Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Perusahaan Pialang Berjangka yang Dibubarkan.

93  45  Download (2)

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

A.Buku

Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Peristilahan Dalam Perdagangan Berjangka Komoditi, Jakarta Maret 1999

,Sejarah & Peraturan, Seri Training Kit, Jakarta, 1999 ,Pengantar & Peraturan, Jakarta , 1999

Hady, Hamdy, Forex For Manager, Jakarta : Ghalia Indonesia, 2001 Hendarto, Kusumarsono, Belajar Trading, Yogyakarta:Andi,2005

Manan, Bagir, “Perlindungan Debitor dan Kreditor dalam Undang-Undang Kepailitan”, Makalah disampaikan pada Seminar Kepailitan tentang Perlindungan Debitor dan Kreditor dalam Kepailitan Mengahadapi Era Globalisasi, Bandung, 17 Oktober 1998

Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2003

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia, 1986

Subekti, Hukum Perjanjian, Cet.14, Jakarta : Intermedia, 1992

Sofyan, Hanafi, Perdagangan Berjangka dan Ekonomi Indonesia Jakarta : PT. Elex Media Komputindo, 2000

(2)

The Fei Ming, Day Trading Valuta Asing Jakarta : PT. Elex Media Komputindo, 2000

Widjaja Gunawan, Almira Prajna Ramaniya, Reksa Dana dan Peran Serta Tanggung jawab Manajer Investasi dalam Pasar Modal, Jakarta: Prenada Media Group, 2006

Wahyu, Bambang, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Jakarta:Sinar Grafika, 2008 Widoatmodjo, Sawidji, Cara Cepat Memulai Investasi Saham, (Jakarta : PT. Elex

Media Komputindo, 2004

B.Tesis

H.Achmad Busro,“Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama Investasi Antara Investor Dengan Perusahaan Pialang Berjangka”, Semarang, Program Studi Magister Kenotariatan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, 2008.

C.Makalah

Kementrian Perdagangan, “Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Di Indonesia”, Makalah disampaikan pada seminar Perdagangan Berjangka, Jakarta,28 Januari 2010

D.Perundang-undangan

Kitab Undang-undang Hukum Perdata

(3)

Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Nomor : 64/BAPPEBTI/Per/1/2009 tentang Ketentuan Teknis Prilaku Pialang Berjangka dan Penasihat Berjangka.

Undang-Undang No. 32 Tahun 1997 tentang Pedagangan Berjangka Komoditi Undang-Undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

E Kamus

Poerwadarminta, W. J. S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1999.

F.Internet

Andhyka, “Prosedur Pendirian Perseroan Terbatas”, http:// indonesia membangun. com, Diakses terakhir hari Sabtu, tanggal 21 Mei 2011

CRM, “Bappebti Mencabut Status Keanggotaan Dea U Trade di Bursa Berjangka”,  www.hukumonline.com, terakhir diakses pada hari Senin, tanggal 23 Mei 2011.

Detik,”Bappebti Bekukan Dua Pialang di Triwulan I-2011” , www.liputan-berita.com, Diakses terakhir hari Selasa Tanggal 7 Juni 2011.

http://www.google.co.id/#hl=id&q=hak+perusahaan+pialang+&meta=&aq=f&oq =hak+perusahaan+pialang+&fp=f4ec9b8c46474e66, Diakses terakhir hari Selasa, tanggal 27 Januari 2010.

(4)

Jusuf Patrich, “Praktek Pelaksanaan Pembubaran”, http:// notarissby. blogspot. Com , Diakses terakhir hari minggu, tanggal 22 Mei 2011.

Taufik,Bintang, “Surat Peringatan”, www.blogbintang.com, Terakhir diakses hari Selasa Tanggal 7 Juni 2011. 

www.bursaberjangka.blogspot.com Diakses terakhir pada hari Sabtu, tanggal 26 Maret 2011

www.jianibnuzab.blogspot.com Diakses terakhir pada hari Sabtu, tanggal 19 Pebruari 2011.

www.bappebti.go.id Diakses terakhir pada hari, Sabtu tanggal 26 Maret 2011. www.paguyubantrading.blogspot.com Diakses terakhir pada hari Sabtu, tanggal

19 Pebruari 2011.

www.repubika.co.id, diakses terakhir terakhir tanggal 4 Maret 2011.

(5)

BAB III

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NASABAH PERUSAHAAN

PIALANG BERJANGKA YANG DIBUBARKAN

A.Faktor Penyebab Dibubarkannya Perusahaan Pialang Berjangka

Komoditi

Secara umum penyebab dibubarkannya suatu Perusahaan terdapat pada Pasal 142 ayat (1) Undang-Undang No.40 Tahun 2007, namun secara khusus pembubaran perusahaan pialang berjangka komoditi juga dapat diakibatkan dari pembekuan yang dilakukan oleh BAPPEBTI apabila:

a. tidak mengindahkan peringatan tertulis yang telah diberikan oleh BAPPEBTI sebanyak 3 (tiga) kali;

b. tidak dapat mempertahankan integritas keuangan dan reputasi bisnis yang dipersyaratkan; atau

c. perusahaan diajukan ke pengadilan karena dituduh melanggar peraturan perundang-undangan di bidang Perdagangan Berjangka Komoditi.188

Yang dimaksud dengan integritas keuangan adalah kemampuan keuangan dari perusahaan atau orang perseorangan yang diukur dari modal dan/atau kekayaan yang dimiliki sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan serta ketaatan membayar semua kewajiban di bidang keuangan, terutama pembayaran pajak oleh yang bersangkutan dan yang dimaksud dengan reputasi bisnis yang baik adalah kemampuan mengelola usaha dengan baik dan memiliki kredibilitas serta perilaku yang baik, yang ditandai antara lain:

1) tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana;

188

(6)

2) tidak pernah masuk daftar hitam perbankan;

3) tidak pernah dinyatakan pailit dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir; dan 4) memiliki keahlian di bidang Perdagangan Berjangka Komoditi.189

Pembekuan perusahaan ini dapat mengakibatkan dicabutnya izin dari perusahaan pialang berjangka tersebut apabila tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang timbul. Pencabutan izin terhadap pialang berjangka juga dapat diakibatkan dari:

a. Pihak dimaksud dijatuhi pidana berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap;

b. Pihak dimaksud bertindak menyalahi atau melanggar larangan yang ditetapkan mengenai perizinan atau ketentuan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang Perdagangan Berjangka Komoditi;

c. Pihak dimaksud memberikan informasi atau keterangan yang tidak benar dalam permohonan perizinan atau laporan yang disampaikan kepada Bursa Berjangka, Lembaga Kliring Berjangka atau BAPPEBTI.190

Belakangan ini, banyak Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi yang dicabut izinnya sehingga menyebabkan dibubarkannya perusahaan tersebut, salah satu contohnya yaitu pencabutan izin yang dilakukan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) terhadap PT.Masterpiece Futures.

189

 Penjelasan Pasal 121Peraturan-Pemerintah No.9 tahun 1999 tentang penyelenggaraan perdagangan komoditi berjangka.

190

(7)

PT.Masterpiece Futures kembali dijatuhkan sanksi administratif oleh PT.Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) berupa pembekuan surat persetujuan anggota bursa (SPAB), terhitung mulai tanggal 3 maret 2009.191

Direktur Utama BBJ, Hasan Zein Mahmud, mengatakan pertimbangan atas dikeluarkannya sanksi tersebut disebabkan empat alasan. Pertama, MF telah menyalahgunakan dana nasabah di rekening terpisah sehingga menyebabkan terjadinya defisit saldo di KBI, sehingga nasabah MF tidak dapat melakukan penarikan dananya.192

Kedua, menurut Hasan, MF tidak mendaftarkan seluruh transaksi ke bursa sejak tanggal 13 Agustus 2008 dan pihak MF telah bertindak sebagai lawan transaksi nasabahnya.193

Ketiga, MF tidak memenuhi ketentuan mengenai wakil pialang MF yang terdaftar di BAPPEBTI, ternyata tidak ada satu pun yang menjabat sebagai direksi MF.194

Keempat, lanjut Hasan, telah terjadi konflik antar pemenang saham MF yang berdampak terhadap operasional perusahaan. Sehingga MF saat ini sudah tidak beroperasi lagi layaknya sebagai pialang berjangka dan tidak dapat memfasilitasi penyampaian amanat dari para nasabahnya.195

Hasan mengungkapkan, pihaknya memberikan batas waktu sampai 3 April 2009, bagi MF untuk melakukan langkah-langkah perbaikan. Hasan juga

(8)

menghimbau kepada para nasabah BBJ untuk mememonitor status dan proses penyelesaian posisi terbuka dan rekening masing-masing.196

Penyalahgunaan dana nasabah di rekening terpisah kembali terjadi dan berujung pada pencabutan izin usaha PT Masterpiece Futures. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) setelah memberi waktu 60 hari kepada manajemen Masterpiece Futures untuk melakukan perbaikan, akhirnya menerbitkan Keputusan Kepala BAPPEBTI (SK) No. 970/2010 tentang pencabutan izin usaha perusahaan, pialang itu.197

Dalam 2 bulan pertama tahun 2010, otoritas pengawas perdagangan berjangka tersebut tercatat menerbitkan sembilan SK mengenai pembekuan atau pencabutan izin usaha perusahaan pialang berjangka. BAPPEBTI menyebutkan pencabutan izin Masterpiece Futures sudah melalui penahapan penanganan yaitu mulai dari sanksi administratif berupa pembekuan kegiatan usaha melalui SK No. 597/2009.198

