Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016

Teks penuh

(1)

GAMBARAN SISTEM PELAPORAN NEAR MISS, UNSAFE ACT DAN

UNSAFE CONDITION DI PROYEK MASS RAPID TRANSIT JAKARTA

(MRTJ) TOKYU-WIKA JOINT OPERATION TAHUN 2016

SKRIPSI

OLEH : NURANI FITRI NIM : 1111101000055

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

i

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar strata satu (S1) di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juni 2016

(3)

ii

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Skripsi, Agustus 2015 – Juni 2016

Nurani Fitri, NIM : 1111101000055

Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016 xvii + 186 halaman, 5 tabel, 7 bagan, 20 gambar, 14 lampiran

ABSTRAK

Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) merupakan perusahaan kerjasama antara Tokyu Construction Co., Ltd dengan DSU I WIKA yang bergerak di bidang konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Surface Section CP 101 & CP 102. Kasus kecelakaan kerja yang terjadi di sektor konstruksi meliputi semua jenis pekerjaan proyek dan menimbulkan kerugian serius bagi perusahaan. Melaporkan semua kejadian yang tidak diinginkan seperti near miss merupakan aspek yang paling penting dari setiap program keselamatan. Semakin banyak near miss yang dilaporkan maka semakin banyak kesempatan untuk menyelidiki, mengidentifikasi dan memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian serius terjadi. Sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di TWJO belum memenuhi secara keseluruhan sistem pelaporan near miss (NEMIR System).

Penelitian ini dimulai sejak bulan Agustus 2015 sampai dengan Juni 2016 untuk mengetahui gambaran sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di Proyek MRTJ TWJO Tahun 2016. Pendekatan sistem (input, proses, output) dan teori NEMIR system digunakan untuk mengetahui sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition perusahaan yang terdiri dari material, SDM, metode, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi pelaksanaan pelaporan dan kemudian memperoleh laporan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data primer melalui wawancara kepada informan, observasi dan mengumpulkan data sekunder melalui telaah dokumen. Validasi data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di Proyek MRTJ TWJO belum terlaksana dengan baik sesuai dengan NEMIR system. Terdapat beberapa kekurangan pada masing-masing tahapan sistem input-proses-output (komponen standar belum maksimal, belum terdapat amnesti dan laporannya belum tercatat dan terdokumentasi dengan lengkap).

Rekomendasi diberikan kepada pihak Divisi SHE dan Top Manajemen perusahaan yaitu membuat SOP terkait pelaporan dan form pelaporan unsafe act pada standar, memberlakukan

punishment dan reward berkaitan dengan aktivitas pelaporan. Sedangkan untuk konsultan

perusahaan rekomendasinya yaitu meningkatkan pemantauan dan pengawasan, memeriksa serta mengevaluasi kembali laporan-laporan SHE perusahaan.

Daftar Bacaan : 59 (1990-2016)

(4)

iii

STATE ISLAMIC UNIVERSITY OF SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES

PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM

Undergraduate Thesis, June 2016

Nurani Fitri, NIM : 1111101000055

A Descriptive of Near miss, Unsafe Act and Unsafe Condition Reporting System in Mass Rapid Transit Jakarta(MRTJ) Project TOKYU-WIKA Joint Operation 2016

xvi + 183 pages, 5 tables, 7 charts, 20 pictures, 14 attachments

ABSTRACT

Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) is a collaboration between Tokyu Construction Co., Ltd and DSU I WIKA company works in construction Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Project Surface Section CP 101 and CP102. Cases of occupational accidents that occurred in construction sector covering all types of project work and cause serious harm to the company. Reporting all undesired incidents such as near miss is the most important aspect of any safety programs. The more near miss are reported, the more opportunities to investigating, identifying and correcting the root causes before serious loss occur. Near miss, unsafe act and unsafe condition reporting system in TWJO wasn’t filled to the overall near miss reporting system (NEMIR System).

This research was began in August 2015 until June 2016 to find out a description of near miss, unsafe act and unsafe condition reporting system in TWJO MRTJ Project 2016. The system approach (input, process, output) and NEMIR System theory were used to determined near miss, unsafe act and unsafe condition reporting system in the company consisting of material, human resources, method, implementation, monitoring, evaluation and then to get a report. This research is a qualitative research by collecting primary data through the interview with informants, observation and then collecting secondary data through review of documents. Data validation was using triangulation sources and methods.

The result showed that near miss, unsafe act and unsafe condition reporting system in TWJO MRTJ Project 2016 hasn’t done well in implementation with NEMIR System. There are some lack on each stage of the input-process-output system (standard document is not maximized,there hasn’t been amnesty and the reports haven’t been recorded and full documented.

The recommendations are given to SHE Division and Top Management of company to make SOP related to reporting and unsafe act reporting form on the standard, applying the punishment and reward related to reporting activities. And recommendation for consulting firm is to improve monitoring and observation, checking and re-evaluting SHE company reports.

References : 59 (1990-2016)

(5)
(6)
(7)

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS DIRI

Nama : Nurani Fitri

Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 25 Maret 1994

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Maluku Blok C72 No 19 RT 02/RW 08

Perumahan Sarua Permai Benda Baru Pamulang, Tangerang Selatan.

Telp : 085693253949

Email : nuranifitriboo@gmail.com

PENDIDIKAN FORMAL

 1998 - 1999 : TK Islam Al-Hilal, Ambon

 1999 - 2000 : SD Negeri Bawakaraeng 03, Makassar  2000 - 2005 : SD Negeri Sarua 06

 2005 - 2008 : SMP Negeri 1 Pamulang

 2008 - 2011 : SMA Negeri 1Ciputat (1 Kota Tangerang Selatan)  2011 - Sekarang : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta

PENGALAMAN ORGANISASI

 Anggota KIR SMP Negeri 1 Pamulang : 2005 - 2007  Bendahara Mading SMA Negeri 1 Ciputat : 2009 - 2011

 Anggota Paduan Suara FKIK (PASIFIK) UIN Jakarta : 2011 – Sekarang  Staff Public Relation, Forum Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2012 – 2014

PELATIHAN

 Peserta Orientasi Akademik dan Kebangsaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2011

 Peserta Workshop Paduan Suara FKIK (PASIFIK) UIN Jakarta “Satukan

Hati PASIFIK dengan Harmonisasi Musik” tahun 2011

 Peserta Seminar “Lokakarya Nasional Rancangan UU Tenaga Kesehatan 2013” tahun 2012

 Peserta Talkshow Nasional “Peringatan Hari AIDS se-Dunia 2012 Say Hi to AIDS!” tahun 2012

(8)

vii

 Peserta Seminar Profesi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

“Gambaran Budaya K3 di Rumah Sakit tahun 2013” tahun 2013

 Peserta Basic Fire Fighting FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013

 Peserta Workshop “Ergonomi di Tempat Kerja” tahun 2014

 Peserta Workshop “Investigasi dan Pencegahan Kecelakaan Kerja” tahun 2014

 Peserta Workshop “Manajemen Kebakaran dan Ledakan” tahun 2014  Peserta Workshop “Manajemen Risiko dan Pengendalian Kerugian” tahun

2014

 Peserta Training “SMK3 Based on OHSAS 18001 dan PP No. 50 tahun

2012” tahun 2014

KEPANITIAAN

 Penanggung Jawab Divisi Acara Bakti Sosial Pengobatan Gratis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012

 Ketua Divisi Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi Workshop PASIFIK

UIN Jakarta ”Satu Melodi, Satu Irama Jiwa dalam Harmonisasi Suara”

tahun 2012

 Panitia Ketok 1000 Pintu ”Aksi Tanggap Darurat Peduli Kesehatan Keluarga” tahun 2012

 Panitia Workshop PASIFIK UIN Jakarta Interpidezza tahun 2013

 Panitia Seminar Profesi K3 “Optimalisasi Pemenuhan Regulasi Prasarana

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Alhamdulillah, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act

dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ)

Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016”. Shalawat beserta salam yang teriring doa semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang senantiasa atas izin Allah SWT mengajarkan umatnya untuk terus memperoleh ilmu pengetahuan yang kelak bermanfaat bagi sesamanya.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mahasiswa/i peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun di dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kedua orang tua saya yang tercinta Papa dan Mama (H. Rahim Laema dan Hj. Hajerah Rahim), Kak Ari (Nurharij Apriani R. Laema) dan Fitrah (M. Fitrah Habibullah) karena atas doa dan dukungan yang tak henti-hentinya sehingga saya mampu menyelesaikan, memperoleh dan menjalani pendidikan hingga saat ini S1 di jenjang universitas;

