• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencabutan Gigi Pada Pasien Sebelum dan Setelah Menjalani Radioterapi Kanker Pada Daerah Kepala dan Leher

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pencabutan Gigi Pada Pasien Sebelum dan Setelah Menjalani Radioterapi Kanker Pada Daerah Kepala dan Leher"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

PENCABUTAN GIGI PADA PASIEN SEBELUM DAN

SETELAH MENJALANI RADIOTERAPI KANKER

PADA DAERAH KEPALA DAN LEHER

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat

Guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh :

SITI LATHIPAH NUR PULUNGAN NIM : 060600127

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Departemen Bedah Mulut dan

Maksilofasial

Tahun 2010

Siti Lathipah Nur Pulungan

Pencabutan Gigi Pada Pasien Sebelum dan Setelah Menjalani Radioterapi Kanker

Pada Daerah Kepala dan Leher

ix + 28 halaman

Kanker kepala dan leher meliputi kanker pada rongga mulut, kelenjar liur, sinus

paranasal dan rongga hidung, faring, laring, tiroid, hipofaring dan orofaring. Selain

pembedahan dan kemoterapi, radioterapi merupakan jenis perawatan bagi pasien yang

terkena kanker kepala dan leher. Sejalan dengan perawatan tersebut, mukosa mulut

menunjukkan efek yang negatif terhadap perawatan berupa mukositis, kandidiasis oral,

gangguan pengecapan, karies radiasi, osteoradionekrosis, perdarahan gingiva, nekrosis

jaringan lunak dan xerostomia.

Peran dokter gigi dalam hal perlindungan rongga mulut pasien dibutuhkan pada

masa sebelum, selama dan setelah radioterapi untuk mengurangi resiko terjadinya efek

samping.

Dalam penatalaksanaan pencabutan gigi pada pasien radioterapi, beberapa hal

yang harus diperhatikan termasuk teknik dan waktu pelaksanaan pencabutan gigi, waktu

pelaksanaan radioterapi, efek samping yang timbul akibat radioterapi serta status

hematologi pasien.

(3)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan

dihadapan tim penguji skripsi

Medan, 13 Januari 2010

Pembimbing Tanda Tangan

(4)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan tim penguji

Pada tanggal 13 Januari 2010

TIM PENGUJI

KETUA : Olivia Avriyanti Hanafiah, drg., Sp.BM

ANGGOTA : 1. Shaukat Osmani Hasbi, drg., Sp.BM

2. Abdullah, drg

(5)

DAFTAR ISI

BAB 4 PERLINDUNGAN RONGGA MULUT PASIEN RADIOTERAPI... 13

4.1 Sebelum Radioterapi....………... 13

4.2 Selama Radioterapi………... 14

4.3 Setelah Radioterapi...………... 15

(6)

5.2 Setelah Radioterapi...………... 19

BAB 6 KESIMPULAN... 24

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Mukositis pada daerah bukal dan lidah ……… 6

2 Lima fase patogénesis mukositis oral………. 6

3 Infeksi jamur setelah terapi radiasi umumnya terjadi, contohnya

candida, tetapi penanganannya mudah ……… 7

4 Karies radiasi yang mempengaruhi permukaan insisal dan

servikal gigi, dilengkapi dengan oral hygiene yang buruk……… 9

5 Osteoradionekrosis meliputi mandibula... 10

(9)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Bedah Mulut dan

Maksilofasial

Tahun 2010

Siti Lathipah Nur Pulungan

Pencabutan Gigi Pada Pasien Sebelum dan Setelah Menjalani Radioterapi Kanker

Pada Daerah Kepala dan Leher

ix + 28 halaman

Kanker kepala dan leher meliputi kanker pada rongga mulut, kelenjar liur, sinus

paranasal dan rongga hidung, faring, laring, tiroid, hipofaring dan orofaring. Selain

pembedahan dan kemoterapi, radioterapi merupakan jenis perawatan bagi pasien yang

terkena kanker kepala dan leher. Sejalan dengan perawatan tersebut, mukosa mulut

menunjukkan efek yang negatif terhadap perawatan berupa mukositis, kandidiasis oral,

gangguan pengecapan, karies radiasi, osteoradionekrosis, perdarahan gingiva, nekrosis

jaringan lunak dan xerostomia.

Peran dokter gigi dalam hal perlindungan rongga mulut pasien dibutuhkan pada

masa sebelum, selama dan setelah radioterapi untuk mengurangi resiko terjadinya efek

samping.

Dalam penatalaksanaan pencabutan gigi pada pasien radioterapi, beberapa hal

yang harus diperhatikan termasuk teknik dan waktu pelaksanaan pencabutan gigi, waktu

pelaksanaan radioterapi, efek samping yang timbul akibat radioterapi serta status

hematologi pasien.

