PERBEDAAN KEKUATAN GESER SELF ADHESIVE SEMEN DAN SEMEN IONOMER KACA TIPE 1 PADA RESTORASI VENEER INDIREK RESIN KOMPOSIT MICROHYBRID

64  72  Download (4)

Full text

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

PERBEDAAN KEKUATAN GESER SELF ADHESIVE SEMEN DAN SEMEN IONOMER KACA TIPE 1 PADA RESTORASI VENEER

INDIREK RESIN KOMPOSIT MICROHYBRID

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajad Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh:

DENURA SYABINA PUTRI HERLAN 20120340111

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

(2)

INDIREK RESIN KOMPOSIT MICROHYBRID

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajad Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh:

DENURA SYABINA PUTRI HERLAN 20120340111

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

(3)

iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama : Denura Syabina Putri Herlan

NIM : 20120340111

Program Studi : Pendidikan Dokter Gigi

Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dalam karya yang diterbikan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Karya Tulis Ilmiah ini.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Karya Tulis Ilmiah ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Yogyakarta, 19 Mei 2016 Yang membuat pernyataan,

(4)

iv

penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153)

“Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life” “Success is the ability to go from one failure to another with no loss of

enthusiasm”

(Sir Winston Churchill, Great Britsin Prime Minister on World War III).

“everything will be okay in the end, if it’s not, it’s not the end” (anonymous)

HAKUNA MATATA

“Do not pray for an easy life, pray for the strength to endure a difficult one” (Bruce Lee)

(5)

v

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan hidayah, sehingga kita tetap dalam keadaan iman dan islam. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kejunjungan Nabi besar Muhammad SAW, pada sahabat dan Tabi’in yang senantiasa Istiqomah dijalan-Nya.

Berkat rahmat dan pertolongan Allah SWT pula penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah sebagai prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran gigi strata 1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan judul “PERBEDAAN KEKUATAN GESER ANTARA RESIN SEMEN DAN SEMEN IONOMER KACA TIPE 1 PADA RESTORASI

VENEER RESIN KOMPOSIT MICROHYBRID INDIREK”

Dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa bimbingan pengarahan, nasehat maupun dukungan moral dan material. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, yaitu kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya. Rasulullah SAW, yang telah menjadi teladan dan panutan hidup.

2. drg. Hastoro Pintadi, Sp. Pros, selaku Kaprodi PSPDG FKIK UMY.

3. drg. Widyapramana Dwi Atmaja selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dukungan serta motivasi selama penulisan KTI ini.

4. drg. Dwi Aji selaku dosen penguji yang telah memberikan saran, pengarahan dan bimbingan.

(6)

vi

habisnya memberikan dukungan, semangat dan do’a.

8. Teman-teman seperjuangan KG UMY 2012 atas persahabatan dan kerja samanya.

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harpakan guna koreksi kearah kebaikan. Akhir kata penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan, Amin.

Akhriul kalam Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yogyakarta, 19 Mei 2016 Penyusun,

Denura Syabina Putri Herlan

(7)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN KTI ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii

MOTTO ... iv

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 20

B. Variabel Penelitian ... 20

C. Sampel Penelitian ... 21

D. Definisi Operasional... 22

E. Alat DanBahan Penelitian ... 23

F. Jalan Penelitian... 24

G. Alur Penelitian ... 27

H. Analisis Data ... 28

(8)
(9)

ix

DAFTAR TABEL

(10)
(11)

x INTISARI

Perawatan-perawatan estetik dalam bidang kedokteran gigi masih sangat berkembang hingga saat ini. Mengenai perbaikan dalam hal estetik banyak cara yang dapat dilakukan, salah satunya melakukan restorasi veneer pada gigi. Restorasi veneer dapat menurut jenis tekniknya dapat berupa direk ataupun indirek, Restorasi veneer indirek adalah teknik yang dilakukan di luar mulut pasien dapat dibuat dari material keramik atau material resin komposit dan dikerjakan di laboratorium teknik. Bahan adhesive diperlukan untuk perlekatan veneer dengan gigi. Resin semen RelyXtm U200 adalah salah satu jenis resin semen. Semen ionomer kaca tipe I dirancang untuk bahan sementasi. Pentingnya penelitian dalam rangka mengikuti perkembangan ilmu estetika dalam perawatan kedokteran gigi, maka masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Metode penelitian: eksperimental labolatoris murni, dengan jumlah sample 12 gigi post-ekstraksi dibagi menjadi 2 kelompok, dengan analisis data menggunakan independent

sample t test. Hasil uji kekuatan geser dari penelitian ini menunjukan bahwa

perlekatan restorasi veneer indirek dengan bahan adhesive RelyX rata-rata 3,57Mpa dan rata-rata semen ionomer kaca tipe 2,14 Mpa. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa, RelyX memiliki kekuatan geser yang lebih baik dibandingkan dengan semen ionomer kaca tipe 1.

(12)

xi

restorations divided into 2 type of technique are direct and indirect, for indirect veneer restorations is the technique which performed outside the mouth such as veneer from ceramic material or resin composite and indirect veneer is performed in a laboratory . Materials function for the attached a veneer with the tooth. Resin cement RelyXtm U200 is one type of resin cement as a glass ionomer cement type I which is designed for cementation material. The importance of research in order to follow the development of science in dental aesthetic treatment and needed for further research.

Objective: To study there are any difference of shear bond strength between two cementation materials.

Methods: This study is experimental labolatorium by using 12 sample of post- premolar tooth extraction and divided into 2 groups with data analysis used independent sample t test.

Results: The different of shear strength test were show the results of the indirect veneers cemented with RelyX dhesif in average 3,57Mpa and glass ionomer cements Type 1 2.14 Mpa.

Conclusion: RelyX are resistant to shear bond strength compared to glass ionomer cement type 1.

(13)

1 orang dewasa kurang puas terhadap warna gigi aslinya. Adanya perubahan warna gigi baik karena faktor intrinsik ataupun ekstrinsik dapat mempengaruhi estetika dan kepribadian seseorang (Dwi Riani, dkk, 2015). Menurut beberapa pendapat, dalam bidang kedokteran gigi, perawatan yang dilakukan terhadap gigi dan mulut juga memerlukan faktor estetis (Suryanto,2014). Mengenai estetika, berarti kita membahas tentang keindahan. Dalam islam pun dikatakan bahwa Allah mencintai keindahan, seperti yang dikatakan dalam hadist

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan”

(HR. Muslim)

(14)

Pasien pada umumnya lebih menyukai prosedur yang melibatkan sedikit pembuangan struktur gigi atau sama sekali tidak dibuang. Salah satu perawatan yang memerlukan pengurangan struktur gigi yang minimal dan telah digunakan selama kurang lebih 15 tahun adalah pembuatan veneer. Metode veneering sebelumnya hanya dianggap memberi jalan keluar sementara, tetapi dengan adanya perkembangan baru dalam bahan dan teknik, telah memberi harapan, bahwa veneering merupakan alternative perawatan jangka panjang (Rostina, 2001).

