• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN O

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN O"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)

DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA

TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS WONOSOBO I

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan

Oleh:

SRI LESTARI A2.1000380

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG

(2)

HALAMAN PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi yang saya ajukan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang sepengatahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Wonosobo, ...2012 Peneliti

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)

DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA

TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS WONOSOBO I

Dipersiapkan dan disusun oleh:

Nama : SRI LESTARI NIM : A2.1000380

Telah dipertahankan dan dinyatakan Memenuhi syarat untuk diujikan

Pembimbing I

(Ery Purwanti, M.Sc)

Pembimbing II

(Isma Yuniar, S.Kep Ns.,M.Kep)

Mengetahui

Ketua Prodi S1 Keperawatan

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)

DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA

TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS WONOSOBO I

Disusun oleh:

Nama : SRI LESTARI NIM : A2.1000380

Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji: Pada tanggal 8 September 2012 Penguji I

H. Marsito,S.Kp.,M.Kep.,Sp.Kom. ...

Penguji II

Ery Purwanti, M.Sc ...

Penguji III

Isma Yuniar, S.Kep Ns .,M.Kep ...

Mengetahui

Ketua Program Studi S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Gombong

(5)

Program S1 Keperawatan,

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong. Skripsi, Juli 2012

Sri Lestari1)Ery Purwanti, M.Sc2)Isma Yuniar, S.Kep Ns 3)

xvi + 51 Halaman + 4 tabel + 2 Gambar + 4 Lampiran

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA

TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS WONOSOBO I ABSTRAK

Latar Belakang : Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah penyakit kronis menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Pengobatan pada penderita TBC dapat dilakukan dengan beberapa kombinasi obat yang memang ditujukan untuk membasmi kuman. WHO merekomendasikan strategi pengobatan DOTS, yaitu penderita minum obat dengan diawasi pengawas menelan obat.

Tujuan : mengetahui hubungan antara peran pengawas menelan obat (PMO) dengan keberhasilan pengobatan penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Wonosobo I.

Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian correlational research dengan pendekatan retrospektif dengan menggunakan uji chi square. Sampel yang digunakan terdiri dari 50 responden dengan menggunakan total sampling. Variabel independent dalam penelitian ini adalah peran pengawas menelan obat, sedangkan variabel dependentnya adalah keberhasilan pengobatan penderita tuberkulosis paru.

Hasil Penelitian : PMO adalah mendukung yaitu sebanyak 27 responden (54,0%) dan yang tidak mendukung sebanyak 23 responden (46,0%). Responden yang berhasil dalam pengobatan TB yaitu sebanyak 38 responden (76,0%) dan hanya 12 responden (24,0%) yang tidak berhasil dalam pengobatan TB. Dengan uji statistik chi square menunjukkan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I (p: 0,008).

Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I. p value:0,008(p<0,05)

(6)

First Degree Study Program On Nursing

Muhammadiyah Hygiene Academy of Gombong Essay, July 2012

Sri Lestari1) Ery Purwanti, M.Sc 2) Isma Yuniar, S.Kep Ns 3) xvi + 51 pages + 4 tables + 2 images + 4 attachments

THE RELATIONSHIP BETWEEN THE ROLE OF MEDICINE INTAKE SUPERVISOR AND THE ACHIEVEMENT ON PULMONARY

TUBERCULOSIS PATIENT MEDICATION AT WONOSOBO 1 PUBLIC HEALTH SERVICE

ABSTRACT

Background : The tuberculosis (TBC) is a chronic spreading disease which has remained to be one of the greatest cases among the world community including Indonesia. Treatment on this disease may be applied by means of devastating medication on germs. World Health Organization (WHO) has recommended DOTS medication system, the patients consume the medicine under the control of medication intake supervisor.

Purpose : In order to discover the relationship between the role of medicine intake supervisor (PMO) and the achievement on pulmonary tuberculosis patient medication at Wonosobo 1 Public Health Service.

Research Method : This research is a correlation research approaching retrospective and applying chi square test. The samples used during this research included 50 respondents applying total sampling. The independent variable during this research was the role of medicine intake supervisor, and the dependent variable was the achievement on pulmonary tuberculosis patients.

Research Result : PMO supported as many 27 as respondents (54%) and unsupported as many 23 as respondents (46%). The respondents over successful medication TB reached 38 respondents (76%) and only 12 respondents came to failure (24%). By mean of chi square test it suggested that there was significant correlation between the role of PMO and the achievement of TB medication at Wonosobo 1 Public Health Service (p:0,008).

Conclusion : There is a significant correlation between the role of PMO and the achievement on TB medication at Wonosobo 1 Public Health Service, as stated by p value : 0,008 (p<0,05).

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpah rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan Antara Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) dengan Keberhasilan Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Wonosobo I”. Maksud penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi tugas akhir pada jenjang S1 Keperawatan Program Study Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong.

Penyusunan skripsi ini tidak akan terlaksana tanpa bantuan, bimbingan, serta pengarahan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. H. Giyatmo, S.Kep, Ns , selaku Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong. 2. Herniyatun, S.Kep, M.Kep, Sp.Mat selaku Ketua Program Studi S1 STIKES

Muhammadiyah Gombong.

3. Ery Purwanti, M.Sc, selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan waktu, pemikiran, perhatian dan memberikan pengarahan dalam membimbing penulis untuk penyusunan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Isma Yuniar, S.Kep Ns.,M.Kep, selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan waktu, pemikiran, perhatian dan memberikan pengarahaan dalam membimbing penyusunan skripsi ini.

5. Suami serta anak-anakku tercinta yang telah memberikan dukungan dan doanya.

6. Semua teman-teman seperjuangan penulis dari prodi S1 Keperawatan angkatan 2012 STIKES Muhammadiyah Gombong.

7. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu, yang telah memberikan dukungan dan semangat sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

(8)

melimpahkan Rahmat-Nya. Amin

Gombong, ...2012

(9)

DAFTAR ISI

D. Manfaat Penelitian... 8

E. Keaslian Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Pengawas Minum Obat... 11

B. Tuberkulosis Paru... 12

C. Kerangka Teori... 29

D. Kerangka Konsep... 30

E. Hipotesis Penelitian... 30

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian... 31

B. Populasi dan Sampel... 31

C. Tempat dan Waktu Penelitian... 32

D. Variabel Penelitian... 32

E. Definisi Operasional... 33

F. Metode Pengumpulan Data... 34

G. Instrumen Penelitian... 34

(10)

I. Etika Penelitian... 37 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian... 40

B. Pembahasan... 42

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan... 47

B. Saran ...47

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional

... ... 38

Tabel 4.1: Distribusi frekuensi responden berdasarkan peran PMO di

Puskesmas Wonosobo I

... ... 43

Tabel 4.2: Distribusi frekuensi responden berdasarkan keberhasilan

pengobatan di Puskesmas Wonosobo I

... ... 43

(12)

DAFTAR GAMBAR

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Permohonan menjadi responden Lampiran 2: Persetujuan menjadi responden Lampiran 3: Kuesioner

(14)
(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah penyakit kronis menular yang

masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk

Indonesia. World Health Organization (WHO) dalam annual report on global

TB control 2003 menyatakan terdapat 22 negara dikategorikan sebagai

highburden countries terhadap TBC. Indonesia tiap tahun terdapat 557.000

kasus baru TBC. Berdasarkan jumlah itu, 250.000 kasus (115/100.000)

merupakan penderita TBC menular. Dengan keadaan ini Indonesia menempati

peringkat ketiga jumlah penderita TBC di dunia, setelah India (1.762.000) dan

China (1.459.000). TBC telah membunuh tiga juta orang pertahun.

