Potensi Taman Wisata Iman Sidikalang Sebagai Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Dairi

61  204  Download (7)

Teks penuh

(1)

POTENSI TAMAN WISATA IMAN SIDIKALANG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI KABUPATEN DAIRI

KERTAS KARYA OLEH

MUTIARA SILITONGA 082204030

PROGRAM STUDI D3 PARIWISATA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Kertas Karya : POTENSI TAMAN WISATA IMAN SIDIKALANG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI KABUPATEN DAIRI

Oleh : Mutiara Silitonga

NIM : 082204030

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Dekan,

NIP. 19511013 197603 1 001 Dr. Syahron Lubis, M.A.

PROGRAM STUDI D3 PARIWISATA Ketua,

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN

POTENSI OBJEK WISATA MUSEUM SIMALUNGUN KOTA PEMATANGSIANTAR UNTUK MENINGKATKAN KUNJUNGAN WISATAWAN

OLEH

MUTIARA SILITONGA 082204030

Dosen Pembimbing, Dosen Pembaca,

Drs. Jhonson Pardosi, M.Si

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan limpahan kasih sayangNya, sehingga penulisan kertas karya yang berjudul “Potensi Taman Wisata Iman Sidikalang Sebagaqi Daya Tarik Wisata di Kabupaten Dairi ” dapat diselesaikan dengan baik.

Kertas karya ini merupakan tugas akhir untuk menyelesaikan studi pada program studi pariwisata dan disusun untuk memenuhi salah satu syarat akademis untuk dapat mencapai gelar Ahli Madya dari Departemen Pariwisata, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari akan keterbatasan yang dimiliki dalam menyelesaikan kertas karya ini, oleh karena itu penulis memperoleh bantuan dari banyak pihak. Dan dengan segala kerendahan hati maka ijinkan penulis menghanturkan terimakasaih dan penghargaan yang tulus kepada : 1. Bapak Drs.Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Sastra.

2. Ibu Arwina Sufikha, SE, M.Si selaku Ketua Program Studi Pariwisata, Fakultas Sastra,

Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Solahuddin Nasution, S.E, M.SP, selaku Koordinator Praktek Bidang Keahlian Usaha Wisata, Jurusan Pariwisata Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Jhonson Pardosi, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan petunjuk dalam menyelesaikan kerta karya ini. 5. Dosen Pembaca yang telah memberikan saran dan petunjuk atas penyempurnaan kertas karya

ini.

(5)

7. Buat teman-teman UW’08 yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan kertas karya ini.

Penulis telah mencurahkan segala kemampuan, tenaga, dan pikiran serta waktu dalam menyelaikan kertas karya ini. Namun demikian penulis menyadari bahwa kertas karya ini memiliki banyak kekurangan. Untuk itu dengan segala kerendahan hati sebagai manusia biasa penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun dari para pembaca. Besar harapan penulis kiranya kertas karya ini dapat berguna bagi para pembaca.

Medan, Maret 2011 Penulis

NIM : 082204030 Mutiara Silitonga

(6)

ABSTRAK

Parwisata adalah sesuatu yang bersifat abstrak, tidah nampak hanya dapat merasakannya, terlebih lagi pariwsata itu sebenarnya suatu konsep yang ingin diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia pariwisata mulai banyak dilirik orang terlebih orang kota yang jenuh dengan rutinitas dan ignin melepaskan kepenatan. Oleh karena itu bermacam-macam pariwisata ditawarkan, salah satunya yang menarik di mna orang ingin berdekatan dengan alam dan mencari tempat-tempat objek wisata tersebut beserta atraksi-atraksi yang ada pada objek wisata tersebut.

Salah satu objek wisata yang ada di Kab. Dairi adalah Taman Wisata Iman. Taman Wisata Iman merupakan salah satu objek wisata rohani yang terletak dikawasan Bukit Sitinjo Sidikalang. Objek wisata ini menghadirkan pemandangan perbukitan dari sudut pandang yang sangat luas.

Objek wisata ini berprospek tinggi karena didukung fasilitas yang baik. Taman Wisata Iman memiliki potensi wisata yang layak dan produktif, yang artinya setiap kegiatan pembangunan pariwisata memberikan tempat menurut kebutuhan fungsi masing-masing sehingga terwujud suatu lingkungan yang harmonis dan di lain pihak meningkatkan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, meningkatkan penerimaan devisa, dan memperkenalkan alam dan kebudayaan dengan memanfaatkan objek wisata yang ada.

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR GAMBAR ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Pembatasan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Metode Penelitian... 4

1.6 Sistematika Penulisan ... 5

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN ... 7

2.1 Pengertian Pariwisata ... 7

2.2 Pengertian Wisatawan ... 9

2.3 Pengertian Daya Tarik Wisata dan Atraksi Wisata ... 10

2.4 Pengertian Wisata Rohani dan Potensi dalam Kepariwisataan ... 11

2.5 Motivasi Produk Wisata ... 16

2.6 Pengertian Industri Pariwisata ... 17

(8)

BAB III GAMBARAN UMUM KAB. DAIRI ... 22

3.1 Letak dan Keadaan Alam ... 22

3.2 Kependudukan ... 24

3.3 Perekonomian Daerah ... 25

3.4 Sarana ... 29

3.5 Prasarana ... 33

3.6 Potensi Pariwisata yang Ada di Kab. Dairi ... 35

BAB IV POTENSI TAMAN WISATA IMAN SIDIKALANG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI KAB. DAIRI ... 40

4.1 Sejarah berdirinya Taman Wisata Iman ... 40

4.2 Gambaran Umum Mengenai Taman Wisata Iman... 41

4.3 Potensi Taman Wisata Iman Sidikalang dalam Memaksimalkan Jumlah Pengunjung... 44

4.4 Akses... 48

4.5 Akomodasi... 49

BAB V PENUTUP ... 43

5.1 Kesimpulan ... 50

5.2 Saran ... 51

(9)

ABSTRAK

Parwisata adalah sesuatu yang bersifat abstrak, tidah nampak hanya dapat merasakannya, terlebih lagi pariwsata itu sebenarnya suatu konsep yang ingin diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia pariwisata mulai banyak dilirik orang terlebih orang kota yang jenuh dengan rutinitas dan ignin melepaskan kepenatan. Oleh karena itu bermacam-macam pariwisata ditawarkan, salah satunya yang menarik di mna orang ingin berdekatan dengan alam dan mencari tempat-tempat objek wisata tersebut beserta atraksi-atraksi yang ada pada objek wisata tersebut.

Salah satu objek wisata yang ada di Kab. Dairi adalah Taman Wisata Iman. Taman Wisata Iman merupakan salah satu objek wisata rohani yang terletak dikawasan Bukit Sitinjo Sidikalang. Objek wisata ini menghadirkan pemandangan perbukitan dari sudut pandang yang sangat luas.

Objek wisata ini berprospek tinggi karena didukung fasilitas yang baik. Taman Wisata Iman memiliki potensi wisata yang layak dan produktif, yang artinya setiap kegiatan pembangunan pariwisata memberikan tempat menurut kebutuhan fungsi masing-masing sehingga terwujud suatu lingkungan yang harmonis dan di lain pihak meningkatkan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, meningkatkan penerimaan devisa, dan memperkenalkan alam dan kebudayaan dengan memanfaatkan objek wisata yang ada.

(10)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pariwisata merupakan salah satu penghasil devisa Negara setelah sektor migas dan nonmigas. Pariwisata juga merupakan suatu potensi untuk meningkatkan pembangunan. Pembangunan dan pengembangan kepariwisataan ini lebih ditingkatkan khususnya dalam rangka penerimaan devisa dan pendapatan masyarakat, memperluas lapangan pekerjaan, dan memperkenalkan kebudayaan bangsa. Indonesia memiliki potensi pariwisata yang cukup besar berupa keindahan alam dan keanekaragaman budaya daerah dan ditinjau dari letak geografisnya.

Salah satu provinsi yang sangat berpotensial di bidang pariwisata adalah Propinsi Sumatera Utara.Propinsi Sumatera Utara memiliki beberapa kawasan daerah tujuan wisata yang sangat banyak mendatangkan wisatawan baik lokal maupun mancanegara, mulai dari wisata alam yang memiliki keindahan alam yang menarik, wisata budaya, wisata rohani, rumah-rumah tradisional, dan peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya.

Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang usianya cukup tua. Kabupaten Dairi memiliki luas wilayah 3.146,1 km² dan populasi 273,851 jiwa. Kabupaten Dairi Ibu kotanya adalah Sidikalang dan merupakan salah satu kawasan daerah tujuan wisata yang ada di Sumatera Utara. Kabupaten Dairi terkenal sebagai penghasil kopi. Jenis kopi yang dapat tumbuh dengan baik sesuai iklim di daerah ini ada 2 (dua) varietas yaitu kopi Arabica dan kopi Robusta. Selain terkenal sebagai penghasil kopi Kabupaten Dairi juga dikenal dengan julukan kota wisata rohani, yaitu Taman Wisata Iman.

