BAB II PAULUS DAN TRADISI KEKRISTENAN MULA-MULA I. Tradisi Kekristenan Mula-mula

27 

Teks penuh

(1)

BAB II

PAULUS DAN TRADISI KEKRISTENAN MULA-MULA

I. Tradisi Kekristenan Mula-mula

Setelah Yesus, orang Nazaret, hilang dari panggung sejarah, maka mulailah orang memikirkan siapa Dia sebenarnya berikut juga pengalaman semasa bersama dengan Dia. Dalam diri para pengikut Yesus ada keyakinan bahwa Yesus sebenarnya hidup, tetap berarti, bermakna dan relevan bagi manusia.1 Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Yesus – bahkan setelah kematian-Nya – memberikan pengaruh yang cukup besar bagi diri para pengikut-Nya. Pengalaman bersama dengan Yesus – semasa masih hidup – ternyata tidak hanya menjadi kenangan bagi para pengikut-Nya – secara khusus para murid, namun juga mengubahkan pola kehidupan religius mereka. Perubahan dalam kehidupan pribadi para pengikut Yesus ini ternyata menumbuhkan kesadaran dalam diri mereka untuk

―mengenalkan‖ Yesus kepada orang lain. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pewartaan mengenai Yesus melalui tulisan-tulisan ataupun tradisi lisan. Konsep ataupun rumusan iman

– baik secara individu maupun dalam komunitas tertentu – terhadap Yesus tentunya tidak jauh berbeda dengan pewartaan mengenai diri Yesus itu sendiri, yang dibawakan oleh para pemberita Injil. Para pemberita Injil memberitakan Yesus sesuai dengan keyakinan mereka sendiri akan sosok Yesus tersebut. Dengan pemberitaan Injil tersebut, maka orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal Yesus akhirnya menjadi kenal, bahkan ada pula yang akhirnya menjadi pengikut Yesus. Kepercayaan dan keyakinan (iman) yang ada dalam individu atau suatu masyarakat tertentu mengenai diri Yesus tentunya juga tidak jauh berbeda dengan konsep atau iman mengenai Yesus yang diberitakan kepadanya. Berdasarkan hal tersebut, pewartaan iman akan Yesus turut mempengaruhi iman seseorang atau masyarakat di mana Yesus diberitakan. Demikian pula sebaliknya, iman seseorang atau masyarakat tertentu akan Yesus secara tidak langsung pula memberikan gambaran bagaimana Yesus diberitakan di tempat/konteks tersebut.

Masa-masa pasca-Paskah memang menjadi suatu moment tersendiri bagi para pengikut Yesus. Masa-masa tersebut menjadi waktu di mana para pengikut Yesus mulai

1

(2)

mempergumulkan dan merefleksikan seluruh pengalamanya bersama Yesus dan juga tentang siapa Yesus sebenarnya. Terlepas dari permasalahan mengenai kebangkitan apakah merupakan fakta historis atau tidak, ternyata tradisi lisan ataupun tulisan-tulisan pada masa itu menyiratkan suatu keyakinan akan kebangkitan Yesus. Dengan demikian tampak bahwa refleksi atas pengalaman Paskah merupakan titik tolak seluruh iman akan Yesus.2 Pengalaman Paskah tersebut meyakinkan para pengikut Yesus akan pewartaan-Nya dan tindakan-Nya semasa Ia masih hidup bersama-sama dengan mereka. Kehidupan Yesus yang dulu merupakan teka-teki bagi mereka kini mulai dapat tersingkap dan dipahami. Dalam masa-masa inilah kristologi mulai berkembang.

Jika pengalaman Paskah merupakan titik tolak iman Kristen, maka bisa dikatakan pula pengalaman Paskah merupakan titik di mana Yesus masuk dalam kehidupan religius

para pengikutnya. Proses masuknya ―Yesus‖ dalam kehidupan religius para pengikut-Nya pun bukan berarti tidak ada permasalahan di dalamnya. Ketika mereka mengalami perubahan

dalam kehidupan religius mereka, ternyata ada suatu kesadaran untuk melakukan ‗misi‘. Misi

untuk mewartakan Injil, termasuk di dalamnya mewartakan siapa Yesus. Namun, ternyata dalam pewartaan inipun ada permasalahan. Para pemberita Injil berhadapan dengan konteks budaya dan alam pikir yang berbeda. Misalnya, sekalipun banyak orang (khususnya masyarakat Yahudi Palestina) yang mengenal Yesus tatkala Dia masih hidup, namun mereka mempunyai penghayatan akan Yesus yang berbeda dengan para pengikut Yesus. Begitu pula dalam konteks Yunani, di mana Yesus kurang begitu familiar dengan kehidupan mereka. Situasi seperti inilah (perbedaan konteks dan alam pikir) yang mendorong para pemberita Injil mengolah tradisi iman mereka dan mengembangkannya sesuai dengan konteks di mana mereka memberitakan Injil. Kesadaran untuk mengolah dan mengembangkan tradisi iman inipun juga tidak lepas dari adanya kesadaran akan misi untuk mewartakan Injil. Tentunya kesadaran akan misi ini tidak hanya sekedar mewartakan, namun juga mengupayakan agar apa yang mereka beritakan dapat diterima dengan baik sesuai konteks masyarakat tertentu.

2

(3)

a. Yesus dalam Dunia Kristen-Yahudi

Di kalangan umat yang berasal dari bangsa Yahudi asli, Yesus dihormati dengan mengakui-Nya sebagai “Massiakh” (bhs. Ibrani) atau “Christos” (bhs. Yunani). Hal ini karena pada umumnya orang Yahudi tidak menyebut raja mereka dengan sebutan “Kyrios”. Namun demikian, tidak ada bukti bahwa pernah dipakai semacam homologi (pengakuan) ―Kristuslah Yesus‖. Akan tetapi, suatu pengakuan yang serupa dengan itu pasti pernah ada. Dalam

Kis 2: 36, disebut secara bersamaan: ―Allah membuat Yesus menjadi Tuhan dan Kristus‖. Dan ternyata nama ―Yesus Kristus‖ menjadi nama yang paling

biasa bagi Yesus dalam Perjanjian Baru. Bahkan seringkali dipakai nama

―Kristus‖ ganti ―Yesus‖. Padahal, kata ―Kristus‖ bukanlah nama diri, melainkan gelar untuk raja (Yahudi). Jadi, kalau Yesus disebut ―Kristus‖, maka jelaslah bahwa Ia pernah diakui sebagai ―Kristus‖ atau sebagai raja

orang Yahudi.3

Dalam Perjanjian Baru, nama Yesus seringkali diikuti dengan ‗Kristus‘. Padahal kata ‗Kristus‘ (Cristo,j) bukanlah berasal dari bahasa ataupun tradisi Yahudi, melainkan berasal

dari bahasa Yunani, yang artinya ―Yang Diurapi‖. Pemakaian kata itu sendiri bisa dibilang wajar, karena pada waktu itu budaya Yunani tengah berkembang pesat dan kekristenan sendiri mulai keluar dari daerah Palestina. Namun, kata ―Christos‖ yang artinya ―yang

diurapi‖ tersebut ternyata mempunyai kesamaan makna dengan kata ―Messiah‖ dalam tradisi Yahudi. Dalam ‗kasus‘ ini, tampak adanya pengalih bahasan dari ―Messiah‖ menjadi

―Christos‖. Hal ini dikarenakan helenisasi yang berkembang di Palestina pada waktu itu

membuat ‗Messiah‘ yang hanya dimengerti oleh orang Yahudi dialih bahasakan menjadi

‗christos‘, agar orang non-Yahudi juga bisa mengerti dan menerima ‗Messiah‘. Jika pada waktu itu Yesus dikenakan gelar ‗Kristus‘ pada diri-Nya, maka dengan kata lain pula Yesus dalam terang tradisi Yahudi diyakini sebagai Mesias.

Walaupun bagi para pengikut-Nya – yang notabenenya sebagian besar adalah orang Yahudi – Yesus adalah seorang Mesias, namun untuk menjelaskan dan mewartakan hal tersebut kepada orang-orang Yahudi sendiri bukan berarti tidak menemui masalah. Dalam kitab-kitab Injil banyak dikisahkan bagaimana Yesus bersinggungan dengan tradisi Yahudi. Bahkan, kematian Yesus pun salah satunya disebabkan karena Dia bersinggungan dengan kehidupan religius Yahudi. Berdasarkan kisah penyaliban Yesus yang termuat dalam kitab Injil (Mat. 27; Mark. 15; Luk. 23; dan Yoh. 18-19), inisiator penyaliban Yesus adalah

3

(4)

orang Yahudi yang menolak Yesus. Jumlah mereka pun – tersirat – lebih banyak daripada jumlah orang Yahudi yang mengikuti Yesus. Tampak bahwa Yesus tidak diterima dengan baik dalam masyarakat Yahudi. Hanya sedikit yang menerima dan mengikuti-Nya. Sulit dipungkiri bahwa kehidupan religius bangsa Yahudi sangat kental dengan konsep Mesianisme, maka agaknya kurang mungkin jika ‗Yesus adalah Mesias‘ diwartakan tanpa menemui masalah. Yesus yang semula ditolak oleh sebagian besar orang Yahudi kini diwartakan sebagai Mesias. Hal ini tentunya bukan masalah yang sepele bagi para pengikut Yesus dan pemberita Injil pada waktu itu, di mana mereka terlebih dahulu mengalami perubahan iman dan kemudian memberitakan hal tersebut serta berusaha meyakinkan masyarakat di mana ia memberitakan Injil.

Ketika para pemberita Injil mengatakan bahwa ―Yesus adalah Kristus‖ atau ―Yesus

adalah Mesias‖, maka ada sebuah proses yang amat pelik di balik penghayatan iman tersebut.

