STIMULUS DANA PERIMBANGAN TERHADAP KEMANDIRIAN FISKAL (PAJAK DAERAH) DI KABUPATEN WAY KANAN 2003 - 2010

66 

Teks penuh

(1)

A B S T R A C T

STIMULUS FUNDS THE FISCAL INDEPENDENCE OF EQUALIZATION (LOCAL TAX) IN THE WAY KANAN, 2003-2010

From:

M. Reza Pratama Putra

Since Indonesia's economy gets monetary crisis in 1997 and the Government's failure to control the effective system of Government, the establishment of the autonomous region of discourse is increasingly growing. Discourse of the application of the second autonomous region realized effectively in 2004 with the enactment of law No. 32 of 2004 and Act No. 33 of 2004, which in principle govern conduct of local governance that favour the implementation of the principle of decentralization. The implementation of regional autonomy until today its implementation throughout the regencies and cities throughout Indonesia is developing towards that is getting better, but the reality shows that local governments can’t be completely separated from the Central Government in organizing the household area.

The issue raised in this study is whether the balance of Funds to stimulate Fiscal Independence (local tax) in the right Way in 2003-2010? The purpose of this study was to determine the ability of the equalization funds to stimulate local tax in the right Way in 2003% u2013 2010. As for the data analysis used in qualitative descriptive data analysis.

(2)
(3)

A B S T R A K

STIMULUS DANA PERIMBANGAN TERHADAP KEMANDIRIAN FISKAL (PAJAK DAERAH) DI KABUPATEN WAY KANAN 2003 - 2010

Oleh :

M. Reza Pratama Putra

Sejak perekonomian Indonesia di terpa krisis moneter tahun 1997 dan kegagalan pemerintah mengendalikan sistem pemerintahan yang efektif, wacana penetapan otonomi daerah semakin berkembang. Wacana penerapan otonomi daerah kedua terwujud efektif pada tahun 2004 dengan diberlakukannya UU No.32 tahun 2004 dan UU No.33 tahun 2004, yang pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi. Pelaksanaan otonomi daerah hingga saat ini pelaksanaannya di seluruh kabupaten dan kota seluruh Indonesia berkembang kearah yang semakin baik, akan tetapi kenyataannya menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum dapat sepenuhnya lepas dari pemerintah pusat di dalam mengatur rumah tangga daerah.

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah Apakah Dana Perimbangan dapat menstimulasi Kemandirian Fiskal (Pajak Daerah) di Kabupaten Way Kanan Tahun 2003-2010?” Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui kemampuan dana perimbangan yang dapat menstimulasi pajak daerah di Kabupaten Way Kanan tahun 2003 – 2010.

Sedangkan untuk analisis data digunakan analisis data secara deskriptif kualitatif.

(4)

upaya pajak. Kecenderungan ini menunjukkan ketergantungan pemerintah Kabupaten Way Kanan kepada pemerintah pusat masih tinggi.

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak tahun 1999 pemerintah Republik Indonesia telah mencoba memberlakukan

otonomi daerah pada beberapa kabupaten/kota di seluruh Indonesia, akan tetapi

pelaksanaannya terbentur dengan beberapa kendala sehingga otonomi daerah di

saat itu mengalami kegagalan. Di provinsi Lampung otonomi daerah di masa itu

hanya dicoba di kabupaten Lampung Selatan. Diawal pelaksanaan otonomi daerah

tahun 1999 itu didasarkan atas penetapan UU No 22 tahun 1999 tentang

Pemerintah Daerah dan UU No 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan

antara Pusat dan Daerah.

Sejak perekonomian Indonesia di terpa krisis moneter tahun 1997 dan kegagalan

pemerintah mengendalikan sistim pemerintahan yang efektif, wacana penetapan

otonomi daerah semakin berkembang. Wacana penerapan otonomi daerah kedua

terwujud efektif pada tahun 2004dengan diberlakukannya UU No.32 tahun 2004

dan UU No.33 tahun 2004, yang pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi dimana kota dan kabupaten bertindak sebagai “motor” sedangkan pemerintah

propinsi sebagai koordinator. Sehingga daerah tidak lagi sekedar menjalankan

(10)

dan inovasi dalam mengoptimalkan potensi sumber daya yang selama ini dimiliki

secara efektif dan efisien.

Adapun maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada daerah pada prinsipnya

untuk memungkinkan daerah mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri

agar berdaya guna dan berhasil guna dalam penyelenggaraan pemerintahan dan

dalam rangka pelayanan kepada masyarakat serta pelaksanaan pembangunan

(Moneyzar Usman, 1997 :1) (dalam Ganie, 2004). Inti dari hakekat otonomi

adalah adanya kewenangan daerah, bukan pendelegasian (Saragih, 2003).

Pelaksanaan otonomi daerah hingga saat ini pelaksanaannya di seluruh kabupaten

dan kota seluruh Indonesia berkembang kearah yang semakin baik, akan tetapi

kenyataannya menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum dapat sepenuhnya

lepas dari pemerintah pusat di dalam mengatur rumah tangga daerah. Hal ini

tidak hanya terlihat dalam konteks kerangka hubungan politis dan wewenang

daerah, namun juga terlihat dalam hubungan keuangan pusat dan daerah

(Simanjuntak, 2001)

Sesungguhnya makna otonomi daerah adalah fenomena pemindahan tanggung

jawab dari pemerintah pusat ke tingkat pemerintah daerah menjadi salah satu

komponen penting dalam proses pembangunan, sistem ini dikenal sebagai

desentralisasi. Desentralisasi membawa dampak yang berbeda bagi perekonomian

daerah. Desentralisasi dapat meningkatkan respon pemerintah daerah terhadap

penyediaan barang dan jasa publik di daerah dan kebijakan desentralisasi ini

(11)

Pemberdayaan sumber daya daerah yang tersedia harus ditingkatkan dan dikelola

secara professional dan komprehensif dan terintegrasi baik aspek perencanaan,

pelaksanaan hingga evaluasi agar kemandirian pemerintah daerah dapat terwujud

secara dinamis dan bertanggung jawab agar terciptanya kesejahteraan masyarakat

di seluruh wilayah otonomi. Kemandirian daerah dapat diwujudkan dengan

adanya orientasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

Pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

pembangunan nasional, karena pembangunan daerah turut menentukan berhasil

tidaknya pembangunan nasional. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus

mampu menciptakan sistem manajemen yang mampu mendukung

operasionalisasi pembangunan daerah.

Salah satu aspek dari pemerintahan daerah yang harus diatur secara hati-hati

adalah masalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. Anggaran

daerah atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan

instrumen kebijakan yang utama bagi Pemerintah Daerah.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada hakekatnya merupakan

pencerminan kebijaksanaan dan program kegiatan dalam satu tahun anggaran

daerah dalam bentuk uang. Pengelolaan APBD dilaksanakan berdasarkan aturan

keuangan daerah yang tercermin dalam APBD tersebut merupakan motor

penggerak dalam kegiatan otonomi daerah, maupun penunjang bagi pelaksanaan

pembangunan sektoral yang dilaksanakan daerah (Supriatna, 1996 : 175 yang

(12)

Kabupaten Way Kanan adalah salah satu kabupaten yang berada di daerah

Provinsi Lampung. Kabupaten Way Kanan yang merupakan daerah pemecahan

baru dari kabupaten induknya (Kabupaten Lampung Utara) senantiasa terus

melakukan pembangunan untuk mengejar kemajuan pembangunan di kabupaten

lainnya. Sudah barang tentu dan selayaknya pemerintah Kabupaten Way Kanan

mengembangkan sumber daya sendiri dan mengurangi ketergantungan dari pusat.

Selain itu pemerintah kabupaten selayaknya sudah dapat mengelola keuangan

daerah dengan baik selain itu ada upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan

penerimaan daerah juga tidak menimbulkan distorsi pasar dan high cost economy.

Selain itu, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan

penerimaan daerah harus diikuti dengan upaya untuk meningkatkan perlayanan

publik.

