ZAKAT LAZIS PP MUHAMMADIYAH
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I.)
Oleh
PUTRI RESTU PRATIWI
NIM : 106053002014
PROGRAM STUDI MANAJEMAN DAKWAH FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya
asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka
saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 12 Mei 2010
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
untuk Memenuhi Persyaratan Memeperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I.)
Oleh
PUTRI RESTU PRATIWI NIM : 106053002014
Pembimbing
Drs. H. Hasanuddin Ibnu Hibban, M.A. NIP : 1966065 199403 1 005
PROGRAM STUDI MANAJEMAN DAKWAH FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
MELALUI PROGRAM LAYANAN JEMPUT ZAKAT LAZIS PP MUHAMMADIYAH telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada 12 Mei 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I.) pada Program
Studi Manajemen Dakwah.
Jakarta, 12 Mei 2010
Sidang Munaqasyah
Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,
Drs. Wahidin Saputra, M.A. Drs. Cecep Castrawijaya, M.A. NIP:19700903 199603 1 001 NIP: 19670818 199803 1 002
Anggota,
Penguji I Penguji II
Drs. H. Sunandar, M.A. Drs. Cecep Castrawijaya, M.A. NIP:19620626 199403 1 002 NIP: 19670818 199803 1 002
Pembimbing
Putri Restu Pratiwi
Penggalangan Dana Melalui Program Layanan Jemput Zakat LAZIS PP Muhammadiyah
LAZIS PP Muhammadiyah merupakan salah satu lembaga dalam penerimaan dana zakat, infaq dan sodaqoh di daerah Jakarta. Salah satu hal yang menarik bagi penulis ialah meneliti program layanan jemput di LAZIS PP Muhammadiyah, karena sistem kerjanya yang berbeda dengan layanan-layanan lain, dan menawarkan berbagai macam kemudahan dalam suatu kelompok kebutuhan donatur.
Pembahasan dalam skripsi ini lebih terfokus kepada penggalangan dana melalui program layanan jemput zakat, suatu program yang merupakan salah satu bagian pelayanan penggalangan dana dan memiliki peran dalam meningkatkan jumlah donasi di LAZIS PP Muhammadiyah.
Penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif dalam menyusun penelitian skripsi ini. Dan untuk melengkapi data yang diperlukan, penulis menggunakan langkah pengumpulan data di perpustakaan yang sudah disediakan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode survey langsung ke LAZIS Muhammadiyah dengan mencari data-data yang berhubungan dengan penelitian ini. Wawancara dan observasi langsung ke kantor LAZIS Muhammadiyah, dan penulis juga menggunakan internet untuk melengkapi pembuatan skripsi ini.
Hasil dari penelitian ini adalah, penulis dapat mengetahui sistem kerja dan kemudahan yang ditawarkan oleh layanan jemput zakat, sehingga para donatur merasa puas dalam menggunakan layanan jemput zakat di LAZIS PP Muhammadiyah. Dan penulis juga dapat mengetahui seberapa besar tingkat efektivitas layanan jemput zakat dalam mengembangkan jumlah donasi di LAZIS PP Muhammadiyah.
Segala puji dan syukur yang sangat tulus penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya skripsi
ini dapat penulis susun dan selesaikan dengan penuh kerja keras,
sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana S1.
Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW. Karena berkat jasa beliaulah kita bisa membedakan
antara yang hak dan yang bathil, sehingga kita selalu berada di jalan
Allah SWT.
Selesainya penulisan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak, untuk itulah penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. Arief Subhan, MA sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan
Komunikasi.
2. Bapak Drs. H. Hasanuddin Ibnu Hibban, MA sebagai Ketua
Jurusan Manajemen Dakwah dan juga sebagai Dosen Pembimbing
yang telah banyak membantu dalam memberikan pengarahan serta
saran yang sangat berharga sehingga skripsi ini dapat terselesaikan
dengan baik.
3. Bapak Drs. Cecep Castrawijaya, MA sebagai Sekretaris Jurusan
Manajemen Dakwah yang telah banyak membantu dan
4. Bapak M. Khoirul Muttaqin sebagai Direktur utama LAZIS PP
Muhammadiyah, yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk mengadakan penelitian di LAZIS PP
Muhammadiyah.
5. Bapak Nanang Q. el-Ghazal sebagai Fundraising Manager, yang
telah menjadi sumber inspirasi dalam karya tulis ini dan sekaligus
telah banyak membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
6. Bapak Edy, seluruh Staff dan Karyawan LAZIS PP
Muhammadiyah yang ramah-ramah dan memberikan pelayanan
yang baik selama penulis menyelesaikan skripsi ini.
7. Para Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi 2006-2010 yang
telah memberikan Ilmu serta bimbingannya dalam menyelesaikan
kuliah ini.
8. Tim Penguji, Bapak Drs. Wahidin Saputra, MA, Bapak Drs. H.
Sunandar, MA dan Bapak Drs. Cecep Castrawijaya, MA yang telah
memberikan saran serta kritik yang mendalam terhadap penulisan
skripsi ini, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis.
9. Seluruh Staff Tata Usaha, Perpustakaan Utama dan Perpustakaan
Dakwah dan Komunikasi, yang telah banyak membantu dan
memberikan fasilitas selama penulis kuliah dan selama penulis
menyelesaikan penulisan skripsi ini.
iv
menemani, mengajari, dan menuntunku. Dan adik-adikku Fikar dan
Taufik yang dengan tiada henti memberikan motivasi baik moril
ataupun materil yang tak terhingga disaat penulis menuntut ilmu.
11.Nenekku Sumarni yang tiada henti memberikan do’a dan selalu
memberikan semangat kepada penulis.
12.Sahabatku Novi, Nurul, Halimah, Fitri, Beti dan Ana, yang
berperan aktif dalam kesuksessan penulisan skripsi ini, terimakasih
atas do’a, motivasi dan saran-saran kalian selama ini.
13.Merliza, Rohay, Nina, Imas, Wiyan, Umay, dan Teman-teman
kelasku semuanya, terimakasih atas pertemanan kita yang banyak
memberikan kenangan suka dan duka selama kuliah.
Penulis hanya dapat berdo’a semoga kebaikan Bapak, Ibu,
Sahabat, teman-teman, dan keluargaku akan menjadi amal shaleh,
semoga mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, Amin.
Akhirnya penulis hanya dapat berharap, mudah-mudahan tulisan
sederhana ini dapat menambah perbendaharaan khazanah intelektual
para pembaca.
