• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan metode poster session dalam meningkatkan hasil belajar SKI siswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "penerapan metode poster session dalam meningkatkan hasil belajar SKI siswa"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai

Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh

SITI LUPIAH

1110011000068

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Kebudayaan Islam Siswa Di

MTs

At-Taqwa

Tangerang

Kota

clisusun

oieh

Siti

Lupiah,

NIM 1110011000068, Jurusan Pendidikan Agarna Islam (PAI), Fakultas ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam )'legeri Syarif }lidayatullah Jakarta. Telah rnelalui birnbingan dan dinyatakn sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk

diujikan pada sidang mlmaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, 05 Desember 2014

Ahmad Irfan Mufid M.A

(3)

Sejarah Kebudayaan Islam di MTs At-Taqwa Tangerang disusun oleh Siti Lupiah Nomor

Induk Mahasiswa 1110011000068, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqosah pada tanggal 10 Februari 2015 dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S I (S. Pd. D dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

Jakafta, 1 1 Februari 2015

Panitia Ujian Munaqosah

Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Prlgram Studi)

Dr. H. Abdul Majid Khon. M. Ag NIP. 19580707 t98703 1 005

Sekertaris (Sekertaris Jurusan/Prodi)

Marhamah Saleh Lc. MA NIP. 19720313 200801

20r0

Penguji I

Dr. Dimyati. MA

NIP. 19640704199303

I

003

Penguji II

Drs. Masan AF. M. Pd

NrP. 195107t6 t98t03 1 005

\7

--)i<'Z'

..--.-

\

--'

v____\

Tanggal

'L/':.'

Mengetahui: Dekan,

Tangan

L-2Dt{

Dr. Hj. Kurlena fufa'i MA. Ph. D

(4)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama

Tempat/Tgl.Lahir NIM

Jurusan / Prodi Judul Skripsi

Siti Lupiah

Tangerang, 06-September- I 992 1 1 1001 1000068

Pendidikan Agama Islam

PENERAPAN METODE POSTER SESSION DALAM

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SKI SISWA DI

MTS AT-TAQWA TANGERANG KOTA

Dosen Pembimbing : Ahmad Irfan Mufid, M.A

dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri

dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.

Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.

Jakarta,

Mahasiswa Ybs.

(5)

i

Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Desember 2014.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar SKI antara siswa yang menggunakan Metode Poster Session dengan yang diajarkan metode konvensional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan desain NonRandomized control group pretest-postest design. Subyek penelitian ini sebanyak 60 siswa yang terdiri dari 30 untuk siswa kelas eksperimen dan 30 siswa untuk kelas kontrol yang diperoleh dengan teknik proposive sampling pada siswa kelas VII.

(6)

ii

and Teaching Faculty MT, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, December 2014.

The purpose of this study was to determine differences in learning outcomes between students who use the SSP method taught Poster Session with the conventional method. The method used in this study is Quasi-Experiment with design nonrandomized control group pretest-posttest design. The subjects of this study were 60 students consisting of 30 for grade 30 students for the experimental and control classes obtained by proposive sampling techniques in class VII.

(7)

iii

memberikan limpahan rahmat, karunia dan kebaikan, petunjuk serta kekuatan

sehingga penulis dapat melakukan penelitian dan menyelesaikan penulisan skripsi

dengan judul Penerapan Metode Poster Session dalam Meningkatkan Hasil

Belajar Sejarah Kebudayaan Islam Siswa di Madrasah Tsanawiyah At-taqwa Kota

Tangerang

Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan arahan dari

berbagai pihak. Seiring dengan selesainya skripsi ini penulis ingin mengucapkan

terimakasih kepada:

1. Dr. Hj. Nurlena Rifa’i Ph. D, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

(FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

2. Dr. H. Abdul Majid Khon, M. Ag, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

(PAI), dan Hj. Marhamah Shaleh, Lc, MA sebagai Sekertaris Jurusan

Pendidikan Agam Islam (PAI).

3. Bapak A. Irfan Mufid M.A, Dosen pembimbing skripsi penulis ucapkan

terimakasih yang tak terhingga atas saran, kritik dan masukan yang telah

mengarahkan dengan sabar dan penuh harapan sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Dr. Khalimi MA, sebagai dosen pembimbing akademik yang selalu

memberikan motivasi dan saran kepada penulis, terimakasih tak terhingga

untuk pak khalimi

5. Seluruh dosen FITK yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya

kepada penulis, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

6. Ibu Hayati Nufus S.Pd.I, Kepala Sekolah MTs. At-Taqwa, Ibu Suhaibah

selaku guru Sejarah Kebudayaan Islam dan dewan guru serta seluruh staf

(8)

iv

8. Ayahanda H. Sabeni dan Ibunda Hj. Syuhadah tercinta, yang dengan

kesabaran dan kasih sayang memberi dukungan dan motivasi kepada penulis

untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Doa dan keridhoan Ayahanda dan

Ibunda adalah senjata maha dahsyat yang dapat mengantarkan kesuksesan

bagi penulis

9. Keluarga tercinta, keponakanku Nissa, wildan, adikku sholeha dan

kakak-kakak ku tercinta yang telah memberikan motivasi selama penyusunan skripsi

ini.

10. My Smart friend Nurhamimah Hayati, Yani, Siti Suci Lestari yang telah

memberikan tumpangan kosan sebagai sarana menghilangkan lelah, dan

Terimakasih ku PAI kelas B, wish you all the best and I will be miss you all,

serta Teman-teman seperjuangan dijurusan PAI angkatan 2010.

Tangerang, 10 februari 2015

Siti Lupiah

(9)

v

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Perumusan Masalah Penelitian ... 7

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka ... 8

1. Strategi Active Learning………....8

a. Pengertian Strategi Active Learning ... 8

b. Krakteristik Active Learning ... 12

2. Strategi Active Learning tipe Poster Session ... 14

a. Pengertian Metode Poster Session ... 14

b. Kelebihan Metode Poster Session ... 15

c. Kelemahan Metode Poster Session ... 16

(10)

vi

4. Materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) ... 20

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 25

C. Kerangka Berpikir ... 26

D. Pengajuan Hipotesis Penelitian ... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

B. Metode dan Desain Penelitian ... 28

C. Populasi dan Sampel ... 29

D. Instrument Penelitian ... 30

E. Variabel Penelitian ... 31

F. Teknik Pengumpulan Data ... 31

G. Kontrol Terhadap Validitas Internal ... 31

1. Validitas Instrument ... 32

2. Reliabilitas Instrument ... 32

3. Tingkat Kesukaran ... 34

4. Daya Pembeda ... 35

H. Teknik Analisis Data ... 36

1. Uji Normalitas ... 36

2. Uji Homogenitas ………... 39

(11)

vii

1. Uji Prasyarat………..44

a. Uji Normalitas………...44

b. Uji Homogenitas……….…..46

2. Uji Hipotesis………..…49 C. Temuan Penelitian………...52

D. Pembahasan Terhadap Temuan Penelitian………..53

E. Keterbatasan Peneliti………...55

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan ... ..54

B. Implikasi ... ..55

C. Saran ... ..55

(12)

