• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan Air Dalam Rongga Sel Kayu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Penentuan Air Dalam Rongga Sel Kayu"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA

TULIS

PENENTUAN AIR DALAM RONGGA SEL KAYU

Disusun Oleh:

Tito Sucipto, S.Hut., M.Si.

NIP. 19790221 200312 1 001

DEPARTEMEN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan keajaiban-Nya sehingga dapat menyelesaikan karya tulis mengenai “Penentuan Air dalam Rongga Sel Kayu“.

Karya tulis ini berisi tentang gambaran umum mengenai metode penentuan air dalam rongga sel kayu sebagai dasar memahami sifat fisis kayu. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat memperkaya khasanah wawasan dan pengetahuan di bidang ilmu dan teknologi kayu.

Tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan saran dan masukan yang konstruktif demi menyempurnakan karya tulis.

Medan, Desember 2009

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

Pendahuluan ... 1

Sifat Fisis Kayu ... 2

Pembahasan... 4

Kesimpulan ... 15

(4)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Grafik rata-rata berat jenis kayu... 5

2. Grafik rata-rata berat jenis kulit kayu ... 7

3. Grafik rata-rata kadar air kayu segar... 10

4. Grafik rata-rata kadar air kulit kayu... 11

5. Grafik rata-rata kadar air titik jenuh serat kayu ... 12

(5)

PENENTUAN AIR DALAM RONGGA SEL KAYU

Pendahuluan

Kayu merupakan salah satu produk alam berupa bahan berlignoselulosa hasil proses fotosintesis dari tumbuhan berupa pohon. Pohon didefinisikan sebagai tanaman berkayu yang mempunyai tinggi 15–20 kaki atau lebih dengan ciri batang pokok yang tunggal. Pertambahan volume pada batang pohon terjadi karena pertumbuhan tinggi dan diameter. Pertumbuhan memanjang pohon merupakan hasil peningkatan jaringan yang berasal dari meristem apikal pada ujung pohon dan pertambahan diameter terjadi karena meristem lateral yaitu kambium vaskuler antara xilem (kayu) dan phloem (kulit).

Kayu yang tersusun oleh lignoselulosa menyebabkan kayu bersifat higroskopis yaitu bersifat menyerap air pada kondisi lebih kering dan akan melepaskan air pada kondisi lebih basah dari lingkungannya. Susunan sel yang berbeda pada bidang yang terdapat pada kayu menyebabkan kayu memiliki sifat yang berbeda pada tiga bidang yang dimilikinya yaitu bidang tangensial, radial dan longitudinal yang biasa disebut dengan sifat anisotropis. Sebagai akibat dari sifat higroskopis dan anisotropis menyebabkan kayu memiliki karakteristik yang unik dibandingkan bahan lain yaitu mengalami kembang susut yang berbeda pada arah tiga dimensinya (tangensial, radial dan longitudinal). Penyusutan/ pengembangan terbesar terjadi pada arah tangensial diikuti arah radial dan longitudinal.

Sifat-sifat fisikomekanik kayu ditentukan oleh tiga ciri (Haygreen, 1989): 1. Porositasnya atau proporsi volume rongga yang dapat diperkirakan dengan

mengukur kerapatannya.

2. Organisasi struktur sel, yang meliputi struktur mikro dinding sel, variasi dan proposi tipe-tipe sel-organisasi struktur sel.

3. Kandungan air.

(6)

sel disebut air terikat (bound water) yang mempengaruhi berat dan dimensi kayu, sedangkan air yang terdapat pada rongga sel disebut air bebas (free water) yang mempengaruhi berat kayu.

Pada kayu segar dengan kadar air (KA) bisa sampai ≥100%, air mengisi dinding sel, sebagian rongga sel (sekitar 50% rongga sel berisi air bebas) dan uap air di bagian rongga sel yang kosong. Kayu pada kondisi KA titik jenuh serat, air pada sel hanya mengisi pada bagian didnding sel dan air tersebut dalam kondisi jenuh udara. Secara teori, kayu pada kondidi kering tanur (dioven pada suhu 103±20 C sampai beratnya konstan) tidak mengandung air, walaupun kenyataannya ada sedikit air pada sel kayu yang sulit untuk keluar.

