• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA MELALUI METODE INQURI PADA KELAS IV SDN 2 JAGABAYA 1 KECAMATAN TANJUNG KARANG TIMUR BANDAR LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA MELALUI METODE INQURI PADA KELAS IV SDN 2 JAGABAYA 1 KECAMATAN TANJUNG KARANG TIMUR BANDAR LAMPUNG"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar dan peningkatan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Jagabaya 1 Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung dengan menggunakan metode inquri. Penelitian menggunakan pendekatan tindakan kelas dengan pra siklus dan 2 siklus tindakan. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan tes.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan PTK diharapkan tercapai proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, karena karena dalam penelitian tindakan terdapat kata “tindakan”, artinya dalam hal ini guru melalukan sesuatu.

Hasil penelitian menunjukkan aktivitas belajar pada siklus I rata-rata didapat 22 orang melakukan ≥ 3 aktivitas dengan persentase 68,75% , sedangkan 10 orang melakukan ≤ 3 aktivitas dengan persentase 31,25% . menjadi 29 orang melakukan ≥ 3 aktivitas dengan persentase 91% , sedangkan 3 orang melakukan ≤ 3 aktivitas dengan persentase 9%, sedangkan prestasi siswa mengalami peningkatan yaitu hasil nilai prestasi pada perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan dimulai pada pra siklus dari rata-rata 55,94 dengan jumalah siswa sebanyak 32 terjadi peningkatan pada siklus I dan II dengan rata-rata 72,81 menjadi 82,06 dengan kenaikan sebesar 9,25. Hal ini menggambarkan bahwa ketuntasan perbaikan pembelajaran sudah tecapai.

.

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting penentu keberhasilan pembangunan nasional, baik dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional sebagaimana yang tercantum dalam UU Sisdiknas Bab II pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi pesrerta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab ( UUSPN, 2003 : 7).

Tujuan sistem pendidikan nasional juga berfungsi memberikan arah pada semua kegiatan pendidikan dalam satuan pendidikan yang ada. Tujuan pendidikan nasional tersebut, merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh semua satuan pendidikan nasional tersebut, merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh semua satuan pendidikannya, meskipun setiap satuan pendidikan tersebut mempunyai tujuan sendiri-sendiri, namun semua itu tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional yang ada.

(3)

pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering terdengar keluhan dari para guru di lapangan tentang materi pelajaran yang terlalu banyak dan keluhan kekurangan waktu untuk mengajarkannya semua.

Menurut pengamatan penulis, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan metode pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan metode konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap metode-metode pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap metode - metode pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, dan sangat sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

Kurikulum berbasis KTSP yang mulai diberlakukan di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran IPA. Disamping itu kurikulum berbasis kompetensi memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui

(learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).

(4)

pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Hal ini dapat dilihat dari Prestasi belajar untuk mata pelajaran IPA Kelas IV Tahun Pelajaran 2009/2010 SD Negeri 2 Jagabaya I Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung, pada Ujian Akhir Semester memperoleh nilai tertinggi mencapai 7,92 dan nilai terendah mencapai 5,08 dengan rata-rata nilai siswa memperoleh 6,00.

Pada saat pembelajaran IPA di kelas IV SDN 2 Jagabaya 1 mengenai memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya, guru diawal pembelajaran tidak melakukan persepsi, guru langsung menulis materi di papan tulis, kemudian siswa disuruh mencatat materi tersebut, setelah siswa mencatat guru langsung menjelaskan materi, ketika guru menjelaskan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, mereka bergurau, ngobrol dengan teman-temannya. Bahkan ada siswa yang menaikan kakinya ke atas meja. Melihat kondisi kelas seperti itu guru langsung memberikan pertanyaan kepada siswa seputar materi, namun mereka terdiam dan tidak paham. Dalam proses pembelajaran guru juga tidak melakukan percobaan hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya, pembelajaran yang dilakukan guru tidak berpusat pada siswa.

Pada saat guru melakukan evaluasi sebagian siswa tidak dapat menjawab soal evaluasi sehingga hasil evaluasi siswa pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, yaitu nilainya dibawah KKM.

(5)

Dari analisis masalah yang ada, ditemukanlah beberapa penyebab masalah, antara lain : pada awal pembelajaran guru tidak melakukan apersepsi, guru kurang membangkitkan motivasi terhadap pembelajaran, siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, dalam menyampaikan materi kurang menarik sehingga pembelajaran terasa membosankan dan dalam pembelajaran juga guru tidak melakukan percobaan mengenai memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya.

