• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN MODEL PENGUKURAN KINERJA LEAN DAN GREEN RANTAI PASOK SEMEN SECARA TERINTEGRASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANCANGAN MODEL PENGUKURAN KINERJA LEAN DAN GREEN RANTAI PASOK SEMEN SECARA TERINTEGRASI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN MODEL PENGUKURAN KINERJA

LEAN

DAN

GREEN

RANTAI PASOK SEMEN SECARA

TERINTEGRASI

Dina Rahmayanti, Utari Putri

Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Andalas, Padang Email: [email protected]

Abstract

PT. Semen Padang is one of the reputable cement companies in Indonesia which isproducing types of cement. Implementation of supply chain concept in PT. Semen Padang is very important to satisfy customers and stakeholders requirement. Performance measurement is a process to evaluate the supply chain effectiveness and efficiency in lean and green aspect. The problem is how to design performance measurement model which is integrating lean and green supply chain concepts. The objective of research is integrating lean and green supply chain concepts to design supply chain performance measurement of bag cement type.

Integration of lean and green concept is designed by Balanced Scorecard (BSC) perspectives that consist of financial, customer, internal process business and learning and growth. Key performance indicators (KPI) are formulated and classified based on BSC perspectives. Next stage is pair wise comparison process to the weight value. Evaluation of KPI pair wise comparison based is conducted on expert opinion which is selected by consideration of their relevance knowledge and experience. The process of pair wise comparison is calculated to determine priority of the KPIs based on weight value by using Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The weight of KPI will be arrange by descending to determine the priority. Model of performance measurement is validated by face validity method.

Research result is obtaining 25 KPIs that derived from integration of lean and green supply chain concept of bag cement type. Grouping is consisting of 3 KPIs of financial, 4 KPIs of customer, 11 KPI s of internal process business and 7 KPI s of learning & growth. Result is showing that customer is most prioritized element in supply chain of bag cement type. Implementation of proposing model is coordination of departments and employee in context of information accessibility.

Keywords: Supply chain, lean, green, BSC, performance measurement

1. PENDAHULUAN

Keunggulan kompetitif merupakan

tuntutan penting bagi setiap perusahaan. Untuk menciptakan keunggulan kompetitif dibutuhkan perencanaan strategi yang tepat oleh perusahaan. Inti dari strategi terletak pada pemilihan aktivitas yang mendasari

strategi tersebut sehingga dapat

memberikan nilai yang berbeda daripada nilai yang ditawarkan oleh kompetitor. Kecocokan strategi dengan aktivitas tidak

hanya dapat memberikan keuntungan

kompetitif tetapi juga menjamin

keberlangsungan strategi tersebut [13]. Manajemen rantai pasok (supply chain management) merupakan salah satu bentuk keunggulan kompetitif yang diterapkan di perusahaan. Konsep-konsep manajemen rantai pasok diperlukan perusahaan untuk pemilihan aktivitas guna meningkatkan nilai

tambah dan memenuhi kebutuhan

pelanggan serta menghantarkan produk ke tangan pemakai akhir.

Rantai pasok merupakan semua tahapan

yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam memenuhi permintaan

pelanggan yang mencakup produsen,

pemasok, pengangkut, gudang, pengecer

dan pelanggan [1]. Supply Chain

Management (SCM) adalah metode, alat atau pendekatan pengelolaan rantai pasok [14]. Dalam rangkaian aktivitas rantai pasok ini terjadi aliran informasi yang terintegrasi dan transparan mulai dari pemasok hingga pelanggan akhir sehingga memudahkan dalam mengontrol pelaksanaannya.

Isu rantai pasok yang saat ini mulai berkembang dan mulai diakui sebagai hal penting untuk diterapkan oleh perusahaan yaitu Lean Supply Chain Management

(LSCM) dan Green Supply Chain

Management (GSCM). Menurut [2] menjelaskan manfaat dan pentingnya penerapan rantai pasok lean dan green pada perusahaan dalam mengurangi biaya rantai

pasok dan dampak lingkungan yang

dihasilkan oleh perusahaan. Konsep dari

Lean Supply Chain Management (LSCM) atau rantai pasok ramping didasarkan pada

(2)

biaya dan pengurangan waktu proses rantai pasok keseluruhan untuk meningkatkan efektivitas. Sedangkan konsep dari Green Supply Chain Management (GSCM) sendiri didasarkan pada perspektif lingkungan, yaitu bagaimana mengurangi limbah dan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan

rantai pasok perusahaan industri.

Pengintegrasian konsep-konsep LSCM dan GSCM dapat menciptakan sebuah strategi rantai pasok yang lebih efektif dan efisien dalam hal pengeluaran biaya serendah

mungkin dan meminimalkan dampak

lingkungan. Dengan menerapkan integrasi dan mencari kesamaan dari kedua konsep ini, perusahaan dapat memperoleh manfaat dari pendekatan holistik dalam mengelola kinerja pada tingkat yang strategis.

PT. Semen Padang merupakan

perusahaan besar yang memproduksi

semen. Banyaknya kapasitas produksi yang dihasilkan oleh PT. Semen Padang setiap tahunnya dengan menggunakan berbagai bahan baku serta daerah pemasaran yang tersebar di Indonesia hingga ke luar negeri dinilai memerlukan penerapan konsep-konsep rantai pasok guna membantu pemilihan aktivitas untuk meningkatkan nilai

tambah dalam pemenuhan kebutuhan

pelanggan dan menghantarkan produk ke tangan pemakai akhir. Selain itu, perlu juga dilakukan pengukuran kinerja terhadap rantai pasoknya untuk melihat tingkat keefektivan dan keefisienannya.