2. Bapak Prof. Dr. H. Arif Sumantri, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta;

3. Ibu Fajar Ariyanti, M. Kes, Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat dan Para Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta;

(10)

ix

5. Ibu Dr. Iting Shofwati, S.T, M.KKK selaku Dosen Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terima kasih atas motivasinya, ilmunya, pengetahuan dan pengalaman yang telah diberikan kepada penulis;

6. Tokyu-WIKA Joint Operation (SHE Division dan semua yang terlibat) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (QSHE Departemen Power Plant dan Energi) yang telah memberikan kesempatan untuk memperoleh izin terkait penelitian, memperoleh banyak informasi, dukungan, ilmu, pengalaman maupun arahan selama proses penyusunan skripsi ini;

7. Semua Dosen Penguji, terima kasih atas kritik, saran dan kesediaan waktunya telah menjadi penguji dalam skripsi ini;

8. Sahabat-sahabat tersayang (Nauval, Rika, Obin dan Urukucup; Ridwan, Mumu, Aji, Ega, Farah, Bremi, Raya, Flo) yang selalu memberikan dukungan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini dan atas keseruan kalian hingga saat ini;

9. Kawan Sholihah, K3 2011 dan Kesehatan Masyarakat 2011 UIN Jakarta, dsb yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, dengan doa dan harapan bahwa segala kebaikan yang mereka berikan dapat bermanfaat bagi penulis. Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan skripsi ini masih terdapat berbagai kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar kelak dapat menjadi lebih baik lagi, Aamiin.Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, Juni 2016

(11)

x

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN ... iv

LEMBAR PENGESAHAN ... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR BAGAN ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR ISTILAH ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Pertanyaan Penelitian ... 8

D. Tujuan ... 9

1. Tujuan Umum ... 9

2. Tujuan Khusus ... 9

E. Manfaat Penelitian ... 10

1. Bagi Peneliti ... 10

2. Bagi Institusi Pendidikan ... 10

3. Bagi Perusahaan Tokyu-WIKA Joint Operation ... 11

F. Ruang Lingkup ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Pekerjaan Konstruksi ... 13

B. Program K3 ... 14

C. Perilaku dan Kondisi Tempat Kerja ... 20

(12)

xi

D. Near Miss ... 24

E. Accident ... 25

1. Teori Kecelakaan Kerja ... 25

F. Accident or Near Miss Incident Ratio ... 29

G. Definisi Sistem, Pendekatan Sistem dan Pelaporan ... 30

1. Sistem ... 30

2. Pendekatan Sistem ... 31

3. Pelaporan ... 35

H. Definisi Near Miss Incident Report (NEMIR) System ... 35

I. Kerangka Teori... 40

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ... 43

A. Kerangka Berpikir ... 43

B. Definisi Istilah ... 48

BAB IVMETODE PENELITIAN... 51

A. Jenis Penelitian ... 51

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 51

C. Informan Penelitian ... 51

D. Instrumen Penelitian... 53

E. Metode Pengumpulan Data ... 54

F. Validasi Data ... 56

1. Triangulasi Sumber ... 56

2. Pendekatan Metode ... 57

G. Pengolahan dan Analisa Data... 59

H. Penyajian Data ... 61

BAB V HASIL ... 62

A. Gambaran Umum Perusahaan ... 62

1. Lokasi dan Rute MRT Jakarta ... 62

2. Jenis Kegiatan ... 63

3. Ruang Lingkup Pekerjaan ... 64

(13)

xii

B. Hasil Gambaran Tahap Input dalam Sistem Pelaporan Near Miss,

Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ... 69

1. Material ... 69

2. Sumber Daya Manusia (SDM) ... 97

3. Metode ... 109

C. Hasil Gambaran Tahap Proses dalam Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ... 111

1. Pelaksanaan Pelaporan ... 112

2. Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan ... 131

3. Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan ... 135

D. Hasil Gambaran Tahap Output dalam Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ... 142

1. Laporan Near Miss ... 142

2. Laporan Unsafe Act ... 145

3. Laporan Unsafe Condition ... 147

BAB VI PEMBAHASAN ... 154

A. Keterbatasan Penelitian ... 154

B. Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ... 154

C. Gambaran Tahap Input dalam Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ... 156

1. Material ... 157

2. Sumber Daya Manusia (SDM) ... 163

3. Metode ... 164

D. Gambaran Tahap Proses dalam Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ... 166

1. Pelaksanaan Pelaporan ... 166

2. Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan ... 170

3. Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan ... 171

E. Gambaran Output dalam Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ... 171

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 177

A. Simpulan ... 177

(14)

xiii

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Istilah ... 48

Tabel 4.1 Informan Penelitian ... 53

Tabel 4.2 Matriks Triangulasi Sumber... 57

Tabel 4.3 Matriks Triangulasi Metode ... 58

(16)

xv

Bagan 2.1 Accident/Near Miss Ratio Study ... 30

Bagan 2.2 Diagram Alir Sederhana Elemen Sistem ... 31

Bagan 2.3 Diagram Alir Elemen Sistem dengan Feedback ... 33

Bagan 2.4 Kerangka Teori ... 42

Bagan 3.1 Kerangka Berpikir ... 47

Bagan 5.1 Struktur Organisasi Tokyu-WIKA Joint Operation ... 68

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Teori Loss Causation Model ... 28

Gambar 2.2 Near Miss Reporting Form ... 37

Gambar 2.3 Teori Loss Causation Model ... 46

Gambar 5.1 Lokasi dan Rute MRT Jakarta ... 63

Gambar 5.2 Lokasi Proyek CP 101 dan CP 102 ... 65

Gambar 5.3 Daily Safety Patrol Form ... 75

Gambar 5.4 Near Miss Form ... 76

Gambar 5.5 Kebijakan K3 TWJO ... 85

Gambar 5.6 Dokumentasi Kebijakan K3 TWJO ... 86

Gambar 5.7 Lampiran Standar Operasional Prosedur pada Dokumen Site Safety Plan ... 89

Gambar 5.8 Unsafe Act pada Pekerjaan Fabrikasi Besi dan Pengelasan (Penggunaan APD)... 96

Gambar 5.9 Unsafe Condition (Penempatan Material Scaffolding dan Kebersihan Lokasi Kerja ... 97

Gambar 5.10 Statistic Safety record... 102

Gambar 5.11 Monthly HSE Performance Report ... 102

Gambar 5.12 Kebijakan Terhadap Pelanggaran Disiplin Pemakaian Alat Pelindung Diri... 129

Gambar 5.13 Foto Site Inspection dari JMCMC ... 134

Gambar 5.14 Weekly Meeting SHE with Construction and Subcontractor ... 139

Gambar 5.15 Tabel Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report January-April 2016 ... 144

Gambar 5.16 Record Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report ... 145

(18)

xvii

Jakarta Mass Rapid Transit Construction Management Consultant

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Lost Time Injury

Media Treatment Injury

Mass Rapid Transit Jakarta

Near Miss Reporting

National Safety Council

Occupational Health and Safety Advisory Services

Occupational Safety and Health Administration

Penyakit Akibat Kerja Project Manager

Quality Assurance

Quality, Safety, Health and Environment

Sumber Daya Manusia

Safety, Health and Environment

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Safety Officer

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia perindustrian saat ini bergerak di berbagai bidang atau sektor, sektor industri jasa konstruksi merupakan salah satunya. Pada umumnya semua jenis pekerjaan melibatkan sejumlah pekerja dalam melakukan proses pekerjaan, begitu pula dengan pekerjaan konstruksi. Kejadian yang banyak terjadi adalah kecelakaan kerja akibat belum dilakukan penanganan terhadap pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja secara mantap dan menyeluruh pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan.

Menurut International Labour Organization secara global diperkirakan 337 juta kecelakaan kerja terjadi dan 2,3 juta kematian akibat kerja terjadi setiap tahunnya (ILO, 2014). Di dunia, hampir setiap tahunnya pada tempat kerja terdapat 250 juta pekerja yang mengalami cidera, 150 juta pekerja yang terkena penyakit akibat kerja dan lebih dari 1,1 juta pekerja yang meninggal dunia (Titas, 2013).

Berdasarkan hasil perhitungan U.S BLS (United State Bureau of Labour Statistics) yang dilaporkan menyebutkan bahwa kecelakaan kerja

(20)

yang menyebabkan 715 kematian (15,45%) dan pekerja kontrak menyumbang sebanyak 15% (BLS, 2014). Sedangkan di tahun 2013 kecelakaan kerja mengalami penurunan menjadi 4.585 kasus dan kemudian mengalami peningkatan kembali di tahun 2014 menjadi 4.679 kasus (BLS, 2015).

