• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Pendorong Agroindustri Tepung dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Kebijakan Pendorong Agroindustri Tepung dalam"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

A R T I K E L

Kebijakan Pendorong Agroindustri Tepung dalam

Prespektif Ketahanan Pangan

Oleh:

Tajuddin Bantacut

RINGKASAN

Peringatan Malthus bahwa kebutuhan pangan bertambah secara berlipat, sementara

produksi naik bertahap masih relevan dengan situasi sekarang. Relevansi ini terutama

tampak pada bahan pangan pokok, khususnya Indonesia yang hampir sepenuhnya

bergantung pada satu komoditi beras. Kesalahan filosofis dan praktis terjadi karena bahan

pokok diartikan sebagai beras, bahkan banyak masyarakat yang sebelumnya tidak

mongkonsumsinyadokonversi menjadi konsumen tetap.

Dalam dunia pangan, bahan pokok diartikan sebagaisumber kalori yang kandungan

utamanya karbohidrat. Indonesia yang memiliki lahan, iklim dan kergaman hayati yang

tinggi mempunyai tanaman penghasil karbohidrat yang banyak seperti singkong, ubi jalar,

kentang, uwi, gadung. talesdan sukun. Persoalannya adalah bahan pangan ini selain sulit

ditangani dalam jumlah besarjuga belum dikonsumsi sebagai pangan pokok secara luas.

Pengolahan bahan tersebut menjadi tepung dapat memudahkan penanganan dan penyiapan.

Oleh karena itu, upaya untuk mengembangkan industri tepung sebagai langkah awal

mengurangi ketergantungan pada beras perlu didukung dengan kebijakan yang memadai.

Agroindustri tepung perdesaan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus

memperkuat ketahanan pangan. Diversifikasi bahan pangan pokok menjadikan sektor

pertanian sangat dinamis mengikuti perkembangan pasar.

I. PENDAHULUAN

Teori Thomas Malthus (1798)

mempe-ringatkan bahwa kebutuhan pangan meningkat secara eksponensial, sebaliknya kemampuan tambahan produksi mengikuti aritmatika. Kebutuhan bertambah dengan berlipat, sedangkan produksi naik dengan bertahap. Para ilmuan pertanian "berhasil" mematahkan aksioma Malthus dengan ditemukannya sintesa pupuk urea yang mampu melipatgandakan produksi. Faktanya

bahwa sering sekali terjadi kekurangan pangan

di berbagai tempat (negara) di belahan dunia ini. Ilmuan berkelit lagi bahwa penyebabnya adalah persoalan distribusi bukan total produksi

32 PANGAN

yang lebih kecil dari total konsumsi. Muncul antara lain teori tapak ekologis (ecological footprint) yang menjelaskan kemampuan produksi dan kebutuhan tersebar di tempat

yang berbeda. Persoalan ini dapat direduksi

dengan melihat potensi pemenuhan kebutuhan dengan laju permintaan yang cepat dari sudut pandang kebutuhan kalori.

Indonesia memiliki jumlah penduduk yang

besar (lebih dari 215 juta jiwa) sehingga permasalahan pangan pokok sangat serius. Kebutuhan pangan pokok ini terutama dipenuhi dengan beras bahkan penduduk yang sebelumnya tidak mengkonsumsinya "dikonversi" menjadi konsumen tetap. Sumber

(2)

karbohidrat lain yang banyak dikonsumsi

adalah terigu, bukan produksi lokal, juga

membawa persoalan ekonomi dan menguras devisa negara. Ketergantungan pada komoditas ini membawa banyak persoalan, mulai dari pengadaan hingga distribusi yang mempengaruhi ketahanan pangan nasional

secara keseluruhan.

Sebagai negara agraris yang subur dan

luas, Indonesia kaya sumber karbohidarat dan

nutrisi yang dapat mencukupi kebutuhan

pangan. Diversifikasi pangan adalah pilihan

yang tepat untuk lepas dari ketergantungan terhadap beras dan terigu sehingga persoalan ekonomi, sosial bahkan politik pangan dapat dikurangi atau dihilangkan. Keragaman pangan juga membantu pemanfaatan sumberdaya lokal

secara optimal yang berarti menumbuhkan

kegiatan ekonomi yang menguntungkan.

Dampak positif yang dapat dihasilkan adalah di satu sisi kebutuhan pangan dapat dipenuhi

secara baik dan aman, di sisi lain dapat menggerakkan perekonomian lokal dan nasional.

Secara tradisi, penduduk Indonesia sudah mengkonsumsi bahan pangan pokok non-beras

dalam kurun waktu yang lama. Orang Madura telah terbiasa dengan nasi jagung. Orang Maluku mengkonsumsi sagu dan orang Irian

makan sagu dan ubi jalar. Beberapa daerah di

Jawa, penduduknya telah lama memakan

produk asal singkong (dengan berbagai macam

bentuk olahan) sebagai pangan sumber kalori.

Program "berasnisasi" menyebabkan sebagian

besar penduduk tersebut beralih ke beras.

Banyak pandangan berkembang bahwa

mengkonsumsi beras lebih baik dan menempati

status sosial yang lebih tinggi. Keragaman bahan makanan ini perlu digalakkan kembali melalui program diversifikasi pangan sebagai

kebalikan dari program "berasnisasi".

Komoditas potensial yang dapat menjadi bahan pangan pokok sangat beragam di

antaranya biji-bijian (jagung, sorgum),

umbi-umbian (singkong, ubijalar, ganyong, gadung,

garut atau arrow root), dan palma (sagu).

Persoalan komoditas iniadalah tidak siap olah

dan atau mudah rusak. Penanganan dalam

jumlah (volume) besar sulit dilakukan sehingga perlu diolah menjadi bentuk antara yang mudah

Edisi No. 53'XVIII/Januari-Maret'2009

ditangani (simpan dan distribusi) dan diolah

(masak untuk siap saji). Bentuk antara yang

baik adalah tepung karena mudah ditangani

(simpan dan angkut), mudah diperdagangkan (timbang dan kemas), serta dapat diolah menjadi beragam pangan pokok dan jajanan.

