Sistem Pengawasan Intern Kas Pada BAPPEDA Kota Siantar Sumatera Utara

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

SISTEM PENGAWASAN INTERN KAS PADA BAPPEDA KOTA SIANTAR SUMATERA UTARA

Oleh :

INDAH SUCI ANI 062102121

PROGRAM STUDI DIPLOMA III AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Sukur alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan KaruniaNya, sehingga penulis telah dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “ Sistem Pengawasan Intern Kas pada Bappeda Kota Siantar Sumatera Utara “ yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi Program Diploma III Universitas Sumatera Utara.

Dalam menyelesaikan tugas akhir ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, baik dalam materi maupun moriil, maka dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada : 1. Bapak Drs. Jhon Tabu Ritonga. M.Ec Selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, MSi. Ak, Selaku Ketua Program Studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Iskandar Muda, SE. MSi, sebagai Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan waktu dan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

(5)

5. Teristimewa untuk kedua Orang Tua Penulis Emzulni (Papa) dan Martianis (Mama) yang telah membesarkan, mendidik dan memberikan dukungan moriil dan materil serta limpahan kasih sayang dan doa yang tak ternilai.

Penulis menyadari Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan, Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga penulisan Tugas ini natinya bisa bermanfaat bagi penulis kususnya dan bagi pembaca umumnya,Amin.

Penulis, Mei 2009

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……… i

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….….. 1

B. Rumusan Masalah……… 2

C. Tujuan Penelitia……… 2

D. Manfaat Penelitian……….... 3

E. Rencana Penulisan……….……3

a. Jadwal Survey / observasi………..…….3

b. Rencana Isi………..4

BAB II BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN KOTA SIANTAR SUMATERA UTARA A. Sejarah Ringkas……… 6

B. Jenis Usaha dan Kegiatan………. 7

C. Struktur Organisasi………... 8

D. Uraian Tugas………. 9

E. Kinerja Usaha Terkini……….. 22

F. Rencana Kegiatan……….24

(7)

B. Pengertian dan Fungsi Pengawasan Intern Kas………….…..… 28 C. Unsur-Unsur Pengawasan Intern Kas………..… 29 D. Prosedur Pengeluaran Kas yang dilakukan………….. ...……… 34 BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan………..36

B. Saran……… 36

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini akuntansi sebagai satu disiplin ilmu sangat besar pengaruhnya dalam dunia bisnis,oleh karena itu peranan seorang ahli akuntansi pada saat ini sangat dibutuhkan untuk memberikan kontribusinya dalam dunia kerja,terutama dibidang pencatatan dan penyusunan laporan keuangan yang penting peranannya dalam suatu pengambilan keputusan manajemen ataupun pihak luar yang berkepentingan lainnya.

(9)

Dari penjelasan diatas penulis terinspirasi untuk menulis tugas akhir ini dengan judul penelitian “Sistem Pengawasan Intern Kas pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Siantar Sumatera Utara”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka penulis dapat mengidentifikasi permasalahan pokok sebagai berikut :

1. Apakah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah kota Siantar telah menciptakan suatu Pengawasan Intern Kas yang baik dan memadai yang mendukung kelancaran operasional organisasi?

2. Apakah sistem Pengawasan Intern Kas dan pengawasan manajemen dapat mencegah penyalahgunaan dan penyelewengan yang mungkin terjadi atau dapat diperkecil bila ada?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah :

1. Memenuhi salah satu syarat akademis dalam menyelesaikan program Diploma III akuntansi di Fakultas Ekonomi USU.

(10)

3. Untuk mengetahui gambaran yang jelas mengenai pengawasan intern yang diterapkan khususnya mengenai pengawasan penerimaan dan pengeluaran kas pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Siantar Sumatera Utara.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian adalah :

1. Memberikan masukan dan relevansi kepada lembaga pendidikan mengenai praktek Pengawasan intern penerimaan dan pengeluaran kas yang baik dalam suatu lembaga atau instansi pemerintah,

2. Penulis dapat mengambil pengetahuan mengenai pengawasan kas organisasi pemerintah secara nyata dengan teori yang penulis peroleh melalui perkuliahan dan buku yang berkaitan dengan hal tersebut,

3. Sebagai acuan bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang akan mengadakan penelitian dalam bidang kajian sama pada masa yang akan datang.

