Skripsi
DiajukanKepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam(S.Pd.I)
Oleh :
Wiwi Sawiyah Pebriyanti
NIM : 109011000230
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
i Nim :109011000230
Judul : Pengembangan Pendidikan Islam Nonformal (Studi Atas Peran Pemuda di Desa Mekarsari)
Peranan dalam pengembangan pendidikan Islam amatlah penting dalam usaha mencetak peserta didik yang kamil (sempurna), baik itu kamil dalam hubungannya dengan manusia, maupun hubungannya dengan Allah SWT, Sang Khalik, maka dari itu para pemuda TPA Al-Hidayah memilih untuk mendirikan pendidikan Islam nonformal yakni sebuah TPA yang bisa diikuti oleh anak dari umur prasekolah sampai usia sekolah menengah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan Pemuda TPA Al-Hidayah dalam mengembangkan pendidikan Islam Nonformal (TPA) dan menggambarkan bentuk peranan yang dilakukan oleh para pemuda tersebut.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan menggambarkan sesuatu hal seperti keadaan, kondisi, situasi, peristiwa, kegiatan yang dilakukan oleh Pemuda TPA Al-Hidayah dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan Islam Nonformal.
Dalam penelitian ini, peranan pemuda yang diteliti adalah aktivitas pemuda di bidang pendidikan seperti penyampaian materi berupa baca iqra, tajwid dan materi umum yang diajarkan dalam TPA serta peran pemuda sebagai penggerak dalam kegiatan yang telah dan akan dilakukan oleh para pemuda guna mengembangkan pendidikan Islam nonformal tersebut. Proses analisa data, berasal dari telaah data yang didapat dari wawancara, observasi dan dokumentasi yang berada di lapangan penelitian, kemudian data dicatat, dipelajari dan dideskripsikan sebagai suatu hasil kesimpulan.
ii
seluruh alam raya, yang atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penulis mampu menyelesaikan tugas skripsi ini.
Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan umat manusia, Muhammad SAW, Rasulullah yang telah berhasil mengemban misi tugas-tugas mulia.
Pada kesempatan kali ini, penulis berhasil meneliti tugas skripsi yang diberi
judul “PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM NONFORMAL (STUDI ATAS PERAN PEMUDA DI DESA MEKARSARI)”.
Tugas skripsi ini dikerjakan dan diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Syarif Hidayatullah. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini bukanlah tujuan akhir dari belajar, karena belajar adalah sesuatu yang tidak terbatas.
Terselesaikannya skripsi ini tentunya tak lepas dari dorongan dan uluran tangan berbagai pihak. Oleh karena itu, tak salah kiranya bila penulis mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA Dekan FITK, yang telah membantu dalam memudahkan penulis dalam menyelesaikan tugas proses akademik.
2. Dr. Abdul Majid Khon, MA dan Marhamah Shaleh, Lc, MA, Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam. Kepada beliau yang sudah membantu penulis dalam menyelesaikan proses tugas akademik.
iii
nasehat dan dorongan dalam membimbing proses akademik hingga penulis mampu menyelesaikan seluruh tugas akademik.
5. Ayahanda Nahrawi dan ibunda Ismawati, serta seluruh keluarga besar penulis, yang selalu memberikan motivasi kepada penulis, hingga terselesaikan penulisan skripsi ini.
6. Rachmad Dunggio, pendiri TPA Al-Hidayah, dengan keikhlasan dan dukungan beliau yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian di TPA Al-Hidayah serta para pemuda dan siswi-siswi TPA Al-Hidayah yang juga membantu dalam memberikan informasi dan dukungan, penulis mampu menyelesaikan penelitian ini dengan baik.
7. Kepada para astatidz dan guru-guru di pesantren DaarutTafsirsertapara Alumni pesantrenangkatan 2009 yang telah memberikan dukungan kepada penulis hingga terselesaikan penelitian ini.
8. Kepada para rekan seperjuangan mahasiswi PAI angkatan 2009 khususnya kelas F, yang selalu mendukung dan berbagi waktu bersama guna berbagi nasihat dalam penyusunanskripsi.
9. Semua pihak yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan prosesi skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan ketulusan semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini dengan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya.
Semoga karya penelitian tugas akhir ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi banyak pihak demi kemaslahatan bersama serta bernilai ibadah di hadapan Allah SWT. Amiin.
Jakarta, 13Maret2015
iv
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Permasalahan Penelitian... 10
1. IdentifikasiMasalah ... 10
2. Pembatasan Masalah ... 10
3. PerumusanMasalah ... 10
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
1.Tujuan Penelitian... 10
2.Manfaat Penelitian... 10
BAB II KAJIAN TEORI ... 12
A. Pendidikan Islam Nonformal dalam Pengembangan Masyarakat . 12 1. Pendidikan Nonformal ... 12
a. Pengertian dan Batasan Pendidikan Nonformal ... 12
b. Pendidikan Islam Nonformal ... 19
c. TPA sebagai Pendidikan Nonformal ... 21
2. Pengembangan Masyarakat melalui Pendidikan ... 23
a. Konsep Pengembangan Masyarakat ... 24
b. Konsep Pengembangan Masyarakat Islam ... 24
B. Peran Pemuda dalam Pengembangan Masyarakat ... 25
1. PengertianPemuda ... 25
2. PeranPemudadalamPendidikan ... 27
C. HasilPenelitian yang Relevan ... 29
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 31
v
B. Setting Penelitian ... 32
C. TeknikPengumpulan Data ... 33
D. Telaah Analisis Data ... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 37
A. Gambaran Umum TPA Al-Hidayah... 37
1. Sejarah Berdirinya ... 37
2. Keadaan Guru ... 42
3. Siswa-siswi ... 44
4. Sarana dan Prasarana... 46
5. Program-program TPA Al-Hidayah ... 47
6. Kegiatan Belajar Mengajar ... 48
B. Peranan Pemuda ... 49
1. Pemuda sebagai Pengajar ... 49
2. Pemuda di bidang sosial keagamaan ... 57
C.Analisis Hasil temuan lapangan ... 61
BAB V PENUTUP ... 65
A. Kesimpulan ... 65
B. Saran ... 66
vi
KembangkanolehPemuda Tabel 4.2 : Daftar Guru TPA Al-Hidayah Tabel 4.3 : Daftar JumlahSiswi
Tabel 4.4 : Daftar SaranadanPrasarana
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran1 : WawancaradenganPendiri TPA Al-Hidayah Lampiran 2 : KegiatanBelajarMengajar
Lampiran 3 : KegiatanPenunjang KBM
Lampiran 4 : KegiatanSyiarRamadhandanSyiarKurma Lampiran 5 : KegiatanSyiarQurban
Lampiran 6 : KegiatanSyiarKhitan
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi dan informasi dalam era globalisasi sedang membawa pengaruh perubahan yang signifikan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang. Pengaruh yang baik atau positif tentu membawa manfaat bagi kemaslahatan umat. Jika ada positif tentu ada negatif, dan biasanya pengaruh negatif lebih cepat menular.
