BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan tabel 4.1. menunjukkan bahwa dari 31 responden yang ada

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

42 A. Motivasi

Berdasarkan tabel 4.1. menunjukkan bahwa dari 31 responden yang ada mayoritas responden memiliki skor motivasi 67-100 % dengan kategori motivasi tinggi yaitu dengan persentase 68% , 32 % responden memiliki skor motivasi 34-66% dengan kategori motivasi sedang dan tidak ada responden yang memiliki skor motivasi <33% dalam pemenuhan target kompetensi asuhan kebidanan ibu bersalin. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan dimana motivasi, merupakan dorongan dari dalam diri seseorang yang mengakibatkan seseorang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi tidak dapat diobservasi secara langsung namun harus diukur salah satunya dengan kuesioner (Hamzah, 2009 dan Notoatmodjo, 2010).

Motivasi merupakan satu aspek yang sangat menentukan keberhasilan mahasiwa, baik selama menempuh pendidikan maupun setelah lulus dan bekerja sebagai Bidan profesional. Dalam pembelajaran praktik klinik, motivasi sangat diperlukan untuk membantu mahasiswi konsentrasi terhadap kompetensi yang harus dicapai (Sulistyowati, 2008 dan Kurikulum, 2007). Motivasi yang kuat pada siswa akan mempermudah mereka untuk mendapatkan hasil yang diharapkan (Syah dalam Purwanti, 2010)

(2)

Sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Irwanto (2010) bahwa motivasi diklasifikasikan menjadi tiga yaitu motivasi rendah, sedang dan tinggi. Dalam penelitian ini ditemukan sebagian besar responden memiliki tingkat motivasi yang tinggi yaitu sejumlah 21 responden (68%), sebagian yang lain memiliki motivasi sedang dengan jumlah 10 responden (32%) dan tidak terdapat responden yang memiliki tingkat motivasi yang rendah.

Motivasi siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, baik yang berasal dari dalam dirinya ataupun dari luar dirinya. Faktor dari dalam diri mahasiswa yang dapat mempengaruhi motivasi adalah minat, rasa, ingin tahu, keinginan untuk melaksanakan sesuatu dengan sukses dan sebaik baiknya, keinginan untuk melaksanakan tugas, tujuan dan harapan belajar. Selain itu motivasi juga dapat dipengaruhi oleh umur, kondisi fisik dan kekuatan intelegensi. Kehendak atau keinginan untuk berhasil dalam belajar, bahkan dalam kegiatan pada umumnya, selalu ada dalam diri manusia. Motif semacam itu disebut motif berprestasi, yaitu motif untuk berhasil dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan, atau motif untuk memperoleh kesempurnaan. Motif semacam itu merupakan unsur pribadi dan perilaku manusia, sesuatu yang berasal dari dalam diri manusia yang bersangkutan. Motif berprestasi adalah motif yang dipelajari, sehingga motif ini dapat diperbaiki dan dikembangkan melalui proses belajar. Motif berprestasi sangat berpengaruh termasuk unjuk kerja (performence) seseorang, termasuk dalam belajar. Seseorang yang mempunyai motif berprestasi tinggi cenderung untuk berusaha menyelesaikan tugasnya secara tuntas, tanpa menunda-nunda

(3)

pekerjaan. Hal semacam itu bukanlah dorongan dari luar, melainkan upaya pribadi.

Faktor dari luar diri mahasiswa yang dapat mempengaruhi motivasi belajar adalah apa yang dilakukan oleh guru, orang tua maupun teman sebaya. Pemberian hadiah atau hukuman, adanya persaingan, perhatian orang tua dan usaha guru untuk dapat membangkitkan motivasi juga dapat mempengaruhi motivasi dari mahasiswa. Perbuatan atau perilaku manusia ditentukan oleh fakor pribadi dan faktor lingkungan individu yang bersangkutan. Faktor pribadi dan faktor lingkungan sering berbaur, sehingga sulit menentukan apakah sesuatu benar-benar faktor pribadi atau faktor lingkungan. Pada umumnya motif dasar yang bersifat pribadi muncul dalam tindakan individu setelah “dibentuk” oleh pengaruh lingkungan. Oleh karena itu, motif individu untuk melakukan sesuatu, misalnya motif untuk belajar dengan baik, dapat dikembangkan, diperbaiki atau diubah melalui belajar dan latihan dengan kata lain motif dapat diubah melalui pengaruh lingkungan ( Hamzah, 2006).

