UJI EFEKTIFITAS
Beauveria basianna
DAN
Bacillus thuringiensis
TERHADAP ULAT API (
Setothosea asigna Eeck
) DI LABORATORIUM
SKRIPSI
OLEH :
BOY TARIGAN
060302028
HPT
DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
UJI EFEKTIFITAS
Beauveria basianna
DAN
Bacillus thuringiensis
TERHADAP ULAT API (
Setothosea asigna Eeck
) DI LABORATORIUM
SKRIPSI
OLEH : BOY TARIGAN
060302028 HPT
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
Disetujui oleh:
Komisi Pembimbing
Ketua Anggota
(Ir.Syahrial Oemry,MS)
DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
(Ir.Mena Uly Tarigan,MS)
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRACT
ABSTRAK
Boy Tarigan “Uji Efektifitas Beauveria basianna Dan Bacillus thuringiensis Terhadap Ulat Api Setothosea asigna Eecke” di bawah bimbingan Syahrial Oemry dan Mena Uly Tarigan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32 mdpl. Metode penelitian yang di gunakan adalah Rancangan Acak Lengkap non factorial. Parameter yang di amati adalah persentase mortalitas larva ulat api Setothosea asigna. Hasil penelitian menunjukkan persentasi mortalitas larva ulat api dengan menggunakan Bacillus thuringiensis yang tertinggi pada perlakuan I3
RIWAYAT HIDUP
Boy Tarigan, dilahirkan di Desa Tambunen pada tanggal 02 Juli 1988, putra dari ayah I.
Tarigan dan Ibu T br Sitepu. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara.
Riwayat Pendidikan.
1. Tahun 2000 lulus dari SD NEGRI Tambunen.
2. Tahun 2003 lulus dari SLTP NEGERI 1 Kabanjahe.
3. Tahun 2006 lulus dari SMA YP.DON BOSCO KAM Kabanjahe.
4. Tahun 2006 penulis lulus di Departemen Hama dan Penyakit Perkebunan, Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SPMB.
Pengalaman Kegiatan Akademis
1. Anggota Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman (IMAPTAN).
2. Melaksanakan Peraktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN IV Kebun Bah Birong Ulu Bulan
Juni-Juli 2010.
3. Melaksanakan Penelitian di Laboratorium Hama Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas anugerah dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.
Judul dari skripsi adalah “Uji Efektifitas Beauveria basianna Dan Bacillus thuringiensis Terhadap Ulat Api Setothosea asigna Eeck di Laboratorium” yang bertujuan untuk dapat memperoleh Gelar Sarjana di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pembimbing Ir. Syahrial Oemry, MS selaku ketua Ir. Mena Uly Tarigan, MS selaku Anggota yang telah memberi saran dan kritik dalam menyelesaikan skripsi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Oktober 2010
DAFTAR ISI
Hipotesis Penelitian ... 3
Kegunaan Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman ... 4
Syarat Tumbuh ... 5
Tanah ... 5
Iklim ... 5
Biologi Ulat Api Setothosea asigna Eecke ... 6
Telur ... 6 Tempat dan Waktu Penelitian ... 15
Bahan dan Alat ... 15
Metodologi Penelitian ... 15
Pelaksanaan Penelitian ... 15
Penyediaan Serangga Uji ... 15
Penyediaan Bahan Insektisida Alami ... 15
Penyediaan Suspensi Jamur dan Bakteri ... 16
Parameter Pengamatan ... 16 Persentase Mortalitas Larva ... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase Mortalitas Larva Setothosea asigna ... 17 Histogram Persentase Mortalitas Larva ... 20
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 21 Saran ... 21
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
NO JUDUL HALAMAN
1. Larva Setothosea asigna ... 7
2. Pupa Setothosea asigna ... 7
3. Imago Setothosea asigna ... 8
4. Gejala Serangan Setothosea asigna ... 10
ABSTRACT
ABSTRAK
Boy Tarigan “Uji Efektifitas Beauveria basianna Dan Bacillus thuringiensis Terhadap Ulat Api Setothosea asigna Eecke” di bawah bimbingan Syahrial Oemry dan Mena Uly Tarigan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32 mdpl. Metode penelitian yang di gunakan adalah Rancangan Acak Lengkap non factorial. Parameter yang di amati adalah persentase mortalitas larva ulat api Setothosea asigna. Hasil penelitian menunjukkan persentasi mortalitas larva ulat api dengan menggunakan Bacillus thuringiensis yang tertinggi pada perlakuan I3
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) berasal dari Afrika dan masuk ke Indonesia
pada tahun 1848 yang ditanam di Kebun Raya Bogor. Perkebunan kelapa sawit pertama dibuka
pada tahun 1911 di Tanah Itam Ulu oleh maskapai Oliepalmen Cultuur dan di Pulu Raja oleh
maskapai Huileries de Sumatera-RCMA. Sampai tahun 1939 telah tercatat 66 perkebunan dengan
luas areal ± 100.000 ha (Pahan, 2006).
