ANALISIS PENGARUH FINANCING TO DEPOSIT RATIO (FDR), NILAI TUKAR RUPIAH (KURS), INFLASI, DAN BI RATE TERHADAP NON PERFORMING FINANCING (NPF) SEKTOR UKM PADA PERBANKAN
SYARIAH DI INDONESIA (Periode Tahun 2012-2015)
Oleh :
Henry Fajarianto
NIM :109081000157
JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
v DAFTAR RIWAYAT HIDUP
(Curriculum Vitae)
Data Pribadi
Nama Lengkap : Henry Fajarianto
Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 1 November 1991
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Alamat :
Telepon : 087885044520
Email : [email protected]
Pendidikan Formal
1997-2003 : SD Swasta Pelita
2003-2006 : SMP Negeri 41 Jakarta
2006-2009 : SMA Negeri 55 Jakarta
2009-2016 :
Pengalaman Organisasi
1. Anggota Kuliah Kerja Nyata Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Anggota Basket Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 3. Anggota Basket SMAN 55 Jakarta
4. Anggota Basket SMAN 41 Jakarta
5. Anggota Pramuka SD Swasta Pelita Jakarta
Keahlian
Komputer : Microsoft Office, Adobe, Internet
Bahasa : Inggris
Jl. Musyawarah No.25 RT.02 RW.01 Kelurahan Ragunan. Kecamatan Pasar Minggu. Jakarta Selatan. 12550
vi ABSTRACT
This study aimed to analyze the influence of variables FDR (Financing to Deposit Ratio), exchange rate (exchange rate), inflation, and the BI Rate to financing problems (NPF) SME sector in Islamic banking in Indonesia. By using time series data for each month of the year January 2012 to December 2015. The analysis method used in this research is multiple linear regression with SPSS version 23 software applications and Microsoft Office Excel 2010 with statistical science approach to financing problems of SME sector in Islamic banking the period 2012 to 2015.
The results showed that the variables FDR, exchange rates, inflation and the central bank jointly Rates significant effect on the financing problems in the SME sector. Partially exchange rates had no significant effect, while FDR, inflation, and Bi Rate significant negative effect on financing problems of SME sector in Islamic banking in Indonesia.
vii ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari variabel FDR (Financing to Deposit Ratio), nilai tukar rupiah (kurs), inflasi, dan BI Rate terhadap pembiayaan bermasalah (NPF) sektor UKM di perbankan syariah di Indonesia. Dengan mengunakan data time series pada setiap bulannya dari tahun Januari 2012 sampai Desember 2015. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier berganda dengan aplikasi software SPSS versi 23 dan Microsoft Office Excel 2010 dengan pendekatan ilmu statistik terhadap pembiayaan bermasalah sektor UKM pada perbankan syariah periode 2012 sampai dengan 2015.
Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel FDR, kurs, inflasi dan BI Rates
secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan bermasalah di sektor UKM. Secara parsial kurs tidak berpengaruh signifikan, sedangkan FDR, inflasi, dan Bi Rate berpengaruh negatif signifikan terhadap pembiayaan bermasalah sektor UKM pada perbankan syariah di Indonesia.
viii KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah banyak memberikan anugerah dan nikmatnya pada diri ini sehingga dalam
menjalani aktivitas dapat berjalan sesuai apa yang diharapkan dan skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik. Dan dengan kekuatan doa dan ijin dari Allah SWT,
akhirnya skripsi ini diberi kemudahan dan kelancaran dalam menyusunnya. Tak lupa
Shalawat dan Salam selalu tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Saw berserta
keluarga dan seluruh pengikutnya sepanjang masa.
Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Bisnis di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis
menyadari sepenuhnya penyusunan skripsi ini bukan merupakan satu hasil dari usaha
beberapa orang, karena manusia adalah makhluk sosial dimana keberhasilan manusia
tidak pernah lepas dari bantuan orang lain. Oleh karena itu dengan ketulusan dan
kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang telah memberikan
masukan yang berarti dalam proses penelitian, penyusunan, dan penyelesaian skripsi
ini. Untuk itu ucapan terima kasih yang tidak terhingga penulis ucapkan kepada:
1. Teristimewa untuk kedua orang tua saya, Mommy Damayanti dan almarhum Papi
Steve Rompies, yang selalu mengawasi, mendukung, menjaga, menasehati,
menemani, menyayangi, merawat dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang
ix
mengiri langkah saya untuk meraih cita-cita yang saya impikan terimakasih
Mommy Papiku tersayang .
2. Kakak-kakaku yang tersayang, Mbok Indri Putrianti dan BigBro Bayu Adrianto,
almarhum eyang kakung, eyang uti, Caci, om Kris, mba Uwi, mas Guguh, mas
Aries, mba Ning, mas Toing, Rina, dan saudara-saudaraku tersayang lainnya yang
selalu memberi semangat, dukungan, doa, dan yang selalu menghibur,
menyemangati, menasehati, menjaga, mendukung, dan membantu saya selama ini.
3. Bapak Dr. M. Arif Mufraini, Lc., MA selaku dekan fakultas ekonomi dan bisnis,
Bapak Dr. Amilin, SE.Ak., M.Si selaku wakil dekan I fakultas Ekonomi dan
Bisnis, Bapak Dr. Ade Sofyan Mulazid, MH selaku wakil Dekan II fakultas
ekonomi dan bisnis, dan bapak Dr. Desmadi Saharuddin, Lc., MA selaku wakil
dekan III fakultas ekonomi dan bisnis, yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
4. Pak Prof. Dr. Ahmad Rodoni selaku pembimbing I sebelumnya, saya akan ingat
terus perkataan bapak ketika sedang bimbingan skripsi selama ini.
Mudah-mudahan saya dapat mengamalkan sehingga ilmu tersebut dapat bermanfaat
selama hidup saya.
5. Bapak Adhitya Ginanjar, selaku pembimbing II dulu dan sebagai pembimbing I
saya sekarang yang telah memberikan bimbingan, arahan, perhatian, pengarahan,
motivasi, ilmu, serta saran dengan meluangkan waktu dan pikirannya untuk
mengarahkan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
6. Ibu Titi Warninda SE, M.Si selaku ketua jurusan manajemen, dan ibu Ir Ela
Patriana, MM selaku sekretaris jurusan manajemen, dan yang selalu
x
7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan waktu dan
ilmunya yang bermanfaat bagi saya. Dan juga seluruh staff dan karyawan UIN
terutama jurusan ekonomi dan bisnis yang telah memberikan pelayanan yang
terbaik bagi setiap mahasiswa.
8. Terimakasih untuk teman – teman manajemen D yang telah memberikan semangat, dukungan, bantuan, keceriaan, dan rasa persaudaraan yang indah, banyak
kenangan-kenangan bersama kalian yang tidak bisa saya lupakan.
9. Sahabat- sahabat seperjuangan saya sesama jurusan perbankan yang tidak dapat
satu persatu saya sebutkan namanya, namun tidak mengurangi rasa sayang dan
terima kasih saya.