Yesus yang kehadiran-Nya jauh sesudah konsep Mesias lahir dalam kehidupan religius bangsa Yahudi kini mulai memasuki alam pikir Yahudi. Kata ‗Mesias‘ yang artinya adalah

‗yang diurapi‘, pada awalnya menunjuk pada raja yang sedang berkuasa di Israel. Konsep mengenai Mesias banyak terdapat dalam nubuat para nabi antara abad ke-9 hingga abad ke-5 sM. Pada masa itu bangsa Israel telah mengenal pemerintahan dan kekuasaan raja, sehingga para nabi selalu menggambarkan Mesias itu sebagai raja. Ketika masa pembuangan gambaran Mesias berubah, yaitu Mesias yang adalah raja dan sekaligus bertugas sebagai nabi. Sebagai raja, Mesias adalah wakil Allah di dunia, yang membebaskan Israel dari perhambaan, dan yang memimpin bangsa Israel kembali melalui padang gurun dan akhirnya memerintah dengan kemuliaan abadi. Sebagai nabi, Ia merupakan murid Yahweh yang senantiasa mendengar Firman-Nya dan menyampaikan kebenaran dan terang kepada bangsa Israel maupun bangsa-bangsa lain. Perubahan konsep mesianisme tidak hanya berhenti

sampai di sini. Mesias yang nabiah tadi akhirnya tergantikan oleh ―Anak Manusia‖ (Daniel

7). Pandangan ini akhirnya menghapus kedudukan atau jabatan nabi yang sebelumnya melekat erat pada pengertian Mesias.4 Konsep mesianis seperti inilah yang agaknya mewarnai kehidupan religius bangsa Yahudi pada zaman Yesus. Mesias yang adalah raja keselamatan dan pembebas secara sosio-politis. Sementara itu, kehidupan Yesus jauh dari gambaran Mesias seperti ini. Oleh karena itu, pernyataan bahwa ―Yesus adalah

4

(5)

Kristus/Mesias‖ bisa dikatakan suatu pernyataan iman yang sulit untuk diterima oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu.

Betapapun sulitnya ―Yesus adalah Mesias‖ diterima dan diyakini oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu, namun tulisan-tulisan dalam Perjanjian Baru menjadi salah satu bukti bahwa pada akhirnya ada sekelompok orang yang menerima dan meyakini bahwa Yesus adalah Mesias. Ketika iman kepada Yesus berujung pada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, maka yang menjadi permasalahan berikutnya adalah bagaimana proses pemikiran orang Yahudi pada waktu itu – khususnya para pengikut Yesus – hingga sampai meyakini bahwa Yesus adalah Mesias? Ada dua kemungkinan dalam hal ini. Pertama, keyakinan masyarakat Yahudi mengenai Mesias berujung pada diri Yesus. Artinya, masyarakat Yahudi yang mempunyai pengharapan begitu besar akan datangnya Mesias melihat bahwa Yesus-lah Mesias yang dijanjikan. Kedua, para pemberita Injil memberitakan Yesus – yang diyakini sebagai Mesias – dalam terang tradisi Yahudi. Kedua kemungkinan di atas memang sama-sama bertujuan memberitakan dan mengajak orang untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Namun, yang menjadi masalah pada kemungkinan yang pertama adalah ternyata Yesus tidak sama dengan gambaran mengenai Mesias dalam tradisi Yahudi, yaitu raja secara politis. Inisiator penyaliban Yesus yang adalah orang Yahudi sendiri menjadi bukti bahwa Yesus ditolak oleh sebagian besar orang Yahudi (bnd. Mark. 15: 9-15). Sekalipun dalam penyaliban-Nya Ia ―dianugerahi‖ gelar o` basileu.j tw/n VIoudai,wn,, (Mat 27:37; Mark 15:12; Luk 23:3; Yoh 18:33) namun hal itu adalah sebagai sindiran kepada Yesus. Berdasarkan hal tersebut, sulit kiranya untuk mengatakan bahwa pernyataan iman ―Yesus adalah Mesias‖ oleh karena orang Yahudi melihat adanya Mesias dalam diri Yesus. Memang tidak semua orang Yahudi menolak Yesus, khususnya para murid – mereka mampu ‗melihat‘ adanya Mesias dalam diri Yesus. Mesias yang mereka yakini dalam diri Yesus inipun bukanlah Mesias seperti dalam gambaran tradisi Yahudi, melainkan sudah mengalami perubahan. Sekalipun telah terjadi perubahan konsep Mesias dalam diri para pengikut Yesus, namun tetap yang menjadi permasalahan adalah bagaimana mereka memberitakan Yesus yang diyakini sebagai Mesias dalam lingkup orang-orang Yahudi yang notabenenya sebagian besar menolak ke-Mesias-an Yesus.

(6)

Hal ini tampak dari adanya penggunaan konsep dalam Perjanjian Lama untuk menjelaskan kemesiasan Yesus. Dengan kata lain, para pemberita Injil menggunakan tradisi Perjanjian Lama (khususnya kitab-kitab kenabian, mis. Yesaya, Daniel, dll) sebagai ‗referensi‘ untuk menjelaskan Yesus adalah Mesias. Misalnya saja pandangan Yahudi yang sulit menerima bahwa Mesias harus menderita dan mati. Mesias dalam gambaran Yahudi, di mana ia sebagai raja politis dan mulia, tentunya tidak akan mengalami nasib yang tragis seperti yang dialami oleh Yesus. Ketika mereka diperhadapkan dengan keyakinan bahwa Yesus adalah Mesias

dan kenyataan Yesus yang mati di kayu salib, tentunya kematian seorang ―Mesias‖ yang

seperti ini menjadi permasalahan bagi mereka – sekaligus turut menentukan penerimaan

mereka terhadap ‗identitas‘ Yesus.5

Lalu, bagaimana permasalahan mengenai kematian

―Mesias‖ ini terpecahkan?

Pola kehidupan religius bangsa Yahudi memang tidak lepas dari hukum Taurat dan kitab para nabi – khususnya yang menubuatkan Mesias. Dalam salah satu tradisi Perjanjian

Lama tersebut, yaitu Yesaya 52, tersedia suatu konsep mengenai ―Hamba Tuhan‖. Tema Hamba Tuhan dalam kitab Yesaya mempunyai pesan soteriologis dan eskatologis yang kuat. Penderitaan sekaligus kemuliaan yang dialami oleh Hamba Tuhan jelas mempunyai jangkauan yang mengatasi konsep tradisional tentang Mesias keturunan Daud.6 Hamba Tuhan adalah representasi dari orang Israel yang benar di mata Allah. Penderitaan yang harus ditanggungnya bukanlah konsekuensi dari misinya tetapi seolah-olah sudah menjadi bagian dari misi itu sendiri. Penebusan yang dilakukannya hanya dapat tercapai melalui penderitaan yang sudah menjadi bagian dari jalan panggilannya dalam menegakkan Kerajaan Allah. Dalam terang tradisi seperti inilah kematian Yesus sebagai Mesias menjadi jelas. Memang

―Hamba Tuhan‖ dalam kitab Yesaya tidak mengarah langsung pada diri Yesus. Namun, keyakinan para pengikut Yesus akan ke-Mesias-an Yesus membuat mereka sampai pada keyakinan bahwa Hamba Tuhan dalam kitab Yesaya tersebut adalah Yesus.7 Dengan

5

Bandingkan dengan pendapat Groenen yang mengatakan bahwa dalam tradisi Yahudi memang tidak ada pikiran bahwa Mesias akan menderita dan ditolak oleh bangsa-Nya sendiri, sehingga kematian Yesus jelas bagi umat Kristen keturunan Yahudi menjadi suatu problem besar yang mereka gumuli (C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, hlm. 41).

6

A. Hari Kustono, Konsep Mesianis dalam Kitab Yesaya; dalam Konsep Mesianis dalam Kitab Yesaya dan Relevansinya dalam Kehidupan Masyarakat Plural (Yogyakarta: Duta Wacana University Press. 2005). Wahju Satrio W. (ed.) Hlm. 13

7

(7)

demikian, arti Yesus sebagai Mesias yang harus menderita dan mati sekaligus arti kematian Yesus sendiri dapat menjadi jelas di mata orang Yahudi.

Mungkin tidak semua orang Yahudi bisa menerima bahwa Yesus adalah Mesias, sekalipun mereka telah mengalami pewartaan tersebut. Hal ini memang wajar, karena bagaimanapun tradisi atau konsep dalam Perjanjian Lama menerangi keyakinan Yesus adalah Mesias dan berusaha menjelaskannya, masalah penerimaan dan pengakuan itu sendiri bukanlah suatu hal yang mudah. Tentunya orang Yahudi yang mengalami pewartaan itu sendiri juga bergumul antara keyakinan yang selama ini dihidupi dan dipegangnya dengan hal yang baru didengarnya. Lepas dari semua itu, ternyata di dalam memberitakan mengenai siapa diri Yesus di dalam konteks masyarakat Yahudi, para pemberita Injil menggunakan

‗referensi‘ tradisi atau konsep dalam Perjanjian Lama untuk menerangi keyakinan akan

Yesus yang adalah Mesias. Untuk menjelaskan permasalahan-permasalahan seputar keyakinan bahwa Yesus adalah Mesias, mereka menggunakan konsep-konsep dalam Perjanjian Lama yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Yahudi. Dengan demikian, konsep-konsep tradisional tersebut kini mengalami suatu perubahan makna dan menjadi jelas. Dari sosok Mesias yang masih abstrak, kini menjadi jelas bahwa sosok Mesias tersebut adalah Yesus. Mesias yang bukan seorang raja dunia yang membawa pembebasan dari bangsa Romawi, namun Mesias ilahi. Mesias sang pembawa damai dan sang penyelamat dalam konsep/pengharapan eskatologis. Keselamatan yang dibawa-Nya pun bukan dalam arti pembebasan dari bangsa Romawi, namun keselamatan dalam arti kehidupan kekal di surga setelah kematian.8

8

Konsep keselamatan seperti inilah yang membuat sebagian orang Yahudi tidak bisa menerima Yesus sebagai Mesias. Menurut Moltmann, ―The concept of the redeemed soul in the midst of an unredeemed world is alien to the Jew, profoundly alien, inaccessible from the primal ground of his existence. This is the innermost reason for Israel's rejection of Jesus, not a merely external, merely national conception of messianism. In Jewish eyes, redemption means redemption from all evil. Evil of body and soul, evil in creation and civilization. So when we say redemption, we mean the whole of

redemption”, lihat The Way of Jesus Christ; Christology in Messianic Dimenssions (London: SCM Press. 1990). Hlm.

