Pertanggungjawaban Direksi Atas Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Dalam Mengurus Perseroan Terbatas

92  49  Download (1)

Teks penuh

(1)

PERTANGGUNGJAWABAN DIREKSI ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN DALAM MENGURUS PERSEROAN

TERBATAS

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

DISUSUN OLEH:

LORENSIA PERANGIN-ANGIN NIM : 090200448

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PERTANGGUNGJAWABAN DIREKSI ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN DALAM MENGURUS PERSEROAN

TERBATAS

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

DISUSUN OLEH:

LORENSIA PERANGIN-ANGIN NIM : 090- 200- 448

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

Disetujui Oleh :

Ketua Departemen Hukum Ekonomi

Windha, SH.M.Hum NIP. 197501122005012002

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis ucapakan kepada Tuhan Yesus Kristus atas Kasih Karunia dan penyertaanNya sehingga penulis mampu untuk menjalani perkuliahan sampai tahap penyelesaian skripsi pada Departemen Hukum Ekonomi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ini. Karena tanpa pertolongan-Nya penulis tidak dapat menyelesaikan skripsi ini, tetapi oleh karena hikmat yang diberikan-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan semuanya dengan baik.

Penulisan skripsi ini diajukan untuk melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara. Adapun judul dari skripsi

adalah “PERTANGGUNGJAWABAN DIREKSI ATAS PERBUATAN

MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN DALAM MENGURUS PERSEROAN TERBATAS”. Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa hasil yang diperoleh masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu dengan segala keremdahan hati, Penulis akan sangat berterima kasih jika ada kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini kedepan dan terlebih-lebih kepada penulis sendiri.

Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

(4)

2. Bapak Prof.Dr.Runtung Sitepu, SH.M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Prof.Dr.Budiman Ginting, SH.MH selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum USU

4. Bapak Syafruddin, SH,MH selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum USU

5. Bapak M.Husni SH.M.Hum selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum USU

6. Ibu Windha SH.M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU

7. Bapak Prof.Dr.Bismar Nasution,SH.MH selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak membimbing dan mengarahkan penulis selama proses penulisan skripsi ini.

8. Ibu Dr.T.Keizerina Devi Azwar,SH.CN.MS selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak membimbing dan mengarahkan penulis selama proses penulisan skripsi ini.

9. Bapak/Ibu para dosen dan seluruh staf administrasi Fakultas Hukum USU dimana penulis menimba ilmu selama ini.

(5)

11.Tulang saya J.Sitanggang,SE,Ak dan nantulang Ir.B.br Sinurat yang selama 7 tahun ini tinggal bersama, terimakasih memberikanku tempat tinggal yang nyaman,semangat dan motivasinya selama ini.

12.Sepupu-Sepupuku tersayang: Bang Dolin,Yohana,Dani,Andi,Josua,Lina dan Mariati. Terimakasih untuk Doa, semangat dan dukungan selama perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini. Akan selalu merindukan kalian sampai kapan pun.

13.Sahabat-sahabat terbaikku di cultural diversity : Putri,Erlina,Novi,Maulida, Witiya,Utami dan Kevin terimakasih telah menyemangatiku dan kebersamaan kita selama perkuliahan. Semoga kita tetap menjadi sahabat selamanya. miss you all 

14.Sahabat-sahabatku tercinta Giovani,Citra,Christa dan Anggi, terimakasih selalu menyemangatiku, menghiburku dan menjadi sahabat terbaikku sejak SMA sampai saat ini. Sahabat selamanya 

15.Kak Mika Silitonga yang pernah menjadi PKK ku di KMK UP FH USU, terimakasih kak buat doa,semangat dan kebersamaan kita di kelompok. 16. Kelompok kecilku Kak Suwarni,Putri dan Jesaya terimakasih untuk kontak

doa kita,keceriaan kita dalam kebersamaan singkat namun bermakna selama pelayanan di KMK. Semoga kita semua sukses dan tetap menjadi anak yang mengandalkan Tuhan. Keras memang hidup ini,hahaha

(6)

18.Bang Chaen yang selalu mendoakan dan menyemangatiku dari kejauhan. Terimakasih telah menjadi semangatku.

19.Rekan-rekan mahasiswa stambuk 2009 Fakultas Hukum USU yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.Semoga kita semua sukses ya teman-teman.

Demikianlah penulis sampaikan kiranya skripsi ini dapat bermanfaat untuk menambah dan memperluas cakrawala berpikir kita semua.

Medan, April 2013 Penulis

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... v

ABSTRAKSI ... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan ... 7

D. Keaslian Penulisan ... 8

E. Tinjauan Kepustakaan ... 8

F. Metode Penulisan ... 17

G. Sistematika Penulisan ... 19

BAB II RUANG LINGKUP KEDUDUKAN DIREKSI DALAM PERSEROAN TERBATAS A. Pengangkatan Direksi ... 22

B. Kewajiban Dan Tanggung Jawab Direksi ... 34

(8)

BAB III BENTUK PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DAPAT DILAKUKAN DALAM PENGURUSAN PERSEROAN TERBATAS

A. Pengertian Perbuatan Melawan Hukum ... 49 B. Bentuk-bentuk Perbuatan Yang Seharusnya Dihindari oleh Direksi Dalam

Melakukan Pengurusan Perseroan Terbatas... 55 C. Kasus-kasus Perbuatan Melawan Hukum yang Dilakukan Direksi Dalam

Mengurus Perseroan Terbatas ... 56

BAB IV PERTANGGUNGJAWABAN DIREKSI ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN DALAM MENGURUS PERSEROAN TERBATAS

A. Prinsip Fiduciary Duty Dalam Pengelolaan Perseroan Terbatas ... 60 B. Pengaturan Tentang Tanggung Jawab Direksi Dalam UUPT ... 68 C. Pertanggungjawaban Direksi Atas Perbuatan Melawan Hukum Yang

Dilakukan dalam Mengurus Perseroan Terbatas ... 71

BAB V Kesimpulan Dan Saran

A. Kesimpulan ... 80 B. Saran ... 81

(9)

PERTANGGUNGJAWABAN DIREKSI ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN DALAM MENGURUS PERSEROAN TERBATAS

BISMAR NASUTION

KEIZERINA DEVI

LORENSIA PERANGIN-ANGIN

ABSTRAKSI

PT memiliki beberapa organ yaitu RUPS, direksi, dan dewan komisaris. PT sebagai subjek hukum mandiri adalah artificia person, yang membutuhkan direksi sebagai wakilnya. Dapat dikatakan bahwa perseroan terbatas tidak dapat berfungsi menjalankan hak dan kewajibannya tanpa bantuan direksi. Keberadaan direksi dalam perseroan terbatas ibarat nyawa bagi perseroan. Tidak mungkin suatu perseroan tanpa adanya direksi.. Sebaliknya, tidak mungkin ada direksi tanpa adanya perseroan. Keberadaan direksi adalah untuk mengurus perseroan sesuai maksud dan tujuan perseroan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif. Langkah pertama dilakukan penelitian hukum normatif yang didasarkan pada bahan hukum sekunder yaitu inventarisasi peraturan-peraturan yang berkaitan dengan analisa hukum perdata khususnya terhadap pengaturan mengenai pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseroan. Selain itu juga diambil dari bahan-bahan tulisan yang berkaitan dengan persoalan ini.

Pengaturan tentang tanggung jawab Direksi terdapat dalam pasal 37 ayat (3), pasal 69 ayat (3), pasal 72 ayat (6), pasal 95 ayat (5), pasal 97 ayat (3), pasal 101 ayat (2) dan pasal 104 ayat (2) UUPT Nomor 40 Tahun 2007. Tanggung jawab tersebut berupa tanggung jawab pribadi masing-masing anggota direksi dan tanggung jawab renteng sesama anggota direksi.Direksi bertanggung jawab secara pribadi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukannya dalam mengurus perseroan. Pertanggungjawaban tersebut dapat berupa pertanggungjawaban perdata dan pertanggungjawaban pidana.

(10)
(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Dalam menjalankan bisnisnya, berbagai bentuk usaha ditempuh oleh pebisnis sesuai dengan sifat dan hakikat dari bisnis tersebut. Karenanya , sejak ratusan tahun yang silam telah terbentuk berbagai bentuk usaha yang maju dan mundur sesuai dengan perkembangan zaman. Dewasa ini ada berbagai bentuk perusahaan, yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, dimana dalam bidang ini, hukum sangat intens mengaturnya. Oleh sebab itu, setelah diuji oleh perkembangan zaman, maka terbentuklah seperangkat aturan hukum yang mengatur tentang berbagai bentuk perusahaan, dengan berbagai konsekuensi dan liku-liku yuridisnya. 1

Dari berbagai bentuk perusahaan yang ada di Indonesia, seperti firma, persekutuan komanditer, koperasi, usaha dagang dan lain sebagainya, bentuk perusahaan perseroan terbatas (selanjutnya disebut PT) merupakan bentuk usaha kegiatan ekonomi yang paling dominan saat ini, di samping karena pertanggungjawabannya yang bersifat terbatas, PT juga memberikan kemudahan bagi pemilik (pemegang saham) nya untuk mengalihkan perusahaannya (kepada setiap orang) dengan menjual seluruh saham yang dimilikinya pada perusahaan tersebut.2

Ada beberapa faktor atau alasan mengapa seorang pengusaha memilih perseroan terbatas untuk menjalankan usaha dibandingkan dengan bentuk perusahaan lain seperti Persekutuan Perdata, Koperasi, Firma, CV, yaitu:

a. semata-mata untuk mengambil manfaat karakteristik pertanggungjawaban terbatas.