Jakarta, 12 Mei 2010
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... ... 1
B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah ... ... 8
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 8
D. Tinjauan Pustaka ... 10
E. Metodelogi Penelitian ... 11
F. Sistemetika Penulisan ... 14
BAB. II : TINJUAN TEORITIS TENTANG STRATEGI PENGGALANGAN DANA ZIS A. Teori Strategi ... 17
1. Pengertian Strategi ... 17
2. Proses Strategi ... 20
3. Faktor-Faktor Strategi ... 24
B. Zakat ... 26
1. Pengertian dan Definisi Zakat ... 26
2. Prinsip-prinsip Zakat ... 27
3. Tujuan, Syarat, Macam, dan Dalil Zakat ... 29
C. Penggalangan Dana Zakat ... 42
BAB. III : PROGRAM LAYANAN JEMPUT ZAKAT LAZIS PP MUHAMMADIYAH (LAZISMU)
A. Program Layanan Jemput Zakat ... 66
1. Latar belakang ... 66
2. Tujuan dan Dasar hukum ... 70
3. Rencana kerja ... 72
4. Sistem program layanan jemput zakat ... 67
B. LAZIS PP Muhammadiyah ... 78
1. Sejarah dan Landasan hukum ... 78
2. Visi, Misi, dan Tujuan ... 80
3. Struktur Organisasi ... 81
4. Program Kerja dan Kegiatan ... 82
BAB. IV : STRATEGI LAYANAN JEMPUT ZAKAT LAZIS PP MUHAMMADIYAH A. Strategi ... 103
1. Segmentasi Layanan Jemput Zakat LAZISMU ... 103
2. Target layanan jemput zakat LAZISMU ... 119
3. Positioning layanan jemput zakat LAZISMU ... 123
B. Hasil ... 128
1. Hasil Segmentasi Layanan Jemput Zakat LAZISMU ... 128
vii
LAZISMU... 134
C. Analisis ... 136
1. Strategi ... 136
2. Hasil ... 140
BAB. V : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 142
B. Saran ... 144
DAFTAR PUSTAKA ... 146
Dalam lembar-lembar karya ini
Belum bisa ku menarik nafas panjang Dan melangkah dengan lenggang Atas semua kisah yang menantang
Siapa... yang dapat membantu ku meringankan mimpi Yang selalu terbesit berkali-kali
Ditengah himpitan yang pedih Dalam perjuangan yang indah ini
Dalam hening di malam yang sepi Aku hanya mampu mencurahkan isi hati Dari setiap cerita yang ku miliki
Dengan merendah dan pasrah
Ku ungkapkan semua rasa yang ku punya Pada Sang Penguasa
Belum bisa melepas rasa haru dan bahagia ku Belum bisa memecah rasa takut dan sedih ku
Semua belum usai dan tercapai Akan harapan dan mimpi
Dalam perjuangan ku yang penuh misteri
Aku hanya mampu berencana Untuk mewujudkan mimpi indah
Tapi... semua adalah rahasia Sang Penguasa
Jiwa ku melayang
Untuk sebuah kemenangan,,, Mimpi dan harapan
Atau... tidak untuk apa-apa
Aku... tidak tahu
Tidak ada lagi yang bisa ku ungkap
Berdo’a, berusaha untuk yang terbaik
TENTANG:
Latar Belakang Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian Metodelogi Penelitian
Tinjauan Pustaka Sistematika Penulisan
JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
A. Latar Belakang Masalah
Di dalam ajaran Islam, ada dua tata hubungan yang harus
dipelihara oleh para pemeluknya. Keduanya disebut dengan dua
kalimat: hablum minallah wa hablum minan naas (Q.s. 3 : 11).1
Terjemahan harfiahnya adalah tali Allah dan tali manusia. Hubungan
itu dilambangkan dengan tali, karena ia menunjukkan ikatan atau
hubungan antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan
manusia, yang disebut terakhir ini meliputi juga hubungan antara
manusia dengan lingkungannya, termasuk dirinya sendiri. Kedua
hubungan tersebut harus berjalan secara serentak dan simultan. Kalau
dilukiskan, garis keatas (vertikal) menunjukkan hubungan manusia
yang bersifat langsung dan tetap dengan Tuhan. Garis mendatar,
horizontal, menunjukkan hubungan manusia dengan manusia lain
dalam masyarakat, lingkungan dan dirinya sendiri, selama ia hidup
didunia ini, yang dituju adalah keselarasan dan kemantapan
1
Al-Buny D. Ahmad, Problematika Harta & Zakat (yogyakarta: Yayasan Pendidikan al-Qur’an, 1975).
hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia, termasuk dirinya
sendiri dan lingkungannya.
Inilah aqidah dan ini pulalah wasilah (jalan) yang dibentangkan oleh ajaran Islam bagi manusia, terutama manusia yang memeluk
ajaran agama Islam. Dengan berpegang teguh kepada aqidah atau
keyakinan itu, terbuka jalan untuk mencapai kebaikan hidup di dunia
ini dan kebaikan hidup di akhirat kelak, setelah manusia meninggalkan
dunia yang fana ini.2 Untuk mencapai tujuan itulah, di samping
syahadat, shalat, puasa, dan haji, diperlukan juga zakat.
Zakat merupakan rukun islam ke empat yang sangat penting
bagi kesejahteraan dan tegaknya keadilan sosial ekonomi umat.
Pembayaran zakat bukan hanya menunjukkan kesalehan individual
tetapi juga mencerminkan kesalehan sosial. Zakat dibayarkan oleh
aghniya, orang yang dipandang kaya menurut aturan syara’ wajib
membayar zakat (muzaki) kepada orang-orang miskin sesuai pedoman syar’i (fuqoro) yang diketegorisasikan dalam 8 (delapan) golongan penerima (mustahik). Zakat merupakan sumber dana potensial dalam
program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi
masyarakat level bawah.3
Balasan Allah atas pembayar zakat, misalnya, akan diperoleh
manusia secara tidak langsung di dunia ini. Bentuknya
2
Ali, Mohammad Daud, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 29.
3
macam. Salah satu diantaranya adalah perasaan bahagia karena dengan
mengeluarkan zakat itu, ia telah ikut membahagiakan hidup orang lain
yang menderita. Di samping itu, seseorang yang mengeluarkan zakat
akan terdidik pula dengan sifat-sifat yang baik, di antaranya tidak
mementingkan diri sendiri, tetapi juga mengingat nasib dan
kepentingan orang lain yang hidup bersama dia dalam suatu
masyarakat. Sejak Islam datang ke tanah air kita, zakat telah menjadi
salah satu sumber dana untuk kepentingan pengembangan agama
islam.
Potensi zakat untuk pemberdayaan ekonomi dengan berupaya
menciptakan iklim masyarakat yang berjiwa wirausaha akan terwujud,
bila penyalurannya tidak langsung diberikan kepada mustahiq untuk keperluan konsumtif, tetapi dihimpun, dikelola dan didistribusikan
oleh lembaga yang amanah dan professional. Untuk keperluan ini, UU
RI No. 38 Tahun 1999 mengenai Pengelolaan Zakat merupakan wujud
kepedulian Pemerintah untuk mengupayakan kelembagaan
pengelolaan zakat dengan manajemen modern.4 Hal ini menunjukkan
pentingnya suatu lembaga zakat. Lembaga inilah, di samping membina
hubungan dengan Allah. Akan menjembatani dan memperdekat
hubungan kasih sayang antara sesama manusia dan mewujudkan
kata-kata bahwa umat Islam itu bersaudara, saling bantu membantu dan
tolong menolong: yang kuat menolong yang lemah, yang kaya
4
membantu yang miskin. Dengan zakat dapat digambarkan citra Islam
dan diwujudkan cita-cita kemasyarakan Islam.5
Dalam rangka menolong kaum fakir miskin dan para dhuafa,
Agama Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia
mewajibkan kepada setiap muslim mengeluarkan zakat dari rezeki
yang mereka peroleh. Selain itu, Islam juga menganjurkan kepada
mereka untuk berse-dekah (shadaqah) dan ber infaq (infaq), yang
semuanya dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan
warga masyarakat yang kurang beruntung, yang berada dalam
kemiskinan dan kesusahan. Dari gambaran itulah Muhammadiyah
memandang perlu adanya upaya untuk mengoptimalkan penggalian
dana yang bersumber dari zakat, infaq dan Shadaqah.
Potensi dana ZIS yang belum tergali masih sangat besar,
mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama
Islam dan juga masih cukup banyak warga masyarakat yang belum
menunaikan zakat karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan
mereka terhadap ajaran agama. Meskipun Negara kita masih berada
dalam kondisi lemah ekonomi yang berkepanjangan, namun masih
cukup banyak warga masyarakat yang memiliki kelebihan harta dan
rezeki melimpah.
5
Dalam rangka membantu dan memberdayakan kaum miskin dan
mustadhafin, Muhammadiyah telah mendirikan ribuan amal usaha
sosial, seperti panti asuhan bagi anak yatim piatu dan orang jompo,
poliklinik, balai kesehatan, dan sekolah-sekolah, yang dimaksudkan
untuk memberikan kemudahan bagi anak-anak keluarga miskin.
Badan-badan amal sosial tersebut didirikan dan dibesarkan dari dana
zakat, infaq dan shadaqah dari warga masyarakat dan para aghniya dari
kalangan anggota dan simpatisan Muhammadiyah.
Kegiatan penggalian dana ZIS di lingkungan Muhammadiyah
selama ini masih bersifat parsial dan sporadis sehingga hasil yang
dicapai kurang optimal. Pemerintah bersama DPR telah membuat
Undang-undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat sebagai
dasar hukum untuk bergerak secara lebih intensif bagi organisasi
masyarakat dalam upaya menggali sumber dana ZIS, dengan
mendirikan lembaga-lembaga amil zakat. Melalui UU tersebut,
Pemerintah memberikan insentif kepada warga masyarakat pembayar
zakat dalam bentuk potongan pajak sebesar zakat yang dikeluarkannya
melalui Badan dan Lembaga Amil zakat.
