Pengaruh Pengetahuan Dan Persepsi Penderita Hiv/Aids Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Tentang Penyakit AIDS Dan Klinik VCT Terhadap Tingkat Pemanfaatan Klinik VCT Tahun 2010

94 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGETAHUAN DAN PERSEPSI PENDERITA HIV/AIDS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANJUNG MORAWA KABUPATEN

DELI SERDANG TENTANG PENYAKIT AIDS DAN KLINIK VCT TERHADAP TINGKAT PEMANFAATAN KLINIK VCT

TAHUN 2010

SKRIPSI Oleh :

SAIRAMA HOTMARIA SARAGIH NIM : 061000167

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGARUH PENGETAHUAN DAN PERSEPSI PENDERITA HIV/AIDS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANJUNG MORAWA KABUPATEN

DELI SERDANG TENTANG PENYAKIT AIDS DAN KLINIK VCT TERHADAP TINGKAT PEMANFAATAN KLINIK VCT

TAHUN 2010 SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

SAIRAMA HOTMARIA SARAGIH NIM : 061000167

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul :

PENGARUH PENGETAHUAN DAN PERSEPSI PENDERITA HIV/AIDS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANJUNG MORAWA KABUPATEN

DELI SERDANG TENTANG PENYAKIT AIDS DAN KLINIK VCT TERHADAP TINGKAT PEMANFAATAN KLINIK VCT

TAHUN 2010

Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh :

SAIRAMA HOTMARIA SARAGIH NIM : 061000167

Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripisi Pada Tanggal 16 Juni 2011 dan

Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima

Tim Penguji

Ketua Penguji Penguji I

Siti Khadijah Nasution, SKM, Mkes Prof. dr. Aman Nasution, M.P.H NIP. 197308031999032001 NIP. 140019774

Penguji II Penguji III

dr. Heldy BZ, M.P.H dr. Fauzi, S.K.M NIP. 195206011982031003 NIP. 140052649

Medan, Juni 2011 Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara, Dekan,

(4)

ABSTRAK

Klinik Voluntary And Counseling Testing (VCT) merupakan salah satu bentuk program pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk menghubungkan penderita HIV/AIDS dengan pelayanan kesehatan sehingga penderita dapat meningkatkan kualitas hidupnya, mengurangi perilaku berisiko guna mengurangi penyebaran. Namun, tingkat pemanfaatan klinik VCT oleh penderita HIV/AIDS di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang masih cukup rendah.

Jenis penelitian ini adalah survei dengan tipe explanatory yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh pengetahuan dan persepsi penderita HIV/AIDS tentang penyakit AIDS dan klinik VCT terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT. Populasi adalah penderita HIV/AIDS yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang pada Tahun 2010 yaitu 116 orang dan penetapan jumlah sampel menggunakan metode simple random sampling sebanyak 54 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT adalah persepsi tentang penyakit AIDS (p =0,004< 0,05; B = 0,382) dan persepsi tentang klinik VCT (p= 0,000 < 0,05 ; B = 0,176) .Variabel yang tidak mempunyai pengaruh dengan tingkat pemanfaatan klinik VCT adalah pengetahuan tentang penyakit AIDS.

Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada petugas puskesmas untuk lebih optimal dalam konseling kepada penderita HIV/AIDS sehingga penderita HIV/AIDS nyaman untuk berdiskusi dan memeriksakan diri secara berkelanjutan.

(5)

ABSTRACT

Voluntary And Counseling Testing (VCT) clinic is one of health service program in order related to the patients of HIV/AIDS with health service until the patient can increase their quality of life, decrease their risk behavior to reduction of spreading. However, the utility of VCT clinic by the patients of HIV/AIDS in work area of Tanjung Morawa health center, Deli Serdang District was still quite low.

The type of research was explanatory approach aimed to explain the knowledge and perception of patients HIV/AIDS about AIDS and VCT clinic on the utility level of VCT clinic. The population were the patients of HIV/AIDS who stay in the work area of Tanjung Morawa health center, Deli Serdang District in 2010 is 116 patients and the sample was determined by simple random sampling is 54 patients. Data were collected by using questionnaire and were analyzed by using multiple linier regression.

The results of research showed that variables which had significant influence on the utility of VCT clinic were perception of the patients about AIDS and (p =0,004<0,05 : B = 0,382) perception of the patients about VCT clinic (p=0,000<0,05; B=0,176) .The variable which had no significant on the utility of VCT clinic was knowledgde about AIDS.

The health officer in health center considered to be more optimal in counseling the patients of HIV/AIDS until the patients of HIV/AIDS comfort to discuss and examine himself be continue.

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Sairama Hotmaria Saragih

Tempat/Tanggal Lahir : Simpang Sigodang /28 Maret 1988 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Kristen Protestan Anak ke : 5 dari 6 Bersaudara Status Perkawinan : Belum Kawin

Alamat Rumah : Jl. Durian No 35 Lapangan Bola Atas

Kelurahan Sukamaju Kecamatan Siantar Marihat Kota Pematang Siantar

Riwayat Pendidikan :

1. Tahun 1994-2000 : SD YPHKBP IV Pematang Siantar 2. Tahun 2000-2003 : SLTP Negeri 3 Pematang Siantar 3. Tahun 2003-2006 : SMA Negeri 1 Pematang Siantar

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Pengaruh pengetahuan dan persepsi penderita HIV/AIDS di wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tentang penyakit AIDS dan klinik VCT terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT Tahun 2010”, yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM).

Dengan segenap kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada orang tua terkasih (J. Saragih (+) dan R. br Sinaga) yang telah membesarkan dan mendidik penulis dengan kasih sayang dan juga tak henti-hentinya memberikan dukungan doa dan perhatian. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis juga banyak mendapatkan bimbingan, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak secara moril maupun materil, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :

(8)

2. dr. Heldy BZ, M.P.H, selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan dan Dosen Penguji III yang telah memberikan masukan kepada penulis untuk kesempurnaan skripsi ini.

3. Siti Khadijah Nasution, S.K.M, M.Kes, selaku Dosen Dosen Pembimbing I sekaligus sebagai Ketua Penguji yang telah banyak meluangkan waktu dan memberikan saran, bimbingan serta arahan dalam penyelesaian skripsi ini. 4. Prof. dr. Aman Nasution, M.P.H, selaku Dosen Pembimbing II sekaligus Dosen

Penguji I yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, serta saran kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

5. dr. Fauzi, S.K.M, selaku Dosen Penguji IV yang telah memberikan masukan kepada penulis untuk kesempurnaan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen dan Staf di FKM USU yang telah memberikan bekal ilmu selama penulis mengikuti pendidikan.

7. Kepala Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang dan seluruh Staf yang telah membantu penelitian penulis.

8. Koordinator Medan Plus Deli Serdang dan seluruh staff serta seluruh penderita HIV/AIDS yang telah bersedia menjadi responden penelitian ini.

9. Kakak penulis, Priska Saragih dan Suami, Betty Saragih dan Suami, Agustina Saragih dan suami; Abang penulis, Jannus Saragih; Adik penulis, Renold Saragih beserta keponakan penulis (Boy, Dwi, Beth dan Gia) yang telah banyak memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

(9)

satu per satu untuk kenangan terindah selama menempuh pendidikan di FKM USU.

11. KTB Abigail (Asron, Anta, Pujita, Yenni, Marlina, Romei) yang selalu ada dan memberi semangat bagi penulis.

12. Theofania (Ervina, Evia, Jojorita, Myke, Neni, Shinta, Fiesta, Vitri, Bianca) yang selalu ada dan memberi semangat bagi penulis.

13. Teman-teman Koordinasi POMK FKM periode Tahun 2010 yang selalu memberikan dukungan bagi penulis.

14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan semangat, dukungan, bantuan dan doa selama ini.

Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Juni 2011

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Persetujuan ... i

Abstrak ... ii

Daftar Riwayat Hidup ... iv

Kata Pengantar ... v

2.1. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan. ... 10

2.2. Pengetahuan ... 11

2.3. Persepsi ... 12

2.2.1.pengertian persepsi ... 12

2.2.2.Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi ... 13

2.4. Persepsi Masyarakat tentang Kesehatan dan Sarana Kesehatan ... 14

2.5. HIV/AIDS ... 15

2.4.1. Definisi HIV ... 15

2.4.2. Definisi AIDS ... 16

2.4.3. Stadium HIV/AIDS ... 18

2.4.4. Penularan HIV/AIDS ... 20

2.4.5. Pencegahan Dan Pengobatan HIV/AIDS ... 22

2.6. Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT) ... 24

2.5.1.Tahapan Dalam Layanan VCT ... 26

2.5.2.Model Tahapan VCT ... 29

2.7. Kerangka konsep ... 30

2.8. Hipotesis Penelitian ... 31

BAB III. METODE PENELITIAN ... 32

3.1. Jenis Penelitian ... 32

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 32

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 32

3.2.2. Waktu Penelitian... 32

3.3. Populasi Dan Sampel ... 32

3.3.1.Populasi ... 32

3.3.2.Sampel ... 33

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 33

(11)

3.5.1.Variabel Bebas (Independent) ... 34

4.1. Gambaran Umum Puskesmas Tanjung Morawa ... 38

4.1.1. Keadaan Geografi ... 38

4.1.2. Gambaran Demografi ... 40

4.1.2. Klinik VCT Puskesmas Tanjung Morawa ... 40

4.2. Analisis Univariat ... 41

4.2.1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur ... 41

4.2.2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 41

4.2.3. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 42

4.2.4. Distribusi Asal Informasi Didengar Pertama Sekali ... 42

4.2.5. Distribusi Kejelasan Informasi Diberikan ... 43

4.2.6. Distribusi Cara Penyampaian Informasi ... 43

4.2.7. Deskripsi Pengetahuan Responden Tentang Penyakit HIV/AIDS ... 43

4.2.8. Deskripsi Persepsi Responden Tentang Penyakit HIV/AIDS ... 47

4.2.9. Deskripsi Persepsi Responden Tentang Klinik VCT ... 49

4.2.9.1. Deskripsi Pengetahuan Responden Tentang Klinik VCT ... 49

4.2.9.2. Deskripsi Persepsi Responden Tentang Pra Tes ... 51

4.2.9.3. Deskripsi Persepsi Responden Tentang Tes ... 54

4.2.9.4. Deskripsi Persepsi Responden Tentang Pasca Tes ... 55

4.2.9.5. Deskripsi Persepsi Responden Tentang Fasilitas Klinik VCT ... 58

5.1. Pengaruh Pengetahuan Tentang Penyakit AIDS Terhadap Tingkat Pemanfaatan Klinik VCT ... 63

5.2. Pengaruh Persepsi Tentang Penyakit AIDS Terhadap Tingkat Pemanfaatan Klinik VCT ... 64

5.3. Pengaruh Persepsi Tentang Klinik VCT Terhadap Tingkat Pemanfaatan Klinik VCT ... 65

(12)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 70 6.1. Kesimpulan ... 70 6.2. Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

-kuesioner penelitian -Master Data

-Output Uji Univariat, Bivariat, Multivariat -Surat Permohonan Izin Peneltian

(13)

ABSTRAK

Klinik Voluntary And Counseling Testing (VCT) merupakan salah satu bentuk program pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk menghubungkan penderita HIV/AIDS dengan pelayanan kesehatan sehingga penderita dapat meningkatkan kualitas hidupnya, mengurangi perilaku berisiko guna mengurangi penyebaran. Namun, tingkat pemanfaatan klinik VCT oleh penderita HIV/AIDS di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang masih cukup rendah.

Jenis penelitian ini adalah survei dengan tipe explanatory yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh pengetahuan dan persepsi penderita HIV/AIDS tentang penyakit AIDS dan klinik VCT terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT. Populasi adalah penderita HIV/AIDS yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang pada Tahun 2010 yaitu 116 orang dan penetapan jumlah sampel menggunakan metode simple random sampling sebanyak 54 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT adalah persepsi tentang penyakit AIDS (p =0,004< 0,05; B = 0,382) dan persepsi tentang klinik VCT (p= 0,000 < 0,05 ; B = 0,176) .Variabel yang tidak mempunyai pengaruh dengan tingkat pemanfaatan klinik VCT adalah pengetahuan tentang penyakit AIDS.

Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada petugas puskesmas untuk lebih optimal dalam konseling kepada penderita HIV/AIDS sehingga penderita HIV/AIDS nyaman untuk berdiskusi dan memeriksakan diri secara berkelanjutan.

(14)

ABSTRACT

Voluntary And Counseling Testing (VCT) clinic is one of health service program in order related to the patients of HIV/AIDS with health service until the patient can increase their quality of life, decrease their risk behavior to reduction of spreading. However, the utility of VCT clinic by the patients of HIV/AIDS in work area of Tanjung Morawa health center, Deli Serdang District was still quite low.

The type of research was explanatory approach aimed to explain the knowledge and perception of patients HIV/AIDS about AIDS and VCT clinic on the utility level of VCT clinic. The population were the patients of HIV/AIDS who stay in the work area of Tanjung Morawa health center, Deli Serdang District in 2010 is 116 patients and the sample was determined by simple random sampling is 54 patients. Data were collected by using questionnaire and were analyzed by using multiple linier regression.

The results of research showed that variables which had significant influence on the utility of VCT clinic were perception of the patients about AIDS and (p =0,004<0,05 : B = 0,382) perception of the patients about VCT clinic (p=0,000<0,05; B=0,176) .The variable which had no significant on the utility of VCT clinic was knowledgde about AIDS.

The health officer in health center considered to be more optimal in counseling the patients of HIV/AIDS until the patients of HIV/AIDS comfort to discuss and examine himself be continue.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masalah kesehatan masyarakat yang yang dialami Indonesia saat ini sangat kompleks dan menjadi beban ganda dalam pembiayaan pembangunan kesehatan. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), malaria, diare, dan penyakit kulit. Pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah serta diabetes mellitus dan kanker. Indonesia juga mengalami emerging diseases seperti demam berdarah dengue, HIV/AIDS, chikungunya, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menhadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden).

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab Acquired

Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang menyerang sistem kekebalan tubuh,

sehingga si pengidap akan rentan terhadap penyakit lain. Sebelum HIV berubah menjadi AIDS pengidap akan tampak sehat dalam waktu 5 sampai 10 tahun meskipun demikian, seseorang sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain melalui hubungan seks yang tidak aman, pemakaian jarum suntik bekas atau secara bergantian, karena HIV terdapat di dalam cairan darah, air mani, cairan vagina.

(16)

belum ada obatnya. Kita perlu waspada agar virus ini tidak menyebar lebih luas lagi, namun bukan berarti pengidap HIV dan AIDS kita musuhi . Jumlah kasus HIV/AIDS semakin lama semakin meningkat, untuk menekan jumlah kematian dan menjaga kesehatan penderita maka didirikanlah klinik Voluntary Counseling And Testing (VCT) (Evelyn, 2009).

VCT merupakan pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan HIV. Proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidensial dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV. Konseling pra testing memberikan pengetahuan tentang HIV & manfaat testing, pengambilan keputusan untuk testing, dan perencanaan atas issue HIV yang akan dihadapi. Konseling post testing membantu seseorang untuk mengerti & menerima status (HIV+) dan merujuk pada layanan dukungan (KPA, 2007).

Menurut laporan tahunan terbaru badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations on HIV/AIDS (UNAIDS) dalam AIDS epidemic update 2009, jumlah kasus infeksi baru HIV/AIDS di dunia dalam delapan tahun terakhir mengalami penurunan hingga 17%. Sub Sahara Afrika 15%, Asia Timur 25% dan Asia Tenggara 10%. Hal ini menyatakan bahwa program-program pencegahan HIV yang gencar digalakkan oleh World Health Organization (WHO) dan UNAIDS telah berdampak signifikan. Walaupun mengalami penurunan, jumlah penderita HIV/AIDS di Sub Sahara Afrika dan negara berkembang tetap tinggi.

(17)

HIV/AIDS dengan prevalensi pada orang dewasa 0,34%. Di Myanmar diperkirakan 242.000 orang telah menderita HIV/AIDS dengan prevalensi pada orang dewasa 0,67% dan 70.000 orang penduduk Nepal diperkirakan telah menderita HIV/AIDS dengan prevalensi pada orang dewasa sebesar 0,5%. Di Thailand diperkirakan 547.000 orang telah menderita HIV/AIDS dengan prevalensi pada orang dewasa sebesar 1,4%.

Kecepatan penyebaran HIV/AIDS terutama pada kelompok risiko tinggi mendapat perhatian yang cukup besar yaitu dengan adanya komitmen internasional yang dibuat berdasarkan panduan UNAIDS yaitu Declaration of Commitment pada UNGASS (United Nations General Assembly special session on HIV/AIDS) Tahun 2001. Setiap Negara yang ikut menandatangani komitmen tersebut diwajibkan membuat monitoring dan evaluasi yang memadai untuk mengukur dan menilai kemajuan pelaksanaan komitmen serta membuat instrumen monitoring dan evaluasi serta menyediakan data epidemiologi yang memadai. Komitmen tersebut masih dilanjutkan di kawasan ASEAN (Association of South East Asian Nations) dalam Deklarasi ASEAN tentang HIV/AIDS Tahun 2001dan Deklarasi A World Fit for Children Tahun 2002 (Anonim, 2008).

Di Indonesia berdasarkan data SEARO Tahun 2009, diperkirakan 270.000 orang menderita HIV/AIDS dengan prevalensi pada orang dewasa sebesar 0,17% dan 28% di antaranya adalah perempuan. Penularan HIV/AIDS adalah melalui Injected Drug User (IDU) 40%, Wanita Pekerja Seks (WPS) 22%, pelanggan WPS 16%,

(18)

SEARO Tahun 2009 mengalami penurunan namun epidemik HIV/AIDS di Indonesia mengalami peningkatan dengan cepat. Indonesia merupakan negara dengan peningkatan kasus HIV/AIDS tercepat di Asia.