1

Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 35. 2

(12)

b. atau dengan maksud kelak manakala diperlukan mudah melakukan transformasi perusahaan.

c. atau alasan fiskal.3

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar bahwa badan usaha yang berdiri dan menjalankan usaha di Indonesia berbentuk Perseroan Terbatas. Hal tersebut tidaklah mengherankan karena terdapat beberapa kelebihan dari bentuk usaha Perseroan Terbatas yang tidak diiliki bentuk usaha lainnya, antara lain tanggung jawab terbatas.4

Kata “perseroan” menunjuk kepada modalnya yang terdiri atas sero (saham). Sedangkan kata “terbatas” menunjuk kepada tanggung jawab pemegang

saham yang tidak melebihi nilai nominal saham yang diambil bagian dan dimilikinya. Bentuk hukum seperti perseroan terbatas ini juga dikenal di negara-negara lain seperti: di Malaysia disebut sendirian berhad (sdn bhd) ,di singapura disebut private limited (pte ltd) , di Jepang disebut kabushiki kaisa, di Inggris disebut registered companies, di Belanda disebut naamloze vennootschap (nv), dan di Perancis disebut societas a responsabilite limite (sarl).5

Undang-undang perseroan terbatas no. 40 tahun 2007 pasal 1 ayat 1 mendefenisikan perseroan terbatas (perseroan) sebagai :

“badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya”.6

3

Binoto Nadapdap, Hukum Perseroan Terbatas, ( Jakarta: Permata Aksara, 2012), hal. 4

Ibid

5

Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Loc. Cit.

6

(13)

Dari batasan yang diberikan tersebut di atas ada lima hal pokok yang dapat kita kemukakan di sini :

1. Perseroan terbatas merupakan suatu badan hukum ; 2. Didirikan berdasarkan perjanjian;

3. Menjalankan usaha tertentu;

4. Memiliki modal yang terbagi dalam saham-saham; 5. Memenuhi persyaratan undang-undang.7

Ilmu hukum mengenal dua macam subjek hukum, yaitu subjek hukum pribadi (orang perorangan), dan subjek hukum berupa badan hukum. Terhadap masing-masing subjek hukum tersebut berlaku ketentuan hukum yang berbeda satu dengan yang lainnya, meskipun dalam hal-hal tertentu terhadap keduanya dapat diterapkan suatu aturan yang berlaku umum. Salah satu ciri khas yang membedakan subjek hukum pribadi dengan subjek hukum berupa badan hukum adalah saat lahirnya subjek hukum tersebut, yang pada akhirnya akan menentukan saat lahirnya hak-hak dan kewajiban bagi masing-masing subjek hukum tersebut. Pada subjek hukum pribadi, status subjek hukum diangap telah ada bahkan pada saat pribadi orang perseorangan tersebut berada dalam kandungan (pasal 1 ayat (2) kitab undang-undang hukum perdata). Sedangkan pada badan hukum, keberadaan status badan hukumnya baru diperoleh setelah ia memperoleh pengesahan dari pejabat yang berwenang, yang memberikan hak-hak, kewajiban dan harta kekayaan sendiri bagi badan hukum tersebut, terlepas dari hak-hak, kewajiban dan harta kekayaan para pendiri, pemegang saham, maupun para pengurusnya.8

Dalam kitab undang-undang Hukum Dagang tidak satu pasal pun yang menyatakan perseroan sebagai badan hukum, tetapi dalam undang-undang Perseroan Terbatas secara tegas dinyatakan dalam Pasal 1 butir 1 bahwa perseroan adalah badan

7

Ibid 8

(14)

hukum. Ini berarti perseroan tersebut memenuhi syarat keilmuwan sebagai pendukung kewajiban dan hak, antara lain memiliki harta kekayaan sendiri terpisah dari harta kekayaan pendiri atau pengurusnya.

PT memiliki beberapa organ yaitu RUPS, direksi, dan dewan komisaris. PT sebagai subjek hukum mandiri adalah artificia person, yang membutuhkan direksi sebagai wakilnya. Dapat dikatakan bahwa perseroan terbatas tidak dapat berfungsi menjalankan hak dan kewajibannya tanpa bantuan direksi. Keberadaan direksi dalam perseroan terbatas ibarat nyawa bagi perseroan. Tidak mungkin suatu perseroan tanpa adanya direksi. Sebaliknya, tidak mungkin ada direksi tanpa adanya perseroan. Keberadaan direksi adalah untuk mengurus perseroan sesuai maksud dan tujuan perseroan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. Dengan demikian keberadaan direksi sangat dibutuhkan oleh perseroan. Mengurus perseroan bukanlah merupakan hal mudah. Oleh karena itu, agar perseroan tersebut terurus sesuai maksud didirikannya perseroan, maka untuk menjadi direksi perlu persyaratan dan keahlian. Pendelegasian wewenang dari perseroan kepada direksi untuk mengelola perseroan tersebut lazim disebut sebagai fiduciary duty.9

Direksi adalah organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. 10

Terkait dengan perbuatan melawan hukum, korporasi atau perseroan sebagai subjek hukum dapat melakukan perbuatan melawan hukum baik bersifat perdata maupun pidana (civil and criminal wrongs). Pada umumnya pengurus harus bertanggung jawab atas perbuatan melawan hukum itu. Akan tetapi, perbuatan melawan hukum itu dapat langsung dilakukan oleh perusahaan melalui organ-organnya, atau sebaliknya perbuatan

9

Try Widiyono, Direksi Perseroan Terbatas, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hal. 8. 10

(15)

melawan hukum itu dilakukan oleh pegawai perusahaan dan perusahaan harus mempertanggungjawabkannya.11

Dalam undang-undang perseroan terbatas nomor 40 tahun 2007 Pasal 97 ayat (1) disebutkan bahwa direksi bertanggung jawab atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Dan pada ayat (2) disebutkan bahwa pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dilaksanakan setiap anggota direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. Selanjutnya pada ayat (3) disebutkan bahwa setiap anggota direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (2).

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, ada ketertarikan untuk membahas mengenai pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseroan.

B. Perumusan Permasalahan

Sejalan dengan hal-hal tersebut di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kedudukan direksi dalam perseroan

2. Apa saja bentuk perbuatan melawan hukum yang dapat dilakukan direksi dalam mengurus perseroan.

3. Bagaimana pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum yng dilakukan dalam mengurus perseroan.

11

(16)

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka tujuan penulisan skripsi ini secara singkat, adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kedudukan direksi dalam perseroan

2. Untuk mengetahui bentuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh direksi dalam mengurus perseroan

3. Untuk mengetahui pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseroan.

Selanjutnya, penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk : a. Manfaat secara teoretis

Penulisan skripsi ini diharapkan bermanfaat untuk dapat memberikan masukan sekaligus menambah pengetahuan dan literatur dalam dunia akademis, khususnya tentang hal-hal yang berhubungan dengan pertanggung jawaban direksi atas perbutan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseroan. b. Manfaat secara praktis

(17)

melainkan juga terhadap setiap pihak (ketiga) yang berhubungan hukum, baik langsung maupun tidak langsung dengan perseroan.

D. Keaslian Penulisan

Pembahasan skripsi ini dengan judul : “pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseroan”, adalah masalah yang sebenarnya seringkali kita dengar. Namun yang dibahas dalam skripsi ini adalah khusus mengenai tanggung jawab direksi dalam hal perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseroan.

Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah murni hasil pemikiran yang dikaitkan dengan teori-teori hukum yang berlaku maupun dengan doktrin-doktrin yang ada , dalam rangka melengkapi tugas dan memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana hukum di fakultas hukum universitas sumatera utara, dan apabila ternyata di kemudian hari terdapat judul dan permasalahan yang sama, maka skripsi ini akan dipertanggung jawabkan sepenuhnya.

