ii
PERUSAHAAN PROPERTI SUBSEKTOR KONSTRUKSI
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
The Influence of Fundamental Variables On Stock Price of
Construction
Sub-Sector Company Property Listed In Indonesia Stock Exchange
SKRIPSI
disusun
Nama : Andhika Pratama Ramadhan Nim : 21208018
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
v
PENGARUH VARIABEL FUNDAMENTAL TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PROPERTI SUBSEKTOR KONSTRUKSI YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Oleh : Andhika Pratama Ramadhan Pembimbing : Linna Ismawati, SE., M.Si
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel fundamental yang antara lain terdiri dari Current ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Equity, dan Total Asset Turn Over terhadap harga saham baik secara simultan maupun secara parsial pada perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah, variabel Current ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Equity, dan Total Asset Turn Over secara simultan dan parsial berpengaruh terhadap harga saham perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian dilakukan terhadap 7 perusahaan properti subsektror konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2007 hingga 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan dengan menelaah laporan keuangan yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory tahun 2008 hingga tahun 2011. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan uji statistik regresi linier berganda dengan program SPSS 19 for windows.
Hasil pengujian ini menyatakan bahwa variabel Current ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Equity, dan Total Asset Turn Over secara simultan dan parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
iv
The Influence of Fundamental Variables On Stock Price of Construction Sub-Sector Company Property
Listed In Indonesia Stock Exchange
By : Andhika Pratama Ramadhan Guide : Linna Ismawati, SE., M.Si
The purpose of this study is to identify influence of fundamental variable the other thing consisting of Current ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Equity, and Total Asset Turn Over towards Stock Price of construction sub-sector company property listed in Indonesian Stock Exchange either simultaneously or partially.
The hypothesis is that Current ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Equity, and Total Asset Turn Over variables simultaneously or partially affect towards the Stock Price of construction sub-sector company property listed in Indonesian Stock Exchange. This Study is conducted on 7 construction sub-sector company property were listed in Indonesian Stock Exchange since the year 2007 until 2010. Data collection was done by means of study literature to analyze financial reports available on Indonesian Capital Market Directory of the year 2008 until 2011. Then they were processed by using statistical equipment multiple linear regression with SPSS 19 for windows program.
This study explain that Current ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Equity, and Total Asset Turn Over variables simultaneously and partially influenced had not significantly towards Stock Price of construction sub-sector company property listed in Indonesian Stock Exchange.
vi
Alhamdulillahi Robbil’alamin. Puji dan syukur kepada Allah SWT karena telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
yang berjudul : “Pengaruh Variabel Fundamental Terhadap Harga Saham Perusahaan
Properti SubSektor Konstruksi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia” dengan
baik. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu tugas akhir mata kuliah di semester
VIII.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan, dan dorongan yang
sangat berarti dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini, penulis menyampaikan
hormat dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, selaku Rektor Universitas Komputer
Indonesia.
2. Ibu Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., SE., M.Si., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.
3. Ibu Linna Ismawati, SE.,M.Si., selaku Ketua Program Studi Manajemen
Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia dan sekaligus dosen
pembimbing dalam penyusunan skripsi.
4. Ibu Lina dan Bapak Isharsaya, selaku pembimbing perusahaan dalam
penyusunan skripsi di PT. Bursa Efek Indonesia.
5. Bapak dan Ibu dosen serta seluruh karyawan yang telah memberikan ilmu
vii
Herman, Ua Euis, Ka Akbar, Ka Faris, Ka Aras, Ka Fahmi yang senantiasa
memberikan dukungan moral dan spiritual dalam menyelesaikan tesis ini.
7. Ulfa Renandar, SixPack( Aditya Ramdhani, Deni Sugiarto, Tan Satrisna,
Yuyun Ismail, Ryan Riyandi), MN1’08 (Agus, Aldi, Abu, Jo, Alta, Yayan,
Maulana), “J”, Aziz, ZCFCK dkk (Yuyus,Zaenudin,Ika,Sufyan,Egi), Naruse
geng (Auh-Belek,Maroon-Upil), Mading PijarPagi (Sam, JS, Baby Blue,
Megu, Rasya, Giant, Ucink, Ippo, Romo, Harter, Indri, Cindi), Sylvia,
Anifreak (hideki, hake, dll), Cassandra, Ka Nazma, Ka Meli, Ka Riani, Jimo,
Riza, dan FUNCO (Ka Evie, Kirana, Kartika, Ka Aprel, Gita, Ka Wira, Ka
Mery, Ka Febrian, Ichi, Ru, Irwan, Chandra, Ka Farih, Renita, Rinaldy, Alvin,
Uki, Ka Fahril, Ka Opik, Ka Harlis, Ka Adin, Ka Alvin, Ceptian, Dina, Ka
Arti, Fadli, Rini, Riki, Nana, Zein, Nezu, dll) Boz & Yoga yang sempat
memberikan dukungan dan hiburan, juga menjadi salah satu motivasi.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang juga telah
membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
Penelitian ini jauh dari sempurna, penulis mengharapkan dan menghargai setiap kritik
dan saran demi penulisan yang lebih baik di masa mendatang. Semoga penelitian ini
dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Bandung, Agustus 2012
viii
LEMBAR PENGESAHAN……….i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN………..………ii
MOTTO………..….iii
ABSTRACT………iv
ABSTRAK………v
KATA PENGANTAR………....vi
DAFTAR ISI………...……….……….viii
DAFTAR GAMBAR………..…...….xi
DAFTAR TABEL………...…...xii
DAFTAR LAMPIRAN……….…….…...xiv
BAB I PENDAHULUAN………...1
1.1. Latar Belakang Penelitian………...1
1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah………...7
1.2.1 Identifikasi Masalah………...7
1.2.2 Rumusan Masalah………..7
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian………8
1.3.1 Maksud Penelitian………8
1.3.2 Tujuan Penelitian………...8
1.4 Kegunaan Penelitian………8
1.4.1 Keguanaan Praktis……… 8
1.4.2 Kegunaan Akademis………..9
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian………...9
1.5.1 Lokasi Penelitian………9
ix
2.1.1. Variabel Fundamental………..11
2.1.2. Definisi Saham………...20
2.1.2.1 Harga Saham………...……….23
2.1.2.2 Analisis Saham…..……….………….25
2.1.3. Keterkaitan antar variabel……….... 26
2.1.3.1. Pengaruh Current Ratio terhadap harga saham…..…….26
2.1.3.2. Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap harga saham…27 2.1.3.3. Pengaruh Return On Equity terhadap harga saham...…..27
2.1.3.4. Pengaruh Total Assets Turn Over terhadap harga saham28 2.1.4 Penelitian terdahulu………...………29
2.2. Kerangka Pemikiran……….. 32
2.2.1. Bagan kerangka pemikiran ………..36
2.2.2. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya……….………...37
2.3 Hipotesis………. 40
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN ……… 41
3.1 Objek Penelitian………... 41
3.2 Metode Penelitian……… 42
3.2.1 Desain Penelitian……….43
3.2.2 Operasional Variabel………..45
3.2.3 Sumber dan Teknik Penentuan Data……….. 47
3.2.3.1 Sumber Data……….. 47
3.2.3.2 Teknik Penentuan Data……….…. 48
3.2.4 Teknik Pengumpulan Data………49
3.2.5 Rancangan Analisis dan Pengujian Hipotesis ……….. 49
3.2.5.1 Rancangan Analisis……….. 49
x
4.1 Gambaran umum perusahaan………... 60
4.1.1 Sejarah perusahaan……….61
4.2 Analisis deskriptif……… 65
4.2.1 Perkembangan Current Ratio…….……….65
4.2.1 Perkembangan Debt to Equity Ratio…..……….67
4.2.1 Perkembangan Return On Equity...……….68
4.2.1 Perkembangan Total asset Turn Over……….70
4.2.1 Perkembangan Harga Saham…….……….72
4.3 Analisis verifikatif……… 73
4.3.1 Analisis regresi berganda……..….……….73
4.3.2 Uji asumsi klasik………...….……….75
4.3.3 Analisis korelasi pearson….…..….……….81
4.3.1 Koefesien determinasi………...….……….86
4.3.1 Pengujian hipotesis…………...….……….87
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………….……… 98
5.1 Kesimpulan..………….………... 98
5.2 Saran……….……… 99
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Pertumbuhan ekonomi suatu negara akan sangat ditentukan oleh
perkembangan dalam sektor keuangan. Hal ini disebabkan karena sektor keuangan memegang peranan penting dalam menghubungkan antara pihak yang memiliki
dana lebih dengan pihak yang kekurangan dana. Dengan menginvestasikan kelebihan dana yang mereka miliki, penyandang dana berharap akan memperoleh keuntungan dari penyerahan dana tersebut. Bagi peminjam dana, tersedianya dana
memungkinkan mereka untuk melakukan kegiatan usaha tanpa harus menunggu dana yang mereka peroleh dari hasil operasi perusahaannya. Proses semacam ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas perusahaan, yang akhirnya
mampu meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia, sebagai negara sedang berkembang memiliki karakter
perekonomian yang tidak berbeda jauh dengan negara sedang berkembang lainnya. Tujuan pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam
proses perkembangannya dihadapkan pada permasalahan dalam keterbatasan modal untuk membiayai investasi pembangunan.