Kelapa sawit merupakan tanaman yang paling produktif dengan produksi minyak per ha yang
paling tinggi dari penghasil minyak nabati lainnya. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit
terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Sebanyak 85% lebih pasar dunia kelapa sawit dikuasai
oleh Indonesia dan Malaysia (Pahan, 2006).
Ulat api merupakan hama pemakan daun yang terpenting di pertanaman kelapa sawit,
khususnya di Sumatera Utara. Diantara jenis-jenis ulat api, Setothosea asigna Eecke dikenal
sebagai ulat yang paling rakus dan yang paling sering menimbulkan kerugian di pertanaman kelapa
sawit baik pada tanaman muda maupun pada tanaman tua (Desmier de Chenon., 1989).
Pengendalian hama ulat pemakan daun kelapa sawit merupakan suatu faktor penting dalam
manajemen perkebunan kelapa sawit. Sampai kini pengendalian hama ini terus dengan
penyemprotan insektisida kimiawi walaupun banyak menimbulkan akibat sampingan yang tidak
baik. Oleh karena itu konsep pengendalian hama terpadu masih belum secara konsekuen di
laksanakan di perkebunan kelapa sawit.
Pengendalian hayati pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk
sejak lama patogen digunakan dalam pengendalian hayati. Kelompok jamur yang menginfeksi
serangga disebut jamur entomopatogenik. Jamur entomopatogenik yang terkenal adalah Namuraea
rileyi, Metarizium anisopeliae dan Beauveria bassiana. Jamur Beauveria bassiana telah dicoba
untuk mengendalikan hama wereng pada coklat dan hama pengerek buah kopi. Jenis bakteri
patogen yang penting ada dua yaitu Bacillus popiliae dan Bacillus thuringiensis saat ini sangat
menarik dan berkembang sangat cepat. Dampak negatif pestisida yang merugikan kesehatan
masyarakat dan lingkungan hidup semakin lama semakin menonjol. Munculnya resistensi,
resurgensi, peledakan hama skunder dapat mengurangi keuntungan ekonomi pestisida dampak
negatif inilah yang mendorong berkembangnya pengelolaan hama terpadu (PHT) (Untung, 1993)
Kelebihan dari pestisida alami antara lain bahan baku mudah diperoleh di dalam negeri,
relatif aman terhadap hewan bukan sasaran, mudah terurai sehingga tidak mengganggu lingkungan.
Ini berbeda dengan pestisida kimiawi yang terbukti menimbulkan resistensi, resurgensi, dan
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui jenis agensia hayati yang efektif untuk mengendalikan hama ulat api
(Setothosea asigna Eeck) pada pertanaman kelapa sawit.
Hipotesa Penelitian
Diduga terdapat jenis agensia hayati yang lebih efektif dalam mengendalikan hama ulat api
(Setothosea asigna Eecke) pada pertanaman kelapa sawit
Kegunaan Penelitian
1. Sebagai salah satu syarat untuk dapat melaksanakan penelitian di Departemen Hama dan
Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Anonimus (2010),kelapa sawit diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheopita
SubDivisi : Pteropsida
Kelas : Angiospermae
Subkelas : Monocotyledonae
Ordo : Cocoideae
Famili : Palmae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guinensis Jacq.
Akar yang pertama muncul dari biji yang telah berkecambah adalah radikula yang
panjangnya 15 cm. Selanjutnya akan tumbuh akar primer yang keluar dari bagian bawah batang
dengan arah 45º dari permukaan tanah. Dari akar primer ini akan tumbuh akar sekunder, tertier dan
kwarter. Penyebaran akar sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah (Pahan, 2006).
Batang berbentuk silindris dan mempunyai diameter 45 cm – 60 cm pada tanaman dewasa.