Taman Wisata Iman dibangun pada akhir tahun 1990-an, memiliki luas wilayah 130.000 m² yang sebelumnya merupakan areal hutan alang-alang, kini berubah menjadi tempat sakral. Lokasinya yang berada di atas tanjakan dikelilingi hutan pinus dan menjadi maskot ibukota

(11)

Kabupaten Dairi Sidikalang. Pada objek wisata Taman Wisata Iman terdapat kelima rumah ibadah dan bangunan-bangunan pendukung lainnya. Kelima rumah ibadah yang terdapat di Taman Wisata Iman adalah terdiri dari lima agama yang ada di Indonesia yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha dan Hindu.

Taman Wisata Iman dibangun dengan tujuan agar pengunjung dapat menyaksikan, menikmati, dan menghargai alam ciptaan Tuhan serta menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan hidup. Para wisatawan yang datang berkunjung semakin termotivasi untuk lebih meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu Taman Wisata Iman juga dapat mempererat hubungan silaturahmi antar umat beragama. Pengembangan objek wisata ini tidak terlepas dari kerja sama dan usaha pemerintah serta masyarakat sekitarnya untuk selalu menjaga dan melestarikan aset yang sudah ada.

Penulis tertarik untuk mengkaji tentang Taman Wisata Iman karena Taman Wisata Iman merupakan kawasan objek wisata yang sangat berpotensial yang dapat meningkatkan ekonomi pemerintah maupum masyarakat sekitarnya. Disamping itu diharapkan peranan dan potensi Taman Wisata Iman semakin besar tehadap peningkatan pendapatan masyarakat, memperluas kesempatan berusaha, menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pembangunan daerah. Selain itu, karena Taman Wisata Iman juga memberikan suasana religius yang dapat dirasakan dan dinikmati oleh kelima agama yang diakui di Indonesia.

(12)

“Taman Wisata Iman sebagai salah satu objek wisata yang mengharumkan nama Kabupaten Dairi”

Dari beberapa penelitian yang sudah ada di Taman Wisata Iman Sidikalang, belum ada yang mengkaji Taman Wisata Iman dari segi pemaksimalan potensi objek yang ada di Taman Wisata Iman itu sendiri dan berbagai alasan dan uraian-uraian di atas, maka pada kesempatan ini saya memilih judul “Potensi Taman Wisata Iman Sidikalang sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Dairi”.

1.2 Pembatasan Masalah

Agar penulisan kertas karya ini lebih terarah, maka penulis membatasi masalah kertas karya ini, yaitu Bagaimana memaksimalkan potensi objek di Taman Wisata Iman untuk meningkatkan jumlah pengunjung?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan dari pada kertas karya yang berjudul potensi Taman Wisata Iman Sidikalang Sebagai daya tarik wisata di Kabupaten Dairi adalah Untuk memaksimalkan potensi objek di Taman Wisata Iman untuk meningkatkan pengunjung baik dari dalam maupun luar Kabupaten Dairi

1.4 Manfaat Penelitian

(13)

1. Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang pembangunan Taman Wisata Iman Sidikalang

2. Sebagai bahan informasi untuk pemahaman potensi Taman Wisata Iman Sidikalang

3. Sebagai bahan bacaan bagi para mahasiswa-mahasiswi yang menginginkan bacaan

mengenai Taman Wisata Iman Sidikalang

1.5 Metode Penelitian

Dalam kertas karya metode yang telah dilakukan penulis untuk mendapatkan informasi adalah sebagai berikut :

1. Library Research (penelitian kepustakaan)

Hal ini dilakukan oleh penulis dengan cara mengumpulkan data-data dari beberapa buku pedoman yang berkaitan dengan kepariwisataan dan brosur-brosur yang sesuai dengan judul kertas karya untuk mendapatkan informasi.

2. Field Research (peneltian lapangan)

Merupakan pengumpulan data langsung dari lokasi penelitian yang terdiri dari: Pengamatan (Observasi) yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung pada pihak-pihak (nara sumber) yang dapat membantu melengkapi kerrtas karya ini.

1.6 Sistematika Penulisan

Secara sistematis penulisan kertas karya ini penulis membaginya atas 5 bab dan masing-masing bab dibagi lagi menjadi beberapa sub bab yaitu sebagai berikut:

(14)

Dimana di dalam bab ini terdiri Alasan Pemilihan Judul, Pembatasan Masalah , Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II: URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN

Di dalam bab ini penulis menguraikan tentang beberapa pengertian Pariwisata dan Pengertian Wisatawan, Pengertian Daya Tarik dan Atraksi Wisata, Pengertian Produk Wisata, Pengertian Industri Pariwisata dan Pengertian Sarana dan Prasarana Pariwisata.

BAB III: TINJAUAN UMUM TENTANG KAB.DAIRI

Didalam bab ini penulis membahas tentang gambaran umum Kab. Dairi, Sarana dan Prasarana yang ada, objek-objek wisata lainnya yang ada di Kabupaten Dairi. BAB IV: POTENSI TAMAN WISATA IMAN SIDIKALANG SEBAGAI DAYA

TARIK WISATA DI KABUPATEN DAIRI.

Di dalam bab ini penulis menceritakan tentang sejarah berdirinya Taman Wisata Iman, gambaran tentang Taman Wisata Iman, fasilitas dan potensi yang ada di Taman Wisata Iman dalam meningkatkan jumlah pengunjung yang dapat meningkatkan perekonomian bidang kepariwisataan di Kabupaten Dairi.

BAB V: PENUTUP

(15)

BAB II

URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN

2.1 Pengertian Pariwisata

Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasin dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu, (Spiliane,199:21). Secara etimologis istilah pariwisata berasal dari Bahasa Sansekerta, yang terdiri dari dua suku kata yaitu “pari” yang berarti lengkap, banyak, berputar-putar dan kata “wisata” yang berarti perjalanan, bepergian. Dengan demikian secara tata bahasa “pariwisata”

dapat diartikan sebagai “Suatu perjalanan yang dilakukan secar lengkap”. Pengertian lengkap di sini dapat diartikan sebagai suatu perjalanan yang dilakukan mulai dari rumahnya sampai ke tujuan dan kembali lagi ke rumahnya dengan tidak bermaksud untuk tinggal menetap di tempat tujuan perjalanannya.

Kraph dan Swiss mendefinisikan pariwisata adalah “sejumlah hubungan-hubungan dan gejala yang dihasilkan dari tinggalnya orang-orang asing, asalkan tinggalnya mereka itu tidak menyebabkan timbulnya tempat tinggal serta usaha-usaha yang bersifat sementara atau permanen sebagai usaha untuk mencari kerja”. (Pendit,1999:39).

(16)

Pariwisata juga dapat dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, daya tarik wisata yang termasuk pengelolaan objek serta usaha-usaha yang terkait dalam bidang tersebut.

Pengertian pariwisata lebih luas daripada bertamasya atau melancong dapat diartikan sebagai bepergian ke suatu tempat untuk sekedar menikmati keindahan alam, pergi untuk makan dan minum, dan juga tujuan yang dituju tidaklah jauh. Adanya berbagai alasan bagi seseorang untuk melakukan perjalanan maka diperlukan batasan-batasan mengenai apa yang dimaksud dengan wisatawan dan pelancong. Dalam Inpres No. 9 Tahun 1996 disebutkan bahwa “wisatawan adalah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungan itu”, (Spillane, 199:21).

Pariwisata berhubungan erat dengan perjalanan wisata, yaitu sebagai suatu perubahan tempat tinggal sementara seseoarang di luar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan melakukan kegiatan yang menghasilkan upah. Menurut Yoeti (1996:108) bahwa pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ketempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan hidup guna bertamasya dan rekreasi atau memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

(17)

2.2 Pengertian Wisatawan

Kata wisatawan berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu “wisata” yang artinya “perjalanan” yang sama atau dapat disamakan dengan kata travel dalam Bahasa Inggrisnya. Jadi orang yang melakukan perjalan dalam pengertian ini adalah “wisatawan” sama artinya dengan kata “traveller”, karena dalam Bahasa Indonesia sudah merupakan kelaziman pemakaian akhiran “……wan” untuk menyatakan orang dengan profesinya, keahliannya, jabatannya, kedudukan seseorang. (Yoeti 1983 : 120).

Pada tahun 1937, Komisi Ekonomi Liga Bangsa-Bangsa berusaha untuk merumuskan suatu defenisi wisatawan yang diusulkan untuk diterima secara internasional. Diusulkan: “Hendaknya istilah ‘wisatawan’ pada asasnya diartikan sebagai orang yang selama 24 jam atau lebih mengadakan perjalanan di negara yang bukan tempat kediamannya yang biasa”.