Salah satu sektor yang mendukung pembangunan Indonesia adalah sektor
dapat dirasakan semakin berkembang dan maju, karena terdorong oleh perkembangan teknologi informasi, yang memudahkan kegiatan segala jenis
transaksi antar berbagai pihak. Serta terdapat pasar yang saling berinteraksi secara kompleks dengan tujuan memobilisasi dana untuk investasi.
Dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan memperoleh sumber
dana dari pihak internal dan eksternal, salah satu bentuk penghimpunan dana melalui penerbitan saham di pasar modal. Pasar modal adalah pasar yang
memperdagangkan surat-surat berharga sebagai bukti kepemilikan suatu perusahaan bisnis atau kepemilikan modal untuk di investasikan sesuai dengan
kesepakatan yang telah dibuat.
Pasar modal merupakan pasar yang telah menjadi perhatian banyak pihak khususnya masyarakat bisnis. Hal ini terutama dikarenakan kegiatan pasar modal
yang semakin berkembang dan efesien, di satu pihak serta di lain pihak meningkatkan keinginan masyarakat untuk mencari alternatif pembiayaan usaha
selain bank dan lembaga keuangan bukan bank.
Selain itu salah satu fungsi utama pasar modal adalah sebagai sarana untuk memobilisasi dana yang bersumber dari masyarakat ke berbagai sektor yang
melaksanakan investasi. Syarat utama yang diinginkan oleh investor adalah untuk bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modal adalah perasaan aman akan
Pasar modal yang baik adalah dimana ketika harga-harga saham mencerminkan sebagian informasi yang relevan dan pasar akan bereaksi apabila
terdapat informasi baru. Informasi baru tersebut akan masuk ke dalam dan membentuk harga saham yang baru dan akan menunjukkan keseimbangan yang
baru, sehingga menyebabkan jumlah volume perdagangan saham akan di beli atau di jual. Informasi ini tertera dan dinamakan laporan keuangan.
Laporan keuangan adalah sebagai petunjuk hasil akhir dari proses
akuntansi yang dirancang untuk menyediakan kebutuhan informasi bagi calon investor, kreditor, dan pemakai eksternal lainnya untuk mengambil keputusan
investasi, kredit dan lainnya.
Setiap perusahaan yang terdaftar pada bursa efek setiap tahunnya berkewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan (annual report)
untuk keperluan para pemodal (investor). Laporan keuangan merupakan sumber berbagai macam informasi yang mencerminkan kinerja perusahaan yang bersangkutan bagi pemodal (investor) dimana informasi itu bermanfaat sebagai
salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.
Setiap investor yang melakukan investasi di pasar modal mengharapkan
keuntungan dari dana yang ditanamkan. Ada investor yang mempunyai tujuan untuk memperoleh deviden dan ada pula investor yang justru mengharapkan
resiko itu juga timbul karena return yang diterima, mungkin lebih besar ataupun lebih kecil dari dana yang di investasikan. Untuk investor yang menyukai resiko
(risk lover) mereka memilih saham-saham yang mempunyai resiko yang tinggi agar di kemudian hari akan mendapatkan return yang tinggi pula. Sebaliknya
investor yang tidak menyukai resiko (risk avester) merencanakan keuntungan normal. Kekuatan analisis investor dalam menilai harga saham dapat berpengaruh terhadap keuntungan yang akan dirterima, kekuatan analisis ini akan memberikan
informasi kepada investor tentang waktu yang tepat membeli saham tertentu dan kapan menjual saham atau bahkan keluar dari pasar.
Tabel 1.1
Harga Saham Sektor Properti Subsektor Konstruksi
No Nama Perusahaan Company Listing
5 Total Bangun Persada
Tbk 25-07-06 TOTL 590 88 186 255
Pada tahun senior di Amerika Serikat ini berpengaruh lan
n yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, si. Penurunan hingga mencapai 57,12 % ngka rata-rata stock price ke level 725 .
Gambar 1.1
a Saham Sektor Properti Subsektor Konstru
Indonesian Capital Market Directory 2008-2011, data d
salah langkah, ada dua pendapat yang menje akukan analisis terhadap sekuritas saham. Pe
pada dasarnya ada saham yang salah hargan ggi atau terlalu rendah (mispriced). Dengan me danya kesalahan harga tersebut sehingga
Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
dihindari. Pendapat ke dua mengatakan bahwa harga saham adalah wajar. Kalaupun ada saham yang salah harga maka investor tidak dapat mendeteksinya.
Faham ini beranggapan bahwa pasar modal adalah efisien. Dengan demikian pemilihan saham tidak didasarkan pada faktor salah harga, tapi didasarkan pada
faktor preferensi risiko para investor.
Menurut Suad Husnan (2005:307) terdapat 2 pendekatan secara umum yang sering digunakan investor untuk menganalisis dan menilai saham di pasar
modal, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.
Analisis teknikal adalah analisis yang mencoba memperkirakan harga saham (kondisi pasar) dengan mengamati perubahan harga saham tersebut,
dimana tidak memperhatikan kebijaksanaan pemerintah, pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penjualan perusahaan, pertumbuhan laba, perkembangan tingkat
bunga, dan sebagainya yang mempengaruhi harga saham (kondisi pasar).
Analsis fundamental adalah analisis yang mencoba memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor
fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang dan menerapkan hubungan variabel - variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran
harga saham. Dari laporan keuangan, dapat diketahui beberapa informasi fundamental yang dilihat dari beberapa rasio, diantaranya rasio likuiditas yang dimana salah satunya yaitu Current Ratio, rasio solvabilitas yaitu Debt to Equity
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Variabel Fundamental
Terhadap Harga Saham Perusahaan Properti Subsektor Konstruksi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.