(10)

PENDAHULUAN

Setiap tahun, lebih dari 640.000 orang di seluruh dunia terdiagnosis dengan kanker

kepala dan leher, dan lebih dari 350.000 orang meninggal karena penyakit

tersebut. Kanker kepala dan leher merupakan kanker yang dimulai dari sel-sel yang

melapisi permukaan mukosa pada bagian kepala dan leher seperti mulut, lidah, tonsil,

kerongkongan dan rongga suara. Kanker kepala dan leher meliputi kanker pada rongga

mulut, kelenjar liur, sinus paranasal dan rongga hidung, faring, laring, tiroid, hipofaring

dan orofaring. 1

Selain pembedahan dan kemoterapi, radioterapi merupakan jenis perawatan bagi

pasien yang terkena kanker kepala dan leher. Radioterapi adalah penggunaan sinar

pengion dalam upaya mengobati penderita kanker.2 Walaupun radioterapi memberikan

keuntungan dalam mengendalikan sel – sel kanker, namun perawatan ini juga

menyebabkan reaksi yang merugikan antara lain adanya efek negatif terhadap rongga

mulut.3,6-11

Perawatan radioterapi merupakan aplikasi radiasi terhadap jaringan kanker untuk

mengurangi ukuran dan menghilangkan sifat kanker. Namun sejalan dengan perawatan

tersebut, mukosa mulut menunjukkan efek yang negatif terhadap perawatan. Efek – efek

tersebut berupa mukositis, kandidiasis oral, gangguan pengecapan, karies radiasi,

osteoradionekrosis, perdarahan gingiva, nekrosis jaringan lunak dan xerostomia.3,6-11

Hal inilah yang harus diwaspadai oleh seorang dokter gigi apabila ingin melakukan

(11)

umumnya pasien yang mendapat perawatan tersebut menunjukkan efek negatif yang

serius pada rongga mulutnya.3 Oleh karena itu sangat penting menjaga kebersihan dan

kesehatan rongga mulut sebelum, selama dan setelah pasien menerima perawatan

radioterapi, untuk membantu mengurangi resiko terjadinya efek samping.16

Prosedur pencabutan gigi pada pasien sebelum dan setelah menjalani radioterapi

kanker pada daerah kepala dan leher harus benar-benar diperhatikan. Seorang dokter gigi

harus mengetahui waktu dan teknik pelaksanaan pencabutan gigi, waktu pelaksanaan

radioterapi, efek samping yang timbul akibat radioterapi serta status hematologi pasien.

7-9,22,24,27,28

Tujuan penulisan ini adalah untuk menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui oleh

seorang dokter gigi berkenaan dengan pencabutan gigi pada pasien sebelum dan setelah

menerima perawatan radioterapi, untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi

yang lebih lanjut akibat adanya efek negatif pada rongga mulut setelah perawatan

radioterapi.

Manfaat penulisan ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan dokter

gigi dan mahasiswa kedokteran gigi tentang pencabutan gigi pada pasien sebelum dan

setelah menerima perawatan radioterapi, agar nantinya dapat memberikan perawatan

(12)

RADIOTERAPI

Selain pembedahan dan kemoterapi, radioterapi juga dikenal sebagai teknik

perawatan kanker pada daerah kepala dan leher. 2

2.1 Definisi

Radioterapi adalah suatu teknik perawatan kanker dengan menggunakan radiasi

ionisasi untuk mengendalikan sel-sel kanker.2

2.2 Mekanisme Kerja

Radioterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan radiasi ionisasi.

Radiasi ionisasi dibagi menjadi dua yaitu korpuskular dan elektromagnetik. Radiasi

korpuskular terdiri dari elektron, proton dan neutron. Radiasi elektromagnetik terdiri dari

sinar X atau sinar Gamma. Di dalam klinik digunakan radiasi elektromagnetik. Radiasi

ionisasi mempengaruhi atom dan molekul sel serta menghasilkan radikal bebas yang

tersebar ke dalam sel yang kemudian merusak target yaitu DNA dan mengakibatkan

kematian atau kehilangan kapasitas reproduksi sel. Sewaktu kandungan DNA

berduplikasi selama mitosis, sel-sel yang mempunyai aktivitas mitosis yang lebih tinggi

akan lebih sensitif terhadap radiasi dibandingkan sel-sel yang aktivitas mitosisnya lebih

rendah. Kerja radiasi ada yang secara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect).

Pada kerja radiasi secara langsung DNA dibelah sehingga mengganggu proses duplikasi.

Pada radiasi secara tidak langsung, air (H2O) dibagi menjadi dua elemen, H+ dan OH-,

(13)

2.3 Indikasi dan Kontraindikasi

Pasien yang menerima radioterapi dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu pasien

yang menjalani radioterapi sebagai perawatan kuratif dan pasien yang menjalani

radioterapi sebagai perawatan paliatif. Kelompok kuratif adalah :

1. Kasus - kasus dengan kanker sangat sensitif terhadap radioterapi

2. Kasus - kasus yang setelah pembedahan menunjukkan tingkat keberhasilan yang

rendah

3. Kasus - kasus dengan lesi terletak di permukaan, yang mana jika diangkat

dengan pembedahan akan meninggalkan bekas luka yang besar

4. Kasus - kasus kontraindikasi anastesi

Pasien yang usianya sangat muda seharusnya tidak memperoleh perawatan

radioterapi. Bila radiasi mengenai organ kritis dan tidak dapat dihindari maka radioterapi

sebaiknya tidak dilakukan. Radiasi selama kehamilan dapat menyebabkan gangguan yang

sangat serius terhadap fetus. Leist melaporkan bahwa adanya kasus mikrosepalus,

gangguan terhadap perkembangan kepala serta gangguan perkembangan gigi pada

(14)