Angka kecelakaan kerja di Indonesia termasuk yang paling tinggi di kawasan Asia Tenggara. Di tahun 2010, hampir 32% kasus kecelakaan kerja yang ada terjadi di sektor konstruksi yang meliputi semua jenis pekerjaan proyek gedung, jalan, jembatan, terowongan, irigasi bendungan dan sejenisnya (Jamsostek, 2010). PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) mencatat sepanjang tahun klaim terhadap program jaminan kecelakaan kerja (JKK).

Klaim terhadap program jaminan kecelakaan kerja (JKK) di tahun 2013 sebesar 563 miliar rupiah yaitu sebanyak 103.285 kasus yang diantaranya berupa cacat fungsi, cacat sebagian, cacat total tetap, sembuh dan meninggal dunia. Sedangkan di tahun 2014 kasus kecelakaan yang terjadi sebanyak 105.383 kasus dan program JKK yaitu sebesar 652 miliar rupiah (BPJS Ketenagakerjaan, 2015). Klaim terhadap program JKK mengalami peningkatan dari tahun 2013 ke tahun 2014.

National Safety Council (2013) menyatakan bahwa insiden yang

(21)

3

insiden terjadi di kemudian hari dan perusahaan perlu membuat proses pelaporan near miss semudah mungkin dapat dipahami.

Beberapa perusahaan mungkin tidak memiliki budaya pelaporan dimana para pekerjanya didorong untuk melaporkan kejadian near miss. Namun sejarah memperlihatkan bahwa setiap kerugian atau kecelakaan kerja berulang kali terjadi dipicu oleh kejadian near miss. Maka dengan mengenali dan melaporkan setiap kejadian near miss secara signifikan dapat meningkatkan keselamatan pekerja dan meningkatkan budaya keselamatan (NSC, 2013).

Menurut Bird dan Germain (1990), unsafe act, unsafe condition dan near miss merupakan hal yang patut dipelajari dan dicegah agar tidak terjadi kecelakaan kerja yang mampu mengakibatkan sejumlah kerugian. McKinnon (2012) menyatakan bahwa banyak peristiwa yang tampaknya tidak penting memiliki potensi untuk cidera dan kerugian lainnya. Namun jika diakui, dilaporkan dan diperbaiki akar penyebab kejadian near miss dapat mengeliminasi terjadinya cidera dan kecelakaan kerja.

(22)

harus memastikan bahwa setiap unsafe act dan unsafe condition dilaporkan agar kemudian dapat ditindaklanjuti (Bird and Germain, 1990).

Terdapat dua alasan utama pekerja berperilaku tidak aman di tempat kerja yaitu karena ketidaktahuan atau kurangnya informasi tentang keselamatan dan ketidakpedulian akan pentingnya keselamatan (Titas, 2013). Peraturan yang terdapat di proyek dan ketersediaan APD sangat memungkinkan pekerja konstruksi berperilaku dalam bekerja. Adanya pengawasan dari pengawas dan SHE Officer juga memberikan pengaruh terhadap perilaku pekerja konstruksi dalam bekerja, karena pekerja selalu merasa diawasi saat bekerja (Annishia, 2011).

Kecelakaan yang terjadi di site konstruksi umumnya dapat dikatakan sebagai kelemahan Sistem Manajemen K3 perusahaan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor teknis, teknologi (peralatan) dan organisasi (Titas, 2013). Organisasi atau manajemen perusahaan melaksanakan program K3 disamping untuk memberikan perlindungan terhadap kecelakaan kerja, juga untuk mencegah kerugian yang besar bagi perusahaan (Riantiwi, 2012).

(23)

5

Sipil Umum I WIKA yang bergerak di bidang konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ). Bertanggung jawab pada pelaksanaan proyek

MRTJ Surface Section area CP101 dan CP102.

WIKA memiliki kebijakan K3 yang berkomitmen untuk mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan, dengan sasaran tercapainya zero accident, efisiensi penggunaan sumber daya dan pencegahan environmental incident. Sedangkan TWJO memiliki kebijakan K3 yang berkomitmen untuk mendorong praktik kerja yang aman pada Proyek Konstruksi MRT Jakarta sesuai dengan undang-undang K3 serta aturan dan peraturan Pemerintah Indonesia dan otoritas terkait yang memiliki kewenangan hukum.

Menurut Data Statistik Kinerja Keselamatan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk selama kurun waktu 3 tahun terakhir, terdapat sejumlah kecelakaan kerja. Di tahun 2012 terdapat kecelakaan kerja No Loses Time Injury (NLTI) sebanyak 83 kasus. Meskipun di tahun 2013

mengalami penurunan menjadi 50 kasus, namun di tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi 189 kasus (WIKA, 2015)

(24)

Berdasarkan Laporan Kecelakaan Kerja, Near miss dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) bulan Januari hingga Desember 2015 pada Proyek MRTJ TWJO diperoleh bahwa terdapat sejumlah kecelakaan kerja yaitu sebanyak 7 kasus, 4 kasus diantaranya merupakan kategori ringan dan 3 kasus lainnya merupakan kategori berat yang menyebabkan LTI dan MTI. Selain itu, sepanjang tahun 2015 untuk pelaporan terkait Near miss hanya terdapat satu kejadian yang dilaporkan, dan untuk pelaporan terkait kondisi mekanik fisik berbahaya (unsafe condition) dan tindakan berbahaya (unsafe act) yang terjadi diperusahaan tidak terdapat rekapitulasi data pelaporannya (TWJO, 2015).

Pada laporan bulanan proyek TWJO dan fakta yang diuraikan sebelumnya menjelaskan bahwa masih terdapat sejumlah kasus kecelakaan kerja pada site konstruksi MRTJ. Selain itu, masih terdapat pekerja konstruksi yang berperilaku tidak aman (unsafe act) diantaranya adalah memuat dan menempatkan secara tidak aman, menggunakan peralatan yang tidak aman atau tanpa peralatan, mengambil posisi atau sikap tubuh yang tidak ergonomi, tidak menggunakan APD, melakukan pekerjaan tanpa wewenang serta tindakan berbahaya lainnya yaitu merokok di area kerja.

(25)

7

inspeksi pada site konstruksi namun data pelaporan terkait unsafe act belum dilaporkan dan minimnya data pelaporan terkait near miss dan unsafe condition.

Perilaku, kondisi tidak aman dan kejadian near miss yang terjadi dapat memberikan peluang kecelakaan kerja dapat terulang. TWJO memiliki form pelaporan yang berkaitan dengan perilaku pekerja, kondisi tidak aman dan kejadian near miss yang mengacu pada dokumen Site Safety Plan (TWJO-PLN-0003-revD). Namun Divisi SHE belum

melakukan pencatatan dan pelaporan terkait unsafe act, minimnya data unsafe condition dan data pelaporan near miss. Hal ini yang membuat

penulis tertarik untuk melakukan penelitian terkait “Gambaran Sistem Pelaporan Near miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO)

Tahun 2016”.

B. Rumusan Masalah

WIKA merupakan industri yang bergerak di bidang engineering, procurement dan construction. Setiap departemen yang terdapat di

WIKA memiliki bahaya dan tingkat risiko yang berbeda-beda. Komitmen WIKA untuk mencegah kecelakaan kerja, PAK dan pencemaran lingkungan, dengan sasaran tercapainya zero accident, efisiensi penggunaan sumber daya dan pencegahan environmental incident masih belum optimal.

(26)

bidang konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ). Bertanggung jawab pada pelaksanaan proyek MRTJ CP101 dan CP102. Berdasarkan Laporan Kecelakaan Kerja, Near miss dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) bulan Januari hingga Desember 2015 pada Proyek MRTJ TWJO diperoleh bahwa terdapat sejumlah kecelakaan kerja yaitu sebanyak 7 kasus, 4 kasus diantaranya merupakan kategori ringan dan 3 kasus lainnya merupakan kategori berat yang menyebabkan LTI dan MTI. Sepanjang tahun 2015 untuk pelaporan near miss hanya terdapat satu kejadian yang dilaporkan. Sedangkan untuk pelaporan terkait kondisi mekanik fisik berbahaya (unsafe condition) dan tindakan berbahaya (unsafe act) yang terjadi diperusahaan tidak terdapat rekapitulasi data pelaporannya (TWJO, 2015).