Pembelajaran yang terjadi di atas mengakibatkan siswa tidak paham tentang hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya dan siswa tidak berani mengungkapkan pendapatnya. Masih sering terjadi, dalam pembelajaran IPA guru mengharapkan siswa diam dengan sikap duduk tegak dan menghadap ke depan, sementara guru dengan fasih menceramahkan materi IPA. Pembelajaran demikian jelas bertentangan dengan hakikat anak dan pendidikan IPA itu sendiri. Pembelajaran IPA yang efektif dicirikan antara lain oleh tingginya kemampuan pembelajaran tersebut dalam menyajikan hakekat pendidikan IPA di SD yakni sebagai proses, produk dan sikap.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, peneliti mencoba menerapkan metode inquri dalam pembelajaran IPA. Menurut Arends, (2004 : 386) Pada prinsipnya tujuan pengajaran dengan metode inquri adalah membantu siswa bagaimana merumuskan pertanyaan, mencari jawaban atau pemecahan untuk memuaskan keingintahuannya dan untuk membantu teori dan gagasan tentang dunia.

(6)

Berdasarkan hal di atas, penerapan metode inquri menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi dan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Penelitian ini dilakukan dengan berkolaborasi dengan guru-guru SD Negeri 2 Jagabaya I Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung. Dengan berkolaborasi ini, diharapkan kemampuan profesional guru dalam merancang metode pembelajaran akan lebih baik lagi dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang lebih bervariatif. Disamping itu kolaborasi ini dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksi diri terhadap kinerja yang telah dilakukannya, sehingga dapat melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pembelajaran dan mengelola proses pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa.

Latar belakang di atas mendorong penulis untuk mengambil fokus penelitian dengan judul “Peningkatan Aktivitas Dan Prestasi Belajar Dalam Pembelajaran IPA Melalui Metode Inquri

Pada Kelas IV SDN 2 Jagabaya 1 Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikai masalah adalah :

1. Rendahnya perolehan prestasi belajar mata pelajaran IPA di SD Negeri 2 Jagabaya I Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung.

2. Rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas.

3. Guru belum menggunakan metode inquri.

4. Guru cenderung menggunakan model konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya.

5. Prestasi belajar IPA yang belum tampak yakni ditemukan siswa sebanyak 17 orang siswa atau ≥ 50 % belum mencapai kriteria ketuntasan mengajar (KKM) 65 yang telah

(7)

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah sebagai berikut .

1. Apakah metode inquri dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.kelas IV SD Negeri 2 Jagabaya 1 Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung ?

2. Apakah metode inquri dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.kelas IV SD Negeri 2 Jagabaya 1 Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung ?

D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Jagabaya 1 Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung dengan menggunakan metode inquri. 2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Jagabaya 1 Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung dengan menggunakan metode inquri. E. Manfaat Penelitian

a. Bagi siswa

1. Pembelajaran inquiri memberikan pengalaman baru dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan aktivitas belajarnya.

2. Siswa memiliki kesadaran bahwa proses pembelajaran adalah dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, karena itu keberhasilan prestasi pembelajaran sangat ditentukan oleh siswa.

b. Bagi guru

(8)

2. Dapat memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan

meningkatkan kualitas pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK.

c. Sekolah

Dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan proses pembelajaran dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.

(9)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Metode Inquiry

a. Metode Inquiry Menurut Para Ahli

Inquiry yang dalam bahasa Inggris inquiry, berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan. As Novak (1964) “Inquiry is the [set] of behaviors involved in the struggle of

human beings for reasonable explanations of phenomena about which they are curious”.

Penelitian adalah suatu tindakan yang memerlukan usaha atau upaya dari manusia untuk menjelaskan suatu masalah yang ingin diketahui atau diselidiki.

Gulo (2002:49) menyatakan metode inquiry berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

(10)

Pembelajaran inquiry memerlukan lingkungan kelas dimana siswa merasa bebas untuk berkarya, berpendapat, membuat kesimpulan dan membuat dugaan-dugaan. Pembelajaran

inquiry merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia, peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Gulo (2002 : 84-85) mengemukakan kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inquiribagi siswa yaitu :

1) Aspek sosial didalam kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi. Hal ini menuntut adanya suasana kelas (permisif) dalam kelas, dimana setiap siswa tidak merasakan adanya tekanan atau hambatan untuk mengemukakan pendapatnya. Sehingga siswa merasa takut, rendah diri, malu dan sebagainya, baik terhadap teman maupun terhadap guru. Kebebasan berbicara dan penghargaan terhadap pendapat yang berbeda, sekalipun pendapat itu tidak relevan perlu dipelihara dalam batas-batas disiplin yang ada.

2) Inquiriberfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya.

Siswa perlu menyadari bahwa pada dasarnya semua pengetahuan bersifat tentatis. Tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak. Kebenaran selalu bersifat sementara. Sikap terhadap pengetahuan yang demikian perlu dikembangkan. Dengan demikian, maka penyelesaian hipotesis merupakan fokus strategi Inquiri. Namun karena sudut pandang siswa tidak sama maka dimungkinkan adanya variasi penyelesaian masalah, sehingga Inquiri bersifat open ended (terbuka). Maksudnya ada berbagai kesimpulan yang berbeda dari masing-masing siswa dengan argumen yang benar. Disamping Inquiri terbuka dikenal pula Inquiri tertutup, yaitu jika hanya ada satu kesimpulan yang sama dari banyak siswa.