Pemerintah Kabupaten Way Kanan harus mampu menyelenggarakan

pemerintahan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam

melaksanakan pembangunan secara efektif dan efisien. Salah satu bentuk

penyelenggaraan itu dalam hal pengelolaan APBD. Sejak implementasi otonomi

yang luas dan desentralisasi yang sekarang dapat dinikmati oleh pemerintah

daerah kabupaten dan kota sehingga pemerintah daerah Kabupaten Way Kanan

dapat melakukan pembahuruan sistem pengelolaan keuangan daerah dan anggaran

(13)

Tabel 1.Perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Sumber : Dinas Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Way Kanan 2011.

Dari Tabel 1. memperlihatkan perkembangan APBD Kabupaten Way Kanan

dalam kurun waktu 8 tahun yaitu dari periode 2003 – 2010 berfluktuasi dengan perkembangan tertinggi dari sebelumnya terjadi pada tahun 2008 sebesar 79,29

persen, dan perkembangan terendah dari tahun sebelumnya terjadi pada tahun

2004 sebesar 28,03 persen dengan rata-rata perkembangan sebesar 31,62 persen.

Penurunan perkembangan APBD yang sangat tajam terjadi pada tahun 2006 yaitu

sebesar -2,75.

Secara umum, penerimaan pemerintah (termasuk pemerintah daerah) dapat

bersumber dari pajak (taxes), retribusi (user charges) dan pinjaman (Musgrave dan

Musgrave, 1991: 225). Dalam rangka penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan

kepada masyarakat berdasarkan asas desentralisasi, daerah diberikan kewenangan

untuk memungut pajak dan retribusi (tax assignment) serta mempunyai

kewenangan yang lebih luas dalam pemungutan pajak (taxing power). Selain itu,

(14)

keuangan (grant) atau dikenal sebagai dana perimbangan sebagai sumber dana

bagi APBD, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Tabel 2. Realisasi PAD Kabupaten Way Kanan Tahun 2003- 2010.

Tahun Pajak (Rp) Retribusi (Rp) Laba BUMD(Rp) 4AD Lain (Rp) 2003 14.296.330.014,30 8.412.866.452,80 260.000.000 757.473.088,48 2004 19.686.070.727,69 9.814.868.121.,50 643.804.291,29 1.641.540.633,82 2005 22.406.753.437,58 10.292.417.728 867.724.770,99 1.744.902.024,90 2006 22.304.069.191 10.498.676.576 1.871.141.919 2.815.688.056 2007 28.288.077.272 12.744.984.980 2.334.373.404 2.906.064.066,70 2008 26.975.594.010 11.088.122.062 2.196.129.542 5.877.413.556,16 2009 30.411.161.966,81 12.533.404.985 2.149.979.288 8.620.368.522,15 2010 39.265.916.881 14.414.767.716 2.509.144.000 8.936.020.117,96 Sumber : Dinas Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Kabupaten Way Kanan 2011.

Tabel 2 diatas memperlihatkan realisasi masing-masing PAD yang terdiri dari

pajak, retribusi, Laba BUMD dan PAD lain yang syah. Dilihat dari data Tabel di

atas dari tahun 2003 hingga tahun 2010, pajak dan retribusi memegang peranan

penting karena merupakan bagian pendapatan yang menyumbangkan paling besar

dibandingkan dengan pendapatan lainnya dalam PAD Kabupaten Way Kanan.

Idealnya sumber PAD mampu menyumbangkan bagian terbesar dari seluruh

pendapatan daerah dibandingkan dengan sumber pendapatan lainnya. Hubungan

keuangan yang ideal akan dapat berlangsung apabila setiap tingkatan

pemerintahan bisa bebas menggunakan keuangannya untuk membiayai tugas,

wewenang, atau fungsi dari pemerintahan masing-masing. Hal ini berarti

seharusnya pendapatan yang berasal dari daerahnya sendiri menjadi sumber

pendapatan utama atau dengan kata lain pemberian dana dari pemerintah pusat

(15)

kurang penting. Oleh karena itu, pemerintah daerah dituntut agar lebih jeli dan

peka dalam menggali dan mengolah sumber-sumber potensial daerahnya sehingga

Pendapatan Asli Daerah dapat meningkat.

Tabel 3 Perkembangan Pendapatan Asli Daerah dan Transfer Pusat Kabupaten Way Kanan Tahun 2003-2010 2004 31.586.283.774,30 33,29 199.350.000.000 24,52 2005 35.500.797.961,47 12,39 240.050.000.000 20,42 2006 36.689.575.342,06 3,35 243.544.000.000 1,46 2007 46.073.499.722,70 25,58 268.151.000.000 10,10 2008 46.137.259.170,16 0,14 449.491.000.000 67,63 2009 53.714.914.761,96 16,42 498.467.000.000 10,90 2010 65.125.848.714,96 21,24 552.159.017.000 10,77

Rata-rata 16,06 20,83

Sumber : Dinas Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Way Kanan 2011.

Tabel 3 memperlihatkan perkembangan PAD dan penerimaan Transfer Pusat

Kabupaten Way Kanan dalam kurun waktu 8 tahun yaitu tahun anggaran 2003

sampai tahun 2010 berfluktuasi. Perkembangan PAD tertinggi dari tahun

sebelumnya terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 25,58 persen, dan

perkembangan terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 0,14 persen dengan

rata-rata perkembangan 16,06 persen. Perkembangan Transfer Pusat tertinggi dari

tahun sebelumnya terjadi pada tahun 2008 dan terendar terjadi pada tahun 2006

dengan rata-rata perkembangan 20,83 persen.

Dilihat dari Tabel 3 diatas keuangan Kabupaten Way Kanan kekurangan sumber

daya yang memadai untuk membiayai seluruh kebutuhan pengeluarannya, hal ini

(16)

dengan kontribusi transfer pusat (Tabel 3) Sedangkan dalam Struktur PAD

Kabupaten Way Kanan, masih didominasi oleh pajak daerah dan retribusi, hal ini

menunjukkan belum optimalnya peran BUMD dalam Penerimaan Kabupaten Way

Kanan sehingga keuangan pemerintah kabupaten masih sangat tergantung pada

dana transfer pusat. Oleh karena itu pemerintah Kabupaten Way Kanan masih

perlu meningkatkan pemasukannya sendiri; meningkatkan trasparansi,

akuntabilitas dan pengeluaran umum yang efisien; serta memperkuat

proses-proses penganggaran, pencatatan keuangan, pengadaan dan pemeriksaan.

Berdasarkan teori federalisme fiskal, transfer antar pemerintah dapat mengurangi

masalah yang berkaitan dengan desentralisasi, seperti kesenjangan daerah,

eksternalitas, dan rendahnya kualitas barang dan jasa publik di daerah (Oates,

1972). Dengan demikian, transfer pemerintah menjadi bagian penting dari proses

desentralisasi fiskal. Desentralisasi fiskal menciptakan atau mendelegasikan tax

base dari pemerintah pusat ke daerah. Hal ini akan meningkatkan kompetensi

dalam meningkatkan sisi keuangan daerah, namun dapat juga mengurangi insentif

dalam upaya perolehan pajak sehingga meningkatkan ketergantungan terhadap

pemerintah pusat dan memperburuk kesenjangan fiskal.

Hubungan antara dana perimbangan/transfer antar pemerintah dengan upaya

perolehan pajak daerah memiliki dua efek, yaitu transfer dapat berpengaruh positif

atau negatif terhadap upaya perolehan pajak daerah. Kedua efek tersebut

(17)

Pertama, berdasarkan asumsi maksimisasi manfaat yang rasional (rational benefit

maximization) disebutkan bahwa transfer mengurangi upaya perolehan pajak

daerah karena adanya efek subtitusi. Pemerintah daerah mensubtitusi biaya pajak

yang mahal dengan transfer yang diberikan pemerintah daerah. Pendekatan

dengan teori ini mengasumsikan bahwa pengeluaran daerah tetap. Dalam kasus

ini. Pemerintah daerah hanya merelokasi sumber penerimaan daerah dengan

memilih sumber penerimaan dengan biaya yang murah (Peterson,1997).