Diperkirakan, kasus TBC meningkat 5-6 persen dari total kasus. Penyakit

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman

mycobacterium tuberkulosis. Kuman ini dapat menular lewat percikan ludah

yang keluar saat batuk, bersin atau berbicara. Umumnya kuman TBC

menyerang paru karena penularannya melalui udara yang mengandung kuman

TBC dan terhirup saat bernapas (Rachmawati, 2007).

Indeks pembangunan manusia (human development indexs) di

Indonesia masih menempati urutan 102 dari 162 negara. Tingkat pendidikan,

pendapatan serta kesehatan penduduk Indonesia belum memuaskan. Peranan

keberhasilan pembangunan kesehatan sangat menentukan tercapainya tujuan

pembangunan nasional, karena dalam menghadapi makin ketatnya persaingan

(16)

keberhasilan program pelayanan kesehatan dan juga akan mendorong

peningkatan produktivitas serta pendapatan penduduk (Martono, 2006).

Visi Indonesia sehat 2010 adalah gambaran masyarakat Indonesia

dimasa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan yaitu

masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam

lingkungan dengan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk

menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil, merata, serta

memiliki derajat kesehatan setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik

Indonesia. Sehat meliputi sehat jasmani, rohani, serta sosial dan bukan hanya

keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Masyarakat Indonesia

yang dicita-citakan adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran,

kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat

kesehatan yang setinggi-tingginya, sebagai salah satu unsur dari pembangunan

sumber daya manusia Indonesia seutuhnya (Martono, 2006).

Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001,

estimasi prevalensi angka kesakitan di Indonesia sebesar 8 per 1000 penduduk

berdasarkan gejala tanpa pemeriksaan laboratorium. Hasil survei SKRT tahun

2001, didapatkan bahwa TBC menduduki rangking ketiga sebagai penyebab

kematian (9,4% dari total kematian), setelah penyakit sistem sirkulasi dan

sistem pernafasan pada semua golongan usia (Depkes RI, 2002). Sejak tahun

1995, program pemberantasan TBC telah dilaksanakan dengan strategi

Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) yang direkomendasi oleh

WHO merupakan pendekatan yang paling tepat saat ini dan harus

dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Program ini menekankan pada

(17)

yang efektif serta pengawasan, angka keberhasilan pengobatan mencapai 85%.

Pelaksanaan DOTS di klinik perusahaan merupakan peran aktif dan kemitraan

yang baik dari pengusaha serta masyarakat pekerja untuk meningkatkan

penanggulangan TBC di tempat kerja. Seiring dengan pembentukan gerakan

terpadu nasional penanggulangan TBC, maka pemberantasan penyakit

tuberkulosis paru berubah menjadi program penanggulangan TBC. Tujuan

jangka pendek penanggulangan TBC adalah menurunkan angka kesakitan dan

angka kematian penyakit TBC dengan cara memutuskan rantai penularan,

sehingga penyakit TBC tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat

Indonesia (Fahrudda, 2005).

Pengobatan pada penderita TBC dapat dilakukan dengan beberapa

kombinasi obat yang memang ditujukan untuk membasmi kuman. WHO

merekomendasikan strategi pengobatan DOTS, yaitu penderita minum obat

dengan diawasi pengawas menelan obat. Pengawas ini bisa anggota keluarga,

kader, petugas kesehatan atau relawan. Umumnya penderita minum obat

selama 6 bulan untuk memastikan kesembuhannya, namun pada beberapa

keadaan dapat berbeda dapat lebih lama (Rachmawati, 2007).

Kasus penyakit TBC sangat terkait dengan faktor perilaku dan

lingkungan. Faktor lingkungan, sanitasi dan higiene terutama sangat terkait

dengan keberadaan kuman, dan proses timbul serta penularannya. Faktor

perilaku sangat berpengaruh pada kesembuhan dan bagaimana mencegah

untuk tidak terinfeksi kuman TBC. Dimulai dari perilaku hidup sehat (makan

makanan yang bergizi dan seimbang, istirahat cukup, olahraga teratur, hindari

rokok, alkohol, hindari stress), memberikan vaksinasi dan imunisasi baik pada

(18)

meludah sembarangan, menutup mulut apabila batuk atau bersin, dan terutama

kepatuhan untuk minum obat dan pemeriksaan rutin untuk memantau

perkembangan pengobatan serta efek samping (Nova, 2007).

Penatalaksanaan lingkungan, terutama pada pengaturan syarat-syarat

rumah sehat diantaranya pencahayaan, ventilasi, luas hunian dengan jumlah

anggota keluarga, kebersihan rumah dan lingkungan tempat tinggal. Melalui

pemberdayaan keluarga sehingga anggota rumah tangga yang lain dapat

berperan sebagai pengawas menelan obat (PMO), sehingga tingkat kepatuhan

minum obat penderita dapat ditingkatkan yang pada gilirannya kesembuhan

dapat dicapai (Nova, 2007).

Dalam menyukseskan upaya pemberantasan TBC, maka peran petugas

kesehatan dalam surveillance dan pencatatan pelaporan yang baik merupakan

suatu keharusan. Tidak menutup kemungkinan peran kader serta masyarakat

lainnya dapat berperan aktif melalui kunjungan rumah bersama petugas

kesehatan, tokoh masyarakat untuk melakukan pendidikan di masyarakat

melalui penyuluhan, konseling atau pemantauan secara terpadu, terintegrasi

dengan upaya-upaya lain termasuk peningkatan ekonomi keluarga. Pasien

TBC perlu mendapatkan pengawasan langsung agar meminum obat secara

teratur sampai sembuh. Orang yang mengawasi penderita TBC dikenal dengan

istilah PMO. Pengawas menelan obat (PMO) sebaiknya orang yang disegani

dan dekat dengan pasien TBC, misalnya keluarga, tetangga, atau kader

kesehatan. Pengawas menelan obat PMO bertanggung jawab untuk

memastikan pasien TBC meminum obat sesuai anjuran petugas puskesmas

(19)

Mengingat tingginya kasus tuberkulosis serta resiko penularan terhadap

orang lain yang cukup tinggi maka penatalaksanaan penyakit tuberkulosis

paru harus benar-benar dilaksanakan sesuai dengan kebijaksanaan program

pemberantasan penyakit tuberkulosis paru. Peran pengawas menelan obat

sangat penting dalam rangka penyembuhan penderita tuberkulosis paru,

sehingga pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit TB (P2TB) sangat

diperlukan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilannya (Gerdunas

2007).

Berdasarkan data yang diperoleh dari bidang pemberantasan penyakit

menular Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonosobo tahun 2010: bahwa

angka penemuan kasus, case detection rate (CDR) tertinggi di Kabupaten

Wonosobo adalah sebanyak 839 kasus (DKK Wonosobo,2010). Sedangkan di

Puskesmas Wonosobo I, didapatkan 66 kasus baru. Target case detection rate

program penanggulangan TBC secara nasional adalah 86,78%. Angka

perkiraan nasional penderita baru BTA positif adalah 130/100.000 penduduk

(Depkes RI, 2008).