Sehubungan dengan itu, dan dalam upaya untuk lebih
memperkuat badan-badan amal sosial Muhammadiyah dalam
membantu dan memberdayakan kaum miskin maka Pimpinan Pusat
LAZIS Muhammadiyah memiliki aspek legal dengan
pengukuhan sebagai Lembaga Amil Zakat tingkat Nasional dalam
bentuk :
a. SK PP Muhammadiyah nomor : 103/KEP/I.0/K/2002 tanggal 04 Juli
2002.
b. SK Menteri Agama nomor : 457 tanggal 21 Nopember 2002.
LAZIS Muhammadiyah telah menargetkan jumlah dana Zakat
yang akan dikumpulkan melalui pelayanan-pelayanan LAZIS
Muhammadiyah dan juga melalui Jejaring LAZIS Muhammadiyah
yang tersebar di berbagai daerah. Jumlah target yang akan dicapai
melalui pelayanan LAZIS Muhammadiyah tersebut akan diupayakan
khususnya dengan memudahkan muzaki membayar zakatnya melalui
gerai-gerai yang dibuka, maupun pelayanan lain.
Setiap donator atau muzaki membutuhkan pelayanan yang
berbeda dalam berdonasi, dan semua itu membutuhkan strategi dalam
menghimpun atau menggalang dana yang merupakan tulang punggung
kegiatan dalam menggalang dana agar segala kegiatan berjalan dengan
lancar. Atas dasar itulah LAZIS Muhammadiyah menyediakan
berbagai macam pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan para
donator yang berbeda pula, salah satunya adalah layanan jemput zakat.
Dalam rangka memberikan kepuasan konsumen, perusahaan
atau sebuah lembaga perlu melakukan usaha pembinaan langganan,
melalui pengarahan tindakan strategi pemasaran yang tepat sesuai
dengan ciri atau sifat para pembeli/ konsumen tersebut. Untuk dapat
membina langganan atau pasarnya, maka perusahaan perlu
memberikan pelayanan sesuai dengan kemampuannya, sehingga
terarah kepada pasar sasaran (target market) yang dituju.6
Layanan jemput zakat merupakan salah satu pelayanan yang
ada dalam strategi fundraising LAZIS Muhammadiyah, suatu
pelayanan yang menawarkan berbagai macam kemudahan dan
kepuasan yang berbeda dengan pelayanan LAZIS Muhammadiyah
yang lain dan berpengaruh signifikan terhadap efektivitas
penggalangan atau penghimpunan dana di LAZIS Muhammadiyah.
Sehingga melalui layanan jemput zakat dapat dilihat seberapa besar
pengaruhnya terhadap pasar sasaran yang dituju, atas dasar itulah
penulis ingin membuat penelitian skripsi yang berjudul “STRATEGI
PENGGALANGAN DANA MELALUI LAYANAN JEMPUT
ZAKAT LAZIS PP MUHAMMADIYAH.”
6
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan skripsi ini lebih terarah, maka penulis
membatasi masalah yang akan dibahas hanya lebih terfokus kepada
salah satu strategi pelayanan di LAZIS PP Muhammadiyah, yaitu
layanan jemput zakat.
2. Perumusan Masalah
Agar dalam pembahasannya lebih terarah dan terfokus, maka
dapatlah di kemukakan rumusan masalah terhadap judul ini.
dengan maksud untuk memudahkan penelitian dan mendapatkan
hasil kajian yang Komperehensif. Adapun masalah yang akan di
teliti dan di paparkan dalam skripsi ini adalah:
a. Bagaimana strategi fundraising yang dilakukan LAZIS
Muhammadiyah?
b. Bagaimana program layanan jemput zakat yang dilakukan
LAZIS Muhammadiyah?
c. Seberapa besar standar efektifitas program layanan jemput
zakat LAZIS Muhammadiyah dalam meningkatkan jumlah
Muzaki?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah Untuk
layanan jemput zakat LAZIS Muhammadiyah, sehingga penulis dapat
membuktikan apakah layanan jemput zakat ini dapat berpotensi,
berperan besar atau tidak berpengaruh dalam penggalangan dana di
LAZIS Muhammadiyah. Ada beberapa tujuan lain yang mendasari
penelitian ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui strategi apa saja yang dilakukan oleh LAZIS
PP Muhammadiyah dalam menggalang dana.
2. Untuk mengetahui bagaimana program layanan jemput zakat
yang dilakukan oleh LAZIS PP Muhammadiyah.
3. Untuk mengetahui seberapa besar program layanan jemput zakat
ini berkembang, maka perlu dilihat seberapa besar standar
keefektifitasan program ini dari berbagai faktor (intenal maupun
eksternal).
Adapun manfaat dalam penelitian ini, yaitu:
1. Sebagai alat ukur dalam perkembangan menggalang dana,
sehingga ketika terlihat kekurangan dalam layanan jemput zakat
diharapkan penelitian ini mampu membuat Antisipasi di
tahun-tahun berikutnya dalam menyusun strategi menggalang dana di
LAZIS Muhammadiyah.
2. Sebagai sampel bahwa LAZIS Muhammadiyah adalah salah satu
Lembaga Amil Zakat tingkat Nasional yang terbaik di Indonesia,
3. Sebagai tugas akhir untuk mendapatkan gelar Sarjana 1 (S1)
Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
D. Tinjauan Pustaka
Dalam penyusun skripsi ini, telah dilakukan tinjuan pustaka
oleh penulis, maka langkah awal yang penulis tempuh adalah
mengkaji terlebih dahulu terhadap skripsi-skripsi terdahulu yang
hampir sama dengan yang akan penulis teliti. Maksud pengkajian ini
adalah agar dapat diketahui bahwa apa yang akan penulis teliti
sekarang, tidak sama dengan penelitian dari skripsi-skripsi terdahulu,
maka penulis perlu mempertegas perbedaan antar masing-masing
judul skripsi tersebut antara lain:
1. Penulis Selamet Fadilah (104053002064) yang berjudul Strategi Penggalangan dan Pendistribusian Dana Komite Indonesia
Untuk Solidaritas Palestina, jurusan Manajemen Dakwah. Judul skripsi tersebut membahas tentang strategi dalam penggalangan
dana komite indonesia, namun tujuan skripsi ini lebih kepada
strategi dalam penggalangan dana LAZIS Muhammadiyah.
2. Penulis Elvi Alawiyah Yang Berjudul Administrasi Kantor
dana zakat, sedangkan skripsi ini lebih mengarah kepada strategi
dalam penggalangan dana LAZIS Muhammadiyah.
3. Penulis Umroha Almaal (102053025761) yang berjudul Strategi Fundraising Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Azhar Peduli
Ummat, jurusan Manajemen Dakwah. Judul skripsi tersebut membahas tentang strategi fundraising, sedangkan pada skripsi
ini penulis lebih mengarah kepada strategi penggalangan dana
dalam program layanan jemput zakat.
E. Metodelogi Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian skripsi ini
menggunakan kualitatif deskriptif. Menurut Bogdan dan Taylor yang
di kutip dari “metodologi penelitian kualitatif” metode kualitatif
sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis dan perilaku yang dapat diamati.7
Deskriptif yaitu suatu metode yang membahas permasalahan
dengan cara memaparkan atau menguraikan terlebih dahulu dengan
pokok masalah secara teoritis.
2. Subjek dan objek penelitian
7
Subjek penelitian ini adalah LAZIS PP Muhammadiyah,
sedangkan objek penelitiannya adalah bagaimana strategi
penggalangan dana melalui program layanan jemput zakat.
3. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian: Sekretariat PP Muhammadiyah Jakarta;
Gedung dakwah Muhammadiyah. Jln Menteng Raya No 62. Jakarta
(lantai 3, kantor LAZIS Muhammadiyah).