viii

Tabel 3.3 Klasifikasi Tingkat Kesukaran 34

Tabel 3.4 Klasifikasi Daya Pembeda 36

Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas Pretest 45

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Postest 46

Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Pretest 47

Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas Postest 48

Tabel 4.5 Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata Pretest 49

Tabel 4.6 Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata Postest 50

(13)

ix

Lampiran 3: Soal Uji Coba Instrumen 76

Lampiran 4: Rekapitualasi Uji Validitas Instrumen 81

Lampiran 5: Realibilitas Instrumen 85

Lampiran 6: Tingkat Kesukaran 88

Lampiran 7: Daya Pembeda 89

Lampiran 8: Soal Pretest dan Postest 90

Lampiran 9: Uji Normalitas (Pretest Kelas Kontrol) 94

Lampran 10: Uji Normalitas (Pretest Kelas Eksperimen) 96

Lampiran 11: Uji Normalitas (Postest Kelas Kontrol) 98

Lampiran 12: Uji Normalitas (Postest Kelas Eksperimen) 100

Lampiran 13: Uji Homogenitas Pretest 102

Lampiran 14: Uji Homogenitas Postest 105

Lampiran 15: Uji-t Hasil Pretest 108

(14)

1

A. Latar Belakang Masalah

Rumusan yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20

tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Point 1 tentang

istilah “Pendidikan” menjelaskan sebagai berikut:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara1

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang

adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga

mampu memecahkan masalah pendidikan yang dihadapinya. Pendidikan harus

menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi (berupa kecerdasan dan

keterampilan) peserta didik.

Pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan

peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Di dalam proses tersebut

diperlukan guru yang memberikan keteladanan, membangun kemauan, serta

mengembangkan potensi dan kreativitas siswa. Sehingga terciptanya proses

pembelajaran yang menimbulkan interaksi peserta didik dengan guru dan sumber

belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan,

dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien.2

Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik (guru) dan peserta didik

(siswa) untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Pendidik merupakan suatu

1Undang-undang SISDIKNAS (UU RI No. 20 Tahun 2003), (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), cet. 5, hal 3

(15)

komponen pendidikan yang penting dalam menyelenggarakan pendidikan. Oleh

karena tugasnya mengajar, maka seorang guru harus mempunyai wewenang

mengajar berdasarkan kualifikasi sebagai tenaga pengajar. Sebagai tenaga

pengajar, setiap guru harus memiliki kemampuan paedagogik dan profesional

dalam bidang proses belajar mengajar atau pembelajaran. Dengan kemampuannya

itu guru dapat melaksanakan perannya sebagai fasilitator, pembimbing,

komunikator, model pembelajaran, evaluator,dan inovator dikelasnya.3

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005

mengenai Standar Nasional Pendidikan pada Bab IV tentang Standar Proses Pasal

19 point 1 dikatakan bahwa:

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.4

Dari landasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya seorang

pendidik mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencapai tujuan

pendidikan. Selain itu ditekankan juga bahwa seorang pendidik harus kreatif dan

terampil dalam melaksanakan proses pendidikan yang dapat membuat siswa

interaktif, inspiratif, menyenangkan, serta memotivasi peserta didik untuk

berpartisipasi aktif.

Jika guru atau pendidik menginginkan agar tujuan pendidikan tercapai secara

efektif dan efisien, maka penguasaan materi saja tidaklah cukup. Ia harus

menguasai berbagai teknik atau metode penyampaian secara tepat dalam proses

belajar mengajar. Pendidik juga dapat mempergunakan metode mengajar secara

bervariasi, sebab masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan

sehingga dalam penggunaannya pendidik harus menyesuaikan dengan materi yang

di ajarkan dan kemampuan peserta didik.

3 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pengajaran, (Bandung: PT Bumi Aksara, 2009), hal. 9

(16)

Dengan demikian, aktivitas murid sangat diperlukan dalam kegiatan

belajar-mengajar sehingga muridlah yang seharusnya banyak aktif, sebab murid sebagai

subjek didik adalah yang merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan

belajar.5

Aktifitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran dan

aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses

belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Menurut Frobel

mengatakan bahwa anak itu harus bekerja sendiri. Untuk memberikan motivasi,

maka dipopulerkan semboyan berpikir dan berbuat.6 Berpikir dan berbuat adalah

salah satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Begitupun dalam belajar tentu

tidak akan mungkin untuk meninggalkan dua kegiatan tersebut yakni berpikir dan

berbuat.

Definisi Pendidikan agama Islam disebutkan dalam kurikulum 2004 Standar

Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah “Upaya sadar dan

terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,

menghayati, hingga mengimani, ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntunan

untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan

antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa”.

Rumusan tujuan PAI ini mengandung pengertian bahwa proses Pendidikan

Agama Islam yang dilalui dan dialami oleh siswa disekolah dimulai dari tahapan

kognisi yakni pengetahuan dan pemahaman siswa, selanjutnya menuju pada

tahapan afeksi dengan menghayati dan meyakinnya,7 tahapan afeksi ini terkait erat

dengan kognisi, dalam arti penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika

dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai Agama

Islam yang telah diinternalisasikan dalam dirinya (tahapan psikomotorik). Dengan

5 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2010), cet. 24, hal. 21

6 Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007), hal. 96

(17)

demikian akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlak

mulia.

Ruang lingkup pelajaran Pendidikan Agama Islam terbagi menjadi 4 (empat),

yaitu: Fiqih, Qur’an Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Akidah Akhlak. Sehubungan dengan hal ini peneliti memfokuskan penelitian hanya pada mata

pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, yaitu mengenai masalah kurang aktifnya

siswa dalam mengikuti pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang kebanyakan

menurut para siswa cenderung monoton atau membosankan karena masih

banyaknya pendidik yang menggunakan metode konvensional.

Pembelajaran SKI haruslah disampaikan dengan baik, agar nantinya dapat

direfleksikan pada kehidupan sehari-hari, karena hidup pada era saat ini tidak

terlepas dari apa yang pernah terjadi di masa lampau atau dalam arti lain ialah

berkaca dari kehidupan para terdahulu untuk menuju kehidupan selanjutnya,

sehingga pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sangatlah diperlukan ketelitian

agar pemahaman siswa tentang sejarah kebudayaan Islam bisa teraplikasi dalam

pikiran, hati dan perbuatan yang nantinya akan membentuk watak manusia yang

berbudi pekerti dan sadar akan kehidupan yang dijalaninya selama di dunia. Hal

ini merupakan aspek yang tidak bisa terlepas dari adanya kelihaian dan keahlian

para pendidik sehingga nantinya pelajaran SKI menjadi pelajaran yang digemari

oleh siswa, karena SKI tersimpan nilai-nilai yang otentik, misalnya nilai moral,

nilai sosial, nilai kepahlawanan, nilai kepemimpinan, dan nilai agama dan masih

banyak hal-hal lain yang positif yang perlu digali didalamnya.

