HUBUNGAN PERSEPSI SISWA TERHADAP KEPRIBADIAN GURU DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SDN SRENGSENG SAWAH 07 PAGI JAKARTA

123 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PERSEPSI SISWA TERHADAP KEPRIBADIAN

GURU DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

DI SEKOLAH DASAR NEGERI SRENGSENG SAWAH

07 PAGI JAKARTA

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana

Pendidikan Islam

Oleh

Dwi Asia Ningsih

NIM 1111018300053

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF

HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

Terhadap Kepribadian Guru Dengan Motivasi Belajar Siswa di SDN

Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Persepsi siswa terhadap kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional dan ditunjang oleh referensi yang berkaitan dengan tema yang dibahas dalam skripsi ini. Adapun yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh siswa di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta. Peneliti mengambil sampel dengan Convenience Sampling berdasarkan bersedianya menjadi responden untuk dijadikan sampel yaitu siswa kelas V sebanyak 40 siswa di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta. Instrumen yang digunakan adalah angket dengan bentuk pilihan berganda. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara dan angket. Sedangkan teknik analisis korelasi yang digunakan adalah Product Moment. Dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa kelas V di SD Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta.

(8)

ABSTRACT

Dwi Asia Ningsih (NIM: 1111018300053): Relations Student Perceptions Of Personality Motivation Teacher With Students at SDN 07 Pagi Srengseng Sawah Jakarta.

This study aims to determine whether there is a relationship between students 'perception of the personality of the teacher with the students' motivation fifth grade in elementary Srengseng Sawah 07 Morning Jakarta. How big is the contributions made, and whether it has significance or not. This study was conducted in April-May 2015 in SD Srengseng Sawah 07 Morning Jakarta. The method used is survay method with quantitative approach. Population data retrieval technique is affordable. The instrument used was a questionnaire with multiple choice form. While the correlation technique used is product moment. The results found in this study that there is a significant relationship between students 'perception of the personality of the teacher with the students' motivation fifth grade in elementary Srengseng Sawah 07 Morning Jakarta.

The results showed that the value of r count equal to 0.477 and categorized enough or moderate (r count value in the range of 0.40 to 0.70) with a KD value of 22.75% and amounted to 4,065 t.

(9)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’ alamin, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya kepada penulis berupa nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat sehat, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam juga tidak lupa selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga, sahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman.

Selama penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami. Namun berkat kerja keras, doa, perjuangan, kesungguhan hati dan dorongan serta masukan-masukan yang positif dari berbagai pihak untuk penyelesaian skripsi ini yang berjudul “ Hubungan Persepsi Siswa Terhadap Kepribadian Guru dengan Motivasi Belajar Siswa

di SD Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta”, segala kesulitan dapat teratasi.

Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi, yaitu:

1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bapak Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA.

2. Ketua Jurusan Prodi PGMI, Bapak Dr. Khalimi, M.Ag dan Sekretaris Jurusan Prodi PGMI, Bapak Asep Ediana Latip, M.Pd, yang selalu siap sedia memberikan waktunya kepada penulis untuk berkonsultasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Eri Rosatria, M.Ag, dosen pembimbing yang dengan sabar memberikan masukan, pengarahan dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Ibu Nafia Wafiqni, M.Pd, dosen penasehat yang dengan sabar memberikan pengarahan, mendorong dan menanamkan kesadaran untuk bekerja keras dalam belajar serta menumbuhkan semangat kepribadian pada penulis selama menyelesaikan kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(10)

memberikan kritik dan saran kepada penulis dalam menyempurnakan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen PGMI yang selalu memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Kedua orang tua, Ayah dan Ibu, terima kasih atas bantuan financial,

dukungan dan pengorbanannya, kasih sayang serta do’a kalian selama penulis menyelesaikan kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

8. Ibu Karmini, A.Ma.Pd guru SDN Srengseng Sawah 07 yang membantu memudahkan penulis dalam penelitian di lapangan.

9. Teman-teman seperjuangan PGMI angkatan 2011 yang saling mendukung dan memberi semangat dalam penyelesaian skripsi.

10. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis baik langsung maupun tidak langsung.

Akhirnya dengan segala keterbatasab penulis hanya dapat mengembalikan segalanya kepada Allah SWT, untuk membalas kebaikan mereka. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya. Aamin

Jakarta, 2 November 2015

(11)

DAFTAR ISI

A. Latar Belakang Masalah... B. Identifikasi Masalah... C. Pembatasan Masalah... D. Perumusan Masalah... E. Tujuan Penelitian... F. Kegunaan Penelitian...

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

(12)

3.3 Fungsi Motivasi dalam Belajar... 3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi motivasi Belajar... 3.5 Indikator Motivasi Belajar... B. Hasil Penelitian yang Relevan... C. Kerangka Berpikir... D. Hipotesis Penelitian...

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian... B. Metode Penelitian... C. Populasi... D. Teknik Pengumpulan Data... E. Teknik Analisis Data... F. Hipotesis Statistik...

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data... B. Pengujian Pengajuan Analisis Hipotesis dan Pembahasannya... C. Keterbatasan Penelitian...

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 3.1 Penelitian Bulan Mei... Tabel 3.2 Penelitian Bulan Juni... Tabel 3.3 Penelitian Bulan Juli... Tabel 3.4 Kisi-kisi Angket... Tabel 3.5 Kriteria Korelasi Product Moment menurut Guilford... Tabel 3.6 Linearitas Regresi... Tabel 4.1 Daftar Guru... Tabel 4.2 Keadaan Siswa... Tabel 4.3 Daftar Karyawan... Tabel 4.4 Daftar Saran dan Prasarana... Tabel 4.5 Daftar Ekstrakulikuler... Tabel 4.6 Hasil uji validitas instrumen Persepsi Siswa Terhadap Kepribadian Guru... Tabel 4.7 Hasil uji validitas instrumen Motivasi Belajar Siswa... Tabel 4.8 Tabel uji reliabilitas... Tabel 4.9 Guru saya masuk ke ruang kelas pada waktunya... Tabel 4.10 Guru saya bersikap baik terhadap saya... Tabel 4.11 Guru saya bersikap adil, tidak pilih kasih terhadap seluruh peserta didik... Tabel 4.12 Guru saya menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan pada saya... Tabel 4.13 Guru saya menganjurkan untuk selalu mengucapkan salam setiap masuk dan keluar kelas... Tabel 4.14 Guru membuat saya antusias dan senang terhadap materi pelajaran... Tabel 4.15 Guru saya melakukan hal-hal yang menakjubkan dan menarik dalam pembelajaran... Tabel 4.16 Guru saya mengatakan hal-hal yang baik... Tabel 4.17 Saat mengajar, guru memakai seragam guru...

(14)
(15)

dimengerti... Tabel 4.38 Saya melakukan hal-hal kebaikan yang diajarkan oleh guru... Tabel 4.39 Saya belajar hanya karena takut dimarahi guru jika tidak bisa menjawab pertanyaan... Tabel 4.40 Saya belajar hanya ingin mendapatkan nilai yang baik... Tabel 4.41 Saya belajar ingin mendapatkan pujian dan hadiah... Tabel 4.42 Saya malas mengerjakan tugas dan meninggalkannya ketika guru memberi tugas yang saya tidak sukai... Tabel 4.43 Saya mengikuti pelajaran yang ada... Tabel 4.44 Saya mengacungkan jari untuk menjadi sukarelawan dalam mengerjakan tugas yang diberikan di depan kelas... Tabel 4.45 Saya diam saja dan tidak bertanya, jika tidak paham dengan materi yang disampaikan... Tabel 4.46 Saya belajar lebih giat ketika mendapatkan nilai yang kurang baik Tabel 4.47 Ketika mengalami suatu kegagalan dalam belajar, saya kecewa dan putus asa... Tabel 4.48 Saya belajar, karena guru selalu membuat pelajaran jadi menyenangkan... Tabel 4.49 Saya mengulang kembali materi pelajaran yang telah diajarkan guru... Tabel 4.50 Skor skala likert Motivasi Belajar Siswa (variabel Y)... Tabel 4.51 Tabel Korelasi Persepsi Siswa Terhadap Kepribadian Guru dengan Motivasi Belajar Siswa di Kelas V SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta... Tabel 4.52 Analisis Varian Regresi Linear Sederhana...