Menurut Mitchell dalam Muryani (2010) ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi motivasi, yakni: 1) pengetahuan, mengetahui pengetahuan yang cukup tentang detail perbuatan belajar; 2) kebutuhan, merasa memiliki kebutuhan melakukan kegiatan belajar; 3) kemampuan, adanya kemampuan dalam melakukan perbuatan belajar; 4) kesenangan, adanya kesenangan dengan masuknya di sebuah lembaga pendidikan; 5) Pelaksanaan kegiatan belajar, dapat membagi waktu dalam setiap kegiatan belajar, sehingga dapat memotivasi seseorang untuk melakukan kegiatan

(4)

secara tepat waktu; 6) Hasil belajar, merasa memiliki kompetensi pada suatu perbuatan dan tindakan tertentu; 7) kepuasan hasil belajar, hasil belajar memberikan kepuasan sehingga dapat memotivasi untuk belajar lebih baik; 8) karakteristik pribadi dan lingkungan, meliputi karakteristik keluarga dan masyarakat, lembaga dan lingkungan fisik sangat mempengaruhi motivasi. B. Keterampilan

Tabel 4.2. menunjukkan pencapaian nilai keterampilan dari 31 responden yaitu nilai terendah adalah 73 , nilai tertinggi 92 dan nilai terbanyak adalah 81 dengan jumlah 7 responden (22,6 %). Keterampilan merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan afektif (perbuatan atau perilaku). Suatu kemampuan seseorang untuk bertindak setelah menerima pengalaman belajar tertentu dengan menggunakan anggota badan dan peralatan yang tersedia (Notoatmojo dalam Taufik, 2010).

Pengalaman pembelajaran praktik ( laboratorium kelas, rumah sakit, komunitas dan unit pelayanan kesehatan lainnya) merupakan bagian penting dalam program pendidikan kesehatan. Hal tersebut memberikan pengalaman yang berharga bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan pada situasi nyata. Melalui pembelajaran praktik mahasiswa mendapat kesempatan untuk rnengembangkan kemampuannya (Pusdiknakes dalam Muryani, 2010).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Saputra dan Lisiswanti (2015) tentang “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pembelajaran Keterampilan Klinik di Institusi Pendidikan Kedokteran “ hal-hal yang mempengaruhi peserta didik dalam penguasaan suatu keterampilan antara lain

(5)

prior knowledge, yaitu pengetahuan awal atau kemampuan dasar yang sudah dimiliki sebelumnya; aptitudes atau tingkat kecerdasan keterampilan/bakat yang dimiliki mahasiswa; umur mahasiswa; gaya belajar mahasiswa serta sikap dan motivasi mahasiswa, sehingga setiap mahasiswa memiliki keterampilan yang berbeda-beda.

Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut maka siswa yang mempelajari gerak ditentukan oleh ciri-ciri atau kemampuan dan bakat dari orang yang bersangkutan dalam menguasai sebuah keterampilan tertentu, maka akan semakin mudah untuk menguasai keterampilan yang dimaksud. Ini semua membuktikan bahwa faktor pribadi/kecerdasan keterampilan yang mempengaruhi penguasaan keterampilan (Amung dan Yudha dalam Firmansyah 2015).

C. Hubungan Motivasi Terhadap Keterampilan

Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan hasil 10 responden dengan tingkat motivasi yang sedang memiliki nilai minimum 73 dan nilai maksimum 84 dalam keterampilan manajemen aktif kala tiga, sedangkan 21 responden yang memiliki motivasi tinggi memiliki pencapaian nilai minimum 73 dan maksimum 92. Muryani (2010) menyatakan bahwa motivasi secara individual mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kompetensi ketrampilan dasar praktek klinik (KDPK). Dari hasil penelitiannya dapat dijelaskan adanya hubungan motivasi terhadap kompetensi keterampilan dasar praktek klinik (KDPK) karena motivasi memberikan dorongan pada individu atau mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar kilnik. Semakin tinggi motivasi

(6)

baik dari lingkungan maupun dari dalam diri semakin membuat seseorang melakukan tindakan tertentu agar lebih dapat belajar atau lebih siap untuk belajar sehingga dapat melaksanakan praktek ketrampilan dasar praktek klinik dengan baik dan lebih kompeten. Dalam penelitian ini juga menunjukkan hal yang sama dimana responden yang memiliki motivasi tinggi memiliki nilai pencapaian maksimum yang tinggi yaitu 92, sedangkan nilai pencapaian maksimum untuk motivasi sedang sebesar 84.