Di Kabupaten Wonosobo, angka kesembuhan TBC BTA positif tahun

2010 belum mencapai target nasional yaitu sebesar 83,8%. Namun begitu,

angka kesembuhan penderita TBC BTA positif di beberapa puskesmas di

Wonosobo masih barada dibawah target nasional. Salah satunya di wilayah

kerja Puskesmas Wonosobo I. Berdasarkan data profil dinas kesehatan

Kabupaten Wonosobo angka kesembuhan penderita TB Paru di Puskesmas

Wonosobo I tahun 2010 sebesar 53% (30 dari 57 penderita dinyatakan

(20)

Puskesmas Wonosobo I merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten

Wonosobo. Berdasarkan studi pendahuluan yang penulis lakukan pada tanggal

19 Oktober tahun 2011 di Puskesmas tersebut, dapat diketahui bahwa

penderita tuberkulosis paru yang berobat jalan di Puskesmas Wonosobo I

berjumlah 50 orang, yang domisilinya tersebar di seluruh wilayah Kecamatan

Wonosobo. Selain itu, berdasarkan hasil pencatatan kartu pengobatan TBC

dan kartu identitas pasien 10 orang penderita tuberkulosis paru yang ditemui

peneliti ketika sedang berobat jalan di Puskesmas Wonosobo I, ada 2 orang

diantaranya 20% tidak mematuhi jadwal pengobatan dan petunjuk-petunjuk

pengobatan lainnya yang ditetapkan oleh petugas kesehatan di puskesmas

tersebut. Selanjutnya dengan menggunakan teknik wawancara, 2 orang

penderita yang tidak mematuhi jadwal pengobatan, ternyata semuanya

menyatakan bahwa PMO yang berasal dari keluarga kurang mengawasi

penderita TBC dalam minum obat, dikarenakan kesibukan yang dimiliki

masing-masing PMO. Penderita kurang kesadaran untuk menjaga lingkungan

rumah, pencahayaan, kebersihan, ventilasi, kebiasaan meludah disembarang

tempat. Bahkan ketika datang pertama kalinya ke puskesmas, pasien kurang

memahami tentang TBC. Terdapat perasaan kekhawatiran tentang penyakit

yang dideritanya dan cenderung menutupi penyakitnya.

Berdasarkan fenomena tersebut diatas maka peneliti akan melakukan

penelitian tentang “Hubungan antara peran pengawas menelan obat (PMO)

terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I”.

(21)

Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapatkan rumusan masalah

sebagai berikut : adakah hubungan antara peran pengawas menelan obat

(PMO) terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I.”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara

peran pengawas menelan obat (PMO) dengan keberhasilan pengobatan

penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Wonosobo I.

2. Tujuan Khusus dari penelitian ini yaitu :

a. Mengetahui peran PMO pada penderita TB paru di Puskesmas

Wonosobo I.

b. Mengetahui keberhasilan pengobatan TB paru di Puskesmas

Wonosobo I.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi ilmu keperawatan

Dapat digunakan sebagai bahan atau masalah yang dapat diangkat dalam

penyuluhan kesehatan bagi pasien, keluarga, komunitas yang menderita

tuberkulosis agar dapat meningkatkan keberhasilan penderita TBC.

2. Bagi perawat

Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perawat dalam

memaksimalkan peran PMO dalam upaya pemberantasan TB paru

dimasyarakat.

(22)

Menentukan kebijakan puskesmas dalam mengevaluasi program

pengobatan penyakit tuberkulosis paru yang lebih memperhatikan peran

pengawas menelan obat (PMO) dan mampu menanamkan sikap positif

penderita tuberkulosis paru, serta lebih menyediakan fasilitas-fasilitas

yang menunjang kesehatan.

4. Bagi penderita dan PMO

Diharapkan penderita tuberkulosis paru lebih meningkatkan sikapnya,

meliputi antara lain perasaan selama menderita, keyakinan terhadap

pengobatan, perilaku-perilaku yang mendukung pengobatan dan ketaatan

dalam berobat. PMO lebih meningkatkan lagi pengawasan dalam

pengobatan terhadap penderita TBC.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian Murtantiningsih (2010) tentang faktor - faktor yang

berhubungan dengan keberhasilan pengobatan penderita TB paru (Studi kasus

di Puskesmas Purwodadi I Kabupaten Grobogan). Penelitian bertujuan untuk

mengetahui faktor- faktor apakah yang berhubungan dengan kesembuhan

penderita TB Paru di Puskesmas Purwodadi I dilakukan pada sampel yang

diambil terdiri dari sampel kasus berjumlah 25 orang dan sampel kontrol

berjumlah 25 orang yang diperoleh dengan menggunakan tekhnik simple

random sampling.

Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan case

(23)

dinyatakan tidak sembuh pada periode Januari 2006 –Desember 2007 dan

populasi kontrol yaitu penderita Tuberkulosis Paru BTA Positif yang

dinyatakan sembuh pada periode Januari 2006 – Desember 2007. Tehnik

analisis data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji chi

square dengan derajat kemaknaan 0,05 dan menghitung nilai Odds Rasio

(OR).

Perbedaan dengan penelitian ini pada subjek penelitian, yaitu semua

pasien penderita TB paru yang telah mendapat pengobatan pada selama tahun

2011. Problematika penelitian dalam penelitian ini adalah masing-masing

penderita TB paru sudah memiliki PMO sendiri, tetapi masih didapatkan

angka kesembuhan yang dibawah target nasional. Variabel bebas dalam

penelitian ini adalah peran Pengawas Menelan Obat (PMO). Sedangkan

variabel terikatnya adalah keberhasilan pengobatan TB paru. Dan Analisis

data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji chi square

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Peranan Pengawas Menelan Obat

Salah satu program keberhasilan pengobatan TB Paru dilakukan

pengawasan menelan obat (PMO) (Dinkes Jateng, 2000).

1. Pengawas Menelan Obat (PMO)

Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan panduan OAT

jangka pendek dengan pengawasan langsung untuk menjamin keteraturan

pengobatan diperlukan Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengawas

Menelan Obat PMO adalah orang yang bertugas mengawasi pasien TB

dalam melaksanakan kepastian obat TB dapat diminum secara tepat oleh

pasien.

2. Persyaratan PMO

a. Seseorang yang dikenal, dipercaya

dan disetujui baik oleh petugas kesehatan maupun penderita selain itu

harus disegani dan dihormati oleh penderita.

b. Seseorang yang tinggal dekat

dengan penderita.

c. Bersedia membatu penderita

dengan sukarela.

d. Bersedia dilatih dan atau mendapat

(25)

e. Sebaiknya PMO adalah petugas

kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya, sanitarian, juru

(26)

3. Tugas PMO

Mengawasi penderita TB Paru agar menelan obat secara teratur sampai

selesai pengobatan.

a. Memberi dorongan kepada penderita agar menelan obat secara teratur.

b. Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktu-waktu

yang telah ditentukan.

c. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB Paru yang

mempunyai gejala-gejala tersangka TB Paru segera memeriksakan diri

ke unit pelayanan kesehatan.

4. Informasi penting yang perlu disampaikan

a. TB Paru bukan penyakit keturunan atau kutukan.

b. TB Paru dapat disembuhkan dengan berobat teratur.

c. Tata laksana pengobatan penderita pada tahap intensif dan lanjutan.

d. Pentingnya berobat secara teratur, karena itu pengobatan perlu diawasi.

e. Efek samping obat dan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi efek

samping tersebut.

B. Tuberkulosis Paru

1. Gambaran Umum TB Paru

a. Definisi

Tuberkulosis Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan

oleh kuman Mycobacterium tuberculosis sebagian besar menyerang

Paru dan dapat mengenai organ tubuh lainnya. Kuman ini berbentuk

batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada

(27)

Tuberkulosis Paru cepat mati apabila terkena sinar matahari langsung

tetapi dapat bertahan hidup dalam beberapa jam ditempat yang gelap

dan lembab (Depkes RI, 2002).

b. Gejala dan tanda TB Paru

Departemen kesehatan menyebutkan gejala dan tanda penyakit TB

Paru BTA Positif adalah : a) gejala umum : nyeri dada, batuk lebih

dari tiga minggu atau lebih. b) gejala lain : nyeri dada batuk dahak

atau dahak bercampur darah, keringat malam, demam lebih dari

sebulan, sesak nafas, nafsu makan menurun dan berat badan menurun

(Depkes RI, 2003).

c. Cara Penularan

Sumber penularan penyakit TB Paru dikarenakan oleh kuman yang

berterbangan di udara dan ada juga yang jatuh pada lantai sehingga

dapat terhirup oleh setiap orang, pada paru-paru kuman atau basil TB

Paru akan bersarang dan basil berkembang biak juga menggerogoti

Paru-paru.