(11)

Para guru saling bertukar pikiran dalam hal bagaimana mereka berusaha untuk melibatkan para siswa di dalam pencarian ilmu pengetahuan secara aktif;beberapa orang menganjurkan metode yang terstruktur dari penyelidikan yang dibimbing (Igelsrud & Leonard, 1988). Sementara yang lain menganjurkan untuk memberikan para siswa sedikit perintah (Tinnesand & Chan, 1987).

Untuk menciptakan kondisi seperti itu, maka peranan guru sangat menentukan. Guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, sekalipun hal itu sangat diperlukan. Peranan guru dalam menciptakan model pembelajaran Inquiri adalah sebagai berikut :

a) Motivator

Guru memberi rangsangan agar siswa aktif dan gairah untuk berfikir. b) Fasilitator

Guru menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berpikir siswa

c) Penanya

Guru menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberi keyakinan pada diri siswa.

d) Administrator

Guru bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan di dalam kelas. e) Pengarah

Guru memimpin alur kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan f) Manager

(12)

Guru memberi penghargaan bagi prestasi siswa, yang dicapai dalam rangka peningkatan semangat siswa. Inquri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan pengembangan keterampilan. Pada hakikatnya, Inquri ini merupakan suatu proses. Proses ini bermula dari perumusan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan sementara, menguji kesimpulan sementara supaya sampai pada kesimpulan yang pada taraf tertentu diyakini oleh peserta didik yang bersangkutan.

b. Tujuan Pembelajaran dengan Metode Inquiry

Menurut Arends, (2004 : 386) Pada prinsipnya tujuan pengajaran dengan metode inquri adalah membantu siswa bagaimana merumuskan pertanyaan, mencari jawaban atau pemecahan untuk memuaskan keingintahuannya dan untuk membantu teori dan gagasan tentang dunia.

Menurut Joice-Well dalam W. Gulo (96 : 2002), inquri bertujuan untuk mengembangkan tingkat berpikir dan juga ketrampilan berpikir kritis.

Dapat disimpulkan tujuan penggunaan inquri adalah menolong anak didik mengembangkan disiplin intelektual dan ketrampilan yang dibutuhkan dengan memberikan pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar keingintahuan mereka.

Inquri menyediakan beranekaragam pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang serta peluang bagi siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah, pengambilan putusan dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pelajar sepanjang hayat.

Menurut Joice-Well dalam Gulo (98 : 2002), metode Inquiry mememiliki keunggulan dan kelemahan yaitu sebagai berikut :

(13)

1) Meningkatkan pemahaman sains 2) Produktif dalam berpikir kreatif

3) Siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi. 4) Menekankan aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

5) Memberi ruang kepada siswa untuk belajar sesuai gaya belajar. 6) Mampu melayani siswa di atas rata-rata.

Kelemahan metode inquiry

1) Belajar mengajar dengan metode Inquiry perlu kecerdasan 2) Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa

B. Aktivitas Belajar

1. Pengertian Aktivitas Belajar

Menurut Poerwadarminta (2003:23), “aktivitas adalah kegiatan”. Jadi aktivitas belajar adalah

kegiatan-kegiatan siswa yang menunjang keberhasilan belajar. Dalam hal kegiatan belajar, Rousseuau (dalam Sardiman 2004:96) memberikan penjelasan bahwa “segala pengetahuan

itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri baik secara rohani maupun teknis. Tanpa ada aktivitas, proses belajar tidak mungkin terjadi. Belajar bukanlah proses dalam kehampaan”. Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas dapat

disimpulkan bahwa tak pernah terlihat orang belajar tanpa melibatkan aktivitas raganya. Apalagi bila aktivitas belajar itu berhubungan dengan masalah belajar menulis, mencatat, memandang, membaca, mengingat, berfikir, latihan atau praktek dan sebagainya.

2. Jenis-jenis Aktivitas Belajar

Beberapa aktivitas belajar menurut Djamarah (2000:28) sebagai berikut :

a. Mendengarkan

(14)

b. Memandang

Memandang adalah mengarahkan penglihatan ke suatu objek. Aktivitas memandang berhubungan erat dengan mata. Karena dalam memandang itu matalah yang memegang peranan penting. Tanpa mata tidak mungkin terjadi aktivitas memandang dapat dilakukan.

c. Meraba, Membau, dan Mencicipi/Mengecap

Aktivitas meraba, membau, dan mengecap adalah indra manusia yang dapat dijadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar. Artinya aktivitas meraba, membau dan mengecap dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk belajar. Tentu saja aktivitasnya harus disadari oleh suatu tujuan.

d. Menulis atau Mencatat

Menulis atau mencatat merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar. Dalam pendidikan tradisional kegiatan mencatat merupakan aktivitas yang sering dilakukan. Walaupun pada waktu tertentu seseorang harus mendengarkan isi ceramah, namun dia tidak bisa mengabaikan masalah mencatat hal-hal yang dianggap penting.

e. Membaca

Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi. Membaca disini tidak mesti membaca buku belaka, tetapi juga membaca majalah, koran, tabloid, jurnal-jurnal hasil penelitian, catatan hasil belajar atau kuliah dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan studi.