Pada sebuah setting pembelajaran keterampilan dengan menggunakan teman sebaya sebagai pengajar (peer-assisted learning), motivasi mahasiswa peserta bersifat motivasi eksternal sedangkan motivasi mahasiswa yang berperan sebagai pengajar lebih bersifat motivasi internal. Motivasi internal membuat mahasiswa belajar dan berlatih keterampilan secara lebih mendalam. Hal ini yang juga mempengaruhi keberhasilan mahasiswa (Saputra dan Lisiswanti, 2015)

Penelitian yang dilakukan oleh Firmansyah (2012) tentang “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Mahasiswa Kedokteran Terhadap Pelatihan Keterampilan Klinik Di Tahap Sarjana“ membuktikan bahwa keterampilan klinik membutuhkan banyak pengalaman dan latihan untuk dikuasai dengan baik, oleh karena itu frekuensi latihan yang cukup akan berpengaruh terhadap penguasaan mahasiswa terhadap keterampilan klinik yang diajarkan pada program panum. Semakin banyak mahasiswa memiliki kesempatan untuk berlatih, semakin mahir dan semakin meningkat tingkat kepuasan mereka terhadap panum.

(7)

Sesuai dengan tabel 4.4, setelah dilakukan uji statistik spearmen menggunakan program SPSS 16.0, didapatkan nilai p 0.007(<0.05) yang menunjukkan bahwa korelasi antara tingkat motivasi dan nilai keterampilan adalah bermakna. Nilai korelasi spearmen sebesar 0.477 menunjukkan bahwa kekuatan korelasinya sedang dengan arah korelasi positif dimana hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat motivasi pemenuhan target kompetensi asuhan kebidanan ibu bersalin maka akan semakin tinggi pula nilai keterampilan manajemen aktif kala tiga dari mahasiswi. Hal ini sesuai dengan pencapaian nilai responden dalam penelitian dimana responden dengan tingkat motivasi tinggi memiliki nilai maksimum 92 dan tingkat motivasi sedang memiliki nilai maksimum 84. Selisih pencapaian nilai maksimumnya adalah 9 poin. Dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkat motivasinya semakin tinggi pula pencpaian nilainya.

Sejalan dengan Bertnus dalam Taufik (2010) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi keterampilan adalah motivasi. Dimana dalam penelitiannya mengatakan bahwa motivasi inilah yang mendorong seorang perawat dapat melakukan sebuah tindakan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan dalam hal ini adalah prosedur atau protap.

Hal ini juga didukung oleh penelitian Muryani (2010), dari hasil penelitiannya tentang hubungan antara motivasi belajar terhadap prestasi belajar dalam melaksanakan keterampilan dasar praktik klinik yang diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan keterampilan dasar praktik klinik (KDPK). Dalam kegiatan belajar,

(8)

motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar (Hamzah , 2009). Dalam motivasi terkandung adanya keinginan untuk mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku belajar (Dimyati dan Mujiono dalam Muryani 2010).

Hasil penelitian ini didukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Suwanti (2006), tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi dan prestasi belajar mahasiswa diploma III kebidanan menyebutkan bahwa motivasi belajar merupakan salah satu prinsip belajar yang dapat mempengaruhi keterampilan dan kompetensi dalam melaksanakan praktik klinik. Semakin baik motivasi belajar mahasiswa maka hasil prestasi belajar pun juga baik dan membuat kompetensi keterampilan terhadap praktik klinik juga semakin baik.

Hal ini didukung juga dengan penelitian serupa yang dilakukan oleh Novitasari (2010) menyebutkan bahwa standart untuk mahasiswa dikatakan kompeten adalah mahasiswa yang minimal memperoleh nilai yang baik dalam asuhan kebidanan ibu bersalin. Menurut Kepmendiknas dalam Sulistyowati (2010) salah satu elemen dalam suatu kompetensi adalah keterampilan. Dalam penelitiannya penulis menyebutkan kompetensi mahasiswa baik karena mahasiswa rajin, pintar, punya motivasi dan tanggung jawab.

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa pada responden dengan kategori tingkat motivasi yang tinggi terdapat responden yang memiliki nilai

(9)

minimum sama dengan responden dengan tingkat motivasi sedang. Berdasarkan dari data yang didapat yaitu pada item kuesioner nomor 16 yang menilai tentang keyakinan ia menyatakan bahwa bekal teori yang didapat di kampus dirasa kurang membantu dirinya dalam keterampilannya menolong kala III. Menurut (Pusdiknakes dalam Muryani, 2010) sebelum terjun ke lapangan mahasiswa diberikan bekal teori yang cukup untuk melaksanakan praktik klinik, namun di sini responden merasa bahwa teori yang diberikan masih kurang sehingga kurang membantunya dalam menguasai keterampilan MAK III.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah jumlah responden yang mendekati jumlah minimal sampel penelitian. Hal ini dikarenakan terdapat responden yang tidak memenuhi kriteria restriksi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :