• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Distribusi Biosolar Di Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Distribusi Biosolar Di Kota Medan"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH

EKO ANANDA PERMADI 060304046

AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

(2)

ANALISIS DISTRIBUSI BIOSOLAR DI KOTA MEDAN

HASIL PENELITIAN

OLEH

EKO ANANDA PERMADI 060304046

AGRIBISNIS

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan

Diketahui oleh : Komisi Pembimbing

( Ir. Thomson Sebayang, MT )

KETUA ANGGOTA

( Ir. Diana Chalil, Msi, PhD )

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

(3)

EKO ANANDA PERMADI (060304046) dengan judul skripsi

ANALISIS DISTRIBUSI BIOSOLAR DI KOTA MEDAN” dibimbing oleh

Ir. Thomson Sebayan, MT dan Ir. Diana Chalil,Msi,PhD

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar di Kota Medan; untuk mengetahui mekanisme distribusi Biosolar di Kota Medan ; untuk mengetahui; perkembangan volume Biosolar yang didistribusikan di Kota Medan; untuk mengetahui perbedaan antara volume Biosolar yang direncanakan dan didistribusikan dengan jumlah Biosolar yang terjual di SPBU di Kota Medan; untuk mengetahui komposisi jenis kenderaan yang mengunakan Biosolar diKota Medan; untuk mengetahui hubungan antara aksessibilitas dengan volume penjualan Biosolar.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah Pertama kali Biosolar diperkenalkan PT. Pertamina kepasar pada periode Juni 2010 maka jumlah SPBU yang menjual Biosolar mengalami peningkatan mulai dari bulan Juni 2010 hingga Mei 2011, namun setelah diberlakukannya penetapan dari pemerintah sekarang semua SPBU di Kota Medan sudah memasarkan Biosolar; Mekanisme penyaluran Biosolar dari PT. Pertamina sampai ke tangan pemilik SPBU dengan mengunakan sistem distribusi semi langsung yakni dimana penyaluran barang hasil produksi ke konsumen melalui badan perantara milik produsen itu sendiri; Sebelum diberlakukan kuota terhadap jumlah penyaluran Biosolar ke SPBU, maka setiap SPBU berhak memesan Biosolar sesuai kebutuhan, namun setelah diberlakukannya quota setiap SPBU hanya dapat memesan tidak lebih dari 18.000 liter per hari nya; Biosolar yang disuplai oleh PT. Pertamina maksimal 18.000 liter per hari dan rata-rata setiap hari SPBU dapat menjual 15.255 liter per hari ( Lampiran 7 ) dan sisa yang tertinggal rata-rata 2744,18 liter per hari dengan jumlah penjualan terendah ialah 13.000 liter dan jumlah penjualan tertinggi ialah 16.000 liter per hari; konsumen yang mengunakan Biosolar terbagi atas beberapa jenis kenderaan yaitu bus antar kota dalam provinsi dan antar provinsi, truk pengangkut barang, kenderaan pribadi bermesin diesel dan perahu motor nelayan. Dimana kapasitas tangki dari truk adalah 100 liter, bus 200 liter dan kenderaan pribadi bermesin diesel 60 liter; tidak terdapat beda antara tingkat aksesibilitas sedang dengan tingkat aksesibilitas tinggi hal ini sesuai dengan pengamatan dilapangan yang rata-rata setiap SPBU hanya dapat menyalurkan Biosolar tidak boleh lebih dari 18.000 liter per hari sehingga terdapat keseragaman jumlah yang di suplai oleh PT. Pertamina sehingga tidak terdapat perbedaan jumlah yang dijual antara SPBU yang memiliki tingkat aksesibilitas sedang dengan SPBU yang memiliki tingkat aksesibilitas tinggi.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan sebaik-baiknya. Adapun judul skripsi ini adalah “Analisis Distribusi Biosolar di Kota Medan”.

Skripsi dibuat dengan tujuan memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh derajat sarjana pertanian di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulisan mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ayahanda Tri Wahyu Sarjono, Ibunda Rosita Siregar, Adinda Agung Dwi Pribadi Utomo, Adinda Namira Ayu Afiati, Nenek Madina Br Pardede,

Pakde Alm Dr Adi Sucipto Sp.A(K) G dan keluarga, Pakde Prof Adi Kusuma Aman dan keluarga yang telah memberikan dukungan moril dan materil sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan sebaik-baiknya.

2. Bapak Ir. Thomson Sebayang, MT selaku ketua komisi pembimbing dan ibu

Ir. Diana Chalil, Msi, PhD selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberi motivasi, semangat, dorongan dan tidak letih membimbing dalam penulisan skripsi ini.

(5)

selaku HR Area Manager Sumbagut dan bapak/ibu manager SPBU tempat penelitian, yang memberikan ijin kepada penulis untuk melaksanakan Penelitian Skripsi, dan Desa Parbuluan V kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi sebagai tempat penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan.

5. Teman-teman penulis di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara khususnya Bonardo Ritonga, SP, Glen Dedy, SP, DINI, Chandra Butar-butar, Yoseph Alabama, SP, Dedi Julianto, SP dll yang tidak dapat disebut satu persatu serta Bapak AKBP Pranyoto SiK selaku Wakil Ketua Mejelis Pembimbing Kompol A. Hutauruk selaku Pembina , AKP M.

Napitupulu, AIPDA M. Kembaren selaku Pamong Saka Bhayangkara

Polresta Medan, serta rekan-rekan/ adik-adik didik dewan Saka Bhayangkara, rekan-rekan Pramuka USU yang telah memberikan bantuan dan dukungan sehingga penulis berhasil memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Medan, Agustus 2012

(6)

RIWAYAT HIDUP

EKO ANANDA PERMADI lahir di Medan tanggal 23 Februari 1988, anak ke 1 dari 3 bersaudara dari Ayahanda Tri Wahyu Sarjono dan Ibunda

Rosita Siregar.

Pendidikan formal yang ditempuh oleh penulis adalah sebagai berikut :

1. Tahun 1994 masuk Sekolah Dasar dan lulus Tahuun 2000 dari SD Swasta Tamansiswa Medan

2. Tahun 2000 masuk Sekolah Menengah Pertama dan lulus Tahun 2003 dari

SLTP SWASTA Tamansiswa Medan

3. Tahun 2003 masuk Sekolah Menengah Atas dan lulus Tahun 2006 dari

SMA SWASTA Tamansiswa Medan

4. Tahun 2006 masuk Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SPMB

Kegiatan yang dilakukan penulis selama menajadi mahasiswa di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara adalah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di Desa Parbuluan V Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi dan melaksanakan Penelitian Skripsi di SPBU yang ada di Kota Medan

(7)

ABSTRAK……….. i

KATA PENGANTAR ………..ii

RIWAYAT HIDUP………...iv

DAFTAR ISI………...v

DAFTAR TABEL………vii

DAFTAR GAMBAR………...viii

DAFTAR LAMPIRAN……….ix

PENDAHULUAN……….1

Latar Belakang.…..………....1

Identifikasi Masalah………...3

Tujuan Penelitian………....4

Kegunaan Penelitian...………5

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA PENELITIAN……….6

Tinjauan Pustaka………6

Landasan Teori..………...11

Kerangka Pemikiran……….14

Hipotesis Penelitian………..16

METODELOGI PENELITIAN……….17

Metode Penentuan Daerah Penelitian………. 17

Metode Penentuan Sampel………..17

Metode Pengumpulan Data……….18

Metode Analisis Data………..19

Definisi dan Batasan Operasional………21

Definisi………..21

Batasan Operasional………..22

(8)

DESKRIPSI KOTA MEDAN DAN KARAKTERISTIK SPBU

SAMPEL………...23

Deskripsi Kota Medan………..23

Keadaan SPBU……….24

HASIL DAN PEMBAHASAAN……….26

Perkembangan jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar di Kota Medan..……….26

Mekanisme pendistribusian Biosolar ke SPBU………28

Perkembangan Volume Biosolar Yang disalurkan kesetiap SPBU…...…...30

Perbedaan antara volume supply Biosolar oleh pertamina dengan realisasi volume penjualan oleh SPBU……….…31

Komposisi Konsumen Biosolar……….33

Hubungan antara aksesibilitas dengan penjualan Biosolar………...36

KESIMPULAN DAN SARAN ………..37

Kesimpulan……….37

Saran………...38

DAFTAR PUSTAKA

(9)