EFEK RADIOTERAPI PADA RONGGA MULUT

Rongga mulut mempunyai resiko yang tinggi terhadap perawatan radioterapi,

sebab sinar X dan elektron yang digunakan untuk merusak sel kanker juga dapat merusak

sel normal rongga mulut dengan menghentikan pertumbuhan sel – sel secara cepat dan

mencegah reproduksi sel – sel di dalam mulut, sehingga akan sulit bagi jaringan mulut

untuk mengadakan perbaikan. Selain itu radioterapi dapat menyebabkan perubahan pada

mulut dan produksi saliva serta mengganggu keseimbangan jumlah bakteri.5 Efek

samping pada rongga mulut yang disebabkan oleh radioterapi berupa mukositis,

kandidiasis oral, gangguan pengecapan, karies radiasi, perdarahan gingiva,

osteoradionekrosis, nekrosis jaringan lunak dan xerostomia.3,6-11

3.1 Mukositis

Permukaan mukosa mulut sangat sensitif terhadap efek radioterapi karena sel

lapisan basal dari epitel muko sa mempunyai aktivitas mitosis yang tinggi. Radioterapi

mengganggu pembelahan sel epitel mengakibatkan kerusakan epitel, atropi, ulser dan

inflamasi. Mukositis terjadi dalam lima fase yaitu fase awal inflamasi/vaskular, fase

informasi genetik, fase amplifikasi sinyal, fase ulseratif/bakteriologi dan fase

penyembuhan. Gejala khas mulai terlihat satu sampai dua minggu setelah terapi radiasi

dimulai yaitu berupa eritema mukosa yang tersebar dengan daerah ulser yang dangkal,

timbulnya rasa sakit, xerostomia dan kehilangan sensasi rasa. Skala yang lebih sering

digunakan untuk mengukur mukositis oral adalah skala oleh WHO, yang

(15)

adanya gejala atau simptom. Derajat 1, apabila pada mukosa terlihat adanya eritema dan

timbul rasa sakit. Derajat 2 ditandai dengan adanya ulser, dan pasien masih bisa makan

secara normal. Derajat 3 apabila terlihat adanya ulser dan si pasien hanya bisa minum.

Terakhir, derajat 4 apabila pasien tidak dapat makan dan minum. Mukositis biasanya

sembuh 6 – 8 minggu, tergantung pada lamanya perawatan.3,6-11,26,27

Gambar 1. Mukositis pada daerah bukal dan lidah (Anonymous. Dental and oral complications. 2009. <http://www.

oralcancerfoundation.org/dental/dental

-com> (11 November 2009) )

Gambar 2. Lima fase patogenesis mukositis oral

(Perry MC. The cemotherapy source book. 4th ed.

Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins, 2008: 121)

3.2 Kandidiasis Oral

Beberapa studi menunjukkan bahwa pasien yang memperoleh radioterapi

(16)

kandidiasis oral disebabkan karena menurunnya aliran saliva sebagai akibat dari

radioterapi serta berkurangnya aktivitas fagosit dari saliva dalam melawan

mikroorganisme. Gambaran klinis kandidiasis berupa pseudomembran dan eritematous,

pasien mengeluh rasa sakit yang lebih dan adanya rasa terbakar.3

Gangguan pengecapan biasanya timbul dari minggu kedua atau ketiga setelah

radioterapi dan berakhir setelah beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan setelah

radioterapi dihentikan. Gangguan pengecapan terjadi karena taste buds pada lidah

bersifat radiosensitif, sehigga terjadi degenerasi terhadap struktur histologi normalnya.

Beberapa studi menunjukkan bahwa keluhan terhadap gangguan pengecapan terjadi pada

70% pasien yang menerima radioterapi, yang secara tidak langsung mengakibatkan

(17)

3.4 Karies Radiasi

Karies radiasi adalah karies yang umum terjadi pada pasien dengan kanker kepala

dan leher yang mendapat perawatan radioterapi. Karies mulai terjadi dua sampai sepuluh

bulan setelah radioterapi, bahkan pada pasien yang tidak mempunyai karies sebelumnya

bisa terkena karies radiasi apabila dia menerima perawatan radioterapi. Faktor utama

terjadinya keadaan ini adalah menurunnya jumlah saliva dan perubahan kualitas saliva.

Di samping itu, radiasi mempunyai efek langsung terhadap gigi, yaitu membuat gigi lebih

rentan mengalami dekalsifikasi. Gambaran klinis karies radiasi adalah terjadinya

kerusakan yang parah pada daerah servikal atau pada mahkota gigi, permukaan bukal dan

lingual gigi menjadi putih kapur atau terbentuk daerah opak akibat demineralisasi

enamel. Setelah beberapa bulan, permukaan menjadi lebih lunak, kehilangan translusensi,

sering rapuh, terjadi erosi dan terpaparnya dentin lunak.3,6,7,12,20

(18)

Efek jangka panjang radioterapi terhadap daerah irradiasi adalah berkurangnya

suplai darah pada daerah tersebut. Proses devaskularisasi mengakibatkan efek yang

merugikan terhadap kemampuan penyembuhan jaringan lokal. Apabila dilakukan

pembedahan terhadap rahang, misalnya pencabutan gigi , penyembuhan terhadap tulang

dan jaringan sekitarnya tidak sempurna, sel-sel tulang dan vaskularisasi pada jaringan

tulang bisa mengalami injuri yang irreversibel dan tulang rahang mungkin mati. Keadaan

ini disebut dengan osteoradionekrosis dan perawatannya sangat sulit. Insiden terjadinya

osteoradionekrosis pada pasien yang menerima dosis radiasi kurang dari 5000 cGy

umumnya tidak terjadi, tetapi apabila dosis radiasi antara 6000 cGy sampai 7000 cGy

osteoradionekrosis lebih sering terjadi dan apabila dosis radiasi lebih dari 7500 cGy

terjadinya osteoradionekrosis sepuluh kali lebih tinggi.27 Osteoradionekrosis dapat terjadi

beberapa bulan atau beberapa tahun setelah radioterapi dan bisa terjadi secara spontan

atau pada umumnya terjadi akibat trauma. Gambaran klinis osteoradionekrosis antara lain

kehilangan jaringan lunak dan tulang, timbulnya rasa sakit, fistula orofasial, fraktur

patologis, nekrosis jaringan lunak, supurasi dan terbukanya tulang secara spontan terjadi

kira-kira satu tahun setelah radioterapi dihentikan. Mandibula lebih beresiko terhadap

osteoradionekrosis daripada maksila, karena vaskularisasi pada mandibula lebih jelek

daripada maksila, stuktur tulang mandibula yang lebih padat serta mandibula lebih sering

(19)

Gambar 5. Osteoradionekrosis meliputi mandibula (Anonymous. Dental and oral complications. 2009.