E. Rencana Penulisan

1. Jadwal Survey / observasi

Tempat : Kantor Bappeda Jl Adam Malik No.1 Kota Siantar Sumatera Utara.

(11)

22 April 2009 : Menerima data mengenai profil Bappeda kota Siantar dan Struktur Organisasinya dan uraian tugas.

23 April 2009 : Menerima data mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang diteliti yakni mengenai kinerja usaha terkini, pengawasan intern kas yang dilakukan agar tidak terjadi penyelewengan kas, unsur-unsur pengawasan intern kas yang dilakukan oleh Bappeda kota siantar.

24 April 2009 : Melakukan perbaikan-perbaikan kembali mengenai data-data yang diperoleh dengan melakukan pengecekan kembali data-data yang ada pada Bappeda Kota Siantar Sumatera Utara.

2. Rencana Isi

BAB I : PENDAHULUAN

Menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan, dan rencana penulisan yang terdiri dari Jadwal Survey / Observasi.

BAB II : PROFIL PERUSAHAAN

Menguraikan sejarah ringkas perusahaan, struktur organisasi, job description, jaringan usaha / kegiatan, kinerja usaha terkini dan rencana kegiatan.

(12)

Menguraikan hasil penelitian sesuai judul penelitian yang dipilih.

BAB IV : PENUTUP

(13)

BAB II

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

KOTA SIANTAR SUMATERA UTARA

A. Sejarah Ringkas

Badan Perencanaan Pembangunan daerah kota Siantar terletak di Jl Adam Malik No.1 depan tanah lapang Simarito P. Siantar. Lembaga Pemerintahan ini bergerak pada perencanaan Pembangunan di daerah-daerah di kota Siantar.

Kedudukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah kota Siantar ini yaitu : 1. menyusun pola dasar pembangunan daerah,

2. menyusun Propeda,

3. menyusun Renstra Daerah/kota, 4. menyusun Repetada,

5. menyusun RAPBD/RPAPBD bekerjasama dengan Bagian Keuangan Sekretariat Daerah Kota Siantar,

(14)

7. melaksanakan koordinasi perencanaan dengan instansi/unit kerja dilingkungan Pemerintah Kota Siantar,

8. melaksanakan penelitian untuk mengembangkan system perencanaan dan pengendalian perencanaan,

9. monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan daerah,

10.Melaksanakan kerjasama pembangunan dan pengembangan kawasan,

11.melaksanakan statistic hasil perencanaan pembangunan dan pelaporan pelaksanaan pembangunan,

12.melakukan kegiatan lain dalam rangka perencanaan sesuai dengan petunjuk Walikota Siantar.

B. Jenis Usaha atau Kegiatan Jenis kegiatan yang dilakuan : 1. MUSRENBANG.

2. penyusunan Rancangan RKPD

3. penyusunan Rancangan KUA dan PPAS APBD

4. penyusunan Rancangan KUA dan PPAS perubahan APBD 5. penyusunan dan Pengumpulan data atau informasi kebutuhan

(15)

C. Struktur Organisasi

Struktur organisasi dalam suatu organisasi sangat penting sekali dalam usaha mencapai tujuan yang diinginkan organisasi itu sendiri. Karena dengan adanya struktur organisasi ini masing-masing pegawai mengetahui hak dan kewajibannya terhadap organisasi itu sehingga tidak ada kesimpangsiuran dalam melaksanakan tugas.

Disini penulis hanya membahas bagian dari struktur oganisasi Badan Perencanaan Daerah kota Siantar yang berhubungan dengan objek pembahasan dalam tulisan ini. Pembagian struktur organisasi tersebut antara lain :

1. Kepala BAPPEDA

2. Sekretaris BAPPEDA, terdiri dari :

a) sub Bagian Penyusunan Rencana Kegiatan, b) sub Bagian Umum,

c) sub Bagian Keuangan,

d) sub Bagian Dokumentasi dan Keuangan. 3. Bidang Penelitian, terdiri dari :

a) sub Bidang Penelitian,

b) sub Bidang Pengembangan Sistem Perencanaan, c) sub Bidang Pengendalian dan Evaluasi.

4. Bidang Perencanaan Pembangunan I, terdiri dari : a) sub Bidang Pertanian,

(16)

c) sub Bidang Koperasi dan Dunia Usaha.