10. Seluruh keluarga besar angkatan 2009, kenangan selama ini tidak akan terlupakan
oleh saya. Baik didalam kelas, saling bertukar pikiran dan saling mengeluarkan
pendapat suka maupun duka telah kita rasakan bersama dalam selama kuliah di
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Ekonomi dan Bisnis. Penulis memohon
maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulis selama ini dan mengucapkan
terimakasih banyak kepada seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan oleh
xi DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... i
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v
ABSTRACT ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... . xi
DAFTAR TABEL ... . xiv
DAFTAR GAMBAR ... . xv
DAFTAR LAMPIRAN ... . xvi
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 14
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 16
1. Tujuan Penelitian ... 16
2. Manfaat Penelitian ... 17
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. UKM... 18
1. Pengertian UKM... 18
2. Kriteria UKM... 19
3. Karateristik UKM... 20
B. Bank Syariah... 22
1. Pengertian Bank Syariah ... 22
2. Jenis-jenis Risiko Bank Syariah... 23
C. Manajemen Risiko Pembiayaan... 27
1. Konsep dan Definisi... 27
xii
3. Tujuan Manajemen Risiko Pembiayaan ... 29
4. Kerangka Kerja Manajemen Risiko Pembiayaan... 31
5. Fungsi Manajemen Risiko... 32
D. Pembiayaan Bermasalah... 32
1. Konsep Pembiayaan Bermasalah ... 32
2. Penyebab Pembiayaan Bermasalah... 34
3. Dampak Pembiayaan Bermasalah ... 35
E. Financing to Deposit Ratio ... 35
1. Definisi FDR... 35
2. Penilaian Tingkat FDR... 35
3. Hubungan antara FDR terhadap NPF Perbankan Syariah... 38
F. Nilai Tukar (Kurs)... 39
1. Definisi... 39
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kurs... 40
3. Hubungan Kurs dengan NPF Perbankan Syariah... 42
G. Inflasi... 43
1. Pengertian Inflasi... 43
2. Jenis-jenis Inflasi... 44
3. Efek Buruk Inflasi... 45
4. Hubungan Inflasi dengan NPF... 46
H. Tingkat Suku Bunga... 47
1. Konsep Tingkat Suku Bunga ... 47
2. Faktor yang Mempengaruhi Kurs ... 48
3. Hubungan BI Rate Terhadap Pembiayaan Bermasalah... 51
I. Penelitian Terdahulu ... 52
J. Kerangka Pemikiran ... 54
xiii
BAB III. METODELOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 62
B. Metode Penentuan Sampel ... 62
C. Metode Pengumpulan Data ... 63
1. Data Sekunder ... 63
2. Metode Studi Pustaka ... 63
3. Internet ... 63
D. Metode Analisis Data ... 64
E. Pengujian Hipotesis ... 69
1. Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F) ... 70
2. Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t) ... 71
3. Koefisien Determinasi ... 72
F. Definisi Operasional Variabel ... 72
BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ... 74
1. Sejarah dan Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia... 74
B. Analisis dan Pembahasan ... 78
1. Analisis Deskriptif ... 78
2. Analisis Pengujian Statistik ... 94
3. Pengujian Hipotesis ... 100
C. Intepretasi ... 105
BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan ... 109
B. Implikasi ... 110
DAFTAR PUSTAKA ... 113
xiv
DAFTAR TABEL
No Keterangan Halaman
1.1 Data Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia... 3
1.2 Posisi Aset dan Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2012-2015 (dalam miliar rupiah) ... 4
1.3 Pembiayaan Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan... 9
1.4 Pembiayaan Bermasalah Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan ... 11
1.5 Perkembangan variabel-variabel yang mempengaruhi Non Performing Financing... 14
1.6 Tingkat Loan to Deposit Ratio... 37
2.1 Penelitian Terdahulu ... 52
4.1 Perkembangan Financing to Deposit Ratio Periode 2012-2015... 79
4.2 Perkembangan Tingkat Kurs Indonesia Periode 2012-2015... 80
4.3 Perkembangan Tingkat Inflasi di Indonesia Periode 2012-2015... 83
4.4 Perkembangan BI Rate Periode 2012-2015... 86
4.5 Non Performing Financing (NPF) sektor UKM Perbankan Syariah Indonesia Periode 2012-2015... 90
4.6 Uji Kolmogorov-Smirnov ... 94
4.7 Uji Multikolineritas... 95
4.8 Uji Durbin-Watson ... 96
4.9 Uji Park ... 99
4.10 Uji F ... 101
4.11 Uji t ... 102
xv
DAFTAR GAMBAR
No Keterangan Halaman
1.1 Tren Perkembangan FDR Perbankan Syariah ... 6
2.1 Kerangka Pemikiran ... 58
4.6 Histogram ... 92
4.7 Grafik p plot ... 93
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data-data variabel penelitian dari tahun 2012-2015 ... 121
Lampiran 2 Tabel Model Regresi, Anova, dan Koefisien ... 123
Lampiran 3 Uji Normalitas ... 124
Lampiran 4 Uji Multikolinieritas dan Autokorelasi ... 126
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bencana yang menimpa Indonesia tahun 1998, telah menghancurkan
kehidupan perekonomian di Indonesia. Tidak terkecuali negara-negara di kawasan
Asia Tenggara yang tidak luput dari krisis ekonomi dan moneter. Namun negara
Indonesia yang paling lama melaksanakan proses pemulihan ekonomi. Hal ini
antara lain disebabkan oleh parahnya tingkat Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
(KKN), sehingga perbaikan ekonomi memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Krisis
ekonomi juga menyebabkan terjadinya krisis-krisis lain yang bersifat multi
dimensional, berupa krisis yang mengarah pada krisis kepercayaan dan krisis moral.
Perbankan juga tidak luput dari krisis, yakni ditandai dengan banyaknya
bank-bank yang dilikuidasi, dibekukan, ataupun digabung dengan bank-bank lain
(merger). Hal ini lebih disebabkan oleh adanya praktik perbankan yang sangat kurang menerapkan prinsip kehati-hatian bank (prudential banking principle) dalam mengelola kegiatan usaha, khususnya dalam hal penyaluran dana kepada
masyarakat dalam bentuk kredit. Lemahnya analis kredit pada perbankan ikut andil
dalam menyebabkan terjadinya krisis dimaksud.
Memburuknya situasi perekonomian Indonesia akibat kebijakan suku bunga
tinggi dan depresiasi nilai tukar mata uang rupiah ternyata justru membawa akibat
yang sangat buruk pada dunia perbankan (Riawan, 2003) dan salah satu
2
demikian, maka kemampuan perusahaan membayar kredit menjadi berkurang.
Konsekuensinya, bank menanggung jumlah NPL yang lebih besar.
Dan pembiayaan atau kredit bermasalah adalah masalah utama yang paling dihindari oleh semua bank. Akan tetapi bank tidak bisa terlepas dari kredit macet yang selalu terjadi. Menurut Rose (2002:326) risiko kredit berupa pembiayaan bermasalah berbahaya bagi eksistensi suatu bank dalam menepati kewajibannya, mengurangi profitabilitas dan membahayakan kelangsungan hidupnya. Kredit macet merupakan risiko bisnis yang mau tidak mau harus ditanggung oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang perkreditan atau pembiayaan. Hal inilah yang juga melanda sektor perbankan syariah di Indonesia sejak pertama kali kemunculannya.
Perbankan syariah di Indonesia mengalami peningkatan dan terus-menerus mengalami perkembangan sejak diberlakukannya Undang-Undang tentang
perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yakni bank konvesional yang mendasarkan pada prinsip bunga dan bank berdasarkan prinsip syariah atau yang kemudian lazim
dikenal dengan bank syariah (dual banking system). Di dalam undang-undang tersebut telah diatur secara rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah.
Masyarakat dan pihak penyelenggara kegiatan bank memberikan respon yang positif yang membuat berbagai bank baik BUMN maupun swasta sering mmengadakan kegiatan jasa perbankan dengan sistem syariah. Disertai dari pihak masyarakat yang menunjukan minat yang besar terhadap bank syariah karena
3 pada produk-produknya, dan bank syariah juga belum terlalu masuk dalam pasar keuangan global yang menyebabkan tidak terlalu menerima dampak langsung dari krisis global merupakan sumber dari minat masyarakat terhadap bank syariah. Bertambahnya jumlah bank syariah, unit usaha syariah, dan bank umum syariah menjadi suatu indikasi dari perkembangan bank syariah di Indonesia. Perkembangan dari perbankan syariah dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.1.
Data Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia
Jenis Bank 2012 2013 2014 2015
Bank Umum Syariah 11 11 12 12
Unit Usaha Syariah 24 23 22 22
BPRS 158 163 163 163
Sumber: Laporan Statistik Perbankan Syariah 2015
Tabel di atas menjelaskan dari tahun 2012 hingga Desember 2015 jumlah bank umum syariah adalah 12 bank, bank konvensional yang memiliki unit usaha syariah sebanyak 22 bank. Dan jumlah BPRS juga mengalami sedikit penurunan dari tahun sebelumnya menjadi 163 bank di Desember 2015.