Menurut Octarina (2012), restorasi veneer dapat dibagi menurut jenis tekniknya yaitu direk ataupun indirek. Dapat dibuat dengan resin komposit atau keramik. Restorasi veneer direk adalah teknik yang dilakukan secara langsung di dalam mulut pasien dengan menggunakan resin komposit sering dilakukan oleh dokter gigi, dan membutuhkan kekuatan tinggi dalam membentuk morfologi yang baik. Kelemahan restorasi ini adalah mudah aus dan fraktur, dan adanya pengerutan selama polimerisasi yang dapat menimbulkan kebocoran tepi.

(15)

3

Resin komposit merupakan bahan restorasi sewarna gigi yang biasa digunakan untuk gigi anterior dan posterior (Susra, 2013). Sebuah penelitian menunjukkan hasil perbandingan kekuatan tekan dan persentasi kekerutan beberapa macam resin komposit, yaitu resin komposit nanofiller, resin komposit hybrid, dan resin komposit makrofiller yang terdapat di pasaran. Hasil dari perbandingan tersebut didapat resin komposit hybrid memiliki kekuatan tekan dan persentasi kekerutan paling tinggi (Floyd et al, 2005).

Suatu restorasi veneer indirek resin komposit (VIRK) memerlukan perlekatan yang kuat dengan permukaan gigi agar restorasi veneer tidak mudah terlepas. Perlekatan ini dapat terjadi dengan adanya bahan adhesive

(Octarina, 2012).

Saat ini self adhesive semensemakin sering digunakan sebagai bahan

adhesive karena dibandingkan dengan semen adhesive konvensional, self

adhesive semen dapat menghasilkan sifat fisik yang serupa dengan warna gigi

dan mampu berikatan dengan baik secara mekanis maupun kimia pada email gigi maupun restorasi. Selain sebagai bahan adhesive untuk merekatkan

veneer, semen adhesive sering digunakan juga sebagai bahan adhesive untuk

merekatkan inlay, onlay dan crown yang terbuat dari keramik maupun indirek resin komposit (Octarina, 2012).

(16)

antara dua bahan. Kekuatan geser ditentukan dengan cara mengaplikasikan tegangan tarik pada spesimen dan diuji dengan modified cantilever test.

(Fraunhofer, 2010).

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kekuatan geser dari bahan self adhesive semendan semen adhesive konvensional pada restorasi

veneer resin komposit mikro hybrid. Uji kekuatan geser dilakukan untuk

mengetahui seberapa bagus kualitas dari sebuah self adhesive semendan semen adhesive konvensional.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang tertulis di atas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan:

Apakah ada perbedaan kekuatan geser self adhesive semendan semen

adhesive konvensional pada restorasi veneer resin mikro hybrid?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Untuk mengetahui kekuatan perbedaangeser self adhesive semen dan semen adhesive konvensional pada restorasi veneer resin komposit

microhybrid

2. Tujuan khusus

(17)

5

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi peneliti

Mengetahui perbedaan kekuatan geser antara self adhesive semen dan semen adhesive konvensional pada restorasi veneer resin komposit

microhybrid

2. Manfaat bagi bidang ilmu kedokteran gigi

Penelitian ini memberikan sumbangan informasi ilmiah tentang perbedaan kekuatan geser self adhesive semendan semen adhesive

konvensional pada restorasi veneer resin komposit mikro hybrid, serta menambah ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran gigi, khususnya dalam bidang ilmu biomaterial

E. Keaslian Penelitian

1. Comparative Study to Evaluate Shear Bond Strenght of RMGIC to

Composite Resin Using Different Adhesive Systems yang dilakukan oleh

Chandak dkk (2013). Penelitian ini membandingkan dan mengevaluasi peran perekat gigi dalam perlekatan komposit dengan semen ionomer kaca modifikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan geser kelompok bahan adhesive self-etch lebih kuat dibandingkan kelompok bahan adhesivetotal-etch.

2. Perbedaan kekuatan geser antara semen ionomer kaca modifikasi resin

dengan Smart Dentin Replacement sebagai basis pada restorasi sandwich

(18)

resin komposit dengan semen ionomer kaca modifikasi resin dan Smart Dentin Replacement. Hasil penelitian menunjukkan kekuatan geser pada Smart Dentin Replacement lebih besar daripada semen ionomer kaca modifikasi resin terhadap resin komposit.

3. Penelitian yang dilakukan peneliti yaitu membandingkan kekuatan geser

self adhesive semen dengan semen ionomer kaca tipe 1 pada restorasi

(19)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka 1. Veneer

a. Definisi

Veneer adalah bahan lapisan pewarna gigi yang diaplikasikan

untuk merestorasi gigi, baik secara lokal (sebagian) maupun general

(menyeluruh) yang mengalami kerusakan atau perubahan warna (Heymann dkk, 2002).

b. Macam-macam veneer menurut Heymann dkk (2011)terdiri atas

partial dan full veneer.

1) Partial

Restorasi veneer partial diindikasikan untuk restorasi secara lokal (sebagian) pada area yang mengalami perubahan secara intrinsik.

2) Full veneer

Restorasi full veneer diindikasikan untuk restorasi general

(menyeluruh) pada area yang mengalami perubahan warna secara intrinsik dan melibatkan sebagian besar permukaan gigi.

(20)

keselarasan gigi.Restorasi ini dapat dilakukan secara direk maupun indirek.

c. Teknik veneer pada Resin Komposit terdiri dari teknik direk dan indirek. Menurut Welbury dkk (2005):

1) Direk

Restorasi secara direk dapat dilakukan dalam sekali pertemuan dengan memperbaiki lapisan gigi secara langsung pada gigi pasien.

2) Indirek

Restorasi indirek dilakukan secara tidak langsung dan dibuat dilabolatorium kedokteran gigi.

Dokter gigi sering menemukan beberapa kesulitan saat melakukan restorasi veneer secara direk. Berbeda saat melakukannya secara indirek, karena jika dilakukan di luar mulut pengontrolan untuk restorasi lebih mudah. Veneer secara indirek biasanya menggunakan bahan material dari komposit, porselen dan keramik (Heymann, 2002).

2. Resin Komposit a. Definisi

(21)

9

relatif mudah untuk dimanipulasi (Anusavice, 2004). Resin komposit merupakan gabungan dari dua bahan atau lebih material. Material yang terkandung, memiliki kelebihan masing-masing (Noort, 2007).

