BAB II
TINJAUAN TEORI
A. TINJAUAN MEDIS
1. KEHAMILAN
a. Definisi
Kehamilan adalah masa dimana seorang wanita membawa
embrio atau fetus didalam tubuhnya. Masa kehamilan dimulai dari
konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi
sampai partus kira–kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu) (Kuswanti, 2014;h.99).
Kehamilan adalah priode kehamilan yang dihitung sejak hari
pertama haid terakhir (HPHT) hingga dimulainya persalinan sejati, yang
menandai awal periode antepartum. Lamanya kehamilan diperkirakan
kurang lebih 280 hari ,40 minggu, 10 bulan (berdasarkan perputaran
bulan atau lunar),atau 9 bulan sejak hari pertama haid terakhir (HPHT)
(Varney, 2007;h.492).
Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implementasi. Bila dihitung
dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan
menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester,
dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua
minggu (minggu ke-28 hingga ke-40 minggu) (Prawiroharjo,
2010;h.213).
Kesimpulan, kehamilan adalah hasil fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi dengan lamanya
kehamilan normal berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan
atau 9 bulan dimulai sejak hari pertama haid terakhir (HPHT).
b. Proses Kehamilan
Proses kehamilan merupakan mata rantai yang bersinambung dan
terdiri dari: ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan
pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan
plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba,
2013:h.75).
Berikut adalah penjelasan proses kehamilan menurut Manuaba
(2013:h.75-83) adalah:
1) Ovulasi
Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh
sistem hormonal yang kompleks.
Selama masa subur yang berlangsung 20 sampai 35 tahun,
hanya 420 buah ovum yang dapat mengikuti proses pematangan dan
terjadi ovulasi. Selama pertumbuhan menjadi folikel de Graaf,
ovarium mengeluarkan hormone estrogen yang dapat memengaruhi
gerak dari tuba yang makin mendekati ovarium, gerak sel rambut
lumen tuba makin tinggi, peristaltik tuba makin deras menuju uterus.
mendadak, terjadi proses pelepasan ovum yang disebut ovulasi.
Dengan gerak aaktif tuba yang mempunyai umbai (fimbriae) maka
ovum yang telah dilepaskan segera ditangkap oleh fimbriae tuba.
Proses penangkapan ini dsebut ovum pick up mechanism. Ovum
yang tertangkap terus berjalan mengikuti tuba menuju uterus, dalam
bentuk pematangan pertama, artinya telah siap untuk dibuahi
(Manuaba, 2013:h.75)
2) Spermatozoa
Proses pembentukan spermatozoa merupakan proses yang
kompleks. Spermatogonium berasal dari sel primitive tubulus,
menjadi spermatosit pertama, menjadi spermatosit kedua, menjadi
spermatid, akhirnya spermatozoa. (Manuaba, 2013;h.75).
Pertumbuhan spermatozoa dipengaruhi matarantai hormonal
yang kompleks dari pancaindra, hipotalamus, hipofisis, dan sel
interstitial Leydig sehingga spermatogonium dapat mengalami proses
mitosis. Spermatozoa yang masuk kedalam alat genealia wanita
dapat hidup selama tiga hari, sehingga cukup waktu untuk
mengadakan konsepsi (Manuaba, 2013:h.76)
3) Konsepsi
Pertemuan inti ovum dengan inti spermatozoa disebut konsepsi
atau fertilisasi dan membentuk zigot. Menurut Manuaba (2013)
proses konsepsi dapat berlangsung seperti uraian dibawah ini:
a) Ovum yan dilepaskan dalam proses ovulasi, diliiputi oleh korona
b) Pada ovum dijumpai inti dalam bentuk metafase ditengah
sitoplasma yang diebut vitelus.
c) Dalam perjalanan, korona radiata makin berkurang pada zona
pelusida. Nutrisi dialirkan kedalam vitelus, melalui saluran pada
zona pelusida.
d) Konsepsi terjadi pada pars ampularis tuba, tempat yang paling
luas yang dindingnya penuh jonjot dan tertutup sel yang
mempunyai silia. Ovum mempunyai waktu hidup terlama di
dalam ampula tuba.
e) Ovum siap dibuahi setelah 12 jam dan hidup selama 48 jam.
Spermatozoa menyebar masuk melalui kanalis servikalis dengan
kekuatan sendiri. Pada kavum uteri, terjadi proses kapasitasi,
yaitu pelepasan lipopotrein dari sperma sehingga mampu
mengadakan fertilisasi. Spermatozoa melanjutkan perjalanan
menuju tuba falopi. Spermatozoa hidup selama tiga hari dalam
genitalia interna. Spermatozoa akan mengeilingi ovum yang telah
siap dibuhi serta mengikis korona radiata dan zona spermatozoa
memasuki ovum. Setelah kepala spermatozoa masuk ke dalam
ovum, ekornya lepas dan tertinggal di luar. Kedua inti ovum dan
iinti spermatozoa berteu dengan membentuk zigot (Manuaba,
2013:h.77)
4) Nidasi atau Implantasi
Dengan masuknya inti spermatozoa kedalam sitoplasma,
dalam keadaan “metafase”. Proses pemecahan dan pematangan
mengikuti bentuk anafase dan telofase sehingga pronukleusnya
menjadi haploid. Pronukleus spermatozoa dalam keadaan haploid
saling mendekati dengan inti ovum yang kini haploid dan bertemu
dalam pasangan pembawa tanda dari pihak pria maupun wanita
(Manuaba, 2013:h.79)
5) Pembentukan Plasenta
Terjadinya nidasi (implantasi) mendorong sel blastula
mengadakan diferensiasi. Sel yang dekat dengan ruangan eksoselom
membentuk entoderm dan yolk sac (kantong kuning telur) sedangkan
sel lain membentuk ectoderm dan ruangan amnion. Plat embrio
terbentuk diantara dua ruang yaitu ruang amnion dan kantung yolk
sac. Plat embrio terdiri dari unsur ectoderm, entoderm, dan
mesoderm. Ruangan amnion dengan cepat mendekati korion
sehingga jaringannya yang terdapat diantara amnion dan embrio
padat dan berkembang menjadi tali pusat. Awalnya yolk sac berfungi
sebaga pebentuk darah bersama dengan hati, limpa, dan sumsum
tulang. Pada mingu kedua sampai ketiga, terbentu bakal jantung
dengan pembuluh darahnya yang menuju body stalk (bakal tali
pusat). Jantung bayi mulai dapat dideteksi pada minggu ke-6 sampai
8 dengan menggunkan ultrasonografi atau system Doppler
c. Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Kehamilan
Menurut Kuswanti (2014:h.109-113) fakor faktor yang
mempengaruhi kehamilan antara lain :
1) Faktor fisik
a) Status kesehatan
Status kesehatan wanita hamil akan berpengaruh pada
kehamilanya diantaranya :
(1) Faktor usia
Segi negatif kehamilan diusia tua antara lain :
(a) Kondisi fisik ibu hamil dengan usia lebih dari 35 tahun
akan sangat menentukan proses kelahiranya. Hal ini turut
memengaruhi kondisi jalan.
(b) Pada proses pembuhan, kualitas sel telur perempuan
pada usia ini telah menurun jika dibanding dengan usia
reproduksi sehat (25–30 tahun).
(c) Jika pada proses pembuahan, ibu mengalami gangguan
sehingga menyebabkan terjadinya gangguan perkemihan
dan perkembangan buah kehamilan, maka kemungkinan
akan menyebabkan terjadinya Intra Urine Growth
Retardation (IUGR) yang berakibat bayi berat lahir rendah
(BBLR).
