• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Financing To Deposit Ratio (Fdr), Nilai Tukar Rupiah (Kurs), Inflasi, Dan Bi Rateterhadap Non Performing Financing (Npf) Sektor Ukm Pada Perbankan Syariah Di Indonesia (Periode Tahun 2012-2015)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Pengaruh Financing To Deposit Ratio (Fdr), Nilai Tukar Rupiah (Kurs), Inflasi, Dan Bi Rateterhadap Non Performing Financing (Npf) Sektor Ukm Pada Perbankan Syariah Di Indonesia (Periode Tahun 2012-2015)"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH FINANCING TO DEPOSIT RATIO (FDR), NILAI TUKAR RUPIAH (KURS), INFLASI, DAN BI RATE TERHADAP NON PERFORMING FINANCING (NPF) SEKTOR UKM PADA PERBANKAN

SYARIAH DI INDONESIA (Periode Tahun 2012-2015)

Oleh :

Henry Fajarianto

NIM :109081000157

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

v DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(Curriculum Vitae)

Data Pribadi

Nama Lengkap : Henry Fajarianto

Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 1 November 1991

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Alamat :

Telepon : 087885044520

Email : [email protected]

Pendidikan Formal

1997-2003 : SD Swasta Pelita

2003-2006 : SMP Negeri 41 Jakarta

2006-2009 : SMA Negeri 55 Jakarta

2009-2016 :

Pengalaman Organisasi

1. Anggota Kuliah Kerja Nyata Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Anggota Basket Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 3. Anggota Basket SMAN 55 Jakarta

4. Anggota Basket SMAN 41 Jakarta

5. Anggota Pramuka SD Swasta Pelita Jakarta

Keahlian

Komputer : Microsoft Office, Adobe, Internet

Bahasa : Inggris

Jl. Musyawarah No.25 RT.02 RW.01 Kelurahan Ragunan. Kecamatan Pasar Minggu. Jakarta Selatan. 12550

(7)

vi ABSTRACT

This study aimed to analyze the influence of variables FDR (Financing to Deposit Ratio), exchange rate (exchange rate), inflation, and the BI Rate to financing problems (NPF) SME sector in Islamic banking in Indonesia. By using time series data for each month of the year January 2012 to December 2015. The analysis method used in this research is multiple linear regression with SPSS version 23 software applications and Microsoft Office Excel 2010 with statistical science approach to financing problems of SME sector in Islamic banking the period 2012 to 2015.

The results showed that the variables FDR, exchange rates, inflation and the central bank jointly Rates significant effect on the financing problems in the SME sector. Partially exchange rates had no significant effect, while FDR, inflation, and Bi Rate significant negative effect on financing problems of SME sector in Islamic banking in Indonesia.

(8)

vii ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari variabel FDR (Financing to Deposit Ratio), nilai tukar rupiah (kurs), inflasi, dan BI Rate terhadap pembiayaan bermasalah (NPF) sektor UKM di perbankan syariah di Indonesia. Dengan mengunakan data time series pada setiap bulannya dari tahun Januari 2012 sampai Desember 2015. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier berganda dengan aplikasi software SPSS versi 23 dan Microsoft Office Excel 2010 dengan pendekatan ilmu statistik terhadap pembiayaan bermasalah sektor UKM pada perbankan syariah periode 2012 sampai dengan 2015.

Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel FDR, kurs, inflasi dan BI Rates

secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan bermasalah di sektor UKM. Secara parsial kurs tidak berpengaruh signifikan, sedangkan FDR, inflasi, dan Bi Rate berpengaruh negatif signifikan terhadap pembiayaan bermasalah sektor UKM pada perbankan syariah di Indonesia.

(9)

viii KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah banyak memberikan anugerah dan nikmatnya pada diri ini sehingga dalam

menjalani aktivitas dapat berjalan sesuai apa yang diharapkan dan skripsi ini dapat

terselesaikan dengan baik. Dan dengan kekuatan doa dan ijin dari Allah SWT,

akhirnya skripsi ini diberi kemudahan dan kelancaran dalam menyusunnya. Tak lupa

Shalawat dan Salam selalu tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Saw berserta

keluarga dan seluruh pengikutnya sepanjang masa.

Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk

mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Bisnis di Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis

menyadari sepenuhnya penyusunan skripsi ini bukan merupakan satu hasil dari usaha

beberapa orang, karena manusia adalah makhluk sosial dimana keberhasilan manusia

tidak pernah lepas dari bantuan orang lain. Oleh karena itu dengan ketulusan dan

kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang telah memberikan

masukan yang berarti dalam proses penelitian, penyusunan, dan penyelesaian skripsi

ini. Untuk itu ucapan terima kasih yang tidak terhingga penulis ucapkan kepada:

1. Teristimewa untuk kedua orang tua saya, Mommy Damayanti dan almarhum Papi

Steve Rompies, yang selalu mengawasi, mendukung, menjaga, menasehati,

menemani, menyayangi, merawat dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang

(10)

ix

mengiri langkah saya untuk meraih cita-cita yang saya impikan terimakasih

Mommy Papiku tersayang .

2. Kakak-kakaku yang tersayang, Mbok Indri Putrianti dan BigBro Bayu Adrianto,

almarhum eyang kakung, eyang uti, Caci, om Kris, mba Uwi, mas Guguh, mas

Aries, mba Ning, mas Toing, Rina, dan saudara-saudaraku tersayang lainnya yang

selalu memberi semangat, dukungan, doa, dan yang selalu menghibur,

menyemangati, menasehati, menjaga, mendukung, dan membantu saya selama ini.

3. Bapak Dr. M. Arif Mufraini, Lc., MA selaku dekan fakultas ekonomi dan bisnis,

Bapak Dr. Amilin, SE.Ak., M.Si selaku wakil dekan I fakultas Ekonomi dan

Bisnis, Bapak Dr. Ade Sofyan Mulazid, MH selaku wakil Dekan II fakultas

ekonomi dan bisnis, dan bapak Dr. Desmadi Saharuddin, Lc., MA selaku wakil

dekan III fakultas ekonomi dan bisnis, yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

4. Pak Prof. Dr. Ahmad Rodoni selaku pembimbing I sebelumnya, saya akan ingat

terus perkataan bapak ketika sedang bimbingan skripsi selama ini.

Mudah-mudahan saya dapat mengamalkan sehingga ilmu tersebut dapat bermanfaat

selama hidup saya.

5. Bapak Adhitya Ginanjar, selaku pembimbing II dulu dan sebagai pembimbing I

saya sekarang yang telah memberikan bimbingan, arahan, perhatian, pengarahan,

motivasi, ilmu, serta saran dengan meluangkan waktu dan pikirannya untuk

mengarahkan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

6. Ibu Titi Warninda SE, M.Si selaku ketua jurusan manajemen, dan ibu Ir Ela

Patriana, MM selaku sekretaris jurusan manajemen, dan yang selalu

(11)

x

7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan waktu dan

ilmunya yang bermanfaat bagi saya. Dan juga seluruh staff dan karyawan UIN

terutama jurusan ekonomi dan bisnis yang telah memberikan pelayanan yang

terbaik bagi setiap mahasiswa.

8. Terimakasih untuk teman – teman manajemen D yang telah memberikan semangat, dukungan, bantuan, keceriaan, dan rasa persaudaraan yang indah, banyak

kenangan-kenangan bersama kalian yang tidak bisa saya lupakan.

9. Sahabat- sahabat seperjuangan saya sesama jurusan perbankan yang tidak dapat

satu persatu saya sebutkan namanya, namun tidak mengurangi rasa sayang dan

terima kasih saya.