Industri tepung alternatif yang relatif berkembang adalah tapioka dan maizena

dengan berbagai kendala (pasar) dan bahan baku. Tepung dari komoditas lain belum

berkembang. Sebagai bagian dari pembangunan ketahanan pangan nasional, maka industri tepung berbasis sumberdaya lokal ini perlu didukung dengan kebijakan yang komprehensif mulai dari hulu (produksi bahan baku), industri (teknologi, peralatan, pembiayaan), dan hilir (pasar, industri

pengguna, konsumen).

Pertumbuhan industri tepung secara alamiah tidak dapat diharapkan terjadi dengan cepat dan berkontribusi nyata terhadap ketahanan pangan. Kebijakan adalah instrumen percepatan yang dapat mendukung pertumbuhan agroindustri berbasis tepung. Perspektif pengembangan dapat dipetakan dalam program jangka menengah dan jangka panjang.

Rentang kebijakan mencakup rantai

pasokyang mengkaitkan sektor hulu (produksi)

dan hilir (pengolahan dan distribusi) pangan. Secara teknis, cakupan kebijakan meliputi

pra-budidaya, pra-budidaya, panen, pasca panen dan

pengolahan. Hal ini diperlukan karena

keberhasilan di hilir sangat dipengaruhi oleh keberhasilan di hulu, demikian juga sebaliknya.

Maknanya adalah dorongan peningkatan produksi harus disertai dengan upaya

peningkatan pemanfaatan atau upaya

pengembangan industri tepung harus terkait

dengan perbaikan produksi bahan baku

bersamaan dengan pengembangan konsumsi.

II. POTENSI KARBOHIDRAT

Kandungan gizi utama pada bahan pangan pokok seperti beras, gandum, ubikayu

dan sagu adalah karbohidrat sebagai sumber

kalori. Kandungan gizi lainnya seperti vitamin, protein dan mineral adalah penambah bukan yang utama, karena akan dipenuhi dari sayuran, buahan dan lauk yang lainnya.

(3)

Karbohidarat adalah hidrat dari karbon atau sakarida yang dalam Bahasa Yunani disebut

sakcharon (aakxapov) yang berarti gula. la merupakan salah satu dari empat molekul utama yang terbanyak dalam kelompok

biomolekul. Peran molekul ini sangat banyak

dalam kehidupan yakni sebagai penyimpan dan

pengalih energi (pati dan glikogen). Dalam

mahluk merupakan komponen struktural

(selulosa dalam tanaman dan khitin dalam hewan). Sebagai tambahan, karbohidrat dan turunannya berperan dalam proses kerja sistem

kekebalan, pemupukan, fatogenesis, penggumpalan darah, dan pertumbuhan.

Dengan pengertian tersebut, maka

semua bahan (hasil pertanian) yang kandungan utamanya karbohidrat dapat dijadikan bahan

pangan pokok. Hal ini dapat diketahui dari pola

makan dan menu berbagai kelompok

masyarakat dunia. Orang Barat sebagian besar

tidak pernah makan nasi dengan porsi kita

tetapi mereka hidup dan berkembang sama atau lebih baik dari kita. Penduduk Afrika umumnya mengkonsumsi umbi-umbian

(terutama singkong) dan tidak pernah makan nasi tetapi mereka berkembang biak dengan

baik. Orang Arab dapat hidup hanya dengan

makan kurma. Artinya, tidak harus makan nasi untuk dapat (bertahan) hidup dan berkembang.

Ketersediaan kalori harian sekitar 3,610 di tahun 2006 naik dari 2,912 kkal/kapita di

tahun 2005. Situasi tahun berikutnya tidak

banyak berbeda karena sebagian dipenuhi dari

impor. Penyumbang utama kalori adalah bijian mecapai 61% yang sebagian darinya berasal

dari panganan berkarbohidrat. Sumber kalori yang lain adalah minyak dan lemak, gula, kacang tanah atau minyak kacang, buahan, sayuran, daging, telor, dan susu (World Food Program, 2006). Dari segi ketersediaan kalori maka pangan kita dapat mencukupi

kebutuhan, tetapi persoalan justru berada pada

pembatasan pangan pokok sumber

karbohidrat.

Tanaman sumber karbohidrat utama di Indonesia yang dikenal dan sudah berkembang adalah padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu dan kentang. Sumber lain yang juga sudah dikenal tetapi pemanfaatannya belum

berkembang antara lain adalah sorgum,

juwawut, jali, uwi, suweg, kimpul, gadung, garut, ganyong, sukun, pisang muda, talas, dan masih banyak lagi. Potensi komoditas ini untuk menggantikan atau substitusi beras dapat diketahui dari kesetaraan kandungan karbohidratnya atau kalorinya. Beberapa perbandingan dapat dilihat pada Tabel berikut.

Sebagai sumber kalori, baik biji-bijian

maupun umbian tidak jauh berbeda. Nilainisbah

setara beras umbian dalam bentuk segar

memang lebih kecil yaitu antara 0.2 - 0.4. Artinya, untuk mencukupi kalori maka harus

Tabel. Kandungan kalori dan karbohidrat bahan pangan pokok per 100 g

Jenis Bahan Pangan Energi

(kkal)

Karbohidrat

(9)

Nisbah Kalori

Setara Beras

Beras 360 78.9 1.00

Ubi kayu 146 34.7 0.41

Ubi jalar 123 27.9 0.34

Kentang 83 19.1 0.24

Sukun tua 108 28.2 0.30

Tepung terigu 376 85.1 1.05

Tepung sagu 240 0.67

Tepung ubi jalar 367 94.1 1.02

Jagung kuning 361 74.3 1.00

Tepung sukun 302 78.9 0.84

Sumber: kompilasi dari berbagai sumber

(4)

mengkonsumsi umbian segar 2-5 kali lebih

banyak dari pada beras. Jika konsumsi beras

per kapita adalah 100 kg maka diperlukan 200 - 500 kg umbian segar per tahun untuk setiap

orang. Perlu dicatatbahwa dalam bentuksegar

kandungan terbesar dari hasil pertanian adalah air. Konsumsi dalam bentuk segar, kecuali volume besar dan daya simpan rendah, mempunyai kelebihan yakni biaya (energi) rendah dan kandungan nutrisinya baik.

