NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

42 

Teks penuh

(1)

(Anthocephalus cadamba) DENGAN PEMBERIAN PUPUK KOMPOS KOTORAN SAPI PADA BEBERAPA KETINGGIAN TEMPAT

Oleh

AGUS WAHYUDI

Skripsi

sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar

SARJANA KEHUTANAN

pada

Jurusan Kehutanan

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

UPAYA PENINGKATAN PERTUMBUHAN TANAMAN JABON (Anthocephalus cadamba) DENGAN PEMBERIAN PUPUK KOMPOS

KOTORAN SAPI PADA BEBERAPA KETINGGIAN TEMPAT

Oleh

Agus Wahyudi1), Indriyanto2), dan Melya Riniarti2)

Jabon merupakan salah satu jenis tumbuhan yang berdaur pendek karena pertumbuhannya yang cepat. Pohon jabon tidak memerlukan tindakan khusus dalam pemeliharaannya. Pemeliharaan tanaman yang umum dilakukan pada awal penanaman adalah pemupukan. Pupuk organik seperti pupuk kompos kotoran sapi sebagai bahan tambahan campuran tanah pada saat penanaman dapat menambah zat-zat hara di dalam tanah yang dibutuhkan tanaman untuk

pertumbuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pupuk kompos kotoran sapi, dosis pupuk berpengaruh terbaik dan ketinggian tempat tumbuh yang baik terhadap pertumbuhan jabon.Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni— Oktober 2012 di hutan tanaman rakyat Lampung Barat. Penelitian ini dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 3 kelompok dan 6 perlakuan.

Ketinggian sebagai kelompok terdiri dari 124 m, 118 m, dan 116 m diatas

(3)
(4)
(5)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... vi

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat ... 4

E. Kerangka Pemikiran ... 4

F. Hipotesis ... 7

II.TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Jabon (Anthocephalus cadamba) ... 8

B. Langkah Penanaman jabon ... 10

C. Ketinggian Tempat ... 13

D. Tanah ... 14

E. Pupuk dan Pemupukan ... 15

(6)
(7)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat berguna untuk meningkatkan perekonomian rakyat dari hasil kayu dan non-kayunya, namun keberadaan sumber daya hutan di Indonesia beberapa dekade ini mengalami proses penurunan

kualitas dan kuantitas. Penurunan tersebut diakibatkan oleh kerusakan sumber daya hutan seperti penjarahan hutan, kebakaran hutan dan perilaku manusia yang buruk terhadap hutan.Selain itu, kebutuhan kayu di Indonesia setiap tahun

meningkat dan diperkirakan kebutuhan kayu nasional Indonesia mencapai lebih dari 60 juta m³.Lima puluh persen dari kebutuhan kayu tersebut digunakan sebagai bahan baku industri kayu lapis atau plywood (Halawane dkk., 2011).

(8)

2 Hutantanaman merupakan program pengelolaan hutan yang sangat penting

sebagai salah satu pemasok kayu bahan baku industri dan rumah tangga.Tanaman yang saat ini banyak dikembangkan pada hutan tanaman yaitu jabon

(Anthocephalus cadamba). Jabonmerupakan salah satu jenis tumbuhan lokal Indonesia yang sesuai untuk pembangunan hutan tanaman. Pohon

jabonmerupakan pohon dengan pertumbuhan cepat, kondisi fisik batang lurus serta kayunyamemenuhi syarat untuk bahan baku industri kehutanan seperti industri kayu lapis, industri mebel, papan, dan korek api(Mansur dan Tuheteru,2011).

Pohon jabon tidak memerlukan tindakan khusus dalam pemeliharaannya.

Pemeliharaan tanaman yang umum dilakukan pada awal penanaman jabon adalah pemupukan.Pemupukan merupakan suatu tindakan menambahkan sejumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman ke dalam tanah.Untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal pada lahan yang kurang subur, pemberian pupuksangat diperlukan agar unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tercukupi dengan baik.

(9)

seperti suhu, radiasi matahari dan curah hujan.Sebagai contoh,peningkatan suhu akan menyebabkan kadar air tanah cepat hilang akibat evaporasi. Hal tersebut dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan

tanaman.Pada dasarnya ketinggian tempat akan mempengaruhi tanaman untuk dapat hidup. Hal ini ditunjukkan bahwa setiap tanamansangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim.Pada setiap jenis tanaman memiliki ketinggian tempat tumbuh minimun dan maksimum untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Informasi mengenai pemberian dosis pupuk kompos kotoran sapi dan ketinggian tempat tumbuh untuk tanaman jabon masih terbatas, oleh karena itu perlu

dilakukan penelitian tentang upaya perbaikan pertumbuhan tanaman jabon dengan pemberian pupuk kompos kotoran sapipada beberapa ketinggian tempat agar memberikan informasi mengenai dosis dan ketinggian yang tepat bagi pertumbuhan tanaman jabon.

B.Perumusan Masalah

Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh pupuk kompos kotoran sapi pada berbagai dosis dan pengaruh perbedaan ketinggian tempat terhadap pertumbuhan tanaman jabon.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

(10)

4 2. Mengetahui dosis pupuk kompos kotoran sapi yang berpengaruh terbaik

terhadap pertumbuhan tanaman jabon.