Konsep-konsep LSCM dan GSCM sangat diperlukan dalam merancang suatu sistem pengukuran kinerja dengan perspektif

Balanced Scorecard (BSC) untuk mencapai rantai pasok yang efektif dan efisien. Pengukuran kinerja menggunakan BSC meliputi perspektif finansial, pelanggan, proses bisnis internal, dan pertumbuhan dan pembelajaran. Oleh karena itu, BSC dapat

mengakomodasi aspek penting dalam

pengukuran kinerja dan sering digunakan sebagai metode pengukuran kinerja rantai pasok perusahaan.

Dalam perancangan sistem pengukuran kinerja rantai pasok semen berbasis konsep

lean dan green. Konsep lean digunakan dalam menganalisis biaya-biaya yang dibutuhkan mulai dari pengadaan bahan baku, produksi hingga pemasaran semen untuk mendapatkan indikator-indikator rantai pasok yang didasarkan pada pengurangan biaya dan pengurangan waktu proses rantai pasok keseluruhan untuk meningkatkan efektivitas. Sementara itu,

konsep Green digunakan dalam

menganalisis pengadaan bahan baku, produksi hingga pemasaran semen apakah

telah menerapkan konsep hijau dalam arti ramah lingkungan atau tidak menyebabkan dampak lingkungan dan minimasi limbah yang diakibatkan oleh kegiatan rantai pasok semen. Pengintegrasian kedua konsep ini akan menghasilkan indikator-indikator

penting yang menunjukkan tingkat

kepentingannya masing-masing dalam

kinerja perusahaan sehingga perusahaan dapat menentukan kebijakan perusahaan yang tepat untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi rantai pasok.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Supply Chain Management (SCM)

Rantai pasok merupakan semua tahapan yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam memenuhi permintaan

pelanggan yang mencakup produsen,

pemasok, pengangkut, gudang, pengecer dan pelanggan[1]. Dalam hal ini, produsen, pemasok, pengangkut, gudang dan pengecer bekerja sama dan terkoordinasi dalam

rangkaian-rangkaian kegiatan yang

bertujuan agar produk dapat sampai ke tangan pemakai akhir guna memenuhi kebutuhannya.

Supply Chain Management (SCM) adalah metode, alat atau pendekatan pengelolaan rantai pasok [14]. Manajemen rantai pasok dapat juga dikatakan sebagai metode dalam mengkoordinasikan jaringan kompleks yang terlibat dalam kegiatan rantai pasok dalam hal menyampaikan produk ke tangan pelanggan akhir. Manajemen rantai pasok dalam rangkaian aktivitasnya melibatkan

semua bagian diantaranya pemasok,

produsen, distributor, pengecer dan pelanggan, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memenuhi permintaan pelanggan. Dalam rangkaian aktivitas rantai pasok ini terjadi aliran informasi yang terintegrasi dan transparan mulai dari pemasok hingga pelanggan akhir sehingga

memudahkan dalam mengontrol

pelaksanaannya.

Dalam rantai pasok ada tiga aliran penting yaitu material, informasi dan uang [1]. Material yang berarti produk, informasi yang berarti data yang telah diolah, dan cost

sebagai pembiayaannya itu. SCM bermaksud untuk mengelola dan meningkatkan aliran material, layanan dan informasi, dari titik asal ke titik pengiriman, dengan cara untuk memenuhi persyaratan pelanggan akhir dengan biaya serendah mungkin.

(3)

2.2.Lean Supply Chain Management (LSCM)

Semakin berkembangnya isu

peningkatan jumlah strategi rantai pasok modern yang merupakan peluang baru untuk perbaikan rantai pasokan. Strategi rantai pasok adalah kumpulan kegiatan dan aksi strategis di sepanjang rantai pasok yang menciptakan rekonsiliasi antara apa yang dibutuhkan pelanggan akhir dengan kemampuan sumber daya yang ada pada rantai pasok tersebut [14]. Pemilihan strategi rantai pasok yang tepat merupakan hal penting bagi perusahaan dalam mewujudkan keunggulan kompetitifnya untuk pemenuhan kebutuhan pelanggan sesuai harapan dan kebutuhannya.

Penggunaan pendekatan lean pada rantai pasok merupakan salah satu strategi yang dapat menjadi keunggulan kompetitif perusahaan. Lean adalah suatu upaya terus-menerus untuk menghilangkan pemborosan (waste) dan meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang/jasa) agar memberikan nilai kepada pelanggan [3]. Pada dasarnya pendekatan lean bertujuan untuk meningkatkan nilai kepada pelanggan (customer value) dengan meningkatkan rasio value added terhadap waste secara terus-menerus.

Lean Supply ChainManagement (LSCM) atau rantai pasok ramping merupakan sebuah strategi rantai pasok yang didasarkan pada biaya dan pengurangan waktu proses rantai pasok keseluruhan untuk meningkatkan efektivitas. LSCM memfokuskan pada pengoptimalan proses dari semua rantai pasokan, mencari penyederhanaan, mengurangi limbah dan

mengurangi kegiatan yang tidak

memberikan nilai tambah [8]. Dengan

menerapkan konsep-konsep LSCM ini

diharapkan perusahaan dapat meminimasi kegiatan-kegiatan yang tidak bernilai tambah dan dapat menekan biaya produksi

sehingga produktivitas juga dapat

ditingkatkan tetapi tetap menjaga kualitas produk yang dihasilkan.

2.3.Green Supply Chain Management

(GSCM)

Isu peningkatan jumlah strategi rantai pasok modern dalam hal perbaikan rantai pasok lainnya yaitu Green Supply Chain Management (GSCM) atau rantai pasok hijau. GSCM merupakan paradigma rantai pasok yang terkait dengan efisiensi lingkungan dan ekologi dari perusahaan [23]. Tujuan dari GSCM adalah untuk

mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam rantai pasok [10]. Konsep dari GSCM ini didasarkan pada perspektif lingkungan, yaitu bagaimana mengurangi limbah dan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan rantai pasok perusahaan industri. Hal ini merupakan aspek non finansial jangka panjang penting terkait dengan lingkungan yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam menjaga hubungan baik demi keberlanjutan kegiatan rantai pasoknya di masa yang akan datang.