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia (2008), terdapat 6.015 kasus HIV+ dan 4.969 kasus baru AIDS sehingga jumlah kumulatif kasus AIDS sejak pertama kali ditemukan Tahun 1987 meningkat menjadi 16.110 kasus dengan jumlah kematian 3.362 orang (Crude Fatality Rate (CFR) 20,86%). Penderita AIDS dapat diketahui sebagai berikut : laki-laki (74,9%), perempuan (24,6%) dan 0,5% tidak tercatat jenis kelaminnya (0,5%) dan sebesar 50,82% berada pada usia produktif yaitu kelompok umur 20-29 tahun.

Menurut data Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL) Departemen Kesehatan RI Tahun 2009, jumlah kumulatif kasus AIDS sejak pertama kali ditemukan Tahun 1987 meningkat menjadi 19.973 kasus dengan total kematian 3.863 orang (CFR 19,34%). Di Indonesia jumlah kasus AIDS terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Barat yaitu 3.598 kasus dengan CFR 17,62%. Rate kumulatif (Case Rate) kasus AIDS nasional pada tahun 2009 adalah 8,66/100.000 penduduk, dengan Case Rate tertinggi dilaporkan dari Provinsi Papua sebesar 133,07/100.000 penduduk, Case Rate terendah dilaporkan dari Provinsi Gorontalo yaitu 0,33/100.000 penduduk, sementara Provinsi Sumatera Utara berada pada urutan kesembilan dengan Case Rate 3,71/100.000 penduduk.

(19)

di Indonesia yang rawan tertular HIV mencapai 6,3 juta orang. Data PKVHI menyebutkan jumlah orang yang melakukan konseling dan tes di klinik VCT sebanyak 535.943 orang pada 2010. Dari jumlah itu, sebanyak 55.848 orang terinfeksi HIV positif. Dari data tersebut cakupan konseling dan tes dengan masyarakat yang terinfeksi kurang dari 10 persen.

Klinik VCT kini sudah tersebar di seluruh provinsi yaitu terdapat 2000 orang konselor di seluruh Indonesia dengan 388 klinik VCT aktif. Meskipun demikian baru 192.076 orang yang melakukan tes HIV dari target kita 300.000 orang yang melakukan tes tahun 2010 (Tempointeraktif.com).

Berdasarkan Profil Kesehatan Sumatera Utara (2007), terdapat 143 kasus HIV/AIDS dan 91 kasus di antaranya terdapat di Kabupaten Deli Serdang (63,63%), 18 kasus di Kota Pematang Siantar (12,59%), 11 kasus di Kabupaten Toba Samosir (7,69%), 5 kasus di Kabupaten Serdang Bedagai (3,5%), masing-masing 4 kasus di Kabupaten Langka dan Kabupaten Samosir (2,8%), 3 kasus di Kabupaten Tapanuli Selatan (2,09%), masing-masing 2 kasus di Kabupaten Simalungun dan Labuhan Batu (1,4%), masing-masing 1 kasus di Kabupaten Karo, Kota Binjai dan Kota Tebing Tinggi (0,7%).

(20)

memiliki jumlah kumulatif penderita HIV/AIDS terbanyak kedua yaitu 142 kasus, 76 HIV+ (53,52%) dan 66 kasus AIDS (46,48%).

Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan di Klinik Voluntary and Counseling Testing (VCT) Puskesmas Tanjung Morawa, diperoleh jumlah kasus

HIV/AIDS dari Tahun 2006- Tahun 2010 yaitu 116 kasus yang terdiri dari 66 kasus HIV+ dan 50 kasus AIDS. Adapaun jumlah kasus pada Tahun 2006 ada 1 kasus, 24 kasus Tahun 2007, 27 kasus Tahun 2008, 34 kasus Tahun 2009 dan 30 kasus Tahun 2010. Jumlah kasus ini diperoleh dari data pengunjung Klinik VCT dan melakukan test HIV melalui pemeriksaan laboratorium rapid test.

Perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia dan dorongan itu merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Dengan adanya dorongan tersebut, menimbulkan seseorang melakukan sebuah tindakan atau perilaku khusus yang mengarah pada tujuan (Sudarma, 2008). Di dalam proses pembentukan atau perubahan, perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam dan dari luar individu itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain: susunan saraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, proses belajar, lingkungan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Green dalam Nototmodjo (2003), perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu faktor predisposing (meliputi : pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai dan sebagainya);

(21)

Menurut penelitian Bangun (2008) pengetahuan kelompok risiko tinggi tentang klinik VCT dan Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan alasan untuk mereka mau melakukan pemeriksaan ke klinik VCT dan IMS Puskesmas Padang Bulan Medan. Menurut penelitian Khairurahmi (2008), persepsi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terhadap petugas kesehatan yang meliputi kemampuan, pengetahuan yang memadai, sikap ramah tamah, mudah ditemui, kepedulian dan kemauan untuk mendengar akan memengaruhinya untuk memanfaatkan pelayanan klinik VCT atau tidak di Kota Medan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu aktivis yang bekerja untuk mendampingi para penderita, seringkali penderita mendapatkan pelayanan yang kurang memuaskan dari pihak pemberi pelayanan kesehatan. Ketika mengetahui bahwa si pasien adalah penderita HIV/AIDS mereka langsung menjaga jarak dan menggunakan pelindung ekstra misalnya sarung tangan dipakai sampai dua lapis. Hal tersebut memang wajar secara medis akan tetapi dapat membuat penderita menjadi kurang nyaman dan ketika bertemu dengan orang yang baru mereka langsung waspada.

(22)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah penelitian adalah bagaimana pengaruh pengetahuan dan persepsi penderita HIV/AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tentang penyakit AIDS dan klinik VCT terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT Tahun 2010.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pengaruh pengetahuan dan persepsi penderita HIV/AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tentang penyakit AIDS dan klinik VCT terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT Tahun 2010.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi pihak Puskesmas Tanjung Morawa dan Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang sebagai sumbangan pemikiran dalam menetapkan kebijakan program bagi penderita HIV/AIDS dalam upaya pencegahan penularan.

2. Sebagai bahan masukan yang dapat dijadikan referensi atau perbandingan bagi penelitian lain.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003), perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor utama yakni predisposing (meliputi : pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai) ; faktor enabling

(mencakup ketersediaan sarana dan prasarana); faktor reinforcing (meliputi : sikap dan perilaku petugas kesehatan dan tokoh masyarakat).

Anderson dalam Notoatmodjo (2003), mengungkapkan bahwa faktor predisposing dan faktor enabling dapat terwujud dalam tindakan apabila itu dirasakan

sebagai kebutuhan. Kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan kesehatan, bila mana tingkat predisposisi dan enabling itu ada. Kebutuhan (need) dibagi menjadi dua kategori yaitu dirasa atau perceived (subject assessment) dan evaluated (clinical diagnosis).

Alan Dever (1984) menyebutkan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

1. Faktor sosiokultural yang terdiri dari faktor teknologi pengobatan dan norma atau nilai yang berlaku dimasyarakat.

2. Faktor organisasi yang terdiri dari ketersediaan sumber daya, akses geografis, akses sosial, karakteristik proses dan struktur organisasi pelayanan kesehatan. 3. Faktor yang berhubungan dengan konsumen yang terdiri dari faktor

(24)

dan faktor sosial psikologis yaitu persepsi terhadap penyakit serta sikap dan keyakinan terhadap pelayanan kesehatan.

4. Faktor yang berhubungan dengan producen yang terdiri dari faktor ekonomi dan karakteristik provider.

2.2. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu setelah terjadinya penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terjadinya tindakan. Penelitian Rogers (1974), bahwa proses diadopsinya suatu perilaku adalah sebagai berikut:

1. Awareness (kesadaran) yaitu menyadari/mengetahui stimulus/objek.

2. Interest (merasa tertarik) yaitu timbulnya ketertarikan terhadap objek tersebut. 3. Evaluation (evaluasi) yaitu mempertimbangkan baik burunya stimulus tersebut

bagi dirinya.

4. Trial (mencoba) yaitu mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

5. Adoption (Adopsi) yaitu berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulus.

(25)

2.3. Persepsi

2.3.1. Pengertian persepsi

Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman (Thoha, 1999). Secara etimologis, persepsi bersal dari bahasa Latin perceptio; dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil. Persepsi (perception) dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedang dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian yaitu bagaimana seseorang mengartikan sesuatu (Leavit, 1978). Menurut De Vito (1997), persepsi adalah proses ketika kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang memengaruhi indera kita (Sobur, 2003)

Menurut Rakhmat dalam Sobur (2003), persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Menurut Hidayat (2009), persepsi adalah proses kognitif untuk menginterpretasi objek, simbol dan orang dengan pengalaman yang relevan. Proses ekstraksi informasi untuk berespon.

