tidak perlu ragu-ragu untuk menjawab semua pernyataan yang tersedia karena kami akan menjamin kerahasiaan jawaban yang saudara/i berikan. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, sebab semua jawaban mempunyai makna dalam penelitian ini.

Besar harapan kami dapat menerima kembali skala yang telah saudara/i isi. Atas kesediaan saudara/i membantu penelitian ini, kami ucapkan terimakasih.

Wassalammua’alaikum Wr. Wb

Hormat kami

(35)

Isilah identitas saudara/i dibawah ini : (beri tanda centang (√ ) yang sesuai dengan anda)

Nama :

Usia :

Kelas :

Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan

Orang tua yang masih ada :

Ayah Ibu Ayah & Ibu

Tempat tinggal :

Bersama orang tua Bersama orang lain Sendiri

Petunjuk pengisian skala 1

1. Pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan keadaan saudara/i dengan memberikan tanda centang (√ ) pada salah satu jawaban yang telah tersedia dengan ketentuan :

SS : Bila anda Sangat Setuju dengan pernyataan S : Bila anda Setuju dengan pernyataan

TS : Bila anda Tidak Setuju dengan pernyataan

STS : Bila anda Sangat Tidak Setuju dengan pernyataan

2. Apabila saudara/i ingin mengganti jawaban, beri tanda (=) pada jawaban yang telah saudara/i buat sebelumnya. Kemudian berilah tanda silang (√ ) pada jawaban baru.

Contoh:

SS S TS STS

√ √

3. Jawablah semua pernyataan tanpa ada yang terlewati.

Petunjuk pengisian skala 2 & 3

1. Pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan keaadaan saudara/i dengan memberikan tanda (X) pada jawaban A, B,C atau D yang menurut saudara/i sangat sesuai dengan diri saudara/i.

2. Apabila saudara/i ingin mengganti jawaban,beri tanda (=) pada jawaban yang telah saudara/i buat sebelumnya. Kemudian berilah tanda (X) pada jawaban baru.

Contoh :

a. Saya anak pertama b. Saya anak kedua c. Saya anak ketiga d. Saya anak terakhir

(36)

SKALA 1

No. Pernyataan Respon

SS S TS STS

1. Saya sering memberi tanggapan saat ada teman yang menyampaikan pendapatnya kepada saya.

2. Saat teman saya meminta bantuan, saya akan berusaha membantu.

3. Saya jarang memberi komentar pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh teman saya.

4. Saya jarang memulai percakapan dengan orang lain.

5. Saat teman saya menceritakan sesuatu, saya dapat memahami apa yang ia rasakan.

6. Saya selalu berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan kepada saya.

7. Saat mengalami perselisihan dengan teman, saya memilih mengalah untuk menghindari perkelahian.

8. Saya sering menyampaikan pendapat saya kepada orang lain.

9. Saat teman sedang bersedih, saya berusaha menghiburnya.

10. Bagi saya tugas yang diberikan orang lain adalah kepercayaan yang harus saya jaga.

11. Saat ada teman yang salah faham, saya kesulitan untuk menjelaskan yang sebenarnya.

12. Saat ada teman yang mencurahkan isi hatinya, saya jarang mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

13. Saya kurang mampu memahami perasaan teman saat ia menceritakan isi hatinya.

14. Saya selalu mematuhi kesepakatan yang telah dibuat oleh keompok saya.

15. Saat bertemu teman, biasanya saya memulai percakapan lebih dulu.

(37)

17. Saat berbicara dengan orang lain, saya juga mempertimbangkan suasana hatinya.

18. Saya sering berkomunikasi dengan orang yang lebih tua untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

19. Ketika saya mengalami masalah dengan teman, saya akan membicarakanya secara baik-baik.

20. Saya sering berkelahi untuk menyelesaikan perselisihan yang saya alami.

21. Saya merasa keberatan jika harus menyelesaikan semua pekerjaan yang saya miliki.

SKALA 2

1. Ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal, saya akan : a. Memilih menjauh dari orang baru tersebut

b. Berharap orang baru tersebut memulai pembicaraan terlebih dahulu. c. Mengajak bicara untuk mengakrabkan diri

d. Diam saja tidak mencoba untuk mendekat ataupun pergi. 2. Ketika memiliki masalah dengan teman sebaya, saya akan :

a. Memilih pergi untuk melupakan masalah b. Berharap teman meminta maaf terlebih dahulu

c. Menolak untuk kembali berteman baik meskipun permasalahan sudah selesai d. Meminta maaf terlebih dahulu kemudian mendiskusikan penyelesaian masalah

bersama.