Tabel Judul Hal

1. Jumlah Sampel SPBU di Kota Medan ………..17

2. Komposisi SPBU Kota Medan menurut lama berusaha dan jenis

badan usaha………....24

3. Komposisi SPBU di Kota Medan menurut tingkat penjualan Biosolar….25

4. Kelompok SPBU menurut umur pemilik SPBU………....25

5. Pembagian daerah SPBU di Kota Medan………..33

6. Uji beda rata-rata tingkat aksesibilitas SPBU dengan mengunakan

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Hal

1. Kerangka Pemikiran ………..15 2. Jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar di Kota Medan

(11)

Lampiran Judul 1. Karakteristik SPBU sampel

2. Jumlah SPBU yang menjaul Biosolar Periode Juni 2010 Mei 2011 3. Jumlah Suplai Biosolar oleh PT. Pertamina periode Juni 2010-Mei 2011 4. Komposisi SPBU berdasarkan umur pemiliknya dan jenis badan usaha nya 5. Jenis Kenderaan Yang Menggunakan Biosolar

6. Realisasi Biosolar Di Spbu Kota Medan periode Juni 2010- Mei 2011 7. Rata-rata realisasi penjualan di SPBU per hari

8. Aksesibiltas Sedang ( 2- 3 ) 9. Aksesibilitas Tinggi ( 4-5 )

(12)

ABSTRAK

EKO ANANDA PERMADI (060304046) dengan judul skripsi

ANALISIS DISTRIBUSI BIOSOLAR DI KOTA MEDAN” dibimbing oleh

Ir. Thomson Sebayan, MT dan Ir. Diana Chalil,Msi,PhD

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar di Kota Medan; untuk mengetahui mekanisme distribusi Biosolar di Kota Medan ; untuk mengetahui; perkembangan volume Biosolar yang didistribusikan di Kota Medan; untuk mengetahui perbedaan antara volume Biosolar yang direncanakan dan didistribusikan dengan jumlah Biosolar yang terjual di SPBU di Kota Medan; untuk mengetahui komposisi jenis kenderaan yang mengunakan Biosolar diKota Medan; untuk mengetahui hubungan antara aksessibilitas dengan volume penjualan Biosolar.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah Pertama kali Biosolar diperkenalkan PT. Pertamina kepasar pada periode Juni 2010 maka jumlah SPBU yang menjual Biosolar mengalami peningkatan mulai dari bulan Juni 2010 hingga Mei 2011, namun setelah diberlakukannya penetapan dari pemerintah sekarang semua SPBU di Kota Medan sudah memasarkan Biosolar; Mekanisme penyaluran Biosolar dari PT. Pertamina sampai ke tangan pemilik SPBU dengan mengunakan sistem distribusi semi langsung yakni dimana penyaluran barang hasil produksi ke konsumen melalui badan perantara milik produsen itu sendiri; Sebelum diberlakukan kuota terhadap jumlah penyaluran Biosolar ke SPBU, maka setiap SPBU berhak memesan Biosolar sesuai kebutuhan, namun setelah diberlakukannya quota setiap SPBU hanya dapat memesan tidak lebih dari 18.000 liter per hari nya; Biosolar yang disuplai oleh PT. Pertamina maksimal 18.000 liter per hari dan rata-rata setiap hari SPBU dapat menjual 15.255 liter per hari ( Lampiran 7 ) dan sisa yang tertinggal rata-rata 2744,18 liter per hari dengan jumlah penjualan terendah ialah 13.000 liter dan jumlah penjualan tertinggi ialah 16.000 liter per hari; konsumen yang mengunakan Biosolar terbagi atas beberapa jenis kenderaan yaitu bus antar kota dalam provinsi dan antar provinsi, truk pengangkut barang, kenderaan pribadi bermesin diesel dan perahu motor nelayan. Dimana kapasitas tangki dari truk adalah 100 liter, bus 200 liter dan kenderaan pribadi bermesin diesel 60 liter; tidak terdapat beda antara tingkat aksesibilitas sedang dengan tingkat aksesibilitas tinggi hal ini sesuai dengan pengamatan dilapangan yang rata-rata setiap SPBU hanya dapat menyalurkan Biosolar tidak boleh lebih dari 18.000 liter per hari sehingga terdapat keseragaman jumlah yang di suplai oleh PT. Pertamina sehingga tidak terdapat perbedaan jumlah yang dijual antara SPBU yang memiliki tingkat aksesibilitas sedang dengan SPBU yang memiliki tingkat aksesibilitas tinggi.

(13)

1.1 Latar Belakang

Bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang semakin penting hal ini dapat diketahui dari meningkatnya jumlah kenderaan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak sebagai bahan bakarnya.

Tingginya kebutuhan masyarakat akan energi khususnya bahan bakar minyak yang berasal dari fosil (bahan tambang) memunculkan masalah tersendiri. Energi ini kini semakin terbatas jumlahnya kerena sifatnya yang tidak dapat diperbaharui, serta tingkat polusi yang dihasilkan relative tinggi. Masalah ini memicu lahirnya gagasan untuk megembangkan bahan bakar yang berasal dari non-fosil yakni bahan bakar nabati (BBN) yang berasal dari tumbuhan atau pun hewan yang diambil minyaknya. BBN nantinya diharapkan dapat mengantikan peran bahan bakar yang berasal dari fosil tersebut.

Hingga saat ini BBM tersebut lebih banyak menggunakan bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Padahal persediaan minyak mentah di Indonesia sekitar 9 (sembilan) milyar barrel dan dengan laju produksi rata-rata 500 (lima ratus) juta barrel per tahun, maka persediaan tersebut akan habis dalam 18 tahun ke depan (Dept Energi & Sumber Daya Mineral). Untuk mengurangi ketergantungan tersebut Indonesia harus mengembangkan bahan bakar alternative yang ramah lingkungan, salah satunya ialah Biosolar.

(14)

2

Biosolar ialah suatu bahan bakar nabati (BBN) yang dihasilkan dari pencampuran antara minyak Solar dengan minyak nabati yang berasal dari tanaman dalam hal ini minyak nabati yang digunakan banyak berasal dari tumbuhan jarak atau minyak kelapa sawit (CPO) atau lemak hewani yang telah diproses. Adapun kelebihan dari BBN Biosolar ini ialah dapat mengurangi emisi gas buang pada kenderaan dikarenakan pembakarannya yang lebih sempurna sehingga dapat mengurangi polusi udara jika digunakan secara berkelanjutan. Selain itu Biosolar juga mampu memperpanjang umur mesin karena memiliki sifat detergensi / pembersih ( Anonimous a, 2010 )

Biosolar mulai diluncurkan di Indonesia sejak tahun 2006 dan pemasaran Biosolar di SPBU wilayah Medan dan sekitarnya dimulai pada 28 Juni 2010 dilakukan secara bertahap untuk mengantikan bahan bakar Biosolar yang rata-rata penyalurannya mencapai 18.000 liter perhari di setiap SPBU.

Dari awal peluncurannya Biosolar di Kota Medan pada tanggal 28 Juni 2010 jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar berjumlah 4 unit dengan jumlah Biosolar yang disalurkan sebanyak 144.000 liter dan pada bulan Mei 2011 jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar mengalami peningkatan menjadi 85 unit dengan jumlah Biosolar yang disalurkan sebanyak 15.987.000 liter.

Biosolar yang dipasarkan di Kota Medan adalah jenis Biosolar B-5 dengan kandungan 95% minyak Solar dan 5% Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Dengan Cantane number minimal 48, produk ini dapat digunakan untuk mobil-mobil

(15)

harga Biosolar setara dengan harga Solar yang dijual di SPBU yakni Rp 4.500,- per liter.