(26)

2.3.2. Faktor-Faktor yang memengaruhi persepsi

Robbins (2002) menyatakan ada tiga faktor yang memengaruhi terjadinya suatu persepsi, yaitu :

1. Pelaku persepsi

Jika seorang individu melihat suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik pribadi dari pelaku persepsi individu tersebut. Adapun karakteristik pribadi yang lebih relevan memengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu dan pengharapan.

2. Target

Karakteristik-karakteristik dalam target yang akan diamati dapat memengaruhi apa yang dipersepsikan. Apa yang kita lihat bergantung bagaimana kita memisahkan suatu bentuk dalam latar belakangnya yang umum. Objek-objek yang berdekatan satu sama lain akan cenderung dipersepsikan bersama-sama, bukan secara terpisah.

3. Situasi

Dalam melihat objek atau peristiwa, unsur-unsur lingkungan sekitar juga memengaruhi persepsi. Selain itu, waktu dan keadaan objek yang dilihat dapat memengaruhi persepsi.

(27)

Rakhmat (1995) menyatakan ada dua faktor yang memengaruhi persepsi : 1. Faktor Fungsional

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan lain-lain yang termasuk dengan apa yang disebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk rangsangan, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon terhadap rangsangan tersebut.

2. Faktor Struktural

Faktor struktural berasal semata-mata dari sifat rangsangan fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Jika kita mempersepsikan sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan, ketikapun kita tidak melihatnya tidak secara keseluruhan maka kita yang akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.

Dalam Thoha (1999), faktor-faktor yang memengaruhi pengembangan persepsi seseorang antara lain : psikologi, yaitu bagaimana keadaan psikis seseorang; famili yaitu keluarga yang merupakan pengaruh paling besar bagi seseorang;kebudayaan yaitu lingkungan masyarakat yang kuat dalam memengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan.

2.4. Persepsi masyarakat tentang kesehatan dan sarana kesehatan

(28)

dikutip oleh sarwono dalam Bangun (2008) persepsi masyarakat tentang sehat dan sakit dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsur sosial budaya. Sebaliknya petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kriteria medis yang objektif berdasarkan gejala yang tampak guna mendiagnosa kondisi fisik seseorang.

Perbedaan persepsi masyarakat dan petugas kesehatan inilah yang sering menimbulkan masalah dalam melaksanakan program kesehatan. Kadang-kadang orang tidak pergi berobat atau menggunakan sarana kesehatan yang tersedia sebab ia merasa tidak mengidap penyakit. Masyarakat mulai menghubungi sarana kesehatan sesuai dengan pengalaman masa atau informasi yang diperoleh dari orang lain tentang tersedianya jenis-jenis layanan kesehatan. Pilihan terhadap sarana kesehatan itu dengan sendirinya didasari atas kepercayaan atau keyakinan akan kemajuan sarana tersebut.

2.5. HIV/AIDS 2.5.1. Definisi HIV

(29)

HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut T-Limfosit atau “sel T-4” atau disebut juga “sel CD-4” (Zein, 2006). Adapun yang menjadi fungsi sel ini adalah seperti saklar yang menghidupkan dan menghentikan kegiatan sistem kekebalan tubuh (Lasmadiwati, 2005). Akibatnya sel darah putih akan semakin berkurang dan lama-kelamaan sistem kekebalan tubuh melemah (Yatim, 2006)

2.5.2. Definisi AIDS

AIDS merupakan singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome. Syndrome berarti kumpulan gejala-gejala atau tanda-tanda penyakit, Deficiency

berarti kekurangan, Immune berarti kekebalan, dan Aquired berarti diperoleh atau didapat. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah terserang penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal.

AIDS adalah sindroma penyakit yang pertama kali dikenal pada Tahun 1981. Sindrom ini menggambarkan tahap klinis akhir dari infeksi HIV. Beberapa minggu hingga beberapa bulan sesudah terinfeksi, sebagian orang akan mengalami penyakit self-limited mononucleosis-like akut yang akan berlangsung selama 1 atau 2 minggu.

(30)

terkait langsung dengan derajat kerusakan sistem kekebalan yang diakibatkannya (Chin, 2000).

Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan Tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Sebenarnya sebelum itu telah ditemukan kasus pada bulan Desember 1985 yang secara klinis sangat sesuai dengan diagnosis AIDS di mana berdasarkan hasil tes Elisa yang tiga kali diulang menyatakan positif, namun hasil tes Western Blot yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan hasilnya negatif sehingga tidak dilaporkan sebagai kasus AIDS. Kasus kedua infeksi HIV ditemukan pada bulan Maret 1986 di RS Cipto Mangunkusumo, pada pasien hemofilia dan termasuk jenis non-progessor, artinya kondisi kesehatan dan kekebalannya cukup baik selama 17 tahun tanpa pengobatan dan sudah dikonfirmasi dengan Western Blot, serta masih berobat jalan di RSUPN Cipto Mangunkusumo pada tahun 2002 (Djoerban, 2010).

(31)

Menurut Yatim (2006), pada orang dewasa AIDS dapat diduga apabila terdapat paling sedikit dua gejala mayor dan paling sedikit satu gejala minor tanpa sebab imunosupresi lain yang diketahui seperti kanker, malnutrisi atau penyebab lain. Gejala mayor, antara lain :

a. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam waktu singkat b. Demam lebih dari satu bulan (intenmiten atau kontinu) c. Diare kronik lebih dari satu bulan.

Gejala minor, antara lain : a. Batuk lebih dari satu bulan b. Kelainan kulit dan iritasi (gatal)

c. Herpes simplecs (kulit melepuh dan terasa nyeri) yang menyebar dan bertambah parah

d. Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan

e. Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, yang teraba di bawah telinga, leher, ketiak dan lipat paha.

f. Limfadenopati generalisasi

2.5.3. Stadium HIV/AIDS

Stadium HIV/AIDS di kategorikan oleh Djoerban, dkk (2010) menjadi : 1. Fase Pertama

(32)

a. Demam.

b. Rasa lemah dan lesu. c. Sendi-sendi terasa nyeri. d. Batuk.

e. Nyeri tenggorokan. 2. Fase Kedua

Fase kedua ini disebut window period yang berlangsung antara 3-6 bulan. Pada fase ini hasil tes untuk mendeteksi antibodi HIV masih menunjukkan hasil negatif ( HIV- ). Orang yang sudah memasuki tahap ini sudah dapat menularkan kepada orang lain.

3. Fase Ketiga

Hasil tes laboratorium pada tahap ini sudah menunjukkan hasil positif ( HIV+ ). Tahap ini belum dapat disebut dengan gejala AIDS. Fase ini berlangsung selama 2-10 tahun. Mulai timbul gejala-gejala yang mirip dengan penyakit lain, yaitu :

a. Demam berkepanjangan.

b. Penurunan berat badan ( lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan ).

c. Kelemahan tubuh yang menggangu/menurunkan aktivitas fisik sehari-hari. d. Pembengkakan kelenjar di leher, lipatan paha dan ketiak.

e. Diare atau mencret terus menerus tanpa sebab yang jelas.

(33)

3. Fase Keempat

Pada tahap ini penderita mudah diserang penyakit lain, dan disebut infeksi oportunistik. Maksudnya adalah penyakit yang disebabkan baik oleh virus lain, seperti bakteri, jamur atau parasit ( yang bisa hidup dalam tubuh kita ) yang bila sistem kekebalan tubuh baik, kuman ini dapat dikendalikan oleh tubuh. Pada tahap ini pengidap HIV+ telah berkembang menjadi penderita AIDS. Infeksi opportunistik yang biasa diderita, yaitu :

a. Radang paru : TBC.

b. Radang saluran pencernaan.

c. Radang karena jamur di mulut dan kerongkongan.

d. Kulit : Herpes Simplecs, kanker kulit yang biasa terjadi yaitu Sarkoma caposii. e. Gangguan susunan saraf : Toxoplasmosis.

f. Alat kelamin : Herpes genitalis.

2.5.4. Penularan HIV / AIDS

HIV hanya ditularkan dari satu orang kepada yang lainnya melalui pertukaran cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu. HIV/AIDS ditularkan melalui :

1. Hubungan seks.

2. Penggunaan jarum suntik yang pernah dipakai orang lain yang terular HIV. 3. Transfusi darah yang mengandung HIV.

(34)

5. Hubungan perinatal, yakni dari ibu hamil kepada janin atau bayi yang disusuinya (Zein, 2006).

Penularan HIV melalui hubungan seks mencapai lebih dari 90%. Penularan melalui hubungan seks heteroseksual yang paling dominan. Tingkatan risiko tergantung pada jumlah virus yang keluar dan masuk ke dalam tubuh seseorang dapat meningkat jika ada luka pada alat kelamin. Masyarakat dianjurkan untuk berperilaku seksual yang lebih bertanggung jawab (lebih berhati-hati) agar jangan tertular HIV. Apalagi karena hubungan seks adalah perilaku sehari-hari dalan kehidupan manusia (Zein, 2006).

