Pengaruh Penggunaan Pendekatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Materi Benda dan Sifatnya

199  304  21 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

( Penelitian Eksperimen Pada SD 14 Pondok Labu Jakarta)

Skripsi

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.I)

Oleh :

Siti Riana

NIM. 109018300088

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

(Quasi Eksperimen)”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Jurusan Kependidikan Islam, Fakutas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan lingkungan terhadap hasil belajar siswa kelas V pada konsep benda dan sifatnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimen. Penelitian ini dilakukan di MI. Tarbiyah Al-Islamiyah Jakarta. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen yang berjumlah 34 siswa dan kelompok kontrol yang juga berjumlah 34 siswa. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajarkan dengan metode eksperimen verifikasi, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang diajarkan dengan metode demonstrasi. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes dalam bentuk pilihan ganda sebanyak 25 soal. Berdasarkan analisis data dengan uji-t yang dilakukan pada taraf kepercayaan 95% diperoleh hasil thitung > ttabel (9,26 > 2,00). Jadi dapat

disimpulkan bahwa pendekatan lingkungan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Kata Kunci: Pendekatan Lingkungan, hasil belajar siswa

(6)

ii

(quasi experiment)”. Thesis, Learning Assistance Program for Islamic Elementary Schools, Departement of Islamic Education, Fakulty of Tarbiyah and Teachers Training State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

The aims of this research is to determine the effect of Method Experiment

Environmental approach Againts Student Result Class V on the concept of Objects and properties. The method of research used quasi experiments. The research was conducted at Elementary school 14 Pondok Labu Jakarta. The sample in this study consisted of two groups: experimental groups totaling 34 students and a control group totaling 34 students too. The experimental group was taught to approach the method experiment, whereas the control group was taught to approach the method convensional. The research instrument used was a test instrument. Based on data analysis using the “t-test” with performed on a 95% confidence level indicates that the learning outcomes of students who were taught science approach to method experimen tvalues > ttable ( 9.26> 2.00). It can

be concluded that there was a significant effect between method exsperiment approach of student learning outcomes.

(7)

iii

rahmat kepada kita semua. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada baginda

rasul yaitu Nabi Muhammad SAW yang memberikan tauladan bagi umatnya

sehingga selamat di dunia dan akhirat.

Skripsi yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Pendekatan

Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa

Kelas V Pada Materi Benda dan Sifatnya” ini merupakan salah satu syarat

mencapai Gelar Sarjana pada Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah,

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini tidak akan

terealisasikan dengan baik tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak yang telah

memberikan dorongan baik moril maupun materil kepada penulis. Untuk itu

perkenankanlah pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada yang tercinta:

1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Fauzan, MA, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dra. Raudhah, M.Pd, selakudosen penasehat akademik program studi

Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang selalu memberikan bimbingan dan

motivasinya.

4. Iwan Permana Suwarna M. Pd, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah

meluangkan waktunya hingga terselesainya penulisan skripsi ini.

5. Dr. Didi Suprijadi dan Dr. Sita Ratnaningsih selaku dosen penguji

munaqosah.

6. Sri Kartini,S.Pd selaku kepala sekolah SDN 14 Jakarta yang telah

(8)

iv

8. Ayahandaku Madsani dan ibunda Juriah, yang tak henti-hentinya

memberikan do’a, dukungan moril serta materil kepada penulis dalam setiap

waktunya.

9. Kakak tersayang, Sri Mulyati dan Indriani, yang telah memberikan do’a dan motivasinya.

10. Teman seperjuanganku dari awal kuliah, Sintara dan Marisa , terima kasih

atas kebersamaannya.

11. Seluruh teman-teman PGMI angkatan 2009, semoga kita selalu tetap kompak.

Serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, semoga

bantuan, bimbingan, semangat, do’a dan dukungan yang diberikan pada penulis

dibalas oleh Allah S.W.T. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih

jauh dari kesempurnaan, semua itu dikarenakan keterbatasan pengalaman dan

pengetahuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran

serta masukkan yang membangun sebagai bahan perbaikan dari berbagai pihak.

Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya

bagi pembaca.

Jakarta, Februari 2014

(9)

iii

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ………. .. ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. LatarBelakangMasalah ... 1

B. IdentifikasiMasalah ... 5

C. PembatasanMasalah... 5

D. RumusanMasalah ... 6

E. TujuanPenelitian ... 6

F. ManfaatPenelitian ... 6

BAB II KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ... 7

A. DeskripsiTeoritis ... 7

1. Hakikat Metode Eksperimen ... 7

a. Pengertian Pendekatan Lingkungan ……… 7

b. Pendekatan Lingkungan DalamPembelajaran ……… 8

c. KelebihandanKelemahanPendekatan Lingkungan ……... 14

2. HasilBelajar IPA ... 15

a. Pengertian Hasil Belajar IPA ... 15

b. Jenis-Jenis Hasil Belajar ... 18

c. Jenis Alat Penilaian Hasil Belajar IPA ... 22

(10)

iv

D. Pengajuan Hipotesis ... 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 35

A. Tempat dan Waktu Penelitian... 35

B. Metode dan Desain Penelitian ... 35

C. Populasi dan Sampel ... 36

D. Variabel Penelitian ... 37

E. Teknik Pengumpulan Data ... 37

F. Instrumen Penelitian ... 37

G. Uji Coba Instrumen ... 39

H. TeknikAnalisis Data ... 45

I. Hipotesis Statistik ... 49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 50

A. Hasil Penelitian ... 50

1. Hasil Analisis ... 54

a. HasilUjiPrasyaratAnalisis ... 54

1) Uji Normalitas ... ... 54

2) Uji Homogenitas ... ... 55

b. HasilUjiHipotesis ... 55

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 56

C. KeterbatasanPenelitian ………..59

BAB V PENUTUP ... 60

A. Kesimpulan ... 60

(11)
(12)

vi

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Tes ... 38

Tabel 3.3 HasilUjiValiditasInstrumen ... 40

Tabel 3.4 Interpretasi Reliabilitas ... 42

Tabel 3.5 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Tes ... 42

Tabel 3.6 KlasifikasiIndeksKesukaranSoal ... 43

Tabel 3.7 Hasil Analisis Tingkat KesukaranButirSoal ... 43

Tabel 3.8 KlasifikasiDayaPembeda ... 44

Tabel 3.9 Hasil AnalisisDayaPembedaSoal ... 44

Tabel 4.1 Rekapitulasi Data HasilPretest danPosttestKelasEksperimendanKelasKotrol ... 50

Tabel 4.2 Hasil Uji NormalitasPretest - Posttest ... 54

Tabel 4.3 Hasil UjiHomogenitasPretest - Posttest ... 55

(13)

vii

PretestBerdasarkanJenjangKognitifPemahamanKonsepSiswa 51

Gambar 4.2 Diagram Persentase Data

PosttestBerdasarkanJenjangKognitifPemahamanKonsepSiswa 52

Gambar 4.3 Diagram

PersentasePretestdanPosttestBerdasarkanJenjangKognitifPemaham anKonsepSiswaKelasEksperimendan

(14)

1

Pendidikan merupakan usaha sadar yang dapat menumbuhkembangkan

potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. Pengajaran

bertugas mengarahkan proses pendidikan agar sasaran dari pendidikan dapat

tercapai sesuai dengan apa yang diinginkan. Pendidikan bagi bangsa yang

sedang membangun seperti bangsa Indonesia saat ini merupakan kebutuhan

mutlak yang harus dikembangkan sejalan dengan tuntutan pembangunan

secara tahap demi tahap.1Guru dapat menggunakan pendekatan pembelajaran

yang dapat digunakan di lingkungan dengan melibatkan peserta didik secara

penuh sehingga peserta didik memperoleh pengalaman dalam menuju

kedewasaan, serta dapat melatih kemandirian peserta didik dapat belajar dari

lingkungan kehidupannya Penggunaan pendekatan lingkungan dalam

pembelajaran akan mendorong terciptanya suasana belajar yang

menyenangkan serta meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Suatu

pembelajaran yang terstruktur akan membuat siswa merasa tertantang secara

mental. Hal ini akan membuat siswa melanjutkan usahanya sehingga

memperoleh hasil belajar yang memuaskan (Fuad Iksan).

IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang dipelajari siswa di

sekolah dasar.IPA merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas

tentang fakta serta gejala alam.Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan

pembelajaran IPA tidak hanya verbal tetapi juga faktual. IPA juga

berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. Hal ini

menunjukkan bahwa hakikat IPA sebagai proses diperlukan untuk

menciptakan pembelajaran IPA yang empirik, faktual dan sistematis dalam

rangka melatih kemampuan berpikir logis dan sistematis siswa tentang

bagaimana cara produk sains ditemukan. Maka dari itu, pembelajaran IPA

sangat perlu diajarkan di sekolah dasar agar siswa memiliki sikap logis, kritis

1

(15)

dan sistematis dalam menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep dari IPA itu

sendiri.Dengan adanya pelajaran IPA ini diharapkan dapat menjadi wahana

bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri, alam sekitar, serta

pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan

sehari-hari.2

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada tingkat pendidikan

dasar dapat dipandang sebagai awal dari upaya formal untuk memberikan

bekal kemampuan tentang IPA kepada siswa pada tingkat pendidikan lanjutan.

Dengan pendidikan IPA yang berkualitas sehingga siswa berpikir kritis,

kreatif, logis, dan berinisiatif dalam menghadapi berbagai isu dalam

masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan IPA dan teknologi.

Konsep-konsep sains dan lingkungan sekitar siswa dengan mudah

dikuasai siswa melalui pengamatan pada situasi yang konkret. Dampak positif

dari penerapan pendekatan lingkungan yaitu siswa dapat terpacu sikap rasa

keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkunganya.

Berdasarkan hasil observasi di SD Negeri 14 Pagi Pondok Labu

sebagian besar guru hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja kepada siswa

tanpa berusaha untuk mengaitkan dengan lingkungan siswa dan pengetahuan

yang telah dimiliki siswa dari lingkungan disekitarnya dan pengalamannya

dengan pengetahuan yang akan dipelajari siswa di sekolah. Dengan demikian,

belajar hanya bersifat hafalan saja dan kurang bermakna. Untuk mengatasi

masalah tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan

lingkungan sebagai sumber belajar sehingga dapat membuat pembelajaran

lebih bermakna.

Manusia hidup di bumi tidak sendirian, melainkan bersama makhluk

lain, yaitu tumbuhan, hewan, dan jasad renik, makhluk hidup lain itu bukanlah

sekedar kawan hidup yang hidup bersama netral atau pasif terhadap manusia,

malainkan hidup manusia itu terkait erat pada mereka.

2

Poppy Kamalia Devi, Keterampilan Proses dalam Pembelajaran IPA untuk Guru SMP, Modul diakses dari

(16)

Penggunaan dan pemanfaatan lingkungan dalam pembelajaran

merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah. Banyak hal yang harus

dipelajari dalam pemanfaatan dan penggunaan agar dapat berhasil

menggunakannya, disamping perlu latihan-latihan penggunaan lingkungan

dalam pengajaran. Tentunya penggunaan lingkungan ini harus disesuaikan

dengan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa agar apa yang

dipelajarinya dapat dipahami dan dimengerti.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian dengan

mengggunakan pendekatan lingkungan untuk meningkatkan hasil belajar

siswa dengan judul : Pengaruh Penggunaan Pendekatan Lingkungan

Sebagai Sumber Belajar Terhada hasil Belajar IPA Materi Benda dan

Sifatnya

B. Identifikasi Masalah

Dalam latar belakang masalah di atas, maka dapat di peroleh

identifikasi masalah sebagai berikut :

1. Guru kurang menghubungkan konsep IPA dengan lingkungan nyata

2. Kurangnya menggunakan model pembelajaran yang bervariatif sehingga

siswa mudah jenuh dan membosankan

3. Siswa mengalami kesulitan dalam belajar IPA

4. Masih sering menggunakan metode ceramah dan kegiatan belajar mengajar

masih berpusat pada guru

5. Masih sedikitnya penggunaan lingkungan sebagai pendekatan dalam

pembelajaran IPA

C. Perumusan masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah maka penulis

merumuskan masalah yang akan dibahas, yaitu : “Apakah terdapat pengaruh

pendekatan lingkungan sebagai sumber belajarterhadap hasil belajar IPA siswa

(17)

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang ada peneliti ini bertujuan untuk

memperoleh data emperis dan dapat digunakan untuk mengetahui ada atau

tidaknya “Pengaruh pengguanaan pendekatan lingkungan sebagai sumber

belajar terhadap hasil belajar IPA siswa materi benda dan sifatnya?

E. Pembatasan Masalah

Dari berbagai permasalahan yang muncul, dalam hal ini perlu adanya

pembatasan masalah yang akan diteliti yaitu pada :

1. Metode pembelajaran IPA yang membuat siswa aktif adalah dengan

menggunakan pendekatan lingkungan

2. Hasil belajar yang akan diukur adalah pada ranah konsep hubungan sifat

bahan dengan bahan penyusunnya dan perubahan sifat benda baik

perubahan kognitif dari tingkat mengingat (C1), memahami (C2),

menerapkan (C3).

3. Penelitian ini dilakukan di kelas V pada materi benda dan sifatnya.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian yang akan dilaksanakan

adalah sebagai berikut :

1. Bagi siswa dapat menguasai konsep konsep lingkungan sehingga dapat

diharapkan hasil belajar IPA dapat meningkat.

2. Bagipeneliti, sebagai calon pendidik agar dapat mengembangkan dan

meningkatkan hasil belajar melalui lingkungan sebagai sumber belajar

3. Menambah wawasan khususnya dalam memperbaiki model pembelajaran

4. Bagi pembaca, Memberikan infirmasi tentang pengaruh pembelajaran pendekatan

(18)

5

A. KAJIAN TEORI

1. Hakikat IPA

a. Pengertian IPA

IPA merupakan singkatan dari ilmu pengetahuan alam,

terjemahan dari Natural Science. Natural artinya alami yang berhubungan dengan alam dan Science berhubungan dengan Ilmu

Pengetahuan Alam.3 Jadi, IPA merupakan suatu kumpulan

pengetahuan tersusun secara sistematik secara umum terbatas pada

gejala alam.

IPA didasarkan pada pendekatan empirik dengan asumsi bahwa

alam raya ini dapat dipelajari, dipahami dan dijelaskan melalui proses

tertentu melalui observasi, eksperimen dan analisis rasional. Hal ini

sebagaimana dikemukakan oleh Patta Pandu, IPA merupakan aktivitas

pemecahan masalah oleh manusia yang termotivasi oleh keingintahuan

akan alam sekelilingnya dan keinginan memahami, mengetahui, dan

mengelolanya demi kebutuhannya.4

Sedangkan Usman Samatoa mengemukakan bahwa “IPA

merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala alam dan kebendaan

yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan

observasi dan eksperimen.5

Dari beberapa pengertian di atas, jadi ilmu pengetahuan alam

(IPA), science itu pengertiannya dapat di sebut sebagai ilmu

3

Budhi Akbar dan Gufron Amirullah.2010. Bahan Materi IPA PLPG .Jakarta: UHAMKA. Hlm.37

4

Patta Bundu.2006,Penilaian keterampilan sains. Jakarta:Depdiknas. Hlm.10 5

(19)

pengetahuan alam. Ilmu yang mempelajari tentang peristiwa-peristiwa

alam.

b. Pembelajaran IPA di SD

IPA menurut Usman Samatoa6,pembelajaran IPA disekolah

dasar perlu didasari oleh pengalaman untuk membantu siswa pelajar

IPA dengan bertujuan membantu siswa memperoleh ide, pemahaman,

dan keterampilan yang esensial sebagai warga negara,dengan

kemampuan menggunakan alat tertentu, kemampuan mengamati benda

sekitarnya.

