HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)
DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA
TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS WONOSOBO I
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan
Oleh:
SRI LESTARI A2.1000380
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG
HALAMAN PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi yang saya ajukan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang sepengatahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Wonosobo, ...2012 Peneliti
HALAMAN PERSETUJUAN
Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:
HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)
DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA
TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS WONOSOBO I
Dipersiapkan dan disusun oleh:
Nama : SRI LESTARI NIM : A2.1000380
Telah dipertahankan dan dinyatakan Memenuhi syarat untuk diujikan
Pembimbing I
(Ery Purwanti, M.Sc)
Pembimbing II
(Isma Yuniar, S.Kep Ns.,M.Kep)
Mengetahui
Ketua Prodi S1 Keperawatan
HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:
HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)
DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA
TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS WONOSOBO I
Disusun oleh:
Nama : SRI LESTARI NIM : A2.1000380
Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji: Pada tanggal 8 September 2012 Penguji I
H. Marsito,S.Kp.,M.Kep.,Sp.Kom. ...
Penguji II
Ery Purwanti, M.Sc ...
Penguji III
Isma Yuniar, S.Kep Ns .,M.Kep ...
Mengetahui
Ketua Program Studi S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Gombong
Program S1 Keperawatan,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong. Skripsi, Juli 2012
Sri Lestari1)Ery Purwanti, M.Sc2)Isma Yuniar, S.Kep Ns 3)
xvi + 51 Halaman + 4 tabel + 2 Gambar + 4 Lampiran
HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA
TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS WONOSOBO I ABSTRAK
Latar Belakang : Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah penyakit kronis menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Pengobatan pada penderita TBC dapat dilakukan dengan beberapa kombinasi obat yang memang ditujukan untuk membasmi kuman. WHO merekomendasikan strategi pengobatan DOTS, yaitu penderita minum obat dengan diawasi pengawas menelan obat.
Tujuan : mengetahui hubungan antara peran pengawas menelan obat (PMO) dengan keberhasilan pengobatan penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Wonosobo I.
Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian correlational research dengan pendekatan retrospektif dengan menggunakan uji chi square. Sampel yang digunakan terdiri dari 50 responden dengan menggunakan total sampling. Variabel independent dalam penelitian ini adalah peran pengawas menelan obat, sedangkan variabel dependentnya adalah keberhasilan pengobatan penderita tuberkulosis paru.
Hasil Penelitian : PMO adalah mendukung yaitu sebanyak 27 responden (54,0%) dan yang tidak mendukung sebanyak 23 responden (46,0%). Responden yang berhasil dalam pengobatan TB yaitu sebanyak 38 responden (76,0%) dan hanya 12 responden (24,0%) yang tidak berhasil dalam pengobatan TB. Dengan uji statistik chi square menunjukkan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I (p: 0,008).
Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I. p value:0,008(p<0,05)
First Degree Study Program On Nursing
Muhammadiyah Hygiene Academy of Gombong Essay, July 2012
Sri Lestari1) Ery Purwanti, M.Sc 2) Isma Yuniar, S.Kep Ns 3) xvi + 51 pages + 4 tables + 2 images + 4 attachments
THE RELATIONSHIP BETWEEN THE ROLE OF MEDICINE INTAKE SUPERVISOR AND THE ACHIEVEMENT ON PULMONARY
TUBERCULOSIS PATIENT MEDICATION AT WONOSOBO 1 PUBLIC HEALTH SERVICE
ABSTRACT
Background : The tuberculosis (TBC) is a chronic spreading disease which has remained to be one of the greatest cases among the world community including Indonesia. Treatment on this disease may be applied by means of devastating medication on germs. World Health Organization (WHO) has recommended DOTS medication system, the patients consume the medicine under the control of medication intake supervisor.
Purpose : In order to discover the relationship between the role of medicine intake supervisor (PMO) and the achievement on pulmonary tuberculosis patient medication at Wonosobo 1 Public Health Service.
Research Method : This research is a correlation research approaching retrospective and applying chi square test. The samples used during this research included 50 respondents applying total sampling. The independent variable during this research was the role of medicine intake supervisor, and the dependent variable was the achievement on pulmonary tuberculosis patients.
Research Result : PMO supported as many 27 as respondents (54%) and unsupported as many 23 as respondents (46%). The respondents over successful medication TB reached 38 respondents (76%) and only 12 respondents came to failure (24%). By mean of chi square test it suggested that there was significant correlation between the role of PMO and the achievement of TB medication at Wonosobo 1 Public Health Service (p:0,008).
Conclusion : There is a significant correlation between the role of PMO and the achievement on TB medication at Wonosobo 1 Public Health Service, as stated by p value : 0,008 (p<0,05).
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpah rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan Antara Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) dengan Keberhasilan Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Wonosobo I”. Maksud penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi tugas akhir pada jenjang S1 Keperawatan Program Study Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong.
Penyusunan skripsi ini tidak akan terlaksana tanpa bantuan, bimbingan, serta pengarahan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. H. Giyatmo, S.Kep, Ns , selaku Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong. 2. Herniyatun, S.Kep, M.Kep, Sp.Mat selaku Ketua Program Studi S1 STIKES
Muhammadiyah Gombong.
3. Ery Purwanti, M.Sc, selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan waktu, pemikiran, perhatian dan memberikan pengarahan dalam membimbing penulis untuk penyusunan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
4. Isma Yuniar, S.Kep Ns.,M.Kep, selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan waktu, pemikiran, perhatian dan memberikan pengarahaan dalam membimbing penyusunan skripsi ini.
5. Suami serta anak-anakku tercinta yang telah memberikan dukungan dan doanya.
6. Semua teman-teman seperjuangan penulis dari prodi S1 Keperawatan angkatan 2012 STIKES Muhammadiyah Gombong.
7. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu, yang telah memberikan dukungan dan semangat sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
melimpahkan Rahmat-Nya. Amin
Gombong, ...2012
DAFTAR ISI
D. Manfaat Penelitian... 8
E. Keaslian Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Pengawas Minum Obat... 11
B. Tuberkulosis Paru... 12
C. Kerangka Teori... 29
D. Kerangka Konsep... 30
E. Hipotesis Penelitian... 30
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian... 31
B. Populasi dan Sampel... 31
C. Tempat dan Waktu Penelitian... 32
D. Variabel Penelitian... 32
E. Definisi Operasional... 33
F. Metode Pengumpulan Data... 34
G. Instrumen Penelitian... 34
I. Etika Penelitian... 37 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian... 40
B. Pembahasan... 42
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan... 47
B. Saran ...47
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional
... ... 38
Tabel 4.1: Distribusi frekuensi responden berdasarkan peran PMO di
Puskesmas Wonosobo I
... ... 43
Tabel 4.2: Distribusi frekuensi responden berdasarkan keberhasilan
pengobatan di Puskesmas Wonosobo I
... ... 43
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Permohonan menjadi responden Lampiran 2: Persetujuan menjadi responden Lampiran 3: Kuesioner
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah penyakit kronis menular yang
masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk
Indonesia. World Health Organization (WHO) dalam annual report on global
TB control 2003 menyatakan terdapat 22 negara dikategorikan sebagai
highburden countries terhadap TBC. Indonesia tiap tahun terdapat 557.000
kasus baru TBC. Berdasarkan jumlah itu, 250.000 kasus (115/100.000)
merupakan penderita TBC menular. Dengan keadaan ini Indonesia menempati
peringkat ketiga jumlah penderita TBC di dunia, setelah India (1.762.000) dan
China (1.459.000). TBC telah membunuh tiga juta orang pertahun.
