• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali pada bulan Juni 2012 naik sebesar 0,54 persen dibandingkan bulan Mei 2012, yaitu dari 107,97 menjadi 108,56

 Subsektor utama yang mendorong kenaikan NTP bulan Juni 2012 adalah Subsektor Tanaman Bahan Makanan (1,26 persen).

 Bila dibandingkan dengan Nasional, posisi daya tukar petani Bali masih berada di atas angka Nasional (NTP Bali sebesar 108,56 sedangkan NTP Nasional sebesar 104,88).

 Indeks Harga Konsumen Perdesaan (IHKP) di Provinsi Bali pada bulan Juni 2012 mengalami inflasi perdesaan yaitu sebesar 0,41 persen. Provinsi Bali menempati urutan ke-18 dari 32 provinsi yang mengalami inflasi perdesaan. Secara Nasional terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,60 persen.

 Dari 32 Provinsi yang diamati, seluruh provinsi mengalami inflasi perdesaan. Inflasi perdesaan tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Timur yaitu sebesar 0,96 persen, sedangkan Inflasi perdesaan terendah terjadi di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 0,09 persen.

No. 36/07/51/Th. VI, 2 Juli 2012

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI DAN

H

ARGA

P

RODUSEN

G

ABAH

A. JUNI 2012, NTP BALI MENGALAMI KENAIKAN SEBESAR 0,54 PERSEN

NTP (Farmers Term of Trade) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumahtangganya maupun untuk biaya produksi produk pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase). Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada bulan Juni 2012, NTP Bali meningkat bila dibandingkan dengan bulan Mei 2012 sebesar 0,54 persen dari 107,97 menjadi 108,56. Secara umum kenaikan NTP ini disebabkan oleh kenaikan nilai indeks yang diterima petani yaitu sebesar 0,88 persen lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayar petani sebesar 0,34 persen. Kenaikan indeks yang diterima petani ini dipicu oleh naiknya indeks yang diterima petani pada Subsektor Tanaman Pangan, Subsektor Tanaman Hortikultura, dan Subsektor Peternakan.

(2)

Tabel 1

Nilai Tukar Petani Bali Per Subsektor dan Perubahannya Juni 2012 (2007=100)

Subsektor Bulan Persentase

Mei 2012 Juni 2012 Perubahan

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan

a. Indeks yang Diterima (It) 127,34 129,41 1,63

b. Indeks yang Dibayar (Ib) 134,20 134,68 0,36

c. Nilai Tukar Petani (NTP-P) 94,89 96,09 1,26

2. Hortikultura

a. Indeks yang Diterima (It) 198,55 200,97 1,22

b. Indeks yang Dibayar (Ib) 132,22 132,69 0,35

c. Nilai Tukar Petani (NTP-H) 150,16 151,46 0,86

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Indeks yang Diterima (It) 149,00 148,94 -0,04

b. Indeks yang Dibayar (Ib) 132,38 132,89 0,39

c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pr) 112,55 112,07 -0,43

4. Peternakan

a. Indeks yang Diterima (It) 123,39 123,75 0,30

b. Indeks yang Dibayar (Ib) 134,25 134,62 0,28

c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pt) 91,91 91,92 0,02

5. Perikanan

a. Indeks yang Diterima (It) 113,13 113,07 -0,05

b. Indeks yang Dibayar (Ib) 132,37 132,90 0,40

c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pi) 85,46 85,08 -0,45

Provinsi Bali

a. Indeks yang Diterima (It) 144,07 145,35 0,88

b. Indeks yang Dibayar (Ib) 133,43 133,89 0,34

c. Nilai Tukar Petani (NTP) 107,97 108,56 0,54

Perbandingan NTP Juni 2012 terhadap Mei 2012 menunjukkan bahwa tiga subsektor mengalami kenaikan NTP. Subsektor yang mengalami kenaikan terbesar adalah Subsektor Tanaman Pangan, Subsektor Hortikultura, kemudian diikuti oleh Subsektor Peternakan. Sedangkan Subsektor yang mengalami penurunan yaitu Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat dan Subsektor Perikanan.

1. Indeks Harga yang Diterima Petani (It)

Berbagai komoditas pertanian yang dihasilkan petani dikelompokkan dalam lima subsektor, yaitu Tanaman Pangan, Hortikultura, Tanaman Perkebunan Rakyat, Peternakan, dan Perikanan. Pada bulan Juni 2012, indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,88 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu dari 144,07 menjadi 145,35. Naiknya It kali ini didorong oleh naiknya It pada tiga subsektor yaitu Subsektor Tanaman Pangan (1,63%), Subsektor Hortikultura (1,22%), dan Subsektor Peternakan (0,30 %).

2. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)

Indeks harga yang dibayar petani menggambarkan harga barang dan jasa yang dibeli petani untuk digunakan baik dalam proses produksi lahan atau usaha pertaniannya maupun untuk konsumsi

(3)

rumahtangga petani. Barang dan jasa tersebut meliputi barang-barang kebutuhan pokok; bibit; obat-obatan dan pupuk; sewa, pajak lahan, dan pengeluaran; transportasi; sewa alat dan hewan; barang modal; serta upah buruh tani.

Pada bulan Juni 2012, indeks harga yang dibayar (Ib) petani di Provinsi Bali meningkat sebesar 0,34 persen bila dibandingkan Mei 2012, yaitu dari 133,43 menjadi 133,89. Meningkatnya Ib terjadi pada seluruh subsektor yaitu Subsektor Tanaman Pangan (0,36%), Subsektor Hortikultura (0,35%), Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (0,39%), Subsektor Peternakan (0,28%), dan Subsektor Perikanan (0,55%). Naiknya Ib didorong oleh naiknya harga barang-barang konsumsi rumahtangga terutama pada kelompok Bahan Makanan (0,80%), kelompok sandang (0,45%), dan kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga (0,15%).

3. NTP Subsektor

a. Subsektor Tanaman Pangan (Padi & Palawija/NTP-P)

Pada bulan Juni 2012 Subsektor Tanaman Pangan mengalami kenaikan NTP sebesar 1,26 persen, yaitu dari 94,89 menjadi 96,09. Hal ini didorong oleh naiknya indeks yang diterima petani sebesar 1,63 persen lebih besar dibanding indeks yang dibayar petani yaitu sebesar 0,36 persen. Komoditas yang mengalami kenaikan harga pada subsektor ini diantaranya adalah Gabah Kering Giling, Kacang kedelai, Kacang Tanah, Ketela Rambat, dan Ketela Pohon.

b. Subsektor Hortikultura (NTP-H)

Pada bulan Juni 2012 NTP Subsektor Hortikultura mengalami kenaikan sebesar 0,86 persen yaitu dari 150,16 menjadi 151,46. Kenaikan NTP pada subsektor ini disebabkan karena kenaikan indeks yang diterima petani (1,22%) lebih besar daripada kenaikan indeks yang dibayar petani (0,35%). Kenaikan komoditas yang memicu naiknya indeks yang diterima petani adalah Kentang, Bawang Merah, Bawang Putih, Kacang Panjang, dan Cabe Merah.

c. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pr)

Pada bulan Juni 2012 NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun sebesar 0,43 persen. Turunnya NTP pada subsektor ini didorong oleh turunnya indeks yang diterima petani (0,04%) sedangkan indeks yang dibayar petani naik sebesar (0,39%). Penurunan ini dipicu oleh turunnya harga cengkeh. Harga Cengkeh turun dari Rp. 95.000 per Kilogram menjadi Rp. 78.000 per Kilogram. d. Subsektor Peternakan (NTP-Pt)

Subsektor Peternakan terdiri atas ternak besar, ternak kecil, unggas, dan hasil ternak. NTP Subsektor Peternakan pada bulan Juni 2012 naik sebesar 0,02 persen. NTP-Pt naik dari 91,91 menjadi 91,92. Kenaikan NTP subsektor ini didorong oleh naiknya indeks yang diterima petani sebesar 0,30 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani meningkat hanya sebesar 0,28 persen.

(4)

Tabel 2

Indeks yang Diterima dan Indeks yang Dibayar Petani Per Subsektor/Kelompok dan Perubahannya, Juni 2012 (2007=100)

Subsektor/Kelompok Bulan Persentase

Mei 2012 Juni 2012 Perubahan

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan

a. Indeks Diterima Petani 127,34 129,41 1,63

- Padi 112,34 114,01 1,49

- Palawija 162,38 165,39 1,86

b. Indeks Dibayar Petani 134,20 134,68 0,36

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 134,59 135,09 0,37

- Indeks BPPBM 132,53 132,97 0,33

2. Hortikultura

a. Indeks Diterima Petani 198,55 200,97 1,22

- Sayur-sayuran 144,48 146,97 1,72

- Buah-buahan 207,14 209,55 1,16

b. Indeks Dibayar Petani 132,22 132,69 0,35

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 134,12 134,62 0,37

- Indeks BPPBM 122,81 123,09 0,23

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Indeks Diterima Petani 149,00 148,94 -0,04

- Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) 149,00 148,94 -0,04

b. Indeks Dibayar Petani 132,38 132,89 0,39

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 138,78 139,41 0,46

- Indeks BPPBM 109,65 109,73 0,07

4. Peternakan

a. Indeks Diterima Petani 123,39 123,75 0,30

- Ternak Besar 104,04 105,00 0,92

- Ternak Kecil 144,07 143,89 -0,12

- Unggas 135,76 135,69 -0,05

- Hasil Ternak 155,79 155,56 -0,14

b. Indeks Dibayar Petani 134,25 134,62 0,28

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 137,06 137,66 0,43

- Indeks BPPBM 129,24 129,22 -0,01

5. Perikanan

a. Indeks Diterima Petani 113,13 113,07 -0,05

- Penangkapan 113,20 112,92 -0,25

- Budidaya 112,96 113,42 0,41

b. Indeks Dibayar Petani 132,37 132,90 0,40

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 141,21 141,99 0,55

- Indeks BPPBM 113,28 113,30 0,02

Meningkatnya indeks yang diterima petani dipicu oleh naiknya harga komoditas pada kelompok Ternak besar yaitu sebesar 0,92 persen. Komoditas peternakan yang mengalami kenaikan harga adalah Sapi Potong dan Kambing.

(5)

e. Subsektor Perikanan (NTP-Pi)

Subsektor yang terakhir adalah Perikanan, yang terdiri atas usaha penangkapan ikan dan usaha budidaya perikanan. Pada bulan Juni 2012, NTP-Pi mengalami penurunan sebesar 0,45 persen. Turunnya NTP-Pi ini disebabkan karena turunnya indeks yang diterima petani sebesar 0,05 persen sedangkan indeks yang harus dibayar petani naik sebesar 0,40 persen. Kenaikan paling besar yang dirasakan oleh petani adalah pada kelompok bahan makanan yaitu sebesar 1,06 persen yaitu cabe merah, bawang putih, dan cabe rawit. Komoditas Subsektor Perikanan yang mengalami penurunan harga yaitu layur/beladang, lobster, gurita, cumi-cumi, dan tenggiri.

4. Perbandingan Terhadap Angka Nasional

Pada bulan Juni 2012, NTP Bali naik sebesar 0,54 persen begitu pula dengan NTP Nasional yang naik sebesar 0,11 persen. Indeks yang diterima petani Bali naik sebesar 0,88 persen sedangkan indeks yang dibayar petani Bali naik sebesar 0,34 persen. Sementara itu, indeks yang diterima petani secara Nasional naik sebesar 0,62 persen. Di sisi lain, indeks yang dibayar petani secara Nasional meningkat sebesar 0,51 persen seperti tampak pada tabel 3 berikut ini.

Tabel 3

Nilai Tukar Petani Provinsi Bali dan Nasional serta Persentase Perubahannya, Juni 2012 (2007=100)

Cakupan Wilayah It Ib NTP

Indeks % Perb Indeks % Perb Rasio % Perb

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Provinsi Bali 145,35 0,88 133,89 0,34 108,56 0,54

Nasional 144,82 0,62 138,08 0,51 104,88 0,11

5. Indeks Harga Konsumen Perdesaan

Indeks Harga Konsumen Perdesaan (IHKP) dapat ditunjukkan oleh Indeks Harga Konsumsi Rumahtangga Petani yang merupakan komponen dalam Indeks yang Dibayar Petani. IHK perdesaan terdiri dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, kelompok perumahan, kelompok sandang, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga, serta kelompok transportasi dan komunikasi.

Perubahan IHK perdesaan mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah perdesaan. Dari 32 Provinsi yang diamati, seluruh provinsi mengalami inflasi perdesaan. Provinsi Bali menempati urutan ke-18 dari 32 provinsi yang mengalami inflasi perdesaan. Sementara itu, secara Nasional terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,60 persen.

Inflasi perdesaan di Bali terjadi karena naiknya indeks pada Kelompok Bahan Makanan (0,80 persen) Sandang (0,45 persen), Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga (0,15 persen), Transpor dan Komunikasi (0,08 persen), kelompok Makanan Jadi (0,07 persen), kelompok Perumahan (0,07 persen), dan Kesehatan (0,06 persen). Secara umum, komoditas penyumbang inflasi pada kelompok Bahan Makanan diantaranya adalah Cabe Merah, Bawang Putih, Kacang Panjang, Bawang merah, Kacang Tanah, dan Buah-buahan seperti Salak dan Apel.

(6)

 Pada umumnya petani produsen gabah di wilayah Provinsi Bali menjual gabah dalam bentuk gabah kering panen (GKP), namun berdasarkan observasi pada bulan Juni 2012 ditemukan 14,29 persen petani yang menjual gabah di luar kualitas (kualitas rendah) yaitu dengan kadar air di atas 25 persen.