Pengurangan kadar air (pengeringan) memperbaiki nisbah kalori terhadap beras. Tepung ubi jalar, misalnya, mempunyai kandungan kalori yang lebih besar dari pada beras. Dengan perbandingan ini maka dapat

dikatakan untuk mendapatkan kalori yang

memadai dapat mengkonsumsi tepung ubijalar dengan jumlah yang sama dengan beras.

Perbedaan kandungan karbohidrat dan kalori dari bahan pangan pokok dapat bermanfaat bagi kelompok tertentu. Misalnya, bagi mereka yang ingin mengurangi berat badan dapat mengkonsumsi bahan pangan

bekarbohidrat rendah dan kalori. Demikian juga

mereka yang sulit buang air dapat memilih bahan pangan yang mengandung serat tinggi, Bahkan bagi penderita diabetes juga dapat memilih bahan pangan pokok rendah gula dan tinggi karbohidrat kompleks. Dengan demikian, diversifikasi bahan pangan pokok mempunyai kemanfaatan yang luas sekali selain memperbaiki ketahanan pangan. Pilihan yang bijakadalah mengkombinasikan bahan pangan

pokok dari berbagai sumber karbohidrat. Beras mempunyai keunggulan

sifatfisiko-kimia dan sosial-budaya, yakni tahan disimpan, mudah diperoleh, siap olah, cepat saji, kadar kaloridan protein tinggi, dan aromanya spesifik. Keunggulan sifat-sifat ini juga dapat dibentuk pada komoditas lain, Semua tepung-tepungan dapat mempunyai sifat-sifat tersebut. Penerimaan secara sosial-budaya dapat dibangun dengan pembiasaan dan pemahaman terhadap peran dan fungsi bahan pangan pokok utama. Sebaliknya. beras juga mempunyai banyak kelemahan diantaranya kandungan nutrisi mikro dan produktivitasnya yang rendah.

Kandungan vitamin dan mineral beras relatif

lebih rendah dari sumber karbohidrat lainnya.

Produktivitas berkisar antara 4-6 ton untuk padi

Edisi No. 53/XVIII/Januari-Maret/2009

sawah dan 1-3 ton per hektar gabah kering

giling untuk padi gogo. Bandingkan dengan

singkong atau ubi jalar yang dapat mencapai

20 - 40 ton per hektar. Belum lagi dari segi

kebutuhan air yakni padi melampaui semua tanaman sumber karbohidrat lainnya.

Produktivitas umbian yang dapat mencapai 10 kali lipat dari padi, melebihi nisbah kandungan kalori yang hanya mencapai 5 kali lipat. Artinya, lahan yang diperlukan untuk menghasilkan umbian yang mempunyai kesetaraan kalori dengan beras adalah separuhnya. Lebih dari itu, persyaratan lahan dan irigasi yang diperlukan jauh lebih mudah dari pada padi. Peluang untuk meningkatkan

produksi umbian jauh lebih mudah dan lebih besar dari pada perluasan sawah untuk meningkat produksi padi.

Produksi sagu nasional saat ini mencapai 200.000 ton per tahun atau hanya mencapai sekitar 5 persen dari potensi sagu nasional. Setiap batang sagu mengandung sekitar 200 kg sagu sehingga setiap hektar memproduksi

20-25 ton yang mulai dapat dipanen sejak

berumur 10 tahun dan setelah itu yang dilakukan hanyalah pemeliharaan. Setiap tahun akan tumbuh tunas dan anakan baru dengan tingkat produksi yang juga tinggi. Dengan demikian, nilai ekonomi budidaya sagu cukup tinggi. Produksi tepung sagu dengan pola intensif dapat mencapi 20 juta ton per tahun

atau setara dengan 13.4 juta ton beras.

III. Industri Tepung

Keberadaan agroindustri dalam sistem pertanian merupakan penyempurna yang merangkai semua komponen menjadi satu kesatuan yang kuat. Hal ini berarti bahwa

pengembangan agroindustri mempunyai

keterkaitan kedepan memenuhi permitaan

pasar melalui penguatan industri hilir dan

kebelakang memberikan nilai tambah terhadap produk pertanian. Keterpaduan yang dikuatkan melalui pengembangan agroindustri mempunyai dimensi yang amat luas mulai dari penguatan pasar hasil pertanian sampai dengan pembentukan nilai tambah dan dayasaing komoditas pertanian (Foster dan Rosenzweig,

2003).

(5)

Industritepung untuk pemenuhan bahan

pangan pokok merupakan kegiatan usaha

yang mempunyai pasar bagus dan berbasis

pada bahan baku yang kuat. Oleh karena itu,

industri ini akan dapat ditumbuh-kembangkan

sebagai pemutus lingkaran setan kemiskinan

perdesaan. Dalam konteks pembangunan

perdesaan dan pertanian, upaya ini mendorong

perubahan pertaniansubsisten dan berstruktur

tradisional menjadi lebih moderen dan komersial. Ekonomi perdesaan diharapkan

dapat melepaskan diri dari belenggu perbaikan

produktivitas dan pendapatan pertanian,tetapi

harus dikaitkan dengan penciptaan

kesempatan kerja non-pertanian melalui

penumbuhan usaha kecil dan menengah

(UKM) (Rehber 1998). Industri tepung diharapkan dapat memaduserasikan industri non-pertanian dengan kegiatan pertanian yang

memungkinkan petani menginvestasi lebih

pada usahatani mereka (Galor 1998).

Mengikuti logika tersebut, industritepung dapat berperan terhadap ekonomi perdesaan tergantung pada banyaknya tahapan proses dan operasi yang berlokasi dan melibatkan masyarakat di desa yang bersangkutan. Kaedah ini mengajarkan bahwa upaya membangun sebanyak mungkin tahapan proses adalah prinsip dasar pembangunan agroindustri dalam perspektif ekonomi perdesaan. Optimasi harus dilakukan karena industri dihadapkan pada batasan skala teknis dan ekonomis sehingga pilihan jumlah tahapan

dan kompleksitas agroindustri dapat disesuaikan dengan potensi dan kemampuan

perdesaan.