5. Bidang Perencanaan Pembangunan II, terdiri dari :

a) sub Bidang Perhubungan dan Pariwisata Seni Budaya,

b) sub Bidang Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Lingkungan, c) sub Bidang Transmigrasi dan KB,

d) sub Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. 6. Bidang Perencanaan Pembangunan III, terdiri dari :

a) sub Bidang Agama dan Pendidikan dan Budaya, b) sub Bidang Pemukiman Pengembangan Wilayah, c) sub Bidang Pertambangan dan Energi.

7. Bidang Perencanaan Daerah Bawahan, terdri dari : a) sub Bidang Kerjasama Pembangunan,

b) sub Bidang Pengembangan Kawasan, c) sub Bidang Statistik dan Pelapora.

D. Uraian Tugas

1. Kepala BAPPEDA Tugas :

Membantu Walikota dalam penyelenggaraan Pemerintahan kota dibidang Perencanaan Pembangunan Daerah.

Fungsi :

(17)

b) pengkoordinasian penyusunan Perencanaan Pembangunan,

c) pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang Perencanaan Pembangunan Daerah,

d) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan bidan tugasnya,

e) mengelola administrasi umum, yang meliputi pekerjaan ketatalaksanaan, keuangan, kepegawaian, perlengkapan / peralatan dan organisasi serta ketatalaksanaan Badan.

2 Sekretaris BAPPEDA Tugas :

Memberikan Pelayanan Teknis dan administrasi kepada seluruh system organisasi dalam lingkungan Bappeda.

Fungsi :

a) menyusun laporan kegiatan tahunan, b) melakukan urusan keuangan,

c) melakukan urusan umum,

d) melakukan urusan dokumen dan informasi,

e) melakukan kegiatan lain kesekretariatan sesuai dengan petunjuk Kepala Bappeda.

a. Sub Bagian Penyusunan rencana kegiatan Tugas :

(18)

b) membuat laporan kegiatan tahunan, c) melakukan evaluasi atas pelaksanaannya,

d) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk sekretaris. b. Sub Bagian Umum

Tugas :

a) melakukan urusan surat menyurat, b) melakukan urusan Kepegawaian, c) melakukan urusan Tumah Tangga, d) melakukan urusan Perlengkapan,

e) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk sekretaris. c. Sub Bagian Keuangan

Tugas :

a) melakukan urusan Keuangan,

b) melakukan kegiatan lain sesuai petunjuk Srkretaris. d. Sub Bagian Dokumentasi dan Informasi

Tugas :

a) mendokumentasi kegiatan urusan kesekretariatan, b) memelihara dan menyimpan dokumen,

c) menyusun dan mempersiapkan bahan informasi kepada Bappeda, d) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk sekretaris 3. Bidang Penelitian

(19)

Melaksanakan penelitian untuk pengembangan system perencanaan dan pengendalian serta evaluasi pembangunan daerah.

Fungsi :

a) perumusan system perencanaan pembangunan, b) pengembangan system perencanaan pembangunan,

c) pengendalian dan evaluasi mencari solusi permasalahan dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan,

d) melakukan kegiatan lain dibidang penelitian sesuai dengan petunjuk Kepala Bappeda.

a. Sub Bidang Penelitian Tugas :

a) melaksanakan penelitian terhadap program Perencanaan Pembangunan, b) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Penelitian b. Sub Bidang Perencanaan Sistem Pembangunan

Tugas :

a) melaksanakan pengembangan system perencanaan dengan berpedoman pada data dan penelitian serta perundang-undangan,

b) melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Penelitian. c. Sub Bidang Pengendalian dan Evaluasi

(20)

a) melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kegiatan rutin/pembangunan agar kegiatan yang dilaksanakan dapat berhasil guna dan berdaya guna serta membuat acuan sebagai petunjuk pelaksanaannya, b) melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Penelitian, 4. Bidang Perencanaan Pembangunan I

Tugas :

Melakukan dan mengkoordinasi kegiatan perencanaan pembangunan pertanian, industri dan perdagangan koperasi dan dunia usaha.