Masterpiece dinilai menyalahgunakan dana nasabah di rekening terpisah dan pelaksanaan transaksi tidak melalui jalan yang ditentukan. PT Bursa Berjangka Jakarta pada 6 April 2009 juga mencabut status Masterpiece sebagai anggota bursa berjangka tertua di Indonesia itu. "Setelah 60 hari diberikan waktu, perusahaan belum juga memberikan perbaikan, dengan demikian BAPPEBTI mencabut izin usahanya," kata Kepala Biro Hukum BAPPEBTI Alfons Samosir kepada Bisnis di Jakarta, kemarin. Di industri perdagangan berjangka, praktis

196

 Ibid

197

Berliana elisabeth s, “Selewengkan dana nasabah, izin usaha Masterpiece dicabut”, www.bataviase.co.id, Diakses terakhir pada hari Jum’at, tanggal 4 Maret 2011

198

(9)

seluruh aset investor yang dipercayakan kepada pialang dalam bentuk uang. Pembentukan rekening terpisah di bank penyimpan yang ditunjuk BAPPEBTI diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap dana nasabah tersebut.199

Ketentuan ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 9/1999 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Komoditi di antaranya berisi kewajiban menyimpan dana nasabah, jaminan, dan sentra dana berjangka ke dalam rekening terpisah. Namun, produk hukum untuk melindungi nasabah di perdagangan berjangka itu masih punya titik lemah di antaranya rekening terpisah menggunakan nama perusahaan pialang, sehingga masih rawan disalahgunakan. Selain itu, BAPPEBTI menyatakan pencabutan izin tersebut tidak menghilangkan atau menghapus tanggung jawab Masterpiece terhadap tuntutan nasabah atas tindakan atau pelanggaran yang dinilai merugikan.200

B. Kedudukan Hukum Nasabah Dari Perusahaan Pialang Berjangka

Komoditi yang Dibubarkan

Nasabah merupakan pemilik modal yang mengamanatkan modalnya untuk di investasikan di bursa berjangka melalui Pialang/Wakil Pialang Berjangka. Dengan demikian terlihat bahwa Pialang/Wakil Pialang Berjangka hanya sebagai pihak perantara terhadap keinginan investasi yang akan dilakukan oleh Nasabah. Hal ini karena untuk melakukan investasi di bursa berjangka tidak dapat dilakukan

199

 Ibid 

200

(10)

secara langsung oleh masyarakat umum, yaitu untuk melakukan transaksi secara langsung di bursa berjangka akan tetapi harus melalui Pialang/Wakil Pialang Berjangka.201

Hal ini terlihat dari pengertian pialang berjangka itu sendiri, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 12, Undang-Undang Nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi yang berbunyi : Pialang Perdagangan Berjangka, yang selanjutnya disebut Pialang Berjangka, adalah badan usaha yang melakukan kegiatan jual beli Komoditi berdasarkan Kontrak Berjangka atas amanat Nasabah dengan menarik sejumlah uang dan/atau surat berharga tertentu sebagai margin untuk menjamin transaksi tersebut.202

Margin yang ditarik dari nasabah akan digunakan oleh pialang atau wakil pialang berjangka untuk melakukan pembelian atas opsi kontrak berjangka atau produk derivatif lainnya sesuai dengan yang di kehendaki untuk dilakukan investasi oleh investor. Berdasarkan keterangan tersebut terlihat bahwa Nasabah merupakan pemilik modal yang sebenarnya (modal bukan milik Pialang Berjangka). Karena Pialang/Wakil Pialang Berjangka hanya bertugas untuk melaksanakan amanat203 yaitu perintah dari nasabah kepada pialang berjangka untuk melaksanakan transaksi kontrak di bursa berjangka, yang diberikan oleh

201

H.Achmad Busro,“Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama Investasi Antara Investor Dengan Perusahaan Pialang Berjangka”, Semarang, Program Studi Magister Kenotariatan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, 2008, hal 51

202

Ibid

203

Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka

(11)

nasabah (investor). Dengan demikian para nasabah atau investor yang akan melakukan investasi di bursa berjangka, harus mempunyai pendirian.204

Mengenai kedudukan hukum terhadap nasabah untuk perlindungan dari Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi yang dibubarkan tidak ada pasal yang mengatur dengan jelas kedudukan dari nasabah tersebut namun pada Pasal 46 ayat (4) Undang-Undang No.32 Tahun 1997 menyebutkan bahwa:

“Dana yang wajib dibayarkan oleh Pialang Berjangka sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat dituntut sebagai utang Pialang Berjangka yang bersangkutan.”

Ayat 3 yaitu;

“Pembayaran ganti rugi oleh Bursa Berjangka kepada Nasabah tidak mengurangi kewajiban Pialang Berjangka yang bersangkutan untuk: a. membayar kembali ganti rugi tersebut kepada Bursa Berjangka; dan b.membayar kepada Nasabah selisih antara ganti rugi tersebut dan jumlah

yang selayaknya diterima apabila penagihan tidak dipenuhi seluruhnya, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b.”

ayat 2 huruf b yaitu:

“hasil penagihan tidak dipenuhi atau belum mencukupi jumlah ganti rugi yang selayaknya diterima oleh Nasabah yang bersangkutan.”

Dari penjelasan diatas tersebut maka dapat diketahui bahwa kedudukan nasabah yaitu sesuai dengan kedudukan seseorang yang mempunyai piutang terhadap orang lain (Pialang Berjangka Komoditi) yang melakukan wanprestasi,

204

(12)

dengan ini nasabah dari Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi yang dibubarkan dapat dituntut sebagai utang pialang berjangka yang bersangkutan dengan menggunakan jalur hukum yang sudah ditentukan oleh Undang-Undang No.32 Tahun 1997 yaitu melalui pengadilan atau arbitrase.

Adapun yang merupakan model-model dari prestasi adalah seperti yang disebutkan dalam pasal 1234 KUH Perdata, yaitu berupa : memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. Sementara itu, yang disebut dengan wanprestasi, adalah tidak dilaksanakan prestasi atau kewajiban sebagaimana mestinya yang dibebankan oleh kontrak terhadap pihak-pihak tertentu.205

Tindakan wanprestasi membawa konsekuensi terhadap timbulnya hak pihak yang dirugikan untuk menuntut pihak yang melakukan wanprestasi untuk memberikan ganti rugi, sehingga oleh hukum diharapkan agar tidak ada satu pihak pun yang dirugikan karena wanprestasi tersebut. Tindakan wanprestasi ini dapat terjadi karena : kesengajaan, kelalaian, atau tanpa kesalahan (tanpa kesengajaan atau kelalaian).

Dalam hal pembubaran pialang berjangka ini pialang berjangka dimungkin kan telah melakukan kesengajaan atau kelalaian yang menyebabkan dibubarkannya perusahaan dan menimbulkan kerugian terhadap nasabah dari perusahaan pialang berjangka tersebut. Dari kerugian ini maka dapat digunakan prinsip yang terdapat pada pasal 1365 KUHPerdata yang mengharuskan pihak yang salah mengganti kerugian terhadap pihak yang dirugikan.206

205

 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, pasal 1234

206

(13)

C.Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Perusahaan Pialang

Berjangka yang Dibubarkan

Bagi nasabah, pada dasarnya perlindungan hukum diperlukan oleh nasabah, baik sebelum kejadian perkara maupun sesudah kejadian perkara.207 Apabila dikaitkan dengan Undang-Undang No.32 Tahun 1997, ada perlindungan Preventif dan perlindungan Revresif yaitu sebagai berikut:

1.Perlindungan Preventif (sebelum kejadian)

Bentuk perlindungan perventif ini dilakukan sebelum terjadinya pembubaran terhadap Perusahaan Pialang Bejangka Komoditi agar nasabah dapat diberikan perlindungan saat pembubaran, yaitu berupa larangan-larangan terhadap Pialang Berjangka, yaitu sebagai berikut:

Dalam menyalurkan amanat Nasabah, Pialang Berjangka dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut :

1). Menyembunyikan atau mengubah informasi tentang Perdagangan Berjangka Komoditi;

2). Menyarankan untuk membeli atau menjual jenis Kontrak Berjangka tertentu atau memberikan penilaian harga akan naik atau turun tanpa didasarkan perhitungan yang benar dengan maksud agar Nasabah melakukan transaksi; 3). Menerima amanat Nasabah dan menyelesaikan perjanjian pemeberian amanat

diluar kantor pusat dan kantor cabang resmi;

4). Membocorkan rahasia tentang amanat Nasabah atau rahasia bisnis lainnya yang diperoleh dalam pelaksanakan transaksi;

207

(14)

5). Menyalahgunakan dana Nasabahnya;

6). Memberikan jawaban yang tidak benar atas pertanyaan Nasabah sehingga merugikan kepentingan Nasabah;

7). Membuat, menyimpan, melaporkan dan mempublikasiakan secara melawan hukum tentang kegiataannya, atau membuat pernyataan tidak benar dalam rekening, buku laporan keuangan, dan dokumen lainnya yang dipersyaratkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku ;

8). Lalai menyampaikan berbagai laporan yang dipersyaratkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

9). Memberi pinjaman atau meminjam uang dari Nasabah atau bertindak sebagai perantara bagi Nasabahnya untuk meminjamkan atau meminjam uang dari pihak lain;

10). Melakukan kesalahan pencatatan mengenai pelaksanaan transaksi;

11).Melakukan perubahan tidak sah yang dibubuhkan pada cap waktu pada pesanan Nasabah, Laporan transaksi, atau dokumen lainnya;