Bagian bawah umumnya lebih besar disebut bongkol batang. Tinggi tanaman sangat bervariasi
Daun terdiri dari pelepah daun, anak daun dan lidi. Setiap anak daun terdiri dari lidi dan dua
helaian daun. Pelepah daun letaknya pada batang menurut spiral, ada yang kearah kiri dan
umumnya kearah kanan. Dalam satu tandan di jumpai bunga jantan dan bunga betina (Pahan,
2006).
Syarat Tumbuh
Tanah
Tanaman kelapa sawit tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti podsolik, latosol,
hidromorfik kelabu, regosol, andosol, organosol dan alluvial. Tekstur lempung atau lempung
berpasir, pH tanah 4,0 – 6,0 (Anonimus, 2010).
Iklim
Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah disekitar Lintang Utara –
Selatan 12º. Jumlah curah hujan yang baik adalah 200 – 2500 mm/tahun. Temperatur yang optimal
Biologi Ulat Api Setothosea asigna Eecke (Lepidoptera : Limacodidae)
Menurut Kalshoven (1981), Setothosea asigna di klasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Spesies : Setothosea asigna Eeck
Telur
Telur diletakkan berderet 3 – 4 baris sejajar dengan permukaan daun sebelah bawah,
biasanya pada bawah pelepah daun ke 6 – 17. Satu tumpukan telur berisi sekitar 44 butir dan seekor
ngengat betina mampu menghasilkan telur 300 – 400 butir telur menetas 4 – 8 hari setelah
diletakkan. Ulat yang baru menetas hidup berkelompok, mengikis daging daun dari permukaan
bawah (Prawirosukarto, 1997).
Larva
Ulat berwarna hijau kekuningan dengan bercak – bercak yang khas di bagian punggungnya.
Selain itu, di bagian punggungnya juga dijumpai duri – duri yang kokoh (Prawirosukarto, 1997).
Larva yang baru menetas hidup berkelompok, mengikis daging daun dari permukaan bawah
Pada instar 2 – 3 larva memakan daun mulai dari ujung ke arah bagian pangkal daun (Purba
dkk, 2005).
Gambar 4. Larva S. asigna
Sumber. http://staff.unud.content_upload_pict
Pupa
Larva sebelum menjadi pupa menjatuhkan diri pada permukaan tanah yang relatif gembur di
sekitar piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Pupa diselubungi oleh kokon yang terbuat dari
air liur ulat, berbentuk bulat telur dan berwarna coklat gelap. Kokon jantan dan betina masing –
masing berukuran 16 x 13 mm dan 20 x 16,5 mm. Stadia pupa berlangsung selama ± 39,7 hari
(Purba dkk, 2005).
Gambar. Pupa S. asigna
Imago
Imago jantan dan betina masing – masing lebar rentangan sayapnya 41 mm dan 51 mm.
Sayap depan berwarna coklat tua dengan garis transparan dan bintik – bintik gelap, sedangkan
sayap belakang berwarna coklat muda (Prawirosukarto, 1997).
Gambar. Imago S. asigna
Sumber. http:// staff.unud.content_upload_pict
Gejala Serangan
Gejala serangan yang disebabkan ulat api yakni helaian daun berlubang atau habis sama
sekali sehingga hanya tinggal tulang daun saja. Gejala ini dimulai dari daun bagian bawah. Dalam
kondisi yang parah tanaman akan kehilangan daun sekitar 90%. Pada tahun pertama setelah
serangan dapat menurunkan produksi sekitar 69% dan sekitar 27% pada tahun kedua (Fauzi dkk,
2002).
Kerusakan daun tanaman yang demikian menyebabkan tanaman tidak berproduksi sampai
tiga tahun kemudian. Kalau pun terbentuk tandan buah, biasanya terjadi aborsi atau berbentuk
Gambar. Gejala Serangan Ulat Api
Sumber. http:// staff.unud.content_upload_pict
Insektisida Alami
Bacillus thuringiensis Berlinier
Bahan aktif Bacillus thuringiensis Berlinier strain HD-1 varietas kustaki, merupakan bakteri
yang telah diproduksi sebagai insektisida mikrobia dengan nama dagang Thurcide HP yang
merupakan insektisida biologi untuk tepung, dapat bercampur dalam air atau (WP), dengan bahan
aktifnya adalah bakteri ini (serotype IIIa dan IIIb). Cara kerjanya dengan racun perut. Dianjurkan
untuk menyemprot hama – hama pengerek sebelum ulat tersebut masuk ke dalam bagian tanaman
karena thurcide HP buka insektisida kontak atau sistemik. Hama yang memakan bagian tanaman
yang telah disemprot bukannya terus mati tetapi mula – mula akan didahului dengan diam tanpa
makan, setelah itu akan mati kekeringan. Jadi bentuk tubuhnya setelah mati menjadi mengkerut
a. Kelapa sawit yang terserang ulat api Setora nitens dan Settothosea asigna dianjurkan
disemprot dengan konsentrasi 1 – 2 g/l dalam 200 – 400 l/air. Perhektar membutuhkan 350 –
500 g Thurcide HP. Pada serangan berat diulangi 2 minggu kemudian.