Fungsi :

a) melakukan kegiatan perencanaan pembangunan dibidang pertanian, industri dan perdagangan dan koperasi serta pengembangan dunia usaha, b) mengkoordinasikan dan memadukan rencana pembangunan dibidang

pertanian, industri dan perdagangan, koperasi dan dunia usaha yang disusun oleh dinas, kantor, instansi vertical, kecamatan yang berada dalam wilayah daerah,

c) melakukan inventarisasi permasalahan dibidang pertanian, industri dan perdagangan, koperasi dan dunia usaha serta merumuskan langkah-langkah kebijaksanaan pemecahannya,

(21)

kedalam program daerah dan atau yang diusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk dimasukkan kedalam program tahunan Nasional,

e) melakukan kegiatan lain dibidang Perencanaan Pembangunan I sesuai dengan petunjuk Kepala Bappeda.

a. Sub Bidang Pertanian Tugas :

a) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program Pembangunan Pertanian,

b) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program Pembangunan tanaman pangan,

c) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program Pembangunan Peternakan,

d) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program Pembangunan Perikanan,

e) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program Pembangunan Perkebunan,

f) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan proram Pembangunan Kehutanan,

g) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan I.

(22)

a) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program Pembangunan Industri,

b) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program Pembangunan Perdagangan,

c) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan.

c. Sub Bidang Koperasi dan Dunai Usaha Tugas :

a) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program Pembangunan untuk pengembangan koperasi dan dunia usaha,

b) mempersiapkan bahan penyususnan rencana dan program Pembangunan untuk pembinaan pengusaha kecil dan menengah dan penanaman modal, c) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang

Perencanaan Pembangunan I. 5. Bidang Perencanaan Pembangunan II

Tugas :

a) melakukan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan pembangunan Perhubungan,

b) melakukan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan pembangunan Pariwisata,

(23)

d) melakukan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan pembangunan sumber daya alam dan sumber daya lingkungan,

e) melakukan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan pembangunan Transmigrasi dan Keluarga Berencana serta kesehatan dan Kesejahteraan social.

Fungsi :

a) melakukan kegiatan perencanaan pembangunan perhubungan, pariwisata, seni budaya, sumber daya alam dan sumber daya lingkungan, transmigrasi dan keluarga berencana serta kesehatan dan kesejahteraan social,

b) mengkoordinasikan dan memadukan rencana pembangunan perhubungan, pariwisata, seni budaya, sumber daya alam dan sumber daya lingkungan, transmigrasi dan keluarga berencana serta kesehatan dan kesejahteraan social yang disussun oleh dinas, kantor, bagian, instansi vertical, kecamatan dan badan-badan lain yang berada dalam wilayah daerah,

c) melakukan inventarisasi permasalahan dibidang perhubungan, pariwisata, seni budaya, sumber daya alam dan sumber daya lingkungan, transmigrasi dan keluarga berencana serta kesehatan dan kesejahteraan social serta merumuskan langkah-langkah kebijaksanaan pemecahannya,

(24)

dan Renstra untuk dimasukan kedalam program daerah dan atau yang diusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk dimasukkan kedalam program tahunan Nasional,

e) melakukan kegiatan lain dibidang Perencanaan Pembangunan II sesuai dengan petunjuk Kepala Bappeda.

a. Sub Bidang Perhubungan dan Pariwisata Seni Budaya (PARSENIBUD) Tugas :

a) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program pembangunan perhubungan dan pariwisata seni budaya,

b) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Pemabangunan II.

b. Sub Bidang Sumber Daya Alam dan Sumber daya Lingkungan Tugas :

a) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program pembangunan sumber daya alam dan sumber daya lingkungan,

b) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Pemangunan II.

c. Sub Bidang Transmigrasi dan Keluarga Berencana Tugas :

(25)

b) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan II.

d. Sub Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan sosial Tugas :

a) mempersipkan bahan penyusunan rencana dan program pembangunan bidang kesehatan dan kesejahteraan social,

b) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan II.

6. Bidang Perencanaan Pembangunan III Tugas :

a) melakukan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan pembangunan Agama,

b) melakukan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan pembangunan pendidikan dan budaya,

c) melakukan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan pembangunan Pemukiman Pengembangan Wilayah,

d) melakukan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan Pembangunan Pertambangan dan Energi.