4 Antonio (2012:7) pesatnya pertumbuhan perbankan syariah disebabkan karena kesesuaian dengan ajaran mayoritas penduduk Indonesia. Berikut ini merupakan tabel perkembangan aset dan dana pihak ketiga perbankan syariah di Indonesia.
Tabel 1.2.
Posisi Aset dan Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia Periode Tahun 2012-2015 (dalam miliar rupiah)
Indikator 2012 2013 2014 2015
Aset 195.018 242.276 272.343 272.389
DPK 147.512 183.534 217.858 215.339
Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia 2015
Tabel di atas menggambarkan, total aset dan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh perbankan syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, seperti periode 2012 hingga 2013 posisi aset mengalami peningkatan sebesar 24,23% dan 24,41% di segi dana pihak ketiga , meskipun pada tahun 2014 hingga Juni 2015 dari segi aset tidak terlalu mengalami kenaikan dan terjadi sedikit penurunan di segi dana pihak ketiga yang terhimpun sebesar 1%, dana pihak ketiga yang terkumpul harus segera disalurkan dananya guna memperoleh kesempatan mendapat keuntungan untuk perbankan syariah melalui prinsip bagi hasil maupun jual beli. Agar bank tidak terkena biaya dana yang besar dikarenakan uang yang mengendap dari dana pihak ketiga. Hal tersebut menyebabkan bank-bank syariah di Indonesia menyalurkan dana pihak ketiga yang terkumpul melalui produk-produk pembiayaan yang mereka tawarkan kepada para nasabahnya.
5 rasio FDR perbankan syariah di Indonesia mencapai 100%. Di tahun 2013 berhasil mencapai 100,32%, dan mengalami kenaikan di tahun 2014 yang mencapai 91,5%, di akhir Desember 2015 FDR perbankan syariah mengalami sedikit penurunan ke 88,03%
Gambar 1.1.
Tingkat Perkembangan FDR Perbankan Syariah di Indonesia
Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia, data diolah dengan excel
6 Perkembangan potensi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit atau pembiayaan kepada UKM. Setiap tahun pembiayaan kepada UKM mengalami pertumbuhan dan secara umum pertumbuhannya lebih tinggi dibanding total pembiayaan perbankan.
Usaha mikro kecil menengah menjadi salah satu prioritas dalam agenda pembangunan di Indonesia hal ini terbukti dari bertahannya sektor UKM saat terjadi krisis hebat tahun 1998 dan tahun 2008 silam, bila dibandingkan dengan sektor lain yang lebih besar justru tidak mampu bertahan dengan adanya krisis. Kuncoro (2008:75) mengemukakan bahwa UKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive karena, pertama, tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke perbankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempat, berorientasi ekspor.
Di sinilah peran besar perbankan syariah dalam menjalankan fungsi intermediasi sesungguhnya yang menyentuh sektor ekonomi akar rumput. Dilihat dari berbagai skema pembiayaan yang dikembangkan, bank syariah hanya menyalurkan pembiayaan pada sektor riil. Pembiayaan melalui akad murabah, salam, dan ijarah hanya dapat disalurkan apabila ada barang atau jasa (sektor riil)
yang bisa dibiayai. Bahkan terbentuk korelasi sempurna antara biaya modal dengan pengembalian atas modal pada pembiyaan dengan akad musyarakah dan mudharabah.
7 dan aksi spekulasi. Sebagian besar dana yang disalurkan oleh perbankan konvensional tidak memiliki dampak pada ekonomi riil, hal tersebut merupakan dampak dari penyaluran dana pada sektor bebas resiko seperti Sertifikat Bank Indonesia. Dan yang lebih memperparah kinerja perbankan konvensional adalah besarnya dana yang disalurkan ke pasar uang dengan dasar spekulasi. Mubyarto (2004:6), seorang tokoh ekonomi kerakyatan, meragukan peranan perbankan
sebagai agent of development dalam pengentasan kemiskinan melalui senjata kredit. Beliau mengkritik beberapa bank daerah yang lebih suka mengirim dana ke pusat
untuk diinvestasikan di surat hutang yang lebih aman seperti SBI. Padahal harapan
UKM terhadap terhadap peranan bank sangat tinggi, namun sayang mereka tidak
dianggap “bankable”. Fenomena itu terjadi pada level bank daerah, yang memang
fungsi utamanya memajukan ekonomi daerah.
Perbankan syariah bukanlah financial sector based banking sebagaimana yang diterapkan perbankan konvensional. Sebaliknya perbankan syariah merupakan real sector based banking yang menjalankan pembiayaan pada sektor riil dan salah satunya adalah sektor UKM. Perbankan syariah memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan ekonomi riil di Indonesia berpadu dengan potensi ekonomi kerakyatan dan UKM. Produk-produk pembiyaan dengan skim profit and lost sharing dengan paradigma kemitraan dinilai sangat tepat untuk
mengembangkan usaha mikro masyarakat. Dengan pendekatan pembiayaan lembaga keuangan mikro sebagai kepanjangan tangan dari bank-bank syariah diharapkan upaya untuk menjangkau UKM bisa dioptimalkan.
Perbankan syariah bisa lebih aktif menjalin kerjasama dengan UKM yang
8
mitra kerja potensial untuk membangkitkan kembali perekonomian masyarakat.
Stigma bahwa sektor UKM sangat beresiko merupakan argumentasi yang tidak
beralasan. Bertahannya Bank BRI yang bergerak di sektor tersebut pada krisis
tahun 1998 membuktikan bahwa risiko pada sektor UKM lebih terdiversifikasi
(Antonio 2009:7).
Penyaluran pembiayaan perbankan syariah ke sektor UKM dari tahun 2012 hingga akhir tahun 2015 tergolong tinggi. Dan selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berikut ini tabel lengkap komposisi pembiayaan perbankan syariah di Indonesia berdasarkan golongan pembiayaan.
Tabel 1.3.
Pembiayaan Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan Tahun 2012-2015
(Dalam Miliar Rupiah)
Golongan 2012 2013 2014 2015
UKM 90.860 110.086 59.806 51.603
Selain UKM 56.645 74.034 139.524 152.291
Total 147.505 184.120 199.330 203.894
Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia 2015
9 Besarnya pertumbuhan aset dan penyaluran pembiyaan perbankan syariah di Indonesia dari tahun 2012 sampai tahun 2015 ternyata tidak diikuti dengan kualitas pembiayaan yang baik. Terjaganya fungsi intermediasi perbankan syariah ternyata juga dibarengi dengan memburuknya kualitas pembiayaan. Hal tersebut ditunjukan dengan meningkatnya angka pembiayaan bermasalah atau Non performing Loan yang dalam terminologi perbankan syariah disebut Non Performing Finance (NPF ).
NPL menimbulkan permasalahan bagi pemilik bank dan pemilik deposito. Pertama bagi pemilik bank, dengan semakin tinggi NPL mereka tidak menerima return pasar dari modal mereka. Kedua untuk pemilik deposito tidak menerima return pasar dari deposito atau tabungan mereka. Bank membagi kegagalan kredit
atau pembiayaan mereka kepada pemilik deposito dengan cara menekan tingkat suku bunga atau tingkat bagi hasil. (Nasution, 2007:1) Dalam kasus yang lebih buruk, jika bank mengalami kebangkrutan deposan akan kehilangan aset atau dihadapkan dengan jaminan yang tidak seimbang. Bank juga membagi risiko kerugian mereka kepada debitur lain dengan cara menetapkan suku bunga pinjaman, margin, tingkat bagi hasil yang tinggi. Non performing loan akan mengakibatkan jatuhnya sistem perbankan, mengkerutnya pasar saham dan bahkan mengakibatkan kontraksi dalam perekonomian.
Tabel 1.4.
Pembiayaan Bermasalah Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan Tahun 2012-2015
(Dalam Miliar Rupiah)
Golongan 2012 2013 2014 2015
UKM 2060 2879 3875 4150
Non UKM 1209 1950 4757 5557
Total 3269 4828 8632 9707
10 Pada tahun 2012 NPF perbankan syariah adalah sebesar Rp 2.060.000.000.000. Dan meningkat sebesar 39% atau sebesar Rp 2.879.000.000.000 pada tahun berikutnya. Pada tahun 2015 yang merupakan akhir periode pengamatan, jumlah NPF perbankan syariah di Indonesia meningkat menjadi Rp 4.150.000.000.000.