Tidak semua orang yang dimasuki basil TB Paru pasti sakit TB paru

karena badannya kuat dan daya tahan tubuhnya kuat orang mungkin

terhindar dari sakit TB Paru. Daya tahan tubuh yang kuat jika gizi

makanan yang cukup, bergerak badan dan istirahat yang cukup. Atau

jika sejak bayi semua anak harus diberi Imunisasi Basillus Calmatto

Guenin (BCG) yang berfungsi untuk mencegah tertular TB Paru

(Nadesul, 2006).

(28)

Komplikasi sering terjadi pada penderita berstadium lanjut menurut

Nadesul (2006) antara lain: 1) Hemoptisis berat (pendarahan dari

saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok

hipovolemik atau tersambungnya jalan nafas. 2) Kolaps dari lobus

akibat kontraksi bronkiat. 3) Bronkiestasis (pelebaran bronkus

setempat) dan fibrosis (pembentukan) jaringan ikat pada proses

pemulihan atau reaktiti pada paru. 4) Penyebaran infeksi organ lain

seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya. 5) Insufisiensi

kardio pulmoner (Cardio pulmonery insuffiency)

e. Diagnosis

Bahwa seseorang ditetapkan sebagai penderita TB Paru apabila

melakukan serangkain pemeriksaan menurut Depkes RI (2002)

sebagai berikut:

1) Pemeriksaan mikroskopis dahak merupakan cara yang paling

dapat diandalkan (paling murah) dan harus diupayakan tiga buah

spesimen untuk pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan 3x dengan

sewaktu, pagi, sewaktu (SPS) paling baik dipastikan dengan hasil

positif berikutnya.

2) Pemeriksaan semua pasien dengan kronis khususnya batuk

perokok atau batuk lebih dari 4 minggu, mereka yang turun berat

badannya, nyeri dada dan lainnya yang mengakibatkan TB Paru.

3) Foto rontgen, pemeriksaan rontgen diperlukan bila pasien yang

memiliki masalah-masalah yang sulit terutama para tersangka TB

(29)

tidak dilakukan untuk kasus secara massal di negara-negara

dengan prevalensi tinggi.

4) Tes tuberkulin, tes ini kurang dapat diandalkan dalam menegakan

diagnosis di negara miskin karena gizi buruk, dan penyakit lain.

Seperti infeksi HIV atau TB Paru yang sangat parah dapat

menghasilkan tes yang lemah meskipun pasien dewasa atau anak

berpenyakit TB Paru aktif. Tes pada anak dapat berubah karena

Basillus Calmatto Guenin (BCG)(Harun, 2002).

f. Klasifikasi penyakit

Pada penyakit TB Paru dapat diklasifikasikan yaitu TB Paru dan TB

ekstra paru. Tuberkulosis Paru merupakan batuk yang paling sering

dijumpai dari semua penderita. Tuberkulosis yang menyerang jaringan

paru-paru ini merupakan satu-satunya bentuk dari TB Paru yang

mudah tertular. Tuberkulosis ekstra Paru merupakan bentuk penyakit

TB Paru yang menyerang organ tubuh lain, selain paru-paru seperti

pleura, kelenjar limfe, persendian tulang belakang, saluran kencing,

susunan saraf pusat (Herdin, 2007).

2. Program Pemberantasan TB Paru

a. Tujuan Program

Tujuan jangka panjang : memutuskan rantai penularan sehingga penyakit

TB paru tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat di

Indonesia.

Tujuan jangka pendek : a) tercapainya kesembuhan minimal 85%

penderita baru BTA positif yang ditemukan, b) tercapainya cakupan

(30)

penderita TB paru, c) tercapainya resistensi obat tuberkulosis di

masyarakat, d) menanggulangi penderita akibat penyakit TB paru.

b. Kebijakan Operasional

1) Penanggulangan TB paru di Indonesia dilaksanakan dengan

desentralisasi sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan.

2) Penggulangan TB paru dilaksanakan oleh seluruh unit pelayanan

kesehatan, meliputi Puskesmas, Rumah Sakit, Pemerintah dan

swasta, BP4 serta praktik dokter swasta, politeknik umum,

politeknik perusahaan dengan melibatkan peran serta masyarakat

secara paripurna dan terpadu.

3) Peningkatan mutu pelayanan, penanggulangan obat rasional dan

kombinasi obat sesuai dengan strategi directly observed treatment

shortcourse (DOTS).

4) Target program adalah konversi pada akhir pengobatan tahap

intensif minimal 80%, angka kesembuhan sediaan dahak yang

benar (angka kesalahan 5%).

5) Pemeriksaan uji silang (cross check) secara rutin oleh Balai

Laboratorium Kesehatan (BLK) atau laboratorium rujukan yang

ditunjuk untuk mendapatkan pemeriksaan dahak yang bermutu

6) Penanggulangan TB paru nasional diberikan Obat Anti

Tuberkulosis (OAT) pada penderita secara cuma-cuma dan

jaminan ketersediaannya.

7) Pengembangan sistem pemantauan, supervisi dan evaluasi

(31)

8) Menggalang kerja sama dan kemitraan dengan program terkait,

sektor pemerintah dan swasta.

c. Strategi

Strategi DOTS sesuai rekomendasi WHO (2004), yaitu :

1) Komitmen politis dari para pengambil keputusan termasuk

dukungan dana.

2) Diagnosis TB paru dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopik

3) Pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan

pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).

4) Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu

terjamin.

5) Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan

pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB paru.

3. Pengobatan Penyakit TB Paru

a. Tatalaksana Pengobatan TB Paru

Pengobatan diberikan dalam dua tahap Depkes RI (2007), yaitu :

1) Tahap Intensif (awal dimana pasien mendapat obat setiap hari dan

diawasi langsung untuk mencegah kekebalan atau resistensi

terhadap semua OAT (Obat Anti Tuberkulosis), terutama

Rifampisin. Bila tahap ini diberikan secara tepat pasien menular

menjadi tidak menular dalam waktu dua minggu. Sebagian besar

TBC Paru BTA Positif (+) menjadi BTA Negatif (-) pada akhir

(32)

2) Tahap lanjutan, pasien mendapat obat dalam jangka waktu yang

lebih lama dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah

kekambuhan.

Tujuan dari pengobatan pasien TB paru adalah penyembuhan pasien,

mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan resiko

penularan. Menyembuhkan pasien dengan gangguan semininal

mungkin dalam hidupnya, mencegah kematian pada pasien, mencegah

kerusakan paru lebih luas dan komplikasi yang terkait, mencegah

kekambuhannya penyakit, mencegah kuman menjadi resisten dan

melindungi keluarga dan masyarakat penderita terhadap infeksi

(Crofson, 2001).

Jenis obat yang digunakan dalam pemberantasan TB paru antara lain:

1) Isoniasid (H) dikenal dengan INH, bersifat bakteriasid dapat

membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama

pengobatan.

2) Rifampisin (R), bersifat bakteriasid dapat membunuh kuman semi

dormant (persisten) yang tidak dapat dibunuh oleh INH.