12).Melaksanakan transaksi melebihi jumlah batas maksimal yang telah ditetapkan;

13).Melaksanakan transaksi untuk Nasabahnya tanpa perintah Nasabah yang bersangkutan;

(15)

15).Menerima kuasa dari Nasabah untuk melakukan transaksi atas nama Nasabah yang bersangkutan, kecuali dalam keadaan tertentu yang ditetapkan oleh BAPPEBTI; dan

16).Melakukan pelanggaran terhadap ketentuan lainnya yang diatur dalam peraturan Perundang-undangan.208

BAPPEBTI juga dapat melakukan pemeriksaan terhadap setiap Pihak yang diduga, baik secara langsung maupun tidak langsung, melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang No.32 Tahun 1997 dan/atau peraturan pelaksanaannya. Dalam melakukan pemeriksaan, BAPPEBTI berwenang:

a. meminta keterangan dan/atau konfirmasi dari setiap Pihak yang diduga secara langsung atau tidak langsung melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang ini dan/atau peraturan pelaksanaannya atau dari pihak lain apabila dianggap perlu;

b. memeriksa dan/atau membuat salinan terhadap pembukuan, catatan, dan/atau dokumen lain, baik milik setiap Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang ini dan/atau peraturan pelaksanaannya maupun milik pihak lain apabila dianggap perlu;

c. mewajibkan setiap Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang ini dan/atau peraturan

208

(16)

pelaksanaannya untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu; dan/atau

d. menetapkan syarat dan/atau mengizinkan setiap Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang No.32 Tahun 1997 dan/atau peraturan pelaksanaannya untuk melakukan tindakan tertentu yang diperlukan guna menyelesaikan setiap kerugian yang timbul.209

Bagi Pialang berjangka atau siapapun yang menghalangi pelaksanaan penyidikan tersebut dikenakan sanksi pidana kurungan paling lama satu tahun dan pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sesuai dengan pasal 75 Undang-Undang No.32 Tahun 1997.

2.Perlindungan Revresif (sesudah kejadian)

Perlindungan Revresif ini diberikan oleh Undang-Undang dan dilaksanakan oleh BAPPEBTI dengan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingan dari nasabahnya karena nasabah merupakan bagian dari masyarakat yang memakai jasa pialang berjangka untuk melakukan perdagangan dibursa berjangka.210

Perlindungan kepada nasabah yang diberikan oleh BAPPEBTI ini dapat dilihat dari penyelesaian kasus-kasus sebelumnya yang pernah terjadi, dikasus sebelumnya seperti kasus PT.Masterpiece Futures, dikasus ini BAPPEBTI

209

 Undang-Undang No.32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, Pasal  66 

210

(17)

mengembalikan dana yang dimiliki oleh nasabah yang ada pada perusahaan berjangka komoditi tersebut karena dibubarkannya perusahaan.211

211

(18)

BAB IV

TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN PIALANG BERJANGKA

KOMODITI YANG DIBUBARKAN TERHADAP NASABAH

A. Bentuk Pertanggungjawaban Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi

yang Dibubarkan Terhadap Nasabah

Perbuatan pengurusan melahirkan tanggungjawab bagi pengurus terhadap harta kekayaan yang berada dibawah kepengurusannya, yang bukan merupakan harta kekayaan pribadi pengurus212, maka Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi yang dibubarkan bertanggungjawab untuk mengganti kerugian yang diderita oleh nasabah

Tanggung jawab yang ada pada perusahaan pialang berjangka sebenarnya sudah ada sebelum proses pembubaran, yaitu pada saat masa pembekuan perusahaan pialang berjangka oleh BAPPEBTI karena melakukan mal praktek seperti yang disebutkan sebelumnya. Tanggung jawabnya yaitu mengembalikan seluruh dana yang disalahgunakan dari rekening terpisah, serta memenuhi seluruh kewajiban kepada nasabahnya seperti yang juga telah dijelaskan sebelumnya.213

Jika perusahaan pialang berjangka dapat memenuhi tanggung jawabnya saat di bekukan tidak lebih dari waktu yang ditentukan oleh BAPPEBTI , maka perusahaan pialang berjangka tersebut dapat berjalan kembali seperti biasa, namun jika tidak, maka BAPPEBTI akan mengeluarkan surat keputusan untuk

212

 Gunawan Widjaja, Almira Prajna Ramaniya, Reksa Dana dan Peran Serta Tanggung jawab Manajer Investasi dalam Pasar Modal,(Jakarta: Prenada Media Group, 2006) hal 57 

213

(19)

mencabut izin dari perusahaan pialang berjangka yang sebelumnya dibekukan tersebut, yang mengharuskan perusahaan untuk melakukan likuidasi dan dapat mengakibatkan bubarnya perusahaan.214

Akibat dari pembubaran tersebut nasabah dapat menuntut haknya kepada pialang berjangka komoditi yang dibubarkan, jika tuntutan nasabah terhadap pialang berjangka tidak terpenuhi maka nasabah dapat mengajukan tuntutan ke Bursa Berjangka dengan pertimbangan:

1. Nasabah yang dirugikan telah berupaya melakukan penagihan secara langsung kepada Pialang Berjangka yang bersangkutan, tetapi tidak berhasil

2. Hasil penagihan tidak dipenuhi atau belum mencukupi jumlah ganti rugi yang selayaknya diterima oleh Nasabah yang bersangkutan.215

Namun ganti rugi yang dibayarkan oleh Bursa Berjangka, tidak mengurangi tanggungjawab pialang berjangka untuk:

1. membayar kembali ganti rugi tersebut kepada Bursa Berjangka

2. membayar kepada Nasabah selisih antara ganti rugi dan jumlah yang selayaknya diterima apabila penagihan terhadap bursa berjangka tidak dipenuhi seluruhnya.216

214

 Ibid 

215

 Undang-Undang No.32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, Pasal 46 ayat (2) 

216

(20)

B. Akibat Hukum Dari Kelalaian Dalam Memenuhi Tanggungjawab

Terhadap Nasabah

Didalam suatu pengurusan, yang terjadi adalah pertanggungjawaban antara pengurus dengan orang atau pihak yang harta kekayaannya diurus oleh pengurus tersebut dalam hal ini pengurus yaitu Perusahaan Pialang Berjangka yang mengurus harta nasabahnya, pengurusan ini selain menimbulkan tanggungjawab bagi pengurus harta kekayaan tersebut, juga membawa akibat hukum.112

Mengenai akibat hukum yang dapat diterima oleh Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi akibat dari kelalaian dalam memenuhi tanggungjawab terhadap nasabah yaitu berupa:

a.Peringatan Tertulis

Surat peringatan adalah hal penting untuk melindungi kepentingan pihak yang mungkin dirugikan seperti nasabah. Dengan surat ini perusahaan bisa tahu kesalahan dan kemudian memperbaikinya. Tentu saja pemberian surat teguran ini sebaiknya diberikan jika perusahaan telah benar-benar melakukan kesalahan sepeti lalai membuat, menyimpan, dan memelihara catatan informasi dalam bentuk dan isi sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.113

Dalam pemberian surat peringatan seharusnya diberikan dengan saksi yang dapat membuat jera supaya perusahaan tidak mengulangi lagi. Dan bahkan

112 

Gunawan Widjaja, Almira Prajna Ramaniya, Op.Cit. 

113

(21)

akan lebih baik lagi jika membuat teguran yang memotivasi sehingga perusahaan tersebut dapat membayar kesalahannya.114

b.denda administrasi

Pialang berjangka yang terlambat menyampaikan laporan atau konfirmasi dikenakan sanksi denda administratif paling banyak Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) setiap hari keterlambatan penyampaian laporan dimaksud dengan ketentuan bahwa jumlah keseluruhan denda administratif paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).115

c. pembatasan kegiatan usaha

Pembatasan kegiatan usaha terhadap pialang berjangka merupakan hukuman yang diberikan oleh BAPPEBTI kepada perusahaan pialang karena melakukan pelanggaran pembatasan ini dapat berupa sanksi pembekuan pencairan, akibat sanksi ini pialang berjangka tidak dapat mencairkan dana.116

d. pembekuan kegiatan usaha;

Pembekuan terhadap kegiatan usaha pialang berjangka komoditi adalah akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh perusahaan pialang berjangka itu sendiri karena telah melanggar aturan yang berlaku seperti tidak dapat mempertahankan integritas keuangan, reputasi bisnis yang dipersyaratkan,

114

 Ibid

115 

Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Komoditi Berjangka, Pasal 118 huruf b 

116Detik,”BAPPEBTI Bekukan Dua Pialang di Triwulan I-2011”,

(22)

melakukan kesalahan prosedur pengelolaan rekening terpisah, menyalahgunakan dana nasabah tidak, melaporkan sebagian besar transaksi yang dilakukan nasabahnya kepada BBJ, melakukan pengambilan posisi transaksi untuk melawan posisi transaksi para nasabahnya serta melalaikan kewajiban penyampaian laporan keuangan yang dipersyaratkan sesuai ketentuan.117

Dimasa pembekuan ini perusahaan pialang berjangka tidak dapat melakukan kegiatan seperti biasanya yaitu seperti menyampaikan amanat nasabah untuk melakukan transaksi di bursa berjangka dan merekrut calon nasabah untuk bertransaksi dibursa berjangka melalui jasa perusahaan pialang berjangka tersebut. Selain itu, karena perusahaan pialang berjangka komoditi tersebut dibekukan maka BAPPEBTI juga membekukan izin wakil pialang pada perusahaan yang dibekukan.118

Dimasa pembekuan ini pialang berjangka komoditi yang dibekukan izinnya diharuskan untuk melakukan langkah-langkah perbaikan yang dipersyaratkan dalam pembekuan oleh BAPPEBTI, langkah-langkah yang terdapat pada syarat pembekuan tersebut tergantung dari pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan pialang berjangka contohnya seperti pialang berjangka telah menyalah gunakan dana yang terdapat pada rekening terpisah maka pialang berjangka tersebut harus menyelesaikannya dengan mengembalikan seluruh dana yang disalahgunakan dari rekening terpisah.119

e. pencabutan izin usaha;

117 

CRM, Op.Cit. 