UKM di Indonesia memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto. Namun demikian hal tersebut tidak mampu mencerminkan kelancaran debitur-debitur dalam melakukan pembayaran atas pembiayaan yang diberikan.
Selain Produk Domestik Bruto, salah satu variabel yang memengaruhi tingkat non performing finance adalah ekuivalen tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga merupakan hal yang diperhatikan oleh debitur dalam menerima suatu pembiayaan. Meskipun perbankan syariah tidak mengenal sistem bunga, kinerja pembiayaan sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Semakin tinggi tingkat suku bunga yang diberikan bank sentral, maka dapat mempengaruhi tingkat bagi hasil yang diminta oleh bank sehingga tingkat non performing financing akan semakin meningkat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi NPF pada perbankan syariah salah satunya
ialah financing to deposit ratio (FDR).FDR adalah rasio antara jumlah kredit yang
diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. FDR ditentukkan oleh
perbandingan antara jumlah pinjaman yang diberikan dengan dana masyarakat yang
dihimpun yaitu mencakup giro, simpanan berjangka (deposito), dan tabungan.FDR
tersebut menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali
11
diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin besar kredit maka pendapatan
yang diperoleh naik, karena pendapatan naik secara otomatis laba juga akan
mengalami kenaikan. (IlmuPerbankan, 2010:03).
Faktor penyebab berikutnya dari non performing loan atau non performing
financing adalah inflasi. Jakubik (2010) melakukan penelitian di Ceko menemukan
jika inflasi berpengaruh terhadap resiko kredit. Hogart (2007), yang melakukan penelitian di Inggris raya menemukan pengaruh yang signifikan antara inflasi
dengan pembiayaan bermasalah yang diproksikan dengan peningkatan jumlah
penghapusan pinjaman.
Faktor lainya yang juga memengaruhi tingkat NPF adalah tingkat suku bunga
atau dalam perbankan syariah ditunjukan dengan tingkat bagi hasil dan margin.
Saba (2012) menemukan terdapat pengaruh negatif yang signifikan tingkat suku
bunga terhadap tingkat NPL, beberapa literatur menunjukan adanya pengaruh yang
ditimbulkan dari tingkat suku bunga terhadap perbankan syariah. Hakan (2011)
melakukan penelitian tentang pengaruh tingkat suku bunga terhadap perbankan
syariah Turki. Hasil penilitian menunjukan terdapat pengaruh yang signifikan yang
dihasilkan dari tingkat suku bunga terhadap kinerja perbankan syariah.
Di negara dengan dual banking system seperti Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa kinerja bank syariah selain dipengaruhi oleh faktor internal
manajemen bank syariah juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, seperti
Ekonomi Makro. Faktor eksternal dari makro ekonomi adalah tingkat suku bunga,
nilai tukar, PDB, jumlah uang beredar, dan inflasi (Hakan, 2011).
Pada teori bejana yang berhubungan Karim (2004:254), mengungkapkan
bahwa kebijakan moneter konvensional akan mempunyai pengaruh terhadap
12
mempengaruhi variabel-variabel neraca bank konvensional (suku bunga kredit,
suku bunga deposito, dan sekuritas yang dimiliki). Pada umumnya mekanisme
tersebut ditransmisikan melalui suku bunga kredit. Di pihak lain, perbankan syariah
yang notabene tidak mengenal bunga dalam praktek operasionalnya juga
terpengaruh oleh kebijakan moneter tersebut (Adi, 2012:14). Pengaruh tersebut
terlihat pada kondisi neraca bank syariah. Yakni pada tingkat nisbah bagi hasil
deposito investasi mudharabah. Sementara pengaruh suku bunga SBI terhadap
nisbah pembiayaan bank syariah ditransmisikan melalui suku bunga kredit.
Tabel 1.5.
Perkembangan variabel-variabel yang mempengaruhi Non Performing Financing
Tahun FDR
Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia dan bi.go.id
Berdasarkan data non performing financing, keragaman argumentasi (research gap) penelitian yang ada, ditambah dengan tingkat financing to deposit rate (FDR), inflasi, BI Rate, dan total pembiayaan yang disinyalir memiliki pengaruh
terhadap pembiayaan bermasalah (NPF), Membuat penulis ingin meneliti lebih lanjut dengan membuat penelitian berjudul : A alisis Pe garuh Fi a i g to Deposit Ratio (FDR), Nilai Tukar Rupiah (KURS), Inflasi, dan BI Rate Terhadap
Pe iayaa Ber asalah NPF di “ektor UKM Per a ka “yariah I do esia .
B. Rumusan Masalah
Kredit macet atau pembiayaan bermasalah dalam dunia perbankan syariah
(NPF) ialah masalah yang muncul sebagai akibat terjadinya konstraksi output
13
kurang dalam mengaplikasikan prinsip kehati-hatian (prudential banking principles), padahal bank merupakan institusi keuangan yang sarat dengan batasan dan perturan (the most regulated industry in the world). Di samping itu juga, kurang ditaatinya Kode Etik Bankir Indonesia yang diharapkan dapat menjadi
pedoman moral bagi para bankir dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Sementara di sisi lain, kalangan usaha kecil dan menengah ternyata lebih
mampu bertahan menghadapi krisis. Hal ini lebih disebabkan karena mereka
bergerak di sektor riil, sehingga mereka mempunyai ketergantungan kepada
perbankan yang renda, dan pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah ke
sektor UKM sangat besar jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Hal tersebut
tentunya membuat risiko kegagalan bayar pembiayaan sektor UKM menjadi tinggi.
Dari latar belakang masalah menjelaskan bahwa kondisi ekonomi negara dan
spefikasi bank berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya non performing finance pada perbankan syariah.
Berdasarkan hal tersebut maka dapat dirumuskan suatu permasalahan dalam
penelitian ini sebagai berikut :
1. Apakah financing to deposit ratio berpengaruh terhadap NPF di sektor UKM secara parsial ?
2. Apakah nilai tukar rupiah (KURS) berpengaruh terhadap NPF di sektor UKM
secara parsial ?
3. Apakah inflasi berpengaruh terhadap NPF di sektor UKM secara parsial ?
4. Apakah BI Rate berpengaruh terhadap NPF di sektor UKM secara parsial ? 5. Apakah FDR, Kurs, inflasi, dan BI Rate berpengaruh terhadap NPF di sektor
UKM secara simultan ?
14 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian
ini adalah:
1. Menganalisis pengaruh FDR, Kurs, inflasi,dan BI Rate dari masing-masing variabel terhadap pembiayaan bermasalah (NPF) pada sektor UKM perbankan
syariah di Indonesia.
2. Menganalisis pengaruh FDR, Kurs, inflasi, dan BI Rate secara bersamaan dari setiap variabel terhadap pembiayaan bermasalah (NPF) pada sektor UKM
perbankan syariah di Indonesia.
3. Serta menganalisis variabel apa yang paling memiliki pengaruh terhadap
pembiayaan bermasalah sektor UKM pada perbankan syariah di Indonesia.
2. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penulis dan pihak-pihak lainyang
berkepentingan, yaitu:
1. Memberikan ilmu pengetahuan dan masukan tentang permasalahan yang
dihadapi oleh praktisi perbankan syariah di Indonesia dalam mengambil
keputusan berkaitan risiko dalam pembiayaan agar bisa meminimalisir potensi
kredit atau pembiayaan bermasalah.