4. Teknik pengumpulan data
Dalam pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan
judul skripsi ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data
sebagai berikut:
a. Observasi
Agar lebih mudah mendapat data yang konkrit, sehingga
penulis mengadakan kunjungan dan pengamatan secara langsung
kepada pihak yang bersangkutan yaitu LAZIS Muhammadiyah.
b. Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan peneliti
untuk memperoleh informasi dari sumber informasi. Interview
digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang atau
organisasi, dalam hal ini peneliti menggunakan sistem
diperlukan, penulis mengadakan wawancara langsung dengan
tema yang diteliti.8
c. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan tertulis tentang berbagai
kegiatan atau peristiwa pada waktu yang lalu. Data-data di
peroleh melalui dokumen-dokumen yang berupa catatan formal,
dan juga buku-buku, artikel, majalah, Koran, dan bahan
informasi lainnya yang memiliki relevansi dengan masalah
penelitian serta dapat memperkaya dan mempertajam analisa
study ini, sumber- sumber data yang terdapat dalam penelitian ini
berasal dari sumber tertulis.9
5. Analisa data
Dalam menganalisa data penulis menggunakan metode
deskriptif, metode deskriptif adalah langkah–langkah dalam
melakukan representasi objektif tentang gejala-gejala yang terdapat
dalam masalah yang diselidiki, dengan kata lain, metode ini tidak
terbatas sampai pada pengumpulan data. Tetapi meliputi juga analisis
dan interpretasi tentang arti data itu.10
6. Teknik penulisan
8
Ari Kunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta: Bina Aksara,1985), h. 109-110
9
Meleong, (Metodologi Penelitian Kualitatif H. Abdurrahman,Tif ), h. 16
10
Dalam penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada buku.
pedoman penulisan karya ilmiah (skripsi,tesis dan disertasi), yang
disusun oleh tim penulis UIN JAKARTA dan di terbitkan oleh
CEQDA UIN Jakarta pada tahun 2007.
F. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam memahami pengertian-pengertian
dan mempelajari penulisan penelitian skripsi. Penulisan skripsi ini
disusun secara sistematis menjadi lima bab. Tiap-tiap bab terdiri dari
sub bab dengan rincian sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan menguraikan dan menjelaskan latar
belakang masalah, pembahasan dan pembatasan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi
penelitian, tinjuan pustaka, sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORITIS
Dalam bab ini akan menguraikan dan menjelaskan
tentang:
Zakat, yang menjelaskan tentang; pengertian dan definisi zakat, serta prinsip-prinsip zakat, tujuan,
hikmah, syarat, macam dan dalil-dalil tentang zakat.
Penggalangan Dana Zakat, yang menjelaskan tentang; Strategi Penggalangan Dana Zakat, Teknik
Penggalangan Dana Zakat, Sumber-Sumber Dana
Zakat, dan Pola Penggalangan Dana zakat.
BAB III PROGRAM LAYANAN JEMPUT ZAKAT LAZIS PP MUHAMMADIYAH
Bab ini menggambarkan dan menguraikan tentang
program layanan jemput zakat yang mencakup; latar
belakang, tujuan, dasar hukum, Rencana kerja, dan
Sistem program layanan jemput zakat. Serta
menggambarkan pula tentang profil LAZIS
Muhammadiyah.
BAB IV STRATEGI LAYANAN JEMPUT ZAKAT LAZIS PP MUHAMMADIYAH
Bab ini menguraikan tentang strategi penggalangan
dana LAZIS Muhammadiyah, yang menjelaskan
bagaimana segmenting, targeting, dan juga positioning
saja yang diperoleh dalam menjalankan strategi
tersebut. Dan yang terakhir dalam bab ini yaitu analisis
penulis dalam meneliti berbagai kegiatan di LAZIS
Muhammadiyah.
BAB V PENUTUP
Bab ini menguraikan kesimpulan, dan saran saran.
PENGGALANGAN DANA ZIS
TENTANG:
Teori Strategi; Pengertian Strategi, Proses Strategi, Faktor-faktor Strategi.
Zakat; Pengertian dan Definisi Zakat, Prinsip-prinsip Zakat, Tujuan, Syarat, Macam, dan
Dalil Zakat.
Penggalangan Dana Zakat; Strategi Penggalangan Dana Zakat, Tekhnik
Penggalangan Dana Zakat, Sumber-sumber
Dana Zakat.
JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
PENGGALANGAN DANA ZIS
A. Teori Strategi 1. Pengertian Strategi
Strategi sebagai sebuah kata yang lebih tua dari istilah
manajemen. Kata strategi berasal dari bahasa Yunani, yaitu
Strategeia ini berasal dari kata Stratos yang berarti militer dan ag
yang berarti memimpin. Dalam koneks awalnya, strategi diartikan
Generalship atau sesuatu yang dilakukan oleh para jenderal dalam
membuat rencana untuk menaklukan musuh dan memenangkan
perang.1
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, kata strategi banyak
diadopsi dan diberi yang lebih luas sesuai dengan bidang ilmu atau
kegiatan yang menempatkannya. Pengertian strategi tidak lagi
terbatas pada konsep atau seni seorang jendral di masa perang, tetapi
sudah berkembang pada tanggung jawab seorang pemimpin.2
Penggunaan kata strategi dalam manajemen atau suatu
organisasi diartikan sebagai kiat cara dan taktik utama yang
1
Setiawan Hari Purnomo dan Zulkieflimansyah, Manajemen Strategi Sebuah Konsep Pengantar, (Jakarta: Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, 1999), h. 8
2
Ibid, h. 10
dirancang secara sistematik dalam melaksanakan fungsi manajemen
yang terarah pada tujuan strategi organisasi.3
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan strategi adalah seni atau ilmu yang menggunakan sumber daya untuk
melaksanakan kegiatan tertentu.4
Untuk mengetahui lebih jelas megenai pengetian strategis,
penulis mengedepankan pengertian strategis yang dikemukakan
beberapa pakar, diantaranya:
a. Menurut Prof. Dr. A. M. Kardiman, strategi adalah penentuan
tujuan utama yang berjangka panjang dan sasaran dari suatu
perusahaan atau organisasi serta pemilikan cara-cara bertindak
dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk
mewujudkan tujuan tersebut.5
b. Menurut Dr. Fuad Ansyari mengatakan bahwa: “Dalam
pengertian dasarnya strategi dan titik adalah metode titik untuk
memenangkan suatu persaingan. Persaingan itu berbentuk
pertempuran fisik untuk merebut suatu wilayah dengan
memakai senjata dan tenaga manusia. Sedangkan dalam bidang
non militer, strategi dan taktik adalah suatu cara untuk
3
Hadari Nawawi, Manajemen Strategi Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan dengan Ilustrasi di Bidang Pendidikan, Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press, 2000), Cet ke-1, h. 147
4
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), h. 199
5
memenangkan persaingan antara kelompok-kelompok yang
berbeda orientasi hidupnya.“6
c. Menurut Stainer dan Minner, strategi adalah penetapan misi
perusahaan, penetapan sasaran organisasi, dengan mengingat
kekuatan eksternal dan internal, perumusan kebijakan dan
strategi tentu untuk mencapai sasaran dan memastikan
implementasinya secara tepat, sehingga tujuan dan sasaran
utama organisasi akan tercapai.7
d. Menurut Din Syamsudin, strategi mengandung arti diantaranya:
1) Rencana dan cara yang seksama untuk mencapai tujuan.
2) Seni dalam mensiasati pelaksanaan rencana atau program
untuk mencapai tujuan.
3) Sebuah penyesuaian terhadap lingkungan untuk menampilkan
fungsi dan peran penting dalam mencapai keberhasilan.8
e. Menurut William F. Glueck, strategi merupakan sesuatu yang
dipersatukan, bersifat komprehensif terintegrasi yang
menghubungkan atau lembaga terhadap tantangan lingkungan
dan dirancang untuk meyakinkan bahwa sejarah dasar
6
Fuad Amsari, Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia, (Bandung: Mizan, 1990), h. 40
7
George Stainer dan John Minner, Manajemen Strategik, (Jakarta: Erlangga, t.t), h. 20
8
perusahaan atau organisasi akan tercapai dengan pelaksanaan
yang tepat oleh organisasi yang menerapkannya.9
Dari beberapa pengertian diatas maka penulis dapat
menyimpulkan: ada beberapa rumusan-rumusan yang ada dalam
strategi, namun demikian tidak merubah ide-ide pokok yang terdapat
dalam pengertian semula diantaranya, yaitu:
1) Strategi merupakan satu kesatuan rencana yang terpadu untuk
mencapai tujuan organisasi.