Kedua, berdasarkan teori the flypaper effect yang menyimpulkan bahwa

pengeluaran pemerintah daerah akan semakin besar jika pendanaannya berasal

dari transfer pemerintah pusat dibandingkan dengan pendanaan yang berasal dari

Penerimaan Asli Daerah. Ketika pengeluaran semakin besar maka kesenjangan

fiskal juga semakin besar. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah daerah

akan meningkatkan pinjaman daerah atau memungut pajak tambahan sebagai

sumber pendanaan (hines dan Thaler, 1995).

Upaya pajak (tax effort) seringkali diidentikkan dengan tekanan fiskal (fiscal

Stress). Otonomi daerah ditunjukkan untuk meningkatkan kemandirian daerah,

yang di indikasikan dengan meningkatnya pendapatan sendiri (PAD). Pemerintah

cenderung menggali potensi penerimaan pajak untuk meningkatkan penerimaan

daerahnya (Shamsub dan Akoto, 2004 yang dikutip dalam Adi, 2008). Upaya

pajak (Tax Effort) adalah peningkatan pajak daerah yang diukur melalui

perbandingan antara hasil penerimaan (realisasi) sumber- sumber Pendapatan Asli

Daerah (PAD) dengan potensi sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah. Tax

(18)

daerahnya dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki. Potensi dalam

pengertian ini adalah seberapa besar target yang ditetapkan pemerintah daerah

dapat dicapai dalam tahun anggaran daerah tersebut.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk menelaah

stimulus dari dana perimbangan dengan kemandirian fiskal ( upaya perolehan

pajak daerah) di Kabupaten Way Kanan dengan judul penelitian: “Stimulus Dana Perimbangan terhadap Kemandirian Fiskal (Pajak Daerah) di Kabupaten Way Kanan Tahun 2003-2010”.

B. Identifikasi Masalah

Terdapat kewenangan yang dimiliki ini memberikan konsekuensi adanya tuntutan

peningkatan kemandirian daerah (Sidik, 2002). Daerah diharapkan mengalami

percepatan pertumbuhan ekonomi (peningkatan kesejahteraan masyarakat). Untuk

itu, pemerintah daerah seyogyanya lebih berkonsentrasi pada pemberdayaan

kekuatan ekonomi lokal, melakukan alokasi yang lebih efisien pada berbagai

potensi lokal yang sesuai dengan kebutuhan publik (Lin dan Liu,2000;

Mardiasmo,2002 dan Wong,2004). Peningkatan pertumbuhan ekonomi lebih

cepat terwujud dan pada gilirannya dapat meningkatkan kinerja (kemampuan)

keuangan daerah. Hal ini berarti, idealnya pelaksanaan otonomi daerah harus

mampu mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat, daerah menjadi

lebih mandiri, yang salah satunya diindikasikan dengan meningkatnya kontribusi

(19)

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dijelaskan, maka

permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Apakah Dana Perimbangan dapat menstimulasi Kemandirian Fiskal (Pajak

Daerah) di Kabupaten Way Kanan Tahun 2003-2010?”

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui kemampuan dana perimbangan yang dapat menstimulasi pajak

daerah di Kabupaten Way Kanan tahun 2003 – 2010

D. Kerangka Pemikiran

Otonomi Daerah adalah menyerahkan kewenangan untuk mengatur dan

menyelenggarakan pemerintahan kepada daerah. Otonomi daerah memberikan

kesempatan kepada aparat daerah termasuk wakil-wakil rakyatnya untuk

berpartisipasi di dalam merencanakan dan melaksankan berbagai kebijaksanaan

pembangunan tanpa harus diarahkan oleh pemerintah pusat. Dengan demikian

pembangunan daerah lebih berorintasi pada kebutuhan bukan didasarkan kepada

kemauan yang menjadi landasan pembangunan daerah.

Suatu daerah untuk dapat menjalankan hak otonominya harus memiliki

kemampuan ekonomi serta kemungkinan pengembangan untuk dapat mendukung

pelaksanaan tugas-tugas pembangunan di daerah, termasuk di dalamnya

pembiayaan pembangunan sesuai dengan prinsip ekonomi. Kemampuan ekonomi

sangat menentukan bagi kelangsungan daerah agar tidak selalu tergantung dan

(20)

Sumber-sumber keuangan daerah dikelompokkan dalam dua kelompok utama,

yaitu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sumber non Pendapatan Asli

Daerah (PAD) yaitu dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Menurut UU No.34 Tahun 2004, PAD adalah pendapatan daerah yang bersumber

dari hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

dipisahkan, dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah yang bertujuan untuk

memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam

pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan desentralisasi.

Berdasarkan Pasal 1 UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, desentralisasi diartikan sebagai

penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah

otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara

Kesatuan Republik Indonesia.

Desentralisasi merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan bernegara,

terutama dalam pelaksanaan pelayanan umum yang lebih baik dan proses

pengambilan keputusan yang lebih demokratis. Dengan dilaksanakannya

desentralisasi, maka terjadi proses pelimpahan kewenangan kepada tingkat

pemerintahan di bawahnya untuk melakukan pembelanjaan, memungut pajak

(taxing power), membentuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), memilih

Kepala Daerah, serta adanya bantuan dalam bentuk transfer dari pemerintah pusat

kepada tingkat pemerintahan di bawahnya. Implikasi langsung pelaksanaan

(21)

pengaturan perimbangan keuangan pusat dan daerah untuk membiayai tugas dan

tanggung jawab daerah.

Desentralisasi fiskal merupakan salah satu mekanime transfer dana dari APBN

dalam kaitan dengan kebijakan keuangan negara yaitu untuk mewujudkan

ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability) dan memberikan

stimulus terhadap aktivitas perekonomian masyarakat. Dengan kebijakan

desentralisasi fikal diharapkan akan menciptakan pemertaan kemampuan

keuangan antar daerah yang sepadan dengan besarnya kewenangan urusan

pemerintahan yang diserahkan kepada daerah otonom sehingga kemandirian

daerah pun dapat tercipta.

Transfer dana dari pemerintah pusat merupakan sumber penerimaan penting bagi

propinsi maupun kabupaten/kota. Hal ini dikarenakan tingkat penerimaan di

daerah masih relatif rendah dibandingkan dengan penerimaan pemerintah pusat.

Namun keterbatasan penerimaan tersebut, pemerintah daerah dihadapkan dengan

besarnya tingkat pengeluaran untuk membiayai berbagai kebutuhan di tingkat

daerah sehingga terjadi ketimpangan antara besarnya penerimaan dan pengeluaran

daerah. Besarnya kebutuhan fiskal daerah hanya ditopang dengan minimnya

potensi fiskal di daerah.

Pada dasarnya pemerintah daerah dihadapkan pada persoalan tingginya kebutuhan

fiskal daerah (fiscal need) sementara kapasitas fiskal daerah tidak mencukupi. Hal

ini menyebabkan terjadinya kesenjangan fiskal (Mardiasmo, 2002:147). Transfer

dari pemerintah di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota merupakan satu cara

(22)

Berbagai tujuan dari transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah,

antara lain:

1. Membiayai seluruh atau sebagian biaya penyediaan jasa-jasa pelayanan

atau program-program pembangunan yang kepentingannya bersifat

nasional.

2. Mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan program-program

pembangunan dan pelayanan sesuai dengan kebijakan nasional.

3. Merangsang pertumbuhan ekonomi daerah serta mengurangi ketimpangan

antar daerah.

4. Mengendalikan pengeluaran daerah agar sesuai dengan kebijakan dan

standar nasional.

5. Menjaga standar penyediaan jasa-jasa dan mengusahakannya agar lebih

merata.

6. Mengembangkan daerah-daerah yang kapasitas fiskalnya rendah agar

penerimaan langsung daerah meningkat.