Agroindustri tidak dapat berdiri sendiri tanpa didukung oleh produksi pertanian. sebaliknya pertanian dapat diperkuat dengan

adanya agroindustri. Hasil pertanian penghasil

pati banyak diproduksi dan sering tidak dapat diserap oleh pasar. Dalam situasi seperti itu, pengembangan industri tepung di perdesaan mempunyai dampak ganda yakni memanfaatkan hasil di satu sisi dan memperkuat ketersediaan pangan di sisi yang lain. Hal ini sejalan dengan peran agoindustri

sebagai penampung surplus sumberdaya

(produksi) perdesaan, modal masyarakat, dan

pembangunan. Di Cina. usaha ini disebutRural

36 PANGAN

Industrial Enterprises (TVEs) yang telah

menjadi penggerak utama pertumbuhan

ekonomi yang menghasilkan lebih dari separuh

output nasional. Usaha ini merupakan % dari

UKM (ADB, 2000).

Dikaitkan dengan profil usaha pertanian,

pengembangan agroindustri ini sangat strategis

karena berbasis pada sumberdaya atau

kepemilikan oleh masyarakat. Artinya, usaha

ini akan menjadi sarana transformasi asset masyarakat, terutama lahan, menjadi aliran uang (cash flow) bersamaan dengan pembentukan pendapatan dan kesempata kerja.

Penggandaan pendapatan petani diperoleh melalui kepastian pasar bagi komoditasnya, kepemilikan usaha dan kesempatan kerja. Di sisi lain, usaha ini akan mempertahankan perputaran dana di perdesaan sehingga memperluas investasi dan akhirnya

pertumbuhan ekonomi. Investasi pemerintah

daerah dan sponsor BUMN dapat dijadikan asset masyarakat yang disetarakan dengan

jumlah dividen yang pembagiannya diatur

menurut volume "penyetoran" bahan baku ke usaha industri perdesaan yang bersangkutan.

Jumlah dan skala usaha tergantung pada

pasokan bahan baku dan ukuran ekonomis

investasi. Industri tepung banyak melibatkan

proses atau operasi yang sederhana. Sebagian besar dari kegiatan tersebut dapat dilakukan di lapangan (on-site) seperti sortasi, pembersihan, pengelompokkan (grading), pengeringan, dan pengecilan ukuran. Meskipun sederhana. kegiatan ini telah terkait dengan dan membentuk nilai tambah. Beberapa

kegiatan yang dapat dilakukan baik dalam

bentuk yang sederhana atau menjadi salah

satu mata usaha yaitu pengeringan (gaplek, chip atau sawut umbi, dsb). Kegiatan ini dapat dilakukan oleh petani atau kelompok tani sebagai usaha mandiri.

IV. Pembangunan Kelembagaan Petani

dan Agroindustri

Dalam banyak situasi, petani senatiasa berada pada posisi yang dirugikan ketika

mereka berkedudukan sebagai pemasok

bahan baku bagi agroindustri. Padahal, banyak

usaha industri menggantungkan atau

(6)

mengandalkan usaha mereka pada komoditas

yang dihasilkan oleh petani. Pengusaha, tentu saja, lebih mengutamakan keuntungan dari pada pertimbangan lain dalam membangun bisnis mereka. Tidak jarang keuntungan diperoleh dari kerugian petani. Hubungan mutualis harus dibangun dengan basis saling memerlukan dan saling menguntungkan.

Salah satu bentuk hubungan bisnis yang sudah biasa dilakukan adalah kontrak tani,

yaitu pengusaha dan petani menjalin hubungan kontraktual jual beli hasil pertanian dengan persyaratan yang disepakati bersama. Petani berkewajiban menghasilkan bahan baku dengan persyaratan mutu, waktu dan jumlah tertentu. Sebaliknya agroindustri berkewajiban membeli hasil pertanian dengan mutu tertentu

tersebut dengan harga perjanjian. Disini tampak

bahwa ada hubungan mutualis yang saling

menguntungkan, yaitu petani mendapat

kepastian pasar bagi hasil produksinya, sebaliknya agroindustri mendapat jaminan pasokan bahan baku. Namun demikian, hubungan yang saling menguntungkan inisering sekaii tidak terwujud karena perbedaan kekuatan dalam pasar (Rehber,1998).

Keterlibatan pemerintah menjadi keharusan dalam membangun kontrak tani

untuk menyeimbangkan atau

memaduserasikan kepentingan yang berbeda, bahkan sering saling bertentangan. Pengelolaan hubungan yang baik dapat

memperkuat agroindustri sehingga dapat menjadi penggerak perekonomian perdesaan.

Milicevic, et at. (1999) membuktikan bahwa

kontrak tani mampu menumbuh-kembangkan hubungan kerjasama yang sinergis sehingga

menambah kesempatan kerja. Perbedaan

terjadi karena adanya dorongan bagi petani untuk melakukan usaha budidaya dengan

standar teknologi yang telah ditetapkan, terutama dalam penggunaan input.

V. Strategi Pengembangan Industri Tepung

Agroindustri skala kecil telah tumbuh secara tradisi di perdesaan. Sebagaimana telah

diuraikan di atas, agroindustri tidak dapat

tumbuh dan berkembang secara cepat dan

memadai. Padahal. pertumbuhan mereka

Edisi No. 53/XVIIl/Januari-Maret'2009

sangat potensial dalam penyediaan kesempatan kerja, penyerapan hasil pertanian dan perolehan nilai tambah di tingkat desa.

Kendala yang mereka hadapi harus diatasi sedemikian rupa sehingga harapan besar dalam memajukan perekonomian perdesaan dapat diwujudkan (Bantacut, 2008).

Kunci utama dalam pengembangan industri tepung adalah penggunaan teknologi, mesin dan perlatan yang memadai. Prosedur

proses setiap tahapan harus dibakukan dan

dipatuhi oleh semua pihak sehingga produksi (mutu, jumlah dan waktu) terjamin. Hal ini akan mendorong terbentuknya industri perdesaan yang kokoh karena bertumpu pada sumberdaya lokal dan pasar yang mantap. Untuk mendukung upaya ini, berbagai

perubahan perlu dilakukan dalam meningkatkan nilai tambah sehingga diperoleh

pertumbuhan ekonomi desa yang

berkelanjutan.

Upaya tersebut diarahkan untuk menghilangkan faktor kendala dengan

mengoptimalkan kesempatan dan keutamaan.