2) Dalam menyusun strategi perlu dihubungkan dengan
lingkungan organisasi sehingga dapat di susun kekuatan
organisasi.
2. Proses Strategi
Joel Ross dan Michael mengungkapkan, bahwa sebuah
organisasi tanpa adanya strategi seperti kapal tanpa ada kemudinya,
bergerak berputus pada lingkaran. Organisasi yang dimiliki seperti
pengembara tanpa adanya tujuan tertentu.10 Adapun proses strategi
terdiri dari tiga tahapan:
a. Perumusan Strategi
9
Amirullah dan Sri Budi Cantika, Manajemen Strategi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2000), Cet ke-1, h. 4
10
Dalam perumusan strategi termasuk didalamnya adalah
pengembangan tujuan, mengenali peluang dan ancaman eksternal,
menetapkan suatu objektivitas, menghasilkan strategi alternatif
memilih strategi untuk dilaksanakan.11 Dalam perumusan strategi
juga ditentukan suatu sikap untuk memutuskan, memperluas,
menghindari atau melakukan suatu keputusan dalam suatu proses
kegiatan.
Teknik perumusan strategi yang penting dapat dipadukan
menjadi kerangka kerja, diantaranya:
1) Tahap Input (masukan)
2) Dalam tahap ini proses yang dilakukan adalah meringkas
informasi sebagai masukan awal, dasar yang diperlukan untuk
merumuskan strategi.
3) Tahap Pencocokan
4) Proses yang dilakukan adalah memfokuskan pada
menghasilkan strategi alternatif yang layak dengan memadukan
faktor-faktor eksternal dan internal.12
5) Tahap Keputusan
6) Menggunakan semacam teknik, di peroleh dari input sasaran
dalam mengevaluasi strategi alternatif yang telah
diidentifikasikan dalam tahap kedua.13
11
Fred R David, Manajemen Strategi Konsep, h. 15.
12
Perumusan strategi haruslah selalu melihat ke depan dengan
tujuan, artinya peran perencanaan amatlah penting dan memiliki
andil yang besar.
b. Implementasi Strategi
Implementasi Strategi termasuk pengembangan budaya dalam
mendukung strategi, menciptakan struktur organisasi yang efektif,
mengubah arah, menyiapkan anggaran, mengembangkan dan
memanfaatkan sistem informasi yang masuk.14 Implementasi strategi
sering pula disebut sebagai tindakan dalan strategi, karena
implementasi berarti juga memobilisasi untuk mengubah strategi
yang telah dirumuskan menjadi tindakan.
Menetapkan tujuan, melengkapi kebijakan, mengalokasikan
sumber daya dan mengembangkan budaya yang mendukung strategi
merupakan usaha yang dilakukan dalam mengimplementasikan
strategi. Implementasi yang sukses membutuhkan dukungan disiplin,
motivasi dan kerja keras.
c. Evaluasi Strategi
Tahapan terakhir dalam sebuah strategi adalah evaluasi strategi.
Tiga macam aktivitas mendasar untuk melakukan evaluasi strategi
yaitu:
13
Fred R David, Manajemen Strategi Konsep, h. 198
14
1. Meninjau faktor-faktor eksternal (berupa peluang dan ancaman)
dan faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) yang
menjadi dasar asumsi pembuatan strategi. Adapun perubahan
faktor eksternal seperti tindakan yang harus dilakukan.
Perubahan yang ada akan menjadi satu hambatan dalam
mencapai tujuan, begitu pula dengan faktor internal yang
diantaranya strategi yang tidak efektif atau aktifitas implementasi
yang buruk dapat berakibat buruk pula pada hasil yang akan
dicapai.
2. Mengukur Prestasi (membandingkan hasil yang diharapkan
dengan kenyataan yang didapat). Menyelidiki penyimpangan dari
rencana, mengevaluasi prestasi individu dan menyimak kemajuan
yang dibuat ke arah penyampaian sasaran yang dinyatakan.
Kriteria untuk mengevaluasi strategi harus dapat di ukur dan
dibuktikan, kriteria yang meramalkan hasil yang lebih penting
dari pada kriteria yang mengungkapkan dengan apa yang telah
terjadi.
3. Mengambil tindakan korektif untuk memastikan bahwa prestasi
sesuai dengan rencana. Dalam mengambil tindakan korektif tidak
harus berarti bahwa strategi yang sudah ada akan ditinggalkan
atau bahkan starategi baru dirumuskan. “... Tindakan korektif
dibayangkan semula untuk pencapaian yang direncanakan maka
disitulah tindakan korektif diperlukan.“15
Tindakan korektif harus menempatkan posisi yang lebih baik
untuk lebih mampu memanfaatkan kekuatan internal, menghindari,
mengurangi, dan meringankan ancaman eksternal serta mampu
memperbaiki kelemahan internal. Segala kegiatan korektif harus
konsisten secara internal dan bertanggung jawab secara sosial.
Evaluasi strategi diperlukan karena keberhasilan di masa depan.
Evaluasi strategi mungkin berupa tindakan yang kompleks dan peka,
karena terlalu banyak penekanan pada evaluasi strategi akan
merugikan suatu hasil yang dicapai. Evaluasi strategi sangat penting
untuk memastikan sasaran yang dinyatakan telah tercapai. Evaluasi
strategi sangat diperlukan untuk organisasi dari semua kegiatan
dengan mempertanyakan dan asumsi manajerial, harus memicu
tinjauan dan nilai-nilai yang merangsang kreatifitas.
3. Faktor-faktor Strategi
Kesadaran bagi setiap orang, baik sebagai individu atau
kelompok organisasi, baik organisasi social atau organisasi bisnis
tentang tujuan yang hendak dicapai akan berubah. Suatu usaha untuk
mencapai tujuan tersebut dan sebuah usaha-usaha yang mengarahkan
pada penyampaian tujuan disebut strategi.
15
Suatu strategi harus efektif dan jelas karena ia mengarahkan
organisasi kepada tujuannya, untuk itu konsep suatu strategi harus
memperhatikan faktor-faktor strategi, diantaranya:
a. Lingkungan
Lingkungan tidak pernah berada pada kondisi dan selalu berubah.
Perubahan yang terjadi berpengaruh sangat luas kepada segala
sendi kehidupan manusia. Sebagai individu masyarakat, tidak
hanya kepada cara berfikir tetapi juga tingkah laku, kebiasaan,
kebutuhan, dan pandangan kehidupan.
b. Lingkungan Organisasi
Lingkungan organisasi yang meliputi segala sumber daya dan
kebijakan organisasi yang ada.