Diperkirakan, kasus TBC meningkat 5-6 persen dari total kasus. Penyakit
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman
mycobacterium tuberkulosis. Kuman ini dapat menular lewat percikan ludah
yang keluar saat batuk, bersin atau berbicara. Umumnya kuman TBC
menyerang paru karena penularannya melalui udara yang mengandung kuman
TBC dan terhirup saat bernapas (Rachmawati, 2007).
Indeks pembangunan manusia (human development indexs) di
Indonesia masih menempati urutan 102 dari 162 negara. Tingkat pendidikan,
pendapatan serta kesehatan penduduk Indonesia belum memuaskan. Peranan
keberhasilan pembangunan kesehatan sangat menentukan tercapainya tujuan
pembangunan nasional, karena dalam menghadapi makin ketatnya persaingan
keberhasilan program pelayanan kesehatan dan juga akan mendorong
peningkatan produktivitas serta pendapatan penduduk (Martono, 2006).
Visi Indonesia sehat 2010 adalah gambaran masyarakat Indonesia
dimasa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan yaitu
masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam
lingkungan dengan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil, merata, serta
memiliki derajat kesehatan setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik
Indonesia. Sehat meliputi sehat jasmani, rohani, serta sosial dan bukan hanya
keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Masyarakat Indonesia
yang dicita-citakan adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran,
kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, sebagai salah satu unsur dari pembangunan
sumber daya manusia Indonesia seutuhnya (Martono, 2006).
Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001,
estimasi prevalensi angka kesakitan di Indonesia sebesar 8 per 1000 penduduk
berdasarkan gejala tanpa pemeriksaan laboratorium. Hasil survei SKRT tahun
2001, didapatkan bahwa TBC menduduki rangking ketiga sebagai penyebab
kematian (9,4% dari total kematian), setelah penyakit sistem sirkulasi dan
sistem pernafasan pada semua golongan usia (Depkes RI, 2002). Sejak tahun
1995, program pemberantasan TBC telah dilaksanakan dengan strategi
Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) yang direkomendasi oleh
WHO merupakan pendekatan yang paling tepat saat ini dan harus
dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Program ini menekankan pada
yang efektif serta pengawasan, angka keberhasilan pengobatan mencapai 85%.
Pelaksanaan DOTS di klinik perusahaan merupakan peran aktif dan kemitraan
yang baik dari pengusaha serta masyarakat pekerja untuk meningkatkan
penanggulangan TBC di tempat kerja. Seiring dengan pembentukan gerakan
terpadu nasional penanggulangan TBC, maka pemberantasan penyakit
tuberkulosis paru berubah menjadi program penanggulangan TBC. Tujuan
jangka pendek penanggulangan TBC adalah menurunkan angka kesakitan dan
angka kematian penyakit TBC dengan cara memutuskan rantai penularan,
sehingga penyakit TBC tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat
Indonesia (Fahrudda, 2005).
Pengobatan pada penderita TBC dapat dilakukan dengan beberapa
kombinasi obat yang memang ditujukan untuk membasmi kuman. WHO
merekomendasikan strategi pengobatan DOTS, yaitu penderita minum obat
dengan diawasi pengawas menelan obat. Pengawas ini bisa anggota keluarga,
kader, petugas kesehatan atau relawan. Umumnya penderita minum obat
selama 6 bulan untuk memastikan kesembuhannya, namun pada beberapa
keadaan dapat berbeda dapat lebih lama (Rachmawati, 2007).
Kasus penyakit TBC sangat terkait dengan faktor perilaku dan
lingkungan. Faktor lingkungan, sanitasi dan higiene terutama sangat terkait
dengan keberadaan kuman, dan proses timbul serta penularannya. Faktor
perilaku sangat berpengaruh pada kesembuhan dan bagaimana mencegah
untuk tidak terinfeksi kuman TBC. Dimulai dari perilaku hidup sehat (makan
makanan yang bergizi dan seimbang, istirahat cukup, olahraga teratur, hindari
rokok, alkohol, hindari stress), memberikan vaksinasi dan imunisasi baik pada
meludah sembarangan, menutup mulut apabila batuk atau bersin, dan terutama
kepatuhan untuk minum obat dan pemeriksaan rutin untuk memantau
perkembangan pengobatan serta efek samping (Nova, 2007).
Penatalaksanaan lingkungan, terutama pada pengaturan syarat-syarat
rumah sehat diantaranya pencahayaan, ventilasi, luas hunian dengan jumlah
anggota keluarga, kebersihan rumah dan lingkungan tempat tinggal. Melalui
pemberdayaan keluarga sehingga anggota rumah tangga yang lain dapat
berperan sebagai pengawas menelan obat (PMO), sehingga tingkat kepatuhan
minum obat penderita dapat ditingkatkan yang pada gilirannya kesembuhan
dapat dicapai (Nova, 2007).
Dalam menyukseskan upaya pemberantasan TBC, maka peran petugas
kesehatan dalam surveillance dan pencatatan pelaporan yang baik merupakan
suatu keharusan. Tidak menutup kemungkinan peran kader serta masyarakat
lainnya dapat berperan aktif melalui kunjungan rumah bersama petugas
kesehatan, tokoh masyarakat untuk melakukan pendidikan di masyarakat
melalui penyuluhan, konseling atau pemantauan secara terpadu, terintegrasi
dengan upaya-upaya lain termasuk peningkatan ekonomi keluarga. Pasien
TBC perlu mendapatkan pengawasan langsung agar meminum obat secara
teratur sampai sembuh. Orang yang mengawasi penderita TBC dikenal dengan
istilah PMO. Pengawas menelan obat (PMO) sebaiknya orang yang disegani
dan dekat dengan pasien TBC, misalnya keluarga, tetangga, atau kader
kesehatan. Pengawas menelan obat PMO bertanggung jawab untuk
memastikan pasien TBC meminum obat sesuai anjuran petugas puskesmas
Mengingat tingginya kasus tuberkulosis serta resiko penularan terhadap
orang lain yang cukup tinggi maka penatalaksanaan penyakit tuberkulosis
paru harus benar-benar dilaksanakan sesuai dengan kebijaksanaan program
pemberantasan penyakit tuberkulosis paru. Peran pengawas menelan obat
sangat penting dalam rangka penyembuhan penderita tuberkulosis paru,
sehingga pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit TB (P2TB) sangat
diperlukan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilannya (Gerdunas
2007).
Berdasarkan data yang diperoleh dari bidang pemberantasan penyakit
menular Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonosobo tahun 2010: bahwa
angka penemuan kasus, case detection rate (CDR) tertinggi di Kabupaten
Wonosobo adalah sebanyak 839 kasus (DKK Wonosobo,2010). Sedangkan di
Puskesmas Wonosobo I, didapatkan 66 kasus baru. Target case detection rate
program penanggulangan TBC secara nasional adalah 86,78%. Angka
perkiraan nasional penderita baru BTA positif adalah 130/100.000 penduduk
(Depkes RI, 2008).