(d) Kontraksi uterus juga sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik
primitua (hamil pertama dengan usia lebih dari 40 tahun),
keadaaan ini harus benar–benar diwaspadai. Segi positif hamil diusia tua antara lain :
(a) Kepuasan peran sebagai ibu
(b) Merasa lebih siap
(c) Pengetahuan mengenai perawatan kehamilan dan bayi
lebih baik
(d) Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan
(e) Mampu mengambil keputusan
(f) Karir baik, status ekonomi lebih baik
(g) Perkembangan intelektual anak lebih tinggi
(h) Periode menyusui lebih lama
(i) Toleransi pada kehamilan lebih besar
(2) Riwayat kesehatan
Penyakit yang pernah diserita ibu dalam mempengaruhi
kehamilan antara lain :
(a) Hipertensi
(b) Penyakit jantung
(c) Diabetes Millitus
(d) Anemia
(3) Kehamilan ganda (multiple)
Biasaya kehamilan ganda mengindikasikan adaya
beberapa penyulit pada proses persalinan, sehingga
persalinan operatif (sectio scaesaria) lebih dipertimbangkan.
(4) Kehamilan dengan HIV
Pada kehamilan dengan ibu yang mengidap HIV, janin
akan menjadi sangat rentan terhadap penularan selama
proses kehamilannya. Virus HIV kemungkinan besar akan
ditransver melalui plasenta kedalam tubuh bayi.
2) Status gizi
Pemunuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat sangat mutlak
dibutuhkan oleh ibu hamil agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi
bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang dikandungnya dan
persiapan fisik ibu untuk menghadapi persalinan aman.
3) Gaya hidup
Gaya hidup ini akan mengganggu kesejahteraan bayi yang
dikandungnya karena kebutuhan istirahat mutlak harus dipenuhi.
a) Substance abuse
Beberapa jenis obat–obatan dapat menghambat terjadinya kehamilan atau membahayakan kandungan.
b) Perokok
Ibu hamil yang merokok akan sangat merugikan diri sendiri
dan bayinya. Bayi akan kekurangan oksigen dan racun yang
tubuh bayi. Pada ibu hamil dengan perokok berat kita perlu harus
mewaspadai akan resiko keguguran, kelahiran prematur, BBLR
bahkan kematian janin.
c) Hamil diluar nikah atau kehamilan tidak diharapkan
Jika kehamilan tidak diharapkan, secara otomatis ibu kan
sangat membeci kehamilannya, sehingga tidak ada keinginan
untuk melakukan hal–hal positif yang akan meningkatkan kesehatan bayi.
d. Perubahan Anatomi dan Adaptasi Fisiologi Pada ibu Hamil
1) Perubahan vulva dan vagina
Akibat pengaruh hormon ekstrogen, vagina dan vulva
mengalami perubahan pula. Sampai minggu ke-8 terjadi
hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih
merah, agak kebiruan (lividae) tanda ini disebut tanda chatwick
(Kusmiyati, 2008, h; 54).
2) Servik uteri
Perubahan pada mulut Rahim meliputi bertambahnya
pembuluh darah pada keseluruhan alat reproduksi yang
menyebabkan terjadi perlunakan sehingga dapat diduga terjadi
kehamilan. Perlunakan pada mulut Rahim disebut tanda “goodell”. Perlunakan pada bagian istmus Rahim disebut tanda “hegar”
3) Pembesaran uterus
Makin besar rahim tampak dari luar sebagai pembesaran
perut. bagian–bagian Rahim itu sendiri yang susunannya sedemikian rupa sehingga dapat menampung kehamilan dengan
berat air ketuban kurang lebih 1 kg. Ari–ari (plasenta) ½ kg, dan janin seberat 3 kg (total 4 ½ kg). Rahim semulanya seberat kira-kira
30-40 gram dan keseluruhan pertambahan berat ibu hamil sekitar
12-15 kg (Manuaba, 2009; h.77).
4) Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus iuteum
graviditatum, korpus iuteum graviditatis berdiameter kira–kira 3 cm, kemudian dia mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus iuteum
ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron (Kusmiyati,
2008; h. 55).
5) Kulit
Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna
menjadi kemerahan, kusam kadang juga mengenai daerah
payudara dan juga paha, yang bisa disebut striae gravidarum pada
kulit digaris pertengahan perutnya (linea alba) akan berubah
menjadi hitam kecoklatan yang disebut linea nigra. Kadang-kadang
akan muncul pada wajah dan leher yang disebut chloasma atau
melisma gravidarum. Perubahan ini dihasilkan dari adanya
progesterone mempunyai peran dalam melanogenesis
(Prawiroharjo,2010;h.179).
6) Payudara atau mamae
Mamae akan membesar dan tegang akibat peningkatan
hormon estrogen dan progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan
ASI. Ekstrogen menimbulkan hipertropi sistem saluran,sedangkan
progesteron menambah sel–sel asinus pada mammae sehingga terjadi pembuatan kasein ,laktalbumun dan laktoglobulin. Dengan
demikian mammae dipersiapkan untuk laktasi (Kusmiyati,
2008:h.55).
7) Sirkulasi darah atau cardiovaskuler
Sirkulsi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya
sirkulasi keplasenta uterus yang membesar dengan
pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mammae dan alat lain yang
memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan.
Tekanan darah akan turun selama 24 minggu pertama
kehamilan akibat penurunan dalam parifer vaskuler resistance yang
disebabkan oleh pengaruh peregangan otot halus oleh progesteron
dengan tekanan sistolik yang akan turun mencapai 5-10 mmhg dan
8) Metabolisme
Kehamilan mempunyai efek pada metabolisme, karena wanita
hamil perlu mendapat makanan yang hergizi dan berada dalam
kondisi sehat.
a) Tingkat metabolik basal pada wanita hamil meninggi hingga
15-20 % terutama pada trimester akhir.
b) Dibutuhkan protein yang banyak untuk perkembangan fetus,
alat kandungan, payudara dan badan ibu serta untuk persiapan
laktasi.
c) Hidrat arang: wanita hamil sering haus, nafsu makan
bertambah, sering buang air kecil. Dalam kehamilan, pengaruh
kelenjar endokrin agak terasa.
d) Metabolisme lemak kadar kolesterol meningkat sampai 350 mg
atau lebih per 100 c. Hormon somatomotropin berperan dalam
pembentukan lemak pada payudara.
e) Metabolisme mineral
f) Kalsium : dibutuhkan rata–rata 1,5 gram sehari, sedangkan untuk pembentukan tulang–tulang, terutama dalam trimester terakhir dibutuhkan 30-40 gram.
g) Fosfor: dibutuhkan rata-rata 2 g/hari
h) Zat besi: dibutuhkan tambahan zat besi kurang lebih 800 mg
atau 30-50 mg sehari.
j) Berat badan wanita hamil akan naik sekitar 6,5-16,5 kg
kenaikan berat badan disebabkan oleh janin, uri, air, ketuban,
uterus, payudara, kenaikan volume darah, lemak, protein, dan
retensi air.
k) Kebutuhan kalori meningkat selama hamil yang diperoleh dari
pembakaran zat arang, namun jika dibutuhkan, dipakai lemak
untuk mendapatkan tambahan kalori (Mochtar, 2012,h;32).
e. Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil
Menurut Kuswanti (2014;h.135-138) kebutuhan psikososial ibu
hamil antara lain :
1) Support keluarga
Ibu merupakan salah satu anggota keluarga yang sangat
berpengaruh, sehingga perubahan apapun yang terjadi pada ibu
akan mempengaruhi keluarga. Kehamilan merupakan krisis bagi
kehidupan keluarga dan diikuti oleh stress dan kecemasan.