Upaya yang diperlukan adalah (i) pengembangan dukungan finansial, (ii) pengembangan dan perbaikan teknologi, (iii) pengembangan sumberdaya manusia (SDM), (iv) pengembangan pasar dan pemasaran, dan (v) pengembangan kemampuan manajerial dan akutansi (Bantacut, et al., 2001).

Pembangunan agroindustri di perdesaan

dengan semua dimensi dan karakteristiknya, tidak akan terjadi dengan sendirinya. Pertumbuhan dan pertambahan secara alami hanya bersifat sub-sisten, tidak terencana dan sporadis. Sasaran jangka panjang untuk menjadikan industry tepung sebagai wahana pensejahteraan masyarakat perdesaan dan penguat ketahanan pangan perlu diinisiasi dengan baik, terencana, terprogram serta

ditopang dengan upaya dan pembiayaan yang

memadai.

Kaedah dasar pembangunan perdesaan yang harus dianut adalah mengacu kepada kekuatan agroindustri, yaitu (i) berbasis sumberdaya lokal, (ii)menggunakan teknologi

baku, (iii) dikerjakan oleh tenaga lokal, (iv)

dikelola baik dengan mengadopsi kearifan lokal, dan (vi) menguntungkan masyarakat lokal.

(7)

Dengan kaedah ini, maka nilai tambah dalam segala bentuknya (kesempatan kerja, marjin, keterampilan) sebagian besar akan diambil oleh masyarakat lokal. Inilah awal dari perbaikan kesejahteraan (Bantacut, etal., 2003).

Dalam konteks kerangka tersebut,

masyarakat desa dibiasakan dengan pola pikir

inovatif (oeinnovative)sehingga mereka secara

terus menerus membangun kemampuan untuk

memperkokoh diri dalam "bisnis" perdesaan.

Masyarakat desa harus menjadi pemilik(take ownership) untuk meyakinkan bahwa nilai tambah yang terbentuk adalah hasil dari "investasi" masyarakat sehingga merekalah

yang paling berhak untuk mendapatkannya. Pengaruh positif dari pengembangan usaha ini akan menjalar meliputi semua masyarakat perdesaan sehingga akan terjadi perubahan nilai menjadi inovatif, kreatif, dan produktif.

Pada akhirnya, proses alamiah akan menggerakkan semua pihak yang terkait (be inclusive).

VI. Kebijakan Agroindustri Tepung

6.1. Permasalahan Pengembangan Industri Tepung

Pengembangan industri tepung di

perdesaan dapat dipandang sebagai sarana yang tepat dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Hal ini ditandai oleh: (i) berbasis pada sumberdaya lokal sehingga dapat memanfaatkan potensi secara maksimal dan memperkuat kemandirian, (ii) dimiliki dan

dilaksanakan oleh masyarakat lokal sehingga

mampu mengembangkan sumberdaya

manusia, (iii) menerapkan teknologi sederhana

sehingga dapat dilaksanakan dan

dikembangkan oleh tenaga lokal, dan (iv) tersebar dalam jumlah yang banyak sehingga merupakan alat pemerataan pembangunan

yang efektif.

Industri kecil dihadapkan pada berbagai masalah di antaranya kendala finansial, teknologi, pemasaran, sumberdaya manusia, dan manajemen. Kendala finansial menyebabkan pertumbuhan usaha kecil perdesaan terhambat oleh ketersediaan modal

baik untuk investasi maupun modal kerja. Teknologiyang diterapkan sangat beragam dan

belum mengalami pengembangan yang

38 PANGAN

optimal. Dalam praktek perdagangaan, keragaman mutu yang tinggi merupakan faktor pembentuk ketidakpastian pasar sehingga

menghambat penguasaan dan perluasan pasar.

Sehubungan dengan itu, teknologi yang

diterapkan harus sesuai dengan ketentuan.

Secara umum, pasar tepung sangat

terbatas baik jumlah maupun jangkauannya. Permasalahan pasar ini tidaklah berdiri sendiri

tetapi terkait dengan persoalan lainnya.

Infomasi pasar belum lengkap dan akurat. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, maka faktor penyebabnya adalah (i) kesempatan pasar belum dididentifikasi, (ii)

terbatasnya kesempatan mempelajari teknologi pengembangan produk yang

memenuhi permintaan pasar, dan (iii) kurangnya pengetahuan tentang bagaimana akses informasi dapat dilakukan.

Tingkat pendidikan dan pengalaman

pengusaha sangat rendah, sehingga diperkirakan akan sangat sulit untuk tumbuh

dan berkembang. Hal ini lebih diperparah lagi dengan kurangnya program pelatihan bagi tenaga kerja baik sebelum maupun sesudah penempatan akibat dari (i) terbatasnya orang atau institusi yang mempunyai kemampuan untuk memberikan pelatihan dan (ii) terbatasnya alokasi waktu dan dana untuk pengembangan SDM.

Pada umumnya pengelolaan usaha

bersifat sederhana (kekeluargaan) dan tidak

menerapkan prinsip-prinsip manajemen. Kelemahan manajemen ini terutama di bidang keuangan dan akutansi. Banyak usaha yang

gagal atau tidak mampu membuat pernyataan pembiayaan (finansial statement) yang

sederhana sekalipun. Oleh karena itu, usaha

tersebut tidak dapat melaksanakan usaha

bisnis dalam perspektif keuangan jangka

panjang terutama berkaitan dengan evaluasi

dan penilaian dampak dari investasi.

Di antara penyebab permasalahan ini

adalah (i) kurangnya penerapan azas ekonomi dan perpajakan dalam bisnis, (ii) ketidakmengertian tentang sumber dana dari lembaga keuangan modern, (iii) keterbatasan pengetahuan tentang pelayanan yang dapat diperoleh untuk mengembangkan usaha dan (iv) sampai tingkat tertentu terjadi perbedaan

(8)

pelayanan yang disediakan dengan kebutuhan UKM.

6.2. Kebijakan Pengembangan Industri Tepung

Pengembangan industri kecil tepung di

masa mendatang diharapkan dapat

menciptakan bahan baku pangan baru bersamaan dengan komoditas yang sudah ada. Dengan demikian, pengembangan industri harus meliputi (i) upaya memperkuat dayasaing, (ii)memperkuat industri untuk pasar ekspor. dan (iii)secara optimal memanfaatkan sumberdaya lokal untuk pengembangan daerah.