Di Kabupaten Wonosobo, angka kesembuhan TBC BTA positif tahun
2010 belum mencapai target nasional yaitu sebesar 83,8%. Namun begitu,
angka kesembuhan penderita TBC BTA positif di beberapa puskesmas di
Wonosobo masih barada dibawah target nasional. Salah satunya di wilayah
kerja Puskesmas Wonosobo I. Berdasarkan data profil dinas kesehatan
Kabupaten Wonosobo angka kesembuhan penderita TB Paru di Puskesmas
Wonosobo I tahun 2010 sebesar 53% (30 dari 57 penderita dinyatakan
Puskesmas Wonosobo I merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten
Wonosobo. Berdasarkan studi pendahuluan yang penulis lakukan pada tanggal
19 Oktober tahun 2011 di Puskesmas tersebut, dapat diketahui bahwa
penderita tuberkulosis paru yang berobat jalan di Puskesmas Wonosobo I
berjumlah 50 orang, yang domisilinya tersebar di seluruh wilayah Kecamatan
Wonosobo. Selain itu, berdasarkan hasil pencatatan kartu pengobatan TBC
dan kartu identitas pasien 10 orang penderita tuberkulosis paru yang ditemui
peneliti ketika sedang berobat jalan di Puskesmas Wonosobo I, ada 2 orang
diantaranya 20% tidak mematuhi jadwal pengobatan dan petunjuk-petunjuk
pengobatan lainnya yang ditetapkan oleh petugas kesehatan di puskesmas
tersebut. Selanjutnya dengan menggunakan teknik wawancara, 2 orang
penderita yang tidak mematuhi jadwal pengobatan, ternyata semuanya
menyatakan bahwa PMO yang berasal dari keluarga kurang mengawasi
penderita TBC dalam minum obat, dikarenakan kesibukan yang dimiliki
masing-masing PMO. Penderita kurang kesadaran untuk menjaga lingkungan
rumah, pencahayaan, kebersihan, ventilasi, kebiasaan meludah disembarang
tempat. Bahkan ketika datang pertama kalinya ke puskesmas, pasien kurang
memahami tentang TBC. Terdapat perasaan kekhawatiran tentang penyakit
yang dideritanya dan cenderung menutupi penyakitnya.
Berdasarkan fenomena tersebut diatas maka peneliti akan melakukan
penelitian tentang “Hubungan antara peran pengawas menelan obat (PMO)
terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I”.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut : adakah hubungan antara peran pengawas menelan obat
(PMO) terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I.”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara
peran pengawas menelan obat (PMO) dengan keberhasilan pengobatan
penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Wonosobo I.
2. Tujuan Khusus dari penelitian ini yaitu :
a. Mengetahui peran PMO pada penderita TB paru di Puskesmas
Wonosobo I.
b. Mengetahui keberhasilan pengobatan TB paru di Puskesmas
Wonosobo I.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi ilmu keperawatan
Dapat digunakan sebagai bahan atau masalah yang dapat diangkat dalam
penyuluhan kesehatan bagi pasien, keluarga, komunitas yang menderita
tuberkulosis agar dapat meningkatkan keberhasilan penderita TBC.
2. Bagi perawat
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perawat dalam
memaksimalkan peran PMO dalam upaya pemberantasan TB paru
dimasyarakat.
Menentukan kebijakan puskesmas dalam mengevaluasi program
pengobatan penyakit tuberkulosis paru yang lebih memperhatikan peran
pengawas menelan obat (PMO) dan mampu menanamkan sikap positif
penderita tuberkulosis paru, serta lebih menyediakan fasilitas-fasilitas
yang menunjang kesehatan.
4. Bagi penderita dan PMO
Diharapkan penderita tuberkulosis paru lebih meningkatkan sikapnya,
meliputi antara lain perasaan selama menderita, keyakinan terhadap
pengobatan, perilaku-perilaku yang mendukung pengobatan dan ketaatan
dalam berobat. PMO lebih meningkatkan lagi pengawasan dalam
pengobatan terhadap penderita TBC.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian Murtantiningsih (2010) tentang faktor - faktor yang
berhubungan dengan keberhasilan pengobatan penderita TB paru (Studi kasus
di Puskesmas Purwodadi I Kabupaten Grobogan). Penelitian bertujuan untuk
mengetahui faktor- faktor apakah yang berhubungan dengan kesembuhan
penderita TB Paru di Puskesmas Purwodadi I dilakukan pada sampel yang
diambil terdiri dari sampel kasus berjumlah 25 orang dan sampel kontrol
berjumlah 25 orang yang diperoleh dengan menggunakan tekhnik simple
random sampling.
Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan case
dinyatakan tidak sembuh pada periode Januari 2006 –Desember 2007 dan
populasi kontrol yaitu penderita Tuberkulosis Paru BTA Positif yang
dinyatakan sembuh pada periode Januari 2006 – Desember 2007. Tehnik
analisis data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji chi
square dengan derajat kemaknaan 0,05 dan menghitung nilai Odds Rasio
(OR).
Perbedaan dengan penelitian ini pada subjek penelitian, yaitu semua
pasien penderita TB paru yang telah mendapat pengobatan pada selama tahun
2011. Problematika penelitian dalam penelitian ini adalah masing-masing
penderita TB paru sudah memiliki PMO sendiri, tetapi masih didapatkan
angka kesembuhan yang dibawah target nasional. Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah peran Pengawas Menelan Obat (PMO). Sedangkan
variabel terikatnya adalah keberhasilan pengobatan TB paru. Dan Analisis
data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji chi square
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Peranan Pengawas Menelan Obat
Salah satu program keberhasilan pengobatan TB Paru dilakukan
pengawasan menelan obat (PMO) (Dinkes Jateng, 2000).
1. Pengawas Menelan Obat (PMO)
Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan panduan OAT
jangka pendek dengan pengawasan langsung untuk menjamin keteraturan
pengobatan diperlukan Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengawas
Menelan Obat PMO adalah orang yang bertugas mengawasi pasien TB
dalam melaksanakan kepastian obat TB dapat diminum secara tepat oleh
pasien.
2. Persyaratan PMO
a. Seseorang yang dikenal, dipercaya
dan disetujui baik oleh petugas kesehatan maupun penderita selain itu
harus disegani dan dihormati oleh penderita.
b. Seseorang yang tinggal dekat
dengan penderita.
c. Bersedia membatu penderita
dengan sukarela.
d. Bersedia dilatih dan atau mendapat
e. Sebaiknya PMO adalah petugas
kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya, sanitarian, juru
3. Tugas PMO
Mengawasi penderita TB Paru agar menelan obat secara teratur sampai
selesai pengobatan.
a. Memberi dorongan kepada penderita agar menelan obat secara teratur.
b. Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktu-waktu
yang telah ditentukan.
c. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB Paru yang
mempunyai gejala-gejala tersangka TB Paru segera memeriksakan diri
ke unit pelayanan kesehatan.
4. Informasi penting yang perlu disampaikan
a. TB Paru bukan penyakit keturunan atau kutukan.
b. TB Paru dapat disembuhkan dengan berobat teratur.
c. Tata laksana pengobatan penderita pada tahap intensif dan lanjutan.
d. Pentingnya berobat secara teratur, karena itu pengobatan perlu diawasi.
e. Efek samping obat dan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi efek
samping tersebut.