HIV tidak menular lewat pergaulan sehari-hari, karena HIV bukan virus yang menular seperti virus flu atau kuman penyakit kulit. HIV tidak menular karena kita berjabatan tangan, bersentuhan atau merangkul orang lain. HIV tidak menular karena makan bersama, minum bersama atau berenang di kolam yang sama. HIV juga tidak menular melalui gagang telepon atau lewat WC yang habis dipakai penderita AIDS (Yatim, 2006). Keterbatasan informasi yang didapat masyarakat Indonesia tentang penyakit ini, mengakibatkan banyak penderita HIV/AIDS yang dikucilkan dari lingkungannya (Djoerban, 2010).

(35)

2.5.5. Pencegahan dan Pengobatan HIV/AIDS

Dewasa ini pencegahan merupakan satu satunya upaya penanggulangan AIDS. 5 langkah untuk mencegah tertular HIV/AIDS dalam Noe (2010), yaitu :

A = Abstinence of Sex (jauhi seks bebas) B = Be Faithful (setia pada pasangan) C = use Condom (gunakan kondom)

D = Don’t share a needle (jangan berbagi jarum suntik) E = Education (pendidikan)

Pencegahan dan penanggulangan AIDS mempunyai tiga tujuan antara lain : mencegah infeksi HIV, mengurangi dampak perorangan dan sosial dari infeksi HIV serta menggerakan dan menyatukan upaya nasional dan internasional melawan AIDS. 1. Secara seksual.

Saling setia dengan mitra seksual merupakan sesuatu yang penting. Tapi jika bermaksud saling setia, hal yang harus diperhatikan adalah :

a. Pemilihan mitra seksual anda berkaitan dengan risiko terinfeksi karena hal ini tergantung dari besarnya kemungkinan bahwa mitra anda adalah termasuk kelompok risiko tinggi.

b. Jumlah mitra seksual yang makin besar akan memperbesar kemungkinan mendapatkan mitra yang terinfeksi.

c. Penggunaan kondom yang tepat dan konsisten mulai dari awal hingga akhir untuk semua penetrasi seksual (vagina, oral dan anal)

(36)

2. Pencegahan Penularan melalui Darah

Untuk pencegahan penularan HIV melalui darah dan produk darah yang terinfeksi, pendekatan yang telah terbukti efektif adalah mengambil donor sukarela, melakukan skrining darah donor terhadap HIV dan mendidik petugas kesehatan untuk mengurangi transfusi yang tidak perlu. Pencegahan penularan di antara pengguna narkoba suntik haruslah sejalan dengan usaha pencegahan secara seksual di antara mereka, termasuk menurunkan permintaan akan obat, menurunkan penggunaan obat suntik dan mensterilkan alat suntik dan jarum dengan memasaknya atau menggunakan pemutih.

4. Pencegahan Penularan dari Ibu kepada Anaknya

Strategi terbaik dalam pencegahan dari ibu kepada anaknya tentu saja dengan mencegah penularan HIV secara seksual kepada wanita usia subur. Pencegahan sekunder tergantung pada upaya menghindari kehamilan dari wanita usia subur yang diketahui atau dicurigai terinfeksi HIV. Pelayanan konseling dan kontrasepsi harus tersedia untuk wanita (Djoerban, 2010)

Infeksi HIV/AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara progresif sehingga muncul berbagai infeksi opurtunistik yang dapat berakhir pada kematian. Sementara itu, hingga saat ini belum ditemukan obat maupun vaksin yang efektif, sehingga pengobatan HIV/AIDS dapat dibagi dalam tiga kelompok (Depkes RI, 2006) sebagai berikut :

(37)

b. Pengobatan infeksi opurtunistik merupakan pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS. Jenis-jenis mikroba yang menimbulkan infeksi sekunder adalah protozoa (Pneumocystis carinii, Toxoplasma dan Cryptotosporidium), jamur (Kandidiasis), virus (Herpes,

cytomegalovirus/CMV, Papovirus) dan bakteri (Mycobacterium TBC,

Mycobacterium ovium intra cellular, Streptococcus, dll). Penanganan terhadap

infeksi opurtunistik ini disesuaikan dengan jenis mikroorganisme penyebabnya dan diberikan terus-menerus.

c. Pengobatan antiretroviral (ARV), ARV bekerja langsung menghambat enzim reverse transcriptase atau menghambat kinerja enzim protease. Pengobatan ARV

terbukti bermanfaat memperbaiki kualitas hidup, menjadikan infeksi opurtunistik menjadi jarang dan lebih mudah diatasi sehingga menekan morbiditas dan mortalitas dini, tetapi ARV belum dapat menyembuhkan pasien HIV/AIDS ataupun membunuh HIV.

2.6. Konseling Dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT)

Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan ARV dan memastikan pemecahaman berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS (Depkes RI, 2006). Adapun prinsip pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS Sukarela (VCT) :

(38)

Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien, tanpa paksaan,dan tanpa tekanan.

2. Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas.

Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat semua klien. Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga kerahasiaannya oleh konselor dan petugas kesehatan, tidak diperkenankan didiskusikan di luar konteks kunjungan klien.

3. Mempertahankan hubungan relasi konselor-klien yang efektif.

Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi perilaku berisiko.

4. Testing merupakan salah satu komponen dari VCT.

WHO dan Departemen Kesehatan RI telah memberikan pedoman yang dapat digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing senantiasa diikuti oleh konseling pasca testing oleh konselor yang sama atau konselor lainnya yang disetujui oleh klien.

Berdasarkan pedoman pelayanan VCT (Depkes RI, 2006), layanan VCT harus mempunyai sumber daya manusia yang sudah terlatih dan kompeten. Petugas pelayanan VCT terdiri dari:

1. Kepala klinik VCT .

2. Dua orang konselor VCT terlatih sesuai dengan standar WHO atau lebih sesuai dengan kebutuhan.

(39)

4. Seorang petugas laboratorium dan atau seorang petugas pengambil darah yang berlatar belakang perawat.

5. Seorang dokter yang bertanggungjawab secara medis dalam penyelenggaraan layanan VCT.

6. Petugas administrasi untuk data entry yang sudah mengenal ruang lingkup pelayanan VCT.

7. Petugas jasa kantor atau pekarya kantor.

8. Petugas keamanan yang sudah mengenal ruang lingkup pelayanan VCT. 9. Tenaga lain sesuai kebutuhan, misalnya relawan.

Semua petugas layanan VCT bertanggung jawab atas konfidensialitas klien. klien akan menandatangani dokumen konfidensialitas terlebih dahulu yang memuat perlindungan dan kerahasiaan klien. Pendokumentasian data harus dipersiapkan secara tepat dan cepat agar memudahkan dalam pelayanan dan rujukan.

2.6.1. Tahapan dalam layanan VCT 1. Konseling Pra Testing

(40)

keseimbangan antara pemberian informasi, penilaian risiko dan merespons kebutuhan emosi klien (Depkes RI, 2006).

2. Testing HIV dalam VCT

Prinsip Testing HIV adalah sukarela dan terjaga kerahasiaanya. Testing dimaksud untuk menegakkan diagnosis. Terdapat serangkaian testing yang berbeda-beda karena perberbeda-bedaan prinsip metoda yang digunakan. Testing yang digunakan adalah testing serologis untuk mendeteksi antibodi HIV dalam serum atau plasma. Spesimen adalah darah klien yang diambil secara intravena, plasma atau serumnya. Penggunaan metode testing cepat (rapid testing) memungkinkan klien mendapatkan hasil testing pada hari yang sama. Tujuan testing HIV ada 4 yaitu untuk membantu menegakkan diagnosis, pengamanan darah donor (skrining), untuk surveilans, dan untuk penelitian. Hasil testing yang disampaikan kepada klien adalah benar milik klien.

3. Konseling Pasca Testing

Konseling pasca testing membantu klien memahami dan menyesuaikan diri dengan hasil testing. Konselor mempersiapkan klien untuk menerima hasil testing, memberikan hasil testing, dan menyediakan informasi selanjutnya. Konselor mengajak klien mendiskusikan strategi untuk menurunkan penularan HIV. Kunci utama dalam menyampaikan hasil testing (Depkes RI, 2006).

(41)

- Sampaikan hasil hanya kepada klien secara tatap muka. - Berhati-hatilah dalam memanggil klien dari ruang tunggu.

- Seorang konselor tak diperkenankan memberikan hasil pada klien atau lainnya secara verbal dan non verbal selagi berada di ruang tunggu.