Defenisi Liga Bangsa-Bangsa itu juga menyebutkan motif-motif apa yang menyebabkan orang asing itu harus disebut wisatawan. Mereka yang termasuk wisatawan ialah :

1. Orang yang mengadakan perjalanan untuk bersenang-senang (Pleasure) karena alasan keluarga, kesehatan, dan sebagainya;

2. Orang yang mengadakan perjalanan untuk mengunjungi pertemuan-pertemuan atau sebagai utusan (ilmiah, administrative, diplomatic, keagamaan, atletik, dan sebagainya); 3. Orang yang mengadakan perjalanan bisnis;

4. Orang yang datang daam rangka pelayaran pesiar (sea cruise), juga kalau ia tinggal kurang dari 24 jam;

Akan tetapi istilah wisatawan ini tidak meliputi orang-orang berikut:

1. Orang yang datang untuk memangku jabatan atau mengadakan usaha di sesuatu negara; 2. Orang yang datang untuk menetap;

3. Penduduk daerah perbatasan dan orang yang tinggal di negara yang satu, akan tetapi bekerja di negara tetangganya;

4. Pelajar, mahasiswa, dan kaum muda ditempat-tempat pemondokan dan di sekolah-sekolah;

5. Orang yang dalam perjalanan melalui sebuah negara tanpa berhenti di situ, meskipun di negara itu lebih dari 24 jam.

(18)

berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dan kunjungan itu. Defenisi ini sifatnya konseptual, tidak operasional. Ada kejanggalan bahwa juga disebutkan “dengan menikmati kunjungan dan perjalanan itu”. (Dalam Soekadijo 1997:17).

Dari beberapa definisi wisatawan di atas, maka diambil kesimpulan bahwa wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan wisata.

2.3 Pengertian Daya Tarik dan Atraksi Wisata

UU RI No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan disebutkan bahwa Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sarana atau tujuan kunjungan wisatawan.

Yoeti menjelaskan bahwa terdapat perbedaan tentang makna “objek wisata” dan “atraksi wisata”. Kita hanya menyebutkan sebagai objek apabila untuk melihat objek itu tidak ada persiapan yang dilakukan terlebih dahulu, dengan kata lain kita dapat melihatnya secara langsung tanpa bantuan orang lain walaupun kadang-kadang kita harus membayar sekedar tanda masuk saja, seperti misalnya : pemandangan, gunung, candi, gereja, mesjid, bangunan bersejarah dan lain sebagainya. Sedangkan atraksi wisata adalah sesuatu yang telah dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat dan dinikmati, seperti misalnya : tari-tarian, nyanyian, kesenian rakyat tradisional, upacara adat dan lain sebagainya. Yang penting diperhatikan dalam pengembangan suatu daerah untuk menjadi daerah tujuan wisata, agar menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan harus memenuhi tiga syarat yaitu : daerah itu harus mempunyai apa yang disebut sebagai “something to see” yaitu di tempat tersebut harus ada objek dan atraksi wisatanya yang berbeda

(19)

yang dapat membuat pengunjung betah untuk tinggal lebih lama lagi di tempat itu. “something to buy” yaitu adanya tempat untuk berbelanja terutama barang-barang souvenir dan kerajinan

rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal masing-masing. Yoeti (1983 : 160). Dari kedua definisi Daya Tarik dan Atraksi Wisata di atas, maka diambil kesimpulan bahwa Daya Tarik Wisata adalah suatu hal yang indah dan unik di mana dapat membuat orang selalu tertarik untuk mengunjungi tempat wisata itu, baik hal itu berupa benda abstrak maupun nyata. Sedangkan atraksi wisata adalah sesuatu kegiatan yang menjadi ciri khas tempat wisata tersebut dan dapat disaksikan yang merupakan karya manusia.

2.4 Pengertian Wisata Rohani dan Potensi dalam Kepariwisataan 2.4.1 Pengertian Wisata Rohani

Tentang mengapa semua orang melakukan perjalanan wisata, setiap orang akan mempunyai alasan-alasan tersendiri. Salah satu alasan adalah untuk berziarah atau untuk keperluan keagamaan lain. Hal ini disebut juga dengan wisata rohani.

Wisata rohani adalah perjalanan wisata di mana tujuan perjalanan yang dilakukan adalah untuk melihat atau menyaksikan upacara-upacara keagamaan. Jenis wisata ini sedikit banyaknya dikaitkan dengan agama, sejarah adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata ini banyak dilakukan oleh perorangan maupun rombongan ke tempat-tempat suci, seperti kunjungan ke Istana Vatikan di Roma bagi orang yang beragama Katolik, ke Yerusalem dan ke Muntilan pusat pengembangan agama Kristen di Jawa Tengah bagi umat beragama Kristen Protestan, ke tanah suci bagi umat beragama Islam, upacara agama Hindu Bali di Sakenan, Bali, Umat beragama Budha ke tempat-tempat suci Agama Budha di India, Nepal, Tibet dan sebagainya. Yoeti (1983 : 116)

(20)

Dari kedua pengertian wisata rohani di atas, maka diambil kesimpulan bahwa wisata rohani adalah perjalanan yang dilakukan dengan tujuan keagamaan baik dalam bentuk upacara keagamaan dan juga merupakan tempat ibadah.

2.4.2 Potensi Kepariwisataan

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan, kekuatan, kesanggupan, daya. Kepariwisataan itu mengandung potensi untuk dikembangkan menjadi atraksi wisata, sedangkan atraksi wisata itu tentu harus komplementer dengan motif perjalanan wisata. Maka untuk menemukan potensi kepariwisataan di suatu daerah orang harus berpedoman kepada apa yang dicari oleh wisatawan.

Dalam UU No.10 Tahun 2009 disebutkan bahwa kepariwisataan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan, bertanggung jawab dengan tetap memberikan pelindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, kelestraian dan mutu lingkungan hidup, serta kepentingan nasional.

Berdasarkan alinea pertama di atas, maka diambil kesimpulan bahwa potensi kepariwisataan merupakan suatu hal yang mempunyai kekuatan dan nilai tambah tersendiri untuk dikembangkan menjadi suatu atraksi wisata.

Potensi Pariwisata dapat dibagi atas tiga, yaitu:

2.4.2.1 Potensi Alam

(21)

bersama-sama dengan potensi kebudayaan dan manusia, akan tetapi tentu ada salah satu modal yang menonjol peranannya.

2.4.2.2 Potensi Budaya

Potensi kebudayaan merupakan kelakuan manusia yang diatur oleh tata kelakuan yang didapatkan dengan belajar dalam kehidupan masyarakat yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan lain

2.4.2.3 Potensi Manusia

Potensi manusia merupakan kemampuan seseorang atau beberapa orang yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan menjadi suatu atraksi wisata. Perjalanan itu selalu kompleks sehingga atraksi yang menarik kedatangan wisatawan pasti juga kompleks, dan potensi kepariwisataan itu juga tidak pernah hanya potensi alam, potensi manusia atau potensi kebudayaan saja, akan tetapi ketiga-tiganya diperlukan bersama-sama

Yoeti (1997 : 53) menjelaskan bahwa terdapat beberapa potensi dalam daerah wisata, yaitu :

a. Potensi Alam.

Mengapa alam itu menarik bagi wisatawan?

Pertama, banyak wisatawan tertarik oleh kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan di alam terbuka. Daerah terpenting untuk wisatawan yang demikian itu ialah pegunungan, hutan dan pantai. Di pegunungan mereka dapat berkuda, mendaki gunung, main ski, bertualang ke gua-gua, dan sebagainya. Di pantai orang dapat berselayar, berenang, berdayung, berselancar, menyelam, dan sebagainya. Jadi, daerah pegunungan dan daerah pantai itu mengandung potensi untuk dikembangkan menjadi daerah wisata olah raga dan daerah wisata rekreasi . kalau di hutan keadaan fauna mengizinkan dan orang diperbolehkan berburu , maka di situ juga ada kesempatan kegiatan berburu (wisata berburu/hunting tourism).

(22)

pegunungan atau pantai dengan pemandangan yang menawan, atau daerah-daerah pedesaan yang khas. Wisatawan seperti ini hanya mengikuti kesenangan hati, wisatawan tamasya yang dengan sedirinya juga dapat mengunjungi tempat rekreasi, meskipun tujuannya sekedar untuk melihat dan menikmati keasaan.

Katiga, banyak wisatawan yang mencari ketenangan di tengah alam yang iklimnya nyaman, suasananya tenteram, pemandangannya bagus dan terbuka luas. Mereka tinggal di daerah itu untuk beberapa lama sambil beristirahat untuk memulihkan kondisi fisik dan psikisnya, jadi mereka itu termasuk wisatawan tipe rekreasi (recreation tourist). Tempat-tempat semacam itu disebut juga tempat liburan. Misalnya, puncak Berastagi.

Keempat, ada juga wisatawan yang menyukai tempat-tempat tertentu dan setiap kali ada kesempatan untuk pergi, mereka kembali ke tempat-tempat tersebut. Di tempat-tempat tersebut mereka sering memiliki rumah kedua berupa bungalow atau mendirikan tempat-tempat berteduh sementara berupa tenda atau, di luar negeri dengan menggunakan caravan (mobil rumah).