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Angket... Lampiran 2 Pedoman Observasi ... Lampiran 3 Pedoman Wawancara... Lampiran 4 foto-foto... Lampiran 5 Surat Keterangan telah melakukan penelitian... Lampiran 6 Surat Permohonan Izin Penelitian ... Lampiran 7 Surat Bimbingan Skripsi... Lampiran 8 Lembar Uji Referensi...

(17)

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Trianto adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan.1 Oleh karena itu pendidikan perlu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan Undang - Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yaitu:

Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 menyebutkan, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa dan negara.2

Agar berhasil dalam membawa peserta didik ke arah kedewasaan, maka setiap sekolah memerlukan beberapa orang guru, sehingga masing-masing anak didik akan mendapat pendidikan dan pembinaan dari beberapa orang guru yang mempunyai kepribadian dan mentalnya yang berbeda-beda. Setiap guru akan mempunyai pengaruh terhadap anak didiknya. Pengaruh tersebut ada yang terjadi melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan dengan sengaja dan ada pula yang terjadi tidak sengaja, bahkan tidak disadari oleh guru melalui sikap, gaya, dan macam-macam penampilan kepribadian guru. Hal ini juga dikemukakan oleh

1

Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik, (Jakarta:Prestasi Pustaka,2009), hal 1.

2

(18)

Zakiah Daradjat yang menyatakan bahwa “Kepribadian guru akan lebih besar pengaruhnya dari pada kepandaian dan ilmunya, terutama bagi anak didik yang masih dalam usia anak-anak dan masa meningkat remaja, yaitu Pendidikan Dasar dan Menengah, karena anak didik pada tingkat tersebut masih dalam masa pertumbuhan”.3

Sedangkan kepribadian itu sendiri, sebagaimana yang dikutip oleh Inge bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisik yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap

lingkungan”.4

Kepribadian guru dapat tercermin dari sikap dan tingkah lakunya yang khas dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Tingkah laku guru pada umumnya, merupakan penampilan lain dari kepribadiannya. Bagi peserta didik yang masih kecil, guru adalah orang pertama sesudah orang tua, yang mempengaruhi pembinaan kepribadian peserta didik. Sikap guru dalam meghadapi persoalan, baik menghadapi peserta didik, teman-temannya sesama guru, kepala sekolah dan sekolah itu sendiri akan dilihat, diamati, dan dinilai pula oleh peserta didik. Oleh karena itu, guru hendaknya memiliki kepribadian baik yang akan dicontoh dan diteladani oleh peserta didik baik secara langsung maupun tidak secara langsung terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Dalam konsep pembelajaran tentunya guru yang memiliki kepribadian yang baik mampu mendorong, mengaktifkan dan menggerakkan peserta didiknya secara sadar untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya kesan yang ditimbulkan dari melihat kepribadian baik yang dimiliki seorang guru, sehingga peserta didik yang termotivasi akan semakin sering melibatkan diri dalam berbagai aktivitas belajar.

Akan tetapi dalam pencapaian pembelajaran terkadang peserta didik termotivasi atau tidaknya melakukan sesuatu, banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi.5 Kemampuan mempersepsi antara persepsi peserta didik yang satu dengan yang lainnya tidak sama meskipun mereka sama-sama dari

3

Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru, (Jakarta:Bulan Bintang, 2005), cet.4, hal.2 4

Inge Hutagalung, Pengembangan Kepribadian Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Yang Positif, (Jakarta: Indeks, 2007), cet. 1, hal. 1.

5

(19)

sekolah yang sama maupun dari kelas yang sama juga.6 Untuk itu sifat yang mempengaruhi motivasi secara umum dapat kita bedakan menjadi dua yaitu bersifat dari dalam atau intrinsik dan bersifat dari luar atau ekstrinsik. Bersifat intrinsik adalah faktor yang timbul dari dalam diri sendiri sedangkan bersifat ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar.7 Namun masih banyak lagi faktor yang dapat mempengaruhi sikap peserta didik terhadap guru dan sekolah pada umumnya, misalnya perubahan status ekonomi dan sosial orang tuanya, sakit atau meninggalnya salah satu atau kedua orang tuanya dan sebagainya. Semuanya itu akan terpantul dalam kelakuan peserta didik dan akan terlihat jelas dihadapan guru. Guru yang tidak mengerti, akan menghadapi peserta dengan kekerasan atau peraturan yang ketat. Hal itu akan memperjauh hubungannya dengan peserta didik. Disinilah perlunya persyaratan kepribadian bagi jabatan guru. Guru yang memiliki kepribadian yang baik mampu memahami peserta didiknya. Dan guru yang memiliki kepribdian yang baik akan selalu dihormati dan disayangi oleh peserta didiknya, hal itu pula akan menimbulkan motivasi semangat terhadap ilmu pengetahuan dan membentuk sikap tingkah laku mereka yang baik.

Dari penjelasan diatas kita ketahui bahwasanya sekolah, guru yang baik serta semangat anak-anak dalam belajar sangat mempengaruhi pencapaian tujuan dari pendidikan tersebut. Akan tetapi pada kenyataan yang ada masih banyak masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan. Sebagaimana yang dikutip oleh Anas, masalah yang paling serius dalam pendidikan di Indonesia menapaki abad ke-21 dimulai saat pendidikan disamakan dengan persekolahan.8 Maksudnya adalah banyaknya sekolah yang didirikan tetapi tidak diimbangi dengan kualitas pendidikannya salah satunya dengan guru yang tentunya berkompeten dan profesional, sehingga banyak sekolah menerima tenaga pengajar kurang memperhatikan aspek keprofesionalan guru. Dan ini pun akan berdampak

6

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran: Suatu Pendekatan Baru, (Jakarta: Gaung Persada, 2012), cet.4, hal. 29

7

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta:Raja Grafindo Persada,2011), cet.11, h. 90.

8

(20)

pada peserta didik. Masih minim pula guru yang memahami apa yang diinginkan peserta didik. Selain itu kini ramai ditayangkan di media elektronik maupun media cetak kasus-kasus korupsi, semakin maraknya tawuran, yang dilakukan antar warga, kelompok bahkan pelajar. Fenomena ini jelas menunjukan bahwa masyarakat Indonesia ternyata mampu melakukan tindakan kekerasan.9 Adapun kasus anak yang fobia sekolah, takut guru galak, dan masih banyak lagi. Hal ini membuktikan masih ada guru yang kurang memperhatikan dan tidak peduli terhadap peserta didiknya. Bisa diduga jika para guru tidak menyadari maka anak itu akan tidak percaya diri dan motivasi untuk belajar pun akan semakin berkurang. Jika ini terjadi pada sekolah-sekolah lain, maka hal ini dapat menghancurkan pendidikan itu sendiri, dan tidak dipungkiri akan memburuknya pendidikan bangsa ini apabila pendidikan bangsa memburuk maka bangsa akan hancur.

Menurut Lickona, profesor pendidikan dari Cortlan University

sebagaimana yang dikutip oleh Anas Salahudin, mengungkapkan sepuluh tanda kehancuran bangsa:

1. Meningkatnya kekerasan dikalangan remaja 2. Penggunaan kata-kata buruk

3. Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan 4. Meningkatnya perilaku merusak diri

5. Semakin kaburnya pedoman moral 6. Menurunnya etos kerja

7. Rendahnya rasa hormat kepada guru dan orang tua 8. Rendahnya tanggung jawab individu dan masyarakat 9. Membudayanya ketidak jujuran

10.Adanya rasa curiga dan kebencian di antara sesama10

Oleh karena itu pendidikan harus benar-benar memberikan pelayanan terbaik bagi semua aspek pendidikan. Dan pelayanan itu tidak akan berjalan dengan baik apabila pendidikan tidak mencetak tenaga pendidik yang punya kepribadian baik dan profesional. Tenaga pendidik atau guru yang baik dan profesional tentunya akan memotivasi peserta didiknya baik dalam belajar maupun dalam perilaku sehari-hari, karena sesuai tujuan pendidikan, peserta didik

9Susie Evidia, “

Pentingnya Pendidikan Karakter”, Harian Umum Republika, Jakarta, 7 agustus 2011 hal.24

10

(21)

tidak dicetak memiliki pengetahuan saja akan tetapi memiliki pribadi atau akhlak yang baik. Lalu apa jadinya jika para peserta didik tidak termotivasi dalam belajar akibat pengaruh dari gurunya, maka akan terjadi terhambatnya tujuan pendidikan itu sendiri.