1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah
1.2.1 Identifikasi Masalah
Selama 4 tahun terakhir, dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010,
fluktuasi ekonomi terus mengguncang dunia, termasuk indonesia . Dimana salah satu sektor yang terkena imbasnya pada pasar modal adalah perusahaan properti subsektor konstruksi. Akibat adanya krisis moneter, beberapa tahun terakhir ini,
harga saham pun berubah-ubah secara signifikan . Agar para investor tidak salah langkah dalam berinvestasi, maka diperlukannya suatu kajian dengan
menggunakan variabel fundamental.
1.2.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan hal tersebut maka dirumuskan pertanyaan penelitian
(research question) sebagai berikut :
1. Bagaimana perkembangan variabel fundamental yang terdiri dari current
ratio, debt to equity ratio, return on equity, dan total asset turn over pada perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Bagaimana pengaruh variabel fundamental terhadap harga saham perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Mengumpulkan data dan berbagai informasi terkait dengan variabel fundamental dalam upaya melakukan investasi terhadap harga saham perusahaan
properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.3.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan hal tersebut, maka adapun tujuan penelitian sebagai berikut: 1. Mengetahui perkembangan variabel fundamental yang terdiri dari
current ratio, debt to equity ratio, return on equity, dan total asset turn
over pada perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Mengetahui perkembangan harga saham pada perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Mengetahui pengaruh variabel fundamental terhadap harga saham
perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4. Kegunaan Penelitian
1.4.1 Kegunaan Praktis
1. Bagi Bursa Efek Indonesia dalam memberikan informasi tentang pelaksanaan pembentukan saham sehingga dapat digunakan sebagai
dasar pengambilan keputusan terkait perubahan saham.
2. Bagi perusahaan khususnya subsektor konstruksi dalam menyikapi
keterkaitan variabel fundamental dengan harga saham.
3. Bagi investor, kreditur, dan masyarakat sebagai bahan pertimbangan dalam berinvestasi.
1.4.2 Kegunaan Akademis
Adapun kegunaan akademis yang diharapkan sebagai berikut :
1. Bagi manajemen keuangan, sebagai referensi agar dapat memberikan kontribusi tentang pengembangan keterkaitan variabel fundamental dengan harga saham.
2. Bagi peneliti lain, sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan.
1.5. Lokasi dan Waktu Penelitian
1.5.1 Lokasi Penelitian
Peneliti mengambil lokasi penelitian di Bursa Efek Indonesia, terkait dengan judul “Pengaruh Variabel Fundamental Terhadap Harga Saham
Perusahaan Properti SubSektor Konstruksi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.
1.5.2 Waktu Penelitian
Tabel 1.2
Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penelitian
Prosedur
Bulan Februari
2012
Maret 2012
April 2012
Mei 2012
Juni 2012
Juli 2012
1. Penyusunan usulan penelitian
2. Bimbingan
3. Pendaftaran seminar usulan penelitian
4. Meminta surat pengantar ke perusahaan
5. Seminar usulan penelitian 6. Perbaikan
7.Pengumpulan data 8. Pengolahan data
9. Penyusunan laporan dan bimbingan
10. Pendaftaran ujian sidang akhir
11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN
HIPOTESIS
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1. Variabel Fundamental
Setiap pelaku di pasar modal memerlukan suatu alat analisis untuk membantu dalam mengambil keputusan membeli atau menjual suatu saham. Hal
ini merupakan hal yang mendasar untuk diketahui para pemodal, mengingat tanpa analisis yang baik dan rasional para pemodal akan mengalami kerugian. Tujuan
analisis saham adalah untuk menilai apakah penetapan harga saham pada suatu perusahaan ditawarkan secara wajar atau tidak. Salah satu tipe pendekatan dasar analisis saham adalah dengan melihat variabel-variabel fundamental.
Pendekatan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa setiap saham memiliki nilai intrinsik. Nilai intrinsik inilah yang diiestimasi oleh para pemodal
atau analis. Nilai intrinsik merupakan suatu fungsi dari variabel-variabel perusahaan yang dikombinasikan untuk menghasilkan suatu return yang diharapkan dan suatu resiko yang melekat pada saham tersebut. Hasil estimasi
nilai intrinsik kemudian dibandingkan dengan harga pasar yang sekarang (current market price), Sunariyah (2006:169).
datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang dan menerapkan hubungan variabel -
variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Sedangkan menurut Kamarudin Ahmad (2004:81) analisis fundamental
mempelajari brosur atau data-data industri perusahaan, penjualan, kekayaan, pendapatan, produk dan penyerapan pasar, evaluasi manajemen perusahaan, membandingkan dengan pesaingnya, dan memperkirakan nilai intrinsik dari
perusahaan tersebut.
Berbeda dengan David dan Kurniawan (2010:203) , analisis fundamental
adalah studi tentang ekonomi, industri, dan kondisi perusahaan untuk memperhitungkan nilai dari saham perusahaan. Analisis fundamental menitikberatkan pada data-data kunci dalam laporan keuangan untuk
memperhitungkan apakah harga saham sudah diapresiasi secara akurat.
Laporan keuangan merupakan laporan yang menunjukkan kondisi
keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu, Kasmir (2008:7). Laporan keuangan ini sangat bermanfaat bagi stakeholder, karena dengan begitu stakeholder dapat mengetahui bagaimana kinerja perusahaan.
Laporan keuangan yang biasa disajikan adalah laporan rugi laba (income statement), laporan neraca (balance sheet), dan laporan arus kas (cash flow) yang
biasa diumumkan secara periodik sebagai sarana penyedia informasi mendasar tentang kinerja keuangan. Dalam pengukuran kinerja keuangan biasanya dilakukan dengan cara membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan
dapat disimpulkan posisi keuangan suatu perusahaan untuk periode tertentu. Perbandingan ini biasa disebut dengan analisis rasio.
Dari aspek tujuan analisis, rasio keuangan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok utama. Dikemukakan David dan Kurniawan (2010:234)
Rasio keuangan yang didesain untuk memperlihatkan hubungan antara item-item pada laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba) terdapat 5 jenis, yaitu :
1. Leverage (solvabilitas) ratio, memperlihatkan beberapa utang yang
digunakan perusahaan.
2. Liquidity ratio, mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo.
3. Effeciency atau asset management (aktivitas) ratio, mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya.
4. Profitabilitas ratio, mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
5. Market-value ratio, memperlihatkan bagaimana perusahaan dinilai oleh investor di pasar modal.
Dalam penelitian ini digunakan 4 rasio keuangan yang digunakan yaitu
Curent Ratio ( CR ) merupakan rasio likuiditas, Debt Equity Ratio (DER)
merupakan rasio solvabilitas, Return on Equity (ROE) merupakan rasio
profitabilitas, dan Total Asset Turn Over ( TATO ) merupakan rasio aktivitas.
1. Curent Ratio ( C R ) yang merupakan rasio likuiditas
Ross (2005:34) mengemukakan bahwa pada umumnya perhatian pertama
perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang segera harus dipenuhi (jatuh tempo) dan membayar tepat pada waktunya.