Kelima, alam juga sering menjadi bahan studi untuk wisatawan budaya, khususnya dalam widya wisata. Untuk keperluan ini yang penting terutama ialah dengan jenis flora dan fauna yang khas dan langka, yang sering dilindungi dalam bentuk cagar alam, seperti ujung kulon, dan sebagainya.

b. Potensi Kebudayaan

Yang dimaksud dengan kebudayaan di sini ialah kebudayaan dalam arti luas, tidak hanya meliputi “kebudayaan tinggi” seperti kesenian atau perikehidupan keratin dan sebagainya, akan tetapi juga meliputi adapt-istiadat dan segala kebiasaan yang hidup di tengah-tengah suatu masyarakat: pakaiannya, caranya berbicara, kegiatannya di pasar, dan sebagainya. Pokoknya semua act dan artifact (tingkah laku dan hasil karya) sesuatu masyarakat, dan tidak hanya kebudayaan yang masih hidup, akan tetapijuga kebudayaan yang berupa monument-monumen seperti Lubang Buaya atau tanpa monumen seperi Gua Selarong (tempat Diponegoro bersembunyi) atau Gettysburg tempat pertempuran yang menentukan dalam perang saudara di Amerika Serikat.

c. Potensi Manusia

Bahwa manusia dapat menjadi atraksi wisata dan menarik kedatangan wisatawan bukan hal yang luar biasa, meskipun gagasannya mungkin akan membuat orang tersentak. Sudah tentu, manusia sebagai atraksi wisata tidak boleh kedudukannya begitu direndahkan sehingga kehilangan maertabatnya sebagai manusia. Tidak boleh manusia yang satu sekedar menjadi objek kesenangan atau pemuas nafsu bagi manusia yang lain: penderita cacat tubuh bukan tontonan seperti satwa di kebun binatang. Sebutan pramuria (hostess) yang kini kurang terhormat disebabkan karena pelanggaran terhadap martabat manusia baik oleh si wisatawan maupun oleh si pramuria sendiri. Penyalahgunaan manusia sebagai atraksi wisata pada hakikatnya terjadi apabila orang mengeksploitasi sifat-sifat manusia yang tidak baik untuk mencari keuntungan.

(23)

Bronze (berjemur matahari sampai menjadi coklat), Bouver (minum), dan Braiser (memeluk,seks). Tidak boleh orang dalam pembangunan pariwisata menutup mata terhadap ekses yang berupa seks.

2.5 Pengertian Produk wisata

Pada umumnya yang dimaksud dengan product adalah sesuatu yang dihasilkan melalui suatu proses produksi. Produk wisata bukanlah suatu produk yang nyata, tetapi merupakan suatu rangkaian jasa yang tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi juga bersifat sosial, psikologis dan alam, namun demikian produk wisata sebagian besar dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

Produk wisata sangat diperlukan untuk menunjang suatu kepariwisataan agar dapat berjalan sesuai dengan rencana. Karena ketertarikan wisatawan terletak pada isi produk wisata. Semakin baik produk wisata itu, maka semakin membangkitkan kepariwisataan di wilayah itu sendiri.

Bukart dan Medlik (Dalam Yoeti,1986:151) mendeskripsikan produk wisata sebagai susunan produk yang terpadu, yang terdiri dari objek wisata, atraksi wisata, transportasi (jasa angkutan), akomodasi dan hiburan di mana tiap unsur dipersiapkan oleh masing-masing perusahaan dan ditawarkan secara terpisah.

Hubungan antara produk wisata dan kunjungan wisatawan yang menentukan citra pariwisata di suatu wilayah. Sebaiknya setiap daerah memiliki produk ungulan tersendiri. Misalnya Jakarta dengan produk unggulannya wisata belanja dan wisata sejarah. Yogyakarta dengan wisata budaya dan wisata alam. Seperti halnya Bukart dan Medlik, Gamal Suwantoro juga memiliki pendapat sendiri tentang produk wisata.

(24)

tinggalnya, sampai ke daerah tujuan wisata yang telah dipilihnya dan kembali ke rumah dimana ia berangkat semula

Ciri-ciri suatu produk wisata adalah :

1. Hasil atau produk wisata tidak dapat dipindahkan. Karena itu dalam penjualannya tidak mungkin produk itu dibawa kepada konsumen, sebaliknya konsumen (wisatawan) yang harus dibawa ke tempat di mana produk iu dihasilkan.

2. Produksi dan konsumsi terjadi pada tempat dan saat yang sama. Tanpa adanya konsumen yang membeli produk/jasa maka tidak akan terjadi produksi.

3. Produk wisata tidak menggunakan standar ukuran fisik tetapi menggunakan standar pelayanan yang didasarkan atas suatu criteria tertentu.

4. Konsumen tidak dapat mencicipi atau mencoba contoh produk itu sebelumnya, bahkan tidak dapat mengetahui atau menguji produk itu sebelumnya.

5. Hasil atau produk wisata itu banyak tergantung pada tenaga manusia dan hanya sedikit yang mempergunakan mesin.

6. Produk wisata merupakan usaha yang mengandung risiko besar. (Suwantoro, 1997:48). Jadi produk wisata merupakan rangkaian dari beberapa jasa yang saling terkait, yaitu jasa yang dihasilkan berbagai perusahaan (segi ekonomis), jasa masyarakat (segi sosial / psikologis) dan jasa alam.

Dari beberapa definisi produk wisata di atas, maka saya membuat kesimpulan bahwa produk wisata adalah beberapa bentuk pelayanan dan jasa yang di hasilkan oleh perusahaan-perusahaan yang ditawarkan kepada calon wisatawan dan akan dinkmati oleh wisatawan tersebut selama melakukan perjalanan wisata.

2.6 Pengertan Industri Pariwisata

Ada beberapa pengertian tentang industri pariwisata, antara lainnya sebagai kumpulan dari macam-macam perusahaan yang secara bersama menghasilkan barang-barang da (goods and service) yang dibutuhkan para wisatawan pada khususnya dan traveler pada

(25)

Dalam UU RI No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan disebutkan bahwa Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.

Pengertian tentang industri pariwisata yang lainnya adalah suatu susunan organisasi, baik pemerintah maupun swasta yang terkait dalam pengembangan, produksi da suatu layanan yang memenuhi kebutuhan dari orang yang sedang bepergian. (Kusudianto,1996:11).

Harus diperhatikan bahwa meskipun kita berbicara tentang industri pariwisata, akan tetapi industri di sini tidak dalam arti ekonomis biasa. Industri pariwisata adalah industri yang kompleks, yang meliputi industri-industri lain. Dalam kompleks industri pariwisata terdapat industri perhotelan, industri rumah makan, industri kerajinan/cendera mata, industri perjalanan dan sebagainya.

Dari beberapa definisi Industri pariwisata di atas, maka diambil kesimpulan bahwa industri pariwisata adalah perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk berupa barang dan jasa yang dibutuhkan oleh para wisatawan.

2.7 Pengertian Sarana dan Prasarana Pariwisata 2.7.1 Sarana Pariwisata

Sarana pariwisata adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup serta kehidupannya tergantung pada kedatangan wisatawan. Yoeti, (1984:184)

(26)

Sarana akomodasi merupakan wahana yang menggunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan, minum, danjasa lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial.

Menurut surat Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan telekomunikasi No.37/PW.304/MPT/86tanggal 17Juni1986, yang dimaksud dengan pengertian akomodasi adalah wahana yang menyediakan pelayanan jasa penginapan yang dilengkapi dengan pelayanan makan dan minum serta jasa lainnya seperti : hotel, losmen, bungalow dan sebagainya.

2.7.1.2 Sarana transportasi

Sarana transportasi dalam industri pariwisata sangat vital sekali,mengingat hal ini merupakan mobilisasi wisatawan dari suatu tempat ke tempat lainnya.sebagai komponen wisata, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan sarana transportasi ini, antara lain model transportasi, jenis fasilitas, biaya dan lokasi.berikut ini bagian sarana transportasi (angkutan wisata) yang terlibat dalam perhitungan paket tur:

a. Charter pesawat udara atau pesawat udara dengan jadwal tetap (reguler); b. Feri penyebrangan, hovercraft (kapal cepat), hydrofol atau catamaran; c. Kapal pesiar (cruise line ship);

d. Kereta api ekspres, subway; e. Coach dan mobil sewaan;

f. Transportasi local : delman, becak, kereta kuda yang melayani khusus pariwisata saja.

2.7.1.3 Sarana Makanan dan Minuman (Restoran)

(27)

dengan rumah makan,depot atau warung-warung yang berada di sekitar objek wisata dan memang mencari mata pencaharian berdasarkan pengunjung dari objek wisata tersebut.