Minimnya pelaporan near miss dan belum maksimalnya data pelaporan terkait perilaku tidak aman dan kondisi tidak aman pada proyek serta adanya komitmen perusahaan demi mencegah terjadinya kecelakaan kerja terulang, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun 2016”.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran input sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid Transit Jakarta

(27)

9

2. Bagaimana gambaran proses sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid Transit Jakarta

(MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun 2016? 3. Bagaimana hasil atau output dari sistem pelaporan near miss,

unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid Transit

Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun

2016? D. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ)

Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun 2016. 2. Tujuan Khusus

a. Diperolehnya gambaran input sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid

Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

(TWJO) Tahun 2016.

b. Diperolehnya gambaran proses sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid

Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

(TWJO) Tahun 2016.

(28)

Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun 2016.

E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

a. Memperoleh pengetahuan, menambah wawasan dan mengetahui bagaimana sistem pelaporan near miss, pelaporan unsafe act dan unsafe condition dalam langkah mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja, mengamati perilaku pekerja konstruksi dan kondisi di tempat kerja serta membantu pelaksanaan SMK3 di proyek Mass Rapid

Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

(TWJO).

b. Menerapkan ilmu K3 yang diperoleh pada bangku perkuliahan ke dalam dunia pekerjaan atau tempat kerja. c. Berkontribusi secara nyata pada perusahaan dan

memperoleh pengalaman di lapangan sebagai bentuk kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.

2. Bagi Institusi Pendidikan

a. Menjalin kerjasama yang baik antara pihak instansi perusahaan dengan pihak institusi pendidikan.

(29)

11

c. Memperoleh referensi baru dari penelitian skripsi yang dilakukan untuk pengembangan penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai masukan atau saran dalam meningkatkan kurikulum yang telah diterapkan.

3. Bagi Perusahaan Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) a. Memperoleh masukan dan rekomendasi yang positif

dalam mengevaluasi berbagai kekurangan terkait pelaksanaan K3 yang ada di perusahaan dan yang berkaitan dengan pencatatan dan pelaporan.

b. Menjalin kerjasama yang baik dengan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan K3 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dalam menerapkan kemampuan dan meningkatkan kualitas SDM yang baik. c. Penelitian atau skripsi dapat dijadikan sebagai bahan

referensi dalam mengevaluasi kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan K3 di perusahaan sebagai upaya peningkatan berkelanjutan.

F. Ruang Lingkup

(30)
(31)

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Pekerjaan Konstruksi

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PP RI No. 50, 2012). Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) harus dimulai dari membuat suatu kebijakan yang dapat dilaksanakan dan ditindaklanjuti oleh manajemen. Kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja adalah komitmen bahwa tim manajemen dan karyawan setuju dalam menciptakan keselamatan (McKinnon, 2012).

Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup bangunan gedung, bangunan sipil, instalasi mekanikal dan elektrikal serta jasa pelaksanaan lainnya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain dalam jangka waktu tertentu (PERMEN PU No. 5, 2014).

(32)

dan atau perbaikan. Contoh pekerjaan konstruksi adalah pembangunan perumahan, pembuatan jembatan dan jalan, penggalian, dll.

Tenaga kerja merupakan aset perusahaan yang harus diberikan perlindungan terhadap aspek K3 mengingat ancaman bahaya potensial yang berhubungan dengan pekerjaan (PP RI No. 50, 2012). Pekerja konstruksi terlibat dalam banyak kegiatan dengan bahaya yang serius seperti jatuh dari ketinggian, mesin yang terjaga tanpa pelindung, tersambar alat berat, bahaya listrik, paparan debu, dsb (OSHA, 2016)

Pada pekerjaan konstruksi sebagian besar bahaya-bahayanya adalah nyata dan dapat ditemukan hampir setiap hari. Penyebab dari kecelakaan-kecelakaan dapat diketahui dengan baik dan seringkali terulang kembali. Maka tindakan yang dilakukan adalah dengan mengontrol risiko-risiko yang timbul dalam setiap proses pekerjaan (Rijanto, 2010).

Pekerjaan konstruksi di dalam pelaksanaannya terdapat kontrol terhadap para pekerjanya. Standar peraturan yang dibuat oleh perusahaan tidak memberikan jaminan bahwa pekerja akan bekerja dengan cara yang aman. Namun kebiasaan bekerja dengan aman merupakan hasil dari upaya pelatihan terhadap pekerja dan supervisi yang efektif dalam melakukan pengawasan (Rijanto, 2010).

B. Program K3

(33)

15

berbagai situasi yang berkaitan dengan bahaya dan tingkat risiko pada situasi tersebut. Semakin besar risiko maka akan semakin banyak diperlukannya kontrol terhadap pekerjaan yang dilakukan (Rijanto, 2010).

Pekerjaan untuk mengidentifikasi bahaya terhadap K3 di tempat kerja harus dilakukan secara terencana, menyeluruh dan dengan teknik yang akurat. Metode yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan inspeksi, pengamatan terhadap pekerjaan, survei dan penilaian teknis, serta pengawasan. Perusahaan semakin mencari cara dalam meningkatkan keterlibatan karyawan terhadap keselamatan dengan melakukan pengembangan program yang inovatif untuk keselamatan (Suryatno dkk., 2015).

Program pencegahan cidera dan penyakit merupakan alat yang efektif dalam mengurangi cidera, penyakit dan kematian akibat pekerjaan. Program pencegahan cidera dan penyakit harus termasuk sistematika identifikasi, evaluasi dan pencegahan atau pengendalian pada bahaya-bahaya yang umum di tempat kerja dan bahaya-bahaya dari tugas dan pekerjaan yang khusus (OSHA, 2013).

(34)

1. Kepemimpinan Manajemen (Management Leadership)

a. Menetapkan tujuan keselamatan dan kesehatan yang jelas untuk program dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut

b. Menunjuk satu atau lebih individu dengan tanggung jawab secara keseluruhan untuk menerapkan dan memelihara program

c. Menyediakan sumber daya yang cukup untuk menjamin pelaksanaan program yang efektif

Manajemen K3 di tempat kerja bertanggung jawab secara penuh dalam mengatur dan mengontrol seluruh manajemen organisasi. Dengan kata lain Near Miss Reporting (NEMIR) System dapat mencapai kesuksesan jika dipimpin, didukung dan berdasarkan inisiatif dari manajemen (McKinnon, 2012).

2. Partisipasi Pekerja (Worker Participation)

a. Berkonsultasi dengan pekerja dalam mengembangkan dan melaksanakan program serta melibatkan mereka dalam memperbarui dan mengevaluasi program

b. Mengikutsertakan pekerja untuk inspeksi dan investigasi insiden di tempat kerja

c. Mendorong para pekerja untuk melaporkan kekhawatiran seperti bahaya, cidera, penyakit dan near misses

(35)

17

3. Identifikasi dan Penilaian Bahaya (Hazard Identification and Assessment)

a. Mengidentifikasi, menilai dan mendokumentasikan bahaya di tempat kerja, memeriksa tempat kerja dan meninjau informasi yang tersedia terkait bahaya yang ada di tempat kerja

b. Menyelidiki cidera dan penyakit untuk mengidentifikasi bahaya yang mungkin dapat menyebabkan hal tersebut

c. Menginformasikan kepada pekerja terkait bahaya di tempat kerja

4. Pencegahan dan Pengendalian Bahaya (Hazard Prevention and Control)

a. Menetapkan dan melaksanakan rencana untuk memprioritaskan dan mengendalikan bahaya yang teridentifikasi di tempat kerja

b. Memberikan kontrol sementara untuk melindungi pekerja dari bahaya yang tidak dapat dikontrol secara langsung c. Memverifikasi bahwa semua tindakan pengendalian bahaya

dilaksanakan dan efektif

d. Membahas rencana pengendalian bahaya dengan pekerja yang terkena dampak

5. Pendidikan dan Pelatihan (Education and Training)

(36)

penyakit dan masalah yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan, bagaimana mengenali bahaya, cara untuk menghilangkan, mengurangi atau mengontrol bahaya, elemen-elemen program dan bagaimana berpartisipasi dalam program

b. Melakukan pendidikan dan pelatihan program secara berkala 6. Program Evaluasi dan Peningkatan (Program Evaluation and

Improvement)

a. Melakukan penelaahan berkala terhadap program untuk menentukan apakah program sudah diimplementasikan sesuai rancangan dan membuat kemajuan dalam mencapai tujuan b. Modifikasi program jika diperlukan untuk memperbaiki

kekurangan

c. Terus mencari cara untuk meningkatkan program

Pada umumnya, elemen-elemen tersebut yang mendasari dan terdapat di dalam program manajemen keselamatan dan kesehatan. Setiap elemen yang ada itu penting dalam mencapai keberhasilan dari keseluruhan program yang dijalankan karena elemen-elemen tersebut saling bergantung dan saling berhubungan.