118

Ibid

119

(23)

Pembekuan perusahaan pialang berjangka komoditi oleh BAPPEBTI merupakan suatu proses untuk memperbaiki kesalahan-kelasalahan yang sebelumnya dilakukan, dengan perbaikan ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang sudah terjadi. Namun jika perusahaan pialang tidak dapat melakukan perbaikan maka BAPPEBTI akan mencabut izin usaha dari perusahan pialang berjangka tersebut yang dapat mengakibatkan bubarnya perusahaan.120 f. Pencabutan izin

Akibat dari pencabutan izin usaha terhadap pialang berjangka komoditi maka izin dari wakil pialang tersebut juga akan dicabut oleh BAPPEBTI.121

g. Pembatalan persetujuan

Sesudah pencabutan izin usaha dilakukan oleh BAPPEBTI maka setelah itu pembatalan persetujuan terhadap pialang berjangka yang sudah dicabut izinnya tersebut juga dilakukan oleh BAPPEBTI.122

C. Upaya yang Dilakukan Nasabah Akibat Dari Tidak Terpenuhinya

Tanggungjawab Dari Pialang Berjangka Komoditi

Keadaan adanya salah satu pihak yang melakukan pelanggaran yang mengakibatkan salah satu pihak rugi juga bisa saja terjadi di dalam perjanjian kerjasama investasi yang dilakukan oleh Nasabah dengan Perusahaan Pialang Berjangka. Akibat perbuatan seperti cedera janji atau mal praktek yang dilakukan

120

  Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Komoditi Berjangka, Pasal 114 

121

Detik, Op.Cit

122

(24)

oleh Pialang Berjangka yang mengakibatkan Nasabah mengalami kerugian karena pembubaran perusahaan.123

Mengenai upaya nasabah untuk dapat memenuhi hak yang timbul akibat dari dibubarkannya Perusahaan Pialang Berjangka ,dapat menuntut ganti rugi baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan pihak lain yang mempunyai tuntutan serupa, kepada Pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut.124

Dana yang wajib dibayarkan oleh Pialang Berjangka terhadap nasabah juga dapat dituntut secara Perdata dengan menganggap dana tersebut adalah utang Pialang Berjangka yang bersangkutan.125

Penyelesaian secara perdata merupakan sebuah alternatife penyelesaian sengketa yang dapat dilakukan dengan berbagai cara,126 seperti yang dianjurkan oleh Undang-Undang Nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Hal ini dapat di lihat pada Pasal 61 Undang Undang Nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi yang berbunyi : Tanpa mengurangi hak para Pihak untuk menyelesaikan perselisihan perdata yang berkaitan dengan Perdagangan Berjangka di pengadilan atau melalui arbitrase, setiap perselisihan wajib diupayakan terlebih dahulu penyelesaiannya melalui:127 a. musyawarah untuk mencapai mufakat di antara Pihak yang berselisih;

123

 H.Achmad Busro, Op.Cit, hal 72 

124

 Undang-Undang Nomor.32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, Pasal 78 

125

 Undang-Undang Nomor.32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, Pasal 46 

126

  Bagir Manan, “Perlindungan Debitor dan Kreditor dalam Undang-Undang Kepailitan”, Makalah disampaikan pada Seminar Kepailitan tentang Perlindungan Debitor dan Kreditor dalam Kepailitan Mengahadapi Era Globalisasi, (Bandung, 17 Oktober 1998), hal. 7 

127

(25)

b. pemanfaatan sarana yang disediakan oleh BAPPEBTI dan/atau Bursa Berjangka apabila musyawarah untuk mencapai mufakat, sebagaimana dimaksud pada huruf a, tidak tercapai.128

Menurut Pater Y. Angwarmasse (perwakilan dari Biro Hukum Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi), dalam setiap pengaduan yang dilakukan oleh nasabah,129 maka penyelesaiannya adalah sebagai berikut :

a. Melalui Perusahaan Pialang Berjangka

Pertama-tama akan dilakukan melalui badan penyelesaian yang ada di setiap perusahaan pialang berjangka, dimana setiap perusahaan pialang berjangka diwajibkan untuk menyediakan suatu divisi kepatuhan (compliance) yang wajib melakukan penanganan pengaduan nasabah untuk pertama kalinya.130

b. Melalui Bursa Berjangka

Sebenarnya, apabila pengaduan melalui penyelesaian yang pertama yaitu melalui internal perusahaan pialang berjangka tidak menghasilkan penyelesaian yang memuaskan bagi nasabah maka nasabah dapat memakai penyelesaian yang di sediakan oleh pihak Bursa Berjangka. Jika nasabah masih tidak puas dengan penyelesaian yang dilakukan oleh pihak Bursa Berjangka maka barulah nasabah dapat meminta penyelesaian kepada Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI).131

128

 Undang-Undang Nomor.32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, Pasal 61 

129

H.Achmad Busro, Op.Cit, hal 75 

130

Ibid

131

(26)

c. Melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi

Penyelesaian sengketa melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) biasanya akan dilakukan melalui sistim mediasi. Mediasi tersebut dilakukan guna menampung aspirasi nasabah yang mengadukan kasusnya yang biasanya menginginkan pengembalian dana melalui cara penyelesaian sengketa secara cepat. Penyelesaian di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) merupakan penyelesaian pada tingkat terakhir secara perdata melalui badan-badan yang ada di internal Bursa Berjangka dan Perdagangan Berjangka Komoditi. Karena jika pada tahap ini nasabah masih belum menemukan kepuasan juga terhadap penyelesaian yang ada, maka penyelesaian berikutnya dapat dilakukan melalui Badan Arbitrase atau Lembaga Peradilan.132

132

(27)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat diambil kesimpulan untuk menjawab dari permasalahan-permasalahan penelitian, yaitu sebagai berikut :

1. Pasal 6 huruf r Undang-undang No.32 Tahun 1997 memberikan wewenang kepada BAPPEBTI untuk melindungi kepentingan para pihak dalam kegiatan perdagangan berjangka komoditi, salah satunya yaitu nasabah dari perusahaan pialang berjangka yang dibubarkan, dengan wewenang yang diberikan oleh Undang-undang kepada BAPPEBTI maka nasabah bisa mendapat perlindungan berupa pengembalian dana milik nasabah yang ada pada Perusahaan pialang berjangka komoditi tersebut.

(28)

B. Saran

1. Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) harus lebih ketat dalam mengawasi setiap Pialang Berjangka dan wakil-wakilnya. Karena banyak sekali pialang berjangka yang melakukan pelanggaran sehingga menyebabkan nasabah mengalami kerugian.

(29)

BAB II

BURSA BERJANGKA KOMODITI INDONESIA

A. Sejarah Pendirian BursaBerjangka Komoditi di Indonesia

Perkembangan bursa komoditi diawali dengan terjadinya perdagangan barang-barang kebutuhan yang dilakukan antar daerah secara tradisional pada awal abad ke-12, sehingga para pedagang atau saudagar pada waktu itu sering menitipkan barang dagangannya di suatu tempat sebelum diserahkan kepada pembeli.122

Di Indonesia pasar berjangka sudah lama dirasakan kebutuhannya, tetapi realisasinya sangat lambat. Berbagai kendala seperti sedikitnya yang berminat jadi promotor, kesan bahwa perdagangan berjangka sama dengan judi dan sebagainya. Krisis ekonomi dan keuangan mereposisikan urgensi akan bursa berjangka di Indonesia yang sudah sangat telat dibanding negara lain yang telah memulai perdagangan sejak abad yang lalu. Akibat kendala diatas maka sosialisasi akan perlunya pasar berjangka menjadi terabaikan.123

Kegunaan utama pasar berjangka sama seperti seabad yang lalu yaitu menyediakan mekanisme yang efisien dan efektif untuk manajemen risiko harga bagi produsen dan konsumen komoditi dengan melindungi risikonya yang diambil alih oleh spekulan .124

122

Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Sejarah & Peraturan, Seri Training Kit, Jakarta, hal 1

123

 Hanafi Sofyan, Perdagangan Berjangka dan Ekonomi Indonesia ( Jakarta : PT. Elex Media Komputindo, 2000 ) hal. vii   

124

(30)

Pemerintah Indonesia sejak lama sudah sadar akan perlunya bursa berjangka sebagai sarana lindung nilai (hedging). Sederetan menteri sejak zaman Presiden Soeharto mencoba memfasilitasi berdirinya Bursa Berjangka dan mencegah menjadikannya suatu Kasino.125

Bermain di bursa manapun banyak mengandung resiko apalagi di luar negeri yang tidak jelas keberadaan bursanya. Apakah benar amanat diteruskan atau tidak, tidak jelas.126

