Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

84  36 

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN DAYA SERAP FILTER AIR DARI KARBON

AKTIF TEMPURUNG KELAPA DENGAN MEMVARIASIKAN

SUHU PEMANASAN

TESIS

Oleh

MASTHURA

117026007/FIS

PROGRAM PASCASARJANA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENINGKATAN DAYA SERAP FILTER AIR DARI KARBON

AKTIF TEMPURUNG KELAPA DENGAN MEMVARIASIKAN

SUHU PEMANASAN

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Magister Sains dalam Program Studi

Magister Ilmu Fisika pada Program Pascasarjana

Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara

Oleh

MASTHURA

117026007/FIS

PROGRAM PASCASARJANA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PENGESAHAN TESIS

Judul Tesis : Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Nama Mahasiswa : MASTHURA Nomor Induk Mahasiswa : 117026007

Program Studi : Magister Ilmu Fisika

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara

Menyetujui Komisi Pembimbing

Dr. Nasruddin MN, M.Eng.Sc Dr. Susilawati, M.Si

Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Dekan FMIPA USU,

Dr. Nasruddin MN, M.Eng.Sc Dr. Sutarman, M.Sc

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

PENINGKATAN DAYA SERAP FILTER AIR DARI KARBON AKTIF TEMPURUNG KELAPA DENGAN MEMVARIASIKAN SUHU

PEMANASAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa saya mengakui semua karya tesis ini adalah hasil kerja saya sendiri kecuali kutipan dan ringkasan yang tiap satunya telah

dijelaskan sumber dengan benar

Medan, Juni 2013

(5)

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Masthura

NIM : 117026007

Program Studi : Magister Ilmu Fisika Jenis Karya Ilmiah : Tesis

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberi kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non-xlusive Royalty Free Right) atas tesis saya yang berjudul:

PENINGKATAN DAYA SERAP FILTER AIR DARI KARBON AKTIF TEMPURUNG KELAPA DENGAN MEMVARIASIKAN SUHU

PEMANASAN

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan hak bebas royalti Non-eksklusif ini, Universitas Sumatera Utara Berhak Menyimpan, mengalih media, memformat, mengelola dalam bentuk data-base, merawat dan mempublikasi tesis saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantukan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemegang dan atau sebagai pemilik hak cipta

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya.

Medan, Juni 2013

(6)

Telah diuji pada

Tanggal : 24 Juli 2013

PANITIA PENGUJIAN TESIS

Ketua : Dr. Nasruddin MN, M.Eng.Sc

Anggota : 1. Dr. Nasruddin MN, M.Eng.Sc

2. Dr. Susilawati, M.Si

3. Dr. Anwar Dharma Sembiring, M.S

4. Dr. Hamonangan Nainggolan, M.Sc

(7)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI

Nama Lengkap Berikut Gelar : Masthura, S.Si

Tempat Dan Tanggal Lahir : Medan, 19 Juni 1987

Alamat Rumah : Jln. Alfalah V No. 17 Glugur-Darat I

Telepon/Fax/Hp : 085275850262

E-Mail : imastmaniez@yahoo.com

thura1906@gmail.com

Instansi Tmpat Bekerja : --

Alamat Kantor : --

Telepon/Fax/Hp : --

DATA PENDIDIKAN

SD : Muhammadiyah 02 Medan Tamat : 1999

SMP : Pertiwi Medan Tamat : 2002

SMA : SMAN 7 Medan Tamat : 2005

(8)

KATA PENGANTAR

Pertama – tama penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga tesis ini

dapat diselesaikan. Tesis ini merupakan tugas akhir penulis pada Program Studi

Ilmu Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Sumatera Utara Medan.

Dengan selesainya tesis ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih

yang sebesar – besarnya kepada :

Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, M.Sc

(CTM), Sp. A(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk

mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister.

Dekan Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Bapak Dr. Sutarman, M.Sc,

atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Magister pada Program

Pascasarjana FMIPA Universitas Sumatera Utara.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Fisika, Bapak Dr. Nasruddin

MN,M.Eng,Sc, Sekretaris Program Studi Ilmu Fisika, Dr. Anwar Dharma

Sembiring, MS beserta seluruh Staf Pengajar pada Program Studi Magister Ilmu

Fisika Program Pascasarjana Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara.

Terimakasih yang tak terhingga dan penghargaan setinggi – tingginya penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Nasruddin MN,M.Eng,Sc selaku Pembimbing

Utama dan Ibu Dr. Susilawati, M.Si selaku Pembimbing Lapangan yang dengan

penuh kesabaran meluangkan waktu untuk menuntun dan membimbing penulis

hingga selesainya penelitian ini.

Terimakasih yang tak terhingga juga penulis ucapkan kepada Dewan Penguji

dan Penilai Tesis : Bapak Dr. Anwar Dharma Sembiring, MS, Bapak Dr.

Hamonangan Nainggolan, M.Sc dan Bapak Dr. Tulus Ikhsan Nasution, M.Sc

atas kesediaan mereka untuk menguji dan menilai isi tesis penulis.

Kepada Ayahanda Jonius, Kakak tercinta Amalia Rafiqa dan Adik tersayang

Nurul Huda, terimakasih atas segala dukungan, motivasi dan pengorbanan

(9)

Secara khusus penulis juga ini menyampaikan terimakasih yang tak terhingga

kepada Kekasih tersayang Abdullah, S.Si, Asisten Lab.Fisika Dasar LIDA USU

(Moraida, Melly, Zailani Ray, Zikri dan masih banyak lagi) atas segala bantuan,

dorongan, dukungan dan pengorbanan baik berupa moril dan materil.

Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak mungkin terlepas dari kesalahan yang

ada di luar kemampuan penulis. Oleh sebab itu penulis dengan senang hati akan

menerima kritis dan saran yang membangun demi kesempurnaannya.

Medan, Juli 2013

(10)

PENINGKATAN DAYA SERAP FILTER AIR DARI KARBON AKTIF TEMPURUNG KELAPA DENGAN MEMVARIASIKAN SUHU

PEMANASAN

ABSTRAK

Telah dilakukan pembuatan karbon aktif tempurung kelapa dengan aktivasi fisika (pemanasan pada suhu 500oC sampai dengan 900oC) dengan waktu penahanan selama 1 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu aktivasi optimum karbon aktif tempurung kelapa yang diaktivasi dengan pemanasan dan pengaruh suhu aktivasi karbon aktif tempurung kelapa yang optimum pada penjernihan air sumur. Hasil pengujian karbon aktif tempurung kelapa optimum untuk aktivasi fisika (kadar air 4,86%, kadar ZMM 10,84%, kadar abu 2,04% dan kadar karbon 87,12%) berdasarkan SNI No. 06-3730-1995 adalah pada suhu 700oC, sedangkan daya serap air optimum diperoleh pada suhu 900oC dengan persentase 75,20%. Karbon aktif tempurung kelapa dengan daya serap optimum yang diaktivasi secara fisika digunakan sebagai filter untuk menjernihkan air sumur. Parameter air yang diuji antara lain ; suhu, TDS, kekeruhan, warna, bau, rasa, pH, logam Fe, logam Al, bakteri E.Coli dan bakteri Coliform. Hasil pengujian kualitas air bersih dan air minum menunjukkan bahwa bakteri E.Coli dan bakteri Coliform belum memenuhi standar. Optimalisasi proses penjernihan air untuk mereduksi kontaminan - kontaminan dilakukan dengan proses elektrokoagulasi yang kemudian difilter dengan karbon aktif tempurung kelapa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua parameter air yang diuji sudah memenuhi standar air bersih (Permenkes No. 416 Tahun 1990) dan air minum (Permenkes No. 492 Tahun 1990) kecuali bakteri Coliform yang belum memenuhi standar air minum.

(11)

INCREASING WATER FILTER ABSORPTION OF ACTIVATED CARBON FROM COCONUT SHELL WITH VARY HEATING TEMPERATURE

ABSTRACT

The study has been conducted to manufacture of coconut shell activated carbon with activation (heating at a temperature of 500oC to 900oC) with 1 hour detention time. This study aims to determine the optimum temperature activation of coconut shell activated carbon and determine the effect of the activation temperature of optimum coconut shell activated carbon to purify well water. The testing results of coconut shell activated carbon for optimum physical activation (water content 4.86%, ZMM levels of 10.84%, ash content 2.04% and 87.12% carbon content) based SNI No. 06-3730-1995 is at a temperature of 700oC, while the optimum water absorption is obtained at a temperature of 900oC with presentation 75.20%. Coconut shell activated carbon with optimum absorption, which is activated in physics is used as a filter to purify well water. Water parameters were tested, among others: temperature, TDS, turbidity, color, odor, taste, pH, Fe, Al metals, bacteria E. coli and Coliform bacteria. The test results of water quality and drinking water showed that the bacteria E. coli and Coliform bacteria not yet fulfilled the the standard. Optimization of the water purification process to reduce contaminants carried by electrocoagulation process which is then filtered with activated carbon coconut shell. The test results showed that all tested parameters fulfilled freshwater standard (Minister Regulation. 416 of 1990) and drinking water (Minister Regulation. 492 of 1990) except for coliform bacteria that not yet fulfilled drinking water standard.