Salah satu ciri fisik dari kayu adalah berat jenis yang digunakan untuk menerangkan masa suatu bahan persatuan volume. Ciri ini umumnya digunakan dalam hubungannya dengan semua tipe bahan. Berat jenis diterangkan sebagai kerapatan kayu (yang didasarkan pada berat kering tanur dan volume segar) dibandingkan dengan kerapatan benda standar air yang nilainya 1 g/cm3, sehingga nilai dari berat jenis sama dengan kerapatan dengan tanpa satuan atau berat jenis sebagai perbandingan berat bahan dengan berat volume.

Tiap spesies memiliki berat jenis yang bervariasi. Banyak faktor yang mempengaruhi variasi tersebut seperti tempat tumbuh, iklim, lokasi geografis dan spesies itu sendiri. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat seperti kelembaban, tersedianya cahaya matahari dan zat-zat makanan, angin dan suhu dapat mempengaruhi berat jenis. Hal ini sebagian besar ditentukan oleh tinggi tempat, aspek kemiringan, garis lintang, tipe tanah, komposisi tegakan dan jarak tanam. Semua faktor ini dapat mempengaruhi ukuran dan ketebalan dinding sel sehingga mempengaruhi kerapatan.

Sifat Fisis Kayu

(7)

Kerapatan kayu adalah massa atau berat kayu per unit volume kayu. Kerapatan merupakan faktor penting untuk mengetahui sifat fisik dan mekanik kayu (Panshin & Zeeuw, 1980). Kerapatan biasanya dinyatakan dalam pon per kaki atau kg/m3 (Haygreen dan Bowyer, 1996). Menghitung kerapatan kayu, meliputi air yang terkandung dalam kayu. Kerapatan kayu biasanya dipengaruhi oleh variasi anatomi, kadar air serta rasio kayu gubal dan kayu teras (Forest Products Laboratory, 1999).

Berat jenis kayu dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara kerapatan kayu dengan kerapatan air pada suhu 4º C, dimana pada suhu standar tersebut kerapatan air sebesar 1 g/cm3. Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda. Berat jenis merupakan petunjuk penting bagi aneka sifat kayu. Makin tinggi berat jenisnya, umumnya makin kuat pula kayunya. Semakin kecil berat jenis kayu, maka akan berkurang pula kekuatannya. Berat jenis ditentukan antara lain oleh tebal dinding sel dan kecilnya rongga sel yang membentuk pori-pori. Perhitungan berat jenis banyak disederhanakan dalam sistem matrik karena 1 cm3 air beratnya tetap 1 gram. Jadi berat jenis dapat dihitung secara langsung dengan membagi berat dalam gram dengan volume dalam cm3, maka nilai kerapatan (R) dan berat jenis (B) adalah sama jika menggunakan massa oven. Namun berat jenis tersebut tidak mempunyai satuan karena berat jenis adalah nilai relatif (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Biasanya untuk menentukan berat jenis digunakan berat kering oven dan volume pada (a) basah, (b) kering oven, dan (c) pada kadar air 12% (Forest Products Laboratory, 1999). Menurut Panshin & Zeeuw (1980) berat jenis kayu dapat dinyatakan sebagai perbandingan antara berat kering oven dengan volumenya pada kadar air tertentu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi berat jenis kayu yaitu umur pohon, tempat tumbuh, posisi kayu dalam batang dan kecepatan tumbuh. Berat jenis kayu merupakan salah satu sifat fisik kayu yang penting sehubungan dengan penggunaannya (Pandit dan Hikmat, 2002).

(8)

yang dinyatakan dalam persen berat kering ovennya. Jumlah air yang dikandung kayu bervariasi tergantung dari jenis kayu, berkisar antara 40% - 200% berat kering kayu (Panshin & Zeeuw, 1980).