3. Mengetahui ketinggian tempat tumbuh yang terbaik terhadap pertumbuhan tanaman jabon.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perlakuan pada awal waktu penanaman yaitu pemberian pupuk kompos dengan dosis yang tepat untuk pertumbuhan jabon.

E. Kerangka Pemikiran

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam masa pertumbuhan tanaman. Faktor penting yang perlu diperhatikan ketika tanaman akandipindahkan ke lapanganadalah ketinggian tempat tumbuh dan ketersedian unsur hara di dalam tanah.

Ketinggian tempat tumbuh tanaman dihitung atau ditetapkan berdasarkan ketinggian dari permukaan air laut (elevasi). Tinggi tempat dari permukaan laut menentukan suhu udara dan intensitas sinar matahari yang diterima oleh

tanaman.Menurut Soetrisno (1998) yang dikutip oleh Anonymous (2011),Pada ketinggian yang lebih tinggi radiasi sinar matahari lebih terik atau panas daripada ketinggian yang lebih rendah.

(11)

menjadi lambat. Kesesuaian tinggitempat tumbuh akan memberikanpertumbuhan yang baik bagi tanaman.

Menurut Mansur dan Tuheteru (2011) jabon memiliki toleransi yang luas terhadap ketinggian tempat tumbuh, berkisar 0—1.000 m dpl, tetapi ketinggian tempat optimal yang menunjang produktivitasnya adalah kurang dari 500 m dpl.jabon memang dapat ditanam di daratan tinggi. tetapi ukuran ideal dari ketinggian tersebut adalah 500 meter. Dengan ketinggian tersebut maka pertumbuhan jabon akan sangat produktif. Sebab, lahan dengan ketinggian 500 meter akan sulit untuk tergenang air.

Selain ketinggian tempat tumbuh,faktor lain yang berpengaruhbagi pertumbuhan tanaman adalah ketersediaan unsur hara. Ketersediaan unsur hara yang lengkap dan berimbang yang dapat diserap oleh tanaman merupakan faktor yang menentukan

pertumbuhan dan produksi tanaman.Unsur hara merupakan nutrisi atau makanan

yang dibutuhkan untuk kehidupan tanaman.Salah satu carauntuk menambah ketersediaan hara pada tanahadalah dengan pemupukan.

Pemupukan merupakan suatu tindakan menambahkan unsur hara berupa unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman ke dalam tanah atau ke

(12)

6 Tidak lengkapnya unsur hara makro dan mikro dapat mengakibatkan hambatan bagi pertumbuhan/perkembangan tanaman dan

produktivitasnya.Ketidaklengkapan salah satu atau beberapa zat hara tanaman makro dan mikro dapat diperbaiki dengan pupuk tertentu pada tanahnya.Zat hara merupakan zat atau bahan yang dibutuhkan oleh tumbuhan berupa mineral yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Sutedjo, 2010).

Pemupukan menggunakan pupuk organik dalam penggunaanya pupuk tersebut harus diberikan dalam jumlah banyak karena memiliki kandungan unsur hara yang rendah.Pemberian pupuk untuk tanaman jabon berupa pupuk organik yaitu pupuk kompos atau pupuk kandang yang digunakan untuk penanaman ke lapangan direkomendasikan oleh Mansur dan Tuheteru(2011)jumlahnyaadalah 2—5 kg pertanaman, bergantung kepada kesuburan tanahnya.

Pupuk kandangmerupakan pupuk yang berasal dari kotoran hewan, kotoran hewan yang dipakai pada penelitian ini adalah kotoran sapi yang telah

dikomposkan.Beberapa manfaat dari kotoran sapi yaitu sebagai pembenahan tanah dan sebagai penyedia unsur hara dalam tanah untuk tanaman.

(13)

F. Hipotesis

Hipotesis yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Penggunaan pupuk kompos yang digunakan berpengaruh terhadap pertumbuhan jabon.

2. Pemberian pupuk kompos kotoran sapi 5 kg pertanaman berpengaruh paling baik dibandingkan dengan pemberian pupuk kompos 0 kg, 2 kg, 3 kg, 4 kg, dan 6 kg.

(14)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Jabon

1. Susunan klasifikasi jabon sebagai berikut (Mansur dan Tuheteru, 2011). Regnum : Plantae (Tumbuhan).

Subregnum : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh). Super Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji). Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga).

Kelas : Magnoliopsida/Dicotyledoneae (Tumbuhanberkeping biji dua). Sub Kelas : Asteridae.

Ordo : Rubiales. Famili : Rubiaceae. Genus : Anthocephalus.

Spesies : Anthocephalus cadamba.

2. Penyebaran jabon dan tempat tumbuh

(15)

Di Indonesia sendiri jabon ternyata memiliki daerah penyebaran alami hampir diseluruh wilayah Indonesia seperti Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur,

Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Di Maluku terdapat jabon merah dengan nama ilmiah

(Anthocephalusmacrophyllus). Jabon jenis ini lebih terbatas penyebarannya dibandingkan dengan jabon putih (Anthocephalus cadamba)(Mansur dan Tuheteru,2011).