Pada dasarnya IPA adalah ilmu yang memperlajari cara

mencari tahu tentang alam semesta dan segala isinya secara sistematis,

IPA merupakan mata pelajaran yang berguna bagi kehidupan siswa,

selain untuk mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini,

IPA yang dijadikan suatu wahana bagi peserta didik untuk mengetahui

dan mempelajari dirinya sendiri dan menyesuaikan diri dengan

lingkungan sekitar.

Menurut permen No.22 Tahun 20067“mata pelajaran IPA perlu

diberikan kepada semua peserta didik dimulai dari sekolah dasar untuk

membekali peserta didik memenuhi kebutuhan manusia dengan

lingkungan. Dari pernyataan di atas terlihat jelas bahwa pelajaran IPA

memiliki peranan penting dalam menumbuhkan kemampuan berfikir

logis dan memerlukan keterampilan kerja siswa dalam memecahkan

masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Untuk

mewujudkan itu semua, kurikulum di Indonesia, yang di kenal dengan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merumuskan beberapa

tujuan penting yang ingin dicapai dalam pembelajaran IPA SD, yaitu :

1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa

berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan dalam

ciptaan-Nya.

6

Usman Samatoa. 2010 Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Hlm 3-4

7

(20)

2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep

IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan

sehari-hari.

3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan keselarasan

tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi anatara IPA,

lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam

sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

5. Meningkatkan kesadaran untuk berperasaan dalam memelihara,

menjaga, dan melestarikan lingkungan alam.

6. Meningkataknya kesadaran untuk menghargai alam dan segala

keteraturannya sebagi salah satu cptaan Tuhan.

7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA

sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.

Berdasarkan tujuan tersebut tergambar dengan jelas bahwa arah

dan orientasi pembelajaran IPA adalah mengarahkan siswa untuk

mampu mengembangkan segala pengetahuan yang dimiliki untuk

memelihara dirinya sendiri, lingkungan serta jagad raya ini. Untuk

menilai ketercapaian semua tujuan diatas, dibutuhkan suatu bukti yang

menunjukkan tingkat penguasaan siswa terhadap konsep IPA yang

telah diajarkan, yang meliputi pengembangan keterampilan untuk

menyelidikai alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat

keputusan, serta meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan

segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan di muka bumi

ini. Bukti tersebut dapat ditunjukkan dengan pencapaian hasil belajar

yang dipisahkan menjadi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, hasil belajar adalah bukti

pencapaian kemampuan belajar yang diperoleh siswa setelah melalui

serangkaian kegiatan pembelajaran, yang bertujuan mengukur

ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Sedangkan

(21)

IPA, yang meliputi pengembangan keterampilan untuk menyelidiki

alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan, serta

meningkatkan kesadaran menghargai alam dan segala keteraturannya

sebagai salah satu ciptaan Tuhan dimuka bumi.

Dari pengertian di atas, berarti pembelajaran IPA di SD

diharapkan dapat membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan

dan sikap yang diperlukanuntuk melanjutkan pendidikan dan untuk

menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan disekelilingnya yaitu

dengan melibatkan siswa ke dalam kegiatan IPA sejak dini dan akan

menghasilkan generasi dewasa yang dapat menghadapi tantangan

hidup dalam dunia yang makin kompetitif.

2. Sumber Belajar

Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat di gunakan oleh peserta

didik dalam belajar, baik terkombinasi sehingga mempermudah peserta

didik dalam pencapaian tujuan belajar atau mencapaian komponen

tertentu.

Adapun para ahli mengemukakan pendapat tentang pengertian

sumber belajar sebagai berikut :

1. Menurut Yusufhadi Miarso8 adalah segala sesuatu yang meliputi

pesan orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan, baik secara

tersendiri maupun dapat memungkinkan terjadinya belajar.

2. Edgar Dale mengemukakan sumber belajar adalah segala sesuatu

yang dapat dimanfaatkan untuk mefasilitasi belajar seseorang.

3. Menurut Rohani sumber belajar adalah macam sumber yang ada di

luar diri seseorang ( peserta didik) dan yang memungkinkan terjadi

proses belajar.

a) Macam- macam sumber belajar

8

(22)

Sumber belajar diliputi pesan, orang, bahan, peralatan,

teknik dan lingkungan. Sumber belajar dapat berbentuk pesan,

contohnya cerita rakyat, dongeng, hikayat dan sebagainya, orang

seperti. contoh tokoh masyarakat, siswa, ahli, nara sumber,

masyarakat dan sebagainya

Sumber belajar yang bersumber dari bahan: seperti buku,

film, slide, gambar, arca, komik dan sebagainya

Sumber belajar yang besumber dari alat atau perlengkapan

seperti: komputer, radio, televisi, VCD/DVD, camera, mobil,

motor, alat listrik, obeng dan sebagainya.

Lingkungan seperti ruang kelas, studio, perpustakaan, aula,

taman, kebun, museum, pasar, toko, kantor dan sebagainya.

Sedangkan metode/ teknik seperti, diskusi, pemecahan masalah,

simulasi, permainan, nasehat, percakapan biasa, debat dan

sebagainya.

b) Manfaat sumber belajar

Menurut Rohan9i menfaat sumber belajar antara lain :

Memberikan pengalaman belajar secara langsung dan kongkret

kepada peserta didik.

1) Dapat menyajikan suatu yang tidak mungkin diadakan secara

langsung dan kongkrit

2) Dapat menambah dan meperluas pengalaman dalam kelas

3) Dapat memberika informasi yang akurat dan terbaru

4) Dapat membentu memecahkan masalah pendidikan baik dalam

lingkup mikro maupum makro

5) Dapat memberikan informasi positif

6) Dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang

lebih lanjut

9

(23)

c) Fuingsi sumber belajar

1) Mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk

menggunakan waktu secara lebih baik

2) Mengurangi beban dalam menyajikan informasi, sehingga lebih

banyak membina dan mengembangkan semangat

3) Mengurangi kontrol guru dan memberika kesempatan siswa

untuk berkembang sesuai kemampuannya.

Jadi pada dasarnya sumber belajar yang dipakai dalam

pendidikan adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan

atau sistuasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat agar siswa

belajar secara individual.

a) Pengertian pendekatan lingkungan

Beberapa pendapat mengenai pengertian pendekatan lingkungan

adalah sebagai berikut:

a) Karli dan Margaretha, mengatakan bahwa: "Pendekatan lingkungan

adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan

sebagai sasaran belajar, sumber belajar, dan sarana belajar. Hal

tersebut dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan,

dan untuk menanamkan sikap cinta lingkungan".

b) Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan

dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai

sumber belajar ".

c) Nasution, mengatakan bahwa: "Pendekatan lingkungan ialah

pendekatan melalui lingkungan siswa, mendasarkan pelajaran atas

keadaan tempat sehari-hari siswa seperti: kebun, sawah, hutan, sungai,

kampung, industri, alat-alat rumah dan lain sebagainya. Bahan

pelajaran disusun atas dasar lingkungan itu".

d) Pendekatan lingkungan atau karyawisata adalah pendekatan yang

berorientasi pada alam bebas dan nyata, tidak selalu harus ke tempat

(24)

Pemanfaatan lingkungan dalam pengajaran mempunyai

keuntungan praktis dan ekonomis. Keuntungan praktis karena mudah

diperoleh, sedangkan keuntungan ekonomis karena murah dan dapat

dijangkau oleh seluruh siswa. Dengan memanfaatkan lingkungan

sekaligus juga memanfaatkan kepedulian siswa untuk mencintai

lingkungan belajarnya. Hal ini akan lebih terasa bermakna, bermanfaat

dan langsung dapat dirasakan oleh siswa. Dengan demikian baik

sekolah yang sudah mempunyai laboratorium lengkap maupun yang

sama sekali belum memiliki laboratorium, sama-sama dapat

memanfaatkan laboratorium alam sebagai salah satu alternatif proses

belajar, terlebih-lebih bagi konteks materi pelajaran Ilmu Pendidikan

Alam (Sains).

d. Jenis-jenis Lingkungan untuk Pembelajaran

Berkaitan dengan pendekatan lingkungan ini, UNESCO,

Mulyasa10 mengemukakan jenis-jenis lingkungan yang dapat

didayagunakan oleh peserta didik untuk kepentingan pembelajaran

yaitu :

1) Lingkungan yang meliputi faktor-faktor fisik, biologi, sosio

ekonomi, dan budaya yang berpengaruh secara langsung maupun tidak

langsung, dan berinteraksi dengan kehidupan peserta didik.