B. Tuberkulosis Paru
1. Gambaran Umum TB Paru
a. Definisi
Tuberkulosis Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman Mycobacterium tuberculosis sebagian besar menyerang
Paru dan dapat mengenai organ tubuh lainnya. Kuman ini berbentuk
batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
Tuberkulosis Paru cepat mati apabila terkena sinar matahari langsung
tetapi dapat bertahan hidup dalam beberapa jam ditempat yang gelap
dan lembab (Depkes RI, 2002).
b. Gejala dan tanda TB Paru
Departemen kesehatan menyebutkan gejala dan tanda penyakit TB
Paru BTA Positif adalah : a) gejala umum : nyeri dada, batuk lebih
dari tiga minggu atau lebih. b) gejala lain : nyeri dada batuk dahak
atau dahak bercampur darah, keringat malam, demam lebih dari
sebulan, sesak nafas, nafsu makan menurun dan berat badan menurun
(Depkes RI, 2003).
c. Cara Penularan
Sumber penularan penyakit TB Paru dikarenakan oleh kuman yang
berterbangan di udara dan ada juga yang jatuh pada lantai sehingga
dapat terhirup oleh setiap orang, pada paru-paru kuman atau basil TB
Paru akan bersarang dan basil berkembang biak juga menggerogoti
Paru-paru.
Tidak semua orang yang dimasuki basil TB Paru pasti sakit TB paru
karena badannya kuat dan daya tahan tubuhnya kuat orang mungkin
terhindar dari sakit TB Paru. Daya tahan tubuh yang kuat jika gizi
makanan yang cukup, bergerak badan dan istirahat yang cukup. Atau
jika sejak bayi semua anak harus diberi Imunisasi Basillus Calmatto
Guenin (BCG) yang berfungsi untuk mencegah tertular TB Paru
(Nadesul, 2006).
Komplikasi sering terjadi pada penderita berstadium lanjut menurut
Nadesul (2006) antara lain: 1) Hemoptisis berat (pendarahan dari
saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok
hipovolemik atau tersambungnya jalan nafas. 2) Kolaps dari lobus
akibat kontraksi bronkiat. 3) Bronkiestasis (pelebaran bronkus
setempat) dan fibrosis (pembentukan) jaringan ikat pada proses
pemulihan atau reaktiti pada paru. 4) Penyebaran infeksi organ lain
seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya. 5) Insufisiensi
kardio pulmoner (Cardio pulmonery insuffiency)
e. Diagnosis
Bahwa seseorang ditetapkan sebagai penderita TB Paru apabila
melakukan serangkain pemeriksaan menurut Depkes RI (2002)
sebagai berikut:
1) Pemeriksaan mikroskopis dahak merupakan cara yang paling
dapat diandalkan (paling murah) dan harus diupayakan tiga buah
spesimen untuk pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan 3x dengan
sewaktu, pagi, sewaktu (SPS) paling baik dipastikan dengan hasil
positif berikutnya.
2) Pemeriksaan semua pasien dengan kronis khususnya batuk
perokok atau batuk lebih dari 4 minggu, mereka yang turun berat
badannya, nyeri dada dan lainnya yang mengakibatkan TB Paru.
3) Foto rontgen, pemeriksaan rontgen diperlukan bila pasien yang
memiliki masalah-masalah yang sulit terutama para tersangka TB
tidak dilakukan untuk kasus secara massal di negara-negara
dengan prevalensi tinggi.
4) Tes tuberkulin, tes ini kurang dapat diandalkan dalam menegakan
diagnosis di negara miskin karena gizi buruk, dan penyakit lain.
Seperti infeksi HIV atau TB Paru yang sangat parah dapat
menghasilkan tes yang lemah meskipun pasien dewasa atau anak
berpenyakit TB Paru aktif. Tes pada anak dapat berubah karena
Basillus Calmatto Guenin (BCG)(Harun, 2002).
f. Klasifikasi penyakit
Pada penyakit TB Paru dapat diklasifikasikan yaitu TB Paru dan TB
ekstra paru. Tuberkulosis Paru merupakan batuk yang paling sering
dijumpai dari semua penderita. Tuberkulosis yang menyerang jaringan
paru-paru ini merupakan satu-satunya bentuk dari TB Paru yang
mudah tertular. Tuberkulosis ekstra Paru merupakan bentuk penyakit
TB Paru yang menyerang organ tubuh lain, selain paru-paru seperti
pleura, kelenjar limfe, persendian tulang belakang, saluran kencing,
susunan saraf pusat (Herdin, 2007).
2. Program Pemberantasan TB Paru
a. Tujuan Program
Tujuan jangka panjang : memutuskan rantai penularan sehingga penyakit
TB paru tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia.
Tujuan jangka pendek : a) tercapainya kesembuhan minimal 85%
penderita baru BTA positif yang ditemukan, b) tercapainya cakupan
penderita TB paru, c) tercapainya resistensi obat tuberkulosis di
masyarakat, d) menanggulangi penderita akibat penyakit TB paru.
b. Kebijakan Operasional
1) Penanggulangan TB paru di Indonesia dilaksanakan dengan
desentralisasi sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan.
2) Penggulangan TB paru dilaksanakan oleh seluruh unit pelayanan
kesehatan, meliputi Puskesmas, Rumah Sakit, Pemerintah dan
swasta, BP4 serta praktik dokter swasta, politeknik umum,
politeknik perusahaan dengan melibatkan peran serta masyarakat
secara paripurna dan terpadu.
3) Peningkatan mutu pelayanan, penanggulangan obat rasional dan
kombinasi obat sesuai dengan strategi directly observed treatment
shortcourse (DOTS).
4) Target program adalah konversi pada akhir pengobatan tahap
intensif minimal 80%, angka kesembuhan sediaan dahak yang
benar (angka kesalahan 5%).
5) Pemeriksaan uji silang (cross check) secara rutin oleh Balai
Laboratorium Kesehatan (BLK) atau laboratorium rujukan yang
ditunjuk untuk mendapatkan pemeriksaan dahak yang bermutu
6) Penanggulangan TB paru nasional diberikan Obat Anti
Tuberkulosis (OAT) pada penderita secara cuma-cuma dan
jaminan ketersediaannya.
7) Pengembangan sistem pemantauan, supervisi dan evaluasi
8) Menggalang kerja sama dan kemitraan dengan program terkait,
sektor pemerintah dan swasta.
c. Strategi
Strategi DOTS sesuai rekomendasi WHO (2004), yaitu :
1) Komitmen politis dari para pengambil keputusan termasuk
dukungan dana.
2) Diagnosis TB paru dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopik
3) Pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan
pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).
4) Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu
terjamin.
5) Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan
pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB paru.
3. Pengobatan Penyakit TB Paru
a. Tatalaksana Pengobatan TB Paru
Pengobatan diberikan dalam dua tahap Depkes RI (2007), yaitu :
1) Tahap Intensif (awal dimana pasien mendapat obat setiap hari dan
diawasi langsung untuk mencegah kekebalan atau resistensi
terhadap semua OAT (Obat Anti Tuberkulosis), terutama
Rifampisin. Bila tahap ini diberikan secara tepat pasien menular
menjadi tidak menular dalam waktu dua minggu. Sebagian besar
TBC Paru BTA Positif (+) menjadi BTA Negatif (-) pada akhir
2) Tahap lanjutan, pasien mendapat obat dalam jangka waktu yang
lebih lama dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah
kekambuhan.