Pengukuran kinerja GSCM digunakan untuk menentukan efisiensi dan efektivitas dari sistem yang ada, membandingkan sistem-sistem alternatif yang bersaing atau untuk merancang system yang diusulkan dengan menentukan nilai-nilai variabel keputusan yang menghasilkan tingkat yang paling diinginkan kinerja [23].

2.4.Pengukuran Kinerja Rantai Pasok

Pengukuran kinerja rantai pasok merupakan aktivitas-aktivitas dalam rangka

memenuhi permintaan pelanggan.

Pengukuran kinerja rantai pasok dilakukan untuk meningkatkan kelancaran arus aliran barang dan informasi dari setiap mata rantai dalam aktivitas rantai pasok serta dan mengurangi inventori. Dalam pengukuran kinerja rantai pasok terdapat beberapa dimensi yang dipertimbangkan antara lain sebagai berikut:

1. Biaya, berhubungan dengan dana yang

dikeluarkan untuk membiayai

operasional rantai pasok.

2. Waktu, berhubungan dengan lamanya

waktu yang dibutuhkan untuk

melaksanakan sebuah aktivitas.

3. Kapasitas, berhubungan dengan ukuran banyaknya pekerjaan yang dapat dilakukan rantai pasok pada periode tertentu.

4. Kapabilitas, berhubungan dengan

kemampuan agregat rantai pasok untuk melakukan kegiatan-kegiatan.

Pengukuran kinerja rantai pasok lean

dilakukan untuk mengetahui kinerja rantai pasok dalam hal efisiensi biaya dan waktu operasi rantai pasok. Pengukuran ini

dilakukan dengan terlebih dahulu

menentukan indikator-indikator rantai pasok

lean.

Sementara itu, pengukuran kinerja rantai pasok green dilakukan untuk mengetahui kinerja rantai pasok dalam hal pengurangan dampak lingkungan akibat operasi rantai pasok perusahaan industri. Pengukuran ini

(4)

menentukan indikator-indikator rantai pasok

green.

2.5.Balanced Scorecard (BSC)

Balanced Scorecard (BSC) merupakan metode pengukuran kinerja perusahaan yang modern dengan mempertimbangkan empat perspektif yang saling berhubungan

yang merupakan penerjemahan dan

pengkomunikasian strategi serta tujuan yang diingin dicapai oleh suatu perusahaan dalam jangka panjang, yang selanjutnya

diukur dan dikendalikan secara

berkelanjutan.

Empat perspektif yang dipertimbangkan dalam BSC yaitu [21]:

1. Perspektif keuangan

Perspektif keuangan terkait dengan bagaimana melayani para pemegang saham. Perspekti keuangan secara khusus menggunakan pengukuran arus

kas, pengembalian atas modal,

penjualan dan petumbuhan penghasilan. 2. Perspektif pelanggan

Perspektif pelanggan terkait dengan seberapa tingkat kepuasan pelanggan. 3. Perspektif proses bisnis internal

Perspektif proses bisnis internal terkait dengan kompetensi utama dan bidang-bidang kehebatan operasi yang dimiliki.

4. Perspektif pembelajaran dan

pertumbuhan

Perspektif pembelajaran dan

pertumbuhan terkait dengan

peningkatan dan penciptaan nilai secara terus-menerus. Dalam hal ini ditekankan pada pengukuran yang berhubungan dengan inovasi dan pembelajaran organisasi untuk menghitung kinerja dalam dimensi ini, kepemimpinan teknologi, waktu siklus pengembangan produk, peningkatan proses operasi, dan lain-lain.

3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT. Semen Padang yang berlokasi di daerah Indarung, Padang- Sumatera Barat. Penelitian ini berlangsung dari September 2011 – Desember 2011. Penelitian ini difokuskan di sepanjang rantai pasok mulai dari pemasok hingga ke distributor semen.

3.2Data dan Metode Pengumpulan Data

Data-data yang dikumpulkan dalam penelitian tugas akhir ini yaitu data proses bisnis rantai pasok semen PT. Semen Padang, data yang berhubungan tipe-tipe semen yang dihasilkan, bahan baku yang digunakan serta daerah pemasok bahan baku, proses produksi, transportasi, daerah distribusi dan pemasaran semen PT. Semen Padang, data mengenai pihak-pihak yang terlibat (stakeholder) pada rantai pasok semen PT. Semen Padang, data profil perusahaan yang meliputi gambaran umum perusahaan, visi dan misi perusahaan, struktur organisasi dan bidang usaha PT. Semen Padang, data dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian, seperti konsep-konsep lean dan green untuk memformulasikan key performance indicator

(KPI).

Data yang dibutuhkan pada penelitian ini

dikumpulkan dengan menggunakan

beberapa metode yaitu observasi, studi literatur, wawancara, kuesioner pembobotan KPI dan opini pakar.

3.3 Tahapan Pelaksanaan Penelitian Tahap-tahap yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini sebagai berikut: 1. Memahami dan menganalisis sistem

rantai pasok semen PT. Semen Padang. 2. Memformulasikan KPI dari

masing-masing LSCM dan GSCM

3. Pengelompokan KPI LSCM dan GSCM dalam perspektif BSC

4. Pembobotan dan Penentuan prioritas KPI

5. Perancangan model pengukuran kinerja LSCM dan GSCM dalam perspektif BSC

6. Verifikasi dan validasi model

pengukuran kinerja yang dibuat

3.4 Teknik Analisis Data

Teknik yang digunakan dalam

menganalisis data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Analytical Hierarchy Process (AHP) AHP digunakan dalam pembobotan masing-masing KPI untuk mendapatkan KPI yang memiliki bobot terbesar. KPI yang memiliki bobot terbesar merupakan KPI yang menjadi prioritas dari pada KPI lainnya.