b. Tebu yang terserang pengerek batang (Chilo sacchariphagus, Diatraea saccharalis)
disemprot dengan konsetrasi 2 – 3 g/l dalam 200 – 400 l air. Setiap hektar lahan tebu
memerlukan 500 – 800 gr/ha.
c. Kubis terserang perusak daun (P. xylostlla, C. binotalis dan Trichoplusiani). Untuk
menyemprot lahan 1 ha, membutuhkan 500 – 1000 g, dengan konsentarasi pemula 4 – 40 g/l
dalam 200 – 400 l air. ( Curier dan Cynthia, 1990).
Bacillus Thuringiensis berpotensi tinggi mengandung protein. Setelah ulat makan daun yang
disemprot insektisida ini 0,5 – 2 jam kemudian akan berhenti makan dan paling lama 2 hari akan
mati. Insektisida biologi ini hanya mematikan larva tidak menimbulkan masalah terhadap musuh –
musuh ulat seperti predator dan parasit sehingga pengendalian hayati tidak terganggu walaupun
dilakukan secara terus menerus. Ulat yang terserang menjadi malas, bahkan menjadi tidak berwarna
dan lemas, setelah mati mereka menghasilkan bau busuk. Sel – sel bakteri mengandung satu kristal
protein racun demikian juga dalam sporanya. Jika terlarut dalam tubuh serangga Kristal ini
menyebabkan paralysis pada lambung (Howard, 1994).
Menurut Huffaker dan Messenger (1989) racun Kristal itu dalam kenyataannya merupakan
protoksin yang aktif apabila dicerna oleh cairan – cairan yang ada didalam perut Setothosea asigna.
Kristal – Kristal paraseporal yang dicerna hanya meracuni larva S.asigna dimana pH ususnya asam.
Apabila biakan – biakan b. thuringiensis yang telah mengalami sporulasi diberikan kepada
serangga, satu di antara tiga akibat utamanya akan terjadi, tergantung terserang dan tergantung juga
a. Serangga – serangga yang diracuni oleh Kristal beracun, dengan segera menjadi lumpuh,
menunjukkan adanya perubahan patologis dalam jaringan – jaringannya, dan kemudian akan
mati sebelum pertumbuhan yang sesungguhnya atau infeksi B. thuringiensis.
b. Serangga – serangga menunjukkan tanda – tanda keracunan (misalnya berhenti makan) dan
rusaknya epithelium midgut (perut bagina tengah) yang memungkinkan bakteri kedalam
darah dan berakibat suatu septi cemia yang mematikan dengan atau tanpa terjadinya
pertumbuhan bakteri sebelumnya didalam perut.
c. Serangga – serangga relatif tidak rusak oleh kristal karena dalam kasus ini B. thuringiensis
berperilaku seperti B. cereus dan bertindak sebagai pathogen fakultatif atau pathogen
potensial yang mampu menghasilkan septicemia yang mematikan apabila haemocoelnya
Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin
Menurut Barnett dan Berry (1989) jamur Beauveria bassiana dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
Spesies : Beauveria bassiana ( Balsamo ) Vuillemin.
B. bassiana merupakan cendawan yang menyerang wereng batang, wereng daun penggerek
batang, pengulung daun, kepinding padi dan kepinding hitam. Cendawan ini terdapat disemua
lingkungan padi. B. bassiana membutuhkan kelembapan tinggi dan lama untuk tumbuhnya spora –
spora yang terbawa oleh angin atau air. Cendawan ini akan menyerang jaringan lunak dan cairan
tubuh inangnya kemudian tumbuh keluar dari tubuh inangnya bila siap menghasilkan spora kembar.
Spora itu kelihatannya seperti kapur putih, tubuh wereng batang atau kepinding padi.(Shepard dkk,
1991).