Metode yang digunakan dalam pembelajaran SKI selama ini masih dikenal

dengan metode klasikal, yaitu cara pembelajarannya melalui ceramah guru dan

murid sebagai pendengar, atau dengan metode menghafal cerita, tokoh, tempat

dan waktu. Siswa dituntut untuk menggali nilai yang terdapat dalam sejarah itu

sendiri, bukan sebagai bahan hafalan, melainkan menjadi bahan refleksi terhadap

keinginan yang dapat dijalani. Siswa mampu mengambil contoh dari sejarah dan

bahkan menjadi pelajaran berharga dalam setiap aktifitasnya, karena dalam

sejarah memiliki serangkaian nilai yang bermanfaat, baik yang nilainya positif

(18)

secara mandiri dan kreatif, dengan harapan tujuan pembelajaran SKI sendiri dapat

terwujud.

Pemilihan metode dalam proses pembelajaran yang jarang melibatkan siswa

untuk aktif, maka semakin sulit tujuan pembelajaran SKI akan tercapai terutama

dalam hasil belajar siswa. Dengan begitu muncullah masalah-masalah yang terjadi

di sekolah MTs At-Taqwa seperti: kejenuhan ketika pembelajaran SKI dan

kurangnya keaktifan siswa di kelas sehingga hasil belajar siswa rendah. Dari

masalah tersebut perlu adanya kreatifitas seorang guru yang dapat menerapkan

metode pengajaran dalam proses pembelajaran aktif, sehingga hasil dari proses

pembelajaran tersebut dapat berjalan secara sempurna dan tidak bertolak belakang

dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Dewasa ini banyak berbagai metode dan model pembelajaran yang telah

dikembangkan dalam rangka meningkatkan keterlibatan siswa dalam menguasai

pelajaran. Seperti beberapa metode yang disebutkan dalam buku Mel Silberman

yang berjudul 101 Strategi Pembelajaran Aktif, salah satunya adalah metode

information search, jigsaw learning, card sort, the power of two, active debate

dan masih banyak yang lainnya.8

Model pembelajaran yang baik tentunya dapat membangkitkan motivasi

belajar siswa serta dapat menciptakan kondisi belajar siswa yang sesuai dengan

perkembangan mental siswa, sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan

prestasi dan hasil belajar siswa.

Metode Poster Session, dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan

semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat

mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang

mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif juga dimaksudkan untuk

menjaga perhatian anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.

Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan penerapan model pembelajaran

Poster Session, maka perlu dilakukan penelitian di MTs At-Taqwa Tangerang

8Mel Silberman, Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka

(19)

yang berjudul: “Penerapan Strategi Active Learning tipe Poster Session dalam

Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Kebudayaan Islam Siswa di Mts At-Taqwa

Tangerang Kota”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, dapat di identifikasikan masalah-masalah

sebagai berikut :

1. Terbatasnya penguasaan model pembelajaran dari guru mata pelajaran

Sejarah Kebudayaan Islam

2. Kurang bervariasi metode yang digunakan dalam pembelajaran Sejarah

Kebudayaan Islam

3. Belum diterapkannya metode Poster Session di Sekolah MTs At-taqwa

4. Kurang aktifnya siswa ketika mengikuti pembelajaran Sejarah

Kebudayaan Islam

5. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang dilakukan hanya berpusat

pada guru

6. Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

7. Hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam masih nelum sesuai dengan tujuan

pembelajaran

C. Pembatasan Masalah

Setelah penulis mengemukakan identifikasi masalah di atas, dapatlah terlihat

luasnya permasalahan yang didapat. Untuk itu supaya memperjelas dan

memberikan arah yang tepat dalam pembahasan skripsi, yaitu: Dalam

meningkatkan hasil belajar siswa di MTs At-Taqwa Tangerang maka diterapkan

Metode yang membuat aktif seperti Poster Session pada mata pelajaran Sejarah

(20)

D. Rumusan Masalah Penelitian

Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Adakah perbedaan hasil belajar SKI siswa yang menggunakan Metode

Poster Session dengan siswa yang menggunakan metode konvensional

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui keberhasilan dari

penerapan Strategi Active Learning tipe Poster Session terhadap hasil belajar

siswa. Sedangkan manfaat hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi Pemerintah, sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam

penyusunan kebijakan-kebijakan dalam rangka peningkatan mutu

pendidikan, khususnya pada pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam agar

lebih optimal

2. Bagi Sekolah, sebagai pengembangan pengetahuan dalam penerapan

Strategi Active Learning tipe Poster Session dalam pelajaran Sejarah

Kebudayaan Islam guna meningkatkan hasil belajar siswa

3. Bagi Peneliti, sebagai pengalaman dan wawasan baru dalam membahas

masalah yang berkaitan dengan pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

(21)

8 A. Deskripsi Teoritik

1. Strategi Active Learning

a. Pengertian Strategi Active Learning

Peristiwa pembelajaran terjadi apabila subjek didik secara aktif berinteraksi

dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru. Tugas utama guru adalah

membelajarkan peserta didik, yaitu mengkondisikan peserta didik agar belajar aktif,

sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dapat berkembang

dengan maksimal. Dengan belajar aktif, melalui partisipasi dalam setiap kegiatan

pembelajaran, akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan peserta didik

untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk

life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya.

Agar terciptanya proses komunikasi antar siswa, guru dan lingkungan belajar

maka pemilihan strategi pembelajaran harus diatur sedemikian rupa sehingga akan

diperoleh dampak pembelajaran secara langsung ke arah perubahan tingkah laku

sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pembelajaran.8

Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of

activities designed to achieves a particular educational goal. Jadi, dengan demikian

strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang

rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kemp menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan

pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat

dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas, Dick dan Carey

juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan

(22)

prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan

hasil belajar pada siswa.9

Strategi pembelajaran merupakan rancangan dasar bagi seorang guru tentang cara

ia membawakan pengajarannya dikelas secara bertanggung jawab.10 Strategi juga

adalah Cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk

menyampaikan materi pelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai

tujuan pembelajaran yang diharapkan akan dikuasainya di akhir kegiatan

pembelajarannya. Strategi pembelajaran yang akan dipilih dan digunakan guru

bertitik tolak dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sejak awal. Agar

diperoleh tahapan kegiatan pembelajaran yang berdaya dan berhasil guna.11

Adapun kaitannya dengan pembelajaran aktif (active learning), maka strategi

diartikan sebagai “suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subjek didiknya

terlihat secara intelektual dan emosional, sehingga siswa betul-betul berperan dan

berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pengajaran

dapat dicapai lebih baik”.12

Dalam Standar Proses Pendidikan, pembelajaran di desain untuk membelajarkan

siswa. Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek belajar.

Dengan kata lain, pembelajaran ditekankan atau berorientasi pada aktivitas siswa.13

Bahwa proses pembelajaran akan lebih berhasil bila peserta didik secara aktif

9Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2008), hal.126

10Isjoni, Saatnya Pendidikan Kita Bangkit, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal. 103

11 Iif Khoiru Ahmadi dkk, Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011), hal. 9

12 Nana Sudjana dan Arif Daeng, Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: CV Sinar Baru, 1988), cet. 1, hal. 32

(23)

melakukan latihan langsung dan yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang

sudah ditetapkan.14

Strategi active learning bertujuan untuk menempatkan siswa sebagai inti dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa dipandang sebagai objek sekaligus sebagai subjek, karena active learning merupakan suatu proses belajar mengajar yang aktif dan dinamis. Dan dalam proses ini siswa tidak hanya mengalami keterlibatan fisik, melainkan juga mengalami keterlibatan intelektual-emosional.15

Pembelajaran Aktif dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran

yang menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil

belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara

seimbang. Dari konsep tersebut ada dua hal yang harus dipahami.