Salah satu sebab dari sekian banyaknya permasalahan dalam pendidikan sudah terasa meresahkan para pendidik maupun orang tua. Khususnya pendidik yang sudah di titipkan oleh orang tua bahkan seluruh lapisan masyarakat yang dituntut untuk dapat melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya mengusai teknologi tetapi juga menjadikan manusia yang beriman dan berakhlak baik. Sebagaimana dirumuskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 BAB II Pasal 3 sebagai berikut:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga Negara yan demokratis serta bertanggung jawab.1
2
Dari tujuan pendidikan nasional tersebut dapat dipahami bahwa iman dan taqwa dijadikan dasar pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Proses pendidikanpun di arahkan pada nilai-nilai ajaran Islam serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada umumnya seluruh usaha pembangunan nasional mengalami akibat krisis pendidikan, namun yang menjadi korban utama ialah daerah pedesaan. Alasannya ialah tiga macam : Pertama, karena daerah perkotaan yang lebih banyak menerima jatah dari sumber daya yang serba langka. Kedua, ketidak-sesuaian di antara apa yang dipelajari di sekolah dan apa yang sebenarnya perlu di pelajari, lebih menyolok di daerah pedesaan. Ketiga, kebijaksanaan dalam bidang pendidikan memandang pendidikan terutama sebagai persekolahan formal, dan karena itu maka kebutuhan pengajaran baik yang penting bagi kaum remaja maupun bagi penduduk dewasa di luar sekolah, yang merupakan mayoritas dari penduduk di daerah pedesaan di abaikan sama sekali.2
Bila kita teliti mulai dari masyarakat dan kebudayaan yang sederhana, maka lembaga-lembaga pendidikan itu meliputi :
(1) Keluarga atau rumah tangga atau orang tua, sebagaimana wujud kehidupan sosial yang asasi; sebagai unit kehidupan bersama manusia yang terkecil. Keluarga, adalah lembaga kehidupan yang asasi dan alamiah, yang pasti secara alamiah dialami oleh kehidupan seorang manusia.
(2) Masyarakat, yakni lingkungan sosial yang ada di sekitar keluarga itu : kampung, desa, marga ataupun pulau.
Kedua bentuk lembaga tersebut kemudian mengalami perkembangan sesuai dengan kemajuan kebudayaan menusia. Kemudian kita mengenal susunan atau struktur kelembagaan seperti yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan modern dewasa ini. Pada akhirnya masyarakat yang lebih maju mempunyai tata susunan kelembagaan yang lebih rumit (kompleks). Karena masyarakat dan kebudayaan yang lebih
maju itu mengadakan pembagian tugas atau tanggungjawab fungsi-fungsi kehidupan.
Melalui pembagian tugas atau tanggungjawab fungsi kehidupan,
“perkembangan dari suatu keluarga dan masyarakat telah tercipta
subsistem. Subsistem ini ialah lembaga pendidikan yang dikenal sebagai sekolah ( TK, SD, SLTP, SLTA dan PT ) sebagai lembaga pendidikan formal”.3 Perbedaan dari formal, informal dan nonformal berada pada penekanan kegiatan yang sistematik. Pada formal ada tingkatan yang di mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Long Life education untuk informal dan pelayanan pendidikan sesuai tujuan belajar pada nonformal.
Dengan demikian, pendekatan pendidikan berbasis masyarakat adalah salah satu pendekatan yang menganggap masyarakat sebagai agen sekaligus tujuan, melihat pendidikan sebagai proses dan menganggap masyarakat sebagai fasilitator yang dapat menyebabkan perubahan menjadi lebih baik. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa pendidikan dianggap berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada di tangan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat bekerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah dibekali potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri. Baik masyarakat kota ataupun desa, mereka telah memiliki potensi untuk mengatasi masalah mereka sendiri berdasarkan sumber daya vang mereka miliki serta dengan memobilisasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. 4
Dalam UU sisdiknas no 20/2003 pasal 55 tentang pendidikan berbasis masyarakat disebutkan sebagai berikut :
3 Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), hal. 12-13
4
1). Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.
2). Penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan.
3). Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, pemerintah, Pemerintah Daerah atau sumber lain yang tidak dapat bertentangan dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.
4). Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
5). Ketentuan mengenai peran sert masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.5
Dari kutipan di atas nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat dapat diselenggarakan dalam jalur formal maupun nonformal, serta dasar dari pendidikan berbasis masyarakat adalah kebutuhan dan kondisi masyarakat, serta masyarakat diberi kewenangan yang luas untuk mengelolanya. Oleh karena itu dalam menyelenggarakannya perlu memperhatikan tujuan yang sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat.
Salah satu contoh di Desa Mekarsari yang di dalamnya terdapat dari berbagai kalangan masyarakat. Di tahun 2005 para pemuda di Desa ini mendirikan TPA di kampung tersebut. Mereka mendirikan TPA di sebuah lingkungan yang pemuda disekitarnya kurang memperhatikan pendidikan bahkan cenderung tidak peduli. Dengan adanya pendirian TPA ini sangat membantu generasi awal untuk bersentuhan dengan nilai agama
dan sosial yang lebih baik. Dengan berbagai perkembangan dan sistem di TPA al-Hidayah yang setiap tahunnya meningkat. Di sayangkan di TPA ini kurang tersistematis artinya tidak ada acuan-acuan untuk mengetahui sampai mana para murid menerima maksud dan tujuan para pengajar di TPA ini.
Pendidikan nonformal menyajikan problema yang menantang para perencana pendidikan masa kini. Sifat keragaman aktivitas yang termasuk dalam pendidikan nonformal merupakan persoalan sulit bagi yang berkeinginan untuk menerapkan prosedur-prosedur perencanaan pendidikan tradisional yang sistematis kebidang pendidikan nonformal.
Banyak aktivitas pendidikan nonformal dikembangkan oleh sektor swasta. Organisasi sukarela swasta, badan-badan keagamaan dan kelompok-kelompok masyarakat telah mensponsori sebagian besar akstivitas-aktivitas pendidikan nonformal yang ada sekarang ini.
Seperti yang telah tertera dalam Undang-Undang No 20 tahun
4. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) 5. Majlis Taklim
6. Satuan Pendidikan Sejenis6
Dari enam perluasan satuan pendidikan di atas, penulis tertarik dengan point enam yakni satuan pendidikan sejenis. Dalam satuan pendidikan sejenis ini penulis memilih contoh Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) yang merupakan satuan pendidikan nonformal yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat. Sehubungan dengan kebutuhan masyarakat tentang pengetahuan keagamaan (Islam).
6
Maka dalam Undang Undang No.20 Tahun 2003 tentang sisdiknas, majlis taklim berdiri sendiri menjadi satuan pendidikan nonformal. Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam majlis taklim adalah kelompok yasinan, kelompok pengajian, Taman Pendidikan Al-Qur’an, kitab kuning, salafiah dan lain-lain.