Bahan komposit modern terkandung sejumlah komponen. Komponen utama adalah resin matriks dan partikel pengisi anorganik. Selain kedua bahan tersebut, resin komposit memerlukan beberapa komponen lain untuk meningkatkan efektivitas dan ketahanan bahan (Anusavice, 2004).

b. Komposisi

Resin komposit memiliki empat komponen utama (Anusavice, 2004), yaitu:

1) Resin Matriks

Kebanyakan bahan komposit di bidang kedokteran gigi menggunakan monomer yang merupakan diakrilat aromatik atau alipatik. Dimetakrilat yang umum digunakan dalam komposit gigi adalah Bis-GMA, urethane dimetakrilat (UEDMA), dan trietilen

glikol dimetakrilat (TEGDMA). Bis-GMA memiliki konsistensi

(22)

dimetrakilat seperti TEDGMA. Penambahan dimetrakilat atau TEDGMA dengan berat molekul rendah meningkatkan pengerutan polimerisasi. Monomer dimetrakilat memungkinkan ikatan silang ekstensif terjadi antar rantai, dan hal ini menghasilkan suatu matriks yang lebih tahan terhadap degradasi oleh pelarut (Anusavice, 2004).

2) Bahan pengisi / filler

Penggunaan bahan pengisi diperlukan untuk keberhasilan suatu bahan komposit, karena dimasukannya partikel bahan pengisi ke dalam suatu matriks akan meningkatkan sifat bahan matriks. Partikel pengisi umumnya dihasilkan dari pengolahan quartz atau penggilingan atau kaca untuk menghasilkan partikel yang berkisar dari 0,1-100 m (Anusavice, 2004).

3) Bahan pengikat / coupling

Partikel bahan pengisi dengan matriks resin penting untuk berikatan, karena hal ini memungkinkan matriks polimer lebih fleksibel dalam meneruskan tekanan ke partikel pengisi yang lebih kaku. Ikatan antara dua fase komposit diperoleh dengan bahan

coupling. Bahan yang sering digunakan sebagai bahan coupling

adalah organosilan seperti -metakriloksipropiltrimetoksi silane

(23)

11

4) Aktivator-Inisiator

Terdapat dua macam aktivasi terhadap resin komposit, yang pertama adalah aktivasi sinar dengan champoroquinone sebagai fotoinisiator dan aktivator amino. Kedua adalah aktivasi kimia, yang dipasok dalam dua pasta dimana salah satunya mengandung insiator benzoil peroksida dan lainnya mengandung aktivator amino tersier. Bila kedua pasta diaduk, maka akan terbentuk radikal bebas dan polimerisasi tambahan dimulai (Anusavice, 2004).

c. Polimerisasi

Secara kimia reaksi polimerisasi restorasi resin komposit self-cure menggunakan peroksida sebagai inisiator dan amino sebagai akselerator. Polimerisasi komposit light-cure diinisiasi oleh sinar biru dengan polimerisasi tergantung dari durasi pencahayaan dan jarak pencahayaan sinar (Powers dan Sakaguchi, 2006).

d. Klasifikasi

Macam-macam resin komposit, yaitu: multipurpose yang memiliki sifat modulusitas dan kekuatan tinggi; nanocomposite yang memiliki sifat polishing yang bagus dan kekuatan serta modulusitas yang tinggi; microfilled yang memiliki sifat estetis dan polishing yang bagus namun memiliki kelemahan yakni mudah terjadi shrinkage;

packable dengan sifat shrinkage; flowable yang memiliki sifat higher

(24)

memiliki sifat anatomi dan kontak terbaik (Powers dan Sakaguchi, 2006).

3. Komposit Microhybrid

Komposit microhybrid dikembangkan menjadi bahan “universal” dengan sifat baik dalam estetik sehingga dapat digunakan untuk gigi anterior, juga memiliki sifat kuat dan resisten sehingga dapat digunakan juga untuk gigi posterior (Mitchell, 2008).

Resin komposit FiltekTMZ250 (3M ESPE, USA) merupakan salah satu jenis resin komposit mikro hybrid yang dapat digunakan untuk gigi anterior maupun posterior. Komposisi yang terkandung adalah,

bisphenol-A-glycidyldimethacrylate (bis-GMA) yang berfungsi sebagai pengisi,

urethane dimetakrilat (UEDMA) dan BISEMA, Encore-GMA, Encore

-EMU sebagai pengencer. Terkandung juga partikel pengisi anorganik, yaitu muatan zirconium / silica 60% dengan ukuran partikel 0,01-3,5 mikron (Braun dkk, 2008).

Resin komposit microhybrid memiliki sifat shrinkage rendah saat

setting dibandingkan resin komposit tipe microfilled karena komposit

microhybrid mempunyai resin yang lebih sedikit, bahkan dengan etsa

(25)

13

Terdapat dua tekhnik yang sudah dikemukakan untuk meminimalisir atau mengatasi efek dari polimerisasi. Metode pertama yaitu dengan memasukan dan mempolimerisasikan komposit dalam lapisan, dimana hal tersebut mengurangi shrinkage. Metode kedua yaitu mempersiapkan laboratorium (indirek) komposit inlay, kemudian untuk semen inlay pada gigi dengan lapisan tebal komposit semen viskositas rendah.

4. Dental Semen

Perekatandengan bantuan semen pada berbagai perawatan gigi biasanya diperlukan. Semen adalah suatu bahan yang dapat dibentuk untuk menutup sebelah celah atau untuk menyatukan dua bahan. Semen dibedakan menjadi semen basis, semen pelapik, dan bahan tambahan.

Seng fosfat, silikofosfat, polikarboksilat, ionomer kaca, oksida seng-eugenol dan semen yang berbasis resin merupakan contoh dari bahan semen tersebut (Anusavice, 2004).

a. Self adhesive semen

Self adhesive semen biasanya dirancang untuk kegunaan khusus,

misalnya diformulasikan untuk menghadirkan sifat penanganan yang diinginkan untuk kegunaan tertentu. Komposisi dari semen resin sebagian besar mirip dengan bahan tambal resin komposit, yaitu matriks resin dengan bahan pengisi anorganik yang telah diproses dengan silane. Semen resin memiliki sifat yang tidak mudah larut di dalam cairan mulut. Semen resin yang disebut sebagai semen adhesive

(26)

struktur gigi lebih penting bagi semen resin, karena semen resin tidak memiliki potensi antikariogenik (Anusavice, 2004).

Semen resin memiliki sifat yang dapat mengiritasi pulpa, maka diperlukan bahan pelindung pulpa seperti kalsium hidroksida atau pelapik ionomer kaca saatakan merestorasi kerusakan gigi yang melibatkan pulpa (Anusavice, 2004).

Perlekatan antara bahan self adhesive semen dengan gigi dapat diperoleh dengan membentuk ikatan kimia antara resin dengan komponen organik maupun anorganik dari dentin. Molekul ini dapat digambarkan dengan bentuk M-R-X. M merupakan grup metrakilat, R adalah rantai hidrokarbon dan X sebagai gugus fungsional yang berfungsi membentuk perlekatan terhadap jaringan gigi. Selama pelapisan dentin dengan bahan primer, gugus fosfat X membentuk ikatan terhadap kalsium. Gugus metrakilat molekul M-R-X selama polimerisasi akan bereaksi dengan bahan komposit dan membentuk ikatan kimia antara komposit dengan dentin (Anusavice,2004).