Jamur B. bassiana mempunyai sifat – sifat sebagai berikut : konidiofor bercabang dan
berbentuk zig – zag dan menggelembung pada bagian bawahnya. Spora atau konidia mempunyai
ukuran 2 – 3 µ dan dibentuk pada pertumbuhan sel somatic pada ujung konidiofor (Haryono dkk,
1993).
B.bassiana dapat menginfeksi serangga dari ordo Coleoptera dan Lepidoptera. Serangga
mati.Tubuh serangga akan mengeras dan permukaannya penuh dengan warna putih (utomo dan
pardede, 1990)
Infeksi jamur B.basiana di mulai setelah integument serangga terkontaminasi oleh konidia
jamur. Konidia berkecambah dan membentuk tabung kecambah serta menghasilkan enzim
proteinase,lipase dan kitinase.Enzim-enzim ini berguna untuk melunakkan integument serangga
yang terdiri dari kitin (Burges, 1981)
Setelah berhasil melakukan penetrasi kedalam tubuh serangga, miselium akan memproduksi
racun yang di sebut beuverisin. Racun ini dapat merusak struktur membrane sel,sehingga akan
terjadi dehidrasi sel dan berakibat matinya serangga inang. Apabila serangga inang telah mati
miselium akan menembus keluar tubuh serangga dan menghasilkan konidia pada permukaan tubuh
bagian luar (Haryono dkk, 1993)
Pertumbuhan dan perkembangan jamur B. bassiana di alam akan dipengaruhi oleh faktor
suhu, kelembaban dan sinar matahari. B. bassiana dapat berkembang secara optimum pada suhu
BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2011 sampai Agustus 2011 di Laboratorium Hama
Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32
m di atas permukaan laut.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah larva Setothosea asigna instar 3, daun kelapa sawit, Bacillus
thuringiensis, jamur Beauveria bassiana, air, kapas, tissue.
Alat yang digunakan adalah stoples, Erlenmeyer, handsprayer, timbangan elektrik, beaker
gelas, sheaker, kain kasa, karet gelang, kuas, kain muslin, buku data, pulpen.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non factorial yang terdiri dari 7
perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah :
I₀ : Kontrol (air)
I₁ : Bacillus thuringiensis (Thuricide) 25 gr/l air
I₂ : Bacillus thuringiensis (Thuricide) 50 gr/l air
I₃ : Bacillus thuringiensis (Thuricide) 75 gr/l air
I₅ : Beauveria bassiana 50 gr/l air
I₆ : Beauveria bassiana 75 gr/l air
Model linear yang digunakan adalah sebagai berikut:
Yij=µ+ ri + εij
Dalam hal ini :
Yij : Hasil pengamatan perlakuan ke –I dalam ulangan ke-j
µ : Nilai tengah umum
ri : Penyimpangan hasil dari nilai µ yang disebabkan oleh pengaruh perlakuan ke-i
εij : Pengaruh acak yang masuk kedalam percobaan
Pelaksanaan Penelitian
Penyediaan Serangga Uji
Dalam penelitian ini diperlukan adanya keseragaman serangga (instar) pada waktu aplikasi.
Untuk itu diperlukan pembiakan serangga dengan cara rearing. Larva yang didapat di lapangan di
masukkan ke dalam stoples, setiap hari pakan diganti sampai menjadi pupa dan imago. Imago
tersebut bertelur, kemudian telur dibiarkan hingga menetas dan larva dipelihara hingga instar 3.
Larva yang seragam tersebut dimasukkan dalam stoples dimana setiap stoples berisi 5 larva.
Penyediaan Bahan Insektisida Alami
Insektisida alami berupa bakteri Bacillus thuringiensis dan jamur Beauveria bassiana
Pembuatan Suspensi Jamur dan Bakteri
Jamur yang diperoleh kemudian ditimbang sesuai perlakuan dan diletakkan didalam beaker
gelas lalu diencerkan dengan 1 liter aquades. Kemudian akan terbentuk suspense jamur, lalu
suspense tersebut disheaker selama 30 menit agar tercampur dengan rata. Begitu juga dilakukan
untuk bakteri Bacillus thuringiensis.
Aplikasi Insektisida
Suspense jamur dan bakteri yang telah jadi kemudian dimasukkan kedalm handsprayer lalu
disemprotkan sebanyak 10 ml ke makan dan tubuh larva.