2.7.1.4 Toko Penjual Cinderamata

Komponen-komponen ini identik dengan buah tangan, oleh-oleh atau kenang-kenangan dari suatu tempat kunjunan dalam bentuk barang tertentu.barang-baran yang dijual ciri khusus sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah tempat cendera mata tersebut berada. Toko-toko penjual cinderamata khas dari objek wisata tersebut yang notabene mendapat penghasilan hanya dari penjualan barang-barang cinderamata khas objek tersebut (Yoeti, 1985:185).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam komponen ini antara lain jenis barang, kapasitas, lokasi, harga, kualitas, dan keunikannya. Bagaimanapun juga, bagi wisatawan membawa suatu cenderamata sangat berharga untuk dijadikan kenangan kelak.

2.7.2 Prasarana Pariwisata

Menurut Yoeti (1985:181), mengatakan : Prasarana pariwisata adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang sehingga dapat memberikan pelayanan untuk memuaskan kebutuhan wisatawan yang beraneka ragam.

Prasarana tersebut antara lain :

1. Perhubungan : jalan raya, rel kereta api, pelabuhan udara dan laut, terminal. 2. Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih.

3. Sistem telekomunikasi, baik itu telepon, telegraf, radio, televisi, kantor pos. 4. Pelayanan kesehatan baik itu puskesmas maupun rumah sakit.

5. Pelayanan keamanan baik itu pos satpam penjaga objek wisata maupun pos-pos polisi untuk menjaga keamanan di sekitar objek wisata.

6. Pelayanan wistawan baik itu berupa pusat informasi ataupun kantor pemandu wisata. 7. Pom bensin dan lain-lain. (Yoeti, 1984:183)

(28)
(29)

BAB III

GAMBARAN UMUM KABUPATEN DAIRI

3.1 Letak dan Keadaan Alam

Kabupaten Dairi mempunyai Luas 191.625 Hektar yaitu sekitar 2,68 % dari luas provinsi Sumatera Utara (7.160.000 Hektar). Kabupaten Dairi terletak sebelah Barat Laut propinsi Sumatera Utara. Kabupaten Dairi sebagian besar terdiri dari dataran tinggi dan berbukit-bukit yang terletak antara 98°00’-98°30’ dan 2°15’-3°00’ LU. Kabupaten Dairi yang terletak di sebelah Barat laut Provinsi Sumatera Utara yang berbatasan dengan :

• Sebelah Utara dengan Kabupaten Aceh Tenggara (provinsi NAD) dan Kabupaten Tanah

Karo

• Sebelah Timur dengan Kabupaten Toba Samosir

• Sebelah Selatan dengan Kabupaten Pakpak Bharat

• Sebelah Barat dengan Kabupaten Aceh Selatan ( Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ).

Sebagian besar tanahnya didapati bukit-bukit dengan kemiringan bervariasi sehingga terjadi iklim hujan tropis. Pada umumnya Kabupaten Dairi berada pada ketinggian rata-rata 700-1.250 meter di atas permukaan laut. Sedangkan Kecamatan Tigalingga, Kecamatan Siempat Nempu dan Kecamatan Silima Pungga-pungga terletak pada ketinggian antara 400-1.360 meter di atas permukaan laut. Kecamatan Sumbul, Sidikalang, Kerajaan dan Kecamatan Tanah Pinem berada pada ketinggian 700-1.660 meter di atas permukaan laut.

(30)

1. Lae Renun terbentang dari Kecamatan Parbuluan sampai Kecamatan Tanah Pinem yang selanjutnya menuju Aceh Tenggara.

2. Lae Mbilulus terbentang di Kecamatan Tigalingga dan Kecamatan Tanah Pinem serta bermuara di Lae Renun.

3. Lae Sinendang terbentang di Kecamatan Sumbul dan bermuara ke Lae Renun.

4. Lae Simbelin terbentang di Kecamatan Sidikalang menuju perbatasan Kecamatan Siempat Nempu dan Kecamatan Silima Pungga-pungga mengalir ke Provinsi Aceh.

Dari empat sungai sungai di atas, Lae Mbilulus merupakan sungai yang masih dimanfaatkan oleh warga setempat untuk aktivitas sehari-hari, seperti mandi, mencuci pakaian, mencuci piring, mengambil air untuk persiapan air di rumah masing-masing bagi warga yang tidak memiliki sumur bor. Lae Mbilulus itu dapat dipergunakan masyarakat karena permukaannya lebar dan tidak dalam. Sedangkan Lae Renun, Lae Sinendang dan Lae Simbelin kecenderungannya tidak dapat dimanfaatkan untuk aktivitas sehari-hari karena arus airnya kencang, airnya kotor dan dalam.

3.2 Kependudukan

(31)

Kabupaten Dairi pada tahun 2007 melakukan pemekaran terhadap desa/kelurahannya. Pemekaran desa/kelurahan dan kecamatan pada prinsipnya bertujuan untuk mempercepat laju pembangunan.

(32)

Tabel : 3.1

Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk menurut Kecamatan

No. Kecamatan Desa/

Sumber : Badan Pusat statistik Kabupaten dairi

Kabupaten Dairi Dalam Angka (2010:56)

3.3 Perekonomian daerah 3.3.1 Pertanian

(33)

lainnya. Tetapi yang paling tenar tetaplah kopi. Jenis kopi yang dapat tumbuh dengan baik sesuai iklim di daerah ini ada 2 (dua) varietas yaitu kopi Arabica dan kopi Robusta.

Berdasarkan hasil penelitian (survey kesesuaian lahan), Tim Pusat Penelitian Perkebunan Medan, bahwa Kecamatan Salak merupakan lahan yang sangat cocok untuk ditanami komoditi teh, kopi, dan coklat. Lahan yang masih kosong dan tersedia untuk perkebunan tersebut seluas 10.000 Ha.

3.3.2 Peternakan dan Perikanan

Sektor peternakan dan perikanan juga memiliki potensi yang relative besar untuk dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari populasi ternak besar dan kecil yang ada, yaitu seperti peternakan kerbau sebanyak 12.026 ekor, sapi/lembu 2.516 ekor dan ternak kuda sebanyak 99 ekor. Populasi ternak kecil , yaitu babi sebanyak 84.296 ekor, kambing 10.347 ekor, itik 15.288 ekor,dan ayam 850.623 ekor. Lahan untuk pengembalaan ternak relatif luas serta didukung pula oleh kesesuaian iklim dan lahan untuk penyediaan rumput sebagai makanan ternak.

Sektor perikanan yaitu budi daya ikan seluas 618 Hektar dan penangkapan ikan diperairan yaitu sungai 234,5 Hektar, Danau 500 Hektar, Bendungan 14,1 Hektar dan genangan air 60 Hektar.

3.3.3 Industri

Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dengan nilai tambah yang lebih tinggi untuk penggunaannya.

(34)

pertama sebanyak 142 unit, di mana jumlah ini mencapai 33,26 % dari keseluruhan jumlah perusahaan industri kecil yang ada di Kabupaten Dairi.

Usaha industri menurut jenis kegiatan, misalnya pembuatan kerajinan tangan, tukang jahit, tukang mas, gilingan kopi, bengkel mobil, bengkel sepeda motor, bengkel sepeda, perusahaan bulu ayam, pembuatan tahu, tukang tilam, reparasi radio dan tukang gigi masih terkonsentrasi di Kecamatan Sidikalang.

Industri memiliki peran dalam kegiatan pariwisata, yaitu industri kerajinan tangan. Hasil kerajinan tangan tersebut seperti kaos, topi, syal, hiasan dinding dan aksesoris-aksesoris lain yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Tetapi biasanya para pelaku industri membeli kaos, topi dan syal masih dalam bentuk polos dan kemudian akan dicetak nama dan gambar sesuai dengan objek wisata tersebut. Sedangkan hiasan dinding dan aksesoris-aksesoris lainnya dapat diukir nama sesuai dengan selera pembeli.

3.3.4 Sektor Pariwisata

Pariwisata merupakan salah satu sektor pemacu pertumbuhan ekonomi Dairi di masa mendatang. Oleh sebab itu, sektor ini akan mendapat prioritas dalam rencana pembangunan. Kabupaten Dairi memiliki potensi yang tidak kalah dengan daerah lainnya di Sumatera Utara bila mendapat perhatian yang serius, baik dari pemerintah maupun pihak swasta.

(35)

menarik dengan daerah wisata lainnya, yaitu Taman Wisata Iman. Pembangunan objek wisata merupakan salah satu terobosan untuk memanfaatkan alam dengan spesifikasi yang baru karena akan mendongkrak Peningkatan Asli Daerah Kabupaten Dairi.

3.3.5 Kebudayaan

Nilai potensi budaya pada pengembangan pariwisata di Kabupaten Dairi cukup besar dan tinggi, misalnya peninggalan sejarah berupa warisan budaya seperti situs-situs/tugu sangat banyak dijumpai di desa-desa seperti : Mejan, Batu Tettal, Mummi dan lain-lain. Seni tari terdapat di daerah ini, seperti tari khas suku Batak Pakpak, Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun dan lain-lain beraneka ragam bentuk gerakannya yang didukung dan digerakkan musik tradisional.