Self adhesive semenRelyXtm U200 adalah salah satu jenis self

adhesive semen, yang saat pengaplikasian terdiri dari acidic dan

hidrofilik, kemudian setelah mengalami setting akan berubah menjadi netral dan hidrofobik (3M).

b. Semen Ionomer Kaca Tipe 1

(27)

15

tipis. Waktu kerja dari semen ini biasanya lebih singkat daripada semen seng fosfat, dengan kisaran 3-5 menit. Semen ionomer kaca tipe I memiliki sifat yang tidak terlalu kaku dan lebih peka terhadap perubahan bentuk elastik (Anusavice, 2004).

Semen ionomer kaca tipe I juga memiliki sifat asam yang tidak terlalu mengiritasi. Seharusnya sifat yang tidak terlalu mengiritasi tersebut dapat mengurangi frekuensi kepekaan pasca operatif. Meskipun terkadang terdapat laporan kepekaan pasca sementasi (Anusavice, 2004).

(28)

5. Kekuatan Ikatan Geser

Sifat mekanis dibatasi oleh hukum-hukum mekanika, yaitu ilmu fisika yang mempunyai hubungan dengan tekanan dan energi serta efeknya pada benda. Sifat mekanis adalah respons yang terukur, baik plastis (ireversibel) dan elastis (reversibel), dari suatu bahan bila terkena gaya atau distribusi tekanan (Anusavice, 2004).

Salah satu sifat mekanis dari suatu bahan adalah, kekuatan geser. Kekuatan geser dapat dihasilkan dengan gerak memutar atau memilin suatu bahan. Suatu kekuatan geser cenderung menahan pergeseran dari satu bagian suatu benda ke yang lain. Semakin jauh gaya diaplikasikan dari permukaan yang saling berhadapan, makin besar kecenderungan terjadi kegagalan tarik daripada kegagalan geser karena potensi tarikan kekuatan akan meningkat (Anusavice, 2004).

Menurut Powers dan Sakaguchi (2006), ada satu metode yang sering digunakan untuk menguji kekuatan geser pada bahan kedokteran gigi yaitu metode kekuatan pukulan atau dengan metode mendorong. Secara umum rumus kekuatan geser:

= F/ Keterangan

= kekuatan geser (Mpa)

F = besarnya kekuatan yang diaplikasikan pada spesimen (N) = diameter pukulan (mm)

(29)

17

B. Landasan Teori

Veneer merupakan lapisan sewarna gigi yang diindikasikan untuk gigi

yang mengalami kerusakan atau perubahan warna. Restorasi veneer memiliki dua teknik, yaitu secara direk dan indirek. Restorasi veneer secara indirek (VIRK) dilakukan secara tidak langsung dan membutuhkan proses pembuatan di labarolatorium kedokteran gigi. Biasanya, veneer secara indirek terbuat dari material keramik atau resin komposit.Suatu restorasi VIRK memerlukan perlekatan yang kuat dengan permukaan gigi agar restorasi tersebut tidak mudah terlepas.

Resin komposit merupakan bahan restorasi untuk gigi anterior maupun gigi anterior. Bahan utama yang terkandung dalam resin komposit adalah resin matriks dan partikel pengisi anorganik. Resin komposit juga memiliki komponen tambahan yang berfungsi meningkatkan efektivitas dan ketahanan bahan. Namun resin komposit memerlukan bahan pelekat, karena sifatnya tidak dapat melekat secara sendiri dengan gigi.

Semen resin dan semen adhesive konvensional merupakan contoh dari bahan adhesive. Semen resin memiliki sifat yang tidak mudah larut di dalam cairan mulut, dan memiliki ikatan yang kuat dengan dentin. Sedangkan semen

adhesive konvensional (SIK tipe I) memiliki sifat yang tidak terlalu kaku dan

lebih peka terhadap perubahan bentuk elastik, juga memiliki sifat asam yang tidak terlalu mengiritasi. Namun demikian, self adhesive semen lebih sering digunakan sebagai bahan adhesive dibandingkan dengan semen adhesive

(30)

dan mampu berikatan dengan baik secara mekanis maupun kimia pada email gigi maupun restorasi.

Perlekatan antara bahan self adhesive semen dengan gigi dapat diperoleh dengan membentuk ikatan kimia antara resin dengan komponen organic maupun anorganik dari dentin. Molekul ini dapat digambarkan dengan bentuk M-R-X. pada SIK tipe 1 bubuk-cairan, semen akan membentuk ikatan silang dengan ion Ca2+ dan Al3+ sehingga terjadi polimerisasi setelah proses pengerasan dan hidrasi berlanjut. Ion Ca2+ berperan pada awal pengerasan dan Ion Al3+ berperan pada pengerasan selanjutnya

(31)

19

C. Kerangka Konsep

Gambar 1.KerangkaKonsep

D. Hipotesis

(32)

20 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah eksperimental labolatoris murni. B. Variabel Penelitian

1. Variabel pengaruh

a. Self adhesive semen (RelyXTM U200, 3M ESPE, USA)

b. Semen adhesive konvensional (Fuji I, GC, Japan) 2. Variabel Terpangaruh

Kekuatan geser restorasi veneer resin komposit mikro hybrid (Z250, 3M ESPE, USA) indirek pada veneer.

3. Variabel Terkendali

a. Bentuk dan ukuran sampel

b. Bahan restorasi veneer resin komposit mikro hybrid (Z250, 3M ESPE, USA) indirek

c. Lama penyinaran d. Jarak penyinaran e. Panjang gelombang

f. Jenis sinar (LED, dengan panjang gelombang 470-480 nm) g. Perbandingan base dan katalis

(33)

21

4. Variabel Tak Terkendali

a. Permukaan dentin, misalnya laada atau tidaknya kandungan air, orientasi tubulus, lapisan permukaan terhadap permukaan dan permeabilitas dentin (Anusavice, 2004).

b. Lama penyimpanan sampel c. Densitas gigi

d. Kepadatan semen

e. Komponen organik dan anorganik pada gigi C. Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah gigi premolar post eksraksi yang bersih dari karies sebanyak 10 buah. Lalu dibuat menjadi dua kelompok, dengan masing-masing kelompok memiliki 5 buah gigi. Rumus penuntuan jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Daniel (1991):

(34)

d : kesalahan yang masih dapat ditoleransi

hasil perhitungan: dengan Z = 1,96 σ2

= d2.

Maka didapatkan sampel tiap kelompok berjumlah 4, dengan resiko

drop out 1 sampel, sehingga sampel tiap kelompok berjumlah 5 gigi.

D. Definisi Operasional

1. Resin komposit mikro hybrid

Resin komposit mikro hybrid yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe Z250. Komposisinya adalah BIS-GMA, UDMA, dan BISEMA, Encore-GMA, Encore-EMU. Partikel pengisi anorganiknya adalah muatan zicroniu/silica 60% dengan ukuran partikel 0,01 sampai 3,5 mikron (Braun dkk, 2008)

2. Self adhesive semen

Self adhesive semen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

RelyXTM U200, pada saat pengaplikasiannya,bahan ini terdiri dari acidic

dan hidrofolik, sedangkan saat setting akan berubah menjadi netral dan hidrofobik.