Kehamilan melibatkan keseluruh anggota keluarga. Karena
konsepsi merupakan awal, bukan saja bagi janin yang sedang
berkembang, tetapi juga bagi keluarga, yakni dengan hadirnya
serang anggta keluarga baru dan terjadinya perubahan hubungan
dalam keluarga, maka setiap anggota keluarga harus beradaptasi
terhadap kehamilan dan menginterpretasikannya berdasarkan
2) Support Dari Tenaga Kesehatan
a) Trimester I
(1) Menjelaskan dan meyakinkan pada ibu bahwa apa yang
terjadi padanya adalah suatu yang normal
(2) Membantu untuk untuk memahami setiap perubahan yang
terjadi baik fisik maupun psikologis.
(3) Meyakinkan bahwa ibu akan mulai merasa lebih baik dan
berbahagia pada trimester kedua.
b) Trimester II
(1) Mengajarkan ibu tentang nutrisi, pertumbuhan bayi,
tanda-tanda bahaya.
(2) Bersama ibu dan keluarga dalam merencanakan kelahiran
dan rencana kegawatdaruratan.
c) Trimester III
(1) Memberikan penjelasan bahwa yang dirasakan oleh ibu
adalah normal
(2) Menenangkan ibu.
(3) Membicarakan kembali dengan ibu bagaimana tanda-tanda
persalinan yang sebenarnya.
(4) Meyakinkan bahwa anda akan selalu berada bersama ibu
untuk membantu melahirkan bayinya.
3) Rasa Aman Dan Nyaman Selama Kehamilan
Selama kehamilan mungkin ibu mengeluhkan bahwa ia
dan tidak mengancam keselamatan jiwa, tetapi dapat saja
menjemukan dan menyulitkan bagi ibu. Bidan sebagai tenaga
kesehatan harus mendengarkan ibu, membicarakan tentang
berbagai macam keluhan dan membantunya mencari cara untuk
mengatasinya sehingga ibu dapat menikmati kehamilannya dengan
aman dan nyaman. Keluarga dapat memberiksn perhatian dan
dukungan sehingga ibu merasa aman dan tidak sendiri dalam
menghadapi kehamilannya.
4) Persiapan Menjadi Orang Tua
Persiapan menjadi orang tua sangat penting karena setelah
bayi lahir akan banyak perubahan peran yang terjadi, mulai dari ibu,
ayah dan keluarga. Bagi pasangan yang baru pertama mempunyai
anak, persiapan dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi
dengan orang yang mampu untuk membagi pengalamannya dan
memberikan nasehat mengenai persiapan menjadi orang tua.
Bagi pasangan yang sudah mempunyai lebih dari satu anak,
dapat belajar dari pengalaman mengasuh anak sebelumnya.
5) Persiapan Sibling
Sibling Rilvary adalah rasa persaingan diantara saudara
kandung akibat kelahiran anak berikutnya. Biasanya terjadi pada
anak usia 2-3 tahun. Sibling rivalry biasanya biasanya ditunjukan
dengan penlakan terhadap kelahiran adiknya, menangis, menarik
kekerasan terhadap adiknya. Kehadiran serang adik yang baru
dapat merupakan krisi utama bagi seorang anak.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah
sibling rivalry adalah:
a) Menceritakan mengenai calon adik yang disesuaikan dengan
usia dan kemampuannya untuk memahami, tetapi tidak pada
kehamilan muda karena anak akan cepat bosan.
b) Jangan sampai dia mengetahui tentang calon adiknya dari
orang lain.
c) Gerakkan dia merasakkan gerakkan janin adiknya.
d) Menjelaskan pada anak tentang posisinya (meskipun ada
adiknya, ia tetap disayangi oleh ayah ibunya).
e) Melibatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adiknya.
f) Mengajak anak untuk berkomunikasi dengan bayi sejak masih
dalam kandungan.
g) Ajak anak untuk melihat benda benda yang berhubungan
dengan kelahiran bayi (Kuswanti, 2014;h.134)
f. Tanda Dan Gejala Kehamilan
Menurut Kuswanti (2014;h.100–103) tanda dan gejala kehamilan antara lain:
1) Tanda-tanda presumtive (dugaan hamil)
a) Amenore (tidak dapat haid)
Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil
terakhir, supaya dapat ditentukan tuanya kehamilan dan hari
perkiraan lahir.
b) Mual dan muntah (nausea dan vomitting)
Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan
hingga akhir triwulan pertama, dan sering terjadi pada pagi hari
(morning sickness). Dalam batar-batas tertentu keadaan ini
masih fisilgik. Bila terlampau sering, dapat mengakibatkan
gangguan kesehatan dan disebut hyperemesis gravidarum.
c) Mengidam (ingin makanan/minuman tertentu)
Mengidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan
tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan.
d) Tidak tahan suatu bau-bauan.
e) Pingsan
Sering dijumpaI bila berada di tempat-tempat yang ramai.
Dianjurkan untuk tidak pergi ketempat-tempat ramai pada
bulan-bulan pertama kehamilan dan hilang sesudah kehamilan 16
minggu.
f) Tidak ada selera makan (anoreksia)
Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama, tetapi setelah itu
nafsu makan akan timbul lagi.
g) Lelah (fatigue)
h) Payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri, yang disebabkan
dan alveoli payudara. Kelenjar montgomery terlihat lebih
membesar.
i) Sering kencing, terjadi karena kandung kemih tertekan oleh
rahim yang membesar. Gejala akan hilang pada triwulan kedua
kehamilan karena uterus yang membesar keluar dari rongga
panggul. Pada akhir kehamilan, gejala ini kembali karena
kandung kemih ditekan leh kepala janin.
j) Konstipasi/obstipasi karena tonus otot-otot usus menurun oleh
pengaruh hormon steroid.
k) Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormone kortikosteroid plasenta,
dijumpai dimuka (cloasma gravidarum), areola payudara, leher
dan dinding perut.
l) Epulis (hipertrofi dari papil gusi)
Merupakan suatu hiertrofy papilla ginggivae. Sering terjadi pada
triwulan pertama kehamilan.
m) Pemekaran vena-vena (varises) dapat terjadi pada kaki, betis
dan vulva yang biasanya didapat pada daerah genetalia
eksterna, fssa pplitea, kaki, dan betis. Pada kehamilan
multigravida kadang-kadang varises ditemukan pada kehamilan
yang terdahulu, yang kemudian timbul kembali pada triwulan
2) Tanda kemungkinan hamil (tanda tidak pasti)
a) Perut membesar
Terjadi pembesaran abdomen secara prgesif dari kehamilan 7
sampai 28 minggu. Pada minggu 16 sampai 22, pertumbuhan
terjadi secara cepat dimana uterus keluar panggul dan mengisi
rngga abdomen.
b) Uterus membesar
Terjadi perubahan dalam bentuk, besar dan konsistensi dari rahim.
c) Tanda hegar
Kosistensi rahim yang menjadi lunak, terutama daerah
isthmus uteri sedemikian lunaknya, hingga kalau kita letakkan 2
jari dalam forniks posterior dan tangan satunya pada dinding perut
atas symphysis, maka isthmus ini tidak teraba seolah-olah corpus
uteri sama sekali terpisah dari serviks.
d) Tanda chadwick
Vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan
(livide) yang disebabkan oleh adanya hipervaskularisasi. Warna
porsio juga akan tampak livide. Hal ini disebabkan oleh adanya
pengaruh hormone estrogen.
e) Tanda piscaseck
Uterus membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol jelas
f) Kontraksi-kontraksi kecil uterus bila dirangsang (braxton hicks)
Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Saat palpasi atau
pemeriksaan dalam, uterus yang awalnya lunak akan menjadi
keras karena berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam
masa kehamilan.
g) Teraba ballotment
Pada kehamilan 16 sampai 20 minggu, dengan pemeriksaan
bimanual dapat terasa adanya benda yang melenting dalam uterus
(tubuh janin).