 Di tingkat petani, terjadi kenaikan rata-rata harga gabah kualitas GKP pada bulan Juni 2012 dibanding bulan Juni 2012 yaitu sebesar 0,61 persen di tingkat petani dan 0,94 persen di tingkat penggilingan.  Rata-rata harga gabah kualitas GKP pada bulan Juni 2012 berada diatas HPP yaitu sebesar Rp 3.500,04

per kg di tingkat petani dan Rp 3.562,54 per kg di tingkat penggilingan.

 Transaksi Gabah Kering Panen (GKP) Harga tertinggi di tingkat petani terjadi di Kabupaten Karangasem Rp 3.805,55/Kg untuk varietas Ciherang, sedangkan untuk terendah terjadi di Kabupaten Jembrana dengan Harga Rp 3.312,00/Kg untuk varietas Inpari 13.

Tabel 4

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Provinsi Bali dan Nasional, Juni 2012 (2007=100)

Kelompok IHK Perdesaan

Bali Nasional (1) (2) (3) Bahan Makanan 0,80 0,79 Makanan Jadi 0,07 0,67 Perumahan 0,07 0,38 Sandang 0,45 0,24 Kesehatan 0,06 0,32

Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga 0,15 0,22

Transportasi dan Komunikasi 0,08 0,12

Konsumsi Rumahtangga 0,41 0,60

(7)

Grafik 1

Perkembangan Rata-rata Harga Gabah (GKP) di Tingkat Petani dan Penggilingan Provinsi Bali Juni 2011 – Juni 2012

Tabel 5

Perkembangan Rata-rata Harga Gabah (GKP) di Tingkat Petani dan Penggilingan Provinsi Bali Juni 2011 – Juni 2012

No Bulan Harga di Tingkat Petani (Rp/Kg) Perubahan (%) Harga di Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Perubahan (%)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Juni ’11 Juli ’11 Agustus ’11 September ’11 Oktober ’11 November ’11 Desember ’11 Januari ’11 Februari ’12 Maret ‘12 April ‘12 Mei ‘12 Juni “12 2.903,84 3.135,77 3.365,59 3.577,00 3.757,64 3.946,05 3.985,39 4.002,06 3.884,14 3.631,10 3.536,44 3.478,48 3.500,04 1,374 7,987 7,329 6,282 5,050 5,014 0,997 0,418 -3,429 -6,515 -2,607 -1,639 0,619 2.958,43 3.185,77 3.409,17 3.626,50 3.799,44 3.998,76 4.037,89 4.056,99 3.979,83 3.680,27 3.620,31 3.529,30 3.562,54 2,135 7,685 7,012 6,375 4,769 5,246 0,979 0,473 -1,902 -7.527 -1,629 -2,514 0,942

*) HPP GKP (Sebelumnya) *) HPP GKP (Mulai Maret 2012)

Rp 2.640,00/kg di tingkat petani Rp 3.300,00/kg di tingkat petani Rp 2.685,00/kg di tingkat penggilingan Rp 3.350,00/kg di tingkat penggilingan

(8)

Informasi lebih lanjut hubungi:

Amirudin, S.Si., MMSI. Kepala Bidang Statistik Distribusi

BPS Provinsi Bali

Telepon: 0361-238159, Fax: 0361-238162 E-mail: [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan peserta didik merupakan upaya untuk mencari jawaban atau menguji jawaban sementara yang telah dibuat dengan mencari data dari berbagai

Pada bab ini akan menganalisis bagaimana kebijakan kerjasama militer bisa dipakai sebagai sarana untuk mengakomodasikan kepentingan nasional, terutama kepentingan strategis

Merupakan suatu kondisi Polis ini bahwa tidak menjamin setiap harta benda yang dalam lingkup secara langsung atau tidak langsung dijamin oleh asuransi lain (baik Polis

TUJUAN (T) Mewujudkan Pengembangan & Promosi Inovasi dalam Bidang AN (TDIAN1) Mewujudkan Pengembangan Inovasi dalam Bidang Tata Pemerintahan (TPITP1) Mewujudkan

Junaedin Wadu. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Risiko Produksi Serta Perilaku Petani dan Strategi Menghadapi Risiko produksi Usahatani Padi Sawah di Kecamatan

Setelah mencermati dan mempelajari Nota Keuangan dan Raperda Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) Tahun Anggaran 2014 dan Rancangan Peraturan

Keterampilan Penulisan: cerita dibuat dengan benar, sistematis, dan menarik menunjukkan keterampilan pembuatan cerita yang baik Keseluruhan cerita sangat menarik, jelas

Data pelaksanaan tindakan kelas penerapan Numbered Heads Together untuk meningkatkan motivasi dan komunikasi belajar matematika pada siswa kelas VII A SMP Negeri