Pagelaran budaya dan kesenian dari daerah ini pernah ditampilkan pada acara penutupan Penang Fair pada 28 Oktober s/d Nopember 1994 di Penang Malaysia. Jenis-jenis tarian yang dipgelarkan antara lain : Tatak Motik Kopi (Tarian Memetik Kopi); Tatak Manabi (Tarian Menyabit Renggisa); Tatak Renggisa (Tarian Burung Renggisa); Tatak Tintoa Serser (Tarian Mengirik Padi); Tatak Garo-garo (Taria Burung Garo-garo); Tor-tor Si Raja Doli (Tarian daerah Tapanuli Utara); Tor-tor Sitalasari (Tarian Daerah Simalungun); dan Tarian Siterang Bulan (Tarian daerah Karo ).

3.4 Sarana

(36)

3.4.1 Pendidikan

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam mendukung proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan disegala bidang kehidupan masyarakat. Upaya peningkatan kecerdasan dan keterampilan penduduk melalui proses pendidikan akan sangat tergantung pula kepada fasilitas dan sarana pendidikan yang tersedia. Di samping itu, proses ini juga dipengaruhi oleh peningkatan kualitas guru/pengajar di lembaga-lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta. Informasi berikut akan menyajikan keadaan pendidikan di Kabupaten Dairi mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat menengah atas.

Keseluruhan jumlah murid di Kabupaten Dairi berdasarkan Lembaga dan Kecamatan terdapat 45.435 murid SD dan 18.919 murid SLTP. Kabupaten Dairi juga mempunyai 40 sekolah SMU (termasuk SMU Filial dan Madrasah Aliyah) terdapat 14.507 murid dan 981 orang guru. Dari sebanyak 14.507 orang murid SMU, 4.808 diantaranya mengecap pendidikan di Sekolah Menengah Keguruan.

Tabel : 3.2

Jumlah Murid SD, SLTP, dan SLTA Negeri/Swasta menurut Lembaga dan Kecamatan

(37)

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Dairi

BPS Kabuaten Dairi Dalam Angka (2010:93)

Pendidikan memiliki peran dalam kegiatan pariwisata karena pariwisata merupakan salah satu mata pelajaran di Sekolah Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Selain itu, kegiatan wisata juga kerap dilakukan para siswa. Kegiatan wisata tersebut seperti retreat, jalan salib (Via Dolorosa), manasik haji yang merupakan beberapa kegiatan wisata rohani.

3.4.2 Rumah Ibadah

Pembangunan sarana rumah ibadah, baik oleh Pemda Dairi maupun oleh swadaya masyarakat adalah hal yang diwujudkan secara nyata. Hal tersebut dapat dilihat dengan berdirinya beberapa rumah ibadah di seluruh kecamatan seperti : Mesjid, Mushalla, Gereja, dan Vihara. Adapun persentase penduduk menurut agama di Kabupaten Dairi tahun 2010 dapat diperinci sebagai berikut: Islam : 20,28 % (55.537 Jiwa); Protestan : 64,29 % (176.058 Jiwa); Katolik : 15,07 % (41.269 Jiwa); Budha : 0,24 % (657 jiwa); dan Hindu : 0,12 % (329 Jiwa).

Agama memiliki peran dalam kegiatan pariwisata. Karena faktor keagamaan juga merupakan salah satu alasan wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata, yaitu wisata rohani. Wisata rohani bertujuan untuk kegiatan keagamaan seperti umroh, naik haji, misa dan upacara keagamaan lainnya.

3.4.3 Kesehatan

(38)
(39)

Tabel : 3.3

Banyaknya Fasilitas Kesehatan menutrut Kecamatan

No. Kecamatan RSU Puskesmas pustu Dokter Bidan

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi

(40)

Fasilitas kesehatan memiliki peran dalam kegiatan pariwisata. Karena faktor kebutuhan kesehatan juga merupakan salah satu alasan wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata.Selain faktor kebutuhan kesehatan, fasilitas kesehatan yang memadai akan menambah kenyamanan wisatawan untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata.

3.5 Prasarana

3.5.1 Transportasi dan jalan

Jalan merupakan prasarana pengangkutan yang penting untuk memperlancar dan mendorong kegiatan perekonomian. Makin meningkatnya usaha pembangunan menuntut pula peningkatan pembangunan jalan untuk mempermudah mobilitas penduduk dan memperlancar lalulintas barang dari satu daerah ke daerah lain.

Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Dairi sudah cukup memadai dan telah mencapai ke desa-desa. Untuk daerah objek wisata, jalan menuju ke lokasi tersebut sudah beraspal, namun ada beberapa objek wisata yang masih memerlukan pembangunan jalan ke lokasi objek wisata tersebut.

(41)

Tabel : 3.4

Daftar nama dan Alamat Perusahaan Bis Umum yang melayani Trayek Antar Kota (dalam satu provinsi) di Kabupaten Dairi

No. Nama perusahaan Alamat perusahaan Plafon/ unit

4. Po.Terang Raya Jl.SM.Raja Tigalingga 181 173

5. Po. Sempurna Jl.SM.Raja Sidikalang 50 50

6. Po. Koko Jl.Tigalingga Sidikalang 125 50

7. Po. Sinar Baru Jl. Ujung Sidikalang 55 10

8. Po.Dairi Bersama Jl.SM.Raja Sidikalang 50 14

9. Po. Dairi Indah Jl. Ujung Sidikalang 25 4

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi BPS Kabuaten Dairi Dalam Angka (2010:280)

(42)

kendaraan melintas di kawasan itu. Jika hujan turun, genangan air di ruas badan jalan yang rusak dan mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Menurut pendapat penulis rusaknya jalan diakibatkan beberapa faktor seperti cuaca dan muatan truk yang melebihi kapasitas. Terbukti, truk yang bermuatan lebih kapasitas mengakibatkan beberapa titik jalan Sidikalang menuju Medan rusak parah dan rawan longsor. Sementara jalan Sidikalang-Medan tersebut dipergunakan beberapa kabupaten seperti, Dairi, Pakpak Barat, Humbanghas, Samosir, Tobasa, Taput dan Aceh.

3.6 Potensi Pariwisata yang ada di Kabupen Dairi

Sejumlah daerah yang memiliki Potensi Pariwisata yang ada di Kabupaten Dairi adalah sebagai berikut :

1. Pantai Silalahi

Lokasi : Desa Silalahi I,II dan Paropo, Kecamatan Sumbul Jarak : 48 km dari Kota Sidikalang

Potensi : Terdapat pemandangan indah, ideal untuk memancing, olah raga air, perkemahan dan rekreasi. Juga terdapat beberapa fasilitas wisata berupa kios, penginapan dan juga terkenal dengan penenun ulos, dan terletak di Pantai Danau Toba,

2. Lae Pondom

(43)

Potensi : Panorama yang indah memandang ke Danau Toba dan Desa Silalahi.juga terdapat tumbuhan anggrek dan jenis binatang liar yang perlu dilindungi. Sebagai tempat rekreasi, tempat perkemahan, dan basecamp PLTA Renun.

3. Puncak Sidiangkat

Lokasi : Desa Sidiangkat, Kecamatan Sidikalang Jarak : 8 km dari Sidikalang

Potensi : Panorama yang indah, taman bunga dan serta tempat untuk memandang ke arah Aceh Selatan dapat melihat Lautan Hindia pada sore hari dan juga memiliki gua yang mempunyai legenda yang menarik untuk diketahui.

4. Lae Pandaroh

Lokasi : Desa Sitinjo, Kecamatan Sidikalang Jarak : 11 km dari Sidikalang

Potensi : Air terjun

5. Taman Wisata Iman

Lokasi : Desa Sitinjo, Kecamatan Sidikalang Jarak : 10 km dari Sidikalang

Potensi : Tempat wisata rohani, menikmati pemandangan alam yang sangat indah sebagai latar belakang dan luas arealnya 3 Ha.

(44)

Lokasi : Desa Sitinjo, Kecamatan Sidikalang Jarak : 21 km dari Sidikalang

Potensi : Tiga buah danau di puncak bukit yang dikelilingi oleh hutan. Terdapat 7 ekor binatang langka yang mempunyai sejarah yang cukup menarik, sangat cocok untuk pengembangan objek wisata dengan luas areal 575 Ha.

7. Lae Une

Lokasi : Desa Kecupak, Kecamatan Salak Jarak : 36 km dari Sidikalang

Potensi : Air terjun tingginya ±50 m dan memiliki pemandangn yang indah, fasilitas wisata yang sederhana dan memerlukan penataan.

8. Kandet Liang

Lokasi : Desa Bukit Lau Kersik, Kecamatan Tiga Lingga Jarak : 38 km dari Sidikalang

Potensi : Gua yang sangat dalam, fasilitas wisata belum ada, dan masih memerlukan penelitian.