Aktiva likuid merupakan aktiva yang dapat diperdagangkan pada pasar yang aktif dan dapat dengan segera dikonversikan menjadi kas. Analisis likuiditas
yang lengkap membutuhkan penggunaan anggaran kas, tetapi dengan menghubungkan jumlah kas dan aktiva lancar lainnya terhadap kewajiban lancar lainnya. Dua rasio likuiditas yang umum digunakan yaitu rasio cepat (quick ratio)
dan rasio lancar (current ratio). Perbedaan antara rasio lancar dan rasio cepat adalah pada perhitungan rasio cepat, nilai persediaan tidak diperhitungkan dengan
pengertian bahwa untuk memperoleh tambahan kas selain diperoleh langsung dari kas, perusahaan dapat menagih piutang tanpa harus melikuidasi persediaan,
(A.M.Dewi Astuti, 2004:31).
Kasmir (2008:134) menyatakan bahwa rasio lancar (current ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dari hasil pengukuran rasio, apabila rasio rendah, dapat dikatakan bahwa perusahaan kurang modal untuk membayar utang. Tetapi apabila
pengukuran rasio tingi, itu bisa juga menandakan bahwa kas tidak digunakan sebaik mungkin.
Sama halnya dengan Kasmir, Lyn & Aileen (2008:223) menyebutkan bahwa rasio lancar (current ratio) adalah ukuran yang umumnya digunakan atas solvensi jangka pendek, kemampuan suatu perusahaan memenuhi kebutuhan
rasio lancar dibatasi dengan sifat dari komponennya. Sebuah perusahaan secara relatif memiliki rasio lancar tinggi tetapi tidak mampu memenuhi permintaan kas
karena piutang usaha kualitasnya rendah atau persediaan hanya dapat dijual apabila dengan harga diskonto.
Rasio lancar (current ratio) dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini menunjukkan besarnya kewajiban lancar yang ditutup dengan aktiva yang diharapkan akan dikonversi menjadi kas dalam jangka
pendek. Rasio lancar ini memberikan indikator terbaik atas besarnya klaim kreditor jangka pendek yang dapat ditutup oleh aktiva yang diharapkan akan
dikonversi menjadi kas dalam jangka pendek. Kewajiban lancar digunakan sebagaipenyebut rasio karena dianggap menggambarkan hutang yang paling mendesak, harus dilunasi dalam satu tahun atausatu siklus operasi.tersedianya
sumber kas untuk memenuhi kewajiban tersebut berasal dari kas atau konversi menjadi kas dari aktiva lancar. Beberapa analisis menghilangkan beban bayar di
muka dari pembilangnya karena bukan sumber potensial dari kas tetapi agaknya menggambarkan kewajiban masa depan yang telah dipenuhi.
Rumus untuk mencari rasio lancar atau current ratio yang merupakan bagian dari
rasio likuiditas adalah sebagai berikut :
Aktiva Lancar (Current Assets)
Current Ratio =
2. Debt Equity Ratio (DER) yang merupakan rasio solvabilitas
Lyn & Aileen (2008:233) menyebutkan rasio hutang mengukur sejauh
mana perusahaan mendanai dengan hutang. Jumlah dan proporsi hutang di dalam struktur modal perusahaan sangatlah penting untuk analisis keuangan, karena
harus memilih antara resiko atau tingkat pengembalian. Menggunakan hutang berkenaan dengan resiko, karena hutang menimbulkan komitmen tetap berupa beban bunga dan pelunasan pokok hutang. Kegagalan memenuhi beban tetap
dapat diasosiasikan dengan kebangkrutan. Suatu resiko berkurang jika perusahaan yang memiliki hutang yang terlalu besar kesulitan untuk memperoleh tambahan
pendanaan hutang sewaktu dibutuhkan atau dengan kata lain kredit dapat diperoleh hanya dengan tingkat bunga yang lebih tinggi.
Walaupun hutang berarti resiko, ini juga menunjukkan potensi perusahaan
untuk memperbesar keuntungan bagi si pemilik. Kalau hutang di kelola dengan baik –jika laba operasi lebih besar dan cukup untuk menutup beban hutang –
tingkat pengembalian kepada pemegang saham akan memperbesar melalui leverage keuangan.
Rasio hutang menimbang semua porsi aktiva yang didanai dengan hutang.
Rasio hutang jangka panjangterhadap total kapitalisasi menggambarkan sejauh mana penggunaan hutang jangka panjang dipakai manajemen untuk mendanai
perusahaan secara permanen (baik hutang jangka panjang maupun ekuitas pemegang saham). Rasio hutang terhadap ekuitas mengukur resiko struktur modal dalam hal hubungan antara dana yang dipasok oleh kreditor (hutang) dan investor
karena kreditor harus dipenuhi sebelum pemilik dalam hal kebangkrutan. Dampaknya, dasar ekuitas memberikan perlindungan bagi pem,beri pinjaman.
Ross (2005:36) mengemukakan bahwa rasio leverage menunjukkan ukuran besarnya dana yang diperoleh dari kreditur. Rasio ini menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang.
Kasmir (2008:157) menyatakan bahwa debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini berguna
untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan, yang berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri
yang dijadikan untuk jaminan utang. Semakin besar rasio ini, semakin tidak menguntungkan bagi kreditor karena semakin besar resiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan.
Rumus untuk mencari debt to equity ratio yang merupakan bagian dari rasio solvabilitas adalah total hutang (total debt) dibagi dengan ekuitas (equity)
yang dijabarkan sebagai berikut :
Total Utang (Total Debt)
Debt to Equity Ratio =
Ekuitas (Equity)
3.Return on Equity (ROE) yang merupakan rasio profitabilitas
Ross (2005:37) mengemukakan bahwa kemampulabaan merupakan rasio
perusahaan untuk menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu.
Kasmir (2008:204) menyatakan bahwa return on equity merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini
menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik.
Return On Equity merupakan rasio yang menunjukkan keberhasilan atau
kegagalan pihak manajemen dalam memaksimumkan tingkat hasil pengembalian investasi pemegang saham dan menekankan pada hasil pendapatan sehubungan
dengan jumlah yang diinvestasikan. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham, (A.M.Dewi Astuti, 2004:37).
Sama halnya dengan pendapat-pendapat yang lain, Lyn & Aileen
(2008:238) menyebutkan bahwa pengembalian atas ekuitas (return on equity) mengukur pengembalian atas pemegang saham biasa; rasio ini juga dikalkulasi
sebagai pengembalian atas ekuitas saham biasa jikalau sebuah perusahaan memiliki saham preferen yang beredar.
Rumus untuk mencari return on equity yang merupakan bagian dari rasio
profitabilitas adalah laba sesudah bunga dan pajak dibagi dengan ekuitas, yang dijabarkan sebagai berikut :
Laba sesudah bunga dan pajak (Earning After Interest and Tax)
Return On Equity =
4. Total Asset Turn Over ( TATO ) yang merupakan ratio aktivitas
Ross (2005:35) mengemukaakn bahwa rasio aktivitas mengukur tingkat
efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki. Rasio perputaran aktiva tetap (fixed asset turn over) dan perputaran total
aktiva (total asset turn over) adalah dua pendekatan untuk menilai efektifitas manajemen untuk menghasilkan penjualan dari investasi aktiva. Perpuran aktiva tetap hanya mempertimbangkan investasi dalam properti, bangunan, dan peralatan
perusahaan dan sangat penting bagi suatu perusahaan yang intensifitasnya kepada modal seperti manufaktur dengan investasi berat dalam aktiva berjangka panjang.
Perputaran total aktiva mengukur efesiensi pengelolaan aktiva perusahaan. Umumnya, makin tinggi rasio tersebut, makin kecil investasi yang diperlukan untuk menghasilkan penjualan dan dengan demikian makin menguntungkan bagi
perusahaan, (Lyn & Aileen, 2008:237).