Fungsi :

(26)

b) mengkoordinasikan dan memadukan rencana pembangunan bidang agama, pendidikan dan budaya, pemukiman pengembangan wilayah, pertambangan dan energi yang disusun oleh dinas, kantor, bagian, instansi vertical, kecamatan dan badan-badan lain yang berada dalam wilayah daerah,

c) melakukan inventarisasi permasalahan dibidang agama, pendidikan dan budaya, pemukiman pengembangan wilayah, pertambangan dan energi serta merumuskan langkah-langkah kebijaksanaan pemecahannya,

d) melakukan dan atau mengkoordinasikan penyusunan program tahunan bidang agama, pendidikan dan budaya, pemukiman pengembangan wilayah, pertambangan dan energi dalam rangka melaksanakan Propeda dan Renstra untuk dimasukkan kedalam program daerah dan atau yang diusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk dimasukkan kedalam program tahunan Nasional,

e) melakukan kegiatan lain dibidang Perencanaan Pembangunan III sesuai dengan petunjuk Kepala Bappeda.

a. Sub Bidang Agama dan Pendidikan dan Budaya Tugas :

a) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program pembangunan bidang agama,pendidikan dan budaya,

(27)

b. Sub Bidang Pemukiman pengembangan wilayah Tugas :

a) mempersipkan bahan penyusunan rencana dan program pembangunan pemukiman pengembangan wilayah,

b) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III.

c. Sub Bidang Pertambangan dan Energi (TAMBEN) Tugas :

a) mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program pembangunan Pertambangan dan Enegi,

b) melakukan kegiatan lain sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III.

7. Bidang Perencanaan Daerah Bawahan Tugas :

a) melaksanakan kerjasama pembangunan, b) melaksanakan pengembangan kawasan, c) pelaksanaan statistic dan pelaporan. Fungsi :

a) pelaksanaan kerjasama pembangunan dengan instansi/unit kerja dan swasta dilingkungan daerah antar daerah,

(28)

c) pelaksanaan statistic hasil perencanaan pembangunan dan pelaporan pembangunan daerah,

d) melakukan kegiatan lain dibidang Perencanaan Daerah Bawahan sesuai dengan petunjuk Kepala Bappeda.

a. Sub Bidang Kerjasama Pembangunan Tugas :

a) melakukan usaha kerjasama dibidang Pembangunan daerah dengan instansi/unit kerja dilingkungan Pemerintah Kota Pematang Siantar,

b) melakukan usaha kerjasama dibidang perencanaan pembangunan daerah dengan pihak ketiga/swasta,

c) melakukan usaha kerjasama dibidang perencanaan pembangunan daerah dengan antar daerah/propinsi dan Pemerintah Pusat,

d) melakukan kegiatan lain dalam usaha kerjasama bidang perencanaan pembangunan daerah sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Daerah Bawahan .

b. Sub Bidang Pengembangan Kawasan Tugas :

a) menyusun dan merencanakan pengembangan kawasan sesuai dengan peruntukannya,

(29)

c) melakukan kegiatan lain dalam usaha kerjasama bidang perencanaan pembangunan daerah sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Daerah Bawahan,

c. Sub Bidang Statistik dan Pelaporan Tugas :

a) mendata dan mentabulasi potensi pembangunan daerah,

b) pengumpulan data perencanaan dan hasil perencanaan pembangunan daerah,

c) penyusunan pelaporan pelaksanaan pembangunan daerah, d) pemutahiran data pembangunan daerah,

e) melakukan kegiatan lain dalam usaha kerjasama bidang perencanaan pembangunan daerah sesuai dengan petunjuk Kepala Bidang Perencanaan Daerah Bawahan.

E. Kinerja Usaha Terkini

Kinerja usaha terkina yaitu Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) kota Pematangsiantar Tahun 2009, adalah upaya merealisasikan pencapaian target program pembangunan kota Pematangsiantar sesuai dengan Renstra Kota Pematangsiantar. Untuk itu pengusulan setiap program/kegiatan pada tahun 2010 tetap berpedoman kepada skala prioritas.

(30)

tentang Pemerintah Daerah yang dimulai dengan rangkaian Musrenbang Kelurahan, Musrenbang Kecamatan, Forum SKPD dan Musrenbang Kota yang menghasilkan Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Pematangsiantar Tahun 2010 yang merupakan dokumen perencanaan Pemerintah Kota Pematangsiantar untuk periode 1 (satu) tahun (Tahun 2010) sebagai penjabaran dari RPJMD.

LANDASAN HUKUM :

1. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

2. UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, 3. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,

4. PP No. 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah,

5. PP No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal,

6. peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah,

7. PP No. 21 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian/Lembaga,

8. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah,

(31)

10.surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri Nomor 0008/M.PPN/012007 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang.