Kunci utama dalam meningkatkan dayasaing adalah perbaikan produktivitas berbarengan dengan perbaikan mutu produk. Hal ini akan mendorong terbentuknya struktur

industri yang kokoh karena bertumpu pada sumberdaya lokal dan mampu memantapkan pasar. Untuk mendukung upaya ini, berbagai

perubahan perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah sehingga diperoleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai upaya harus dilakukan secara sistematis, terprogram dan komprehensif. Upaya tersebut

terutama diarahkan untuk menghilangkan faktor

kendala dengan mengoptimalkan kesempatan dan keutamaan (Bantacut, at al., 2001).

Kendala finansial dapat diatasi dengan

meningkatkan dan mengembangkan

infrastruktur ekonomi dan kebijakan hukum,

antara lain (i) memfasilitasi bank komersial untuk memberikan pinjaman kepada industri,

(ii) merestrukturisasi pendanaan bahan pangan, (iii) memperbaiki keuangan

perusahaan kecil, (iv) mempertinggi pemeratan

keuangan, dan (v) memperbaiki kapasitas usaha sebagai peminjam. Program nasional masyarakat mandiri (PNPM) dan kredit untuk usaha rakyat (KUR) dapat dimanfaatkan dan diperluas sehingga dapat memenuhi kebutuhan

pembiayaan.

Terbatasnya kesempatan untuk mengembangkan teknologi dan keterampilan mengenai teknologi maju, serta tidak

mencukupinya lembaga pendidikan dan

pelatihan yang tersedia merupakan penyebab

Edisi No. 53/XVII!/Januari-Maret/2009

utama rendahnya teknologi produksi dan kualitas produk yang dihasilkan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan cara (i) melakukan peningkatan kualitas laboratorium lokal dan lembaga-lembaga penelitian, (ii)menggalakkan aktivitas Total Quality Control (TQC), dan (iii) menggalakkan kemahiran ISO 9000. Hal ini

tidak terlepas dari pengadaan kegiatan pengarahan dan konsultasi, sarana dan prasarana serta penelitian dan pengembangan. Kendala pemasaran dapat diatasi dengan melakukan serangkaian kegiatan yang

menunjang pengembangan pemasaran, antara

lain (i) pengarahan dan konsultasi, (ii) pameran atau eksibisi, dan (iii) pencarian informasi. Pengarahan dan konsultasi pemasaran dapat dilakukan melalui sistem pelayanan industri, konsultasi bisnis dan sistem pemberian konsultasi di tempat oleh pemerintah lokal, homepage dengan instansi terkait. Eksibisi

yang dilakukan dapat berupa seperti pameran

tahunan yang dilakukan oleh instansi

pemerintah, dan pusat promosi pemasaran.

Eksibisi atau pameran perdagangan merupakan salah satu teknik promosi bisnis klasik yang paling efektif dalam pemasaran. Informasi tentang pemasaran dapat diperoleh dengan mengadakan pusat informasi pemasaran.

Pengembangan sumberdaya manusia

dilakukan dengan mengadakan pendidikan di

tingkat lanjutan dan perguruan tinggi, serta

mengadakan pusat-pusat pelatihan UKM. Pendidikan di tingkat lanjutan dapat berupa penggalakkan kurikulum praktis pada

pendidikan sekolah tinggi berupa pelatihan

teknik pada sekolah tinggi teknik, pelatihan

akutansi pada sekolah tinggi komersial, dan

kursus dasar-dasar manajemen pada sekolah

tinggi biasa. Pelatihan tingkat tinggi dilakukan dengan mengadakan kursus-kursus, pendidikan politeknik dan universitas, memperkuat pendidikan teknik dan

menerapkan pusat latihan UKM.

Pengembangan lembaga-lembaga pelatihan UKM dapat berupa latihan bersama yang

dilakukan oleh beberapa UKM,

mengembangkan SDM untuk meningkatkan keahlian teknik dan wiraswasta, dan pelatihan

teknologi informasi. Hal ini tidak terlepas dari

(9)

tersedianya dana yang cukup sehingga diperlukan adanya peningkatan dana untuk pengembangan SDM UKM.

Kemampuan manajerial personalia UKM dapat ditingkatkan dengan cara (i) membangun pusat pelatihan UKM di bidang manajemen dan teknologi, (ii)mengembangkan sistem evaluasi kerjasama, (iii) pengadaan tim pendamping teknologi dan manajerial dalam bentuk konsultasi keliling, (iv) menyediakan layanan satu tempat (one-stop service) untuk

bermacam-macam prosedur administrasi (pemerintah lokal, KADIN dan NGO).

6.3. Kebijakan Perlindungan Industri Tepung

Industri tepung non-beras dan non-terigu atau bukan beras dan bukan terigu (kanrasgu) berada pada posisi yang belum mempunyai dayasaing karena berbagai faktor tersebut di atas. Perlindungan sangat diperlukan agar kebijakan pengembangan dapat berjalan dengan baik. Kebijakan perlindungan meliputi (i) pendampingan, (ii) keringanan, dan (iii)

promosi (Bantacut, 2008).

Pendampingan dimaksudkan adalah

keharusan menggunakan tepung kanrasgu dalam setiap pengadaan (impor dan pembelian/ penggunaan) tepung beras dan terigu.

Kebijakan dapat ditetapkan misalnya setiap

impor terigu diharuskan membeli sejumlah

tertentu tepung kanrasgu. Demikian juga

industri yang menggunakan terpung terigu harus menggunakan campuran atau mengolah

tepung kanrasgu.

Menimbang perbedaan kondisi tepung beras dan terigu maka tingkat keharusan juga dibedakan dan bersifat inkrimental (incremental). Impor terigu masih dan akan bertambah besar di masa mendatang, sehingga wajar apabila diharuskan membeli tepung kanrasgu 10 hingga 30 persen dari volume impor terigu atau gandum setara terigu.

Penggunaan atau impor tepung beras

tidak sebesar dan setara nilai terigu ditinjau

dari dimesi ekonomi dan sosial. Oleh karena

itu, kisaran yang dapat diterapkan adalah

antara 5 hingga 15 persen. Penerapan

dilakukan secara bertahap mulai dari 5 persen pada lima tahun pertama dan ditingkatkan

40 pangan

hingga 10 dan 15 persen pada tahun keenam hingga tahun ke lima belas.