Pertama dipandang dari sisi proses pembelajaran, active learning menekankan

kepada aktivitas siswa secara optimal. Siswa semaksimal mungkin dilibatkan dalam

proses pembelajaran sehingga siswa secara langsung memperoleh pengalaman

belajarnya, keterlibatan atau keaktifan siswa dalam pembelajaran beranekaragam

seperti berdiskusi, membuat suatu alat, membuat rangkuman hasil diskusi dan

sebagainya. Keaktifan siswa yang berbeda-beda itu dapat dikelompokkan atas

aktifitas sesuai dengan keseimbangan antara aktifitas fisik, mental, termasuk

emosional dan aktivitas intelektual. Oleh karena itu kadar active learning tidak dilihat

dari aktifitas fisik saja, akan tetapi juga aktifitas mental dan intelektual.

Kedua dipandang dari sisi hasil belajar, active learning menghendaki hasil

belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan intelektual (kognitif), sikap

14 Iif Khoiru Ahmadi dkk, Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011), hal. 11

(24)

(afektif), dan keterampilan (psikomotor). Yakni pembentukan siswa secara utuh

merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran.16

Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke

dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan

apa yang diharapkan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik

berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984)

menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar

40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986)

menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perhatian siswa dapat mencapai

70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.

Terdapat beberapa alasan yang kebanyakan orang cenderung melupakan apa

yang mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik adalah perbedaan tingkat

kecepatan bicara pengajar dengan tingkat kecepatan kemampuan siswa

mendengarkan.

Kebanyakan guru berbicara kurang lebih 100-200 kata per-menit, sedangkan

siswa yang betul-betul konsentrasi hanya dapat mendengarkan 50-100 kata per-menit.

Hal ini karena siswa sambil berpikir ketika mendengarkan guru. Penelitian

menunjukan bahwa siswa mendengarkan (tanpa berpikir) rata-rata 400-500 kata

per-menit.

Ketika mendengarkan secara terus menerus selama waktu tertentu pada

seseorang guru yang sedang bicara empat kali lebih lamban, siswa cenderung bosan,

dan pikiran mereka akan melayang-layang kemana-mana sehingga apa yang

dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan.

(25)

Sebagaimana yang diungkapkan Confucius:

“Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya lihat, saya ingat.

Apa yang saya lakukan, saya paham”.17

Bertitik tolak dari uraian di atas maka penulis berpendapat bahwa yang dimaksud

dengan strategi active learning adalah salah satu cara, teknik atau strategi belajar

mengajar yang mengharuskan pendidik untuk menciptakan suasana belajar yang

kondusif, menarik dan menyenangkan agar keaktifan dan partisipasi siswa dapat

berkembang lebih optimal sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara

lebih aktif sebagai tujuan yang diharapkan dalam pendidikan. Guru juga harus

mampu memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi sehingga materi

dapat tersampaikan dan dapat dipahami siswa dengan mudah.

b. Karakteristik Active Learning

Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan

siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk

interaksi antar siswa maupun siswa dengan pengajar dalam proses pembelajaran

tersebut.

Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik

sebagai berikut:

1) Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh

pengajar melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan

kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas

2) Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif tetapi mengerjakan

sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran

(26)

3) Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan

materi pelajaran

4) Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan

evaluasi

5) Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.

Di samping karakteristik tersebut di atas, secara umum suatu proses

pembelajaran aktif memungkinkan diperolehnya beberapa hal. Pertama, interaksi

yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan positive

interdependence, dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat

diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap

individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar harus dapat

mendapatkan penilaian untuk setiap siswa sehingga terdapat individual

accountability. Ketiga, proses pembelajaran aktif ini agar dapat berjalan dengan

efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social

skills. Dengan demikian kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sehingga

penguasaan materi juga meningkat.

Suatu studi yang dilakukan Thomas menunjukkan bahwa setelah 10 menit

belajar, siswa cenderung akan kehilangan konsentrasinya untuk mendengar pelajaran

yang diberikan oleh pengajar secara pasif. Hal ini tentu saja akan makin membuat

pembelajaran tidak efektif jika pembelajaran terus dilanjutkan tanpa upaya-upaya

untuk memperbaikinya. Dengan menggunakan cara-cara pembelajaran aktif hal

tersebut dapat dihindari. Pemindahan peran pada siswa untuk aktif belajar dapat

mengurangi kebosanan ini bahkan bisa menimbulkan minat belajar yang besar pada

siswa. Pada akhirnya hal ini akan membuat proses pembelajaran mencapai yang

diinginkan.18

18 T.M.A. Ari Samadhi, PEMBELAJARAN AKTIF (Theaching Improvement Workshop),

(27)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kegiatan pembelajaran

merupakan proses terjadinya interaksi, baik antara guru dengan siswa maupun sesama

siswa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Oleh karena itu guru harus

menciptakan sendiri lingkungan belajar yang dapat mendorong semua siswa aktif

melakukan kegiatan belajar secara nyata. Ada beberapa ciri yang harus Nampak

dalam proses belajar active learning sebagai mana dikatakan Abuddin Nata,

diantaranya adalah:

1) Situasi kelas menantang siswa melakukan kegiatan belajar secara bebas tapi

terkendali

2) Guru sebagai motivator, fasilitator, perancang, dan pengelola

3) Guru dan siswa menerima peran kerja sama (partnership)

4) Bahan-bahan pelajaran dipilih berdasarkan kelayakan

5) Siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran

6) Tujuan ditulis dengan jelas untuk selanjutnya diukur/dites19

2. Strategi Active Learning Tipe Poster Session a. Pengertian Metode Poster Session

Strategi Poster Session menekankan pada keterampilan dan bakat yang dimilki

oleh masing-masing peserta didik. Siswa belajar secara aktif ketika mereka secara

terus menerus terlibat, baik secara mental ataupun secara fisik. Pembelajaran aktif

melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat.20

19 Abuddin Nata, Persfektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 225

(28)

Salah satu variasi strategi pembelajaran aktif yang digunakan dalam penelitian

ini yaitu strategi pembelajaran aktif Poster Session. Strategi pembelajaran ini

merupakan strategi pembelajaran aktif yang didalamnya terdapat kegiatan kolaboratif

yang dapat digunakan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.

Metode presentasi alternatif ini merupakan sebuah cara yang tepat untuk

menginformasikan kepada peserta didik secara cepat, menangkap imajinasi mereka,

dan mengundang pertukaran ide diantara mereka. Metode ini juga merupakan sebuah

cara cerita dan grafik yang memungkinkan peserta didik mengekspresikan persepsi

dan perasaan mereka tentang topik yang sekarang sedang didiskusikan dalam sebuah

lingkungan yang tidak menakutkan.21

b. Kelebihan Metode Poster Session

1) Peserta didik menjadi siap memulai pelajaran, karena peserta didik belajar

terlebih dahulu.