3) Piranizamid, (Z), bersifat bakterisid dapat membunuh kuman yang

berada dalam sel suasana asam

4) Streptomycine (S), bersifat bakterisid

5) Etambutol (E), bersifat bakteriotatik.

b. Program Obat Anti Tuberkulosis

Di Indonesia diterapkan panduan OAT sesuai rekomendasi WHO

(33)

Againts Tuberculosis and Lung Disease) dengan jangka 6 (enam)

bulan yaitu :

1) Kategori I (2HRZA / 4H3R3)

Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R),

Pirazanamid (Z) dan Etamburol (E), obat diberikan setiap hari

selama 2 (dua) bulan (2HRZE). Kemudian diteruskan tahap

lanjutan yang terdiri Isoniasid dan Rifampisin diberikan 3 (tiga)

kali seminggu selama 4 (empat) bulan (4H3R3).

Panduan OAT kategori I diberikan untuk :

a. Pasien baru TB – Paru BTA Positif (+)

b. Pasien baru TBC – Paru Negatif (-), Rontgen positif (+) yang

sakit berat.

c. Penyakit paru ekstra berat

2) Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)

Tahap intensif selama 3 bulan, terdiri dari 2 bulan HRZE dan

suntikan Steptomisin (S), setiap hari di UPK. Dilanjutkan 1 bulan

dengan HRZE setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap

lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang diberikan 3 kali

dalamseminggu.

Kategori III (2HR2/4H3R3)

Tahap intensif terdiri dari HR2 yang diberikan setiap hari selama 2

bulan diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri HR selama 4

bulan diberikan 3 kali seminggu.

(34)

a) Pasien batuk TBC Paru BTA Negatif (-) dan rontgen positif (+)

sakit ringan.

b) Pasien ekstra paru ringan, yaitu : Pasien Tuberkulosis kelenjar

limfe (limfadenitis), pleuritis eksudtiva unilateral,

Tuberkulosis kulit, Tuberkulosis tulang (kecuali tulang

belakang, Tuberkulosis sendi dan kelenjar adrenal).

c. Hasil Pengobatan

Hasil pengobatan menurut Harun (2002) diklasifikasikan antara lain:

1) Sembuh

Penderita dinyatakan sembuh bila penderita telah menyelesaikan

pengobatan secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow

-up) paling sedikit 2 (dua) berturut-turut hasilnya negatif (yaitu

pada AP sebulan sebelum AP dan pada satu pemeriksaan Follow

up sebelumnya.

2) Pengobatan lengkap

Penderita yang telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap

tapi tidak ada hasil pemeriksaan ulang dahak 2 kali berturut-turut

negatif. Tindak lanjut : Penderita diberi tahu apabila muncul

kembali supaya memeriksakan diri dengan mengikuti prosedur

tetap.

3) Pindah

Adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu

Kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke Kabupaten ini

(35)

4) Drop Out (DO)

Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan

berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang kembali berobat.

Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan

dahak BTA Positif.

5) Gagal

Penderita BTA Positif yang masih tetap positif atau kembali

menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir

pengobatan atau lebih dan penderita dengan hasil BTA Negatif

Rontgen positif menjadi BTA Positif pada akhir bulan ke-2

pengobatan.

6) Meninggal

Penderita TB paru yang diketahui meninggal karena sebab apapun.

4. Pengendalian Penderita dan Penentuan Keberhasilan Pengobatan

Pengendalian pengobatan penderita dilaksanakan pada saat

kunjungan penderita ke unit pelayanan kesehatan atau dengan kunjungan

ke rumah penderita yang dilakukan oleh petugas kesehatan maupun

petugas pengawas menelan obat (PMO). Penentu status penderita atau

keberhasilan dan keketebalan ditentukan pada akhir masa pengobatan

(Depkes, RI, 2003).

Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis dinilai berdasarkan : uji

bakteriologi, radiologi dan klinik. Uji bakteriologi pada akhir pengobatan

TB Paru BTA Positif menjadi negatif dan hasil rontgen ulang menjadi baik

(36)

5. Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan Pengobatan TB Paru

1. Perilaku

Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap

stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam

memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau

faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa

meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respon

tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap

stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan

perilaku ini dapat di bedakan menjadi 2, yaitu :

a) Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang

yang bersangkutan, yang bersifat given atau bawaan,

misalnya : umur, pendidikan, tingkat kecerdasan, tingkat

emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.

b) Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan, baik

lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik, pekerjaan

dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan

faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang

(Notoatmojo, 2003).

Lawrence Green (1980) mencoba menganalisis perilaku

manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau

masyarakat di pengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor

perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non

behavior causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri di tentukan atau

(37)

1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing faktors), yang

terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,

nilai-nilai, pekerjaan dan sebagainya.

2) Faktor-faktor pendukung (enabling faktors), yang terwujud

dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya

fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya peran PMO,

pemakaian OAT dan sebagainya.

3) Faktor-faktor pendorong (reinforcing faktors) yang terwujud

dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang

lain, keluarga dan masyarakat yang merupakan kelompok

referensi oleh perilaku masyarakat.

Perilaku seseorang dibentuk oleh tiga yaitu pengetahuan, sikap dan

praktek/tindakan:

1) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi

setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek

tertentu.

2)Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup

dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Manifestasi

dari sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya ditafsirkan

dari perilaku yang tertutup.

3) Praktek/perilaku

Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas

(38)

kembali menurut Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa,

perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas manusia itu

sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain;

berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis,

membaca, dan sebagainya. Praktek atau tindakan adalah sesuatu

perbuatan nyata atau aktifitas nyata sehubungan dengan stimulus

atau obyek. Untuk terwujudnya suatu sikap menjadi perbuatan

nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang

memungkinkan antara lain adalah fasilitas (Notoatmojo, 2003).

Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku dibagi tiga domain, yaitu :

a) Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat

penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt ehavior).

b) Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih

tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.

c) Praktek atau tindakan (practice)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan

(overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu

perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu

kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.

Bentuk-bentuk perubahan perilaku menurut WHO dalam

Notoatmodjo (2003) dibagi menjadi 3 yaitu :

(39)

Perilaku manusia selalu berubah, dimana sebagian perubahan

itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam

masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik

atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota masyarakat

didalamnya juga akan mengalami perubahan.

b) Perubahan rencana (planned change)

Perubahan ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh

subjek.

c) Kesediaan untuk berubah (readiness to change)

Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program

pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi

adalah sebagai orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau

perubahan tersebut (berubah perilakunya), tetapi sebagian

orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau

perubahan tersebut. Hal ini disebabkan karena pada setiap

orang mempunyai kesediaan untuk berubah (readines of

change) yang berbeda-beda.

Strategi perubahan perilaku terbagi tiga, yaitu :

a) Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan

Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran

atau masyarakat sehingga ia mau melakukan (berperilaku)

seperti yang diharapkan.

(40)

Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara

mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara-cara

menghindari penyakit dan meningkatkan pengetahuan.

c) Diskusi dan partisipasi

Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua tersebut,

dalam memberikan informasi tentang kesehatan tidak bersifat

searah saja, tetapi dua arah.

2. Umur

Umur merupakan salah satu faktor pendorong yang dapat

menentukan perilaku seseorang dalam keberhasilan pengobatan

penyakitnya, umur yang semakin tua akan mempunyai pengalaman

yang cukup untuk memandang suatu masalah dari berbagai sudut

pandang, begitu pula dengan pengobatan. Seseorang semakin tua

umurnya akan lebih taat dalam melakukan pengobatan sesuai petunjuk

petugas kesehatan karena mereka mempunyai keinginan yang kuat

untuk sembuh. Biasanya TB paru lebih banyak menyerang pada usia

yang tua karena adanya proses penurunan sistem kekebalan dalam

tubuh.