(37)

19

pelaporan dan pencatatan dengan menggunakan beberapa form dan format yang telah dibentuk oleh perusahaan (OSHA, 2013).

Sistem penyimpanan catatan dan proses pelaporan menyediakan data dan informasi yang diperlukan untuk mengukur peningkatan dan keefektifan program K3L. Bentuk pelaporan yang mencakup diantaranya adalah :

1) Laporan bulanan (K3L) 2) Laporan inspeksi

3) Pemberitahuan berkala (K3L) 4) Laporan tindakan (K3L) berkala

5) Pelaporan kejadian bahaya yang terjadi (near miss) 6) Laporan kecelakaan awal

7) Laporan investigasi kecelakaan 8) Laporan pertolongan pertama/medis 9) Laporan mengenai kerusakan/kerugian 10)Laporan pelanggaran

Pada dasarnya bentuk upaya perusahaan dalam melakukan pengelolaan terhadap keselamatan kerja adalah dengan membuat program keselamatan kerja. Sejalan dengan hal tersebut, program observasi atau pengamatan memiliki tujuan untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan serta mengenali near miss, perilaku dan kondisi berisiko ditempat kerja.

(38)

kecelakaan atau kejadian, nearmiss dan kerusakan properti, meningkatkan perilaku keselamatan, memperbaiki sistem, melihat efisiensi dari sistem keselamatan dalam mengidentifikasi unsafe condition, unsafe act, dan kesalahan sistem manajemen, meningkatkan

pelaporan, meningkatkan kemampuan seseorang dalam berperilaku aman (Byrd, 2007).

C. Perilaku dan Kondisi Tempat Kerja

Perilaku dapat diartikan sebagai cara seseorang memperlakukan dirinya, sikap yang dimiliki individu dan tindakan yang dapat diamati oleh seseorang. Perilaku manusia dipengaruhi oleh sikap, kepribadian, motivasi dan memori serta karakteristik fisik dan mental yang membentuk seseorang serta lingkungannya (Stranks, 2007). Menurut Stranks, setiap orang berperilaku dengan cara yang berbeda dalam berbagai situasi. Lebih jelasnya setiap individu memiliki cara dan pola perilaku sendiri berdasarkan situasi tertentu.

(39)

21

Berdasarkan teori Lawrence Green, Green (1980) menyatakan bahwa terdapat tiga faktor yang membentuk perilaku seseorang diantaranya yairu predisposing factors (faktor pendorong), enabling factors (faktor pemungkin) dan reinforcing factors (faktor penguat). Dimana faktor predisposisi merupakan faktor yang mempermudah terjadinya perilaku, misalnya pengetahuan, persepsi, sikap dsb. Faktor pemungkin adalah faktor-faktor yang memfasilitasi perilaku seseorang yang ditandai dengan tersedianya sarana dan prasarana. Sedangkan faktor penguat adalah faktor-faktor yang mendukung terjadinya perilaku pekerja, terwujud dalam sebuah pengawasan (Green and Kreuter, 2005).

1. Perilaku Aman

Perilaku aman adalah tindakan yang tidak menyebabkan terjadinya kecelakaan atau insiden (near miss). Seperti yang kita ketahui bahwa berperilaku aman tidak akan menyebabkan terjadinya kerugian. Dibawah ini terdapat jenis-jenis perilaku aman berdasarkan Teori Loss Causation Model yaitu (Bird and Germain, 1990) :

a. Melakukan pekerjaan sesuai dengan wewenang yang diberikan

b. Berhasil memberikan peringatan terhadap adanya bahaya c. Berhasil mengamankan area kerja dan orang-orang

disekitarnya

(40)

f. Tidak menghilangkan alat pengaman keselamatan g. Menggunakan peralatan yang seharusnya

h. Menggunakan peralatan yang sesuai i. Menggunakan APD dengan benar

j. Pengisian alat atau mesin yang sesuai dengan aturan yang berlaku

k. Penempatan material atau alat-alat sesuai dengan tempatnya dan caranya

l. Mengangkat dengan benar

m. Memperbaiki peralatan dalam kondisi alat yang telah dimatikan

n. Tidak bersenda gurau atau bercanda ketika bekerja 2. Perilaku Tidak Aman

Meskipun sulit untuk mengontrol perilaku, hampir 80% hingga 95% dari semua kecelakaan pencetusnya adalah perilaku tidak aman. Perilaku tidak aman adalah tindakan yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan atau insiden (near miss). Konsekuensinya dapat membuat perusahaan mengeluarkan biaya yang besar jika hal tersebut terjadi (Cooper, 2001). Perilaku tidak aman menurut Bird dan Germain (1990) antara lain mencakup :

a. Bekerja atau mengoperasikan peralatan tanpa kewenangan

(41)

23

d. Beroperasi dengan kecepatan yang salah atau tidak tepat e. Membuat alat pengaman tidak berfungsi

f. Menggunakan peralatan yang tidak dapat digunakan atau cacat

g. Menggunakan APD secara tidak benar h. Mengangkat dengan tidak tepat

i. Salah menempatkan

j. Mengangkut dengan tidak tepat k. Posisi yang salah dalam bekerja l. Bersenda gurau

m. Dibawah pengaruh obat-obatan atau alkohol 3. Kondisi Tempat Kerja

Unsafe Condition merupakan suatu kondisi tidak aman

atau berbahaya yang dapat menimbulkan accident atau nearmiss sedangkan pengertian kondisi yang aman adalah sebaliknya. Unsafe Condition (kondisi tidak aman) adalah desain kondisi

tempat kerja yang buruk dimana terdapat bahaya mekanik dan fisik (Rausand dkk., 2011).

Menurut Bird dan Germain (1990), kategori kondisi tidak aman diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Barrier atau pengaman yang tidak memadai

b. Alat Pelindung Diri (APD) yang tidak memadai atau tidak layak

(42)

d. Proses yang tersendat

e. Sistem peringatan yang tidak memadai f. Terdapat bahaya api dan ledakan

g. Housekeeping atau tata ruang yang buruk, tempat kerja yang berantakan

h. Kondisi lingkungan yang berbahaya (terdapat debu, gas, asap, uap)

i. Paparan kebisingan j. Paparan radiasi

k. Paparan suhu tinggi atau rendah l. Pencahayaan yang kurang atau lebih m. Ventilasi yang tidak memadai

D. Near miss

Near miss merupakan kejadian yang dapat mengakibatkan

berbagai bentuk kerugian karena adanya aliran atau perubahan energi dari sumber yang melebihi atau kurang dari ambang batas normal yang aman. Near miss juga dikenal dengan sebutan incident, close calls, warnings, near collision atau near hit (McKinnon, 2012).

McKinnon (2012) di dalam bukunya mendefinisikan Near miss yaitu sebagai berikut :

(43)

25

c) Sebuah peristiwa yang hampir menyebabkan cidera atau kerusakan.

Sedangkan menurut National Safety Council (2013), Near miss adalah kejadian yang tidak direncanakan, tidak mengakibatkan cidera, sakit atau kerusakan tetapi memiliki potensi untuk mengakibatkan hal-hal tersebut.

E. Accident (Kecelakaan)

Semua kecelakaan dapat dicegah merupakan prinsip dasar ilmu K3. Karena semua kecelakaan ada penyebabnya maka penyebab tersebut dapat dihilangkan sehingga kecelakaan tidak terjadi. Tujuan utama penerapan sistem manajemen K3 adalah untuk mengurangi atau mencegah kecelakaan yang mengakibatkan cidera atau kerugian materi.

Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang dapat menimbulkan berbagai kerugian. Kecelakaan dapat diklasifikasikan dalam beragam konteks dan juga dapat dikaitkan dengan berbagai kejadian (Rausand dkk., 2011). Terdapat beberapa model atau teori-teori yang berkaitan dengan kecelakaan kerja, antara lain :

1. Teori kecelakaan kerja a. Teori Domino Heinrich

(44)

1) Social Environmental and Ancestry, yakni dengan pengaruh lingkungan, bagaimana seseorang sebelumnya dididik berdasarkan pendidikan yang diberikan dan sifat yang dimiliki karena faktor keturunan dapat menyebabkan seorang pekerja banyak melakukan kesalahan dalam bekerja.

2) Fault of person or carelessness, yakni terbentuk dari rangkaian faktor sebelumnya yaitu keturunan dan lingkungan sosial yang mengarah kepada suatu tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan.

3) Unsafe act or Unsafe Condition. Unsafe act merupakan suatu tindakan yang berbahaya atau tidak aman yang dilakukan seseorang. Sedangkan Unsafe Condition merupakan desain kondisi tempat kerja yang buruk atau terdapat bahaya mekanik dan fisik memudahkan terjadinya faktor ini.