“Setiap masyarakat mengembangkan proses sosialisasi agar pemuda mengenal mores dan aturan masyarakat. Proses ini menggunakan struktur yang bermacam-macam, dari belajar yang paling informal sebagai bagian kehidupan sehari-hari sampai dengan acara-acara yang lebih berstruktur, yang berkaitan dengan tansisi dari satu usia tertentu ke usia
lainnya.”7
Abdul Mu’ti menyatakan, pendidikan di Indonesia secara umum memiliki tiga persoalan: financial, administrasi dan kultural. Persoalan finansial merupakan persoalan yang akut. Dari waktu ke waktu jumlah dana pemerintah yang dikucurkan untuk sektor pendidikan masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan dana pembangunan fisik/infrastruktur. Persoalan ini berdampak kepada dua hal:
Pertama, masih banyak kelompok masyarakat yang tidak mengenyam bangku pendidikan. Masih banyak masyarakat buta huruf.Kedua, banyaknya lembaga pendidikan yang dikelola secara “apa adanya” sehingga mengahasilkan lulusan yang “apa adanya pula”. Hal ini berdampak pada minimnya kelompok masyarakat yang well education
sebagai modal utama membangun peradaban.8
Terlalu banyaknya kelompok masyarakat yang berpendidikan rendah merupakan kendala dalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban. Beberapa hasi penelitian dalam bidang psikologi dan sosiologi menunjukkan, mayoritas pelaku tindak kejahatan adalah mereka
7 M. Sardja Kadir, Perencanaan Pendidikan Non Formal, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hal. 30
yang poorly education. Di sinilah mengapa, dari sudut pandang Islam, kebodohan (jahiliyah) merupakan musuh utama sehingga salah satu misi Islam adalah menciptakan masyarakat ilmiah: memiliki ilmu dan mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Pendidikan non-formal sebagai bagian dari sistem pendidikan memilikitugas yang sama dengan pendidikan lainnya (pendidikan formal) yakni memberikanpelayanan terbaik terhadap masyarakat. Layanan alternatif yang diprogramkan diluar sistem persekolahan tersebut bisa berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal sistem persekolahan. Sasaran pendidikan non-formal yang semakin beragam, tidak hanya sekedar melayani masyarakat miskin, masyarakat yang masih buta pendidikan dasar, masyarakat yang mengalami drop out dan putus pendidikan formal, masyarakat yang tidak terakses pendidikan formal seperti; suku terasing, masyarakat daerah pedalaman, daerah perbatasan, dan masyarakat pulau luar. Sebagaimana dikutip oleh Ruwiyanto dalam buku “Peranan
Pendidikan dalam Pengentasan Masyarakat Miskin”,
Coombs et al. menawarkan konsepsi pendidikan seumur hidup, atau dinyatakan bahwa hidup itu adalah belajar. Mereka membagi pendidikan dengan tiga jalur; pertama yang disebutnya pendidikan formal (pendidikan melalui bentuk sekolah), jalur kedua yang disebutnya pendidikan nonformal (pendidikan luar sekolah yang masih terorganisasikan), dan ketiga yang disebutnya pendidikan informal (pendidikan dalam masyarakat dan keluarga tanpa pengorganisasian tertentu). Coombs et al. mendefinisikan pendidikan nonformal sebagai suatu aktivitas pendidikan yang diorganisasikan yang ada di luar sistem pendidikan formal yang sudah mapan, berorientasi pada ciri-ciri warga belajar dalam mencapai tujuan pendidikannya.9
Orientasi dari warga belajar terdapat proses belajar yang akan menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi, serta pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap,
8
penghargaan dan perasaan. Proses perubahan dalam belajar dapat terjadi dengan sengaja atau tidak disengaja.
Dalam pendidikan nonformal ada dua penekanan dalam upaya mencapai tujuan, yaitu perubahan tingkah laku dan perubahan sosial. Perubahan tingkah laku ditujukan kepada individu-individu anggota masyarakat, yaitu adanya perubahan setelah ada intervensi pemberian pengetahuan, keterampilan nilai dan sikap. Penekanan yang kedua adalah perubahan sosial, yaitu perubahan struktur dan peran-peran anggota masyarakat dalam menjalankan fungsi sosialnya. Intervensi pendidikan ditujukan kepada individu dan kelompok-kelompok masyarakat agar supaya terjadi gerakan yang secara sengaja diciptakan agar timbul kesadaran untuk memperjuangkan nasibnya dengan bekerja atau melakukan tindakan-tindakan kolektif sebagai dampak hasil belajarnya untuk melakukan perbaikan-perbaikan.10
Dalam mencari solusi penanggulangan pendidikan untuk para pengangguran, diperlukan segolongan masyarakat dari jenisnya sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa mayoritas pengangguran adalah usia pemuda atau individu yang secara fisik sedang mengalami pertumbuhan jasmani dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional.
Pemuda harus memiliki kapasitas tertentu untuk masuk ke kalangan kelompok profesional agar mampu bersaing pada tataran global. Di sinilah peranan pendidikan terutama bidang keagamaan yang merupakan penolong utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan dan pemuda menjadi titik strategis untuk tumpahnya perhatian dalam pengembangan kegiatan pendidikan Islam nonformal. Sebagaimana firman Allah SWT :
"Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman , yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). “Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang."(Al-Maidah 55-56).
Menurut KEMENPORA “pemuda adalah penentu perjalanan bangsa di masa yang akan datang. Pemuda mempunyai kelebihan dalam berbagai hal, misalnya dalam hal pemikiran, semangat, logika, dan lain sebagainya. Generasi muda adalah motor penggerak utama perubahan”.11
Pemuda merupakan individu yang secara fisik sedang mengalami pertumbuhan baik dari segi jasmani maupun secara psikis yang mempengarui perkembangan emosional. Pemuda harus memiliki kapasitas tertentu untuk masuk ke kalangan kelompok professional agar mampu bersaing pada tataran global.
Pada kasus pendidikanlah, peranan pemuda memang dibutuhkan terutama bidang keagamaan yang merukan penolong utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan dan pemuda menjadi titik strategis untuk tumpahnya perhatian dalam pengembangan kegiatan pendidikan Islam nonformal.
Pendidikan non-formal memang bukan sesuatu yang semata-mata baru, namun ia kurang sekali ditelaah secara sistematis. Mengingat betapa pentingnya pendidikan bagi angkatan sekarang dan angkatan masa depan, penelitian ini khusus menyorotkan perhatian pada corak pendidikan di luar sistem persekolahan formal, yang diharapkan mengandung potensi besar untuk menunjang keberlangsungan pengembangan pendidikan di pedesaan.
10
Karena itu penulis tertarik mengangkat permasalahan tersebut yang kemudian penulis tuangkan dalam karya ilmiah yang berbentuk skripsi dengan judul berikut:
“Pengembangan Pendidikan Islam Nonformal (Studi Atas Peran Pemuda di Desa Mekarsari)”.
B. Permasalahan Penelitian 1. Identifikasi Masalah
a. Masih tingginya anak usia sekolah yang kurang memahami
al-qur’an
b. Sedikitnya minat masyarakat desa terhadap pendidikan nonformal c. Mayoritas kaum pemuda yang acuh akan pendidikan masyarakat
2. Pembatasan Masalah
a. Pendidikan Islam nonformal; TPA Al-Hidayah b. Peranan pemuda dalam pendidikan
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas penulis mengambil masalah untuk dirumuskan. Perumusan masalah dari penelitian ini adalah
“Bagaimana Peran Pemuda dalam Pengembangan Pendidikan Islam nonformal melalui Pembentukan TPA al-Hidayah di Desa Mekarsari?”
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian. 1. Tujuan Penelitian
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi Guru, dapat digunakan sebagai informasi dan tambahan pengetahuan mengenai pendidikan Islam nonformal.
b. Bagi Siswa, dapat mengetahui konsepsi pendidikan seumur hidup. Tentang terbaginya tiga jalur pendidikan yakni; pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal.
12
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pendidikan Islam Nonformal dalam Pengembangan Masyarakat 1. Pendidikan Nonformal
a. Pengertian dan Batasan Pendidikan Nonformal
Pengertian kata pendidikan dalam istilah bahasa Inggris, yakni menunjukkan dengan menggunakan istilah education.Sedangkan dalam bahasa Arab, kata pendidikan, sering digunakan pada beberapa istilah , antara lain yakni, al-Ta’lim ( ي عتلا), al-Tarbiyah ( ي تلا), al-Ta’dib ( ي تلا).