3) Tanda pasti (tanda psitif)
a) Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba.
Gerakan janin pada primigravida dapat dirasakan leh ibunya
pada kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16
minggu.
b) Denyut jantung janin:
(1) Didengar dengan stetsokop monoral laenec
(2) Dicatat dan didengar dengan alat Doppler
(3) Dicatat dengan fet-elektor kardigram (pada kehamilan 12
minggu)
g. Ketidaknyamanan Dalam Kehamilan Dan Cara mengatasinya
1) Trimester 1
a) Nausea
Nausea disertai muntah-muntah,ditafsirkan keliru sebagai
morning sickness, tetapi sering terjadi pada siang atau sore hari
atau bahkan sepanjang. Nursea lebih kerap terjadi pada saat perut
kosong sehingga biasanya lebih parah dipagi hari. (Varney,
2007;h.536).
Cara mengatasi Naursea dan Makan porsi kecil, sering,
bahakan setiap dua jam karena hal ini lebih mudah dipertahankan
dibanding makanan porsi besar tiga kali sehari.
(1) Makan biskuit kering atau roti bakar sebelum beranjak dari
tempat tidur ke pagi hari.
(2) Mengkonsumsi air minum yang mengandung karbohidrat,
khususnya gingerale.
(3) Menghindari makanan beraroma kuat atau menyengat
(4) Membatasi lemak dalam diet anda.
(5) Mencoba kenakan pembalut lengan yang berfungsi sebagai
akupresur
(6) Selalu ingat bahwa nausea kemungkinan besar berakhir pada
trimester kedua.
(7) Istirahat
(vitamin B6) dan doksilamin,aman digunakan pada trimester
pertama (Varney, 2007;h.537).
b) Ptialisme (Salivasi Berlebihan)
Ptialisme merupakan kondisi yang tidak lazim, yang dapat
disebabkan oleh peningkatan keasaman didalam mulut atau
peningkatan asupan zat pati yang menstimulasi kelenjar saliva
pada wanita yang rentan mengalami sekresi yang berlebihan.
Pada wanita yang mengalami Ptialisme biasanya juga mengalami
mual (Varney, 2007;h.536).
c) Keletihan
Keletihan diakibatkan oleh penurunan drastik laju
metabolisme dasar pada awal kehamilan, tetapi alasan hal ini
terjadi masih belum jelas. Dugaan lain adalah bahwa peningkatan
progesteron memiliki efek menyebabkan tidur. Metode untuk
meredakkannya adalah menyakinkan kembali wanita tersebut
bahwa keletihan adalah hal yang normal dan bahawa keletihan
akan hilang secara spontan pada trimester ke dua
(Varney,2007;h.537).
d) Nyeri punggung bagian atas (non patologis)
Nyeri punggung akibat peningkatan ukuran payudara yang
membuat payudara menjadi berat. Metode untuk mengurangi nyeri
ini adalah menggunakan bra yang berukuran sesuai ukuran
payudara dengan mengurangi mobilitas payudara, bra
ketidaknyamanan akibat nyeri tekanan pada payudara yang timbul
karena pembesaran payudara (Varney, 2007;h.538).
e) Loukorea
Sekresi vagina dalam jumlah besar dengan konsentrasi
kental atau cair, sekresi ini bersifat asam akibat pengubahan
sejumlah besar glikogen pada sel epitel vagina menjadi asam
laktak oleh basil doderlain untuk mengatasi lokhea adalah dengan
memperhatikan kebersihan tubuh pada area tersebut dan
mengganti panty berbahan katun dengan sering wanita sebaiknya
tidak melakukan douch atau menggunakan semprot untuk
menjaga kebersihan area genetalia (Varney, 2007;h.538).
f) Peningkatan frekuensi berkemih (non patologis)
Terjadi akibat peningkatan berat pada fundus uterus.
Peningkatan berat pada fundus uterus ini membuat istimus
menjadi lunak (tanda hegar), menyebabkan antefleksi pada uterus
yang membesar, hal ini menimbulkan tekanan langsung pada
kandung kemih. Tekanan ini akan berkurang seiring uterus terus
membesar dan keluar dari panggul sehingga menjadi salah satu
organ abdomen, sementara kandung kemih tetap merupakan
organ panggul. Cara mengatasinya: mengurangi asupan cairan
sebelum tidur malam sehingga tidak perlu bolak-balik kekamar
g) Nokturia
Aliran balik vena dari ekstremitas difasilitasi saat wanita
sedang berbaring pada posisi lateral rekumben karena uterus tidak
lagi menekan pembuluh darah panggul dan vena kafa inferior.
Satu–satunya cara untuk mengatasi nokturia adalah menjelaskan mangapa hal ini terjadi lalu membiarkan memilih cara yang
nyaman baginya dan menganjurkan mengurangi cairan setelah
makanan sore sehingga asupannya selama sisa hari tersebut tidak
akan memperberat masalah (Varney, 2007;h.541).
2) Trimester II
a) Konstipasi
Konstipasi dapat diduga terjadi akibat penurunan parites
yang disebabkan relaksasi otot polos pada uterus besar ketika
terjadi peningkatan jumlah progesteron pergeseran dan
tekanan pada usus akibat pembesaran uterus atau bagian
presentasi juga dapat menurunkan motilitas dan saluran
gastroinstetinal sehingga menyebabkan konstipasi (Varney,
2007;h.539).
Cara penanganan konstipasi yang paling efektif yaitu :
(1) Asupan cairan yang adekuat, yakni minuman air mineral 8
gelas sehari (ukuran gelas minum).
(2) Mengkonsumsi buah prem atau jus prem karena prem
(3) Berjalan setiap hari, pertahankan postur yang baik,
mekanisme tubuh yang baik, latihan kontraksi otot
abdomen bagian bawah secara teratur, Semua bagian
memfasilitasi sirkulasi vena sehingga mencegah kongesti
pada usus besar.
(4) Makan makanan berserat dan mengandung serat alami
(Varney, 2007;h.539).
b) Hemoroid
Progesteron menyebabkan relaksasi dinding vena dan
usus besar. Pembesaran uterus mengakibatkan penikatan
tekanan, secara spesifik juga secara umum pada vena
hemoroid. Tekanan ini akan mengganggu sirkulasi vena dan
mengakibatkan kongesti pada vena panggul (Varney,
2007;h.539).
Cara penanganan hemoroid antara lain :
(1) Hindari konstipasi
(2) Hindari mengejan saat defekasi
(3) Mandi berendam : hangatnya air tidak hanya memberi
kenyamanan, tetapi juga meningkatkan sirkulasi
(4) Mengomres witch hazel (untuk mengurangi hemoroid)
(5) Mengomres es (untuk mengurangi hemoroid)
(6) Memasukkan kembali hemoroid kedalam rectum
(menggunakan lubrikasi): dilakukan sambil latihan
(7) Tirah baring dengan cara mengelevasi panggul dan
ekstermitas bagian bawah (Varney, 2007;h.539).
c) Kesemutan dan baal pada jari
Perubahan pada pusat gravitalis akibat uterus yang
membesar dan bertambah berat dapat menyebabkan wanita
mengambil prostur dengan posisi bahu terlalu jauh kebelakang
dan kepala antefleksi sebagai upaya menyeimbangkan berat
bagian depanya dan lengkung punggungnya. Postur ini diduga
menyebabkan penekanan pada syaraf median dan ulnar
lengan, yang akan mengakibatkan kesemutann dan ball pada
jari–jari.