Air di dalam kayu terdiri dari dua bentuk yaitu air terikat dan air bebas. Air terikat adalah air yang terdapat pada dinding sel. Air bebas terdapat pada rongga sel. Jumlah air bebas tergantung porositas dan volume kayu (Siau, 1971).

Air dalam kayu segar (fresh cut) terletak di dalam dinding sel dan dalam rongga kayu. Apabila kayu dikeringkan selama pengolahannya semua cairan dalam rongga sel dikeluarkan. Akan tetapi, rongga sel akan selalu berisi sejumlah uap air. Selama terdapat air di dalam rongga sel, dinding sel akan jenuh. Selain itu, kebanyakan sifat fisis kayu (selain berat) tidak dipengaruhi oleh perbedaan mengenai banyaknya air dalam rongga sel (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Berat, penyusutan, kekuatan dan sifat lainnya tergantung pada kadar air kayu. Variabilitas kadar air terjadi pada bagian-bagian dari pohon yang sama, perbandingan kayu teras dan kayu gubal (Forest Products Laboratory, 1999).

Pembahasan

Kerapatan (Berat Jenis)

Berat jenis kayu merupakan salah satu sifat fisika kayu yang paling penting. Kebanyakan sifat mekanik kayu sangat berhubungan dengan berat jenis dari kayu. Berat jenis digunakan untuk menerangkan masa suatu bahan persatuan volume. Berat jenis kayu adalah kerapatan kayu (yang didasarkan pada berat kering tanur dan volume segar) dibandingkan dengan kerapatan benda standar air yang nilainya 1 g/cm3, sehingga nilai dari berat jenis sama dengan kerapatan dengan tanpa satuan, selanjutnya dalam tulisan ini kita bahas sebagai berat jenis. Menghitung kerapatan kayu, meliputi air yang terkandung dalam kayu. Kerapatan kayu biasanya dipengaruhi oleh variasi anatomi, kadar air serta rasio kayu gubal dan kayu teras (Forest Products Laboratory, 1999).

(9)

sistem matrik karena 1 cm3 air beratnya tetap 1 gram. Jadi berat jenis dapat dihitung secara langsung dengan membagi berat dalam gram dengan volume dalam cm3, maka nilai kerapatan (R) dan berat jenis (B) adalah sama jika menggunakan massa oven. Namun berat jenis tersebut tidak mempunyai satuan karena berat jenis adalah nilai relatif (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Biasanya untuk menentukan berat jenis digunakan berat kering oven dan volume pada (a) basah, (b) kering oven, dan (c) pada kadar air 12% (Forest Products Laboratory, 1999). Menurut Panshin & Zeeuw (1980) berat jenis kayu dapat dinyatakan sebagai perbandingan antara berat kering oven dengan volumenya pada kadar air tertentu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi berat jenis kayu yaitu umur pohon, tempat tumbuh, posisi kayu dalam batang dan kecepatan tumbuh. Berat jenis kayu merupakan salah satu sifat fisik kayu yang penting sehubungan dengan penggunaannya (Pandit dan Hikmat, 2002).

Gambar 1. Grafik rata-rata berat jenis kayu

(10)

tersebut, yaitu kayu karet= 0,477, gmelina= 0,392, sengon= 0,318, mangium= 0,327, dan angsana= 0,358.

Posisi kayu dalam pohon juga menentukan berat jenis kayu tersebut. Ada kecenderungan contoh uji kayu yang berasal dari bagian pangkal memiliki rerata berat jenis yang lebih besar daripada rerata berat jenis dari contoh uji yang berasal dari bagian tengah dan ujung.

Seperti dalam teori banyak disampaikan bahwa kayu bagian tengah didominasi oleh kayu juvenil yang merupakan kayu pada proses pertumbuhan awal. Pada masa pertumbuhan awal ini aktivitas kambium vaskuler dipengaruhi oleh meristem apical. Masa xilem sekunder yang diproduksi oleh kambium vaskuler selama dipengaruhi oleh aktifitas meristem apical ini menyebabkan bagian kayu juvenil memiliki ciri-ciri yaitu kayu akhir yang kurang jelas dan lebih didominasi kayu awal, sel-sel pada bagian kayu ini lebih pendek, sudut mikrofibrilnya lebih besar dengan kadar selulosa lebih rendah.

