1 A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sekarang ini keberadaan pelacur merupakan fenomena yang tidak asing lagi dalam kehidupan sosial masyarakat, akan tetapi keberadaan tersebut ternyata masih menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat.
pelacur adalah orang yang berbuat lacur atau orang menjual diri sebagai pelacur (Koentjoro, 2004). Selain pelacur, istilah lainnya adalah sundel atau lonte yang berarti perempuan nakal, jalang, liar dan pelanggar norma sosial.
Secara legal, pemerintah Indonesia mengeluarkan surat Keputusan Menteri Sosial No. 23/HUK/96 yang menyebut pelacur dengan istilah WTS (Wanita Tuna Susila) yang berarti si perempuan dianggap tidak menuruti aturan susila di masyarakat serta dianggap tidak mempunyai adab dan sopan santun dalam berhubungan seks. Namun menurut Koentjoro (2004) dan juga para kritisi lainnya, tidak setiap wanita yang melacur itu tuna susila.
Adapun istilah lain dari WTS adalah PSK (Pekerja Seks Komersial) yang kerap kali dipakai oleh para pakar, praktisi dan pejabat lainnya. Namun berbeda dengan pendapat Koentjoro, (2004) yaitu tidak semua pelacur adalah pekerja seks. Selain itu, istilah pekerja seks dapat diartikan sebagai pengakuan bahwa melacur merupakan pekerjaan. Dengan istilah lain, pelacur juga pekerja, seperti halnya pekerja bangunan atau pekerja pabrik.
Oleh karena itu, pemakaian istilah pekerja seks mengindikasikan secara transparan adanya penerimaan bahwa menjadi pelacur adalah menjadi seorang pekerja. Jika demikian, status pekerjaan pelacur sama dengan perawat, dokter, psikolog atau pekerja lainnya. Apabila memang pelacuran telah diakui sebagai salah satu jenis pekerjaan, hal ini bertentangan dengan norma budaya, susila dan kelayakan, bahkan agama dan bangsa Indonesia. Berdasarkan alasan tersebut, peneliti lebih suka menggunakan istilah pelacur dari pada PSK atau WTS.
2
sebagian besar disebabkan karena mereka telah memiliki anak dan kabutuhan ekonomi terus meningkat.
Banyak studi melaporkan bahwa sebagian besar pelacur berpendidikan rendah dan berlatar belakang keluarga miskin. Maka dari itu, banyak daerah mengasumsikan bahwa tidak ada cara lain bagi seorang perempuan muda yang berpendidikan rendah untuk mendapatkan cukup uang dalam memenuhi standar kehidupannya kecuali melacur (Muecke, 1992).
Namun pada kenyataannya pelacur tidak hanya dikalangan miskin dan berpendidikan rendah. Banyak juga pelacur dari kalangan mahasiswi yang sering disebut “ayam kampus”. Hal ini di duga dikarenakan kurangnya kasih sayang dari orang tua, pengaruh lingkungan, keinginan hidup mewah, kecewa dengan pacarnya, pernah diperkosa dan lain sebagainya. Dan juga keterjebakannya pelacur oleh materialisme, kesuksesan duniawi dan persaingan materi yang timbul diantara mereka dan rekannya juga turut bermain dalam dunia pelacuran.
Yang terakhir ini dapat diidentifikasi melalui perilaku dan persaingan mereka dalam mendirikan rumah, membeli tanah dan barang mewah. Perilaku yang lain tampak dalam hal berpakaian, kosmetik dan gaya hidup berfoya-foya. Sifat pamer ini mengakibatkan iri hati orang lain. Orang tua atau suami juga ingin menunjukkan kesuksesan anak atau istri mereka (Jones dkk, 1994). Terlihat disini bahwa ada hubungan erat antara aspirasi material dan motif berkuasa dalam mencapai status sosial ekonomi orang tua dan suami.
Hal ini sejalan dengan pendapat Kontjoro dkk, yaitu banyak pula keluarga pelacur yang mengetahui dan bahkan mendukung kegiatan anak atau istri mereka (Koentjoro, 1988 dan Bernas, 5-7 Agustus 1992) karena mereka dapat menerima uang secara teratur (Koentjoro, 1998 dan Jones, 1994).
Dengan kata lain, semua umat beragama di Indonesia menilai pelacuran sebagian sebuah dosa. Koentjoro (2004) mengatakan, sejauh pemahamannya, agama Islam pun, yang dianut oleh sekitar 85% penduduk Indonesia, jauh-jauh hari telah mengharamkan perilaku melacur. Hal ini tersirat dalam sebuah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (QS. 17:32). Artinya, melakukan hubungan seks di luar lembaga pernikahan adalah perbuatan yang dilarang. Dengan demikian, Koentjoro berpendapat bahwa Islam tidak menerima pelacuran sebagai sebuah pekerjaan yang sah (Koentjoro, 2004).