Tujuan dari pengobatan pasien TB paru adalah penyembuhan pasien,
mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan resiko
penularan. Menyembuhkan pasien dengan gangguan semininal
mungkin dalam hidupnya, mencegah kematian pada pasien, mencegah
kerusakan paru lebih luas dan komplikasi yang terkait, mencegah
kekambuhannya penyakit, mencegah kuman menjadi resisten dan
melindungi keluarga dan masyarakat penderita terhadap infeksi
(Crofson, 2001).
Jenis obat yang digunakan dalam pemberantasan TB paru antara lain:
1) Isoniasid (H) dikenal dengan INH, bersifat bakteriasid dapat
membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama
pengobatan.
2) Rifampisin (R), bersifat bakteriasid dapat membunuh kuman semi
dormant (persisten) yang tidak dapat dibunuh oleh INH.
3) Piranizamid, (Z), bersifat bakterisid dapat membunuh kuman yang
berada dalam sel suasana asam
4) Streptomycine (S), bersifat bakterisid
5) Etambutol (E), bersifat bakteriotatik.
b. Program Obat Anti Tuberkulosis
Di Indonesia diterapkan panduan OAT sesuai rekomendasi WHO
Againts Tuberculosis and Lung Disease) dengan jangka 6 (enam)
bulan yaitu :
1) Kategori I (2HRZA / 4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R),
Pirazanamid (Z) dan Etamburol (E), obat diberikan setiap hari
selama 2 (dua) bulan (2HRZE). Kemudian diteruskan tahap
lanjutan yang terdiri Isoniasid dan Rifampisin diberikan 3 (tiga)
kali seminggu selama 4 (empat) bulan (4H3R3).
Panduan OAT kategori I diberikan untuk :
a. Pasien baru TB – Paru BTA Positif (+)
b. Pasien baru TBC – Paru Negatif (-), Rontgen positif (+) yang
sakit berat.
c. Penyakit paru ekstra berat
2) Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
Tahap intensif selama 3 bulan, terdiri dari 2 bulan HRZE dan
suntikan Steptomisin (S), setiap hari di UPK. Dilanjutkan 1 bulan
dengan HRZE setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap
lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang diberikan 3 kali
dalamseminggu.
Kategori III (2HR2/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari HR2 yang diberikan setiap hari selama 2
bulan diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri HR selama 4
bulan diberikan 3 kali seminggu.
a) Pasien batuk TBC Paru BTA Negatif (-) dan rontgen positif (+)
sakit ringan.
b) Pasien ekstra paru ringan, yaitu : Pasien Tuberkulosis kelenjar
limfe (limfadenitis), pleuritis eksudtiva unilateral,
Tuberkulosis kulit, Tuberkulosis tulang (kecuali tulang
belakang, Tuberkulosis sendi dan kelenjar adrenal).
c. Hasil Pengobatan
Hasil pengobatan menurut Harun (2002) diklasifikasikan antara lain:
1) Sembuh
Penderita dinyatakan sembuh bila penderita telah menyelesaikan
pengobatan secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow
-up) paling sedikit 2 (dua) berturut-turut hasilnya negatif (yaitu
pada AP sebulan sebelum AP dan pada satu pemeriksaan Follow
up sebelumnya.
2) Pengobatan lengkap
Penderita yang telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap
tapi tidak ada hasil pemeriksaan ulang dahak 2 kali berturut-turut
negatif. Tindak lanjut : Penderita diberi tahu apabila muncul
kembali supaya memeriksakan diri dengan mengikuti prosedur
tetap.
3) Pindah
Adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu
Kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke Kabupaten ini
4) Drop Out (DO)
Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan
berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan
dahak BTA Positif.
5) Gagal
Penderita BTA Positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir
pengobatan atau lebih dan penderita dengan hasil BTA Negatif
Rontgen positif menjadi BTA Positif pada akhir bulan ke-2
pengobatan.
6) Meninggal
Penderita TB paru yang diketahui meninggal karena sebab apapun.
4. Pengendalian Penderita dan Penentuan Keberhasilan Pengobatan
Pengendalian pengobatan penderita dilaksanakan pada saat
kunjungan penderita ke unit pelayanan kesehatan atau dengan kunjungan
ke rumah penderita yang dilakukan oleh petugas kesehatan maupun
petugas pengawas menelan obat (PMO). Penentu status penderita atau
keberhasilan dan keketebalan ditentukan pada akhir masa pengobatan
(Depkes, RI, 2003).
Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis dinilai berdasarkan : uji
bakteriologi, radiologi dan klinik. Uji bakteriologi pada akhir pengobatan
TB Paru BTA Positif menjadi negatif dan hasil rontgen ulang menjadi baik
5. Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan Pengobatan TB Paru
1. Perilaku
Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap
stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam
memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau
faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa
meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respon
tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap
stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan
perilaku ini dapat di bedakan menjadi 2, yaitu :
a) Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang
yang bersangkutan, yang bersifat given atau bawaan,
misalnya : umur, pendidikan, tingkat kecerdasan, tingkat
emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
b) Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan, baik
lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik, pekerjaan
dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan
faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang
(Notoatmojo, 2003).
Lawrence Green (1980) mencoba menganalisis perilaku
manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau
masyarakat di pengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor
perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non
behavior causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri di tentukan atau
1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing faktors), yang
terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,
nilai-nilai, pekerjaan dan sebagainya.
2) Faktor-faktor pendukung (enabling faktors), yang terwujud
dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya
fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya peran PMO,
pemakaian OAT dan sebagainya.
3) Faktor-faktor pendorong (reinforcing faktors) yang terwujud
dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang
lain, keluarga dan masyarakat yang merupakan kelompok
referensi oleh perilaku masyarakat.
Perilaku seseorang dibentuk oleh tiga yaitu pengetahuan, sikap dan
praktek/tindakan:
1) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek
tertentu.
2)Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup
dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Manifestasi
dari sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya ditafsirkan
dari perilaku yang tertutup.
3) Praktek/perilaku
Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas
kembali menurut Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa,
perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas manusia itu
sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain;
berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis,
membaca, dan sebagainya. Praktek atau tindakan adalah sesuatu
perbuatan nyata atau aktifitas nyata sehubungan dengan stimulus
atau obyek. Untuk terwujudnya suatu sikap menjadi perbuatan
nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang
memungkinkan antara lain adalah fasilitas (Notoatmojo, 2003).
Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku dibagi tiga domain, yaitu :
a) Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt ehavior).
b) Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih
tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.
c) Praktek atau tindakan (practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan
(overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu
perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.
Bentuk-bentuk perubahan perilaku menurut WHO dalam
Notoatmodjo (2003) dibagi menjadi 3 yaitu :
Perilaku manusia selalu berubah, dimana sebagian perubahan
itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam
masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik
atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota masyarakat
didalamnya juga akan mengalami perubahan.
b) Perubahan rencana (planned change)
Perubahan ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh
subjek.
c) Kesediaan untuk berubah (readiness to change)
Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program
pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi
adalah sebagai orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau
perubahan tersebut (berubah perilakunya), tetapi sebagian
orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau
perubahan tersebut. Hal ini disebabkan karena pada setiap
orang mempunyai kesediaan untuk berubah (readines of
change) yang berbeda-beda.
Strategi perubahan perilaku terbagi tiga, yaitu :
a) Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan
Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran
atau masyarakat sehingga ia mau melakukan (berperilaku)
seperti yang diharapkan.
Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara
mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara-cara
menghindari penyakit dan meningkatkan pengetahuan.
c) Diskusi dan partisipasi
Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua tersebut,
dalam memberikan informasi tentang kesehatan tidak bersifat
searah saja, tetapi dua arah.
2. Umur
Umur merupakan salah satu faktor pendorong yang dapat
menentukan perilaku seseorang dalam keberhasilan pengobatan
penyakitnya, umur yang semakin tua akan mempunyai pengalaman
yang cukup untuk memandang suatu masalah dari berbagai sudut
pandang, begitu pula dengan pengobatan. Seseorang semakin tua
umurnya akan lebih taat dalam melakukan pengobatan sesuai petunjuk
petugas kesehatan karena mereka mempunyai keinginan yang kuat
untuk sembuh. Biasanya TB paru lebih banyak menyerang pada usia
yang tua karena adanya proses penurunan sistem kekebalan dalam
tubuh.
3. Pendidikan
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan pada diri
seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan
individu, dan masyarakat, pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan
pada seseorang atau orang lain, bukan seperangkat prosedur yang
harus dilaksanakan atau proses pengembangan yang berubah secara
informasi, sikap, maupun praktek baru, yang berhubungan dengan
tujuan hidup sehat.
4. Pekerjaan
Pada umumnya, penderita yang terserang tuberkulosis adalah
golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Kebutuhan primer
sehari-hari lebih penting dari pada pemeliharaan kesehatan.
Kemiskinan dan jauhnya jangkauan pelayanan kesehatan dapat
menyebabkan penderita tidak mampu membiayai transportasi
kepelayanan kesehatan dan ini menjadi kendala dalam melakukan
pengobatan, sehingga dapat mempengaruhi keteraturan berobat.
5. Pemakaian OAT sebelum pengobatan 6 bulan.
Pemakaian OAT sebelum pengobatan 6 bulan diartikan sebagai
pemakaian OAT yang diberikan sebelum berakhir proses pengobatan
yang sedang dievaluasi, tetapi tidak mengalami penyembuhan.
Pemakaian OAT sebelumnya berkaitan dengan resistensi, makin lama
makin sering dan makin teratur pemakaian OAT akan makin
meningkat kemungkinan resisten OAT terhadap mycobacterium
tuberculosis.
6. Keteraturan Minum Obat
Keteraturan minum obat diukur sesuai dengan petunjuk
pelaksanaan yang telah ditetapkan yaitu dengan pengobatan lengkap
sampai dalam jangka waktu pengobatan sampai 100% (68 kali).
Keteraturan pengobatan apabila kurang dari 90% maka akan
mempengaruhi penyembuhan. Obat Anti Tuberculosis (OAT) harus
awal guna menghindari terjadinya kegagalan pengobatan serta
terjadinya kekambuhan.
C. Kerangka Teori
Keterangan :
: gambar kotak: variabel yang diteliti
: gambar kotak titik-titik: variabel yang tidak diteliti
Gambar 2.2: Kerangka Konsep
E. Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara peran
Pengawas Menelan Obat (PMO) dengan keberhasilan pengobatan penderita
BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis dan Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian correlational research yaitu
mengetahui hubungan antara peran pengawas menelan obat dengan angka
keberhasilan pengobatan TB Paru. Metode penelitian yang digunakan
adalah survey dengan wawancara dengan kuesioner melalui pendekatan
retrospektif yaitu penelitian berupa pengamatan terhadap
peristiwa-peristiwa yang yang telah terjadi bertujuan untuk mencari faktor yang
berhubungan dengan penyebab. (Arikunto, 2006).
Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian adalah semua pasien penderita TB paru yang telah
mendapat pengobatan pada selama tahun 2011 dengan jumlah 50
penderita dimana akhir pengobatanya dihitung pada tahun 2011.
2. Sampel
Sampel penelitian ini adalah sebagian yang diambil dari seluruh obyek
yang diteliti dianggap mewakili seluruh populasi. Pengambilan sampel
dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu sampel penelitian
diambil seluruhnya dari populasi. Jadi sampel dalam penelitian ini
Kriteria inklusi pada penelitian ini:
a. Pasien TB yang tinggal menetap di Wilayah
Kerja Puskesmas Wonosobo I.
b. Pasien TB yang baru pertama kali menjalani
pengobatan TBC (kasus baru).
c. Pasien TBC yang mampu berkomunikasi
dengan baik dan tidak buta huruf.
d. Bersedia menjadi responden.
Kriteria eksklusi:
a. Pasien TB yang berobat tidak teratur di Puskesmas Wonosobo I.
b. Pasien TB yang sudah selesai menjalani pengobatan TB di Puskesmas
Wonosobo I.
c. Pasien TB yang menjalani pengobatan ulang TB (kasus kambuh).
d. Pasien TB yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik.
e. Tidak bersedia menjadi responden.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Wonosobo I pada bulan Mei
2012.
Variabel Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah peran Pengawas Menelan Obat
(PMO). Sedangkan variabel terikatnya adalah keberhasilan pengobatan TB
Definisi Operasional
Tabel 3.1. Definisi Operasional
Variabel OperasionalDefinisi Cara Ukur Hasil Ukur SkalaUkur
Variabel OperasionalDefinisi Cara Ukur Hasil Ukur SkalaUkur
selama 6 bulan
Metode Pengumpulan Data
1. Sumber Data
a. Data Primer
Data yang diperoleh secara langsung mendatangi responden
dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner pada responden.
b. Data Sekunder
Data yang didapatkan dari dokumen pencatatan dan laporan di
Puskesmas Wonosobo I.
2. Prosedur penelitian :
a. Mengurus perijinan penelitian ke Puskesmas Wonosobo I.
b. Melakukan wawancara pada responden yang datang di Puskesmas
Wonosobo I
c. Hasil dari kuesioner dilakukan pengolahan data dan diperoleh data
peran PMO terhadap tingkat keberhasilan pengobatan TB Paru.
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang akan digunakan adalah kuesioner tentang
PMO dan pemeriksaan mikroskopis BTA. Kuesioner penelitian tentang PMO
terdiri dari 15 pertanyaan dengan pilihan jawaban ya dan tidak. Sedangkan
instrumen keberhasilan pengobatan TB paru menggunakan pemeriksaan
makroskopis BTA dan dicatat dalam lembar penilaian keberhasilan.
Indikator Jumlah soal Nomor Soal
PMO 1 soal 1
Peran PMO 4 soal 2, 3, 4, 5
Tugas PMO 3 soal 6, 7, 8
Informasi yang disampaikan PMO 7 soal 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15
Jumlah 15 soal
Sebelum digunakan untuk mengambil data, terlebih dulu dilakukan uji coba
kuesioner terhadap 20 responden yang memiliki karakteristik yang sama
dengan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Uji coba dilakukan di
Puskesmas Selomerto. Hasil uji coba kuesioner peran PMO didapatkan nilai r
hitung sebesar 0,571-0,895, lebih besar dari r tabel pada n= 20 yaitu 0,444,
dengan demikian kuesioner peran PMO dikatakan valid.