Namun demikian, ketiga kata tersebut memiliki makna tersendiri dalam menunjuk pada pengertian pendidikan.1
Menurut buku “Higher Education for American Democracy” yang
dikutip oleh Tim Dosen FIP-IKIP Malang, dinyatakan sebagai berikut:
Education is an institution of civilized society, but the purposes of education are not the same in all societies. An educational system
finds it’s the guiding principles and ultimate goals in the aims and
philosophy of the social order in which it functions.Pendidikan adalah suatu lembaga dalam tiap-tiap masyarakat yang beradab, tetapi tujuan pendidikan tidaklah sama dalam setiap masyarakat. Sistem pendidikan suatu masyarakat (bangsa) dan tujuan-tujuan
pendidikannya didasarkan atas prinsip-prinsip (nilai-nilai), cita-cita dan filsafat yang berlaku dalam suatu masyarakat (bangsa).2
Dari istilah-istilah pendidikan di atas terlihat bahwa pendidikan memang sangat luas baik dari segi bahasa, definisi sampai kepada pengelompokkan pendidikan tersebut.
Pendidikan formal sangat sering sekali terdengar oleh para siswa maupun pendidik.Tetapi tidak sedikit juga yang mengetahui bahwa pendidikan bukan hanya bisa di dapat dari lembaga pendidikan formal.Kehadiran pendidikan tidak formal atau lebih sering disebut dengan pendidikan nonformal juga telah mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia.
Tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan nonformal ini tidak hanya berproses 12 tahun belajar mungkin sepanjang kehidupannya.Agar warga belajar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pendidikan nonformal juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah.Karena, proses pembelajaran dalam pendidikan nonformal dipusatkan pada berbagai lingkungan masyarakat, disesuaikan dengan kehidupan peserta didik.
Berbagai macam istilah untuk pendidikan nonformal atau pendidikan luar sekolah.Mulai dari long life education, permanent education sampai continuing education.Dari beberapa istilah ini, penulis menyimpulkan bahwa pendidikan tidak hanya di selenggarakan disekolah tetapi juga dapat berkembang di lingkungan luar sekolah.
14
Dalam peraturan Pemerintahan Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah antara lain dijabarkan beberapa butir penting. Pada bagian awal disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah baik dilembagakan maupun tidak.Ada tiga tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan luar sekolah.Pertama, melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya.Kedua, membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembanggkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ketingkat dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Ketiga,
memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 disebutkan juga bahwa ada lima jenis pendidikan luar sekolah. Pertama, pendidikan umum, yaitu pendidikan yang mengutamakan perluasan dan peningkatan keterampilan dan sikap warga belajar dalam bidang tertentu.Kedua, pendidikan keagamaan, merupakan pendidikan yang mempersiapkan warga belajar untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan.Ketiga, pendidikan jabatan kerja, yaitu pendidikan yang berusaha meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan sikap warga belajar untuk memenuhi persyaratan pekerjaan.Keempat, pendidikan kedinasan, yakni pendidikan yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam pelaksaan tugas kedinasan untuk pegawai suatu Departemen atau Lembaga Pemerintah Non Departemen.Kelima, pendidikan kejuruan, adalah pendidikan yang mempersiapkan warga belajar untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu.3
Soelaiman Joesoefmengatakan,“Pendidikan nonformal adalah pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan pemerintah yang tetap dan ketat”.4
Pengertian di atas sangat singkat dan mudah dimengerti, terkait masalah pendidikan nonformal khususnya di pedesaan.Yang tingkat kesadarannya untuk sekolah masih kurang.Pendidikan nonformal ini membawa semangat baru.
Seperti Soelaiman Joesoef, Sudjana juga menulis pengertian pendidikan nonformal yang di kutip dari Coombs “Pendidikan nonformal
ialah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis, di luar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk
melayani peserta didik tertentu di dalam mencapai tujuan belajarnya”.5
Artinya, apapun yang dipelajari oleh orang-orang tersebut hendaknya mampu membantu mereka memperbaiki kualitas hidupnya secara nyata dan tidak dijanjikan dalam waktu yang lama.Dengan begitu pendidikan nonformal harus berkemampuan sebagai usaha yang sengaja untuk mengembangkan kemampuan anak, remaja dan orang dewasa melalui pengetahuan, keterampilan dan sikap agar mereka tumbuh dan berkembang untuk mengatasi masalah dan kebutuhan hidupnya.
Pengertian pendidikan luar sekolah menurut Saleh Marzuki yang dikutip oleh Sismanto adalah sebagai berikut: Pendidikan luar sekolah adalah 1. Programnya jangka pendek. 2. Tidak dibatasi atas jenjang-jenjang. 3. Usia didiknya tidak perlu sama/homogeny. 4. Sasaran didiknya berorientasi jangka pendek dan praktis. 5. Diadakannya sebagai respon kebutuhan mendesak. 6. Ijazah biasanya kurang memegang peran penting.
4 Soelaimman joesoef, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hal. 79
16
7. Dapat diselenggarakan pemerintah dan swasta. 8. Dapat diselenggarakan di dalam atau di luar kelas.6
Dalam memahami konsep pendidikan nonformal, perlu melihat kembali peran pendidikan dalam pembangunan karena pendidikan nonformal bisa dikatakan juga pendidikan berbasis masyarakat yang peduli dengan perubahan pembangunan local pada level komunitas dan berdampak langsung pada pengembangan sumber daya manusia melali pendidikan.
David R. Evans menyebutnya “anggur lama yang dimasukkan
kedalam botol baru” atau old wine in new bottles; artinya, ia bukan barang baru. Konsep pendidikan non formal menurut evans, adalah kegiatan pendidikan yang terorganisisakan di luar sistem pendidikan formal. Beliau juga menempatkan pendidikan nonformal sebagai bagian dari keseluruhan konsep terpadu dari sistem pendidikan. Dalam konsep itu, beliau juga memberikan penekanan pada ciri-ciri antara lain: sebenarnya sangat luas, partisipatif, melibatkan kerja organisasi kemasyarakatan, perkumpulan swasta, lebih mementingkan tindakan pada tingkat lokal. Namun, pada saat yang sama, hal itu menimbulkan kerancuan yang lebih kompleks antara perencanaan pendidikan non formal dan sistem pendidikan pada umumnya yang mempertimbangkan tujuan pembangunan nasional.7
Dari penjabaran tentang pendidikan nonformal diatas dapat dimaknai bahwa pendidikan nonformal merupakan pendidikan yang dilaksanakan secara terorganisir dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan secara mandiri untuk melayani kebutuhan anggota masyarakat di luar kegiatan pendidikan sekolah.
Model pendidikan berbasis masyarakat untuk konteks Indonesia kini semakin diakui keberadaannya pasca pemberlakuan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Keberadaan lembaga ini diatur
6 Sismanto, Pendidikan Luar Sekolah Upaya Mencerdaskan Bangsa, (Jakarta: CV Eraswasta, 1984), hal.3
pada 26 ayat 1 s/d 7. Jalur yang digunakan nonformal, dengan bunyi pasal sebagai berikut :
1). Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
2). Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian professional.
3). Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
4). Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.
5). Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
18
7). Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.8
Untuk memahami konsep pendidikan nonformal, kita perlu melihat kembali pada peran pendidikan dalam pembangunan karena pendidikan nonformal sangat dekat dengan persoalan-persoalan pembangunan masyarakat.Seperti perubahan masyarakat secara mikro atau local development pada level komunitas, yang berdampak langsung pada pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan.
Konsep keilmuan pendidikan nonformal pada prinsipnya menunjukkan sifat reflektif studi aktivitas kemanusiaan yang terjadi didalamnya.Subjeknya, yaitu manusia pengamat dan objeknya yaitu manusia yang bertindak, oleh karenanya komponen utama ini tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya.