Dari sudut pandang kemanusiaan, pelacuran bisa dikategorikan sebagai sejenis perbudakan seks atas kaum perempuan (Barry, 1979; Bullough, 1988). Pelacuran juga dipandang merendahkan derajat, harga diri, serta martabat manusia, khususnya perempuan. Hal ini senada keputusan yang dikeluarkan menteri sosial RI nomor 23/HUK/1996 yang menegaskan bahwa segala bentuk pelacuran bertentangan dengan nilai sosial, agama dan norma moral negara. Oleh sebab itu, apabila didasarkan pada prinsip di atas, seharusnya seluruhnya seluruh praktik pelacuran di Indonesia dilarang (Koentjoro, 2004).
Bila dilihat dari segi negara Indonesia, pelacuran bertentangan dengan Pancasila karena tidak sesuai dengan manusia yang berketuhanan, di mana Tuhan dengan jelas mengutuk perzinahan; tidak sesuai dengan Perikemanusiaan yang Adil dan Beradab, karena pelacuran justru memperlakukan manusia sebagai benda yang dapat diperdagangkan; tidak pula sesuai dengan Keadilan Sosial, karena tidakkah pelacuran merupakan tempat eksploitasi manusia oleh manusia (Alam, 1984).
4
pelacuran sebagai mediator risiko untuk mengontrol dan memahami pelacuran sebagai mediator risiko tinggi penyebaran penyakit menular (Koentjoro, 2004). Akan tetapi kita tidak dapat menyalahkan penyebab utama penularan penyakit kelamin dari pelacur saja. Sebaliknya, kemungkinan penularan juga dapat terjadi kebalikannya, yaitu dari pelanggan kepada pelacur.
Sungguh ironis, pelacuran adalah pekerjaan yang di pandang paling rendah dibeberapa negara, di Bangladesh misalnya, begitu banyak lelaki yang harus menyinggahi tempat-tempat menyengsarakan seperti itu hanya untuk membeli seks dan sekaligus mencemoohkan para perempuan yang telah menyenangkan mereka disana (Brown, 2005). Disamping itu pelacuran juga dipandang rendah dari segi norma, sosial, pancasila dan agama.
Adapun hasil penelitian dari Schissel & Fedec (1999) menunjukkan bahwa ada efek yang parah dari prostitusi well being. Selain itu konsep diri pelacur muda dan kemampuan afeksi cenderung barasosiasi atau berhubungan dengan pelecehan seksual dan pelecehan fisik yang menentukan keterlibatan mereka dalam perdagangan seks.
Lebih jaun lagi, pelecehan terhadap anak merusak persepsi diri, ini sangat berbahaya. Dan hal ini tentu saja dapat berdampak pada kesejahteraan hidupnya. Kesejahteraan dalam hidup sangat dekat dengan psikologi. Kesejahteraan dalam psikologi disebut dengan Psychologycal Well Being (PWB). Adapun Istilah kesejahteraan psikologis dipopulerkan oleh konsep Ryff (1989) yang menggambarkan Psychologycal Well Being sebagai keadaan dimana individu mampu menerima diri apa adanya, mampu membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, mampu mengontrol lingkungan eksternal, memiliki arti dalam hidup serta mampu merealisasikan dirinya secara berkesinambungan.
(enviromental mastery), keberhasilan menemukan tujuan hidup (purpose in life) dan pertumbuhan pribadi yang sehat (Personal Growth). Bukankah setiap orang membutuhkan Psychologycal Well Being untuk mencapai hidup dengan jiwa yang sejahtera. Dari sinilah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Gambaran Psychologycal Well Being Pada Pelacur ”
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana gambaran Psychologycal Well Being pada pelacur.
C. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran Psychologycal Well Being pada pelacur.
D. Manfaat penelitian
Adapun manfaaat dari penelitian ini yang dapat diambil, yaitu: 1. Manfaat secara Teoritis
Penelitian ini dapat memberi sumbangan ilmiah untuk mengembangkan disiplin ilmu psikologi terutama Psikologi Klinis.