Pengolahan dan Analisa Data
1. Pengolahan Data
Pengolahan data pada penelitian ini dilaksanakan dengan tahap
sebagai berikut :
a. Editing (penyuntingan)
Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan terhadap semua isian pada
semua item pertanyaan dalam kuesioner untuk mengetahui beberapa
faktor tingkat keberhasilan pengobatan TB Paru. Dengan kelengkapan
pengisian konsisten dan relevansi serta kejelasan jawaban.
b. Coding (penyajian)
Kegiatan tahap ini adalah mengubah informasi dengan menggunakan
kunci jawaban yang telah disusun dalam bentuk angka untuk
memudahkan proses pengolahan selanjutnya mengenai isi kuesioner
1) Peran PMO diklasifikasikan menjadi :
a) Peran PMO mendukung, jika PMO melaksanakan
perannya skor >=50% (Arikutno, 2007)
b) Peran tidak mendukung, jika PMO melaksanakan
perannya jika skor <=50% (Arikunto, 2007)
2) Keberhasilan pengobatan TB diklasifikasikan menjadi :
a) Berhasil jika hasil pemeriksaan BTA (-) negatif
b) Tidak berhasil jika hasil pemeriksaan BTA (+) positif
c. Tabulating (tabulasi)
Memasukan data hasil survai tingkat keberhasilan pengobatan
TB Paru dengan peran PMO kedalam tabel-tabel sesuai dengan kriteria
kegiatan memasukan data (entry data) dilakukan melalui bantuan
komputer. terhadap semua data pada kuesioner.
2. Analisis Data
Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat sebagai
berikut:
a. Analisis Univariat
Analisa univariat dilakukan untuk menggambarkan masing-masing
variabel dengan membuat tabel distribusi frekuensi dan persentase.
Penghitungan analisis univariat didasarkan pada rumus:
% 100
x N
f
P
Keterangan:
f: frekuensi kejadian
N: jumlah sampel
b. Analisis Bivariat.
Untuk mengnalisis hubungan antara peran PMO dengan keberhasilan
pengobatan menggunakan uji chi square (tabel silang) dengan tingkat
kemaknaan sebesar 95%. Penghitungan chi square dengan rumus:
ƒh : frekuensi yang diharapkan
Untuk uji kai kuadrat digunakan derajat kepercayaan (Confident Interval
95%), dan batas kemaknaan alfa 5% (0,05), bila diperoleh p < 0,05, berarti
secara statistik ada perbedaan yang signifikan antara variabel independen
dengan variabel dependen, dan bila p > 0,05 berarti secara statistik tidak
ada perbedaan yang signifikan antara variabel independen dengan variabel
dependen (Sabri & Hastono, 2010).
Etika Penelitian
Penelitian akan dilakukan setelah mendapatkan rekomendasi dari
institusi pendidikan kemudian mengajukan ijin kepada tempat penelitian
1. Prinsip manfaat
a. Bebas dari penderitaan, artinya dalam penelitian ini tidak
menggunakan tindakan yang menyakiti atau membuat responden
menderita.
b. Bebas dari eksploitasi, artinya data yang diperoleh tidak digunakan
untuk hal-hal yang merugikan responden.
2. Prinsip menghargai hak
a. Informed consent
Sebelum dilakukan pengambilan data penelitian, calon responden
diberi penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian yang
dilakukan, apabila calon responden bersedia untuk diteliti maka calon
responden harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, dan jika
calon responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak boleh
memaksa dan tetap menghormatinya.
b. Anonymity
Untuk menjaga kerahasiaan responden dalam pengolahan dan
penelitian, peneliti akan menggunakan nomor atau kode responden.
c. Confidientiality
Informasi yang diberikan oleh responden serta semua data yang
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan di Puskesmas Wonosobo I dimulai pada tanggal 7 Mei 2012. Berdasarkan kriteria sampel dan persyaratan dalam pemilihan sampel ditentukan sebanyak 50 responden.
a. Peran PMO
Tabel 4.1: Distribusi frekuensi responden berdasarkan peran PMO di Puskesmas Wonosobo I, n= 50.
Peran PMO Frekuensi Persentase (%)
Tidak mendukung 23 46,0
Mendukung 27 54,0
Jumlah 50 100,0
Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa sebagian besar peran PMO adalah mendukung yaitu sebanyak 27 responden (54,0%) dan yang tidak mendukung sebanyak 23 responden (46,0%).
b. Keberhasilan Pengobatan
Tabel 4.2: Distribusi frekuensi responden berdasarkan keberhasilan pengobatan di Puskesmas Wonosobo I, n= 50.
Keberhasilan berhasil dalam pengobatan TB yaitu sebanyak 38 responden (76,0%) dan hanya 12 responden (24,0%) yang tidak berhasil dalam pengobatan TB.
Peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB
Tabel 4.3: Tabel silang antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I, n= 50.
Peran PMO
Keberhasilan pengobatan
Jumlah Berhasil berhasilTidak
f % f % f %
Tidak Mendukung 13 56,5 10 43,5 23 100,0
Mendukung 25 92,6 2 7,4 27 100,0
Jumlah 38 76,0 12 24,0 50 100,0
P value: 0,008
pengobatan TB dipengaruhi oleh peran PMO yang tidak mendukung sebanyak 43,5% (10 responden).
Hasil uji analisis dengan menggunakan uji chi square antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I didapatkan nilai p 0,008, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I.
B. Pembahasan
1. Peran PMO
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar peran PMO adalah mendukung yaitu sebanyak 27 responden (54,0%) dan yang tidak mendukung sebanyak 23 responden (46,0%). Hasilnya sebagian besar peran PMO mendukung klien untuk melakukan pengobatan TB. Sebagian besar PMO mendukung terhadap pengobatan pasien TB dimungkinkan karena PMO merasa sangat perlu untuk membantu menyelesaikan masalah penyakit yang dialami oleh penderita karena khawatir jika tidak dibantu untuk menyelesaikan akan berdampak tidak baik bagi anggota keluarganya yang lainnya. Hal ini dikarenakan pasien TBC perlu mendapatkan pengawasan langsung agar meminum obat secara teratur sampai sembuh.
Peran PMO antara lain mengingatkan untuk menelan obat setiap hari, mengingatkan untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan, memberikan penyuluhan tentang gejala-gejala TB paru kepada anggota keluarga yang lain, menyarankan untuk memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan apabila ada anggota keluarga yang menederita batuk lebih dari 3 minggu, menyampaikan bahwa TB paru bukan penyakit keturunan atau kutukan, menyampaikan bahwa TB paru dapat disembuhkan dengan berobat teratur, memberikan penyuluhan tentang pentingnya berobat secara teratur, memberikan penyuluhan tentang resiko apabila tidak minum obat secara teratur, memberikan penyuluhan tentang cara penularan TB paru, menginformasikan tentang efek samping obat yang ditelan, menginformasikan tentang tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi efek samping, dan menginformasikan tentang tata cara pengobatan TB paru secara lengkap.