Kelabihan Biosolar dibandingkan dengan Solar ialah Biosolar mempunyai sifat ditergensi yaitu siaft membersihkan korosi pada mesin kenderaan sehingga tarikkan pada kenderaan lebih ringan.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka diidentifikasikan beberapa masalah yang berhubungan dengan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana perkembangan jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar di Kota Medan

2. Bagaimana mekanisme distribusi Biosolar di Kota Medan

3. Bagaimana perkembangan volume Biosolar yang didistribusikan ke setiap SPBU di Kota Medan

4. Apakah ada perbedaan antara volume Biosolar yang didistribusikan oleh PT. PERTAMINA dengan realisasi volume penjualan oleh SPBU di Kota Medan

5. Bagaimana komposisi jenis kenderaan yang mengunakan Biosolar di Kota Medan

(16)

4

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Menjelaskan perkembangan jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar di Kota Medan

2. Menjelaskan bagaimana mekanisme distribusi Biosolar di Kota Medan

3. Menjelaskan perkembangan volume Biosolar yang didistribusikan di Kota Medan

4. Menjelaskan perbedaan antara volume Biosolar yang direncanakan dan didistribusikan dengan jumlah Biosolar yang terjual di SPBU di Kota Medan

5. Menjelaskan komposisi jenis kenderaan yang mengunakan Biosolar diKota Medan

(17)

1.4 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :

1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pihak PT. PERTAMINA dalam membuat keputusan untuk meningkatkan distribusi Biosolar di Kota Medan

2. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pihak PT. PERTAMINA dalam menyalurkan Biosolar kepada konsumen

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka

Biodiesel dapat dibuat dari minyak kelapa sawit ( crude palm oil ) ( CPO ) dan minyak jarak ( crude jatropha oil ) (CIO). Namun untuk sementara ini Biosolar masih mengandalkan CPO sebagai bahan bakunya. Melihat spesifikasi Biosolar setingkat di atas Solar namun tetap di bawah Pertamina DEX. Cetane number 51, berada diantara Solar (48) dan DEX (53). Hal ini dapat menambah performanya. Semakin tinggi angka catane, maka tarikan mesin pun makin ringan.

Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakkan Energi Nasional menyebutkan pengembangan biodiesel sebagai energi terbarukan akan dilaksanakan selama 25 tahun dimulai dengan persiapan pada tahun 2004 dan eksekusi sejak tahun 2005. Periode 25 tahun tersebut dibagi dalam tiga fase pengembangan biodiesel. Pada fase pertama, yaitu tahun 2005-2010 pemanfaatan biodiesel minimum 2% atau sama dengan 720.000 kilo liter untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak nasional dengan produk-produk yang berasal dari minyak castor san kelapa sawit ( Anonimous, 2010).

Menurut M. Harun perbedaan signifikan dengan Solar tampak dari kadar sulfur Biosolar yang sangat rendah “ sulfur content” maksimal yang ditetapkan Pertamina adalah 500 ppm jauh lebih rendah dari standar Solar 3.500 ppm dan mendekati DEX dengan 300 ppm ( Anonimous c, 2011).

(19)

Kedudukan saluran distribusi di dalam saluran pemasaran bahwa saluran distribusi merupakan bagian dari saluran pemasaran yang berfungsi dalam membantu produsen mendistribusikan hasil produksinya untuk bisa ke tangan konsumen dimana tugasnya mencakup penyebaran promosi, transportasi dan sebagainya, tetapi saluran distribusi tidak melakukan tugas yang seperti dilakukan fungsi saluran pemasaran, dimana tugasnya sebagai fasilitator, artinya orang atau lembaga yang memfasilitasi kegiatan atau operasional kegiatan perusahaan diantaranya pelayanan perbaikan dan sebagainya sehingga dapat diketahui bahwa cakupan distribusi relative lebih kecil daripada saluran pemasaran ( Kotler, 2007).

Saluran distribusi adalah saluran yang dipakai oleh produsen untuk mendistribusikan hasil barang produksinya kepada konsumen, baik sampai berpindahnya hak ( penguasan ) sampai dengan pemindahan barang maupunn hanya pemindahan hak kepemilikannya saja.

Pemilihan saluran distribusi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Sifat pembeli seperti kebiasan membeli, frekuensi pembelian, letak geografis dsb.

2. Sifat produk

3. Sifat perantara

4. Sifat pesaing

(20)

8

Dari definisi-definisi tersebut di atas dapat diketahui adanya beberapa unsur penting yaitu :

1. Saluran ditribusi merupakan jalur yang dipakai oleh produsen untuk memindahkan produk mereka melalui suatu lembaga yang mereka pilih

2. Saluran mengalihkan kepemilikan produk baik secara langsung maupunn tidak langsung dan produsen kepada konsumen

3. Saluran distribusi bertujuan untuk mencapai pasar tertentu. Jadi pasar merupakan tujuan akhir dari kegiatan saluran.

4. Saluran distribusi merupakan suatu kesatuan dan melaksanakan sistem kegiatan ( fungsi ) yang lengkap dalam penyaluran produk. ( Anonimous a, 2011)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penjualan ialah :

1. Kondisi dan kemampuan penjualan dimana penjual harus menyakinkan kepada pembelinya agar dapat berhasil mencapai sasaran penjualan yang diharapkan, adapun masalah penting yang sangat berkaitan, yakni

a. Jenis dan karakteristik barang yang ditawarkan

b. Harga produk

c. Syarat penjualan seperti : pembayaran, penghantaran, pelayanan purna jual, garansi dsb.

(21)

a. Jenis pasar, apakah pasar konsumen, pasar industri, pasar penjual,pasar pemerintah, atau pasar international

b. Kelompok pembeli atau segmentasi pasar

c. Daya beli

d. Frekuensi pembelian

e. Keinginan dan kebutuhannya

3. Modal dalam hal ini penjual harus memperkenalkan dulu atau membawa barangnya ke tempat pembeli, untuk melaksanakan maksud tersebut diperlukan adanya sarana serta usaha seperti : alat transportasi,tempat peragaan baik di dalam perusahaan, usaha promosi dan sebagainya.

4. Kondisi organisasi perusahaan : Pada Perusahaan besar maupun perusahaan kecil memiliki masalah yang berbeda terutama pada organisasi perusahaan, yang sangat terlihat jelas ialah pada fungsi setiap organisasi perusahaan tersebut, perusahaan besar biasanya memiliki bagian tersendiri dalam hal bagian penjualan sedangkan perusahaan kecil biasanya bagian tersebut dikerjakan oleh orang yang sama yang juga melakukan fungsi-fungsi yang lain

5. Faktor lain : adapun faktor-faktor lain yang mendukung penjualan ialah :

a. Periklanan

(22)

10

c. Kampanye

d. Pemberian hadiah

( Swasta, 1998)

Biaya tetap ialah pengeluaran yang harus dikeluarkan meskipun produksi tidak sedang berlangsung, seperti biaya pajak akan tetap dibayar walaupun kegiatan itu besar atau pun gagal sekalipun. Biaya variabel ialah keseluruhan pengeluaran yang dikeluarkan hanya pada saat produksi dan tergantung pada berapa besaran variabel produksi yang akan dikeluarkan dalam masa produksi tersebut ( Soekartawi, 1995)

Biaya produksi ialah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi perusahaan tersebut ( Sukirno, 2008).

Biosolar merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran alkyl ester dari rantai panjang asam lemak yang dipakai sebagai alternative bagi bahan bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan, Biosolar yang akan diluncurkan di Medan adalah Biosolar B-5 dengan, kandungan 95% minyak Solar dengan 5 % FAME (Fatty Acide Mehtyl Ester), dengan catane number 48 produk ini dapat digunakan untuk kenderaan

(23)

2.2 Landasan Teori

Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran diantaranya :

1. Biaya produksi, harga bahan bakunya yang mahal akan mengakibatkan tingginya biaya produksi dan menyebabkan produsen menawarkan barang dalam jumlah terbatas untuk menghindari kerugian karena takut tidak laku

2. Teknologi, adanya kemajuan teknologi akan menyebabkan pengurangan terhadap biaya produksi dan produsen dapat menawarkan barang dalam jumlah yang lebih besar lagi.

3. Harga barang pelengkap dan pengganti apabila harga pengganti mengalami kenaikan maka produsen akan memproduksi lebih banyak lagi karena berasumsi konsumen akan beralih ke barang pengganti karena hargaanya lebih murah

4. Pajak, semakin tinggi tarif pajak yang dikenakan akan berakibat naiknya harga barang dan jasa yang akan membawa dampak rendahnya permintaan konsumen dan berkurangnya jumlah barang yang ditawarkan.

(24)

12

biaya produksi mengalami peningkatan, harga barang dan jasa naik maka produsen cenderung mengurangi jumlah barang dan jasa yang ditawarkan atau beralih pada usaha lain

6. Tujuan dari perusahaan, bila perusahaan berorientasi untuk dapat menguasai pasar, maka dia harus mampu menekan harga terhadap barang dan jasa yang ditawarkan sehingga keuntungan yang diperoleh kecil. Bila orientasinya pada keuntungan maksimal maka perusahaan akan menetapkan harga yang tinggi terhadap barang dan jasa yang ditawarkannya ( Sukirno, 2005 )

Ditribusi ialah kegiatan penyaluran hasil produksi berupa barang dan jasa dari produsen ke konsumen guna memenuhi kebutuhan konsumen, dalam penyaluran hasil produksi dari produsen dapat menggunakan beberapa jenis sistem distribusi yang dapat dikelompokkan menjadi :

a. Distribusi langsung dimana produsen mendistribusikan hasil produksinya langsung kepada konsumen

b. Distribusi semi langsung dimana penyaluran barang hasil produksi ke konsumen melalui badan perantara milik produsen itu sendiri

c. Distribusi tidak langsung dimana penyaluran barang hasil produksi produsen tidak langsung menjual hasil produksinya baik barang atau pun jasa kepada pemakai melainkan perantara

(25)

Harga ialah suatu nilai tukar dari produk barang maupunn jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter. Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupunn jasa.