Kasmir (2008:185) mengemukakan bahwa total asset turn over
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap aktiva.
Rumus untuk mencari total asset turn over yang merupakan bagian dari rasio aktivitas adalah penjualan dibagi dengan total aktiva, penjabarannya sebagai
berikut :
Penjualan (Sales)
Total Asset Turn Over =
2.1.2. Definisi Saham
Mohamad Samsul (2006:45) menyebutkan bahwa saham adalah tanda
bukti memiliki perusahaan dimana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang saham (share holder atau stock holder).
Sedangkan Anoraga (2001:58) berpendapat bahwa saham dapat didefinisikan sebagai surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun intuisi dalam suatu perusahaan.
Wujud saham yang berupa selembar kertas dan menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan, berdasarkan hak tagihnya terbagi atas dua jenis,
yaitu :
1. Saham biasa (common stock)
Saham biasa merupakan saham yang tidak mencantumkan nama pemilik dan
kepemilikannya tidak melekat pada pemegang sertifikat tersebut, selain itu saham tidak mempunyai jatuh tempo, tetapi sebagai pemilik selama perusahaan berdiri.
Pada saham biasa, besarnya deviden tidak pasti dan tidak tetap jumlahnya. Perusahaan pun tidak wajib memberikan deviden setiap tahun meskipun pada tahun tersebut perusahaan memperoleh laba. Hal ini menyebabkan penilaian
saham biasa jauh lebihsulit daripada penilaian obligasi atau saham preferen. Agar dapat menghitung nilai suatu saham, investor harus memprediksi deviden saham
a. Pendekatan zero growth
Pendekatan yang diasumsikan bahwa deviden saham biasa tidak
bertumbuh, growth (g) = 0, nilai sahamnya dapat dihitung dengan rumus berikut :
Po = D/Ks
Po menunjukkan harga saham yang diharapkan, D menunjukkan deviden,
dan Ks menunjukkan tingkat keuntungan yang diisyaratkaninvestor pada saham.
b. Pendekatan constant growth
Pada umumnya deviden bertumbuh sesuai dengan tingkat pertumbuhan perusahaan. Asumsi deviden bertumbuh secara konstan ini biasanya
diterapkan pada perusahaan yang telah mapan atau memasuki tahap kedewasaan. Untuk perusahaan yang baru biasanya pada awal - awal
tahun, tingkat pertumbuhan deviden tinggi, namun setelah beberapa tahun, tingkat pertumbuhan menurun dan cenderung konstan. Jika growth (g) konstan, dan Ks > g, maka rumus pada pendekatan constant growth
adalah:
Po menunjukkan harga saham biasa pada t = 0, D0 menunjukkan deviden terakhir dibagikan, g menunjukkan tingkat pertumbuhan deviden, dan Ks
menunjukkan tingkat keuntungan yang diisyaratkan pada saham tersebut. c. Pendekatan non constant growth
Pada umumnya deviden saham biasa suatu perusahaan tidak konstan tapi berubah sesuai dengan daur hidup (life cycle) perusahaan tersebut. Pada periode awal, biasanya deviden perushaan berubah-ubah, namun pada saat
memasuki periode kedewasaan pertumbuhan deviden tersebut cenderung konstan. Rumus pada pendekatan non constant growth dapat dilihat
sebagai berikut :
D
Po =
( r – g )
Po menunjukkan harga saham, D menunjukkan deviden, r menunjukkan
required rate of return, dan g menunjukkan growth rate.
2. Saham preferen (preferrend stock)
Saham preferen adalah suatu sekuritas hibrida atau campuran antara karakteristik
saham biasa dan obligasi. Sama dengan saham biasa karena sama-sama tidak memiliki jatuh tempo, maka annuity tersebut memiliki periode sampai tak
terhingga (∞) atau merupakan suatu perpetuity, dan saham preferen sama dengan obligasi dalam hal jumlah dividen terbatas. Nilai atau harga saham preferen merupakan present value dari seluruh deviden yang diterima. Rumus saham
Dps Vps =
Kps
Vps menunjukkan nilai saham preferen, Dps menunjukkan deviden saham preferen,
dan Kps menunjukkan tingkat keuntungan yang diisyaratkan pada saham preferen.
2.1.2.1 Harga Saham
R.Agus Sartono (2001:41) menyebutkan bahwa harga saham adalah nilai sekarang atau present value dari aliran kas yang diharapkan diterima.
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan harga saham yaitu :
1. Kebijakan dividen (dividend policy)
Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau ditahan dalam bentuk
laba ditahan guna pembiayaan di masa yang akan datang. Laba ditahan (retained earning) merupakan salah satu sumber dana yang paling panjang untuk
membiayai pertumbuhan perusahaan, sementara dividen merupakan bagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham.
2. Proyeksi laba
Apabila suatu perusahaan memiliki laba yang besar maka dividen yang akan dibagikan juga semakin besar, maka sebaliknya apabila suatu perusahaan
memiliki laba yang kecil maka dividen yang akan dibagikan juga semakin kecil. Dengan demikian maka investor tidak segan-segan untuk melakukan investasi pada perusahaan tersebut dan akhirnya akan meningkatkan harga saham
3. Penggunaan hutang
Penggunaan hutang dalam jumlah yang besar akan mengakibatkan resiko yang
lebih tinggi sehingga kreditur mensyaratkan tingkat suku bunga yang lebih tinggi sedangkan bunga itu sendiri beban tetap bagi perusahaan, sehingga dengan
banyaknya hutang akan mempengaruhi tingkat pendapatan dan dapat menyebabkan debt to equity (DER) semakin besar.
4. Proyeksi pendapatan per lembar
Investor mengharapkan pendapatan per lembar yang tinggi ketika akan berinvestasi, dimana hal ini akan tercapai jika perusahaan yang akan
diinvestasikan tersebut memperoleh laba yang cukup baik. Hal ini tentu akan mendorong investor untuk berinvestasi pada saham yang memiliki pendapatan per lembar yang tinggi.
5. Jangka waktu aliran pendapatan
Jangka waktu merupakan salah satu faktor yang turut diperhatikan oleh investor
dalam mengambil keputusan investasi, dimana aliran pendapatan dimasa mendatang merupakan hasil investasi yang harus diterima dalam investasi yang juga turut mempengaruhi harga saham.
2.1.2.2 Analisis Saham
Menurut Suad Husnan (2005:307) terdapat 2 pendekatan secara umum
yang sering digunakan investor untuk menganalisis dan menilai saham di pasar modal, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.
Analisis teknikal adalah analisis yang mencoba memperkirakan harga
dimana tidak memperhatikan kebijaksanaan pemerintah, pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penjualan perusahaan, pertumbuhan laba, perkembangan tingkat
bunga, dan sebagainya yang mempengaruhi harga saham (kondisi pasar).
Analsis fundamental adalah analisis yang mencoba memperkirakan harga
saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang dan menerapkan hubungan variabel - variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran
harga saham.
Analisis teknis sangat cocok digunakan dalam keadaan ekonomi relatif
stabil. Namun ketika kondisi ekonomi sedang bergejolak, analissi teknis rawan melakukan kesalahan estimasi, karena pergerakan harga tidak dipengaruhi oleh harga masa lalu, tetapi oleh faktor mikro atau makro yang tidak dapat di prediksi
(unpredictable). Oleh karena itu, dibutuhkan analisis fundamental untuk mengestimasi pergerakan harga saham, (Mohamad Samsul, 2006:166).