2. Dapat memperkaya pemahaman mengenai konsep-konsep yang telah
dipelajari dengan membandingkannya dalam praktik perbankan khususnya
berkenaan dengan tema perbankan syariah dan non performing financing
3. Diharapkan penelitian ini berguna bagi penelitian kedepannya berkenaan
15
4. Memberikan suatu pandangan bagi masyarakat dalam menilai kondisi
perbankan konvensional dan perbankan syariah yang baik yang tercermin dari
16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. UKM
1. Pengertian UKM
Usaha kecil di Indonesia belum pasti dan masih sangat beragam
pengertiannya, sebelum dikeluarkannya UU No 9/1995 terdapat lima instansi yang
merumuskan usaha kecil dengan caranya masing-masing, kelima instansi tersebut
adalah Biro Pusat Statistik (BPS), Departemen Perindustrian, Bank Indonesia,
Departemen Perdagangan dan Kamar dagang dan Industri. (Adi 2012:48)
Departemen Perindustrian dan Bank Indonesia mendefinisikan usaha kecil
berdasarkan nilai asetnya. Menurut kedua instansi ini yang dimaksud dengan usaha
kecil adalah usaha yang assetnya (tidak termasuk tanah dan bangunan) bernilai
kurang dari Rp 600 juta. Departemen perdagangan membatasi usaha kecil
berdasarkan modal kerjanya, yakni usaha (dagang) yang modal kerjanya bernilai
kurang dari Rp 25 juta.
Sedangkan KADIN membedakan usaha kecil menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama adalah yang bergerak dalam bidang perdagangan, pertanian dan
industri. Kelompok kedua adalah yang bergerak dalam bidang konstruksi. Menurut
Kadin yang dimaskud dengan usaha kecil untuk kelompok pertama adalah yang
memiliki modal kerja kurang dari Rp 150 juta dan memiliki nilai usaha kurang dari
Rp 600 juta.
Adapun untuk kelompok kedua yang dimaksud dengan usaha kecil adalah
yang memiliki modal kerja kurang dari Rp 250 juta dan memiliki nilai usaha
17
mengemukakannya untuk usaha kecil sektor industri. Menurut BPS yang dimaksud
dengan industri kecil adalah usaha industri yang melibatkan tenaga kerja antara
lima sampai 19 orang. Sedangkan yang dimaksud dengan industri rumah tangga
adalah usaha industri yang memperkerjakan kurang dari lima orang.
2. Kriteria UKM
Berdasarkan kelima batasan tersebut dapat kita katakan betapa sangat
beragamnya pengertian usaha kecil yang berlaku di Indonesia. Tetapi diluar kelima
pengertian tersebut pemerintah telah menetapkannya dalam rumusan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 . Menurut UU ini yang
dimaksud dengan usaha Mikro, Kecil dan Menengah dapat dibedakan menjadi tiga
kelompok, diantaranya:
a. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah).
b. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
1) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus
juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar
lima ratus juta rupiah).
18
1) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
3. Karakteristik UKM
Dari definisi-definisi tersebut dapat digambarkan bahwa UKM bisa menjadi
sebuah lokomotif penting dalam pertumbuhan ekonomi bangsa, menurut
(Tambunan, 2009:40) UKM sangat penting karena karakteristik-karekteristik utama
mereka yang berbeda dengan usaha besar, diantaranya:
a. Jumlah perusahaan sangat banyak (jauh melebihi jumlah usaha besar) terutama
dari kategori usaha mikro dan usaha kecil. Dan hal ini juga didasarkan pada
karakter usaha mikro dan usaha kecil yang tersebar diseluruh pelosok pedesaan
termasuk diwilayah-wilayah yang relatif terisolasi.
b. Karena sangat padat karya,berarti mempunyai suatu potensi pertumbuhan
kesempatan kerja yang sangat besar, pertumbuhan UMKM dapat dimasukkan
sebagai suatu elemen penting dari kebijakan-kebijakn nasional untuk
meningkatkan kesempatan kerja dan menciptakan pendapatan, terutama bagi
masyarakat miskin.
c. Kegiatan-kegiatan produksi dari kelompok UMKM pada umumnya dari
berbasis pertanian. Oleh karena itu upaya-upaya pemerintah mendukung
UMKM sekaligus juga merupakan cara tak langsung, tetapi efektif untuk
19
d. UMKM memakai teknologi-teknologi yang lebih “cocok” terhadap proporsi -proporsi dari faktor-faktor produksi dan kondisi lokal yang ada di negara
sangat berkembang, yakni sumber daya alam (SDA) dan tenaga kerja
berpendidikan rendah yang berlimpah.
e. Banyak UMKM bisa tumbuh pesat. Bahkan, banyak UMKM bisa bertahan
pada saat ekonomi Indonesia dilanda suatu krisis besar pada tahun 1997/1998.
f. Walaupun pada umumnya masyarakat pedesaan miskin, banyak bukti yang
menunjukkan bahwa orang-orang desa yang miskin bisa menabung dan mereka
mau mengambil risiko dengan melakukan investasi. Dalam hal ini, UMKM
bisa menjadi suatu titik permulaan bagi mobilisasi tabungan/investasi di
perdesaan dan disisi lain bisa meningkatkan kemampuan berwirausaha dari
orang-orang desa.
g. Kelompok usaha ini dapat memainkan suatu peran penting lainnya, yaitu
sebagai suatu alat untuk mengalokasikan tabungan-tabungan perdesaan, yang
kalau tidak akan digunakan untuk maksud-maksud yang tidak produktif.
h. Walaupun banyak barang yang diproduksi oleh UMKM juga untuk masyarakat
kelas menegah dan atas, tetapi terbukti secara umum bahwa pasar utama bagi
UMKM adalah untuk barang-barang konsumsi sederhana dengan harga relatif
murah seperti pakaian jadi,mebel dari kayu,alas kaki dan lainnya yang
memenuhi kebutuhan sehari-hari dari masyarakat miskin atau berpendapatan
rendah.
i. Sebagai bagian dari dinamikanya, banyak juga UMKM yang mampu
meningkatakan produktivitasnya lewat investasi dan perubahan teknologi
20
Kelompok usaha ini dilihat sangat penting di industri-industri yang tidak
stabil atau ekonomi-ekonomi yang menghadapi perubahan-perubahan kondisi pasar
yang cepat, seperti krisis ekonomi 1997/98 yang dialami oleh beberapa negara di
Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu dengan menyadari betapa
pentingnya UMKM secara potensial seperti yang diuraikan diatas tersebut tidak
heran kenapa pemerintah-pemerintah dihampir semua negara berkembang termasuk
Indonesia sudah sejak lama mempunyai berbagai macam program, dengan
skim-skim kredit bersubsidi sebagai komponen terpenting untuk mendukung
perkembangan dan pertumbuhan UMKM (Tambunan, 2009:50).
B. Bank Syariah
1. Pengertian Bank Syariah
Perbankan adalah lembaga yang mempunyai peran utama dalam pembangunan
suatu negara. Peran ini terwujud dalam fungsi bank sebagai lembaga intermediasi
keuangan (financial intermediary institution), yakni menghimpuin dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam
bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup
rakyat. (Khotibul 2016)
Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 berdasarkan prinsip
operasionalnya bank dibedakan menjadi dua, yakni bank konvesional yang
mendasarkan pada prinsip bunga dan bank berdasarkan prinsip syariah atau yang
kemudian lazim dikenal dengan bank syariah.Bank syariah terdiri dari Bank Umum
Syariah dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah atau yang saat ini disebut sebagai
21
Perbankan syariah merupakan institusi yang memberikan layanan jasa
perbankan prinsip syariah. Dalam UU No. UU No. 21 Tahun 2008 prinsip syariah
adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang
dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di
bidang syariah. Prinsip ini menggantikan prinsip bunga yang terdapat dalam sistem
perbankan konvensional.
Konsekuensi hukum dari penggunaan prinsip syariah dalam operasional
perbankan adalah bahwa produk perbankan syariah lebih bervariasi dibanding
produk perbankan konvensional. Bahwa produk perbankan konvensional,
khususnya produk penghimpunan dana dan penyaluran dana hanya mendasarkan
pada sistem bunga sebagai bentuk prestasi dan kontraprestasi atas penggunaan dana,
sedangkan pada perbankan syariah mendasarkan pada akad-akad tradisional Islam
yang mana keberadaannya sangat tergantung pada kebutuhan riil nasabah.