(12)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Batasan Masalah ... 4

1.4 Hipotesis ... 5

1.5 Tujuan Penelitian ... 5

1.6 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 7

2.1 Air ... 7

2.1.1 Pengertian Air ... 7

2.1.2 Air Tanah ... 8

2.1.3 Persyaratan Kualitas Air ... 9

2.2 Karbon Aktif ... 14

2.2.1 Karbon Aktif Tempurung Kelapa ... 17

2.2.2 Pembuatan Karbon Aktif ... 19

2.2.3 Standar Kualitas Karbon Aktif ... 23

2.2.4 Pengujian Kualitas Karbon Aktif ... 25

(13)

2.3 Filtrasi ... 27

2.4 Elektrokoagulasi ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34

3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 34

3.2 Bahan dan Peralatan ... 35

3.2.1 Bahan ... 35

3.2.2 Peralatan ... 35

3.3 Pengambilan Sampel Air ... 37

3.4 Diagram Alir Penelitian ... 38

3.5 Prosedur Penelitian ... 40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 43

4.1 Karbon Aktif Tempurung Kelapa Optimum ... 43

4.1.1 Karbonisasi ... 43

4.1.2 Aktivasi Fisika ... 43

4.1.3 Karakteristik Karbon Aktif ... 44

4.1.4 Karakteristik Mikrostruktur Karbon Aktif ... 51

4.2 Penjernihan Air Sumur ... 54

4.2.1 Penjernihan Air Menggunakan Karbon Aktif TK ... 55

4.2.2 Penjernihan Air Menggunakan EC + Karbon Aktif TK ... 57

4.2.3 Perbandingan Penjernihan Air Dengan ... 58

Filter Karbon Aktif TK dan Elektrokoagulasi BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

(14)

DAFTAR TABEL

Karakteristik Kelapa Dalam, Genjah dan

Hibrida

Komponen Penyusun Kimiawi Karbon Aktif

Tempurung Kelapa

Karakteristik Secara Umum Tempurung Kelapa

Syarat Mutu Arang Aktif Berdasarkan SII-0258-79

Standar Kualitas Arang Aktif Teknis SNI No.

06-3730-1995

Standar Kualitas Arang Aktif Menurut Departemen

Kesehatan

Data Hasil Proses Aktivasi Fisika

Data Hasil Pengujian Kadar Air Aktivasi Fisika

Data Hasil Pengujian Kadar Zat Mudah Menguap

Aktivasi Fisika

Data Hasil Pengujian Kadar Abu Aktivasi Fisika

Data Hasil Pengujian Kadar Karbon Aktivasi Fisika

Data Hasil Pengujian Daya Serap Air Aktivasi

Fisika

Hasil Pengujian Air Sumur Sebelum Diolah

Hasil Pengujian Air Sumur Setelah Difilter Dengan

Karbon Aktif Tempurung Kelapa

Hasil Pengujian Air Sumur Setelah Proses EC &

Difilter Dengan Karbon Aktif Tempurung Kelapa

(15)

DAFTAR GAMBAR

Bagan Alir Penelitian Tahap I

Bagan Alir Penelitian Tahap II

Penjernihan air dengan metode

elektrokoagulasi dan difilter karbon aktif

tempurung kelapa

Penjernihan air dengan filter karbon aktif

tempurung kelapa

Grafik Kadar Karbon Terhadap Suhu Aktivasi

Fisika

Grafik Daya Serap Air Terhadap Suhu

Aktivasi Fisika

Mikrograf SEM Permukaan Karbon Aktif TK

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran

J u d u l Halaman

A

B

C

D

E

F

G

Data Hasil Pengujian Karbon Aktif Tempurung

Kelapa

Data Hasil Pengujian Air Sumur

Data Hasil Pengujian Mikrostruktur

Gambar Alat Dan Bahan

Prosedur Pengujian Karbon Aktif Tempurung

Kelapa

Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/ Menkes

/PER/IX/1990

Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/ Menkes

/PER/IV2010

66

71

75

79

84

86

(17)

PENINGKATAN DAYA SERAP FILTER AIR DARI KARBON AKTIF TEMPURUNG KELAPA DENGAN MEMVARIASIKAN SUHU

PEMANASAN

ABSTRAK

Telah dilakukan pembuatan karbon aktif tempurung kelapa dengan aktivasi fisika (pemanasan pada suhu 500oC sampai dengan 900oC) dengan waktu penahanan selama 1 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu aktivasi optimum karbon aktif tempurung kelapa yang diaktivasi dengan pemanasan dan pengaruh suhu aktivasi karbon aktif tempurung kelapa yang optimum pada penjernihan air sumur. Hasil pengujian karbon aktif tempurung kelapa optimum untuk aktivasi fisika (kadar air 4,86%, kadar ZMM 10,84%, kadar abu 2,04% dan kadar karbon 87,12%) berdasarkan SNI No. 06-3730-1995 adalah pada suhu 700oC, sedangkan daya serap air optimum diperoleh pada suhu 900oC dengan persentase 75,20%. Karbon aktif tempurung kelapa dengan daya serap optimum yang diaktivasi secara fisika digunakan sebagai filter untuk menjernihkan air sumur. Parameter air yang diuji antara lain ; suhu, TDS, kekeruhan, warna, bau, rasa, pH, logam Fe, logam Al, bakteri E.Coli dan bakteri Coliform. Hasil pengujian kualitas air bersih dan air minum menunjukkan bahwa bakteri E.Coli dan bakteri Coliform belum memenuhi standar. Optimalisasi proses penjernihan air untuk mereduksi kontaminan - kontaminan dilakukan dengan proses elektrokoagulasi yang kemudian difilter dengan karbon aktif tempurung kelapa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua parameter air yang diuji sudah memenuhi standar air bersih (Permenkes No. 416 Tahun 1990) dan air minum (Permenkes No. 492 Tahun 1990) kecuali bakteri Coliform yang belum memenuhi standar air minum.

(18)

INCREASING WATER FILTER ABSORPTION OF ACTIVATED CARBON FROM COCONUT SHELL WITH VARY HEATING TEMPERATURE

ABSTRACT

The study has been conducted to manufacture of coconut shell activated carbon with activation (heating at a temperature of 500oC to 900oC) with 1 hour detention time. This study aims to determine the optimum temperature activation of coconut shell activated carbon and determine the effect of the activation temperature of optimum coconut shell activated carbon to purify well water. The testing results of coconut shell activated carbon for optimum physical activation (water content 4.86%, ZMM levels of 10.84%, ash content 2.04% and 87.12% carbon content) based SNI No. 06-3730-1995 is at a temperature of 700oC, while the optimum water absorption is obtained at a temperature of 900oC with presentation 75.20%. Coconut shell activated carbon with optimum absorption, which is activated in physics is used as a filter to purify well water. Water parameters were tested, among others: temperature, TDS, turbidity, color, odor, taste, pH, Fe, Al metals, bacteria E. coli and Coliform bacteria. The test results of water quality and drinking water showed that the bacteria E. coli and Coliform bacteria not yet fulfilled the the standard. Optimization of the water purification process to reduce contaminants carried by electrocoagulation process which is then filtered with activated carbon coconut shell. The test results showed that all tested parameters fulfilled freshwater standard (Minister Regulation. 416 of 1990) and drinking water (Minister Regulation. 492 of 1990) except for coliform bacteria that not yet fulfilled drinking water standard.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tingginya pencemaran air sumur saat ini sangat mempengaruhi kehidupan

manusia dan lingkungan terutama dalam penggunaan air bersih yang semakin

lama semakin menurun kuantitasnya. Air dalam sumur yang dibuat oleh warga

digunakan untuk minum, mencuci dan lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan

yang dilakukan selama lima tahun terakhir, tercemarnya air sumur disebabkan

dekatnya lokasi sumur dengan septic tank, dibuat terlalu dangkal dan adanya sampah. Sistem septic tank berpotensi mencemari air sumur, karena rembesan atau kebocoran tangki akibat buruknya perawatan atau kwalitas pembuatannya.

Pencemaran air sumur ini juga diperparah dengan adanya warga yang masih

Buang Air Besar (BAB) di parit atau di sekitar rumah. Sehingga akibat

pencemaran tersebut warna air berubah mejadi kekuningan, keruh, adanya

polutan seperti mineral yang menjadikan air berasa, bau dan banyak

mengandung bakteri yang apabila digunakan untuk mandi atau pun mencuci

peralatan memasak, sangat berisiko menimbulkan

penyakit.(http://www.analisadaily.com/news/read/

2012/10/16/81435/pengelolaan_sanitasi_medan_masih_mengkhawatirkan/)

Pencemaran air tanah ini juga dialami oleh salah satu sumur didaerah Kelurahan

Pahlawan Kecamatan Medan Perjuangan, Sumatera Utara. Walaupun kondisi

seperti tersebut air tanah tetap digunakan karena sudah menjadi salah satu

kebutuhan pokok yang dipergunakan untuk keperluan sehari – hari.