(15)

Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut termasuk aktivitas belajar. Apalagi jika mengingat itu berhubungan dengan aktivitas-aktivitas belajar yang lainnya.

g. Berpikir

Berpikir adalah termasuk aktivitas belajar. Dengan berpikir orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antara sesuatu.

h. Latihan atau Praktek

Learning by doing adalah konsep belajar yang menghendaki adanya penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan cara berbuat. Belajar sambil berbuat dalam hal ini termasuk latihan. Latihan termasuk cara yang baik untuk memperkuat ingatan (Djamarah 2000:38). Diedrich (dalam Sardiman 2004:101) membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut :

1. “Visual activities (aktivitas melihat)”, yang termasuk didalamnya misalnya membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.

2. “Oral activities ( Aktivitas berbicara), seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi”. 3. “Listening activities (Aktivitas mendengarkan), sebagai contoh mendengarkan uraian,

percakapan, diskusi, musik, pidato.

4. “Writing activities (Aktivitas menulis), seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.

5. ‘Drawing activities (Aktivitas menggambar), misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram.

6. “Motor activities (Aktivitas gerak), yang termasuk didalamnya antara lain melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.

7. “Mental activities (Aktivitas mental), sebagai contoh misalnya menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.

8. “Emotional activities (Aktivitas Emosional), seperti misalnya menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

(16)

1. Memperhatikan penjelasan guru

Salah satu bukti menunjukan keberhasilan belajar adalah prestasi belajar yang diperoleh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2004:786), “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai ( dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya)”. Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu Prestatic yang kemudian dalam bahasa Indonesia sebagai hasil usaha. Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil usaha kegiatan belajar yang telah dicapai.

Menurut Sardirman ( 2001:46), ” Prestasi adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil

interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar”. Jadi dari pendapat ahli tersebut, Prestasi dari penguasaan hasil

interaksi antara usaha belajar baik dari dalam maupun dari luar yang telah dicapai siswa pada seluruh mata pelajaran.

2. Pengertian Belajar

(17)

Menurut Winkel (2004) yang diterjemahkan oleh Syah (2004:56), ”Belajar adalah aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai sikap, perubahan itu bersifat konstan dan berbekas”.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar pada dasarnya adalah aktivitas mental (psikis) yang merupakan tahapan perubahan-perubahan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai sikap yang relatif menetap sebagai hasil pengakuan dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif, perubahan itu bersifat konstan dan berbekas.

Dalam kegiatan belajar mengajar setiap siswa pasti memiliki tujuan tertentu salah satunya adalah untuk menghasilkan hasil yang baik. Dengan belajar yang giat maka mahasiswa akan memperoleh prestasi yang baik. Menurut Sardirman (2002:26), “Tujuan belajar adalah:

1) Untuk mendapatkan pengetahuan. 2) Penanaman konsep dan ketrampilan.

3. Pengertian Prestasi Belajar

Pada hakekatnya prestasi adalah hasil dari sebuah evaluasi terhadap individu yang dinilai. Bentuk dari penilaian bisa berupa data kualitatif ataupun kuantitatif.

Beberapa pengertian prestasi belajar :

Menurut Sukmadinata (2003:102), “Prestasi adalah hasil belajar yang merupakan penekanan

(18)

Menurut Syah (2001:192), “Prestasi adalah hasil belajar meliputi segenap ranah psikologis

yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Dan menurut Witherington (2003:155), “Prestasi adalah hasil yang dicapai individu melalui usaha yang

dialami secara langsung dan merupakan aktivitas kecakapan dalam situasi tertentu”.

Tirtonegoro (2001:43) mengemukakan bahwa,” Prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu”.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh dari aktivitas belajar yang mengakibatkan perubahan yang diwujudkan dalam bentuk angka, simbol atau kalimat.

3. Faktor - faktor yang mempengaruhi prestasi

Setiap aktifitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor - faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat. Demikian juga dialami belajar, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa menurut Ahmadi (2008:72) itu adalah sebagai berikut :

a. Faktor internal.

Faktor internal ada1ah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu :

1) Faktor lntelegensi

(19)

prestasi belajar siswa. Karena tingginya peranan intelegensi dalam mencapai prestasi belajar maka guru harus memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bidang studi yang banyak membutuhkan berpikir rasiologi untuk rnata pelajaran IPA/Sains.

2) Faktor Minat

Minat adalah kecenderungan yang mantap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang tertentu. Siswa yang kurang beminat dalam pelajaran tertentu akan rnenghambat dalam belajar.

3) Faktor Keadaan Fisik dan Psikis

Keadaan fisik rnenunjukkan pada tahap pertumbuhan, kesehatan jasmani, keadaan alat - alat indera dan lain sebagainya. Keadaan psikis menunjuk pada keadaan stabilitas / Iabilitas mental siswa, karena fisik dan psikis yang sehat sangat berpengaruh positif terhadap kegiatan belajar mengajar dan sebaliknya.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor dan luar diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor eksternal dapat dibagi rnenjadi beberapa bagian, yaitu :

1) Faktor Guru

Guru sebagai tenaga berpendidikan rnemiliki tugas menyelenggarakan kegiatan belajar rnengajar, rnembimbing, melatih, mengolah, meneliti dan mengembangkan serta memberikan pelalaran teknik karena itu setiap guru harus memiliki wewenang dan kemampuan profesiona1, kepribadian dan kemasyarakatan.