<http:// www. oralcancerfoundation. org/

dental/dental-com> (11 November 2009) )

3.6 Xerostomia

Terapi radiasi pada daerah leher dan kepala untuk perawatan kanker telah terbukti

dapat mengakibatkan rusaknya struktur kelenjar saliva dengan berbagai tingkat

kerusakan. Jumlah dan keparahan kerusakan jaringan kelenjar saliva tergantung pada

dosis dan lamanya penyinaran. Hubungan antara dosis penyinaran dan sekresi saliva

dapat ditunjukkan pada tabel 1.

Tabel 1 : Hubungan antara dosis penyinaran dan sekresi saliva (Amerongan, 1991)

( Sayuti H. Keluhan mulut kering ditinjau dari faktor penyebab, manifestasi & penanggulangannya. Medan: USU digital library, 2002: 2 )

Dosis Gejala

< 10 Gray * Penurunan sekresi saliva

10 – 15 Gray Terlihat hiposalivasi yang jelas

15 – 40 Gray Penurunan sekresi saliva terus terjadi,

masih reversibel

(20)

*Gray = Gy = 102 rad (radiation absorded dose)

Pengaruh radiasi lebih banyak mengenai sel asini dari kelenjar saliva serous

dibandingkan kelenjar saliva mukus. Gejala klinis xerostomia termasuk diantaranya

berkurangnya volume saliva, rasa kering dan rasa terbakar pada rongga mulut, bibir

pecah - pecah, celah pada sudut mulut, perubahan pada permukaan lidah dan peningkatan

frekuensi dan volume kebutuhan cairan. Selain berkurangnya volume saliva, terjadi

perubahan lainnya pada saliva, dimana viskositas menjadi lebih kental dan lengket, pH

saliva turun dan sekresi Ig A berkurang. 8,15

Gambar 6. Xerostomia (Penn- Well dental group. Steeri clear

acid aggress. April 2005

< http: // dental economic.com > (11 November 2009)

3.7 Perdarahan Gingiva

Pasien yang menjalani radioterapi akan mudah terkena trombositopenia.

Perdarahan gingiva dan submukosa yang merupakan hasil dari trauma kecil seperti

(21)

Ptechiae pada palatum. purpura pada lateral lidah dan perdarahan gingiva merupakan

gambaran klinis yang sering terlihat. 14

3.8 Nekrosis Jaringan Lunak

Konsekuensi lainnya yang mungkin timbul akibat radioterapi adalah nekrosis

jaringan lunak. Jaringan lunak bisa mengalami fibrosis setelah radioterapi, menjadi pucat,

tipis, dan tidak fleksibel. Apabila fibrosis mempengaruhi otot pengunyahan (otot

(22)

PERLINDUNGAN RONGGA MULUT PASIEN RADIOTERAPI

Adanya efek samping pada rongga mulut yang timbul akibat perawatan

radioterapi kanker pada daerah kepala dan leher, menjadikan pemeliharaan kesehatan

rongga mulut pasien sebagai salah satu prosedur penting dalam melaksanakan perawatan

radioterapi. Sebab apabila kesehatan rongga mulut pasien diabaikan, akibatnya akan

memperparah efek samping yang dirasakan pasien setelah radioterapi. Cara yang paling

efektif untuk menghindari masalah tersebut adalah dengan melakukan tindakan

perlindungan rongga mulut pasien, dimana peran dari dokter gigi dibutuhkan pada masa

sebelum, selama dan setelah radioterapi.16

4.1 Perlindungan Rongga Mulut Sebelum Radioterapi

Tujuan perlindungan rongga mulut sebelum radioterapi dimulai ada dua :

1. Memeriksa dan menghilangkan sumber infeksi dan iritasi dalam rongga mulut

2. Menjelaskan kepada pasien mengenai pentingnya perlindungan rongga mulut

untuk memperkecil efek samping perawatan kanker pada rongga mulut.

Tindakan perlindungan terhadap rongga mulut yang dapat dilakukan antara lain

menyikat gigi dan lidah 2 - 3 kali sehari menggunakan sikat gigi halus. Pemakaian dental

floss diperbolehkan jika pasien telah dilatih dengan tepat sehingga tidak menimbulkan

trauma. Pasien dengan kebersihan rongga mulut yang buruk atau dengan penyakit

peridontal dapat menggunakan obat kumur setiap hari sampai kesehatan jaringan

meningkat, diindikasikan obat kumur yang tidak mengandung alkohol sebab dapat

(23)

merestorasi gigi yang karies, tonjol gigi yang tajam dibulatkan untuk mencegah iritasi

mekanis dan gigi yang memiliki prognosis yang buruk sebaiknya dicabut sebelum

radioterapi dimulai. Untuk meningkatkan kesehatan rongga mulut dan mengurangi resiko

infeksi, sebaiknya dilakukan skeling dan pemberian antibiotik profilaktik, selain itu

pasien dianjurkan untuk menghentikan konsumsi tembakau dan alkohol sebelum

radioterapi dimulai, karena tembakau dan alkohol dapat mengiritasi mukosa.8,14,17,19,27