2. Jenis-jenis Risiko Bank Syariah a. Risiko Pembiayaan
Risiko pembiayaan muncul akibat adanya kegagalan counterpary dalam memenuhi kewajibannya. Karim (2007: 260) membagi jenis-jenis resiko pada
bank syariah menjadi risiko terkait produk dan risiko terkait korporasi. Risiko
yang terkait dengan produk ditimbulkan oleh jenis produk pada perbankan
syariah yang mempunyai karakteristik yang khas yakni pembiayaan Natural Certainty Contracts (seperti akad murabahah, ijarah, salam,istishna)dan
Natural Uncertainty Contracts (mudharabah dan musyarakah).
Sementara itu pada risiko terkait pembiayaan korporasi muncul sebagai
akibat dari perubahan kondisi bisnis setelah pembiayaan, komitmen modal
22 b. Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko kerugian yang terjadi pada portofolio yang
dimiliki oleh bank, penyebabnya adalah karena terjadi pergerakan variabel
pasar berupa suku bunga dan nilai tukar. Menurut Karim (2007:272) risiko
pasar terdiri dari empat hal, yaitu risiko tingkat suku bunga, risiko pertukaran
mata uang risiko harga dan risiko likuiditas.
1) Risiko Tingkat Suku Bunga (Interest Rate Risk)
Risiko tingkat suku bunga merupakan risiko yang harus dihadapi bank
dikarenakan terjadinya fluktuasi tingkat suku bunga. Dalam hal ini,
meskipun bank syariah tidak menetapkan suku bunga pada sisi pendanaan
dan pembiayaan, namun bank syariah tidak akan dapat terlepas dari risiko
tingkat suku bunga. Hal ini disebabkan pangsa pasar yang disasar oleh
bank syariah tidak hanya nasabah-nasabah yang loyal penuh terhadap
sistem syariah.
2) Risiko Pertukaran Mata Uang (Foreign Exchange Rate)
Risiko ini merupakan suatu konsekuensi yang berkaitan dengan adanya
pergerakan nilai tukar terhadap rugi laba bank. Meskipun
aktivitas-aktivitas pendanaan bank syariah tidak terpengaruhi fluktuasi kurs secara
langsung karena tidak dibolehkan melakukan transaksi yang bersifat
spekulasi, namun bank syariah tidak dapat terlepas dari adanya posisi
dalam valuta asing.
Mengingat bank syariah tidak berkenan berspekulasi, maka transaksi
23
transaksi tersebut harus dilakukan secara tunai atau spot. Seperti pembayaran
dengan cek, pemindahbukuan, transfer, dan sarana pembayaran tunai lainnya.
c. Risiko Likuiditas
Menurut Arifin (2009:245) risiko likuiditas adalah risiko yang muncul
manakala bank tidak mampu memenuhi kebetuhan dana (cash flow) dengan segera, dan dengan biaya yang sesuai, baik untuk memenuhi kebutuhan
transaksi sehari-hari maupun guna memenuhi kebutuhan dana yang mendesak.
Menurutnya, besar-kecilnya risiko ini ditentukan oleh:
1) Kecermatan perencanaan arus kas (cash flow) atau arus dana (fund flow) berdasarkan prediksi pembiayaan dan prediksi pertumbuhan dana,
termasuk mencermati tingkat fluktuasi dana (volatility of funds).
2) Ketepatan dalam mengatur struktur dana, termasuk kecukupan dana-dana
nonprofit and loss sharing.
3) Ketersediaan aset yang siap dikonversikan menjadi kas.
4) Kemampuan menciptakan aset ke pasar antarbank atau sumber dana
lainnya, termasuk fasilitas lender of last resort.
d. Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh
ketidakcukupan proses internal, human error, kegagalan sistem atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasi bank (Greuning, 2008:174).
Menurut Greuning, terdapat beberapa hal yang dapat memicu
peningkatan risiko operasional pada bank Islam, diantaranya adalah:
1) Risiko pembatalan perjanjian pada pembiayaan yang tidak mengikat
24
2) Kegagalan sistem pengendali internal dalam mendeteksi dan mengelola
masalah potensial pada proses operasional.
3) Potensi menghadapi kesulitan dalam penguatan akad atau kontrak pada lingkungan legal yang lebih lebih luas.
4) Kebutuhan untuk memelihara dan mengelola komoditas yang
diinventorisasikan pada pasar yang tidak likuid.
5) Kegagalan mematuhi persyaratan syariah.
Menurut Arifin (2008:271) terdapat empat risiko yang berkaitan dengan
risiko operasional diantaranya adalah:
1) Risiko Reputasi: adalah risiko yang disebabkan oleh adanya publikasi
negatif terkait dengan kegiatan bank.
2) Risiko Kepatuhan: adalah risiko yang muncul akibat dari ketidakpatuhan
ketentuan-ketentuan internal dan eksternal seperti GWM, batas pemberian
pembiayaan, ketentuan dalam akad, fatwa Dewan Syariah Nasional dan
lain sebagainya.
3) Risiko Strategi: risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya penetapan
dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan
yang salah, atau bank tidak mematuhi perubahan perundang-undangan dan
ketentulan lain.
4) Risiko Hukum: risiko ini muncul sebagai akibat dari adanya kelemahan
aspek yuridis seperti adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan
undang-undang yang mendukung suatu kebijakan dan kegiatan pembiayaan.
25
Dalam menjalankan fungsinya yakni memberikan pembiayaan kepada
masyarakat oleh bank syariah selalu berdampingan dengan risiko. Dijelaskan dalam
Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan bahwa:
Kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang diberikan oleh bank
mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan
asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang sehat.
Untuk mengurangi risiko tersebut, jaminan pemberian kredit atau pembiayaan
berdasarkan Prinsip Syariah adalam arti keyakinan atas kemampuan dan
kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang
diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengukuran
terhadap risiko perbankan. Hal-hal seperti jumlah pembiayaan yang diberikan,
kuantitas dan kualitas risiko. Secara keseluruhan risiko pembiayaan merupakan hal
yang penting untuk diperhatikan dibandingkan dengan risiko-risiko lainnya, karena
ketidakmampuan nasabah memenuhi kewajiban pembiayaannya dapat
mengakibatkan bank merugi dan mengikis permodalan bank yang berujung pada
kebangkrutan.
Oleh sebab itu, perlu dilakukan sebuah upaya manajerial terhadap risiko yang
muncul akibat dari penyaluran pembiayaan. Hal ini dimaksudkan agar kualitas
pembiayaan senantiasa dalam keadaan lancar. Senada dengan hal yang dinyatakan
oleh Tampubolon (2004:35) dalam bukunya dijelaskan bahwa:
Manajemen risiko merupakan sejumlah kegiatan yang bersifat proaktif dan
terarah yang ditujukan untuk mengakomodasi kemungkinan gagal pada salah satu
26
haruslah dinamis tidak statis, dan berubah sejalan dengan perubahan kebutuhan dan
risiko usaha.
Resiko kredit atau pembiayaan berbahaya bagi kelangsungan hidup bank
karena dapat menyebabkan bank gagal memenuhi kewajibannya dan menggerus
profitabilitas bank (Rose, 2002:326). Risiko kredit adalah risiko yang timbul
sebagai akibat kegagalan pihak lawan memenuhi kewajibannya. Risiko ini dapat
timbul karena kinerja satu atau lebih debitur yang buruk. Kinerja debitur yang
buruk ini dapat berupa ketidakmampuan debitur untuk memenuhi sebagian atau
seluruh isi perjanjian kredit yang telah disepakati bersama sebelumnya.
Bank Indonesia mendefininisikan manajemen risiko sebagai serangkaian
prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur,
memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank.
2. Ruang Lingkup Manajemen Risiko Pembiayaan
Secara umum manajemen risiko merupakan serangkaian proses yang diawali
dengan proses identifikasi, pengukuran, monitoring dan pengelolaan terhadap risiko-risiko portofolio. Dengan demikian pengelola bank dapat selalu memantau
agar risiko tidak mempengaruhi tingkat likuiditas bank itu sendiri.