Hal ini juga didukung pendapat dari Dewey. Menurut Dewey, bahwa hubungan timbal balik antara guru dan murid ketika menjelaskan, sering kali guru tidak memikirkan keterlibatan murid dalam proses pembelajaran atau memikirkan pembelajaran guru sendiri yang dihasilkan dari interaksi mereka dengan murid.11 Selain itu masalah persiapan pelajaran termasuk faktor yang mempengaruhi sikap guru didepan kelas. Guru yang tanpa persiapan , akan merasa ragu tentang apa yang diajarkannya, pertanyaan peserta didik, mungkin akan ditanggapinya dengan marah atau meremehkannya atau kebingungan. Guru yang demikian itu akan kehilangan kepercayaan dari peserta didik, bahkan mungkin akan kehilangan simpati dan penghargaan mereka. Dan fenomena terjadi kasus pensiun dini yang dilakukan oleh guru pns untuk memilih berdagang setelah mendapatkan tunjangan. Hal ini tentunya sangat akan mengganggu proses belajar dan mengajar. Oleh karena itu kepribadian guru terhadap motivasi belajar sangat berperan penting, dimana kondisi ini harus dipupuk lebih dahulu dalam proses belajar mengajar.

Adapun peserta didik SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta dalam hal mempersepsi kepribadian guru dan lingkungan sekolah pun berbeda-beda. Guru yang kurang perhatian, kurang peduli dan tidak bertanggung jawab atas peserta didiknya menjadi salah satu faktor penyebab munculnya sifat-sifat negatif yang bisa timbul pada diri siswa seperti motivasi belajar peserta didik berkurang. Akan tetapi seperti yang sudah penulis paparkan di atas, dalam pencapaian pembelajaran terkadang peserta didik termotivasi atau tidaknya melakukan sesuatu, banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi. Kemampuan mempersepsi antara persepsi peserta didik yang satu dengan yang lainnya tidak sama meskipun mereka sama-sama dari sekolah yang sama maupun dari kelas

11

(22)

yang sama. Dari itulah menurut pengamatan penulis masalah ini perlu diangkat sebagai sebuah penelitian, apakah ada hubungan persepsi siswa terhadap kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa?. Selama penulis mengobservasi sekolah tersebut, penulis menemukan beberapa guru yang kurang perhatian dan tidak peduli terhadap peserta didiknya dalam proses belajar mengajar seperti cara guru yang masih mengajar dengan metode ceramah sehingga membuat suasana kegiatan belajar mengajar menjadi membosankan, kemudian memberikan tugas di kelas lalu meninggalkannya. Selain itu dalam pengamatan penulis untuk peserta didiknya masih ada beberapa peserta didik yang kurang dalam motivasi belajar seperti saat belajar mengajar berlangsung ada beberapa siswa sibuk dengan bermain sesama teman sebangkunya dan ada yang diam saja ketika guru mengajukan beberapa pertanyaan di dalam proses belajar mengajar.

Dari latar belakang masalah inilah maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian ini, Dengan demikian, untuk melakukan penelitian tentang masalah tersebut penulis menetapkan dengan judul penelitian “Hubungan Persepsi Siswa Terhadap Kepribadian Guru dengan Motivasi Belajar Siswa di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:

1. Guru kurang memperhatikan keadaan peserta didiknya.

2. Kurangnya kepedulian guru terhadap partisipasi peserta didik dalam belajar.

3. Masih ada guru yang belum ada rasa tanggung jawab yang besar terhadap peserta didik.

(23)

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian terarah dan tidak terjadi penyimpangan terhadap masalah yang akan dibahas, maka peneliti memberikan batasan yang akan dibahas yaitu:

1. Persepsi siswa terhadap kepribadian guru. 2. Motivasi belajar peserta didik.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalahnya yaitu:

1. Bagaimana kepribadian guru di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta? 2. Bagaimana motivasi belajar siswa di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi

Jakarta?

3. Adakah hubungan kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa pada di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui kepribadian guru dalam proses belajar mengajar. 2. Untuk mengetahui motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta.

3. Mengetahui pengaruh kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa pada kegiatan pembelajaran di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta

F. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan tersebut, maka manfaat penelitiannya adalah:

1. Bagi peneliti, merupakan tambahan pengetahuan dan wawasan dalam kependidikan.

(24)
(25)

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Deskripsi Teoretik

1. Persepsi

1.1 Pengertian Persepsi

Persepsi merupakan istilah yang familiar didengar dalam percakapan sehari-hari. Istilah persepsi berasal dari bahasa latin “perception” yang berarti menerima atau mengambil. Dalam Kamus Inggris Indonesia, kata perception diartikan dengan penglihatan atau tanggapan.12 Sedangkan menurut seorang ahli, Leavit bahwa dua pengertian persepsi yaitu pengertian sempit dan pengertian luas. Untuk persepi dalam pengertian arti sempit adalah penglihatan, yaitu bagaimana cara seseorang melihat sesuatu. Sedangkan dalam arti luas, persepsi adalah pandangan, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.13

Menurut Solso (1998) sebagaimana yang dikutip dalam jurnal psikologi dan perkembangan, bahwa pengertian persepsi juga melibatkan fungsi kognitif dalam menginterpretasikan stimulus dari luar, tentu saja itu bergantung oleh banyaknya informasi yang dikumpulkan oleh individu dan lingkungannya.14

Jadi adapun hubungan persepsi terhadap kepribadian guru yaitu ditimbulkan bagaimana guru dapat memberi stimulus dan peserta didik memberikan sebuah tanggapan atau respon. Secara sederhana dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah para peserta didik tentu mengamati apa yang pertama ia lihat kemudian mencontohnya dalam bentuk perilaku dan tindakan. Maka dari itu pentingnya guru memiliki kepribadian yang baik, karena dari situlah awal persepsi para peserta didik terbentuk dalam membantu dan mengarahkan motivasi di dalam diri para peserta didik. Dan tidak hanya itu saja guru juga harus mampu menciptakan lingkungan yang baik dan kondusif agar fungsi kognitif peserta didik dengan baik

12

John M, Echols and Hasan Shadily, An Indonesian-English Dictionary: Kamus Besar Bahasa Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), cet. 10, hal.424

13

Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: Rosda Karya, 2010), hal. 117

14

(26)

dalam menerima segala informasi baik dalam bentuk pengetahuan maupun pengalaman.

1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Adapun persepsi yang dialami seseorang bisa berbeda-beda, hal ini dikarenakan persepsi cenderung ditimbulkan oleh rangsangan dari semua panca indera yang dimiliki. Akan tetapi persepsi juga ditimbulkan oleh adanya fungsi kognitif yang tinggi dalam menginterpretasikan stimulus yang diterima dari luar. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi:

1. Perhatian 2. Set (harapan) 3. Kebutuhan 4. Sistem nilai 5. Ciri kepribadian 6. Gangguan kejiwaan.15

Telah diketahui persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu stimulus yang diterima melalui alat reseptor yaitu indera dalam bentuk respon. Panca indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya. Oleh sebab itu faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang dapat kita bedakan secara rinci menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal.

1. Faktor internal mencakup beberapa hal antara lain, yaitu keadaan fisiologis (fisik), perhatian, minat, kebutuhan yang searah, pengalaman dan ingatan dan suasana hati.