Menurut Black ( 1981 ) aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain, dan mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui transportasi. Menurut Magribi bahwa aksesibilitas adalah ukuran kemudahan yang meliputi waktu, biaya, dan usaha dalam melakukan perpindahan antara tempat-tempat atau kawasan dari sebuah sistem ( Magribi, 1998 ).

Salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah tingkat aksesibilitas itu tinggi atau rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut. Semakin banyak sistem jaringan yang tersedia pada daerah

(26)

14

2.3 Kerangka Pemikiran

Biosolar ialah suatu bahan bakar nabati ( BBN ) yang dihasilkan dari pencampuran antara minyak Solar dengan minyak nabati yang berasal dari tanaman dalam hal ini minyak nabati yang digunakan banyak berasal dari tumbuhan jarak atau minyak kelapa sawit ( CPO ) atau lemak hewani yang telah diproses. Adapun kelebihan dari BBN Biosolar ini ialah dapat mengurangi emisi gas buang pada kenderaan dikarenakan pembakarannya yang lebih sempurna sehingga dapat mengurangi polusi udara jika digunakan secara berkelanjutan. Selain itu Biosolar juga mampu memperpanjang umur mesin karena memiliki sifat detergensi / pembersih.

Biodiesel dapat dibuat dari minyak kelapa sawit ( crude palm oil ) ( CPO ) dan minyak jarak ( crude jatropha oil ) (CIO). Namun untuk sementara ini Biosolar masih mengandalkan CPO sebagai bahan bakunya. Melihat spesifikasi Biosolar setingkat di atas Solar namun tetap di bawah Pertamina DEX. Cetane number 51, berada diantara Solar (48) dan DEX (53). Hal ini dapat menambah performanya. Semakin tinggi angka catane, maka tarikan mesin pun makin ringan

(27)

Gambar1. Kerangka Pemikiran

Keterangan :

Jalur distribusi Biosolar Hubungan

PT. PERTAMINA ( Persero ) SUMBAGUT

UPMS

( UNIT PEMASARAN MEDAN SEKITAR )

IMG INSTALASI MEDAN GRUP

SPBU

VOLUME PENJUALAN

RENCANA PENJUALAN

REALISASI

JENIS

(28)

16

2.4 Hipotesa Penelitian

Adapun Hipotesa dalam penelitian ini ialah

(29)

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Kota Medan ditentukan sebagai daerah penelitian secara purposive yakni teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bahwa di Kota Medan telah mendapat pasokan Biosolar sejak 28 Juni 2010-pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan penelitian. Lokasi penelitian ialah SPBU di Kota Medan yang mendapatkan pasokan Biosolar. Dengan wilayah tersebut dipilh menjadi Kota Medan.

3.2 Metode Penentuan Sampel

Penetapan jumlah sampel dilakukan secara propotional cluster sampling mengklasifikasi sampel seccara proposional yang berdasarkan lokasi SPBU yang dibagi atas 4 ( bagian wilayah di Kota Medan ), yakni Medan bagian barat, Medan bagian Timur, Medan bagian Utara dan Medan bagian Selatan.

Tabel 1. Jumlah Sampel SPBU di Kota Medan

Daerah SPBU

Populasi Populasi Sampel

Medan Bagian Timur Medan Bagian Barat Medan Bagian Utara Medan Bagian Selatan

28 27 14 17

14 13 7 8

Total 85 42

Sumber : Data diolah dari lampiran 1

(30)

18

3.3 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan mengunakan metode survey dan observasi langsung dengan menggunakan pertanyaan dan pedoman wawancara yang telah disiapkan terlebih dahulu. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan terdiri dari :

1. Data realisasi penjualan Biosolar di setiap SPBU

2. Jumlah permintaan Biosolar

3. Bagaimana SPBU tersebut memperoleh Biosolar

Data primer tersebut diperoleh dari keterangan petugas / pemilik SPBU yang mendapat pasokan Biosolar di Kota Medan, Data sekunder yang dikumpulkan mencakup :

1. Data jumlah dan lokasi SPBU yang menjual Biosolar

(31)

3.4 Metode Analisis Data

Masalah 1 sampai dengan 5 dianalisis dengan metode deskriftif adapun pada, masalah pertama dianalisis dengan metode deskriftif dengan melihat jumlah perkembangan SPBU yang menjual Biosolar di Kota Medan.

Masalah ke 2 dianalisis dengan melihat bagaimana sistem distribusi pelaku dan fungsi di sepanjang rantai distribusi Biosolar di Kota Medan.

Masalah ke – 3 dianalisis dengan melihat seberapa besar volume Biosolar yang didistribusikan di Kota Medan mulai dari bulan Juni 2010

Masalah ke – 4 dianalisis dengan melihat besaran volume suplai Biosolar oleh PT. Pertamina ( Persero ) dengan penjualan Biosolar oleh SPBU diKota Medan

Masalah yang ke – 5 dianalisis dengan melihat besaran variasi konsumen yang memakai Biosolar di SPBU di Kota Medan dengan melakukan wawancara kepada pemilik SPBU.

Masalah yang ke – 6 dianalisis dengan uji beda rata-rata dengan menggunakan data tingkat aksesibilitas yang terdiri dari

(32)

20 Tingkat aksesibilitas diukur dengan mengunakan sistem skoring dengan memberikan skor, dimana untuk skor 1 ialah daerah di lingkungan SPBU yang memiliki daerah industri, daerah pendidikan, daerah terminal, perkantoran dan pemukiman yang berjarak lebih kecil dari 10 KM dari SPBU , dimana untuk skor 0 ialah daerah di lingkungan SPBU yang memiliki daerah industri, daerah pendidikan, daerah terminal, perkantoran dan pemukiman yang berjarak lebih dari 10 KM dari SPBU.

Adapun kriteria aksessibilitas adalah sebagai berikut

- Total Skor 0-1 merupakan aksesibilitas rendah - Total skor 2-3 merupakan aksesibilitas sedang - Total skor 4-5 merupakan aksesibilitas tinggi Keterangan :

i = Jumlah SPBU yang memiliki aksesibilitas sedang j = Jumlah SPBU yang memiliki aksesibilitas tinggi

Xi = Rata-rata penjualan biosolar di SPBU SPBU Yang Aksesibilitas Sedang Yj = Rata-rata penjualan biosolar di SPBU SPBU Yang Aksesibilitas tinggi SXi2 = Simpang baku Xi

SYi2 = Simpangan baku Yi

nxi = Besar Sampel SPBU aksesibilitas sedang nyi = Besar Sampel SPBU aksesibilitas tinggi Kriteria pengujian adalah sebagai berikut :

Jika th ≤ t ( α; n-2); H0 diterima H1 ditolak ( α = 0,05 )

(33)

Hipotesa yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. H0: D = 0 ( tidak terdapat perbedaan antara dua pengamatan adalah 0 )

2. H1: D ≠ 0 (terdapat perbedaan antara dua pengamatan tidak sama dengan 0 )

3.5 Definisi Dan Batasan Operasional

3.5.1 Definisi

1. Biosolar ialah bahan bakar nabati campuran dari alkyl dari rantai panjang asam lemak yang dipakai sebagai alternative bagi bahan bakar dari mesin diesel

2. IMG ialah Instalasi Medan Grup tempat stasiun penyaluran BBM di Kota Medan

3. UPMS Regional I Ialah Unit Pemasaran Medan Sekitar

4. Harga Biosolar adalah harga dari produk Biosolar pada setiap SPBU yang dinyatakan dalam satuan rupiah / liter

(34)

22

3.5.2Batasan Operasional

1. Sampel penelitian adalah SPBU yang mendapat pasokan Biosolar yang ada di Kota Medan

2. Waktu penelitian sampai dengan mei adalah 2012

(35)

KARAKTERISTIK SPBU SAMPEL

4.1 Deskripsi Kota Medan

Kota Medan memiliki luas wilayah 265,10 KM2 yang secara administrasi dibagi atas 21 kecamatan yang mencakup 151 kelurahan. Kota Medan terletak di antara 30’’3’- 3”43 LU dan 98”44’ BT berada pada ketinggian 2,5 – 37,5 m Dpl. Rata-rata suhunya adalah 23,20C – 24,30C dengan keadaan iklim sedang.