Kondisi ini menyebabkan kerapatan/berat jenis kayu pada bagian ini lebih rendah dibandingkan kayu dewasa dibagian lebih luarnya. Kayu yang berasal dari bagian ujung umumnya masih dalam proses pertumbuhan ditandai dengan pembentukan kayu juvenile dan sebagian kayu masih didominasi oleh kayu awal yang memiliki sel-sel penyusun dengan dinding sel yang tipis dan rongga sel yang besar, sehingga kerapatannya juga lebih rendah.

Berat jenis meningkat lebih tinggi pada bagian kayu teras (yaitu bagian lebih luar dari kayu juvenil). Kayu teras merupakan kayu dewasa yang dalam pertumbuhannya tidak lagi dipengaruhi oleh meristem apical. Kayu teras ini merupakan perkembangan lebih jauh dari kayu gubal. Kayu gubal adalah kayu dengan sel-selnya masih hidup dan masih melakukan fungsi fisiologis sebagai saluran makanan serta sebagai penyimpan cadangan makanan. Dalam perkembangannya kayu gubal ini akan mati dan proses fisiologis tidak lagi dilakukan oleh bagian ini yang disebut sebagai kayu teras dengan fungsi pada pohon hanya sebagai penguat mekanik saja.

(11)

besar senyawa baru yang terakumulasi menjadi racun yang biasa disebut zat ekstraktif. Kandungan senyawa-senyawa ekstraktif ini menyebabkan kayu teras memiliki berat jenis yang lebih tinggi. Kandungan ekstraktif ini juga biasanya menyebabkan bagian kayu teras berwarna lebih gelap, lebih tahan terhadap serangan jamur dan serangga, lebih sukar dikeringkan atau ditembus cairan karena mengandung ekstraktif minyak dan lemak, serta memiliki bau yang khas. Bagian lebih luar dari kayu teras adalah kayu gubal yang memiliki berat jenis/kerapatan lebih rendah.

Kayu yang berasal dari bagian pangkal umumnya sudah terbentuk kayu dewasa (mature wood), yaitu massa kayu yang didominasi oleh kayu akhir dengan sel-sel penyusunnya memiliki didnding sel yang tebal dan rongga sel yang kecil, sehingga kerapatannya juga lebih tinggi. Selain itu kayu pada bagian pangkal juga sudah terbentuk kayu teras yang lebih banyak.

Berdasarkan hasil pengamatan pada Gambar 2, terlihat adanya perbedaan berat jenis kulit dari tujuh jenis kayu. Rerata berat jenis kulit yang paling tinggi adalah kayu mangium= 0,573 dan rerata berat jenis kulit yang paling rendah adalah kayu angsana= 0,290. Rerata berat jenis kulit yang lainnya berada pada kisaran tersebut, yaitu kayu sengon buto= 0,387, karet= 0,515, gmelina= 0,512, sengon= 0,427, sonokeling= 0,430 dan.

Rata-rata Berat Jenis Kulit Kayu

0,387

(12)

Posisi kayu dalam pohon juga menentukan berat jenis kulit kayu tersebut. Ada kecenderungan contoh uji kayu yang berasal dari bagian ujung memiliki rerata berat jenis kulit yang lebih besar daripada rerata berat jenis kulit contoh uji yang berasal dari bagian tengah dan pangkal.

Banyak faktor yang mempengaruhi variasi tersebut seperti tempat tumbuh, iklim, lokasi geografis dan spesies itu sendiri. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat seperti kelembaban, tersedianya cahaya matahari dan zat-zat makanan, angin dan suhu dapat mempengaruhi berat jenis. Hal ini sebagian besar ditentukan oleh tinggi tempat, aspek kemiringan, garis lintang, tipe tanah, komposisi tegakan dan jarak tanam. Semua faktor ini dapat mempengaruhi ukuran dan ketebalan dinding sel sehingga mempengaruhi kerapatan.