10. Seluruh keluarga besar angkatan 2009, kenangan selama ini tidak akan terlupakan

oleh saya. Baik didalam kelas, saling bertukar pikiran dan saling mengeluarkan

pendapat suka maupun duka telah kita rasakan bersama dalam selama kuliah di

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Ekonomi dan Bisnis. Penulis memohon

maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulis selama ini dan mengucapkan

terimakasih banyak kepada seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan oleh

(12)

xi DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... i

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

ABSTRACT ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... . xi

DAFTAR TABEL ... . xiv

DAFTAR GAMBAR ... . xv

DAFTAR LAMPIRAN ... . xvi

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 16

1. Tujuan Penelitian ... 16

2. Manfaat Penelitian ... 17

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. UKM... 18

1. Pengertian UKM... 18

2. Kriteria UKM... 19

3. Karateristik UKM... 20

B. Bank Syariah... 22

1. Pengertian Bank Syariah ... 22

2. Jenis-jenis Risiko Bank Syariah... 23

C. Manajemen Risiko Pembiayaan... 27

1. Konsep dan Definisi... 27

(13)

xii

3. Tujuan Manajemen Risiko Pembiayaan ... 29

4. Kerangka Kerja Manajemen Risiko Pembiayaan... 31

5. Fungsi Manajemen Risiko... 32

D. Pembiayaan Bermasalah... 32

1. Konsep Pembiayaan Bermasalah ... 32

2. Penyebab Pembiayaan Bermasalah... 34

3. Dampak Pembiayaan Bermasalah ... 35

E. Financing to Deposit Ratio ... 35

1. Definisi FDR... 35

2. Penilaian Tingkat FDR... 35

3. Hubungan antara FDR terhadap NPF Perbankan Syariah... 38

F. Nilai Tukar (Kurs)... 39

1. Definisi... 39

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kurs... 40

3. Hubungan Kurs dengan NPF Perbankan Syariah... 42

G. Inflasi... 43

1. Pengertian Inflasi... 43

2. Jenis-jenis Inflasi... 44

3. Efek Buruk Inflasi... 45

4. Hubungan Inflasi dengan NPF... 46

H. Tingkat Suku Bunga... 47

1. Konsep Tingkat Suku Bunga ... 47

2. Faktor yang Mempengaruhi Kurs ... 48

3. Hubungan BI Rate Terhadap Pembiayaan Bermasalah... 51

I. Penelitian Terdahulu ... 52

J. Kerangka Pemikiran ... 54

(14)

xiii

BAB III. METODELOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian ... 62

B. Metode Penentuan Sampel ... 62

C. Metode Pengumpulan Data ... 63

1. Data Sekunder ... 63

2. Metode Studi Pustaka ... 63

3. Internet ... 63

D. Metode Analisis Data ... 64

E. Pengujian Hipotesis ... 69

1. Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F) ... 70

2. Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t) ... 71

3. Koefisien Determinasi ... 72

F. Definisi Operasional Variabel ... 72

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ... 74

1. Sejarah dan Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia... 74

B. Analisis dan Pembahasan ... 78

1. Analisis Deskriptif ... 78

2. Analisis Pengujian Statistik ... 94

3. Pengujian Hipotesis ... 100

C. Intepretasi ... 105

BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan ... 109

B. Implikasi ... 110

DAFTAR PUSTAKA ... 113

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

No Keterangan Halaman

1.1 Data Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia... 3

1.2 Posisi Aset dan Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2012-2015 (dalam miliar rupiah) ... 4

1.3 Pembiayaan Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan... 9

1.4 Pembiayaan Bermasalah Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan ... 11

1.5 Perkembangan variabel-variabel yang mempengaruhi Non Performing Financing... 14

1.6 Tingkat Loan to Deposit Ratio... 37

2.1 Penelitian Terdahulu ... 52

4.1 Perkembangan Financing to Deposit Ratio Periode 2012-2015... 79

4.2 Perkembangan Tingkat Kurs Indonesia Periode 2012-2015... 80

4.3 Perkembangan Tingkat Inflasi di Indonesia Periode 2012-2015... 83

4.4 Perkembangan BI Rate Periode 2012-2015... 86

4.5 Non Performing Financing (NPF) sektor UKM Perbankan Syariah Indonesia Periode 2012-2015... 90

4.6 Uji Kolmogorov-Smirnov ... 94

4.7 Uji Multikolineritas... 95

4.8 Uji Durbin-Watson ... 96

4.9 Uji Park ... 99

4.10 Uji F ... 101

4.11 Uji t ... 102

(16)

xv

DAFTAR GAMBAR

No Keterangan Halaman

1.1 Tren Perkembangan FDR Perbankan Syariah ... 6

2.1 Kerangka Pemikiran ... 58

4.6 Histogram ... 92

4.7 Grafik p plot ... 93

(17)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data-data variabel penelitian dari tahun 2012-2015 ... 121

Lampiran 2 Tabel Model Regresi, Anova, dan Koefisien ... 123

Lampiran 3 Uji Normalitas ... 124

Lampiran 4 Uji Multikolinieritas dan Autokorelasi ... 126

(18)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bencana yang menimpa Indonesia tahun 1998, telah menghancurkan

kehidupan perekonomian di Indonesia. Tidak terkecuali negara-negara di kawasan

Asia Tenggara yang tidak luput dari krisis ekonomi dan moneter. Namun negara

Indonesia yang paling lama melaksanakan proses pemulihan ekonomi. Hal ini

antara lain disebabkan oleh parahnya tingkat Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme

(KKN), sehingga perbaikan ekonomi memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Krisis

ekonomi juga menyebabkan terjadinya krisis-krisis lain yang bersifat multi

dimensional, berupa krisis yang mengarah pada krisis kepercayaan dan krisis moral.

Perbankan juga tidak luput dari krisis, yakni ditandai dengan banyaknya

bank-bank yang dilikuidasi, dibekukan, ataupun digabung dengan bank-bank lain

(merger). Hal ini lebih disebabkan oleh adanya praktik perbankan yang sangat kurang menerapkan prinsip kehati-hatian bank (prudential banking principle) dalam mengelola kegiatan usaha, khususnya dalam hal penyaluran dana kepada

masyarakat dalam bentuk kredit. Lemahnya analis kredit pada perbankan ikut andil

dalam menyebabkan terjadinya krisis dimaksud.

Memburuknya situasi perekonomian Indonesia akibat kebijakan suku bunga

tinggi dan depresiasi nilai tukar mata uang rupiah ternyata justru membawa akibat

yang sangat buruk pada dunia perbankan (Riawan, 2003) dan salah satu

(19)

2

demikian, maka kemampuan perusahaan membayar kredit menjadi berkurang.

Konsekuensinya, bank menanggung jumlah NPL yang lebih besar.

Dan pembiayaan atau kredit bermasalah adalah masalah utama yang paling dihindari oleh semua bank. Akan tetapi bank tidak bisa terlepas dari kredit macet yang selalu terjadi. Menurut Rose (2002:326) risiko kredit berupa pembiayaan bermasalah berbahaya bagi eksistensi suatu bank dalam menepati kewajibannya, mengurangi profitabilitas dan membahayakan kelangsungan hidupnya. Kredit macet merupakan risiko bisnis yang mau tidak mau harus ditanggung oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang perkreditan atau pembiayaan. Hal inilah yang juga melanda sektor perbankan syariah di Indonesia sejak pertama kali kemunculannya.

Perbankan syariah di Indonesia mengalami peningkatan dan terus-menerus mengalami perkembangan sejak diberlakukannya Undang-Undang tentang

perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yakni bank konvesional yang mendasarkan pada prinsip bunga dan bank berdasarkan prinsip syariah atau yang kemudian lazim

dikenal dengan bank syariah (dual banking system). Di dalam undang-undang tersebut telah diatur secara rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah.

Masyarakat dan pihak penyelenggara kegiatan bank memberikan respon yang positif yang membuat berbagai bank baik BUMN maupun swasta sering mmengadakan kegiatan jasa perbankan dengan sistem syariah. Disertai dari pihak masyarakat yang menunjukan minat yang besar terhadap bank syariah karena

(20)

3 pada produk-produknya, dan bank syariah juga belum terlalu masuk dalam pasar keuangan global yang menyebabkan tidak terlalu menerima dampak langsung dari krisis global merupakan sumber dari minat masyarakat terhadap bank syariah. Bertambahnya jumlah bank syariah, unit usaha syariah, dan bank umum syariah menjadi suatu indikasi dari perkembangan bank syariah di Indonesia. Perkembangan dari perbankan syariah dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.1.

Data Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia

Jenis Bank 2012 2013 2014 2015

Bank Umum Syariah 11 11 12 12

Unit Usaha Syariah 24 23 22 22

BPRS 158 163 163 163

Sumber: Laporan Statistik Perbankan Syariah 2015

Tabel di atas menjelaskan dari tahun 2012 hingga Desember 2015 jumlah bank umum syariah adalah 12 bank, bank konvensional yang memiliki unit usaha syariah sebanyak 22 bank. Dan jumlah BPRS juga mengalami sedikit penurunan dari tahun sebelumnya menjadi 163 bank di Desember 2015.