(8)

b. Yesus dalam Dunia Kristen-Yunani

Dalam kekristenan Yahudi, kepercayaan akan Mesias berujung pada diri Yesus. Seiring dengan perkembangan kekristenan dalam konteks Palestina dan sekitarnya – di mana di dalamnya juga berkembang helenisme, kata ‗Mesias‘ kemudian dibahasakan dengan

‗Kristus‘.9

Wajar jika „messiakh‟ yang dalam bahasa Ibrani diterjemahkan menjadi „christos‟ dalam bahasa Yunani, agar kekristenan juga dapat diterima ketika diwartakan kepada orang-orang non-Yahudi (khususnya orang-orang Yunani). Sekilas tidak tampak masalah dalam pengalihan bahasa tersebut, karena „messiakh‟ dan „christos‟ memiliki arti yang sama, yaitu

‗yang diurapi‘. Seperti halnya pengalihan bahasa „and‟ (Inggris) menjadi „dan‟ (Indonesia) atau „saha‟ (Jawa). Namun, jika dilihat lebih jauh lagi ternyata ada permasalahan yang cukup pelik di dalam pengalihan bahasa tersebut dan permasalahan itu terkait dengan konsep teologis di dalamnya. Ketika kekristenan masuk ke dalam dunia Yunani, tidak dapat tidak kekristenan terpengaruh oleh alam pikiran Yunani, dan mau tidak mau sedikit banyak menyesuaikan diri, termasuk konsep-konsep teologisnya. Pemikiran Jemaat keturunan Yahudi sekitar Yesus Kristus tentu saja dibawa serta dan diteruskan, tetapi juga ditinjau kembali dan berkembang, kini dalam alam pikiran Yunani.10 Dengan demikian, maka penghayatan iman akan Yesus pun berubah dari yang semula alam pikir Yahudi masuk ke dalam alam pikir Yunani. Ketika iman akan Yesus diwartakan kepada orang-orang dengan konteks Yunani atau helenisme, apakah mereka bisa memahami sehingga akhirnya menerima bahwa messiakh yang dibahasakan dengan Christos adalah ‗yang diurapi‘? Jika Yesus akhirnya diimani sebagai Mesias dalam dunia Yahudi, hal itu dikarenakan dalam tradisi Yahudi ada konsep mengenai Mesias. Namun, apakah budaya Yunani juga mengenal konsep mengenai ‗yang diurapi‘?

Alam pikiran Yunani pada awal tarikh Masehi memang serba sinkretis. Di dalamnya terserap bermacam-macam unsur dari kebudayaan-kebudayaan lain, tetapi secara dasariah alam pikiran itu tetap Yunani. Sinkretisme itu meliputi segala sesuatu dan boleh dikatakan terutama pemikiran religiuslah yang serba sinkretis. Segala apa dicampuradukkan melebur menjadi satu, tetapi sekaligus kabur tidak karuan. Dan di samping sinkretisme populer itu

9

Berdasarkan data yang ada di software Bible Works 6, di dalam Perjanjian Baru kata ‗Mesias‘ dipakai sebanyak 49 kali. Suatu jumlah yang tidak sebanding dengan kata ‗Kristus‘ yang dipakai sebanyak 501. Berdasarkan data tersebut, tampak bahwa Yesus dalam dunia Yunani lebih dikenal dengan Kristus.

10

(9)

masih ada aliran filsafat bermacam-macam, yang berpangkal pada tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Epikurus, Zenon (Stoa), Diogenes dan sebagainya. Dan filsafat itu sedikit banyak 'merakyat' ke mana-mana dan juga bercampur aduk. Orang-orang Yahudi di Diaspora, yang berkebudayaan Yunani tentu saja tidak terluput dari sinkretisme umum itu.11 Filsafat Yunani yang berkembang dan mempengaruhi pola pikir orang-orang Yunani jauh sebelum

kekristenan muncul membuat kekristenan itu sendiri mencari ‗celah‘ untuk bisa masuk dan

menyesuaikan diri dalam dunia Yunani. Alam pikir Yunani memang tidak mengenal konsep Mesias seperti yang ada dalam tradisi keagamaan Yahudi. Namun, hal itu bukan berarti tidak ada konsep semacam itu. Jika melihat pola kepercayaan bangsa Yahudi terhadap Mesias

bahwa Mesias adalah ‗yang diurapi‘, yang membawa tugas ‗suci‘ dari Yahweh berupa keselamatan, maka bisa dikatakan bahwa Mesias merupakan ‗perantara‘ atau ‗jembatan‘

antara Yahweh dengan umatNya. Alam pikir Yunani memang tidak mengenal istilah

‗messiakh‘, tetapi alam pikir Yunani mengenal konsep mengenai ‗perantara‘ tersebut dalam

beberapa aliran filsafatnya. Adalah seorang filsuf yang bernama Philo (± 30 SM – 50 M), yang mensintesakan agama Yahudi dengan fisafat Yunani. Warna filsafatnya pun tidak lepas dari pengaruh para filsuf pendahulunya, karena ia mengolah filsafat Plato (idea) dan Stoa (logos) kemudian mensintesakannya dengan agama Yahudi.12 Dalam filsafat Philo ada perbedaan yang mutlak antara Allah dan dunia, sebab Allah adalah roh, sedang dunia adalah benda. Keduanya tidak dapat dipersatukan. Oleh karena itu diperlukan tokoh-tokoh pengantara. Tokoh-tokoh itu dapat disebut dengan bermacam-macam sebutan, yaitu: idea-idea, atau gagasan-gagasan yang dipakai sebagai pola dalam menciptakan dunia; kekuatan-kekuatan ilahi, yang bekerja dalam dunia; malaikat-malaikat, yaitu para utusan Allah yang melaksanakan kehendakNya. Semuanya itu dipersatukan di dalam istilah Logos, pengantara antara Allah dan dunia. Logos adalah idea dari segala idea, yang juga disebut kebijaksanaan, kekuatan dunia yang universal. Sekalipun demikian Logos ini bukanlah Allah, bukan makhluk, bukan tidak dijadikan dan bukan dijadikan seperti para makhluk. Logos adalah Allah kedua, Anak Allah yang sulung, Juru bahasa Allah, Wakil Allah, Parakletos.13 Memang sulit dikatakan bahwa alam pikir Yunani memahami konsep mesianis seperti halnya

11

C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, hlm. 35

12

Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius. 1980). Hlm. 63

13

(10)

dalam tradisi Yahudi, namun alam pikir Yunani ternyata mengenal konsep adanya pengantara antara Allah dan dunia.

Yesus yang adalah Mesias dalam budaya Yahudi kini telah memasuki dunia Yunani dalam bahasa „christos‟. Sekilas masalah mengenai pewartaan iman terhadap Yesus terselesaikan, namun ternyata ada dampak teologis yang ditimbulkan ketika „Messiakh‘ berubah menjadi „christos‟ dalam dunia Yunani. Christos yang sama artinya dengan Messiakh, yang menunjuk pada gelar diri Yesus, ternyata lama kelamaan hanyalah menjadi

nama diri. Mengapa bisa terjadi? Hal ini dikarenakan orang-orang Yunani tidak sama seperti orang-orang Yahudi yang hidup dalam pengharapan mesianis. Terkait dengan hal ini, Groenen mengatakan bahwa gagasan ‗Mesias‘ kurang relevan bagi mereka yang tidak hidup dalam pengharapan mesianis (masyarakat Yunani). Gagasan mesianis kurang dapat dipahami oleh orang-orang Yunani yang tidak hidup dalam tradisi religius Yahudi.14 Dengan kata lain, pusat kehidupan religius masyarakat Yunani tidaklah seperti kehidupan religius masyarakat

Kristen Yahudi yang berpusat pada ―Yesus adalah Mesias‖, sekalipun dalam dunia Yunani mengenal konsep adanya ‗pengantara‘.

Meskipun ‗Kristus‘ yang semula adalah gelar menjadi nama diri, namun hal itu bukan

berarti masyarakat Kristen Yunani tidak mengakui bahwa Yesus adalah Kristus. Ada pengakuan iman dibalik sapaan ‗Yesus Kristus‘ bahwa Yesus yang ‗itu‘ adalah Kristus. Mula-mula dikatakan bahwa Yesus ialah Kristus/Mesias (misal Kis 5:42; 18:5), namun selanjutnya orang berkata Yesus Kristus/Kristus Yesus (misal Rom 2:16; 3:24). Mungkin seperti halnya jabatan presiden pada diri seseorang, di mana orang tersebut lebih sering

disapa ‗Pak Presiden‖. Gelar Kristus pada diri Yesus berkurang bobotnya ketika menjadi

nama diri. Hal ini tidak luput dari adanya perbedaan konteks pewartaan iman akan Yesus, di mana gagasan-gagasan penting dalam alam pikir Yahudi menjadi kurang relevan ketika diwartakan dalam dunia atau alam pikir Yunani sehingga perlu ditinjau kembali dan dikembangkan. Memang tidak semua gagasan kristologi dalam tradisi Yahudi kurang relevan dalam alam pikir Yunani. Ada dua gelar tradisional yang tetap dikenakan pada diri Yesus ketika masuk dalam alam pikir Yunani, yaitu gelar Anak Allah dan Tuhan. Dua gelar tersebut cukup relevan dengan alam pikir Yunani, karena mereka sudah biasa memakai gelar-gelar tersebut untuk menyapa dewa-dewi, raja-raja, atau tokoh-tokoh gaib lainnya. Jadi, orang

14

(11)

Yunani bisa saja mengambil alih gelar tradisional itu, Anak Allah dan Tuhan. Tetapi, yang perlu di garis bawahi adalah pada mulanya bagi orang Yunani gelar-gelar itu tidak sama artinya dengan artinya bagi orang Yahudi.15 Dalam konteks Yunani, gelar-gelar tersebut,

yang sudah diberi ‗isi‘ yang baru dalam alam pikir Yunani, mempunyai hubungan yang erat

dengan Mesias-an Yesus. Gelar-gelar tersebut dalam konteks Yunani menjelaskan ke-Mesias-an Yesus dalam alam pikir Yunani. Dengan konsep seperti itu juga Yesus yang

adalah ―Yang Diurapi‖ dapat diterima dalam dunia Yunani.