2. Verifikasi

Verifikasi dilakukan terhadap KPI dan hasil perancangan sistem pengukuran kinerja rantai pasok. Verifikasi dilakukan

(5)

dengan metode wawancara, yaitu diskusi langsung untuk memastikan bahwa hasil perancangan sistem pengukuran kinerja rantai pasok dapat diimplementasikan dengan benar. Verifikasi dapat dilakukan dengan menganalisis apakah KPI yang diformulasikan telah mencakup semua aspek yang dibutuhkan, sesuai dengan tujuan dan dapat dioperasikan.

3. Validasi

Validasi dilakukan untuk membuktikan bahwa hasil perancangan sistem pengukuran kinerja rantai pasok ini layak untuk diterapkan di perusahaan. Teknik validasi yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik face validity, yaitu meminta opini dari orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang permasalahan dan dapat menilai apakah teori yang melandasi model konseptual perancangan sistem pengukuran kinerja rantai pasok benar dan dapat diterima.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Formulasi Key Performance

Indicator (KPI)

KPI yang telah diperoleh pada tahap pengumpulan data akan diverifikasi kepada Biro Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dan Biro Produksi Pabrik Indarung 2 dan 3 PT. Semen Padang untuk mengetahui kesesuaian indikator tersebut dengan sistem rantai pasok yang ada di PT. Semen Padang. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa ada 25 KPI yang dapat diukur kinerjanya dan sesuai dengan sistem rantai pasok nyata yang ada. KPI merupakan indikator penting yang dapat

menjawab kebutuhan dari semua

stakeholder yang terlibat di PT. Semen Padang. Ada sebanyak 25 KPI, yang terdiri dari 15 KPI rantai pasok lean dan 10 KPI rantai pasok green.

KPI lean hasil verifikasi yaitu: 1. Total biaya rantai pasok 2. Peningkatan kualitas 3. Lead time pemesanan

4. Total waktu siklus rantai pasok 5. Pengembangan produk

6. Utilisasi kapasitas 7. Akurasi peramalan 8. Layanan pasca penjualan

9. Level inventory material dan produk 10. Keakuratan dokumentasi surat jalan 11. Jumlah produk cacat yang dihasilkan 12. Jumlah truk yang dialokasikan untuk

pengiriman ke distributor 13. Revenue perusahaan

14. Biaya pelatihan dan pengembangan karyawan

15. Tingkat kepuasan pelanggan KPI green hasil verifikasi yaitu: 1. Operasi hemat energi 2. Disposisi limbah

3. Penggunaan material yang dapat didaur ulang

4. Bekerjasama dengan pemasok

bersertifikat 5. Biaya lingkungan 6. Emisi udara dan air

7. Penggunaan zat-zat yang tidak

berbahaya

8. Penurunan frekuensi untuk kecelakaan lingkungan

9. Tingkat ketertarikan pelanggan

terhadap produk ramah lingkungan 10. Efisiensi daur ulang

Jenis-jenis data yang diperlukan untuk proses pengukuran setiap KPI dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengelompokan Data yang Terkait dengan KPI

No Klasifikasi Data Data yang dibutuhkan 1 Biaya pengadaan bahan baku 2 Biaya produksi 3 Biaya transportasi 4 Biaya penyimpanan 5 Realisasi penjualan 6 Target penjualan 7 Biaya pengelolaan limbah 8 Biaya penghijauan lingkungan 9 Biaya untuk menjaga kelestarian lingkungan 10 Biaya seleksi karyawan

11 Biaya pelatihan karyawan 12 Biaya pengembangan potensi karyawan 13 Biaya untuk proses daur ulang 14 Waktu realisasi pemenuhan 15 Waktu target pemesanan 16 Waktu untuk proses daur ulang 17 Biaya pengadaan bahan baku 18 Waktu produksi 19 Waktu transportasi 20 Waktu penyimpanan 21 Supplier yang memiliki sertifikat 22 Seluruh supplier

23 Jumlah semen yang berkualitas 24 Jumlah total produksi semen 25 Komplain yang diajukan konsumen 26 Komplain yang diatasi perusahaan 27 Inventori rata-rata per bulan perusahaan 28 Pengiriman rata-rata perbulan oleh perusahaan 29 Jumlah material cacat saat proses pengadaan bahan baku 30 Jumlah produk cacat saat proses produksi

31 Jumlah produk cacat saat transportasi 32 Jumlah produk cacat saat penyimpanan 33 Jumlah material yang dapat didaur ulang 34 Jumlah keseluruhan material 35 Total energi yang digunakan 36 Jumlah total semen yang dihasilkan 37 Penggunaan kapasitas aktual 38 Penggunaan kapasitas yang direncanakan 39 Jumlah kecelakaan lingkungan 40 Jumlah senyawa hasil pembakaran 41 Berat limbah yang dibuang 42 Berat limbah keseluruhan 43 Permalan permintaan pelanggan 44 Permintaan aktual pelanggan 45 Zat berbahaya yang digunakan 46 Zat keseluruhan yang digunakan 47 Realisasi dokumen yang diterima distributor 48 Realisasi produk berdasarkan surat jalan 49 Jumlah truk yang terealisasi 50 Jumlah truk yang dibutuhkan

Data yang berhubungan dengan proses produksi

Data yang berhubungan dengan transportasi Data yang berhubungan dengan biaya dan financial

Data yang berhubungan dengan waktu

Data yang berhubungan dengan supplier dan

konsumen

Data yang berhubungan dengan material dan

(6)

4.2.Pengelompokan KPI dalam

Perspektif Balanced Scorecard

(BSC)

KPI yang telah diformulasikan tersebut selanjutnya dikelompokkan dalam perspektif

Balanced Scorecard (BSC) yang terdiri atas perspektif financial, customer, internal process business dan learning & growth. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam

melakukan perbandingan berpasangan

masing-masing indikator dimana

perbandingan berpasangan ini dilakukan untuk setiap KPI yang berada dalam kelompok yang sama dalam perspektif BSC.