2. Faktor eksternal mencakup beberapa hal antara lain, yaitu ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus, keunikan dan kekontrasan stimulus, intensitas dan kekuatan stimulus, dan motion atau gerakan.16

2. Kepribadian Guru

2.1 Pengertian Kepribadian

Secara etimologis, istilah “personality” atau “kepribadian” itu asal mulanya

berasal dari kata latin “per” dan “sonare”, yang kemudian berkembang menjadi

15

Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Jakarta:Pustaka Setia, 2008), cet.4, hal. 38 16 Hasminee Uma, “Persepsi”

(27)

kata “persona” yang berarti topeng.17 Maksudnya tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung yang bermakna untuk menggambarkan perilaku, watak atau pribadi seseorang. Pengertian ini jelas bertentangan dengan pengertian psikologi modern dimana personality atau kepribadian itu dipandang sebagai

“Keseluruhan kualitas tingkah laku dari pribadi seseorang”. Sedangkan dalam

psikologi, menurut Pawlik sebagaimana yang dikutip FJ Monk dan kawan-kawan, bahwa psikologi kepribadian meneliti sifat-sifat, perasaan, dan tingkah laku keseluruhan yang berbeda dengan orang lain.18

Adapun pendapat dari beberapa ahli mengenai kepribadian yaitu, menurut Gordon Allport, “Seorang psikolog Jerman yang merupakan pakar kepribadian bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisik yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap

lingkungan”.19

Sedangkan menurut May dalam buku Psikologi Kepribadian, bahwa Personality is a social stimulus value. Artinya personality itu merupakan perangsang bagi orang lain. Jadi bagaimana cara orang lain itu beraksi terhadap kita, itulah kepribadian kita.20

Telah dijelaskan di atas pada pendapat Allport, sistem psikofisik itu sendiri adalah kebiasaan , sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis.21 Sistem psikofisik juga merupakan kekuatan motivasi yang menentukan jenis penyesuaian yang akan dilakukan. Sistem ini bukan merupakan produk hereditas melainkan hasil dari proses belajar sebagai hasil pengalaman seseorang. Sedangkan menurut May kepribadian bisa dilihat dengan bagaimana reaksi seseorang.22

17

Sabri Alisuf, Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2001), hal.90

18

FJ Monks, AMP Khoers, Siti Rahayu, dkk, Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004), cet. 15, hal. 3

19

Inge Hutagalung, Pengembangan Kepribadian Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Yang Positif, (Jakarta: Indeks, 2007), cet. 1, hal. 1. Meitasari Tjandrasa, (Jakarta: Erlangga), cet.6, hal. 237

22

(28)

Oleh karena itu dari beberapa pendapat bahwa kita dapat mengetahui kepribadian adalah hubungan antara materi tubuh dan jiwa seseorang yang perkembangannya dibentuk oleh pengalaman dan kondisi alam bawah sadar yang terbentuk sejak awal pertumbuhan manusia terutama akibat peristiwa-peristiwa psikologi-psikologi yang penting dalam pertumbuhan dirinya. Sudah disinggung juga bahwa kepribadian manusia itu dapat dipengaruhi oleh sesuatu. Dengan demikian keadaanya ada usaha mendidik pribadi, dan membentuk pribadi.

2.2 Aspek-aspek dasar Kepribadian

Sebelum mengenal jauh dari kepribadian kita perlu mengetahui struktur-struktur ataupun aspek-aspek yang mendasar kepribadian. Adapun aspek-aspek dasar kepribadian adalah hal-hal yang mencakup tentang kepribadian yang secara garis besar dalam ilmu psikologi digolongkan menjadi beberapa aspek.

a. Psikoanalisis, perhatian pada pengaruh-pengaruh tidak sadar.

b. Neo-analisis/ Ego, penekanan pada diri yang berjuang untuk mengatasi emosi dan dorongan di dalam diri dan tuntunan dari orang lain di luar diri.

c. Biologis, menitikberatkan pada kecenderungan dan keterbatasan yang berasal dari warisan genetis.

d. Behaviorisme, dapat mendorong analisis yang lebih ilmiah mengenai pengalaman belajar yang membentuk kepribadian.

e. Kognitif, melihat sifat aktif dari pikiran manusia. f. Trait, teknik pemeriksaan individual yang baik. g. Humanisme, menghargai hakikat spiritual seseorang.

h. Interaksionisme, memahami bahwa kita adalah diri yang berbeda dalam situasi yang berbeda.23

Bisa dilihat dari aspek-aspek dasar kepribadian secara umum dapat disimpulkan menjadi faktor-faktor yang sangat mempengaruhi kepribadian baik dari dalam seseorang maupun dari luar seseorang. Hal ini tentu sangat penting untuk mengetahui bagaimana kepribadian seseorang dan faktor yang mempengaruhinya. Lalu bagaimana dengan aspek kepribadian seorang guru?.

Maka, menururt Winkel, bahwa aspek keadaan awal ini meliputi banyak sekali hal dan faktor. Namun ditinjau dari yang paling pokok dan mendasar yaitu:

23

(29)

a) Kepribadian guru mencakup penghayatan nilai-nilai kehidupan, motivasi kerja, sifat dan sikap.

b) Guru sebagai pendidik mencakup inspirator dan korektor, penjaga disiplin, umur dan jenis kelamin.

c) Guru sebagai didaktikus mencakup keahlian dalam penggunaan prosedur didaktis, keahlian penguasaan materi, gaya memimpin kelas, berkomunikasi dengan siswa, kemampuan berbahasa.

d) Guru sebagai rekan profesi.24

Telah kita ketahui bahwasannya kepribadian mengandung pengertian yang kompleks yang terdiri dari bermacam-macam aspek, baik fisik maupun psikis. Berikut beberapa aspek kepribadian yang penting berhubungan dengan pendidikan, dalam rangka pembentukan pribadi peserta didik yaitu:

a) Sifat-sifat kepribadian (personality traits)

b) Intelijensi

c) Pernyataan diri dan cara menerima kesan-kesan (Appearance and Impression)

d) Kesehatan e) Pengetahuan f) Keterampilan (skill)

g) Nilai-nilai (Values)

h) Penguasaan dan kuat lemahnya perasaan i) Peranan (Roles)

j) The Self25

Setelah kita mengetahui aspek-aspek dasar kepribadian baik secara umum ataupun yang berhubungan dengan pendidikan di atas memang seharusnya yang harus dipelajari dan yang paling dapat memanfaatkan pengetahuan ini adalah para guru. Sebelum membahas lebih lanjut kita juga harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Membahas aspek-aspek kepribadian maka kita akan mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhinya. Menurut M. Alisuf Sabri bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan/perkembangan kepribadian yaitu: heredity/pembawaan, pengalaman-pengalaman yang aktual bagi individu dan

24

W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Media Abadi, 2009) hal. 219 25

(30)

kebudayaan. Totalitas kepribadian individu terbentuk melalui interaksi ketiga faktor-faktor tersebut :

a. Heredity/pembawaan

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh heredity/warisan terhadap perkembangan/pembentukan kepribadian, kita bisa peroleh dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli psikologi, dengan cara membandingkan antara orang-orang yang hereditasnya sama, tetapi hidup di alam yang berbeda-beda.

b. Pengalaman

Meskipun setiap unsur heredity anak mudah berinteraksi terhadap pengalaman-pengalaman baru (menurut tingkat kematangan atau kecenderungan tempramennya), akan tetapi reaksi-reaksinya itu akan berubah oleh interaksinya dengan orang tua, teman main, sanak keluarga dan lainnya. Pentingnya interaksi emosi pada awal kehidupan si anak, dirasakan perlunya semenjak dilakukan studi terhadap anak-anak.

c. Kebudayaan (Culture)

Tingkah laku diwariskan dari orang tua kepada anak, karena anak mempunyai kecenderungan meniru tingkah laku perbuatan yang dilakukan orang tua dan orang-orang lain yang “dekat” dengan si anak. Dalam hal peniruan ini mereka tidak pandang apakah itu perbuatan yang baik atauburuk, karena memang meraka belum tahu apa-apa. Bagi anak-anak peniruan ini merupakan bagian yang tak terpisahkan bagi perkembangan kepribadiannya. Melalui peniruan inilah anak menyerap sifat-sifat kepribadian yang dimiliki oleh orang-orang yang menjadi modelnya (orang tua dan lain-lain).26

Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi, pada intinya sudah disepakati bahwa pribadi tiap orang itu tumbuh atas dua kekuatan yaitu faktor kekuatan dari dalam maupun faktor kekuatan dari luar. Menurut K H. Dewantara sebagaimana yang dikutip oleh Agus dan kawan-kawan, bahwa faktor dari dalam disebut dengan faktor dasar, yang sudah dibawa sejak lahir, berujud benih ataupun bibit dan faktor dari luar disebut dengan faktor lingkungan atau juga disebut juga faktor ajar.27 Pendapat ini pun sama dengan pendapat Sjarkawi yang mengatakan faktor yang mempengaruhi kepribadian itu ada dua yaitu:

26

Sabri Alisuf, Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2001) hal.108

27

(31)

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri dan biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan. Contohnya sifat mudah marah yang dimiliki seorang ayah bukan tidak mungkin akan menurun pula pada anaknya.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut. Faktor ini merupakan pengaruh dari lingkungannya. Lingkungan keluarga, tempat seorang anak tumbuh dan berkembang akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak.28

Untuk itulah dalam uraian yang telah dikatakan, membuktikan bahwa kepribadian itu berkembang dan mengalami perubahan. Untuk itu dapat disimpulkan bahwasannya faktor yang dapat mempengaruhinya berasal dari faktor biologis ataupun fisiologis(individu), faktor sosial (masyarakat disekitarnya), dan faktor kebudayaan (lingkungan).