3. Ketika sedang bersedih, maka saya akan :

a. Bercerita dengan teman sebaya masalah saya kemudian mendengarkan ketika ada saran yang diberikan

b. Berharap teman datang untuk menghibur saya

c. Menolak teman yang ingin menghibur karena merasa teman tidak dapat membantu menyelesaikan masalah saya.

d. Mengurung diri dan tidak bercerita dengan siapapun 4. Ketika memiliki waktu luang, saya akan :

a. Berharap teman mengajak saya keluar untuk bermain bersama

b. Menghabiskan waktu bersama dengan teman untuk melakukan kegiatan yang positif ataupun hanya sekedar bermain bersama

c. Menyendiri dikamar dan tidak melakukan apa-apa d. Menolak ajakan teman untuk keluar bersama

Figur

Tabel 1. Sebaran Item Skala Kompetensi Sosial ...........................................................

Tabel 1.

Sebaran Item Skala Kompetensi Sosial ........................................................... p.8
Tabel 7. Perbandingan Signifikansi Gaya Kelekatan.... ................................................

Tabel 7.

Perbandingan Signifikansi Gaya Kelekatan.... ................................................ p.8
Gambar 4. Nilai Mean Kompetensi Sosial Ditinjau Dari Gaya Kelekatan Dengan

Gambar 4.

Nilai Mean Kompetensi Sosial Ditinjau Dari Gaya Kelekatan Dengan p.9
Gambar 1 : Kerangka Berfikir Penelitian

Gambar 1 :

Kerangka Berfikir Penelitian p.20
Tabel 1. Sebaran Item Skala Kompetensi Sosial

Tabel 1.

Sebaran Item Skala Kompetensi Sosial p.22
Tabel 2. Sebaran Item Skala Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya.

Tabel 2.

Sebaran Item Skala Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya. p.23
Tabel 4. Perhitungan T-Score Skala Kompetensi Sosial

Tabel 4.

Perhitungan T-Score Skala Kompetensi Sosial p.24
Tabel 3.  Jumlah Subjek Penelitian

Tabel 3.

Jumlah Subjek Penelitian p.24
Gambar 3 : Perbandingan Rata-rata Kompetensi Sosial Per-Aspek Ditinjau Dari 4 Gaya Kelekatan

Gambar 3 :

Perbandingan Rata-rata Kompetensi Sosial Per-Aspek Ditinjau Dari 4 Gaya Kelekatan p.25
Gambar 2 : Rata-rata Hasil Skala Kompetensi Sosial Per-Aspek

Gambar 2 :

Rata-rata Hasil Skala Kompetensi Sosial Per-Aspek p.25
Tabel 5 :  Perbandingan Jumlah Subjek Ditinjau Dari 4 Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya

Tabel 5 :

Perbandingan Jumlah Subjek Ditinjau Dari 4 Gaya Kelekatan Dengan Teman Sebaya p.26
Gambar 4 : Nilai mean kompetensi sosial ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya

Gambar 4 :

Nilai mean kompetensi sosial ditinjau dari gaya kelekatan dengan teman sebaya p.26
Tabel 6. Hasil analisa ANOVA perbedaan kompetensi sosial remaja ditinjau dari gaya kelekatan

Tabel 6.

Hasil analisa ANOVA perbedaan kompetensi sosial remaja ditinjau dari gaya kelekatan p.27
Tabel 7. Perbandingan kompetensi sosial remaja ditinjau dari 4 gaya kelekatan dengan teman

Tabel 7.

Perbandingan kompetensi sosial remaja ditinjau dari 4 gaya kelekatan dengan teman p.27

Referensi

Memperbarui...