Adapun batas-batas Kota Medan adalah :

- Sebelah Utara Berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Selat Malaka

- Sebelah Selatan Berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang

- Sebelah Timur Berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang

- Sebelah Barat Berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang

UPMS ( Unit Pemasaran Medan Sekitar regional I ) menaungi pamasaran Biosolar untuk daerah Medan sekitarnya, UPMS terletak dijalan Yos Sudarso No. 6 yang berada dalam kecamatan Medan Perjuangan memiliki luas wilayah ± 3 Ha. UPMS berbatasan dengan :

- Sebelah Utara Berbatasan dengan kompleks Perumahan

- Sebelah Selatan Berbatasan dengan Jalan Glugur

- Sebelah Timur Berbatasan dengan Tol Belmerah

(36)

24

4.2 Keadaan SPBU

a. Komposisi SPBU Menurut lama berusaha dan jenis Badan Usaha

Pada data yang terdapat dilapangan komposisi SPBU terdiri dari beberapa klasifikasi menurut lama berusaha dan jenis badan usaha. SPBU di Kota Medan berjumlah 85 SPBU yang didominan oleh SPBU yang dimiliki swasta dalam hal ini bukan merupakan milik dari koperasi karyawan PT. Pertamina. Untuk melihat lebih jelas jumlah SPBU di Kota Medan dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 2. Komposisi SPBU Kota Medan menurut lama berusaha dan jenis badan usaha

No Jumlah

SPBU

( Unit )

No Jenis badan usaha Jumlah

SPBU

( Unit )

1 39 1 Swasta 40

2 3 2 Koperasi PT. Pertamina 3

3 1

43 Total 43

Sumber : Lampiran 1

(37)

b. Komposisi SPBU menurut jumlah Biosolar yang terjual

Tabel 3. Komposisi SPBU di Kota Medan menurut tingkat penjualan Biosolar

No

Jumlah Biosolar yang terjual ( dalam satuan liter )

Jumlah SPBU ( dalam satuan unit )

1. 12.000 – 13.000 5

2. 14.000 – 16.000 38

Sumber : Data diolah dari lampiran 1

Berdasarkan tabel di atas maka dapat ditarik kesimpulan SPBU yang menjual Biosolar paling sedikit berkisar antara 12.000 – 13.000 liter sebanyak 5 unit sedangkan SPBU yang menjual Biosolar 14.000 – 16000 liter sebanyak 38 unit.

Adapun pengelompokkan SPBU berdasarkan kelompok umur pemilik SPBU

Tabel 4. Kelompok SPBU menurut umur pemilik SPBU

No Umur Pemilik SPBU

( dalam tahun )

Jumlah

( dalam unit )

1 40- 45 16

2 46-50 19

3. 51-60 4

Sumber: Data diolah dari lampiran 1

(38)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Perkembangan jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar

di Kota Medan.

Pertama kali Biosolar diperkenalkan PT. Pertamina kepasar pada periode Juni 2010 maka jumlah SPBU yang menjual Biosolar mengalami peningkatan mulai dari bulan Juni 2010 hingga Mei 2011 sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 2 di bawah ini :

Gambar 2. Jumlah SPBU yang mendistribusikan Biosolar di Kota Medan periodeJuni 2010 sampai Mei 2011

Sumber : Data diolah dari lampiran 2

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa pada bulan Juni 2010 hanya berjumlah 4 SPBU serta pada bulan Juli meningkat menjadi 10 SPBU merupakan tahap awal perkenalkan Biosolar ke konsumen sementara pada bulan Agustus 2010 jumlahnya meningkat menjadi 79 unit SPBU ini dikarenakan kebijakkan pemerintah sesuai dengan peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang perluasan pemasaran Biosolar di SPBU yang mewajibkan semua SPBU di Kota Medan mendistribusikan Biosolar sebagai pengganti Solar.

(39)

Dalam masa perkenalan ini pihak PT. Pertamina melakukan sosialisasi kepada pemilik SPBU seputar kelebihan dari Biosolar dan alasan kenapa Biosolar ditunjuk mengantikan Solar, dengan harapan agar pihak SPBU dapat memberikan informasi kepada pihak konsumen tentang kelebihan dari Biosolar. Untuk penyaluran Biosolar pihak pemilik SPBU tidak perlu merubah mesin yang sebelumnya atau pihak pemilik SPBU tidak perlu membeli mesin baru karena mesin yang lama ( mesin yang digunakan untuk Solar ) masih dapat dipergunakan untuk menyalurkan Biosolar karena sifatnya yang sama dengan Solar.

Harga yang dipatokkan untuk produk Biosolar sama halnya dengan harga Solar yang dijual di SPBU yakni Rp 4.500,- per liter karena Biosolar memang dipersiapkan untuk menganti peran Solar di lapangan, yang nantinya secara perlahan akan ditarik dari pasaran dikarenakan persediaan Solar yang terbatas.

Pada awal pemasarannya banyak konsumen yang bertanya-tanya tentang produk tanggapan konsumen terhadap Biosolar saat pertama kali dipasarkan beraneka ragam ada yang langsung memakainya ada yang masih ragu-ragu karena produk Biosolar ini belum pernah dicoba, namun setelah dijelaskan oleh pihak SPBU dan juga karena semakin terbatasnya persediaan Solar yang semakin menipis maka konsumen beralih ke Biosolar.

(40)

28

SPBU yang ada di Kota Medan wajib menjual Biosolar sebagai pengganti Solar di lapangan.

5.2 Mekanisme pendistribusian Biosolar ke SPBU

Mekanisme penyaluran Biosolar dari PT. Pertamina sampai ke tangan pemilik SPBU ialah dengan melibatkan UPMS regional I ( Unit Pemasaran Medan Sekitar Regional I ) yang bertugas mengatur jalur pendistribusian BBM diwilayah Medan sekitar agar penyaluran BBM berjalan dengan baik, dan pihak IMG ( Intalasi Medan Grup ) yang bertugas untuk mendistribusikan BBM ke seluruh SPBU yang berada dalam jaringan pamasaran UPMS regional I

Adapun skema jalur distribusi dari Biosolar dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 3. Skema penyaluran Biosolar di Kota Medan

Sumber : Data dioalah dari hasil wawancara dilapangan kepada pihak pemilik SPBU

Untuk memesan Biosolar pemilik SPBU mentransfer uang kepada UMPS selaku mediator / perantara penyaluran Biosolar dari IMG ke SPBU, lalu pihak UPMS mengkonfirmasikan kepada IMG untuk menjadwalkan pengiriman Biosolar ke SPBU sesuai jadwal yang di inginkan oleh pihak SPBU.

UPMS

BANK

SPBU KONSUMEN

(41)

Adapun dalam pemesanan Biosolar pemilik SPBU mengirimkan pesan berupa SMS denga format 00 .00.000.000 00.000 00000 0000000 lalu dikirm ke pihak UPMS. Dimana :

= Jenis BBM yang diminta

= Nomor SPBU

= Jumlah Biosolar yang akan disalurkan tergantung volume tangki pendamnya

= No transfer

Dalam pengiriman Biosolar ini pihak SPBU hanya diperbolehkan memesan Biosolar maksimum 18.000 liter per hari dikarenakan produk Biosolar ini merupakan produk subsidi, sehingga tergantung SPBU bagaimana mengatur jumlah penjualan mereka sehingga tidak dapat habis sebelum hari pengiriman selanjutnya, dan kalau pun pada keaadan tertentu ternyata persediaan Biosolar di SBPU tersebut habis maka SPBU baru dapat melakukan pemesanan Biosolar pada pengiriman hari berikutnya.

Untuk menghindari penyalahgunaan penyaluran Biosolar, maka PT. Pertamina melakukan pengawasan dengan mensurvei setiap SPBU yang menyalurkan Biosolar secara berkala dengan mencatat jumlah penjualan Biosolar di SPBU. Survei ini dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu guna menghindari manipulasi data yang dilakukan oleh pihak pemilik SPBU.