Gelar Tuhan pada diri Yesus

„Kyrios‟(bhs. Yunani) seringkali diartikan sebagai ‗Tuhan‘, namun kata ini bisa juga

diartikan ‗tuan‘. Cuma beda huruf ‗h‘ saja, namun jika kata tersebut dipasangkan atau

dikenakan pada diri Yesus maka lain ceritanya. kuri,ou VIhsou/ bisa berarti ‗Tuhan Yesus‘

atau ‗tuan Yesus‘. Perbedaan ada atau tidaknya huruf ‗h‘ ternyata menimbulkan masalah

teologis terkait siapa diri Yesus. Kata Yunani kyrios sebenarnya berarti orang yang berkuasa atas sesuatu atau seseorang; orang yang memiliki kuasa penuh atas miliknya sendiri. Berdasarkan artian tersebut, maka kyrios sebenarnya adalah manusia biasa yang mempunyai wewenang atau kuasa atas sesuatu. Lalu, apakah hal ini berarti bahwa kuri,ou VIhsou berarti

‗tuan Yesus‘?

Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta), kata kyrios menerjemahkan kata Ibrani adon/adonai atau ba‟al, dan dipakai untuk manusia maupun untuk Allah,16 dengan tekanan pada wewenang memberi perintah. Tetapi, kata kyrios ternyata memegang peranan yang penting karena kata kyrios (Yunani) menerjemahkan kata „adonay‟ yang

dipakai sebagai pengganti ―Yahweh‖ – bahkan lebih dari 6000 kali. Dalam tradisi Yahudi,

umat dilarang mengucapkan kata ―Yahweh‖, sehingga mengucapkan kata „adonay‟ yang menunjuk pada arti yang sama.17 Dengan demikian, maka menurut Septuaginta kata kyrios

menunjuk pada ‗Tuhan‘. Namun, bagaimana dengan teks-teks Perjanjian Baru di mana

15

C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, hlm. 53

16

Bandingkan dengan pendapat Moule dalam bukunya yang berjudul “The Origin of Christology” (London: Cambridge University Press. 1977), di mana dia membedakan antara kata adonay yang memakai ‗á‘ panjang (qames) dengan adonay yang memakai ‗a‘ pendek (pathah). ‗adõnáy dipakai untuk subjeknya manusia, sedangkan ‗adõnãy dipakai untuk subjek nama suci, misalnya Allah. Kata ‗adonay‘ (dua-duanya) kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi ‗kyrios‘,sehingga kata ‗kyrios‘ bisa mengartikan subjeknya manusia maupun Tuhan. Hlm. 39

17

(12)

kepenulisannya tidak menerjemahkan dari bahasa Ibrani seperti halnya Septuaginta? Agaknya kurang tepat jika kuri,ou VIhsou diartikan sebagai ‗tuan Yesus‘ dan bukan ‗Tuhan

Yesus‘. Mengapa? Kepenulisan teks-teks Perjanjian Baru itu sendirilah yang menjadi buktinya. Teks-teks Perjanjian Baru ditulis pada masa pasca-Paskah (kebangkitan). Oleh karena kebangkitan-Nya, Yesus memperoleh kemuliaan sebagai Tuhan dan Kristus (Kis 2: 36). Terkait dengan hal ini, Tom Jacobs mengatakan bahwa kebangkitan berarti bahwa Yesus

masuk ke dalam kemuliaan Allah dan menjadi ―Tuhan‖. Yesus disebut Tuhan, karena di dalam-Nya – khususnya sesudah kebangkitan – kemuliaan Allah menjadi kentara.18 Dengan demikian, kata „kyrios‟ dalam teks-teks Perjanjian Baru – yang dipasangkan dengan Yesus –

juga menunjuk pada arti ‗Tuhan‘ karena kemuliaan Yesus yang ingin ditonjolkan oleh para

penulis kitab kuri,ou VIhsou berarti Tuhan Yesus.

Jika gelar kyrios dikenakan pada diri Yesus sehingga diberitakan dan diakui sebagai Tuhan atau kuri,ou VIhsou, maka seperti apakah ke-Tuhan-an Yesus? Kata kyrios pada Septuaginta mengacu pada bahasa Ibrani adonay, yang menunjuk pada Yahweh. Apakah ini berarti bahwa gelar kyrios pada diri Yesus juga ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah?

Sekalipun Yesus diberitakan dan diakui sebagai Tuhan (kyrios), namun orang Kristen

– baik Yahudi maupun Yunani – pada waktu itu sepertinya enggan menyamakan Yesus Kristus dengan Allah. Dalam tradisi religius Yahudi, monoteisme sangat dipegang teguh. Oleh karena itu, Mesias bukanlah Allah sekalipun berasal dari Allah. Septuaginta yang merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani tidak bisa dijadikan patokan terkait adanya kata kyrios sebagai terjemahan adonay,19 karena Yesus – secara historis – belum ada pada zaman itu. Selain itu, nubuat para nabi pun juga tidak menunjuk pada diri Yesus secara langsung. Bagi masyarakat Yunani pun sepertinya juga sama, Tuhan tidak sama dengan Allah. Kyrios memang diartikan sebagai Tuhan – jika menunjuk pada Yesus, namun untuk menyebut Allah menggunakan kata theos. Dengan kata lain, sekalipun gelar Tuhan dikenakan pada diri Yesus namun Ia tidaklah sama dengan Allah. Senada dengan hal ini, dalam catatan kaki atas buku yang ditulisnya, Tom Jacobs berpendapat bahwa tidak dapat disimpulkan bahwa Kristus adalah adalah Allah. Kesimpulannya tersebut berdasarkan pada teks-teks yang ‗bermasalah‘

18

Tom Jacobs. Imanuel; Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, hlm. 106-107

19

(13)

dengan penerjemahan. Misalnya dalam Kol 2:2 ada kalimat ―…rahasia Allah yaitu Kristus…‖. Kata ―yaitu‖ tidak ada dalam teks asli. Karena itu ada tiga kemungkinan: 1)

rahasia Allah = Kristus; 2) Allah = Kristus; 3) Allah dari Kristus. Teks tidak jelas, dan naskahnya berbeda-beda: ―rahasia Kristus‖; ―rahasia Allah, yang adalah Kristus‖, dan masih lain lagi. Karena ketidakjelasan teks seperti itulah, maka tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa Kristus disebut Allah. Selain teks Kol 2:2, Tom Jacobs juga menafsirkan beberapa ayat, sehingga ia menarik kesimpulan bahwa Allah dan Kristus jelas dibedakan. Oleh karena

itu, sebaiknya Kristus dipandang sebagai ―kemuliaan Allah‖, serupa dengan Yoh 2:11.20

Senada dengan pendapat Tom Jacobs, Groenen mengatakan bahwa Yesus menjadi penampakan Allah di muka bumi (Tit 2:11; 3:4; 2Tim 1:10; 1Tim 3:16) dan mirip dengan penampakan dewa-dewi yang dikenal tradisi Yunani (Kis 14:11-12). Yesus boleh disebut Tuhan juga, tidak seperti raja, tetapi lebih dari itu. Sebab kuasa Allah, Tuhan, sudah menjadi nyata dan berwujud Yesus Kristus. Orang Yunani mudah saja menerima dan meneruskan konsep ini dan oleh karena Yesus dilihat sebagai penampakan Allah, maka gelar ―Tuhan‖ mendapat ciri ilahi seperti yang dipikirkan orang Yunani. 21 Dengan demikian, gelar Tuhan pada diri Yesus mengartikan bahwa Ia adalah penyataan Allah yang konkret di bumi.

Gelar Anak Allah pada diri Yesus

Kalau dikatakan bahwa sebutan ‗Anak Allah‘ berakar dalam Perjanjian Lama,

khususnya dalam mesianisme, maksudnya bukanlah bahwa Mesias dan anak Allah adalah sama. Memang kadang-kadang hampir tidak ada perbedaan antara ‗Kristus‘ dan ‗Anak

Allah‘. Tetapi dalam julukan ‗Anak Allah‘, hubungan dengan Allah lebih menonjol. Justru

itulah yang membuat kekhasan diri Yesus.22. Di dalam alam pemikiran Yahudi-Palestina, gelar ‗Anak Allah‘ dapat mengacu kepada, dengan urutan yang makin meningkat, setiap orang dari antara anak-anak Israel; atau khususnya kepada mesias rajani atau oknum sorgawi.

Dengan kata lain, gelar ‗anak Allah‘ senantiasa dipahami sebagai kiasan di banyak lingkungan Yahudi. Di dalam tulisan-tulisan Yahudi, pemakaian gelar ini tidak pernah diartikan bahwa orang yang menyandangnya mengambil bagian di dalam kodrat ilahi.