Adapun beberapa pendekatan fundamental yang dilakukan melalui 3 aspek, diantaranya adalah :
1.Analisis Ekonomi
Analisis yang digunakan dengan memperhatikan kondisi ekonomi makro dalam perekonomian. Indikator ekonomi yang diguanakan biasanya adalah indikator
2.Analisis Industri
Analisis yang memperhatikan posisi, siklus hidup suatu industri, serta
menentukan struktur persaingan dalam industri dengan pendekatan: (1) PEST analysis, (2) force analysis, (3) analisis konsumen, perusahaan, dan kompetitor.
3.Analisis Perusahaan
Analisis yang memperhatikan laporan keuangan perusahaan dengan 4 metode: (1) analisis cross section, (2) analisis common size, (3) analisis rasio keuangan, (4)
du pont analysis.
2.1.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian terdahulu yang mendasari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian Annio Indah Lestari N, Muslich Lufti, Syahyunan (2007)
Annio, Muslich, Syahyunan (2007) meneliti tentang harga saham properti yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dari tahun 2001 sampai tahun 2005 yang
sampelnya diperoleh sebanyak 16 perusahaan. Dengan menggunakan analisis fundamental pendekatan analisis rasio dan analisis teknikal melalui pendekatan volume perdagangan serta indeks harga saham individu, dapat diketahui bahwa
perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta seharusnya lebih mampu mengatur komposisis hutang dengan lebih baik, agar keuntungan bisa optimal,
2. Penelitian Budi Rusman Jauhari dan Basuki Wibowo (2004)
Budi dan Basuki (2004) melakukan penelitian terhadap indeks harga saham gabungan dengan menggunakan analisis fundamental pendekatan analisis rasio
dengan mengukur return saham pada periode bullish dan bearish. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio keuangan memiliki daya klafikasi atau daya prediksi untuk pengembalian saham, karena diperoleh hasil yang signifikan.
3. Penelitian Rowland Bismark Fernando Pasaribu (2008)
Rowland (2008) menggunakan analisis fundamental pendekatan analsisis
rasio terhadap perusahaan yang Go Public tahun 2002 sampai 2006, perusahaan ini tergabung dalam industri pertanian, industri pertambangan, industri dasar dan kimia, aneka industri, industri barang konsumsi, industri property dan real estate,
industri manufaktur dan industri perdagangan. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara analisis fundamental dengan harga
saham, terutama EPS merupakan variabel yang memiliki pengaruh dominan pada 6 industri.
4. Penelitian Sugiyanto, Sapto Jumono (2008)
Sugiyanto, Sapto (2008) melakukan penelitian dengan mengambil 14 sampel perusahaan dengan menggunakan metode adjugment purposive sampling pada
(negatif), NPM (positif), TATO (positif), FLM (negatif) dan aspek likuiditar (CR) tidak berpengaruh secara signifikan.
5. Penelitian Zulkifli Harahap, Agusni Pasaribu (2007)
Zulkifli, Agusni (2007) meneliti tentang harga saham perusahaan manufaktur
di Bursa Efek Jakarta dari periode tahun 2002-2005 dengan menggunakan faktor fundamental yang diwakili rasio ROA,DER, dan BVS serta resiko sistematis yang diwakili beta saham. Setelah uji statistic menggunakan metode regresi linier
berganda, diperoleh bahwa faktor fundamental dan resiko sistematis secara simultan mempengaruhi harga saham, namun secara parsial hanya BVS dan beta
saham saja yang berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
6. Penelitian Ani Wilujeng Suryani (2007)
Ani (2007) dalam penelitiannya mengambil 11 sampel dari populasi yang
berjumlah 45 pada Perusahaan LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada periode 2003-2005. Dengan metode regresi berganda, secara parsial dan simultan
analisis fundamental yang diwakili CR, ROE, dan EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
7. Penelitian Mohd.Ihsan (2009)
Mohd.Ihsan (2009) meneliti melalui pendekatan analisis fundamental yang merupakan kinerja perusahaan yang dapat digunakan untuk memperkirakan harga
leverage, dan rasio pasar. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa analisis fundamental dapat digunakan untuk memperkirakan harga saham.
8. Penelitian Jaouida Elleuch (2009)
Jaouida (2009) melalui analisis fundamental yang didasarkan pada
pendekatan laporan keuangan dengan menggunakan sampel sebanyak 22 perusahaan yang terdaftar di Tunisian Stock Market, mengemukakan bahwa dalam penelitiannya startegi analisis fundamental yang didasarkan pada data
keuangan historis bisa memprediksi pengembalian saham.
9. Penelitian Meena Sharma and Preeti (2009)
Meena dan Preeti (2009) melakukan analisis fundamental untuk memprediksi return saham pada perusahaan yang dalam masa pertumbuhan, dimana pengambilan sampelnya sebanyak 180 perusahaan manufaktur yang
terdaftar di National Stock Exchange pada periode tahun 1998 – 2007. Dalam kesimpulan penelitiannya dijelaskan bahwa, perusahaan yang memiliki
sendi-sendi fundamental yang kuat akan lebih banyak mendapatkan return saham.
10. Penelitian Chung-Hua Sen and Kun-Li Lin (2010)
Chung-Hua Sen and Kun-Li Lin (2010) melakukan penelitian atas seberapa
besar pengaruh pemeritah dalam hubungan antara analisis informasi fundamental dan return saham pada perusahaan manufaktur di Taiwan dari tahun 1994-2004.
Dengan menggunakan metode endogenous switching model diperoleh hasil bahwa, variabel fundamental yang terdiri dari sales and administrative expenses
(CFR_VR),dan Shares pledged for bank loans over total shares (SPBL) memiliki hubungan positif terhadap return saham.
2.2 Kerangka Pemikiran
Setiap investor yang ingin menginvestasikan dananya pada suatu
perusahaan tentu harus berpikir apakah harga saham yang ditawarkan perusahaan tersebut wajar apa tidak, apakah pada proses kedepannya yang diinvestasikan akan memperoleh keuntungan atau tidak. Agar tidak salah langkah, seorang
investor harus menggunakan beberapa pendekatan terhadap harga saham, yaitu salah satunya dengan analisis fundamental.
Analisis fundamental adalah alat analisis yang digunakan untuk
memperkirakan kondisi harga saham di suatu perusahaan dengan melihat beberapa variabel inti yang langsung berpengaruh terhadap harga saham tersebut,
yang hasil analisisnya dapat dijadikan patokan sebagai bahan pembanding dengan perusahaan-perusahaan lainnya untuk menentukan tindakan yang diambil di waktu yang akan datang. Dalam analisis fundamental, terdapat banyak cara untuk
mengestimasi harga saham. Ada yang melalui pendekatan analisis ekonomi, analisis industri, dan analisis perusahaan. Pada analisis perusahaan, terbagi lagi
atas beberapa pendekatan, yang salah satunya adalah dengan menilik laporan keuangan perusahaan.
Laporan keuangan adalah proses yang dilakukan atas pencatatan segala
transaksi yang dapat digunakan sebagai alat menginformasikan data keuangan atau operasi perusahaan. Banyak jenis-jenis yang terdapat pada laporan keuangan,
dimiliki perusahaan pada suatu saat tertentu dan ada juga laporan perhitungan laba rugi yang melibatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan selama
periode tertentu. Dari hasil laporan keuangan tesebut, maka dilakukan perbandingan yang biasanya disebut dengan analisis rasio.