(21)

4 Antonio (2012:7) pesatnya pertumbuhan perbankan syariah disebabkan karena kesesuaian dengan ajaran mayoritas penduduk Indonesia. Berikut ini merupakan tabel perkembangan aset dan dana pihak ketiga perbankan syariah di Indonesia.

Tabel 1.2.

Posisi Aset dan Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia Periode Tahun 2012-2015 (dalam miliar rupiah)

Indikator 2012 2013 2014 2015

Aset 195.018 242.276 272.343 272.389

DPK 147.512 183.534 217.858 215.339

Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia 2015

Tabel di atas menggambarkan, total aset dan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh perbankan syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, seperti periode 2012 hingga 2013 posisi aset mengalami peningkatan sebesar 24,23% dan 24,41% di segi dana pihak ketiga , meskipun pada tahun 2014 hingga Juni 2015 dari segi aset tidak terlalu mengalami kenaikan dan terjadi sedikit penurunan di segi dana pihak ketiga yang terhimpun sebesar 1%, dana pihak ketiga yang terkumpul harus segera disalurkan dananya guna memperoleh kesempatan mendapat keuntungan untuk perbankan syariah melalui prinsip bagi hasil maupun jual beli. Agar bank tidak terkena biaya dana yang besar dikarenakan uang yang mengendap dari dana pihak ketiga. Hal tersebut menyebabkan bank-bank syariah di Indonesia menyalurkan dana pihak ketiga yang terkumpul melalui produk-produk pembiayaan yang mereka tawarkan kepada para nasabahnya.

(22)

5 rasio FDR perbankan syariah di Indonesia mencapai 100%. Di tahun 2013 berhasil mencapai 100,32%, dan mengalami kenaikan di tahun 2014 yang mencapai 91,5%, di akhir Desember 2015 FDR perbankan syariah mengalami sedikit penurunan ke 88,03%

Gambar 1.1.

Tingkat Perkembangan FDR Perbankan Syariah di Indonesia

Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia, data diolah dengan excel

(23)

6 Perkembangan potensi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit atau pembiayaan kepada UKM. Setiap tahun pembiayaan kepada UKM mengalami pertumbuhan dan secara umum pertumbuhannya lebih tinggi dibanding total pembiayaan perbankan.

Usaha mikro kecil menengah menjadi salah satu prioritas dalam agenda pembangunan di Indonesia hal ini terbukti dari bertahannya sektor UKM saat terjadi krisis hebat tahun 1998 dan tahun 2008 silam, bila dibandingkan dengan sektor lain yang lebih besar justru tidak mampu bertahan dengan adanya krisis. Kuncoro (2008:75) mengemukakan bahwa UKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive karena, pertama, tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke perbankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempat, berorientasi ekspor.

Di sinilah peran besar perbankan syariah dalam menjalankan fungsi intermediasi sesungguhnya yang menyentuh sektor ekonomi akar rumput. Dilihat dari berbagai skema pembiayaan yang dikembangkan, bank syariah hanya menyalurkan pembiayaan pada sektor riil. Pembiayaan melalui akad murabah, salam, dan ijarah hanya dapat disalurkan apabila ada barang atau jasa (sektor riil)

yang bisa dibiayai. Bahkan terbentuk korelasi sempurna antara biaya modal dengan pengembalian atas modal pada pembiyaan dengan akad musyarakah dan mudharabah.

(24)

7 dan aksi spekulasi. Sebagian besar dana yang disalurkan oleh perbankan konvensional tidak memiliki dampak pada ekonomi riil, hal tersebut merupakan dampak dari penyaluran dana pada sektor bebas resiko seperti Sertifikat Bank Indonesia. Dan yang lebih memperparah kinerja perbankan konvensional adalah besarnya dana yang disalurkan ke pasar uang dengan dasar spekulasi. Mubyarto (2004:6), seorang tokoh ekonomi kerakyatan, meragukan peranan perbankan

sebagai agent of development dalam pengentasan kemiskinan melalui senjata kredit. Beliau mengkritik beberapa bank daerah yang lebih suka mengirim dana ke pusat

untuk diinvestasikan di surat hutang yang lebih aman seperti SBI. Padahal harapan

UKM terhadap terhadap peranan bank sangat tinggi, namun sayang mereka tidak

dianggap “bankable”. Fenomena itu terjadi pada level bank daerah, yang memang

fungsi utamanya memajukan ekonomi daerah.

Perbankan syariah bukanlah financial sector based banking sebagaimana yang diterapkan perbankan konvensional. Sebaliknya perbankan syariah merupakan real sector based banking yang menjalankan pembiayaan pada sektor riil dan salah satunya adalah sektor UKM. Perbankan syariah memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan ekonomi riil di Indonesia berpadu dengan potensi ekonomi kerakyatan dan UKM. Produk-produk pembiyaan dengan skim profit and lost sharing dengan paradigma kemitraan dinilai sangat tepat untuk

mengembangkan usaha mikro masyarakat. Dengan pendekatan pembiayaan lembaga keuangan mikro sebagai kepanjangan tangan dari bank-bank syariah diharapkan upaya untuk menjangkau UKM bisa dioptimalkan.

Perbankan syariah bisa lebih aktif menjalin kerjasama dengan UKM yang

(25)

8

mitra kerja potensial untuk membangkitkan kembali perekonomian masyarakat.

Stigma bahwa sektor UKM sangat beresiko merupakan argumentasi yang tidak

beralasan. Bertahannya Bank BRI yang bergerak di sektor tersebut pada krisis

tahun 1998 membuktikan bahwa risiko pada sektor UKM lebih terdiversifikasi

(Antonio 2009:7).

Penyaluran pembiayaan perbankan syariah ke sektor UKM dari tahun 2012 hingga akhir tahun 2015 tergolong tinggi. Dan selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berikut ini tabel lengkap komposisi pembiayaan perbankan syariah di Indonesia berdasarkan golongan pembiayaan.

Tabel 1.3.

Pembiayaan Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan Tahun 2012-2015

(Dalam Miliar Rupiah)

Golongan 2012 2013 2014 2015

UKM 90.860 110.086 59.806 51.603

Selain UKM 56.645 74.034 139.524 152.291

Total 147.505 184.120 199.330 203.894

Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia 2015

(26)

9 Besarnya pertumbuhan aset dan penyaluran pembiyaan perbankan syariah di Indonesia dari tahun 2012 sampai tahun 2015 ternyata tidak diikuti dengan kualitas pembiayaan yang baik. Terjaganya fungsi intermediasi perbankan syariah ternyata juga dibarengi dengan memburuknya kualitas pembiayaan. Hal tersebut ditunjukan dengan meningkatnya angka pembiayaan bermasalah atau Non performing Loan yang dalam terminologi perbankan syariah disebut Non Performing Finance (NPF ).

NPL menimbulkan permasalahan bagi pemilik bank dan pemilik deposito. Pertama bagi pemilik bank, dengan semakin tinggi NPL mereka tidak menerima return pasar dari modal mereka. Kedua untuk pemilik deposito tidak menerima return pasar dari deposito atau tabungan mereka. Bank membagi kegagalan kredit

atau pembiayaan mereka kepada pemilik deposito dengan cara menekan tingkat suku bunga atau tingkat bagi hasil. (Nasution, 2007:1) Dalam kasus yang lebih buruk, jika bank mengalami kebangkrutan deposan akan kehilangan aset atau dihadapkan dengan jaminan yang tidak seimbang. Bank juga membagi risiko kerugian mereka kepada debitur lain dengan cara menetapkan suku bunga pinjaman, margin, tingkat bagi hasil yang tinggi. Non performing loan akan mengakibatkan jatuhnya sistem perbankan, mengkerutnya pasar saham dan bahkan mengakibatkan kontraksi dalam perekonomian.

Tabel 1.4.

Pembiayaan Bermasalah Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan Tahun 2012-2015

(Dalam Miliar Rupiah)

Golongan 2012 2013 2014 2015

UKM 2060 2879 3875 4150

Non UKM 1209 1950 4757 5557

Total 3269 4828 8632 9707

(27)

10 Pada tahun 2012 NPF perbankan syariah adalah sebesar Rp 2.060.000.000.000. Dan meningkat sebesar 39% atau sebesar Rp 2.879.000.000.000 pada tahun berikutnya. Pada tahun 2015 yang merupakan akhir periode pengamatan, jumlah NPF perbankan syariah di Indonesia meningkat menjadi Rp 4.150.000.000.000.