Kayu merupakan bahan yang higroskopis artinya kayu memiliki daya tarik terhadap air baik dalam bentuk uap maupun cairan, sehingga adsorpsi air menyebabkan peningkatan berat dan volume sebaliknya dengan disorpsi. Tetapi sifat higroskopis ini juga tergantung dari jenis kayu, suhu dan kelembaban udara disekitarnya.

Peningkatan kadar air akan menambah kerapatan kayu, dimana kerapatannya dapat jauh melampaui kerapatan kering tanur. Sementara kerapatan apparent akan menjadi lebih besar dengan peningkatan kadar air.

(13)

Kadar Air dan Persentase Rongga Terisi Air

Kayu adalah bahan yang higroskopis, yaitu mampu untuk mengisap dan melepaskan air dari dan ke lingkungan dan menyeimbangkan dengan uap air di udara (Skaar, 1972). Kadar air kayu merupakan jumlah air yang dikandung kayu, yang dinyatakan dalam persen berat kering ovennya. Jumlah air yang dikandung kayu bervariasi tergantung dari jenis kayu, berkisar antara 40% - 200% berat kering kayu (Panshin & Zeeuw, 1980).

Air di dalam kayu terdiri dari dua bentuk yaitu air terikat dan air bebas. Air terikat adalah air yang terdapat pada dinding sel. Air bebas terdapat pada rongga sel. Jumlah air bebas tergantung porositas dan volume kayu (Siau, 1971).

Air dalam kayu segar (fresh cut) terletak di dalam dinding sel dan dalam rongga kayu. Apabila kayu dikeringkan selama pengolahannya semua cairan dalam rongga sel dikeluarkan. Akan tetapi, rongga sel akan selalu berisi sejumlah uap air. Selama terdapat air di dalam rongga sel, dinding sel akan jenuh. Selain itu, kebanyakan sifat fisis kayu (selain berat) tidak dipengaruhi oleh perbedaan mengenai banyaknya air dalam rongga sel (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Dalam kayu terdapat dua jenis sel berdasarkan arahnya, yaitu sel yang menyusun kayu ke arah sumbu batang (longitudinal) dan sel yang menyusun kayu tegak lurus sumbu batang (horizontal). Sel-sel penyusun kayu terdiri dari:

1. Sel-sel penyalur (konduksi), seperti sel pori dan sel trakeid. 2. Sel-sel penguat (mekanik), seperti sel serabut dan sel trakeid. 3. Sel-sel penyimpan, seperti sel parenkim.

Setiap sel memiliki celah sempit (noktah) pada dindingnya yang menghubungkan rongga sel yang satu dengan rongga sel sebelahnya. Noktah tersebut dapat berbentuk sederhana, berhalaman dan peralihan antar keduanya. Pada beberapa jenis kayu juga terdapat rongga antar sel yang berupa saluran sempit yang dikelilingi parenkim serta selaput yang terdiri atas sel epithel dan dinamakan sebagai saluran interseluler, baik berupa saluran aksial maupun radial.

Kadar air (%) = Berat awal - Berat kering tanur x 100 Berat kering tanur

(14)

% rongga sel berisi air = Volume air bebas x 100% Volume rongga

Keterangan :

Volume air bebas (cc) = Kadar air bebas x Berat kering tanur Volume rongga (cc) = Volume rongga total – Volume mikrovoid

Distribusi rerata kadar air segar pada potongan contoh uji bagian pangkal, tengah dan ujung untuk semua jenis kayu secara umum membentuk pola kadar air lebih rendah pada bagian ujung kemudian naik pada bagian tengah dan pangkal. Ada kecenderungan contoh uji kayu yang berasal dari bagian pangkal memiliki rerata kadar air yang lebih besar daripada rerata kadar air dari contoh uji yang berasal dari bagian tengah dan ujung.