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian perseroan terbatas

(18)

perseroan, melainkan menggunakan nama perusahaan berdasarkan tujuan dari usahanya.12

Sebenarnya, arti istilah naamioze vennootschap tidak sama dengan arti istilah perseroan terbatas. Naamioze vennootschap, diartikan sebagai persekutuan tanpa nama dan tidak mempergunakan nama orang sebagai nama persekutuan, seperti firma, melainkan nama usaha yang menjadi tujuan dari perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan perseroan terbatas adalah persekutuan yang modalnya terdiri atas saham-saham, dan tanggung jawab persero bersifat terbatas pada jumlah nominal daripada saham-saham yang dimilikinya. Jadi, istilah perseroan terbatas lebih tepat daripada istilah naamioze vennootschap, sebab arti “perseroan terbatas” lebih jelas dan tepat menggambarkan tentang keadaan senyatanya, sedangkan arti istilah naamioze vennootschap kurang dapat menggambarkan tentang isi dan sifat perseroan secara tepat. Ada istilah Inggris yang isinya hampir mendekati istilah perseroan terbatas, yaitu company limited by shares”. Perseroan terbatas ini di Jerman, Austria dan Swiss disebut aktiengensellschaft dan di Prancis disebut societe annonyme.13

Menurut R.Ali Ridho:

Perseroan Terbatas adalah suatu bentuk perusahaan yang berbentuk badan hukum yang menjalankan perusahaan, didirikan dengan suatu perbuatan hukum bersama beberapa orang dengan modal tertentu yang terbagi atas saham

12

Purwosutjipto, HMN, Pengertian Pokok Hukum Dagang, (Jakarta: Djambatan, 1995), hal.90.

13

(19)

dimana para anggota dengan memiliki satu atau lebih saham dan bertanggung jawab terbatas sampai bagian saham yang dimiliki.14

C.S.T Kansil menyatakan bahwa:

Perseroan Terbatas adalah suatu bentuk perseroan yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan dengan perseroan tertentu yang terbagi atas saham-saham, dengan mana pemegang saham (persero) ikut serta dengan mengambil satu saham atau lebih dan melakukan perbuatan hukum dibuat oleh nama bersama, dengan tidak bertanggung jawab yang semata-mata terbatas pada modal yang mereka setorkan.15

Untuk dapat disebut sebagai perseroan terbatas, suatu badan usaha harus mempunyai ciri-ciri, antara lain harus mempunyai kekayaan sendiri, ada pemegang saham sebagai pemasok modal yang tanggung jawabnya tidak melebihi dari nilai saham yang diambilnya (modal yang disetor) dan harus ada pengurus yang terorganisir guna mewakili perseroan dalam menjalankan aktivitasnya dalam lalu lintas hukum, baik di luar maupun di dalam pengadilan dan tidak bertanggung jawab secara pribadi terhadap perikatan-perikatan yang dibuat oleh perseroan terbatas. Ini berarti bahwa badan usaha yang disebut perseroan terbatas harus menjadikan dirinya sebagai badan hukum, sebagai subjek hukum yang berdiri sendiri yang mampu mendukung hak dan kewajiban sebagaimana halnya dengan

14

R.Ali Ridho, Hukum Dagang Tentang Surat Berharga, Perseroan Firma, Perseroan Komanditer, Keseimbangan Kekuasaan Dalam Perseroan Terbatas dan Penswastaan BUMN, (Bandung: Remaja Karya, 1983), hal. 214.

15

(20)

orang, yang mempunyai harta kekayaan tersendiri terpisah dari harta kekayaan para pendirinya, pemegang saham, dan para pengurusnya. 16

Sebagai badan hukum atau artificial person, perseroan terbatas mampu bertindak melakukan perbuatan hukum melalui “wakilnya”. Untuk itu ada yang disebut “agent”, yaitu orang yang mewakili perseroan serta bertindak untuk dan atas nama perseroan. Karena itu, perseroan juga merupakan subjek hukum, yaitu subjek hukum mandiri atau personastandi in judicio. Dia bisa mempunyai hak dan kewajiban dalam hubungan hukum sama seperti manusia biasa atau natural person atau naturlijke persoon, dia bisa menggugat maupun digugat, bisa

membuata keputusan dan bisa mempunyai hak dan kewajiban, utang-piutang, mempunyai kekayaan seperti layaknya manusia.17

2. Organ perseroan

Direksi atau disebut juga sebagai pengurus perseroan adalah alat perlengkapan perseroan yang melakukan semua kegiatan perseroan dan mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Dengan demikian, ruang lingkup tugas direksi ialah mengurus perseroan.18

Undang-undang secara umum menyatakan bahwa suatu perseroan sekurang-kurangnya harus diurus oleh satu orang atau lebih anggota direksi, dengan pengecualian bagi perseroan yang bidang usahanya melakukan pengerahan dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang atau perseroan terbatas terbuka harus memiliki sekurang-kurangnya dua orang

16

Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009), hal.19.

17

Soedjono Dirdjosisworo, Hukum Perusahaan Mengenai Bentuk-Bentuk Perusahaan

(Badan Usaha) di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1997), hal.52. 18

(21)

anggota direksi. Tidak ada suatu pembahasan mengenai keanggotaan direksi dalam perseroan. Tidak hanya warga negara indonesia, melainkan juga warga negara asing yang memenuhi syarat yang ditetapkan (oleh departemen tenaga kerja) dapat menjadi anggota direksi perseroan. Undang –Undang Perseroan Terbatas mensyaratkan bahwa anggota direksi haruslah orang perseorangan.19

Menurut teori organisme dari otto von gierke, pengurus adalah organ atau alat perlengkapan dari badan hukum. Seperti halnya manusia yang mempunyai organ-organ tubuh, misalnya kaki,tangan, dan lain sebagainya itu geraknya diperintah oleh otak manusia, demikian pula gerak dari organ badan hukum diperintah oleh badan hukum itu sendiri, sehingga pengurus adalah merupakan personifikasi dari badan hukum itu.20

Anggota direksi diangkat oleh RUPS. Untuk pertama kali, pengangkatan anggota direksi dilakukan dengan mencantumkan susunan dan nama anggota direksi dalam akta pendirian. Anggota direksi diangkat untuk jangka waktu tertentu dengan kemungkinan diangkat kembali. Anggaran dasar mengatur tata cara pecalonan, pengangkatan, dan pemberhentian anggota direksi tanpa mengurangi hak pemegang saham dalam pencalonan. Peraturan tentang pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi, serta penghasilan direksi ditetapkan dalam RUPS

Menurut teori, dalam pengertian pengurusan yang dipercayakan kepada direksi itu, dapat dibedakan atas perbuatan beheren dan perbuatan beschiking atau kadangkala disebut pula sebagai perbuatan van eigendom. Perbuatan beheren

19

Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Loc. Cit. hal. 98. 20

(22)

dalam praktik diterjemahkan sebagai perbuatan “pengurusan” (dalam arti sempit). Sedangkan perbuatan beschiking atau eigendom lazim diterjemahkan sebagai perbuatan “kepemilikan” (dalam arti luas). Diterjemahkan “kepemilikan” sebagai terjemahan harfiah dari eigendom. Sebenarnya perbuatan pengurusan (beheren) itulah yang merupakan wewenang murni dari direksi, yaitu yang ditandai sebagai perbuatan yang biasa dilakukan sehari-hari. Sepanjang perbuatan itu merupakan perbuatan pengurusan, maka berwenang diselenggarakan sendiri oleh direksi. Sebaliknya perbuatan kepemilikan (daden va n beschiking /eigendom) sudah bukan lagi perbuatan sehari-hari melainkan sudah merupakan perbuatan khusus/istimewa, dan bukan lagi murni wewenang direksi. 21

Untuk direksi dapat melakukan perbuatan ini harus terlebih dahulu direksi memperoleh persetujuan dari organ lainnya, yang mungkin lebih dahulu harus mendapatkan persetujuan dari dewan komisaris atau mungkin pula dari rapat umum pemegang saham (RUPS) tergantung menurut ketentuan undang-undang dan atau anggaran dasar perseroan. Tetapi dalam praktik sukar untuk menetukan mana yang merupakan perbuatan pengurusan dan mana yang merupakan perbuatan kepemilikan.22

Direksi dalam melaksanakan kepengurusan terhadap perseroan tidak hanya bertanggung jawab terhadap perseroan dan para pemegang saham perseroan, melainkan juga terhadap setiap pihak yang berhubungan hukum, baik langsung maupun tidak langsung dengan perseroan. Tugas direksi antara lain adalah bertindak sebagai wakil perseroan di dalam maupun di luar pengadilan.