4.2 Perlindungan Rongga Mulut Selama Radioterapi

Tujuan perlindungan rongga mulut selama radioterapi ada dua :

1. Memelihara kesehatan rongga mulut selama perawatan radioterapi

2. Mengatasi efek samping yang disebabkan oleh radioterapi

Dokter gigi sebaiknya mengamati keadaan rongga mulut pasien setiap minggu

selama perawatan radioterapi untuk mengurangi keparahan efek samping. Tindakan

perlindungan terhadap rongga mulut yang dapat dilakukan selama menjalani perawatan

radioterapi antara lain melakukan penyikatan gigi dengan sikat gigi yang halus 2-3 kali

sehari menggunakan pasta gigi mengandung fluor, tetapi jika pasien tidak dapat

mentolerirnya akibat mukositis akan timbul rasa terbakar atau pedih pada rongga mulut,

untuk itu penyikatan gigi cukup dilakukan menggunakan air saja. Dental floss jangan

digunakan apabila pasien tidak dapat mencegah trauma jaringan. Kumur – kumur dua

kali sehari untuk meminimalkan jumlah bakteri dan jamur di rongga mulut dengan obat

kumur. Dokter gigi sebaiknya tetap mengamati kemampuan pasien dalam membuka

mulut selama menjalani radioterapi sebab radiasi dapat menyebabkan fibrosis pada otot

(24)

gigi tiruan selama radioterapi.8,17,19

4.3 Perlindungan Rongga Mulut Setelah Radioterapi

Tujuan perlindungan rongga mulut setelah radioterapi ada dua :

1. Memelihara kesehatan rongga mulut

2. Menjelaskan kepada pasien mengenai pentingnya perlindungan gigi dan

rongga mulut untuk meningkatkan kualitas hidup

Dokter gigi sebaiknya mengamati keadaan rongga mulut pasien sekali dalam 1-3

bulan pada dua tahun pertama setelah radioterapi dihentikan, dan selanjutnya setiap 3-6

bulan setelah itu. Setelah lima tahun kemudian , pasien dapat melakukan kunjungan

berkala ke dokter gigi sekali dalam setahun.14 Tindakan perlindungan rongga mulut yang

dapat dilakukan setelah radioterapi antara lain menyikat gigi 2 – 3 kali sehari

menggunakan sikat gigi halus, selain itu pasien sebaiknya menggunakan dental floss

setiap hari. Obat kumur untuk mencegah infeksi dan meringankan xerostomia diperlukan,

serta konsumsi diet nonkariogenik dan aplikasi fluor untuk mencegah karies. Apabila

jaringan gingiva mudah berdarah, pasien sebaiknya menyikat gigi dengan menggunakan

kain kasa yang dilingkarkan ke jari dan sebelumnya telah dibasahi terlebih dahulu dengan

larutan antimikroba, contohnya klorheksidin. Pemakaian gigi tiruan dihindari selama

enam bulan setelah radioterapi selesai dan pada waktu pemasangan gigi tiruan dilakukan

(25)

BAB 5

PENCABUTAN GIGI SEBELUM DAN SETELAH RADIOTERAPI

Pencabutan gigi yang mempunyai prognosis yang buruk sebelum radioterapi

dimulai bertujuan untuk menghindari pencabutan gigi selama pasien menjalani

radioterapi serta untuk mengurangi resiko terjadinya osteoradionekrosis pada rahang

setelah radiasi. Sedangkan pencabutan gigi setelah radioterapi merupakan tindakan yang

sangat berbahaya karena beresiko besar terhadap osteoradionekrosis, tetapi apabila tidak

dapat dihindari seorang dokter gigi harus benar – benar memperhatikan kondisi rongga

mulut pasien, teknik dan waktu pelaksanaan pencabutan gigi, waktu pelaksanaan

radioterapi, serta status hematologi pasien.3,7-9,11,13,18,20

5.1 Sebelum Radioterapi

Apabila pasien dengan kanker pada daerah kepala dan leher telah didiagnosa dan

mempunyai rencana perawatan berupa radioterapi, maka sebelum radioterapi dimulai

pemeriksaan terhadap rongga mulut pasien harus dilakukan terlebih dahulu. Selain

kebersihan rongga mulut, hal penting lainnya yang harus dipersiapkan sebelum

radioterapi dimulai adalah pencabutan semua gigi yang mempunyai prognosis yang

buruk.

Pencabutan gigi sebelum radioterapi merupakan prosedur yang penting terutama

gigi yang terdapat pada daerah radiasi dengan dosis yang tinggi.18 Tujuan pencabutan

gigi sebelum radioterapi adalah untuk menghindari pencabutan gigi selama pasien

menjalani radioterapi, sebab pada saat pasien sedang menjalani radioterapi pencabutan

(26)

dilakukan oleh Beumer dan kawan-kawan terhadap 120 pasien radioterapi kanker kepala

dan leher, dimana mereka menyimpulkan bahwa resiko terjadinya osteoradionekrosis

berkurang pada pasien yang melaksanakan pencabutan gigi yang berhubungan dengan

karies dan penyakit periodontal sebelum pelaksanaan radioterapi dimulai.9

Faktor – faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan pencabutan gigi

sebelum radioterapi ada dua, faktor non dental dan faktor dental.