TUJUAN :

Secara umum tujuan Musrenbang adalah :

Mendorong pelibatan para pemangku kepentingan dalam proses penganbilan keputusan perencanaan,

a. mengidentifikasi dan membahas isu-isu dan permasalahan pembangunan dan pencapaian kesepakatan prioritas pembangunan daerah yang akan dilaksanakan pada tahun rencana,

b. optimalisasi pemanfaatan dana yang tersedia terhadap kebutuhan pembangunan,

c. memfasilitasi pertukaran (sharing) informasi, pengembangan consensus dan kesepakatan atas penanganan masalah pembangunan daerah,

d. menyepakati mekanisme untuk mengembangkan kerangka kelembagaan, menguatkan proses, menggalang sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi isu dan permasalahan prioritas pembangunan daerah,

e. menggalang dukungan dan komitmen politik dan social untuk penanganan isu dan permasalahan prioritas pembangunan daerah.

(32)

1. Pembangunan Kota Siantar menjadi kota yang bebas dari isu dan permasalahan pembangunan daerah melalui Musrenbang yang berpedoman pada skala prioritas.

(33)

BAB III

TOPIK PENELITIAN

Sebelum membicarakan unsur-unsur pengawasan intern, ada baiknya penulis membahas defenisi dari pengawasan intern tersebut.

Pengawasan intern merupakan alat pengawasan yang sangat membantu seorang pemimpin perusahaan melaksanakan tugas sehingga mempunyai peranan yang sangat penting bagi suatu organisasi. Dalam arti sempit pengawasan intern berarti pengecekan, penjumlahan, baik penjumlahan secara mendatar (cross footing), maupun penjumlahan secara menurun (footing). Sedangkan pengertian pengawasan intern dalam arti luas, pengawasan intern tidak hanya meliputi pekerjaan pengecekan, tetapi juga meliputi semua alat-alat yang digunakan manajemen untuk melaksanakan pengawasan. Berikut ini beberapa pengertian pengendalian intern menurut Ikatan Akuntansi Indonesia :

“Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan

komisaris, dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan

keyakinan memadai.” ( IAI, 2001,319.2 )

Pengawasan intern dapat pula diartikan sebagai berikut :

“Pengawasan intern meliputi rencana organisasi dan semua metode serta

kebijaksanaan yang terkoordinasi dalam suatu organisasi untuk

mengamankan harta kekayaannya, menguji ketepatan dan sampai seberapa

(34)

mendorong ditaatinya kebijakan pimpinan yang telah digariskan.” ( Rolin C.

Niswonger Dkk, 1999:183 )

Untuk menjamin agar pengawasan intern dapat berjalan dengan baik, seorang pemimpin harus mengetahui unsur-unsur pengawasan intern tersebut. Pengawasan intern yang memuaskan tidak hanya diperoleh dari suatu system yang dikoordinasi, tetapi juga dari prosedur yang dapat dipercayadengan biaya yang relative rendah.

Sistem pengawasan intern suatu lembaga terdiri dari kebijakan dan prosedur yang diciptakan untuk memberikan jaminan yang memadai agar tujuan dapat tercapai. Suatu lembaga membentuk pengendalian intern dengan memperhatikan ukuran dan sifat unit yang bersangkutan. Pengawasan intern memegang peranan penting dalam kegiatan suatu lembaga/perusahaan, karena dengan adanya suatu pengawasan intern maka suatu perusahaan/lembaga dapat melaksanakan kegiatannya dengan baik.

(35)

Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi harus dilakukan sesuai dengan system otorisasi yang ditetapkan dan mencatat transaksi dengan catatan akuntansi agar transaksi itu dicatat dalam jumlah yang benar , transaksi dicatat dalam periode yang sebenarnya, transaksi dicatat dengan ringkas dan teliti.