Guru juga rnenunjukkan flexibilitas yang tinggi yaitu pendekatan didaktif dan gaya memirnpin kelas yang selalu disesuaikan dengan keadaan, situasi kelas yang diberi pelajaran, sehingga dapat rnenunjang tingkat prestasi siswa semaksimal mungkin.

(20)

Lingkungan keluarga turut mempengaruhi kemajuan hasil kerja, bahkan mungkin dapat dikatakan menjadi faktor yang sangat penting, karena sebagian besar waktu belajar dilaksanakan di rumah, keluarga kurang mendukung situasi belajar. Seperti kericuhan keluarga, kurang perhatian orang tua, kurang perlengkapan belajar akan mempengaruhi berhasil tidaknya belajar.

3) Faktor Sumber - Sumber Belajar

Salah satu faktor yang rnenunjang keberhasilan dalam proses belajar adalah tersedianya sumber belajar yang memadai. Sumber belajar itu dapat berupa media / alat bantu belajar serta bahan baku penunjang. AIat bantu belajar merupakan semua alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam melakukan perbuatan belajar. Maka pelajaran akan lebih menarik, menjadi konkret, mudah dipahami, hemat waktu dan tenaga serta hasil yang lebih bermakna.

Berdasarkan kajian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang memperngaruhi prestasi belajar terdiri dari 2 (dua) macam yaitu internal dan eksternal.

D. Tujuan Pembelajaran IPA

Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya 2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat

(21)

memecahkan masalah dan membuat keputusan

5. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam

6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan

7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.( BSNP: 2006:484)

Berdasarkan tujuan pembelajaran IPA di atas maka dapat disimpulkan bahwa peserta didik dapat menyadari bahwa semua yang ada dimuka bumi merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa serta sebagai bekal pengetahuan yang diperolehnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

E. Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Alam

Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut.

1. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan

2. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas

3. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana

4. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya. ( BSNP: 2006:488)

Berdasarkan ruang lingkup IPA di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA di Sekolah Dasar meliputi Makhluk hidup, bentuk benda-benda disekitar, macam-macam energi, serta keadaan bumi dan benda-benda yang berada di langit.

F. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPA

(22)

kompetensi dasar pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas IV (empat) semester 1 (satu), yang akan penulis diteliti dalam penelitian tindakan kelas ini.

Standar Kompetensi : 2. Memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya.

Kompetensi Dasar : 2.1 Menjelaskan hubungan antara struktur akar tumbuhan dengan fungsinya

2.2 Menjelaskan hubungan antara struktur batang tumbuhan dengan fungsinya

2.3 Menjelaskan hubungan antara struktur daun tumbuhan dengan fungsinya

2.4 Menjelaskan hubungan antara bunga dengan fungsinya (BSNP , 2006 : 492-494)

G. Kerja Kelompok

Sagala (2006: 19) mengatakan bahwa kerja kelompok adalah “cara pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri”.

Dalam strategi pembelajaran dengan menggunakan metode inquri dalam penelitian tindakan kelas ini untuk mencapai tujuan IPA yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu kerja kelompok dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit sambil pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman.

(23)

sebagai organisator kegiatan belajar-mengajar, sumber informasi bagi siswa, pendorong bagi siswa untuk belajar, serta penyedia materidan kesempatan belajar bagi siswa. Guru harus dapat mendiagnosa kesulitan siswa dalam belajar dan dapat memberikan bantuan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya.

H. Kreativitas

Dewasa ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik pada anak didik, pegawai negeri maupun pada mereka yang berwiraswasta. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

(24)

kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong oleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kraetif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal.

I. Hipotesis Tindakan

(25)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto (2006: 3) dengan menggabungkan tiga kata, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas, dapat disimpulkan bahwa “ penelitian tindakan kelas merupakan

suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa”.

PTK diharapkan tercapai proses pembelajaran yang efektif dan efisien, karena karena dalam penelitian tindakan terdapat kata “tindakan”, artinya dalam hal ini guru melalukan sesuatu.

Arah dan tujuan penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru telah jelas, yaitu untuk peningkatan dan perbaikan kualitas pembelajaran, supaya siswa memperoleh apa yang diharapkan.

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap (Arikunto, 2006: 17-19) yaitu :

1. Menyusun rencana tindakan ( planning)

Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana, tindakan tersebut dilakukan.

2. Pelaksanaan Tindakan (acting)

(26)

3. Pengamatan (observing)

Kegiatan pengamatan dilakukan bersamaan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Pada tahap pengamatan, peneliti dan guru pengamat (observer) mencatat semua kejadian yang berlangsung pada saat pelaksanaan tindakan untuk memperoleh data yang akurat untuk perencanaan perbaikan pada siklus selanjutnya.