(42)

2.6.2. Model Tahapan VCT

Kerangka model dibawah ini adalah prosedur kunci penyediaan layanan VCT : Model Standar Emas (Pra Test-Test-Pasca Test)

Gejala atau kecemasan yang membawa seseorang memutuskan untuk tes status HIV

Konseling pra-test mencakup penilaian kondisi perilaku berisiko dan kondisi psikososial dan penyediaan informasi faktual tertulis maupun

Penundaan pengambilan darah

Beri waktu berpikir

HIV negatif

Mendorong mengubah perilaku ke arah positif, hilangkan yang negatif. Katakan meski situasinya masih berisiko rendah tetap harus merawat diri untuk menghindari infeksi dan kemungkinan penularan

HIV Positif

Sampaikan beri hati, menilai kemampuan mengelola berita hasil, sediakan waktu untuk diskusi, bantu agar adaptasi dengan situasi dan buat rencana tepat dan rasional

Berikan konseling berkelanjuta dengan hati –hati termasuk untuk mengurangi penularan; motivasi untuk menurunkan risiko penularan;jika dibutuhkan kenali sumber dukungan lain, termasuk layanan medik RS,Perawatan rumah

Pengambilan darah

Berikan konseling berkelanjutan yang melibat Sertakan keluarga dan teman; gerakkan dukungan keluarga dan masyarakat; cari dukungan lainnya; tumbuhkan perilaku bertanggung jawab

(43)

2.7. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi kerangka konsep adalah :

Variabel bebas Variabel terikat

Gambar 2.1. Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka konsep penelitian di atas dapat dijelaskan defenisis dari konsep yaitu :

1. Pengetahuan tentang penyakit AIDS sebagai variabel bebas (independent) adalah hasil tahu penderita HIV/AIDS tentang penyakit AIDS.

2. Persepsi tentang Penyakit AIDS sebagai variabel bebas (independent) adalah pandangan atau penilaian penderita HIV/AIDS tentang penyakit AIDS.

3. Persepsi tentang klinik VCT sebagai variabel bebas (independent) adalah pandangan atau penilaian penderita HIV/AIDS tentang klinik VCT.

4. Tingkat pemanfaatan klinik VCT sebagai variabel terikat (dependent) adalah jumlah kunjungan penderita HIV/AIDS ke klinik VCT dalam satu tahun terakhir. - Pengetahuan tentang penyakit

AIDS

- Persepsi tentang penyakit AIDS - Persepsi tentang klinik VCT

(44)

2.8. Hipotesis Penelitian

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah menggunakan tipe explanatory yang bertujuan menjelaskan pengaruh pengetahuan dan persepsi penderita HIV/AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tentang penyakit AIDS dan klinik VCT terhadap tingkat pemanfaatan klinik VCT Tahun 2010 (Singarimbun, 1995).

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang dengan alasan persentase jumlah kasus dibanding jumlah penduduknya sangat besar.

3.2.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilakukan pada Februari-Maret Tahun 2011.

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

(46)

3.3.2. Sampel

Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat ditentukan dengan rumus (Notoatmodjo, 2003) :

n =

Keterangan : n : Besar sampel N : Besar populasi

d :tingkat kepercayaan (0,05)

n =

n =

n =

n = 53,7 = 54

Jadi, sampel yang diperlukan dalam penelitian ini ada sebanyak 54 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara simple random sampling.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan (2) dua sumber data yaitu :

(47)

2. Data sekunder diperoleh dari laporan petugas klinik VCT Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010 dan laporan dari pihak LSM.

3.5. Definisi Operasional

3.5.1. Variabel Bebas (Independent)

Variabel bebas (independent) yaitu pengetahuan dan persepsi (pandangan atau penilaian) responden yang meliputi penyakit AIDS dan klinik VCT dengan definisi sebagai berikut :

1. Pengetahuan tentang penyakit AIDS yaitu hasil tahu responden mengenai penyakit AIDS yang meliputi pengertian, gejala, cara penularan, perilaku berisiko, penyakit oportunitis dan pengobatannya.

- Pengetahuan baik, apabila responden memahami tentang penyakit AIDS yang meliputi pengertian, gejala, cara penularan, perilaku berisiko, penyakit oportunitis dan pengobatannya.

- Pengetahuan kurang baik, apabila responden kurang memahami tentang penyakit AIDS yang meliputi pengertian, gejala, cara penularan, perilaku berisiko, penyakit oportunitis dan pengobatannya.

- Pengetahuan tidak baik, apabila responden tidak memahami tentang penyakit AIDS yang meliputi pengertian, gejala, cara penularan, perilaku berisiko, penyakit oportunitis dan pengobatannya.

(48)

- Persepsi baik, apabila pandangan/penilaian responden terhadap penyakit AIDS sudah baik.

- Persepsi sedang, apabila pandangan/penilaian responden terhadap penyakit AIDS cukup baik.

- Persepsi buruk, apabila pandangan/penilaian responden terhadap penyakit AIDS kurang baik.

3. Persepsi tentang klinik VCT yaitu pandangan atau penilaian responden mengenai klinik VCT yang meliputi pengetahuan, pra tes, tes, pasca tes dan fasilitas.

- Persepsi baik, apabila pandangan/penilaian responden tentang klinik VCT sudah baik yang meliputi pengetahuan, pra tes, tes, pasca tes dan fasilitas. - Persepsi sedang, apabila pandangan/penilaian responden terhadap pra tes

cukup baik yang meliputi pengetahuan, pra tes, tes, pasca tes dan fasilitas. - Persepsi buruk, apabila pandangan/penilaian responden terhadap pra tes

kurang baik yang meliputi pengetahuan, pra tes, tes, pasca tes dan fasilitas.

3.5.2. Variabel Terikat (Dependent)

Variabel terikat (dependent) yaitu tingkat pemanfaatan klinik VCT yakni jumlah kunjungan responden dalam satu tahun terakhir.

3.6. Aspek Pengukuran

3.6.1. Variabel Bebas (Independent)

(49)

pernyataan (indikator). Indikator dibagi dalam beberapa tingkatan dan diberi skor/nilai, dimana pengukurannya dapat dilihat pada tabel 3.1. sebagai berikut :

Tabel 3.1. Aspek Pengukuran Variabel Bebas N

o

Nama variabel Jumlah indika-tor 2 Persepsi tentang

penyakit AIDS 3 Persepsi tentang

klinik VCT

29 Baik 66-84 Interval

Sedang 48-65 Buruk 29-47 3.6.2. Variabel Terikat (Dependent)

Variabel terikat (dependent) yaitu tingkat pemanfaatan klinik VCT yakni jumlah kunjungan responden pada satu tahun terakhir. Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan klinik VCT digunakan skala interval dengan penilaian :

Tabel 3.2. Aspek Pengukuran Variabel Terikat N

o

(50)

3.7.Teknik Analisis Data

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis regresi linier pada α= 0,05, dengan alasan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel bebas (pengetahuan dan persepsi penderita HIV/AIDS tentang penyakit AIDS dan klinik VCT) dan variabel terikat (tingkat pemanfaatan klinik VCT ).

Uji regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Adapun tujuannya untuk menemukan model regresi yang paling sesuai menggambarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan variabel terikat. Rumus regresi linier berganda (Sarwono, 2006) :

Y = a +b1X1+b2X2 + b3X3 Keterangan :

Y = Variabel terikat X = Variabel bebas a = Konstanta

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Puskesmas Tanjung Morawa 4.1.1. Keadaan Geografi

Kecamatan Tanjung Morawa yang terdiri dari 16 desa memiliki jumlah penduduk sebanyak 106902 jiwa. Dengan luas wilayah 80,73 km2, yang kepadatan penduduknya pada tahun 2009 sebesar 241,800 Jiwa/km2. Puskesmas Tanjung Morawa didirikan sejak tahun 1968, yang terletak di jalan Irian daerah Tanjung Morawa – Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang dengan luas tanah Puskesmas 450 m dengan batas wilayah sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Puskesmas Dalu X - Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatam STM Hilir - Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Patumbak

- Sebelah Timur berbatasan dengan kecamtan Galang, kecamatan Merbau, kecamatan Lubuk Pakam.

(52)

Tabel 4.1. Desa ,luas, banyak dusun, jarak ke Puskesmas induk Tahun 2009

Dalam rangka memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum, diwilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa terdapat 4 PUSTU, 7 POLINDES, 2 POSKESDES, 76 POSYANDU yang semuanya berada di 16 desa di Kecamatan Tanjung Morawa dan Puskesmas Tanjung Morawa didukung oleh 101 orang tenaga kesehatan yaitu 56 orang berada di Puskesmas Tanjung Morawa, 35 orang tersebar di empat PUSTU dan 10 orang Bidan Desa.

Tabel 4.2. Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tanjung Morawa

No. Keterangan Jumlah

1. Dokter umum 3 orang

2. Dokter spesialis kandungan 1 orang

(53)

Puskesmas Tanjung Morawa saat ini telah memiliki laboratorium untuk pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan urine rutin, pemeriksaan feces rutin, pemeriksaan fungsi hati, pemeriksaan fungsi ginjal, pemeriksaan lipid profile, pemeriksaan glukosa darah, pemeriksaan serologi, dan pemeriksaan bakteriologi. Laboratorium ini merupakan sarana pelengkap dan penunjang yang banyak membantu dalam kegiatan pelayanan yang ada di Puskesmas Tanjung Morawa setiap harinya.