c. Kepemimpinan
S. P. Siagian memberikan definisi tentang kepemimpinan yakni
seorang pemimpin adalah orang tertinggi dalam mengambil
keputusan. Oleh karena itu, setiap pemimpin dalam menilai
perkembangan yang ada dalam lingkungan baik eksternal atau
internal berbeda.16
B. Zakat
1. Pengertian dan Definisi Zakat
16
Perkataan zakat berasal dari kata zakaa, artinya tumbuh dengan
subur. Makna lain kata zakaa. Dalam kitab-kitab hukum islam, perkataan zakat itu diartikan dengan suci, tumbuh dan berkembang
serta berkah. Dan jika pengertian itu dihubungkan dengan harta,
maka menurut ajaran islam, harta yang di zakati itu akan tumbuh
berkembang, bertambah karena suci dan berkah (membawa kebaikan
bagi hidup dan kehidupan yang punya). Jika dirumuskan, maka zakat
adalah bagian dari harta yang wajib diberikan oleh setiap muslim
yang memenuhi syarat kepada orang-orang tertentu, dengan
syarat-syarat tertentu pula. Syarat-syarat-syarat tertentu itu adalah nisab, haul, dan
kadar-nya. Menurut hadits, yang berasal dari Ibnu Abbas, ketika
Nabi Muhammad mengutus Mu’az bin jabal ke Yaman untuk
mewakili beliau menjadi gubernur di sana, antara lain Nabi
menegaskan bahwa zakat adalah harta yang diambil dari orang-orang
kaya untuk disampaikan kepada yang berhak menerimanya, antara
lain fakir dan miskin.17
Infaq adalah pengeluaran sukarela yang dilakukan seseorang,
setiap kali ia memperoleh rezeki, sebanyak yang dikehendakinya
sendiri.18
Shadaqah atau sedekah adalah pemberian sukarela yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kepada
17
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 38
18
orang miskin, setiap kesempatan terbuka yang tidak ditentukan baik
jenis, jumlah maupun waktunya. Lembaga sedekah sangat
digalakkan oleh ajaran Islam untuk menanamkan jiwa sosial dan
mengurangi penderitaan orang lain. Sedekah tidak terbatas pada
pemberian yang bersifat material saja, tetapi juga dapat berupa jasa
yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan
dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain, termasuk dalam
kategori sedekah.19
2. Prinsip-prinsip Zakat
Menurut M.A. Mannan, zakat mempunyai enam prinsip, yaitu:
a. prinsip keyakinan keagamaan (faith)
b. prinsip pemerataan (equite) dan keadilan
c. prinsip productivitas (productivity) dan kematangan
d. prinsip nalar (reason) e. prinsip kebebasan (freedom) f. prinsip etik (ethic) dan kewajaran.20
Prinsip (pertama) keyakinan keagamaan menyatakan bahwa
orang yang membayar zakat yakin bahwa pembayaran tersebut
merupakan salah satu manifestasi keyakinan agamanya, sehingga
kalau orang yang bersangkutan belum menunaikan zakatnya, belum
19
Ibid, h. 23
20
merasa sempurna ibadahnya. Prinsip (kedua) pemerataan dan
keadilan cukup jelas menggambarkan tujuan zakat yaitu membagi
lebih adil kekayaan yang telah diberikan Tuhan kepada umat
manusia. Prinsip (ketiga) produktivitas dan kematangan menekankan
bahwa zakat memang wajar harus dibayar karena milik tertentu telah
menghasilkan produk terntentu. Dan hasil (produksi) tersebut hanya
dapat dipungut setelah lewat jangka waktu satu tahun yang
merupakan ukuran normal memperoleh hasil tertentu. Prinsip
(keempat) nalar, dan (kelima) kebebasan menjelaskan bahwa zakat
hanya dibayar oleh orang yang bebas dan sehat jasmani serta
rohaninya, yang merasa mempunyai tanggung jawab untuk
membayar zakat untuk kepentingan bersama. Zakat tidak dipungut
dari orang yang sedang dihukum atau orang yang menderita sakit
jiwa. Akhirnya, (keenam) prinsip etik dan kewajaran menyatakan
bahwa zakat tidak akan diminta secara semena-mena tanpa
memperhatikan akibat yang ditimbulkannya. Zakat tidak mungkin
dipungut, kalau karena pemungutan itu orang yang membayarnya
justru akan menderita.
3. Tujuan, Hikmah, Syarat, Macam, dan Dalil Zakat
Yang dimaksud dengan tujuan zakat, dalam hubungan ini,
sasaran praktisnya. Tujuan tersebut, selain yang telah disinggung di
atas, antara lain adalah sebagai berikut:
1) Mengangkat derajat fakir-miskin dan membantunya ke luar dari
kesulitan hidup serta penderitaan
2) Membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh para
gharimin, ibnussabil dan mustahiq lainnya
3) Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat
Islam dan manusia pada umumnya
4) Menghilangkan sifat kikir dan atau loba pemilik harta
5) Membersihkan sifat dengki dan iri (kecemburuan sosial) dari
hati orang-orang miskin
6) Menjembatani jurang pemisah antara yang kaya dengan yang
miskin dalam suatu masyarakat
7) Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri
seseorang, terutama pada mereka yang mempunyai harta
8) Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaikan kewajiban
dan menyerahkan hak orang lain yang ada padanya untuk
mencapai keadilan sosial.21
b. Hikmahnya
21
Zakat sebagai lembaga Islam mengandung hikmah (makna
yang dalam, manfaat) yang bersifat rohaniyah dan filosofis. Hikmah
itu digambarkan di dalam berbagai ayat al-Qur’an dan al-Hadits. Di
antara hikmah-hikmah itu adalah:
1) Mensyukuri karunia Ilahi, menumbuh suburkan harta dan
pahala serta membersihkan diri dari sifat-sifat kikir dan loba,
dengki, iri, serta dosa
2) Melindungi masyarakat dari bahaya kemiskinan dan akibat
kemelaratan
3) Mewujudkan rasa solidaritas dan kasih sayang antara sesama
manusia
4) manifestasi kegotongroyongan dan tolong-menolong dalam
kebaikan dan takwa
5) Mengurangi kefakirmiskinan yang merupakan masalah sosial
6) Membina dan mengembangkan stabilitas sosial
7) Salah satu jalan mewujudkan keadilan sosial.22
c. Syaratnya
Menurut para ahli hukum Islam, ada beberapa syarat yang
harus dipenuhi agar kewajiban zakat dapat dibebankan pada harta
yang dipunyai oleh seorang muslim. Syarat-syarat itu adalah:
22
1) Pemilikan yang pasti. Artinya sepenuhnya berada dalam
kekuasaan yang punya, baik kekuasaan pemanfaatan maupun
kekuasaan menikmati hasilnya
2) Berkembang. Artinya harta itu berkembang, baik secara alami
berdasarkan sunnatullah maupun bertambah karena ikhtiar atau
usaha manusia
3) Melebihi kebutuhan pokok. Artinya harta yang dipunyai oleh
seseorang itu melebihi kebutuhan pokok yang diperlukan oleh
diri sendiri dan keluarganya untuk hidup wajar sebagai manusia
4) Bersih dari hutang. Artinya harta yang dipunyai oleh seseorang
itu bersih dari hutang, baik hutang kepada Allah (nazar, wasiat)
maupun hutang kepada sesama manusia
5) Mencapai nisab. Artinya mencapai jumlah minimal yang wajib dikeluarkan zakatnya
6) Mencapai haul. Artinya harus mencapai waktu tertentu pengeluaran zakat, biasanya dua belas bulan atau setiap kali
menuai atau panen.23
d. Macamnya
Sebagaimana telah disebut juga di atas, zakat terdiri dari (1)
Zakat maal atau zakat harta, dan (2) zakat fitrah. Yang dimaksud
dengan (1) zakat harta adalah bagian dari harta kekayaan seseorang
23
(juga badan hukum) yang wajib dikeluarkan untuk golongan
orang-orang tertentu setelah dipunyai selama jangka waktu tertentu dalam
jumlah minimal tertentu; (2) zakat fitrah adalah pengeluaran wajib dilakukan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari
keperluan keluarga yang wajar pada malam dan hari raya idulfitri.24
e. Dalil-dalilnya
Yang dimaksud dengan dalil-dalil dalam hubungan ini adalah
dasar-dasar hukum zakat, baik yang terdapat dalam al-Qur’an
maupun yang terdapat dalam kitab-kitab hadits (al-Hadits).
Dalil-dalil yang terdapat dalam kedua sumber hukum Islam itu disebut
dalil-dalil naqli, sedangkan dalil-dalil yang lahir dari ijtihad manusia
dinamakan dalil aqli.25
Berikut ini, sebagai contoh, disebutkan beberapa dalil naqli
dan keutamaan zakat yang terdapat di dalam al-Qur’an, yaitu:
1) Perintah menunaikan. (Q.s. Al Baqarah : 43, 83, 110, 177).26
☺
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 42
25
Ibid, h. 42
26
Artinya : Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah
beserta orang-orang yang ruku. (Q.s. Al Baqarah : 43)
☺
☺
⌧
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari
Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain
Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum
kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin,
serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia,
dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian
kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian
kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Q.s.
Al Baqarah : 83)
☺ ☺
Artinya : Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan
kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu,
tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang
kamu kerjakan. (Q.s. Al Baqarah : 110)
☺ ☺
⌧ ☺
☺
☺ ☺
☺
Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan
barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya
kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari
kemudian, malikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi
dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan
zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan.
Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan
mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.s. Al
2) Orang yang menunaikan – mendapat pahala dari Tuhan. (Q.s.
Al Baqarah : 277; An Nisaa : 162; Al A’raaf : 156; At Taubah :
71).27
☺
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman,
mengerjakan amal shaleh, mendirikan sembahyang
dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala disisi
Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.s. Al
Baqarah : 277)
☺
☺
27
Artinya : Tetapi orang-orang yang mendalami ilmunya di
antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka
beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu
(Al Qur’an), dan apa yang telah diturunkan
sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat,
menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah
dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan
kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (Q.s.
An Nisaa : 162)
⌧
⌧ ☺
⌧
Artinya : Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini
dan di akhirat, sesungguhnya kami kembali
(bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman:
“Siksa-Ku akan “Siksa-Kutimpakan kepada siapa yang Aku
kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk
orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan
orang-orang yang beriman kepada ayat Kami.“ (Q.s.
Al A’raaf : 156)
☺ ☺
☺
☺ ☺
⌧
⌧
Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi
penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka
yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan
zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah,
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. (Q.s. At Taubah : 71)
3) Orang yang berhak menerima (Q.s. At Taubah : 60).28
☺
☺ ☺
⌧ ⌧ ☺
Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk
orang-orang fakir, orang-orang-orang-orang miskin, pengurus-pengurus
zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk
memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang
untuk dijalan Allah dan orang-orang yang sedang
dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang
28
diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana. (Q.s. At Taubah : 60)
4) Keharusan ada pemungut (Q.s. At Taubah : 103).29
⌦ ☺
Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan
zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan
mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya
do’a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka.
Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Q.s. At Taubah : 103)
5) Bani Israil diperintah (Q.s. Al Maaidah : 12).30
⌧
☺
29
Sukmadjaja Asyarie dan Rosy Yusuf, Indeks Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka, 2000), h. 249.
30
☺
☺ ⌧
Artinya : Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian
(dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara
mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika
kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta
beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu
mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman
yang baik sesungguhnya Aku menghapus
dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan
ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya
sungai-sungai. Maka barangsiapa kafir diantaramu sesuadah
itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang
Di samping yang terdapat di dalam al-Qur’an itu, dapat juga
dimajukan beberapa dalil naqli yang terdapat di dalam kitab-kitab hadits, yakni (antara lain):31
1) Orang kaya yang bersyukur, lebih baik dari orang miskin yang
kufur;
2) Kemiskinan membawa orang kepada kekufuran yaitu sikap
mengingkari dan lupa pada kebenaran;
3) Menolong janda miskin sama (nilainya) dengan melakukan
jihad di jalan Allah; ...
4) Senyum (yang kau berikan) pada saudaramu, menganjurkan
berbuat baik dan mencegah melakukan kejahatan, menujukkan
jalan bagi orang yang sesat, menghilangkan gangguan duri dari
jalan, menuangkan air yang ada dalam embermu ke ember
saudaramu, menuntun orang yang lemah, adalah sedekah;
5) Sewaktu mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman, antara lain Nabi
Muhammad bersabda: “Allah mewajibkan mereka (orang
Yaman itu) menzakati harta kekayaan mereka. Zakat itu
diambil dari orang-orang kaya dan dibagi-bagikan kepada
fakir-miskin;
6) Ketika seorang menanyakan pendapat Muhammad mengenai
cara membelanjakan hartanya, Nabi menjawab: keluarkan zakat
31
dari hartamu itu, sebab zakat adalah suci dan akan menyucikan
kamu. Dengan zakat kamu akan dapat menyambung tali
silahturahmi dengan kerabat, tetangga, peminta-minta, dan
menghormati hak orang-orang miskin;
7) Barangsiapa yang diberi Allah kekayaan, tetapi tidak
menunaikan zakatnya, pada hari kiamat kekayaannya itu akan
menjadi ular berbisa yang akan melilit tubuhnya, sambil
berkata: Akulah kekayaanmu dan akulah harta bendamu.
C. Penggalangan Dana Zakat
1. Strategi Penggalangan Dana Zakat
Penggalangan dalam kamus Indonesia-inggris adalah fund-raising, sedangkan orang yang mengumpulkan dana disebut fund-raiser.32 Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia, yang
dimaksud dengan pengumpulan adalah proses, cara, perbuatan;
mengumpulkan, perhimpunan, pengerahan1 Peter Salim; Salim’s Ninth Collegiate Cet..33 Dan yang dimaksud dengan dana adalah
uang yang disediakan untuk suatu keperluan, biaya, pemberian,
hadiah, derma.34
32
Peter Salim. ’s Ninth Collegiate Indonesia-English Dictionary. (Jakarta; Modern English Press, 2000), Cet. Ke-1, h. 607.
33
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka 2002, edisi ke-3, h. 612.
34
Menggalang dana adalah sebuah proses, menggalang dana
bukan mengenai meminta uang tetapi lebih mengenai menjual ide
bahwa donor dapat mewujudkan perubahan masyarakat. Bila orang
telah menerima ide itu, maka mereka akan mau menyumbang.
Beberapa penggalangan dana tidak memanfaatkan peluang
untuk memperoleh dana. Beberapa lagi melakukannya, tetapi tidak
terlalu efektif. Tujuan menggalang dana adalah memperoleh, tetapi
sering dilupakan bahwa imbauan agar orang berbuat sesuatu,
permintaan agar orang menyumbang adalah bagian yang sangat
penting dari imbauan yang disajikan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat didefinisikan bahwa
penggalangan dana adalah kegiatan penghimpunan dana yang mana
dalam kegiatan itu penggalangan dana menjual ide orang-orang yang
mempunyai daya kretifitas dan imajinasi yang tinggi, sehingga
mampu menghimpun beberapa dana dari donatur yang bisa
dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan organisasi penggalangan
dana.
Penggalangan dana atau fundraising berperan penting bagi lembaga/ organisasi sosial dalam upaya mendukung jalannya
program dan menjalankan roda operasional yang telah digariskan.35
35
Strategi menggalang dana adalah tulang punggung kegiatan
menggalang dana yang akan dilakukan, dan dalam penggalangan
dana juga diperlukan beberapa perumusan. Perumusan strategi dalam
hal ini adalah pengembangan tujuan, mengenai peluang dan ancaman
eksternal, menetapkan kekuatan, kelemahan secara internal,
menetapkan suatu objektivitas, menghasilkan strategi alternatif dan
memilih strategi tertentu yang akan dilaksanakan.36 Dalam
perumusan strategi juga ditentukan suatu sikap untuk memutuskan,
memperluas, menghindari atau melakukan suatu keputusan dalam
suatu proses kegiatan.
Konsep strategi dapat dilihat dari dua prespektif yang berbeda:
Pertama, dari perspektif mengenai apa yang hendak dilakukan oleh
sebuah organisasi, apakah tindakan sejak semula dimaksudkan atau
tidak.37
Dari perspektif pertama, strategi diberi batasan berbagai
“program yang luas untuk menentukan dan mencapai tujuan
organisasi dan melaksanakan misinya”. Kata program dalam definisi
ini berarti peran aktif, sadar dan rasional yang dimainkan oleh
manajer dalam merumuskan strategi organisasi. Dari prespektif
kedua, strategi adalah “pola tanggapan organisasi yang sekali-kali
dilakukan terhadap lingkungan”. Dalam definisi ini setiap organisasi
36
Fred R. David, Manajemen Strategi Konsep, (Jakarta: Prenhard Lindo, 2002), h. 15.
37
mempunyai strategi meskipun tidak harus efektif, sekalipun strategi
itu tidak pernah dirumuskan secara eksplisit. Artinya, setiap
organisasi mempunyai hubungan dengan lingkungannya yang dapat
diamati dan dijelaskan. Pandangan seperti ini mencakup organisasi
yang para manajernya bersifat reaktif yang menanggapi dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan jika ada kebutuhan untuk itu.