Dalam menciptakan kemandirian daerah, pemerintah daerah diharapkan mampu

menggali sumber-sumber keuangan lokal, khususnya melalui Pendapatan Asli

Daerah sehingga ketergantungan pada transfer dari pemerintah pusat akan

semakin dibatasi setiap tahunnya. Oates (1995) memberikan alasan kenapa

pemerintah daerah harus mengurangi ketergantungan ini:

1. Transfer pusat biasanya disertai dengan persyaratan tertentu, sehingga

otonomi relative bersifat kompromis, terlebih bila dana transfer merupakan

(23)

2. Ketergantungan pada transfer justru mengurangi kreatifitas lokal untuk

mengambil kebijakan terkait dengan penerimaan lokal yang lebih efisien.

Upaya pajak (tax effort) merupakan aspek yang relevan bila dikaitkan dengan

tujuan otonomi daerah, yaitu peningkatan kemandirian daerah. Kemandirian

daerah seringkali diukur dengan menggunakan Pendapatan Asli Daerah, dimana

pajak daerah dan retribusi daerah menjadi komponen PAD yang memberikan

kontribusi yang sangat besar.

Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah derah. Pajak ini dalah

salah satu penyumbang yang cukup besar dalam PAD. Untuk mengurangi

ketergantungan pada transfer pemerintah pusat, pemerintah Kabupaten Way

Kanan perlu menelusuri upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas finansialnya

dengan mengembangkan basis pajak, meningkatkan pengumpulan pajak dan

retribusi, merasionalkan pengeluaran, mempromosikan kemitraan

swasta-pemerintah dalam menyediakan pelayanan dan menggunakan lahan sebagai

sumber daya yang penting dan merestrukturisasi kesulitan BUMD dan instansi

layanan publik pemerintah lainnya agar lebih Profitable dan meningkatkan cost

recovery untuk pelayanan sehingga dapat membantu Peningkatan PAD dan

membangun mekanisme keuangan Kabupaten Way Kanan yang berkelanjutan.

Optimalisasi penerimaan pajak atau upaya fiskal (Fiscal Effort) yang

memperlihatkan seberapa besar usaha yang dilakukan oleh pemerintah daerah

dalam peningkatan pajak hendaknya didukung dengan upaya pemerintah

Kabupaten Way Kanan dalam meningkatkan pelayanan publik masyarakat

(24)

berlebihan justru akan semakin membebani masyarakat, menjadi disinsentif bagi

daerah dan mengancam perekonomian makro.

Dilihat dari data yang ada menunjukkan bahwa nominal PAD Kabupaten Way

Kanan terus menerus meningkat dari tahun 2003 hingga tahun 2010. Tetapi

kontribusi PAD yang dari tahun ke tahun ini mengalami peningkatan belum

mampu mengimbangi Dana Perimbangan/ transfer pusat (DAU dan DAK).

Kondisi ini menggambarkan bahwa selama ini Dana Perimbangan selama 8 tahun

belum mampu merubah kemandirian fiskal dan ini dapat disebabkan belum

optimalnya upaya fiskal (fiscal effort) pemerintah Kabupaten Way Kanan dalam

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Otonomi Daerah dan Pemerintahan Daerah

1. Otonomi Daerah

Pelaksanaan otonomi daerah yang ditandai dengan diberlakukannya UU No. 22

tahun 1999 tentang Pemerintahan daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (dalam

perkembangannya kedua regulasi ini diperbaharui dengan UU No. 32 tahun 2004

dan UU No. 34 tahun 2004.

Menurut Syaukani, 2001 mendefinisikan otonomi daerah adalah membawa

pemerintah lebih dekat kepada rakyat, sehingga kualitas pelayanan pemerintah

untuk melayani kebutuhan masyarakat lebih mengena.

Definisi Otonomi Daerah dan Daerah Otonomi (Suparmoko, 2001) adalah

kecenderungan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan

masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.

Daerah Otonomi adalah kesatuan masyarakat secara hukum dengan batas daerah

tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat

(26)

Definisi Otonomi Daerah (Widjaja, 1998) adalah hak, wewenang dan kewajiban

daerah untuk mengatur dan menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam rangka melancarkan pembangunan yang tersebar di seluruh pelosok negara

maka hubungan yang serasi antara pusat dan dan daerah atas dasar keutuhan

negara kesatuan diarahkan pada pelaksanaan otonomi yang luas, nyata dan

bertanggung jawab. Otonomi bersifat luas berarti keleluasaan daerah untuk

menyelenggarakan pemerintah yang mencakup wewenang semua bidang

pemerintah kecuali di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan,

moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain, yang akan ditetapkan

dengan peraturan pemerintah.

Otonomi daerah bersifat nyata artinya bahwa keleluasaan daerah untuk

menyelenggarakan kewenangan pemerintah dibidang tertentu yang secara nyata

ada dan diperlukan serta tumbuh hidup dan berkembang didaerah serta didasarkan

pada tindakan-tindakan atau kebijaksanaan yang benar-benar dapat menjamin

daerah yang bersangkutan secara nyata mampu mengurus rumah tangganya

sendiri.

Otonomi daerah yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung

jawaban sebagai Konsekuensi pemberian hak kepada daerah dalam wujud tugas

dan wewenang yang harus dipikul oleh daerah dalam mencapai tujuan pemberian

(27)

pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah.

B. Teori Desentralisasi

Desentralisasi diperkenalkan sebagai obat untuk mengatasi kegagalan dan

ketidakmampuan pemerintah pusat menjalankan fungsinya dalam aspek politik,

ekonomi, sosial dan ideologi. Desentralisasi tidak hanya dijadikan untuk

menampung masalah perbedaan budaya tetapi juga digunakan untuk

mempertinggi demokrasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan

efisiensi pemerintahan dan memfasilitasi modernisasi (sidik, 2007).

Desentralisasi bernilai karena menawarkan pilihan yang lebih luas bagi

masyarakat dalam hal pelayanan publik dan pilihan pajak ketika memutuskan

untuk tinggal di suatu daerah (Tiebout, 1956). Hal ini terjadi karena desentralisasi

menempatkan alokasi proses pengambilan keputusan semakin dekat dengan

orang-orang di daerah. Desentralisasi akan mengembangkan tanggung jawab

pemerintah daerah terhadap masyarakat di daerahnya karena pemerintah daerah

lebih mengetahui masalah dan kebutuhan di daerah daripada pemerintah pusat.

Berdasarkan pasal 1 UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, desentralisasi diartikan sebagai

penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah

otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara

(28)

bentuk dan dimensi yang beragam, terutama menyangkut aspek fiskal, politik,

perubahan administrasi dan sistem pemerintahan dan pembangunan social dan

ekonomi. Secara umum, desentralisasi mencakup aspek-aspek politik (political

decentralization), administrative (administrative decentralization), fiskal (fiscal

decentralization), dan ekonomi (economic or market decentralization).

Desentralisasi fiskal merupakan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat ke

daerah dalam mengontrol sumber keuangan, baik dalam bentuk pengeluaran

maupun penerimaan daerah. Bentuk desentralisasi fiskal dapat dikelompokkan

menjadi: (1) Pembiayaan secara mandiri melalui retribusi daerah; (2) co financing,

melalui bentuk partisipasi dalam penyediaan pelayanan dan infrastruktur publik;

(3) meningkatkan penerimaan daerah melalui pajak daerah; (4) transfer dana dari

pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk tujuan umum atau tujuan yang lebih

spesifik; (5) otorisasi pinjaman daerah dengan adanya jaminan peminjaman.

1. Desentralisasi Fiskal di Indonesia

Desentralisasi fiskal merupakan komponen utama dari desentralisasi. Apabila

pemerintah daerah melaksanakan fungsinya secara efektif dan mendapat

kebebasan dalam pengambilan keputusan pengeluaran di sektor publik, maka

mereka harus mendapat dukungan sumber-sumber keuangan yang memadai baik

yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak dan Bukan

Pajak, pinjaman, maupun subsidi atau bantuan dari pemerintah pusat (sidik,2002).