Dalam menjalankan perannya sebagai lembaga intermediasi, bank selalu
dihadapkan pada risiko – risiko bisnis. Risiko bisnis yang dihadapi mencakup diantaranya risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko
legal. Untuk menjaga dan mengurangi risiko kerugian, bank wajib melaksanakan
transaksi yang berpedoman pada kebijakan dan penerapan manajemen risiko yang
telah ditetapkan pemerintah yang berlandaskan pada prinsip kehati – hatian. Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia No.5/8/PBI/2003 mengidentifikasikan
27
diantaranya, pertama adalah pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi. Kedua
adalah kebijakan, prosedur dan penetapan limit. Ketiga adalah proses identifikasi,
pengukuran, pemantauan, sistem informasi manajemen risiko kredit. Keempat
adalah Pengendalian Risiko Kredit.
3. Tujuan Manajemen Risiko Pembiayaan
Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 pada tanggal 19 Mei 2003 tentang
“Penerapan Manajemen Risiko Untuk Bank Umum”, merupakan wujud keseriusan
Bank Indonesia dalam masalah manajemen risiko perbankan. Keseriusan tersebut
dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia No.
7/25/PBI/2005 pada Agustus tahun 2005 tentang “Sertifikasi Manajemen Risiko
Bagi Pengurus Dan Pajabat Bank Umum”, yang mengharuskan seluruh pejabat
bank dari tingkat terendah hingga tertinggi untuk memiliki sertifikasi manajemen
risiko yang sesuai dengan tingkat jabatannya.
Tujuan dari manajemen risiko menurut Tampubolon (2004 :34) adalah
pengelolaan risiko yang mencakup atas prosedur dan metodologi yang digunakan
sehingga kegiatan usaha bank tetap dapat terkendali pada batas / limit yang dapat
diterima serta menguntungkan bank. Penerapan manajemen risiko tersebut akan
memberikan manfaat, baik kepada perbankan maupun otoritas pengawasan bank.
Bagi perbankan, penerapan manajemen risiko dapat meningkatkan shareholder
value, memberikan gambaran kepada pengelola bank mengenai kemungkinan kerugian bank di masa datang, meningkatkan metode dan proses pengambilan yang
sistematis yang didasarkan atas ketersedian informasi, digunakan sebagai dasar
pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja bank dan untuk menilai risiko yang
28
menciptakan infrastruktur infrastruktur yang kokoh dalam rangka meningkatkan
daya saing bank.
Dalam proses penerapan manajemen risiko, bank dapat menggunakan
berbagai pendekatan pengukuran risiko, baik dengan metode standar yang
direkomendasikan oleh Basel Committee on Banking Supervison. Kesepakatan Basel mencetuskan 2 kesepakatan (Basel I dan Basel II). Dalam kesepakatan Basel I hanya mencakup risiko kredit, modal yang disediakan hanya dikaitkan dengan
risiko kredit, dan dalam mengukur kecukupan modal menurut risiko kredit didasari
oleh beberapa kalkulasi yang terdiri dari bobot risiko aktiva dan bobot risiko,
penyetaraan dengan risiko kredit, target rasio modal dan kalkulasi konsumsi modal
yang memenuhi syarat, kecukupan hasil pada modal yang memenuhi syarat,
struktur modal (El Tiby, 2011:102).
Dalam kesepakatan Basel II digunakan pendekatan baru dalam hal
pengawasan bank. Kerangka baru Basel II dirancang mencakup tiga konsep yang
dikenal sebagai tiga pilar. Ketiga pilar tersebut diantaranya adalah pilar 1 yaitu
Kewajiban penyediaan modal minimum. Pilar 2 yaitu tinjauan berdasar regulasi
dari kecukupan modal dari masing – masing bank dan proses penilaian internal. Dan pilar 3 yaitu disiplin pasar yang efektif sebagai pengungkit untuk memperkuat
keterbukaan dan mendorong agar bank lebih aman dalam prakteknya (El Tiby,
2011:107).
4. Kerangka Kerja Manajemen Risiko Pembiayaan
Agar efektif, dalam proses manajemen risiko perlu adanya kerangka kerja,
diantaranya. Memahami rantai risiko, dengan pehaman ini satuan kerja manajemen
29
masalah atau peluang, cakupan dan konteks serta isu yang berhubungan dengan
risiko, seperti masalah politik, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya. Menurut
Tampubolon (2004:41) bkerangka kerja manajemen risiko pembiayaan atau kredit
adalah sebagai berikut:
a. Melakukan analisis terhadap stakeholder (deposan, debitur, pemilik saham) untuk menetapkan atau mengkaji toleransi risiko, posisi dan perilaku dari para
stakeholder.
b. Memahami situasi atau peristiwa yang pernah diambil perusahaan yang dapat
mendatangkan kerugian.
c. Melakukan penilaian atas risiko dan pengendalian yang ada. Menyusun
tanggapan atas risiko yang ada.
d. Menetapkan aktivitas pengendalian berupa program mitigasi risiko.
e. Mengkomunikasikan risiko dan manajemen risiko. Melakukan pemantauan
terhadap risiko dan pengelolaanya.
5. Fungsi Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah sebuah pola pikir, oleh karena itu semua pejabat
bank bisa atau mampu mewaspadai risiko dan menerapkan manajemen risiko
dengan baik. Fungsi manajemen risiko tidak hanya sekedar memelihara tingkat
profitabilitas dan kesehatan bank, namun juga untuk memelihara integritas dan
stabilitas sistem keuangan yang kritis terhadap kesehatan perekonomian nasional.
Secara garis besar, menurut Tampubolon (2004:45) manajemen risiko berfungsi
untuk:
a. Menunjang ketepatan proses perencanaan dan pengambilan keputusan
b. Menunjang efektifitas perumusan kebijakan sistem manajemen dan bisnis.
30
d. Menunjang kualitas pengelolaan dan pengendalian pemenuhan tingkat
kesehatan bank.
e. Menunjang penciptaan/pengembangan keunggulan kompetitif.
f. Memaksimalisasi kualitas portofolio perkreditan bank.
D. Pembiayaan Bermasalah (NPF) 1. Konsep Pembiayaan Bermasalah
Suatu kredit dinyatakan bermasalah jika bank benar-benar tidak mampu
mengahadapi risiko yang ditimbulkan oleh kredit tersebut. Risiko kredit atau
pembiayaan didefinisikan sebagai risiko yang muncul jika bank tidak bisa
memperoleh kembali cicilan pokok dan bunga dari pinjaman yang diberikan atau
investasi yang sedang dilakukannya (Arifin, 2008:263).
Sebagai indikator yang menunjukkan kerugian akibat risiko kredit adalah
tercermin dari besarnya non performing loan (NPL), dalam terminologi bank syariah disebut non perfoming financing (NPF).
Non Performing Financing (NPF) adalah rasio antara pembiayaan yang bermasalah dengan total pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah.
berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia kategori yang
termasuk dalam NPF adalah pembiayaan kurang lancar, diragukan dan macet.
Dalam peraturan bank indonesia Nomor 8/21/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006
tentang Penilaian Kualitas Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah pasal 9 ayat (2), bahwa kualitas aktiva produktif dalam
bentuk pembiayaan dibagi dalam 5 golongan yaitu lancar (L), dalam perhatian
khusus (DPK), kurang lancar (KL), diragukan (D), macet (M).
Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.31 tentang
31 “Kredit non performing pada umumnya merupakan kredit yang pembayaran
angsuran pokok dan/atau bunganya telah terlewat sembilan puluh hari atau lebih
setelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktu sangat
diragukan. Kredit non performing terdiri atas kredit yang digolongkan sebagai
kredit kurang lancar, diragukan, dan macet.”
Sedangkan Sutojo (2008:13) menyatakan jika “pengertian kredit bermasalah adalah suatu keadaan di mana debitur mengingkari janji mereka membayar bunga
dan atau kredit induk yang telah jatuh tempo, sehingga terjadi keterlambatan
pembayaran atau sama sekali tidak ada pembayaran”.
Dari kelima kualitas pembiayaan yaitu lancar, dalam perhatian khusus, kurang
lancar, diragukan, dan macet, yang tergolong dalam pembiayaan bermasalah atau
non performing financing adalah pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
Berdasarkan surat Edaran Bank Indonesia Nomor7/56/DPbS tanggal 9
Desember 2005, pedoman untuk perhitungan rasio non performing finance (NPF)
dihitung dengan cara sebagai berikut:
NPF = X 100%
Rasio ini menunjukan kualitas pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan.