Pemerintah mengambil tindakan mulai tahun 1977, yaitu: Melarang penyaluran amanat keluar negeri (Instruksi Mendag No. 03/M/lNS/VI/77). Mendirikan BAPPEBTI (Badan Pelaksana Bursa Komoditi)serta PT. Kliring dan Jaminan Bursa Komoditi (PP No. 35 tahun 1982) karena banyaknya tantangan dan kurangnya pengetahuan masyarakat, usaha pemerintah untuk mendirikan bursa komoditi tidak berhasil.127

Tahun 1991 Pemerintah mulai banting setir. Kalau dahulu mereka mencoba menentukan komoditi mana yang pantas diperdagangkan derivatifnya di Bursa Berjangka, mereka sudah mulai terjun dan bertanya kepada pelaku pasar anggota berbagai asosiasi, namun hanya 3 asosiasi yang bersedia memperdagangkan komoditinya dibursa yaitu : Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Diikuti dengan keputusan

125

Herdiansyah Hamzah, “Sejarah Pendirian Bursa Berjangka Komoditi di Indonesia”, www.paguyubantrading.blogspot.com, Diakses terakhir pada hari Sabtu, tanggal 19 Pebruari 2011

126

 Ibid 

127

(31)

BAPPEBTI No. 07/BAPEBTI/KP/XJ/1991 untuk mengangkat team kecil yang sudah mulai bekerja bulan Agustus 1991.128

Dibulan Juli 1992 kedua team kecil berhasil merampungkan bab XIII dan bab X dan Peraturan Tata Tertib Bursa yang akan dijalankan BAPPEBTI dengan suatu peraturan pemerintah. Pemenintah berubah pikiran dan minta swasta saja yang mendirikan bursa. Pertemuan dilakukan dengan Menteri Muda Perdagangan bulan Nopember 1992 dan baru pada tanggal 26 Pebruari 1993 diangkat suatu team kecil dengan Keputusan Menteri. Anggota tim adalah utusan dari Federasi Asosiasi Minyak Nabati Indonesia (FAMNI) yang merupakan gabungan dari AIMMI dan GAPKI serta AEKI. Team ini mengumpulkan uang untuk membiayai konsultan dan Australia dan Malaysia untuk membuat studi kelayakan, rencana usaha dan rancangan tata tertib bursa. Disamping itu pemerintah juga mengusahakan adanya Undang-Undang Perdagangan Berjangka untuk mengatur perdagangan berjangka yang ada di Indonesia.129

Usaha AEKI dan FAMNI untuk menghilangkan kata komoditi dari RUU tidak berhasil, usaha untuk memasukkan produk finansial secara eksplisit juga tidak berhasil tetapi diserahkan kepada Presiden. Team yang ditunjuk Memperindag untuk mempersiapkan berdirinya bursa ditolak DPR dan dijadikan alasan untuk menunda keluarnya Undang-Undang itu. Desas – desus tanpa bukti beredar bahwa ada pihak-pihak membiayai penundaan itu. Juga disebar desas – desus bahwa AEKI dan FAMNI ingin memonopoli bursa berjangka.130

128 

Ibid 

129

 Ibid 

130

(32)

Undang-Undang No. 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi yang akhirnya keluar. Undang-undang tersebut jelas: tidak menutup kemungkinan ada lebih dari 1 (satu) bursa (tidak monopoli), melarang pendiri terafiliasi, melarang pemegang saham memiliki atau menguasai lebih dari 1 (satu) saham, pemegang saham baru (selain pendiri) harus pialang, sedangkan kita tahu tidak ada satupun pendiri pialang, mengharuskan direksi independen dan profesional, mengharuskan paling sedikit 1 (satu) komisaris mewakili masyarakat, karena kebutuhan uang dan menghilangkan citra bahwa bursa tidak akan dimonopoli oleh AEKI dan FAMNI, diikutsertakan PT. Kliring dan Jaminan Bursa Komoditi untuk menampung calon pendiri non AEKI - non FAMNI dengan perjanjian historis yang disaksikan BAPPEBTI. Pada tanggal 8 Juni 1998.131

Undang-Undang No. 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi keluar pada saat krisis ekonomi memuncak. Selama tahun 1998 boleh dikatakan tidak ada minat untuk melakukan apa-apa di sektor ini. Tingkah laku Pemerintah kambuh lagi dengan larangan ekspor sawit. Baru setelah keluar PP No. 9 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Komoditi Berjangka tanggal 27 Januari 1999 gerakan pendirian bursa dimulai lagi.132

AEKI dan FAMNI bekerja cepat, rekrutmen calon pendiri dilakukan oleh anggota masing-masing dan dari luar. Orang-orang baru yang sama sekali tidak mengerti bursa berjangka, bermodal kecil dan belum pernah membaca Undang-undang No. 32 tahun 1997 dan PP No. 9 tahun 1999 termasuk pelanggar Undang-

131

 Ibid 

132

(33)

undang dan peraturan pemerintah berlomba-lomba masuk. Ada juga usaha untuk memasukkan pihak-pihak terkait.133

BAPPEBTI mengharuskan bahwa semua pendiri layak dan patut. Setelah pemeriksaan beberapa calon ditolak. Ada yang tidak layak dan patut, ada yang ditolak karena terafiliasi dan ada yang mengundurkan diri karena keinginannya tidak terpenuhi. Satu jam sebelum pertemuan pembentukan perseroan tanggal 19 Agustus semua itu baru selesai. AEKI dan FAMNI berhasil mengumpulkan 29 perusahaan tidak terafiliasi dan industri (kopi, sawit, keuangan dan perdagangan) banyak diantaranya baru bertemu pertama kali dalam satu perseroan dalam waktu begitu pendek (5 bulan sejak ditunjuk menjadi promotor) dalam keadaan masih krisis.134

Pada tanggal 11 Juli 2000 jam 16.00 dimasukkanlah permohonan oleh 29 perusahaan tidak terafiliasi dan industri (kopi, sawit, keuangan dan perdagangan) untuk ijin usaha suatu bursa berjangka kepada BAPPEBTI. Ini merupakan permohonan ijin usaha pertama untuk satu bursa berjangka dalam sejarah Republik Indonesia.135 Dan pada tanggal 15 Desember Tahun 2000 untuk pertama kalinya Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) membuka perdagangan di lantai bursa dengan memperdagangkan dua kontrak komoditi, yaitu minyak kelapa sawit (CPO) dan kopi Robusta.136

133 

Ibid 

134

 Ibid 

135

 Ibid 

136

(34)

B.Pihak-Pihak yang Terkait Dalam Kegiatan Bursa Berjangka Komoditi

Perdagangan berjangka melibatkan beberapa pihak terkait antara lain Menteri Perdagangan, BAPPEBTI, Bursa Berjangka, Lembaga Kliring dan Penjaminan Berjangka, Pialang Berjangka dan Wakil Pialang Berjangka, Pedagang Berjangka, Penasihat Berjangka dan Wakil Penasihat Berjangka, Sentra Dana Berjangka, Pengelola Sentra Dana Berjangka dan Wakil Pengelola Sentra Dana Berjangka, Bank Penitipan, dan Nasabah. Khusus untuk perdagangan berjangka di luar negeri melibatkan Bursa Berjangka di Luar Negeri dan Badan Pengawas Berjangka Luar Negeri.137

Lebih jelasnya mekanisme transaksi antara pihak-pihak dalam perdagangan berjangka dapat diuraikan sebagai berikut:

Untuk dapat melakukan kegiatan perdagangan didalam bursa berjangka yang memperdagangkan komoditi dari pedagang berjangka, terlebih dahulu harus menjadi anggota/nasabah dari pialang berjangka yang menjadi anggota dari bursa berjangka, hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam Pasal 31 ayat 1 Undang-Undang No.32 Tahun 1997, namun jika ingin melakukan transaksi dibursa berjangka luar negeri maka harus menjadi anggota/nasabah dari pialang berjangka anggota kliring atau langsung mendaftar menjadi anggota pialang yang ada diluar

137

(35)

negeri. Jika hanya ingin melakukan investasi dengan tidak terlibat dalam pengambil keputusan hanya perlu menjadi peserta dari Sentra Dana Berjangka.138

Mekanisme transaksinya yaitu nasabah yang sudah terdaftar menjadi anggota dari pialang berjangka tersebut harus terlebih dahulu melakukan setoran margin ke rekening terpisah di Bank Penitipan agar dapat melakukan transaksi, berikut skemanya:

Skema Nomor I: Mekanisme Penerimaan Nasabah.139

138

  Kementrian Perdagangan, “Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Di Indonesia”, Makalah disampaikan pada seminar Perdagangan Berjangka, Jakarta,28 Januari 2010, hal 15. 

139

Ibid. hal. 19. 

Nasabah

Wakil Pia

Hubungi Pialang

Beri Penjelasan mengenai resiko dalam PBK

(36)

Setelah itu menghubungi wakil pialang untuk melaporkan bukti setoran margin ke kliring berjangka sekaligus melakukan transaksi, wakil pialang tersebutlah yang akan menyampaikan laporan ke Kliring Berjangka dan amanat nasabah ke Bursa Berjangka untuk melakukan pembelian komoditi, lalu Bursa Berjangka yang sudah menerima amanat nasabah melalui wakil pialang melakukan konfirmasi laporan transaksi ke Kliring Berjangka, selanjutnya Kliring Berjangka akan menyampaikan konfirmasi ke wakil pialang mengenai untung/rugi transaksi dan wakil pialang akan melaporkan konfirmasi pelaksanaan amanat terhadap nasabah.140Berikut skemanya:

Skema Nomor II: Mekanisme Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi.141

140

 Ibid. hal .20 

141

(37)

Kegiatan transaksi tersebut tentunya diawasi oleh badan pengawas perdagangan berjangka komoditi yaitu BAPPEBTI yang dibawahi oleh Menteri Perdagangan.142

Penjelasan lebih lanjut mengenai pihak-pihak yang terdapat dalam kegiatan perdagangan berjangka tersebut yaitu sebagai berikut:

142

 Ibid 

Nasabah

Wakil Pialang

 

Setor margin ke rekening terpisah

PB di Bank Penyimpan

HUBUNGI WP UNTUK MELAKUKAN TRANSAKSI

KONFI RMASI PELAKSANAAN

AMANAT

KONFI RMASI LABA/ RUGI TRANSAKSI

(38)

1. Menteri Perdagangan

Menteri Perdagangan adalah Menteri yang bertanggung jawab sekaligus mengawasi perdagangan berjangka komoditi.