Dengan demikian teori dan realitas dalam keilmuan “pendidikan nonformal adalah suatu kesatuan yang satu sama lain saling mencampuri
(interfere). Maka keilmuan pendidikan luar sekolah adalah suatu kesatuan disiplin ilmu (multireferential discipline) yang membangun sistem teori yang bersifat khusus dengan memiliki ciri khas sebagai realita dari ilmu pendidikan itu sendiri sebagai acuan utamanya bagi pengembangan keilmuan pendidikan nonformal”.9
8
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan,( Jakarta: Departemen Agama RI, 2006 ), hal. 18-19
9
Perbedaan antara pendidikan luar sekolah dan pendidikan sekolah
Pendidikan luar sekolah Pendidikan sekolah
Derajat keketatan dan keseragaman yang lebih rendah
Derajat keketatan dan keseragaman yang lebih tinggi
Pembiayaan yang dipikul oleh pihak yang berbeda-beda
Pembiayaan atau pengelolaan program yang pada umumnya berada di pihak pemerintah10
Dari pengkotakan perbedaan di atas adalah sebagian kecil dari penggolongan dan sudut pandang antara pendidikan luar sekolah dan pendidikan sekolah. Penggolongan umur peserta didik juga menjadi perbedaan, dalam pendidikan luar sekolah umur peserta didik tidaklah menjadi persyaratan ketat.
Karena pendidikan merupakan proses berkelanjutan (education is a continuing process). Pendidikan dimulai dari bayi sampai dewasa bahkan sampai mati, yang tentunya memerlukan berbagai metode dan sumber-sumber belajar.11
b. Pendidikan Islam Nonformal
Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 dijelaskan tentang pendidikan nonformal, pasal 26 ayat 3: yang berbunyi, satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok
10
Sudjana, Pendidikan Luar Sekolah wawa san sejarah perkembangan falsafah teori dan pendukung asas, (Bandung: Nusantara Press, 1991), hal. 13
11
20
belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majlis taklim, serta satuan pendidikan sejenis.12
Pendidikan nonformal dalam Islam telah menampakkan bentuk yang dilaksanakan dalam masyarakat.Bentuk pendidikan nonformal dalam pendidikan Islam seperti yang disebut di atas telah berjalan dalam masyarakat dan harus terus dikembangkan dan ditingkatkan pembinaan dan penelenggaraanya, sehingga dapat membentuk karakter masyarkat Islam yang di ridhoi Allah SWT.
Pendidikan nonformal dalam pendidikan Islam akan memberikan kontribusi yang sangat berarti, karena menyiapkan peserta didik untuk menguasai ilmu keislamam dan memiliki tingkat pengalaman yang baik dan sempurna dalam kehidupan sehari-hari. Keinginan masyarakat Islam dalam mengembangkan dan melaksanakan pendidikan keagamaan Islam dapat dilihat banyaknya lembaga pendidikan Islam yang tumbuh, karena terinspirasi dari al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW., untuk selalu meningkatkan keimanan dan ilmu pengetahuan.
Pendidikan Islam atau pendidikan Islam nonformal sangat mudah dilaksanakan.Misalnya dalam bentuk lembaga kursus, kursus membaca dan menafsirkan Al-Qur’an, bisa dalam bentuk pelatihan (pesantren kilat, kelompok belajar) dan pusat kegiatan belajar masyarakat.
Dengan beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa pendidikan Islam non formal bukanlah jenis pendidikan Islam formal dan bukan jenis pendidikan Islam informal, namun sistem pembelajarannya di luar sekolah. Meskipun sistem pembelajarannya di luar sekolah, bukan berarti tidak mengarah pada Tujuan Pendidikan Nasional dan Standar Nasional Pendidikan (SNP), akan tetapi tetap mengarah terhadap tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
12
c. TPA sebagai Pendidikan Nonformal
Uraian pendidikan nonformal dalam perspektif pendidikan keagamaan Islam ditemukan dalam Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pada pasal
21 ayat 1 yang berbunyi “pendidikan diniyah nonformal diselenggarakan
dalam bentuk pengajian kitab, Majelis Taklim, Pendidikan Al Qur’an, Diniyah Takmiliyah, atau bentuk lain yang sejenis”.13
Dari salah satu pendidikan diniyah nonformal terdapat pendidikan Al-Qur’an yang menjadi kepala dari Taman Pendidikan Al-qur’an (TPA). Seperti yang tertulis dalam Peraturan Pemerintah No.55 Tahun 2007 pada pasal 24 ayat 1 s/d 6, ayat-ayat tersebut berbunyi sebagai berikut:
1) Pendidikan Al-qur’an bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik membaca, menulis, memahami, dan mengamalkan kandungan Al-qur’an.
2) Pendidikan Al-qur’an terdiri dari Taman Kanak-kanak
Al-qur’an (TKQ), Taman Pendidikan Al-qur’an (TPQ), Ta’limul
Qur’an lil Aulad (TQA), dan bentuk lain yang sejenis.
3) Pendidikan Al-qur’an dapat dilaksanakan secara berjenjang dan tidak berjenjang.
4) Penyelenggaraan pendidikan Al-qur’an dipusatkan di masjid, mushalla, atau tempat lain yang memenuhi syarat.
5) Kurikulum pendidikan Al-qur’an adalah membaca, menulis dan menghafal ayat-ayat Al-qur’an, tajwid, serta menghafal doa-doa utama.
13
22
6) Pendidik pada pendidikan Al-qur’an minimal lulusan diniyah menengah atas atau yang sederajat, dapat membaca Al-qur’an dengan tartil dan mengusai teknik pengajaran Al-qur’an.14 Taman Pendidikan Al-Qur’an bila dilihat dari struktur ayat-ayat dalam Peratutan Pemerintah di atas, memang termasuk kepada pendidikan luar sekolah atau satu lembaga pendidikan nonformal, yang senantiasa menanamkan akhlak yang luhur dan mulia, meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan agama untuk para peserta didiknya.
Di kalangan masyarakat di DKI Jakarta dijumpai banyak lembaga Pendidikan Agama Luar Sekolah (PALS) dalam berbagai bentuknya. Mulai dari Pengajian anak di rumah Ustadz, Pengajian anak semi Madrasah Diniyah, Pengajian Anak Klasikal, Pengajian Keluarga di rumah, Pengajian anak-anak di rumah, Pengajian Privat, Pesantren Kilat, Pengajian Wisata, Perkemahan, dan Taman Baca.
Dari sepuluh bentuk PALS di Jakarta ada bentuk PALS yang memang sudah di akui oleh masyarakat Islam, yakni Pengajian anak klasikal yang di dalamnya terdiri dari; Pengajian umum untuk anak, Pengajian Kelompok dan Taman Pendidikan Al-qur’an.
Taman pendidikan Al-qur’an adalah suatu bentuk PALS yang lebih teratur, yang mungkin sudah mendekati bentuk formal, dengan penekanan kepada pengajian Al-qur’an.15
Dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) No.3 Tahun2012 tentang Pendidikan Keagamaan Islam dijabarkan kembali tentang Pendidikan
Al-qur’an, Pendidikan al-Qur’an adalah lembaga atau kelompok masyarakat
14
Ibid., hal.23 15
yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran bacaan, hafalan, dan pemahaman al-Qur’an.
Taman pendidikan al-Qur’an merupakan pengajian anak-anak dalam bentuk baru dengan metode praktis di bidang pengajaran membaca al-Qur’an yang di kelola secara professional.