Hal inilah yang melatar belakangi penulis melakukan penelitian tentang

penjernihan air menggunakan media filter berupa karbon aktif tempurung

kelapa dengan memvariasikan suhu pemanasan. Berbagai metode dalam

pengolahan/penjernihan air, mulai dari yang berteknologi canggih dan berbiaya

tinggi (contohnya : Reverse Osmosis, penukaran ion, sterilisasi ozon dan

(20)

contohnya : metode tradisionil dengan menggunakan lapisan ijuk, pasir dan

batu kerikil, metode elektrokoagulasi/elektrolisa, dan karbon aktif). (Endang S,

2008)

Karbon aktif bisa dibuat dari tongkol jagung, ampas penggilingan tebu, ampas

pembuatan kertas, tempurung kelapa, sabut kelapa, sekam padi, serbuk gergaji, kayu

keras dan batubara. Kemampuan daya serap karbon tergantung kepada luas permukaan

partikel dan kemampuan tersebut dapat menjadi lebih tinggi jika karbon diaktivasi

dengan menggunakan bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi.

Menurut Sembiring dan Sinaga (2003), karbon aktif yang dibuat secara kimia dapat

digunakan untuk menarik logam Zn, Fe, Mn, Cl, PO4 dan SO4 yang terdapat dalam air

sumur yang terkontaminasi dan juga dapat digunakan untuk menjernihkan air limbah

industri pulp kertas.

Sedangkan karbon aktif yang dibuat secara fisika biasanya digunakan untuk

mengembangkan struktur rongga yang ada pada arang sehingga memperluas

pemukaannya dan menghilangkan konstituen yang mudah menguap serta membuang

produksi tar atau hidrokarbon – hidrokarbon pengotor pada arang.(Swiatkowski 1998 dalam Anton P 2011).

Beberapa penelitian terdahulu, diantaranya oleh Suhartana (2006), membuat

karbon aktif tempurung kelapa dengan metode pengaktifan menggunakan larutan NaOH

dan H2SO4 yang dapat digunakan untuk menjernihkan air sumur dari Desa Belor

Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobongan. Hasil yang diperoleh terjadi penurunan

pH sebesar 7,4 dari 8,5, angka kesadahan sebesar 504,15 mg/l dari 581,86 mg/l, dan

kekeruhan air (skala NTU) sebesar 3,2 NTU dari 5,2 NTU.

Christina dan Noorce (2006), telah mencoba penggunaan karbon aktif

tempurung kelapa yang dijual dipasaran sebagai media saring dapat menurunkan tingkat

kekeruhan limbah cair industri tahu dengan rata – rata penurunan menjadi sebesar 76,4 mg/l.

Endang Setyowati (2008), melakukan penelitian dengan menggunakan arang

sekam dan arang tempurung kelapa yang sudah ada, di dalam meningkatkan kualitas air

(21)

terjadi penurunan kandungan bakteri E.Coli dari 2400MPN/100ml menjadi 800

MPN/100ml.

Suparno (2012), mengkaji karbon aktif tempurung kelapa sebagai bahan

sedimentasi. Hasil yang diperoleh kecepatan sedimentasi kotoran di dalam air dengan

bantuan karbon aktif tempurung kelapa (4,41 ± 0,24) x 10-3 m/s jauh lebih besar

dibandingkan menggunakan tawas (2,62 ± 0,14) x 10-3 m/s.

Rosita Idrus, dkk (2013), menentukan kualitas karbon aktif tempurung kelapa

yang dipengaruhi suhu aktivasi terhadap penjernihan air dengan metode pengendapan.

Hasil yang diperoleh untuk karakteristik terbaik karbon aktif tempurung kelapa yang

diaktivasi pada suhu 1000oC dengan kadar air sebesar 7,7%, kadar abu 0,84% dan daya

serap terhadap iod 568,318 mg/g. Dan Pengujian karbon aktif pada suhu 1000oC untuk

penjernihan air menunjukkan hasil yang maksimal dengan parameter fisik air yaitu

warna air menjadi jernih, tidak berbau dan memenuhi pH standar air (7,0 – 7,5)

Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya tentang karbon aktif tempurung

kelapa kebanyakan diaktivasi dengan bahan kimia. Karbon aktif tempurung kelapa yang

diaktivasi dengan pemanasan pada temperatur tinggi (fisika) belum banyak

dikembangkan sehingga dalam penelitian ini penulis tertarik untuk mengembangkan

penggunaan karbon aktif dari tempurung kelapa yang diaktivasi dengan pemanasan

(fisika). Karbon aktif tempurung kelapa yang optimum tersebut selanjutnya digunakan

sebagai media filter pada penjernihan air sumur gali masyarakat di Kelurahan Pahlawan

Kecamatan Medan Perjuangan Sumatera Utara.

Proses penjernihan air dilakukan dengan metode elektrokoagulasi yang

kemudian difiltrasi dengan media filter karbon aktif tempurung kelapa tersebut. Metode

elektrokoagulasi digunakan pada proses penjernihan air karena dapat mereduksi kadar

logam yang terkandung di dalam air (Susilawati, 2010). Sedangkan karbon aktif

tempurung kelapa dipilih karena mampu menyerap kadar organik dan bakteri – bakteri yang terkadung di dalam air. Proses elektrokoagulasi dengan media filter karbon aktif

diharapkan dapat menjadi suatu alternatif dalam menghasilkan air bersih sampai dengan

(22)

dengan standar air bersih/air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum.

1.2 Perumusan Masalah

1. Bagaimana mengaktivasikan karbon dari tempurung kelapa secara

pemanasan (fisika) agar memenuhi syarat mutu arang aktif teknis (SNI No.

06-3730-1995).

2. Apakah metode aktivasi dengan pemanasan (fisika) lebih baik jika

dibandingkan dengan metode aktivasi menggunakan bahan kimia

3. Apakah air hasil penjernihan dengan metode elektrokoagulasi dengan

karbon aktif tempurung kelapa sebagai filter dapat memenuhi standar

kualitas air bersih berdasarkan peraturan Keputusan Menteri Kesehatan RI

No. 416/MENKES/PER/IX/1990 dan air minum berdasarkan peraturan

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010

1.3 Batasan Masalah

1. Sampel yang digunakan adalah sampel air sumur galian yang berasal dari

pemukiman masyarakat di Kelurahan Pahlawan Kecamatan Medan

Perjuangan, Sumatera Utara.

2. Suhu untuk proses karbonisasi 250oC selama 5 jam

3. Karbon aktif dibuat dari tempurung kelapa dengan suhu aktivasi pemanasan

divariasikan dari 500, 600, 700, 800 dan 900oC

4. Ukuran dan bentuk karbon aktif tempurung kelapa yang dibuat adalah 0,1 – 10 mm dengan bentuk butiran(granullar)

5. Elektroda yang digunakan untuk proses elektrokoagulasi adalah Aluminium.

6. Analisis parameter untuk karbon aktif dari tempurung kelapa yaitu : kadar

air, kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar karbon dan daya adsorpsi. Analisis untuk air yaitu: pH (derajat keasaman), suhu (Temperatur), warna,

kekeruhan, bau/rasa, bakteri E.Coli, Coliform dan logam Al, dan Fe di

(23)

7. Analisis kwalitas sampel air dilakukan sebelum dan sesudah proses

elektrokoagulasi dan filter.

1.4 Hipotesis

Karbon aktif yang dibuat dari bahan tempurung kelapa dengan aktivasi

pemanasan (fisika) dapat memenuhi syarat mutu arang aktif teknis (SNI) No.

06-3730-1995 dan hasilnya lebih baik dibandingkan dengan karbon aktif

tempurung kelapa dengan metode aktivasi menggunakan bahan kimia.

Penggunaan karbon aktif dari bahan tempurung kelapa yang digunakan

sebagai filter dalam penjernihan air dengan metode elektrokoagulasi dapat

mengurangi bakteri E. Coli, logam Al, dan Fe dan dapat memenuhi standar

kualitas air bersih berdasarkan peraturan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

416/MENKES/PER/IX/1990 dan air minum berdasarkan peraturan Keputusan

Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010

1.5 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui suhu aktivasi optimum karbon aktif tempurung kelapa

yang diaktifkan dengan pemanasan (fisika)

2. Untuk mengetahui apakah air hasil penjernihan dengan metode

elektrokoagulasi dan karbon aktif tempurung kelapa sebagai filter sudah

memenuhi standar kualitas air bersih berdasarkan peraturan Keputusan

Menteri Kesehatan RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 dan air minum

berdasarkan peraturan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

492/MENKES/PER/IV/2010

1.6 Manfaat Penelitian

(24)

1. Memberikan informasi bahwa air sumur gali masyarakat di Kelurahan

Pahlawan Kecamatan Medan Perjuangan, Sumetra Utara dapat diolah

menjadi air bersih dan layak untuk dikonsumsi.

2. Tersedianya filter air baru yang lebih murah, simpel dalam penggunaan dan

portable yang dihasilkan dari karbon aktif tempurung kelapa.

3. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam mencanangkan program

penyediaan dan penyehatan air bersih

4. Memberikan ilmu pengetahuan baru dan teknologi baru tentang pengolahan

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air

2.1.1 Pengertian air

Air merupakan sumber alam yang sangat penting di dunia, karena tanpa air

kehidupan tidak dapat berlangsung. Air juga banyak mendapat pencemaran.