3. Kegunaan

Menurut Mulyana dkk. (2011) beberapa kegunaan dari jabon antara lain sebagai berikut :

a. Kayu jabon digunakan untuk korek api, pinsil dan sumpit karena sifatkayu jabon ringan, serat lebih halus sehingga mudah pengerjaansewaktu diolah menggunakan mesin atau sewaktu masuk ke mesin pengolahan.

b. Kayu jabon dapat digunakan sebagai peti pembungkus atau peti kemas karena mempunyai keteguhan gesek, keteguhan pukul, dan cukup ringan. Kayu jabon biasanyadigunakan sebagai paking box sebelum barang yang dikemas dimuat atau dimasukkan kedalam container sewaktu pengiriman barang karena sifat kayu jabontahan terhadap serangan jamur perusak.

c.Kayu jabon dapat digunakan untuk bahan kerajinan tangan berupa hiasan karena menpunyai sifat kayu yang lunak dan serat halus sehinggamudah dalam pengerjaannya.

d. Kayu jabon juga dapat digunakan sebagai bahan baku kertas (pulp)

(16)

10

e. Kayu jabon dapat digunakan sebagai konstruksi ringan yang bersifat sementara dan jangka waktu pendek mengingat kayu jabontermasuk kelas awet IV—V. tapi kayu jabon tidak cocok untuk konstruksibangunan permanen.

f.Kayu jabon dapat digunakan untuk veneer atau bahan baku kayu lapis (plywood) karena memiliki serat yang halus, berat kayu tergolongringan, padaumumnya bentuk batang silindris sehingga tidak banyakbahan yang terbuang sewaktu masuk mesin rotary (pengupasan), dan mempunyai tingkatkeuletan yang baik sehigga veneer yang dihasilkan tidakmudah robekatau patah mengingat panjang serat cukup tinggi.

B. Langkah Penanaman Jabon

Penanaman merupakan suatu proses yang penting dalam budidaya jabon. Menurut Mansur dan Tuheteru (2011) hal-hal yang terkait dalam penanaman jabon antara lain meliputi persiapan bibit, persiapan lahan, penentuan jarak tanam, pembuatan lubang tanam, dan tahap penanaman.

1. Persiapan bibit

a.Cara mendapatkan bibit

Bibit dapat diproduksi sendiri atau dibeli dari pihak lain. Keuntungan dari memproduksi bibit sendiri adalah mutu bibit, jumlah bibit, dan ketepatan waktu penyediaannya terjamin.

b.Kriteria bibit yang baik

(17)

1)umur bibit telah 3—5 bulan, 2)berbatang lurus,

3)tinggi bibit berkisar 25—35 cm, tidak terlalu kecil atau tidak terlalu tinggi,

4)perbandingan antara diameter dan tinggi seimbang ( diameter sekitar 0,5 cm) sehingga bibit terlihat tampak kokoh, dan

5)bibit sehat serta bebas dari hama dan penyakit.

2. Persiapan lahan

a.Pembukaan lahan

Pembukaan lahan dilakukan dengan menebang pohon dan menebas semak belukar serta menyingkirkannya dari lahan penanaman.Adapun 3 pola pembersihan lahan yang saat ini dikenal, yaitu sebagai berikut:

1) Pembersihan secara total; seluruh areal yang akan ditanami dibersihkan dari gulma,

2) Pembersihan jalur tanam; hanya gulma yang berada pada jalur tanam dibersihkan 0,5—1 meter kanan-kiri jalur tanam,

3) Pola piringan; hanya gulma disekitar lubang tanam saja yang dibersihkan dengan jari-jari 0,5—1 meter.

3. Penentuan jarak tanam

(18)

12 2 m. Namun, jika tujuan penanaman adalah untuk menghasilkan kayu

pertukangan dan veneer,maka diperlukan jarak tanam yang lebih lebar, yakni minimum 3 m x 3m.

4. Pembuatan lubang tanam

Pada prinsipnya, dalam membuat lubang tanam adalah semakin besar ukuran lubang tanaman akan semakin baik karena volume tanah yang digemburkan berarti semakin besar dan volume kompos yang dapat dimasukkan ke lubang tanam juga bertambah banyak. Lubang tanam idealnya dibuat 2 minggu sebelum penanamandan pada titik-titik yang akan dibuat lubang tanam, diberi tanda dengan ajir yang ditancapkan di tiap-tiap calon lubang tanam.

5.Tahap penanaman

Penanaman pohon sebaiknya dilakukan pada permulaan musim hujan, waktu penanaman pagi hari pukul 07.00—11.00dan pada sore hari pukul 14.00— 17.00.Sebelum bibit ditanam, bibit disiram terlebih dahulu sampai jenuh kemudian diangkut ke lokasi penanaman.Adapun teknik menanam bibit jabon yang benar yakni.

a. Memasukan tanah yang telah dicampur dengan kompos dan pupuk NPK ke lubang tanam,

b. Memadatkan media dalam polybag secara hati-hati, c. Melepaskan polybag secara hati-hati,

(19)

C.Ketinggian tempat

Menurut Soetrisno (1998)yang dikutip oleh Anonymous (2011)kondisiiklim bervariasi berdasarkan ketinggian tempat. Bagian-bagian yang lebih tinggi dari suatudaerah umumnya lebih banyak terkena butiran pasir yang dibawa oleh angin daripada bagian-bagian yang lebih rendah.Angin lebih keras meniup pada elevasi-elevasi yang tinggi daripada elevasi-elevasi-elevasi-elevasi yang lebih rendah.Atmosfer kurang rapat pada elevasi-elevasi yang lebih tinggi oleh karena itu kurang dapat

mengabsorbsi dan memegang panas.Lembah-lembah dan jurang-jurang dapat lebih banyak terkena bahaya hawa dingin dibandingkan lereng-lereng didekatnya yang berada beberapa ratus meter lebih tinggi.