1. Faktor Non Dental

a. Dosis radiasi

Jika dosis radiasi yang mengenai tulang maksila atau mandibula kurang dari 5000

cGy maka resiko terjadinya osteoradionekrosis setelah radioterapi minimal. Tetapi jika

lebih besar dari 5000 cGy maka gigi yang mempunyai prognosis buruk pada daerah

tersebut sebaiknya dicabut.

b. Lokasi radiasi

Klinik Onkologi Oral UF menganjurkan terlebih dahulu melakukan pencabutan

gigi sebelum radioterapi pada daerah maksila atau mandibula yang menerima dosis

radiasi lebih dari 5000 cGy. Jika terdapat gigi yang mempunyai prognosis buruk yang

berada diluar daerah radiasi dosis tinggi, maka gigi ini sebaiknya juga dicabut.

c. Prognosis pasien

Jika sel – sel kanker masih berada pada daerah setempat atau belum menyebar

(27)

kanker telah menyebar sampai ke tulang rahang atau terdapat massa tumor di dekat gigi

yang hendak dicabut, maka sebelum melakukan pencabutan gigi dilakukan kemoterapi

atau pembedahan terlebih dahulu untuk membunuh sel – sel kanker yang telah menyebar

atau untuk mengangkat massa tumor yang berada di dekat gigi yang hendak dicabut.

d. Ekonomi pasien

Jika pasien diperkirakan tidak mampu melakukan perawatan dental secara rutin

setelah radioterapi dalam hal ekonomi, maka harus dipertimbangkan apakah gigi pada

daerah radiasi dosis tinggi dapat dipertahankan atau tidak.

2. Faktor Dental

Yang termasuk faktor dental adalah foto radiograf dan indikasi gigi yang hendak

dicabut. Foto panoramik sebaiknya dilakukan sebelum pencabutan gigi agar dapat

memperhitungkan kesehatan gigi dan rahang. Pasien yang tidak mempunyai gigi juga

sebaiknya memiliki foto panoramik. Sedangkan gigi yang menjadi indikasi pencabutan

antara lain gigi dengan kedalaman poket 6 mm atau lebih, gigi yang goyang, gigi fraktur,

gigi yang menyebabkan inflamasi (misalnya inflamasi periapikal), sisa akar, gigi infeksi,

gigi impaksi yang patologis dan gigi yang tidak dapat dirawat secara

endodontik.14,18,19,24,25

Sebelum melakukan pencabutan gigi, dokter gigi terlebih dahulu berkonsultasi

dengan dokter yang merawat pasien atau dengan radioterapis mengenai keadaan pasien,

lokasi, dosis, dan waktu pelaksanaan radioterapi, seperti yang telah disebut

sebelumnya.8,18 Pencabutan gigi dilakukan dengan anastesi lokal atau dengan anastesi

(28)

trauma harus diperhatikan, tepi tulang yang tajam dihaluskan dan pemberian antibiotik

profilaktik setelah pencabutan gigi. Tidak boleh ada tulang yang terbuka pada rongga

mulut sewaktu radioterapi dilakukan. Hal yang paling penting dalam melakukan

pencabutan gigi sebelum radioterapi adalah mengetahui jarak antara waktu pencabutan

gigi dan memulai radioterapi. Untuk menjamin penutupan tulang dan penyembuhan luka

yang sempurna, pencabutan gigi sebaiknya dilakukan dua sampai tiga minggu sebelum

radioterapi dimulai.7 Jika penyembuhan luka gagal, radioterapi sebaiknya ditunda, karena

apabila radiasi tetap dilakukan sebelum luka sembuh, akan membutuhkan waktu yang

sangat lama bagi penyembuhan luka, bisa sampai beberapa bulan bahkan beberapa

tahun.8

5.2 Setelah Radioterapi

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pencabutan gigi yang mempunyai

prognosis yang buruk terutama pada daerah radiasi dosis tinggi sebaiknya dilakukan

sebelum radioterapi dimulai. Tetapi adanya kemungkinan dokter gigi diminta untuk

melakukan pencabutan gigi setelah radioterapi sangat besar. Pencabutan gigi setelah

radioterapi merupakan hal yang sangat dihindari oleh dokter gigi, karena tindakan ini

beresiko besar terhadap terjadinya osteoradionekrosis. Beumer dan kawan – kawan

menyatakan bahwa pencabutan gigi setelah radioterapi merupakan faktor predisposisi

terjadinya nekrosis tulang. Mereka mencatat resikonya akan meningkat apabila dosis

radiasi tinggi dan apabila lebih dari 75% mandibula terlibat sebagai daerah radiasi. Tetapi

(29)

yang tepat, waktu pelaksanaan radioterapi, keadaan rongga mulut dan status hematologi

pasien serta kunjungan berkala setelah pencabutan gigi harus benar – benar

diperhatikan.8,23

Jika gigi yang hendak dicabut bukan pada daerah radiasi dan prognosis pasien

baik maka setelah penyinaran selesai, pasien baru diperbolehkan melakukan pencabutan

gigi empat bulan setelah perawatan radioterapi dihentikan.27 Tetapi jika gigi yang hendak

dicabut berada pada daerah radiasi dan prognosis pasien buruk maka perlu waktu yang

lebih lama untuk diperbolehkan melakukan pencabutan gigi. Waktu tersebut dibutuhkan

untuk pengembalian struktur tulang dan elemen-elemen darah dalam keadaan normal.