Menurut Asmadi (2011), ada 2 jenis pencemar air yang berasal dari :

1. Sumber domestic (rumah tangga), perkampungan, kota, pasar, jalan dan

sebagainya

2. Sumber non-domestik (pabrik, industry, pertanian, peternakan, perikanan serta

sumber – sumber lainnya.

Air merupakan senyawa kimia yang terdiri dari atom H dan O. Sebuah

molekul air terdiri dari satu atom O yang berikatan kovalen dengan dua atom H.

Molekul air yang satu dengan molekul air lainnya bergabung dengan satu ikatan

hidrogen antara atom H dengan atom O dari molekul air yang lain. Adanya

ikatan hidrogen inilah yang menyebabkan air mempunyai sifat-sifat yang khas

seperti terlihat pada Tabel 2.1. (Achmad, 2004)

Tabel 2.1 Sifat Penting Dari Air

Sifat Efek dan kegunaan

Pelarut yang sangat baik

Konstanta dielektrik paling tinggi di antara cairan murni lainnya

Tegangan permukaan lebih tinggi daripada cairan lainnya

Transport zat – zat makanan dan bahan buangan yang dihasilkan proses biologi

Kelarutan dan ionisasi dari senyawa ini tinggi dalam larutannya

(26)

Transparan terhadap cahaya tampak dan sinar yang mempunyai panjang gelombang lebih besar dari ultraviolet

Bobot jenis tertinggi dalam bentuk cairan (fasa cair) pada 1oC

Panas penguapan lebih tinggi daripa yang lainnya

Kapasitas kalor lebih tinggi dibandingkan dengan cairan lain kecuali amonia

Panas laten dan peleburan lebih tinggi daripada cairan lain kecuali amonia

Tidak berwarna mengakibatkan cahaya yang dibutuhkan untuk fotosintesis mencapai kedalaman tertentu

Air beku (es) mengapung, sirkulasi vertikal menghambat stratifikasi badan air

Menentukan transfer panas dan molekul air antara atmosfer dan badan air

Stabilitas dari temperatur organisme dan wilayah geografis

Temperatur stabil pada titik beku

Sumber : Achmad, 2004

2.1.2 Air Tanah

Air tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah didalam zone jenuh

dimana tekanan hidrostatiknya sama atau lebih besar dari tekanan atmosfernya. Air

tanah terbagi atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal, terjadi

karena adanya daya proses peresapan air dari permukaan tanah. Air tanah dangkal ini

pada kedalaman 15 m2 sebagai sumur air minum, air dangkal ini ditinjau dari segi

kualitas agar baik, segi kuantitas kurang cukup dan tergantung pada musim. Air tanah

dalam, terdapat setelah lapis rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam tidak

semudah air tanah dangkal karena harus digunakan bor dan memasukkan pipa

kedalamannya sehingga dalam suatu kedalaman biasanya antara 100 – 300 m2. (Fety dan Yogi, 2011)

Air tanah terutama berasal dari air hujan yang jatuh di permukaan tanah/bumi

dan sebagian besar meresap kedalam tanah dan mengisi rongga – rongga atau pori – pori di dalam tanah. Kandungan air tanah di dalam tanah tergantung dari struktur

tanahnya, apakah tanah yang rembes air atau mempunyai lapisan air yang kedap air.

(Asmadi, 2011)

Karakteristik air tanah antara lain, (Asmadi, 2011) :

(27)

b. Umumnya jernih dan tidak mengandung padatan tersuspensi atau tumbuhan – tumbuhan mati, karena air tanah melalui proses penyaringan alami.

c. Kualitas air tanah dangkal rata – rata kurang baik dan kadang – kadang terkontaminasi air permukaan yang berada disekitarnya. Umumnya kandungan

besi dan mangan tinggi

d. Pada air tanah dalam mengandung mineral dalam jumlah yang sangat tinggi dan

tergantung pada tanah resapannya

e. Semakin dalam air tanah semakin rendah kandungan oksigen terlarutnya.

2.1.3 Persyaratan Kualitas Air

Parameter Kualitas Air yang digunakan untuk kebutuhan manusia haruslah air

yang tidak tercemar atau memenuhi persyaratan fisika, kimia, dan biologis.

1. Persyaratan Fisika (Asmadi, 2011)

Air yang berkualitas harus memenuhi persyaratan fisika sebagai berikut:

a. Jernih atau tidak keruh

Air yang keruh disebabkan oleh adanya butiran-butiran koloid dari tanah liat.

Semakin banyak kandungan koloid maka air semakin keruh. Kekeruhan pada air

mengindikasikan adanya kandungan tertentu pada air. kekeruhan ini disebabkan

oleh adanya benda tercampur atau benda koloid di dalam air. Partikel – partikel

koloid umumya berasal dari kwarsa (pasir), tanah liat, sisa tanaman, ganggang, zat organik dan lain – lain. Sehingga kekeruhan menjadi salah satu parameter kualitas air.

b. Tidak berwarna

Warna pada air terjadi karena adanya suatu proses dekomposisi pada berbagai

tingkat. Tanin, asam humus dan bahan yang berasal dari humus serta

dekomposisi pigmen yang dianggap sebagai bahan yang memberi warna yang

paling utama, kehadiran unsur besi yang berkaitan dengan zar organik akan

membuat warna semakin tinggi. Warna yang disebabkan bahan tersuspensi

(28)

Untuk mengukur tingkat warna digunakan satuan PICO. Berdasarkan Permenkes

No.416/Menkes/Per/IX/1990, tingkat warna air yang diperbolehkan untuk air

bersih adalah 50 TCU dan untuk air minum 15 TCU.

c. Tidak berasa dan berbau

Bau dan rasa biasanya terjadi bersama-sama dan biasanya disebabkan oleh

adanya bahan-bahan organik yang membusuk, tipe-tipe tertentu organisme

mikroskopik, serta persenyawaan kimia. Bahan-bahan yang menyebabkan bau

dari rasa ini berasal dari berbagai sumber. Karena pengukuran rasa dan bau itu

tergantung pada reaksi individual, maka hasil yang dilaporkan juga tidak mutlak.

Intensitas bau dilaporkan sebagai berbanding terbalik dengan rasio pencemaran

bau sampai keadaan yang nyata tidak berbau

d. Temperaturnya normal

Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak terjadi pelarutan

zat kimia yang ada pada saluran/pipa, yang dapat membahayakan kesehatan dan

menghambat pertumbuhan mikro organisme.

e. Tidak mengandung zat padatan

Air minum tidak boleh mengandung zat padat lebih dari 1000 mg/liter, sedangkan

untuk air bersih tidak lebih dari 1500 mg/liter. Jika angka tersebut melewati maka

akan mengakibatkan air tidak enak rasanya, menimbulkan rasa mual dan Toxaemia

pada wanita hamil.

2. Persyaratan Kimia (Asmadi, 2011)

Kandungan zat atau mineral yang bermanfaat dan tidak mengandung zat beracun.

Sehinga persyaratan kimia terdiri dari :

a. pH (derajat keasaman)

pH adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan basa

atau asam suatu larutan dan juga merupakan satu cara untuk menyatakan

konsentrasi ion H+ . untuk pH yang lebih kecil dari 7 bersifat basa dan pH lebih

besar dari 7 bersifat asam.

(29)

Kesadahan ada dua macam yaitu kesadahan sementara dan kesadahan

nonkarbonat (permanen). Kesadahan sementara akibat keberadaan Kalsium dan

Magnesium bikarbonat yang dihilangkan dengan memanaskan air hingga

mendidih atau menambahkan kapur dalam air. Kesadahan nonkarbonat

(permanen) disebabkan oleh sulfat dan karbonat, Chlorida dan Nitrat dari

Magnesium dan Kalsium disamping Besi dan Alumunium. Konsentrasi kalsium

dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/l dapat menyebabkan penyakit

tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari 200 mg/l dapat

menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air. Dalam jumlah yang lebih kecil

magnesium dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang, akan tetapi dalam

jumlah yang lebih besar 150 mg/l dapat menyebabkan rasa mual.

c. Besi

Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan menyebabkan rasa

logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi pada bahan yang terbuat dari

metal. Besi merupakan salah satu unsur yang merupakan hasil pelapukan batuan

induk yang banyak ditemukan diperairan umum. Logam Fe ini dalam kadar yang

tinggi akan merusak dinding usus dan menyebabkan kematian. Disamping itu Fe

yang tertimbun di dalam alveoli akan menyebabkan berkurangnya fungsi

paru-paru. Kandungan Fe yang tinggi menyebabkan air berwarna kuning kecoklatan.