2) Peserta didik aktif bertanya dan mencari informasi terkait topik yang dibahas.

3) Materi dapat diingat lebih lama karena proses menuangkan idenya melalui

media gambar atau poster.

4) Kecerdasan peserta didik diasah pada saat peserta didik mencari informasi

tentang materi tanpa bantuan guru.

5) Mendorong tumbuhnya keberanian mengutarakan pendapat.

(29)

c. Kelemahan Metode Poster Session

1) Peserta didik yang jarang memperhatikan atau bosan jika bahasan dalam

strategi tersebut tidak disukai, jadi topiknya harus aktual.

2) Pelaksanaan strategi harus dilakukan oleh pendidik yang kreatif, sedangkan

tidak semua pendidik memiliki karakter tersebut.

3) Pola pikir dan karakter peserta didik yang berbeda-beda.

d. Manfaat Penerapan Metode Poster Session.

Peserta didik mengekspresikan persepsi dan perasaan mereka tentang topik

yang dibahas.

1) Siswa dapat menyalurkan bakat atau keterampilan menggambar.

2) Siswa dapat mengembangkan pemikiran atau ide-ide dari topik yang telah

disepakati melalui diskusi kelompok.

3) Setiap siswa akan ikut serta berpartisipasi dalam pembelajaran.22

Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan metode Poster Session adalah

sebagai berikut :

a) Bagi lah siswa kedalam beberapa kelompok yang berisikan 4-7 siswa

b) Membuat topik pembahasan

c) Mintalah setiap kelompok mempersiapkan gambar visual konsep mereka pada

sebuah poster atau kertas karton. Isi tersebut harus jelas, agar pengamat dapat

dengan mudah memahami tanpa penjelasan tertulis atau lisan. Akan tetapi,

peserta didik boleh saja mempersiapkan satu halaman hand-out untuk

(30)

mendampingi poster yang menerangkan lebih detail dan menayangkan bacaan

lanjut.

d) Selama sesi berlangsung, mintalah peserta didik memasang gambaran

presentasi, dan dengan bebas berkeliling diruangan memandang serta

mendiskusikan poster lain.

e) Lanjutkan sesi gambar dengan diskusi dengan menggunakan beberapa

peraga23

3. Hakikat Hasil Belajar a. Pengertian Hasil Belajar

Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku

seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi

kebutuhan hidupnya.

Proses belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat

dilihat.24 Artinya bahwa proses perubahan setelah belajar dalam diri seseorang tidak

dapat disaksikan, melaikan dapat dirasakan dari adanya gejala-gejala perubahan

prilaku yang nampak dari mereka yang belajar.

Setiap proses belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik akan menghasilkan

hasil belajar. Di dalam proses pembelajaran, guru sebagai pengajar sekaligus

pendidik memegang peranan dan tanggung jawab yang besar dalam rangka

membantu meningkatkan keberhasilan peserta didik dipengaruhi oleh kualitas

pengajaran dan faktor intern dari siswa itu sendiri.

Dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah sudah pasti setiap peserta didik

mengharapkan mendapatkan hasil belajar yang baik, sebab hasil belajar yang baik

23Mel Silberman, Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2009), cet. Ke-6, hal. 180-181

(31)

dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuannya. Hasil belajar yang baik

hanya dicapai melalui proses belajar yang baik pula. Jika proses belajar tidak optimal

maka sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang baik.

Menurut Nasution hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak belajar

mengajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru.

Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono hasil belajar adalah hasil yang

ditunjukkan dari suatu interaksi tindak belajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai

tes yang diberikan guru.25

Umumnya hasil belajar dibedakan menjadi :

1) Hasil belajar tinggi

2) Hasil belajar sedang

3) Hasil belajar rendah

Hasil belajar mengajar adalah suatu proses tentang suatu bahan pengajaran

dinyatakan berhasil apabila dapat tercapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil

adalah hal-hal sebagai berikut:

1) Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi

tinggi, baik secara individu maupun kelompok.

2) Perilaku yang digariskan dalam Tujuan Instruksional Khusus (TIK) telah

tercapai oleh siswa, baik individu maupun kelompok. Namun demikian,

indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya

serap

(32)

b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Pada dasarnya hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia

menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam

proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan

informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan

belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat

menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan

kelas maupun individu.

Hasil belajar siswa yang baik dalam kegiatan pembelajaran disekolah bukan

hanya disebabkan oleh kecerdasan siswa saja, melaikan masih ada hal lain yang juga

menjadi faktor penentu yang tidak dapat dipisahkan dalam mencapai keberhasilan

siswa.

Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat

dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: yang bersumber dari dalam diri manusia yang

belajar yang disebut sebgai faktor internal, dan faktor yang bersumber dari luar diri

manusia yang belajar disebut sebagai faktor eksternal.26

(33)

Secara ringkas faktor-faktor yang berpengaruh tehadap hasil belajar tersebut

dapat digambarkan dalam bagan seperti dibawah ini.27

c.

d.

e.

4. Materi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Sejarah adalah Ilmu pengetahuan atau

uraian tentang peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau.28 Dari

sisi epistimologis sejarah yang dalam bahasa arabnya disebut tarikh, mengandung arti

ketentuan masa atau waktu. Ada pula sebagian orang yang mengajukan pendapat

bahwa sejarah sepadan dengan kata syajarah yang berarti pohon (kehidupan),

riwayat, atau kisah, tarikh, ataupun history dalam bahasa Inggris.

27 Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), hal. 35

28 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Basar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), ed. Ke-3, cet. Ke-4, hal. 1011

Hasil Belajar

Faktor Eksternal meliputi:

Lingkungan : alam dan sosial

Instrumental : kurikulum, sarana fasilitas dan guru Faktor Internal meliputi:

fisiologis : fisiologis umum dan panca indra

(34)

Sedangkan secara terminologi sejarah diartikan sebagai sejumlah keadaan dan

peristiwa yang terjadi dimasa lampau dan yang benar-benar terjadi pada individu dan

masyarakat. Adapun inti pokok dari persoalan sejarah pada dasarnya selalu

berhubungan dengan pengalaman-pengalaman penting yang menyangkut

perkembangan keseluruhan keadaan masyarakat.29

Sejarawan muslim Ibnu Khaldun mendefinisikan, Sejarah adalah catatan tentang

masyarakat umat manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang

terjadi pada watak masyarakat, tentang solidaritas golongan, revolusi dan

pemberontakan oleh golongan rakyat melawan golongan yang lain dengan akibat

timbulnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara, dengan tingkat macam-macam

kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk mencapai kehidupannya, maupun dalam

macam-macam bidang Ilmu pengetahuan dan pada umumnya, tentang segala

perubahan yang terjadi dalam masyarakat karena watak masyarakat itu sendiri.30

Sedangkan Kebudayaan adalah Hasil Kegiatan dan Penciptaan batin (akal budi)

manusia, seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.31

Dengan demikian sejarah berarti gambaran masa lalu tentang aktivitas kehidupan

manusia sebagai makhluk sosial yang disusun berdasarkan fakta dan interpretasi

terhadap obyek peristiwa masa lampau, yang kemudian itu disebut sejarah

kebudayaan.