2. Badan Pengawas

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) merupakan badan yang melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari kegiatan Perdagangan Berjangka Komoditi. BAPPEPTI bertanggung jawab kepada Menteri Perdagangan, selain itu BAPPEBTI jg memiliki wewenang dalam mengawasi perdagangan berjangka komoditi yaitu:

a. membuat penjelasan lebih lanjut yang bersifat teknis atas Undang-undang ini dan/atau peraturan pelaksanaannya;

b. memberikan:

1) izin usaha kepada Bursa Berjangka, Lembaga Kliring Berjangka, Pialang Berjangka, Penasihat Berjangka, dan Pengelola Sentra Dana Berjangka; 2) izin kepada orang perseorangan untuk menjadi Wakil Pialang Berjangka,

Wakil Penasihat Berjangka, dan Wakil Pengelola Sentra Dana Berjangka; 3) sertifikat pendaftaran kepada Pedagang Berjangka;

4) persetujuan kepada Pialang Berjangka dalam negeri untuk menyalurkan amanat Nasabah dalam negeri ke Bursa Berjangka luar negeri; dan

(39)

c. menetapkan daftar Bursa Berjangka luar negeri dan Kontrak Berjangkanya; d. melakukan pemeriksaan terhadap Pihak yang memiliki izin usaha, izin orang

perseorangan, persetujuan, atau sertifikat pendaftaran;

e. menunjuk pihak lain untuk melakukan pemeriksaan tertentu dalam rangka pelaksanaan wewenang BAPPEBTI,

f. memerintahkan pemeriksaan dan penyidikan terhadap setiap Pihak yang diduga melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang ini dan/atau peraturan pelaksanaannya;

g. menyetujui peraturan dan tata tertib Bursa Berjangka dan Lembaga Kliring Berjangka, termasuk perubahannya;

h. memberikan persetujuan terhadap Kontrak Berjangka yang akan digunakan sebagai dasar jual beli Komoditi di Bursa Berjangka, sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan;

i. menetapkan persyaratan dan tata cara pencalonan dan memberhentikan untuk sementara waktu anggota dewan komisaris dan/atau direksi serta menunjuk manajemen sementara Bursa Berjangka dan Lembaga Kliring Berjangka sampai dengan terpilihnya anggota dewan komisaris dan/atau anggota direksi yang baru oleh Rapat Umum Pemegang Saham;

(40)

k. menetapkan batas jumlah maksimum dan batas jumlah wajib lapor posisi terbuka Kontrak Berjangka yang dapat dimiliki atau dikuasai oleh setiap Pihak;

l. mengarahkan Bursa Berjangka dan Lembaga Kliring Berjangka untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu apabila diyakini akan terjadi keadaan yang mengakibatkan perkembangan harga di Bursa Berjangka menjadi tidak wajar dan/atau pelaksanaan Kontrak Berjangka menjadi terhambat;

m. mewajibkan setiap Pihak untuk menghentikan atau memperbaiki iklan atau kegiatan promosi yang menyesatkan berkaitan dengan Perdagangan Berjangka dan Pihak tersebut mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi akibat yang timbul dari iklan atau promosi dimaksud; n. menetapkan ketentuan tentang dana Nasabah yang berada pada Pialang

Berjangka yang mengalami pailit;

o. memeriksa keberatan yang diajukan oleh suatu Pihak terhadap keputusan Bursa Berjangka atau Lembaga Kliring Berjangka serta memutuskan untuk menguatkan atau membatalkannya;

p. membentuk sarana penyelesaian permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan Perdagangan Berjangka;

(41)

r. melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kerugian masyarakat sebagai akibat pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang ini dan/atau peraturan pelaksanaannya; dan

s. melakukan hal-hal lain yang diberikan berdasarkan ketentuan Undang-undang ini dan/atau peraturan pelaksanaannya.

3. Bursa Berjangka

Bursa Berjangka adalah badan usaha yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan / atau sarana untuk kegiatan jual beli Komoditi berdasarkan Kontrak Berjangka dan Opsi atas Kontrak Berjangka. Bursa Berjangka di Indonesia adalah Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange).

4. Bursa Berjangka Luar Negeri

Bursa Berjangka Luar Negeri adalah Bursa Berjangka yang daftarnya ditetapkan oleh BAPPEBTI. Bursa Berjangka ini antara lain: Chicago Board of Trade, Chicago Mercantile Exchange, New York Board of Trade, Malaysia Derivatives Exchange, Hongkong Exchange and Clearing Limited, Singapore Exchange, Tokyo Grain Exchange, Tokyo Commodity Exchange, Osaka Mercantile Exchange dan Korean Stock Exchange.

5. Lembaga Kliring Berjangka

(42)

serta menyelenggarakan dan menyediakan sistem atau sarana untuk pelaksanaan kliring sebagai penjaminan transaksi di Bursa Berjangka.

6. Pialang Berjangka

Pialang Berjangka adalah badan usaha yang melakukan kegiatan jual beli Komoditi berdasarkan Kontrak Berjangka atas amanat Nasabah dengan menarik sejumlah uang dan / atau surat berharga tertentu sebagai margin untuk menjamin transaksi Kontrak Berjangka.

7. Pialang Berjangka Anggota Kliring Tertentu

Pialang Berjangka Anggota Kliring Tertentu adalah perusahaan yang dapat menawarkan dan / atau menyalurkan amanat Nasabah untuk transaksi kontrak berjangka ke bursa luar negeri. Saat ini telah diberikan persetujuan kepada 3 perusahaan Pialang Berjangka, yaitu PT. Pacific 2000 Futures, PT. Asia Kapitalindo Komoditi Berjangka, dan PT. Jalatama Artha Berjangka.

8. Pedagang Berjangka

Pedagang Berjangka adalah Anggota Bursa Berjangka yang hanya berhak melakukan transaksi Kontrak Berjangka di Bursa Berjangka untuk diri sendiri atau kelompok usahanya.

9. Penasihat Berjangka

(43)

10. Sentra Dana Berjangka

Sentra Dana Berjangka adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana secara kolektif dari masyarakat untuk diinvestasikan dalam Kontrak Berjangka. 11. Pengelola Sentra Dana Berjangka

Pengelola Sentra Dana Berjangka adalah pihak yang melakukan usaha yang berkaitan dengan penghimpunan dan pengelolaan dana dari peserta Sentra Dana Berjangka untuk diinvestasikan dalam Kontrak Berjangka.

12. Bank Penitipan

Bank Penitipan adalah bank tempat menyimpan rekening terpisah milik Nasabah (segregated account).

13. Nasabah

Nasabah adalah pihak yang melakukan transaksi Kontrak Berjangka melalui rekening yang dikelola oleh Pialang Berjangka.143

C. Pengertian Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi

Perusahaan Pialang atau juga disebut Broker Aggota Bursa (AB), adalah pihak yang membantu nasabah untuk melakukan pembelian atau penjualan efek di bursa.144 Perusahaan pialang adalah institusi yang melayani order nasabah untuk menjual atau membeli produk-produk berjangka. Perumpamaan seperti toko grosir yang bertindak sebagai perantara antara tukang belanja dan perusahaan yang memproduksi makanan-makanan tersebut, perusahaan pialang bertindak sebagai

143

 Ibid 

144

(44)

perantara antara produk-produk yang diperdagangkan dan nasabah yang hendak membeli atau menjualnya. Dengan demikian, Perusahaan Pialang hanya akan melakukan pembelian atau penjualan jika sudah mendapat perintah dari nasabah.145

Harga dan besarnya volume juga ditentukan oleh nasabah. Jadi perusahaan pialang tidak bisa menetapkan harga atau jumlah yang akan dibeli / jual sekehendak hatinya. Namun ada juga perusahaan pialang yang melakukan pembelian atau penjualan atas nama perusahaan pialang itu sendiri.146

Pialang berjangka menawarkan banyak kesempatan bagi investor dengan modal dan adanya risiko. Spekulator berjangka sama halnya dengan mereka yang berinvestasi pada saham, obligasi, dan properti yaitu mencari keuntungan dengan mengambil risiko tentunya dengan ekspektasi mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga.147

Jadi dapat disimpulkan bahwa, Perusahaan Pialang yang selanjutnya disebut dengan Pialang Berjangka adalah badan usaha yang melakukan kegiatan jual beli komoditi berdasarkan Kontrak Berjangka atas amanat Nasabah dengan menarik sejumlah uang dan / atau surat berharga tertentu sebagai margin untuk menjamin transaksi tersebut.148

Dalam menjaring nasabahnya, Pialang Berjangka wajib dan harus tunduk pada ketentuan etika/ pedoman perilaku sebagaimana dimaksud dan diatur Undang-Undang No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi

Hamdy Hady, Forex For Manager ( Jakarta : Ghalia Indonesia, 2001 ) hal. 13   

148

(45)

dan Peraturan-peraturan yang ditetapkan dan dikeluarkan oleh BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka komoditi).149

Pasal 50 Undang-Undang No. 32 Tahun 1997, mensyaratkan bahwasanya Pialang Berjangka dalam menjalankan usahanya dan ketika berhadapan dengan calon nasabah/ nasabah wajib mengetahui latar belakang, keadaan keuangan, dan pengetahuan mengenai Perdagangan Berjangka dari Nasabahnya (pasal 50 ayat (1) UU No. 32/1997). Bahwa kemudian, dalam rangka perlindungan Nasabah, Pialang Berjangka wajib terlebih dahulu menyampaikan Dokumen Keterangan Perusahaan kepada Nasabahnya, yang antara lain memuat keterangan mengenai organisasi dan kepengurusan perusahaan tersebut. Adapun yang dikatakan Dokumen keterangan Perusahaan adalah sebagaimana yang dimaksud Pasal 3 ayat (1) huruf (b) Peraturan Kepala BAPPEBTI No. 64/ BAPPEBTI/ per/ 1/ 2009 tentang Perubahan Peraturan Kepala BAPPEBTI No.63/BAPPEBTI/per/9/2008 tentang Ketentuan Teknis Perilaku Pialang Berjangka yakni dokumen Keterangan Perusahaan berupa profil perusahaan yang telah disetujui BAPPEBTI.150

Setelah menjelaskan dokumen keterangan perusahaan, Pialang Berjangka diwajibkan terlebih dahulu untuk menjelaskan segala risiko yang mungkin dihadapi nasabahnya, sebagaimana tercantum dalam Dokumen Pemberitahuan Adanya Risiko. Apabila Nasabahnya mengerti dan dapat menerima risiko tersebut, nasabah tersebut harus menandatangani dan memberi tanggal pada dokumen tersebut, yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah mengerti

149

 www.redgage.com, Diakses terakhir Tanggal 9 Mei 2011 

150

(46)

risiko yang akan dihadapi dan menyetujuinya (pasal 50 ayat (2) UU No. 32/1997).151

Perlu diperhatikan, bahwasanya berdasarkan Pasal 7 huruf (b) Peraturan Kepala BAPPEBTI No.64/ BAPPEBTI/per/1/2009, Pegawai Pialang Berjangka atau pihak lainnya yang memiliki kepentingan dengan Perusahaan Pialang Berjangka dilarang: secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi calon nasabah atau nasabah dengan memberikan informasi yang menyesatkan untuk melakukan transaksi Kontrak Berjangka. Jadi, dalam aktifitasnya mencari nasabah, wakil pialang dan atau marketing Pialang Berjangka tidak diperkenankan untuk memberikan prediksi keadaan pasar bursa berjangka kepada calon nasabah/ nasabahnya apalagi menjanjikan suatu keuntungan (profit) dari nilai investasi yang diberikan.152

D. Pendirian Dan Pembubaran Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi

1.Pendirian Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi

Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang Perdagangan Berjangka Komoditi maka untuk mendirikan perusahaan tersebut harus mengikuti aturan yang mengatur mengenai Bursa Berjangk Komoditi. Untuk mendirikan Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi maka harus berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan telah mendapat izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) seperti yang

151

Ibid 

152

(47)

terdapat dalam Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang No.32 Tahun 1997, yaitu sebagai berikut:

“Kegiatan usaha sebagai Pialang Berjangka hanya dapat dilakukan oleh Anggota Bursa Berjangka yang berbentuk perseroan terbatas yang telah memperoleh izin usaha Pialang Berjangka dari BAPPEBTI.”

Untuk memperoleh izin dari BAPPEBTI maka harus memenuhi syarat yang terdapat dalam PP No.9 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Komoditi yang terdapat dalam Pasal 40 dan 41 yaitu sebagai berikut:

Pasal 40

(1) Permohonan untuk memperoleh izin usaha Pialang Berjangka diajukan kepada BAPPEBTI disertai dengan dokumen dan/atau keterangan sebagai berikut: a. akta pendirian Perseroan Terbatas yang telah disahkan oleh Menteri

Kehakiman;

b. daftar nama pemegang saham; c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

d. rencana kegiatan usaha yang meliputi organisasi, sistem penerimaan dan pendidikan serta pelatihan pegawai, penyiapan sarana telekomunikasi dan sistem informasi, sistem pengawasan dan pelaksanaan peraturan, rencana operasi dan pengelolaan transaksi, serta proyeksi keuangan untuk 3 (tiga) tahun;

(48)

g. tanda bukti pembukaan rekening terpisah untuk dana Nasabah;

h. bukti keanggotaan pada Bursa Berjangka dan setoran Dana Kompensasi; i. daftar nama supervisor; dan

j. daftar nama tenaga ahli yang memiliki izin sebagai Wakil Pialang Berjangka dari BAPPEBTI.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diajukan dengan menggunakan formulir yang bentuk dan isinya ditetapkan oleh BAPPEBTI. (3) Izin usaha Pialang Berjangka diberikan setelah memperhatikan semua

persyaratan dan berita acara pemeriksaan sarana fisik yang dilakukan oleh BAPPEBTI.153

Pasal 41

Pialang Berjangka wajib sekurang-kurangnya memiliki 3 (tiga) orang Wakil Pialang Berjangka yang berkedudukan sebagai salah seorang direktur dan 2 (dua) orang pegawai Pialang Berjangka yang bersangkutan.154

Agar dapat memenuhi syarat untuk memperoleh izin dari BAPPEBTI maka harus dilakukan pendirian Perseroan Terbatas terlebih dahulu, ketentuan pendirian Perseroan Terbatas tentunya terdapat pada UU No.40 Tahun 2007 seperti dibutuhkan minimal 2 orang sebagai Pendiri Perseroan yang juga sekaligus bertindak sebagai Pemegang Saham didalam Perseroan. Para pendiri PT disini adalah Warga Negara Indonesia yang turut menyertakan modal ke dalam perseroan, dengan ketentuan minimum Modal dasar Rp.50.000.000,- ( limapuluh

153

  Peraturan-Pemerintah No.9 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Komoditi Berjangka, Pasal 40

154

(49)

juta rupiah ). Para pendiri juga dapat bertindak sebagai Pengurus didalam Perseroan ini baik sebagai Direktur atau Komisaris. Jika terdapat jumlah Direktur atau Komisaris lebih dari satu orang maka salah satu dapat diangkat sebagai Direktur Utama atau sebagai Komisaris Utama.

Pertama kali yang harus dilakukan untuk mendirikan Perseroan Terbatas (PT) adalah menetapkan Kerangka Anggaran Dasar Perseroan sebagai acuan untuk dibuatkan Akta Otentik sebagai Akta Pendirian oleh Notaris yang berwenang. Kerangka Anggaran Dasar Perseroan meliputi;

a. Pendiri Perseroan

Untuk menetapkan nama para pendiri Perseroan maka harus memenuhi ketentuan seperti dibawah ini ;

1) Jumlah Pendiri minimal 2 ( dua ) orang.

2) Pendiri harus Warga Negara Indonesia kecuali pendirian PT yang dimaksud adalah dalam rangka fasilitas Penanaman Modal Asing ( PMA ). 3) Para pendiri pada saat perseroan ini didirikan yaitu saat Pembuatan Akta

Pendirian PT harus menjadi Pemegang Saham didalam Perseroan.

(50)

b. Nama Perseroan Terbatas

Mengingat pemakaian PT tidak boleh sama atau mirip sekali dengan Nama PT yang sudah ada maka yang perlu siapkan adalah 2 atau 3 pilihan nama PT, usahakan nama PT mencerminkan kegiatan usaha. Sebelum akta dibuat, Notaris akan melakukan pengecekan terlebih dahulu untuk mengetahui Nama PT tersebut bisa digunakan atau tidak. Jika bisa, sebaiknya langsung melakukan pemesanan untuk menghindari nama tersebut akan digunakan oleh pihak lain.

Pemakaian nama Perseroan Terbatas diatur oleh Peraturan Pemerintah No.26 tahun 1998 tentang Pemakaian Nama Perseroan Terbatas. Kedudukan perseroan harus berada di wilayah Republik Indonesia dengan menyebutkan nama Kota dimana perseroan melakukan kegiatan usaha sebagai Kantor Pusat.

c. Maksud dan Tujuan Serta Kegiatan Usaha

Setiap perseroan yang didirikan dapat melakukan kegiatan usaha yang sama dengan perseroan lain atau berbeda, bersifat khusus atau umum sesuai dengan keinginan para pendiri perseroan. Namun ada beberapa bidang usaha yang hanya bisa didirikan dengan ketentuan modal tertentu sesuai dengan peraturan yang mengatur kegiatan usaha tersebut. Karena ini membahas tentang pendirian Perusahaan Pialang Berjangka maka maksud dan tujuan serta kegiatan usaha adalah sebagai jasa bagi investor yang ingin melakukan investasi di Bursa Berjangka.

d. Modal Perseroan

(51)

atau Peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan kegiatan usaha tertentu di Indonesia. Dari modal dasar tersebut minimal 25% ( dua puluh lima persen ) atau sebesar Rp.12.500.000,- ( dua belas juta limaratus ribu ) harus sudah ditempatkan dan disetor penuh pada saat akan mengajukan permohonan Persetujuan Menteri Kehakiman RI.