Menurut Permenkes RI kandungan Fe maksimum di dalam air minum adalah

0,03 mg/L (Suparno, 2012)

d. Aluminium

logam Aluminium (Al) tidak termasuk logam berat, tetapi kandungan Al dengan

konsentrasi yang tinggi dapat bersifat toxic, beracun. Kadar Al yang tinggi di

dalam darah akan menyebabkan berbagai masalah seperti anemia, disfungsi

ginjal dan disfungsi hati. Di sisi lain bila unsur Al tertimbun dalam jumlah

banyak di otak akan menyebabkan orang kehilangan memori, mudah pusing,

gangguan keseimbangan badan, Alzheimer, dan mudah gugup. Bahkan kadar Al

yang tinggi dalam tubuh manusia dalam waktu yang lama bisa menyebabkan

(30)

diijinkan oleh Permenkes RI nomor 416 adalah 0,2 mg/L.Air yang mengandung

banyak aluminium menyebabkan rasa yang tidak enak apabila dikonsumsi

(Suparno, 2012).

e. Zat organic

Larutan zat organik yang bersifat kompleks ini dapat berupa unsur hara

makanan maupun sumber energi lainnya bagi flora dan fauna yang hidup di

perairan

f. Sulfat

Kandungan sulfat yang berlebihan dalam air dapat mengakibatkan kerak air

yang keras pada alat merebus air (panci / ketel)selain mengakibatkan bau dan

korosi pada pipa. Sering dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air

bekas.

g. Nitrat dan nitrit

Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat

dapat terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang digunakan

dan dari oksidasi NO2 oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat

yang lebih besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat

bereaksi langsung dengan hemoglobine dalam daerah membentuk

methaemoglobine yang dapat menghalang perjalanan oksigen didalam tubuh.

h. Chlorida

Dalam konsentrasi yang layak, tidak berbahaya bagi manusia. Chlorida dalam

jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfektan namun apabila berlebihan dan

berinteraksi dengan ion Na+ dapat menyebabkan rasa asin dan korosi pada pipa

air.

i. Zink atau Zn

Batas maksimal Zink yang terkandung dalam air adalah 15 mg/l. penyimpangan

terhadap standar kualitas ini menimbulkan rasa pahit, sepet, dan rasa mual.

Dalam jumlah kecil, Zink merupakan unsur yang penting untuk metabolisme,

(31)

3. Persyatan mikrobiologis (Asmadi, 2011)

Mikrobiologis dapat dibagi dalam empat group, yakni parasit, bakteri, virus dan

jamur.Persyaratan mikrobiologis untuk bakteri yang harus dipenuhi oleh air adalah

sebagai berikut:

a. Tidak mengandung bakteri patogen, yaitu: bakteri golongan E. coli

Bakteri Eschericia coli adalah bakteri yang sangat identik dengan pencemaran tinja. Escherichia coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia baik sehat maupun sakit.. Oleh karena itu, dikenal juga

dengan istilah koli tinja (Sutrisno,2006).

Air minum tidak boleh mengandung bakteri golongan coli melebihi

batas-batas yang telah ditetukan yaitu 1 coloni/100 ml air. Bakteri golongan coli

ini berasal dari usus besar dan tanah. Air yang mengandung golongan coli

dengan kadar yang melebihi batas yang telah ditentukan, dianggap telah

terkontaminasi dengan kototan manusia. Dengan demikian dalam pemeriksaan

bakteriologi, tidak langsung diperiksa apakah air itu mengandung bakteri

pathogen, tetapi diperiksa dengan indikator bakteri golongan coli

(Sutrisno,2006).

b. Tidak mengandung bakteri non patogen yaitu :Phytoplankton coliform

Bakteri Coliform adalah jenis bakteri yang umum digunakan sebagai

indikator penetuan kualitas sanitasi makanan dan air. Coliform sendiri

sebenarnya bukan penyebab dari penyakit-penyakit bawaan air, namun bakteri

jenis ini mudah untuk dikultur dan keberadaannya dapat digunakan sebagai

indikator keberadaan organisme patogen seperti bakteri lain, virus atau protozoa

yang banyak merupakan parasit yang hidup dalam sistem pencernaan manusia

serta terkandung dalam faeses. Organisme indikator digunakan karena ketika

seseorang terinfeksi oleh bakteri patogen, orang tersebut akan mengekskresi

organisme indikator jutaan kali lebih banyak dari pada organisme patogen. Hal

inilah yang menjadi alasan untuk menyimpulkan bila tingkat keberadaan

organisme indikator rendah maka organisme patogen akan jauh lebih rendah

(32)

Bakteri coliform terdapat sangat banyak pada faeses organisme berdarah

panas, dapat juga ditemukan di lingkungan perairan, di tanah dan pada vegetasi.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa apabila terdapat bakteri coliform

pada badan air maka badan air tersebut sudah tercemar oleh faeses. Bakteri

coliform dijadikan sebagai bakteri indikator karena tidak pathogen, mudah serta

cepat dikenal dalam tes laboratorium serta dapat dikuantifikasikan, tidak

berkembang biak saat bakteri pathogen tidak berkembang biak, jumlahnya

dapat dikorelasikan dengan probabilitas adanya bakteri pathogen, serta dapat

bertahan lebih lama daripada bakteri pathogen dalam lingkungan yang tidak

menguntungkan (Garneta RB dan Barti SM, 2010)

2.2 Karbon Aktif

Karbon aktif merupakan material amorf berkarbon yang memiliki luas

permukaan yang besar yang dibangun oleh struktur pori internalnya melalui proses

karbonisasi dan aktivasi. Karbon aktif memiliki luas permukaan yang besar sekitar 500

m2/gram bahkan bisa mencapai 1500 m2/gram. Karbon aktif memiliki densitas yang

berbeda - beda. Karbon aktif juga memiliki tingkat kekerasan yang berbeda – beda terhadap tekanan atau geseran tertentu. Perbedaan densitas dan kekerasan karbon aktif

sangat bergantung dari bahan baku dan cara pengaktivannya.(Meilita.T. Sembiring, ST

dan Tuti. S. Sinaga, ST,2003)

Berdasarkan bahan bakunya, jenis – jenis karbon aktif dibedakan atas : (H.Marsh, 2002)

1. Serbuk Kayu Gergaji dan Potongan-potongan Kayu

Bahan baku jenis ini masuk dalam kriteria batasan-batasan layak, dan fleksible

yaitu

a. Mudah untuk diakses dan berkesinambungan, terdapat banyak di Indonesia

sebagai negara yang kaya akan kayu hutan.

b. Bahan ini didapatkan sebagai limbah dari industri pengolahan kayu, baik

industri hulu seperti industri penggergajian kayu, industri kayu lapis maupun

industri hilir seperti industri pembuatan lantai kayu dan industri furniture

(33)

c. Kualitas baik, karena kayu yang masuk indusri hulu maupun hilir adalah

kayu yang berkualitas sehingga serbuk yang didapatpun berkualitas.

2. Limbah Kayu

Limbah kayu didapat dari hutan yang sedang direhab dan dihijaukan kembali,

pangkal pohon dan batang-batang kayu yang tersisa, hutan yang terkena proyek

dan sebagainya.

3. Kayu Tanaman Industri

Dalam jangka panjang dapat direncanakan penanaman tanaman kayu khusus

untuk bahan baku industri arang aktif. Dengan cara ini bisa fleksibel, kayu yang

ditanam disesuaikan jenisnya sesuai dengan permintaan pasar karbon aktif type

apa yang pasar inginkan. Bahan baku ini mempunyai sifat dapat di perbaharui (

renewable ).

4. Tempurung Kelapa

Bahan baku ini juga banyak tersedia hampir diseluruh wilayah Republik

Indonesia, walaupun harganya lebih mahal sedikit dari serbuk gergaji tetapi

mempunyai spesifikasi dan density yang bagus. Bahan baku ini juga masuk dalam 3 kriteria yaitu : Kualitas, biaya, dan akses untuk mendapatkan bahan

baku, semua terpenuhi.

5. Bahan baku dari Minyak bumi

Yaitu Residu petrolium, minyak bakar, minyak solar, bitumin dan lain-lain.

6. Arang Sisa dari Industri Arang Briket

Dibandingkan dengan bahan baku yang diatas sisa arang briket adalah tidak

memerlukan proses karbonisasi, tapi ketersediaan bahan baku sangat tergantung

dari industri arang briket terutama kuantitas dan harganya.

Tabel 2.2 Penggunaan Karbon Aktif

No Pemakai Kegunaan Jenis / Mesh

1 Industri obat dan makanan Menyaring penghilangan bau dan rasa

8x30, 325

2 Minuman keras dan ringan Pengilangan warna, bau pada minuman

4x8, 4x12

(34)

4 Pembersih air Penghilangan warna, bau, penghilangan resin

5 Budi daya udang Permurnian, penghilangan ammonia, netrine phenol dan logam berat

4x8, 4x12

6 Industri gula Penghilangan zat – zat warna, menyerap proses penyaringan menjadi lebih sempurna

4x8, 4x12

7 Pelarut yang digunakan kembali

Penarikan kembali berbagai pelarut

4x8, 4x12, 8x30

8 Permurnian gas Menghilangkan sulfur, gas beracun, bau busuk asap

4x8, 4x12

9 Katalisator Reaksi katalisator pengangkut vinil chloride, vinil acetat

4x8, 4x30

10 Pengolahan pupuk Permurnian penghilangan bau 8x30

Sumber: Meilita.T. Sembiring, ST dan Tuti. S. Sinaga, ST (2003)

Berdasarkan bentuknya, karbon aktif dapat dibedakan dalam empat golongan yaitu

(Mifbakhuddin, 2010) :

1. Karbon aktif serbuk (powdered activated carbon) berbentuk serbuk dengan ukuran partikel kurang dari 0,8 mm

2. Karbon aktif granular (granular activated carbon), memiliki partikel – partikel yang tidak rata dengan ukuran 0,2 – 0,5 mm

3. Karbon aktif pelet (pelleted activated carbon), berbentuk silinder dengan ukuran diameter 0,8 – 5,0 mm. Karbon aktif ini umumnya digunakan untuk aplikasi dalam fasa gas karena memiliki kandungan debu yang rendah,

tetesan bertekanan rendah tapi memiliki kekuatan mekanis yang tinggi

4. Karbon aktif terlapisi polimer (polimers coated carbon), merupakan pori – pori karbon yang dapat dilapisi dengan biopolimer yang mungkin untuk

menghasilkan suatu karbon yang berguna untuk hemoperfusi yaitu suatu

teknik treatmen di mana ke dalam darah pasien ditekan dengan senyawa

adsorben untuk mengeluarkan senyawa toksik dari dalam darah.