2) Sumber masyarakat yang meliputi setiap unsur atau fasilitas yang

ada dalam suatu kelompok masyarakat.

3) Ahli-ahli setempat yang meliputi tokoh-tokoh masyarakat yang

memiliki pengetahuan khusus dan berkaitan dengan kepentingan

pembelajaran.

Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat

dilakukan dengan dua cara :

10

(25)

1) Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan

pembelajaran. Hal ini bisa dilakukan dengan metode karyawisata,

metode pemberian tugas, dan lai-lain.

2) Membawa sumber-sumber dari lingkungan ke sekolah (kelas) untuk

kepentingan pembelajaran. Sumber tersebut bisa sumber asli.Seperti

benda padat, cair dan gas. Bisa juga sumber tiruan seperti model, dan

gambar.

Guru sebagai pemandu pembelajaran dapat memilih

lingkungan dan menentukan cara-cara yang tepat untuk

mendayagunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pemilihan tema dan

lingkungannya yang akan didayagunakan hendaknya didiskusikannya

dengan peserta didik.

e. Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Lingkungan

1) Kelebihan Pendekatan Lingkungan

Manfaat pendekatan lingkungan dalam pembelajaran memiliki

banyak keuntungan. Beberapa keuntungan tersebut antara lain :

a) Menghemat biaya, karena memanfaatkan benda-benda yang telah

ada di lingkungan.

b)Praktis dan mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan khusus

seperti listrik.

c) Memberikan pengalaman yang nyata kepada siswa, pelajaran

menjadi lebih konkrit, tidak verbalistik.

d)Karena benda-benda tersebut berasal dari lingkungan siswa, maka

benda-benda tersebut akan sesuai dengan karakteristik dan

kebutuhan siswa. Hal ini juga sesuai dengan konsep pembelajaran

kontektual.

e) Pelajaran lebih aplikatif, maksudnya materi pelajaran yang

diperoleh siswa melalui lingkungan kemungkinan besar akan

dapat diaplikasikan langsung, karena siswa akan sering menemui

benda-benda atau peristiwa serupa dalam kehidupannya

(26)

f) Pendekatan lingkungan dalam pembelajaran memberikan

pengalaman langsung kepada siswa. Dengan pendekatan

lingkungan, siswa dapat berinteraksi secara langsung dengan

benda, lokasi atau peristiwa sesungguhnya secara alamiah.

g)Lebih komunikatif, sebab benda dan peristiwa yang ada di

lingkungan siswa mudah dicerna oleh siswa, dibandingkan dengan

media yang dikemas (didesain)”. f. Kelemahan pendekatan lingkungan

Disamping ada beberapa kelebihan yang diperoleh dari

penggunaan pendekatan lingkungan tersebut, penulis juga

memperkirakan beberapa kendala yang perlu dicari solusinya yaitu :

a) Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada

kebutuhan siswa padahal dalam kelas itu tingkat kemampuan

siswanya berbeda-beda sehingga guru akan kesulitan dalam

menentukan materi pelajaran karena tingkat pencapaian siswa tadi

tidak sama.

b) Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam

proses belajar mengajar.

c) Dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran

menggunakan pendekatan lingkungan akan nampak jelas antara

siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian

menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang

kemampuannya.

d) Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan

menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan lingkungan

ini akan terus tertinggal dan sulit mengejar ketertinggalan, karena

dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari

keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti

setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman

(27)

e) Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan

mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan

pendekatan lingkungan.

f) Kemampuan yang didapat oleh siswa akan bereda-beda dan tidak

merata.

g) Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam

pendekatan lingkungan ini peran guru hanya sebagai pengarah dan

pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan

berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan

menemukan pengetahuan baru di lapangan.

g. Langkah-langkah Menggunakan Pendekatan Lingkungan

1) Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih

bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan

mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.

2) Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik

3) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya

4) Menghadirkan model sebagai contoh belajar

5) Melakukan refleksi diakhir pertemuan.

6) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Ciri kelas yang menggunakan pendekatan lingkungan :

1) Pengalaman nyata

2) Kerja sama, saling menunjang

3) Gembira, belajar dengan bergairah

4) Pembelajaran terintegrasi

5) Menggunakan berbagai sumber

6) Siswa aktif dan kritis

7) Menyenangkan, tidak membosankan

8) Sharing dengan teman

9) Guru kreatif

Tori belajar yang dapat digunakan untuk mendukung

(28)

belajar kontruktivisme menggambarkan bahwa siswa membentuk dan

membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan

lingkungannya. Teori kontruksivisme menyatakan bahwa

pengetahuan tidak dapat diberikan begitu saja dari seseorang kepada

orang lain (dari guru kepada siswa), tetapi harus dibangun oleh setiap

siswa melalui interprestasi informasi secara terus menerus.

Belajar berdasarkan teori kontruktivisme memiliki pengertian

sebagai interaksi antara konsep, masalah, siswa dan berbagai aspek

aspek dari lingkungan belajar. Jadi dalam belajar ada saling

keterkaitan antara aspek yang satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan masalah atau isu di masyarakat yang ditemukan

siswa, guru mengarahkan dengan suatu pendekatan dalam

pembelajaran sehingga siswa dapat mengkontruksi pengetahuannya

sendiri, misalnya dengan pendekatan lingkungan. Dengan cara ini

guru telah menerapkan paham kontruktivisme.

Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengkaitkan

lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan

digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat

kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sering digunakan pendekatan

lingkungan, sebagai contoh untuk memahami lingkungan, dengan

mengambil contoh kejadian nyata dilingkungan sekitar, siswa dapat

lebih paham dari interaksi tersebut.

Lingkungan merupakan ilmu pengetahuan yang menjadi aspek

teori maupun aplikasi dari kehidupan manusia.11 Sehingga erat

kaitannya dengan kehidupan manusia(siswa) sehingga siswa dapat

lebih memahami apa yang dipelajari dan terjadi dilingkungannya.

Dalam proses pembelajaran tidak selalu siswa di ajak ke lingkungan

dapat juga guru memberikan informasi yan dikaitkan dengan

lingkungan , terutama lingkungan sekitar.