2.4 Pentingnya Kepribadian Guru

Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan.29 Maka dari itu guru sangat penting bagi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Namun dalam mencapai tujuan pendidikan yang layak, bukanlah perkara mudah, perlu adanya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai salah satunya adalah guru. Guru-guru yang profesional dan proporsioanal merupakan salah satu perangkat kelayakan pendidikan. Guru yang tidak profesional akan sulit menghayati dan menjiwai perannya sebagai pembimbing dan pengayom peserta didiknya, guru yang tidak profesional pun sangat sulit mengembangkan dan menanamkan kepribadian luhur kepada peserta didiknya.

Menurut Zakiah Daradjat “Setiap guru mempunyai pengaruh terhadap anak didik, pengaruh tersebut ada yang terjadi melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja, bahkan tidak disadari oleh guru, melalui sikap, gaya dan macam-macam penampilan

28

Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak Peran Moral Intelektual, Emosional, dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: PT Bumi Askara, 2008), cet. 2, hal. 19

29

(32)

kepribadian guru akan lebih besar pengaruhnya dari pada kepandaian dan ilmunya, terutama bagi anak didik yang masih dalam usia anak-anak dan masa meningkat remaja, yaitu Pendidikan Dasar dan Menengah, karena anak didik pada tingkat tersebut masih dalam masa pertumbuhan”.30 Dengan demikian kepribadian guru itu merupakan suatu susunan aturan dari berbagai bagian tingkah laku atau moral seorang pendidik yang berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia (peserta didik) untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Maka guru pun dituntut memiliki perilaku atau sifat yang baik sebagai bagian dari kepribadian guru yang baik. Berikut secara singkat ciri dari sifat dan sikap guru yang baik dan tidak baik yaitu:

a. Guru yang baik yaitu tidak mudah marah, emosi stabil, menepati janji, tidak berbohong, jujur, tidak suka menggibah, tidak suka memfitnah, disiplin, tidak rakus, optimistis, gesit, adil, pemaaf, rapi, bukan perokok, ceria, cerdas, cerdik, kaya, tidak pemalu, berpikir positif, rajin, sabar, peka terhadap lingkungan, bersih, tidak pendiam, cermat, tidak ingin menang sendiri, kreatif, inovatif, produktif.

b. Guru yang tidak baik yaitu tidak menepati janji, suka bohong, tidak jujur, suka ghibah, suka memfitnah, tidak disiplin, rakus, pesimis, lamban, pilih kasih, pendendam, tidak rapi, perokok, pemabuk, pemurung, kurang pandai, miskin, pemalu, berprangsangka negative, pemalas, tidak peka terhadap lingkungan, kotor, pendiam, ceroboh, ingin menang sendiri.31

Karena pengaruh guru yang mendalam, kepribadian guru lebih penting dari pengetahuan dan kecakapan mengajarnya. Guru yang baik penyesuaiannya misalnya penuh kehangatan dan bersikap menerima terhadap peserta didiknya. Akibatnya, mereka tidak saja memotivasi muridnya untuk melakukan tugas sekolah tetapi membantu murid untuk mengembangkan konsep diri yang menguntungkan dan realistis. Hal ini adalah bentuk dari kepribadian seseorang. Bagi guru jika memiliki kepribadian yang baik maka di dalam proses belajar mengajar dapat menjadi contoh dan pendorong (motivasi) yang baik bagi peserta didiknya. Adapun sebaliknya jika kepribadian guru buruk misalnya kasar, pilih kasih dan lain-lain, maka akan menimbulkan anggapan peserta didik yang tidak

30

Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru, (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), hal. 2 31

(33)

baik yang akan terlihat dari sikap mereka seperti peserta didik menjadi susah diatur, tidak menghormati guru, ketakutan dalam belajar dan sebagainya.

Seperti yang diungkapkan oleh Eric Jensen, bahwa relasi siswa-guru yang jelek adalah sebab bagi banyak masalah, lakukan apa saja yang perlu untuk membangun relasi dini dengan siswa anda, dan peliharalah relasi itu. Ciptakan hubungan yang otentik, membumi, jujur dan peduli berdasarkan pada saling menghargai dan integritas.32 Itulah mengapa guru harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan, kepribadian ini harus melekat dalam diri guru karena diharapkan akan menjadi kaum yang mengarahkan kepribadian orang bahkan lingkungan. Selain guru harus memiliki kepribadian yang baik, memang seharusnya guru bisa dapat memanfaatkan dan mempelajari kepribadian. Berikut beberapa manfaat mempelajari kepribadian bagi guru yaitu:

1. Agar guru mengenal sifat anak-anaknya, sehingga pelayanannya mudah diterima oleh anaknya.

2. Guru mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk memberikan penbinaan dan pendidikan yang mendalamkan.

3. Mencegah timbulnya frustasi anak dalam mensukseskan proses belajar dan mengajar.

4. Dengan mengetahui kepribadian anak, guru dapat dengan tepat memperlakukannya, meolongnya dan sebagainya.

5. Menghindari kemungkinan timbul konflik antara guru dan anak-anaknya.33

2.5 Indikator Kepribadian Guru

Pendidikan selalu terjadi dalam pergaulan. Pendidikan memerlukan proses, pendidikan memerlukan kesabaran, dan pendidikan itu normatif. Moh. Surya, dkk mengemukakan beberapa hal yang penting dimiliki seorang pendidik secara garis besar yaitu:

a. Disiplin. b. Kasih Sayang.

32

Eric Jensen, Guru Super & Super Teaching, (Jakarta: Indeks, 2010) cet. 1, hal. 123 33

(34)

c. Kejujuran. d. Kewibawaan. e. Komitmen.

f. Tanggung Jawab.34

Jelas guru atau tenaga pendidik yang memiliki indikator-indikator di atas merupakan cerminan guru yang berkualitas. Guru yang berkualitas ini adalah guru yang mampu untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selain itu dalam kompetensi kepribadian guru pada pasal 28 ayat 3 bagian I bab IV peraturan pemerintah RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.35

Sedangkan karakter dan kepribadian pada masa kini untuk menjadi guru yang kualitatif memiliki karakter yang tepat untuk menjadi pengajar yang berperan maksimal antara lain:

- Memiliki kemantapan dan integritas pribadi. - Peka terhadap perubahan dan pembaharuan - Berpikir alternatif

- Adil, jujur, objektif

- Berdisiplin dalam melaksanakan tugas - Ulet dan tekun bekerja

- Berusaha memperoleh hasil kerja dengan sebaik-baiknya

- Simpatik dan menarik, luwes, bijaksana, sederhana dalam bertindak

- Bersifat terbuka - Kreatif

- berwibawa36

Jadi, dengan mengetahui ciri-ciri kepribadian guru, indikator yang harus dimiliki guru dan kompetensi kepribadian guru dapat disimpulkan secara menyeluruh yang meliputi sikap, sifat dan profesi guru yaitu:

1. Menunjukan kasih sayang dan bijaksana dalam bertindak 2. Menunjukan kewibawaan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, t.p, diambil 05.47, 10.26.2015, pp-19-standar-nasional-pendidikan.wpd

36Fatchul Mu’in

(35)

3. Menunjukan kemantapan dan integritas pribadi sebagai seorang pemimpin

4. Menunjukan tanggung jawab disiplin yang tinggi dalam menjalani tugas

5. Menunjukan kejujuran dan sifat terbuka dalam menjalani tugas 6. Menunjukan sikap, perilaku yang simpatik, menarik, dan luwes

dalam bertindak.