3. Semen Ionomer Kaca Tipe 1

Pada penelitian ini semen ionomer kaca yang digunakan adalah Fuji I merek GC. Bahan ini biasanya digunakan untuk luting bahan dari metal, juga merupakan semen ionomer kaca murni yang berfungsi untuk memberi penutup tepi yang sempurna, melekatkan restorasi indirek dan perlekatan yang sempurna. Dibandingkan dengan zinc phospate dan

(35)

23

4. Kekuatan Geser

Uji kekuatan geser dilakukan untuk mengukur kekuatan bahan

adhesive sebagai bahan pelekat dengan restorasi veneer indirek. Kekuatan

geser diuji dengan melakukan tekanan geser dengan satuan yang dihasilkan Mpa, yang cenderung menahan pergeseran dari satu bagian suatu benda ke satu bagian yang lain. Tekanan geser dapat dihasilkan dengan gerakan memutar atau memilin.

E. Alat DanBahan Penelitian 1. Alat Penelitian

a. Mikromotor dan handpiece

b. Bur champer diamond

c. Universal Testing Machine (Pearson pake London)

d. Agat spatula e. Plastis instrument

f. Light cure (Litex panjang gelombang 400-480μm)

g. Bur finishing cincin warna kuning

h. Paper pad

i. Glass plate

j. Micro brush

2. Bahan Penelitian

a. Gigi Premolar post ekstraksi

b. Self adhesive semen(RelyXTM U200, 3M ESPE)

(36)

d. Resin komposit mikrohybrid (Z250, 3M ESPE) e. Pumice

f. Resin akrilik self cure

g. Latex

h. Dentin conditioner

F. Jalan Penelitian 1. Persiapan Sampel

Sampel yang digunakan adalah 12 gigi premolar post ekstraksi dan sudah dipisahkan yang terdiri atas 6 sampel untuk bahan semen ionomer kaca tipe 1 dan 6 sampel untuk bahan semen resin. Kemudian sampel dibersihkan terlebih dahulu menggunakan larutan steril dan pumice. 2. Pembuatan sampel penelitian

Sampel gigi dilakukan preparasi menggunakan deep bur pada bagian incisal dengan kedalaman 0,25-0,5 mm, dan pada bagian labial 1,0 mm hingga bur tersebut tertanam dengan tujuan sebagai patokan untuk pengurangan. Kemudian preparasi dilanjutkan menggunakan bur torpedo sampai preparasi tersebut smooth.

3. Pembuatan veneer

Pembuatan restorasi veneer resin komposit microhybdrid dilakukan langsung pada gigi yang sebelumnya sudah dipreparasi. Sampel dibersihkan dengan air bersih, lalu aplikasikan latex, agar restorasi veneer

mudah dilepas sebelum pemberian sementasi. Pembuatan veneer

(37)

25

4. Pemberian bahan sementasi

Siapkan bahan sementasi, untuk kelompok pertama menggunakan RelyX dan kelompok kedua dengan SIK tipe 1. Sebelum diaplikasikan bahan SIK tipe 1, maka gigi terlebih dahulu dibersihkan menggunakan saline, dilanjutkan dengan aplikasi dentin conditioner menggunakan micro

brush, diamkan 15-20 detik, keringkan. Pengadukan SIK tipe 1 dilakukan

diatas paper pad yang telah diletakan diatas glass plate, lalu diaduk dengan cara melipat atau membentuk angka delapan menggunakan agat spatula dengan perbandingan powder dan liquid 1:1. Aplikasikan bahan tersebut pada restorasi veneer untuk kelompok pertama, tunggu 1-2 detik lalu tempelkan dan disinari oleh light cure selama 20-40 detik. Pengadukan RelyX dilakukan diatas paper pad yang telah diletakan diatas

glass plate menggunakan plastis instrument dengan perbandingan base

dan catalyst 1:1, lalu aplikasikan sama seperti kelompok kedua, sinari 20

detik. Hilangkan sisa semen menggunakan eskavator atau sonde.

5. Polishing dan Finishing

Melakukan finishing dengan bur finishing pita kuning, dan polishing

menggunakan pumice. 6. Pengujian Kekuatan Geser

(38)

dalam resin akrilik self cure, dan hanya menyisakan bagian facial veneer

gigi saja. Sebelum mesin dinyalakan di atas mesin diletakan beban yang telah terfiksasi, kemudian barulah beban tersebut akan bergerak turun menggeser veneer resin komposit setelah mesin dinyalakan dengan kecepatan 0,5 mm/menit. Gaya geser yang digunakan untuk menggeser

veneer resin komposit hingga terlepas dari permukaan gigi akan terlihat

(39)

27

G. Alur Penelitian

Gambar 2.Alur Penelitian 12 gigi premolar dibersihkan

Uji kekuatan geser

Pembuatan venner indirek resin komposit FiltekTM Z250 microhybrid

langsungpada sampel

Aplikasikan veneer indirek komposit microhybrid pada gigi, sinari 40 detik

Kelompok 1 aplikasikan RelyXTM U200, sinari 20 detik

Lepaskan veneer dari sampel, bersihkan gigi dari latex

Pemberian latex pada sampel, yang telah di preparasi. Gigi dipreparasi dengan ketebalan 0,25-0,5 mm pada bagian

incisal, dan fasial 1,0mm tanpa menghabiskan email.

(40)

H. Analisis Data

Untuk mengetahui perbedaan kekuatan geser self adhesive semendan semen adhesive konvensional pada restorasi veneer indirek resin komposit mikro hybrid, data yang diperoleh adalah dalam bentuk ratio. Uji statistik yang dilakukan adalah mengecek apakah distribusi datanya normal atau tidak. Jika distribusi data normal, maka uji yang digunakan adalah Independent

Sample T test dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05). Sedangkan jika

distribusi data tidak normal, maka uji yang digunakan adalah

Mann-Whitneytest. Uji ini digunakan untuk mendeteksi signifikasi perbedaan antar

(41)

29 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian tentang perbedaan kekuatan geser self adhesive semen (RelyX) dan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid telah dilakukan. Kekuatan geser self adhesive semen (RelyX) dan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid diukur dengan menggunakan Universal testing

Machnine gaya yang didapat kemudian dimasukkan dalam rumus kekuatan

geser( = F/ .

Hasil perhitungan kekuatan geser self adhesive semendan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Hasil Pengukuran Kekuatan Geser

Jenis Material Hasil Uji geser (Mpa)

RelyX 3,66 Mpa

Semen Ionomer Kaca Tipe 1 2,15 Mpa

(42)

Tabel 1 menunjukkan adanya perbedaan kekuatan geser antara RelyX dan semen ionomer kaca tipe 1 terhadap restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid. Pada hasil uji geser dengan RelyX didapatkan hasil dengan rata-rata 3,57 Mpa sedangkan dengan semen ionomer kaca tipe 1 didapatkan hasil dengan rata-rata 2,14 Mpa. Data pada tabel 1 tersebut merupakan data parametrik sehingga dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji Shapiro-wilk yang dirangkum dalam tabel 2.