00.000.000 00

00.000

(42)

30

Dalam pengiriman Biosolar ini terdapat sistem penjadwalan pengiriman yaitu jadwal pertama dari pukul 06.00 – 10.00 wib, jadwal kedua dari 10.00 – 14.00 wib, jadwal ketiga dari 14.00 – 18.00 wib dan jadwal bebas dari pukul 16.00 – 20.00. Adapun jadwal pengiriman disesuaikan dengan kebutuhan Biosolar di SPBU tersebut dan kapasitas tangki yang menampung Biosolar di SPBU tersebut adapun kapasitas tangki pendam untuk menyimpan Biosolar di setiap SPBU berbeda antara 16.000 liter, 18.000 liter dan 24.000 liter.

5.3 Perkembangan Volume Biosolar Yang disalurkan kesetiap SPBU

Sebelum diberlakukan kuota terhadap jumlah penyaluran Biosolar ke SPBU, maka setiap SPBU berhak memesan Biosolar sesuai kebutuhan. Perkembangan volume Biosolar yang disalurkan ke SPBU diperlihatkan pada gamabr 3 ini

Gambar 4 . Volume Biosolar yang disalurkan ke setiap SPBU

Sumber : data diolah dari lampiran 3

(43)

banyak perusahaan baik ekspedisi maupun pengangkutan penumpang yang mengunakan Biosolar.

Namun setelah diberlakukannya penetapan kuota pada bulan Juni 2011 terhadap Biosolar maka setiap SPBU hanya diperbolehkan memesan tidak lebih dari 18.000 liter per hari per SPBU hal ini menurut hasil wawancara terhadap pihak pemilik SPBU dikarenakan pihak PT. Pertamina menggolongkan Biosolar dalam golongan BBM bersubsidi jadi jumlah penyalurannya harus diawasi dan tidak boleh lebih dari 18.000 liter per hari hal ini diberlakukan kepada semua SPBU yang menyalurkan Biosolar agar tidak terjadinya kesenjangan.

5.4 Perbedaan antara volume supply Biosolar oleh pertamina dengan

realisasi volume penjualan oleh SPBU

Menurut hasil wawancara maka diketahui Biosolar yang disuplai oleh PT. Pertamina maksimal 18.000 liter per hari dan rata-rata setiap hari SPBU dapat menjual 15.255 liter per hari ( Lampiran 7 ) dan sisa yang tertinggal rata-rata 2744,18 liter per hari dengan jumlah penjualan terendah ialah 13.000 liter dan jumlah penjualan tertinggi ialah 16.000 liter per hari.

(44)

32

perusahaan meliburkan pekerjanya, sehingga kenderaan tersebut tidak dioperasikan.

Apabila dalam jangka waktu 1 ( satu ) hari permintaan terhadap Biosolar mengalami peningkatan sehingga menyebabkan persediaan di tangki pendam tidak mencukupi untuk penjualan selanjutnya, maka pihak SPBU harus menunggu untuk jadwal pengirimanan di hari berikutnya sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh pihak PT. Pertamina.

Hal ini yang menyebabkan sering terjadinya kekosongan persediaan Biosolar di SPBU , kekosongan persedian Biosolar terjadi saat jumlah permintaan Biosolar di SPBU mengalami peningkatan sedangkan jumlah suplai dari PT. Pertamina tetap , adapun permintaan Biosolar mengalami peningkatan biasanya terjadi pada awal hari kerja seperti pada hari Senin yang menjadi hari dimana perusahaan pemilik kenderaan mengisi ulang bahan bakar kenderaannya sebelum beroperasi.

Namun apabila permintaan terhadap Biosolar mengalami penurunan yang mengakibatkan persediaan di tangki pendam masih cukup untuk memenuhi permintaan pada hari berikutnya, maka pihak SPBU berhak untuk menunda pemesanan Biosolar kepada pihak PT. Pertamina dikarenakan persediaan Biosolar di tangki pendam masih dapat memenuhi permintaan pada hari berikutnya .

5.5 Komposisi Konsumen Biosolar

(45)

jenis kenderaan yaitu bus antar kota dalam provinsi dan antar provinsi, truk pengangkut barang, kenderaan pribadi bermesin diesel dan perahu motor nelayan. Dimana kapasitas tangki dari truk adalah 100 liter, bus 200 liter dan kenderaan pribadi bermesin diesel 60 liter serta perahu nelayan 20 liter.

Dari hasil tersebut maka didapat bahwa daerah Medan bagian Utara seperti merupakan daerah yang didominasi oleh kenderaan pengangkutan barang seperti truk diesel dan dump truk , sedangkan daerah Medan bagian Selatan merupakan daerah yang lebih didominasi oleh kenderaan bus antar kota dalam provinsi dan juga antar kota luar provinsi, untuk daerah Medan bagian Timur dan Barat merupakan daerah yang lebih bervariasi namun lebih didominan oleh kenderaan pengangkut barang tingkat rendah seperti truk box dan mobil pribadi bermesin diesel.

NO NAMA

DAERAH

ALAMAT SPBU JENIS

KENDERAAN YANG MENDOMINASI 1 Medan Bagian

Utara

- Jl Medan / Belawan KM 13 - Jl Yos Sudarso KM 4,5 - Jl Letda Sujono

- Jl Kol Bejo ( Brayan ) - Jl Yos Sudarso No 6 - Jl Asia Medan Belawan - Jl Aluminium Raya No 21 - Jl Raskam Medan Marelan

Kenderaan yang mendominsi ialah kenderaan

pengangkut barang seperti :

(46)

36

Sumber : Data diolah dari lampiran7 2 Medan

Bagian Selatan

- Jl AH. Nasution PKL Mansur - Jl Tritura Kec Mdn Johor - Jl Karya Jasa PKL Mansur - Jl Pancur Batu KM 10,35 - Jl PLM Denai M.Amplas - Jl S.M Raja Simp Limun MDN

kenderaan yang

mendominasi ialah bus angkutan antar kota dalam pravinsi, dan juga antar kota luar provinsi seperti bus ukuran besar seperti : - bus sinabung - bus patas non patas, Dll

3 Medan Bagian Timur

- Jl Denai Kel Tgl Sari Manadala Ii

- JL. SM RAJA

- Jl Perintis Kemerdekaan - Jl. Mndl by pass kel

bantan

- Jl Putri Merak Jingga - Jl Letda Sujono - Jl Imam Bonjol - Jl Dr. Mansur no 80 b - Jl Sutomo Ujung - Jl G. Krakatau Medan - Jl P. Denai Medan

Tenggara - Jl. Letda sujono - Jl Merbabu - Jl Ar Hakim

Kenderaan bervariasi

4. Medan Bagian

Barat

- Jl Sei Batang Hari

- Jl Setia Budi / s. selayang - Jl Arteri Ringdoad

- Jl Gatot Subroto - Jl G Patimpus

- Jl Binjai Km 5 Medan - Jl Adam Malik

- Jl Gatot Subroto Sei Sikambing

- Jl Patimura

- Jl Kapt Sumarsono - Jl Kapt sumarsono

- Jl Kasuari Kel Sei Sikambing B

- Jl Tj Gusta Medan Sunggal

(47)

5.6 Hubungan antara aksesibilitas dengan penjualan Biosolar

Tingkat aksesibilitas suatu SPBU dapat mempengaruhi jumlah penjualan Biosolar di SPBU tersebut, hal ini sesuai dengan teori

Menurut Black ( 1981 ) aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain, dan mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui transportas. Menurut( Magribi, 1998 ) bahwa aksesibilitas adalah ukuran kemudahan yang meliputi waktu, biaya, dan usaha dalam melakukan perpindahan antara tempat-tempat atau kawasan dari sebuah sistem.

Dalam mengukur tingkat aksesibilitas pada penelitian ini dengan mengskor keberadaan tempat seperti daerah industry, daerah instasi pemerintah, daerah terminal, daerah pemukiman dan perkantoran. Dengan point 1 untuk yang daerah yang berada dekat dengan SPBU tersebut dan point 0 bila tidak terdapat.