29http://oggisobimedia.blogspot.com/2010/04/sejarah-kebudayaan-islam-bidang-ebook.html

diakses pada tanggal 02-11-2014

30 Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), cet. 2, hal. 2

(35)

Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam mempunyai tiga fungsi dasar, sebagai

berikut:

a. Fungsi edukatif, yaitu melalui Sejarah peserta didik ditanamkan untuk

menegakkan nilai, prinsip, sikap hidup yang luhur dan Islami dalam

menjalankan hidup sehari-hari.

b. Fungsi keilmuan, yaitu melalui Sejarah peserta didik akan memperoleh

pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan Kebudayaan.

c. Fungsi trasformasi, yaitu sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat

penting dalam rancangan transformasi masyarakat.

Dalam kurikulum Madrasah mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam adalah

salah satu bagian mata pelajaran pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk

menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati sejarah

kebudayaan islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life)

melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman,

pembiasaan, dan keteladanan.32

Standar Kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah

berisi mata pelajaran yang harus dikuasai peserta didik agar dapat mengambil

manfaat dari sejarah perkembangan kebudayaan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan ini berorientasi pada perilaku aspek afektif, peserta didik memiliki

keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sesuai ajaran Agama Islam yang

tercermin dalam perilaku sehari-hari memiliki nilai-nilai demokrasi, toleransi dan

humaniora, serta menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara baik lingkup nasional maupun global. Berkenaan dengan aspek kognitif

menguasai ilmu, teknologi dan kemampuan akademik untuk melanjutkan pendidikan

ke jenjang yang lebih tinggi. Berkenaan dengan aspek psikomotorik memiliki

(36)

keterampilan berkomunikasi, kecakapan hidup, mampu beradaptasi dengan

perkembangan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan alam baik lokal, regional,

maupun global, memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang bermanfaat untuk

melaksanakan kegiatan sehari-hari.33

Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah bertujuan agar peserta

didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:

a. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari

landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun oleh

Rasulullah saw dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban

Islam.

b. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat

yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa

depan.

c. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar

dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.

d. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan

sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa lampau.

e. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari

peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi,

dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek

dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban

Islam.

(37)

Ruang lingkup mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah adalah

sebagai berikut:

a. Pengertian dan tujuan mempelajari sejarah kebudayaan Islam

b. Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW periode Makkah

c. Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW periode Madinah

d. Memahami peradaban Islam pada masa Khulafaurrasyidin

e. Perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (pada tahun 650M– 1250M).

f. Perkembangan Islam pada abad pertengahan/zaman kemunduran (1250 M – 1800 M).

g. Perkembangan Islam pada masa modern /zaman kebangkitan

(1800-sekarang).

h. Perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia.

Standar kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam juga mengacu

pada struktur keilmuan. Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut, standar

kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah adalah menelaah

tentang asal usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para

tokoh yang berprestasi dalam Sejarah Islam masa lampau, mulai dari perkembangan

Islam pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaurrasyidin, Bani Ummayah,

Abbasiyah, Ayyubiyah sampai perkembangan Islam di Indonesia dan dunia. Secara

substansial, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam memiliki kontribusi dalam

memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati

Sejarah Kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat

digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak, dan kepribadian

peserta didik.34

Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Sejarah Kebudayaan Islam

merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di

(38)

Madrasah yang didalamnya membahas tentang peristiwa-peristiwa penting,

peradaban Islam serta tokoh-tokoh populernya dalam Sejarah Kebudayaan Islam agar

tertanamnya kebudayaan, peradaban dan keilmuan dalam diri peserta didik.

Semua materi ini, harus disampaikan oleh guru Sejarah Kebudayaan Islam

selama satu tahun pembelajaran kepada peserta didik. Sejarah yang identik dengan

teks-teks panjang berisi cerita dapat membuat peseta didik bosan untuk membacanya.

Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran yang dapat membuat peserta didik untuk

selalu fokus dan aktif dalam pembelajaran.

Pembelajaran aktif dan menyenangkan ini bertujuan agar peserta didik selalu

nyaman dalam setiap kali pembelajaran. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

yang terlihat membosankan dapat di ubah menjadi pembelajaran yang menarik

peserta didik untuk selalu mengkaji pelajaran tersebut. Mata pelajaran Sejarah

Kebudayaan Islam merupakan mata pelajaran yang dapat membangun kesadaran

peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan, nilai-nilai dan norma-norma

Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah saw dalam rangka mengembangkan

kebudayaan dan peradaban Islam. Oleh karena itu, pembelajaran Sejarah Kebudayaan

Islam ini hendaknya tidak hanya memberikan pelajaran Sejarah secara ekstrinsiknya,

akan tetapi nilai-nilai yang terdapat didalamnya juga tersampaikan dan dilaksanakan

sebagaimana mestinya.

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Beberapa penelitian terkait yang menggunakan pembelajaran active learning,

diantaranya adalah:

1. Hasil penelitian Siti Aisyah (107011000746) Jurusan Pendidikan Agama

Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tahun 2010, yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Aktif dengan Metode

Index Card Match terhadap Hasil Belajar PAI Siswa”. Hasil penelitian

menunjukan bahwa metode index card match dapat mempengaruhi hasil

(39)

belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata hasil

belajar kelas kontrol yakni 80.3 (kelas eksperimen) > 75.3 (kelas kontrol),

serta diperoleh nilai thitung >ttabel (2.02 > 2.00)

2. Hasil penelitian Anis Mufarrihah (107011001044) Jurusan Pendidikan Agama

Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tahun 2013, yang berjudul “Penerapan Strategi Active Learning dengan Metode Snowball Throwing dalam Meningkatkan Hasil Belajar SKI Di Kelas

VII SMP Nusantara Plus”. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode Snowball Throwing mempengaruhi hasil belajar SKI yang dilaksanakan di

SMP Nusantara Plus dengan nilai rata-rata kelas eksperimen 79,53 dan

simpangan bakunya adalah 9,71, sedangkan hasil belajar kelas control adalah

rata-rata 74,38 dan simpangan bakunya adalah 9,5. Dengan hasil uji t

didapatkan hasil thitung >ttabel (2,11>2,04), maka disimpulkan Ho ditolak dan Ha

diterima.

C. Kerangka Berpikir

pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang

berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi

dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Dalam rangka

mewujudkan potensi diri yaitu dengan proses pendidikan yang diimplementasikan

dalam proses pembelajaran.