Cara penanganan yang mencangkup penjelasan
penyebab yang mungkin dan mendorong agar wanita tersebut
mempertahankan poster tubuh yang baik dan dengan cara
berbaring (Varney, 2007;h.539).
3) Trimester III
a) Nokturia
Aliran balik vena dari ekstremitas difasilitasi saat wanita
sedang berbaring pada posisi lateral rekumben karena uterus tidak
lagi menekan pembuluh darah panggul dan vena kava inferior.
Satu–satunya cara untuk mengatasi nokturia adalah menjelaskan mengapa hal ini terjadi lalu membiarkannya memilih cara yang
makan sore sehingga asupan selama sisa hari tersebut tidak akan
memberatkan masalah (Varney, 2007;h.541).
b) Nyeri ulu hati
Penyebab nyeri ulu hati adalah sebagai berikut :
(1) Relaksasi sfingter jantung pada lambung akibat pengaruh
yang ditimbulkan peningkatan jumlah progesteron.
(2) Penurunan mortilitas gastrointestinal yang terjadi akibat
relaksasi otot halus yang kemungkinan disebabkan
peningkatan jumlah progesteron dan tekanan uterus.
(3) Tidak ada ruang fungsional untuk lambung akibat perubahan
tempat dan penekanan oleh uterus (Varney, 2007;h.538)
c) Dispareunia
Nyeri pada saat berhubungan seksual dapat berasal dari
sejumlah penyebab selama kehamilan. Perubahan fisiologis dapat
terjadi penyebab, seperti kongesti vagina atau panggul akibat
gangguan sirkulasi yang dikarenakan tekanan uterus yang
membesar atau tekanan bagian presentasi pemahaman yang
salah dan kekhawatiran ini tidak beralasan kecuali terdapat
perdarahan vagina atau pecah ketuban (Varney, 2007;h.540).
Cara menanganinya antara lain :
(1) Perubahan posisi dapat mengurangi masalah yang
disebabkan oleh pembesaran abdomen atau nyeri akibat
(2) Kompres es dapat mengurangi kongesti yang dapat ditangani,
juga menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri
(3) Mendiskusikan pemikiran yang salah dan ketakutan yang
dirasakan dan memberi fakta dapat memenangkan wanita
tersebut.
(4) Pasangan biasanya mnyambut baik informasi mengenai cara
alternatif untuk memuaskan hasrat seksual masing – masing pasangan
d) Hiperventilasi dan sesak nafas
Peningkatan jumlah progesteronselam kehamilan diduga
mempengaruhilangsung pusat pernafasan untuk menurunkan
kadar karbon dioksida dan meningkatkan kadar oksigen.
Cara – cara penanganan antara lain : (1) Mengerti dasar fisiologis masalah tersebut
(2) Melakukan berdiri dan meregangkan lengannya diatas
kepalanya secara bekala dan mengambil nafas dalam
(3) Mempertahankan postur yang baik, jangan menjatuhkan bahu
(4) Melakukan pernafasan interkosta
(5) Melakukan peregangan yang sama ditempat tidur seperti saat
sedang berdiri (Varney, 2007;h.543).
e) Varises
Perubahan ini diakibatkan penekanan uterus yang
membesar pada vena panggul saat wanita tersebut duduk atau
Penanganan untuk mengatasi varises vulva sebagai
berikut:
(1) Menghindari menggunakan pakaian ketat (contoh kaos kaki
setinggi lutut atau semata kaki)
(2) Menghindari berdiri lama
(3) Menyediakan waktu istirahat, dengan kaki dielevasi secara
periodic sepanjang hari.
(4) Mempertahankan tungkai anda tidak menyilang saat duduk.
(5) Melakukan latihan kegel untuk mengurangi varises vulva atau
hemoroid untuk meningkatkan sirkulasi (Varney, 2007;h.543).
h. Pemeriksaan Diagnostik Kehamilan
Menurut kuswanti (2014;h.104-108) Pemeriksaan diagnostik
kehamilan antara lain :
1) Tes Urin (tes HCG)
Tes urin dilakukan sedini mungkin saat diketahui ada aminre.
Inti test urin adalah untuk mengetahui kadar HCG (human Chorioic
Gonadotropin) yaitu suatu hormon yang dihasilkan embrio saat
terjadinya kehamilan yang akan meningkat dalam urin dan darah
seminggu setelah konsepsi. Urin yang digunakan diusakan adalah
urin pagi hari.
2) Palpasi Abdomen
Secara umum, palpasi abdominal dilakukan dengan tujuan
untuk menentukan besar dan konsistensi rahim, bagian-bagian janin,
Pemeriksaan palpasi menurut leopold dilakukan dengan posisi ibu
hamil berbaring terlentang. Langkah-langkah dalam melakukan
palpasi leopold adalah:
a) Leopold I
Tujuan dari pemeriksaan Leopold I adalah untuk
menentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan umur
kehamilan. Selain itu, dapat juga ditentukan bagian janin mana
yang terletak pada fundus uteri. Teknik pelaksanaan antara lain :
(1) Kedua telapak tangan pemeriksaan dletakkan pada puncak
fundus uteri.
(2) Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia
kehamilan.
(3) Rasakan bagian jaini yang berada pada bagian fundus
(bokong atau kepala atau kosong)
b) Leopold II
Palpasi Leopold II ini bertujuan untuk mengetahui bagian
yang ada di sebelah kanan atau kiri perut ibu. Teknik
pelaksanaan antara lain :
(1) Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun kebawah
sampai disamping kiri dan kanan umbilikus.
(2) Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi
auskultasi denyut jantung janin nantinya.
c) Leopold III
Palpasi Leopold III ini bertujuan untuk bagian janin yang
berada di sebelah bawah uterus ibu. Teknik pelaksanaan antara
lain :
(1) Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati-hati oleh karena
dapat menyebabkan perasaan tak nyaman bagi pasien.
(2) Bagian terendah janin dicekap diantara ibu jari dan telunjuk
tangan kanan.
(3) Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan
ditentukan apakah sudah mengalami enggagement atau
belum.
d) Leopold IV
Pada Leopold IV, selain bertujuan untuk menentukan
bagian janin mana yang terletak dibawah, juga dapat
menentukan bagian berapa bgaian dari kepala janin yang telah
masuk dalam pintu atas panggul. Teknik pelaksanaan antara
lain:
(1) Pemeriksaan mengubah posisi sehingga menghadap ke
arah kiri pasien.
(2) Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan
bagian terendah janin.
(3) Digunakan untuk menentukan sampai berapa jauh derajat
3) Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG dilakukan untuk menegakkan diagnosis
pasti kehamilan. Gambaran yang terlihat yaitu rangka janin dan
kantong kehamilan.
4) Pemeriksaan Rontgen
Merupakan salah satu pemeriksaan untuk melakukan
penegakkan diagnosis pasti kehamilan. Di dalam pemeriksaan akan
terlihat kerangka janin, yaitu tengkorak dan tulang belakang.
i. Komplikasi selama kehamilan
Menurut Prawiroharjo (2010;h.280-284) komplikasi selama
kehamilan antara lain :
1) Perdarahan
Perdarahan pada kehamilan muda atau usia kehamilan
dibawah 20 minggu, umumnya disebabkan oleh keguguran.
Penyebab yang sama dan menimbulkan gejala perdarahan pada
kehamilan muda dan ukuran pembesar uterus yang diatas normal,
pada umumnya disebabkan oleh mola hidatidosa. Perdarahan pada
kehamilan muda dengan uji kehamilan yang tidak jelas, pembesaran
uterus yang tidak sesuai (lebih kecil) dari usia kehamilan, dan adanya
massa di adneksa biasanya disebabkan oleh kehamilan ektopi.