Parameter Pengamatan
Persentase Mortalitas Larva
Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah larva yang mati. Pengamatan dilakukan
setiap hari, dimulai sehari setelah aplikasi. Persentase larva yang mati dihitung dengan rumus :
� = �
�+� ���� %
Keterangan :
M = Mortalitas
a = Jumlah larva yang hidup
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase Mortalitas Setothosea asigna
Hasil pengamatan rata-rata analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan yang
diberikan dengan menggunakan Bacillus thuringiensis dan Beuveria bassiana memberi pengaruh
sangat nyata terhadap mortalitas larva Setothosea asigna di laboratorium. Hal ini dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Rataan pengaruh aplikasi Bacillus thuringiensis dan Beauveria bassiana terhadap mortalitas larva Setothosea asigna (%) pada pengamatan I-VI.
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 1%.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa mortalitas larva tertinggi terdapat pada perlakuan I3
(Bacillus thuringiensis 75 gr/l) di banding I2 (Bacillus thuringiensis 50 gr/l) dan I1 (Bacillus
thuringiensis 25 gr/l) hal ini di karenakan perlakuan I3 lebih tinggi konsentrasinya di banding I2
dan I1 sehingga daya bunuh lebih tinggi yang sesuai dengan pernyataan Howard (1994) yang
menyatakan bahwa penyebab terbunuhnya hama di karenakan oleh kristal yang terkandung Bacillus
Dari Tabel dapat dilihat bahwa perlakuan Beauveria bassiana yang lebih efektif terdapat
pada perlakuan I6 (Beauveria bassiana 75 g/l) di banding I5 (Beauveria bassiana 50 g/l) dan I4
(Beauveria bassiana 25 g/l).Hal ini di karenakan perlakuan I6 lebih tinggi konsentrasinya
dibandingkan dengan perlakuan I5 dan I4 sehinga daya bunuh lebih tinggi yang sesuai dengan
pernyataan Buger (1981) yang menyatakan bahwa penyebab terbunuhnya hama dikarenakan oleh
enzim proteinase dan lifase yang berfungsi untuk membentuk konidia dan berkecambah pada tubuh
serangga yang di kandung Beauveria bassiana dan terkandung pada besarnya dosis.
Hasil penelitian menyatakan bahwa dari pengamatan I-VI persentase mortalitas tertinggi
terdapat pada perlakuan I3 (Bacillus thuringiensis 75 g/l) I6 (Beauveria bassiana 75 g/l) yaitu
sebesar 100% dibandingkan dengan seluruh perlakuan lainnya. Dari hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi dosis insektisida biologi yang diaplikasikan maka semakin besar
pula persentase mortalitas dari larva. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dosis insektisida
berbanding lurus dengan persentase mortalitas. Ini dikarenakan dengan bertambahnya dosis atau
konsentrasi maka kandungan bahan aktif yang diaplikasikan juga bertambah.(Karimah, 2006).
Penggunaan insektisida biologi sangat baik untuk diaplikasikan, ini dikarenakan insektisida
biologi hanya menyerang hama dan tidak menimbulkan masalah terhadap musuh-musuh alami dari
larva tersebut seperti predator dan parasitoid sehingga keberadaan musuh alami di lapangan dapat
dipertahankan sehingga tidak merusak ekosistem musuh alami. Berbeda dengan penggunaan
insektisida kimia yang dapat membunuh seluruh serangga baik hama maupun musuh alami.
Pengendalian biologi juga dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama di lapangan,
sehingga tidak perlu dilakukan aplikasi sesering mungkin. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Howard (1994) yang menyatakan bahwa insektisida biologi hanya mematikan larva dan tidak
menimbulkan masalah terhadap musuh-musuh alami seperti predator dan parasitoid sehingga dapat
Dari hasil pengamatan yang dilakukan gejala serangan yang disebabkan oleh penggunaan
Bacillus thuringiensis adalah ulat yang terserang berhenti makan, ulat menjadi lemas. Setelah mati
ulat membusuk, mengeluarkan cairan dan menghasilkan bau busuk. Sedangkan gejala yang
disebabkan Beauveria bassiana adalah cendawan ini menyerang tubuh inangnya dan menghisap
seluruh cairan dari tubuh inangnya. Berkembang tumbuh keluar dari tubuh inangnya dan
menghasilkan spora. Tubuh inangnya menjadi keras seperti mumifikasi.