20

Tom Jacobs. Imanuel; Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, hlm. 131-132

21

C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, hlm. 53

22

(14)

Penerapan mula-mula gelar Anak Allah kepada Yesus dikaitkan dengan dua faktor hidup-Nya sebagai kharismatis pembuat mujizat dan pengusir setan, dan kesadaran-hidup-Nya bahwa Ia berada dalam suatu hubungan yang khusus dengan Allah, Bapa SorgawiNya.23 Pemakaian gelar Anak Allah dalam PB menurut Darmawijaya menampilkan keunikan pribadi Yesus. Yesus bukan sekedar satu dari anak-anak Allah. Ia adalah Anak Allah yang tunggal, yang sejati (bnd. Yoh 3:16; Rm 1:3). Keunikan itu terutama muncul karena hubungan dengan Allah yang amat dekat/erat. Darmawijaya menjelaskan keunikan Yesus dalam hubungan-Nya dengan Allah sebagai berikut:

Yesus dan Allah, BapaNya adalah satu (Yoh 10:30). Anak itu menjalankan kehendak Bapa-Nya (Yoh 5:19-20). Ia diajari oleh Bapa-Nya (Yoh. 8:28). Bapa-Nya ada padaNya dan Dia ada pada BapaNya (Yoh 10:38) Apa yang dikatakan Bapa kepada Anak itulah yang diteruskanNya ( Yoh 12:50) melihat sang Anak berarti melihat Bapa (14:9-11). Anak diserahi tugas, dipercaya oleh Bapa dengan penuh wibawa. (Mat. 11:27; Luk 10:22) Bapa menyerahkan kuasa kepada Anak dengan penuh kuasa (Yoh 3:35). Pada waktu Anak tergantung di salib, Ia sadar melaksanakan kehendak Bapa (Yoh 13:3) terutama Bapa menyerahkan tugas pengadilan, penilaian (Yoh 5:22) Anak mendapatkan wibawa penuh dari Bapa sehingga mampu membawa orang kepada Bapa (bdk. Yoh 10:15; 14:6). Anak menjadi sasaran iman yang menyelamatkan. Orang yang percaya kepada Anak mendapatkan hidup ilahi (Yoh 3:16,36; 6:40). Menolak Anak berarti kehilangan hubungan dengan Bapa. Mengakui Anak berarti bersama Bapa (1Yoh 2:22-23). Bila orang mengakui Yesus Anak Allah, Allah beserta Dia (1Yoh 4:15). Yesus memulai karya, melaksanakan dan mengakhirinya dalam ketaatan penuh kepada Allah Sebagai Anak Allah, Yesus mengenal Bapa dan menjalin hubungan pribadi itu secara mendalam, sehingga seluruh sikap-Nya terhadap Allah dibangun karena-Nya. Yesus sepenuhnya memahami Bapa (Mat. 11:27).24

Dengan demikian, gelar Anak Allah yang dikenakan kepada Yesus mengungkapkan kedudukan dan hubunganNya dengan Allah.

Jemaah Kristen keturunan Yahudi sudah memahami bahwa dengan Yesus, orang Nazaret, Kerajaan Allah, Kuasa Allah Penyelamat dan Hakim menjadi nyata di bumi dan kini sepenuh-penuhnya terwujud dalam Yesus. Yesus layak disebut Anak Allah oleh karena hubungan-Nya dengan Tuhan, Allahnya Israel, memang unik. Jemaah Yahudi juga sudah menghubungkan Yesus dengan hikmat kebijaksanaan iahi, rencana penyelamatan Allah yang

23

A. Roy Eckardt, Menggali ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1996). Hlm. 32-33

24

(15)

terlaksana dalam diri Yesus Kristus. Dan tradisi Yahudi-Yunani dahulu sudah sampai memperorangkan hikmat kebijaksanaan ilahi yang berupa Taurat dan Bait Allah serta ibadat-Nya tampil di bumi. Umat Kristen Yunani meneruskan pemikiran tersebut. Sama seperti

hikmat kebjiksanaan Allah (yang kadang kala disebut ‗putri Alah‘) Yesus Kristus, Anak

Allah dan Tuhan, sudah ada sebelum tampil di muka bumi. Bagi umat Kristen Yunani, mudah saja meneruskan dan mengembangkan pemikran dasar tersebut lebih lanjut, sebagaimana nyatanya terjadi. Kalau Yesus disamakan dengan hikmat kebijaksaan Allah yang diperorangkan, kalau dikatakan bahwa sama seperti hikmat kebijaksanaan itu Ia ada sebelum sekalian zaman (Kol 1:15, 17), maka segala apa yang dahulu dikatakan tentang hikmat kebijaksanaan ilahi, khususnya oleh orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani, boleh dipindahkan kepada Yesus juga. Yesus adalah ―Anak Allah‖, seperti hikmat kebijaksaana ilahi adalah putri-Nya.25

Sama seperti proses masuknya Yesus dalam dunia Yahudi, maka pertemuan dengan budaya Yunani pun tidak terelakan lagi tatkala Injil diberitakan ke dalam lingkungan masyarakat Yunani. Pertemuan budaya Yunani dengan Injil menghasilkan beberapa perubahan, terutama konsep-konsep teologis dalam kekristenan (dalam pembahasan ini khususnya mengenai konsep-konsep kristologis) pada waktu itu. Masyarakat Yahudi yang dalam tradisi religiusnya berpusat pada pengharapan mesianis tentunya lebih bisa menerima pemberitaan bahwa Yesus adalah Sang Mesias, dengan catatan ada perubahan tentang konsep mesianis dalam proses ini. Tetapi, proses tersebut sepertinya lebih mudah jika dibandingkan dengan pemberitaan ke dalam dunia Yunani. Masyarakat Yunani tidak hidup dalam pengharapan mesianis, sehingga konsep mesianis kurang relevan bagi mereka. Masyarakat Yunani pun juga bisa dibilang berada agak jauh dari ‗lingkaran‘ Yesus – mengingat bahwa Yesus selama hidup kebanyakan berkutat di daerah Palestina, sehingga kemungkinan masyarakat Yunani terdahulu mengalami pengalaman bersama dengan Yesus lebih kecil dibanding orang-orang Yahudi. Masuk ke dalam konteks yang jauh berbeda membuat para pemberita Injil tentunya berpikir ulang mengenai konsep-konsep yang ada. ―Mesias‖ yang

sekalipun sudah diterjemahkan menjadi ―Kristus‖, walaupun dalam alam pikir Yunani juga

mengenal konsep pengantara, ternyata pada akhirnya gelar tersebut menjadi nama diri dan kehilangan bobotnya sebagaimana mulanya. Gelar ―Anak Allah‖ dan ―Tuhan‖ yang juga

25

(16)

merupakan gelar tradisi Yahudi masih tetap dikenakan pada diri Yesus, hanya saja isinya juga telah berubah sedemikian rupa sehingga dirasa relevan dan bisa diterima dalam masyarakat Yunani pada waktu itu. Proses perubahan pemberitaan mengenai iman akan Yesus pada waktu itu bisa dikatakan merupakan suatu terobosan yang luar biasa. Para pemberita Injil tidak kaku dalam memberitakan Injil. Ada sebuah kesadaran akan perbedaan budaya dan alam pikir. Satu hal yang pasti adalah para pemberita Injil mempunyai motivasi agar Injil diberitakan dan diterima oleh semua orang dalam latar belakang budaya yang berbeda. Motivasi inilah yang rupanya mendorong mereka sehingga merubah, mengganti isi, dan mengembangkan konsep-konsep kekristenan, khususnya mengenai siapa Yesus sebenarnya, sehingga dapat dimengerti dan diterima oleh masyarakat dengan latar belakang budaya tertentu.

(17)

II. Paulus dalam Memberitakan Injil

Pada bagian sebelumnya telah dipaparkan bagaimana penghayatan iman Jemaat Kristen mula-mula dalam dunia Yahudi maupun non-Yahudi, di mana secara tidak langsung hal itu menunjukkan bagaimana dan seperti apa pemberitaan mengenai Yesus. Terkait dengan tokoh yang dibahas dalam kepenulisan skripsi ini, yaitu Rasul Paulus, maka seperti apakah pola Rasul Paulus dalam memberitakan Injil – khususnya mengenai diri Yesus? Apakah Paulus – sama seperti halnya para pemberita Injil lainnya – memberitakan tentang gelar-gelar Yesus atau siapa Yesus bagi Jemaat yang dilayaninya? Atau, Rasul Paulus lebih tertarik pada hal lain dalam diri Yesus?

a. Pemahaman Paulus tentang dirinya – seorang Rasul Kristus

Sebelum menuju pada pembahasan pertanyaan di atas, maka terlebih dahulu perlu diketahui bagaimana Paulus memahami statusnya sebagai seorang Rasul. Awalnya para Rasul lebih dikenal sebagai kedua belas26 murid Yesus, di mana mereka merupakan saksi-saksi kebangkitan Yesus. Namun seiring perkembangan kekristenan pada waktu itu, maka ada pula orang-orang yang mengaku ‗terpanggil‘ dan mempunyai karunia roh sehingga disebut Rasul. Adalah Paulus (Saulus) dari Tarsus, yang mengklaim dirinya juga adalah seorang Rasul Kristus, yang berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lainnya untuk membangun komunitas Kristen yang baru dan mengenalkan Kristus pada mereka yang belum mengenalnya (bnd. Rom.15:18-21).27 Paulus yang mengklaim dirinya juga sebagai Rasul Kristus bukan tidak berasalan. Terkait dengan hal ini, Grassi mengatakan bahwa rahasia terbesar Rasul Paulus adalah pada pengalaman pribadinya yang mendalam bersama Kristus dan refleksinya akan kebutaannya.28 Agaknya dalam hal ini Grassi menunjuk pada

pengalaman Paulus tatkala ia ‗bertemu‘ dengan Kristus ketika sedang dalam perjalanan

menuju Damsyik (Kis. 9).