Perdarahan pada usia kehamilan lanjut atau diatas 20 minggu pada
umumnya disebabkan oleh plasenta previa (Prawiroharjo,
2) Preeklamsi
Pada umumnya ibu hamil dengan usia kehamilan diatas 20
minggu sisertai dengan peningkatan tekanan darah diatas normal
sering diasosiasikan dengan preeklamsia. Gejala dan tanda lain dari
preeklamsi adalah sebagai berikut (Prawiroharjo, 2010;h.283) :
a) Hipperefleksia (iritabilitas susunan saraf pusat)
b) Sakit kepala atau sefalgia (frontal atau oksipital) yang tidak
membaik dengan pengobatan umum
c) Gangguan penglihatan seperti pandangan kabur, skotomata,
silau, atau berkunang–kunang. d) Nyeri epigastrik
e) Oliguria (iuaran kurang dari 500 ml/24 jam)
f) Tekanan darah sistolik 20–30 mmhg dan diastolik 10-20 mmhg diatas normal
g) Protein uria (diatas positif 3)
h) Edem menyeluruh
3) Nyeri hebat didaerah abdominopelvikum
Bila hal tersebut diatas terjadi pada kehamilan trimester kedua
atau ketiga dan disertai dengan riwayat dan tanda – tanda dibawah ini, maka diagnosanya mengarah pada solusio plasenta, baik dari
jenis yang disertai perdarahan (revealed) maupun tersembunyi
(concealed) :
a) Trauma abdomen.
c) Tinggi fundus uteri lebih besar dari usia kehamilan.
d) Bagian bagian janin sulit teraba.
e) Uterus tegang dan nyeri.
f) Janin mati dalam rahim (Prawiroharjo, 2010;h.284).
2. PERSALINAN
a. Definisi
Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong
keluar melalui jalan lahir. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa
persalinan (labor) adalah rangkaian peristiwa mulai dari
kenceng-kenceng teratur sampai dikeluarkannya produk konsepsi (janin,
plasenta, ketuban, dan cairan ketuban) dari uterus kedunia luar melalui
jalan lahir dengan bantuan atau kekuatan sendiri. (Sumarah, 2008;h.1)
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik dan
janin turun kedalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin
dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan dan
kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan 30-40 minggu. Lahir spontan dengan plasenta
berkembang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi
baik pada ibu maupun janin (Prawiroharjo, 2010;h.100).
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan
pengeluaran hasil kosepsi ibu. Proses ini dimulai dengan kontaksi
persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada servik,
b. Teori sebab- sebab terjadinya persalinan
Menurut Sumarah (2008;h.3) teori sebab–sebab terjadinya persalinan antara lain :
1) Teori keregangan otot rahim
Dengan meregangnya otot rahim dalam batas tertentu
menimbulkan kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai dengan
sendirinya.
2) Teori penurunan progesteron
Proses penuanan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28
minggu,dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah
mengalami penyempitan dan buntu. Sehingga otot rahim lebih sensitif
terhadap progesteron.
3) Teori oksitosin internal
Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat
mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontarksi
braxton hicks. Menurunya konsentrasi progesteron akibat tuanya
kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktifitas,sehingga
persalinan dimulai.
4) Teori prostagladin
Konsentrasi prostagladin meningkat sejak umur kehamilan 15
minggu,yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostagladin pada
saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga terjadi
persalinan.
Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus
sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuk
hipotalamus.
6) Teori kekurangan nutrisi
7) Bila nutrisi berkurang maka hasil konsepsi segera dikeluarkan.
8) Faktor lain.
c. Permulaan terjadi Persalinan
Dengan penurunan hormon progesteron menjelang persalinan
dapat terjadi kontraksi. Menurut Manuaba (2013;h.164) Kontraksi otot
rahim meyebabkan:
1) Turunnya kepala, masuk pintu atas paggul, terutama pada
primigravida minggu ke-36 dapat menimbulkan sesak dibagian
bawah, diatas simfisis pubis dan sering ingin berkemih atau sulit
kencing karena kandung kemih tertekan kepala.
2) Perut lebih melebar karena fundus uteri turun.
3) Muncul saat nyeri di daerah pinggang karena kontraksi ringan otot
rahim dan tertekannya pleksus Frankenhauser yang terletak sekitar
serviks (tanda persalinan palsu).
4) Terjadi perlunakan serviks karena terdapat kontraksi otot rahim.
5) Terjadi pengeluaran lendir, lendir penutup serviks dilepaskan.
Faktor-faktor penting dalam persalinan adalah power
(His/kontraksi otot rahim,kontaksi otot dinding perut, kotraksi
ligamentum rotundum), pasanger (janin dan plasenta), passage (jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang) (Manuaba, 2013 h.169).
d. Tanda Persalinan
Menurut Manuaba (2013:h.169) tanda-tanda persalinan
dijabarkan sebagai berikut:
1) Kekuatan His, makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi
yang semakin pendek.
2) Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda (pengeluaran lender,
lender bercampur darah).
3) Dapat disertai ketuban pecah.
4) Pada pemeriksaan dalam, dijumpai perubahan serviks (perlunakan
serviks, pendataran serviks, terjadi pembukaan serviks).
5) Kekuatan yang Mendorong Janin dalam Persalinan.
Aktivitas kontraksi rahim (His) mempunyai beberapa ciri khas
sebagai berikut:
a) Saat hamil. Perubahan perimbangan estrogen dan progesteron
menimbulkan kontraksi otot rahim dengan sifat tidak teratur
menyeluruh, tidak nyeri, dan berkekuatan 5 mmHg yang disebut
Braxton Hicks. Makin tua kehamilan, kontraksi Braxton Hicks
makin sering terjadi sejak umur 30 minggu. Kekuatan kontraksi
Braxton Hicks akan menjadi kekuatan His dalam persalinan
b) Kekuatan His kala pertama. Sifat kontraksi otot rahim kala
pertama, menurut Manuaba (2013;h.170) adalah sebagai berikut:
(1) Kontraksi bersifat simetris.
(2) Fundal dominan, artinya bagian fundus uteri sebagai pusat
dan mempunyai kekuatan yang paling besar.
(3) Involunter artinya tidak dapat diatur oleh parturient (ibu).
(4) Intervalnya makin lama makin pendek.
(5) Kekuatannya makin besar dan pada kala II diikuti dengan
reflex mengejan.
(6) Diikuti retraksi artinya panjang otot rahim yang telah
berkontraksi tidak akan kembali ke panjang semula.
(7) Setiap kontraksi mulai dari pace maker yang terletak sekitar insersi tuba, dengan arah perjalanan ke daerah serviks uteri
dengan kecepatan 2cm/detik.
(8) Kontraksi rahim menimbulkan rasa sakit pada pinggang,
daerah perut, dan dapat menjalar ke arah paha.
c) Kekuatan His kala II (pengusiran). Kekuatan His pada akhir kala
pertama atau permulaan kala kedua mempunyai amplitude 60
mmHg, interval 3 sampai 4 menit dan durasi berkisar 60 sampai
90 detik (Manuaba, 2013 h.171).
Kekuatan His dan mengejan mendorong janin kearah
bawah dan menimbulkan keregangan yang bersifat pasif.