4. Refleksi (reflecting)

Tahapan ini untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan datayang terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya. kelas IV dengan jumlah murid 32 siswa, dengan jumlah laki-laki 18 siswa dan perempuan 14 siswa pada masa belajar semester 1 (satu) tahun pelajaran 2011/2012.

C. Prosedur Penelitian

Penelitian Tindakan kelas ini dirancang untuk dilakasanakan dalam 2 siklus. Siklus I direncanakan untuk dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan (@2x35 menit) dengan 1 x pertemuan untuk tes siklus I, yaitu pada pertemuan ke-1. Siklus II direncanakan untuk dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan (@2x35 menit) dengan 1 x pertemuan untuk tes siklus II, yaitu pada pertemuan ke-1. Setiap siklus dijalankan dalam 4 tahap yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

(27)

a. Tahap perencanaan

1. Menghubungi Kepala Sekolah.

2. Menentukan kelas subyek penelitian.

3. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus I.

4. Menyiapkan media dan sumber pembelajaran.

5. Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS 1).

6. Menyiapkan instrumen tes tertulis berupa lembar soal tes siklus 1.

b. Tahap pelaksanaan

1. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP.

2. Melakukan tes tes siklus 1 untuk mendapatkan data mengenai peningkatan Prestasi belajar IPA dengan menggunakan metode Inquri.

3. Mencatat semua kejadian pada saat tindakan untuk dijadikan sumber data yang akan digunakan pada tahap refleksi.

4. Diskusi dengan guru pengamat untuk membahas pelaksanaan tindakan sehingga diketahui kelemahan dan kekurangan yang harus diperbaiki.

c. Tahap pengamatan

Tahap pengamatan dilakukan bersamaan pada saat tindakan dilaksanakan. Pada tahap ini peneliti dan guru pengamat mengamati proses pelaksanaan tindakan dan mencatatnya.

(28)

Pada tahap refleksi melakukan pengkajian terhadap proses pelaksanaan tindakan, kemudian dideskripsikan hasil seluruh pelaksaan tindakan yang akan dasar untuk pelakasaan tindakan pada siklus II.

2 Siklus II

a. Tahap perencanaan

1. Mengkaji kembali hasil dari siklus 1 sebagai acuan untuk perbaikan pada siklus II.

2. Menetapkan materi pelajaran yang akan digunakan pada siklus II, dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

3. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus II.

4. Menyiapkan media dan sumber pembelajaran.

5. Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS 2).

6. Menyiapkan instrumen tes tertulis berupa lembar soal tes siklus 2.

b. Tahap pelaksanaan

1. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun dengan perbaikan-perbaikan dari siklus I untuk dilaksanakan pada siklus II.

2. Melakukan tes siklus II untuk mendapatkan data mengenai peningkatan prestasi belajar IPA siswa pada siklus II.

(29)

Pada tahap ini sama seperti kegiatan pengamatan pada siklus I yaitu mencatat semua kegiatan pelaksanaan pada siklus II untuk mengetahui pelakasanaan tindakan apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan.

d. Tahap refleksi

Seluruh data pada tindakan di siklus II dikumpulkan untuk dianalisis dan dievaluasi untuk kemudian dibuat kesimpulan. Pada akhir siklus II dibuat kesimpulan, dengan menggunakan metode inquri akan dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar IPA siswa kelas IV.

e. Membuat kesimpulan akhir penelitian

Setelah proses siklus I dan siklus II selesai dilaksanakan maka dapat dibuat kesimpulan hasil penelitian. Kesimpulan dilihat dari hasil refleksi dan evaluasi siklus I dan II. Bila hasil refleksi siklus I dan II belum memperlihatkan adanya peningkatan aktivitas dan prestasi belajar IPA siswa kelas IV, maka dibuat siklus III, yang meliputi : tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi sampai adanya peningkatan prestasi belajar IPA siswa kelas IV.

Secara keseluruhan alur penelitian dapat dilihat pada gambar berikut

Siklus 1

Refleksi

Pengamatan

Perencanaan Perencanaan

(30)

Siklus 2

Gambar 3.1

PTK Model Kemmis dan MC. Taggart

Sumber : Penelitian Tindakan Kelas. Arikunto ( 2006 : 16)

D. Analisa Data

Adapun langkah – langkah yang dapat dilakukan olah penulis sebagai berikut : 1.) Mengunpulkan data dari sampel yang telah ditetapkan

2.) Mengklasifikasikan dan mengidentifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh siswa atau sampel. 3.) Menghitung presentase jawaban yang benar dengan presentase sebagai berikut :

P = F X 100% N

Keterangan : P : Presentase

F : Jumlah jawaban yang benar N : Nilai keseluruhan

Refleksi Pelaksanaan

Pengamatan

(31)

(Nasoetion, 2005: 12).

E. Instumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Instrumen Pembelajaran

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana pelaksanaan pembelajaran dalam penelitian ini dirancang sesuai dengan indikator dan tujuan pembelajaran yang harus mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam KTSP. Dalam penelitian ini lebih difokuskan pada peningkatan aktivitas dan prestasi belajar IPA siswa kelas IV melalui metode inquri.

b. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar kerja siswa adalah lembar untuk siswa yang berisi materi yang akan diajarkan dan digunakan pada proses pembelajaran supaya proses belajar lebih efektif. Lembar kerja siswa ini dibagikan kepada tiap kelompok untuk dikerjakan dan diskusikan bersama kelompok masing-masing. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas metode inquiry dalam meningkatan aktivitas dan prestasi belajar IPA siswa kelas IV.

2. Instrumen Pengumpul Data

Instrumen pengumpul data yaitu tes belajar siswa yang diberikan secara individu untuk melihat peningkatan aktivitas dan prestasi belajar IPA melalui metode inquri. Tes dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar siswa melalui skor dan nilai rata-rata nilai.

(32)

Indikator keberhasilan dalam PTK ini adalah .

1. Adanya peningkatan aktivitas siswa selama proses pembelajaran setiap siklus sebesar 70% siswa aktif.

(33)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil temuan pada penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode Inquri dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi siswa dari refleksi tiap siklus diperoleh kesimpulan bahwa menggunakan metode Inquri pada siswa kelas IV SDN 2 Jagabaya 1 dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar mata pelajaran IPA.

Hal ini dibuktikan dengan temuan sebagai beikut :

1. Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan menggunakan pembelajaran metode Inquri pada siklus I dan siklus II, dari 22 menjadi 29 orang siswa.

2. Hasil nilai prestasi pada perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan dimulai pada pra siklus dari rata-rata 55,94 dengan jumalah siswa sebanyak 32 terjadi peningkatan pada siklus I dan II dengan rata-rata 72,81 menjadi 82,06 dengan kenaikan sebesar 9,25. Hal ini menggambarkan bahwa ketuntasan perbaikan pembelajaran sudah tercapai.

B. Saran

1. Bagi calon guru dan guru

(34)

b. Sebelum memulai pembelajaran , terlebih dahulu perhitungkan waktu yang tersedia supaya rencana tindakan yang telah dibuat dapat terlaksana dengan baik.

c. Memberikan motivasi diawal pembelajaran untuk mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan yang akan disampaikan pada siswa.

2. Bagi sekolah

Perlunya dari pihak kepala sekolah dan guru-guru untuk bersama-sama satu tujuan dalam rangka meningkatkan mutu pendidik dengan menggunakan metode-metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan proses pembelajaran.

3. Saran peneliti

(35)

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR

DALAM PEMBELAJARAN IPA MELALUI

METODE INQURI PADA KELAS IV

SDN 2 JAGABAYA 1 KECAMATAN

TANJUNG KARANG TIMUR

BANDAR LAMPUNG

SKRIPSI

Oleh Yunida Ismawati

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(36)

RIWAYAT HIDUP

Penulis di lahirkan di Gunung Terang pada tanggal 22 Juni 1960, putri pertama dari delapan bersaudara dari pasangan Bapak Ahmad Basri dan Ibu Dalia.

(37)

DAFTAR GAMBAR BAGAN

Bagan Halaman

(38)

DAFTAR GAMBAR GRAFIK

Gambar Grafik Halaman

Grafik 4.1 Aktivitas Belajar Siswa ……….. 47 Grafik 4. 2 Prestasi Belajar Siswa ……… 49

(39)
(40)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ……… 27

B. Lokasi dan Subyek Penelitian ……….…. 28

C. Prosedur Penelitian ……….… 28

D. Analisa Data ……… 33

E. Instrumen Penelitian ……… 33

F. Tolak Ukur Keberhasilan ……… 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian ……… 35

B. Subyek Penelitian ………. 35

C. Deskripsi Awal Pembelajaran ……… 36

D. Pelaksanaan dan Hasil Penelitian Tindakan Kelas ……… 38

E. Pembahasan ……… 44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……… 51

B. Saran ……….. 52

DAFTAR PUSTAKA

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi. 2008. Psikologi Pendidikan 3. Bandung : Jeanmars.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

BNSP. 2006. Standar Isi Kelas IV. Jakarta: Badan Standar Pendidikan Nasional. Diknas. 2004. Undang-undang Tentang Sisdiknas. Jakarta: Tamita Utama

Djamarah, S. B .2000. Psikologi Belajar. Banjarmasin : Rineka Cipta. Gulo. W. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grasindo.

Hamalik, O . 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara. Kemmis,S dan MC Toggart, R. 2008. The Action Reserarch Planner. Australia. Mulyana. 2005. Media Pengajaran. Bandung: BPK Gunung Mulia.

Nasoetion , N. 2005. Evaluasi Pengajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.

Novak, A. (1964). Scientific Inquiry. Bioscience.

Poerwadarminta, WJS. 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Roestiyah. 2001, Mengajarkan IPA dengan metode Inquiry dan discovery. Jakarta :

Depdiknas.