Keterpanggilannya sebagai seorang rasul membuat Paulus memiliki kesadaran bahwa ia selaku rasul Kristus juga adalah utusan Allah. Kata ―rasul‖ yang dipakai oleh Paulus di

26

Ketika Yudas Iskariot meninggal, jumlah Rasul menjadi sebelas. Namun, ada persepakatan untuk menambah jumlah Rasul dan tugas kerasulan Yudas digantikan oleh Matias (Kis 1: 15-26)

27

Joseph A. Grassi, The Secret of Paul the Apostle (Maryknoll, New York: Orbis Book. 1978). Hlm. 66

28

(18)

bagian awal sebagian besar surat-suratnya, sengaja digunakan oleh Paulus untuk menyatakan bahwa kerasulannya bukanlah berasal dari manusia atau dirinya sendiri, melainkan dari Allah

(―…oleh kehendak Allah…‖). Misalnya saja dalam suratnya untuk jemaat Korintus (2 Kor.),

kata rasul yang dipakai oleh Paulus adalah avpo,stoloj”. Kata avpo,stoloj itu sendiri

mempunyai makna ―seseorang yang diutus‖, sedangkan bentuk genetif dari Cristou/ menunjukkan bahwa dalam hal ini yang menjadi pengutus adalah Kristus. Dalam beberapa hal, Paulus selalu menegaskan kembali bahwa – sebagai rasul – ia diutus oleh Kristus untuk memberitakan Injil (I Kor. 1: 17). Selain menegaskan bahwa kerasulannya atau pun pelayanannya oleh karena kehendak dan panggilan Allah, rasul Paulus juga menegaskan bahwa jabatan rasulinya bukan berasal dari institusi – dalam hal ini adalah perkumpulan kedua belas rasul Yerusalem (Gal.1:15-17). Bisa dikatakan kerasulan Paulus memang berbeda dengan keduabelas rasul lainnya. Di satu sisi, Paulus menempatkan dirinya sejajar dengan para rasul Tuhan Yesus yang lain dengan mengatakan bahwa Tuhan Yesus yang telah bangkit itu juga telah menyatakan Diri kepadanya sama seperti kepada para rasul lain.29 Akan tetapi, di sisi lain Paulus tidak pernah menempatkan dirinya sebagai salah satu keduabelas rasul tersebut.30 Dengan hal ini, tampaknya Paulus ingin mengatakan bahwa panggilan kerasulannya unik, dalam artian tidak sama dengan kerasulan para rasul lainnya. Menurut Grassi yang mengacu pada teks Gal.2:7-9, persamaan dan perbedaan Rasul Paulus dengan kedua belas Rasul lainnya adalah bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk memberitakan Injil, hanya saja kedua belas Rasul memberitakan Injil dalam konteks Yahudi (orang bersunat) sementara Rasul Paulus memberitakan Injil pada orang non-Yahudi (orang tak bersunat).31 Sebagai seorang rasul,32 Paulus menyadari bahwa tugas terpenting dalam hidupnya sebagai seorang rasul adalah memberitakan Injil dan Paulus pun meyakini bahwa hal memberitakan Injil merupakan suatu keharusan baginya (I Kor.9:16 bnd. I Kor. 1:17). Permasalahan yang sangat menarik adalah bagaimana metode atau pola Rasul Paulus – dengan berbagai macam pengetahuan dan latar belakangnya – memberitakan Injil?

29

Joseph A. Grassi, The Secret of Paul the Apostle, hlm. 69

30Indikasi dari hal ini adalah bahwa Paulus tidak pernah meminta ―surat pelayanan‖ yang dikeluarkan oleh para Rasul

Yerusalem sebagai bukti pengesahan tugas perutusan memberitakan Injil (bnd. Gal.1:15-17).

31

Joseph A. Grassi, The Secret of Paul the Apostle, hlm. 70-71

32

(19)

b. Pola Rasul Paulus dalam memberitakan Injil

Memberitakan Injil secara Kontekstual

Dalam memberitakan Injil, Paulus tentunya mempunyai teologi sendiri. Hanya saja permasalahannya di sini adalah apakah Paulus berteologi secara top down ataukah Paulus berteologi bersama dengan konteks? Menurut Beker, “the Pauline letters are

wholly concerned with and related to concrete situations”.33

Dengan kata lain, surat-surat

Paulus merupakan ‗dialog‘ antara pemikiran Paulus dan konteks atau situasi konkret – termasuk juga tradisi Yahudi maupun kekristenan – yang ada dalam Jemaat di mana surat itu ditujukan.34

Paulus yang memberitakan Injil di banyak tempat tentunya bertemu dengan konteks – baik latar belakang ataupun pergumulan – Jemaat yang berbeda-beda. Berdasarkan hal di atas, Paulus tampaknya mempunyai kesadaran akan konteks Jemaat yang berbeda-beda tersebut sehingga warna atau pola teologi Paulus di dalam suratnya kepada masing-masing Jemaat berbeda. Sekilas tampak bahwa Paulus tidak mempunyai teologinya sendiri, namun ia berteologi seperti orang „plin-plan‟ (tidak mempunyai

―pusat teologi‖ yang jelas). Anggapan itu tidaklah benar, karena Paulus memang tidak

bermaksud mengindoktrinasi atau memberlakukan berita Injil secara universal tanpa memandang keberbedaan konteks Jemaat. Surat-surat Paulus terhadap Jemaat satu dengan yang lain memang berbeda, karena di dalamnya berisi tanggapan Paulus atas

situasi Jemaat itu sendiri. Memang tidak terlihat jelas ―pusat teologi‖ Rasul Paulus yang mendasari berbagai argument teologisnya, namun dalam surat-suratnya itulah sebenarnya tampak bagaimana pola Paulus berteologi, yaitu bahwa dia berteologi secara kontekstual.35

33

J. Christiaan Beker, The Triumph of God; The Essence of Paul Thought (Minneapolis: Fortress Press. 1990). Hlm. 3.

34 Bandingkan juga dengan pendapatnya Thielman yang mengatakan bahwa “we should examine Paul‟s view of the law not only topicaly or systematically but also within the context of each letters. Perhaps the most important hermeneutical

conclusion about Paul‟s letters in the last century has been that they are not systematic treatises but real letters, written

to address a variety of pratical problems within churches for Paul felt some pastoral responsibility”. Lihat dalam A

Contextual Approach; Paul & the Law (Downers Grove: Intervarsity Press. 2005). Hlm. 10-11.

35―Pusat teologi‖ Rasul Paulus sampai saat ini rupanya masih menjadi permasal

ahan tersendiri bagi para teolog. Salah satu upaya untuk menemukan ―pusat teologi‖ Rasul Paulus adalah dengan menggabungkan semua surat-suratnya dan menelitinya. Akan tetapi, upaya ini menemui kendala karena argumentasi Paulus dalam surat-suratnya berbeda satu dengan yang lain. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Jusak Tridarmanto dalam “Melacak Kembali Metodologi Rasul

Paulus dalam Berteologi” (GEMA Teologi UKDW Vol.32 No.2. Oktober 2008. Hlm. 137), di mana dia mengutip

(20)

―Paulus berteologi secara kontekstual‖, mungkin suatu pernyataan yang aneh mengingat bahwa Paulus dahulunya termasuk anggota Farisi (lih. Flp. 3:5) yang dikenal menafsirkan dan memberlakukan hukum Taurat dan Injil secara statis (kaku).36 Menurut Thielman yang mengutip pendapat Sanders, pengalaman Paulus bersama dengan Kristus telah mengubahkan kehidupannya termasuk pola pikir Paulus.37 Paulus kini menafsirkan Injil dan juga Taurat sebagaimana konteks yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti Injil yang dipahami dan diberitakan oleh Paulus berubah-ubah. Terkait hal ini Beker berpendapat bahwa “the core of the Gospel for Paul is not static message that can simply be imposed as fixed doctrine on contingent circumstances. But, conversely, it cannot

simply be accommodated to whatever the situation demands”.38 Rupanya Paulus mampu

menangkap dan memahami ‗inti‘ dari Injil. ‗Inti‘ Injil tersebut yang seharusnya

dipertahankan sekaligus diolah sedemikian rupa, sehingga mempunyai ―bentuk‖ yang

sesuai dengan konteks pemberitaanya. Inti Injil seharusnya tidak ditafsirkan seperti hukum statis yang memberatkan seseorang yang melakukannya, namun inti Injil juga

Rasul Paulus itu sendiri penuh dengan ‗ketidaksinambungan‘satu dengan yang lain?‖. Oleh karena itulah, Raisanen lebih memilih jalan untuk menghargai sifat mandiri dari masing-masing surat Paulus dengan menganggap bahwa tidak ada yang disebut dengan ―pusat teologi Rasul Paulus‖. Penulis sendiri berpendapat bahwa Rasul Paulus sebenarnya mempunyai ―pusat teologi‖. Mengingat bahwa Rasul Paulus sendiri mempunyai kesadaran akan keberbedaan konteks pelayanannya, maka Rasul Paulus tentunya mengolah ―pusat teologinya‖ sendiri dan ―membingkainya‖ dalam bentuk yang sesuai dengan konteks pelayanannya. Bandingkan dengan pendapat Beker yang mengatakan bahwa “the letter form, with its combination of particularity and claim to authority, reflects the way Paul does theology” (The Triumph of God, Hlm. 5). Lebih lanjut lagi, Beker menambahkan bahwa Paul‟s proclamation focuses on interplay between coherence and

contingency in response to the question. How can the truth of the Gospel be proclaimed in such a way that it fulfils its intended purpose in concrete situations? For this reason it is necessary to be always mindful of the interaction between fundamental content and situational context. For content non only influences context, but it is also shaped by context

(Hlm. 16). Sekalipun argumentasi teologis Rasul Paulus dalam surat-suratnya berbeda, namun semuanya memiliki kesamaan, yaitu bersumberkan pada kebenaran Injil dan merupakan hasil interaksi dengan situasi konkret Jemaat. Rasul Paulus meyakini bahwa kebenaran Injil mempunyai nilai universal yang bisa ―masuk‖ dalam konteks yang berbeda-beda, sekalipun dengan ―bingkai‖ yang berbeda. Hal ini membuat Rasul Paulus mengolah kebenaran Injil tersebut sedemikian rupa sehingga sesuai dengan konteks yang dihadapinya. Dalam kerangka pikir demikian, maka Rasul Paulus sebenarnya berteologi secara kontekstual. Menurut Gerrit Singgih, secara sederhana kontekstualisasi merupakan sebuah upaya pencarian harga diri sendiri sebagai orang Kristen di tengah-tengah konteks di mana ia berada. Kontekstualisasi adalah suatu proses penginterpretasian suatu paham/budaya tertentu dalam bingkai kebudayaan lain, guna memahami kebudayaan tersebut secara baru. Kontekstualisasi mengandaikan adanya proses yang dinamis, di mana ada upaya merekonstruksi ―yang lama‖ dengan merelevansikan dalam ―masa kini‖. Dalam proses tersebut, pada akhirnya ada perubahan nilai-nilai, dengan catatan nilai yang ―baru‖ tersebut relevan dan sesuai dengan konteks masa kini (E. Gerrit Singgih, Berteologi dalam Konteks, Hlm. 1-32).