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk

Tests of Normal ity

This is a lower bound of the true signif icance. *.

Lillief ors Signif icance Correction a.

Hasil uji normalitas Shapiro-wilk yang dilakukan menunjukkan nilai signifikasi RelyX=0,262; SIK tipe 1=0,336. Hasil uji normalitas masing-masing sampel pada kedua jenis material menunjukkan bahwa data yang terkumpul adalah normal.

Data yang didapat dari penelitian ini juga dilakukan Levene’s test untuk menentukan homogenitas variansi pada data tersebut. Hasil Levene’s test pada penelitian ini adalah 0,076 yang berarti data pada penelitian ini homogen (terangkum dalam table 3).

(43)

31

sample T test telah terpenuhi (data yang normal dan homogen). Semua

rangkuman Independent sample T test terangkum dalam tabel 3. Tabel 3. Independent Sample T Test

Independent Samples Test

3,901 ,076 11,964 10 ,000 1,42500 ,11911 1,15961 1,69039

11,964 5,962 ,000 1,42500 ,11911 1,13310 1,71690 Equal v ariances

didapat menunjukkan signifikansi 0,000 yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antara satu kelompok dengan kelompok lainnya atau dalam penelitian ini diasumsikan terdapat perbedaan kekuatan geser antara RelyX dan semen ionomer kaca tipe 1 terhadap restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid.

B. Pembahasan

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental labolatoris murni yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan kekuatan geser self adhesive

semendan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid dengan menggunakan sampel gigi post-ekstraksi. Hasil statistik uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara

self adhesive semen (RelyX) dan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi

veneer indirek resin komposit microhybrid. Pada tabel 1 menunjukkan

(44)

dibandingkan dengan mengunakan semen ionomer kaca tipe 1 yang dinyatakan dalam satuan Newton.

Restorasi veneer indirirek resin komposit microhybrid dengan menggunakan semen resin (RelyX) mendapatkan rata-rata hasil uji geser yang lebih baik yaitu sebesar 3,57Mpa, sedangkan pada kelompok pembanding yang menggunakan semen ionomer kaca tipe 1 mendapatkan hasil rata-rata uji geser 2,14Mpa.

Hasil independent sample t test pada tabel 3. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kekuatan geser antara RelyX dan semen ionomer kaca tipe 1 terhadap restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid, hal ini dikarenakan karena kandungan pada semen resin dan semen ionomer kaca tipe 1 yang berbeda. Terkandung monomer metrakilat yang mengandung asam fosfat, silanated filler, komponen inisiator dan rheological additivies pada komposisi dari pasta base RelyX, dan pada pasta katalis terkandung monomer metrakilat, filler alkalin, komponen inisiator dan pigmen (ESPE, 2011).

(45)

33

membentuk interaksi untuk memperoleh kekuatan fisik yang baik, selanjutnya kelompok asam fosfat yang tersisa akan dinetralkan oleh ion, yang dilepaskan oleh filler sepanjang proses semen resin setting, dan ion fluoride yang dilepas akan diserap oleh struktur gigi. Secara bersamaan saat semen resin setting akan memberikan kesempatan terjadinya reaksi polimerisasi monomer metrakilat (Taru dan Rao,2014).

Semen ionomer kaca tipe secara kimiawi memiliki kemampuan mengikat struktur dentin dan email serta bersifat antikariogenik karena dapat melepaskan fluoride. Tekanan penyusutan pengerasan bahan ini sangat rendah, dikarenakan semen ini melewati tahap rubbery (fleksibel menyerupai karet) selama proses pengerasan terjadi (Mali,2006). Menurut beberapa ahli, perlekatan semen ionomer kaca terhadap resin komposit sangan terbatas dan ikatan antara semen ionomer kaca konvensional dengan resin komposit sangat lemh, karena kekuatan kohesi yang kurang dari semen ionomer kaca dan

(46)

34 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang perbedaan kekuatan geser self

adhesive semendan semen ionomer kaca tipe 1 pada restorasi veneer indirek

resin komposit microhybrid, didapatkan kesimpulan:

1. Terdapat perbedaan kekuatan geser self adhesive semendan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit

microhybrid

2. Bahan luting yang menghasilkan kekuatan geser lebih baik saat digunakan pada restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid adalah self

adhesive semen RelyX

B. Saran

1. Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai kekuatan geser self adhesive

semen dan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid dengan jumlah sampel yang lebih banyak untuk mendukung akurasi data

2. Perlu dilakukan penelitian selain uji geser

(47)

35

DAFTAR PUSTAKA

3M ESP, 2011. RelyX U200 Manual Instruction.

Al-Ehaideb, A., dan Mohammed H, 2000, Shear Bond Strength of One Bottle

Dentine Adhesive, J. Proshet Dent.

Annusavice, Kennet J,. 2004, Philip Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi

(Lilian Juwono, penerjemah), edisi 10, EGC, Jakarta.

Braun, A. P., Soares, C. G., Carracho, H. G., Da Costa, N. P., dan Veeck, E.B., 2008, Optical Dentistry and Chemical Composition of Microfilled and Microhybrid Compsite Resin, J. Appl Oral Sci.

Burdiarta, R., Sofiani, E., 2014, Perbedaan kekuatan geser antara semen ionomer kaca modifikasi resin dengan Smart Dentin Replacement sebagai basis

pada restorasi sandwich, Yogyakarta.

Chandak, M. G., Pattanaik, N., Das, A., 2013, Comparative Study to Evaluate Shear Bond Strenght of RMGIC to Composite Resin Using Different Adhesive Systems.

Fraunhofer, J. V., 2010, Dental Materials at a Glance, West Sussex: Wiley Blackwell.

Floyd, C.J., Dickens, S.H., 2005,Network structure of Bis-GMA & UDMA Based Resin Systems[J], Dent Mater.

Galinggih, 2010, Ilmu Bahan Kedokteran Gigi (Bagian Konservasi Gigi)

Gladwin, Marcia dan Bagby, Michael, 2009, Clinical Aspect of Dental Material:

Theory, Practice and Cases, Philadelpia, Lippicott William dan Wilkins.

Heymann dkk, 2011, Studevant’s Art and Science of Operative Dentistry, Sixth Edition, Elsevier.

Hollins, C., 2008, Basic Guide to Dental Procedures, Blackwell, Singapore. Li, J., Liu, J., Soremark, R., dan Sundstrom, I., 1996, Fexture Strength of Resin

modified Glass Ionomer Cement and Their Strength to Dental Composite,

Acta. Odontol. Scand, Vol. 1 :55-58.