Perumusan sebuah strategi yang dilakukan secara aktif dikenal
sebagai perencanaan strategik atau lebih mutakhir, manajemen strategik.38 Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam
merumuskan atau memilih suatu strategi, yaitu:39
a. Strategi harus tanggap terhadap lingkungan ekstern.
b. Strategi melibatkan keunggulan kompetitif.
c. Strategi harus sejalan dengan strategi yang lainnya yang terdapat
di dalam organisasi.
d. Strategi menyediakan keluwesan yang tepat terhadap bisnis dan
organisasi strategi harus sesuai dengan misi organisasi dan tujuan
jangka panjang.
e. Strategi secara keorganisasian dipandang layak dan wajar.
Titik tolak dalam merumuskan strategi penggalangan dana
adalah tinjauan terhadap penentuan kebutuhan organisasi,
perkembangan organisasi, mengidentifikasi sumber daya, dan
38
J.A.F. Stoner, R.E. Freeman, Manajemen Jilid 1, (Jakarta: Intermedia, 1994), h. 57.
39
menilai peluang. Berikut akan diuraikan bagian-bagian dari
perumusan strategi penggalangan dana:
a. Menentukan kebutuhan.
Menentukan kebutuhan dapat dilakukan pada tingkat;40
1) Agar bisa terus melakukan kegiatan.
2) Meningkatkan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang
terus bertambah.
3) Perkembangan organisasi di masa depan.
b. Perkembangan Organisasi
Di samping tugas-tugas menyangkut dana, sebuah organisasi
juga perlu membiayai kegiatan sendiri dan masa depannya. Ada
beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan:41
1) Pengembangan modal.
2) Dana Abadi (Corpus Fund).
3) Mengurangi hidup bergantung pada pihak luar dan
mengembangkan sumber dana independen.
4) Mengembangkan landasan keanggotaan dan pendukung.
5) Kemampuan berdiri sendiri untuk jangka panjang.
c. Mengidentifikasi Sumber Daya
40
Michael Norton, Menggalang Dana, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002), h. 51.
41
Dalam menyusun strategi penggalangan titik tolak yang baik
adalah mengidentifikasi sumber-sumber dana yang mungkin dapat
digali:42
1) Dukungan dari perorangan, diajak menjadi anggota atau
memberi sumbangan.
2) Sumbangan besar selama hidup, dan warisan setelah
meninggal.
3) Dukungan dari kegiatan penggalangan, seperti meminta
sumbangan dari masyarakat, mengadakan malam hiburan,
dan acara massal lainnya.
4) Pemberian dalam bentuk barang (oleh perorangan atau
Lembaga Penggalang Dana).
5) Hibah dari lembaga pemerintah pusat maupun lembaga non
pemerintah.
6) Hibah dari lembaga donor internasional atau nasional.
7) Hibah dari yayasan international atau lokal.
d. Menilai Peluang
Butir-butir di atas adalah gambaran yang cukup lengkap
mengenai sumber dana yang dapat di gali, perlu diperhatikan
faktor-faktor berikut ini:43
1) Pengalaman di masa lalu.
42
Ibid, h. 57.
43
2) Pendukung yang sewajarnya.
3) Organisasi macam apa yang akan dibentuk .
4) Gaya dalam melakukan kegiatan.
5) Sumber daya dan keahlian yang dimiliki.
6) Sumber dana yang ada sekarang.
7) Peluang yang terbaik.
8) Siapa saja yang kita kenal.
e. Perspektif Jangka Panjang Penting
Beberapa sumber dana pada dasarnya bersifat jangka pendek.
Tetapi ada pula yang dapat dikembangkan menjadi mitra jangka
panjang. Misalnya, jika kita punya rencana untuk mengembangkan
organisasi untuk jangka panjang, maka kita perlu uang, tidak hanya
untuk tahun ini tetapi juga untuk tahun depan, tahun berikutnya,
dan tahun selanjutnya. Jika kita menggalang dan untuk jangka
pendek, kita mungkin berhasil menghimpun dana untuk tahun ini
dan tahun depan, tetapi setelah itu kita akan mengalami defisit.
Karena ketika kita menggalang dana untuk masa depan,
perhitungkan potensi setiap sumber untuk memberi dukungan
dalam jangka panjang.
f. Mengidentifikasi Hambatan
Hambatan akan selalu ada ketika kita melakukan sesuatu. Ada
hambatan yang timbul karena sifat organisasi dan apa yang
sendiri, dan mungkin beberapa datang dari luar. Apapun sumber
hambatan, kita perlu memperhitungkan ketika menyusun rencana
menggalang dana.
g. Merumuskan Strategi
Proses perencanaan strategi akan mempertimbangkan semua
pilihan yang tersedia, membuat keputusan berdasarkan informasi
yang cukup lengkap mengenai pendekatan yang terbaik,
merencanakan langkah-langkah berikutnya, dan
mempertimbangkan dengan seksama sumber daya apa yang akan
diperlukan. Ada beberapa teknik sederhana yang dapat digunakan
untuk perencanaan strategis.
2. Tekhnik Penggalangan Dana Zakat
Zakat merupakan rukun islam keempat yang sangat penting
bagi kesejahteraan dan tegaknya keadilan sosial ekonomi ummat.
Pembayaran zakat bukan hannya menunjukkan kesalehan individual
tetapi juga mencerminkan kesalehan sosial. Zakat merupakan sumber
dana potensial dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan
ekonomi masyarakat menengah ke bawah.
Potensi zakat untuk pembayaran ekonomi dengan berupa
menciptakan iklim masyarakat yang berjiwa wirausaha akan
terwujud, apabila penyaluran tidak langsung diberikan kepada
didistribusikan oleh badan atau lembaga yang amanah dan
profesional. Untuk keperluan ini, UU RI No. 38 Tahun 1999
mengenai pengelolaan zakat merupakan wujud kepedulian
pemerintah untuk mengupayakan kelembagaan pengelolaan zakat
dengan manajemen modern.44
Teknik yang harus dibuat terkait dengan penghimpunan adalah
cara penerimaan dana. Penentuan cara penerimaan dana akan
berpengaruh secara signifikan terhadap efektifitas penghimpunan
dana. Penentuan cara penerimaan dana juga akan berpengaruh
terhadap biaya dalam penghimpunan dana karena setiap cara
penerimaan dana membutuhkan sarana/ alat dan pengendalian yang
berbeda.45 Berikut dibawah ini adalah teknik menggalang dana
zakat:
a. Membentuk Kelompok Penggalangan Dana
Salah satu cara lembaga zakat dalam menyelenggarakan
pemungutan (fund-raising) adalah dengan membentuk kelompok penggalangan dana yang bertugas mencari, dan memungut zakat
dari para muzakki. Imam Nawawi mengatakan hendaklah para
imam (Pemimpin suatu lembaga) dan pelaksana serta orang yang
diserahi tugas membagikan zakat. Melakukan pencatatan para
mustahik untuk mengetahui jumlah dan ukuran kebutuhan mereka.
44
Lili Bariadi, dkk, Zakat dan Wirausaha, CED (Center For Enterpreneurship Development), Jakarta: 2005, h. 1.
45
Sehingga seluruh zakat itu diselesaikan setelah diketahui
jumlah zakat itu, agar segera diselesaikan hak mereka dan untuk
menjaga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.46 Artinya
sebelum melaksanakan kegiatan pengumpulan dana, minimal
diketahui dahulu deskripsi atau gambaran peta mustahiq. Untuk
membentuk kelompok penggalangan dana kegiatan ini, tetapi
investasi ini akan membuahkan hasil yang memuaskan pula. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk
penggalangan dana, yaitu:47
1) Mencari orang
2) Mencari seseorang untuk menjadi pemimpin kelompok
3) Membentuk kelompok
4) Membantu kelompok mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang
tepat untuk menggalang dana
5) Mengawasi
b. Menyelenggarakan Acara Penggalangan Dana
Banyak macam acara menggalang dana yang dapat
menghimpun dana untuk tujuan amal, akan tetapi semuanya itu
menimbulkan resiko yang cukup besar. Namun apabila acara yang
diselenggarakan tersebut dengan baik, memang dapat
menghasilkan uang dalam jumlah besar, tetapi banyak acara yang
46
M. Djamal, Doa, 2004, h. 20.
47