Tujuan utama implementasi desentralisasi fiskal di Indonesia adalah:

(29)

daya

3. Mempertinggi akuntabilitas, meningkatkan transparansi, memperluas

partisipasi, dan melanjutkan proses demokrasi

4. Mengurangi kesenjangan fiskal dan menjamin pelayanan dasar umum

5. Memperbaiki kesejahteraan sosial

6. Mendukung stabilitas ekonomi makro.

2. Konsep Kesenjangan Fiskal

Struktur dan jenis belanja daerah, aktifitas yang membutuhkan sumber daya, serta

pemicu biaya perlu dipertimbangkan dalam menentukan kebutuhan daerah, sebab

setiap daerah membutuhkan dana untuk membiayai hal-hal sebagai berikut:

A. Penyelenggaraan pemerintahan khususnya belanja administrasi umum.

Biaya untuk keperluan tersebut mencakup keseluruhan biaya yang diperlukan

agar organisasi pemerintah daerah dapat berjalan secara efektif dan efisien

dalam memberikan pelayanan kepada publik. Komponen biaya ini terdiri:

a. Belanja pegawai, yakni biaya yang dikeluarkan berupa uang tunai

yang dibayarkan kepada pegawai daerah otonom. Belanja pegawai

ini terdiri dari gaji dan tunjangan lainnya,tunjangan beras,uang

lembur,upah pegawai harian tetap,biaya pengobatan dan perawatan

pegawai,dan belanja pegawai lain-lain.

b. Belanja Barang/Jasa, yakni semua pengeluaran yang dilakukan

untuk ongkos kantor, pembelian inventaris kantor, biaya

(30)

dapur rumah sakit, pembelian obat-obatan, pembelian bahan

laboratorium, pembelian bahan percontohan, dan lain-lain.

c. Belanja Pemeliharaan mencangkup semua pengeluaran yang

dilakukan dalam ragka pemeliharaan gedung kantor, pemeliharaan

rumah dinas, asrama, mess, dan sebagainya. Pemeliharaan

kendaraan dinas kepala daerah, pemeliharaan kendaraan dinas

lainnya, pemeliharaan inventaris kantor, dan lain-lain.

d. Belanja Perjalanan Dinas, yakni biaya perjalanan dinas, biaya

perjalanan dinas tetap, biaya perjalanan dinas pindah, biaya

pemulangan pegawai yang dipesiunkan, biaya perjalanan dinas

lainnya.

Besar kecilnya biaya penyelenggaraan pemerintahan dan atau

belanja administrasi umum tidak dapat dikaitkan dengan jumlah

pegawai karena akan mendorong pemerintah daerah untuk

berlomba mengangkat atau menambah jumlah pegawai tanpa

melakukan analisis kebutuhan. Agar ukuran dan aktivitas

organisasi pemerintah daerah tidak membengkak serta untuk

mendorong efisiensi, setiap daerah perlu didorong untuk

merampingkan organisasi sesuai dengan standar dan atau

kebutuhan pelayanan pada masyarakat.

B. Biaya Pemeliharaan Fasilitas Publik. Biaya ini mencangkup keseluruhan

biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas operasi untuk menjaga

(31)

belanja barang dan jasa, belanja pemeliharaan, belanja perjalanan dinas.

Berbeda dengan biaya sebelumnya, biaya ini tidak terkait dengan jumlah

pegawai maupun ukuran organisasi. Biaya ini jugs diidentifikasi tidak terkait

secara nyata dengan luas wilayah, karena belum tentu daerah yang mempunyai

wilayah yang cukup luas juga menyediakan fasilitas yang banyak. Standar

fasilitas publik umumnya memang ditentukan berdasarkan fasilitas yang

banyak, tetapi secara riil standar tersebut tidak pernah dipenuhi.

Belanja pemeliharaan mempunyai hubungan langsung dengan volume

aktivitas pemeliharaan yang dipicu oleh volume dan jumlah aktiva atau

kekayaan tetap (fasilitas publik) berwujud yang dipunyai oleh daerah, antara

lain: jalan, jembatan, saluran irigasi atau pengairan, luas lahan milik daerah

(yang memerlukan pemeliharaan), jumlah dan kapasitas kesehatan, jumlah dan

kapasitas pendidikan.

C. Belanja Pembangunan merupakan pengeluaran-pengeluaran yang bukan

saja ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah, tetapi juga

perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Secara ringkas, pengeluaran

pembangunan mencangkup pengeluaran-pengeluaran untuk:

e. Sarana dan prasarana ekonomi, seperti pengeluaran untuk

pembangunan jalan raya, pelabuhan, kapasitas listrik, energi dan

lain-lain.

f. Peningkatan sumberdaya manusia: pendidikan, kesehatan dan

(32)

pengembangan kehidupan beragama.

h. Peningkatan kapasitas pemerintah: anggaran pengembangan

aparatur pemerintah.

Secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi: belanja modal aparatur dan

belanja modal publik. Dalam terminology ekonomi publik besarnya belanja

pembangunan mengindikasikan besarnya investasi pemerintah.

C. Upaya Fiskal (Fiscal Effort)

Definisi upaya fiskal (fiscal effort) adalah suatu usaha yang dilakukan dalam

menggali potensi fiskal untuk meningkatkan pendapatan melalui berbagai

kebijakan fiskal.

Potensi fiskal merupakan kemampuan daerah dalam menghimpun dana melalui

sumber-sumber yang sah. Potensi fiskal daerah tercermin dari Pendapatan Asli

Daerah (PAD) yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, laba BUMD, dan

lain-lain.

Definisi kebijakan Fiskal (Fiscal Policy) adalah suatu kebijakan ekonomi dalam

rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan

mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal lebih

menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah.

Daerah berkewajiban mensukseskan pembangunan daerah dan harus mampu

mengandalkan pendapatan daerahnya terutama yang berasal dari PAD sehingga

(33)

membantu dana yang diperoleh dari pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan

anggaran pendapatan daerah.

Instrument kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang

berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas mengubah tarif pajak yang

berlaku akan berpengaruh terhadap ekonomi, misalnya jika pajak diturunkan

maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat

meningkatkan jumlah output, dan begitu pun sebaliknya.

Upaya menghimpun PAD harus diimbangi dengan upaya peningkatan kualitas

pelayanan kepada masyarakat. Upaya peningkatan pendapatan daerah sebisa

mungkin dilakukan tanpa meningkatkan tarif, melainkan upaya intensifikasi dan

ekstensifikasi sumber pendapatan daerah.

Usaha yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam upaya peningkatan PAD ini

diharapkan tidak akan menimbulkan masalah-masalah baru, contoh: perda yang

bermasalah. Peraturan daerah yang dinilai bermasalah kebanyakan berlandaskan

pada upaya menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Cara menaikkan

pendapatan dengan cepat melalui diterbitkannya retribusi daerah pada jangka

panjang malah akan menurunkan pendapatan tersebut.

D. Keuangan Daerah

Sesuai dengan ketentuan pasal 101 hingga pasal 104 UU No. 33 Tahun 2004

(34)

yang berhubungan erat dengan pengelolaan keuangan daerah.

Keuangan daerah adalah kemampuan pemerintah daerah untuk mengelola mulai

dari merencanakan, melaksanakan, mengawasi, mengendalikan, dan mengevaluasi

berbagai sumber keuangan sesuai dengan kewenangannya dalam rangka

pelaksanaan desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan yang

diwujudkan dalam bentuk APBD (Supriatna, 1996 : 174) (dalam Ganie, 2004).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005, pengertian Keuangan

Daerah adalah semua hak dan kewajiban Daerah dalam rangka penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala

bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.

Terdapat beberapa istilah yang perlu dijelaskan dalam pengertian keuangan daerah

diatas, istilah tersebut adalah :

1. Hak daerah adalah hak untuk memungut pajak Daerah dan retribusi daerah

serta melakukan pinjaman. Berbagai pajak daerah dan retribusi daerah

selanjutnya akan menjadi bagian dari pendapatan daerah dalam rangka

untuk membiayai belanja daerah.

2. Kewajiban daerah adalah kewajiban daerah untuk menyelenggarakan

urusan Pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga.

3. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan Pemerintahan oleh

pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat Daerah (DPRD) menurut

asas otonomi dan tugas pembantuan denganprinsip otonomi seluas-luasnya

(35)

Indonesia Tahun 1945.