Kekuatan His menimbulkan putar paksi dalam, penurunan kepala
Frankenhauser, sehingga terjadi reflex mengejan. Kedua kekuatan
His dan refleks mengejan makin mendorong bagian terendah
sehingga terjadilah pembukaan pintu, dengan crownin dan penipisan perineum. Selanjutnya kekuatan His dan refleks
mengejan menyebabkan ekspulsi kepala, sehingga berturut-turut
lahir ubun-ubun besar, dahi, muka, dan kepala seluruhnnya
(Manuaba, 2013;h.171).
Kekuatan His (kontraksi) rahim pada kala III. Setelah
istirahat sekitar 8 sampai 10 menit, rahim berkontraksi untuk
melepaskan plasenta dari insersinya, di lapisan Nitabusch.
Pelepasan plasenta dapat mulai dari pinggir atau dari sentral dan
terdorong ke bagian bawah rahim. Untuk melahirkan plasenta
diperlukan dorongan ringan secara Crede (Manuaba, 2013;h.
171).
d) Kekuatan His pada kala IV. Setelah plasenta lahir, kontraksi rahim
tetap kuat dengan amplitude sekitar 60 sampai 80 mmHg,
kekuatan kontraksi ini tidak diikuti oleh interval pembuluh darah
tertutup rapat dan terjadi kesempatan membentuk thrombus.
Melalui kontraksi yang kuat dan pembentukan thrombus terjadi
penghentian pengeluaran darah postpartum. Kekuatan His dapat
diperkuat dengan memberi obat uterotonika. Kontraksi ikutan saat
menyusui bayi sering dirasakan oleh ibu postpartum, karena
pengeluaran oksitosin oleh kelenjar hipofisis posterior (Manuaba,
e. faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jalannya proses persalinan
1) Penumpang (passanger).
Penumpang dalam persalinan adalah janin dan plasenta.
Hal-hal yang harus diperhatikan mengenai janin adalah ukuran
kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin; sedangkan
yang perlu diperhatikan pada plasenta adalah letak, besar, dan
luasnya.
2) Jalan lahir (passage).
Jalan lahir terbagi atas dua, yaitu jalan lahir keras dan jalan
lahir lunak. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari jalan lahir keras
adalah ukuran dan bentuk tulang pangggul; sedangkan yang perlu
diperhatikan pada jalan lahir lunak adalah segmen bawah uterus
yang dapat meregang, serviks, otot dasar panggul, vagina dan
introitus vagina.
3) Kekuatan (power).
Faktor kekuatan dalam persalinan dibagi atas dua, yaitu:
a) Kekuatan primer (kontraksi involuter)
b) kontraksi berasal dari segmen atas uterus yang menebal dan
hihantarkan ke uterus bawah dalam bentuk gelmbang.
c) Kekuatan sekunder (kontraksi volunter)
d) Kekuatan sekunder tidak mempengaruhi dilatasi serviks, tetapi
setelah dilatasi serviks lengkap, kekuatan ini cukup penting
dalam usaha untuk mendorong keluar dari uterus dan vagina
4) Posisi ibu (positioning).
Perubahan posisi yang diberikan pada ibu bertujuan untuk
menghilangkan rasa letih, memberi rasa nyaman, dan memperbaiki
sirkulasi. Posisi tegak (contoh: posisi berdiri, berjalan, duduk, dan
jongkok) memberi sejumlah keuntungan, salah satunya adalah
memungkinkan gaya gravitasi membantu penurunan janin
(Sondakh, 2013. Hal: 5).
5) Respons psikologis (psychology response).
Respon psikologi ibu dapat dipengaruhi oleh:
a) Dukungan ayah bayi/pasangan selama proses persalinan.
b) Dukungan kakek-nenek (saudara dekat) selama persalinan.
c) Saudara kandung bayi selama persalinan.
f. Tahapan persalinan.
Menurut Sondakh (2013;h. 5-8) tahapan persalinan antara lain :
1) Kala 1 (Kala Pembukaan)
Kala 1 dimulai dari saat persalinan dimulai (pembukaan nol)
sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2
fase yaitu :
a) Fase laten : berlangsung selama 8 jam, servik membuka sampai
3 cm.
b) Fase aktif : berlangsung selama 7 jam, servik membuka dari 4
cm sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dibagi dalam 3
(1) Fase akselersi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm
menjadi 4 cm.
(2) Fase dilaktasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan
berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
(3) Fase deselarasi : pembukaan menjadi lambat sekali, dalam
waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
Proses diatas terjadi pada primigravida ataupun
multigravida, tetapi pada multigravida memiliki jangka waktu
yang lebih pendek. Pada primigravida, kla satu berlangsung
+12 jam, sedangkan pada multigravida +8 jam. (Sondakh,
2013;h.5).
2) Kala II (Kala Pengeluaran Janin)
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut :
a) His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan
durasi 50 sampai 100 detik.
b) Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan
pengeluaran cairan secara mendadak.
c) Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti
d) Kedua kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi
sehingga terjadi :
(1) Kepala membuka pintu
(2) Subocciput bertindak sebagai hipomoglion, kemudian secara
berturut–turut lahir ubun–ubun besar, dahi, hidung, serta kepala seluruhnya (Sondakh,2013;h.6).
Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi
luar, yaitu menyesuaikan kepala pada punggung (Sondakh,
2013;h.6).
e) Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi
ditolong dengan cara :
(1) Kepala dipegang pada os occiput dan di bawah dagu,
kemudian ditarik dengan menggunakan cunam ke bawah
untuk melahirkan bahu depan dan keatas untuk melahirkan
bahu belakang.
(2) Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa
badan bayi .
(3) Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban (Sondakh,2013;h.6).
f) Lamanya kala II untuk primigravida 1,5–2 jam dan multigravida 1,5–1 jam.
3) Kala III (Pelepasan Plasenta)
Kala III dimuai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya
pelepasan plasenta dapat diperkirakan dengan mempertahankan
tanda–tanda dibawah ini : a) Uterus menjadi bundar
b) Uterus terdorong keatas karena plasenta dilepas ke segmen
bawah rahim.
c) Tali pusat bertambah panjang.
d) Terjadi semburan darah tiba–tiba (Sondakh, 2013;h.6). 4) Kala IV (Kala Pengawasan/Observasi/Pemulihan)
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam post
partum. Rata–rata jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250 cc biasanya 100–300 cc. Jika perdarahan lebih dari 500 cc maka dikatakan abnormal.
Menurut Sondakh (2013;h.7) tujuh pokok penting dalam
pengawasan kala IV adalah :
a) Kontraksi rahim: baik atau tidaknya diketahui dengan
pemeriksaan palpasi.
b) Perdarahan : ada atau tidaknya, banyak atau biasa.
c) Kandung kemih: harus kosong, jika penuh, ibu dianjurkan untuk
berkemih dan kalau tidak bisa lakukan kateter.
d) Luka–luka : jahitan baik atau tidak, ada perdarahan atau tidak. e) Plasenta dan selaput ketuban harus lengkap.
f) Keadaan umum ibu, tekanan darah, nadi, pernafasan dan
masalah lain.
g. Langkah-langkah persalinan normal
Menurut APN (2008) langkah-langkah persalinan normal ada 58
langkah, sebagai berikut:
1) Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda kala dua,
seperti sebagai berikut:
a) Adanya keinginan untuk meneran.
b) Tekanan pada rektum dan vagina.
c) Perineum menonjol.
d) Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.
2) Memastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial
untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan
bayi baru lahir. Untuk sfiksia: tempat datar dank keras, 2 kain dan 1
handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm
dari tubuh bayi.
a) menggelar kain diatas perut ibu, tempat resusitasi dan ganjal bahu
bayi.
b) Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di
dalam partus set.
3) Memakai celemek plastik.
4) Melepaskan dan simpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan
dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan
dengan tisu atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
6) Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik memakai sarung
tangan DTT dan steril.