2. Manfaat secara Praktis
i
GAMBARAN
PSYCHOLOGYCAL WELLBEING
PADA PELACUR
SKRIPSI
Disusun Oleh :
Arie Laksathya Wulan
05810231
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
GAMBARAN
PSYCHOLOGYCAL WELLBEING
PADA PELACUR
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Psikologi Sebagai Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana
(S-1) Psikologi
Disusun Oleh :
Arie Laksathya Wulan
05810231
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
iii
LEMBAR PERSETUJUAN
1. Judul Skripsi : Psychologycal Well Being pada Pelacur 2. Nama Peneliti : Arie Laksathya Wulan
3. NIM : 05810231
4. Fakultas : Psikologi
5. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang 6. Waktu Penelitian : 27 Desember 2011 – 08 Januari 2012 7. Tanggal Ujian : 04 Februari 2012
Malang, 04 Februari 2012
Pembimbing I Pembimbing II
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini telah diuji oleh Dewan Penguji Pada tanggal 04 Februari 2012
Dewan Penguji
Ketua Penguji : Dra. Cahyaning Suryaningrum, M. Si ( ) Anggota Penguji : 1. Yuni Nurhamida, S. Psi, M. Si ( ) 2. Dra. Siti Suminarti Fasikhah, M. Si. ( ) 3. Hudaniah, M. Si., Psi ( )
Mengesahkan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
v
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini,:
Nama : Arie Laksathya Wulan
Nim : 05810231
Fakultas / Jurusan : Psikologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang Menyatakan bahwa skripsi/karya ilmiah yang berjudul :
Psychologycal Well Being pada Pelacur
1. Adalah bukan karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan kecuali dalam bentuk kutipan yang digunakan dalam naskah ini dan telah disebutkan sumbernya.
2. Hasil tulisan karya ilmiah/skripsi dari penelitian yang saya lakukan merupakan Hak bebas Royalti non ekslusif, apabila digunakan sebagai sumber pustaka.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Mengetahui Malang, 04 Februari 2012
Ketua Program Studi Yang Menyatakan
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, puji syukur senantiasa terpanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi nikmat berupa petunjuk, kesehatan serta mukjizat yang diberikan kepada Allah, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Tidak lupa pula sholawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari jalan kegelapan menuju jalan terang.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan, bimbingan serta arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Drs. Tulus Winarsunu, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
2. Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si. selaku dosen pembimbing I, yang telah sabar dalam membimbing, teliti dalam memberi masukan dan arahan kepada peneliti demi kesempurnaan skripsi yang dikerjakan ini. Serta rasa terima kasih yang teramat dalam atas waktunya yang sangat berarti buat peneliti saat detik-detik terakhir menjelang ujian.
3. Yuni Nurhamida, S.Psi. M.Si. selaku dosen pembimbing II, yang telah sabar dan teliti dalam memberikan masukan, arahan dan motivasi kepada peneliti demi kesempurnaan skripsi yang dikerjakan ini.
4. Ari Firmanto, S. Psi selaku dosen wali sekaligus sebagai bapak yang telah mendampingi dan memberikan motivasi peneliti dari semester satu hingga akhir. 5. M. Salis Yuniardi, S.Psi, M.Psi. yang telah banyak membantu peneliti dalam
memberikan motivasi serta masukan-masukan yang sangat berarti selama peneliti menyelesaikan skripsi ini.
vii
peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Serta kepada Bella yang menjadi inspirasiku sebagai seorang wanita.
7. Kepada kedua orangtuaku tercinta, Papa & Mama yang selalu mendoakan, membesarkan, mendidik, menyayangi setulus hati, memberikan motivasi dan dukungan serta selalu memberikan yang terbaik dengan fasilitas-fasilitas untuk kelancaran dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih banyak. Kepada Mas Wachid, Mas Andi, Mbak Iis, Kak Hendra, Mas Insani, adek tersayang ”Eyi’” & Dony yang memberikan motivasinya kepada peneliti.
8. Thanks to spesial buat kekasih hati ”Satria Yudha Putra Budhi Sumadhi” yang selalu setia dan sabar dan selalu ada dalam mendampingi peneliti tanpa kenal waktu. Thanks a lot.
9. Kepada seluruh Keluarga besar Abdillah yang selalu memberikan arahan, motivasi dan do’a serta bantuannya yang tak terhingga, matur sanget nuwun. 10.Kepada keluarga Mafec (Malang Fun English Club), Mas Loe, Kaka’ Jony,
Mbak Avi, Mbak Dewi, terima kasih banyak atas motivasi dan semua bantuannya.
11.Kepada Pak Dji, subjek SA dan IR yang mau menjadi partisipan dan banyak membantu peneliti, terima kasih banyak.