Sebelum melakukan pencabutan gigi, dokter gigi terlebih dahulu berkonsultasi dengan

dokter yang merawat pasien atau dengan radioterapis, kemudian dilakukan pemeriksaan

rongga mulut pasien, jika terdapat gejala klinis berupa efek dari radiasi maka pertama

kali dilakukan pemulihan terhadap efek tersebut.24 Prosedur pencabutan gigi antara lain

pasien harus diberi antibiotik profilaktik sebelum pencabutan gigi, tepi gingiva gigi yang

hendak dicabut dioleskan larutan iodine, pencabutan gigi dengan trauma yang minimal

untuk mengurangi resiko terjadinya osteoradionekrosis, mencegah masuknya bakteri ke

dalam soket gigi misalnya dokter gigi melakukan pencabutan dengan lingkungan kerja

yang bersih, bagian gigi yang tajam dibulatkan atau dihaluskan dengan bone file, dan

jaringan lunak dijahit dengan hati – hati dan sempurna untuk menutup tulang yang

terbuka dan soket bekas pencabutan gigi. Beberapa ahli bedah mulut menganjurkan untuk

melakukan alveoloplasti sebagai usaha terjadinya penutupan primer soket bekas

pencabutan gigi untuk mencegah tepi tulang yang tajam yang dapat menyebabkan

(30)

kemudian.7,9,22,23,27

Pencabutan gigi jangan dilakukan apabila jumlah sel darah putih pasien kurang

dari 2000 / mm3 atau neutrofil kurang dari 1000 / mm3 dan jumlah platelet kurang dari

50000 / mm3. Pada keadaan dimana jumlah platelet kurang dari 50000 / mm3 transfusi

platelet diperlukan, setelah itu pencabutan gigi boleh dilakukan.25

Pencabutan gigi yang dianggap lebih aman dilakukan setelah radioterapi adalah

pencabutan gigi anterior rahang atas dan rahang bawah. Pencabutan gigi premolar dan

molar rahang bawah tidak mengakibatkan resiko besar apabila dalam pencabutan tidak

menimbulkan trauma dan menggunakan antibiotik. Sedangkan untuk pencabutan gigi

posterior rahang atas lebih baik dilakukan oleh seorang ahli bedah mulut, karena hanya

dengan pemberian antibiotik saja tidak cukup untuk mencegah kegagalan penyembuhan

atau osteoradionekrosis. Dalam hal ini penggunaan terapi oksigen hiperbarik sebelum dan

setelah pencabutan gigi diperlukan.24 Terapi oksigen hiperbarik adalah pemberian

oksigen kepada pasien dengan tekanan 2-2,4 atm selama 90 – 120 menit / hari, 5 atau 6

kali selama 8 minggu atau lebih.13 Penggunaan terapi oksigen hiperbarik sangat

bermanfaat sebab dapat membantu meningkatkan kualitas dan kecepatan pembentukan

jaringan granulasi, meningkatkan kecepatan penyembuhan luka, memacu resorbsi dan

penggantian tulang yang sudah mati, mengurangi rasa sakit yang hebat serta bersifat

bakteriostatik.21 Apabila terjadi komplikasi penyembuhan, maka diindikasikan

penggunaan flep lokal untuk menutup cacat yang terbentuk dengan segera. Sedangkan

(31)

itu pemeriksaan berkala terus dilanjutkan sampai diperoleh penyembuhan luka yang

(32)

KESIMPULAN

Kanker kepala dan leher merupakan kanker yang dimulai dari sel-sel yang

melapisi permukaan mukosa pada bagian kepala dan leher seperti mulut, lidah, tonsil,

kerongkongan dan rongga suara. Setiap tahun lebih dari 640.000 orang di seluruh dunia

terdiagnosis dengan kanker kepala dan leher, ini menunjukkan bahwa persentase

penderita kanker kepala dan leher sangat tinggi.1

Selain pembedahan dan kemoterapi, radioterapi merupakan jenis perawatan bagi

pasien yang terkena kanker kepala dan leher. Radioterapi adalah penggunaan sinar

pengion dalam upaya mengobati penderita kanker. Walaupun perawatan ini memberikan

keuntungan dalam mengendalikan sel – sel kanker, radioterapi menyebabkan reaksi yang

merugikan terhadap rongga mulut. Efek samping radioterapi adalah mukositis,

kandidiasis oral, gangguan pengecapan, karies radiasi, osteoradionekrosis, perdarahan

gingiva, nekrosis jaringan lunak dan xerostomia. 2,3,6-11

Adanya efek samping pada rongga mulut yang timbul akibat perawatan

radioterapi kanker pada daerah kepala dan leher, menjadikan pemeliharaan kesehatan

rongga mulut pasien sebagai salah satu prosedur penting dalam melaksanakan perawatan

radioterapi. Cara yang paling efektif untuk mengurangi keparahan efek samping adalah

dengan melakukan tindakan pencegahan untuk melindungi rongga mulut, dimana peran

dari dokter gigi dibutuhkan pada masa sebelum, selama dan setelah radioterapi.16

Pencabutan gigi yang mempunyai prognosis yang buruk sebelum radioterapi

(33)

radioterapi serta untuk mengurangi resiko terjadinya osteoradionekrosis pada rahang

setelah radiasi. Sedangkan pencabutan gigi setelah radioterapi merupakan tindakan yang

sangat berbahaya karena beresiko besar terhadap osteoradionekrosis, tetapi apabila tidak

dapat dihindari seorang dokter gigi harus benar – benar memperhatikan kondisi rongga

mulut pasien, teknik dan waktu pelaksanaan pencabutan gigi, waktu pelaksanaan

radioterapi, serta status hematologi pasien.3,7-9,11,13,18,20

(34)

DAFTAR PUSTAKA

1. Sanofi Aventis. Kanker kepala dan leher, penyakit yang mematikan. Jakarta: PT.

Sanofi-aventis, 2007: 2-3

2. Departemen Radioterapi. Tentang radioterapi. Jakarta: RSCM. 2008: 1

3. Bruno CJ, Addah RSF. Oral complications of radiotherapy in the head and neck.

2006.