11

(29)

Pendekatan lingkungan, yaitu pendekatan pembelajaran yang

berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa dengan melalui

lingkungan sebagai sumber belajar, atau dengan kata lain kegiatan

pembelajaran akan menarik perhatian siswa jika apa yang dipelajari

diangkat dari lingkungan sehingga apa yang dipelajari berhubungan

dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungannya.12Pendekatan

lingkungan merupakan pembelajaran dimana siswa diajak secara

langung berhadapan dengan lingkungannya dimana fakta atau gejala

alam tersebut berada. Antoni Kola mengemukakan bahwa Pendekatan

lingkungan adalah proses pembelajaran yang dpat meningkatkan

pengetahuan dan kesadaran tentang lingkungan dan maalahyang

terkait, sehingga dapat mengembangkan keterampilan dan keahlian

untuk mengetahui masalah lingkungan, sikap, motivasi, dan

komitmen untuk membut keputusan dan tindakan yang

bertanggungjawab terhadap masalah yang terjadi di lingkungan.13

Beberapa alasan untuk menggunakan pendekatan lingkungan

pada proses pembelajaran di kelas, adalah sebagai berikut14 :

1. Mendapatkan informasi berdasarkan pengalaman langsung

2. Mudah mencapai sasaran pembelajaran yang telah ditetapkan

3. Mengenal dan mencintai lingkungan yang pada akhirnya membuat

mengagumi penciptaannya

4. Membuat pelajaran lebih konkrit

5. Penerapan ilmu lebih mudah, sesuai dengan permasalahan yang

dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa akan

merasakan belajar IPA lebih menarik dan lingkungan sangat

penting

12

Prisca Kurniawati, Memilih Se kolah untuk putra/putrid Anda.www.tunasdaud.com. 26 April 2007

13

Antoni Kola, effect ofEnvironmental Education Of African School Childeren’s wasres Disposal Practices. http/:www.allacademic.com/. 2008

14

(30)

Pemanfaatan lingkungan sangat penting dalam pembelajaran

IPA, karena lingkungan dapat dipandang sebagai sarana belajar atau

merupakan objek yang dipelajari anak. Lingkungan sebagai sumber

belajar, ada bermacam-macam sumber misalnya: buku, laboratorium,

tenaga ahli atau kebun sekitar sekolah. Lingkungan sebagai sarana

belajar IPA, lingkungan yang alami menyediakan berbagai

bahan-bahan yang tidak perlu membeli, misalnya air, udara, cahaya matahari,

tumbuhan, hewan dan sebagainya15

Banyak hal yang dapat dipelajari siswa dari lingkungan yang

ada disekitar. Lingkungan dapat meliputi dua aspek yaitu (1) keadaan

atau kondisi suatu lingkungan organisme atau kelompok organisme

dan (2) kondisi sosial dan budaya dari suatu kelompok individu.16

Dengan demikianapa yang ada dilingkungan baik kondisi lingkungan

secara fisik maupun lingkungan sosial budaya yang ada disekitar

siswa dpat dijadikan sebagai sumber belajar.

Menurut Semiawan ada empat sumber belajar yang berkenaan

langsung dengan lingkungan sebagai berikut.

a. Masyarakat kota atau desa disekelilingnya

b. Lingkungan fisik di sekitar sekolah

c. Bahan sisa yang sudah tidak terpakai yang dapat menimbulkan

pemahaman lingkungan

d. Peristiwa alam yang terjadi di manfaatkan cukup menarik perhatian

siswa.

Berdasarkan kutipan di atas maka dapat kita lihat bahwa

disekitar sekolah terdapat berbagai macam sumber belajar yang dapat

dimanfaatkan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan

demikian siswa dapat lebih mengenal lingkungannya. Pengetahuan

15

(31)

siswa akan lebih bermakna, serta siswa lebih aktif dan lebih banyak

belajar.

Pendekatan lingkungan merupakan pendekatan mengajar yang

erat kaitannya dengan apa yang diajarkan guru yaitu alam sekitar.

Dengan mengunakan pendekatan lingkungan, guru dapat mengajak

anak- anak untuk menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah pada

makhluk-Nya, dan dengan demikian diharapkan merekapun mau

menghargai hasil ciptaan itu sebagai tanda syukur mereka kepada

Allah.

Pada dasarnya belajar merupakan suatu proses usaha yang

dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri

dengan interaksi lingkungannya.

h. Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan Lingkungan

Dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional,

berkembangnya potensi peserta didik agar menajadi manusia yang

beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan bertanggungjawab. Untuk

mencapai hal tersebut. proses pembelajaran tidak hanya

mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga mengembangkan

kecakapan aspek efektif dan psikomotorik. Selanjutnya akan

mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual

secara berimbang.

Penggunaan sumber belajar sangat efektif untuk menciptakan

suatu kegiatan belajar yang produktif. Sumber belajar memiliki

peranan lingkungan penting dalam proses belajar mengajar sehingga

siswa mudah memahami pelajaran.

Melalui pendekatan lingkungan, para siswa diajak memahami

konsep sains dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar.

Dengan demikian diharapkan memiliki kepedulian terhadap

(32)

melakukan tindakan nyata apabila mereka suatu ketika menghadapi

masalah dalam lingkungan mereka sendiri.

Selain itu, pengajaran lingkungan dapat menyatakan penjelasan

untuk memperbaiki pembelajaran siswa dikelas yang bertujuan

manyatukan antara lingkungan dengan konteks pembelajaran.17

Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat

dilakukan dengan dua cara :18

1. Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan

pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan denga metode karyawisata,

metode pemberian tugas, dan lain-lain

2. Membawa sumber-sumber dari lingkungan ke sekolah (kelas)

untuk kepentingan pembelajaran, sumber tersebut biasa berupa

model dan gambar.

Kedua jenis cara tersebut di atas tidak terlepassatu sama lain,

karena siswa biasanya sering mengunjungi lingkungan atau membawa

benda-benda dan contoh-contoh kedalam kelas.

i. Manfaat pendekatan lingkungan

Hasil dari proses pendidikan dan pembelajaran pada akhirnya

akan bermuara pada lingkungan. Manfaat keberhasilan pembelajaran

akan terasa jika apa yang kita peroleh dari pembelajaran dapt

diaplikasikan dan diimplementasikan dalam realitas kehidupan.19

Nilai dari suatu lingkungan sebagai sumber belajar bergantung

pada kecakapan memanfaatkannya. Setiap sumber belajar harus

dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu yaitu:20

17

Lynne Ferguson, Tony Angell dan Margaret Tudor, Better Test Scores Trough Enviromental Education?. http://clearingmagazine.org?.2001

18

Ray Suryo, Pendekatan Discovery, Inquiry dan STS dalam pembelajaran Fisika dalam

(33)

1. Membantu memecahkan masalah

2. Lebih dapat menjelaskan konsep dan prinsip-prinsip IPA

3. Memperbesar kecenderungan anak didik untuk menyelidiki alam

sekitar

Selain itu, beberapa keuntungan yang dapat diambil dari upaya

pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu:21

a) Memberikan perubahan iklim dan suasana pembelajaran kepada

siswa.

b) Memberikan kesempatan kepada siswa melakukan pratikum

terhadap apa yang dipelajari dikelas

c) Memungkinkan siswa belajar mandiri, sehingga mengurangi

ketergantungan siswa terhadap guru

d) Memperluas wawasan tentang berbagai fakta keilmuan yang

ditemukan di alam nyata

Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar

mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:22

a) Alam sekitar merupakan sumber belajar yang sangat mudah di

jangkau

b) Objek dan permasalahannya beraneka ragam

c) Dapat memupuk kesadarn dan kecintaan anak terhadap alam sekitar

d) Pengetahuan yang diperoleh lebih bermakna dan sukar dilupakan

e) Anak akan dapat lebih banyak berlatih melakukan observasi dan

eksperimen

Pendekatan lingkungan merupakan pendekatan mengajar yang

erat dengan apa yang diajarkan guru yaitu alam sekitar. Dengan

menggunakan pendekatan ini, guru dpat mengajak anak-anak untuk

menyadari betapa besarnya Kasih Allah pada makhluk-Nya, dan

dengan demikian merekapun menghargai hasil ciptaannya itu, dan yang

21

Muh. Hamzah Zaidin , Sekolah Masa Depan, Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar, bulletin Pelangi Pendidikan, Vol 3 No.2 Tahun 2000 hal 44-45

22

(34)

paling diharapkan ialah sejak dini mereka mau mancuptakan

mengerjakan segala perintah ilahi sebagai tanda syukur pada-Nya.

Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar yang

dikemas melalui keterampilan proses dapat disajikan dalam proses

pembelajaran IPA dan akan menciptakan interaksi yang lebih tinggi

karena fisik maupun mental siswa terlibat langsung di lingkungan.

Antara guru dan siswa dapat bekerja sama dalam proses belajar,

memilih lingkungan sekitar sebagai subyek atau sumber belajar

misalnya sawah, sungai, rawa atau hutan. Dampak positif penerapan

pendekatan lingkungan yaitu dapat memacu sikap rasa ingin tahu serta

partisipasi belajar siswa akan semakin meningkat.

Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa penggunaan

lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan motivasi belajar

siswa dalam pembelajaran IPA. Pemanfaatan lingkungan sekolah

sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPA sangat diperlukan

dalam memotivasi siswa belajar IPA.

Belajar pada hakekatnya adalah suatu interaksi antara individu

dengan lingkungan. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap individu dan sebaliknya individu memberikan respons

terhadap lingkungan. Dalam proses interaksi dapat terjadi perubahan

pada diri individu berupa perubahan tingkah laku. Muhibin Syah23

mengatakan bahwa: "Belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah

laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan

interaksi dengan lingkungannya yang melibatkan proses kognitif'. Hal

ini menunjukkan bahwa fungsi lingkungan merupakan faktor yang

penting dalam proses belajar mengajar”.

Berdasarkan Maria Habiba, “Berkaitan dengan pentingnya lingkungan dalam pengajaran, ada suatu asas dalam pengajaran yaitu

asas-asas didaktik atau asas-asas mengajar yang disebut dengan asas

23

(35)

lingkungan, yaitu suatu asas yang mengaitkan pengajaran dengan

lingkungan siswa. Bagi seorang guru, menguasai asas mengajar adalah

sangat penting dan merupakan suatu keharusan, karena dengan

menguasai asas-asas mengajar ini akan dapat membantu guru dalam

meningkatkan dan mengembangkan praktek pengajaran di kelas untuk

tercapainya tujuan pengajaran yang diharapkan. Akan tetapi dengan

hanya menguasai asas-asas mengajar belum merupakan suatu jaminan

bahwa guru dengan sendirinya akan berhasil dalam mengajarnya.

Dalam hal ini Nasution ,mengatakan bahwa: "Menguasai

asas-asas didaktik belum merupakan suatu jaminan bahwa seseorang dengan

sendirinya akan menjadi guru yang baik. Mengajar itu sangat kompleks

dan dipengaruhi oleh macam-macam faktor, antara lain pribadi guru

sendiri, suasana kelas, hubungan antar manusia di sekolah, keadaan

sosial ekonomi negara, organisasi kurikulum dan sebagainya. Akan

tetapi seseorang pasti tidak akan menjadi guru yang baik kalau

mengabaikan asas-asas didaktik. Itu sebabnya didaktik perlu dipelajari

oleh setiap pengajar ".

Berdasarkan Jurnal Pendidikan oleh Maria Habiba “bahwa

untuk menjadi guru yang baik salah satu usahanya ialah dengan

menguasai asas-asas didaktik atau asas-asas mengajar, dan salah satu

asas itu ialah asas lingkungan. Dalam pelaksanaannya asas lingkungan

ini digunakan melalui pendekatan lingkungan di dalam proses belajar

mengajar yang disesuaikan dengan tujuan dan materi pelajaran yang

telah ditetapkan. Betapa pentingnya penggunaan atau pemanfaatan

lingkungan dalam pengajaran. Namun demikian, dengan berbagai

alasan disinyalir masih banyak para guru yang melupakan pentingnya

lingkungan ini dalam pengajaran sebagai sumber belajar. Kiranya hal

ini merupakan hambatan dalam pembelajaran yang berlangsung di

sekolah, karena sebenarnya banyak keuntungan yang diperoleh dengan

(36)

Hasil penelitian oleh Anggaraini) “Apabila kita memperhatikan pembelajaran yang terjadi di sekolah sebagian besar guru hanya

menstransfer ilmu pengetahuan saja kepada siswa tanpa berusaha untuk

mengaitkannya dengan lingkungan siswa dan juga tidak berusaha

mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dengan pengetahuan

yang akan dipelajari siswa di sekolah. Dengan demikian belajar hanya

bersifat hafalan saja dan tidak bermakna. Untuk mengatasi masalah ini

salah satu upayanya ialah dengan menggunakan pendekatan lingkungan

dalam pembelajaran, yaitu menggunakan sesuatu yang ada di

lingkungan siswa sebagai sumber belajar sehingga dapat membuat

pembelajaran lebih bermakna.

Nasution mengemukakan bahwa: “Menggunakan atau

memanfaatkan lingkungan dalam pengajaran adalah suatu pekerjaan

yang tidak mudah. Banyak hal yang harus dipelajari agar dapat berhasil

menggunakannya, disamping perlu latihan-latihan penggunaan

lingkungan dalam pengajaran. Tentunya penggunaan lingkungan ini

harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan

kepada siswa.

Pemanfaatan lingkungan dalam pengajaran mempunyai

keuntungan praktis dan ekonomis. Keuntungan praktis karena mudah

diperoleh, sedangkan keuntungan ekonomis karena murah dan dapat

dijangkau oleh seluruh siswa. Dengan memanfaatkan lingkungan

sekaligus juga memanfaatkan kepedulian siswa untuk mencintai

lingkungan belajarnya. Hal ini akan lebih terasa bermakna, bermanfaat

dan langsung dapat dirasakan oleh siswa. Dengan demikian baik

sekolah yang sudah mempunyai laboratorium lengkap maupun yang

sama sekali belum memiliki laboratorium, sama-sama dapat

memanfaatkan laboratorium alam sebagai salah satu alternatif proses

belajar, terlebih-lebih bagi konteks materi pelajaran Ilmu Pendidikan

Alam (Sains).

(37)

Sujana, mengemukakan bahwa pengertian sumber belajar dapat

diartikan secara sempit dan secara luas. Pengertian secara sempit

diarahkan pada bahan-bahan cetak, sedangkan secara luas tidak lain adalah

data yang biasa digunakan untuk kepentingan proses belajar mengajar,

baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sekitar anak-anak kita merupakan salah satu sumber belajar yang

di optimalkan untuk pencapaian proses hasil pendidikan yang berkualitas.

Jumlah sumber yang belajar yang tersedia di lingkungan ini tidak terbatas,

pada umumnya tidak dirancang secara sengaja untuk kepentingan

pendidikan.

Sumber belajar lingkungan ini akan semakin memperkaya

wawasan pengetahuan anak karena belajar tidak terbatas oleh tempat dan

didinding kelas. Selain itu kebenarannya juga akurat sebab anak dapat

mengalami secara langsung.

a) Pembelajaran di Luar Kelas

Proses belajar mengajar dalam kelas tidak selamanya efektif tanpa

adanya alat peraga sebagai pengalaman pengganti yang dpat memperkuat

pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang diberikan, tetapi

minimnya alat peraga yang tersedia menyebabkan guru perlu menanamkan

materi. Sedangkan dilingkungan sekitar cukup potensial dijadikan sebagai

sumber belajar sebagai pengalaman langsung yang tidak begitu saja

dilupakan oleh siswa. Lingkungan sebagai sumber belajar dikemukankan

oleh Semiawan dkk, sebagai berikut : sebenarnya sumber belajar yang

terdapat dilingkungan kita, baik disekitar sekolah maupun di luar sekolah

sekurang-kurangnya memiliki empat jenisyang sangat bermanfaat, yaitu:

a) Masyarakat desa atau kota disekliling sekolah

b) Lingkungan fisik di sekitar sekolah

c) Bahan sisa yang tidak tepakai yang sudah terbuang, yang dapat

menimbulkan pencemaran lingkungan namun bermanfat untuk proses

(38)

d) Peristiwa alam yang terjadi di masyarakat cukup menarik perhatian

siswa. Ada peristiwa yang mungkin tidak dapat dipastikan akan

terulang kembali dan tidak melewatkan untuk dicatat di buku atau

pikiran siswa

Cukup banyak tersedia sumber dan alat bantu belajar mengajar

diluar didinding sekolah kita, bawa sesuatu di lingkungan ke dalam kelas.