12.Kepada Yoga dan Reshma yang sangat membantu peneliti dalam literatur serta Mas Dani yang selalu memberikan motivasi di FB. Terimakasih atas semuanya. 13.Semua pihak yang telah membantu penulis, yang belum bisa disebutkan satu
persatu, namun bila mungkin akan disebutkan di lain kesempatan.
Peneliti menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penelitian ini, Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat peneliti harapkan. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amien.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
DAFTAR ISI
1. Definisi Psychologycal Well Being ... 6
2. Indikator Psychologycal Well Being……..……….... 8
a. Penerimaan diri ………... 8
b. Hubungan positif dengan orang lain ……… 8
c. Otonomy ……….. 8
d. Penguasaan terhadap lingkungan ……… 8
e. Tujuan hidup………. 9
f. Pertumbuhan Pribadi……… 9 3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Psychologycal
ix
2. Motif-Motif yang Melatarbelakangi Tumbuhnya Pelacuran pada Wanita ……... 13
3. Dampak Pelacuran... 16
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 18
B. Batasan Istilah... ... 18
C. Subjek Penelitian ... 19
D. Teknik Pengumpulan Data... 19
E. Jenis Data ………... 20
2. IR ……… 44
D. Rangkuman Analisis ……… 51
E. Pembahasan ……….. 53
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……….. 59
B. Saran ……… 59
DAFTAR PUSTAKA ………... 60
LAMPIRAN ……….. 61
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Tabel Identitas Subjek Penelitian... 24 Tabel 4.2. Tabel Hasil Analisa Data SA Dalam Seluruh Indikator Setiap
Dimensi……….………. 36
Tabel 4.3. Tabel Hasil Analisa Data IR Dalam Seluruh Indikator Setiap
Dimensi……….……… 48
Tabel 4.4. Tabel Rangkuman Hasil Analisa Data Subjek Yang
Menunjukkan Psychologycal Well Being………. 58
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Pernyataan Kesediaan (informed consent)……... 68 Lampiran 2 Guide Interview………... Guide Interview Informan………...
71 78 Lampiran 3 Kegiatan Penelitian...……….. 80 Lampiran 4 Hasil Wawancara……….
Hasil Wawancara Triangulasi………...
83 107
xiii
DAFTAR GAMBAR
Lampiran 1 Pondasi teori 6 dimensi dari psychologycal well being
Carol D. Ryff and Burton H. Singer ……... 7
DAFTAR PUSTAKA
Alam, A. S. (1984). Pelacuran dan pemerasan. Bandung: Penerbit Alumni.
Cavanaugh, J. C. Kail, R. V. (2006). Human develompment. a lifespan view. United States of America: Wadsworth.
Compton, W. C (2005). An introduction to positive psychology. United States of America: Wadsworth.
Faisal, S. (2005). Format-format penelitian sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hauser, R. M. Springer, K. W., & Pudrovska, T. (2005) Temporal Structures of Psychological Well-Being: Continuity or Change ?. University of Wisconsin-Madison.
Kartono, K. (2001). Patologi sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Koentjoro, Ph. D (2004). On the spot. Tutur dari sarang pelacur. Yogyakarta: Tinta. Moleong, L.J. (2007). Metodologi penelitian kualitatif edisi refisi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Seligman, M. E. (2004). Positive psychology in practice. Canada: Wiley.
Ramadhan, Y. A. (2011). Psyc Kesejahteraan psikologis pada remaja santri penghafal Al-Quran. (Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang).
Ryff, C. D. (1989). Happines is Everything or is It? Exploration On The Meaning of Psychological Well Being. Journal Of Personality and Social Psychology 1989. Vol 57. No 6. 1069-1081.
Ryff, C. D. Singer, Burton H. (2008) Know Theyself and Become What You Are: An Eudaimonic Approach to Psychological Well-being. Journal of Happiness Studies 9:13–39 DOI 10.1007/s10902-006-9019-0. Diperoleh dari www.ebscohost.com.
xv
Papalia, D. E. Sterns, H. L., & Feldman, R. D. (2002) Adulth development and aging. New York: Mc Graw Hill.
Ryan, M. R, & Deci, L. D. (2001). On Happiness And Human Potentials, A Review Of Research On Hedonic And Eudomonic Well Being. University of Rochester.
Snyder, C.R; Lopez, Shane J. (2002). Handbook of positive psychology. NewYork: Oxford University Press.
Trankle, T. M. (2001). Psychological Well-Being, Religious Coping, and Religiosity in College Students.
Zuhria, N. (2005). Metodologi penelitian sosial dan pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.