21

Rudhi Prasetya, Teori dan Praktik PT, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal.19. 22

(23)

Direksi yang diangkat oleh rapat umum pemegang saham untuk mengurus perseroan selama menjalankan tugasnya harus dengan itikad baik seperti yang ditegaskan dalam pasal 85 ayat (1) UUPT, bahwa setiap anggota direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan. Setiap kesalahan dan atau kelalaian dalam menjalankan tugas dan kewajibannya tersebut akan membawa akibat pertanggung jawaban secara pribadi dari masing-masing anggota direksi atas setiap kerugian yang diderita oleh perseroan maupun para pemegang sahamnya.23

Sebagaimana disebutkan di atas, direksi adalah organ perseroan yang berwenang menngelola perseroan. Oleh karena itu, direksi bertanggung jawab atas apa yang disebut “fiduciary responsibility”. Yang dimaksud dengan fiduciary responsibility adalah bahwa direksi dengan penuh tanggung jawab harus

menjalankan perusahaan, termasuk ketika berhubungan dengan orang lain atau pihak ketiga. 24

Direksi berwenang menjalankan pengurusan perseroan sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang perseroan terbatas dan/atau anggaran dasar. Yang dimaksud dengan “kebijakan yang tepat” adalah kebijakan yang antara lain, didasarkan pada keahlian, peluang yang tersedia, dan kelaziman dalam dunia usaha yang sejenis.

dalam hal ini direksi harus secara fiduciary menjalankan perusahaan dengan standard of care (standar pemeliharaan).

23

Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Op. Cit, hal.111. 24

(24)

3. Perbuatan melawan hukum

Terbatasnya jumlah peraturan yang mengatur mengenai perbuatan melawan hukum, maka hukum mengenai perbuatan melanggar hukum (tort) pada umumnya bersumber dari kasus-kasus, atau dapat dikatakan sebagai hukum kasus (case law). Fungsi utama dari pertanggungjawaban atas perbuatan melawan

hukum adalah ketentuan kompensasi yang sepadan dengan kerugian yang diderita. Hukum mengenai ganti rugi atau kompensasi atas perbuatan melawan hukum dapat dijumpai dalam peraturan perundang-undangan dan kasus-kasus (jurisprudensi).25

Adapun yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum pasal 1365 kitab undang-undang hukum perdata menjelaskan bahwa “tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain,mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian itu.

Jadi, unsur –unsur perbuatan melawan hukum terdiri dari :

a. Perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi juga mencakup perbuatan yang melanggar hak orang lain,bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku,bertentangan dengan prinsip kehati-hatian dan bertentangan dengan norma atau kaidah yang berlaku dalam masyarakat.

b. Perbuatan sebagaimana yang dimaksud diatas mengandung kesalahan c. Mengakibatkan kerugian;dan

d. Terdapat hubungan sebab akibat antara kesalahan dan kerugian.26

25

Chatamarrasjid Aif, Loc.Cit. hal.179. 26

(25)

Pasal 82 UUPT menyatakan, bahwa direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Sedangkan Pasal 85 UUPT menetapkan bahwa setiap anggota direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan. Pelanggaran terhadap hal ini dapat menyebabkan direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya tersebut.

Untuk membebankan pertanggungjawaban terhadap direktur atau pengurus korporasi, maka harus dibuktikan adanya pelanggaran terhadap kekuasaan kewajiban kewenangan yang dimilikinya. Pengurus korporasi dalam hal ini harus dapat dibuktikan telah melanggar good faith yang dipercayakan padanya dalam menjalan korporasi atau perusahaan, sebagaimana diatur dalam prinsip fiduciary duty

F. Metode Penulisan 1. Sifat / Bentuk penelitian

(26)

Penelitian bertujuan menemukan landasan-landasan yang jelas dalam meletakkan persoalan ini dalam perspektif hukum ekonomi khususnya yang terkait dengan masalah pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseroan.

2 . Alat Pengumpul Data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah melalui penelitian kepustakaan ( library research) untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi data pemikiran konseptual dari peneliti terdahulu baik yang berupa peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya.

Sumber data kepustakaan diperoleh dari : a. Bahan hukum primer, terdiri dari ;

1) norma atau kaedah dasar ; 2) Peraturan dasar ;

3) Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perseroan terbatas beserta peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

b. Bahan hukum sekunder, seperti : hasil-hasil penelitian, laporan-laporan, artikel, majalah dan jurnal ilmiah, hasil-hasil seminar atau pertemuan ilmiah lainnya yang relevan dengan penelitian ini.

(27)

dapat dipergunakan untuk melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini. Selanjutnya situs web juga menjadi bahan bagi penulisan skripsi ini sepanjang memuat informasi yang relevan dengan penelitian ini.

3. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh suatu kebenaran ilmiah dalam penulisan skripsi, maka digunakan metode pengumpulan data dengan cara studi kepustakaan (library research), yaitu mempelajari dan menganalisa secara sistematis

buku-buku, majalah-majalah, surat kabar, peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan materi yang dibahas dalam skripsi ini.

Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah analisis kualitatif, yaitu data yang diperoleh kemudian disusun secara sistematis dan selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas.

4. Analisis Data

Seluruh data yang diperoleh dan dikumpulkan selanjutnya akan ditelaah dan dianalisis. Analisis untuk data kualitatif dilakukan dengan pemilihan pasal-pasal yang berisi kaidah-kaidah hukum yang mengatur tentang pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseroan.

(28)

data pedukung sehingga sampai pada suatu kesimpulan yang akan menjawab seluruh pokok permasalahan dalam penelitian ini.

G. Sistematika Penulisan

Untuk lebih mempertegas penguraian dari skripsi ini , serta untuk lebih mengarahkan pembaca maka di bawah ini masa dibuat sistematika penulisan/ gambaran isi skripsi ini sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini merupakan bab pendahuluan dimana pada bab ini dipaparkan hal-hal yang umum sebagai langkah awal dari penulisan skripsi. Bab ini berisikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II :RUANG LINGKUP KEDUDUKAN DIREKSI

DALAM PERSEROAN TERBATAS.

(29)

BAB III : BENTUK PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG

DAPAT DILAKUKAN DIREKSI DALAM MENGURUS PERSEROAN TERBATAS.

Pada bab ini dipaparkan tentang bentuk perbuatan melawan hukum yang dapat dilakukan dalam pengurusan perseroan dimana di dalamnya diuraikan mengenai pengertian perbuatan melawan hukum, bentuk-bentuk perbuatan yang seharusnya dihindari oleh direksi dalam melakukan pengurusan perseroan dan kasus-kasus perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh direksi perseroan.

BAB IV :PERTANGGUNGJAWABAN DIREKSI ATAS

PERBAUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN DALAM MENGURUS PERSEROAN TERBATAS

Pada bab ini dipaparkan tentang prinisip fiduciary duty dalam pengelolaan perseroan terbatas, pengaturan tentang tanggung jawab direksi dalam UUPT serta pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam mengurus perseoan.

BAB V : PENUTUP

(30)
(31)

BAB II

RUANG LINGKUP KEDUDUKAN DIREKSI PERSEROAN TERBATAS

A. Pengangkatan direksi

Tidak ada satu rumusan yang jelas dan pasti mengenai kedudukan direksi dalam suatu perseroan terbatas, yang jelas direksi merupakan badan pengurus perseroan yang paling tinggi, serta yang berhak dan berwenang untuk menjalankan perusahaan.

Pembicaraan mengenai pengangkatan direksi meliputi pokok-pokok yang berkenaan dengan jumlah direksi, syarat pengangkatan, pembagian tugas, metode pemilihan, gaji dan tunjangan, penggantian dan pemberhentian direksi.27

1. Jumlah Direksi

Berapa banyaknya anggota direksi, digantungkan pada faktor “kegiatan usaha” yang dilakukannya dengan klasifikasi sebagai berikut.

a. Perseroan yang bersifat umum, boleh 1 (satu) orang

Berdasar Pasal 92 ayat (3), perseroan yang kegiatan usahanya bersifat umum boleh terdiri dari 1( satu) orang saja anggota direksinya, atau boleh lebih dari 1 (satu) orang.

b. Perseroan yang melakukan kegiatan usaha tertentu, minimal 2 (dua) orang

27

(32)

Pasal 92 ayat (4) menentukan secara imperatif jumlah anggota direksi bagi perseroan tertentu, minimal atau paling sedikit 2 (dua) orang. Kedalamannya termasuk perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan: menghimpun dan/atau mengelola dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat, atau perseroan terbuka.