Kas yang diartikan dengan uang tunai,alat bayar dan alat pertukaran yang fleksibel yang dapat dipakai dimana saja dan dan dalam perusahaan kas disebut aktiva yang paling lancer didalam neraca. Seperti yang diungkapkan oleh Soemarso ( 2002;320 ) : “Kas adalah segala sesuatu baik yang berbentuk uang atau bukan yang dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai pelunasan kewajiban pada nilai nominal” . Menurut Munawir ( 2002;242 ) : “Kas adalah jumlah uang tunai yang ada diperusahaan dan rekening giro simpanan-simpanan di Bank yang pengambilannya tidak dibatasi baik dalam waktu maupun jumlahnya dan investasi jangka pendek yang secara formal disebut kas dan setara kas”

(36)

Dari beberapa pengertian tentang pengawasan intern dan kas yang tertulis diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Pengawasan intern kas adalah pengawasan terhadap kegiatan perusahaaan/lembaga yang secara langsung berhubungan dengan arus kas, Mengadakan pengawasan terhadap struktur organisasi pada bagian keuangan,prosedur-prosedur keuangan dan pencatatan berguna untuk mendapatkan kecermatan dan ketelitian pada data akuntansi. Tindakan yang efektif dan efisien terhadap transaksi keuangan serta dipatuhinya kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan.

Fungsi pengawasan intern kas adalah :

1. menjaga aktiva/harta kekayaan dan catatan perusahaan, 2. memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi, 3. memajukan efektivitas dan efisiensi dalam operasi,

4. membantu menjaga agar tidak ada yang menyimpang dari kebijaksanaan yang ditetapkan lebih dulu.

Kas sangat menarik dan penting sehingga dijadikan sasaran untuk penyelewengan. Oleh karena itu, perusahaan/lembaga memerlukan suatu pengawasan intern terhadap kas.

Adapun beberapa cara yang umum dilakukan untuk menyelewengkan kas, yaitu:

(37)

2. kitting atau pinjaman tanpa mendapat persetujuan dengan cara tidak memcatat pembayaran tetapi mencatat penyetoran dalam melakukan transaksi Bank,

3. mencantumkan jumlah total yang tidak benar dalam buku kas, 4. menaikkan jaminan cek setelah ditandatangani ,

5. menggunakan cek gaji dan ,upah /dividen yang belum ditagih oleh pihak yang berhak,

6. mengubah bukti pengeluaran kas keci.

Cara-cara penyelewengan tersebut yang mungkin dilakukan bahkan sering dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja akan sangat menghambat tercapainya tujuan pengawasan intern kas.

Alasan suatu lembaga pemerintahan untuk menerapkan system pengawasan intern kas adalah agar tidak terjadi penyelewengan dan tercapai tujuan yang diinginkan dengan cara yang lebih efisien.

Unsur pengawasan intern yang digunakan merupakan factor yang menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan. Seorang kepala dinas harus mengetahui unsur-unsur pengawasan intern tersebut agar pengawasan intern dapat berjalan dengan baik.

(38)

Adapun unsur-unsur pengawasan intern kas adalah :

1. struktur yang memisahkan tanggungjawab fungsional secara tegas,

2. sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya,

3. praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi ,

4. karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawab. ( Mulyadi, 1998 : 171 )

Dengan adanya pemisahan tanggung jawab pada masing-masing bagian maka karyawan akan merasa lebih bertanggung jawab kepada tugasnya sehingga penyelewengan atau penyimpangan akan sulit dilakukan, jikapun ada akan sangat mudah diketahui karena karyawan pada masing bagian telah diberikan tanggung jawab penuh atas tugasnya.

a) Struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab dan wewenang

Struktur organisasi merupakan kerangka pembagian tanggungjawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok, pembagian tanggungjawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsip-prinsip berikut :

1. harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan dalam akuntansi, 2. suatu fungsi tidak boleh diberi tanggungjawab penuh untuk melaksanakan

(39)

Dalam pelaksanaan suatu transaksi terdapat internal cek diantara unit organisasi pelaksanaan. Catatan akuntansi yang diselenggarakan dapat mencerminkan transaksi sesungguhnya yang dilaksanakan oleh unit organisasi yang memegang fungsi yang lain dengan adanya pemisahan fungsi-fungsi tersebut sehingga data akuntansi yang dihasilkan dapat dipercaya kebenarannya sebagai akibatnya kekayaan organisasi terjaga keamanannya.

b) Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya

Dalam suatu lembaran transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat yang berwenang menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh sebab itu, suatu lembaga harus membuat system pembagian wewenang untuk diotorisasi atas terlaksananya setiap transaksi. Salah satu alat yan dipakai adalah formulir, Oleh karena itu, penggunaan formulir baru diawasi guna pengawasan otorisasi, prosedur pencatatan yang baik akan memnjamin data yang direkam dalam formulir yang dicatat dalam catatan akuntansi. Dengan tingkat keandalan yang tinggi, dan akan menghasilkan informasi yang teliti, serta dapat dipercaya mengenai kekayaan, utang, pendapatan dan biaya suatu organisasi/lembaga.

c) Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi Adapun cara-cara umum yang dilaksanakan suatu lembaga dalam menciptakan praktek yang sehat :

(40)

2. pemeriksaan mendadak,

3. setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh satu orang / satu unit, tanpa campurtangan orang / unit lain,

4. perputaran jabatan,

5. keharusan pengambilan cuti bagi pegawai yang menjadi haknya, 6. pencocokan fisik keuangan dengan catatannya,

7. pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek efektivitas unsur-unsur system pengawasan intern yang ada, unit ini disebut Satuan Pengawasan Intern / Staf Pemeriksa Intern.

d) Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawab

Unsur ini merupakan unsure yang paling penting karena dengan memiliki pegawai yang kompeten, unsur pengendalian yang lain dapat dikurangi sampai batas yang minimum dan badan tetap mampu menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang diandalkan.

Dari unsur-unsur pengawasan intern kas diatas, yang dilakukan oleh Bappeda adalah :

(41)

2. sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlidungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya,

3. praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi tiap unit lembaga dilakukan . Misalnya : dengan menggunakan kuitansi bernomor urut, pencatatan transaksi dengan baik kecuali dalam hal cuti karyawan yang menangani kas,

4. pemilihan karyawan yang bermutu sesuai dengan tanggungjawabnya, 5. inspeksi secara mendadak terhadap aktivitas yang dilakukan terutama dalam

hal kas.

Kas yang tersedia pada Bappeda digunakan untuk membayar biaya operasional Bappeda, baik pembayaran biaya non ruti dipakai untuk mengatur dan menentukan kebijakan operasi dari suatu kegiatan usaha yang bertujuan untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut, maupun untuk membayar biaya rutin yaitu biaya gaji, biaya pemeliharaan dll. Setiap pengeluaran yang dilakukanharus mendapat persetujuan adari yang berwenang.

Prosedur pengeluaran kas yang dilakukan adalah sbb :

1. untuk membayar kas harus mendapat otorisasi terlebih dahulu oleh bagian yang berwenang,

(42)
(43)

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari BAB sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Bappeda kota Siantar memiliki struktur organisasi yang teratur dan staff yang menunjukkan pembagian tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang jelas dan benar,

2. Bappeda kota Siantar dalam kegiatannya menggunakan system sentralisasi, 3. sistem pengawasan intern kas dilakukan dengan melibatkan sub dinas melalui

SPJ yang dinilai cukup efektif dalam mendeteksi terjedinya kecurangan kas, 4. prosedur penerimaan dan pengeluaran kas berlangsung melalui prosedur yang

sangat ketat, sehingga sulit dilakukan manipulasi,

5. pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas didukung oleh bukti yang lengkap, 6. sistem pengeluaran kas dilakukan terhadap pengeluaran rutin dan non rutin yang

dilakukan oleh berbagai tingkat elemen yang ada pada Bappeda kota Siantar. B. Saran

(44)

berjalan semaksimal mungkin dan segala kecurangan-kecurangan dan kelemahan-kelemahan dalam system pengawasan intern dapat diketahui segera dan dapat dilakukan perbaikan,

2. sebaiknya pemerintah membentuk tim auditor internal yang resmi agar setiap aktivitas kas dapat lebih diawasi dengan lebih independent,

(45)

DAFTAR PUSTAKA

Munawir. 2000, Pokok-Pokok Akuntansi. Edisi Pertama, PT Bima Rena Pariwara, Yogyakarta.

Soemarso, S.R, 2002, Akuntansi suatu Pengantar, Edisi Kelima, Salemba 4, Jakarta.

Mulyadi, 2000, Akuntansi Biaya, Edisi Ketiga, Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.

Ikatan Akuntansi Indonesia, 2001, Standar Profesional Akuntan Publik, Salemba 4, Jakarta.

Niswonger, Rollin, C., Philip E. Fees, Warren S., James, 1999, Prinsip-Prinsip Akuntansi, Terjemahan oleh Helda Gunawan, Edisi ke 19, jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Stice, Stice, Albrecht, Skousen, 2001, Akuntansi Keuangan, Buku Kesatu, Salemba 4, Jakarta.

(46)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Outline : TOPIK PENELITIAN