Selanjutnya menurut Soetrisno (1998)yang dikutip oleh Anonymous (2011) beberapa hasil penelitian yang pernah diadakan memberikan kesimpulan bahwa ketinggian tempat mempunyai efek secara tidak langsung terhadap riap dan bentuk pohon hutan.

Efek tidak langsung dari bertambahnya ketinggian tempat terhadap pohon-pohon secara individu antara lain:

1. pertumbuhan tinggi menurun secara teratur, 2. riap total lambat laun akan menurun,

3. jangka waktu untuk berkembang lebih lama ,yaitu pohon memerlukan waktu lebih lama untuk menjadi dewasa,

4. perkembangan tajuk lambat laun menjadi lebih rendah dan lebih mendekati tanah, dan

(20)

14 D. Tanah

Tanah idealnya dapat menyediakan sejumlah unsur hara penting yang dibutuhkan oleh tanaman.Penyerapan unsur hara oleh tanaman semestinya dapat segera diperbarui sehingga kandungan unsur hara didalam tanah tetap seimbang (Novizan, 2007).

Tanah yang subur yaitu tanah yang mempunyai profil yang dalam (kedalaman yang sangat dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH sekitar 6— 6,5,-mempunyai aktivitas jasad renik yang tinggi (Sutedjo, 2010).

Menurut (Sutedjo, 2010) kesuburan tanah dan produktivitas tanah masing-masing mempunyai ciri yang relevan dan diuraiakan sebagai berikut.

1. Kesuburan tanah

a. Kesanggupan tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang tepat.

b. Suatu keadaan tanah di mana tata air, udara dan unsur hara dalamkeadaan cukup, seimbang dan tersedia sesuai dengan kepentingan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

2. Produktivitas tanah

a. Kesanggupan tanah untuk menyediakan unsur hara dalam hal yang menyangkut pengelolaanya.

(21)

E. Pupuk dan Pemupukan

1. Jenis Pupuk

Pupuk ialah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik maupun anorganik dengan maksud untuk mengganti unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman (Sutedjo, 2010).

Adapun jenis-jenis pupuk diuraikan sebagai berikut.

a. Pupuk Organik

Pupuk organik atau pupuk alam merupakan penguraian bagian-bagian atau sisa-sia tanaman dan binatang seperti pupuk kandang, pupuk hijau, kompos dan sebagainya(Sutedjo, 2010).

(22)

16 Beberapa kandungan unsur hara pada pupuk kandang seperti pada Tabel 1 sebagai berikut.

Tabel 1.Kandungan unsur hara pada pupuk kandang

Ternak N% P2O2 (%) K2O (%)

Ayam 1,5 1,3 0,8

Sapi 0,3 0,8 0,13

Kuda 0,5 0,25 0,3

Babi 0,5 0,4 0,4

Kambing 0,7 0,4 0,25

Sumber :Lingga (1991) yang dikutip oleh Simanungkalit dkk.(2006)

Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna

bahanpembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah, dan sesuai suhu ruang. Proses pembuatan dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara lebih efektif, menambahpendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan(Prihandinidan Purwanto, 2007).

(23)

Menurut Indriyani (2001) manfaat kompos di antaranya adalah 1) memperbaikistruktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan, 2) memperbesardaya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai, 3) menambahdaya ikat tanah terhadap air dan unsur-unsur hara tanah, 4)memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah,

5) mengandungunsur hara yang lengkap, walaupun jumlahnya sedikit (jumlah initergantung dari bahan pembuat pupuk organik),

6) membantu prosespelapukan bahan mineral,

7) memberi ketersediaan bahan makananbagi mikrobia, dan 8) menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan.

Hara makro merupakan unsur hara yang banyak diperlukan oleh tanaman.Ada tiga unsur yang mutlak ada dan perlu bagi tanaman adalah Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K).Jenis – jenisunsur hara makro ini yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), dan Magnesium (Mg) (Novizan, 2007). Hara mikro merupakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman hanya

(24)

18 Adapun fungsi unsur hara yang dimaksud diuraikan satu per satu sebagai

berikut(Sutedjo, 2010).

a)Nitrogen (N)

Nitrogen merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman yang sangat diperlukan untuk pembentukan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar.

b)Fospor (P)

Fospor berguna untuk mempercepat pertumbuhan akar semai dan meningkatkan produksi biji-bijian, serta sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organis.

c) Kalium (K)

Kalium berfungsi untuk pembentukan protein dan karbohidrat dan dapat meningkatkan resistensi tanaman terhadap penyakit. Kalium juga dapat meningkatkan kualitas biji dan buah.

d)Sulfur (S)

Sulfur atau Belarang berfungsi sebagai penyusun protein dan membantu pembentukan klorofil sehingga warna daun menjadi lebih hijau.

e) Kalsium (Ca)

(25)

f)Magnesium (Mg)

Magnesium berfungsi untuk pembentukan klorofil, kekurangan magnesium menyebabkan klorosis yaitu daun menguning dan timbul bercak merah walaupun sirip dan tulang daun tetap hijau.

g)Besi (Fe)

Besi berfungsi untuk pembentukan hijau daun, pembentukan karbohidrat, lemak, protein dan enzim.