2. Syarat Pengangkatan

Dalam Pasal 93 UUPT Nomor 40 tahun 2007 disebutkan bahwa yang dapat diangkat menjadi anggota direksi adalah orang perorangan yang cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatannya pernah:

a. Dinyatakan pailit

b. Menjadi anggota direksi atau anggota dewan komisaris ang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit; atau

c. Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dan atau yang berkaitan dengan sektor keuangan28

Persyaratan tentang kemampuan melaksanakan perbuatan hukum, tidak cukup orang yang sudah dewasa dan cakap melakukan transaksi, melainkan dengan latar belakang pendidikan dan pengalamannya orang yang bersangkutan mampu mengelola perseroan. Selain itu juga karakter atau watak seseorang sangat memperngaruhi dalam kepengurusan perseroan. Mengenai syarat tidak pernah dinyatakan pailit, ini dalam hubungannya dengan tingkat kepercayaan seseorang. Orang yang pernah dinyatakan pailit oleh pengadilan, itu karena yang

28

(33)

bersangkutan dalam keadaan tidak mampu (berhenti) membayar utang-utangnya. Sesuai undang-undang krpailitan dengan adanya putusan pailit, sipailit tidak berhak lagi melakukan pengurusan terhadap harta bendanya, sebab yang engurus adalah balai harta peninggalan selaku kurator agar barang-barang tidak disalahgunakan si pailit.29

Kemudian tidak berbeda pula dengan anggota direksi atau komisaris yang pernah dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit. Kalau ada anggota direksi atau komisaris pernah diperkarakan dan diputuskan oleh pengadilan bersalah seperti itu, dipandang reputasinya tidak baik dalam mengelola suatu perseroan. Orang tersebut dinilai tidak mampu mengurus perseroan, sehingga perseroan menjadi jatuh dan tidak mampu membayar utang. Anggota direksi atau komisaris yang dalam menjalankan tugasnya memiliki cacat yang mengakibatkan kerugian perseroan sebgaiamana dimaksud, jelas ridak dapat untuk diangkat menjadi direksi baik dalam perseroan yang sama maupun perseroan lain, karena diragukan kemampuannya untuk mengurus perseroan.30

Mengenai syarat tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara selama lima tahun sebelum pengangkatan. Bahwa tindak pidana yang merugikan keuangan negara misalnya kejahatan korupsi maupun penggelapan. Orang yang pernah dihukum karena kejahatan yang menyebabkan kerugian keuangan negara dapat menjadi catatan hitam bagi dunia

29

Gatot Supramono, Hukum Perseroan Terbatas Yang Baru, (Jakarta: Djambatan, 1996), hal. 74.

30

(34)

usaha. Mantan terpidana tidak dapat diangkat menjadi anggota direksi, karena dikhawatirkan akan merugikan perseron dan merugikan negara pula.31

Pengangkatan direksi dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:32

1. Diangkat oleh RUPS dengan suara terbanyak sebebsar yang diatur dalam Anggaran Dasar perseroan

2. Diangkat oleh RUPS berdasarkan sistem penjatahan asalkan cara tersebut ditentukan dalam RUPS. Misalnya, setiap pemegang saham 20% (dua puluh persen) masing-masing mendapat jatah 1 (satu) orang direksi.

3. Diangkat dengan cara mencantumkan dalam anggran dasar. Dalam hal ini dilakukan terhadap direksi yang pertama kali (Lihat Pasal 94 UUPT).

Dalam hal terjadi pengangkatan, penggantian dan pemberhentian anggota direksi, direksi wajib memberitahukan perubahan anggota direksi kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar perseroan dalam jangka waktu paling lambat tiga puluh hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS tersebut. Dalam hal pemberitahuan sebagaimana dimaksud belum dilakukan, Menteri menolak setiap permohonan yang diajukan atau pemberitahuan yang disampaikan kepada Menteri oleh direksi yang belum tercatat dalam daftar perseroan. Pemberitahuan tersebut tidak termasuk pemberitahuan yang disampaikan oleh direksi baru atas pengangkatan dirinya sendiri.33

(35)

Pengangkatan anggota direksi yang tidak memenuhi persayaratan-persyaratan di atas adalah batal demi hukum. Dalam jangka waktu paling lambat tujuh hari terhitung sejak diketahui, anggota direksi lainnya atau dewan komisaris wajib mengumumkan batalnya pengangkatan anggota direksi yang tidak memenuhi persyaratan tersebut dalam surat kabar dan memberitahukannya kepada menteri untuk dicatat dalam daftar perseroan.34

3. Pembagian tugas direksi

Pada prinsipnya ada 2 (dua) fungsi utama dari direksi suatu perseroan, yaitu sebagai berikut:

a. Fungsi manajemen, dalam arti direksi melakukan tugas memimpin perusahaan, dan

b. Fungsi representasi, dalam arti direksi mewakili perusahaan di dalam dan di luar pengadilan. Prinsip mewakili perusahaan di luar pengadilan menyebabkanperseroan sebagai badan hukum akan terikat dengan transaksi atau kontrak-kontrak yang dibuat oleh direksi atas nama dan untuk kepentingan perseroan.

Apabila anggota direksi terdiri atas 2 (dua) orang atau lebih, harus dilakukan pembagian tugas dan wewenang pengurusan perseroan diantara anggota direksi tersebut. Menurut pasal 92 ayat (5), pembagian tugas dan wewenang dimaksud, ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS. Akan tetapi, apabila rups tidak menetapkan, pembagian tugas dan wewenang anggota direksi, ditetapkan

34

(36)

berdasar keputusan direksi. Dengan demikian, kekuasaan untuk menetapkan pembagian tugas dan wewenang tersebut, dapat beralih dari RUPS kepada direksi. Hal itu untuk menghindari terjadinya ketidakpastian fungsi dan wewenang masing-masing anggota direksi. Dan menurut penjelasan pasal 92 ayat (6), direksi sebagai organ perseroan yang melakukan pengurusan perseroan, dianggap memahami dengan jelas kebutuhan pengurusan perseroan. Oleh karena itu, apabila RUPS tidak menetapkan pembagian tugas dan wewenang anggota direksi, sudah sewajarnya penetapan tersebut dilakukan oleh direksi sendiri.35

Dalam hal terjadinya benturan kepentingan dari Direksi maka anggota direksi tidak berwenang mewakili perseroan apabila:36

1) Terjadi perkara di depan pengadilan antara perseroan dengan anggota direksi yang bersangkutan; atau

2) Anggota Direksi yang bersangkutan mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan perseroan.

Tugas mewakili perseroan di dalam atau di luar pengadilan dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:37

a) dilakukan sendiri

b) dilakukan oleh pegawainya yang ditunjuk untuk itu

c) dilakukan oleh Komisaris jika Direksi berhalangan, sesuai ketentuan anggaran dasar.

dilakukan oleh pihak ketiga sebagai agen dari perseroan.

35

M. Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 353. 36

I.G Ray Widjaya, Op. Cit, hal.220. 37

(37)

Tugas representasi di dalam pengadilan dilakukan dalam posisi sebagai berikut:38

1. perseroan sebagai penggugat di pengadilan 2. perseroan sebagai tergugat di pengadilan 3. perseroan sebagai pemohon di pengadilan 4. perseroan sebagai termohon di pengadilan

5. perseroan sebagai pengadu/pelapor untuk kasus pidana 6. perseroan sebagai teradu/terlapor untuk kasus pidana

Sedangkan tugas representasi di luar pengadilan adalah mewakili perseroan dalam menandatangani kontrak-kontrak, menghadao pejabat-pejabat negara untuk dan atas nama perseroan. Baik tugas representasi maupun tugas kepengurusan dari direksi adalah fenomena bagi tugas direksi dalam suatu sistem hukum yang modern, dimana tata cara pelaksanaannya bervariasi satu sama lain. Dalam hukum Jerman misalnya, tugas atau representasi dari Direksi ini dikenal dengan istilah Vertterungsmacht, sedangkan untuk kepengurusan dikenal dengan istilah Gescahfsfungrungsbefugnis. Dalam menjalankan tugas representasi maupun tugas kepengurusan seperti tersebut diatas, maka Direksi haruslah melakukan dengan cara-cara yang baik, layak dan beritikad baik. Dalam hal ini Direksi harus memperhatikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang bersumber dari:39

38

Ibid, hal. 59-60. 39

(38)

1. Doktrin atau kaidah hukum perseroan yang berlaku universal 2. perundang-undangan yang berlaku

3. anggaran dasar perseroan

4. kebiasaan dalam praktek untuk perusahaan sejenis.

Tugas-tugas yang bersumber kepada perundang-undangan yang berlaku. sejauh merupakan hukum memaksa wajib dilakukan oleh direksi. Dalam hal ini, pihak direksi dianggap bersalah jika terjadi 3 (tiga) kategori sebagai berikut:40 1. tidak melakukan yang diharuskan oleh perundang-undangan

2. melakukan apa yang dilarang oleh perundang-undangan

3. melakukan secara tidak sempurna, yakni tidak seperti yang dipersyaratkan oleh perundang-undangan.