4) Accident, merupakan peristiwa yang disebabkan karena faktor Unsafe Act or Unsafe Condition di tempat kerja. Hal tersebut pada umumnya disertai dengan kerugian. 5) Injury merupakan cidera ringan atau berat, kecacatan dan

bahkan kematian yang diperoleh rangkaian sebelumnya yaitu kecelakaan.

(45)

27

tersebut akan menimpa kartu lain. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang kita kenal, jika satu bangunan roboh kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan faktor ketiga yaitu tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman dari kelima faktor yang ada agar tidak mengakibatkan sebuah kecelakaan.

b. Teori Loss Causation Model

Model ini berisi tentang petunjuk yang memudahkan penggunanya dalam memahami bagaimana menemukan faktor penting dalam rangka mengendalikan kecelakaan dan kerugian agar tidak meluas termasuk persoalan manajemen. Bird dan Germain (1990) menjelaskan bahwa suatu kerugian (loss) disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor yang terdiri dari :

1) Lack of Management Control (kurangnya kendali

manajemen). Pengendalian merupakan salah satu faktor penting di dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Penyebab dari lack of management control yaitu berupa Inadequate programme, dikarenakan program yang tidak

(46)

pemenuhan terhadap standar, hal ini merupakan penyebab yang sering terjadi.

2) Basic Causes (Penyebab Dasar). Pada teori ini penyebab dasar terbagi atas Personal Factors (faktor personal) dan Job Factors (faktor pekerjaan) yang dimiliki seseorang.

3) Immediate Causes (Penyebab Langsung), biasanya dapat dilihat atau dirasakan. Penyebab langsung terbagi atas substandars acts and conditions. Pada umumnya

dikatakan sebagai perilaku seseorang dan kondisi yang ada ditempat kerja. Faktor ini merupakan faktor yang menjadi penyebab terjadinya insiden bila terjadi.

4) Incident, yaitu peristiwa kontak dengan energi atau substansi tertentu yang dapat membahayakan atau mengakibatkan kerusakan.

5) Loss (Kerugian), kerugian dapat berupa kerusakan pada properti, kerusakan lingkungan, menurunnya kualitas, cacat atau bahkan kematian seseorang.

Gambar 2.1

(47)

29

Berdasarkan teori-teori yang dijelaskan sebelumnya, mencegah terjadinya kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan fokus dalam mengurangi unsafe act dan unsafe condition serta mengidentifikasi near miss (Suryatno dkk., 2015).

F. Accident or Near Miss Incident Ratio

Para profesional safety mendeskripsikan accident ratio dengan gambar segitiga keselamatan (safety triangle) atau iceberg theory. Di dalam accident/near miss incident ratio, high risk unsafe condition atau unsafe act atau kombinasi dari keduanya yang dapat menyebabkan

terjadinya kerugian (McKinnon, 2012).

Menurut Bird dan Germain (1990), studinya mendeskripsikan bahwa dalam membantu seseorang untuk memahami mengapa sebuah kecelakaan menimbulkan kerusakan properti yaitu seharusnya dengan diberikan perhatian yang khusus. Beberapa studi mengatakan, mengingat bahwa setiap kecelakaan kerja yang dilaporkan, setiap cidera yang tercatat atau kerugian yang terjadi terdapat banyak kejadian near miss yang tidak tercatat (McKinnon, 2012).

Pada setiap cidera serius dari kecelakaan kerja terdapat beberapa cidera ringan, banyaknya kejadian kerusakan properti dan banyaknya kejadian near miss dengan rasio 1:10:30:600. Terdapat sebanyak 600 near miss di permukaan, 30 kerusakan properti dan 10 cidera ringan

(48)

Bagan 2.1 Accident/Near Miss Ratio Study

Bird and Germain (1990) menyatakan bahwa You can’t be accident free until you are near miss incident free – Kamu tidak dapat terbebas dari kecelakaan sampai kamu terbebas dari kejadian near miss. Karena pada kenyataannya, kecelakaan kerja dan near miss yang dilaporkan bukanlah jumlah kejadian yang terjadi sebenarnya.

G. Definisi Sistem, Pendekatan Sistem dan Pelaporan 1. Sistem

Sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan dari unsur, komponen atau variabel-variabel yang terorganisasi, terpadu, saling berinteraksi dan bergantung satu sama lain. Sebuah sistem dibuat untuk menangani suatu yang berulang kali atau secara rutin terjadi. Suatu sistem dapat dirumuskan sebagai kumpulan komponen atau subsistem yang dirancang dalam mencapai suatu tujuan (Kelly, 2007).

Keberhasilan komponen-komponen yang dipertimbangkan secara bersama sebagai suatu sistem mungkin jauh lebih besar daripada komponen-komponen yang dipertimbangkan secara

1

10

30

600 Near Miss

Accident

Property Damage Minor Injury Serious or Major Injury

(49)

31

terpisah. Tujuan sistem merupakan tujuan yang dibuat dari sistem tersebut yang dapat berupa tujuan organisasi, kebutuhan organisasi, permasalahan yang ada dalam suatu organisasi maupun urutan prosedur untuk mencapai tujuan organisasi (Kelly, 2007).

2. Pendekatan Sistem

Pencapaian sebuah manajemen dapat terlihat melalui pendekatan sistem, bagaimana elemen-elemen didalamnya terhubung dengan organisasi perusahaannya. Sistem yang paling mendasar dikategorikan dengan tiga elemen, yaitu input (masukan), process (proses) dan output (keluaran). Dimana ketiga elemen ini digambarkan melalui diagram sederhana sebagai berikut (Kelly, 2007) :

Input(s)

Process

Output(s)

Bagan 2.2 Diagram Alir Sederhana Elemen Sistem (Kelly, 2007)

Berikut adalah definisi dari komponen dan elemen-elemen sistem (Kelly, 2007) :

a. Input

Input yaitu sumber daya yang diperlukan untuk pelaksanaan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mencapai tujuan sistem. b. Proses

(50)

akan mengolah bahan baku yang berupa bahan mentah menjadi bahan jadi yang siap untuk digunakan.

c. Output

Output yaitu hasil dari input yang telah diproses oleh bagian pengolah dan merupakan tujuan akhir sistem, output merupakan barang dan jasa yang dihasilkan. Outcome yang diperoleh berkaitan dengan output yang dihasilkan untuk perkembangan dari waktu ke waktu secara berkelanjutan. d. Umpan Balik (Feedback)

Umpan Balik merupakan elemen dalam sistem yang bertugas mengevaluasi bagian dari output yang dikeluarkan, dimana elemen ini sangat penting demi kemajuan sebuah sistem. Umpan balik dapat diperoleh pada setiap tahap pelaksanaan program yang dapat berupa perbaikan sistem, pemeliharaan sistem, dan sebagainya.

(51)

33

kesehatan (input) mencakup persyaratan lisensi, pendidikan berkelanjutan, dan penilaian kinerja. Sedangkan untuk mengontrol kualitas teknologi (input) seperti terapi obat termasuk uji klinis dan administrasi oleh lembaga kesehatan. Cara untuk mengontrol kualitas proses mencakup pedoman klinis dan perbaikan proses. Mengontrol kualitas input dan proses ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas output, seperti status klinis pasien, kepuasan layanan, efektivitas biaya, perilaku petugas kesehatan, dan budaya organisasi (Kelly, 2007).

Feedback

Bagan 2.3 Diagram Alir Elemen Sistem dengan Feedback (Kelly, 2007) Berdasarkan bagan diatas (bagan 2.3), menambahkan umpan balik sebagai upaya meningkatkan kualitas perubahan sistem dasar untuk lebih dinamis. Tujuan, batasan dan kontrol sistem akan berpengaruh pada input, proses dan output. Input yang masuk dalam sistem akan diproses dan diolah sehingga menghasilkan output. Output tersebut akan di analisa dan akan menjadi umpan balik bagi si penerima dan dari umpan balik ini akan muncul segala macam pertimbangan untuk input selanjutnya, dan siklus ini akan berlanjut dan berkembang sesuai dengan permasalahan yang ada. Dari Output yang dihasilkan memberikan umpan balik sebagai upaya untuk meningkatkan

(52)

kualitas input dan proses. Umpan balik terus menerus melakukan perbaikan secara berkelanjutan (Kelly, 2007).