4.1.2. Gambaran Demografi

Pada tahun 2009 wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa memiliki 106902 orang penduduk, yang berjenis kelamin laki – laki sebanyak 53211 dan 53691 orang penduduk yang berjenis kelamin perempuan.

4.1.3. Klinik VCT Puskesmas Tanjung Morawa

(54)

Klinik VCT Puskesmas Tanjung Morawa ini resmi berdiri pada tahun 2008, namun sejak Tahun 2006, petugas kesehatan di Puskesmas ini telah melaksanakan sosialisasi HIV/AIDS kepada masyarakat dan memobilisasi masyarakat untuk memeriksakan dirinya ke Klinik VCT RSUD Deli Serdang. Hal ini dilakukan sebagai wujud dari rasa kepedulian petugas terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) Orang Dengan HIV/AIDS di Tanjung Morawa setelah petugas mengikuti pelatihan di Bogor Tahun 2006.

4.2. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari variabel independen dan dependen dalam penelitian yang meliputi : persepsi tentang HIV/AIDS, persepsi tentang klinik VCT dan fasilitas klinik VCT serta tingkat pemanfaatan klinik VCT.

4.2.1. Distribusi Responden berdasarkan Umur Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

No Umur responden f Persentase (%)

1 Dewasa Muda (21-40 tahun) 52 96,3

2 Dewasa Madya (41-60 tahun) (Gunarsa, 1999)

2 3,7

Jumlah 54 100

(55)

4.2.2. Distribusi Responden berdasarkan jenis kelamin Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan jenis kelamin

No Jenis Kelamin f Persentase (%)

1 Laki-laki 44 81,5

2 Perempuan 10 18,5

Jumlah 54 100

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 54 responden,44 orang (81,5%) adalah laki-laki dan 10 orang (18,5%) adalah perempuan.

4.2.3. Distribusi Tingkat Pendidikan Responden

Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Tingkat pendidikan f Persentase (%)

1 SLTP 9 16,6

2 SLTA 44 81,5

3 D3/S1 1 1,9

Jumlah 54 100

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui distribusi tingkat pendidikan responden bahwa ada sebanyak 44 orang (81,5%) yang tamat SLTA, 9 orang ( 16,7%) tamat SLTP dan hanya 1orang(1,9%) yang tamat D3/S1.

4.2.4. Distribusi Asal Informasi Seputar HIV/AIDS Pertama Sekali Didengar Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Asal Informasi Seputar

HIV/AIDS Pertama Sekali Didengar

No Asal informasi f Persentase (%)

1 Teman 27 50,0

2 Saudara 6 11,1

3 Keluarga 4 7,4

4 Petugas kesehatan 13 24,1

5 Media massa ( TV, radio,buku dll) 4 7,4

Jumlah 54 100

(56)

sebanyak 27 orang (50%) sementara yang mendengar dari petugas kesehatan ada sebanyak 13 orang (24,1%).

4.2.5. Distribusi Kejelasan Informasi Yang Diberikan

Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Kejelasan Informasi Yang Diberikan

No Kejelasan informasi f Persentase (%)

1 Jelas 32 59,3

2 Kurang jelas 22 40,7

Jumlah 54 100

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari segi kejelasan informasi yang didengar oleh responden ada sebanyak 32 orang (59,3%) dan sebanyak 22 orang (40,7%).

4.2.6. Distribusi Bagaimana Cara Penyampaian Si Pemberi Informasi

Tabel 4.8. Distribusi Responden Berdasarkan Cara Penyampaian Si Pemberi Informasi

No Cara penyampaian pemberi informasi f Persentase (%)

1 Baik 41 75,9

2 Kurang baik 13 24,1

Jumlah 54 100

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 54 responden ada 41 orang (75,9%) yang menyatakan cara penyampaian pemberi informasi adalah baik.

4.2.7. Deskripsi Pengetahuan Responden Tentang Penyakit HIV/AIDS

(57)

Aquired Immune Deficiency Syndrome. Berdasarkan pengetahuan tentang pengertian

HIV ada sebanyak 48 orang (88,9%) yang menjawab virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan akan menimbulkan AIDS. Berdasarkan pengetahuan tentang media virus HIV ada sebanyak 52 orang (96,3%) yang menjawab darah,cairan vagina, air mani. Berdasarkan pengetahuan tentang infeksi oportunistik HIV ada sebanyak 52 orang (96,3%) yang menjawab Tb, radang kulit,radang jamur di mulut. Berdasarkan pengetahuan responden tentang masa inkubasi HIV yaitu ada sebanyak 29 orang (53,7%) yang menjawab 5-10 tahun, 24 orang (44,4%) yang menjawab 1-5 tahun. Berdasarkan pengetahuan responden tentang gejala-gejala tubuh yang terinfeksi HIV yaitu ada sebanyak 50 orang (92,6%) yang menjawab penurunan berat badan >10% dalam waktu singkat, demam selama 1 bulan lebih, diare kronik 1 bulan lebih, batuk 1 bulan lebih.

(58)

peningkatan kesehatan secara umum dan pengobatan ARV. Secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4.9.

Tabel 4.9. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Responden Tentang Penyakit HIV/AIDS

No Pertanyaan f Persentase (%)

1.

HIV merupakan singkatan dari apa? a. Human Immunodeficiency Virus b. Human Immuno Virus

c. tidak tahu

2. AIDS merupakan singkatan dari apa? a. Aquired Immune Deficiency Syndrome b. Aquired Immune Deficiency System c. tidak tahu

3. Yang dimaksud dengan HIV?

a. virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia dan akan menimbulkan AIDS b. virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia

a. darah,cairan vagina, air mani b. darah

5. Ketika tubuh terserang HIV maka tubuh akan rentan terkena penyakit lainnya,yaitu….. a. tb, radang kulit,radang jamur di mulut b. tb

6. HIV membutuhkan waktu berapa lama hingga menunjukkan gejala-gejalanya?

7. Yang menjadi gejala-gejala ketika tubuh sudah terinfeksi HIV adalah..

(59)

singkat, demam selama 1 bulan lebih, diare kronik 1 bulan lebih, batuk 1 bulan lebih b. demam, diare

8. HIV dapat menular melalui..

a. hubungan seks yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfuse darah b. hubungan seks yang tidak aman,

penggunaan jarum suntik secara bergantian c.tidak tahu

9. Penularan HIV dapat dicegah melalui.. a. menjauhi hubungan seks yang tidak aman, penggunaan jarumsuntik secara bergantian, transfuse darah yang steril

b. menjauhi hubungan seks yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian c. tidak tahu

10. Kelompok orang yang termasuk dalam risiko tinggi tertular HIV adalah…

a. wanita pekerja seks dan pelanggannya, waria dan pelanggannya, pengguna jarum suntik b. wanita pekerja seks dan pelanggannya,waria dan pelanggannya

11. Pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penderita HIV adalah

a. pengobatan terhadap infeksi oportunistik, pengobatan terhadap peningkatan kesehatan secara umum dan pengobatan ARV

b. pengobatan untuk peningkatan kesehatan secara umum dan pengobatan ARV

c. tidak tahu

(60)

(96,3%) yang memiliki pengetahuan yang baik sedangkan yang kategori sedang ada sebanyak 2 orang (3,7%). Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10. Distribusi Kategori Variabel Pengetahuan Responden tentang Penyakit AIDS

No Kategori pengetahuan f Persentase (%)

1 Sedang 2 3,7

2 Baik 52 96,3

Jumlah 54 100

4.2.8. Deskripsi Persepsi Responden Terhadap Penyakit AIDS

(61)

Tabel 4.11. Distribusi Kategori Variabel Persepsi Responden tentang Penyakit AIDS

No Persepsi responden terhadap penyakit AIDS

F Persentase (%)

1 AIDS merupakan penyakit yang

mematikan dan menimbulkan rasa malu a. setuju

2 AIDS membuat nafsu makan hilang a. setuju

3 Penderita AIDS akan dijauhi keluarga a. setuju

4 Penderita AIDS akan dikucilkan oleh teman-teman

5 Penderita AIDS akan dicemooh

masyarakat

(62)

Tabel 4.12. Distribusi Kategori Variabel Persepsi Responden Terhadap Penyakit AIDS

No Kategori persepsi terhadap penyakit AIDS

f Persentase (%)

1 Buruk 39 72,2

2 Sedang 10 18,5

3 Baik 5 9,3

Jumlah 54 100

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar responden melakukan pemeriksaan HIV/AIDS di Puskesmas Tanjung Morawa yakni sebanyak 39 orang (72,2%). Secara rinci dapat dilihat pada tabel 4.13.