Materi pendidikan luar sekolah disusun sedemikian rupa dengan berusaha memenuhi aspirasi yang hidup dalam masyarakat. Seperti dalam Peraturan Pemerintah No.55 tahun 2007 tentang Pendidikan Diniyah Nonformal pasal 24 ayat 5; kurikulum pendidikan Al-qur’an adalah membaca, menulis dan menghafal ayat-ayat Al-qur’an, tajwid, serta menghafal doa-doa utama.
Taman Pendidikan Al-qur’an mempunyai pengaruh besar terhadap pendidikan keagamaan anak dalam upaya memberikan pembekalan dasar dan motivasi belajar anak untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi guna meraih prestasi dan mewujudkan cita-cita, juga harapan orang tua, agama dan bangsa.
2. Pengembangan Masyarakat melalui Pendidikan
24
a. Konsep Pengembangan Masyarakat
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengatasi tantangan kehidupan yang berubah-ubah dan semakin berat.
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model
penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”.Pendidikan dari masyarakat
artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat.
Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek atau pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan.Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan.Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikut seratakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka.16
Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiyayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
b. Konsep Pengembangan Masyarakat Islam
Terbentuknya masyarakat muslim di suatu tempat adalah melalui proses yang panjang, yang di mulai dari terbentuknya pribadi. Pribadi
muslim sebagai hasil dari upaya para da’i.Pengembangan pola pengabdian masyarakat melalui sistim pondok pesantren juga merupakan pedoman kebijakan pemerintah seperti tercermin dalam pembangunan sekarang ini.
16
Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia islam sebenarnya telah berkembang lembaga-lembaga pendidikan islam yang bersifat nonformal. Lembaga-lembaga ini berkembang bentuk-bentuk lembaga pendidikan nonformal yang semakin luas. Di antara lembaga-lembaga pendidikan islam yang bercorak nonformal tersebut adalah:
1) Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar 2) Pendidikan rendah di istana
3) Toko-toko kitab
4) Rumah-rumah para ulama (ahli ilmu pengetahuan) 5) Majelis atau saloon kesusatraan
6) Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badwi) 7) Rumah sakit
8) Perpustakaan 9) Masjid17
Dari daftar nama-nama lembaga pendidikan di atas merupakan tempat ibadah.Sama halnya dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi Muhammad telah difungsikan rumah ibadah sebagai tempat pendidikan. Rasul menjadikan Masjid Nabawi sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan.
Dengan banyaknya tempat yang dijadikan sebagai sarana pendidikan tentu saja akan terbentuk masyarakat muslim yang lebih kuat dengan pribadi-pribadi muslim bahkan mubaligh. Sejak saat itulah mulai berlangsungnya pendidikan nonformal.
B. Peran Pemuda dalam Pengembangan Masyarakat 1. Pengertian Pemuda
Dalam buku M. Manzoor Alam yang di kutip dari Mustafa Ar Rafe’i, menggambarkan masa pemuda dengan mengatakan: “Pemuda
26
adalah kekuatan, karena matahari tidak bersinar dengan cemerlang di senja hari seperti ia bersinar di pagi hari”.18Seperti kutipan di atas, pemuda di ibaratkan sebagai sosok yang tangguh yang tidak mengenal kematian atau kesuraman dalam hidup. Dalammasa mudanya sebuah pohon akan menghasilkan buahnya yang melimpah dan setelah itu semua pohon tidak memberikan apa-apa lagi kecuali kayu.
Nabi Muhammad SAW telah menghargai dan memberikan titik tekan yang kuat pada makna dan nilai pemuda.Al-Qur’an menyatakan :
فْعض َ ق ْع لعج َث َ ق فْعض ْع لعج َث فْعض ِ كق خ ي َلا ها
ي قْلا ي عْلا ه ء شي ق ْ ي ْيش
) 55 (
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari kadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat,
kemudian Dia menjadikan (kamu) itu sesudah kuat itu lemah (kembali)
dan beruban.Dia menciptakan apa yang Dia dikehendaki dan DiaYang
Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”. (QS. Ar-Ruum:54)
Ayat ini menjelaskan tiga fase utama kehidupan manusia; masa kanak-kanak, pemuda dan masa tua.Fase yang pertama dan yang terakhir dari kehidupan seseorang ditandai dengan kelemahan, ketergantungan dan keputusasaan.Nabi Muhammad SAW dikhabarkan sering meminta perlindungan Allah, di tengah-tengah masalah lainnya, untuk usia tua.
Pemuda Islam bukanlah suatu bagian yang terpisah dari golongan Islam sebagai kelompok sosial dan politik dalam masyarakat, pemuda Islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari golongan Islam atau ummat Islam sebagai kelompok kepentingan.Di dalam perjalanan sejarah peranan yang dibawakan oleh pemuda Islam sebagai
18
M. Manzoor Alam, Peran Pemuda Muslim dalam Rekonstruksi Dunia Kontemporer, (Jakarta:
“ujung tombak” seringkali begitu menonjol sehingga merupakan alur
tersendiri dalam gelombang arus sejarah Islam.19 2. Peranan Pemuda dalam Pendidikan
Pemuda yang notabenenya sebagai pelopor harus memberikan kontribusi yang konkret terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam mendobrak setiap kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Pemuda harus bisa menjadi pressure groups terhadap pemerintah. Advokasikan kepada pemerintah gagasan-gagasan yang sekiranya dapat menjadikan pendidikan di Negara ini lebih baik.Pemuda merupakan kekuatan, kekuasaan, vitalitas dan energik.Tidak dapat disangkal, masa pemuda secara universal, baik fisik, mental, intelektual, moral, maupun potensialitasnya mencapai tingkat perkembangan dan pemanfaatan yang optimum.Ia adalah masa ketika fikiran menunjukkan kapasitas dan kapabilitas invensif dan imaginatifnya dalam bentuk yang terbaik. Ia secara alerogis dilukiskan dalam ayat-ayat al-Qur’an berikut ini :
ع ْل
ِي ْل س ْسْ ْ قل
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan
bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia
dapat melaksanakan keadilan.Dan Kami ciptakan besi yang
padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi
manusia….. “(QS.Al-Hadid: 25)
Pemuda sebagai generasi penerus, diharapkan dapat memainkan peranan kunci dalam pembangunan bangsa.Pemuda
19
28
tercipta tidak untuk mendorong kedaulatan ke dalam bangsanya sendiri tetapi harus dijadikan sarana untuk mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok/golongan.
Dalam kondisi usia emas, pemuda memiliki kelebihan yang dapat memainkan peran untukmenjadi pelopor karena semangat dan kondisi yang sangat menunjang untuk berbuat yang lebih baik. Menjadi pelopor perubahan dimasyarakat berarti mengedepankan inisiatif.Inisiatif tidak harus muncul dari pemikiran sendiri, tetapi bisa saja merupakan hasil penyerapan ketika berinteraksi dengan lingkungan.
Cakupan masyarakat yang menjadi obyek peran ini juga tidak harus besar. Bahkan akan lebih efektif, apabila perubahan dilakukan secara bertahap dari tingkat keluarga, lingkungan tetangga, lingkungan kerja dan baru kemudian meluas ke tingkat yang lebih tinggi. Kepeloporan dalam perubahan dapat dilakukan dalam semua segi kehidupan masyarakat.