Kebijakan pendampingan ini diharapkan

akan meningkatkan konsumsi atau

penggunaan tepung kanrasgu dalam periode

15 tahun. Kebutuhan terigu dalam negeri sekitar 4,5 juta ton per tahun, maka dengan kebijakan tersebut akan terjadi penyerapan

tepung kanrasgu secara bertahap meningkat

dari 450,000 ton menjadi 1,350,000 ton. Jumlah iniakan bertambah dengan adanya penggunaan tepung beras oleh industri, misalnya satu juta ton per tahun. Dalam lima belas tahun ke depan akan terjadi konsumsi tepung kanrasgu dari 500,000 menjadi 1,500,000 ton per tahun.

Apabila pertumbuhan industri pengimpordan

pengguna tepung beras dan terigu

diperhitungkan, maka konsumsi kanrasgu dapat mencapai 3 juta ton per tahun.

Multiplikasi akan terjadi dalam konsumsi industri tepung kanrasgu. Selain impor dan

pengguna tepung beras dan terigu, industri pengguna langsung tepung kanrasgu dan konsumsi bahan baku tepung ini juga akan meningkat dari tahun ke tahun. Perkiraan

pesimistis konsumsi industri dalam semua

skala setara tepung dapat mencapai 5 juta ton

pertahun.

Kebijakan keringanan, pengurangan

sampai peniadaan pajak terhadap industri pemakai dan produsen kanrasgu tentu akan

meningkatkan secara tajam konsumsinya. Sasaran akhir peningkatan konsumsi dapat

mencapai 10juta ton pertahun dalam 15 tahun

bukanlah sesuatu yang tidak berdasar. Dengan demikian, ketergantungan terhadap beras dalam sektor konsumsi dapat menumbuhkan

sektor ekspor, produksi pertanian sumber karbohidrat non-beras, dan kesejahteraan

petani dapat diharapkan akan menjadi kenyataan. Ketahanan pangan, industri dan ekonomi nasional dapat diperkuat.

Kebijakan sederhana dalam promosi

kanrasgu dimulai dari keharusan menyajikan

makanan dasar pokok dan cemilan non-beras

dan non-terigu dalam semua rapat, pertemuan, seminar, workshop yang diselenggarakan oleh

atau melibatkan instansi pemerintah dari

tingkat pusat sampai daerah. Kebijakan ini

bersifat keteladanan sekaligus pendidikan akan

(10)

menumbuhkan kepercayaan dalam mengkonsumsi pangan pokok non-beras dan non-terigu. Dalam bentuk yang lebih kompleks, kebijakan ini dapat diperluas dengan subsidi promosi (periklanan) produksi dan konsumsi

produk berbasis tepung kanrasgu.

Kebijakan tersebut di atas harus dituangkan dalam berbagai keputusan dalam semua tingkatan mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden,

keputusan menteri sampai dengan tingkatan

di bawanya akan memacu pertumbuhan

industri dan konsumsi tepung kanrasgu secara cepat. Kekuatan hukum menjadi acuan penting

dalam mendorong pertumbuhan industri terkait langsung atau tidak langsung. Kebijakan komprehensif tersebut merupakan bagian penting dari pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan. kekuatan industri, dan kemandirian

bangsa.

6.4. Pendekatan Dalam Pengembangan Industri Tepung

Pengembangan industri tepung berbasis

pada sumberdaya lokal harus memperhatikan : (i) dampak aktivitas terhadap perekonomian rakyat. (ii) ketersediaan teknologi yang diterapkan, (iii) permintaan pasar atas barang dan jasa yang dihasilkan, (iv) dampak proses kegiatan terhadap lingkungan, dan (v) keberlanjutan aktivitas tersebut pada jangka

panjang. Salah satu pendekatan dalam pengembangan UKM yang dapat dilaksanakan adalah memadukan dimensi perbaikan yang telah diuraikan sebelumnya dengan mengembangkan pola kemitraan partisipatif.

Kemitraan dapat dinilai strategis untuk mengidentifikasi persoalan yang terjadi dan merumuskan kerjasama yang harmonis dan

sinergik di antara industri kecil dengan lembaga pemasaran. Dalam konteks bisnis tepung, pola

kemitraan diperlukan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas hubungan

bisnis yang didukung oleh akses terhadap

pasar, modal dan teknologi, serta peningkatan kemampuan organisasi dan manajemen.

Bulog seharusnya diperankan

sebagaimana pada komoditi beras yakni mitra utama industri kecil tepung dalam memasarkan produk. Dalam pengertian ini, Bulog adalah

Edisi No. 53/XVIIL'Januari-Maret'2009

mitra utama yang selalu siap menampung hasil produksi, menyimpan dan memasarkannya. Hal ini sekaligus upaya untuk memperkuat

ketahanan pangan dengan meningkatkan akses konsumen terhadap tepung yang selalu dapat dibeli di setiap waktu dan tempat,

VII. Kesimpulan

Bahan pangan pokok harus dipandang

dari fungsinya sebagai sumber kalori yang

berasal dari kandungan karbohidratnya.

Dengan cara pandang seperti ini, maka semua

hasil pertanian dengan kandungan utama

karbohidrat dapat dijadikan bahan pangan pokok. Beras adalah salah satu tetapi bukan satu-satunya bahan pangan pokok yang dapat memenuhi kalori yang diperlukan tubuh. Indonesia mempunyai banyak tanaman sumber karbohidrat yang dapat digunakan untuk menggantikan beras. Namun demikian karena sifatnya yang tidak siap olah dan volumenya

besar, maka hasil pertanian sumber

karbohidrat perlu diolah menjadi bentuk antara

yaitu tepung. Upaya pengembangan ini perlu

ditunjang dengan kebijakan yang memadai, sehingga industri tepung dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan cepat.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Antarlina, S.S.. 1998. Utilization of sweet potato flour for making cookies and cakes. In

Hendroatmodjo, K.H., Y. Widodo. Sumarno, and B. Guritno {Eds.). Research Accomplishment of Root Crops for Agricultural Development in Indonesia.