149,495

Rata-rata Kadar Air Kayu Segar

Sengon Buto

Gambar 3. Grafik rata-rata kadar air kayu segar

(15)

Untuk melihat kadar air kulit kayu, pada Gambar 4, terlihat adanya perbedaan kadar air kulit kayu dari tujuh jenis kayu. Rerata kadar air kulit kayu yang paling tinggi adalah kayu angsana= 206,823%, sedangkan kadar air kulit kayu yang paling rendah adalah kayu mangium= 50,038%. Rerata kadar air kulit kayu yang lainnya berada pada kisaran tersebut, yaitu kayu sengon buto= 114,572%, karet= 72,535%, gmelina= 71,052%, sengon= 72,280% dan sonokeling= 132,782%.

Rata-Rata Kadar Air Kulit Kayu

114,835121,070

Gambar 4. Grafik rata-rata kadar air kulit kayu

Berdasarkan hasil pengamatan pada Gambar 5, terlihat adanya perbedaan kadar air pada kondisi titik jenuh serat (TJS) dari tujuh jenis kayu. Rerata kadar air TJS yang paling tinggi adalah kayu gmelina= 74,778%, sedangkan kadar air TJS yang paling rendah adalah kayu angsana= 17,925%. Rerata kadar air TJS yang lainnya berada pada kisaran tersebut, yaitu kayu sengon buto= 26,593%, karet= 23,380%, , sengon= 28,878%, mangium= 40,073% dan sonokeling= 23,965%.

(16)

bahwa pengaruh gaya gravitasi bumi yang menyebabkan pengiriman air ke bagian yang lebih tinggi memerlukan tekanan kapiler yang lebih besar.

28,130

Rata-rata Kadar Air TJS Kayu

Sengon Buto

Gambar 5. Grafik rata-rata kadar air titik jenuh serat kayu

Banyak faktor yang mempengaruhi variasi tersebut seperti tempat tumbuh, iklim, lokasi geografis dan spesies itu sendiri. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat seperti kelembaban, tersedianya cahaya matahari dan zat-zat makanan, angin dan suhu dapat mempengaruhi berat jenis. Hal ini sebagian besar ditentukan oleh tinggi tempat, aspek kemiringan, garis lintang, tipe tanah, komposisi tegakan dan jarak tanam. Semua faktor ini dapat mempengaruhi ukuran dan ketebalan dinding sel sehingga mempengaruhi kapasitas sel dalam menampung molekul air.

(17)

dengan cadangan makanan berupa gula atau pati yang siap didistribusikan ke seluruh bagian pohon.

Kayu segar dikeringkan dalam oven dengan peningkatan suhu secara bertahap dimaksudkan untuk mempercepat proses pengeringan dengan meminimalisasikan cacat akibat pengeringan sepertisusut, retak, pecah atau belah.

Pada hari pertama contoh uji dioven pada suhu 500 C, pada hari kedua suhunya dinaikkan menjadi 700 C, dan pada hari ketiga suhunya dinaikkan lagi menjadi 103±20 C sampai kering tanur (beratnya konstan).

Kadar air kesetimbangan mengalami perubahan berupa penurunan setelah kayu dikering oven dengan suhu 103±2oC selama 24 jam, hal ini terjadi dan sejalan dengan teori yg banyak berkembang bahwa proses pemanasan bisa menyebabkan terjadinya ikatan silang diantara gugus OH didalam kayu atau selulosa. Sehingga tempat air biasa berikatan didalam kayu menjadi berkurang dan akibatnya kadar air kesetimbangan menjadi berkurang.

Pada proses pengeringan sampai dengan kering tanu,r kayu mengalami penyusutan yg maksimal. Pada saat terjadi penyusutan ini serat-serat pada kayu saling mendekat (rantai-rantai selulosa saling berdekatan) dan pada saat berdekatan tersebut gugus-gugus OH yang terdapat pada rantai selulosa akan saling berikatan. Sehingga tempat bagi molekul air berkurang.

Proses ini dapat dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan stabilitas dimensi kayu, karena kadar air kesetimbangan yang rendah akan menyebabkan kayu lebih stabil atau hanya sedikit saja kemampuaannya (kisarannya) dalam menyerap dan mengeluarkan air sehingga kembang susut yg terjadi juga kisarannya kecil.