Ada langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain, membangun sekolah alternatif. Sekolah alternatif sebagai lembaga alternatif untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat, tetapi berbeda dengan sekolah formal yang ada.Dan berdasarkan pengakuan dari siswa-siswa yang masuk sekolah alternatif, mereka justru lebih senang dan merasa sekolah alternatif lebih memberikan banyak manfaat ketimbang sekolah formal.Dan biasanya sekolah-sekolah alternatif ini didirikan latar belakangnya dari mahalnya biaya pendidikan di Indonesia.
masukan, mendidik mereka tentang pola pikir dan cara hidup yang lebih baik, dan tanpa lelah terus mensosialisasikan pola pikir dan cara hidup yang lebih baik melalui berbagai media. Pemuda diharapkan selalu dapat mentransfer kepada masyarakat lain tentang sesuatu yang berpotensi menuju kehidupan yang lebih maju dan lebih baik.20
C. Hasil Penelitian yang Relevan
Kajian hasil penelitian yang relevan ini, penulis melihat masalah yang hampir serupa dengan masalah yang penulis teliti yakni peran
pemuda.Dalam skripsi berjudul “peranan majlis taklim Ikatan Pemuda
Ciganjur (IPC) dalam pembentukan akhlak generasi muda (Studi Kasus di Rt 002/05 Ciganjur Jagakarsa Jakarta Selatan” yang di tulis oleh sodara Uswatun Hasanah.
Pembahasan yang dijelaskan dalam penelitian terdahulu adalah pendidikan nonformal berbentuk majlis taklim sedangkan penulis mengangkat pendidikan nonformal berupa Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), persamaan terjadi pada pelaksana atau penggerak objek yakni pemuda.
Posisi pemuda Ciganjur dalam penelitian sebelumnya sebagai penggerak sekaligus sasaran peneliti, berkaitan dengan akhlak remaja dan pemuda yang mengikuti pengajian pada majlis taklim tersebut.Sedangkan pemuda di Desa mekarsari ini menjadi pengajar dan contoh untuk para adik-adik atau siswa-siswi di TPA yang telah mereka bentuk.
Untuk hasil penelitian juga terdapat perbedaan masalah, pada penelitian terdahulu peranan Majlis Taklim IPC adalah tempat yang berfungsi sebagai wadah dalam membina dan mengembangkan kehidupan beragama dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah dan berakhlak mulia.21Masalah yang telah muncul untuk penelitian
20
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Dialog Pemuda dalam Membangun Bangsa, (Jakarta: Kemenegpora, 2009), hal. 25-26
21Uswatun Hasanah, “
peranan majlis taklim Ikatan Pemuda Ciganjur (IPC) dalam pembentukan
akhlak generasi muda (Studi Kasus di Rt 002/05 Ciganjur Jagakarsa Jakarta Selatan”, Skripsi pada
30
(Studi Atas Peran Pemuda di Desa Mekarsari)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Oleh:
Wiwi Sawiyah Pebriyanti NIM. 109011000230
Menyetujui, Pembimbing
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
31
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Melihat dari keadaan diri dan sekitar wilayah Desa Mekarsari, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang peran pemuda yang seharusnya tidak sedikit dalam pendidikan. Karena, pemuda merupakan manusia yang produktif, kritis dan berpengaruh pada perputaran zaman ini.
Penulis telah melihat dan membaca tentang metode atau beberapa penelitian. Metode yang bagus untuk meneliti suatu kelompok bahkan seseorang adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus (peran pemuda di Desa Mekarsari).
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.1Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Metode penelitian deskriptif adalahsuatu penelitian yang diupayakan untuk mencandra atau mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan sifat objek tertentu. Penelitian deskriptif ditujukan untuk memaparkan dan menggambarkan dan memetakan fakta-fakta berdasarkan cara pandang atau kerangka berpikir tertentu. Metode ini berusaha menggambarkan dan menginterpretasi apa
yang ada atau mengenai kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau kecenderungan yang tengah berkembang. 2
Seperti pengantar penulis di bab-bab sebelumnya pemuda pada zaman ini mempunyai pengaruh yang kompeten untuk membangun suatu pembaharuan bahkan menyangkut kehidupan politik. Bagaimana pemuda mengatasi pembaharu atau yang mengaku pembaharu khususnya dalam pendidikan agama? Kenapa pemuda tidak menjual masa produktifnya untuk ikut berpolitik?. Memang pemuda seharusnya berperan disini bahkan tahap keagaman yang semakin kontroversi.
Studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer di dalam konteks kehidupan nyata. Selain itu, penelitian studi kasus dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu studi-studi kasus eksplanatori, eksploratoris dan dekriptif. Dalam penggunaannya, peneliti studi kasus perlu memusatkan perhatian pada aspek pendesainan dan penyelenggaraannya agar lebih mampu menghadapi kritik-kritik tradisional tertentu terhadap metode / tipe pilihannya.3
B. Setting penelitian
1. Letak penelitian
Penelitian studi kasus ini terletak di Kp. Tipar Rt. 005/010 Mekarsari Cimanggis Depok. Letak yang lebih detailnya yakni di sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Hidayah. Jadwal mengaji untuk anak perempuan dan laki-laki dipisah dengan ketentuan seperti ini; Senin dan Sabtu (setelah Magrib) jadwal mengaji laki-laki.
33
Sedangkan Kamis, Jum’at dan Sabtu (setelah Magrib) jadwal untuk perempuan.
2. Sarana dan Prasarana
Sarana yang menunjang kegiatan belajar mengajar, peneliti melihat sudah cukup memenuhi kriteria untuk pelaksanaan belajar mengajar. Di TPA al-Hidayah ada 2 tempat ruangan untuk kegiatan belajar mengajar. Ada 2 papan tulis, 2 penghapus papan tulis, 3 spidol, 20 meja mengaji atau lekar dan 20 al-qur’an terjemah. Prasarana di TPA ini ada beberapa buku bacaan untuk anak, 2 kipas angin, 2 kamar mandi, dan beberapa alat-alat kebersihan.
3. Jumlah siswa dan guru secara keseluruhan
Siswa di TPA ini berjumlah 35 orang khusus untuk perempuan dan 3 orang guru.
C. Teknik pengumpulan data
Data penelitian ini adalah kualitatif data berwujud kata-kata ataupun jawaban yang dikumpulkan dalam beberapa cara, baik wawancara, maupun hasil observasi ketika di lapangan. Data tersebut kemudian diproses melalui pencatatan dan pengetikan yang mana data dianalisis tetap menggunakan kata-kata yang disusun ke dalam teks yang diperluas. Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek yang mana data dapat diperoleh.
Artinya dalam penelitian ini data diperoleh dari hasil pengamatan sekitar dan responden yaitu, orang yang menjawab pertanyaan yang diajukan melalui wawancara.
Pengumpulan data yang dilakukan peneliti yaitu meliputi:
1. Observasi
Dalam observasi diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan sebenarnya tanpa usaha sengaja untuk menambahkan maupun mengurangi hasil pengamatan penelitian yang diperoleh di lapangan.4Observasi yaitu pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan secara langsung. Observasi merupakan langkah metode atau cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.
Observasi dapat dilakukan dengan partisipasi ataupun nonpartisipasi. Dalam observasi partisipasi (participatory observation) pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung, pengamat ikut sebagai peserta rapat atau peserta pelatihan. Dalam observasi nonpartisipatif (nonparticipatory observasi) pengamat tidak ikut serta dalm kegiatan, dia hanya berperan mengamati kegiatan, tidak ikut dalam kegiatan.5
Disini penulis melakukan observasi partisipasi atau ikut serta dalam kegiatan, agar individu bahkan kelompok yang diamati tidak tahu bahwa mereka sedang diobservasi. Penulis telah melakukan observasi selama 12 kali pertemuan, guna melihat perkembangan yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di TPA al-Hidayah.