4. Gaji dan tunjangan direksi

Dalam Pasal 96 dinyatakan besarnya gaji dan tunjangan direktur ditetapkan berdasarkan keputusan rups, dan untuk kewenangan ini oleh rups dapat dilimpahkan kepada dewan komisaris.41

Dalam ketentuan tradisional, anggota direksi tidak mempunyai hak imbalan jasa atas pelayanan (service) yang diberikannya dalam mengurus perseroan. Pada masa yang lalu, anggota direksi pada umumnya adalah pemegang saham mayoritas yang akan mendapat kompensasi dalam bentuk “dividen”. Akan tetapi dalam hukum perseroan modern, praktik tradisional itu, tidak dapat

40

Ibid

41

(39)

diterapkan. Sebab pada umumnya dalam korporasi modern, kedudukan anggota Direksi bukan lagi disadarkan atas fakor pemegang atau kepemilikan saham dalam perseroan yang bersangkutan. Sehubungan dengan itu, perkembangan yang terjadi pada masa sekarang adalah keharusan memberi imbalan jasa atau kompensasi kepada anggota Direksi dan karena itu pada umumnya dalam anggaran dasar perseron terdapat ketentuan yang mengatur gaji anggota Direksi.42 5. Pemberhentian Direksi

Sejalan dengan prinsip siapa yang berwenang mengangkat, dialah ayng berwenang memberhentikannya. Karena anggota direksi diangkat oleh RUPS, maka yang berwenang memberhentikannya adalah RUPS pula.43 Pemberhentian anggota direksi adalah menghentikan yang bersangkutan dari jabatan direksi sebelum masa jabatan yang ditentukan dalam anggaran dasar atau keputusan RUPS berakhir. UUPT 2007 memperkenalkan dua jenis pemberhentian anggota direksi (removal of directors). Pertama, pemberhentian sewaktu-waktu. Hal itu diatur pada pasal 105. Kedua, pemberhentian sementara (schorshing, suspension) diatur pada pasal 106 UUPT 2007.44

a. Pemberhentian sewaktu-waktu

Anggota Direksi dapat diberhentikan sewaktu-waktu berdasarkan keputusan RUPS dengan menyebutkan alasannya setelah yang bersangkutan

42

M. Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 369. 43

Gatot Supramono, Op. Cit, hal. 85. 44

(40)

diberi kesempatan untuk membela diri dalam RUPS. Dengan demikian kedudukannya sebagai anggota Direksi berakhir.45

b. Pemberhentian sementara

Pemberhentian sementara maksudnya:46

1) Anggota Direksi dapat diberhentikan sementara oleh RUPS atau oleh Komisaris dengan menyebutkan alasannya yang diberitahukan secara tertulis kepada anggota Direksi yang bersangkutan, sehingga anggota Direksi yang bersangkutan tidak berwenang melakukan tugasnya. Mengingat pemberhentian hanya dapat dilakukan dalam RUPS yang memerlukan waktu untuk pelaksanaannya, maka untuk kepentingan perseroan tidak dapat ditunggu sampai dilakukan RUPS. Oleh karena itu, wajar sebagai organ pengawas diberi kewenangan untuk melakukan pemberhentian sementara

2) Paling lambat tiga puluh hari setelah tanggal pemberhentian sementara itu, harus dilakukan RUPS dan yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri. Panggilan RUPS harus dilakukan oleh organ perseroan yang memberhentikan sementara itu.

3) RUPS dapat mencabut keputusan pemberhentian tersebut atau memberhentikan anggota Direksi yang bersngkutan.

4) Apabila dalam tiga puluh hari tidak diadakan RUPS, pemberhentian sementara tersebut batal.

45

I. G. Ray Wijaya, Op. Cit, hal 66. 46

(41)

5) Dalam anggaran dasar daitur ketentuan mengenai pengisian sementara jabatan Direksi kosong, atau dalam hal Direksi diberhentikan untuk sementara atau berhalangan.

Dalam anggaran dasar diatur ketentuan mengenai, tata cara pengunduran diri anggota Direksi, tata cara pengisian jabatan anggota direksi yang lowong dam pihak yang berwenang menjalankan pengurusan dan mewakili perseroan dalam hal seluruh anggota Direksi berhalangan atau diberhentikan untuk sementara.47

Biasanya seorang Direksi dapat diberhentikan, baik karena sebab tertentu (for cause) maupun tanpa menyebutkan alasan/sebab tertentu (no cause). Menurut

UUPT, secara eksplisit menyatakan bahwa pemberhentian direksi (dalam hal ini RUPS) haruslah dengan menyebutkan alasannya dan harus pula kepada Direksi tersebut diberikan kebebasan untuk membela diri, pembelaan diri tersebut dilakukan dalam RUPS yang bersangkutan.

Akan tetapi, meskipun pemberhentian direksi harus disertai dengan alasan tertentu, penilaian (judgment) terhadap alasan tersebut ada di tangan RUPS. Meskipun begitu, pihak direksi dapat mempersoalkannya ke pengadilan seandainya alasan pemberhentian dirinya sebagai direksi dapat pula berhenti dari jabatannya karena sebab-sebab sebagai berikut.48

a. Masa jabatannya telah berakhir dan tidak lagi diangkat untuk masa jabatan berikutnya.

47

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Bab V, Pasal 107.

48

(42)

b. Berhenti atas permintaan direksi yang bersangkutan, dengan atau tanpa sebab apa pun.

c. Tidak lagi memenuhi syarat sebagai direksi sebagaimana diatur dalam anggaran dasar atau dalam perundang-undangan yang berlaku.

d. Direktur secara pribadi dinyatakan pailit oleh pengadilan.

e. Sakit terus-menerus yang dapat menghambat pelaksanaan tugas Direktur. Menderita tekanan mental atau gangguan jiwa yang dapat menghambat pelaksanaan tugas Direktur.

f. Dihukum penjara karena bersalah dalam waktu yang relatif lama sehinggan dapat menghambat pelaksanaan tugas Direktur.

g. Meninggalkan tugas atau menghilang tanpa berita secara terus-menerus.

B. Kewajiban dan tanggung jawab Direksi

(43)

1. Kewajiban Direksi

Secara umum kewajiban Direksi adalah mengurus dan mengelola perseroan, dan mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Anasitus Amarat, membagi kewajiban Direksi dalam 2 kategori, yaitu:49

a. Kewajiban yang berkaitan dengan Perseroan.

b. Kewajiban yang berkaitan dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Ada beberapa kewajiban Direksi apabila ditinjau dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas antara lain sebagai berikut:

1) Dalam pasal 100 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan:

“Direksi wajib:

a) membuat daftar pemegang saham, daftar khusus risalah RUPS, dan risalah rapat Direksi;

b) membuat laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam pasal 66 dan dokumen keuangan perseroan sebagimana dimaksud dalam undang-undang tentang dokumen perusahaan; dan

49

(44)

c) memelihara seluruh daftar, risalah, dan dokumen keuangan perseroan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b dan dokumen perseroan lainnya”.

2) Dalam pasal 101 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan:

“ Anggota Direksi wajib melaporkan kepada perseroan mengenai saham yang dimiliki anggota Direksi yang bersangkutan dan/atau keluarganya dalam perseroan dan perseroan lain untuk selanjutnya dicatat dalam daftar khusus”.

3) Dalam pasal 102 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan:

“Direksi wajib meminta persetujuan untuk:

a) mengalihkan kekayaan perseroan;

b) menjadikan jaminan utang kekayaan perseroan;

(45)

2. Tanggung Jawab Direksi

Agar Direksi sebagai organ perseroan yang mengurus perseroan sehari-hari dapat mencapai prestasi terbesar untuk kepentingan perseroan, maka ia harus diberi kewenangan-kewenangan tertentu untuk mencapai hasil yang optimal dalam mengurus perseroan. Dari kewenangan yang diberikan, ia perlu diberi tanggung jawab untuk mengurus perseroan. Hal ini berarti dalam membicarakan kewenangan-kewenangan Direksi, diperlukan pemahaman tentang tanggung jawabnya.

Tanggung Jawab adalah kewajiban seseorang Direksi untuk melaksanakan aktivitas yang ditugaskan kepadanya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.50

50

Winardi, Asas-asas Manajemen, (Bandung: Alumni, 1983), hal. 98.

(46)

mana pengurusan oleh Direksi tersebut wajib dilaksanakan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab.51

Dalam kaitannya lagi dengan tanggung jawab Direksi, Darian M. Ibrahim, membagi waktu timbul pertanggungjawaban pribadi masing-masing Direksi dan waktu timbulnya pertanggungjawaban yang bersifat tanggung renteng (kolektif), yaitu Direksi bertanggung jawab pribadi jika tidak melaksanakan atau melanggar duty of loyality (good faith, conflict of interest or self interest). Sedangkan pertanggungjawaban renteng (kolektif) timbul jika Direksi tidak melakukan duty of care yaitu tidak dilaksnakannya atau melanggar standart of conduct. Duty of loyality dan duty of care ini yang disebut dengan fiduciary

duty.52

Dalam Pasal 97 ayat (5) ditegaskan bahwa anggota Direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian perseroan sepanjang dapat membuktikan bahwa: (1) kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya; (2) telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan; (3) tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan (4) telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut, 53

51

Freddy Harris dan Teddy Anggoro,Op. Cit, hal 44.

hal inilah yang dikenal dengan business judgment rules. Pembuktian oleh Direksi tersebut di atas, tidak

52

Ibid, hal.45. 53

(47)

mengurangi hak anggota Direksi lain dan/atau anggota Dewan Komisaris untuk mengajukan gugatan atas nama perseroan.54

Setiap anggota direksi dapat menjadi pengawas terhadap satu dengan yang lainnya, walaupun demikian pada prakteknya fungsi pengawasan melalui mekanisme check and balance sulit untuk dilakukan. Untuk itu diperlukan pembagian tugas dan wewenang serta tanggung jawab yang jelas. Dengan adanya pembagian tersebut maka masalah pembuktian anggota direksi yang sebenarnya harus bertanggung jawab apabila terjadi tindakan yang merugikan kepentingan perseroan menjadi lebih mudah.