Selanjutnya , melalui Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2005 tentang Sistem

Informasi Keuangan Daerah baik pusat maupun daerah dalam rangka menunjang

perumusan kebijakan fiskal secara nasional serta meningkatkan transparansi

akuntabilitas dalam pelaksanaan desentralisasi.

Dasar hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terdiri

dari tiga azas, yaitu azas dentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

Gambar 1

Kerangka Hubungan Antara Pusat dan Daerah

Hubungan Fungsi Pusat – Daerah

(36)

Sumber: Pelengkap Buku Pegangan 2007. Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah.Departemen Keuangan.

Kemampuan keuangan daerah ditentukan oleh ketersediaan sumber-sumber pajak

(tax objects) dan tingkat hasil dari object tersebut. Tingkat hasil tersebut

ditentukan oleh sejauhmana sumber pajak (tax bases) responsive terhadap

kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi obyek pengeluaran seperti inflasi,

pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya akan

berkorelasi dengan tingkat pelayanan yang baik secara kuantitatif dan kualitatif

(Davey, 1989;41).

Sumber-sumber pendapatan potensial yang dimiliki suatu daerah akan

menentukan tingkat kemampuan keuangannya. Setiap daerah mempunyai potensi

pendapatan yang berbeda karena perbedaan kondisi ekonomi, sumber daya alam,

besaran wilayah, tingkat pengangguran dan jumlah penduduk.

E. Dana Perimbangan

Menurut Pasal 1 UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan

Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa dana perimbangan

adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada

daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan

desentralisasi.

Dalam Bab VI UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah diatur mengenai dana perimbangan.

(37)

perimbangan akan dijelaskan pada sub bab berikut.

A. Dana Bagi Hasil

Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah

Pusat da Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa Dana Bagi Hasil (DBH) adalah

dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah

berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka

pelaksanaan desentralisasi. Dalam pasal 11 UU No. 33 Tahun 2004 disebutkan

bahwa DBH bersumber dari pajak dan Sumber Daya Alam (SDA).

DBH ditujukan untuk merespon aspirasi daerah dalam upaya meningkatkan akses

dan kontrol terhadap sumber penerimaan penting daerah. Seperti diketahui banyak

daerah yang memiliki sumber daya alam dan sumber pajak yang potensial merasa

tidak di untungkan dengan potensi penerimaan yang mereka miliki karena pusat

lebih dominan dalam mengatur penerimaan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah

pusat mengatur kebijakan mengenai dana bagi hasil antara pusat dan daerah agar

tidak merasa dirugikan. DBH juga dapat membantu peningkatan peneriman

daerah karena masyarakat lebih peduli untuk membayar pajak jika mereka yakin

(38)

Bagi Hasil Pajak adalah pembagian seluruh atau sebagian hasil penerimaan pajak

dari suatu tingkatan pemerintahan yang lebih tinggi kepada tingkatan

pemerintahan di bawahnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan.

Bagi Hasil Pajak bersumber dari:

1. Pajak Penghasilan (PPh) wajib pajak orang pribadi dalam negeri, yaitu

pajak penghasilan terutang oleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri.

2. Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21, yaitu pajak penghasilan yang dipotong

oleh pemberi kerja atas penghasilan yang dibayarkan kepada wajib pajak

orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jabatan, jasa

dan kegiatan yang dilakukan.

3. Pajak Penghasilan (PPh) pasal 25 dan pasal 29, yaitu pajak penghasian

yang dikenakan kepada badan hukum wajib pajak atau lembaga wajib

pajak.

4. Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB).

5. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

b. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam

Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) yang meliputi DBH SDA

Pertambangan Migas, DBH SDA Pertambangan Umum, DBH SDA Kehutanan,

dan DBH SDA Perikanan masih mengalami beberapa masalah. Masalah yang

timbul dalam penyaluran DBH SDA adalah adanya keterlambatan penetapan

bagian daerah oleh menteri keuangan, antara lain disebabkan oleh adanya

(39)

akibat adanya pemekaran kabupaten atau kota baru sehingga terjadi perubahan

batasan geologis yang diperlukan pusat dalam penetapan daerah penghasil.

2. Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum merupakan transfer dari pemerintah pusat yang

penggunaannya diserahkan secara penuh kepada pemerintah daerah. Berdasarkan

Pasal 1 UU No. 25 Tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 33

Tahun 2004 dijelaskan bahwa Dana Alokasi Umum yang selanjutnya disebut

DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan

dengan tujuan pemerataan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan

daerah dalam rangka desentralisasi. DAU dialokasikan kepada setiap daerah

dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat.

Kebijakan jumlah total DAU setiap tahun dipengaruhi oleh penerimaan dalam

negeri, proporsinya berdasarkan UU No.25 Tahun 1999 ditetapkan

sekurang-kurangnya 25% dari penerimaan dalam negeri. Namun dalam masa transisi

diberlakukannya UU No. 33 Tahun 2004 proporsi DAU disepakati 25,5% dari

penerimaan dalam negeri netto, yaitu penerimaan dalam negeri dikurangi jumlah

DBH dan jumlah Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi (DAK DR). Selanjutnya

jumlah total DAU dibagikan kepada propinsi dan kabupaten/kota secara

(40)

Dalam Pasal 39 UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa Dana Alokasi

Khusus (DAK) dialokasikan kepada pemerintah daerah tertentu untuk mendanai

kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah.

Dalam pengertian DAK disebutkan bahwa daerah yang menerima DAK

merupakan daerah tertentu. Dalam penentuan daerah tertentu ini, disebutkan

sejumlah kriteria yang terpenuhi oleh suatu daerah untuk menerima alokasi DAK.

Kriteria tersebut secara garis besar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kriteria

umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Proses penentuan daerah penerima

DAK berdasarkan kriteria ditunjukkan pada Gambar 2.

(41)

Sumber: Pelengkap Buku Pegangan 2007. Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah.Departemen Keuangan.

Daerah yang layak mendapatkan alokasi DAK adalah:

1. Daerah yang memiliki kemampuan keuangan daerah dibawah rata-rata

nasional;

2. Daerah yang termasuk otonomi khusus dan daerah tertinggal;

3. Daerah yang memiliki IFW lebih besar dari satu. (Pelengkap Buku

Pegangan 2008 : III-89)

F.Transfer Pusat Ke Daerah

Dasar pemikiran transfer dari pemerintah pusat ke daerah menurut World Bank

Institute, yaitu adanya masalah kesenjangan fiskal vertikal (antara pusat dan

daerah); adanya kesenjangan fiskal horizontal (antar tingkat pemerintahan yang

sama); eksternalitas (inter-jurisdictional spillovers); melaksanakan tujuan nasional

di tingkat daerah; dan membayar program nasional yang diimplementasikan

kepada pemerintah daerah.

Adapun karakteristik sistem transfer yang baik menurut World Bank Institute,

yaitu: mempertahankan otonomi anggaran daerah; mencukupi penerimaan daerah;

dijadikan insentif yang sesuai untuk daerah; mencapai pemerataan dan keadilan;

stabilitas;transparansi dan sederhana.

Berbagai tujuan dari transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah

(42)

atau program-program pembangunan yang kepentingannya bersifat

nasional.

2. Mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan program-program

pembangunan dan pelayanan sesuai dengan kebijakan nasional.

3. Merangsang pertumbuhan ekonomi daerah serta mengurangi ketimpangan

antar daerah.

4. Mengendalikan pengeluaran daerah agar sesuai dengan kebijakan dan

standar nasional.

5. Menjaga standar penyediaan jasa-jasa dan mengusahakannya agar lebih

merata.

6. Mengembangkan daerah-daerah yang kapasitas fiskalnya rendah agar

penerimaan langsung daerah meningkat.

7. Membantu daerah untuk mengatasi keadaan darurat.

Beberapa alasan ekonomi perlunya dilakukan transfer dari pusat ke daerah:

1. Untuk mengatasi persoalan ketimpangan fiskal vertical.

2. Untuk mengatasi persoalan ketimpangan fiskal horizontal

3. Adanya kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan

minimum di setiap daerah.