Active learning adalah salah satu strategi yang dapat membantu guru sebagai

jalan keluar yang efektif untuk proses belajar mengajar. Karena pembelajaran aktif ini

dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh

siswa, sehingga semua peserta didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan

dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Strategi pembelajaran active

learning juga menekankan pentingnya proses belajar siswa di samping hasil belajar

yang dicapainya. Bahwasanya proses belajar yang optimal memungkinkan hasil

(40)

Salah satu variasi strategi pembelajaran aktif yang digunakan dalam penelitian

ini yaitu strategi pembelajaran aktif Poster Session. Strategi pembelajaran ini

merupakan strategi pembelajaran aktif yang didalamnya terdapat kegiatan kolaboratif

yang dapat digunakan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, sebuah cara

yang tepat untuk menginformasikan kepada peserta didik secara cepat, menangkap

imajinasi mereka, dan mengundang pertukaran ide diantara mereka. Teknik ini juga

merupakan sebuah cara cerita dan grafik yang memungkinkan peserta didik

mengekspresikan persepsi dan perasaan mereka tentang topik yang sekarang sedang

didiskusikan.

Pemakaian strategi active learning tipe Poster Session ini guru ingin mengetahui

perbedaan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

dengan hasil belajar yang menggunakan metode ceramah. Apakah ada perbedaan

yang signifikan terhadap hasil belajar siswa.

D. Pengajuan Hipotesis Penelitian

Untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh variable X (Active Learning tipe

Poster Session) dengan variable Y (Hasil Belajar SKI) maka penulis mengajukan

hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

Ha : terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang menggunakan

active learning tipe poster session dengan siswa yang menggunakan metode

konvensional.

Ho : tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang

menggunakan active learning tipe poster session dengan siswa yang

(41)

28

Penelitian ini dilaksanakan di MTs At-Taqwa terletak di Jl. KH.Mu'min No.

13 Rt. 05/09, Belendung, Benda, Kota Tangerang pada tanggal 15 Agustus 2014

sampai dengan tanggal 30 September 2014.

B. Metode dan Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonrandomized

control group pretest-postes design, yang melibatkan dua kelompok yang

dibandingkan, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sebelum proses

pembelajaran dimulai, kedua kelompok mendapatkan tes awal yang sama. Setelah

itu, kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan dengan menerapkan strategi

active learning pada pembelajaran SKI, sedangkan kelompok control menerapkan

strategi pembelajaran ceramah secara terpisah. Setelah proses pembelajaran

selesai, masing-masing kelompok mendapatkan tes akhir yang sama. Adapun

[image:41.595.104.521.536.632.2]

urutan desainpenelitian terlihat jelas pada table dibawah ini:

Tabel 3.1 Non randomized control group pretest-postes design

Kelompok Tes Awal Perlakuan (X) Tes Akhir

Eksperimen T1 X T2

Kontrol T3 -- T4

Keterangan :

T1 : Pretest kelas eksperimen

(42)

T3 : Pretest kelas kontrol

T4 : Postest kelas eksperimen

X : Pembelajaran SKI dengan strategi active learning

-- : Pembelajaran dengan model ceramah

Metode yang digunaakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Metode ini

dipilih karena tujuan utama peneliti ini adalah untuk mengetahui dampak yang

ditimbulkan dari suatu perlakuan (treatment), yaitu pelaksanaan pembelajaran

aktif yang diterapkan di kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok

kontrol yang melakukan pembelajaran ceramah secara terpisah.

Eksperimen yang peneliti lakukan dalam penelitian ini dapat dikategorikan

sebagai eksperimen semu (Quasi Experiment). Hal ini dikarenakan eksperimen

yang dilakukan tidak memenuhi salah satu kriteria yang dibutuhkan oleh

eksperimen sesungguhnya, yaitu randomisasi subjek penelitian. Sebagaimana

diketahui, penentuan sampel pada penelitian eksperimen harus dipilih secara

random. Hal ini tidak mungkin dilakukan pada peneliti ini, karena subjek

penelitian sudah terbentuk dalam kelas alami, sehingga tidak mungkin melakukan

randomisasi. Untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan dari tidak adanya

randomisasi, maka kedua sampel yang dipilih harus memiliki karakteristik yang

sama. Akan tetapi, dalam hal ini kelompok kontrol tidak berfungsi sepenuhnya

dalam mengontrol hal-hal yang mempengaruhi treatment terhadap hasil belajar.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian, populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh siswa/I kelas VII, VIII dan IX. Di setiap

jenjangnya terdiri dari kelas VII lima rombel, kelas VIII empat rombel,

(43)

2. Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh

populasi1. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2

kelompok, yaitu:

a. Kelompok eksperimen, yaitu kelompok siswa yang mendapat

pembelajaran aktif. Sampel yang dipilih sebagai kelompok eksperimen

adalah siswa/I kelas VII/A yang berjumlah 30 siswa.

b. Kelompok control, yaitu kelompok siswa yang tidak mendapatkan

treatment secara terpisah. Sampel yang dipilih sebagai kelas control adalah

siswa kelas VII/C yang berjumlah 30 Siswa.

3. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Purposive Sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan

dari guru dan kepala sekolah. Kelas yang terpilih sebagai kelas eksperimen

dalam penelitian ini adalah kelasVII/Ayang berjumlah 30 siswa, sedang

kelas yang terpilih sebagai kelas kontrol adalah kelas VII/C yang juga

berjumlah 30.

D. Instrument Penelitian

Instrument penelitian diartikan sebagai alat yang dapat menunjang sejumlah

data yang diperkirakan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan

yang menguji hipotesis yang telah diajukan. Instrument penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar, yang dalam penyusunannya

menggunakan beberapa prosedur yang telah ditetapkan, yaitu: penyusunan

kisi-kisi,2 konsultasi kepada dosen pembimbing dan uji coba soal yang telah disusun

berdasarkan kisi-kisi. Butir soal tes yang digunakan dibuat dalam bentuk pilihan

ganda. Konsultasi kepada dosen pembimbing dilakukan untuk mendapatkan

1

Sugiyono, MetodePenelitianKuantitatif, Kualitatifdan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2009), cet. 8, hal. 81

2

(44)

validitas isi. Adapun aspek yang ditelaah meliputi kesesuaian indicator, aspek

bahasa dan aspek materi. Tes yang disusun meliputi soal-soal yang sesuai dengan

aspek perkembangan siswa.

E. Variabel Penelitian

Variable penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal

tersebut.3 Dalam penelitian ini terdapat dua variable, yaitu:

Variable bebas (X) : Pembelajaran Active Learning tipe Poster Session

Variabel terikat (Y) : Hasil belajar SKI siswa

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: tes

tertulis dalam pilihan ganda. Tes ini dilakukan dengan mengukur tingkat

pemahaman siswa terdahap materi Sejarah Dakwah Rasulullah saw di Mekkah,

Untuk mengukur tingkat pemahaman siswa secara menyeluruh tes dilakukan

sebanyak 40 soal dalam bentuk tes pilihan ganda.

G. Kontrol Terhadap Validitas Internal

Uji coba instrument dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kualitas

instrument penelitian yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini

uji instrument dilakukan pada siswa diluar kelas eksperimen dan control, yaitu

kelas VII/B yang terdiri dari 30 siswa. Setelah melakukan uji coba instrument,

langkah selanjutnya adalah mengolah data hasil uji coba dengan mencari validitas,

realibilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda.