Berdasarkan pori – porinya, karbon aktif dapat dibedakan menjadi tiga jenis

(35)

– 25 nm) dan Macro-pores (diameter diatas 25 nm). Karbon tempurung kelapa umumnya terdiri dari micro-pores dan meso-pores dank arena distribusi pori

tersebut, karbon temurung kelapa banyak digunakan di pembersihan fase gas

dan pemurnian air.(Ario Ardianto, 2008).

2.2.1 Karbon Aktif Tempurung Kelapa

Indonesia sebagai negara tropis memiliki sumber daya alam yang sangat

berlimpah seperti buah kelapa (cocos nucifera) yang pemanfaatannya masih

sangat terbuka untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut untuk dapat

dimanfaatkan secara optimal. Hal ini juga mengingat bahwa meskipun hampir

semua bagian dari buah kelapa telah diambil manfaatnya namun banyak pula

yang terbuang menjadi sampah seperti bagian serabut dan tempurungnya. Salah

satu pemanfaatan tempurung kelapa yang paling banyak digunakan adalah

sebagai bahan bakar arang dan filter air. Arang tempurung kelapa biasanya

diolah lebih lanjut menjadi briket dan karbon aktif hingga saat ini digunakan

oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga, usaha maupun industri.

Dibandingkan dengan bahan arang, karbon aktif lebih praktis, menarik dan

bersih. Pembentukan dan pemanfaatan karbon aktif dari arang tempurung

kelapa memiliki dua keuntungan, yaitu yang pertama dapat menjernikan dan

menyerap bakteri pada air dan keuntungan yang kedua adalah bisa menjadi

salah satu penyelesaian masalah sampah lingkungan karena sumber utama

bahan bakunya merupakan sampah tempurung kelapa (Panwara, 2011 dan

Esmar Budi, 2011)

Jenis tanaman kelapa di Indonesia terdiri dari dua varietas utama, yaitu varietas

genjah (nana variety) dan varietas dalam (typical variety). Dengan semakin berkembangnya ilmu pemuliaan pohon maka dikenal golongan ketiga yaitu golongan

kelapa hibrida. Kelapa hibrida merupakan hasil persilangan antara varietas genjah dan

varietas dalam sehingga dihasilkan sifat-sifat yang baik dari kedua jenis kelapa asal,

seperti terlihat pada Tabel 2.3. Kelapa varietas dalam mempunyai batang yang tinggi

(36)

tahun lebih. Kelapa varietas genjah bentuk batangnya ramping dari pangkal sampai ke

ujung, tinggi batangnya 5 meter atau lebih dan dapat berumur 50 tahun atau lebih

(Menristek, 2005).

Tabel 2.3 Karakteristik Kelapa Dalam, Genjah dan Hibrida

Karakteristik Jenis kelapa

Dalam Genjah Hibrida

Produksi kopra pada umur tahun (ton/ha/tahun)

1,0 0,5 6,0 ~ 7,0

Produksi buah (butir/pohon/tahun) 90 140 140

Kadar minyak daging buah Tinggi Rendah Tinggi

Ketahanan terhadap penyakit Kurang Peka Kurang

Umur berbuah (tahun) 6 ~ 7 3 ~ 4 3 ~ 4

Habitus Pohon Tinggi Pendek Sedang

Sumber : Menristek, 2005

Buah kelapa terdiri dari sabut kelapa, tempurung kelapa, daging kelapa

dan air kelapa. Sabut kelapa merupakan bahan berserat dengan ketebalan sekitar

5 cm, dan merupakan bagian terluar dari buah kelapa. Tempurung kelapa

terletak di sebelah dalam sabut, ketebalannya berkisar 35 mm. Ukuran buah

kelapa dipengaruhi oleh ukuran tempurung kelapa yang sangat dipengaruhi oleh

usia dan perkembangan tumbuhan kelapa. Tempurung kelapa beratnya antara

15 – 19 % berat kelapa. (Suhartana, 2006)

Tempurung kelapa selain dapat digunakan sebagai bahan bakar langsung

maupun dalam bentuk arang, dapat juga ditingkatkan kegunaannya di dalam

industri yaitu sebagai bahan abdorbsi setelah diubah menjadi arang aktif atau

karbon aktif. Jadi yang dimaksud dengan arang aktif adalah arang yang

mempunyai kemampuan daya absorbsi lebih tinggi dari arang pada umumnya.

Perlakuan tersebut dapat dilakukan karena arang yang digunakan dalam

pembuatan arang aktif mempunyai komposisi yang tercantum dalam Tabel 2.4.

(37)

Tabel 2.4 Komponen Penyusun Kimiawi Karbon Aktif Tempurung Kelapa Komponen Persentase (%)

C 74,3

O 21,9

Si 0,2

K 1,4

S 0,5

P 1,7

Sumber : Bledzki,A.K.,dkk (2010)

Secara umum arang aktif dibuat dari arang tempurung dengan

pemanasan pada suhu 600-2000oC pada tekanan tinggi. Pada kondisi ini akan

terbentuk rekahan – rekahan (rongga) halus dengan jumlah yang sangat banyak, sehingga luas permukaan arang tersebut menjadi besar. Karakteristik secara

umum dari tempurung kelapa dapat dilihat pada Tabel 2.5.(Herling D.T, 2009).

Tabel 2.5 Karakteristik secara umum tempurung kelapa

Parameter Persentase (%)

Kadar air (moisture content) Kadar abu (ash content)

Kadar material mudah menguap (volatile matter) Karbon (fixed carbon)

7,8

0,4

18,8

80,8

Sumber:http//www.pdii.lipi.go.id

2.2.2 Pembuatan Karbon Aktif 1. Metode Tradisional

Pembuatan karbon aktif dengan metode tradisional sangat sederhana yaitu

dengan menggunakan drum atau lubang bawah tanah dengan cara pengolahan

sederhana. Bahan yang hendak dibakar dimasukkan ke dalam drum yang terbuat dari

pelat besi atau lubang yang yang telah disiapkan, kemudian dinyalakan sehingga

(38)

Pada saat pembakaran drum atau lubang ditutup sehingga hanya ventilasi yang

dibiarkan terbuka, untuk sebagai jalan keluarnya asap, ketika asap yang keluar sudah

berwarna kebiru-biruan, ventilasi ditutup dan dibiarkan selama lebih kurang 12 jam.

Setelah itu dengan hati-hati tutup drum dibuka dan dicek apakah masih ada bara

yang menyala jika masih ada tutup derum ditutup kembali, tidak dibenarkan

menggunakan air untuk mematikan bara yang sedang menyala karena dapat

menurunkan kualitas karbon yang dihasilkan (Badan Penelitian dan Pengembangan

Kehutanan, 1994).

Pembuatan karbon aktif dengan metode ini biasanya menghasilkan keaktifan

yang rendah bahkan dibawah keaktifan menurut standar industri Indonesia (SII), hal ini

disebabkan proses pembentukan karbon aktif tidak memungkinkan terbentuknya

pori-pori dengan baik.

Pada saat pembakaran, residu-residu yang ada pada bahan dasar berupa

senyawa-senyawa hidrokarbon ikut terbakar tetapi masih ada tersisa dan tetap masih

melekat pada karbon tersebut, residu yang terbakar ini menutupi pori-pori karbon

sehingga menurunkan kualitasnya (Sudrajat, 1993).

2. Metode yang diperbaharui

Metode pembuatan karbon aktif yang diperbaharui dilakukan dengan dua tahap

yaitu tahap pengarangan (karbonisasi) dan tahap pengaktifan (aktivasi), dalam metode

ini bahan baku dipanaskan dengan jumlah udara seminimal mungkin agar rendemen

yang dihasilkan cukup besar. Hasil yang diperoleh dengan metode ini berupa karbon

yang memberi keaktifan dan rendemen yang cukup besar.

Sembiring (2003) mengemukakan secara umum dan sederhana proses

pembuatan arang aktif terdiri dari tiga tahap, yaitu :

1. Dehidrasi yaitu proses penghilangan air dimana bahan baku dipanaskan sampai

temperatur 170 ºC.

2. Karbonisasi yaitu pemecahan bahan-bahan organik menjadi karbon. Suhu di atas

170 ºC akan menghasilkan CO, CO2. Hasil dari proses karbonisasi biasanya masih

(39)

yang terperangkap dalam karbon sehingga menutupi karbon aktif dan membatasi

daya adsorpsi dari karbon tersebut karena masih berikatan dengan volatile dan tar

3. Aktivasi yaitu dekomposisi ter dan perluasan pori-pori. Dapat dilakukan dengan uap atau CO dan asam asetat. Pada suhu 275 ºC, dekomposisi menghasilkan ter, methanol dan hasil samping lainnya. Pembentukan karbon terjadi pada temperatur

400-600 ºC sebagai aktivator.