UKM di Indonesia memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto. Namun demikian hal tersebut tidak mampu mencerminkan kelancaran debitur-debitur dalam melakukan pembayaran atas pembiayaan yang diberikan.

Selain Produk Domestik Bruto, salah satu variabel yang memengaruhi tingkat non performing finance adalah ekuivalen tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga merupakan hal yang diperhatikan oleh debitur dalam menerima suatu pembiayaan. Meskipun perbankan syariah tidak mengenal sistem bunga, kinerja pembiayaan sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Semakin tinggi tingkat suku bunga yang diberikan bank sentral, maka dapat mempengaruhi tingkat bagi hasil yang diminta oleh bank sehingga tingkat non performing financing akan semakin meningkat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi NPF pada perbankan syariah salah satunya

ialah financing to deposit ratio (FDR).FDR adalah rasio antara jumlah kredit yang

diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. FDR ditentukkan oleh

perbandingan antara jumlah pinjaman yang diberikan dengan dana masyarakat yang

dihimpun yaitu mencakup giro, simpanan berjangka (deposito), dan tabungan.FDR

tersebut menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali

(28)

11

diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin besar kredit maka pendapatan

yang diperoleh naik, karena pendapatan naik secara otomatis laba juga akan

mengalami kenaikan. (IlmuPerbankan, 2010:03).

Faktor penyebab berikutnya dari non performing loan atau non performing

financing adalah inflasi. Jakubik (2010) melakukan penelitian di Ceko menemukan

jika inflasi berpengaruh terhadap resiko kredit. Hogart (2007), yang melakukan penelitian di Inggris raya menemukan pengaruh yang signifikan antara inflasi

dengan pembiayaan bermasalah yang diproksikan dengan peningkatan jumlah

penghapusan pinjaman.

Faktor lainya yang juga memengaruhi tingkat NPF adalah tingkat suku bunga

atau dalam perbankan syariah ditunjukan dengan tingkat bagi hasil dan margin.

Saba (2012) menemukan terdapat pengaruh negatif yang signifikan tingkat suku

bunga terhadap tingkat NPL, beberapa literatur menunjukan adanya pengaruh yang

ditimbulkan dari tingkat suku bunga terhadap perbankan syariah. Hakan (2011)

melakukan penelitian tentang pengaruh tingkat suku bunga terhadap perbankan

syariah Turki. Hasil penilitian menunjukan terdapat pengaruh yang signifikan yang

dihasilkan dari tingkat suku bunga terhadap kinerja perbankan syariah.

Di negara dengan dual banking system seperti Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa kinerja bank syariah selain dipengaruhi oleh faktor internal

manajemen bank syariah juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, seperti

Ekonomi Makro. Faktor eksternal dari makro ekonomi adalah tingkat suku bunga,

nilai tukar, PDB, jumlah uang beredar, dan inflasi (Hakan, 2011).

Pada teori bejana yang berhubungan Karim (2004:254), mengungkapkan

bahwa kebijakan moneter konvensional akan mempunyai pengaruh terhadap

(29)

12

mempengaruhi variabel-variabel neraca bank konvensional (suku bunga kredit,

suku bunga deposito, dan sekuritas yang dimiliki). Pada umumnya mekanisme

tersebut ditransmisikan melalui suku bunga kredit. Di pihak lain, perbankan syariah

yang notabene tidak mengenal bunga dalam praktek operasionalnya juga

terpengaruh oleh kebijakan moneter tersebut (Adi, 2012:14). Pengaruh tersebut

terlihat pada kondisi neraca bank syariah. Yakni pada tingkat nisbah bagi hasil

deposito investasi mudharabah. Sementara pengaruh suku bunga SBI terhadap

nisbah pembiayaan bank syariah ditransmisikan melalui suku bunga kredit.

Tabel 1.5.

Perkembangan variabel-variabel yang mempengaruhi Non Performing Financing

Tahun FDR

Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia dan bi.go.id

Berdasarkan data non performing financing, keragaman argumentasi (research gap) penelitian yang ada, ditambah dengan tingkat financing to deposit rate (FDR), inflasi, BI Rate, dan total pembiayaan yang disinyalir memiliki pengaruh

terhadap pembiayaan bermasalah (NPF), Membuat penulis ingin meneliti lebih lanjut dengan membuat penelitian berjudul : A alisis Pe garuh Fi a i g to Deposit Ratio (FDR), Nilai Tukar Rupiah (KURS), Inflasi, dan BI Rate Terhadap

Pe iayaa Ber asalah NPF di “ektor UKM Per a ka “yariah I do esia .

B. Rumusan Masalah

Kredit macet atau pembiayaan bermasalah dalam dunia perbankan syariah

(NPF) ialah masalah yang muncul sebagai akibat terjadinya konstraksi output

(30)

13

kurang dalam mengaplikasikan prinsip kehati-hatian (prudential banking principles), padahal bank merupakan institusi keuangan yang sarat dengan batasan dan perturan (the most regulated industry in the world). Di samping itu juga, kurang ditaatinya Kode Etik Bankir Indonesia yang diharapkan dapat menjadi

pedoman moral bagi para bankir dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Sementara di sisi lain, kalangan usaha kecil dan menengah ternyata lebih

mampu bertahan menghadapi krisis. Hal ini lebih disebabkan karena mereka

bergerak di sektor riil, sehingga mereka mempunyai ketergantungan kepada

perbankan yang renda, dan pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah ke

sektor UKM sangat besar jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Hal tersebut

tentunya membuat risiko kegagalan bayar pembiayaan sektor UKM menjadi tinggi.

Dari latar belakang masalah menjelaskan bahwa kondisi ekonomi negara dan

spefikasi bank berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya non performing finance pada perbankan syariah.

Berdasarkan hal tersebut maka dapat dirumuskan suatu permasalahan dalam

penelitian ini sebagai berikut :

1. Apakah financing to deposit ratio berpengaruh terhadap NPF di sektor UKM secara parsial ?

2. Apakah nilai tukar rupiah (KURS) berpengaruh terhadap NPF di sektor UKM

secara parsial ?

3. Apakah inflasi berpengaruh terhadap NPF di sektor UKM secara parsial ?

4. Apakah BI Rate berpengaruh terhadap NPF di sektor UKM secara parsial ? 5. Apakah FDR, Kurs, inflasi, dan BI Rate berpengaruh terhadap NPF di sektor

UKM secara simultan ?

(31)

14 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian

ini adalah:

1. Menganalisis pengaruh FDR, Kurs, inflasi,dan BI Rate dari masing-masing variabel terhadap pembiayaan bermasalah (NPF) pada sektor UKM perbankan

syariah di Indonesia.

2. Menganalisis pengaruh FDR, Kurs, inflasi, dan BI Rate secara bersamaan dari setiap variabel terhadap pembiayaan bermasalah (NPF) pada sektor UKM

perbankan syariah di Indonesia.

3. Serta menganalisis variabel apa yang paling memiliki pengaruh terhadap

pembiayaan bermasalah sektor UKM pada perbankan syariah di Indonesia.

2. Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penulis dan pihak-pihak lainyang

berkepentingan, yaitu:

1. Memberikan ilmu pengetahuan dan masukan tentang permasalahan yang

dihadapi oleh praktisi perbankan syariah di Indonesia dalam mengambil

keputusan berkaitan risiko dalam pembiayaan agar bisa meminimalisir potensi

kredit atau pembiayaan bermasalah.

2. Dapat memperkaya pemahaman mengenai konsep-konsep yang telah

dipelajari dengan membandingkannya dalam praktik perbankan khususnya

berkenaan dengan tema perbankan syariah dan non performing financing

3. Diharapkan penelitian ini berguna bagi penelitian kedepannya berkenaan

(32)

15

4. Memberikan suatu pandangan bagi masyarakat dalam menilai kondisi

perbankan konvensional dan perbankan syariah yang baik yang tercermin dari

(33)

16 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. UKM

1. Pengertian UKM

Usaha kecil di Indonesia belum pasti dan masih sangat beragam

pengertiannya, sebelum dikeluarkannya UU No 9/1995 terdapat lima instansi yang

merumuskan usaha kecil dengan caranya masing-masing, kelima instansi tersebut

adalah Biro Pusat Statistik (BPS), Departemen Perindustrian, Bank Indonesia,

Departemen Perdagangan dan Kamar dagang dan Industri. (Adi 2012:48)

Departemen Perindustrian dan Bank Indonesia mendefinisikan usaha kecil

berdasarkan nilai asetnya. Menurut kedua instansi ini yang dimaksud dengan usaha

kecil adalah usaha yang assetnya (tidak termasuk tanah dan bangunan) bernilai

kurang dari Rp 600 juta. Departemen perdagangan membatasi usaha kecil

berdasarkan modal kerjanya, yakni usaha (dagang) yang modal kerjanya bernilai

kurang dari Rp 25 juta.