Ada rasio likuiditas yang menunjukkan sejauh mana kemampuan suatu perusahaan untuk membayar hutang jangka pendeknya. Rasio solvabilitas yang dapat menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang. Rasio
profitabilitas yang dapat mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio aktivitas yang mengukur seberapa efektif perusahaan
menggunakan aktivanya.
Dalam rasio likuiditas, peneliti menggunakan current ratio sebagai alat ukur analisis. Current ratio adalah analisis perbandingan yang digunakan oleh
perusahaan dengan membandingkan aktiva lancar dengan utang lancar untuk menentukan sejauh mana perusahaan dapat membayar utang jangka pendeknya
yang kurang dari setahun. Pada umumnya, perusahaan dapat dikatakan baik (likuid), apabila hasil curent ratio yang diperoleh lebih dari 100 %. Current ratio
memiliki hubungan positif terhadap harga saham (berbanding lurus), apabila suatu
perusahaan curent ratio nya mengalami kenaikan, maka investor pun merasa aman pada perusahaan tersebut karena perusahaan dapat membayar hutang jangka
pendeknya, sehingga investor mau menginvestasikan dananya pada perusahaan tersebut, sehingga harga saham perusahaan tersebut ikut mengalami kenaikan.
Dalam rasio solvabilitas, peneliti menggunakan debt to equity ratio
digunakan oleh perusahaan dengan membandingkan total utang dengan ekuitas untuk menentukan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang (kreditor). Pada
umumnya, perusahaan dapat dikatakan baik, apabila hasil debt to equity ratio
yang diperoleh menunjukkan angka yang rendah. Debt to equity ratio memiliki
hubungan negatif terhadap harga saham (berbanding terbalik). Apabila suatu perusahaan debt to equity ratio nya mengalami angka yang kecil (rendah), maka investor pun merasa aman karena perusahaan tersebut tidak memiliki banyak
hutang (modal perusahaan yang dimiliki besar), sehingga menunjukkan tingkatan yang tinggi terhadap perlindungan kehilangan uang yang diinvestasikan, karena
merasa aman investor pun mau menginvestasikan dananya pada perusahaan tersebut, sehingga harga saham perusahaan tersebut ikut mengalami kenaikan.
Dalam rasio profitabilitas, peneliti menggunakan return on equity sebagai
alat ukur analisis. Return on equity adalah analisis perbandingan yang digunakan oleh perusahaan dengan membandingkan laba bersih (laba yang sudah dikurangi
biaya bunga dan pajak) dengan ekuitas untuk menentukan sejauh mana perusahaan memiliki tingkat keuntungan. Pada umumnya, perusahaan dapat dikatakan baik, apabila hasil return on equity yang diperoleh menunjukkan angka
yang besar. Return on equity memiliki hubungan positif terhadap harga saham (berbanding lurus), apabila suatu perusahaan return on equity nya mengalami
kenaikan, maka investor pun merasa aman pada perusahaan tersebut karena perusahaan memiliki tingkat keuntungan yang besar, sehingga investor mau menginvestasikan dananya pada perusahaan tersebut, sehingga harga saham
Dalam rasio aktivitas, peneliti menggunakan total asset turn over sebagai alat ukur analisis. Total asset turn over adalah analisis perbandingan yang
digunakan oleh perusahaan dengan membandingkan penjualan dengan total aktiva untuk menentukan sejauh mana perusahaan dapat menggunakan aktivanya (aktiva
tetap dan aktiva lancar) dengan baik. Pada umumnya, perusahaan dapat dikatakan baik, apabila hasil total asset turn over yang diperoleh lebih menunjukkan angka yang besar. Total asset turn over memiliki hubungan positif terhadap harga saham
(berbanding lurus). Apabila suatu perusahaan total asset turn over nya mengalami kenaikan, maka investor pun merasa aman pada perusahaan tersebut, karena
perusahaan dapat menggunakan aktivanya dengan baik yang menyebabkan penjualan bisa meningkat, sehingga investor mau menginvestasikan dananya pada perusahaan tersebut, sehingga harga saham perusahaan tersebut ikut mengalami
kenaikan.
2.2.1 Pengaruh Curent Ratio ( CR ) terhadap harga saham
Dalam penelitiannya Mohd.Ihsan (2009:4) menyimpulkan bahwa curent
ratio yang merupakan rasio likuiditas memberi pengaruh dalam menentukan harga saham, karena likuiditas merupakan faktor penting dalam penentuan besarnya
deviden yang mana pembagian deviden dapat menaikan dan menurunkan harga saham apabila pemodal berubah pengharapan terhadap prospek dan resiko perusahaan.
perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut. Jika current ratio
mengalami kenaikan , maka harga saham juga akan naik.
David dan Kurniawan (2010:236) perusahaan dapat dikatakan dalam keadaan likuid, apabila perusahaan tersebut mempunyai alat pembayaran ataupun
aktiva lancar yang lebih besar dibandingkan dengan utang lancarnya. Current ratio untuk perusahaan yang normal biasanya 2, meskipun tidak ada standar yang pasti untuk penentuan current ratio yang seharusnya.
2.2.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham
David dan Kurniawan (2010:234) menyebutkan bahwa rasio leverage
dapat diartikan sebagai besarnya aktiva perusahaan yang didanai dengan pendanaan dari pihak luar. Namun penggunaan dana dari pihak luar akan memperbesar resiko atas hasil (risk of return) bagi para pemegang saham karena
adanya beban tetap pembayaran bunga pinjaman.
Hasil penelitian Zulkifli dan Agusni (2007:74) menyatakan bahwa dalam
pengujian parsial antara variabel DER terhadap harga saham, membuktikan bahwa DER berpengarus secara signifikan terhadap harga saham manufaktur.
2.2.3 Pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap harga saham
David dan Kurniawan (2010:239) menyatakan rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Artinya
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualana, aset, dan modal saham tertentu.
Mamduh M.Hanafi (2005:42) mengatakan bahwa return on equity
tertentu. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham.
Ani Wilujeng (2007:2) menyebutkan bahwa semakin besar return on equity mengindikasikan bahwa perusahan semakin baik dalam mensejahterakan
para pemegang sahamnya dari setiap lembar saham, sehingga return on equity
mempunyai pengaruh positif terhadap harga pasar saham yang merupakan reaksi dari investor atas kinerja yang dicapai perusahaan.
2.2.4 Pengaruh Total Asset Turn Over ( TATO ) terhadap harga saham
David dan Kurniawan (2010:237) menyebutkan bahwa semua rasio yang
tergolong dalam rasio aktivitas menunjukkan perbandingan antara hasil penjualan dengan investasi dalam beberapa aktiva.
Pada penelitian Sugiyanto, Sapto (2008:67) disebutkan bahwa TATO
mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap PBV, ini berarti investor di pasar modal mempunyai perhatian yang cukup serius terhadap perolehan laba dan
efesiensi perputaran penggunaan dan perusahaan emiten. Jika penjualan ditingkatkan, biaya-biaya produksi dan operasi, peningkatan pemakaian aktiva lebih efesien, maka pasar saham akan merespon positif dengan meningkatnya
harga saham diatas peningkatanm nilai buku sahamnya.