3. Motivasi Belajar

3.1 Pengertian Motivasi

Istilah motivasi (motivation), berasal dari bahasa latin movere, yang berarti

“menggerakan” to move.37 Dalam konteks ini motivasi mewakili proses psikologis

yang menyebabkan timbulnya pengarahan dan persistensi kegiatan-kegiatan sukarela yang ditujukan ke arah pencapaian. Motivasi adalah segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut/mendorong orang untuk memenuhi kebutuhan.38 Dan sesuatu yang dijadikan motivasi itu merupakan suatu keputusan yang telah ditetapkan individu sebagai suatu kebutuhan/tujuan yang nyata ingin dicapai. Menurut Mc. Donald dalam buku Sardiman, bahwa motivasi adalah perubahan energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.39

Dilihat dari dua pengertian yang ada bahwa motivasi merupakan suatu yang kompleks. Dengan adanya motivasi dapat menyebabkan perubahan energi atau tingkah laku seseorang untuk bertindak dan melakukan sesuatu dengan adanya dorongan tujuan, keinginan dan kebutuhan. Oleh sebab itu di dalam proses belajar mengajar jika ada peserta didik yang bermasalah dengan belajar seperti tidak melakukan tugas yang diperintahkan oleh guru atau pun tidak aktif (malas-malasan) dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, maka harus dicari sebabnya.

37

J. Winardi, Motivasi Pemotivasian Dalam Manajemen, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2011), cet.6, h. 24

38

Sabri Alisuf, Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2001) Hlmn. 129

39

(36)

Disinilah salah satu peran guru untuk membantu peserta didik dalam mendorong semangat belajar dengan memotivasinya.

Menurut Maslow sebagaimana yang dikutip Syaiful Bahri Djamarah, bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan-kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti kebutuhan estetik. Kebutuhan inilah yang mampu memotivasi tingkah laku individu.40

Untuk itu seseorang yang melakukan aktifitas belajar secara terus menerus tanpa motivasi dari luar dirinya merupakan motivasi intrinsik yang sangat penting dalam aktifitas belajar. Namun seseorang yang tidak mempunyai keinginan untuk belajar, dorongan dari luar dirinya merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan.

3.2 Macam-macam Motivasi

Motivasi dalam belajar adalah suatu kondisi dimana peserta didik harus menimbulkan suatu dorongan untuk melakukan aktivitas belajar. Akan tetapi hal ini tidak akan terjadi jika lingkungan sekitar juga tidak mendukung. Oleh karena itu motivasi haruslah dipupuk baik dari dalam diri maupun dari luar. Adapun macam-macam motivasi yaitu motivasi dari dalam (intrinsik), dan motivasi dari luar (ekstrinsik) dan motivasi diperkaya berikut penjelasannya:

a. Motivasi Intrinsik

Motivasi intrisik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu.

b. Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar-mengajar tetap

40

(37)

penting. Sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik. Untuk itu dalam menumbuhkan motivasi ini peran lingkungan belajar sangatlah penting.

c. Motivasi Diperkaya

Motivasi diperkaya yaitu motivasi yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran dengan harapan agar para siswa lebih giat dalam belajar. Adapun bentuk atau macam motivasi yang digunakan adalah memberi nilai, hadiah, persaingan sehat, hasrat untuk belajar, keterlibatan diri dalam tugas dan lain-lain.41

Perlu ditegaskan bahwa ketiga macam motivasi ini sangatlah penting dalam memotivasi belajar atau kegiatan belajar mengajar. Motivasi-motivasi ini pun saling berhubungan pada konsep pendidikan yang ideal. Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah, macam-macam motivasi cukup dibagi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.42 Dimana motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak memerlukan rangsangan dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Dan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar, ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

3.3 Fungsi Motivasi dalam Belajar

Untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Motivation is an essential condition of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi yang diberikan, akan semakin berhasil pula pelajaran itu. Dengan demikian, motivasi mempengaruhi adanya kegiatan sesorang. Oleh karena itu, motivasi memiliki tiga fungsi yaitu:

a) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak di setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

41

Nadlir, dkk, Psikologi Belajar , Jakarta: Learning Assistance Program for Islamic School, 2009). hal.9-15

42

(38)

b) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.

c) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apayang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.43

Disamping itu, ada juga fungsi-fungsi yang lain. Motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukan hasil yang baik. Menurut Fidelis E Waruwu, fungsi motivasi adalah memulai, mengarahkan, menyongkong dan membuat seseorang sensitif.44

Itulah mengapa posisi motivasi sangat penting apalagi dalam proses belajar, karena adanya motivasi dalam belajar ini. Seseorang yang memiliki motivasi akan terus tekun dalam mempelajari materi yang dipelajari. Oleh karena itu seorang pendidik atau guru perlu membangkitkan motivasi belajar dalam diri peserta didiknya. Akan tetapi tidak berarti seseorang yang memperoleh motivasi dapat mencapai hasil belajar yang baik karena berhasil atau tidaknya seorang peserta didik dalam belajar itu tidak hanya dipengaruhi oleh motivasi saja, melainkan banyak faktor yang mempengaruhinya.

3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa. Menurut Dimyanti dan Mujiono, terdapat unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar peserta didik, yaitu cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kondisi lingkungan siswa, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran

43

Nadlir, dkk, Ibid hal 9-14 44

(39)

dan upaya guru dalam membelajarkan siswa45. Berikut penjelasan dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar pada siswa adalah:

a. Cita-cita atau aspirasi siswa

Yaitu dari segi kemandirian, keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar.

b. Kemampuan siswa

Yaitu kemampuan atau keinginan siswa yang dimiliki untuk mencapainya. Kemampuan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas perkembangannya, karena tidak dapat dipingkiri bahwa kemampuan akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar.

c. Kondisi siswa

Yaitu kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani. Seorang yang sedang sakit, lapar, lelah atau marah akan menganggu perhatiannya dalam belajar.

d. Kondisi lingkungan siswa

Yaitu kondisi lingkungan sangat penting karena lingkungan merupakan bagian dari kehidupan dan interaksi manusia. Lingkungan yang baik pada siswa akan membuat nyaman para siswanya untuk belajar. Sedangkan lingkungan yang kurang mendukung atau tidak baik pastinya akan menimbulkan ketidak nyamanan siswa dalam belajar.

e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran f. Upaya guru dalam membelajarkan siswa

Yaitu guru adalah faktor luar (ekstrinsik) dalam memotivasi peserta didiknya. Hal itu merupakan tugas dari seorang guru. Sebagai seorang pendidik upaya guru dalam membelajarkan siswanya meliputi:

1. Menyelenggarakan tertib di sekolah

2. Membina disiplin belajar dalam tiap kesempatan, seperti pemanfaatan waktu

3. Membina belajar tertib pergaulan

4. Membina belajar tertib lingkungan sekolah.46

Singgih D. Gunarsa menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu:

1. Faktor biologis, yaitu energi umum individu yang disebabkan oleh kelenjar, metabolisme, dan faktor bawaan lainya.

45

Dimyati, Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: RINEKA CIPTA, 2009). Hal 97

46

(40)

2. Pengaruh kebudayaan, khususnya nilai-nilai keluarga yang mementingkan pendidikan dan keberhasilan.

3. Latihan anak dalam mengembangkan ketidak ketergantungan, kepercayaan diri, keyakinan diri, dan keinginan untuk melebihi.47

Dilihat dari uraian di atas bahwa dapat dikatakan faktor yang mempengaruhi motivasi terdiri dari faktor internal (faktor yang berasal dari dalam diri individu) dan faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar diri individu). Adapun faktor yang berasal dari dalam individu memuat atas beberapa hal yaitu:

a. Adanya kebutuhan

b. Persepsi individu mengenai diri sendiri c. Harga diri dan prestasi

d. Adanya cita-cita dan harapan masa depan e. Keinginan tentang kemajuan dirinya f. Minat

g. Kepuasan kinerja

Sedangkan faktor yang berasal dari luar individu terdiri dari beberapa hal yaitu: a. Pemberian hadiah

b. Kompetisi c. Hukuman d. Pujian

e. Situasi lingkungan pada umumnya f. Sistem imbalan yang diterima48

Selain itu faktor dari luar dapat diciptakan oleh guru dengan berbagai strategi agar dapat menumbuhkan motivasi siswa, beberapa yang dapat digunakan dalam memotivasi belajar siswa yang termasuk dalam faktor ekstrinsik.

a. Gunakan metode dan kegiatan yang beragam. b. Jadikan siswa peserta aktif.

c. Buatlah tugas yang menantang namun realistis dan sesuai. d. Menciptakan suasana kelas yang kondusif.

e. Berikan tugas yang proposional.

f. Libatkan diri untuk membantu siswa mencapai hasil. g. Berikan petunjuk pada para siswa sukses dan belajar. h. Hindari kompetisi antarpribadi.

i. Berikan masukan.

j. Hargai kesuksesan dan keteladanan.