Manajemen memiliki beberapa unsur atau sarana di dalamnya yang dikenal dengan istilah 5M yaitu Man, Money, Machine, Method dan Material. Kelima unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut (Purnastuti and Mustikawati, 2007) :

a. Manusia (Man)

Manajemen melibatkan sumber daya manusia. Peran sumber daya manusia sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Sumber daya manusia mencakup keseluruhan manusia yang ada di dalam organisasi perusahaan yaitu mereka yang secara keseluruhan terlibat dalam operasional perusahaan.

b. Uang (Money)

Input yang digunakan untuk diproses menjadi barang atau jasa pada organisasi meliputi bahan baku, bahan pembantu, tenaga kerja atau sumber daya manusia, dana atau modal, sistem atau metode serta kewirausahaan. Uang atau dana merupakan bagian dari input dalam proses menghasilkan barang atau jasa.

c. Mesin (Machine)

(53)

35

d. Metode (Method)

Metode merupakan salah satu unsur manajemen yang berperan penting dalam kelangsungan organisasi. Unsur yang satu ini berkaitan dengan metode apa yang akan diterapkan guna menjalankan organisasi agar dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

e. Material

Material merupakan unsur manajemen yang perlu dikelola dengan benar agar dapat berjalan secara efisien.

3. Pelaporan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015) kata melaporkan berarti memberitahukan, laporan adalah segala sesuatu yang dilaporkan; berita. Laporan berkala merupakan laporan rutin yang diberikan secara berkala. Sedangkan pelaporan adalah proses, cara, perrbuatan melaporkan. Maka pelaporan merupakan proses atau cara memberitahukan untuk memperoleh laporan.

H. Definisi Near Miss Incident Reporting (NEMIR) System

(54)

oleh kejadian near miss (NSC, 2013). Mengenali dan melaporkan near miss dapat meningkatkan keselamatan pekerja dan meningkatkan budaya

keselamatan organisasi (NSC, 2013).

Melaporkan semua kejadian yang tidak diinginkan seperti near miss merupakan aspek yang paling penting dari setiap program

keselamatan. Semakin banyak near miss yang dilaporkan maka semakin banyak kesempatan untuk menyelidiki, mengidentifikasi dan memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian serius terjadi. Berdasarkan perspektif safety management, tujuan spesifik di dalam mengumpulkan dan menganalisis data near miss yaitu untuk mengidentifikasi faktor kemungkinan atau elemen sistem yang dapat menimbulkan kejadian near miss maupun sebagai prekursor kecelakaan kerja di masa mendatang (McKinnon, 2012).

Metode di dalam mengumpulkan data near miss yaitu dengan reporting-based methods dan observation-based methods.

Reporting-based methods merupakan metode yang melibatkan pegawai untuk

melaporkan kejadian near miss sebagai bagian dari pekerjaannya dalam mencegah terjadinya kecelakaan di masa mendatang atau untuk melatih dirinya (McKinnon, 2012).

(55)

37

Informasi tentang sistem pelaporan near miss harus dibuat dan diketahui oleh setiap orang. Sistem komunikasi internal dapat dilakukan sesuai dengan metode yang diterapkan perusahaan. Selain itu, tersedia form untuk melakukan pelaporan sehingga feedback dari sistem yang diimplementasikan berjalan dengan baik (McKinnon, 2012).

Form pelaporan dan pencatatan sebaiknya sederhana atau simple, mudah dibawa dan selalu tersedia. Lembar pelaporan dalam jumlah yang banyak akan menyulitkan pelapor dalam mengisi form. Selain itu, perusahaan perlu memberikan edukasi atau training kepada pekerjanya yang terlibat dalam pelaporan near miss. Berikut ini adalah contoh form pelaporan near miss pada gambar 2.2 (McKinnon, 2012) :

(56)

Terdapat kesempatan nyata untuk meningkatkan keselamatan dengan fokus terhadap critical level kejadian near miss. Baik manajer maupun pekerja di perusahaan perlu untuk

mengembangkan sistem yang komprehensif yang mampu untuk dapat mendokumentasikan, menganalisis dan memperbaiki kejadian near miss agar dapat mencegah kecelakaan kerja dikemudian hari (McKinnon, 2012).

Di dalam mengimplementasikan sistem pelaporan near miss terdapat beberapa hal sebagai berikut (McKinnon, 2012) :

1) Kebijakan (Policy) merupakan pernyataan resmi organisasi atau perusahaan yang merefleksikan tekad dan komitmen yang dijadikan sebagai landasan utama dan acuan organisasi dalam rangka pencapaian visi dan misi organisasi. Kebijakan yang dibuat berisi tentang bagaimana komitmen perusahaan yang berkaitan untuk melakukan pelaporan.

2) Standar (Standard), terdapat dokumen-dokumen yang mengacu pada standar sistem pelaporan near miss, dimana mendeskripsikan tentang komitmen perusahaan untuk melaporkan dan melakukan investigasi serta tanggung jawab apa saja yang ada. Di dalam menentukan standar terdapat beberapa penjelasan sebagai berikut :

(57)

39

penyebab langsung dan penyebab dasar dari kejadian teridentifikasi serta merekomendasikan pencegahan. b. Referensi (References) dapat berupa kebijakan

organisasi, mengacu pada local safety legislation (peraturan perundangan tentang keselamatan) dan referensi terkait elemen-elemen safety program yang ada.

c. Definisi (Definitions), mendefinisikan atau menjelaskan istilah-istilah yang terdapat di dalam standar agar mudah dipahami.

d. Peran dan tanggung jawab, setiap pegawai yang diberikan tanggung jawab atau terlibat di dalam pelaporan seharusnya segera memberitahukan supervisor dan menyiapkan temuan bukti atau dokumentasi di lapangan.

e. Isi dan alur prosedur yang berupa urutan langkah pelaksanaan aktivitas.

3) Amnesti (Amnesty), jika manajemen menginginkan sistem pelaporan dapat berjalan dan berkontribusi dengan baik maka mekanisme pelaporan sebaiknya diberlakukan punishment apabila tidak melaporkan kejadian near miss dan

(58)

4) Kredibilitas (Credibility), perusahaan membangun dan mengkomunikasikan dengan jelas tujuan dari program K3 dengan meningkatkan keterlibatan top management didalam implementasi program. Sistem yang kredibel dan diterima oleh semua pegawai atau pekerja harus mendapatkan dukungan dari pemimpin perusahaan, dimana terdapat partisipasi dari manajemen untuk memperbaiki proses. Sehingga terdapat feedback dan follow up action dalam laporan bahaya yang ditemukan.

I. Kerangka Teori

Setiap perusahaan memiliki kebijakan K3 yang mendukung setiap pelaksanaan kegiatan kerjanya. Tenaga kerja merupakan aset perusahaan yang harus diberikan perlindungan terhadap aspek K3 mengingat ancaman bahaya potensial yang berhubungan dengan pekerjaan. Upaya perusahaan dalam melakukan manajemen terhadap keselamatan kerja salah satunya dengan menerapkan program K3. Tujuan dari program K3 adalah mengurangi cidera, penyakit dan kematian akibat pekerjaan.

(59)

41

dari setiap program keselamatan. Semakin banyak kejadian yang dilaporkan maka semakin banyak kesempatan untuk menyelidiki, mengidentifikasi dan memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian serius terjadi (McKinnon, 2012).

Berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan berupa gambaran sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di perusahaan maka peneliti menggunakan pendekatan sistem dan NEMIR System. Near Miss Incident Reporting (NEMIR) System merupakan

bagian dari program K3 untuk mencegah terjadinya kerugian yang besar atau terjadinya accident. Di dalam mengimplementasikannya diperlukan beberapa hal berikut yaitu kebijakan, standar, amnesti dan kredibilitas (McKinnon, 2012). Sedangkan pendekatan sistem merupakan suatu filsafat atau persepsi tentang struktur yang mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dalam suatu organisasi dengan cara yang efisien dan yang paling baik (Kelly, 2007).

(60)

Bagan 2.4 Kerangka Teori (Kelly, 2007, McKinnon, 2012)

Proses

1) Pelaksanaan Pelaporan 2) Pemantauan Pelaksanaan 3) Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan Input

1) Material (Kebijakan K3, Standar, Form Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition)

2) Sumber Daya Manusia/Man (Pekerja Proyek, Pihak Manajemen diantaranya Manajer dan Staff Divisi SHE TWJO)

3) Metode (Metode Pelaporan)

Output Laporan Near Miss,

(61)

43

BAB III

KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH

A. Kerangka Berpikir

Perlindungan terhadap tenaga kerja berdasarkan aspek K3 harus dilakukan mengingat bahwa terdapat ancaman bahaya potensial yang berhubungan dengan pekerjaan. Upaya perusahaan dalam melakukan manajemen terhadap keselamatan kerja salah satunya dengan menerapkan program K3. Dimana tujuan dari program K3 adalah mengurangi cidera, penyakit dan kematian akibat pekerjaan.