h)Borium (Bo)

Borium berperan dalam pembentukan/pembiakan sel terutama dalam titik tumbuh pucuk, juga dalam pertumbuhan tepung sari, bunga, dan akar.

i) Mangan (Mn)

Mangan diperlukan oleh tanaman untuk pembentukan zat protein dan vitamin, terutama vitamin C.Selain itu Mn juga dapat mempertahankan kondisi hijau daun pada daun yang tua.

j)Klor (Cl)

Klor berfungsi sebagai aktivator fotosintesis, kekurangan klorin menyebabkan fotosintesis terganggu.

k) Tembaga (Cu)

Tembaga berguna dalam reaksi redoks (enzim biosintesis redoks).Kekurangan tembaga menyebabkan kusutnya ujung daun dan akhirnya gugur.

l)Seng (Zn)

Seng berfungsi mengaktifkan beberapa enzim dan berperan dalam proses

(26)

20 m)Molibdenum

Molibdenum berfungsi sebagai pengikat nitrogen yang esensial (reduksi nitrat), kekurangan unsur ini menyebabkan pertumbuhan terganggu. Sebaliknya jika kelebihan akan menyebabkan keracunan.

b. Pupuk Anorganik

Pupuk anorganik merupakan pupuk buatan hasil industriyang dibuat secara kimia atau hasil dari pabrik-pabrik pembuat pupuk seperti pupuk NPK,Urea,TSP, dan lain- lain. Pupuk anorganik mengandung unsur-hara yang tinggi, maka

penggunaannya dalam jumlah sedikit (Sutedjo, 2010).

Pupuk anorganik dibagi menjadi dua yaitu pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara, contohnya Urea hanya mengandung N, ZK hanya mengandung K, dan TSP hanya mengandung P. Sedangkan pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung unsur hara lebih dari satu macam, contohnya DAP mengandung N dan P serta NPK yang disebut sebagai pupuk majemuk lengkap ( Sutedjo, 2010).

Dalam usaha pertanian pupuk anorganik sangat dikenal, hal ini dikarenakan oleh beberapa alasan sebagai berikut ( Sutedjo, 2010).

1)pupuk sangat praktis dalam pemakaian, artinya pemakaian dapat disesuaikan dengan perhitungan hasil penyelidikan akan defisiensi unsur hara yang tersedia dalam kandungan tanah,

(27)

2. Pemupukan

a. Pengertian Pemupukan

Pemupukan adalah usaha pemberian pupuk yang bertujuan menambahkan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah sedikit di dalam tanah

(Novizan, 2007).Pemupukan jugabertujuanuntuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman.

Pemupukan perlu dilakukan apabila terdapat salah satu atau lebih dari kondisi sebagai berikut (Daniel dkk., 1992).

1)Tanah miskin hara yaitu tanah yang memiliki kandungan hara makro dan mikro rendah,

2) Pertumbuhan tanaman terhambat walaupun sudah dilakukan, penyiangan dan ditemukan gejala kekurangan unsur hara,

3)Pertumbuhan tanaman perlu dipercepat untuk mengurangi resiko akibat persaingan dengan gulma, dan

4)Ingin meningkatkan hasil pertambahan pertumbuhan (riap volume) per satuan luas pada akhir daur.

b. Cara pemupukan

(28)

22 tanah.Konsentrasi, waktu, dan cara alokasi harus tepat agar tidak merugikan dan berefek merusak lingkungan akibat konsentrasi yang salah dalam waktu dan cara aplikasinya (Soepardi, 1983).

Menurut Hakim dkk. (1986), beberapacara pemberian pupuk baik itu pupuk organik maupun pupuk anorganik adalah sebagai berikut.

1) pupuk ditaburkan secara merata diatas permukaan tanah 2) pupuk ditempatkan dalam lubang atau secara larikan

3) diberikan melalui daun, dalam hal ini adalah dengan menyemprotkan larutan hara melalui daun

Pupuk dapat dimanfaatkan seefektif mungkin, maka saat pemberian pupuk perlu disesuaikan dengan fase tumbuh tanaman.Pemberian pupuk yang terlambat pada hakikatnya tidak begitu bermanfaat bagi tanaman.

F. Jenis-Jenis Gangguan Kesehatan Tanaman Hutan

Beberapa gangguan penting yang dapat menurunkan kualitas kayu maupun menyebabkan kematian tanaman hutan adalah sebagai berikut (Sumardi dan Widyastuti, 2004).

1. Luka terbuka (openwound)

(29)

2. Kanker batang (stem cancers)

Tanaman yang terserang akan mengalami kerusakan pada batang pokok atau cabang. Kerusakan berupa benjolan/pembengkakan jaringan batang dan serat kayu.

3. Bercak daun (leaf spot)

Gejala penyakit ini adalah terdapat bercak yang awalnya berwarna kuning muda di sisi bawah daun, gejala lanjutan bercak berubah menjadi kuning tua.

4. Gugur daun (defoliasi)

Salah satu penyebab penyakit ini adalah jamur Corynespora yang membentuk toksin yang menyebabkan perubahan warna yang meluas pada daun.Daun yang terserang menguning, berubah menjadi coklat dan gugur.

5. Mati pucuk (dieback)

Bagian pucuk tanaman mengalami kekeringan yang diikuti kematian yang menyebabkan patah.