Semakin tinggi rasio NPF maka kualitas pembiayaan yang diberikan oleh perbankan
syariah semakin memburuk. Kelancaran kegiatan usaha bank syariah dapat
terganggu apabila rasio semakin meningkat dan dapat berakibat pada tingkat
kesehatan bank itu sendiri.
Pembiayaan yang bermasalah
32
Bank Indonesia sebagai regulator yang turut mengatur perbankan syariah di
Indonesia menetapkan bahwa batas maksimum tingkat pembiayaan yang bermasalah
sebesar 5% dari total pembiayaan yang diberikan.
2. Penyebab Pembiayaan Bermasalah
Pembiayaan bermasalah merupakan sumber permasalahan bank. Adanya
pembiayaan bermasalah ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Sutojo (2008:18)
menuturkan terjadinya kredit bermasalah disebabkan oleh berbagai faktor
diantaranya:
a. Faktor Internal:
1) Rendahnya kemampuan atau ketajaman bank melakukan analisis
kelayakan permintaan kredit yang diajukan oleh calon debitur.
2) Lemahnya sistem administrasi kredit atau pembiayaan serta sistem
administrasi bank.
3) Campur tangan yang berlebihan dari para pemegang saham
4) Pengikatan jaminan kredit yang kurang sempurna
b. Faktor debitur
1) Salah urus atau mismanagement
2) Kurangnya pengalaman dan pengetahuan pemilik dalam bidang
usaha yang dijalani.
3) Penipuan
c. Faktor Eksternal
1) Perkembangan kondisi ekonomi atau bidang usaha yang merugikan.
2) Bencana alam
3) Regulasi pemerintah
33
Adanya pembiayaan bermasalah ini akan memberikan dampak negatif
kepada beberapa pihak, Sutojo (2008:25) menjelaskan bahwa terdapat beberapa
dampak yang ditimbulkan dari pembiayaan bermasalah diantaranya adalah:
a. Bank yang bersangkutan akan mengalami gangguan profitablitias untuk
menutupi cadangan pembiayaan bermasalah.
b. Jumlah modal bank akan terkikis dan menurunkan rasio kecukupan modal
bank.
c. Nasabah sendiri akan kehilangan kepercayaan pihak luar dan relasi bisnis,
serta citra dan nama baik yang rusak. Sementara nasabah lainnya akan
kesulitan mendapatkan pembiayaan dari bank yang bersangkutan.
d. Perputaran dana bank di masyarakat akan terhenti.
e. Pengusaha di dalam negeri akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan
pembiayaan untuk ekspansi usahanya.
E. Financing to Deposit Ratio (FDR) 1. Definisi FDR
Perbankan syariah tidak mengenal kredit (loan) dalam penyaluran dananya, karena itu aktifitas penyaluran dana yang dilakukan bank syariah lebih mengarah
kepada pembiayaan. FDR adalah perbandingan antara pembiayaan yang diberikan
oleh bank syariah dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikerahkan oleh bank.
(Muhammad, 2005:55)
FDR disebut juga rasio kredit terhadap total dana pihak ketiga yang
digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga yang disalurkan dalam bentuk kredit.
Penyaluran kredit merupakan kegiatan utama bank yang berasal dari kegiatan ini.
Deposit atau simpanan masyarakat pada suatu bank membawa konsekuensi
34
rendahnya rasio ini menunjukan tingkat likuiditas bank tersebut. Berdasarkan surat
edaran bank Indonesia No 26/5/BPPP tanggal 29 mei 1993, besarnya FDR telah
ditentukan oleh bank Indonesia tidak boleh melebihi 110%. Yang berarti bank
boleh memberikan kredit atau pembiayaan melebihi jumlah dana pihak ketiga yang
berhasil dihimpun asalkan tidak melebihi 100% (Muhammad, 2005:56)
2. Penilaian Tingkat Financing to Deposit Ratio
Secara sistematis financing to Deposit Ratio (FDR) dapat dirumuskan sebagai berikut: (Sesuai SE No.6/23/DPNP Tanggal 31 Mei 2004)
Tujuan penting dari perhitungan FDR adalah untuk mengetahui serta
menilaisampai berapa jauh bank memliki kondisi sehat dalam menjalankan
operasiatau kegiatan usahanya. Dengan kata lain FDR digunakan sebagai suatu
indikator untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu bank. Menurut Surat Edaran
Bank Indonesia tanggal 29 Mei 1993, termasuk dalam dana yang diterima bank
adalah sebagai berikut:
1. KLBI (Kredit Likuiditas Bank Indonesia) (jika ada).
2. Giro, deposito, dan tabungan masyarakat.
3.Pinjaman bukan dari bank yang berjangka waktu lebih dari tiga bulan,tidak
termasuk pinjaman subordinasi.
4. Deposito dan pinjaman dari bank lain yang berjangka waktu lebih dari tiga
bulan.
5. Surat berharga yang diterbitkan oleh bank yang berjangka waktu lebih dari
tiga bulan
6. Modal pinjaman.
35
Batas aman tingkat LDR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah sebesar
110%. Tolok ukur untuk tingkat LDR atau istilah perbankan syariah FDR yang baik
menurut BI tampak pada tabel :
Tabel 1.6
Tingkat Loan to Deposit Ratio
Sumber : www.bi.go.id
Rasio ini menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan
yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan
sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini semakin rendah pula
kemampuan likuiditas bank (Dendawijaya, 2004:97). Rasio yang tinggi
menunjukkan bahwa bank meminjamkan seluruh dananya atau relatif tidak likuid.
Sebaliknya rasio yang rendah menunjukkan bank yang likuid dengan kelebihan
kapasitas dana yang siap untuk dipinjamkan. Oleh karena itu, rasio ini juga dapat
untuk member isyarat apakah suatu pinjaman masih dapat mengalami ekspansi atau
sebaliknya dibatasi. Jika bank syariah memiliki FDR yang terlalu kecil maka bank
akan kesulitan untuk menutup simpanan nasabah dengan jumlah pembiayaan yang
ada, Jika bank mempunyai FDR yang sangat tinggi, maka bank akan mempunyai
risiko tidak tertagihnya pinjaman yang tinggi pada titik tertentu bank akan
36
Selanjutnya FDR dapat pula digunakan untuk menilai strategi manajemen
suatu bank. Manajemen bank konservatif biasanya cenderung memiliki FDR yang
relatif rendah. Sebaliknya bila FDR melebihi batas toleransi dapat dikatakan
manajemen bank yang bersangkutan sangat expansif atau agresif. (Siamat, 2001:32)
3. Hubungan antara Financing Deposit to Rasio (FDR) terhadap Non Performing Financing Perbankan Syariah
FDR adalah perbandingan antara pembiayaan yang diberikan oleh bank
syariah dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikerahkan oleh bank. (Muhammad,
2005:55). Hubungan antara financing deposit to rasio (FDR) terhadap non performing financing (NPF), FDR adalah rasio dana pihak ketiga terhadap pembiayaan, FDR ada karena ada aktifitas dana pihak ketiga, ketika dana pihak
ketiga (DPK) tinggi maka secara teori pembiayaan pun akan ikut meningkat, karena
DPK yang ada akan disalurkan pada sector riil, namun ketika rasio pembiayaan
(FDR) yang cukup tinggi, akan muncul permasalahan pokok utama bank syariah
adalah meningkatnya NPF atau pembiayaan non lancar karena dalam menjalankan
bisnis perbankan yang penuh dengan resiko, bank syariah juga tidak terlepas dari
resiko pembiayaan bermasalah karena pembiayaan bermasalah tidak akan terjadi
tanpa adanya aktivitas pembiayaan yang disalurkan sehingga bank syariah perlu
mengatur strategi agar tingkat NPF di bank syariah tidak dalam kondisi yang
menghawatirkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Maryanto (2010) yaitu meneliti tentang
pengaruh FDR terhadap non performing financing perbankan syariah dengan menggunakan model regresi linier berganda menunjukan bahwa variabel FDR