36 Kaum Farisi lebih sering muncul malah dalam keempat Injil. Dalam empat Injil, seringkali dikisahkan bahwa kaum Farisi

sering terlibat dalam perdebatan mengenai pemberlakuan Hukum Taurat, misal puasa, sabat, perceraian, dll. Kaum Farisi digambarkan sebagai kaum yang fanatik terhadap Taurat. Wajar jika mengingat bahwa kaum Farisi merupakan ―kelanjutan‖ dari kaum Hasidim. Lihat ―Farisi‖ dan ―Hasidim‖ dalam W.R.F. Browning, Kamus Alkitab; A Dictionary of the Bible (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2008). Hlm. 103-104; 134. Bandingkan juga dengan pendapat Wenham yang mengatakan bahwa Paul‟s own interpretation of the Jesus-tradition was flexible, lihat Paul; Followers of Jesus or

Founder of Christianity, (Grands Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company. 1995) Hlm. 409

37

Frank Thielman, A Contextual Approach; Paul & the Law, hlm. 37

38

(21)

tidak serta merta berlaku dalam semua keadaan. Perlu adanya ―pengolahan‖ terhadap

kebenaran Injil yang akan diberitakan. Lebih lanjut lagi Beker menambahkan bahwa “the

uniqueness (the proprium) of Paul‟s hermeneutic manifest itself in the interplay between

the changing and unchanging elements of the Gospel. Paul is capable of transforming the

Gospel into a living word in various context without, on the whole, compromising the

totality of the Gospel or without trivializing the specific particularities that each situation

demands. Paul‟s commitment to the truth of the Gospel and its concrete effectiveness

clearly shows the interaction between coherence and contingency”.39

Dengan demikian, Paulus memang mentransformasi berita Injil sedemikian rupa sehingga sesuai dengan konteks pelayanannya.40 Rasul Paulus memang terlihat seperti tidak konsisten, akan tetapi ketidakkonsistenannya tersebut bukan karena latar belakang pemikirannya namun dikarenakan adanya interaksi antara pemikirannya dengan situasi dari masing-masing Jemaat yang berbeda. Dalam hal inilah sebenarnya tampak jelas dari kekonsistenan Rasul Paulus, yaitu konsisten terhadap kebenaran (inti) Injil dan konsisten akan upaya memberitakan Injil dalam dan sesuai dengan konteks yang ada (kontekstualisasi Injil).

Pemberitaan mengenai Karya Kristus

Seperti halnya kedua belas Rasul yang memberitakan Injil secara kontekstual, Paulus pun juga demikian. Perbedaannya ialah bahwa Rasul Paulus lebih menekankan karya Yesus dalam pemberitaan injilnya dibandingkan dengan gelar-gelar pada diri Yesus. Apakah dengan demikian berarti bahwa gelar-gelar pada diri Yesus tidak berarti bagi Rasul Paulus? Mengapa Rasul Paulus lebih tertarik memberitakan karya dibanding gelar? Karya Yesus seperti apa yang diberitakan oleh Rasul Paulus dan bagaimana Rasul Paulus sendiri memahami karya Yesus?

Jika melihat soteriologi Rasul Paulus seperti pada bagian Pendahuluan, maka tampak bahwa Rasul Paulus lebih menekankan karya dan peran Yesus dalam karya

39

J. Christiaan Beker, The Triumph of God; The Essence of Paul Thought, hlm. 17

40

Terkait dengan hal ini, sebagaimana yang dikutip oleh Thielman bahwa Beker ―emphasized the importance of

understanding Paul‟s theological statements within the context of the specific historical situations to which his letters

were addressed. When this situation are taken into account, said Beker, Paul‟s theology emerges as the interaction

between a central conviction – the approach cosmic triumph of God – and the specific historical concerns of the

(22)

pendamaian Allah bagi manusia. Namun, hal itu bukan berarti gelar-gelar pada diri Yesus

tidak mempunyai arti sama sekali bagi Rasul Paulus. Gelar ―Kristus‖, ―Tuhan‖, dan ―Anak Allah‖ mempunyai arti tersendiri bagi Paulus. “Christ” and “Lord” speak in different ways of Jesus‟s relationship to his followers, but “Son of God”, for Paul,

describe Jesus‟s relationship to God.41 Sekalipun Rasul Paulus beberapa kali dalam

suratnya menyebut ―Yesus Kristus‖, namun rupanya ―Kristus‖ yang semula adalah gelar

pada diri Yesus terkait dengan kemesiasan-Nya kini menjadi ―nama diri‖ dalam pemahaman Paulus.42 Gelar Yesus yang sering ditekankan oleh Paulus adalah ―Anak

Allah‖. For Paul, Jesus was not simply one among many sons of God, but was the eternal

agent of God, involved in creation and destined to bring all under God‟s feet in the future

(I Cor 15:28).43 Dengan demikian, gelar ―Anak Allah‖ menjadi penting bagi bagi Paulus

karena gelar tersebut mengartikan dan menjelaskan hubungan antara Yesus dengan Allah. Hubungan antara Yesus dengan Allah itu sendiri menjadi penting bagi Paulus, karena hubungan tersebut menjadi dasar bagi pemberitaan karya Yesus oleh Paulus. Pemberitaan bahwa Allah – melalui Yesus Kristus – berkarya atas pendamaian manusia dengan Allah (2 Kor 5: 18-19).

Gelar Anak Allah pada diri Yesus memang penting bagi Paulus, namun – sekali lagi – bukanlah ―Yesus sebagai Anak Allah‖ yang diberitakan oleh Paulus melainkan

―karya Yesus sebagai Anak Allah‖. Bahkan, bukan hanya gelar pada diri Yesus saja

namun juga ajaran dan sejarah hidup Yesus juga tidak terlalu mendapat penekanan oleh Paulus – walaupun terkadang disinggung oleh Rasul Paulus dalam pelayanannya.44 Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah karya Yesus seperti apa yang mendapat penekanan serius oleh Paulus di dalam memberitakan Injil?

Wenham berpendapat bahwa:

In his letters Paul refers very frequently to the death and resurrection of Jesus, but as for Jesus birth, baptism, miracles, parables, transfiguration, etc, there is a deafening silence. Paul was not interested in the pre-passion ministry of Jesus and may in fact have been quite poorly informed about it.

41

David Wenham, Paul; Follower of Jesus or Founder of Christianity, hlm. 117.

42

David Wenham, Paul; Follower of Jesus or Founder of Christianity, hlm. 120-121

43

David Wenham, Paul; Follower of Jesus or Founder of Christianity, hlm. 118.

44 Terkait dengan hal mengenai ajaran Yesus, Wenham berpendapat bahwa ―

Paul does not need to quote from it because he and his readers have been taught it and know it well. In his letters his task is to discuss what is disputed and unclear, not

(23)

Paul‟s faith, it is argued, focused on the death and resurrection of Jesus and then on the risen Lord and his work in the church by his spirit. In particular the death and resurrection of Jesus are the supremely important facts about Jesus for Paul. They are theologically of overwhelming important in bringing God‟s liberation to the world.45

Sementara itu, menurut Cousar ―Paul‟s letters are punctuated with reminders of

the manner and meaning of Jesus‟s death. He writes of course not as historian describing

the details of how, where, when, and by whom Jesus was killed, but as pastoral

theologian interpreting the important of Jesus‟s death both for the congregations under

his care and for himself”.46 Berdasarkan pandangan dua tokoh di atas, betapapun banyak

karya Kristus namun kematian dan kebangkitan Kristus-lah yang mendapat penekanan oleh Rasul Paulus dalam memberitakan Injil.47 Mengapa karya kematian dan kebangkitan Kristus menjadi penting bagi Rasul Paulus sehingga menjadi fokus pemberitaan injilnya? Seperti apakah pemahaman Paulus mengenai kematian dan kebangkitan Kristus?

Berdasarkan I Kor. 15:14, kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dasar bagi Paulus untuk memberitakan Injil dan imannya. Bahkan, di ayat sebelumnya (ayat

3-5) Paulus mengatakan bahwa ―yang sangat penting‖ dalam pemberitaan injilnya adalah kematian dan kebangkitan Kristus. Terkait dengan teks tersebut, Wenham berpendapat bahwa ―for Paul the cross is not an unfortunate accident of history but the key to God‟s plan for the salvation of the world”.48 Bandingkan pula dengan Cousar yang berpendapat

bahwa “Paul‟s Christology makes it possible to see Jesus‟s action as God‟s action. The story of the cross relates not only the story of the Son of God “who loved me and gave

himself for me” (Gal 2: 20), but at the same time the story of one “who did not spare his

only Son but gave him up for us all” (Rom 8:32)”.49 Dengan demikian, Paulus

memahami bahwa karya kematian Kristus merupakan kunci masuk pada karya penyelamatan Allah pada dunia, di mana Allah menyatakan karya keselamatan bagi manusia di dalam kematian dan kebangkitan Kristus.