Peranan PMO dalam pelaksanaan metode DOTS sangat berpengaruh dalam menentukan perubahan sikap pasien terhadap keteraturan pengobatan (Hadin dan Nizar, 2005). Jika pengawasan keteraturan pengobatan dilaksanakan dengan baik, keteraturan dan kesembuhan akan lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Subekti (2007) bahwa PMO secara signifikan memberikan dukungan terhadap kesembuhan pengobatan pasien TB. Faktor yang mendukung keberhasilan pengobatan TB menurut Subekti (2007) antara lain adanya PMO, keteraturan berobat, dan pendapatan.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden berhasil dalam pengobatan TB yaitu sebanyak 38 responden (76,0%) dan hanya 12 responden (24,0%) yang tidak berhasil dalam pengobatan TB. Hasilnya adalah sebagian besar responden berhasil melakukan pengobatan TB. Sebagian besar responden berhasil dalam melakukan pengobatan, hal ini dimungkinkan karena adanya PMO yang ikut serta membantu mengawasi penderita minum OAT secara teratur. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Danusantoso (2000) menyatakan bahwa saat ini semua penderita secara teoritis harus dapat disembuhkan, asal saja yang bersangkutan rajin berobat sampai dinyatakan selesai, terkecuali bila dari awal basil TBC yang dihadapi sudah resisten terhadap berbagai tuberkulosis yang lazim dipakai. Hal ini mudah dimengerti karena kalau penderita tidak tekun meminum obatnya, hasil akhirnya adalah kegagalan penyembuhan ditambah dengan timbulnya basil TB multiresisten.
Pada umumnya kegagalan pengobatan disebabkan oleh karena pengobatan yang terlalu singkat, pengobatan yang tidak teratur dan obat kombinasi yang jelek (Crofton, 2002). Penelitian Dahlan (1997) yang dikutip oleh Hadin dan Nazir (2005) menyatakan bahwa kesembuhan lebih dari sama dengan 85% karena disebabkan keteraturan pengobatan yang kurang sehingga timbul resistensi obat dan pengobatan menjadi tidak tuntas.
Pengobatan yang salah atau tidak adekuat mungkin menyebabkan kegagalan dalam menyembuhkan penderita, membuat dia kebal terhadap obat-obatan dan menyulitkan penyembuhan serta membuat dia hidup dengan infeksi yang sudah kebal terhadap pengobatan sehingga memudahkan penularan kepada orang lain (Crofton, 2000).
3. Analisis hubungan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan
TB di Puskesmas Wonosobo I
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa keberhasilan pengobatan TB didukung oleh peran PMO yang mendukung pada responden sebanyak 92,5% (25 responden), sedangkan ketidak berhasilan pengobatan TB dipengaruhi oleh peran PMO yang tidak mendukung sebanyak 43,5% (10 responden).
Hasil uji analisis dengan menggunakan uji chi square antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I didapatkan nilai p 0,008, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I.
Peran PMO dengan keberhasilan pengobatan sangat penting, karena penderita selama menjalani pengobatan yang panjang kemungkinan ada rasa bosan harus setiap hari mengkonsumsi obat, sehingga dikhawatirkan terjadi putus obat atau lupa minum obat karena putus asa penyakitnya tidak sembuh-sembuh. Peran PMO diharapkan dapat mencegah putus obat karena bila terjadi untuk pengobatan selanjutnya memerlukan waktu yag lebih panjang. Terlaksananya peran PMO dengan baik yaitu untuk menjamin ketekunan, keteraturan pengobatan, menghindari putus pengobatan sebelum obat habis, mencegah ketidaksembuhan pengobatan, memantau konsumsi makanan penderita TB paru dalam hal ini protein (Depkes RI, 2001).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Sebagian besar peran PMO adalah mendukung yaitu sebanyak (54,0%)
dan yang tidak mendukung sebanyak (46,0%).
2. Sebagian besar responden berhasil dalam pengobatan TB yaitu sebanyak
(76,0%) dan yang tidak berhasil dalam pengobatan TB sebanyak (24,0%). 3. Terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap
keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I p value: 0,008 (p <
0,05)
B. Saran
1. Bagi PMO
a. PMO perlu meningkatkan kinerja terutama dalam hal memberikan
informasi (penyuluhan) pada anggota keluarga dengan TB karena jika
informasi tidak diberikan dikhawatirkan akan terjadi penularan
penyakit TB lebih banyak. 2. Bagi perawat
a. Perawat agar meningkatkan kinerja dalam memberikan perawatan pada
penderita TB, dengan selalu memotivasi dan memberikan reward pada
PMO untuk menjalankan tugasnya secara teratur.
b. Perawat dapat mengoptimalkan perannya sebagai edukator dengan
melakukan edukasi tentang pentingnya keberhasilan pengobatan dan
konsekwensi pengobatan TB yang tidak berhasil 3. Ilmu keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi ilmu
keperawatan tentang arti penting kinerja PMO bagi penderita TB paru
terkait tentang kebutuhan kualitas pelayanan yang memadai melalui
penyuluhan kepada pasien TB paru dan PMO.
4. Bagi peneliti lebih lanjut
a. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan variabel lain yang lebih
kompleks faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan
tuberkulosis sehingga dapat mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan pengobatan pada pasien TB paru secara
lengkap.
b. Perlu dilakukan penelitian kualitatif dan penelitian dengan observasi
yang dapat menggambarkan kinerja pengawas minum obat pada pasien
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier. M. Idris F.2000 The Involment of the private Practioness an Tuberculosis Control Program Throught DOTS Strategy : A Discourse. Majalah Kesehatan. 50 : 497-498.
Bhisma murti. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Jogyakarta.
B.Y Yan..1992. Anti Tuberculosis Chemotherapy And It’s Rotation to Tuberculosis Control In China. Pros 12th. Asia Pasifik Congress an desease of the chest.. .
Dahlan Z.1997. Diagosa dann Penataksanaan Tberkulosis. Cermin Dunia Kedokteran., 115 : 8-12.
Depkes RI. 2002. Pedoman Nasional Penangulangan Tuberkulosis. Jakarta.
Depkes.RI. 2003. Pedoman Penemuan dan Pengobatan Penderita TB Paru. Jakarta. Depkes.
Depkes RI. 2001. Buku Petunjuk Praktis Bagi Petugas dan Pelaksana Penanggulangan TBC di Unit Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Depkes.
Depkes RI. 2003. Pedoman Tuberkulosis Paru. Jakarta.
Dep Kes RI 2007. Pedoman Penyakit Tuberkulosis Dan Penanggulangannya.
Kanwil Depkes Propinsi Jateng. 2000. Buku Pedoman Bagi Pengawas Menelan Obat. Semarang. P3M
Mangkunegara, H dan Suryatenggara W. 1994. Pedoman Praktisi Diagnosa dan Penatalaksana Tuberkulosis Paru. Cetakan ke-2. Jakarta : Yayasan Penerbit IDA.
Muharman Harun, Ella Sutiana. 2002. Tuberkulosis Klinis. Widya Medika.. Jakarta
Nadesul, Hendrawan. 2006. Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan TB Paru. Jakarta : Puspas Swara.
Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Wardoyo. 1997. Waspadai Ancaman Kesehatan Kita. Aneka Ilmu. Solo
Warijan.1991. Tes gaya hasil objektif IKIP Pres. Semarang.
Wukir Sari. Skripsi 2005. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap PMO Dengan Pencegahan Penyakit Tuberculosis Paru Di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang. UNIMUS. Semarang.
Lampiran4
JADUAL PENELITIAN
No KEGIATAN Mei
2012
Juni 2012
Juli 2012
Agustus 2012
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 StudiPendahuluan
2 Pengambilan data
3 Penyusunan proposal
4 Konsultasi
5 Pengumpulan proposal 6 Presentasi proposal
7 Perbaikan proposal 8 Penelitian
9 Konsultasi
10 Presentasiakhir 11 Perbaikan