47

Singgih D. Gunarsa, Psikologi Anak dan Remaja, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), cet. 13,hal. 257

48

(41)

k. Antusias dalam mengajar.

l. Tentukan standar yang realistis dan tinggi. m. Pemberian penghargaan.

n. Hindari penggunaan ancaman. o. Hindarilah komentar buruk. p. Kenali minat siswa

q. Peduli dengan siswa.

r. Ciptakan aktivitas yang melibatkan seluruh siswa dalam kelas.49

Dapat disimpulkan bahwa faktor ekstrinsik atau faktor dari luar sangat banyak ragam jenisnya serta dapat diciptakan sesuai kondisi yang ada, tinggal bagaimana guru mampu memahami para peserta didiknya.

3.5 Indikator Motivasi dalam Belajar

Motivasi dalam belajar merupakan seni mendorong siswa untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai.50 Dengan demikian, motivasi merupakan usaha dari luar dalam hal ini adalah guru untuk mendorong, mengaktifkan dan menggerakan siswanya secara sadar untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Akan tetapi perlu diperhatikan akan hal-hal yang menunjukan faktor tertentu atau mengenai suatu keadaan motivasi pada peserta didik.

Menurut Abin Syamsuddin Makmun bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:

1. Durasi kegiatan 2. Frekuensi kegiatan 3. Persistensi pada kegiatan

4. Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan

5. Devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan

6. Tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan 7. Tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari

kegiatan yang dilakukan

8. Arah sikap terhadap sasaran kegiatan.51

49

Abdul Majid, Strategi pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), cet. 4 hal.321

50

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran..hal. 47 51

(42)

Selain itu setelah pembahasan diatas untuk memahami sifat dari proses motivasi itu sendiri adalah melihat kompenen-komponen motivasi.

Menurut Winardi, beberapa kompenen-komponen dasar motivasi yaitu: 1. Kebutuhan, keinginan, ekspektansi-ekspektansi.

2. Perilaku. 3. Tujuan-tujuan. 4. Umpan balik.52

Motivasi sangat mempengaruhi apa yang dilakukan pada peserta didik. Produktivitas peserta didik dipengaruhi oleh motif-motif yang ada pada dalam diri mereka maupun dari luar. Untuk itu setelah mengetahui pentingnya peran motivasi bagi peserta didik dan hal-hal yang harus diperhatikan oleh guru, guru perlu juga memperhatikan bagaimana ciri-ciri peserta didik yang memiliki motivasi. Menurut Sadirman, bahwa ciri-ciri peserta didik yang memiliki motivasi dapat dilihat seperti yang tertera berikut.

1. Tekun menghadapi tugas 2. Ulet menghadapi kesulitan

3. Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah 4. Lebih senang bekerja mandiri

5. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin 6. Dapat mempertahankan pendapatnya 7. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini

8. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.53

Dengan mengetahui indikator motivasi individu dan ciri-ciri peserta didik yang memiliki motivasi, dapat disimpulkan indikator-indikator dari motivasi belajar yang meliputi faktor intrinstik dan faktor ekstrinstik yaitu:

1. Menunjukan ketekunan dalam menghadapi tugas.

2. Menunjukan keuletan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan. 3. Menunjukan partisipasi pada saat kegiatan belajar.

4. Menunjukan kepercayaan diri dan keyakinan dalam belajar. 5. Menunjukan keingintahuan pada hal-hal yang baru.

6. Menunjukan semangat tertib di lingkungan sekolah.

52

J. Winardi, Motivasi Pemotivasian Dalam Manajemen, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2011), cet.6, hal. 25

53

(43)

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Adapun penelitian ini dibuat karena dilatarbelakangi oleh penelitian penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya. Adapun beberapa hasil penelitian yang relevan sebagai berikut:

1. Kharis Agustiar (2014), dengan skripsinya yang berjudul “HubunganPersepsi Siswa Tentang Kepribadian Guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan Motivasi Belajar Siswa SMP Negeri 37

Bekasi”. Hasil dari penelitian tersebut adalah adanya hubungan persepsi siswa tentang kepribadian guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMPN 37 Bekasi telah terbukti. Hal ini juga terbukti dengan perhitungan yang dilakukan melalui dua perhitungan. Pertama, dari hasil perhitungan analisis statistic yang mana mendapatkan nilai = 0, 481 yang membuktikan adanya korelasi positif yang signifikan antara variabel X dan Y. Kedua, perhitungan melalui uji t dengan nilai 4,341 yang mana lebih besar dari sehingga hubungan persepsi siswa tentang kepribadian guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial signifikan.54

2. Febri Dwi Cahyani dan Fitri Andriani (2014), dengan judul yang

berjudul “Hubungan antara Persepsi Siswa Terhadap Kompetensi

Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Sosial Guru

dengan Motivasi Berprestasi Siswa Akselerasi di SMA Negeri 1

Gresik”. Menjelaskan hasil analisis penelitian diperoleh nilai signifikan

antara persepsi siswa atas kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi social guru dengan motivasi berprestasi siswa sebesar 0,579. Hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan sedang antara persepsi siswa atas kompetensi guru dengan motivasi berprestasi siswa akselerasi di SMAN 1 Gresik. Arah positif signifikan

54Kharis Agustiar (2014), dengan skripsinya yang berjudul “

(44)

ini menunjukan apabila persepsi siswa terhadap gurunya tinggi maka akan membuat motivasi berprestasi siswa juga tinggi.55

Penelitian-penelitian yang relevan ini menjadi acuan untuk penulis melakukan penelitian yaitu Persepsi Siswa Terhadap Kepribadian Guru dengan Motivasi Belajar Siswa di SDN Srengseng Sawah 07 Jakarta. Adapun perbedaan dari penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan adalah tingkat pendidikannya yaitu peserta didik sekolah dasar dimana posisi sekolah dasar merupakan tempat tumbuhnya pondasi dari pembentukan karakter dan kepribadian. Selain itu guru yang diteliti oleh penulis tidak pada satu bidang mata pelajaran saja, tetapi seluruh guru yang mengajar pada objek yang diteliti yaitu kelas V sekolah dasar.

C. Kerangka Berpikir

Semua siswa mengetahui dari pengalaman sendiri, bahwa guru berperan sekali dalam keseluruhan proses belajar mengajar di dalam kelas. Siswa mengharapkan banyak sekali pada guru. Bila harapan itu dipenuhi, siswa kan merasa puas, bila tidak, dia akan merasa kecewa. Guru sendiri menyadari peranan yang dipegangnya dalam pertemuan dengan siswa. Berperan sebagai guru mengandung tantangan, karena di satu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan suasana aman dan di lain pihak guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk berusaha mencapai tujuan, mengadakan koreksi, menegur dan menilai. Oleh karena itu faktor guru merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam kegiatan belajar.