Berdasarkan hal yang sudah diuraikan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan antar variabel bebas dengan variable terikat, yang mana
Analisis Fundamental dengan Rasio Keuangan :
Gambar 2.1
Bagan kerangka pemikiran
Berdasarkan kerangka pemikiran dapat dilihat adanya persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu, adapun persamaan dan
perbedaan dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini :
Tabel 2.1 Studi Empiris Dengan Penelitian Terdahulu
No. Peneliti dan Judul Variabel dan Alat Analisis Subjek
Penelitian Kesimpulan Persamaan Perbedaan
1 Annio Indah Lestari N, Muslich Lufti,
Variabel Terikat (Y) : Harga Saham PBV, VP, IHSI dan secara parsial LR, OPM, PBV, VP, IHSI berpengaruh signifikan terhadap harga saham properti di bursa
Variabel Terikat (Y) : Total Return Saham signifikan dan secara simultan analisis
Variabel Bebas (X) : Rasio pertumbuhan, Profitabilitas, Leverage, Likuiditas, Rasio
Turn Over, PER, dan EPS Variabel Terikat (Y) : Harga Saham parsial rasio pertumbuhan, profitabilitas, leverage, likuiditas, dan efesiensi perusahaan berpengaruh
Variabel Terikat (Y) : PBV Alat Analisis : Analisis
Nilai Tambah Ekuitas DER, BVS, dan Beta saham Variabel Terikat (Y) : Harga Saham simultan analisis degan menggunakan ROA, DER,
Variabel Terikat (Y) : Harga Saham simultan analisis degan menggunakan CR, ROE,
Variabel Bebas (X) : Rasio Likuiditas, Rasio Profitabilitas, Rasio aktivitas, Rasio Leverage, dan Rasio Pasar Variabel Terikat (Y) : Harga Saham
8 Jaouida Elleuch ▲ROA, Cash Flow, Accruals, Leverage, Liquiditas, Asset Turnover
Variabel Terikat (Y) : Return Saham
Seluruh variabel memiliki hubungan positif dengan pengembalian saham Variabel Terikat (Y) : Return Saham
Alat Analisis : F-score dan G-score
Perusahaan yang kuat pada sendi-sendi fundamental akan mendapatkan
pengembalian saham yang lebih.
Variabel Terikat (Y) : Return Saham
2.3 Hipotesis
Hipotesis menurut Umi Narimawati (2010:7) adalah asumsi atau dugaan
sementara yang harus diuji kebenarannya dalam suatu analisis statistik.
Berdasarkan landasan pemikiran teoritis dan kerangka pemikiran, maka
hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel fundamental yang terdiri dari current ratio, return on equity, dan
total asset turn over secara parsial akan berpengaruh positif terhadap harga
saham properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Variabel fundamental yang terdiri dari debt to equity ratio secara parsial akan
berpengaruh negatif terhadap harga saham properti subsektor konstruksi yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Variabel fundamental yang terdiri dari current ratio, debt to equity ratio,
return on equity, dan total asset turn over secara simultan akan berpengaruh
terhadap harga saham properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa
41
BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Husein Umar (2005:303) menyebutkan bahwa objek penelitian menjelaskan
tentang apa dan apa dan atau siapa yang menjadi objek penelitian. Juga dimana dan kapan penelitian dilakukan. Bisa juga ditambahkan hal-hal lain jika dianggap perlu.
Objek penelitian yang menjadi fokus penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas (independent variable) merupakan variabel yang mempengaruhi dan yang mengakibatkan variabel terikat (Variabel Dependent). Adapun variabel bebas yang digunakan peneliti adalah
variabel fundamental yang terdiri dari current ratio (X1) sebagai rasio likuiditas, debt to equity ratio (X2) sebagai rasio solvabilitas, return on equity (X3) sebagai rasio profitabilitas, dan total asset turn over (X4)
sebagai rasio aktivitas.
2. Variabel terikat (dependent variable) merupakan variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas. Adapun variabel terikat yang digunakan peneliti adalah harga saham (Y).
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara penelitian yang digunakan untuk
mendapatkan data untuk mencapai tujuan tertentu (Umi Narimawati, 2008 : 127).
Sugiyono (2006:11) menyebutkan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan, atau
menghubungkan dengan variabel lain.
Adapun tujuan metode deskriptif yang menjadi fokus pada penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan perkembangan variabel fundamental yang terdiri dari
current ratio, debt to equity ratio, return on equity, dan total asset turn
over pada perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Menjelaskan perkembangan harga saham pada perusahaan properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Kutipan dari Mudrajad Kuncoro (2001:1-9) metode kuantitatif adalah
pendekatan ilmiah terhadap pengambilan keputusan manajerial dan ekonomi. Dimana pendekatan ini terdiri atas perumusan masalah, menyusun model,
mendapatkan data, mencari solusi, menguji.
Dalam penelitian ini dijelaskan tentang desain penelitian, operasional variabel, metode penarikan sampel, teknik pengambilan data, metode analisis dan
Metode kuantitatif pada penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel fundamental terhadap harga saham pada perusahaan
properti subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Dari penjelasan metode-metode yang telah dipapaparkan diatas, kesimpulan
metode yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
3.2.1 Desain Penelitian
Dalam melakukan penelitian, perlu dibuat desain penelitian yang bertujuan agar data dan informasi yang diperoleh lengkap dan akurat. Selain itu dalam
melakukan suatu penelitian sangat diperlukan perencanaan dan perancangan penelitian, sehingga penelitian yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan sistematis sesuai dengan yang diharapkan penulis.
Menurut Moh.Nazir (2003:84) desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian.
Desain penelitian yang digunakan penulis adalah desain asosiatif klausal. Seperti yang diungkapkan Sugiyono (2005:14), desain asosiatif berguna untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau
bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan,
meramalkan, dan mengontrol suatu gejala. Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah, dianalisis, dan diproses lebih lanjut dengan dasar teori yang diperoleh selama masa perkuliahan dan tinjauan pustaka. Metode penelitian
penentuan jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan diakhiri dengan rancangan pengujian hipotesis dan statistik.
Dari pengertian - pengertian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa desain penelitian merupakan proses keseluruhan penelitian yang dilakukan oleh
penulis dalam pelaksanaan penelitian mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan dengan cara pemilihan, pengumpulan, dan analisis data. Oleh sebab itu, membuat desain penelitian sangat penting agar
penelitian yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan sistematis.
Tabel 3.1 Desain Penelitian
No
Desain Penelitian Tujuan
Penelitian Metode yang digunakan Jenis Data
1
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa desain penelitian merupakan suatu cara bagi penulis untuk dapat melakukan penelitian secara baik dan
sistematis. Adapun desain penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
2. Identifikasi, rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian ini terkait variabel fundamental terhadap harga saham subsektor konstruksi di Bursa Efek
Indonesia.
3. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti, adalah:
a. Dokumentasi (Filing).
b. Studi kepustakaan (library research)
4. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas
(independen), yaitu variabel fundamental yang terdiri dari current ratio (X1) sebagai rasio likuiditas, debt to equity ratio (X2) sebagai rasio solvabilitas,
return on equity (X3) sebagai rasio profitabilitas, total asset turn over (X4)
sebagai rasio aktivitas dan variabel terikat (dependen), yaitu harga saham sebagai variabel (Y). Kelima variabel tersebut akan diuraikan secara khusus
mulai dari indikator, skala pengukuran, instrumen penelitian, dan pembuatan hipotesis.
5. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif . 6. Membuat kesimpulan terhadap hasil uji hipotesis.
7. Menyusun laporan hasil penelitian.
3.2.2. Operasionalisasi Variabel
Penentuan construct sehingga menjadi variable yang dapat diukur.