Dalam hasil pengamatan dilapangan didapat bahwa di wilayah SPBU minimal di daerah tersebut memiliki lebih dari 1 point seperti tidak dijumpai kalau di daerah SPBU tersebut hanya dekat pada 1 daerah saja pasti lebih dari 1 maka dari itu, tingkat aksesibilitas dibagi menjadi 2 yaitu aksessibilitas tingkat sedang yang memiliki point 2-3 dan tingkat aksessibilitas tingkat tinggi memiliki point 4-5. Tingkat aksessibilitas dapat dilihat pada lampiran 8 dan 9

(48)

36

Tabel 4. Uji Beda rata-rata tingkat aksesibilitas SPBU

t-hit t-tabel Kesimpulan

Aksesibiltas sedang 60.14 1.72 H0 ditolak,

H1 diterima

Aksesbilitas tinggi 58.00 1.71 H0 ditolak

H1 diterima

Sumber : Data diolah dari lampiran 12

H0 = tidak ada perbedaan antara aksesibilitas sedang dengan aksesibilitas Tinggi

H1 = Ada perbedaan antara akasesibilitas sedang dengan aksesibilitas tinggi

T hitung ≤ T tabel ( α; n-1 ); terima H0, tolak H1

T hitung > T tabel ( α; n-1 ); tolak H0, terima H1

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa SPBU yang memiliki tingkat aksesibilitas baik yang sedang rata-rata penjualan 15.086,96 liter per hari sedangkan untuk SPBU yang memiliki tingkat aksesibilitas tinggi rata-rata penjualanya 15.450 liter per hari. Dari hasil uji beda rata-rata di atas dapat terlihat bahwa t hitung > t tabel ( 60,14 > 1,72 ) dan ( 58,00 > 1,71 ) yang kedua nya berarti H0 ditolak dan H1 diterima.

(49)

Salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah tingkat aksesibilitas itu tinggi atau rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut. Semakin banyak sistem jaringan yang tersedia pada daerah

tersebut maka semakin mudah aksesibilitas yang didapat pula sebaliknya ( Bintarto, 1989 )

(50)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain :

1. Penyaluran Biosolar ke SPBU yang ada di Kota Medan mengalami peningkatan

2. Pendistribusian Biosolar dimulai dengan pihak SPBU memesan Biosolar ke pihak UPMS yang lalu melaporkan pemesanan Biosolar tersebut kepada pihak IMG selaku penyalur biosolar ke SPBU sebagai rantai terakhir penyaluran Biosolar kepada konsumen.

3. Sebelum ditetapkan nya kuota untuk Biosolar, maka jumlah volume Biosolar yang disalurkan PT. Pertamina berfluktuasi mulai dari bulan Juni 2010 sampai dengan bulan Mei 2011, namun setelah diberlakukannya kuota pada bulan Juni 2011 maka setiap SPBU hanya mendapat suplai Biosolar maksimum 18.000 liter per hari.

4. Volume Biosolar yang terjual rata-rata berjumlah 15.255 liter per hari dengan penjualan tertinggi berjumlah 16.000 dan terendah 13.000 liter per hari

5. Jenis kenderaan yang mengunakan Biosolar lebih banyak di dominasi kenderaan pengangkut barang dan bus

(51)

6. Tingkat aksesibilitas mempengaruhi terhadap jumlah penjualan Biosolar.

6.2 Saran

Dari hasil penelitian di atas maka saran yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Kepada Pemilik SPBU

- Diharapkan kepada pemilik SPBU untuk lebih

2. Kepada PT. Pertamina

- Disarankan kepada PT. Pertamina untuk lebih mengoptimalkan produksi Biosolar guna memenuhi permintaan konsumen yang semakin tinggi

- Untuk lebih mengawasi penyaluran Biosolar dilapangan agar sesuai sasaran yang membutuhkan

3. Kepada Peneliti Selanjutnya

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous a

_________ b

_________ c 2010 www.google.com / Peraturan Presiden No 5 tahun 2006 tentang Kebijakkan Energi Nasional

_________ a 20

_________ b Depan

Kotler, P 2000 Manajemen Pemasaran, Analisis Perancang Implementasi dan pengendalian, Jakarta Erlangga

Singarimbun, M dan Sofian Efendi 1995 Metode Penelitian Survei. PT. Pustaka LP3S, Jakarta

Sihombing, Luhut 2011. Tata Niaga Hasil Pertanian Medan USU Press

Soekartawi, A dkk 1995 Dasar Penyusunan Evaluasi Proyek . Pustaka Sinar Harapan

Sukirno, S 2008 Mikro Ekonomi : Teori Pengantar PT. Raja Grafindo Persada Medan

(53)

No No

JL PERINTIS KEMERDEKAAN

SIMANGUNSON

JL PUTRI MERAK JINGGA

DRS. KAMPIUN

TARIGAN 57 SWASTA 2009 1800

1129 JL ARTERI RINGDOAD

DIANA

JL GATOT SUBROTO SEI

SIKAMBING M.RIDWAN N 50 SWASTA 2000 1800

(54)

113 BELAWAN

34

14.202. 134

JL ALUMINIUM RAYA

NO 21 SAIDI SALIMIN 45 SWASTA 2008 1500

35

14.202. 143

JL RASKAM MEDAN

MARELAN H.M AIDI 50 SWASTA 2007 2000

36

14.201 106

JL AH.NASUTION PKL

MANSUR BAJINER SINGH 50 SWASTA 1992 1600

37

14.201. 147

JL TRI TURA KEC

MEDAN JOHOR M.SEMBIRING 50 SWASTA 2006 1300

38

14.201. 106

JL KARYA JASA PKL

MANSUR SOEMARDI 45 SWASTA 2000 1200

39

14.201. 128

JL PANCUR BATU KM

10,35 M.SETIAWAN 45 SWASTA 2000 1400

40

14.203. 158

JL TEROMPET NO 90 TITI

PAPAN ERWIN 50 SWASTA 1992 1500

41

14.201.

114 JL TANJUNG MERAWA

P.PARLINDUNG

AN 45 SWASTA 2007 4000

42

14.202. 185

JL PLM DENAI M.

AMPLAS M. SYAFRI 50 SWASTA 2005 1800

43

14.202 101

JL. S.M RAJA SIMP

(55)

BULAN JUMLAH UNIT

Jun-10 4

Jul-10 10

Aug-10 79

Sep-10 81

Oct-10 81

Nov-10 80

Dec-10 81

Jan-11 81

Feb-11 82

Mar-11 84

Apr-11 84

(56)

Lampiran 3 suplai biosolar oleh PT. Pertamina

BULAN JUMLAH

06.2010 144

07-2010 1392

08-2010 9273

09-2010 13686

10-2010 15678

11-2010 14691

12-2010 16581

01-2011 11394

02-2011 13310

03-2011 13736

04-2011 15514

(57)

No

JL PERINTIS KEMERDEKAAN

SIMANGUNSO

JL PUTRI MERAK JINGGA

JL GATOT SUBROTO

SEI SIKAMBING M.RIDWAN N 50 SWASTA 2000 12 1800

(58)

.101 6 PERTAMINA NA

33

14.202 .113

JL ASIA MEDAN

BELAWAN RISNAN 40 SWASTA 2002 10 4000

34

14.202 .134

JL ALUMINIUM RAYA NO 21

SAIDI

SALIMIN 45 SWASTA 2008 4 1500

35

14.202 .143

JL RASKAM MEDAN

MARELAN H.M AIDI 50 SWASTA 2007 5 2000

36

14.201 106

JL AH.NASUTION PKL MANSUR

BAJINER

SINGH 50 SWASTA 1992 20 1600

37

14.201 .147

JL TRI TURA KEC

MEDAN JOHOR M.SEMBIRING 50 SWASTA 2006 6 1300

38

14.201 .106

JL KARYA JASA PKL

MANSUR SOEMARDI 45 SWASTA 2000 12 1200

39

14.201 .128

JL PANCUR BATU KM

10,35 M.SETIAWAN 45 SWASTA 2000 12 1400

40

14.203 .158

JL TEROMPET NO 90

TITI PAPAN ERWIN 50 SWASTA 1992 20 1500

41

14.201 .114

JL TANJUNG MERAWA

P.PARLINDUN

GAN 45 SWASTA 2007 5 4000

42

14.202 .185

JL PLM DENAI M.

AMPLAS M. SYAFRI 50 SWASTA 2005 7 1800

43

14.202 101

JL. S.M RAJA SIMP

(59)

No

No SPBU JENIS KENDERAAN YANG MEMBELI BIO SOLAR Sampel A. BARANG A. PENUMPANG K.PRIBADI

1 14.202137 60% 10% 30%

2 14.202.1162 70% 10% 20%

3 14.201.130 40% 10% 50%

4 14.201.140 50% 20% 30%

5 11.201.102 10% 10% 80%

6 14.203.136 60% 10% 30%

7 14.201.115 10% 10% 80%

8 14.201.1148 30% 10% 60%

9 14.202.1119 50% 20% 30%

10 14.202.132 50% 10% 40%

11 14.202.141 70% 20% 10%

12 14.202.1133 70% 10% 20%

13 14.202.123 50% 10% 40%

14 14.202.140 40% 20% 40%

15 14.201.1108 50% 30% 20%

16 14.201.1134 50% 20% 30%

17 14.201.1129 60% 10% 30%

18 14.201.186 70% 10% 20%

19 14.201.110 50% 20% 30%

20 14.201.125 50% 20% 30%

21 14.201117 60% 10% 30%

22 14.201.1155 50% 10% 40%

23 14.201.107 50% 20% 30%

24 14.203.1115 70% 0% 30%

25 14.201.133 70% 10% 20%

26 14.201115 60% 10% 30%

27 14.201116 60% 10% 30%

28 14.202.116 50% 20% 30%

29 14.201.120 70% 10% 20%

30 14.202.104 60% 20% 20%

31 14.2011.125 50% 30% 20%

32 11.201.101 20% 30% 50%

33 14.202.113 20% 30% 50%

34 14.202.134 40% 10% 50%

35 14.202.143 40% 10% 50%

36 14.201106 20% 40% 40%

37 14.201.147 10% 30% 60%

38 14.201.106 10% 20% 70%

39 14.201.128 20% 30% 50%

(60)

42 14.202.185 30% 30% 40%

(61)

N

(62)
(63)

4

(64)
(65)

NO

No SPBU JUMLAH BIOSOLAR / HARI DALAM LITER

Sampel DISALURKAN TERJUAL SISA

1 14.202137 18000 15000 3000

2 14.202.1162 18000 16000 2000

3 14.201.130 18000 16000 2000

4 14.201.140 18000 16000 2000

5 11.201.102 18000 15000 3000

6 14.203.136 18000 16000 2000

7 14.201.115 18000 15000 3000

8 14.201.1148 18000 13000 5000

9 14.202.1119 18000 15000 3000

10 14.202.132 18000 14000 4000

11 14.202.141 18000 13000 5000

12 14.202.1133 18000 16000 2000

13 14.202.123 18000 16000 2000

14 14.202.140 18000 15000 3000

15 14.201.1108 18000 14000 4000

16 14.201.1134 18000 15000 3000

17 14.201.1129 18000 16000 2000

18 14.201.186 18000 16000 2000

19 14.201.110 18000 15000 3000

20 14.201.125 18000 16000 2000

21 14.201117 18000 17000 1000

22 14.201.1155 18000 15000 3000

23 14.201.107 18000 16000 2000

24 14.203.1115 18000 16000 2000

25 14.201.133 18000 17000 1000

26 14.201115 18000 16000 2000

27 14.201116 18000 16000 2000

28 14.202.116 18000 16000 2000

29 14.201.120 18000 17000 1000

30 14.202.104 18000 13000 5000

31 14.2011.125 18000 15000 3000

32 11.201.101 18000 13000 5000

33 14.202.113 18000 16000 2000

34 14.202.134 18000 16000 2000

35 14.202.143 18000 16000 2000

36 14.201106 18000 16000 2000

37 14.201.147 18000 15000 3000

38 14.201.106 18000 16000 2000

39 14.201.128 18000 12000 6000

(66)

42 14.202.185 18000 15000 3000

43 14.202101 18000 16000 2000

656000 118000

(67)

No

No SPBU

AKSESIBILITAS LOKASI SPBU

D. INDUST

RI D.INSTASI PND

D.

TERMINAL PERKANTORAN

PEMUKI MAN

JL H

1 14.201.140 0 1 0 0 1 2

2 11.201.102 0 1 0 1 0 2

3 14.201.1129 0 0 0 1 1 2

4 14.201.128 0 0 1 0 1 2

5 14.202137 0 1 1 0 1 3

6 14.203.136 0 1 0 1 1 3

7 14.201.115 0 1 0 1 1 3

8 14.201.1148 0 1 0 1 1 3

9 14.202.1119 0 1 0 1 1 3

10 14.202.132 0 1 0 1 1 3

11 14.202.1133 0 1 1 0 1 3

12 14.202.123 0 1 0 1 1 3

13 14.202.140 0 1 0 1 1 3

14 14.201.1108 0 1 0 1 1 3

15 14.201.1134 0 1 0 1 1 3

16 14.201.110 0 1 0 1 1 3

17 14.201117 0 1 0 1 1 3

18 14.201.1155 0 1 0 1 1 3

19 14.201.107 0 1 0 1 1 3

20 11.201.101 0 1 0 1 1 3

21 14.202.134 0 1 1 0 1 3

22 14.202.143 0 1 0 1 1 3

(68)

Lampiran 9. AKSESIBILITAS TINGGI ( 4-5 )

No

No SPBU

AKSESIBILITAS LOKASI SPBU

Sampel

D. INDUS

TRI

D.INSTAS I PND

D. TERMINA

L

PERKANTO RAN

PEMUKI MAN JLH

1 14.202.1162 1 1 0 1 0 4

2 14.201.130 0 1 0 1 1 4

3 14.202.141 0 1 1 1 1 4

4 14.201.186 0 1 1 1 1 4

5 14.201.125 1 1 0 1 1 4

6 14.203.1115 1 1 1 0 1 4

7 14.201.133 1 1 1 0 1 4

8 14.201115 0 1 1 1 1 4

9 14.201.120 1 1 0 1 1 4

10 14.202.104 1 1 0 1 1 4

11 14.202.113 1 0 1 1 1 4

12 14.201.147 0 1 1 1 1 4

13 14.201.106 0 1 1 1 1 4

14 14.203.158 0 1 1 1 1 4

15 14.201.114 1 0 1 1 1 4

16 14.202.185 0 1 1 1 1 4

17 14.202101 0 1 1 1 1 4

18 14.201116 1 1 1 1 1 5

19 14.202.116 1 1 1 1 1 5

20 14.2011.125 1 1 1 1 1 5

NB :

Nilai 1 diberikan jika daerah tersebut berada dalam kawasan SPBU maksimal 10 KM

(69)

Akses Tinggi Akses Sedang

1 16000 16000

2 16000 15000

3 13000 16000

4 16000 12000

5 16000 15000

6 16000 16000

7 17000 15000

8 16000 13000

9 17000 15000

10 13000 14000

11 16000 16000

12 15000 16000

13 16000 15000

14 15000 14000

15 13000 15000

16 15000 15000

17 16000 17000

18 16000 15000

19 16000 16000

20 15000 13000

21 16000

22 16000

23 16000

15450 15086.95652

t-Test: Two-Sample Assuming Equal Variances

Akses Tinggi Akses Sedang

Mean 15450 15086.95652

Variance 1418421.053 1446640.316

Observations 20 23

Pooled Variance 1433563.097

Hypothesized Mean Difference 0

df 41

t Stat 0.991733357

P(T<=t) one-tail 0.163572358

t Critical one-tail 1.682878003

P(T<=t) two-tail 0.327144715

Gambar

Gambar1. Kerangka Pemikiran
Tabel 1. Jumlah Sampel SPBU di Kota Medan
Tabel 2. Komposisi SPBU Kota Medan menurut lama berusaha dan jenis    badan usaha
Tabel 3. Komposisi SPBU di Kota Medan menurut tingkat penjualan
+4

Referensi

Dokumen terkait

RodaRoda Global Motorindo merupakan penentuan manajemen saluran distribusi yang dipergunakan untuk memasarkan barang dan jasanya, sehingga produk terdebut dapat sampai ke

Dengan adanya pompa ini diharapkan mampu membantu pemilik UKM budidaya ikan lele, dalam hal penyaluran air ke kolam–kolam ikan mereka dengan mengunakan water hammer pump,

Dilihat dari alur distribusi penyaluran raskin di atas penulis telah melakukan penelitian bahwa ada ketidaksesuaian dalam penyaluran raskin untuk sampai ke tangan

Transformator Distribusi adalah merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam penyaluran tenaga listrik dari gardu distribusi ke konsumen.. Kerusakan pada Trafo

Saluran distribusi adalah seperangkat lembaga yang melakukan semua kegiatan (fungsi) pemindahan barang dari tangan produsen ke tangan konsumen akhir.” Dapat

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam Perencanaan Sistem Jaringan Pipa Distribusi Air Bersih yakni ; Proyeksi Pertumbuhan Penduduk, Proyeksi Pelayanan,

Penjamah makanan yang tidak menggunakan alat bantu perantara saat memegang makanan dapat memindahkan mikroorganisme yang melekat di tangan ke makanan yang diolah.Hal ini dapat

Kesalahan dalam memilih saluran distribusi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran barang dan jasa dari tangan produsen ke konsumen atau saluran distribusi yang dipilih tidak efektif