Pengelompokan KPI ini dilakukan dengan mencocokkan antara pengertian dari masing-masing KPI terhadap pengertian dan lingkup dari masing-masing perspektif BSC. Selain itu, pengelompokan juga mengacu kepada beberapa referensi yang telah ada yang terkait dengan pengelompokan KPI rantai pasok terhadap perspektif BSC. Pengelompokan ini dapat dilakukan dengan membuat struktur model penilaian kinerja rantai pasok lean dan green secara terintegrasi dalam perspektif BSC. Struktur model penilaian kinerja rantai pasok lean

dan green secara terintegrasi ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur Model Penilaian Kinerja

Rantai Pasok Lean dan Green Secara Terintegrasi dalam Perspektif BSC

Definisi dari singkatan KPI pada struktur model penilaian kinerja rantai pasok diatas dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Definisi Singkatan KPI

KPI Definisi

L1 Total biaya rantai pasok L13 Revenue perusahaan G5 Biaya lingkungan L2 Peningkatan kualitas L7 Akurasi peramalan L15 Tingkat kepuasan pelanggan

G9 Tingkat ketertarikan pelanggan terhadap produk ramah lingkungan L3 Lead time pemesanan

L4 Total waktu siklus rantai pasok L6 Utilisasi kapasitas

L9 Level inventory material dan produk L11 Jumlah produk cacat yang dihasilkan

L12 Jumlah truk yang dialokasikan untuk pengiriman ke distributor G1 Operasi hemat energi

G2 Disposisi limbah

G3 Penggunaan material yang dapat didaur ulang G6 Emisi udara dan air

G7 Penggunaan zat-zat yang tidak berbahaya L5 Pengembangan produk

L8 Layanan pasca penjualan L10 Keakuratan dokumentasi surat jalan L14 Biaya pelatihan dan pengembangan karyawan G4 Bekerjasama dengan pemasok bersertifikat G8 Penurunan frekuensi untuk kecelakaan lingkungan G10 Efisiensi daur ulang

4.3.Pembobotan KPI

Pembobotan KPI dilakukan untuk

mengetahui tingkat prioritas dan

kepentingan masing-masing KPI terhadap KPI lainnya. Pembobotan ini dilakukan

dengan membuat perbandingan

berpasangan antar KPI menggunakan

kuesioner pembobotan yang dinilai oleh

expert di PT. Semen Padang, pihak akademisi yang expert di bidang green dan pihak praktisi semen dalam hal ini distributor PT. Semen Padang. Nilai perbandingan berpasangan ini diolah dengan bantuan

software expert choice untuk mengetahui nilai bobot masing-masing KPI. Semakin tinggi nilai bobot suatu KPI, maka semakin tinggi tingkat kepentingannya dibandingkan KPI lainnya. Bobot dari setiap KPI dapat diterima jika nilai inconsistency ratio yang didapat kurang dari 0,1. Nilai inconsistency ratio memperlihatkan tingkat konsistensi

expert dalam memberikan nilai dari perbandingan berpasangan untuk setiap KPI.

(7)

Berdasarkan hasil pembobotan yang dilakukan dengan bantuan software Expert Choice, didapatkan bobot untuk masing-masing KPI. Berikut merupakan hasil pembobotan KPI.

Tabel 3. Bobot Indikator pada Ruang Lingkup BSC

No Kode KPI Definisi Bobot

1 F Financial 0.162

2 C Customer 0.487

3 IP Internal Process Business 0.223

4 LG Learning and Growth 0.127

Tabel 4. Bobot Indikator pada Perspektif Financial

No Kode KPI Definisi Bobot

1 L1 Total biaya rantai pasok 0.333

2 L13 Revenue perusahaan 0.333

3 G5 Biaya lingkungan 0.333

Tabel 5. Bobot Indikator pada Perspektif Customer

No Kode KPI Definisi Bobot

1 L2 Peningkatan kualitas 0.365 2 L7 Akurasi peramalan 0.076 3 L15 Tingkat kepuasan pelanggan 0.302 4 G9 Tingkat ketertarikan pelanggan terhadap produk ramah lingkungan 0.257 Tabel 6. Bobot Indikator pada Perspektif Internal

Process Business

No Kode KPI Definisi Bobot

1 L3 Lead time pemesanan 0.121

2 L4 Total waktu siklus rantai pasok 0.069

3 L6 Utilisasi kapasitas 0.169

4 L9 Level inventory material dan produk 0.074

5 L11 Jumlah produk cacat yang dihasilkan 0.064

6 L12 Jumlah truk yang dialokasikan untuk pengiriman ke distributor 0.037

7 G1 Operasi hemat energi 0.078

8 G2 Disposisi limbah 0.088

9 G3 Penggunaan material yang dapat didaur ulang 0.099

10 G6 Emisi udara dan air 0.106

11 G7 Penggunaan zat-zat yang tidak berbahaya 0.094

Tabel 7. Bobot Indikator pada Perspektif Learning & Growth

No Kode KPI Definisi Bobot

1 L5 Pengembangan produk 0.154 2 L8 Layanan pasca penjualan 0.175 3 L10 Keakuratan dokumentasi surat jalan 0.077 4 L14 Biaya pelatihan dan pengembangan karyawan 0.096 5 G4 Bekerjasama dengan pemasok bersertifikat 0.082 6 G8 Penurunan frekuensi untuk kecelakaan lingkungan 0.262 7 G10 Efisiensi daur ulang 0.154