4. Untuk mengatasi persolan yng timbul dari melimpahnya efek pelayanan

(43)

Secara umum terdapat dua jenis transfer pemerintah pusat ke daerah, yaitu

transfer yang bersyarat (conditional grants) dan transfer yang tidak bersyarat

(unconditional grants).

Transfer yang bersyarat merupakan transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat

ke pemerintahan daerah namun diatur pengelolaannya oleh pemerintah pusat.

Jenis transfer ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:

a. Matching Grants

Matching Grants merupakan transfer dana yang diberikan sesuai dengan

dana yang diperlukan pemerintahan daerah. Matching grants terbagi dua

macam, yaitu matching closed-ended grants dan matching opened-ended

grants. Dalam kasus matching closed-ended grants, pemerintah pusat

menentukan jumlah dana maksimum yang akan diberikan pada pemerintah

daerah.

b. Nonmatching Grants

Nonmatching Grants merupakan transfer dana dari pusat ke daerah yang

besarnya tetap dan dana tersebut harus digunakan untuk tujuan tertentu

yang telah disepakati bersama, misalnya untuk menyediakan barang dan

jasa publik.

Sedangkan transfer yang tidak bersyarat merupakan transfer yang diberikan oleh

pemerintah pusat ke pemerintah daerah dan pengelolaannya diserahkan

(44)

pendapatan antar daerah.

G. Pengertian dan Konsep Pajak Daerah

Pajak merupakan sumber penerimaan utama di tiap tingkat pemerintahan,

termasuk pemerintah daerah. Pajak daerah menjadi sumber dana utama bagi

daerah.

Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 dan UU No. 34 Tahun 2000, selain transfer

antar pemerintah, pemerintah daerah dapat meningkatkan PAD dari berbagai

sumber termasuk pajak daerah. Menurut UU No. 34 Tahun 2000 Tentang Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah disebutkan bahwa pajak daerah adalah iuran wajib

yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan

langsung yang seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan

perundangan yang berlaku yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan

pemerintahan daerah dan pembangunan daerah.

Menurut Adam Smith dalam Suparmoko (1999: 97) bahwa dalam sistem

perpajakan pada umumnya ada empat aturan :

1. Prinsip kesamaan / keadilan yaitu beban pajak harus sesuai dengan

kemampuan relative bagi setiap wajib pajak.

2. Prinsip kepastian yaitu pajak hendaknya tegas, jelas dan pasti bagi setiap

(45)

wajib pajak, sehingga wajib pajak akan dengan senang hati membayar

pajak.

4. Prinsip ekonomi yaitu pajak hendaknya menimbulkan kerugian yang

seminimal mungkin.

Adapun fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu fungsi budgeter

dan fungsi regulator. Fungsi budgeter yaitu bila pajak sebagai alat untuk mengisi

kas negara yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan

pembangunan. Sementara fungsi regulator yaitu bila pajak dipergunakan sebagai

alat untuk mencapai tujuan, misalnya: pajak minuman keras dimaksudkan agar

rakyat menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras, pajak ekspor

dimaksudkan untuk mengekang pertumbuhan ekspor komoditi tertentu dalam

rangka menghindari kelangkaan produk tersebut di dalam negeri.

Beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian

kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan pusat, propinsi dan

kabupaten/kota (Teresa Ter-Minassian, 1997), yaitu :

1 Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok

untuk tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi

tanggung jawab pemerintah pusat.

2 Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu

mobile karena akan mempermudah daerah untuk menetapkan tarif

pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat.

(46)

kena pajak atau beban pajak tinggi ke daerah yang tidak kena pajak

atau beban pajaknya rendah.

3 Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah,

seharusnya diserahkan kepada pemerintah pusat.

4 Pajak daerah seharusnya visible, artinya pajak seharusnya jelas bagi

pembayar pajak daerah, objek dan subjek pajak dan besarnya pajak

terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong

akuntabilitas daerah.

5 Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk

daerah lain, karena akan memperlemah hubungan antar pembayar

pajak dengan pelayanan yang diterima.

6 Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang

memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertical yang besar.

Hasil peneriman harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak

terlalu berfluktuasi.

7 Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah

diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi

secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data, seperti identifikasi

jumlah pembayar pajak, penegakan hukum (law-enforcement) dan

komputerisasi.

8 Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan

(47)

manfaatnya dapat dilokalisir bagi pembayar pajak lokal.

Karakteristik pajak daerah yang baik menurut UU No. 34 tahun 2000 adalah:

1 Pajak harus cocok dijadikan sebagai pajak daerah, misalnya tax base

harus jelas berada di wilayah pemerintah daerah dan berkaitan dengan

aktivitas ekonomi di daerah tersebut.

2 Harus diterima secara politik di tingkat nasional maupun daerah.

3 Tidak tumpang tindih dalam penetapan tax base agar tidak terjadi

double taxation.

4 Terdapat kebijaksanaan untuk menghindari tingkat pajak yang terlalu

tinggi yang dapat menciptakan distorsi ekonomi, melemahkan sumber

penerimaan, dan menimbulkan masalah administratif.

5 Tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi ekonomi yang akhirnya

membahayakan stabilitas fiskal.

6 Biaya yang dikeluarkan harus lebih rendah dari besarnya penerimaan

yang akan diperoleh.

7 Tidak merugikan kebijakan ekonomi nasional.

8 Tidak mengubah alokasi sumber daya antar pemerintah daerah.

9 Beban pajak harus dapat diterima,dari sisi penanggung pajak maupun

dampak pajak secara umum.

10 Tidak bersifat regresif.

11 Tidak terdiskriminasi antar bagian masyarakat.

(48)

2000, informasi mengenai jenis dan tarif pajak propinsi dan kabupaten/kota dapat

dilihat di Tabel 4.

Tabel 4. Jenis Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota

No. Jenis Pajak Tarif Pajak Keterangan I Pajak Propinsi

1.1 Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air

2.5 Pajak Penerangan Jalan 10% 2.6 Pajak Pengambilan Bahan

dibebankan pada pajak pengambilan dan pemanfatan air bawah tanah yaitu sebesar 20 %,

sedangkan pajak kendaraan bermotor dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor

sama-sama memiliki tarif sebesar 5%. Dan jika dilihat dari pajak kabupaten/ kota, tarif

tertinggi dibebankan kepada pajak hiburan yaitu sebesar 35%, yang kemudian tertinggi

kedua dibebankan pada reklame sebesar 25%. Tarif terendah dibebankan pada pajak

hotel, restauran dan pajak penerangan jalan yang masing-masing dikenakan tarif sebesar

(49)

III. METODE PENELITIAN

A. Data dan Sumber Data

Penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa bukti,

catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip yang dipublikasikan

maupun yang tidak dipublikasikan secara time series yaitu meliputi APBD dan

PDRB Kabupaten Way Kanan. Sumber data penelitian merupakan subyek dari

mana data diperoleh. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data

sekunder yang merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada

pengumpul data (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Sumber data diperoleh

dari Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Way Kanan

dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Way Kanan serta sumber-sumber lain yang

berhubungan dengan objek penelitian ini.

B. Metode Memperoleh Data

1. Penelitian Lapangan

Penelitian ini adalah dengan cara mengumpulkan data-data secara langsung dari

instansi yang berhubungan dengan objek penelitian ini, dalam hal ini adalah Dinas

Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Way Kanan dan data dari

(50)

Selain itu dari dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan cara mencatat

dokumen-dokumen atau arsip-arsip yang terdapat pada kantor atau lokasi

penelitian sebagai pelengkap data yang telah dikumpulkan.

2. Penelitian Kepustakaan

Penelitian ini adalah dengan cara mempelajari tulisan-tulisan, literatur dan buku

yang terkait dengan tulisan ini.