4. Kurt HT. Oral surgery. 5th ed. St. Louis: The CV Mosby Company, 1969: 2: 1084-5

5. National Cancer Institute. Oral complications of chemotherapy and head / neck

radiation. Juni 2008. <

6. J Philip, Lewis RE, George PW. Contemporary oral and maxillofacial pathology. 2nd

ed. Philadelphia: Mosby, 2004: 382-5

7. Crispian S, Roderick AC. Medical problems in dentistry. 3rd ed. Oxford:

Butterworth-Heinemann Ltd, 1994: 153-5

8. Larry JP, Edward E, James RH, Myron RT. Contemporary oral and maxillofacial

surgery. 4th ed. Philadelphia: Mosby, 2003: 406-10

9. Booth PW, Schendel SA, Jarg – Erich H. Maxillofacial surgery. 2nd ed. St. Louis:

Churchill Livingstone, 2007: 336

10. Kostler WJ, Hejna M, Wenzel C, Zielinski CC. Oral mucositis complicating

chemotherapy and / or radiotheraphy : options for prevention and treatment. A

Cancer Journal for Clinicians 2001;51(5):290-1

11. Jordan RCK, Lewis MAD. A color handbook of oral medicine. London: Manson

(35)

12. Klastersky J, Schimpff SC, Hans JS. Supportive care in cancer. 2nd ed. New York::

Marcel Dekker, 1999: 232 – 5, 241

13. Hay D. Management of oral problems associated with cancer treatment:

radiotherapy. <http://www.hospital dentistry.com>

14. Little JW, Falace DA, Miller CS, Rhodus NL. Dental management of the medically

compromised patient. 7th ed. St. Louis: Mosby, 2008: 451,454-6

(10 September 2009)

15. Sayuti H. Keluhan mulut kering ditinjau dari factor penyebab, manifestasi &

penanggulangannya. Medan: USU digital library, 2002: 2

16. Radar Banjarmasin Online News. Kesehatan gigi dan mulut penting.

17. Scully C, Ettinger RL. The influence of systemic diseases on oral health care in older

adults. JADA 2007;138:3

18. Hancock PJ, Epstein JB, Sadler GB. Oral and dental management related to

radiation therapy for head and neck cancer. Journal of Canadian Dental Association

2003;69(9):586,589

19. American Academy of Pediatric Dentistry. Guideline on dental management of

pediatric patiens receiving chemotherapy, hematopoietic cell transplantation, and/or

radiation. 30 (7): Clinical Affairs Committee, 2008: 2-6

20. Harrison LB, Session RB, Wong KH. Head and neck cancer. 3rd ed. Philadelphia:

Lippincott Williams & Wilkins, 2009: 122-3

21. Pedersen GW. Buku ajar praktis bedah mulut. Alih bahasa. Purwanto, Basoeseno.

(36)

Publish, 1999: 55

23. Lynch MA, Brightman VJ, Greenberg MS. Burket’s oral medicine. 8th ed.

Philadelphia : J.B. Lippincott Company, 1984 : 530

24. Antonio CT, Albert CL, Jason CC, Jonathan S. Incidence of complicated healing and

osteoradionecrosis following tooth extraction in patients receiving radiotherapy for

treatment of nasopharyngeal carcinoma. Australian Dent J 1999; 44 (3): 191-3

25. Virendra S, Sunita M. Oral care of patients undergoing chemotherapy and

radiotherapy : a review of clinical approach. The Internet Journal of Radiology 2007;

6 (1): 3-5

26. Perry MC. The cemotherapy source book. 4thed. Philadelphia: Lippincott Williams &

Wilkins, 2008: 121

27. Abubaker AO, Benson KJ. Oral and maxillofacial surgery secrets. 2nd ed. St. Louis :

Mosby Elsevier, 2007 : 382, 384

28. Anonymous. Dental and oral complications. 2009. <http:// www.

Gambar

Tabel 1 : Hubungan antara dosis penyinaran dan sekresi saliva (Amerongan, 1991)                ( Sayuti H

Referensi

Dokumen terkait

Radioterapi dapat mencegah pertumbuhan dan pembelahan sel kanker dengan sangat cepat, namun dapat menimbulkan komplikasi oral seperti mukositis, kandidiasis, xerostomia,

Dokter gigi dapat mendeteksi dini skleroderma dengan manifestasi yang terdapat di rongga mulut deng;m mendiagnosa secara tepat. Prosedur perawatan gigi dan mulut pedu

Pemeriksaan gigi hilang dilakukan dengan bantuan kaca mulut, dilihat apakah terdapat gigi yang hilang pada rongga mulut pasien. Ada perbedaan penilaian dari komponen

Dengan demikian perubahan pada kuantitas dan kualitas saliva akan mempengaruhi pasien yang mendapat radioterapi hingga menyebabkan beberapa masalah yang berkembang secara

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran komplikasi pasien kanker kepala dan leher pasca radioterapi/kemoterapi di RSUP Sanglah tahun 2016. Mengetahui rata-rata usia yang

Total muatan kuman kontaminan CFU kuman rongga mulut (Microbial load) yang tumbuh dalam perbenihan Agar Darah menggambarkan bahwa jumlah CFU muatan kuman kontaminan pada sikat

Subjek penelitian ini yaitu rekam medis pasien yang menjalani perawatan saluran akar multi kunjungan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi pada tahun

Populasi terjangkau adalah pasien kanker kepala dan leher yang mendapatkan radioterapi dengan teknik 3DCRT/IMRT di Departemen Radioterapi RSCM yang dilakukan