Sedangkan KADIN membedakan usaha kecil menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah yang bergerak dalam bidang perdagangan, pertanian dan

industri. Kelompok kedua adalah yang bergerak dalam bidang konstruksi. Menurut

Kadin yang dimaskud dengan usaha kecil untuk kelompok pertama adalah yang

memiliki modal kerja kurang dari Rp 150 juta dan memiliki nilai usaha kurang dari

Rp 600 juta.

Adapun untuk kelompok kedua yang dimaksud dengan usaha kecil adalah

yang memiliki modal kerja kurang dari Rp 250 juta dan memiliki nilai usaha

(34)

17

mengemukakannya untuk usaha kecil sektor industri. Menurut BPS yang dimaksud

dengan industri kecil adalah usaha industri yang melibatkan tenaga kerja antara

lima sampai 19 orang. Sedangkan yang dimaksud dengan industri rumah tangga

adalah usaha industri yang memperkerjakan kurang dari lima orang.

2. Kriteria UKM

Berdasarkan kelima batasan tersebut dapat kita katakan betapa sangat

beragamnya pengertian usaha kecil yang berlaku di Indonesia. Tetapi diluar kelima

pengertian tersebut pemerintah telah menetapkannya dalam rumusan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 . Menurut UU ini yang

dimaksud dengan usaha Mikro, Kecil dan Menengah dapat dibedakan menjadi tiga

kelompok, diantaranya:

a. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:

1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta

rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga

ratus juta rupiah).

b. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:

1) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta

rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta

rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus

juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar

lima ratus juta rupiah).

(35)

18

1) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta

rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar

rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua

milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak

Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

3. Karakteristik UKM

Dari definisi-definisi tersebut dapat digambarkan bahwa UKM bisa menjadi

sebuah lokomotif penting dalam pertumbuhan ekonomi bangsa, menurut

(Tambunan, 2009:40) UKM sangat penting karena karakteristik-karekteristik utama

mereka yang berbeda dengan usaha besar, diantaranya:

a. Jumlah perusahaan sangat banyak (jauh melebihi jumlah usaha besar) terutama

dari kategori usaha mikro dan usaha kecil. Dan hal ini juga didasarkan pada

karakter usaha mikro dan usaha kecil yang tersebar diseluruh pelosok pedesaan

termasuk diwilayah-wilayah yang relatif terisolasi.

b. Karena sangat padat karya,berarti mempunyai suatu potensi pertumbuhan

kesempatan kerja yang sangat besar, pertumbuhan UMKM dapat dimasukkan

sebagai suatu elemen penting dari kebijakan-kebijakn nasional untuk

meningkatkan kesempatan kerja dan menciptakan pendapatan, terutama bagi

masyarakat miskin.

c. Kegiatan-kegiatan produksi dari kelompok UMKM pada umumnya dari

berbasis pertanian. Oleh karena itu upaya-upaya pemerintah mendukung

UMKM sekaligus juga merupakan cara tak langsung, tetapi efektif untuk

(36)

19

d. UMKM memakai teknologi-teknologi yang lebih “cocok” terhadap proporsi -proporsi dari faktor-faktor produksi dan kondisi lokal yang ada di negara

sangat berkembang, yakni sumber daya alam (SDA) dan tenaga kerja

berpendidikan rendah yang berlimpah.

e. Banyak UMKM bisa tumbuh pesat. Bahkan, banyak UMKM bisa bertahan

pada saat ekonomi Indonesia dilanda suatu krisis besar pada tahun 1997/1998.

f. Walaupun pada umumnya masyarakat pedesaan miskin, banyak bukti yang

menunjukkan bahwa orang-orang desa yang miskin bisa menabung dan mereka

mau mengambil risiko dengan melakukan investasi. Dalam hal ini, UMKM

bisa menjadi suatu titik permulaan bagi mobilisasi tabungan/investasi di

perdesaan dan disisi lain bisa meningkatkan kemampuan berwirausaha dari

orang-orang desa.

g. Kelompok usaha ini dapat memainkan suatu peran penting lainnya, yaitu

sebagai suatu alat untuk mengalokasikan tabungan-tabungan perdesaan, yang

kalau tidak akan digunakan untuk maksud-maksud yang tidak produktif.

h. Walaupun banyak barang yang diproduksi oleh UMKM juga untuk masyarakat

kelas menegah dan atas, tetapi terbukti secara umum bahwa pasar utama bagi

UMKM adalah untuk barang-barang konsumsi sederhana dengan harga relatif

murah seperti pakaian jadi,mebel dari kayu,alas kaki dan lainnya yang

memenuhi kebutuhan sehari-hari dari masyarakat miskin atau berpendapatan

rendah.

i. Sebagai bagian dari dinamikanya, banyak juga UMKM yang mampu

meningkatakan produktivitasnya lewat investasi dan perubahan teknologi

(37)

20

Kelompok usaha ini dilihat sangat penting di industri-industri yang tidak

stabil atau ekonomi-ekonomi yang menghadapi perubahan-perubahan kondisi pasar

yang cepat, seperti krisis ekonomi 1997/98 yang dialami oleh beberapa negara di

Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu dengan menyadari betapa

pentingnya UMKM secara potensial seperti yang diuraikan diatas tersebut tidak

heran kenapa pemerintah-pemerintah dihampir semua negara berkembang termasuk

Indonesia sudah sejak lama mempunyai berbagai macam program, dengan

skim-skim kredit bersubsidi sebagai komponen terpenting untuk mendukung

perkembangan dan pertumbuhan UMKM (Tambunan, 2009:50).

B. Bank Syariah

1. Pengertian Bank Syariah

Perbankan adalah lembaga yang mempunyai peran utama dalam pembangunan

suatu negara. Peran ini terwujud dalam fungsi bank sebagai lembaga intermediasi

keuangan (financial intermediary institution), yakni menghimpuin dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam

bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup

rakyat. (Khotibul 2016)

Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 berdasarkan prinsip

operasionalnya bank dibedakan menjadi dua, yakni bank konvesional yang

mendasarkan pada prinsip bunga dan bank berdasarkan prinsip syariah atau yang

kemudian lazim dikenal dengan bank syariah.Bank syariah terdiri dari Bank Umum

Syariah dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah atau yang saat ini disebut sebagai

(38)

21

Perbankan syariah merupakan institusi yang memberikan layanan jasa

perbankan prinsip syariah. Dalam UU No. UU No. 21 Tahun 2008 prinsip syariah

adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang

dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di

bidang syariah. Prinsip ini menggantikan prinsip bunga yang terdapat dalam sistem

perbankan konvensional.

Konsekuensi hukum dari penggunaan prinsip syariah dalam operasional

perbankan adalah bahwa produk perbankan syariah lebih bervariasi dibanding

produk perbankan konvensional. Bahwa produk perbankan konvensional,

khususnya produk penghimpunan dana dan penyaluran dana hanya mendasarkan

pada sistem bunga sebagai bentuk prestasi dan kontraprestasi atas penggunaan dana,

sedangkan pada perbankan syariah mendasarkan pada akad-akad tradisional Islam

yang mana keberadaannya sangat tergantung pada kebutuhan riil nasabah.

2. Jenis-jenis Risiko Bank Syariah a. Risiko Pembiayaan

Risiko pembiayaan muncul akibat adanya kegagalan counterpary dalam memenuhi kewajibannya. Karim (2007: 260) membagi jenis-jenis resiko pada

bank syariah menjadi risiko terkait produk dan risiko terkait korporasi. Risiko

yang terkait dengan produk ditimbulkan oleh jenis produk pada perbankan

syariah yang mempunyai karakteristik yang khas yakni pembiayaan Natural Certainty Contracts (seperti akad murabahah, ijarah, salam,istishna)dan

Natural Uncertainty Contracts (mudharabah dan musyarakah).