Tabel 4.13. Distribusi Responden Berdasarkan klinik VCT yang dikunjungi No Klinik VCT f Persentase (%)

1 Puskesmas Tanjung Morawa 39 72,2

2 Rumah Sakit Umum Lubuk Pakam 12 22,2

3 Lainnya (RSUP Adam Malik, Pusat

Rehabilitasi) 3 5,6

Jumlah 54 100

4.2.9. Deskripsi Persepsi Responden Tentang Klinik VCT 4.2.9.1. Deskripsi Pengetahuan Responden Tentang Klinik VCT

(63)

Tabel 4.14. Distribusi Kategori Variabel Pengetahuan tentang Klinik VCT No Pengetahuan responden tentang

klinik VCT

f Persentase (%) 1 Yang diketahui tentang klinik VCT

a. Tahu

2 Yang menjadi kegunaan klinik VCT adalah

3 Kegiatan yang dilakukan dalam klinik VCT

4 Orang-orang yang seharusnya

memanfaatkan klinik VCT adalah a. Tahu

Variabel persepsi responden terhadap penyakit AIDS dibagi atas 3 kategori yaitu buruk, sedang dan baik. Berdasarkan persepsi responden terhadap penyakit AIDS dapat diketahui bahwa 48 orang (88,9% ) berada dalam kategori buruk, 4 orang (7,4%) dalam kategori sedang dan yang kategori baik hanya ada sebanyak 2 orang (3,7%). Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.15.

Tabel 4.15. Distribusi Kategori Variabel Pengetahuan tentang Klinik VCT No kategori pengetahuan tentang klinik

(64)

4.2.9.2. Deskripsi Persepsi Responden Terhadap Pra tes

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi tentang informasi yang diberikan konselor sebelum testing ada sebanyak 32 orang (59,2%) yang menyatakan baik. Distribusi frekuensi tentang informasi yang diberikan konselor seputar prosedur tes ada sebanyak 44 orang (81,5%) yang menyatakan baik. Distribusi frekuensi responden tentang informasi yang diberikan konselor seputar pengelolaan diri dalam menghadapi tes ada 25 orang (46,3%) yang menyatakan kurang baik.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui distribusi frekuensi tentang penjelasan yang diberikan konselor dalam menjalani hidup di masa depan yaitu sebanyak 37 orang (68,5%) yang menyatakan baik. Distribusi frekuensi tentang persepsi terhadap penguatan yang diberika konselor atas keputusan yang diambil yaitu sebanyak 42 orang (77,8%) yang menyatakan baik. Distribusi frekuensi persepsi tentang konseling yang diberikan konselor tentang seks yang aman yaitu sebanyak 45 orang (83,3%) yang menyatakan baik. Demikian pula dengan distribusi frekuensi persepsi responden tentang pemberian informed consent.

(65)

yang menyatakan kurang baik. Distribusi frekuensi persepsi responden tentang konsistensi konselor menjaga kerahasiaan status klien yaitu sebanyak 45 orang (83,3%) menyatakan baik. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 4.15.

Tabel 4.16. Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Pra Tes

No Persepsi responden terhadap Pra Tes F Persentase (%) 1 Bagaimana informasi yang diberikan

Konselor sebelum testing

2 Bagaimana informasi yang diberikan Konselor seputar prosedur tes

a. baik

3 Bagaimana informasi yang diberikan konselor seputar pengelolaan diri dalam menghadapi tes

4 Bagaimana penjelasan Konselor tentang cara bagaimana menghadapi hidup di masa yang akan datang

5 Bagaimana penguatan yang diberikan oleh konselor untuk keputusan yang anda ambil? Tes atau tidak

6 Bagaimana informasi yang diberikan Konselor tentang seks yang aman

Figur

Tabel 3.1. Aspek Pengukuran Variabel Bebas
Tabel 3 1 Aspek Pengukuran Variabel Bebas . View in document p.49
Tabel 4.1. Desa ,luas, banyak dusun, jarak ke Puskesmas induk Tahun 2009 No Desa Luas (km2) Banyak Jarak ke Pusk
Tabel 4 1 Desa luas banyak dusun jarak ke Puskesmas induk Tahun 2009 No Desa Luas km2 Banyak Jarak ke Pusk. View in document p.52
Tabel 4.2. No.
Tabel 4 2 No . View in document p.52
Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Umur No Umur responden                               f
Tabel 4 3 Distribusi Responden Berdasarkan Umur No Umur responden f . View in document p.54
Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan jenis kelamin No Jenis Kelamin                         f
Tabel 4 4 Distribusi Responden Berdasarkan jenis kelamin No Jenis Kelamin f . View in document p.55
Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan  No Tingkat pendidikan                f                Persentase (%)
Tabel 4 5 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan No Tingkat pendidikan f Persentase . View in document p.55
Tabel 4.6.  Distribusi Responden Berdasarkan HIV/AIDS Pertama Sekali Didengar Asal informasi
Tabel 4 6 Distribusi Responden Berdasarkan HIV AIDS Pertama Sekali Didengar Asal informasi . View in document p.55
Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Kejelasan Informasi Yang    Diberikan
Tabel 4 7 Distribusi Responden Berdasarkan Kejelasan Informasi Yang Diberikan . View in document p.56
Tabel 4.8. Distribusi Responden Berdasarkan Cara Penyampaian Si Pemberi Informasi Cara penyampaian pemberi informasi
Tabel 4 8 Distribusi Responden Berdasarkan Cara Penyampaian Si Pemberi Informasi Cara penyampaian pemberi informasi . View in document p.56
Tabel 4.9. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Responden Tentang Penyakit HIV/AIDS
Tabel 4 9 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Responden Tentang Penyakit HIV AIDS . View in document p.58
Tabel 4.11. Distribusi Kategori  Variabel Persepsi Responden  tentang Penyakit AIDS
Tabel 4 11 Distribusi Kategori Variabel Persepsi Responden tentang Penyakit AIDS . View in document p.61
Tabel 4.12. Distribusi Kategori  Variabel Persepsi Responden Terhadap Penyakit AIDS
Tabel 4 12 Distribusi Kategori Variabel Persepsi Responden Terhadap Penyakit AIDS . View in document p.62
Tabel 4.14. Distribusi Kategori  Variabel Pengetahuan tentang Klinik VCT No Pengetahuan responden tentang              f     Persentase (%)
Tabel 4 14 Distribusi Kategori Variabel Pengetahuan tentang Klinik VCT No Pengetahuan responden tentang f Persentase . View in document p.63
Tabel 4.16. Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Pra Tes No Persepsi responden terhadap Pra Tes        F      Persentase (%)
Tabel 4 16 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Pra Tes No Persepsi responden terhadap Pra Tes F Persentase . View in document p.65
Tabel 4.18. Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Tes No Persepsi responden terhadap Tes                  f Persentase (%)
Tabel 4 18 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Tes No Persepsi responden terhadap Tes f Persentase . View in document p.67
Tabel 4.17. Distribusi Kategori  Variabel Persepsi Terhadap Pra Tes No Kategori persepsi terhadap pra tes       f Persentase (%)
Tabel 4 17 Distribusi Kategori Variabel Persepsi Terhadap Pra Tes No Kategori persepsi terhadap pra tes f Persentase . View in document p.67
Tabel 4.19. Distribusi Kategori  Variabel Persepsi Terhadap Tes No Kategori persepsi Terhadap  Tes             f
Tabel 4 19 Distribusi Kategori Variabel Persepsi Terhadap Tes No Kategori persepsi Terhadap Tes f . View in document p.68
Tabel 4.20. Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Pasca Tes No  Persepsi Terhadap Pasca Tes                     f Persentase (%)
Tabel 4 20 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Pasca Tes No Persepsi Terhadap Pasca Tes f Persentase . View in document p.69
Tabel 4.21. Distribusi Kategori  Variabel Persepsi Terhadap pasca tes No kategori persepsi Terhadap Pasca Tes  F Persentase (%)
Tabel 4 21 Distribusi Kategori Variabel Persepsi Terhadap pasca tes No kategori persepsi Terhadap Pasca Tes F Persentase . View in document p.70
Tabel 4.23. Distribusi Kategori  Variabel Persepsi Terhadap fasilitas klinik VCT No kategori persepsi Terhadap fasilitas             f Persentase (%)
Tabel 4 23 Distribusi Kategori Variabel Persepsi Terhadap fasilitas klinik VCT No kategori persepsi Terhadap fasilitas f Persentase . View in document p.71
Tabel 4.22. Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Fasilitas  Klinik VCT  Persepsi terhadap Fasilitas  klinik VCT
Tabel 4 22 Distribusi Frekuensi Persepsi Responden Terhadap Fasilitas Klinik VCT Persepsi terhadap Fasilitas klinik VCT . View in document p.71
Tabel 4.24. Distribusi Frekuensi Tingkat Pemanfaatan Klinik VCT No Jumlah kunjungan penderita ke klinik             f Persentase (%)
Tabel 4 24 Distribusi Frekuensi Tingkat Pemanfaatan Klinik VCT No Jumlah kunjungan penderita ke klinik f Persentase . View in document p.72
Tabel 4.25. Hasil uji Statistik Korelasi Pearson No Variabel
Tabel 4 25 Hasil uji Statistik Korelasi Pearson No Variabel . View in document p.73
Tabel 4.26. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda  NVariable  Taraf B
Tabel 4 26 Hasil Analisis Regresi Linier Berganda NVariable Taraf B . View in document p.75

Referensi

Memperbarui...