4.4.Prioritas KPI Berdasarkan Hasil

Pembobotan Keseluruhan

Pembobotan KPI secara keseluruhan dilakukan dengan mengalikan antara bobot masing-masing KPI dengan bobot perspektif dimana KPI tersebut dikelompokkan. Hasil pembobotan KPI keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Bobot Keseluruhan KPI

No Kode KPI Bobot KPI Bobot perspektif KPI Bobot keseluruhan

1 L1 0.333 0.054 2 L13 0.333 0.054 3 G5 0.333 0.054 4 L2 0.365 0.178 5 L7 0.076 0.037 6 L15 0.302 0.147 7 G9 0.257 0.125 8 L3 0.121 0.027 9 L4 0.069 0.015 10 L6 0.169 0.038 11 L9 0.074 0.017 12 L11 0.064 0.014 13 L12 0.037 0.008 14 G1 0.078 0.017 15 G2 0.088 0.020 16 G3 0.099 0.022 17 G6 0.106 0.024 18 G7 0.094 0.021 19 L5 0.154 0.020 20 L8 0.175 0.022 21 L10 0.077 0.010 22 L14 0.096 0.012 23 G4 0.082 0.010 24 G8 0.262 0.033 25 G10 0.154 0.020 0.162 0.487 0.223 0.127

Berdasarkan bobot keseluruhan

masing-masing KPI, selanjutnya dilakukan penentuan prioritas KPI mulai dari KPI yang memiliki bobot tertinggi hingga KPI yang memiliki bobot terendah. Prioritas KPI dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Prioritas KPI

No Kode KPI Definisi Bobot

1 L2 Peningkatan kualitas 0.178

2 L15 Tingkat kepuasan pelanggan 0.147

3 G9 Tingkat ketertarikan pelanggan terhadap produk ramah lingkungan 0.125

4 L1 Total biaya rantai pasok 0.054

5 L13 Revenue perusahaan 0.054

6 G5 Biaya lingkungan 0.054

7 L6 Utilisasi kapasitas 0.038

8 L7 Akurasi peramalan 0.037

9 G8 Penurunan frekuensi untuk kecelakaan lingkungan 0.033 10 L3 Lead time pemesanan 0.027

11 G6 Emisi udara dan air 0.024

12 L8 Layanan pasca penjualan 0.022

13 G3 Penggunaan material yang dapat didaur ulang 0.022 14 G7 Penggunaan zat-zat yang tidak berbahaya 0.021

15 G2 Disposisi limbah 0.020

16 L5 Pengembangan produk 0.020

17 G10 Efisiensi daur ulang 0.020

18 L9 Level inventory material dan produk 0.017

19 G1 Operasi hemat energi 0.017

20 L4 Total waktu siklus rantai pasok 0.015

21 L11 Jumlah produk cacat yang dihasilkan 0.014 22 L14 Biaya pelatihan dan pengembangan karyawan 0.012 23 L10 Keakuratan dokumentasi surat jalan 0.010 24 G4 Bekerjasama dengan pemasok bersertifikat 0.010 25 L12 Jumlah truk yang dialokasikan untuk pengiriman ke distributor 0.008

4.5.Struktur Model Pengukuran Kinerja

Rantai Pasok

Model pengukuran kinerja rantai pasok

Lean dan Green dengan perspektif BSC dirancang dalam bentuk metrik. Metrik

(8)

pengukuran kinerja ini dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Struktur Model Pengukuran Kinerja Rantai Pasok

L G L G L G L G

1 L2 Peningkatan kualitas 0.178

2 L15 Tingkat kepuasan pelanggan 0.147

3 G9 Ketertarikan pelanggan thd produk ramah lingkungan 0.125

4 L1 Total biaya rantai pasok 0.054

5 L13 Revenue perusahaan 0.054

6 G5 Biaya lingkungan 0.054

7 L6 Utilisasi kapasitas 0.038

8 L7 Akurasi peramalan 0.037

9 G8 Penurunan frekuensi untuk kecelakaan lingkungan 0.033 10 L3 Lead time pemesanan 0.027

11 G6 Emisi udara dan air 0.024

12 L8 Layanan pasca penjualan 0.022

13 G3 Penggunaan material yang dapat didaur ulang 0.022

14 G7 Penggunaan zat-zat yang tidak berbahaya 0.021

15 G2 Disposisi limbah 0.020

16 L5 Pengembangan produk 0.020

17 G10 Efisiensi daur ulang 0.020

18 L9 Level inventory material dan produk 0.017

19 G1 Operasi hemat energi 0.017

20 L4 Total waktu siklus rantai pasok 0.015

21 L11 Jumlah produk cacat yang dihasilkan 0.014

22 L14 Biaya pelatihan dan pengembangan karyawan 0.012

23 L10 Keakuratan dokumentasi surat jalan 0.010

24 G4 Bekerjasama dengan pemasok bersertifikat 0.010

25 L12 Jumlah truk utk pengiriman 0.008

Bobot Definisi Kode KPI No Financial Customer Internal Process Business Learning & Growth 4.6.Validasi

Validasi merupakan tahapan yang perlu dilakukan untuk menjelaskan bahwa model pengukuran kinerja rantai pasok yang dirancang layak untuk diterapkan pada

sistem nyata. Aspek-aspek yang

dipertimbangkan dalam proses validasi model sebagai berikut:

1. KPI sesuai dengan kondisi nyata PT.

Semen Padang dan bersifat

representatif.