Sementara itu pada risiko terkait pembiayaan korporasi muncul sebagai

akibat dari perubahan kondisi bisnis setelah pembiayaan, komitmen modal

(39)

22 b. Risiko Pasar

Risiko pasar adalah risiko kerugian yang terjadi pada portofolio yang

dimiliki oleh bank, penyebabnya adalah karena terjadi pergerakan variabel

pasar berupa suku bunga dan nilai tukar. Menurut Karim (2007:272) risiko

pasar terdiri dari empat hal, yaitu risiko tingkat suku bunga, risiko pertukaran

mata uang risiko harga dan risiko likuiditas.

1) Risiko Tingkat Suku Bunga (Interest Rate Risk)

Risiko tingkat suku bunga merupakan risiko yang harus dihadapi bank

dikarenakan terjadinya fluktuasi tingkat suku bunga. Dalam hal ini,

meskipun bank syariah tidak menetapkan suku bunga pada sisi pendanaan

dan pembiayaan, namun bank syariah tidak akan dapat terlepas dari risiko

tingkat suku bunga. Hal ini disebabkan pangsa pasar yang disasar oleh

bank syariah tidak hanya nasabah-nasabah yang loyal penuh terhadap

sistem syariah.

2) Risiko Pertukaran Mata Uang (Foreign Exchange Rate)

Risiko ini merupakan suatu konsekuensi yang berkaitan dengan adanya

pergerakan nilai tukar terhadap rugi laba bank. Meskipun

aktivitas-aktivitas pendanaan bank syariah tidak terpengaruhi fluktuasi kurs secara

langsung karena tidak dibolehkan melakukan transaksi yang bersifat

spekulasi, namun bank syariah tidak dapat terlepas dari adanya posisi

dalam valuta asing.

Mengingat bank syariah tidak berkenan berspekulasi, maka transaksi

(40)

23

transaksi tersebut harus dilakukan secara tunai atau spot. Seperti pembayaran

dengan cek, pemindahbukuan, transfer, dan sarana pembayaran tunai lainnya.

c. Risiko Likuiditas

Menurut Arifin (2009:245) risiko likuiditas adalah risiko yang muncul

manakala bank tidak mampu memenuhi kebetuhan dana (cash flow) dengan segera, dan dengan biaya yang sesuai, baik untuk memenuhi kebutuhan

transaksi sehari-hari maupun guna memenuhi kebutuhan dana yang mendesak.

Menurutnya, besar-kecilnya risiko ini ditentukan oleh:

1) Kecermatan perencanaan arus kas (cash flow) atau arus dana (fund flow) berdasarkan prediksi pembiayaan dan prediksi pertumbuhan dana,

termasuk mencermati tingkat fluktuasi dana (volatility of funds).

2) Ketepatan dalam mengatur struktur dana, termasuk kecukupan dana-dana

nonprofit and loss sharing.

3) Ketersediaan aset yang siap dikonversikan menjadi kas.

4) Kemampuan menciptakan aset ke pasar antarbank atau sumber dana

lainnya, termasuk fasilitas lender of last resort.

d. Risiko Operasional

Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh

ketidakcukupan proses internal, human error, kegagalan sistem atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasi bank (Greuning, 2008:174).

Menurut Greuning, terdapat beberapa hal yang dapat memicu

peningkatan risiko operasional pada bank Islam, diantaranya adalah:

1) Risiko pembatalan perjanjian pada pembiayaan yang tidak mengikat

(41)

24

2) Kegagalan sistem pengendali internal dalam mendeteksi dan mengelola

masalah potensial pada proses operasional.

3) Potensi menghadapi kesulitan dalam penguatan akad atau kontrak pada lingkungan legal yang lebih lebih luas.

4) Kebutuhan untuk memelihara dan mengelola komoditas yang

diinventorisasikan pada pasar yang tidak likuid.

5) Kegagalan mematuhi persyaratan syariah.

Menurut Arifin (2008:271) terdapat empat risiko yang berkaitan dengan

risiko operasional diantaranya adalah:

1) Risiko Reputasi: adalah risiko yang disebabkan oleh adanya publikasi

negatif terkait dengan kegiatan bank.

2) Risiko Kepatuhan: adalah risiko yang muncul akibat dari ketidakpatuhan

ketentuan-ketentuan internal dan eksternal seperti GWM, batas pemberian

pembiayaan, ketentuan dalam akad, fatwa Dewan Syariah Nasional dan

lain sebagainya.

3) Risiko Strategi: risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya penetapan

dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan

yang salah, atau bank tidak mematuhi perubahan perundang-undangan dan

ketentulan lain.

4) Risiko Hukum: risiko ini muncul sebagai akibat dari adanya kelemahan

aspek yuridis seperti adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan

undang-undang yang mendukung suatu kebijakan dan kegiatan pembiayaan.

(42)

25

Dalam menjalankan fungsinya yakni memberikan pembiayaan kepada

masyarakat oleh bank syariah selalu berdampingan dengan risiko. Dijelaskan dalam

Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan bahwa:

Kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang diberikan oleh bank

mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan

asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang sehat.

Untuk mengurangi risiko tersebut, jaminan pemberian kredit atau pembiayaan

berdasarkan Prinsip Syariah adalam arti keyakinan atas kemampuan dan

kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang

diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengukuran

terhadap risiko perbankan. Hal-hal seperti jumlah pembiayaan yang diberikan,

kuantitas dan kualitas risiko. Secara keseluruhan risiko pembiayaan merupakan hal

yang penting untuk diperhatikan dibandingkan dengan risiko-risiko lainnya, karena

ketidakmampuan nasabah memenuhi kewajiban pembiayaannya dapat

mengakibatkan bank merugi dan mengikis permodalan bank yang berujung pada

kebangkrutan.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan sebuah upaya manajerial terhadap risiko yang

muncul akibat dari penyaluran pembiayaan. Hal ini dimaksudkan agar kualitas

pembiayaan senantiasa dalam keadaan lancar. Senada dengan hal yang dinyatakan

oleh Tampubolon (2004:35) dalam bukunya dijelaskan bahwa:

Manajemen risiko merupakan sejumlah kegiatan yang bersifat proaktif dan

terarah yang ditujukan untuk mengakomodasi kemungkinan gagal pada salah satu

(43)

26

haruslah dinamis tidak statis, dan berubah sejalan dengan perubahan kebutuhan dan

risiko usaha.

Resiko kredit atau pembiayaan berbahaya bagi kelangsungan hidup bank

karena dapat menyebabkan bank gagal memenuhi kewajibannya dan menggerus

profitabilitas bank (Rose, 2002:326). Risiko kredit adalah risiko yang timbul

sebagai akibat kegagalan pihak lawan memenuhi kewajibannya. Risiko ini dapat

timbul karena kinerja satu atau lebih debitur yang buruk. Kinerja debitur yang

buruk ini dapat berupa ketidakmampuan debitur untuk memenuhi sebagian atau

seluruh isi perjanjian kredit yang telah disepakati bersama sebelumnya.

Bank Indonesia mendefininisikan manajemen risiko sebagai serangkaian

prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur,

memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank.

2. Ruang Lingkup Manajemen Risiko Pembiayaan

Secara umum manajemen risiko merupakan serangkaian proses yang diawali

dengan proses identifikasi, pengukuran, monitoring dan pengelolaan terhadap risiko-risiko portofolio. Dengan demikian pengelola bank dapat selalu memantau

agar risiko tidak mempengaruhi tingkat likuiditas bank itu sendiri.

Dalam menjalankan perannya sebagai lembaga intermediasi, bank selalu

dihadapkan pada risiko – risiko bisnis. Risiko bisnis yang dihadapi mencakup diantaranya risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko

legal. Untuk menjaga dan mengurangi risiko kerugian, bank wajib melaksanakan

transaksi yang berpedoman pada kebijakan dan penerapan manajemen risiko yang

telah ditetapkan pemerintah yang berlandaskan pada prinsip kehati – hatian. Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia No.5/8/PBI/2003 mengidentifikasikan

(44)

27

diantaranya, pertama adalah pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi. Kedua

adalah kebijakan, prosedur dan penetapan limit. Ketiga adalah proses identifikasi,

pengukuran, pemantauan, sistem informasi manajemen risiko kredit. Keempat

adalah Pengendalian Risiko Kredit.

3. Tujuan Manajemen Risiko Pembiayaan

Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 pada tanggal 19 Mei 2003 tentang

“Penerapan Manajemen Risiko Untuk Bank Umum”, merupakan wujud keseriusan

Bank Indonesia dalam masalah manajemen risiko perbankan. Keseriusan tersebut

dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia No.