C. Alat Analisis

Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif artinya

dengan alat analisis ini data-data yang terkumpul akan didiskripsikan

permasalahan, tujuan dan kesimpulan dari hasil penelitian. Analisis deskriptif

yaitu menampilkan data dalam bentuk tabel dan deskripsikan dalam bentuk narasi

serta menafsirkan dan memberikan gambaran kesesuaian antara fakta dengan teori

dan peraturan yang berkaitan dengan tulisan ini atau sebagaimana adanya secara

utuh.

D. Gambaran Umum

1. Aspek Geografis dan Aspek Demografis

Kabupaten Way Kanan adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi

Lampung, dimana kabupaten ini merupakan pecahan dan pemekaran dari

Kabupaten Lampung Utara sebagai Kabupaten induknya.

Pemerintah Kabupaten Way Kanan menjadi kabupaten yang devinitif dan

(51)

dengan tanggung jawab rentang kendali menyangkut sistim pemerintahan dan

birokrasi yang sama dengan kabupaten induknya.

Secara administrative, Kabupaten Way Kanan memiliki 14 kecamatan dan 98

kelurahan dengan luas administrative yang dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 5. Luas Kabupaten Way Kanan dan Jumlah Kelurahan Per Kecamatan

No. Kecamatan Luas (Km2) Kelurahan/Desa

1 Banjit 331,6 20

Blambangan Umpu adalah ibu kota dari Kabupaten Way Kanan, sebagai pusat ibu

kota pemerintahan tersentralisasi di kota inWilayah Kota Way Kanan merupakan,

Sebagai pusat ibu kota Blambangan Umpu letak strategisnya dapat di jangkau

melalui jalur transportasi jalan raya dan dengan transportasi angkutan kereta api.

Kegiatan perekonomian masyarakatnya sebagian kecil berada pada usaha di sektor

jasa, perdagangan dan pegawai, dan sebgian besar masyarakatnya bekerja pada

(52)

Dilihat dari segi tata ruang dan tata guna tanah yang ada maka lahan yang tersedia

di Kabupaten Way Kanan dapat digunakan untuk: Pemukiman, perkantoran,

pasar, perusahaan, industri, jasa sosial, pendidikan dan olahraga serta dapat

dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

Dari luas wilayah Kabupaten Way Kanan sebesar 392.163 Ha digunakan untuk

bermacam- macam lahan, untuk perkampungan, pertanian, hutan, rawa,

perusahaan , lokasi industri, jasa lainnya dan tanah kosong (Tabel 5)

Tabel 6. Luas Penggunaan Tanah di Kabupaten Way Kanan 2010

No Penggunaan Tanah %Luas (Ha)

sebesar 47,9 persen. Sedangkan lahan yang paling sedikit digunakan adalah rawa

(53)

STIMULUS DANA PERIMBANGAN TERHADAP

KEMANDIRIAN FISKAL (PAJAK DAERAH) DI KABUPATEN

WAY KANAN 2003 - 2010

(Skripsi)

Oleh :

Nama : M. Reza Pratama Putra

NPM : 0641021044

Jurusan : Ilmu Ekonomi Dan Studi Pembangunan Konsentrasi : Ekonomi Publik

Dosen Pembimbing : Yourni Atmaja, SE., M.Si.

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS LAMPUNG

(54)
(55)
(56)
(57)

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, Anggito. 2005. Format Anggaran Terpadu Menghilangkan Tumpang Tindih. Bapekki Depkeu. September 2010

Adi, Priyo Hari. 2006. Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi Daerah,

Belanja Pembangunan dan Pendapatan Asli Daerah Studi pada Kabupaten dan Kota se JawaBali.Jurnal Kritis: Univeritas Kristen SatyaWacana Salatiga.

Adi, Priyo Hari, dan Harianto. 2007. Hubungan antara Dana Alokasi Umum, Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan Per Kapita. Jurnal Kritis: Univeritas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Adi, Priyo Hari, dan Harianto. 2009. Hubungan Antara Dana Alokasi Umum, Belanja Modal dan Kualitas Pembangunan Manusia. Jurnal Kritis: Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Badan Pusat Statistik. 2009. Kabupaten Way Kanan Dalam Angka 2010

Badan Pusat Statistik. 2009. Statistik Keuangan Daerah Provinsi Lampung. 2010

Boediono. 1999. Teori Pertumbuhan Ekonomi. BPFE. Yogyakarta

Brata, Aloysius Gunadi. 2004. Komposisi Penerimaan sektor Publik Dan

Pertumbuhan Ekonomi Regional. Lembaga Penelitian UniversitasAtma Jaya Yogyakarta. Yogyakarta

Darwanto. 2007. Pengaruh pertumbuhan PAD, Dana Alokasi Umum Terhadap Pengalokasian Anggaran Belanja Modal. Septembet 2010.

Holtz-Eakin, Doglas, Harvey S, & Schuyley Tilly. 1994. Intertempora Analysis of State An Local Government Spending: Theory and Tests. Journal of Urban Economics 35:159-174

Kuncoro, Mudrajat.2004. Otonomi dan Keuangan Daerah, Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang. Erlangga. Jakarta

(58)

Lin, Justin Yifu dan Zhiqiang Liu. 2000. Fiscal Decentralization and Economic Growth in China, Economic Development and Cultural Change Chicago. Vol 49.

Mardiasmo, 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Andi. Yogyakarta

Suparmoko D. 2002. Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta

Suparmoko, D. 2002. Ekonomi Publik Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah. Andi. Yogyakarta

Supendi. 2007. Analisis Pengaruh Efesiensi dan Efektif Dalam Pemgalokasian APBD Terhadap Kinerja Pemerintah Kabupaten Tanggamus. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung

Todaro, P Michael. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Erlangga. Jakarta

Widjaja, HAW. 2005. Penyelenggaran Otonomi di I ndonesia Dalam Rangka

Sosialisai UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta

Yani, Ahmad. 2002. Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Yustikasari, Yulia, dan Darwanto. 2007. Pengaruh Perumbuhan Ekonomi, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Pengalokasian Anggaran Belanja Modal. Jurnal Kritis: Univeritas Gadjah Mada Yogyakarta.

Peraturan pemerintah No.53 Tahun 2009. tentang Dana Alokasi Umum Provinsi, Kabupaten dan Kota

Peraturan pemerintah No.84 Tahun 2001 tentang Perubahan atas PP No.104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan

Pemendagri No.13 Tahun 2003. tentang Belanja Daerah. Jakarta

Undang-undang RI No.32 Tahun 2004. tentang Pemerintahan Daerah

Undang-undang RI No.33 Tahun 2004. tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah

(59)
(60)
(61)

“ Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi ini telah di buat

dengan sungguh-sungguh dan tidak merupakan tindak penjiplakan hasil karya orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka saya

sanggup menerima hukuman/sanksi sesuai peraturan yang berlaku “.

Bandar Lampung, 21 Februari 2013 Penulis,

(62)
(63)
(64)
(65)
(66)

Figur

Tabel 1.Perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Way Kanan 2003 – 2010
Tabel 1 Perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Way Kanan 2003 2010 . View in document p.13
Tabel 2. Realisasi PAD Kabupaten Way Kanan Tahun  2003- 2010.
Tabel 2 Realisasi PAD Kabupaten Way Kanan Tahun 2003 2010 . View in document p.14
Gambar 1 Kerangka Hubungan Antara Pusat dan Daerah
Gambar 1 Kerangka Hubungan Antara Pusat dan Daerah . View in document p.35
Gambar 2. Kriteria Penentuan Daerah Penerima DAK
Gambar 2 Kriteria Penentuan Daerah Penerima DAK . View in document p.40
Tabel 4. Jenis Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota
Tabel 4 Jenis Pajak Propinsi dan Kabupaten Kota . View in document p.48
Tabel 5. Luas Kabupaten Way Kanan dan Jumlah Kelurahan Per Kecamatan
Tabel 5 Luas Kabupaten Way Kanan dan Jumlah Kelurahan Per Kecamatan . View in document p.51
Tabel 6. Luas Penggunaan Tanah di Kabupaten Way Kanan 2010
Tabel 6 Luas Penggunaan Tanah di Kabupaten Way Kanan 2010 . View in document p.52

Referensi

Memperbarui...