Bawalah siswa ke lingkungan luar. Biarkan mereka senang belajar dengan

lingkungannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan

lingkungan sangat baik bagi penanaman materi pembelajaran pada

siswa.Hanya saja perlu ditekankan bahwa media yang khusus disediakan

yaitu yang berhubungan dengan lingkungan fisik yang berada

dilingkungan sekitar mereka.

Sulaiman mengemukakan bahwa, tidak seperti pengalaman dengan

kata-kata, pengalaman nyata sangat efektif untuk mendapatkan suatu

pengertian, karena pengalaman nyata mengikuti sertakan semua indra dan

akal. Pengalaman nyata dan mempunyai kecerdasan yang dapat menyerap

yang menyeluruh dari segala segi tentang semua pengalaman itu, ia akan

sanggup mengembangkan pengertian yang sebaik-baiknya tentang semua

yang dialaminya itu.

Pengalaman langsung sangat bermanfaat sekali bagi pengajaran

yang memerlukan pembuktian di lapangan, tetapi pengalaman langsung ini

tidak semua sekolah dapat memanfaatkannya, karena tidak semua sekolah

memiliki lingkungan sesuai denga kebutuhan untuk memperkuat materi

pelajaran yang disampaikan sehingga sangat beruntung sekolah yang

memiliki lingkungan sesuai materi pelajaran.

Dengan demikian jelas bahwa pngajaran di luar kelas banyak

keuntungannya dibandingkan dengan pengajaran hanya di dalam kelas,

karena lingkungan yang ada di sekitar sekolah dan sekitar tempat tinggal

(39)

untuk melakukan pengajaran di luar kelas tersebut tanpa atau sedikit biaya

yang diperlukan, sehingga tidak memberatkan siswa untuk melakukannya.

Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar

mengarahkan anak pada peristiwa atau keadaan yang sebenarnya.

1) Pengertian Hasil Belajar IPA

Usman Samatoa mengemukakan Ilmu pengetahuan alam

merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa Inggris yaitu natural science, artinya ilmu pengetahuan alam (IPA).Berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam, science artinya ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science itu pengertiannya dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu-ilmu yang mempelajari

peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini.24

IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara

sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang

dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh

Powler yang dikutip oleh Usman Samatowa IPA merupakan ilmu yang

berhubungan dengan gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang

tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil

observasi dan eksperimen/sistematis (teratur) artinya pengetahuan itu

tersusun dalam suatu system, tidak berdiri sendiri, satu dengan yang

lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya

merupakan satu kesatuan yang utuh, sedangkan berlaku umum artinya

pengetahuan itu tidak haya berlaku atau oleh seseorang atau beberapa

orang dengan cara eksperimentasi yag sama akan memperoleh hasil yang

sama atau konsisten.

IPA berfaedah bagi suatu bangsa. Kesejahteraan suatu bangsa

banyak sekali tergantung kepada kemampuan bangsa itu dalam bidang

IPA, sebab IPA merupakan dasar teknologi. Suatu teknologi tidak akan

24

(40)

berkembang pesat jika tidak didasari pengetahuan dasar yang memadai.

Sedangkan pengetahuan dasar untuk teknologi adalah IPA.25

IPA melatih anak berpikir kritis dan objektif. Pengetahuan yang

benar artinya pengetahuan yang dibenarkan menurut tolak ukur kebenaran

ilmu, yaitu rasional dan objektif.Rasional artinya masuk akal atau logis,

diterima oleh akal sehat.Objektif artinya sesuai dengan objeknya, sesuai

dengan kenyataan atau sesuai dengan pengalaman pengamatan melalui

panca indera.

Dari pernyataan di atas, terlihat dengan jelas bahwa pelajaran IPA

memiliki peranan penting dalam menumbuhkan kemampuan berfikir logis

dalam memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan. Pembelajaran

IPA di sekolah dasar sangatlah penting diberikan agar peserta didik dapat

mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang

adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, teknologi, dan

lingkungan. Dengan IPA pula peserta didik dapat mengembangkan

keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan

masalah, dan membuat keputusan yang dapat diterapkan dalam kehidupan

sehari-hari.

Berdasarkan tujuan yang telah disebutkan di atas tergambar dengan

jelas bahwa arah dan orientasi pembelajaran IPA adalah mengarahkan

siswa untuk mampu mengembangkan segala pengetahuan yang dimiliki

untuk memelihara dirinya sendiri, lingkungan serta jagad raya ini. Untuk

menilai ketercapaian semua tujuan tersebut, dibutuhkan suatu bukti yang

menunjukkan tingkat penguasaan siswa terhadap konsep IPA yang telah

diberikan. Bukti tersebut dapat ditunjukkan dengan pencapaian hasil

belajar yang diperoleh siswa setelah melewati serangkaian kegiatan

belajar.

Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang

membentuknya yakni ”hasil” dan ”belajar”. Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau

25

(41)

proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.26

Sedangkan pengertian belajar menurut Muhibbin Syah belajar adalah

kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental

dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.27 Sedangkan

menurut Alex Sobur belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku

yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman.28 Sejalan dengan

pendapat Alex, pengertian belajar menurut Iskandarwassid adalah proses

perubahan tingkah laku pada peserta didik akibat adanya interaksi antara

individu dengan lingkungannya melalui pengalaman dan latihan.29

Pengertian belajar memang selalu berkaitan dengan perubahan, baik yang

meliputi keseluruhan tingkah laku individu maupun yang hanya terjadi

pada aspek dari kepribadian individu. Perubahan perilaku itu merupakan

perolehan yang menjadi hasil belajar. Jadi hasil belajar adalah perubahan

yang mengakibatkan individu (manusia) berubah dalam sikap dan tingkah

lakunya. Perubahan itu diperoleh melalui usaha (bukan karena

kematangan), menetap dalam waktu yang relatif lama dan merupakan hasil

pengalaman.

Sementara itu, menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima

pengalaman belajarnya.30 Hasil belajar menurut Purwanto seringkali

digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang

menguasai bahan yang sudah diajarkan.31 Jadi hasil belajar merupakan

hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar antara guru

dengan siswa yang diakhiri dengan proses evaluasi yang hasilnya itulah

merupakan hasil belajar siswa selama menerima pembelajaran.

26

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), hlm. 44 27

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Deangan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), Cet.15 hlm. 87

28

Alex sobur, Psikologi Umum, (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2003), hlm. 218 29

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 5

30

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 22

31

(42)

Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil

belajar merupakan bukti pencapaian kemampuan belajar yang diperoleh

siswa setelah melalui serangkaian kegiatan pembelajaran, yang bertujuan

untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Sedangkan IPA adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk

mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis dalam

memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, Hasil belajar IPA adalah bukti pencapaian pemahaman

terhadap konsep-konsep IPA yang diperoleh siswa setelah melalui proses

pembelajaran.

a) Jenis-Jenis Hasil Belajar

Howard kingsley membagi tiga jenis hasil belajar, yaitu

keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, serta sikap dan

cita-cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar yakni

informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan

keterampilan motoris.32Dalam bukunya, Muhibbin Syah membagi hasil

belajar kedalam tiga ranah sebagai berikut:33

1) Ranah cipta (kognitif), terdiri dari: pengamatan, ingatan, pemahaman,

penerapan, analisis (pemeriksaan dan pemilahan secara teliti), sintesis

(membuat paduan baru dan utuh).