7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hai-hati dari
depan ke belakang, dengan menggunakan kapas atau kasa yang
sudah dibasahi air DTT.
a) Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja,
bersihkan dengan seksama. Mengganti sarung tangan jika
terkontaminasi.
b) Membuang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam
wadah yang tersedia.
c) Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi,
lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5%)
8) Melakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap.
Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap
maka lakukan amniotomi.
9) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan
ke dalam larutan klorin 0,5% kemudian lepaskan dan rendam dalam
keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Cuci
kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.
10) Memeriksa denyut jantung janin untuk memastikan DJJ setelah
kontrasksi dalam batas normal(120-160 x/menit).
a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
b) Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan
11) Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik. Membantu ibu memposisikan diri dengan nyaman dan sesuai
dengan keinginannya. Menunggu hingga timbul rasa ingin
meneran, lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan
janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan
dokumentasikan semua temuan yang ada.
12) Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran
mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk
meneran secara benar
13) Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. (bila
ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, bantu ibu
ke posisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan
pastikan ibu merasa nyaman).
14) Melaksanakan bimbingan meneran saat ibu merasa ada dorongan
kuat untuk meneran:
a) Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai
keinginan untuk meneran.
b) Medukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk
meneran.
c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman.
d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
e) Mengajurkan keluarga untuk mendukung dan memberi
semangat pada ibu.
g) Menilai DJJ tiap kontraksi uterus selesai
h) Segera merujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir
setelah 120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60
menit (1 jam) meneran (multigravida)
15) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil
posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk
meneran dalam 60 menit.
16) Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu,
jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.
17) Meletakkan kain bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu.
18) Membuka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat
dan bahan.
19) Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
20) Setelah tampak kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6
cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain bersih
dan kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan
posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu untuk
meneran perlahan sambil bernapas cepat dan dangkal.
21) Memeriksa kemungkinan lilitan tali pusat dan mengambil tindakan
yang sesuai jika hal itu terjadi dan meneruskan segera proses
kelahiran bayi.
a) Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat
b) Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua
tempat dan potong diantara dua klem tersebut
22) Menunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan.
23) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, menempatkan kedua
tangan di masng-masing sisi muka bayi menganjurkan ibu untuk
meneran saat ada kontraksi. Dengan lembut gerakkan kepala
kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus
pubis dan kemudian dengan lembut gerakkan kearah atas dan
kearah luar untuk melahirkan bahu belakang.
24) Setelah kedua bahu dilahirkan, menggeserkan tangan kearah
perineum ibu untuk menyangga kepala bayi. Lengan dan siku
sebelah bawah. Gunakan tagan atas untuk menelusuri dan
memegang lengan dan siku sebelah atas.
25) Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusuri tangan atas berlanjut ke
punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki
(masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata
kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya).
26) Melakukan penilaian selintas. Bila bayi mengalami asfiksia lakukan
resusitasi.
27) Mengeringkan dan memposisikan tubuh bayi diatas perut ibu.
a) Mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh
lainnya (tanpa membersihkan verniks) kecuali bagian tangan.
c) Memastikan bayi dalam kondisi mantap diatas perut ibu
28) Memeriksa kembali perut ibu untuk memastikan tak ada bayi lain
dalam uterus (hamil tunggal).
29) Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan menyuntikkan oksitosin
(agar uterus berkontraksi baik).
30) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, menyuntikkan oksitosin 10
unit (IM) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi
sebelum menyuntikkan oksitosin)
31) Dengan menggunakan klem, menjepit tali pusat (2 menit setelah
bayi lahir) pada sekitar 3 cm dari pusar bayi. Dari sisi luar klem
penjepit, dorong isi tali pusat kearah distal (ibu) dan lakukan
penjepitan kedua pada 2 cm distal dari klem pertama.
32) Memotong dan pengikatan tali pusat.
a) Dengan satu tangan, mengangkat tali pusat yang telah dijepit
kemudian lkukan pengguntingan, tali pusat (lindungi perut bayi)
diantara 2 klem tersebut
b) Mengikat tali pusat dengan benang DTT/ steril pada satu sisi
kemudian lingkarkan kembali 1 benang ke sisi berlawanan dan
lalkukan ikatan kedua menggunakan simpul kunci
d) Melepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah
disediakan
33) Mempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi.
Letakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu
ibu. Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan
posisi lebih rendah dari putting susu ibu.
34) Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di
kepala bayi.
35) Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari
vulva.
36) Meletakkan satu tangan diatas kain pada perut ibu, ditepi atas
simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
37) Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kearah bawah
sambil tangan yang lain mendorong uterus kearah belakang-atas
(dorsokranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri).
Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan
tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi
prosedur diatas. Jika uterus tidak berkontraksi, minta ibu, suami
atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu.
38) Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat
dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti
poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorsokranial)
a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
b) Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali
pusat
(1) Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM
(2) Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh
(3) Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan
(4) Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya
(5) Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah
bayi lahir
(6) Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta mnual
39) Saat plasenta muncul di introitus vagina, melahirkan plasenta
dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput
ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada
wadah yang telah disediakan. Jika selaput ketuban robek, pakai
sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa
selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril
untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
40) Segera setelah plassenta dan selaput ketuban lahir, melakukan
masase uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan
masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus
berkontraksi (fundus terasa lembek). Lakukan tindakan yang
diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik melakukan
41) Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu mupun bayi dan
pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta ke
dalam kantung plastik atau tempat yang sudah disediakan.
42) Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Lakukan penjahitan bila leserasi menyebabkan perdarahan.
43) Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
44) Beri cukup waktu untuk melakukan kontak kulit bayi-ibu (di dada ibu
paling sedikit 1 jam).
a) Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusui
dini dalam waktu 30-60 menit. Bayi cukup menyusui dari 1
payudara
b) Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi
sudah berhasil menyusu
45) Melakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik
profilaksis, dan vitamin K1 1mg IM di paha kiri anterolateral setelah
jam kontak kulit ibu-bayi.
46) Memberikan suntikan imunisaasi Hepatitis B (setelah 1 jam
pemberian vitamin K1) di paha kanan anterolateral.
a) Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewktu-waktu bisa
disusukan
b) Letakkan kembali bayi pada dada bu bila bayi belum berhasil
menyusu di dalam 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi
47) Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
pervaginam.
a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan
b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan
c) Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascpersalinan
d) Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan
yang sesuai untuk penatalaksanaan atonia uteri
48) Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan
menilai kontraksi.
49) Mengevaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
50) Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama 1 jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama
jam kedua pascapersalinan.
a) Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam selama 2
jam pertama pascapersalinan
b) Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak
normal
51) Memeriksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi
bernapas denga baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal
(36,5-37,5)
52) Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan
53) Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah
yang sesuai.
54) Membersihkan badan ibu menggunakan air DTT. Bersihkan sisa
cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang
bersih dan kering.
55) Memastikan ibu merasa nyaman. Bantu memberikan ASI. Anjurkan
keluarga untuk memberi makan dan minum.
56) Mendekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
57) Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%,
balikkan bagian dalam ke luar dan rendam dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit.
58) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih mengalir
kemudian keringkan dengan tisu atau handuk yang bersih.
59) Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda
vital dan asuhan kala IV.
h. Komplikasi dalam persalinan.
1) Komplikasi pada kala satu dan kala dua dalam persalinan. Menurut
Varney (2008;h.780-802) adalah sebagai berikut :
a) Riwayat sekso sesaria sebelumnya
b) Persalinan atau kelahiran prematur
Persalinan prematur adalah persalinan yang dimulai pada
awal usia kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu ke 37.