7/25/PBI/2005 pada Agustus tahun 2005 tentang “Sertifikasi Manajemen Risiko

Bagi Pengurus Dan Pajabat Bank Umum”, yang mengharuskan seluruh pejabat

bank dari tingkat terendah hingga tertinggi untuk memiliki sertifikasi manajemen

risiko yang sesuai dengan tingkat jabatannya.

Tujuan dari manajemen risiko menurut Tampubolon (2004 :34) adalah

pengelolaan risiko yang mencakup atas prosedur dan metodologi yang digunakan

sehingga kegiatan usaha bank tetap dapat terkendali pada batas / limit yang dapat

diterima serta menguntungkan bank. Penerapan manajemen risiko tersebut akan

memberikan manfaat, baik kepada perbankan maupun otoritas pengawasan bank.

Bagi perbankan, penerapan manajemen risiko dapat meningkatkan shareholder

value, memberikan gambaran kepada pengelola bank mengenai kemungkinan kerugian bank di masa datang, meningkatkan metode dan proses pengambilan yang

sistematis yang didasarkan atas ketersedian informasi, digunakan sebagai dasar

pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja bank dan untuk menilai risiko yang

(45)

28

menciptakan infrastruktur infrastruktur yang kokoh dalam rangka meningkatkan

daya saing bank.

Dalam proses penerapan manajemen risiko, bank dapat menggunakan

berbagai pendekatan pengukuran risiko, baik dengan metode standar yang

direkomendasikan oleh Basel Committee on Banking Supervison. Kesepakatan Basel mencetuskan 2 kesepakatan (Basel I dan Basel II). Dalam kesepakatan Basel I hanya mencakup risiko kredit, modal yang disediakan hanya dikaitkan dengan

risiko kredit, dan dalam mengukur kecukupan modal menurut risiko kredit didasari

oleh beberapa kalkulasi yang terdiri dari bobot risiko aktiva dan bobot risiko,

penyetaraan dengan risiko kredit, target rasio modal dan kalkulasi konsumsi modal

yang memenuhi syarat, kecukupan hasil pada modal yang memenuhi syarat,

struktur modal (El Tiby, 2011:102).

Dalam kesepakatan Basel II digunakan pendekatan baru dalam hal

pengawasan bank. Kerangka baru Basel II dirancang mencakup tiga konsep yang

dikenal sebagai tiga pilar. Ketiga pilar tersebut diantaranya adalah pilar 1 yaitu

Kewajiban penyediaan modal minimum. Pilar 2 yaitu tinjauan berdasar regulasi

dari kecukupan modal dari masing – masing bank dan proses penilaian internal. Dan pilar 3 yaitu disiplin pasar yang efektif sebagai pengungkit untuk memperkuat

keterbukaan dan mendorong agar bank lebih aman dalam prakteknya (El Tiby,

2011:107).

4. Kerangka Kerja Manajemen Risiko Pembiayaan

Agar efektif, dalam proses manajemen risiko perlu adanya kerangka kerja,

diantaranya. Memahami rantai risiko, dengan pehaman ini satuan kerja manajemen

(46)

29

masalah atau peluang, cakupan dan konteks serta isu yang berhubungan dengan

risiko, seperti masalah politik, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya. Menurut

Tampubolon (2004:41) bkerangka kerja manajemen risiko pembiayaan atau kredit

adalah sebagai berikut:

a. Melakukan analisis terhadap stakeholder (deposan, debitur, pemilik saham) untuk menetapkan atau mengkaji toleransi risiko, posisi dan perilaku dari para

stakeholder.

b. Memahami situasi atau peristiwa yang pernah diambil perusahaan yang dapat

mendatangkan kerugian.

c. Melakukan penilaian atas risiko dan pengendalian yang ada. Menyusun

tanggapan atas risiko yang ada.

d. Menetapkan aktivitas pengendalian berupa program mitigasi risiko.

e. Mengkomunikasikan risiko dan manajemen risiko. Melakukan pemantauan

terhadap risiko dan pengelolaanya.

5. Fungsi Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah sebuah pola pikir, oleh karena itu semua pejabat

bank bisa atau mampu mewaspadai risiko dan menerapkan manajemen risiko

dengan baik. Fungsi manajemen risiko tidak hanya sekedar memelihara tingkat

profitabilitas dan kesehatan bank, namun juga untuk memelihara integritas dan

stabilitas sistem keuangan yang kritis terhadap kesehatan perekonomian nasional.

Secara garis besar, menurut Tampubolon (2004:45) manajemen risiko berfungsi

untuk:

a. Menunjang ketepatan proses perencanaan dan pengambilan keputusan

b. Menunjang efektifitas perumusan kebijakan sistem manajemen dan bisnis.

(47)

30

d. Menunjang kualitas pengelolaan dan pengendalian pemenuhan tingkat

kesehatan bank.

e. Menunjang penciptaan/pengembangan keunggulan kompetitif.

f. Memaksimalisasi kualitas portofolio perkreditan bank.

D. Pembiayaan Bermasalah (NPF) 1. Konsep Pembiayaan Bermasalah

Suatu kredit dinyatakan bermasalah jika bank benar-benar tidak mampu

mengahadapi risiko yang ditimbulkan oleh kredit tersebut. Risiko kredit atau

pembiayaan didefinisikan sebagai risiko yang muncul jika bank tidak bisa

memperoleh kembali cicilan pokok dan bunga dari pinjaman yang diberikan atau

investasi yang sedang dilakukannya (Arifin, 2008:263).

Sebagai indikator yang menunjukkan kerugian akibat risiko kredit adalah

tercermin dari besarnya non performing loan (NPL), dalam terminologi bank syariah disebut non perfoming financing (NPF).

Non Performing Financing (NPF) adalah rasio antara pembiayaan yang bermasalah dengan total pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah.

berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia kategori yang

termasuk dalam NPF adalah pembiayaan kurang lancar, diragukan dan macet.

Dalam peraturan bank indonesia Nomor 8/21/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006

tentang Penilaian Kualitas Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha

berdasarkan prinsip syariah pasal 9 ayat (2), bahwa kualitas aktiva produktif dalam

bentuk pembiayaan dibagi dalam 5 golongan yaitu lancar (L), dalam perhatian

khusus (DPK), kurang lancar (KL), diragukan (D), macet (M).

Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.31 tentang

(48)

31 “Kredit non performing pada umumnya merupakan kredit yang pembayaran

angsuran pokok dan/atau bunganya telah terlewat sembilan puluh hari atau lebih

setelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktu sangat

diragukan. Kredit non performing terdiri atas kredit yang digolongkan sebagai

kredit kurang lancar, diragukan, dan macet.”

Sedangkan Sutojo (2008:13) menyatakan jika “pengertian kredit bermasalah adalah suatu keadaan di mana debitur mengingkari janji mereka membayar bunga

dan atau kredit induk yang telah jatuh tempo, sehingga terjadi keterlambatan

pembayaran atau sama sekali tidak ada pembayaran”.

Dari kelima kualitas pembiayaan yaitu lancar, dalam perhatian khusus, kurang

lancar, diragukan, dan macet, yang tergolong dalam pembiayaan bermasalah atau

non performing financing adalah pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.

Berdasarkan surat Edaran Bank Indonesia Nomor7/56/DPbS tanggal 9

Desember 2005, pedoman untuk perhitungan rasio non performing finance (NPF)

dihitung dengan cara sebagai berikut:

NPF = X 100%

Rasio ini menunjukan kualitas pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan.

Semakin tinggi rasio NPF maka kualitas pembiayaan yang diberikan oleh perbankan

syariah semakin memburuk. Kelancaran kegiatan usaha bank syariah dapat

terganggu apabila rasio semakin meningkat dan dapat berakibat pada tingkat

kesehatan bank itu sendiri.

Pembiayaan yang bermasalah

(49)

32

Bank Indonesia sebagai regulator yang turut mengatur perbankan syariah di

Indonesia menetapkan bahwa batas maksimum tingkat pembiayaan yang bermasalah

sebesar 5% dari total pembiayaan yang diberikan.

2. Penyebab Pembiayaan Bermasalah

Pembiayaan bermasalah merupakan sumber permasalahan bank. Adanya

pembiayaan bermasalah ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Sutojo (2008:18)

menuturkan terjadinya kredit bermasalah disebabkan oleh berbagai faktor

diantaranya:

a. Faktor Internal:

1) Rendahnya kemampuan atau ketajaman bank melakukan analisis

kelayakan permintaan kredit yang diajukan oleh calon debitur.