Sagala, S. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Sardiman. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Raja Grapindo Persada.

Siregar,B. 2005. Metode Penelitian Pendidikan.Surabaya: Sinar baru

Sobry, Sutikno, 2004. Model Pembelajaran Interaksi Sosial, Pembelajaran Efektif

Sukmadinata, NS. 2003. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Syah,M 2004. Psikologi Belajar. Banjarmasin : Rinneka Cipta

(42)

Tirtonegoro, S. 2001. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung. Alfabeta.

Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional ( UUSPN RI NO 20 Tahun 2003 ). 2010. Jakarta Asa Mandiri.

(43)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1 Nilai Prestasi Belajar Siswa Pra Siklus ……… 37

4.2 Aktivitas Siswa Kelas Siklus I ………. 39

4.3 Hasil Tes Siklus I ……… 40

4.4 Aktivitas Siswa Siklus II ………. 42

(44)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa. Karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan.

Skripsi dengan judul “Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Dalam Pembelajaran IPA

Melalui Metode Inquri Pada Kelas IV SDN 2 Jagabaya 1 Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung ” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan di

Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir Sugeng P. Harianto,Ms, selaku Rektor Universitas Lampung; 2. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si. Dekan FKIP Unila

3. Bapak Drs.Baharuddin Risyak, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan

4. Ibu Dr. Sowiyah, M.Pd sebagai Pembimbing atas kesediannya untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini

5. Bapak Drs. Tambat Usman, M.Hsebagai penguji pada ujian skripsi. Terimakasih untuk masukan dan saran-saran pada seminar proposal terdahulu

6. Bapak dan ibu dosen dan karyawan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, khususnya Jurusan Ilmu Pendidikan

7. Ibu Hj. Haryati, S.Pd Selaku Kepala Sekolah SD Negeri 1 Jagabaya Kota Bandar Lampung yang memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian.

8. Bapak dan ibu staf pengajar di SD Negeri 2 Jagabaya 1 Kota Bandar Lampung yang telah membantu dalam melaksanakan penelitian.

(45)

10.Semua teman-teman yang telah membantu dan memberikan semangat, terima kasih atas segala bantuan dan dorongan semangatnya.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman.

Bandar Lampung, Januari 2012 Penulis

(46)

MOTTO

 Berawal dari bismillah berakhir dengan Alhamdulillah

 Kebahagiaan adalah saat semua berada dalam kebersamaan . bersama itu

(47)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Penguji I : Dr. Sowiyah, M.Pd ………

Penguji II

Bukan Pembimbing : Drs. Tambat Usman, M.H ………

2. Dekan FKIP UNILA

Dr. H. Bujang Rahman, M.Si. NIP 19600315198503 1 003

(48)

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama Mahasiswa : Yunida Ismawati No. Pokok Mahasiswa : 0913069147

Program Studi : S-1 PGSD Dalam Jabatan

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Perguruan Tinggi : Universitas Lampung

Judul Skripsi : PENINGKATAN AKTIVITAS DAN

(49)

PERSEMBAHAN

Terucap puji syukur pada-MU ya Allah … Kupersembahkan karyaku ini untuk :

 Suamiku tercinta M. ArifinYahya, S.IP “akan dukungan dan semangatmu”

 Anak-anakku tercinta

1. Ahmad Jerry Wahyudi 2. Anneke Jenitia

3. Atika Jamila

 Keluarga besarku yang aku banggakan , kalian telah memberikan semangat untuk

(50)

LEMBAR PERSETUJUAN

Judul Skripsi : PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA MELALUI METODE INQURI PADA KELAS IV SDN 2 JAGABAYA 1 KECAMATAN

TANJUNG KARANG TIMUR BANDAR LAMPUNG

Nama Mahasiswa : Yunida Ismawati Nomor Pokok Mahasiswa : 0913069147

Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI

Pembahas Pembimbing

Drs. Tambat Usman, M.H Dr. Sowiyah, M.Pd

NIP 196007251984032001 NIP 195207151979031007

Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan

Gambar

Gambar 3.1

Referensi

Dokumen terkait

Merupakan salah satu etnis di Indonesia yang berasal dari negara India bagian selatan yang terletak di kawasan Asia, yang memiliki eksistensi di Indonesia dan memiliki

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif, yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dikuasai,

Di dalam meneliti kepuasan konsumen, nilai yang dirasa terhadap loyalitas konsumen dan word of mouth (WOM) pada pengguna mobil Toyota dengan menggunakan metode

Dalam Black’s Law Dictionary juga mengungkapkan mengenai Pengertian Korupsi, Korupsi merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan keuntungan

Hasil penelitian ini bagi perusahaan Samsung diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam mempertahankan produk dan konsumennya serta

[r]

Terkait dengan peralihan kewenangan penerbitan izin pertambangan rakyat untuk komoditas mineral logam, batubara, mineral bukan logam dan batuan dalam wilayah pertambangan

Tujuan dalam penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi terbaik sari kulit buah naga ( Hylocereus costaricensis ) dan ekstrak angkak untuk membuat permen jelly dengan