Dari grafik dapat di lihat bahwa dosis perlakuan yang berbeda menghasilkan mortalitas
Setothosea asigna yang berbeda. Di antara semua perlakuan, mortalitas Setothosea asigna
tertinggi terdapat pada perlakuan I3 B.Thuringiensis ( 75 g/l) sebesar 100 % pada pengamatan
18 Hsa. Dan I6 B.Bhassiana (75 g/l) sebesar 100 % pada pengamatan 18 Hsa. Sedangakan
mortalitas terendah terdapat pada I1 B.Thuringiensis (25 g/l) sebesar 6,67% pada pengamatan
3 Has. Hal ini dikarenakan semakin tinggi dosis atau konsentrasi maka kandungan bahan aktif
yang di aplikasikan juga bertambah. (Karimah, 2006).
0.00
Histogram Persentase Mortalitas Larva
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Persentase mortalitas larva Setothosea asigna Eecke dengan perlakuan insektisida alami bahan aktif Bacillus thuringiensis yang tertinggi terdapat pada perlakuan I3 (75 g/l) sebesar 100% pada pengamatan ke VI(18 Has).2.
Persentase mortalitas larva Setothosea asigna Eecke dengan perlakuan insektisida alami bahan aktif Beauveria bassiana yang tertinggi terdapat pada perlakuan I6 (75 g/l) sebesar 100% pada pengamatan ke VI(18 Has).3.
Bacillus thuringiensis dan Beuveria bassiana memberi pengaruh sangat nyata terhadap mortalitas larva Setothosea asigna dibadingkan kontrol.4. Semakin tinggi konsentrasi Bacillus thuringiensis dan Beuveria bassiana semakin tinggi mortalitas Setothosea asigna.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus a. 2010. http://en.wikipedia.org/wiki/kelapa_sawit. Diakses Tanggal 16 Oktober 2010.
Barnett and Barry. 1998., Illuistrated Genera of Imperfecti Fungy. Second Edition. Burges Publishing Company.
Currier, T.C and G.B. Cynthia. 1990. Commercial Developement of Bacillus thuringiensis Bio Incecticide Product dalam Nakses, J. P and Charles. H. Bioteknology of Land Microba Interaction. Mc Graw Hill Publishing Company, New York.
Desmier de Chenon, R. A. Sipayung and P.S Sudharto. 1989. The importance of Natural enemies on leaf eating caterpillars in oil palm in Sumatera uses and possibilities. Proc. Of the PORIM International Palm Oil Conference.PORIM, Bangi p.245-262.
Fauzi, Yan, Yustina, E.W Imam, S. Rudi. 2002. Kelapa Sawit. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Hariono, H., S. Nuraini dan Rianto. 1993. Prospek Penggunaan Beauveria bassiana Untuk mengendalikan Hama Tanaman Perkebunan. Prosiding Makalah Simposium Patologi Serangga 1.
Howard, E. E. 1994. Incect Biology. Colorado state Univerdity, Addison Wesley Publishing Company, inc. Massachusetts.
Huffaker, C.B. and P. S. Massanger,1989. Teori dan Praktek Pengendalian Biologis. Terjemahan Soeprapto Mangoendihardjo. UI Press.
Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crop in Indonesia. Revised and Translated by P.A Van der Laan. PT. Ihctiar Baru-Van Hoeve, Jakarta
Pahan, I. 2006. Panduan Kelapa Sawit. Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prawirosukarto, S.A, Djamin dan Dj Pardede. 1997. Pengendalian Oryctes rhinoceros dan Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit Secara Terpadu. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.
Purba, A.R, Akiyat, A.D Koedadiri, Dja’far, E.S Sutarta, I.Y Harahap. 2005. Budidaya Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.
Shepard, B. M., A.T. Barion and J.A. Litsinger, 1991. Serangg Serangga, Laba-Laba dan Patogen yang Membantu.Lembaga Penelitian Padi Internasional(IRRI), Los Banos, Laguna, Philipines.
Tohdin, A.T., Listrianto dan B. P. Machdar, 1993. Daya Bunuh Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana terhadap Leptocorixa acuta di Rumah Kaca. Prosiding Makalah Patologi Serangga.