3. Pendidikan

Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan pada diri

seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan

individu, dan masyarakat, pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan

pada seseorang atau orang lain, bukan seperangkat prosedur yang

harus dilaksanakan atau proses pengembangan yang berubah secara

(41)

informasi, sikap, maupun praktek baru, yang berhubungan dengan

tujuan hidup sehat.

4. Pekerjaan

Pada umumnya, penderita yang terserang tuberkulosis adalah

golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Kebutuhan primer

sehari-hari lebih penting dari pada pemeliharaan kesehatan.

Kemiskinan dan jauhnya jangkauan pelayanan kesehatan dapat

menyebabkan penderita tidak mampu membiayai transportasi

kepelayanan kesehatan dan ini menjadi kendala dalam melakukan

pengobatan, sehingga dapat mempengaruhi keteraturan berobat.

5. Pemakaian OAT sebelum pengobatan 6 bulan.

Pemakaian OAT sebelum pengobatan 6 bulan diartikan sebagai

pemakaian OAT yang diberikan sebelum berakhir proses pengobatan

yang sedang dievaluasi, tetapi tidak mengalami penyembuhan.

Pemakaian OAT sebelumnya berkaitan dengan resistensi, makin lama

makin sering dan makin teratur pemakaian OAT akan makin

meningkat kemungkinan resisten OAT terhadap mycobacterium

tuberculosis.

6. Keteraturan Minum Obat

Keteraturan minum obat diukur sesuai dengan petunjuk

pelaksanaan yang telah ditetapkan yaitu dengan pengobatan lengkap

sampai dalam jangka waktu pengobatan sampai 100% (68 kali).

Keteraturan pengobatan apabila kurang dari 90% maka akan

mempengaruhi penyembuhan. Obat Anti Tuberculosis (OAT) harus

(42)

awal guna menghindari terjadinya kegagalan pengobatan serta

terjadinya kekambuhan.

C. Kerangka Teori

(43)

Keterangan :

: gambar kotak: variabel yang diteliti

: gambar kotak titik-titik: variabel yang tidak diteliti

Gambar 2.2: Kerangka Konsep

E. Hipotesa

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara peran

Pengawas Menelan Obat (PMO) dengan keberhasilan pengobatan penderita

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

Jenis dan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian correlational research yaitu

mengetahui hubungan antara peran pengawas menelan obat dengan angka

keberhasilan pengobatan TB Paru. Metode penelitian yang digunakan

adalah survey dengan wawancara dengan kuesioner melalui pendekatan

retrospektif yaitu penelitian berupa pengamatan terhadap

peristiwa-peristiwa yang yang telah terjadi bertujuan untuk mencari faktor yang

berhubungan dengan penyebab. (Arikunto, 2006).

Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi penelitian adalah semua pasien penderita TB paru yang telah

mendapat pengobatan pada selama tahun 2011 dengan jumlah 50

penderita dimana akhir pengobatanya dihitung pada tahun 2011.

2. Sampel

Sampel penelitian ini adalah sebagian yang diambil dari seluruh obyek

yang diteliti dianggap mewakili seluruh populasi. Pengambilan sampel

dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu sampel penelitian

diambil seluruhnya dari populasi. Jadi sampel dalam penelitian ini

(45)

Kriteria inklusi pada penelitian ini:

a. Pasien TB yang tinggal menetap di Wilayah

Kerja Puskesmas Wonosobo I.

b. Pasien TB yang baru pertama kali menjalani

pengobatan TBC (kasus baru).

c. Pasien TBC yang mampu berkomunikasi

dengan baik dan tidak buta huruf.

d. Bersedia menjadi responden.

Kriteria eksklusi:

a. Pasien TB yang berobat tidak teratur di Puskesmas Wonosobo I.

b. Pasien TB yang sudah selesai menjalani pengobatan TB di Puskesmas

Wonosobo I.

c. Pasien TB yang menjalani pengobatan ulang TB (kasus kambuh).

d. Pasien TB yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik.

e. Tidak bersedia menjadi responden.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Wonosobo I pada bulan Mei

2012.

Variabel Penelitian

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah peran Pengawas Menelan Obat

(PMO). Sedangkan variabel terikatnya adalah keberhasilan pengobatan TB

(46)

Definisi Operasional

Tabel 3.1. Definisi Operasional

Variabel OperasionalDefinisi Cara Ukur Hasil Ukur SkalaUkur

(47)

Variabel OperasionalDefinisi Cara Ukur Hasil Ukur SkalaUkur

selama 6 bulan

Metode Pengumpulan Data

1. Sumber Data

a. Data Primer

Data yang diperoleh secara langsung mendatangi responden

dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner pada responden.

b. Data Sekunder

Data yang didapatkan dari dokumen pencatatan dan laporan di

Puskesmas Wonosobo I.

2. Prosedur penelitian :

a. Mengurus perijinan penelitian ke Puskesmas Wonosobo I.

b. Melakukan wawancara pada responden yang datang di Puskesmas

Wonosobo I

c. Hasil dari kuesioner dilakukan pengolahan data dan diperoleh data

peran PMO terhadap tingkat keberhasilan pengobatan TB Paru.

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang akan digunakan adalah kuesioner tentang

PMO dan pemeriksaan mikroskopis BTA. Kuesioner penelitian tentang PMO

terdiri dari 15 pertanyaan dengan pilihan jawaban ya dan tidak. Sedangkan

instrumen keberhasilan pengobatan TB paru menggunakan pemeriksaan

makroskopis BTA dan dicatat dalam lembar penilaian keberhasilan.

(48)

Indikator Jumlah soal Nomor Soal

PMO 1 soal 1

Peran PMO 4 soal 2, 3, 4, 5

Tugas PMO 3 soal 6, 7, 8

Informasi yang disampaikan PMO 7 soal 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15

Jumlah 15 soal

Sebelum digunakan untuk mengambil data, terlebih dulu dilakukan uji coba

kuesioner terhadap 20 responden yang memiliki karakteristik yang sama

dengan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Uji coba dilakukan di

Puskesmas Selomerto. Hasil uji coba kuesioner peran PMO didapatkan nilai r

hitung sebesar 0,571-0,895, lebih besar dari r tabel pada n= 20 yaitu 0,444,

dengan demikian kuesioner peran PMO dikatakan valid.

Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilaksanakan dengan tahap

sebagai berikut :

a. Editing (penyuntingan)

Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan terhadap semua isian pada

semua item pertanyaan dalam kuesioner untuk mengetahui beberapa

faktor tingkat keberhasilan pengobatan TB Paru. Dengan kelengkapan

pengisian konsisten dan relevansi serta kejelasan jawaban.

b. Coding (penyajian)

Kegiatan tahap ini adalah mengubah informasi dengan menggunakan

kunci jawaban yang telah disusun dalam bentuk angka untuk

memudahkan proses pengolahan selanjutnya mengenai isi kuesioner

(49)

1) Peran PMO diklasifikasikan menjadi :

a) Peran PMO mendukung, jika PMO melaksanakan

perannya skor >=50% (Arikutno, 2007)

b) Peran tidak mendukung, jika PMO melaksanakan

perannya jika skor <=50% (Arikunto, 2007)

2) Keberhasilan pengobatan TB diklasifikasikan menjadi :

a) Berhasil jika hasil pemeriksaan BTA (-) negatif

b) Tidak berhasil jika hasil pemeriksaan BTA (+) positif

c. Tabulating (tabulasi)

Memasukan data hasil survai tingkat keberhasilan pengobatan

TB Paru dengan peran PMO kedalam tabel-tabel sesuai dengan kriteria

kegiatan memasukan data (entry data) dilakukan melalui bantuan

komputer. terhadap semua data pada kuesioner.