6. Klorosis

Perubahan warna daun yang disebabkan oleh kekahatan unsur hara.Tanaman muda terlihat daunnya menguning dan pucat.

7. Sapu setan (witches broom)

Gejala penyakit ini ditandai dengan ruas-ruas batang dan cabang menjadi pendek.

8. Busuk hati (heart rot)

(30)

24 9. Busuk jaringan (tissue decay)

Tanaman yang terserang busuk jaringan umumnya memperlihatkan gejala gummosis/resisnosis yaitu keluarnya cairan akibat membusuknya jaringan

tanaman.

10. Busuk akar (root rot)

(31)

III. METODE PENELITIAN

A. TempatdanWaktuPenelitian

Penelitianinidilaksanakan di lahanpetani HTR milikBapakParimo yang terletakdi

DesaUlokMuktiKecamatanBengkunatBelimbing Kabupaten Lampung Barat.

Waktupenelitianselama 4bulanyang dimulaipadabulanJunisampaiOktober 2012.

B. BahandanAlatPenelitian

Bahan yang digunakanyaitubibitjabon (Anthocepaluscadamba) (Gambar 1) yang diperolehdariPusatPembibitanHutanTanaman Rakyat (HTR) Lampung Barat umur 6bulan.

Gambar 1.Bibitjabonumur 6 bulan.

(32)

26 warnanyacoklatkehitamandanmudahdihancurkanataudiremah. Adapunalat yang digunakanyaitu: meteran, kaliper, GPS, timbangan, kamera, karton, plastik, spidol, cangkul, ember, lembarpengamatan,danalattulis.

C. Rancangan Penelitian

PenelitiandilakukandenganmenggunakanRancanganAcakKelompok(RAK), dengan6 perlakuan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbedaan dosis pupuk kompos yang terdiri dari 0 kg, 2 kg, 3 kg, 4 kg, 5 kg, dan 6 kgtiaptanaman.

Kelompokdalamrancanganinididasarkanatasletaklokasimenurutketinggiantempatd aripermukaan air lautyaituketinggiantempatatas, tengah,

danbawahdenganjarakmenyesuaikantempat. Setiap

satuanpercobaanterdiriatas3tanamandalamsusunanpolajaraktanam 4 m x 5 m.

Model rancangan yang digunakan adalah sebagai berikut (Hanafiah, 2003): Yij =

i =1,2,3,4 j =1,2,3,4 Keterangan :

Yij = pengaruh perlakuan ke-i dan blok ke-j

µ = nilai tengah umum dari hasil pertumbuhan tanaman τi = pengaruh perlakuan ke-i

βj =pengaruh kelompok ke-j

εij = pengaruh galat pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j

(33)

K1 P41 P31 P51 P61 P21 P11

K2 P52 P62 P12 P22 P42 P32

K3 P33 P43 P63 P13 P23 P53

Gambar 2. Tata letakpercobaandalamrancanganacakkelompok (RAK).

Keterangan:

P1 = tanpapupukkompos

P2 = 2 kg pupukkompos per tanaman P3 = 3 kg pupukkompos per tanaman P4 = 4 kg pupukkompos per tanaman P5 = 5 kg pupukkompos per tanaman P6 = 6 kg pupukkompos per tanaman K1 = ketinggiantempat124 m dpl K2= ketinggiantempat118 m dpl

K3=ketinggiantempat116 m dpl

D. Kegiatan Penelitian

Kegiatan yang dilakukandalampenelitianinidiuraikansebagaiberikut.

1. Persiapanlahan

Persiapanlahandilakukandengansurveilahan, kemudiandipilihlahanyang memilikiketinggiantempat yang

berbedadanmembuatlubangtanamdenganukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm,setiapkelompokterdiridari 18lubangdenganjarak 4m x 5 m.

(34)

28 Bibitjabonberasaldaripersemaian.Bibitdipilih yang

ukurannyaseragamdengankondisipertumbuhanbaik yang siapditanam di lapangan yang berjumlah54 unit percobaan.Tinggibibitberkisarantara35—60 cm.

3. Pemupukan

Pemupukandilakukan1 kali

padasaatpenanamanuntukpertumbuhansatutahun.Pemupukandilakukandengan menggunakanpupuk komposkotoransapimasing-masingtanpapupuk, 2

kg/tanaman, 3 kg/tanaman,

4 kg/tanaman, 5 kg/tanaman, dan 6 kg/tanaman yang dimasukkankedalamlubangtanam.

Komposisipadasaatpencampuranpengomposankotoransapimenggunakandeko mposerbeka.

Pengomposandilakukandenganpengayakankotorankemudiandiberikandekomp oserbeka.

4. Pemeliharaan Pemeliharaan yang

dilakukanyaitupenyiangandanpenyiraman.Penyianganbertujuanuntukmember sihkanrumput/gulma yang tumbuh di sekitartanaman, agar

(35)

E. Pengamatan

Adapunvariabel yang diamatidalampercobaaninisebagaiberikut.

1. Tinggidanpertambahantinggitanaman.

Pengukurantinggidilakukanpadasaatditanamdansetiapbulanselama 4

bulan.Tinggitanamandiukurpadaakhirpengamatan.Pertambahantinggidiukurda riselisihtinggisetiapbulanpengamatan.Tinggitanamandiukurmenggunakanmet erandaripangkalbatang (permukaantanah) sampaikebuku-bukuteratas.