Research Institute for Legume and Tuber Crops, Malang, Indonesia, p.127-132.

Asian Development Bank, 2000 PRC Agroindustry and Rural Enterprise Approaches and Experience ADB / TA 3150-PRC: A Study on Ways to Support Rural Poverty Reduction Projects/Final Report/'

October 2000.

Bantacut, T., 2008. Kebijakan Pengembangan Agroindustri Perdesaan. Direktorat Jendral

Pengolahan Hasil Pertanian, Jakarta.

Bantacut, T. A.M. Fauzi, dan S.Budijanto 2003. Studi

kaji tindak bantuan ada usaha mikro dan usahakecil Agroindustri di dalam Syukur, M.A.m.

Fauzi dan D. Rachmawari. (Eds.) Llembaga Keuangan Mikro. Business Innovation Center of Indonesia dan Kantor Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bogor.

Bantacut, T., Sutrisno, dan D.F. Ayu Rawi, 2001. Pengembangan ekonomi berbasis usaha kecil dan menengah. Di dalam Haeruman. H. dan

Eriyatno (Eds.). Kemitraan Dalam

Pengembangan Ekonomi Lokal.Yayasan Mitra Pembangunan Desa-Kota dan Business

Innovation Center of Indonesia.

Foster, A. D. and M. R. Rosenzweig 2003. Agricultural Development. Industrialization and Rural Inequality. Harvard University and Brown

University. The research for this paper was supported in part by grants NIH HD30907 and

NSF, SBR93-08405 and by the World Bank. Galor, Z. 1998. Small Scale Industries-Concepts and

Realizations: The Israeli Case Study- The Creation of Non-Agricultural Employment (NAE),

International Institute of the Histadrut, Israel.

Glover. D. 1994. Contract Farming and Commercialization of Agriculture in Developing Countries in von Braun, J. and E. Kennedy (Eds.) Agricultural Commercialization, Economic Development and Nutrition,p. 166-175. Johns Hopkins.

Haggblade, S., PBR Hazell, and T. Reardon. 2001.

Strategies for stimulating equitable growth of

the rural nonfarm economy in developing countries. Invited paper for keynote address at the 74m EAAE Seminar, Livelihoods and rural

poverty: technology, policy and institutions, September 12-15,2001, Imperial College at Wye, United Kingdom.

Johnson, D. G. 2000. Population, Food, and Knowledge. American Economic Review, Vol. 90 (1) pp.

1-14.

Lanjouw, J.O. and P. Lanjouw. 2001. The rural

non-farm sector: issues and evidence from

developing countries. Agricultural Economics

261(1):1-23.

42 Pangan

Milicevic, X, J. Berdegue, andT Reardon. 1999. Linkage Impacts of Farming with Agroindustrial

Contracts: The Case of Tomatoes in Chile. RIMISP

(Red Internacional de Metodologias de Investigacion de Sistemas de Produccion. Chile). IESAFAO

Morley, S. A 2000. Case Studies of programs to combat rural poverty in Latin America. IFPRI

Notohadiprawiro, T dan J.E. Louhenapessy. 1992. Potensi sagu dalam penganekaragaman bahan pangan pokok ditinjau dari persyaratan lahan. Makalah disampaikan pada Simposium Sagu

Nasional, Ambon 12-13 Oktober 1992. Reardon, T, J.E. Taylor, K. Stamoulis, P. Lanjouw and A

Balisacan. 2000. Effects of nonfarm employment on rural income inequality in developing

countries: an investment perspective. Journal

of Agricultural Economics, 51(2); 266-288. Rehber, E. 1998. Vertical Integration in Agriculture and

Contract Farming, NE-165 Private Strategies,

Public Policies and Food System Performance, Working Paper Series No:46 Connecticut, USA. Weinberger, K. and T.A. Lumpkin. 2005. Horticulture for poverty alleviation—the unfunded revolution.

Shanhua, Taiwan: AVRDC - The World

Vegetable Center, AVRDC Publication No. 05-613, Working Paper No. 15. 20 pp.

World Food Program, 2006. Food Security Assessment

and Phase Classification Pilot. Indonesia. In

Cooperation With FAO, Food Security Council,

BAKORNAS, Ministry of Health. SEAMEO.ACF, SMERU, and ECHO. Jakarta.

Zuraida, N dan Y. Supriati, 2001. Usahatani Ubi Jalar

sebagai Bahan

Pangan Alternatif dan Diversifikasi Sumber Karbohidrat. BuletinAgroBio4(1): 13-23

BIODATAPENULIS

Tajuddin Bantacut, adalah Dosen pada

Departemen Teknologi Industri Pertanian, Institut

Pertanian Bogor. memperoleh gelar Doctor of Philosophy (PhD) dalam Planning Science dari

University of Quensland, Australia

Referensi

Dokumen terkait

Variabel Earning Per Share, Dividend Per Share, dan Return on Equity secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan Property And Real Estate

Terdapat Perbedaan Antara Model Pembelajaran Example Non Example Dengan Model Pembelajaran Picture And Picture Terhadap Hasil Belajar Bulutangkis Pada Materi Servis

Mengingat pentingnya arti Akte Kelahiran bagi masyarakat yang akan mempergunakan Akte Kelahiran tersebut untuk segala macam keperluan yang berhubungan dengan

Selain mempunyai data masing-masing member , The Springs Club juga berusaha untuk memberikan yang terbaik maupun dalam melakukan service, fasilitas, dan

Faktor - faktor kelemahan pada strategi pengembangan KUD Mandiri Mojopahit Jaya meliputi posisi keuangan yang kurang sehat untuk rasio aktivitas dan rentabilitas,

Apabila terdapat bukti objektif terjadinya penurunan nilai atas aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan (seperti menurunnya secara signifikan lingkungan usaha, kemungkinan

Kelangsungan hidqr mertpakan pe$edase organisme yang hidup pada akhir pemelihaman ]ang ditebar pada saat pemeliharaan dalam suatu wadah (Yulianti 2003). Hasi penelitian

Gereja & Kondisi Jemaat DOAKAN UNTUK PARA PELAYAN TUHAN GPO (Pengerja, MJ, Komisi, Tim kerja dan Aktifis) agar memiliki hubungan yang selalu dekat dengan Tuhan dan