Guru yang mampu mendidik serta membimbing siswa dengan baik akan diharapkan menimbulkan pengaruh yang baik pada siswa dan menghasilkan siswa yang baik pula. Sebaliknya guru yang tidak mampu mendidik dan membimbing siswanya dengan baik dikhawatirkan akan menimbulkan pengaruh yang buruk dan menghambat proses belajar. Di dalam proses pembelajaran guru juga harus

55

(45)

menciptakan suasana yang nyaman sehingga siswa termotivasi dalam belajar. Dengan begitu tujuan sekolah dan tujuan pendidikan itu sendiri akan tercapai.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian merupakan alat yang sangat besar artinya dalam suatu kajian ilmiah. Hipotesis adalah suatu keadaan atau peristiwa yang diharapkan dan menyangkut hubungan variabel-variabel penelitian.56. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Di mana hipotesis ini selalu diungkapkan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Adapun hipotesis sementara yang harus dibuktikan kebenarannya dan diajukan dalam skripsi ini adalah:

Ha : ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa di SDN Srengseng sawah 07 Pagi Jakarta.

Ho : Tidak ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa di SDN Srengseng sawah 07 Pagi Jakarta.

56

(46)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli tahun 2015 di SD Negeri Srengseng Sawah 07 Jakarta. Sekolah ini dipilih karena berdekatan dengan lokasi tempat tinggal penulis, sehingga penelitian lebih efektif dan efesien. Berikut hari dan tanggal penulis melakukan penelitian.

Tabel 3.1 Penelitian Bulan Mei

Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu

1 2 3

4 5 6 7 8 9 10

11 12 13 14 15 16 17

18 19 20 21 22 23 24

25 26 27 28 29 30 31

Tabel 3.2 Penelitian Bulan Juni

Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu

1 2 3 4 5 6 7

8 9 10 11 12 13 14

15 16 17 18 19 20 21

22 23 24 25 26 27 28

29 30

Tabel 3.3 Penelitian Bulan Juli

Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu

(47)

6 7 8 9 10 11 12

13 14 15 16 17 18 19

20 21 22 23 24 25 26

27 28 29 30 31

Keterangan:

Warna biru menunjukan waktu observasi yang dilakukan penulis. Warna kuning menunjukan waktu penelitian yang dilakukan penulis

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode survey. Sedangkan teknik analisis statistik menggunakan teknik korelasional yakni teknik analisis mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih. Adapun koefisien korelasi adalah statistik yang penulis gunakan dalam penelitian ini yang menggunakan dua variabel yaitu:

1. Variabel X atau variabel terikat adalah Persepsi siswa terhadap Kepribadian Guru

2. Varibel Y atau varibel bebas adalah Motivasi Belajar Siswa

Adapun penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hubungan persepsi siswa terhadap kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa. Serta melihat seberapa besar pengaruh persepsi siswa terhadap kepribadian guru dengan motivasi belajar siswa di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta. Dalam teknik penulisan, penulis mengacu pada buku Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2015.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto, “Populasi adalah keseluruhan objek

penelitian”.57

Populasi terbagi menjadi dua jenis yaitu populsi target dan populasi

57

(48)

terjangkau. Adapun yang menjadi populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta yang berjumlah sebanyak 339 siswa. Sedangkan populasi terjangkau adalah siswa kelas V yang berjumlah 40 siswa.

2. Sampel

Sampel adalah sabagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Sedangngkan dalam pengambilan sampel, penulis mengambil convenience sampel (Convenience Sampling) yaitu penentuan sampel berdasarkan kebetulan saja, anggota populasi yang ditemui peneliti dan bersedia menjadi responden untuk dijadikan sampel. Adapun sampel yang diambil yaitu siswa-siswi kelas V yang berjumlah 40 orang. Dalam ilmu statistik apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.

D. Teknik Pengumpulan Data Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian lapangan (field research) yaitu suatu penelitian yang terjun langsung ke tempat yang diteliti. Untuk memperoleh data-data penelitian, penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi atau pengamatan langsung pada objek penelitian. Adapun penulis melakukan observasi ini, penulis mengacu pada pedoman observasi, dimana observasi ini dilakuan untuk memperoleh data tentang kondisi umum sekolah, siswa, guru, dan sarana prasarana yang ada di SDN Srengseng Sawah 07 Pagi Jakarta.

2. Wawancara

Wawancara atau interview merupakan salah satu bentuk yang banyak digunakan dalam penelitian deskriptif kualitatif maupun kuantitaif.58 Penulis pun menggunakan teknik ini dengan mengacu pada pedoman wawancara. Adapun dengan melakukan teknik ini ditujukan pada guru

58

Figur

Tabel 3.1 Penelitian Bulan Mei
Tabel 3 1 Penelitian Bulan Mei . View in document p.46
Tabel 3.4 Kisi-kisi Angket
Tabel 3 4 Kisi kisi Angket . View in document p.49
Tabel 3.6 Linearitas Regresi
Tabel 3 6 Linearitas Regresi . View in document p.54
Tabel 4.2 Keadaan Siswa
Tabel 4 2 Keadaan Siswa . View in document p.60
Tabel 4.6 Hasil uji validitas instrumen Persepsi Siswa Terhadap Kepribadian Guru
Tabel 4 6 Hasil uji validitas instrumen Persepsi Siswa Terhadap Kepribadian Guru . View in document p.63
Tabel 4.7 Hasil uji validitas instrumen Motivasi Belajar Siswa
Tabel 4 7 Hasil uji validitas instrumen Motivasi Belajar Siswa . View in document p.64
tabel. Dengan demikian sisa butir-butur pernyataan tersebut dinyatakan valid
Dengan demikian sisa butir butur pernyataan tersebut dinyatakan valid . View in document p.65
Tabel 4.10
Tabel 4 10 . View in document p.67
Tabel di atas menunjukan (90%), menyatakan guru menguasai materi
Tabel di atas menunjukan 90 menyatakan guru menguasai materi . View in document p.68
Tabel 4.14
Tabel 4 14 . View in document p.69
Tabel 4.16
Tabel 4 16 . View in document p.70
Tabel 4.18
Tabel 4 18 . View in document p.71
Tabel 4.20
Tabel 4 20 . View in document p.72
Tabel di atas menunjukan (75%)menyatakan bahwa guru selalu
Tabel di atas menunjukan 75 menyatakan bahwa guru selalu . View in document p.73
Tabel di atas menunjukan (30%)menyatakan bahwa jika suasana
Tabel di atas menunjukan 30 menyatakan bahwa jika suasana . View in document p.74
Tabel di atas menunjukan (52,5%) menyatakan bahwa jika ada
Tabel di atas menunjukan 52 5 menyatakan bahwa jika ada . View in document p.75
Tabel 4.27
Tabel 4 27 . View in document p.76
Tabel 4.29
Tabel 4 29 . View in document p.77
Tabel 4.30
Tabel 4 30 . View in document p.78
Tabel di atas menunjukan (80%) menyatakan bahwa siswa selalu
Tabel di atas menunjukan 80 menyatakan bahwa siswa selalu . View in document p.79
Tabel di atas menunjukan (87,5%) menyatakan bahwa siswa selalu
Tabel di atas menunjukan 87 5 menyatakan bahwa siswa selalu . View in document p.80
Tabel 4.36
Tabel 4 36 . View in document p.81
Tabel di atas menunjukan (67,5%) menyatakan bahwa siswa selalu
Tabel di atas menunjukan 67 5 menyatakan bahwa siswa selalu . View in document p.82
Tabel di atas menunjukan (80%) menyatakan bahwa siswa tidak
Tabel di atas menunjukan 80 menyatakan bahwa siswa tidak . View in document p.83
Tabel di atas menunjukan (100%) menyatakan bahwa tidak pernah
Tabel di atas menunjukan 100 menyatakan bahwa tidak pernah . View in document p.84
Tabel di atas menunjukan (100%) menyatakan bahwa  siswa selalu
Tabel di atas menunjukan 100 menyatakan bahwa siswa selalu . View in document p.85
Tabel 4.46
Tabel 4 46 . View in document p.86
Tabel di atas menunjukan (95%) menyatakan bahwa  siswa tidak
Tabel di atas menunjukan 95 menyatakan bahwa siswa tidak . View in document p.86
Tabel di atas menunjukan (100%) menyatakan bahwa  ketika
Tabel di atas menunjukan 100 menyatakan bahwa ketika . View in document p.87
Tabel 4.50
Tabel 4 50 . View in document p.88

Referensi

Memperbarui...