2. Diameter danpertambahan diametertanaman.

Pengukuran diameter dilakukanpadasaatditanamdansetiapbulanselama 4 bulan.Diameter tanamandiukurpadaakhirpengamatan. Pertambahandiameter diukurdariselisihdiameter setiapbulanpengamatan.Diameter batang diukur pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah menggunakan kaliper.

3. Jumlah daun dan pertambahan jumlah daun tanaman

Pengukuran jumlah daun dilakukan pada saat ditanam dan setiap bulan selama 4 bulan. Jumlah

(36)

30

4. Kesehatan tanaman

Pengukuran kesehatan tanaman dilakukan pada saat ditanam dan setiap 2 minggu selama 4 bulan. Kesehatan tanaman dilihat dari penampakan fisik yaitu daun.Kesehatan tanaman diukur dengan menilai tanaman apakah terserang hama/penyakit.Penilaian dicatat berdasarkan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan dari ringan sampai kerusakan berat.

F. Analisis Data

Data pengamatansetiapvariabelpertumbuhandisajikandalambentuktabel (LampiranTabel 9, 12, dan 15). Data

darilampirantabeltersebutkemudiandiujihomogenitasragamnyadenganmenggunaka nuji Bartlett.Analisissidikragamdilakukanapabilaragam yang

didapattersebuthomogendandimaksudkanuntukmengujihipotesistentangpengaruhf aktorperlakuanterhadap semua variabel pertumbuhan tanamanjabon (Hanafiah, 2003).

1. HomogenitasRagam

Homogenitasragamdiujimenggunakanuji Bartlett,

danhasilperhitungannyadisajikankedalambentuktabel (Gaspersz, 1991). X2hitungterkoreksi =X2hitung

K

(37)

=

B =

K =

JikaX2hitung>X2tabel, maka data ( nilaiataupopulasi ) yang diperolehtidakhomogen,

sehinggaperludilakukantransformasi data, sedangkanjika

X2 hitung≤ X2tabel, maka ragam homogen dan dilanjutkan dengan uji sidik ragam.

2. Sidik Ragam

Untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk terhadap pertumbuhan tanamanjabon dilakukan sidik ragam.

Fhitungperlakuan= KTP/KTG

Fhitungkelompok=KTK/KTG

JK inimencerminkanpengaruhreratakuadratdarimasing-masing parameter dalam model matematika RAK.Hasil analisissidikragampertumbuhanjabondi

sajikandalambentuktabel (LampiranTabel 11, Tabel14, danTabel17). JikaFhitung>Ftabel, makaadapengaruhnyata data dariragamperlakuan yang

diberikanlaludianalisislagidenganmenggunakanujiBNT.JikaFhitung<Ftabel

(38)

32

3. Uji Beda NyataTerkecil (BNT)

Untuk mengetahui dosis yang paling baik terhadap pertumbuhan tanamanjabon dilakukan uji perbandingan dengan Uji Nyata Terkecil (BNT). Semua

perhitungan dilakukan pada taraf nyata 5%. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

BNT =tα(v).S

Sd =

Keterangan :tα/2(v)= nilaibaku t-student padatarafuji α dan derajatbebas

galatv.

Data

kondisikesehatantanamandariintensitaskerusakandaundisajikandalambentuktabel( LampiranTabel 30).Analisis data

dilakukanmenggunakanrumusdanklasifikasitingkatkerusakandaun(Lampirantabel 31) (Unterstenhofer, 1963 yang dikutipolehAsmaliyahdkk., 2008).

Intesitaskerusakannisbi

Keterangan :

IKN = intensitaskerusakannisbi

ni = jumlahtanaman yang terserangdenganklasifikasi

kerusakantertentu

(39)
(40)

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. KetinggianTempatdanPertumbuhanTanaman. Group BelajarSilvikultur.Diaksespadatanggal 12 desember

2011.http://www.silvikultur.com/Ketinggian_Tempat_dan_Pertumbuhan _Tanaman.html.

Aprianis, Y. danA. Junaedi. 2009. Jabon (AnthocephaluscadambaMiq) sebagaibahanbaku pulp. JurnalMitraHutanTanaman. PusatPenelitian danPengembanganHutanTanaman. Bogor.4(1): 1-8.

Asmaliyah, A. Imanullah, dan I.Muslimin.

2008.Seranganhamapadatanamantanjung (MimusopselengiLinn) di persemaian. ProsidingWorkshop

SintesaHasilPenelitianHutanTanaman.BalaiPenelitianKehutanan Palembang. Palembang.P 235—239.

Daniel, T.W., J.A. Helms,dan F.S. Baker.1992. Prinsip-PrinsipSilvikultur. Buku.Cetakan ke-2.DiterjemahkanolehDjokoMarsono.GadjahMada

University Press.Yogyakarta.651 p.

Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan untuk Ilmu-ilmu Pertanian. Ilmu Teknik dan Biologi.Buku.Cetakan ke-2.Armico. Bandung. 472 p.

Halawane, J. E., N. Hanif.,dan J. Kinho. 2011.

ProspekPengembanganJabonMerah(Anthocephalusmacrophyllus)SolusiKe butuhanKayuMasaDepan.Buku.BalaiPenelitianKehutanan Manado.Manado. 63 p.