2. KPI yang terdapat pada model dapat diukur kinerjanya dalam aktivitas rantai pasok semen kemasan bag PT. Semen Padang.

3. Urutan prioritas KPI yang terdapat pada model merupakan KPI yang benar-benar menjadi indikator kritis bagi kinerja rantai pasok PT. Semen Padang. 4. Model pengukuran kinerja rantai pasok

yang dirancang dapat

diimplementasikan di PT. Semen Padang untuk mengukur efektivitas dan efisiensi rantai pasok semen kemasan

bag.

Teknik validasi yang diterapkan adalah face validity, yaitu bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai tentang konsep

lean dan green. Responden akan memberikan penilaian terhadap

komponen-komponen model yang dirancang. Validasi dilakukan oleh Biro Perencanaan dan Pengendalian Produksi dan Energi PT. Semen Padang.

Hasil validasi menunujukkan bahwa model pengukuran kinerja rantai pasok yang dirancang telah valid dan dapat diterima oleh pihak PT. Semen Padang. Model ini dapat diimplementasikan untuk pengukuran

kinerja rantai pasok perusahaan.

Pengukuran kinerja dilakukan untuk melihat efektivitas dan efisiensi rantai pasok.

Aspek yang diprioritaskan adalah aspek konsumen untuk meningkatkan nilai guna mencapai kepuasan konsumen semen kemasan bag. Hal ini sesuai dengan hasil penentuan prioritas yang dilakukan terhadap seluruh KPI. Nilai bobot prioritas tiga terbesar dari seluruh KPI menunjukkan bahwa peningkatan kualitas dan tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk ramah lingkungan harus menjadi prioritas pada target perusahaan. Hal ini juga diakui oleh pihak perusahaan bahwa menciptakan

semen berkualitas dengan dampak

lingkungan yang minimal merupakan

tuntutan penting dari konsumen semen saat ini.

4.7.Implikasi Model

Implementasi model pengukuran kinerja rantai pasok ini dapat dilakukan melalui tahapan berikut ini:

1. Mengumpulkan data yang berhubungan dengan KPI sesuai model pengukuran kinerja rantai pasok yang dirancang. 2. Membuat Standar Operational Procedure

(SOP) untuk melakukan pengukuran kinerja rantai pasok semen dan membuat formulir yang dibutuhkan dalam pengukuran dan dokumentasi hasil pengukuran kinerja.

3.

Melakukan pengukuran kinerja rantai pasok semen di PT. Semen Padang dan mendokumentasikan hasil pengukuran kinerja tersebut.

4.

Menentukan kebijakan yang tepat terhadap kinerja rantai pasok PT. Semen Padang berdasarkan hasil pengukuran kinerja yang telah dilakukan untuk masing-masing KPI.

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Penelitian ini telah menghasilkan sekumpulan KPI yang diperoleh dari integrasi konsep lean dan green pada rantai

(9)

pasok semen kemasan bag di PT. Semen Padang. Hasil dari pengintegrasian sebagai berikut:

1. Formulasi KPI sebanyak 25 KPI yang terdiri dari 15 KPI rantai pasok Lean dan 10 KPI rantai pasok Green. KPI ini merupakan indikator penting yang dapat

menjawab kebutuhan dari semua

stakeholder yang terlibat pada rantai pasok semen kemasan bag di PT. Semen Padang dari aspek pengurangan biaya dan dampak lingkungan.

2. Pengelompokan KPI dalam empat

perspektif BSC yaitu perspektif financial, customer, internal process business dan

learning & growth. KPI keseluruhan

yang jumlahnya 25 KPI dapat

dikelompokkan yaitu 3 KPI untuk perspektif financial, 4 KPI untuk perspektif customer, 11 KPI untuk perspektif internal process business dan 7 KPI untuk perspektif learning &

growth.

3. Penentuan prioritas KPI secara

keseluruhan dilakukan dengan

mengurutkan KPI mulai dari yang memiliki bobot tertinggi hingga bobot terendah. KPI yang memiliki prioritas tertinggi artinya KPI ini merupakan KPI yang memiliki pengaruh besar terhadap kinerja rantai pasok perusahaan. Pada penelitian ini, perspektif customer

merupakan yang menjadi prioritas yang dibuktikan dari 3 KPI pada urutan tertinggi bobotnya pada model penilaian kinerja rantai pasok yang dirancang. Bobot untuk ketiga KPI tersebut masing-masingnya 0.178; 0.147 dan 0.125.

5.2 Saran

Saran-saran yang berkaitan dengan hasil-hasil penelitian ini sebagai berikut: 1. Koordinasi dalam kemudahan akses

informasi antar departemen dan

keterlibatan seluruh karyawan PT. Semen

Padang sangat dibutuhkan agar

implementasi model ini dapat dilakukan dengan tepat.

2. Pihak perusahaan dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai acuan untuk merancang model pengukuran kinerja rantai pasok lean dan green semen curah. 3. Penelitian selanjutnya dapat melakukan pengukuran kinerja rantai pasok lean dan

green secara terintegrasi di PT. Semen Padang untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi rantai pasok PT. Semen Padang saat ini berdasarkan model yang telah dirancang pada penelitian ini.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan jurnal ini, antara lain: 1. Orang tua penulis

2. Bapak Dr. Rika Ampuh Hadiguna dan Ibu Dina Rahmayanti, M.Eng selaku dosen pembimbing Tugas Akhir penulis.

3. Pihak PT. Semen Padang 4. Teman-teman TI 2007 (Isocost)

5. Pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Chopra, S. dan M. Peter. (2007). Supply Chain Management, Strategy Planning & Operation. (Ed.3). New Jersey: Pearson Prentice Hall.