LAMPIRAN
Persentase motalitas larva Setothosea asigna pada pengamatan II
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT F
hitung 0.05 0.01 Perlakuan 6 7370.29 1228.38 51.59 ** 4.00 7.72
Galat 14 333.33 23.81
Total 20 7703.63
FK 301.85
KK 1.38
Uji Jarak Duncan
SY 2.30 -9.68 3.16 6.20 6.02 9.19 12.33 19.98
I 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
SSR 0.01 4.21 4.42 4.55 4.63 4.70 4.78 4.83
LSR 0.01 9.68 10.17 10.47 10.65 10.81 11.00 11.11
Perlakuan I0 I1 I4 I5 I2 I3 I6
Rataan 0.00 13.33 16.67 16.67 20.00 23.33 26.67
A
B
Persentase motalitas larva Setothosea asigna pada pengamatan I
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
Tranformasi data kedalam arc sin √�
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT F
hitung 0.05 0.01 Perlakuan 6 2550.71 425.12 17.85 ** 4.00 7.72
Galat 14 333.33 23.81
Total 20 2884.05
FK 95.15
KK 3.28
Uji Jarak Duncan
SY 2.30 -9.68 -3.50 -3.80 -3.98 -0.81 5.67 10.31
I 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
SSR 0.01 4.21 4.42 4.55 4.63 4.70 4.78 4.83
LSR 0.01 9.68 10.17 10.47 10.65 10.81 11.00 11.11
Perlakuan I0 I1 I4 I5 I2 I3 I6
Rataan 0.00 6.67 6.67 6.67 10.00 16.67 16.67
A
B
Persentase motalitas larva Setothosea asigna pada pengamatan III
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
Tranformasi data kedalam arc sin √�
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT F
hitung 0.05 0.01
Perlakuan 6 37092.17 6182.03 158.97 ** 4.00 7.72
Galat 12 466.67 38.89
Total 18 37558.83
FK 1468.89
KK 0.42
Uji Jarak Duncan
SY 2.94 -12.70 13.29 19.57 22.68 35.77 42.21 45.42
I 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
SSR 0.01 4.32 4.55 4.68 4.76 4.84 4.92 4.96
LSR 0.01 12.70 13.38 13.76 13.99 14.23 14.46 14.58
Perlakuan I0 I4 I1 I5 I2 I3 I6
Rataan 0.00 26.67 33.33 36.67 50.00 56.67 60.00
A
B
Persentase motalitas larva Setothosea asigna pada pengamatan IV
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT F
hitung 0.05 0.01 Perlakuan 6 77575.27 12929.21 332.47 ** 4.00 7.72
Galat 12 466.67 38.89
Total 18 78041.94
FK 3237.33
KK 0.23
Uji Jarak Duncan
SY 2.94 -12.70 36.62 42.91 52.68 52.44 58.87 65.42
I 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
SSR 0.01 4.32 4.55 4.68 4.76 4.84 4.92 4.96
LSR 0.01 12.70 13.38 13.76 13.99 14.23 14.46 14.58
Perlakuan I0 I1 I4 I5 I2 I3 I6
Rataan 0.00 50.00 56.67 66.67 66.67 73.33 80.00
A
B
Persentase motalitas larva Setothosea asigna pada pengamatan V
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT F
hitung 0.05 0.01 Perlakuan 6 114723.23 19120.54 344.17 ** 4.00 7.72
Galat 12 666.67 55.56
Total 18 115389.90
FK 4999.49
KK 0.17
Uji Jarak Duncan
SY 3.51 -8.51 54.01 60.23 63.28 66.32 66.04 72.57
I 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
SSR 0.01 4.32 4.55 4.68 4.76 4.84 4.92 4.96
LSR 0.01 15.18 15.99 16.44 16.72 17.01 17.29 17.43
Perlakuan I0 I1 I4 I5 I2 I3 I6
Rataan 6.67 70.00 76.67 80.00 83.33 83.33 90.00
A
Persentase motalitas larva Setothosea asigna pada pengamatan VI
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT F
hitung 0.05 0.01
Perlakuan 6 155554.91 25925.82 933.33 ** 4.00 7.72
Galat 12 333.33 27.78
Total 18 155888.25
FK 6982.98
KK 0.13
Uji Jarak Duncan
SY 2.48 5.94 75.37 75.04 81.50 84.64 87.78 87.68
I 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
SSR 0.01 4.32 4.55 4.68 4.76 4.84 4.92 4.96
LSR 0.01 10.73 11.30 11.63 11.83 12.03 12.22 12.32
Perlakuan I0 I1 I4 I2 I5 I3 I6
Rataan 16.67 86.67 86.67 93.33 96.67 100.00 100.00
A
B