Hakim, N ., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, M.H.Diha, G.B. Hong,dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasarIlmu Tanah. Buku. Cetakan ke-1.Universitas Lampung Press. Bandar Lampung. 488 p. Hanafiah,K.A.2003. RancanganPercobaanTeoridanAplikasi.Buku. Cetakan ke-8.Raja grafindopersada. Jakarta. 238 p.

Hardjowigeno, S.1995. Ilmu Tanah.Buku.Cetakan ke-4.Akademika Pressindo.Jakarta.140 p.

(41)

Indriyani, Y.H. 2001. MembuatKomposSecaraKilat. Buku.Cetakan ke-3. PenebarSwadaya. Jakarta. 62 p.

Krisnawati, H., M. Kallio, dan M. Kanninen. 2011. Anthocephaluscadamba Miq: ekologi, silvikulturdanproduktivitas. Buku.Cetakan ke-1.Cifor.

Bogor.11 p.

Lakitan, B. 2004. Dasar-dasarFisiologiTumbuhan. Buku.Cetakan ke-5.Raja GrafindoPersada. Jakarta. 205 p.

Mansur, I. dan F. D. Tuheteru.2011. KayuJabon.Buku.Cetakan ke-3.Niaga Swadaya.Jakarta. 124 p.

Matenggomena, F.dan F. Sukmawati . 2013. Nilaitambahkomposdari kotoransapi.BalaiPengkajianTeknologiPertanian Nusa Tenggara

Barat.16 januari 2013.Diaksespadatanggal 26 April 2013.

http://ntb.litbang.deptan.go.id//ind/index.php?option=com_content&view=article &id=771:nilai-tambah-kompos-dari-kotoran-sapi&catid=49:info-teknologi&Itemid=81.

Muhadjir, F., F. Ratna., dan S. Darmijati. 1991. Fluktuasimusimhujandan musimkemaraupadaempatlokasiselamasatudekade (1979-1989).Jurnal PerhimpunanMeteorologiPertanian Indonesia.DepartemenGeofisikadan MeteorologiInstitutPertanian Bogor. Bogor.7(2): 23-33.

Mulyana, D., C. Asmarahman, dan I. Fahmi. 2011. Panduan Lengkap Bisnis dan Bertanam Kayu Jabon.Buku.Cetakan ke-1.Agromedia Pustaka. Jakarta.

142 p.

Novizan. 2007. Petunjuk Pemupukan yang Efektif.Buku.Cetakan ke-7. Agromedia Pustaka. Jakarta. 130 p.

PeraturanMenteriPertanianNomor: 70/Permentan/SR.140/10/2011. Pupuk Organik, PupukHayati, danPembenah Tanah.KementerianPertanian. 25 Oktober 2011.

PeraturanMenteriKehutananNomor P 03/MENHUTV/2004. Petunjuk PelaksanaanPenyelenggaraanGerakanNasionalRehabilitasiHutandan Lahan.KementerianKehutanan. 22 Juli 2004.

Pribadi, A dan I. Anggraeni.2010.

PengaruhTemperaturdanKelembabanTerhadap Tingkat

KerusakanDaunJabon (Anthocephaluscadamba)

olehArthrochistaHilaralis.JurnalPenelitianHutanTanaman.

(42)

Prihandini,P.W. danT.Purwanto.2007. PetunjukTeknisPembuatanKompos BerbahanKotoranSapi.Buku.Catakan

ke-1.PusatPenelitiandanPengembanganPeternakan.Bogor.20 p. Setyanti, Y.H, S. Anwar, dan W. Slamet.2013.

KarakteristikFotosintetikdanSerapanFosforHijauan Alfalfa (Medicago sativa) PadaTinggiPemotongandanPemupukan Nitrogen yang

Berbeda.Journal Animal

Agricultur.FakultasPeternakandanPertanianUniversitasDiponegoro. Semarang. 2(1): 86-96.

Simanungkalit, D.A. Suriadikata, R. Saraswati, D. Setyorini, dan W. Hartatik.2006. PupukOrganikdanPupukHayati.Buku.Cetakan

ke-1.BalaiBesarPenelitiandanPengembanganSumberDayaLahanPertanian. Bogor.

283 p.

Soepardi, G. 1983. SifatdanCiri Tanah. Buku.Cetakan ke-2.InstitutPertanian Bogor.Bogor. 359 p.

Sumardi, S. dan M. Widyastuti. 2004. Dasar-DasarPerlindunganHutan. Buku.Cetakan ke-1.GadjahMada University Press.Yogyakarta.228 p.

Susanto, R. 2002. PertanianOrganik:

MenujuPertanianAlternatifdanBerkelanjutan. Buku.Cetakan ke-1.Kanisius.Yogyakarta.218 p.

Figur

Tabel 9—Tabel 31 ..........................................................................
Tabel 9 Tabel 31 . View in document p.6
Tabel 1.Kandungan unsur hara pada pupuk kandang
Tabel 1 Kandungan unsur hara pada pupuk kandang . View in document p.22
Gambar 1.Bibitjabonumur 6 bulan.
Gambar 1 Bibitjabonumur 6 bulan . View in document p.31
Gambar 2. Tata letakpercobaandalamrancanganacakkelompok (RAK).
Gambar 2 Tata letakpercobaandalamrancanganacakkelompok RAK . View in document p.33

Referensi

Memperbarui...