Secara umum tanggung jawab direksi dapat dibedakan dalam:55

a. Tanggung jawab internal direksi yang meliputi tugas dan tanggung jawab direksi terhadap perseroan dan pemegang saham perseroan.

b. Tanggung jawab eksternal direksi, yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab direksi kepada pihak ketiga yang berhubungan hukum langsung maupun tidak langsung dengan perseroan.

Setiap anggota direksi yang lalai dalam melaksanakan kewajibannya tersebut diatas memberikan hak kepada pemegang saham perseroan untuk secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama yang mewakili jumlah sepesepuluh pemegang saham perseroan untuk melakukan gugatan, untuk dan atas nama perseroan, terhadap direksi perseroan yang kesalahannya dan kelalaiannya telah

54

Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Bab V, Pasal 97 ayat (7).

55

(48)

merugikan perseroan (derivative action). Secara sendiri-sendiri melakukan gugatan langsung, untuk dan atas nama pribadi pemegang saham terhadap direksi perseroan, atas setiap keputusan atau tindakan direksi perseroan yang merugikan pemegang saham.56

Selanjutnya pasal 104 UUPT menjelaskan tentang kesalaham dan kelalaian Direksi dalam perseroan:

1) Direksi tidak berwenang mengajukan permohonan pailit atas perseroan sendiri keada pengadilan niaga sebelum memperoleh persetujuan RUPS, dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

2) Dalam hal kepailitan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terjadi karena kesalahan atau kelalaian direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban perseroan dalam kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut.

3) Tanggung jawab sebgaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga bagi anggota Direksi yang salah atau lalai yang pernh menjabat sebagai anggota Direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit yang diucapkan.

4) Anggota Direksi tidak bertanggung jawab atas kepailitan perseron sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila dapat membuktikan:

56

(49)

a) Kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya; b) Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan;

c) Tidak mempunyai benturan kepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan

d) Telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan. 5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)

berlaku juga bagi direksi dari perseroan yang dinyatakan pailit berdasarkan gugatan pihak ketiga.

UUPT memberikan ketentuan sanksi berupa sanksi perdata yang sangat berat kepada setiap direksi perseroan aats setiap kelalaian atau kesalahannya, namun pelaksanaan pemberian sanksi ini sendiri sebenarnya tidak terlalu dikhawatirkan, selama anggota direksi yang bersangkutan bertindak sesuai dengan dan tidak menyimpang dari aturan main yang telah ditetapkan dalam anggaran dasar perseroan dn peraturan-perundang-undangan yang berlaku. Para pemegang saham perseroan maupun pihak ketiga yang merasa dirugikan oleh tindakan direksi harus membuktikan apakah memang benar kerugian perseroan terjadi karena kesalahan dan kelalaian direksi.

(50)

Dalam hal anggota Direksi terdiri lebih dari satu orang, yang berwenang mewakili perseroan adalah setiap anggota Direksi, kecuali ditentukan lain dalam anggaran dasar. Oleh sebab itu, dalam pasal 98 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Perseroan Terbatas ditentukan bahwa yang berwenang mewakili perseroan adalah setiap anggota Direksi, kecuali ditentukan lain dalam Anggaran Dasar. Bahkan dari sudut pandang doktrin, kedudukan masing-masing organ perseroan (dewan komisaris dan direksi) pada asasnya satu sama lain mempunyai kedudukan yang sama atau sejajar, dimana yang satu tidak berada di bawah yang lain, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri yang diberikan oleh Undang-Undang dan anggaran dasar kecuali RUPS. Konsekuensi selanjutnya, adalah bahwa fokus direksi dan dewan komisaris dalam mengurus perseroan tidak semata-mata hanya tertuju kepada pemegang saham, tetapi lebih kepada kepentingan perseroan yang cakupannya lebih luas dari pada kepentingan pemegang saham.57

C. Direksi Sebagai Pengurus dan Wakil Perseroan 1. Direksi sebagai pengurus perseroan

Tugas atau fungsi utama Direksi, menjalankan dan melaksanakan “pengurusan” (beheer, administration or management) perseroan. Jadi perseroan diurus, dikelola atau dimanage oleh Direksi. Hal ini ditegaskan dalam beberapa ketentuan, seperti: pasal 1 angka 5 yang menegaskan, Direksi sebagai organ perseroan, berwenang dan bertanggung jawab penuh atas “pengurusan” perseroan

57

(51)

untuk kepentingan perseroan dan pasal 92 ayat (1) mengemukakan, Direksi menjalankan “pengurusan” perseroan untuk kepentingan perseroan. 58

Pengertian umum pengurusan Direksi dalam konteks Perseroan, meliputi tugas atau fungsi melaksanakan kekuasaan pengadministrasian dan pemeliharaan harta kekayaan perseroan. Dengan kata lain, melaksanakan pengelolaan atau menangani bisnis perseroan dalam arti sesuai dengan maksud dan tujuan serta kegiatan perseroan dalam batas-batas kekuasaan atau kapasitas yang diberikan undang-undang dan Anggaran Dasar kepadanya.59

Direksi sebagai pengurus (beheerder, administrator or manager) perseroan, adalah “pejabat” perseroan. Jabatannya adalah anggota Direksi atau Direktur perseroan (a Director is an officier of the company). Anggota Direksi atau Direktur bukan pegawai atau karyawan ( he is not an employee). Oleh karena itu, dia tidak berhak mendapat pembayaran prefensial (preferential payment) apabila perseroan dilikuidasi.60

Pengurusan oleh Direksi sangat terkait dengan pertanyaan untuk siapa pengurusan tersebut? Terdapat dua mazhab besar yang melihat kepentingan dari pengurusan sautu perseroan. Pertama, mazhab sahreholder interest. Pemikiran ini dipelopori oleh Adolph A. Berle, dimana pengurusan perseroan semata-mata untuk kepentingan pemegang saham sebagai pemilik dari korporasi. Banyak pendapat yang menentang bahwa pemegang saham adalah pemilik dari korporasi dengan dasar konsistensi pada konsep korporasi yang merupakan entitas mandiri, sedangkan pemilik hanya sebagai pemilik saham dari korporasi tersebut, tetapi

(52)

tetap saja logika hukum dan praktik ekonomi menunjukkan bahwa korporasi tersebut adalah milik pemegang saham. Hal ini karena berdasarkan konsep property law yang salah satu cirinya adalah transferable, contoh yang paling konkret adalah saham. Saham merupakan suatu bentuk kepemilikan properti karena dapat diperjulbelikan atau dialihkan kepemilikannya.61

Kedua, mazhab stakeholder interest, dimana tujuan korporasi tidak

semata-mata mencari keuntungan bagi pemegang saham, tetapi juga untuk kepentingan lainnya, termasuk di dalamnya kepentingan sosial. Mazhab inilah yang kemudian akan melahirkan team production doctrine dan Director primary doctrine. Menurut Nindyo Pramono, dalam hukum korporasi modern,

kepentingan kepengurusan pada pokoknya adalah untuk kepentingan pemegang saham dan kepentingan perseroan itu sendiri (het vennootschap belang), dan dikaitkan dengan penerapan prinsip tata kelola korporasi yang baik dan benar (good corporate governance), dimasukkan pula kepentingan lain, seperti

kepentingan karyawan, kepentingan pihak ketiga atau kreditur, kepentingan loyal society.62

Berdasarkan undang-undang Perseroan Terbatas bahwa Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan, antara lain pengurusan sehari-hari perseroan. Sejalan dengan pengaturan undang-undang Perseroan Terbatas yang menyebutkan bahwa pengurusan ditujukan untuk kepentingan perseroan. Dalam sistem hukum common law, terdapat pula konsep serupa yang penerapannya