(18)

rerata persentase rongga terisi air dari contoh uji yang berasal dari bagian tengah

Gambar 6. Grafik persentase rongga sel terisi oleh air

(19)

Kesimpulan

1. Rerata berat jenis (BJ) kayu sengon buto= 0,308, karet= 0,477, gmelina= 0,392, sengon= 0,318, mangium= 0,327, sonokeling= 0,585 dan angsana= 0,358 serta rerata berat jenis (BJ) kulit sengon buto= 0,387, karet= 0,515, gmelina= 0,512, sengon= 0,427, mangium= 0,573, sonokeling= 0,430 dan angsana= 0,290. Ada kecenderungan contoh uji kayu yang berasal dari bagian pangkal memiliki rerata berat jenis yang lebih besar daripada rerata berat jenis dari contoh uji yang berasal dari bagian tengah dan ujung. Selain itu juga ada kecenderungan contoh uji kayu yang berasal dari bagian ujung memiliki rerata berat jenis kulit yang lebih besar daripada rerata berat jenis kulit contoh uji yang berasal dari bagian tengah dan pangkal.

2. Rerata kadar air (KA) kayu sengon buto= 137,768%, karet= 82,375%, gmelina= 132,513%, sengon= 125,855%, mangium= 110,122%, sonokeling= 68,527% dan angsana= 96,370% serta rerata kadar air (KA) kulit sengon buto= 114,572%, karet= 72,535%, gmelina= 71,052%, sengon= 72,280%, mangium= 50,038%, sonokeling= 132,782% dan angsana= 206,823%. Ada kecenderungan contoh uji kayu yang berasal dari bagian pangkal memiliki rerata berat jenis yang lebih besar daripada rerata berat jenis dari contoh uji yang berasal dari bagian tengah dan ujung.

3. Rerata kadar air titik jenuh serat (TJS) kayu sengon buto= 26,593%, karet= 23,380%, gmelina= 74,778%, sengon= 28,878%, mangium= 40,073%, sonokeling= 23,965% dan angsana= 17,925%.

(20)

Referensi

Bakar, E.S., O. Rachman, D. Hermawan, L. Karlinasari dan N. Rosdiana. 1998. Pemanfaatan batang Kelapa Sawit sebagai Bahan Bangunan dan Furniture. Jurnal Teknologi Hasil Hutan Vol. XI (1). Pp 1-12. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Bowyer, J.L., R. Shmulsky & J.G. Haygreen. 2003. Forest Product and Wood Science: An Introduction. 4th ed. Iowa State Press. Iowa.

Dumanauw, J.F. 1990. Mengenal Kayu. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Forest Product Society. 1999. Wood Handbook: Wood as An Engineering Material. Forest Product Laboratory General Technical Report FPL-GTR-113. USDA Forest Science, Forest Product Laboratory. USA.

Mandang, Y.I. dan I.K.N. Pandit. 1997. Seri Manual: Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. Yayasan Prosea. Bogor.

Pandit, I.K.N. dan H. Ramdan. 2002. Anatomi Kayu: Pengantar Sifat Kayu sebagai Bahan Bangunan. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Panshin, A.J. dan C. de Zeeuw. 1970. Texbook of Wood Technology. 4th ed. McGraw-Hill. New York.

Skaar, C. 1972. Water in Wood. Syracuse University Press. Syracuse New York. Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood: Structure, Properties,

Gambar

Gambar 1. Grafik rata-rata berat jenis kayu
Gambar 2. Grafik rata-rata berat jenis kulit kayu
Gambar 3. Grafik rata-rata kadar air kayu segar
Gambar 4. Grafik rata-rata kadar air kulit kayu
+3

Referensi

Dokumen terkait

Standar Nasional Indonesia (SNI) ISO 16983:2010 Panel kayu – Penentuan pengembangan tebal setelah direndam dalam air merupakan hasil adopsi identik dengan metode terjemahan dari

Penelitian ini bertujuan untuk: (i) Mengetahui adanya perbedaan produksi biomassa sel khamir R1 menggunakan substrat ekstrak ubi jalar dan ubi kayu dalam fermentor tipe