Mali, P., Deshpande, S., dan Singh, A., 2006, Microleakage of Restorative

(48)

Mira, L., R., Iskandar, 2005, Kekuatan Perlekatan Geser Semen Ionomer Kaca

Terhadap Dentin dan NiCr Alloy, Surabaya.

Mitchell, Christina, A., 2008, Dental Material in Operative Dentistry,

Quintesence Co., London.

Octarina, Soufiyan, A., Erawati, Y. K., 2012, Effect of Sanblasting on Shear Bond Strength Composite Resin Venner, Jakarta.

Powers, John, M., dan Sakaguchi, Ronald, L., 2006, Craig’s Restorative dental

Matherials, Mosby Elsevier, USA.

Rao, Taru (2014). Shear Bond Strength of a Luting Glass Ionomer Cement and a Self-Adhesive Universal Resin Cement to a Base Metal Alloy Journallar: Mangalore.

Riani, M. D., Oenzil, F., Kasuma, N., 2015, Pengaruh Aplikasi Bahan Pemutih Gigi Karbamid Peroksida 10% dan Hidrogen Peroksida 6% secara Home

Bleaching terhadap Kekerasa Permukaan Email Gigi, Padang.

Rio, 2015, Estetika dan Kosmetika dalam Kedokteran Gigi.

Rostina, 2001, Restorasi Gigi Anterior dengan Menggunakan Veneer, Medan. Susra, 2013, Perbedaan Kekuatan Geser Pada Restorasi Resin Komposit

Microhybrid Antara Bonding Generasi V dan Bonding Generasi VII,

Yogyakarta.

(49)
(50)

Tests of Normal ity

This is a lower bound of the true signif icance. *.

Lillief ors Signif icance Correction a.

Independent Samples Test

3,901 ,076 11,964 10 ,000 1,42500 ,11911 1,15961 1,69039

(51)

Hasil Uji Geser (Mpa)

Jenis Material Hasil Uji geser (Mpa)

RelyX 3,66 Mpa

3,86 Mpa 3,07 Mpa 3,46 Mpa 3,66 Mpa 3,73 Mpa

Rata-rata 3,57 Mpa

Semen Ionomer Kaca Tipe 1

2,15 Mpa 2,07 Mpa 2,02 Mpa 2,23 Mpa 2,23 Mpa 2,19 Mpa

(52)

ALAT DAN BAHAN PENELITIAN

(53)
(54)
(55)
(56)
(57)

PERBEDAAN KEKUATAN GESER RESIN SEMEN DAN SEMEN IONOMER KACA TIPE 1 PADA RESTORASI VENEER INDIREK

RESIN KOMPOSIT MICROHYBRID

Denura Syabina Putri H1, Widyapramana Dwi Atmaja2

1

Mahasiswa PSPDG UMY, 2Dosen PSPDG UMY

ESSENCE

Introduction: Nowadays aesthetic treatments in dentistry is growing ,so it improve the esthetics treatment to be many ways for correct dental problem. One of the most treatment in esthertic is veneer restoration for anterior teet. Veneer restorations divided into 2 type of technique are direct and indirect, for indirect veneer restorations is the technique which performed outside the mouth such as veneer from ceramic material or resin composite and indirect veneer is performed in a laboratory . Materials function for the attached a veneer with the tooth. Resin cement RelyXtm U200 is one type of resin cement as a glass ionomer cement type I which is designed for cementation material. The importance of research in order to follow the development of science in dental aesthetic treatment and needed for further research.

Objective: To study there are any difference of shear bond strength between two cementation materials.

Methods: This study is experimental labolatorium by using 12 sample of post- premolar tooth extraction and divided into 2 groups with data analysis used independent sample t test.

Results: The different of shear strength test were show the results of the indirect veneers cemented with RelyX dhesif in average 3,57Mpa and glass ionomer cements Type 1 2.14 Mpa.

Conclusion: RelyX are resistant to shear bond strength compared to glass ionomer cement type 1.

(58)

veneer dapat menurut jenis tekniknya dapat berupa direk ataupun indirek, Restorasi

veneer indirek adalah teknik yang dilakukan di luar mulut pasien dapat dibuat dari

material keramik atau material resin komposit dan dikerjakan di laboratorium teknik. Bahan adhesif diperlukan untuk perlekatan veneer dengan gigi. Resin semen RelyXtm U200 adalah salah satu jenis resin semen, Semen ionomer kaca tipe I dirancang untuk bahan sementasi. Pentingnya penelitian dalam rangka mengikuti perkembangan ilmu estetika dalam perawatan kedokteran gigi, maka masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Metode penelitian: eksperimental labolatoris murni, dengan jumlah sample 12 gigi post-ekstraksi dibagi menjadi 2 kelompok, dengan analisis data menggunakan

independent sample t test. Hasil uji kekuatan geser dari penelitian ini menunjukan

bahwa perlekatan restorasi veneer indirek dengan bahan adhesif RelyX rata-rata 157,4N dan rata-rata semen ionomer kaca tipe 1 82,7N. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa, RelyX memiliki kekuatan geser yang lebih baik dibandingkan dengan semen ionomer kaca tipe 1.

(59)

PENDAHULUAN

Pasien pada umumnya lebih menyukai prosedur yang melibatkan sedikit pembuangan struktur gigi atau sama sekali tidak dibuang. Salah satu perawatan yang memerlukan pengurangan struktur gigi yang minimal dan telah digunakan selama kurang lebih 15 tahun adalah pembuatan veneer. Restorasi veneer dapat menurut jenis tekniknya dapat berupa direk ataupun indirek, Restorasi veneer indirek adalah teknik yang dilakukan di luar mulut pasien dapat dibuat dari material keramik atau material resin komposit dan dikerjakan di laboratorium teknik.

Resin komposit merupakan bahan restorasi sewarna gigi yang biasa digunakan untuk gigi anterior dan posterior. Resin komposit FiltekTMZ250 (3M ESPE, USA) merupakan salah satu jenis resin komposit mikro hybrid yang dapat digunakan untuk gigi anterior maupun posterior. Sebuah penelitian menunjukan hasil perbandingan kekuatan tekan dan persentasi kekerutan beberapa macam resin komposit, yaitu resin komposit nanofiller, resin komposit hybrid, dan resin komposit makrofiller yang terdapat di pasaran.Hasil dari perbandingan tersebut didapat resin komposit hybrid memiliki kekuatan tekan dan persentasi kekerutan paling tinggi. Komposisi yang terkandung adalah, bisphenol-A-glycidyldimethacrylate (bis-GMA) yang berfungsi sebagai pengisi, urethane dimetakrilat (UEDMA) dan BISEMA,

Encore-GMA, Encore-EMU sebagai pengencer. Terkandung juga partikel pengisi

anorganik, yaitu muatan zirconium/silica 60% dengan ukuran partikel 0,01-3,5 mikron