2. Analisis Data

Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat sebagai

berikut:

a. Analisis Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk menggambarkan masing-masing

variabel dengan membuat tabel distribusi frekuensi dan persentase.

Penghitungan analisis univariat didasarkan pada rumus:

% 100

x N

f

P

Keterangan:

(50)

f: frekuensi kejadian

N: jumlah sampel

b. Analisis Bivariat.

Untuk mengnalisis hubungan antara peran PMO dengan keberhasilan

pengobatan menggunakan uji chi square (tabel silang) dengan tingkat

kemaknaan sebesar 95%. Penghitungan chi square dengan rumus:

ƒh : frekuensi yang diharapkan

Untuk uji kai kuadrat digunakan derajat kepercayaan (Confident Interval

95%), dan batas kemaknaan alfa 5% (0,05), bila diperoleh p < 0,05, berarti

secara statistik ada perbedaan yang signifikan antara variabel independen

dengan variabel dependen, dan bila p > 0,05 berarti secara statistik tidak

ada perbedaan yang signifikan antara variabel independen dengan variabel

dependen (Sabri & Hastono, 2010).

Etika Penelitian

Penelitian akan dilakukan setelah mendapatkan rekomendasi dari

institusi pendidikan kemudian mengajukan ijin kepada tempat penelitian

(51)

1. Prinsip manfaat

a. Bebas dari penderitaan, artinya dalam penelitian ini tidak

menggunakan tindakan yang menyakiti atau membuat responden

menderita.

b. Bebas dari eksploitasi, artinya data yang diperoleh tidak digunakan

untuk hal-hal yang merugikan responden.

2. Prinsip menghargai hak

a. Informed consent

Sebelum dilakukan pengambilan data penelitian, calon responden

diberi penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian yang

dilakukan, apabila calon responden bersedia untuk diteliti maka calon

responden harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, dan jika

calon responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak boleh

memaksa dan tetap menghormatinya.

b. Anonymity

Untuk menjaga kerahasiaan responden dalam pengolahan dan

penelitian, peneliti akan menggunakan nomor atau kode responden.

c. Confidientiality

Informasi yang diberikan oleh responden serta semua data yang

(52)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan di Puskesmas Wonosobo I dimulai pada tanggal 7 Mei 2012. Berdasarkan kriteria sampel dan persyaratan dalam pemilihan sampel ditentukan sebanyak 50 responden.

a. Peran PMO

Tabel 4.1: Distribusi frekuensi responden berdasarkan peran PMO di Puskesmas Wonosobo I, n= 50.

Peran PMO Frekuensi Persentase (%)

Tidak mendukung 23 46,0

Mendukung 27 54,0

Jumlah 50 100,0

Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa sebagian besar peran PMO adalah mendukung yaitu sebanyak 27 responden (54,0%) dan yang tidak mendukung sebanyak 23 responden (46,0%).

b. Keberhasilan Pengobatan

Tabel 4.2: Distribusi frekuensi responden berdasarkan keberhasilan pengobatan di Puskesmas Wonosobo I, n= 50.

Keberhasilan berhasil dalam pengobatan TB yaitu sebanyak 38 responden (76,0%) dan hanya 12 responden (24,0%) yang tidak berhasil dalam pengobatan TB.

Peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB

Tabel 4.3: Tabel silang antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I, n= 50.

Peran PMO

Keberhasilan pengobatan

Jumlah Berhasil berhasilTidak

f % f % f %

Tidak Mendukung 13 56,5 10 43,5 23 100,0

Mendukung 25 92,6 2 7,4 27 100,0

Jumlah 38 76,0 12 24,0 50 100,0

P value: 0,008

(53)

pengobatan TB dipengaruhi oleh peran PMO yang tidak mendukung sebanyak 43,5% (10 responden).

Hasil uji analisis dengan menggunakan uji chi square antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I didapatkan nilai p 0,008, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I.

B. Pembahasan

1. Peran PMO

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar peran PMO adalah mendukung yaitu sebanyak 27 responden (54,0%) dan yang tidak mendukung sebanyak 23 responden (46,0%). Hasilnya sebagian besar peran PMO mendukung klien untuk melakukan pengobatan TB. Sebagian besar PMO mendukung terhadap pengobatan pasien TB dimungkinkan karena PMO merasa sangat perlu untuk membantu menyelesaikan masalah penyakit yang dialami oleh penderita karena khawatir jika tidak dibantu untuk menyelesaikan akan berdampak tidak baik bagi anggota keluarganya yang lainnya. Hal ini dikarenakan pasien TBC perlu mendapatkan pengawasan langsung agar meminum obat secara teratur sampai sembuh.

Peran PMO antara lain mengingatkan untuk menelan obat setiap hari, mengingatkan untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan, memberikan penyuluhan tentang gejala-gejala TB paru kepada anggota keluarga yang lain, menyarankan untuk memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan apabila ada anggota keluarga yang menederita batuk lebih dari 3 minggu, menyampaikan bahwa TB paru bukan penyakit keturunan atau kutukan, menyampaikan bahwa TB paru dapat disembuhkan dengan berobat teratur, memberikan penyuluhan tentang pentingnya berobat secara teratur, memberikan penyuluhan tentang resiko apabila tidak minum obat secara teratur, memberikan penyuluhan tentang cara penularan TB paru, menginformasikan tentang efek samping obat yang ditelan, menginformasikan tentang tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi efek samping, dan menginformasikan tentang tata cara pengobatan TB paru secara lengkap.

Peranan PMO dalam pelaksanaan metode DOTS sangat berpengaruh dalam menentukan perubahan sikap pasien terhadap keteraturan pengobatan (Hadin dan Nizar, 2005). Jika pengawasan keteraturan pengobatan dilaksanakan dengan baik, keteraturan dan kesembuhan akan lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Subekti (2007) bahwa PMO secara signifikan memberikan dukungan terhadap kesembuhan pengobatan pasien TB. Faktor yang mendukung keberhasilan pengobatan TB menurut Subekti (2007) antara lain adanya PMO, keteraturan berobat, dan pendapatan.

(54)

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden berhasil dalam pengobatan TB yaitu sebanyak 38 responden (76,0%) dan hanya 12 responden (24,0%) yang tidak berhasil dalam pengobatan TB. Hasilnya adalah sebagian besar responden berhasil melakukan pengobatan TB. Sebagian besar responden berhasil dalam melakukan pengobatan, hal ini dimungkinkan karena adanya PMO yang ikut serta membantu mengawasi penderita minum OAT secara teratur. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Danusantoso (2000) menyatakan bahwa saat ini semua penderita secara teoritis harus dapat disembuhkan, asal saja yang bersangkutan rajin berobat sampai dinyatakan selesai, terkecuali bila dari awal basil TBC yang dihadapi sudah resisten terhadap berbagai tuberkulosis yang lazim dipakai. Hal ini mudah dimengerti karena kalau penderita tidak tekun meminum obatnya, hasil akhirnya adalah kegagalan penyembuhan ditambah dengan timbulnya basil TB multiresisten.

Pada umumnya kegagalan pengobatan disebabkan oleh karena pengobatan yang terlalu singkat, pengobatan yang tidak teratur dan obat kombinasi yang jelek (Crofton, 2002). Penelitian Dahlan (1997) yang dikutip oleh Hadin dan Nazir (2005) menyatakan bahwa kesembuhan lebih dari sama dengan 85% karena disebabkan keteraturan pengobatan yang kurang sehingga timbul resistensi obat dan pengobatan menjadi tidak tuntas.