3

(45)

1. Validitas Instrumen

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, tujuan dilakukannya uji coba

instrument adalah untuk mengetahui kualitas instrument penelitian yang

akan digunakan dalam penelitian. Uji validitas yang digunakan dalam

penelitian ini adalah rumus korelasi point biserial, yaitu:

Dimana:

Mp :jumlah skor yang dijawab benar yang dibagi jumlah soal

Mt :jumlah skor anak dibagi jumlah siswa

p :jumlah soal yang benar dibagi jumlah siswa

q : 1 - p

2. Reliabilitas Instrumen

Reabilitas instrument adalah ketepatan alat evaluasi dalam mengukur atau

ketepatan siswa dalam menjawab alat evaluasi itu. Menurut Suharsimi

Arikunto, sebuah tes dikatakan reliabel jika hasil-hasil tes tersebut

menunjukkan ketepatan jika diteskan kepada subjek yang sama.4

Perhitungan reliabilitas tes dalam penelitian ini menggunakan rumus K-R

20 (Kudor-Richardson 200 karena skor butir soal berbentuk dikotomi),

yaitu:

{

∑ }

(46)

Dimana:

k : jumlah item dalam instrumen

pi : proporsi siswa yang menjawab benar

qi : proporsi siswa yang menjawab salah

st 2 : standar deviasi dari tes

[image:46.595.141.518.330.512.2]

Dengan demikian koefisien reliabilitas adalah sebagai berikut5:

Tabel 3.2 Koefisien Realibilitas

0.91-1.00 Sangat tinggi

0.71-0.90 Tinggi

0.41-0.70 Cukup

0.21-0.40 Rendah

<0.20 Sangat rendah

Standar deviasi dengan rumus6 :

5Sugiyono, Statistikauntukpenelitian, (Bandung: ALFABETA, 2011), cet. 19, hal. 359-361

(47)

3. Tingkat Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit.

Menurutnya, hal tersebut perlu diperhatikan karena soal yang terlalu

mudah tidak merangsang siswa untuk berfikir lebih maju, begitu pula

sebaliknya, soal yang terlalu sukar akan membuat siswa menjadi putus asa

dan tidak mempunyai semangat lagi untuk mencobanya. Oleh karena itu,

soal yang dibuat untuk mengukur tes hasil belajar sebaiknya adalah soal

yang dapat menjangkau semua kemampuan siswa. Untuk mengetahui

tingkat kesukaran yang dibuat, sebaiknya pembuat soal harus melakukan

perhitungan tingkat kesukaran soal. Atas dasar pertimbangan itu, dalam

penelitian ini peneliti melakuakn tingkat kesukaran soal dengan

menggunakan rumus:

Dimana:

P : indeks tingkat kesukaran

B : jumlah siswa yang menjawab soal benar

JS : jumlah seluruh siswa peserta tes

[image:47.595.142.516.611.708.2]

Dengan klasifikasi tingkat kesukaran sebagai berikut:

Tabel 3.3 Klasifikasi Tingkat Kesukaran

0.00-0.30 Soal sukar

0.30-0.70 Soal sedang

(48)

4. Daya Pembeda

Daya pembeda soal sebagai kemampuan suatu soal untuk membedakan

antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang

berkemampuan rendah. Adapun rumus yang digunakan untuk mencari

daya pembeda soal adalah7:

Dimana:

D : daya pembeda

Ba : jumlah peserta kelompok atas yang menjawab benar

Bb : jumlah peserta kelompok bawah yang menjawab salah

Ja : jumlah peserta kelompok atas

Jb : jumlah peserta kelompok bawah

Pa : proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

Pb : proporsi peserta kelompok atas yang menjawab salah

Dengan klasifikasi daya pembeda sebagai berikut:

(49)
[image:49.595.139.515.138.273.2]

Tabel 3.4 Klasifikasi Daya Pembeda

0.00-0.20 Jelek

0.20-0.40 Cukup

0.40-0.70 Baik

0.70-1.00 Baik sekali

H. Teknik Analisis Data

Setelah melakukan uji coba instrument, langkah selanjutnya adalah

melakukan penelitian. Data yang diperoleh dari sampel dengan melakukan

instrument yang telah valid dan reliable akan dianalisis untuk menjawab

permasalahan dan menguji hipotesis yang telah diajukan. Data yang telah

diperoleh harus diolah dengan menggunakan statistic yang harus melewati

beberapa tahap, meliputi:

1. Uji Prasyarat

a. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui normal

tidaknya persebaran data yang akan dianalisis. Teknik uji normalitas yang

digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi kuadrat (X2) dengan

persamaan:

Dimana:

fo : frekuensi dari hasil penelitian

(50)

sementara itu, kriteria tes yang digunakan adalah apabila X2 hitung < X2

tabel, dapat disimpulkan bahwa sampel berdistribusi normal. Sedangkan

jika X2 hitung > X2 tabel, maka dapat disimpulkan bahwa data yang

diperoleh dari sampel tidak berdistribusi normal. Langkah-langkah yang

harus dilewati untuk melakukan pengujian normalitas dengan

menggunakan teknik chi-kuadrat, dapat dilakukan dalam beberapa tahap,

yaitu8 :

1) Menentukan skor terbesar dan skor terkecil

2) Menentukan rentangan (R) dengan cara:

R = skor terbesar – skor terkecil

3) Menentukan banyaknya kelas (K) dengan cara:

K= 1+ 3,3 log n

4) Menentukan panjang kelas (i) dengan cara:

5) Menentukan proporsi9

6) Membuat distribusi frekuensi dalam bentuk tabeldengan menentukan

batas kelas dengan mengurangi 0,5 pada kelas bawah interval dan

menambah 0,5 pada kel

Gambar

Tabel 3.1 Non randomized control group pretest-postes design
Tabel 3.2 Koefisien Realibilitas
Tabel 3.3 Klasifikasi Tingkat Kesukaran
Tabel 3.4 Klasifikasi Daya Pembeda
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan metode inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ipa tentang pokok bahasan pencernaan manusia.

Hamruni, Strategi Pembelajaran , Insan Madani, Yogyakarta, hlm 165.. Dalam ayat tersebut maksudnya adalah mendorong peserta didik untuk dapat berfikir dengan mendalam

Hasil belajar afektif siswa mencapai persentase 88% dan menunjukkan kategori sangat baik dan telah mencapai indikator keberhasilan. Kekurangan siswa pada beberapa aspek

Herminarto., Implementasi pembelajaran Berbasis Proyek Pada Bidang Kejuruan , Cet.1 Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan, LPM UNY, 2006.. Langgulung, Hasan, Asas-asas

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai dengan amanat undang-undang di atas, maka dalam proses pembelajaran dibutuhkan suatu metode yang tepat, efektif,

3. Guru sudah baik dalam menjelaskan dan memberikan contoh penggunaan metode Poster Session kepada siswa. Guru membimbing siswa dalam melakukan kegiatan diskusi ketika

Hasil belajar afektif siswa mencapai persentase 88% dan menunjukkan kategori sangat baik dan telah mencapai indikator keberhasilan. Kekurangan siswa pada beberapa aspek

membentuk manusia menjadi insan yang berintelektual.7 Kerja sama yang baik harus dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam mencapai tujuan Pendidikan yang telah dicantumkan dalam