[2] Duarte, S., Cabrita, R. dan Machado, V.C.(2011). Exploring Lean and Green Supply Chain Performance Using Balanced Scorecard Perspective.

Proceedings of the 2011 International Conference on Industrial Engineering and Operations Management. January 22-24 2011. Kuala Lumpur, 520-525. [3] Gaspersz, V. (2007). Lean Six Sigma.

Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. [4] Gurumurthy, A. dan Kodali, R. (2008).

A multi-criteria decision-making model for the justification of lean manufacturing systems. International Journal of Management Science and Engineering Management. 3(2), 100-118.

[5] Hadiguna, R.A., Jaafar, H.S. dan Mohamad, S. (2011). Performance measurement for sustainable supply chain in automotive industry: a conceptual framework. International Journal Value Chain Management. 5(3/4), 232-250.

[6] Jebarus, F. (11 Maret 2001). Supply Chain Management. Diakses pada 25

September 2011 dari

http://google.com/Supply Chain

Management.pdf

[7] Kaplan, R.S dan D.P. Norton. (1996).

Translating Strategy Into Action: The Balance Scorecard. Boston: Harvard Business School Press, Massachusetts, MA.

[8] Machado, V. C. dan Duarte, S. (2010). Tradeoffs among paradigms in Supply Chain Management. Proc.of the 2010 International Conference on Industrial Engineering and Operations

(10)

Management, January 9 – 10. Dhaka, Bangladesh.

[9] Mondy, R.W dan Noe, R. M. (1993).

Human Resource Management. USA: Allyn & Bacon,Inc.

[10] Mudgal, R.K., Shankar, R., Talib, P. dan Raj, T. (2009). Greening the supply chain practices: an Indian perspective of enablers`relationship.

International Journal Advanced Operations Management. 1(2/3), 151-176.

[11] Ninlawan. C., Seksan P., Tossapol K.

dan Pilada W. (2010). The

Implementation of Green Supply Chain Management Practices in Electronics Industry. Proc. Of The International Multiconference of Engineers and Computer Scientists. March 17-19 2010. Hongkong.

[12] Olugu, E.U., Wong, K.Y. dan Shaharoun, A.M. (2010). Development of key performance measures for the automobile green supply chain.

Resources, Conservation and Recycling. 55 (6), 659–667

[13] Porter, M.E. (1985). Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. New York: The Free Press.

[14] Pujawan, I.N. (2005). Supply Chain Management. Surabaya: Gundawidya. [15] Putri, R.M. (2010). Integrasi Balance

Scorecard Dan SCOR Dalam Penilaian Kinerja Rantai Pasok Pada Produk Soft Drink. Tugas Akhir. Universitas Andalas, Padang.

[16] Ray, C. D., Zu, X., Michael, J. H. dan Wiedenbeck, J. K. (2006). The Lean index: operational Lean metrics for wood products industry. Wood and Fiber Science. 38(2), 238-255.

[17] Salam, M.A. (2008). Green

procurement adoption in

manufacturing supply chain.

Proceedings of the 9th Asia Pasific Industrial Engineering & Management Systems Conference. December 3-5 2008. Indonesia, 1253-1260.

[18] Sarkis, J., Zhu, Q. dan Lai, K.H. (2011). An organizational theoretic review of green supply chain management literature. International Journal of Production Economics. 130(2), 1–15.

[19] Shah, R. dan Ward, P.T. (2007). Defining and developing measures of lean production. Journal of Operations Management. 25, 785-805.

[20] Shang, K.C., Lu, C. S. dan Li, S. (2010), A taxonomy of green supply

chain management capability among electronics-related manufacturing

firms in Taiwan. Journal of

Environmental Management. 91(5), 1218–1226.

[21] Tunggal, A.W. (2011). Pokok-Pokok Performance Measurement dan Balanced Scorecard. Jakarta: Harvindo.

[22] Venkat, K. dan Wakeland, W. (2006). Is Lean Necessarily Green?. Proc. of the 50th Annual Meeting of the International Society for the Systems Sciences, July 9-14 2006. Rohnert

Park, CA, USA.

[23] Zhu, Q., Sarkis, J. dan Lai, K. (2008). Confirmation of a measurement model for green supply chain management

practices implementation.

International Journal Production Economics. 111(2), 261-273.

Gambar

Tabel 2. Definisi Singkatan KPI
Tabel  10.  Struktur  Model  Pengukuran  Kinerja

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini, terlihat bahwa kelompok tikus C yang diberi perlakuan hiperkolesterol tanpa minuman serbuk juga mengalami penurunan kadar kolesterol total yang tidak

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan kerja praktek dengan judul “Sistem Kendali

Berdasarkan hasil penelitian d iatas ma ka pelatihan menggunakan rope jump sela ma 20 detik dengan metode interval training 1 : 5 tidak me miliki pengaruh yang

Pada tahun 2019 capaian sasaran kinerja Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kepulauan Riau dapat dicapai dengan capaian target 100% pada capaian periode rencana

Banyak orang menganggap dirinya sebagai seorang pemimpin Kristen, baik di kantor, organisasi, kampus, rumah, atau gereja, meskipun konsep dan aksi kepemimpinan

 Yang dimaksud dengan “toxic colonialism” adalah semacam contoh limbah yang beracun, yang dapat mengakibatkan dampak yang negatif.. Penyemprotan sembarangan pestisida, yang

Beberapa siswa menyampaikan pendapatnya terkait “jenis barang yang dihasilkan dari setiap pekerjaan dan jenis sumber daya alam yang digunakan” yang telah dikerjakan dalam

Dugaan potensi biomassa pada semua jenis tutupan lahan baik secara total maupun pada seluruh tingkat vegetasi yang dihitung menggunakan persamaan W4, menunjukkan hasil