9. Parongil Julu

Lokasi : Desa Silimakuta, Kecamatan Kerajaan Jarak : 29 km dari Sidikalang

Potensi : Terdapat Air terjun 7 tingkat yang merupakan karakter alam yang potensial untuk di jadikan objek wisata.

10. Sikabeng-kabeng

(45)

Jarak : 20 km dari Sidikalang

Potensi : Peninggalan rumah adat Pakpak

11. Tor Nauli

Lokasi : Desa Lae Markelang Jarak : 32 km dari Sidikalang

Potensi : Pemandangan perkebunan kopi dan persawahan rakyat yang luas. Cocok untuk tempat rekreasi karena di latar belakangi oleh panorama yang indah, dan perlu adanya fasilitas.

12. Liang Tojok

Lokasi : Desa Siempat Rube II Jarak : 36 km dari Sidikalang

Potensi : Air terjun dan gua batu merupakan karakteristik dari kejadian alam. Daerah ini merupakan objek wisata alam yang memiliki potensi yang perlu dikembangkan.

13. Liang Karing

Lokasi : Desa Pardomuan, Kecamatan Kerajaan Jarak : 800 m dari jalan raya

(46)

BAB IV

POTENSI TAMAN WISATA IMAN SIDIKALANG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI KABUPATEN DAIRI

4.1 Sejarah Berdirinya Taman Wisata Iman

Ide pembangunan Taman Wisata Iman ini bermula dari awal tahun 2001. Awalnya Bupati Dairi, DR.MP Tumanggor pulang dari Medan dan singgah di kawasan itu, dan menyempatkan diri untuk berdoa di sebuah tempat yang paling tinggi di perbukitan itu. Dalam doanya disebutkan, “ ya Tuhan! begitu indah Engkau ciptakan alam di Kabupaten Dairi ini”.

Sepulang dari kawasan itu, MP Tumanggor yang sudah banyak menjalani berbagai daerah terutama tempat-tempat wisata mencoba menawarkan ide kepada tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama serta warga setempat. Usulan itu berlanjut dengan pembahasan-pembahasan dan terakhir diwujudkan dalam sebuah visualisasi.

Bupati Dairi kemudian merancang sebuah kawasan, yang di dalamnya terdapat beberapa fasilitas ibadah yang mengakomodir semua pemeluk agama di kabupaten tersebut. Untuk mewujudkan gagasan itu, lalu Bupati mengumpulkan beberapa tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk berdialog guna merealisasikan rencana ini. Pertemuan tersebut didapat kesepakatan mengenai lokasi pembangunan Taman Wisata Iman Dairi yaitu di Perbukitan Sitinjo, Kecamatan Sitinjo. Lokasi yang ditutupi oleh hutan dan pepohonan pinus, sangat bagus untuk dijadikan sebagai kawasan religius sekaligus tempat berwisata.

Kawasan Taman Wisata Iman berada pada lahan seluas 13 hektar. Pemda setempat, membangun beberapa tempat ibadah, Gereja, Masjid, Vihara, Kuil, arena bermain dan fasilitas pendukung lainnya. Pembangunan proyek dilaksanakan dalam kurun waktu 3 tahun, mulai dari tahun 2001 sampai tahun 2003. Tahap awal pembangunan selanjutnya, pembangunan melengkapi beberapa fasilitas pendukung. Pemda setempat melakukan pembangunan secara

(47)

bertahap agar Taman Wisata Iman Dairi betul-betul menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah sambil berwisata. Selain untuk mendatangkan wisatawan dari daerah di Sumatera Utara dan daerah di luar provinsi. Pemerintah Daerah Kabupaten Dairi menargetkan kawasan ini menjadi kawasan wisata iman bagi wisatawan mancanegara.

4.2 Gambaran umum Mengenai Taman Wisata Iman

Taman Wisata Iman yang dibangun pada tahun 2001 ini berada di perbukitan Sitinjo, 10 km sebelum Kota Sidikalang. Eksotik, menawan, dan penuh nuansa religius, itulah kata yang pantas untuk mengungkapkan panorama yang terdapat di Taman Wisata Iman Dairi.

Rancangan tata ruang dalam pembangunan Taman Wisata Iman Dairi, diatur secara sempurna. Bukit yang semula tertutup hutan, diimbangi dengan bangunan-bangunan ibadah dan beberapa miniatur sebagai daya tarik. Masing-masing miniatur tersebut, menggambarkan beberapa kejadian dan tempat yang dianggap suci oleh beberapa agama.

Pada pintu masuk, para wisatawan disambut oleh patung Sang Budha dan sebuah candi yang dipergunakan untuk tempat beribadah umat Budha. Vihara Saddhavadana menjadi nama candi yang dirancang mengikuti desain seperti bangunan Candi Borobudur yang terdapat di Jawa Tengah. Patung Budha tersebut dibuat dengan posisi bermeditasi sembari duduk bersila, dengan posisi telapak tangan kanan menghadap ke depan seperti sedang melakukan salam hormat, sementara posisi tangan kiri menopang sikunya dari bawah.

(48)

secara berjejer. Sebagian dari replika salib, beberapa diantaranya menceritakan proses perjalanan penyaliban terhadap Yesus guna membebaskan manusia dari dosa sebagaimana yang dikisahkan Kitab Suci Agama Kristen.

Di lokasi yang sama, dibangun sebuah patung Abraham ketika sedang menyerahkan kurban kepada Tuhan. Di samping patung Abraham, terdapat pula sebuah patung Nabi Musa. Patung tersebut menggambarkan tentang perjalanan Nabi Musa yang bersiap-siap menerima sepuluh perintah sebagaimana dikisahkan dalam Alkitab. Patung tersebut sengaja dibangun tidak jauh dari relief Salib, sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan kepada wisatawan terhadap kisah perjalanan sang pembawa ajaran agama tersebut.

Berjalan sekitar 200 meter dari lokasi patung Abraham dan Musa, terdapat Gua Bunda Maria yang disimbolkan sebagai wanita suci bagi Kristen Khatolik. Di dalam gua tersebut terdapat patung Bunda Maria yang berparas cantik dengan posisi berdiri menggunakan pakaian jubah berwarna putih dipadu dengan biru muda. Gua dengan ukuran kecil tersebut persis di lereng perbukitan dengan pintu manghadap ke lembah. Sementara komposisi bangunan menggunakan batu dan semen yang dibentuk persis menyerupai gua yang ada di alam bebas.

Setelah melewati Gua Bunda Maria, para wisatawan akan disuguhkan sebuah bangunan rumah ibadah (Kuil) Hindu. Kuil yang dibangun mengikuti rancangan bangunan kuno menyerupai pura yang terdapat di Bali, terutama bangunan menaranya.

(49)

jauh dari Miniatur Ka‘bah, berdiri sebuah bangunan masjid yang diperuntukkan bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah.

Taman Wisata Iman Dairi ini, tidak hanya dipenuhi bangunan-bangunan peribadatan bagi umat beragama. Taman wisata iman ini juga dihiasi dengan beberapa keindahan panorama alam dan barisan hutan pinus yang begitu rindang. Sungai yang mengalir dari perbukitan, menambah daya tarik dari taman ini. Komposisi bangunan-bangunan peribadatan berpadu dengan keindahan alam yang memukau, menjadikan Taman Wisata Iman Dairi sebagai salah satu lokasi wisata favorit di Kabupaten Dairi.

4.3 Potensi Taman Wisata Iman Sidikalang dalam memaksimalkan jumlah pengunjung

(50)

Tabel : 3.5

Jumlah pengunjung di Taman Wisata Iman Sidikalang

No. Bulan Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011

Keterangan 150 orang pengunjung dari manca negara. Sumber : dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Dairi

Jumlah pengunjung pada tahun 2010 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2009 sebanyak 52.494 orang. Pembahasan dalam jumlah pengunjung yang menurun besar kemungkinan disebabkan oleh wisatawan merasa kecewa. Wisatawan yang kecewa berarti belum merasa puas dan belum dapat merasa senang dalam perjalanannya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa sikap pengunjung yang kecewa terhadap fasilitas dan akses menuju Taman Wisata Iman.

(51)

yang minim juga merupakan salah satu alasan yang menyebabkan penurunan jumlah pengunjung.

Keluhan wisatawan dapat dijadikan dasar untuk mengambil kebijakan dalam memperbaiki daya saing pariwisata Taman Wisata Iman itu sendiri. Kemudian menentukan apa yang akan dilakukan dalam memperbaiki kepuasan wisatawan agar kinerja pariwisata akan semakin baik, tentunya akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan secara berkelanjutan.

Pihak-pihak yang terkait dalam pengelolaan Taman Wisata Iman, seperti para penjual souvenir, penjual makanan, penjaga retribusi dan pihak-pihak lain perlu meningkatkan kualitas pelayanan dengan baik agar wisatawan datang berkunjung secara berkelanjutan. Kunjungan wisatawan berkelanjutan berarti wisatawan yang sudah berkunjung ke Taman Wisata Iman akan datang kembali karena merasa puas atas pelayanan yang diperoleh selama melakukan perjalan wisata. Selain itu, wisatawan juga akan merekomendasikannya kepada teman dan orang lain agar datang berkunjung ke Taman Wisata Iman. Dengan demikian kunjungan wisatawan yang berkelanjutan dapat terlaksana.