2. Wawancara
Wawancara penelitian adalah suatu metode penelitian yang meliputi pengumpulan data melalui interaksi verbal secara langsung antara
4 S. Nasution, Metode Research Penelitian Ilmiah, ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), cet. 10, h. 106.
35
pewawancara dan responden. 6 Peneliti telah melakukan wawancara terstruktur 1 kali dan wawancara tidak terstruktur beberapa kali. Wawancara tidak terstruktur ini dilakukan ketika peneliti melihat atau setelah mengamati adanya perubahan, baik penambahan ataupun pengurangan dalam kegiatan mengajar khususnya.
Dalam sesi wawancara ini observer bertemu dengan istri pendiri yang tidak lain adalah pengajar siswi putri. Observer juga melibatkan siswi-siswi untuk di wawancarai dan berdiskusi seputar pengajaran dan peran pemuda TPA Al-hidayah.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subjek peneltian, tetapi melalui dokumen. Dokumen adalah catatan tertulis yang isinya merupakan pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa, dan berguna bagi sumber data, bukti, informasi kealamiahan yang sukar diperoleh, ditemukan dan membuka kesempatan untuk lebih memperluas pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
Dalam teknik ini observer melihat data atau dokumen berupa absen, laporan program pemuda dan hasil dari jepretan-jepretan kegiatan yang telah berlangsung.
D. Telaah Analisis Data.
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mengsistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Dipihak lain, analisis data kualitatif prosesnya berjalan sebagai berikut:
1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri,
2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar danmembuat indeksnya,
3. Berpikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan dan membuat temuan-temuan umum.7
Dalam menganalisa data, penulis menggunakan pola pikir deduktif dan induktif. Sebagai contoh observer mendapat data melalui wawancara , data yang observer dapat dari wawancara dioleh menjadi data deskriptif untuk mengembangkan dan hubungan baru dengan hasil temuan lapangan lainnya yang di dapat dari observasi. Dengan demikian observer dapat menarik kesimpulan dari data dan pengamatan yang dilakukan oleh penulis selama kegiatan penelitian.
37
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum TPA Al-HidayahKeberadaan TPA yang bersifat sebagai lembaga pendidikan nonformal jenis keagamaan berperan penting dalam membantu mempersiapkan, mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan keagamaan yang telah dimiliki peserta didik melalui program pendidikan formal.
Materi pelajaran TPA menitikberatkan pada pengajaran al-Qur‟an sesuai dengan tujuannya, yaitu mencetak kader-kader muslim Qur‟ani yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Meskipun demikian ditunjang pula dengan materi-materi seperti: Pengajaran Shalat, Hapalan ayat-ayat al-Qur‟an, Sejarah Islam,
Do‟a-do‟a harian, Tajwid, Agama Islam dan sejenisnya. 1.Sejarah Berdirinya TPA Al-Hidayah
Berdirinya TPA Al-Hidayah ini di dirikan oleh 3 pemuda yakni Rachmad dunggio, Anggi dan Danu. Pada saat tahun 2005 salah satu penggerak TPA tersebut mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan TPA. Setelah mendapatkan tempat yang cocok penggerak bertemu dengan orang yang mempunyai tempat tersebut yaitu bapak Wandi sebagai ketua lapak di tempat tersebut.Penggerakpun membicarakan maksud bertemu dan bapak Wandi pun menyetujui rencana penggerak untuk mendirikan TPA di tempatnya.
Donatur yang siap untuk membiayai pembangunan TPA juga menyetujui letak dan tempatnya. Setelah bermusyawarah antara penggerak, donator dan penyedia tempat serta ketua RT maka siaplah di bangun TPA yang sekarang di beri nama Al-Hidayah. Diberinya nama Al-Hidayah ini dengan alasan “agar para pemuda di Kampung Tipar Mekarsari ini melihat petunjuk ibadah bukan hanya
sekedar mencari pekerjaan”.1
Dari tahun ke tahun TPA Al-Hidayah ini mengalami perkembangan dalam segi bangunan dan perlengkapan mengaji atau TPA Al-Hidayah.
Pada awalnya lantai mengaji hanya merupakan tanah yang dilapisi karpet.Pada tahun 2007 lantai TPA di plester dan lebih ditinggikan dari lapak sekitar. Meja mengaji atau lekar tahun 2005 hanya memiliki kurang dari 10 di tahun 2007 ini ada lebih kurang 15 lekar. Di tahun ini juga dispenser dan kipas angin di sediakan untuk kenyamanan belajar mengajar.
Perkembangan dan perubahan juga terjadi dalam formasi mengajar.Di awal 2005 pengajar hanya ada 3 orang.Di tahun 2007 terdapat banyak pengajar bahkan di bagi jadwal untuk para pengajar agar tidak terlalu banyak. Di tahun 2009 para pengajar mengalami penurunan jumlah karena sebagian pengajar sudah mulai bekerja dan ada juga yang melanjutkan kuliah di luar kota.
Di tahun 2009 sampai 2012 siswa dan siswi mengaji dalam satu ruangan dan pada hari yang sama. Karena, pada saat itu anak-anak yang mengaji masih berusia TK dan SD serta pengajarnya juga hanya ada laki-laki.Di tengah tahun
39
2012 masuk 2 pegajar perempuan yang salah satunya merupakan istri penggerak TPA Al-Hidayah ini.Pada akhir tahun 2012 di buatlah 2 formasi kegiatan belajar dan mengajar.Siswa dan siswi di pisah mulai dari jadwal mengaji dan pengajar.
Seperti yang telah di jelaskan lika-liku pengajar dan sistem, metode dan kegiatan juga ikut berkembang.Metode belajar yang sebelumnya hanya ceramah dan privat sekarang ditambah dengan mengenalkan media audio visual sebagai bahan materi. Melakukan sorogan atau di kelompokkan sesuai usia dan materi.
Pemuda di TPA ini tidak hanya menyampaikan materi yang berhubungan dengan teori.Pemuda di sini juga memberikan contoh langsung kepada siswa-siswi dalam setiap peringatan hari besar Islam atau peristiwa penting dalam Islam.contohnya; mengadakan Syiar Qurban, peristiwa ini sangat terkenal dari zaman Nabi Ibrahim yang telah mendapat perintah dari Allah untuk mnyembelih anaknya yakni Islmail. Karena keikhlasan Nabi Ibrahim mengqurbankan anaknya maka digantilah oleh Allah menjadi seekor kambing.
Peristiwa di atas perlu diingatkan kepada anak-anak sejak dini untuk menanamkan niat dalam hati agar bisa ikut berkurban nantinya.Pemuda di TPA selain menyampaikan materi, mengajak anak kepada kebaikan dan menanamkan niat baik sejak dini juga meringankan biaya pendidikan Islam nonformal ini.Para pengajar atau pemuda tidak meminta bayaran atau mengkormesilkan lembaga pendidikan Islam non-formal tersebut.Karena, menurut mereka ilmu itu tidak diperjual belikan.
Visi dan misi adalah suatu aspek penting dalam menjalankan suatu organisasi, setiap langkah yang diterapkan mengacu pada visi dan misi, karena perlunya pembinaan yang terarah tidak hanya belajar atau asal belajar.
Adapun visi TPA Al-Hidayah adalah “membentuk generasi Qur‟ani yang beraqidah kuat, mampu membaca, menulis dan mengamalkan kandungan
Al-qur‟an, berakhlak karimah, cerdas dan mempunyai semangat belajar tinggi,