2) Ranah rasa (afektif), terdiri dari: penerimaan, sambutan, apresiasi

(sikap menghargai), internalisasi (pendalaman), karakterisasi

(penghayatan).

3) Ranah karsa (psikomotorik), terdiri dari: keterampilan bergerak dan

bertindak, dan kecakapan ekspresi verbal dan non verbal.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia jenis-jenis hasil belajar yang

paling dikenal dan paling sering digunakan adalah jenis-jenis belajar yang

dikemukakan oleh Benyamin S. Bloom atau yang sering dikenal dengan

“Taksonomi Bloom”. Benyamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu

32

Nana Sudjana, loc.cit.

33

(43)

berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokkan) tujuan pendidikan itu

harus senantiasa mengacu pada tiga domain (daerah binaan atau ranah)

yang melekat pada diri peserta didik, yaitu: ranah proses berpikir

(cognitive domain), ranah nilai atau sikap (affaective domain), ranah keterampilan (psychomotor domain).34

Menurut Bloom ranah kognitif adalah ranah yang mencakup

kegiatan mental (otak). Menurutnya, segala upaya yang menyangkut

aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.35 Domain kognitif

merupakan proses pengetahuan yang lebih banyak didasarkan

perkembagannya dari persepsi, intropeksi, atau memori siswa.36 Ranah

kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam

aspek, yakni:37

1) Pengetahuan atau ingatan; istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai

terjemahan dari kata knowledge dalam taksonomi Bloom. Sekalipun demikian, maknanya tidak sepenuhnya tepat sebab dalam istilah

tersebut termasuk pula pengetahuan faktual.

2) Pemahaman; tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan

adalah pemahaman. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya

sendiri sesuatu yang dibaca atau didengarnya.

3) Aplikasi; penggunaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi

khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk

teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi.

4) Analisis; usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau

bagian-bagian sehingga jelas hierarkinya atau susunannya.

5) Sintesis; penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk

menyeluruh.

34

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2011), Cet.11 hlm.

35

Anas Sudijono, op.cit, hlm. 49-50 36

Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 75

37

(44)

6) Evaluasi; pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin

dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, materi, dll.

Pada abad ke-21, Anderson dan Kratwohl menganggap bahwa

taksonomi kognitif Bloom sudah kurang relevan dengan tuntutan jaman.

Anderson dan Kratwohl sepakat untuk membuat sebuah tim untuk

merevisi taksonomi kognitif Bloom. Berikut perubahan taksonomi Bloom

taksonomi Bloom yang sudah direvisi oleh Anderson dan Kratwohl:38

No. Sebelum Direvisi Setelah Direvisi

1. Pengetahuan Mengingat (remember)

2. Pemahaman Memahami (understand)

3. Penerapan Menerapkan (apply)

4. Analisis Menganalisis (analyze)

5. Sintesis Mengevaluasi (evaluate)

6. Evaluasi Menciptakan (create)

Sehingga taksonomi Bloom ranah kognitif yang telah direvisi

Anderson dan Kratwohl yakni:39

1) Mengingat (remember); merupakan usaha mendapatkan kembali

pengetahuan dari memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang

baru saja didapatkan maupun yang sudah lama didapatkan.

2) Memahami (understand); berkaitan dengan membangun sebuah

pengertian dari berbagai sumber seperti pesan, bacaan dan komunikasi.

3) Menerapkan (apply); menunjuk pada proses kognitif memanfaatkan atau mempergunakan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan

atau menyelesaikan masalah.

4) Menganalisis (analyze); memecahkan suatu permasalahan dengan

memisahkan tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari

38

Zulfiani, op.cit, hlm. 66 39

Imam Gunawan dan Anggarini Retno Palupi, Taksonomi Bloom- Revisi Ranah Kognitif: Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Penilaian, diakses dari

(45)

keterkaitan dari tiap-tiap bagian tersebut dan mencari tahu bagaimana

keterkaitan tersebut dapat menimbulkan permasalahan.

5) Mengevaluasi (evaluate); memberikan penilaian berdasarkan criteria dan standar yang sudah ada.

6) Menciptakan (create); meletakkan unsur-unsur secara bersama-sama untuk membentuk kesatuan dan mengarahkan siswa untuk

menghasilkan suatu produk baru.

Sementara itu ranah afektif menurut Anas Sudijono adalah yang

berkaitan dengan sikap dan nilai, yang terdiri dari lima aspek, yaitu:40

1) Menerima atau memperhatikan; kepekaan seseorang dalam menerima

rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam

bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain.

2) Menanggapi; kemampuan yang dimiliki seseorang untuk

mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan

membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara.

3) Menghargai; memberikan nilai atau memberikan penghargaan

terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak

dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan.

4) Mengatur atau mengorganisasikan; merupakan pengembangan dari

nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan

satu nilai dengan nilai lain. Jadi mempertemukan perbedaan nilai

sehingga terbentuk nilai baru yang lebih universal.

5) Karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai; keterpaduan

semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi

pola kepribadian dan tingkah lakunya.

Sedangkan untuk ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan

dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang

40

Figur

Gambar 4.1 Diagram Persentase Data
Gambar 4 1 Diagram Persentase Data . View in document p.13
gambar.   Guru
Guru . View in document p.25
Tabel 3.1 Desain Penelitian
Tabel 3 1 Desain Penelitian . View in document p.51
Tabel 3.3Hasil Uji Validitas Instrumen Tes
Tabel 3 3Hasil Uji Validitas Instrumen Tes . View in document p.73
Tabel 3.4 Interprestasi Reliabilitas
Tabel 3 4 Interprestasi Reliabilitas . View in document p.74
Tabel 3.5 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Tes
Tabel 3 5 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Tes . View in document p.75
Tabel 3.6  Klasifikasi Indeks Kesukaran Soal
Tabel 3 6 Klasifikasi Indeks Kesukaran Soal . View in document p.76
Tabel 3.8 Klasifikasi Daya Pembeda
Tabel 3 8 Klasifikasi Daya Pembeda . View in document p.77
Tabel 4.1  Rekapitulasi Data Hasil Pretest dan Posttest Kelas
Tabel 4 1 Rekapitulasi Data Hasil Pretest dan Posttest Kelas . View in document p.83
Gambar 4.1 Diagram Persentase Data Pretest Berdasarkan Jenjang Kognitif
Gambar 4 1 Diagram Persentase Data Pretest Berdasarkan Jenjang Kognitif . View in document p.84
Gambar 4.2 Diagram Persentase Data Postest Berdasarkan Jenjang Kognitif
Gambar 4 2 Diagram Persentase Data Postest Berdasarkan Jenjang Kognitif . View in document p.85
Gambar 4.3 Diagram Persentase Pretest dan Postest Berdasarkan Jenjang
Gambar 4 3 Diagram Persentase Pretest dan Postest Berdasarkan Jenjang . View in document p.86
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Pretest-Posttest
Tabel 4 2 Hasil Uji Normalitas Pretest Posttest . View in document p.87
Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Pretest- Posttest
Tabel 4 3 Hasil Uji Homogenitas Pretest Posttest . View in document p.88
Tabel 4.4Hasil Perhitungan Uji Hipotesis
Tabel 4 4Hasil Perhitungan Uji Hipotesis . View in document p.89
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas . View in document p.178
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas . View in document p.180
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas . View in document p.183
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas . View in document p.185
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Pretest
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Pretest . View in document p.188
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Posttest
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Posttest . View in document p.189
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Pretest
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Pretest . View in document p.190
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Posttest
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Posttest . View in document p.191

Referensi

Memperbarui...