45

David Wenham, Paul; Follower of Jesus or Founder of Christianity, hlm. 3-5

46

Charles B. Cousar, A Theology of the Cross; the Death of Jesus in the Pauline Letters (Minneapolis: Fortress Press. 1994). Hlm. 1

47

Terkait dengan hal ini Wenham berpendapat bahwa ―for Paul the cross of Jesus was absolutely central – central in his

own thinking and preaching, but also, and more importantly, in God‟s world-saving work as Paul understood it” (Paul; Follower of Jesus or Founder of Christianity. Hlm. 138)

48

David Wenham, Paul; Follower of Jesus or Founder of Christianity, hlm. 148

49

(24)

Secara umum, pemberitaan Paulus mengenai karya keselamatan Allah bagi manusia terkandung di dalam konsepnya mengenai pendamaian, pembenaran, dan penebusan.50 Paulus memahami bahwa kematian Yesus membawa penebusan bagi manusia (Rom 3:24). ―For Paul the death of Jesus not simply as redeeming the individual from his or her slavery to sin or death, but also as a new exodus event bringing the

people of God out of their slavery”.51 Konsep penebusan itu sendiri agaknya tidak asing dalam Jemaat di mana Paulus memberitakan Injil. Tradisi Yahudi mengenal adanya konsep penebusan seperti tergambar dalam Kel 15:13 dan Yes 41:14. Dalam terang ayat tersebut, penebusan mengartikan suatu proses pengeluaran dari ketertindasan. Sementara dunia Yunani juga mengenal konsep penebusan, di mana konsep penebusan seringkali digunakan terkait dengan permasalahan mengenai perbudakan. Kematian Kristus juga membawa pembenaran bagi manusia, di mana Allah menjadikan Kristus yang tidak mengenal dosa menjadi dosa (II Kor 5:21). Bagaimana Paulus menjelaskan hal ini (Kristus sebagai korban keselamatan) kepada Jemaat di mana ia melayani? Tampaknya dalam hal ini Paulus lebih cenderung menggunakan konsep yang ada dalam tradisi

Yahudi mengenai korban sebagai ―pengalihan dosa‖52

untuk menjelaskan kematian Kristus sebagai korban pembenaran dibandingkan dengan konsep mengenai korban dalam budaya Yunani.53 Menurut Barrett, ―God‟s righteousness is to be manifested in the

paradoxical event of the crucifixion of the Messiah, God‟s Son”.54 Paulus rupanya juga

mempunyai pemahaman bahwa kematian Kristus mendamaikan manusia dengan Allah (Rom 5:10; II Kor 5:18-19). Istilah ―pendamaian‖ itu sendiri umumnya diakui merupakan

50

Lihat kembali ulasannya pada bagian Pendahuluan (BAB I).

51

David Wenham, Paul; Follower of Jesus or Founder of Christianity. Hlm. 150

52

Konsep mengenai korban dalam terang tradisi Yahudi terdapat dalam Imamat 1-7, di mana korban ―pengalihan‖ dosa adalah hewan. Ketika hewan tersebut dikorbankan, maka ada suatu ―interchange of roles‖ antara si pendosa dengan hewan korban. Orang yang tadinya berdosa kini menjadi dibenarkan, karena dosanya telah pindah ke hewan korban (Wenham, Paul; Follower of Jesus or Founder of Christianity. Hlm. 151)

53―In a narrow sense, “human sacrifice” means the sacrifice of a human being to a divinity, carried out like an animal

sacrifice. In a broader sense, the term implies also the forms of “ritual killing,” either at the grave of a deceased person,

before or after a battle, during a drought, famine, epidemic or a similiar catastrophe dangerous to an individual life or that of a community. Finally it is possible to offer living human beings to a divinity in order to comply with their cult. Therefore, human sacrifices belong to the rituals of offering, which are generally accepted by the religion and culture in

question and which are therefore not considered as an illegal killing and consequently are not punished.” Lihat Gabriele

Weiler, Human Sacrifice in Greek Culture dalam Karin Finsterbusch (ed.), Human Sacrifice in Jewish and Christian Tradition (Boston: Brill. 2007). Hlm. 35

54

(25)

istilah khas dari Rasul Paulus dan istilah tersebut digunakan dalam konteks relasi Allah dengan manusia.55 Terkait dengan hal ini Schreiter berpendapat bahwa:

For Paul reconciliation is the work of God, who initiates and completes in us reconciliation through Christ. That God would begin with the victim, and not the evildoer, is consistent with divine activity in history. God takes the side of the poor, the widowed and the orphared, the oppressed and the

imprisoned. It is in the ultimate victim, God‟s son Jesus Christ, that God

begins the process that leads to the reconciliation of the whole world in Christ.56

Allah sendirilah yang berinisitif dalam karya perdamaian tersebut, namun Dia tidak berkarya secara langsung. Mengapa? Dalam konsep mengenai rekonsiliasi, jika ada dua belah atau lebih yang sedang berkonflik maka diperlukan pihak netral sebagai mediator di antara mereka demi mewujudkan perdamaian.57 Terkait dengan karya perdamaian Allah dalam konsep Paulus, maka Yesus Kristus-lah yang menjadi mediator Allah dalam mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Selain itu, Allah di dalam Kristus mengambil peran seperti manusia dan mengorbankan diri-Nya sebagai korban pendamaian itu sendiri (Rom. 5 bnd. II Kor. 5:19).58

Berdasarkan penjelasan di atas, tampak bagaimana pemahaman Rasul Paulus mengenai kematian Kristus sehingga hal tersebut menjadi penting dan mendapat penekanan yang serius di dalam ia memberitakan Injil. Senada dengan hal ini, Seyoon Kim berpendapat bahwa ―the message that Paul was commissioned to deliver to the

Gentiles was a good news of salvation, namely the message of God‟s redemption through

the atoning death of Christ Jesus his Son, through which God will justify believers at the

last judgment and in fact makes that justification proleptically effective to them already

55

Lihat “katallasso”. Buschel dalam Gerhard Kittel (ed.), Theological of the New Testament; Vol. I (Grand Rapids: W.B. Eedrmans Publishing Company. 1995)

56 Robert J. Schreiter, The Ministry of Reconciliation; Spirituality & Strategies (Maryknoll, New York: Orbis Book. 1998).

Hlm. 14-15; lihat juga Robert J. Schreiter, Reconciliation; Mission & Ministry in a Changing Social Order (Maryknoll, New York: Orbis Book. 1992). Hlm. 59. Bandingkan pula dengan pendapat Moltmann bahwa ―the love of God has

become manifest through Christ”, dalam The Way of Jesus Christ; Christology in Messianic Dimenssions, hlm. 32

57

John P. Lederach, The Journey Toward Reconciliation (Pennsylvania: Herald Press. 1999). Hlm. 62-81

58

(26)

in the present (Rom 3:21-26; 4:25; 5:1-11; 8:3-4; 28-39; II Kor 5:21; etc). Paul reffered

to this redemptive act of God as God‟s dikaiosune (Rom 1:17; 3:2-26; etc). So Paul‟s

“gospel” included the fearful judgment of God, but it was in the end a good news about

God‟s saving “righteousness” in Christ and about believers‟ justification on the basis of

it (Rom 1-16-18)”.59 Dengan demikian, tampak bahwa hal yang terpenting, yang mendapat penekanan, dan yang mewarnai teologi Rasul Paulus dalam surat-suratnya bukanlah gelar-gelar pada diri Yesus, melainkan karya Yesus itu sendiri – khususnya kematian-Nya – dalam terang karya pendamaian Allah bagi manusia. Permasalahan mengenai mengapa Rasul Paulus merasa bahwa berita pendamaian itu harus diberitakan sebenarnya terkait erat dengan kesadaran Paulus sebagai seorang Rasul – seperti yang sudah disinggung di bagian sebelumnya. Secara jelas Paulus juga menegaskan kembali dalam teks II Kor 5:19b-20, bahwa kepadanya Allah telah mengutus dan mempercayakan pelayanan pendamaian. Terkait dengan kesadaran Paulus akan pelayanan pendamaian, Penulis menambahkan bahwa (1) Paulus sebenarnya ‗lebih‘ berteologi (khususnya mengenai kristologi) secara kontekstual dibanding dengan para pemberita Injil lainnya. Jika para pemberita Injil lebih cenderung memberitakan Yesus terkait dengan gelar-Nya, lain halnya dengan Paulus yang lebih kepada karya-Nya – walaupun gelar Anak Allah dirasa penting bagi Paulus. Rasul Paulus memberitakan karya Kristus di mana ia selalu mengkaitkan dengan permasalahan yang ada dalam Jemaat. Dengan kata lain, Paulus

lebih ―menghadirkan‖ Kristus dibanding para pemberita Injil lainnya. (2) Ada kemungkinan bahwa alasan Paulus lebih cenderung memberitakan karya Kristus adalah karena karya Kristus dan maknanya itu sendiri kurang ‗familiar‘ bagi Jemaat non -Yahudi,60 sehingga perlu adanya pemberitaan yang disertai dengan interpretasi ulang yang sesuai dengan konteks Jemaat itu sendiri. (3) Hal yang cukup logis yang mungkin dipikirkan oleh Paulus adalah bagaimana mungkin orang dapat percaya kepada Kristus jika kurang atau bahkan tidak memahami dan mengerti karya Kristus. (4) kesadaran Rasul Paulus dalam memberitakan berita pendamaian tampaknya tidak lepas dengan peristiwa Damsyik yang merupakan titik tolak pertobatannya. Peristiwa tersebut juga ia

59

Seyoon Kim, Paul and the New Perspective; Second Thoughts on the Origin of Paul’s Gospel (Grands Rapids: W.B. Eerdmans Publishing Company. 2002). Hlm. 107

60

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Tuhan yesus