Pengobatan yang salah atau tidak adekuat mungkin menyebabkan kegagalan dalam menyembuhkan penderita, membuat dia kebal terhadap obat-obatan dan menyulitkan penyembuhan serta membuat dia hidup dengan infeksi yang sudah kebal terhadap pengobatan sehingga memudahkan penularan kepada orang lain (Crofton, 2000).

3. Analisis hubungan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan

TB di Puskesmas Wonosobo I

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa keberhasilan pengobatan TB didukung oleh peran PMO yang mendukung pada responden sebanyak 92,5% (25 responden), sedangkan ketidak berhasilan pengobatan TB dipengaruhi oleh peran PMO yang tidak mendukung sebanyak 43,5% (10 responden).

Hasil uji analisis dengan menggunakan uji chi square antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I didapatkan nilai p 0,008, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I.

(55)

Peran PMO dengan keberhasilan pengobatan sangat penting, karena penderita selama menjalani pengobatan yang panjang kemungkinan ada rasa bosan harus setiap hari mengkonsumsi obat, sehingga dikhawatirkan terjadi putus obat atau lupa minum obat karena putus asa penyakitnya tidak sembuh-sembuh. Peran PMO diharapkan dapat mencegah putus obat karena bila terjadi untuk pengobatan selanjutnya memerlukan waktu yag lebih panjang. Terlaksananya peran PMO dengan baik yaitu untuk menjamin ketekunan, keteraturan pengobatan, menghindari putus pengobatan sebelum obat habis, mencegah ketidaksembuhan pengobatan, memantau konsumsi makanan penderita TB paru dalam hal ini protein (Depkes RI, 2001).

(56)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Sebagian besar peran PMO adalah mendukung yaitu sebanyak (54,0%)

dan yang tidak mendukung sebanyak (46,0%).

2. Sebagian besar responden berhasil dalam pengobatan TB yaitu sebanyak

(76,0%) dan yang tidak berhasil dalam pengobatan TB sebanyak (24,0%). 3. Terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap

keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Wonosobo I p value: 0,008 (p <

0,05)

B. Saran

1. Bagi PMO

a. PMO perlu meningkatkan kinerja terutama dalam hal memberikan

informasi (penyuluhan) pada anggota keluarga dengan TB karena jika

informasi tidak diberikan dikhawatirkan akan terjadi penularan

penyakit TB lebih banyak. 2. Bagi perawat

a. Perawat agar meningkatkan kinerja dalam memberikan perawatan pada

penderita TB, dengan selalu memotivasi dan memberikan reward pada

PMO untuk menjalankan tugasnya secara teratur.

b. Perawat dapat mengoptimalkan perannya sebagai edukator dengan

melakukan edukasi tentang pentingnya keberhasilan pengobatan dan

konsekwensi pengobatan TB yang tidak berhasil 3. Ilmu keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi ilmu

keperawatan tentang arti penting kinerja PMO bagi penderita TB paru

(57)

terkait tentang kebutuhan kualitas pelayanan yang memadai melalui

penyuluhan kepada pasien TB paru dan PMO.

4. Bagi peneliti lebih lanjut

a. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan variabel lain yang lebih

kompleks faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan

tuberkulosis sehingga dapat mengetahui faktor-faktor yang

mempengaruhi keberhasilan pengobatan pada pasien TB paru secara

lengkap.

b. Perlu dilakukan penelitian kualitatif dan penelitian dengan observasi

yang dapat menggambarkan kinerja pengawas minum obat pada pasien

(58)

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier. M. Idris F.2000 The Involment of the private Practioness an Tuberculosis Control Program Throught DOTS Strategy : A Discourse. Majalah Kesehatan. 50 : 497-498.

Bhisma murti. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Jogyakarta.

B.Y Yan..1992. Anti Tuberculosis Chemotherapy And It’s Rotation to Tuberculosis Control In China. Pros 12th. Asia Pasifik Congress an desease of the chest.. .

Dahlan Z.1997. Diagosa dann Penataksanaan Tberkulosis. Cermin Dunia Kedokteran., 115 : 8-12.

Depkes RI. 2002. Pedoman Nasional Penangulangan Tuberkulosis. Jakarta.

Depkes.RI. 2003. Pedoman Penemuan dan Pengobatan Penderita TB Paru. Jakarta. Depkes.

Depkes RI. 2001. Buku Petunjuk Praktis Bagi Petugas dan Pelaksana Penanggulangan TBC di Unit Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Depkes.

Depkes RI. 2003. Pedoman Tuberkulosis Paru. Jakarta.

Dep Kes RI 2007. Pedoman Penyakit Tuberkulosis Dan Penanggulangannya.

Kanwil Depkes Propinsi Jateng. 2000. Buku Pedoman Bagi Pengawas Menelan Obat. Semarang. P3M

Mangkunegara, H dan Suryatenggara W. 1994. Pedoman Praktisi Diagnosa dan Penatalaksana Tuberkulosis Paru. Cetakan ke-2. Jakarta : Yayasan Penerbit IDA.

Muharman Harun, Ella Sutiana. 2002. Tuberkulosis Klinis. Widya Medika.. Jakarta

Nadesul, Hendrawan. 2006. Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan TB Paru. Jakarta : Puspas Swara.

(59)

Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Wardoyo. 1997. Waspadai Ancaman Kesehatan Kita. Aneka Ilmu. Solo

Warijan.1991. Tes gaya hasil objektif IKIP Pres. Semarang.

Wukir Sari. Skripsi 2005. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap PMO Dengan Pencegahan Penyakit Tuberculosis Paru Di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang. UNIMUS. Semarang.

(60)

Lampiran4

JADUAL PENELITIAN

No KEGIATAN Mei

2012

Juni 2012

Juli 2012

Agustus 2012

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 StudiPendahuluan

2 Pengambilan data

3 Penyusunan proposal

4 Konsultasi

5 Pengumpulan proposal 6 Presentasi proposal

7 Perbaikan proposal 8 Penelitian

9 Konsultasi

10 Presentasiakhir 11 Perbaikan

Gambar

Tabel 3.1. Definisi Operasional
Tabel 4.2: Distribusi  frekuensi  responden  berdasarkan  keberhasilanpengobatan di Puskesmas Wonosobo I, n= 50.

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Antara Pengawas Menelan Obat (Pmo) Dan Peran Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Di Wilayah Kerja Puskesmas Sario Kota Manado. Jurnal

Berdasarkan hasil penelitian ini, tidak ada hubungan peran pengawas menelan obat (PMO) terhadap keberhasilan pengobatan tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Johar

Selamat pagi/siang Bapak/Ibu, pada hari ini, saya Filza Rifqi Aufa Aslam akan melakukan penelitian yang berjudul &#34;Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) Terhadap

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran peran petugas kesehatan dan pengawas menelan obat (PMO) dalam pengobatan TB Paru dengan strategi DOTS pada

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran peran petugas kesehatan dan pengawas menelan obat (PMO) dalam pengobatan TB Paru dengan strategi DOTS pada

sedangkan pada kelompok kontrol yang PMO yang mengingatkan untuk periksa dahak ulang penderita adalah sebesar 75% dan yang tidak mengingatkan sebesar 25%,

“Hubungan Peran Kader Tuberkulosis Sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) Dengan Pengobatan Pencegahan Isoniazid (PP INH) Pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Sukorambi

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran peran petugas kesehatan dan pengawas menelan obat (PMO) dalam pengobatan TB Paru dengan strategi DOTS pada