61

Freddy Harris dan Teddy Anggoro, Loc. Cit, hal. 40. 62

(53)

terdapat dalam putusan perkara Guttman Huang. Pengadilan Delaware menyebutkan bahwa seorang Direksi tidak dapat dikatakan bertindak loyal kepada korporasi, kecuali kalau dia bertindak dengan itikad baik dan tindakan itu untuk kepentingan terbaik (best interest) bagi korporasi. Adapun anak kalimat “pengurusan sehari-hari perseroan” atau “day to day activities” dalam undang-undang Perseroan Terbatas adalah sejalan dengan pandangan para ahli hukum. Seperti Nindyo Pramono yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perbuatan pengurusan (beheer van daden) adalah tiap-tiap perbuatan yang perlu atau termasuk golongan perbuatan yang biasa dilakukan untuk mengurus atau memelihara perserikatan perdata, termasuk perseroan. Aiman Nariman Mohamad Sulaiman mengatakan bahwa pengurusan sehari-hari adalah implementasi dari standart of care seorang Direksi.63

2. Direksi sebagai wakil perseroan

Direksi sebagai salah satu organ atau alat perlengkapan perseroan, selain mempunyai kedudukan dan kewenangan mengurus perseroan, juga diberi wewenang untuk “mewakili” perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama perseroan. Kewenangan ini ditegaskan pada:

a. Pasal 1 angka 5; Direksi sebagai organ perseroan berwenang mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan AD;

63

(54)

b. Pasal 99 ayat (1) Direksi mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan.64

1) Kualitas kewenangan Direksi mewakili perseroan tidak terbatas dan tidak bersyarat

Kapasitas atau kewenangan yang dimiliki Direksi mewakili perseroan karena undang-undang. Artinya, undang-undang sendiri dalam hal ini Pasal 1 angka 5 dan Pasal 92 ayat (1) UUPT 2007 yang memberi kewenangan itu kepada Direksi untuk mewakili perseroan di dalam maupun di luar pengadilan. Oleh karena itu, kapasitas mewakili yang dimilikinya, adalah kuasa atau perwakilan karena undang-undang (wettelijke vertegenwoordig, legal or statutory representative). Dengan demikian, untuk bertindak mewakili perseroan, tidak

memerlukan kuasa dari perseroan. Sebab kuasa yang dimilikinya atas nama perseroan adalah kewenangan yang melekat secara inherent pada diri dan jabatan Direksi berdasar undang-undang.65

Sehubungan dengan itu, sesuai dengan kapasitasnya sebagai kuasa mewakili perseroan berdasar undang-undang, Direksi berwenang memberi kuasa kepada orang yang ditunjuknya untuk bertindak mewakili perseroan. Tindakan pemberian kuasa yang demikian dapat dilakukan Direksi tanpa memerlukan persetujuan dari organ perseroan yang lain. Tidak memerlukan persetujuan RUPS maupun Dewan Komisaris.66

64

M. Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 349. 65

Ibid

66

(55)

Akan tetapi, apa yang dijelaskan di atas merupakan ketentuan dan prinsip umum. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan, untuk melakukan tindakan tertentu harus lebih dahulu mendapat kuasa atau persetujuan dari RUPS, apabila hal itu ditentukan dalam Anggaran Dasar. Kemungkinan yang demikian dijelaskan dalam Pasal 98 ayat (2).67 Menurut pasal ini, pada dasarnya kewenangan Direksi untuk mewakili perseroan adalah tidak terbatas (unlimited) dan tidak bersayarat (unconditional), kecuali UU ini, Anggaran Dasar atau keputusan RUPS menentukan lain.68

2) Setiap Anggota Direksi Berwenang Mewakili Perseroan

Pada prinsipnya, setiap anggota Direksi berwenang mewakili perseroan, kecuali ditentukan lain dalam Anggaran Dasar. Hal itu ditegaskan dalam pasal 98 ayat (1) bahwa Dalam hal anggota Direksi terdiri lebih dari 1 (satu) orang, yang berwenang mewakili perseroan adalah setiap anggota Direksi, kecuali ditentukn lain dalam anggaran dasar.69

Pasal 98 ayat (2) menegakkan prinsip bahwa tiap-tiap anggota Direksi mewakili perseroan. Menurut penjelasan pasal ini, UUPT 2007 pada dasarnya menganut sistem perwakilan kolegial.

3) Dalam hal tertentu anggota Direksi tidak berwenang mewakili perseron.

Berdasarkan Pasal 99 UUPT 2007 ditegaskan bahwa:

67

Ibid

68

Republik Indonesia, Undang-Undang Pasal Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Bab V, Pasal 98 ayat (3)

69

(56)

(1) Anggota Direksi tidak berwenang mewakili perseroan apabila:

a. terjadi perkara di pengadilan antara perseroan dengan anggota Direksi yang bersangkutan;atau

b. anggota Direksi yang bersangkutan mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan.

(2) Dalam hal terdapat keadaan sebagimana dimaksud pada ayat (1), yang berhak mewakili perseroan adalah:

a. anggota Direksi lainnya yang tidak mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan.

b. Dewan komisaris dalam hal seluruh anggota Direksi mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan, atau

(57)

BAB III

BENTUK PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DAPAT DILAKUKAN DALAM PENGURUSAN PERSEROAN TERBATAS

A. Pengertian Perbuatan Melawan Hukum

Secara sederhana dapat dikatakan perbuatan melawan hukum adalah suatu perbuatan secara nyata melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku. Artinya, setiap orang atau pelaku usaha melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dikatakan suatu perbuatan melawan hukum. Di dalam pasal 1365 KUH Perdata diteapkan, bahwa perbuatan melawan hukum adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan kerugian kepada orang lain, dan orang yang mengakibatkan kerugian kepada orang lain, dan orang yang mengakibatkan kerugian diwajibkan memberikan ganti rugi kepada orang yang mengalami kerugian tersebut.70

Berdasarkan paham-paham sifat melawan hukum, doktrin membedakan 2 (dua) perbuatan melawan hukum yaitu :71

1. Perbuatan melawan hukum formil, yaitu suatu perbuatan melawan hukum apabila perbuatan itu sudah diatur dalam undang-undang. Jadi, sandarannya adalah hukum yang tertulis.

70

Jur. M. Udin Silalahi, Badan Hukum Organisasi Perusahaan, (Jakarta: Badan Penerbit Iblam, 2005), hal. 83.

71

(58)

2. Perbuatan melawan hukum materiil, yaitu terdapat unsur suatu perbuatan melawan hukum walaupun belum diatur dalam undang-undang. Sandarannya adalah asas umum yang terdapat di lapangan hukum.

Moleograff menyatakan bahwa perbuatan melawan hukum tidak hanya melanggar undang-undang akan tetapi juga melanggar kaedah kesusilaan dan kepatutan.72 Dalam praktek sejak lahirnya Arrest Lindenbaum Cohen pada tahun 1919 terdapat 4 (empat) kriteria perbuatan melawan hukum, yaitu:73

1. Bertentangan dengan kewajiban hukum sipelaku; 2. Melanggar hak subjektif orang lain;

3. Melanggar kaidah tata susila; dan

4. Bertentangan dengan asas kepatutan, ketelitian, serta sikap hati-hati yang seharusnya dimiliki seseorang dalam pergaulan dengan sesama warga masyarakat atau terhadap harta benda orang lain.

Untuk adanya suatu perbuatan melawan hukum tidak diisyaratkan adanya keempat kriteria tersebut secara kumulatif, tetapi cukup terdapat suatu kriteria saja secara alterntif.

a. Tentang Kriteria Bertentangan dengan Kewajiban Hukum Si Pelaku

72

Setiawan, Empat Kriteria Perbuatan Melawan Hukum dan Perkembangan Dalam Yurisprudensi, Varia Peradilan Vol 16 Tahun II, hal. 176.

73

(59)

Suatu perbuatan merupakan perbuatan melawan hukum apabila perbuatan tersebut bertentangan dengan kewajiban menurut undang-undang, artinya bertentangan dengan suatu ketentuan umum yang bersifat mengikat yang diterbitkan oleh suatu kekuasaan yang berwenang. Ketentuan tersebut dapat merupakan suatu ketentuan yang berada dalam ruang lingkup hukum publik termasuk di dalamnya peraturan hukum pidana maupun dalam ruang lingkup hukum perdata. Oleh karena itu, suatu perbuatan tindak pidana tidak hanya bersifat melawan hukum (werderrechtelijk) dalam hukum pidana, tetapi pada keadaan tertentu dapat bersifat melawan hukum (onrechtmatig) dalam pengertian hukum perdata.74

b. Kriteria Melanggar Hak Subjektif Orang lain

Setiawan dengan berpedoman pada pendapat Meijers menyebutkan bahwa:

Hak subjektif orang lain itu adalah suatu kewenangan khsusus seseorang yang diakui oleh hukum, kewenangan itu diberikannya untuk mempertahankan kepentingannya.75

c. Kriteria Melanggar Kaidah Tata Susila

J. Satrio menyebutkan:

“Untuk kriteria melanggar kaidah tata susila norma yang dilanggar harus dicari dan dibentuk sendiri berdasarkan ketentuan umum mengenai moral dan

74

Ibid, hal.45-46. 75

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...