Pemegang saham untuk pertama kali adalah Pendiri Perseroan jumlahnya minimal 2 (dua) orang, jadi harus ditentukan sendiri berapa jumlah modal yang ditempatkan dan disetor oleh para pendiri perseroan.

e. Pengurus Perseroan

Jumlah pengurus dalam perseroan minimal 2 (dua) orang, satu sebagai Direktur dan satu lagi sebagai Komisaris. Jika jumlah pengurus lebih dari 2 (dua) orang, misalnya yang akan menjadi Direktur ada 2 dan Komisaris 1 orang, maka salah satu Direktur diangkat menjadi Direktur Utama begitu juga jika komisaris ada 2 orang maka salah satu diangkat menjadi Komisaris Utama.

Dalam hal ini pendiri perseroan dapat diangkat sebagai Direktur atau Komisaris atau mengangkat sesorang menjadi Direktur atau Komisaris didalam Perseroan.

f. Jangka Waktu Berdirinya Perseroan

(52)

Perusahaan, NPWP (Nomor pokok wajib pajak), SP-PKP, Pengesahan Menteri Kehakiman RI, SIUP atau Izin Usaha Lainnya dan TDP(Tanda daftar perusahaan).

Tahapan Proses Pendirian dan Perizinan PT

TAHAP 1 : Persiapan ( Konsultasi, Pengisian Formulir Pendirian PT dan Surat Kuasa )

Konsultasi diperlukan untuk mengetahui ruang lingkup pendirian PT, biaya dan cara pembayaran, prosedur dan persyaratan yang dibutuhkan untuk pendaftaran dan perizinan serta berbagai aspek terkait dengan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan perseroan. Persiapan dilakukan oleh para pendiri peseroan dengan mengisi formulir dan surat kuasa pendirian PT.

TAHAP 2 : Pemeriksaan Formulir, Surat kuasa dan Pengecekan Nama PT

Pemeriksaan formulir dan surat kuasa dilakukan untuk memastikan kebenaran data yang disampaikan, pengecekan dilakukan untuk mengetahui Apakah nama perseroan yang dipilih sudah dimiliki perusahaan lain atau belum, jika belum nama tersebut langsung bisa didaftarkan oleh Notaris dan jika nama perseroan sudah dimiliki, maka harus mengganti dengan nama yang lain. Persyaratan ;

a. Melampirkan asli Formulir dan Surat Kuasa Pendirian PT b. Melampirkan copy KTP para pendiri dan pengurus

(53)

TAHAP 3 : Pendaftaran dan Persetujuan pemakaian nama PT

Proses pendaftaran dilakukan oleh Notaris untuk mendapatkan Persetujuan dari Instansi terkait ( Menteri Kehakiman ) sesuai dengan Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang PT dan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1998 tentang “ Pemakaian Nama Perseroan Terbatas ”, lama proses persetujuan ; 5 (lima) hari kerja setelah permohonan diajukan

TAHAP 4 : Pembuatan Draft/Notulen Anggaran Dasar PT

Draf/Notulen anggaran dasar dibuat berdasarkan informasi yang dibuat oleh para pendiri perseroan didalam Formulir pendirian PT dan Surat Kuasa, lama proses ; 1 ( satu ) hari kerja setelah permohonan diajukan dan persyaratan yang dibutuhkan ; sama dengan Tahap 2

TAHAP 5 : Pembuatan Akta Pendirian PT oleh Notaris yang berwenang Proses pembuatan Akta Pendirian dilakukan setelah Nama PT disetujui, Akta Pendirian PT akan dibuat dan ditandatangani oleh Notaris yang berwenang dan dibuat dalam bahasa Indonesia sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang “ Perseroan Terbatas ”, lama Proses ; 1 ( satu ) hari kerja setelah permohonan diajukan, persyaratannya melampirkan Copy KTP Pendiri Perseroan dan Copy KTP Pengurus jika berbeda dengan Pendiri Perseroan

TAHAP 6 : Surat Keterangan Domisili Perusahaan

(54)

bukti keterangan/keberadaan alamat perusahaan, lama Proses ; 2 ( dua ) hari kerja setelah permohonan diajukan. Persyaratan lain yang dibutuhkan :

a. Copy Kontrak/Sewa tempat usaha atau bukti kepemilikan tempat usaha

b. Surat keterangan dari pemilik gedung apabila berdomisili digedung perkantoran c. Copy PBB tahun terakhir sesuai tempat usaha untuk perusahaan yang

berdomisili di Ruko/Rukan

TAHAP 7 : NPWP-Nomor Pokok Wajib Pajak dan Surat Keterangan sebagai Wajib Pajak

Permohonan pendaftaran nomor pokok wajib pajak diajukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak sesuai dengan keberadaan domisili perusahaan, lama Proses NPWP ; 2 ( dua ) hari kerja setelah permohonan diajukan dan lama Proses SKT wajib pajak ; 2 ( dua ) hari kerja setelah permohonan diajukan. Persyaratan lain yang dibutuhkan :

- Bukti PPN atas sewa/kontrak tempat usaha bagi yang berdomisili di gedung perkantoran

TAHAP 8 : Pengesahan Menteri Kehakiman Republik Indonesia

Permohonan ini diajukan oleh Notaris kepada Menteri Kehakiman RI untuk mendapatkan pengesahan Anggaran Dasar Perseroan (Akta Pendirian) sebagai Badan Hukum PT sesuai Undang-undang Nomor 40 tahun 2007155

2.Pembubaran Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi

155

(55)

Perusahaan Pialang Berjangka Komoditi merupakan perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) maka secara umum, ketentuan mengenai pembubaran terdapat pada Undang-Undang No.40 Tahun 2007 diatur dalam pasal 142 sampai dengan pasal 152. Hal-hal yang dapat mengakibatkan dibubarkannya perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yaitu:

a. Berdasarkan keputusan RUPS;

Pelaksanaan RUPS dengan materi acara Pembubaran PT diikuti dengan penunjukan Likuidator untuk melakukan proses likuidasi (pasal 142 ayat 1 dan 2). Likuidator harus mengumumkan 3 kali dalam Surat Kabar ( mengenai pembubaran, rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi dan hasil akhir proses likuidasi ) dan 1 kali dalam BNRI (mengenai pembubaran), serta memberitahukan kepada Menteri 2 kali (mengenai pembubaran dan hasil akhir likuidasi).156

b. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir;

Dalam hal Pembubaran Perseroan terjadi karena jangka waktu berdirinya Perseroan yang ditetapkan dalam anggaran dasar berakhir, paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah jangka waktu berdirinya Perseroan berakhir RUPS menetapkan penunjukan likuidator dan direksi tidak boleh melakukan perbuatan hukum baru atas nama Perseroan setelah jangka waktu berdirinya Perseroan yang ditetapkan dalam anggaran dasar berakhir.157

Menteri, atas permohonan Direksi dapat memperpanjang jangka waktu tersebut. Permohonan memperpanjang jangka waktu tersebut hanya dapat

156 

Jusuf Patrich, “Praktek Pelaksanaan Pembubaran”, http:// notarissby. blogspot. Com , Diakses terakhir hari minggu, tanggal 22 Mei 2011. 

157

(56)

dilakukan berdasarkan keputusan RUPS yang dihadiri oleh pemegang saham yang mewakili paling sedikit ¾ (tiga perempat) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah dan disetujui oleh paling sedikit ¾ (tiga perempat) bagian dari jumlah saham tersebut. Dalam hal jangka waktu berdirinya PT berakhir dan RUPS memutuskan tidak memperpanjang jangka waktu tersebut, proses likuidasinya dilakukan sesuai dengan ketentuan likuidasi perseroan.158

c. Berdasarkan penetapan pengadilan;

Pengadilan Negeri dapat membubarkan perseroan terbatas atas :

1).permohonan kejaksaan berdasarkan alasan Perseroan melanggar kepentingan umum atau Perseroan melakukan perbuatan yang melanggar peraturan perundang-undangan;

2). permohonan pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan adanya cacat hukum dalam akta pendirian;

3). permohonan pemegang saham, Direksi atau Dewan Komisaris berdasarkan alasan Perseroan tidak mungkin untuk dilanjutkan.159

Dalam penetapan Pengadilan ditentukan pula penunjukkan likuidator.

d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan.

158 

Santi Lina, “Pembubaran dan Likuidasi dalam Perseroan Terbatas”, http:// entrepreneur muda. Com, Diakses terakhir hari minggu tanggal 22 Mei 2011. 

159

(57)

Dalam hal pembubaran Perseroan terjadi dengan dicabutnya kepailitan , pengadilan niaga sekaligus memutuskan pemberhentian kurator dengan memperhatikan ketentuan dalam undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.160

e. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

f. Karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.161

Perusahaan pialang berjangka dapat dibubarkan karena disebabkan pencabutan izin oleh BAPPEBTI, pencabutan izin dapat disebabkan oleh perbuatan mal praktek yang dilakukan oleh perusahaan tersebut seperti menyalahgunakan dana nasabah direkening terpisah, tidak mendaftarkan seluruh transaksi ke bursa, tidak memenuhi ketentuan mengenai wakil pialang dan tidak dapat memfasilitasi penyampaian amanat dari nasabah.

Dalam hal terjadi pembubaran Perseroan karena hal diatas:

1). wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh likuidator atau kurator; Likuidasi dari perseroan terbatas yang telah bubar wajib diberitahukan kepada semua krediturnya dengan surat tercatat mengenai bubarnya perseroan terbatas. Pemberitahuan tersebut memuat nama dan alamat likuidator; tata cara

160

 Undang-Undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pasal 142 ayat 4 

161

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...