2) Lemahnya sistem administrasi kredit atau pembiayaan serta sistem

administrasi bank.

3) Campur tangan yang berlebihan dari para pemegang saham

4) Pengikatan jaminan kredit yang kurang sempurna

b. Faktor debitur

1) Salah urus atau mismanagement

2) Kurangnya pengalaman dan pengetahuan pemilik dalam bidang

usaha yang dijalani.

3) Penipuan

c. Faktor Eksternal

1) Perkembangan kondisi ekonomi atau bidang usaha yang merugikan.

2) Bencana alam

3) Regulasi pemerintah

(50)

33

Adanya pembiayaan bermasalah ini akan memberikan dampak negatif

kepada beberapa pihak, Sutojo (2008:25) menjelaskan bahwa terdapat beberapa

dampak yang ditimbulkan dari pembiayaan bermasalah diantaranya adalah:

a. Bank yang bersangkutan akan mengalami gangguan profitablitias untuk

menutupi cadangan pembiayaan bermasalah.

b. Jumlah modal bank akan terkikis dan menurunkan rasio kecukupan modal

bank.

c. Nasabah sendiri akan kehilangan kepercayaan pihak luar dan relasi bisnis,

serta citra dan nama baik yang rusak. Sementara nasabah lainnya akan

kesulitan mendapatkan pembiayaan dari bank yang bersangkutan.

d. Perputaran dana bank di masyarakat akan terhenti.

e. Pengusaha di dalam negeri akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan

pembiayaan untuk ekspansi usahanya.

E. Financing to Deposit Ratio (FDR) 1. Definisi FDR

Perbankan syariah tidak mengenal kredit (loan) dalam penyaluran dananya, karena itu aktifitas penyaluran dana yang dilakukan bank syariah lebih mengarah

kepada pembiayaan. FDR adalah perbandingan antara pembiayaan yang diberikan

oleh bank syariah dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikerahkan oleh bank.

(Muhammad, 2005:55)

FDR disebut juga rasio kredit terhadap total dana pihak ketiga yang

digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga yang disalurkan dalam bentuk kredit.

Penyaluran kredit merupakan kegiatan utama bank yang berasal dari kegiatan ini.

Deposit atau simpanan masyarakat pada suatu bank membawa konsekuensi

(51)

34

rendahnya rasio ini menunjukan tingkat likuiditas bank tersebut. Berdasarkan surat

edaran bank Indonesia No 26/5/BPPP tanggal 29 mei 1993, besarnya FDR telah

ditentukan oleh bank Indonesia tidak boleh melebihi 110%. Yang berarti bank

boleh memberikan kredit atau pembiayaan melebihi jumlah dana pihak ketiga yang

berhasil dihimpun asalkan tidak melebihi 100% (Muhammad, 2005:56)

2. Penilaian Tingkat Financing to Deposit Ratio

Secara sistematis financing to Deposit Ratio (FDR) dapat dirumuskan sebagai berikut: (Sesuai SE No.6/23/DPNP Tanggal 31 Mei 2004)

Tujuan penting dari perhitungan FDR adalah untuk mengetahui serta

menilaisampai berapa jauh bank memliki kondisi sehat dalam menjalankan

operasiatau kegiatan usahanya. Dengan kata lain FDR digunakan sebagai suatu

indikator untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu bank. Menurut Surat Edaran

Bank Indonesia tanggal 29 Mei 1993, termasuk dalam dana yang diterima bank

adalah sebagai berikut:

1. KLBI (Kredit Likuiditas Bank Indonesia) (jika ada).

2. Giro, deposito, dan tabungan masyarakat.

3.Pinjaman bukan dari bank yang berjangka waktu lebih dari tiga bulan,tidak

termasuk pinjaman subordinasi.

4. Deposito dan pinjaman dari bank lain yang berjangka waktu lebih dari tiga

bulan.

5. Surat berharga yang diterbitkan oleh bank yang berjangka waktu lebih dari

tiga bulan

6. Modal pinjaman.

(52)

35

Batas aman tingkat LDR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah sebesar

110%. Tolok ukur untuk tingkat LDR atau istilah perbankan syariah FDR yang baik

menurut BI tampak pada tabel :

Tabel 1.6

Tingkat Loan to Deposit Ratio

Sumber : www.bi.go.id

Rasio ini menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan

yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan

sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini semakin rendah pula

kemampuan likuiditas bank (Dendawijaya, 2004:97). Rasio yang tinggi

menunjukkan bahwa bank meminjamkan seluruh dananya atau relatif tidak likuid.

Sebaliknya rasio yang rendah menunjukkan bank yang likuid dengan kelebihan

kapasitas dana yang siap untuk dipinjamkan. Oleh karena itu, rasio ini juga dapat

untuk member isyarat apakah suatu pinjaman masih dapat mengalami ekspansi atau

sebaliknya dibatasi. Jika bank syariah memiliki FDR yang terlalu kecil maka bank

akan kesulitan untuk menutup simpanan nasabah dengan jumlah pembiayaan yang

ada, Jika bank mempunyai FDR yang sangat tinggi, maka bank akan mempunyai

risiko tidak tertagihnya pinjaman yang tinggi pada titik tertentu bank akan

(53)

36

Selanjutnya FDR dapat pula digunakan untuk menilai strategi manajemen

suatu bank. Manajemen bank konservatif biasanya cenderung memiliki FDR yang

relatif rendah. Sebaliknya bila FDR melebihi batas toleransi dapat dikatakan

manajemen bank yang bersangkutan sangat expansif atau agresif. (Siamat, 2001:32)

3. Hubungan antara Financing Deposit to Rasio (FDR) terhadap Non Performing Financing Perbankan Syariah

FDR adalah perbandingan antara pembiayaan yang diberikan oleh bank

syariah dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikerahkan oleh bank. (Muhammad,

2005:55). Hubungan antara financing deposit to rasio (FDR) terhadap non performing financing (NPF), FDR adalah rasio dana pihak ketiga terhadap pembiayaan, FDR ada karena ada aktifitas dana pihak ketiga, ketika dana pihak

ketiga (DPK) tinggi maka secara teori pembiayaan pun akan ikut meningkat, karena

DPK yang ada akan disalurkan pada sector riil, namun ketika rasio pembiayaan

(FDR) yang cukup tinggi, akan muncul permasalahan pokok utama bank syariah

adalah meningkatnya NPF atau pembiayaan non lancar karena dalam menjalankan

bisnis perbankan yang penuh dengan resiko, bank syariah juga tidak terlepas dari

resiko pembiayaan bermasalah karena pembiayaan bermasalah tidak akan terjadi

tanpa adanya aktivitas pembiayaan yang disalurkan sehingga bank syariah perlu

mengatur strategi agar tingkat NPF di bank syariah tidak dalam kondisi yang

menghawatirkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Maryanto (2010) yaitu meneliti tentang

pengaruh FDR terhadap non performing financing perbankan syariah dengan menggunakan model regresi linier berganda menunjukan bahwa variabel FDR

Gambar

Grafik p plot ............................................................................................
Tabel Model Regresi, Anova, dan Koefisien .................................. 123
Tabel 1.1.
tabel perkembangan aset dan dana pihak ketiga perbankan syariah di Indonesia.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Nama PARILAWATI S.Pd.AUD Jabatan KEPALA SEKOLAH Tanggal Pengisian 1 April 2016. Tanda

tanpa sebarang kongkongan atau mengambil kira perkataan dan struktur bentuk ayat asal. Masalah-masalah yang melibatkan penterjemahan bahasa Arab ke bahasa Melayu. Antaranya

Sehingga modul pelatihan berbasis andragogi pada hakikatnya merupakan modul pelatihan orang dewasa yang disusun secara sistematis dengan mengacu pada tujuan

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: (1) secara simultan, variabel independen upah

Karya- karya tentang ekonomi oleh para imuwan Barat, seperti ilmuwan Yunani dan zaman Scholastic bercorak tidak ilmiah, karena pemikir zaman pertengahan

Program Studi Magister Ilmu Hukum UGM Kampus Jakarta mendapatkan kedudukan mandiri terpisah dari Program Studi Magister Hukum UGM Kampus Yogyakarta pada tahun

Hasil asuhan komprehensif pada Ny “ D ” selama trimester III dengan anemia ringan, pada persalinan dengan persalinan normal, secara spontan tidak ada penyulit, pada masa