Proses aktifasi merupakan hal yang penting diperhatikan disamping bahan baku

yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap arang

yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan

hidrokarbon atau mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami

perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar

dan berpengaruh terhadap daya adsorbsi.

Singgih H dan Ratnawati (2010) mengemukakan metode aktivasi yang umum

digunakan dalam pembuatan arang aktif adalah :

1. Aktivasi kimia

Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik

dengan pemakaian bahan kimia. Aktifator yang digunakan adalah

bahan-bahan kimia seperti hidroksida logam alkali, garam-garam karbonat, klorida,

sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya ZnCl

2, asam-asam anorganik

seperti H

2SO4 dan H3PO4.

2. Aktivasi Fisika

Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik

dengan bantuan panas, uap dan CO

2. Umumnya arang dipanaskan di dalam tanur

pada temperatur 800-900 ºC. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah

merupakan reaksi isotherm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan

pemanasan dengan uap atau CO

2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi

(40)

Sifat karbon aktif yang paling penting adalah daya serap. Dalam hal ini, ada

beberapa faktor yang mempengaruhi daya adsorpsi (Sembiring, 2003)., yaitu : 1. Sifat Adsorben

Karbon aktif yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sebagian

besar terdiri dari unsur karbon bebas dan masing-masing berkaitan secara kovalen.

Dengan demikian, permukaan arang aktif bersifat non polar. Selain komposisi dan

polaritas, struktur pori juga merupakan faktor yang penting diperhatikan. Struktur

pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori arang aktif

mengakibatkan semakin besar luas permukaannya. Dengan demikian kecepatan

adsorbsi bertambah. Untuk meningkatkan kecepatan adsorbsi, dianjurkan agar

menggunakan arang aktif yang telah dihaluskan. Jumlah atau dosis arang aktif yang

digunakan juga harus diperhatikan.

2. Sifat Serapan

Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh arang aktif, tetapi kemampuannya untuk

mengadsorpsi berbeda untuk masing-masing senyawa. Adsorbsi akan bertambah

besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari struktur yang sama,

seperti deret homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus

fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan.

3. Temperatur

Dalam pemakaian arang aktif dianjurkan untuk mengamati temperatur pada saat

berlangsungnya proses. Faktor yang mempengaruhi temperatur proses adsorbsi

adalah viskositas dan stabilitas termal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak

mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna maupun

dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatile, adsorbsi dilakukan pada temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperatur

yang lebih rendah.

4. pH (Derajat Keasaman)

Untuk asam-asam organik, adsorbsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu

dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam

(41)

organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorbsi akan berkurang

sebagai akibat terbentuknya garam.

5. Waktu Kontak

Bila arang aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai

kesetimbangan. Pengadukan juga mempengaruhi waktu singgung. Pengadukan

dimaksudkan untuk memberikan kesempatan pada partikel arang aktif untuk

bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang mempunyai viskositas

tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama (Sembiring, 2003).

Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan

molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zat-zat organik dan logam dalam

air akan turun apabila kontaknya cukup. Waktu kontak biasanya sekitar 10-15 menit.

2.2.3 Standar Kualitas Karbon Aktif

Kualitas karbon aktif tergantung jenis bahan baku, teknologi pengolahan, cara

pengerjaan dan ketepatan penggunaannya. Oleh karena itu, bagi produsen karbon aktif

yang perlu diketahui adalah kualitas apa yang ingin dihasilkan dengan menggunakan

bahan baku yang ada, serta untuk apa tujuan karbon aktif tersebut.

Berbagai versi standar kualitas karbon aktif telah dibuat oleh negara maju

seperti Amerika, Inggris, Korea, Jepang dan Jerman. Indonesia telah membuat

pula standar mutu karbon aktif menurut Standar Industri Indonesia yaitu SII

0258 – 79 yang kemudian direvisi menjadi SNI 06 - 3730 – 1995. Meskipun

demikian, beberapa industri atau instansi membuat persyaratan sendiri dalam

menerima kualitas karbon aktif yang ditawarkan, misalnya persyaratan kualitas

menurut Kementerian Kesehatan, persyaratan kualitas bagi pengolahan minyak

bekas, untuk industri gula, monosodium glutamat, dan lain-lain. Berikut ini

(42)

Tabel 2.6 Syarat Mutu Arang Aktif Berdasarkan SII – 0258 – 79

Uraian Persyaratan Kualitas

Bagian yang hilang pada pemanasan 950oC Air

Abu

Bagian yang tidak diperarang Daya serap terhadap larutan I2

Maks. 15% Maks. 10% Maks. 2,5% Tidak ternyata

Min. 20%

Sumber :Standar Kualitas Arang Aktif Menurut SII. 0258-79. Departemen Perindustrian. Jakarta, 1979.

Tabel 2.7 Standar Kualitas Arang Aktif Teknis SNI no. 06 -3730 -1995

No Uraian Satuan Pesyaratan

Bagian yang hilang pada pemanasan 950o C Air Daya serap terhadap biru metilen Berat jenis curah

Sumber : Arang Aktif Teknis SNI 06-3730-1995. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta, 1995

Tabel 2.8 Standar Kualitas Arang Aktif Menurut Departemen Kesehatan

Uraian Syarat Kualitas

Struktur halus, bebas dari butiran hitam, tidak berbau dan tidak berasa

Maks. 10% 5.0 – 8.0

Tidak larut dalam air atau alkohol 95% Maks. 50 ppm

(43)

Sumber : Mutu arang aktif kulit kayu A. mangium Wild pada dua cara pengeringan. Farmakope Indonesia. Edisi kedua. ISBN:1749406705. Departemen Kesehatan

RI. Jakarta, 1972

2.2.4 Pengujian Kualitas Karbon Aktif

Pengujian kualitas karbon aktif dilakukan terhadap kadar air dan

beberapa faktor yang dapat dijalankan sebagai penentu mutu karbon aktif yang

dihasilkan. Metode pengujian didasarkan pada standard SNI No. 06-3730-1995

pengujiannya meliputi :

1. Kadar air

Kadar air tempurung kelapa sangat menentukan kualitas karbon yang

dihasilkan. Karbon aktif dengan nilai kadar air rendah akan memiliki pori – pori

yang kecil, sehingga karbon yang dihasilkan dari jenis tempurung kelapa

memiliki kadar air rendah. Penetapan kadar air karbon aktif bertujuan untuk

mengetahui jumlah kadar air yang teruapkan pada karbon aktif yang dihasilkan

setelah melalui proses aktivasi. Prosedur perhitungan kadar air karbon aktif

tempurung kelapa menggunakan standar SNI No. 06-3730-1995 dengan rumus :

...(2.1)

dimana :

a = Sampel awal ( gram )

b = Sampel hasil penyusutan ( gram )

2. Kadar zat mudah menguap

Besarnya suhu yang digunakan dalam proses pembuatan karbon aktif akan

mempengaruhi kadar zat mudah menguap. Semakin tinggi suhu yang digunakan

mengakibatkan semakin rendahnya kadar zat mudah menguap pada karbon

yang dihasilkan. Penetapan kadar zat mudah menguap bertujuan mengetahui

jumlah zat atau senyawa yang belum menguap pada proses karbonisasi dan

aktivasi. Perhitungan kadar zat mudah menguap menggunakan standar SNI No.

06-3730-1995 dengan rumus :

(44)

dimana :

a = Massa sampel sebelum pemanasan (gram)

b = Massa sampel setelah pemanasan (gram)

3. Kadar abu

Abu adalah bahan yang tersisa apabila karbon dipanaskan hingga massa konstan.

Kadar abu ini sebanding dengan kandungan bahan anorganik di dalam karbon aktif.

Penetapan kadar abu bertujuan untuk mengetahui kandungan oksida logam dalam

karbon aktif. Kadar abu merupakan sisa dari pembakaran yang sudah tidak memiliki

unsur karbon lagi. Nilai kadar abu menunjukkan jumlah sisa dari akhir proses

pembakaran berupa zat – zat mineral yang tidak hilang selama proses

pembakaran.(Sudrajat R, 2002 dalam Moh Ashari Y, 2013). Perhitungan kadar abu

karbon aktif menggunakan standar SNI No. 06-3730-1995 dengan rumus :

...(2.3)

dimana :

a = Massa sampel awal (gram)

b = Massa abu total (gram)

4. Kadar karbon

Fraksi karbon dalam arang aktif adalah hasil dari proses pengarangan selain

abu, air dan zat – zat yang mudah menguap. Jenis tempurung sangat

berpengaruh pada besarnya nilai karbon dalam arang aktif, karena perbedaan

kandungan kimia dalam jenis tempurung kelapa. Penentuan kadar karbon

terikat bertujuan untuk mengetahui kandungan karbon setelah proses

karbonisasi dan aktivasi. Perhitungan kadar karbon menggunakan standar SNI

No. 06-3730-1995 dengan rumus :

...(2.4)

5. Daya serap

Persentase berat air yang mampu diserap karbon aktif di dalam air disebut daya

(45)

sampel yang ada. Pengujian daya serap ini mengacu pada ASTM C-20-00-2005.