Meningkatkan jumlah pengunjung juga dapat tercapai apabila masyarakat luas mendapatkan informasi tentang Taman Wisata Iman. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui brosur-brosur yang terbaru. Selain itu, Informasi objek wisata tersebut dapat disebarluaskan melalui media yang ada. Media tersebut adalah media elektronik dan media cetak seperti televisi, radio, surat kabar dan brosur.

(52)

tentang perkembangan Taman Wisata Iman masih sangat minim. Akibatnya wisatawan mendapatkan informasi yang kurang mengenai Taman Wisata Iman. Bahkan warga Sidikalang pun masih banyak yang belum mengetahui tentang keberadaan fasilitas-fasilitas yang baru dibangun.

Pada akhir Desember 2010 telah diresmikan bangunan-bangunan keagamaan yang telah selesai proses pembangunannya. Bangunan tersebut antara lain, Perahu/bahtera Nuh dan patung-patung nabi. Di dalam bahtera/perahu Nuh ini terdapat 17 kamar istirahat yang terdiri dari 6 kamar di lantai dasar dan 11 kamar di lantai 2. Bangunan Perahu/bahtera Nuh yang unik dan menarik membuat wisatawan memiliki rasa ingin tahu untuk memasuki Bahtera/perahu Nuh tersebut.

Sekarang ini, fasilitas-fasilitas yang sudah lebih baik dapat digunakan oleh setiap pengunjung. Fasilitas-fasilitas yang ada di Taman Wisata iman yaitu: Patung Liberty Manik; Patung Letjen T.B.Simatupang; Rumah Ibadah 5 Agama; Gua Bunda Maria; 14 Perjalanan Salib; Bahtera Nabi Nuh disertai fasilitas penginapan 17 dan mini Bar; Penginapan/asrama; Sekuriti/keamanan; View yang indah ke bukit; Jogging Track; Auditorium/aula; Wisata sungai/alam; Restoran/cattering; Mini Market; Penginapan 34 kamar; Melayani wisata pernikahan; Tao Silalahi; dan Tempat Penjualan Souvenir.

(53)

dan kerabat-kerabat mereka yang terlebih dahulu mengetahui tentang keberadaan Bahtera Nuh. tetapi walaupun demikian, masih banyak didapati warga Sidikalang yang belum mengetahui tentang perkembangan Taman Wisata Iman.

Apabila promosi berupa brosur dan informasi dengan cepat beredar luas ke masyarakat luas, maka sudah pasti semakin meningkatkan jumlah pengunjung karena didasari keinginan untuk melihat dan menikmati wisata rohani Taman Wisata Iman. Selain itu, untuk meningkatkan jumlah pengunjung perlu diadakan kebijakan yang ditujukan kepada pelaku bisnis akomodasi dalam membenahi akomodasinya terutama dalam hal kebersihan, kenyamanan dan keamanan.

Kebijakan bagi pelaku bisnis objek wisata seperti penjual souvenir yang seharusnya menjual berbagai cenderamata khas daerah itu, seperti miniatur rumah adat pakpak, miniatur pakaian tradisional Pakpak dan lain-lain. Penjual makanan dan minuman yang juga dapat menyajikan makanan khas daerah pakpak dan kualitas serta pelayanannya terjamin. Fotografer layaknya menghasilkan foto-foto yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. Selain itu keberadaan pemandu wisata juga diperlukan karena bisa menjelaskan setiap atraksi wisata sehingga menambah wawasan wisatawan.

(54)

4.4 Akses

Untuk menuju kawasan Taman Wisatan Iman Dairi perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum (bus), mobil pribadi, atau mobil sewaan. Jika menggunakan angkutan umum (bus), perjalanan dimulai dari Bandar Udara Polonia Medan menuju Sidikalang yang berjarak 152 km dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Dari Kota Sidikalang, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi yang berjarak sekitar 10 km dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Jaringan jalan yang ada menuju Taman Wisata Iman sudah cukup memadai namun kondisi jalan belum seluruhnya mulus seperti diharapkan masyarakat. Ruas badan jalan tersebut rusak berat atau berlubang-lubang besar bercampur lumpur, sehingga mengganggu aktivitas warga. Kerusakan jalan terparah dimulai dari Merek, Kabupaten Karo sampai ke Sitinjo, Kabupaten Dairi.

4.5 Akomodasi

Taman Wisata ini dilengkapi dengan tempat penginapan berupa asrama, mes, dan pemondokan. Untuk mendukung beberapa kegiatan keagamaan yang membutuhkan tempat dengan kapasitas besar, seperti pernikahan, Misa bersama, dan pesta di taman ini dibangun sebuah auditorium yang memiliki aula besar yang dapat dipergunakan untuk kegiatan tersebut.

Untuk mengakomodir kebutuhan konsumsi para wisatawan, di taman tersebut dibangun sebuah restoran dan minimarket. Restoran tersebut menyediakan beberapa menu untuk dikonsumsi dan beberapa makanan ringan.

(55)

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Dari keseluruhan yang telah penulis uraikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Potensi Taman Wisata Iman Sidikalang sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Dairi, maka pada akhir kertas karya ini penulis mencoba memberikan kesimpulan bahwa objek dan daya tarik wisata di Taman Wisata Iman hendaknya menjadi perhatian pemerintah daerah untuk lebih dikembangkan dan dilestarikan.

Selain itu perlu diketahui bahwa berhasil atau tidaknya upaya pengembangan suatu daerah wisata diukur dengan banyaknya jumlah wisatawan yang datang ke daerah wisata tersebut. Untuk menarik minat wisatawan agar berkunjung ke suatu daerah maka kebutuhan dan selera wisatawan harus dipenuhi. Kebutuhan dan selera wisatawan disesuaikan pada persiapan produk dan jasa yang dijual.

Kondisi jalan menuju Sidikalang rusak berat, beberapa ruas jalan berlubang-lubang sehingga mengakibatkan durasi perjalanan semakin lama. Kerusakan terparah di mulai dari Merek Kabupaten Karo sampai ke Sitinjo Kabupaten Dairi. Kondisi jalan yang kurang baik ini membuat wisatawan enggan untuk melintasi jalan ini.

Memaksimalkan potensi yang ada di Taman Wisata Iman memerlukan peningkatan kualitas pelayanan baik dari para pengelola maupun dari pihak-pihak yang berhubungan dengan pengelolaan Taman Wisata Iman. Selain itu, peningkatan promosi juga perlu dilakukan dengan menambah informasi yang lengkap di media cetak dan elektronik.

5.2 Saran

(56)

Pemerintah diharapkan dapat memperbaharui akses jalan menuju Sidikalang agar memperlacar lalu lintas dan menghambat wisatawan untuk berkunjung ke Taman Wisata Iman.

(57)

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Perhubungan Kabupaten Dairi (2011), Brosur-brosur Pariwisata Kabupaten Dairi

Yoeti.Oka A.1996.Pengantar Ilmu Pariwisata.Bandung.Cetakan Revisi.Bandung: Angkasa Soekadijo.R.G.1997.Anatomi Pariwisata.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Suwantoro.Gamal.1997.Dasar-dasar Pariwisata.Yogyakarta: Andi

Pendit.Nyoman S.1999.Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana.Jakarta:PT.Pradnya Paramita

Badan Pusat Statistik 2010.Kabupaten Dairi Dalam Angka 2010 Undang-Undang kepariwisataan No.10 Tahun 2009

(58)

DAFTAR GAMBAR

Pintu Gerbang utama memasuki kawasan Taman Wisata Iman

(59)

Gereja yang megah ditengah alam perbukitan dengan latar belakang lembah-lembah

(60)

Dibangun Masjid lengkap dengan ka’bah dan menara. Bagi pemeluk Agama Islam lokasi ini dapat dipergunakan untuk latihan manasik haji secara lengkap.

(61)

Figur

Tabel : 3.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk menurut Kecamatan

Tabel :

3.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk menurut Kecamatan p.32
Tabel : 3.2 Jumlah Murid SD, SLTP, dan SLTA Negeri/Swasta menurut Lembaga dan Kecamatan

Tabel :

3.2 Jumlah Murid SD, SLTP, dan SLTA Negeri/Swasta menurut Lembaga dan Kecamatan p.36
Tabel : 3.3 Banyaknya Fasilitas Kesehatan  menutrut Kecamatan

Tabel :

3.3 Banyaknya Fasilitas Kesehatan menutrut Kecamatan p.39
Tabel : Lanjutan No. 1.

Tabel :

Lanjutan No. 1. p.39
Tabel : 3.5 Jumlah pengunjung di Taman Wisata Iman Sidikalang

Tabel :

3.5 Jumlah pengunjung di Taman Wisata Iman Sidikalang p.50

Referensi

Memperbarui...