(60)

berbeda memiliki sifat yang berbeda. Uji kekuatan geser digunakan untuk mengetahui uji perlekatan antara dua bahan. Kekuatan geser ditentukan dengan cara mengaplikasikan tegangan tarik pada spesimen dan diuji dengan modifiedcantilever test.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental labolatoris murni yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan kekuatan geser resin semen dan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid dengan menggunakan sample gigi post-ekstraksi

Gigi post-ekstraksi dibersihkan dahulu lalu dilakukan pembuatan sample, dengan melakukan preparasi berbentuk window menggunakan bur pada fasial gigi, lalu diberikan latex agar restorasi veneer mudah dilepas pakai pada sample.setelah pembuatan veneer indirek dengan bahan resin komposit microhybrid, sample dibersihkan dengan air bersih ditunggu hingga keadaan moist, lalu diberikan bahan bonding selama ±10detik dan disinari menggunakan light cure selama 20-40detik. Selanjutnya 12 sample dibentuk menjadi 2 kelompok, dengan masing-masing kelompok terdapat 6 sample. Pemberian bahan sementasi menggunakan bahan RelyX dan semen ionomer kaca tipe 1 pada masing-masing kelompok. Perlekatan dengan bahan sementasi selesai, veneer lalu dilekatkan pada permukaan fasial gigi yang telah dipreparasi dan sisa-sisa yang berlebih dihilangkan, kemudian dilakukan penyinaran kembali selama ±20-4-detik. Lakukan polishing agar restorasi terleihat lebih estetis.

(61)

Uji geser dilakukan menggunakan Universal Testing Machine. Hasil yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan analisis deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kekuatan geser resin semen (RelyX) dan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid diukur dengan menggunakan Universal testing Machnine gaya yang didapat kemudian dimasukkan dalam rumus kekuatan geser((�)= F/��ℎ. Hasil perhitungan kekuatan geser resin semen dan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi

veneer indirek resin komposit microhybrid dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 1. Hasil Pengukuran Kekuatan Geser

Jenis Material Hasil Uji geser (Mpa)

RelyX 3,66 Mpa

Semen Ionomer Kaca Tipe 1 2,15 Mpa 2,07 Mpa

(62)

Dari tabel 2 dapat dilihat hasil uji normalitas masing-masing sample pada kedua jenis material menunjukan bahwa data yang terkumpul adalah normal. Selanjutya dilakukan Levene’s test untuk menentukan homogenitas variansi pada data tersebut, dan hasil tes menunjukan data yang didapat adalah homogen. Tahap analisis selanjutnya adalah menguji data tersebut, pada penelitian ini menggunakan

Independent sample T test karena semua syarat Independent sample T test telah

terpenuhi (data yang normal dan homogen).

Tabel 3. Levene’s test dan Independent Sample T Test

Hasil dari Independent sample t test menunjukah bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara satu kelompok dengan kelompok lainnya atau dalam penelitian ini diasumsikan terdapat perbedaan kekuatan geser antara RelyX dan semen ionomer kaca tipe 1 terhadap restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid.

PEMBAHASAN

Restorasi veneer indirirek resin komposit microhybrid dengan menggunakan semen resin (RelyX) mendapatkan rata-rata hasil uji geser yang lebih baik yaitu

,289 6 ,129 ,878 6 ,262

This is a lower bound of the true signific ance. *.

Lilliefors S ignificanc e Correction a.

Independent Samples Test

3,901 ,076 11,964 10 ,000 1,42500 ,11911 1,15961 1,69039

11,964 5,962 ,000 1,42500 ,11911 1,13310 1,71690

(63)

sebesar 157,4N, sedankan pada kelompok pembanding yang menggunakan semen ionomer kaca tipe 1 mendapatkan hasil rata-rata uji geser 82,7N

Hasil independent sample t test pada table 3. Menunjukan bahwa terdapat perbedaan kekuatan geser antara RelyX dan semen ionomer kaca tipe 1 terhadap restorasi veneer indirek resin komposit microhybrid, hal ini dikarenakan karena kandungan pada semen resin dan semen ionomer kaca tipe 1 yang berbeda. Terkandung monomer metrakilat yang mengandung asam fosfat, silanated filler, komponen inisiator dan rheological additivies pada komposisi dari pasta base RelyX, dan pada pasta katalis terkandung monomer metrakilat, filler alkalin, komponen inisiator dan pigmen.

Semen ionomer kaca tipe secara kimiawi memiliki kemampuan mengikat struktur dentin dan email serta bersifat antikariogenik karena dapat melepaskan fluoride. Menurut beberapa ahli, perlekatan semen ionomer kaca terhadap resin komposit sangan terbatas dan ikatan antara semen ionomer kaca konvensional dengan resin komposit sangat lemh, karena kekuatan kohesi yang kurang dari semen ionomer kaca dan bonding kimiawi yang minimal pada semen ionomer kaca.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang perbedaan kekuatan geser resin semen dan semen ionomer kaca tipe 1 pada restorasi veneer indirek resin komposit

microhybrid, didapatkan kesimpulan bahwa . terdapat perbedaan kekuatan geser resin

semen dan semen ionomer kaca tipe I pada restorasi veneer indirek resin komposit

microhybrid.

DAFTAR PUSTAKA

3M ESP, 2011. RelyX U200 Manual Instruction

(64)

Resin Systems[J], Dent Mater

Li, J., Liu, J., Soremark, R., dan Sundstrom, I. (1996). Flexture Strength of Resin-Modiefied Glass-Ionomer Cement Sandwich Technique. Br. Dent. J., 200 (5), 297

Octarina, Soufiyan, A., Erawati, Y. K., 2012, Effect of Sanblasting on Shear Bond Strength Composite Resin Venner, Jakarta

Rao, Taru (2014). Shear Bond Strength of a Luting Glass Ionomer Cement and a Self-Adhesive Universal Resin Cement to a Base Metal Alloy Journallar: Mangalore.

Rostina, 2001, Restorasi Gigi Anterior dengan Menggunakan Veneer, Medan

Susra, 2013, Perbedaan Kekuatan Geser Pada Restorasi Resin Komposit

Microhybrid Antara Bonding Generasi V dan Bonding Generasi VII,

Figure

Gambar 1.KerangkaKonsep

Gambar 1.KerangkaKonsep

p.31
Gambar 2.Alur Penelitian

Gambar 2.Alur

Penelitian p.39
Tabel 1. Hasil Pengukuran Kekuatan Geser

Tabel 1.

Hasil Pengukuran Kekuatan Geser p.41
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk

Tabel 2.

Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk p.42
Tabel  3. Independent Sample T Test

Tabel 3.

Independent Sample T Test p.43
Tabel 1. Hasil Pengukuran Kekuatan Geser

Tabel 1.

Hasil Pengukuran Kekuatan Geser p.61
Tabel 2. Uji Normalitas Shapiro-wilk

Tabel 2.

Uji Normalitas Shapiro-wilk p.62
Tabel 3. Levene’s test dan Independent Sample T Test

Tabel 3.

Levene’s test dan Independent Sample T Test p.62

References

Outline : Saran

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in