Di dalam program keselamatan salah satu aspek yang paling penting adalah melaporkan semua kejadian yang tidak diinginkan seperti unsafe act, unsafe condition dan near miss. Semakin banyak kejadian

yang dilaporkan maka semakin banyak kesempatan untuk mengidentifikasi, menyelidiki dan memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian serius terjadi.

Sehubungan dengan penelitian yang akan dilakukan mengenai bagaimana gambaran sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition yang terdapat di perusahaan untuk menghindari kecelakaan

(62)

beberapa hal berikut yaitu kebijakan, standar, amnesti dan kredibitas dan sistem yang paling mendasar dikategorikan dengan tiga elemen, yaitu input (masukan), process (proses) dan output (keluaran)

Pada tahap awal peneliti menentukan komponen-komponen input berupa sumber daya apa saja yang diperlukan dalam penelitian diantaranya yaitu material, SDM dan metode. Material yang digunakan dalam pelaporan adalah kebijakan K3, standar dan form pelaporan. Metode yang digunakan perusahaan dapat berupa reporting-based methods

dan observation-based methods. Sedangkan SDM yaitu pekerja dan pihak manajemen, baik manajer maupun pekerja di perusahaan perlu untuk terlibat di dalam mengembangkan sistem yang komprehensif yang mampu untuk dapat mendokumentasikan, menganalisis dan memperbaiki kejadian near miss.

Selanjutnya terdapat tahapan proses berupa pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari pelaporan. Dalam tahapan proses untuk mengimplementasikan sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition terdapat beberapa hal sebagai berikut :

1) Kebijakan (Policy) yang dibuat berisi tentang bagaimana komitmen perusahaan yang berkaitan untuk melakukan pelaporan.

(63)

45

a. Objektif (Objective) adalah menjelaskan metodologi untuk melaporkan dan menginvestigasi non injury (loss-producing) accident dan near misses, sehingga penyebab langsung dan penyebab dasar dari kejadian teridentifikasi serta merekomendasikan pencegahan.

b. Referensi (References) dapat berupa kebijakan organisasi, mengacu pada local safety legislation (peraturan perundangan tentang keselamatan) dan referensi terkait elemen-elemen safety program yang ada.

c. Definisi (Definitions), mendefinisikan atau menjelaskan istilah-istilah yang terdapat di dalam standar agar mudah dipahami. d. Peran dan tanggung jawab, setiap pegawai yang diberikan

tanggung jawab atau terlibat di dalam pelaporan seharusnya segera memberitahukan supervisor dan menyiapkan temuan bukti atau dokumentasi di lapangan.

e. Isi dan alur prosedur yang berupa urutan langkah pelaksanaan aktivitas.

Figur

gambar segitiga keselamatan (safety triangle) atau iceberg theory. Di
Di . View in document p.47
Tabel 3.1
Tabel 3 1 . View in document p.66
Tabel 4.1 Informan Penelitian
Tabel 4 1 Informan Penelitian . View in document p.71
Tabel 4.2 Matriks Triangulasi Sumber
Tabel 4 2 Matriks Triangulasi Sumber . View in document p.75
Tabel 4.3 Matriks Triangulasi Metode
Tabel 4 3 Matriks Triangulasi Metode . View in document p.76
Daftar Dokumen Tabel 4.4
Daftar Dokumen Tabel 4 4 . View in document p.77
Gambar 5.1 Lokasi dan Rute MRT Jakarta
Gambar 5 1 Lokasi dan Rute MRT Jakarta . View in document p.81
Gambar 5.2 Lokasi Proyek CP 101 dan CP 102
Gambar 5 2 Lokasi Proyek CP 101 dan CP 102 . View in document p.83
Gambar 5.3 Daily Safety Patrol Form
Gambar 5 3 Daily Safety Patrol Form . View in document p.93
Gambar 5.4 Near Miss Form
Gambar 5 4 Near Miss Form . View in document p.94
Gambar 5.5 Kebijakan K3 TWJO
Gambar 5 5 Kebijakan K3 TWJO . View in document p.102
Gambar 5.6 Dokumentasi Kebijakan K3 TWJO
Gambar 5 6 Dokumentasi Kebijakan K3 TWJO . View in document p.103
Gambar 5.9 Unsafe Condition (Penempatan Material Scaffolding dan Kebersihan Lokasi Kerja)
Gambar 5 9 Unsafe Condition Penempatan Material Scaffolding dan Kebersihan Lokasi Kerja . View in document p.115
Gambar 5.8 Unsafe Act pada Pekerjaan Fabrikasi Besi dan Pengelasan (Penggunaan
Gambar 5 8 Unsafe Act pada Pekerjaan Fabrikasi Besi dan Pengelasan Penggunaan . View in document p.115
tabel monthly HSE performance report (Gambar 5.11).
HSE performance report Gambar 5 11 . View in document p.119
Gambar 5.10 Statistic Safety Record
Gambar 5 10 Statistic Safety Record . View in document p.120
Gambar 5.12 Kebijakan Terhadap Pelanggaran Disiplin Pemakaian Alat Pelindung  Diri
Gambar 5 12 Kebijakan Terhadap Pelanggaran Disiplin Pemakaian Alat Pelindung Diri . View in document p.146
Gambar 5.13 Foto Site Inspection dari JMCMC
Gambar 5 13 Foto Site Inspection dari JMCMC . View in document p.153
Gambar 5.14 Weekly meeting SHE with Construction and Subcontractor
Gambar 5 14 Weekly meeting SHE with Construction and Subcontractor . View in document p.157
Gambar 5.15 Tabel Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report January-April
Gambar 5 15 Tabel Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report January April . View in document p.162
Gambar 5.16 Record Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report
Gambar 5 16 Record Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report . View in document p.163
Gambar 5.17 Daily Safety Patrol Record pada HSE Monthly Report
Gambar 5 17 Daily Safety Patrol Record pada HSE Monthly Report . View in document p.167
Tabel 5.2 Input, Proses dan Output Sistem Pelaporan Near miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition
Tabel 5 2 Input Proses dan Output Sistem Pelaporan Near miss Unsafe Act dan Unsafe Condition . View in document p.169
Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek
Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek . View in document p.209
Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek
Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek . View in document p.212
Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek
Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek . View in document p.214
Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek
Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek . View in document p.216
Tabel Observasi
Tabel Observasi . View in document p.221
tabel daftar dokumen
tabel daftar dokumen . View in document p.222
Tabel Daftar Dokumen (Input, Proses, Output, Feedback)
Tabel Daftar Dokumen Input Proses Output Feedback . View in document p.223

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (268 Halaman)
Lainnya : Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016 Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3 dan Pekerjaan Program K3 TINJAUAN PUSTAKA Perilaku Aman Perilaku dan Kondisi Tempat Kerja Perilaku Tidak Aman Perilaku dan Kondisi Tempat Kerja Kondisi Tempat Kerja Perilaku dan Kondisi Tempat Kerja Near miss TINJAUAN PUSTAKA Teori kecelakaan kerja Accident Kecelakaan Accident or Near Miss Incident Ratio Sistem Definisi Sistem, Pendekatan Sistem dan Pelaporan Pendekatan Sistem Definisi Sistem, Pendekatan Sistem dan Pelaporan Definisi Near Miss Incident Reporting NEMIR System Kerangka Berpikir KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH Jenis Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Informan Penelitian Instrumen Penelitian METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data METODE PENELITIAN Triangulasi Sumber Triangulasi Metode Pengolahan dan Analisa Data Lokasi dan Rute MRT Jakarta Jenis Kegiatan Ruang Lingkup Pekerjaan Gambaran Umum Perusahaan Struktur Organisasi Perusahaan Gambaran Umum Perusahaan Material Hasil Gambaran Tahap Input dalam Sistem Pelaporan Near miss, Sumber Daya Manusia SDM Metode Hasil Gambaran Tahap Input dalam Sistem Pelaporan Near miss, Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan Hasil Gambaran Tahap Proses dalam Sistem Pelaporan Near Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan Hasil Gambaran Tahap Proses dalam Sistem Pelaporan Near Laporan Near miss Hasil Gambaran Tahap Output dalam Sistem Pelaporan Nearmiss, Laporan Unsafe Act Hasil Gambaran Tahap Output dalam Sistem Pelaporan Nearmiss, Laporan Unsafe Condition Hasil Gambaran Tahap Output dalam Sistem Pelaporan Nearmiss, Sumber Daya Manusia Metode