Pengujian daya serap air (Water absorbtion) dilakukan pada masing-masing sampel pengeringan. Lama perendaman dalam air adalah selama 24 jam dalam suhu kamar.

Massa awal sebelum dan sesudah direndam diukur. Untuk mendapatan nilai

penyerapan air dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

...(2.5)

dimana :

Mb = Massa sampel dalam keadaan basah (gr)

Mk = Massa sampel dalam keadaan kering (gr)

2.2.5 Analisis SEM (Scanning Electron Microscopy)

Scanning Electron Microscopy (SEM) merupakan sejenis mikroskop yang menggunakan electron sebagai pengganti cahaya untuk melihat benda dengan resolusi

tinggi. Analisis SEM bermanfaat untuk mengetahui mikrostruktur (termasuk porositas

dan bentuk retakan) benda padat. Berkas sinar electron dihasilkan dari filament yang

dipanaskan disebut electron gun.

Sistem penyinaran dan lensa SEM sama dengan mikroskop cahaya biasa. Pada

pengamatan yang menggunakan SEM lapisan cuplikan harus bersifat konduktif agar

dapat memantulkan berkas electron dan mengalirkannya ke ground. Bila lapisan cuplikan tidak bersifat konduktif maka perlu dilapisi dengan emas. (Budi G dan Citra

DA, 2007).

2.3 Filtrasi

Filtrasi merupakan pemisahan koloid atau partikel padat dari fluida

dengan menggunakan media penyaringan atau saringan. Air yang mengandung

suatu padatan atau koloid dilewatkan pada media saring dengan ukuran

pori-pori yang lebih kecil dari ukuran suatu padatan tersebut. Hal yang paling utama

dalam filtrasi adalah mengalirkan fluida melalui media berpori. Filtrasi dapat

terjadi karena adanya gaya dorong, misalnya ; gravitasi, tekanan dan gaya

(46)

Pokok-pokok bagian yang perlu dikakukan dalam perencanaan proses

filtrasi yaitu : (Jannati, Deby dan Shona Mazia. 2009)

1. Ukuran dan kedalaman media penyaring

Media penyaring yang digunakan adalah bak filter. Bak ini merupakan

tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak tergantung debit

pengolahan (minimum menggunakan dua bak).

2. Media filter.

Media filter adalah bahan berbutir/granular yang mempunyai pori-pori. Air mengalir diantara pori-pori dan butiran maka terjadilah proses penyaringan disini.

Media dapat tersusun oleh satu macam bahan (single media), dua macam (dual media), atau banyak media (multi media).

Susunan media berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi :

a. Seragam (uniform)

b. Gradasi (stratified)

c. Tercampur (mixed)

3. Under Drain

Underdain merupakan bahan sistem pengaliran air yang telah melewati proses

filtrasi yang terletak di bawah media filter. Fungsi under drain :

a. Untuk mengalirkan air hasil penyaringan (air bersih) dan dialirkan ke clear

well.

b. Untuk mendistribusikan air keperluan back wash merata keseluruh media

pasir.

Filter Karbon

Filter karbon merupakan metode karbon aktif dengan media granular

(Granular Activated Carbon) merupakan proses filtrasi yang berfungsi untuk

menghilangkan bahan-bahan organik, desinfeksi, serta menghilangkan bau dan

rasa yang disebabkan oleh senyawa-senyawa organik. Selain fungsi tersebut

juga digunakan untuk menyisihkan senyawa-senyawa organic dan menyisihkan

Figur

Tabel 2.1
Tabel 2 1 . View in document p.14
Gambar Alat Dan Bahan
Gambar Alat Dan Bahan . View in document p.16
Tabel 2.2 Penggunaan Karbon Aktif
Tabel 2 2 Penggunaan Karbon Aktif . View in document p.33
Tabel 2.3 Karakteristik Kelapa Dalam, Genjah dan Hibrida
Tabel 2 3 Karakteristik Kelapa Dalam Genjah dan Hibrida . View in document p.36
Tabel 2.4 Komponen Penyusun Kimiawi Karbon Aktif Tempurung Kelapa
Tabel 2 4 Komponen Penyusun Kimiawi Karbon Aktif Tempurung Kelapa . View in document p.37
Tabel 2.5 Karakteristik secara umum tempurung kelapa
Tabel 2 5 Karakteristik secara umum tempurung kelapa . View in document p.37
Tabel 2.6 Syarat Mutu Arang Aktif Berdasarkan SII – 0258 – 79
Tabel 2 6 Syarat Mutu Arang Aktif Berdasarkan SII 0258 79 . View in document p.42
Tabel 2.8  Standar Kualitas Arang Aktif Menurut Departemen Kesehatan
Tabel 2 8 Standar Kualitas Arang Aktif Menurut Departemen Kesehatan . View in document p.42
Tabel 2.7 Standar Kualitas Arang Aktif Teknis SNI no. 06 -3730 -1995
Tabel 2 7 Standar Kualitas Arang Aktif Teknis SNI no 06 3730 1995 . View in document p.42
Gambar 2.1 Mekanisme dalam elektrokoagulasi (Holt, 2006 dalam Susilawati
Gambar 2 1 Mekanisme dalam elektrokoagulasi Holt 2006 dalam Susilawati . View in document p.51
Gambar 3.1 Bagan Alir Penelitian  Tahap I
Gambar 3 1 Bagan Alir Penelitian Tahap I . View in document p.56
Gambar 3.2  Bagan Alir Penelitian Tahap II
Gambar 3 2 Bagan Alir Penelitian Tahap II . View in document p.57
Gambar 3.3 Penjernihan air dengan metode elektrokoagulasi dan  difilter
Gambar 3 3 Penjernihan air dengan metode elektrokoagulasi dan difilter . View in document p.59
Gambar 3.4 Penjernihan air dengan filter karbon aktif tempurung kelapa
Gambar 3 4 Penjernihan air dengan filter karbon aktif tempurung kelapa . View in document p.60
Tabel  4.1 Data Hasil Proses Aktivasi Fisika
Tabel 4 1 Data Hasil Proses Aktivasi Fisika . View in document p.62
Gambar 4.1 Grafik kadar air terhadap suhu aktivasi fisika
Gambar 4 1 Grafik kadar air terhadap suhu aktivasi fisika . View in document p.63
Tabel 4.2 Data Hasil Pengujian Kadar Air Aktivasi Fisika
Tabel 4 2 Data Hasil Pengujian Kadar Air Aktivasi Fisika . View in document p.63
Tabel 4.3 Data Hasil Pengujian Kadar Zat Mudah Menguap Aktivasi Fisika
Tabel 4 3 Data Hasil Pengujian Kadar Zat Mudah Menguap Aktivasi Fisika . View in document p.64
Gambar 4.2 Grafik kadar zat mudah menguap terhadap suhu aktivasi fisika
Gambar 4 2 Grafik kadar zat mudah menguap terhadap suhu aktivasi fisika . View in document p.65
Tabel 4.4Data Hasil Pengujian Kadar Abu Aktivasi Fisika
Tabel 4 4Data Hasil Pengujian Kadar Abu Aktivasi Fisika . View in document p.66
grafik seperti pada Gambar 4.3.
Gambar 4 3 . View in document p.66
Tabel 4.5 Data Hasil Pengujian Kadar Karbon Aktivasi Fisika
Tabel 4 5 Data Hasil Pengujian Kadar Karbon Aktivasi Fisika . View in document p.67
Gambar 4.4 Grafik kadar karbon terhadap suhu aktivasi fisika
Gambar 4 4 Grafik kadar karbon terhadap suhu aktivasi fisika . View in document p.68
Gambar 4.5 Grafik daya serap terhadap suhu aktivasi fisika
Gambar 4 5 Grafik daya serap terhadap suhu aktivasi fisika . View in document p.69
Tabel 4.6 Data Hasil Pengujian Daya Serap Air Aktivasi Fisika
Tabel 4 6 Data Hasil Pengujian Daya Serap Air Aktivasi Fisika . View in document p.69
Gambar 4.6.
Gambar 4 6 . View in document p.70
Gambar 4.6 Mikrograf  SEM Permukaan Karbon Aktif Tempurung Kelapa Aktivasi Fisika
Gambar 4 6 Mikrograf SEM Permukaan Karbon Aktif Tempurung Kelapa Aktivasi Fisika . View in document p.71
Tabel 4.7 Hasil Pengujian Air Sumur Sebelum Diolah
Tabel 4 7 Hasil Pengujian Air Sumur Sebelum Diolah . View in document p.73
Tabel 4.8 (hasil pengujian air sumur setelah dijernihkan dengan karbon aktif
Tabel 4 8 hasil pengujian air sumur setelah dijernihkan dengan karbon aktif . View in document p.75
Tabel 4.9  Hasil Pengujian Air Sumur Setelah Proses EC & Difilter Dengan Karbon
Tabel 4 9 Hasil Pengujian Air Sumur Setelah Proses EC Difilter Dengan Karbon . View in document p.76

Referensi

Memperbarui...